Anda di halaman 1dari 42

Moral dan Etika Pengadaan Obat di Rumah Sakit

Farmasi V-B Kelompok 1 Anggota kelompok :


Annisa Nurul Azzahra 1111102000029 Rachma Ayunda 1111102000054 Annisa Nurul Azzahra 1111102000029 1111102000054 Athiyah 1111102000031 Rachma Syaima Ayunda 1111102000056 Karimah Yulianti A. 1111102000033 Sumiati 1111102000124 Rian Destiyani P. 1111102000035 Ani Kurniawati 1111102000127 Ati Maryanti 1111102000037 Evi Nurul H. 1111102000131 Silvia Aryani 1111102000039 Rosita Pracima 1111102000041 Tiara Aprilia 1111102000044 Fitri Rahmadani 1111102000048 Laila Novilia M. 1111102000050 Meryza Sonia 1111102000052

PENDAHULUAN

Pendahuluan
Farmasi Rumah Sakit merupakan bagian integral pelayanan kesehatan di rumah sakit yang memberikan pelayanan kefarmasian yang efektif dan efisien, penyediaan obat yang bermutu dengan harga terjangkau bagi semua lapisan masyarakat. Obat merupakan barang yang penting di rumah sakit karena obat dapat meningkatkan derajat kesehatan, meninggikan kepercayaan dan keterlibatan penuh dengan pelayanan kesehatan serta merupakan komoditas khusus yang mahal. Pengelolaan obat di farmasi rumah sakit harus efektif dan efisien karena obat harus ada saat dibutuhkan, dalam jumlah yang cukup, mutu terjamin dan harga yang terjangkau. Hal ini terdapat dalam peraturan Pemerintah tentang kesehatan yaitu dari Menteri Kesehatan menetapkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor: 1121/MENKES/SK/XII/2008 tentang Pedoman Teknis Pengadaan Obat Publik Dan Perbekalan Kesehatan, dan untuk mengatur penunjukan atau penugasan tersebut Pemerintah telah mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2007.

Cont
Dari Peraturan Pemerintah tersebut, dapat disimpulkan pada dasarnya pengelolaan obat di farmasi rumah sakit harus memiliki bentuk perencanaan, pengadaan, penyimpanan dan distribusi yang baik, dimana keempat tahap ini saling terkait dan saling mempengaruhi sehingga harus terkoordinasi dengan optimal.

Berikut adalah bentuk saling keterkaitan dari keempat dasar agar diperolehnya bentuk pengelolaan farmasi rumah sakit yang efektif dan efisien

Perencanaan

Distribusi

Pengadaan

Penyimpanan

Cont
Perencanaan adalah rangkaian proses pembuatan daftar kebutuhan obat sejak dari pemilihan macam dan jumlah obat serta menghitung dana yang dibutuhkan kalau perlu sampai pada penyesuaian dengan dana yang ada, yang kemudian hasil akhir perencanaan adalah sebuah daftar perencanaan kebutuhan obat. Pengadaan adalah rangkaian proses sejak dari penerimaan daftar perencanaan, membuat rencana pembelian, memilih pemasok, negosiasi harga, menentukan kapan membeli, menulis surat pesanan, dan menyerahkan surat pesanan kepada pemasok. Penyimpanan adalah proses sejak dari penerimaan obat, penyimpanan dan mengirimkan obat ke outlet pelayanan di rumah sakit. Sedangkan distribusi dapat dilakukan dengan jalan metode individuals praescription (peresepaan untuk individu pasien), unit dose dispensing (UDD= memberikan untuk tiap dosis obat kepada pasien), ward floor stock (menyediakan obat di ruang rawat inap dan atas pengelolaan perawat).

TAHAP PERENCANAAN

Tahap Perencanaan
1. Tahap pemilihan obat, dimana pemilihan obat didasarkan pada Obat Generik terutama yang tercantum dalam Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN), dengan harga berpedoman pada penetapan Menteri.

2.

Tahap kompilasi pemakaian obat, untuk memperoleh informasi : a. Pemakaian tiap jenis obat pada masing-masing unit pelayanan kesehatan/puskesmas pertahun. b. Persentase pemakaian tiap jenis obat terhadap total pemakaian setahun seluruh unit pelayanan kesehatan/puskesmas.

c. Pemakaian rata-rata untuk setiap jenis obat untuk tingkat Kab/Kota secara periodik.

3. Tahap perhitungan kebutuhan obat, dilakukan dengan :


a. Metode konsumsi adalah metode yang didasarkan atas analisa data konsumsi obat tahun sebelumnya. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah pengumpulan dan pengolahan data, analisa data untuk informasi dan evaluasi, perhitungan perkiraan kebutuhan obat dan penyesuaian jumlah kebutuhan obat dengan alokasi dana. Rumus yang digunakan adalah :

A = (B+C+D) E
A = Rencana pengadaan B = Pemakaian rata-rata x 12 bulan C = Stok Pengaman 10% - 20% D = Waktu tunggu 3 6 bulan E = Sisa stok

Cont
b. Metode Morbiditas adalah perhitungan kebutuhan obat berdasarkan pola penyakit. Langkah-langkah perhitungan metode morbiditas adalah : 1) Menetapkan pola morbiditas penyakit berdasarkan kelompok umur penyakit. 2) Menyiapkan data populasi penduduk. 3) Menyediakan data masing-masing penyakit/tahun untuk seluruh populasi pada kelompok umur yang ada. 4) Menghitung frekuensi kejadian masing-masing penyakit/tahun untuk seluruh populasi pada kelompok umur yang ada. 5) Menghitung jenis, jumlah, dosis, frekuensi dan lama pemberian obat menggunakan pedoman pengobatan yang ada. 6) Menghitung jumlah yang harus diadakan untuk tahun anggaran yang akan datang.

4. Tahap proyeksi kebutuhan perbekalan kesehatan


I. Menetapkan perkiraan stok akhir periode yang akan datang II. Menghitung perkiraan kebutuhan pengadaan perbekalan kesehatan periode tahun yang akan datang, rumus :

a = b + c + d - e -f
a = perkiraan kebutuhan pengadaan obat tahun yang akan datang. b = kebutuhan obat dan perbekalan kesehatan untuk sisa periode berjalan. c = kebutuhan obat untuk tahun yang akan datang. d = perkiraan stok akhir tahun. e = stok awal periode berjalan atau sisa stok per 31 desember tahun sebelum unit pengelola obat. f = rencana penerimaan obat pada periode berjalan.

Cont
III.Menghitung perkiraan anggaran untuk total kebutuhan. IV.Pengalokasian kebutuhan obat berdasarkan sumber anggaran. V. Mengisi lembar kerja perencanaan pengadaan obat.

5. Tahap penyesuaian rencana pengadaan obat


Beberapa teknik manajemen untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi penggunaan dana dalam perencanaan kebutuhan obat adalah dengan cara : a. Analisa ABC dilakukan dengan mengelompokkan item obat berdasarkan kebutuhan dananya yaitu : Kelompok A : kelompok obat yang jumlah nilai rencana pengadaannya menunjukkan penyerapan dana sekitar 70% dari jumlah dana obat keseluruhan. Kelompok B : kelompok jenis obat yang jumlah nilai rencana pengadaannya menunjukkan penyerapan dana sekitar 20%. Kelompok C : kelompok jenis obat yang jumlah nilai rencana pengadaannya menunjukkan penyerapan dana sekitar 10% dari jumlah dana obat keseluruhan.

Cont
Langkah-langkah menentukan kelompok A, B dan C : 1) Hitung jumlah dana yang dibutuhkan untuk masing-masing obat dengan cara kuantum obat x harga obat. 2) Tentukan rankingnya mulai dari dana terbesar sampai terkecil. 3) Hitung persentasenya terhadap total dana yang dibutuhkan. 4) Hitung kumulasi persennya. 5) Obat kelompok A termasuk dalam kumulasi 70%. 6) Obat kelompok B termasuk dalam kumulasi > 70% s/d 90%. 7) Obat kelompok C termasuk dalam kumulasi > 90% s.d 100%.

Cont
b. Analisa VEN Dilakukan dengan mengelompokkan obat yang didasarkan kepada dampak tiap jenis obat pada kesehatan, yaitu : Kelompok V : kelompok obat yang vital antara lain : obat penyelamat, obat untuk pelayanaan kesehatan pokok, obat untuk mengatasi penyakit-penyakit penyebab kematian terbesar. Kelompok E : kelompok obat yang bekerja kausal yaitu obat yang bekerja pada sumber penyebab penyakit. Kelompok N : kelompok obat penunjang yaitu obat yang kerjanya ringan dan biasa dipergunakan untuk menimbulkan kenyamanan atau untuk mengatasi keluhan ringan. Langkah-langkah menentukan VEN : menyusun kriteria menentukan VEN, menyediakan data pola penyakit, dan merujuk pada pedoman pengobatan.

TAHAP PENGADAAN

I. Pemilihan Pemasok

Pengelolaan Perbekalan Farmasi


Pengelolaan Perbekalan Farmasi merupakan suatu siklus kegiatan, dimulai dari pemilihan, perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pengendalian, penghapusan, administrasi dan pelaporan serta evaluasi yang diperlukan bagi kegiatan pelayanan.

Tujuan Pengelolaan Perbekalan Farmasi


Mengelola perbekalan farmasi yang efektif dan efesien. Menerapkan farmako ekonomi dalam pelayanan. Meningkatkan kompetensi/kemampuan tenaga farmasi. Mewujudkan Sistem Informasi Manajemen berdaya guna dan tepat guna. Melaksanakan pengendalian mutu pelayanan.

Pemilihan

Merupakan proses kegiatan sejak dari meninjau masalah kesehatan yang terjadi di rumah sakit, identifikasi pemilihan terapi, bentuk dan dosis, menentukan kriteria pemilihan dengan memprioritaskan obat esensial, standarisasi sampai menjaga dan memperbaharui standar obat.

Penentuan seleksi obat merupakan peran aktif apoteker dalam Panitia Farmasi dan Terapi untuk menetapkan kualitas dan efektifitas, serta jaminan purna transaksi pembelian.

Perencanaan
Merupakan proses kegiatan dalam pemilihan jenis, jumlah, dan harga perbekalan farmasi yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran, untuk menghindari kekosongan obat dengan menggunakan metode yang dapat dipertanggung jawabkan dan dasar-dasar perencanaan yang telah ditentukan antara lain Konsumsi, Epidemiologi, Kombinasi metode konsumsi dan epidemiologi disesuaikan dengan anggaran yang tersedia.

Pengadaan
Teknis pengadaan merupakan kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan yang telah direncanakan dan disetujui.

1. Pembelian : a. Secara tender (oleh Panitia Pembelian Barang Farmasi) b. Secara langsung dari pabrik/distributor/pedagang besar farmasi/rekanan

Teknis Pengadaan dapat melalui:


3. Sumbangan/droping/ hibah
2. Produksi/pembuatan sediaan farmasi: a. Produksi Steril b. Produksi Non Steril

Cont
Proses pengadaan erat hubungannya dengan pemasokan obat ke rumah sakit. Pemasok obat untuk rumah sakit pada umumnya adalah industri farmasi dan pedagang besar farmasi.

Untuk memperoleh obat atau sediaan obat yang bermutu baik, perlu dilakukan pemilihan pemasok yang baik dan produk obat yang memenuhi semua persyaratan dan spesifikasi mutu.
Jadi salah satu komponen dari Praktik Pengadaan Obat yang Baik (PPOB) ialah pemilihan pemasok yang memenuhi persyaratan.

Kriteria Pemilihan Pemasok Sediaan Farmasi untuk Rumah Sakit


1. Telah memenuhi persyaratan hukum yang berlaku untuk melakukan produksi dan penjualan (telah terdaftar)

2. Telah diakreditasi sesuai dengan persyaratan CPOB dan ISO 9000


3. Mempunyai reputasi yang baik, artinya tidak pernah:

a. Melakukan hal-hal yang melanggar hukum yang berlaku b. Menghasilkan/menjual produk obat yang tidak memenuhi syarat c. Mempunyai sediaan obat yang ditarik dari peredaran karena mutu yang buruk

4. Selalu mampu dan dapat memenuhi kewajibannya sebagai pemasok produk obat yang selalu tersedia dan dengan mutu yang tertinggi, dengan harga yang terendah

Cont
5. Antara pihak IFRS dan pihak pemasok harus diadakan kontrak kerja yang mengatur kedua belah pihak. Komponen dalam persyaratan kontrak antara lain : a. Harga harus dicantumkan b. Syarat pembayaran

6. Dokumen yang menjelaskan standar mutu

harus dilampirkan, seperti data farmakologik, farmasetik, atau farmakokinetik

7. Perlu mencantumkan nama dagang dan atau nama generik agar tidak terjadi kesalahan penggunaan

8. Spesifikasi masing-masing barang harus dicantumkan (termasuk nama dagang, dosis, dan statement lain)

Cont
9. Tanggungan-financial dititipkan di bank sebagai jaminan kepada supplier

10. Tanggal pengiriman, hak paten dan pengepakan

11. Waktu kadaluarsa, nomor batch, dll

Contoh Standar Prosedur Operasional Pengadaan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan dalam Apotek.

II. Penunjuk Langsung

Penunjukan langsung
Pekerjaan pengadaan dan distribusi bahan obat, obat dan alat kesehatan dalam rangka menjamin ketersediaan obat sehingga memenuhi kriteria untuk dilaksanakan dengan menggunakan metoda penunjukan langsung.

Tahapan-tahapan pelaksanaan kegiatan pengadaan barang/jasa khusus dengan metoda penunjukan langsung :
Undangan kepada peserta terpilih dilampiri dokumen prakualifikasi dan dokumen pengadaan Undangan kepada peserta terpilih dilampiri dokumen prakualifikasi dan dokumen pengadaan Penilaian kualifikasi dan penjelasan

Pemasukan penawaran

Evaluasi penawaran

Negosiasi baik teknis maupun harga penetapan/penunjukan penyedia barang/ jasa

Penandatangan kontrak

Dalam kedaan tertentu dan keadaan khusus, pemilihan penyedia barang/jasa dapat dilakukan dengan cara penunjukan langsung terhadap 1 penyedia barang/jasa dengan cara melakukan negosiasi baik teknis maupun biaya sehingga diperoleh harga yang wajar dan secara teknis dapat dipertanggungjawabkan.

Penunjukan langsung dapat dilaksanakan dalam hal memenuhi kriteria sebagai berikut :
A. Keadaan tertentu, yaitu :
Penanganan darurat untuk pertahanan Negara, keamanan dan keselamatan masyarakat yang pelaksanaan pekerjaannya tidak dapat ditunda, atau harus dilakukan segera, termasuk penanganan darurat akibat bencana alam, dan/atau Pekerjaan yang perlu dirahasiakan yang menyangkut pertahanan dan keamanan Negara yang ditetapkan oleh presiden, dan/atau Pekerjaan yang berskala kecil dengana nilai maksimum Rp. 50.000.000,00 dengan ketentuan : Untuk keperluan sendiri, dan/atau Teknologi sederhana, dan/atau Resiko kecil, dan atau Dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa usaha orang perseoranagan dan/atau badan usaha kecil termasuk koperasi kecil.

Cont
B. Pengadaan barang/jasa khusus, yaitu :
Pekerjaan berdasarkan tarif resmi yang ditetapkan pemerintah, atau Pekerjaan/barang spesifik yang hanya dapat dilaksanakan oleh satu penyedia barang/jasa, pabrikan, pemegang hak paten, atau Merupakan hasil produksi usaha kecil atau koperasi kecil atau pengrajin industry kecil yang telah mempunyai pasar dan harga yang relative stabil, atau Pekerjaan yang kompleks yang hanya dapat dilaksanakan dengan pengunaan teknologi khusus dan/atau hanya ada satu penyedia barang/jasa yang mampu mengaplikasikannya.

TAHAP PRODUKSI

Tahap produksi
Merupakan kegiatan membuat, merubah bentuk dan pengemasan kembali sediaan farmasi steril atau non steril untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di rumah sakit. Kriteria obat yang di produksi : Sediaan farmasi dengan formula khusus. Sediaan farmasi dengan harga murah. Sediaan farmasi dengan kemasan yang lebih kecil. Sediaan farmasi yang tidak tersedia di pasaran. Sediaan farmasi untuk penelitian. Sediaan nutrisi parenteral. Rekonstruksi sediaan obat kanker.

TAHAP PENERIMAAN

Tahap penerimaan
Merupakan kegiatan untuk menerima perbekalan farmasi yang telah diadakan sesuai dengan aturan kefarmasian, melalui pembelian langsung, tender, konsinyasi atau sumbangan. Pedoman dalam penerimaan perbekalan farmasi : Pabrik harus mempunyai sertifikat analisa. Barang harus bersumber dari distributor utama. Harus mempunyai Material Safety Data Sheet (MSDS). Khusus untuk alat kesehatan/kedokteran harus mempunyai Certificate of Origin. Expire date minimal 2 tahun.

TAHAP PENYIMPANAN

Tahap penyimpanan
Merupakan kegiatan pengaturan perbekalan farmasi menurut persyaratan yang ditetapkan : 1. Dibedakan menurut bentuk sediaan dan jenisnya. 2. Dibedakan menurut suhunya, kestabilannya. 3. Mudah tidaknya terbakar/ meledak. 4. Tahan/ tidaknya terhadap cahaya. 5. Disertai dengan sistem informasi yang selalu menjamin ketersediaan perbekalan farmasi sesuai kebutuhan.

Daftar pustaka
UU Nomor 36 Tahun 2009. Peraturan Presiden Nomor 94 Tahun 2007. Keputusan Presiden Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2007. Keputusan Menkes Nomor : 1121/MENKES/SK/XII/2008. Problematika Logistik Obat dan Perbekalan Kesehatan : Tinjauan Atas Potensi Terjadinya Korupsi di Sektor Kesehatan di Indonesia oleh Drs Amir Hamzah Pane Apt, SH, MM, MH. Keputusan Menkes Nomor :1197/MENKES/SK/X/2004 Tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit Dra. Dwi Pudjaningsih, Apt. dr. Budiono Santoso. Pengembangan Indikator Efisiensi Pengelolaan Obat Di Farmasi Rumah Sakit LOGIKA, Vol. 3, No. 1, Januari 2006. ISSN: 1410-2315

Siregar, charles JP. 2005. Farmasi Klinik. Jakarta : EGC. Anonim. 2006. Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit. Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Anonim. 2011. Pedoman Cara Pelayanan Kefarmasian yang Baik (CPFB): Good Pharmacy Practice (GPP). Kerjasama DIrektorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dengan Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia.