Anda di halaman 1dari 51

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Film radiografi terdiri dari basis transparan, berwarna biru yang dilapisi di kedua sisi dengan emulsi. Emulsi yang terdiri dari gelatin yang mengandung mikroskopis, kristal tersebut sensitive terhadap radiasi perak halida, seperti perak bromida dan perak klorida. Ketika sinar-x, sinar gamma atau sinar cahaya menyerang kristal atau butir, beberapa ion Br- dibebaskan dan ditangkap oleh ion Ag+. Dalam kondisi ini, radiografi yang disebut berisi gambar laten (tersembunyi) karena perubahan dalam butir hampir tidak terdeteksi, tetapi butir yang terkena sekarang lebih sensitif terhadap reaksi developer. Processing film adalah ilmu ketat diatur oleh peraturan yang kaku dari konsentrasi kimia, suhu, waktu, dan gerakan fisik. Pengolahan yang dilakukan dengan tangan atau secara otomatis oleh mesin, tetap radiograph yang sangat baik memerlukan konsistensi dan kontrol kualitas tingkat tinggi. Ketika film diproses, hal ini terkena beberapa bahan kimia yang berbeda soulsinya untuk jangka waktu yang dikendalikan. Pemrosesan film pada dasarnya melibatkan lima langkah yaitu: Development, Stopping development, Fixing, Washing, Drying. Saat proses pengolahan, dibutuhkan ruangan gelap (dark room). Ruangan gelap harus berada di lokasi pusat, berdekatan dengan ruang baca dan jarak yang wajar dari daerah paparan. Untuk portabilitas, ruangan gelap sering dipasang pada pickup atau trailer.

1.2 Tujuan a. Untuk mengetahui semua hal tentang processing film. b. Untuk mengetahui semua hal tentang ruangan processing film (dark room). c. Untuk mengetahui jenis ruang processing film serta kekurangan dan kelebihannya. d. Untuk mengetahui peran ruangan processing film terhadap suatu pengolahan film.

1.3 Manfaat Penulisan makalah ini diharapkan dapat memberi penjelasan yang baik mengenai ruang processing film dalam proses pengolahan suatu film, sehingga dapat menambah wawasan dan informasi kepada pembaca.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Film Processing 2.1.1 Definisi Film Processing adalah prosedur untuk mengeluarkan gambar laten pada film dan membuat paparan permanen. Prosedurnya terdiri dari developing, rinsing,

fixing,washing, and drying.Processing dapat dilakukan secara automatic atau secara manual pada processing tank (charline,2000) Ketika sebuah film X-ray telah terekspos, harus diproses untuk menghasilkan gambaran radiografi permanen yang dapat disimpan tanpa kerusakan untuk beberapa tahun Pengolahan mengubah gambaran laten menjadi gambaran yang terlihat .

2.1.2 Syarat Pengaturan eksposur dan prosedur film processing dapat mempengaruhi kualitas gambar radiografi. Operator harus mengatur arus listrik dan waktu pengaturan untuk paparan radiografi gigi kualitas optimal. Radiografi tidak boleh overexposed dan kemudian berkembang, karena ini hasil praktek dalam eksposur yang lebih besar kepada pasien dan petugas kesehatan gigi dan dapat menghasilkan gambar berkualitas jelek. Radiografi gigi tidak harus diproses dengan melihat, dan instruksi manufaktur mengenai waktu, suhu dan kimia harus diikuti.

1. Development - Developer Temperature dan Development time Penting untuk menyimpan developer pada spesifik temperatur (biasanya, 20C/68F untuk manual processing) dan melakukan development pada waktu yang tepat. Development baik dilakukan selama 5 menit dan pada suhu 20C. Jika suhu terlalu tinggi, development cepat, film ini mungkin terlalu gelap dan emulsi mungkin rusak. Jika suhu terlalu rendah, development diperlambat dan film gelap akan dihasilkan. Sifat Development yang terkait waktu Speed dan contrast meningkat pada saat waktu development juga lebih lama ,akan tetapi contrast dapat dikarenakan kabut atau penyebab lain dan dapat menjadi kasar ketika batas waktu development melampaui batas. Meskipun ketika development

membutuhkan waktu yang lebih untuk menaikkan speed dan contrast,sebaiknya maximum limit waktu sekitar 8 menit pada temperatur 20C.

Agitasi Developer Ketika pada saat development, larutan developer atau film yang digantung teragitasi pada interval frekuensi yang bertujuan untuk menjaga agar emulsi kontak dengan larutan yang segar terus menerus. Apabila film tidak teragitasi pada saat development , larutan pada daerah high-density film akan kering sehingga proses development akan berhenti,sedangkan larutan pada daerah low-density akan sedikit lebih kering sehingga development tetap berjalan. Hasilnya, radiografi akan menunjukkan low contrast.

Kekeringan Developer dan Pengisian Apabila volume air tidak terhitung secara akurat pada saat persiapan larutan developer, hasilnya akan menjadi divergen dari larutan asalnya dan menimbulkan kabut. Perhitungan air yang akurat sangat penting. Bagaimanapun, sebaiknya perlu diingat bahwa kapasitas development pada saat persiapan larutan development meningkat ketika digunakan. Sangat penting untuk mengecek larutan developer air saat kekeringan dengan mengatur data dari ukuran dan banyaknya film X-ray yang telah diproses serta banyaknya hari saat developer telah digunakan.

2. Stop bath Stop bath sebaiknya diatur pada temperatur yang konstan mendekati larutan developer. Apabila larutan developer 20C, temperatur stop bath sekitar 15C sampai 20C. Sebaiknya film diberi waktu pada stop bath sekitar 30 detik Pastikan untuk mengganti stop bath apabila pH mendekati level 5.5

3. Fixing Film idealnya harus diperbaiki untuk double clearing time. Clearing time adalah total lama waktu yang dibutuhkan untuk menghapus kristal perak halida unsensitized. Total waktu memperbaiki biasanya 8-10 menit

Temperature Fixing dan Fixing Time Hal ini penting apabila temperatur fixer mendekati temperatur developer, untuk mencegah perbedaan temperatur yang berkaitan dengan efek detrimental pada emulsi.

Agitasi Fixer Ketika film pertama berpindah dari stop bath menuju pada fixing bath, sebaiknya film dipastikan teragitasi selama 10 detik .Sedangkan bila tanpa melalui proses stop bath, dari development langsung menuju fixer bath maka film sebaiknya teragitasi dalam waktu 30 detik .Jika agitasi tidak cukup kuat, dapat menyebakan kabut dichroic pada film atau bahkan noda pada film saat larutan fiksasi kering.

4. Washing Aliran air dan temperature Semakin cepat air mengalir dan kontak dengan emulsi, semakin cepat komponenkomponen yang tidak diinginkan dapat hilang dan mempercepat waktu untuk pembersihan. Temperatur air harusnya sedikit lebih rendah dibandingkan dengan temperatur fixer untuk mencegah kondisi yang merugikan pada emulsi. Idealnya temperatur air 15C sampai 17C. Washing time X-ray film seharusnya dicuci dengan air bertemperatur 20C selama 50 menit atau lebih.

5. Drying Film harus dikeringkan setelah pencucian . Garis-garis air dan tetesan yang menempel pada permukaan film, jika tidak dihilangkan sebelum pengeringan , daerah dibawahnya akan kering lebih lambat daripada daerah sekitarnya dengan demikian mengubah kepadatan perak dan mengakibatkan adanya bintik-bintik

Gambar 2.1 SOP Processing

2.1.3 Komponen Komponen dari larutan film processing dapat diperoleh dalam bentukan ; Powder Larutan siap pakai Cairan berkonsentrasi

Dua larutan kimia yang penting dalam film processing : 1. Developer Fungsi utama developer adalah untuk mengurangi silver pada saat radiasi terpapar pada silver halide sehingga diubah menjadi metalic silver.

Gambar 2.2 Kandungan developer beserta fungsinya

Gambar 2.3 Fungsi umum dan khusus dari larutan developer

2. Fixer Fixer disebut sebagai clearing agent dikarenakan dapat membersihkan milky appearance pada film. Fixer dapat mengubah silver halide crystal yang tidak terpapar dan mengalami developer pada emulsi menjadi garam silver terlarut, yang siap dibersihkan pada saat pencucian film dengan air.

Gambar 2.4 Kandungan Fixer beserta fungsinya

Gambar 2.5 Fungsi umum dan khusus dari larutan fixer

2.1.4 Tahapan atau Prosedur Umum Processing Film


Pengolahan film yang dilakukan di kamar gelap merupakan tahap akhir dari proses pembuatan radiografi. Oleh karena itu diperlukan pekerjaan yang teliti karena proses bayangan laten yang dihasilkan oleh sinarX sampai menghasilkan bayangan tampak sangat sensitif terhadap cahaya. Pengolahan film pada tahap akhir ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu automatic processing dan manual processing, tetapi keduanya memiliki prinsip yang sama dalam tahapannya yaitu :

1. Developing Merupakan tahap pertama dalam prosesing yang pada tahap ini menggunakan cairan kimia developer . Tujuannya secara kimiawi mengendapkan kristal perak halida yang telah terpapar sinar-X sehingga berwarna hitam. Fungsi utama developer yaitu mengubah kristal silver halide yang telah terpapar sinar X menjadi butiran bromida dan silver metalik. Larutan developer juga berfungsi melunakkan emulsi film solution selama dalam processing. Proses developing dilakukan dengan cara memasukkan dan

menggoncangkan film dalam larutan developer selama 5-10 detik, sampai terbentuk bayangan putih. Film dapat mengalami developing untuk menghasilkan kekontrasan dan ketajaman sesuai dengan yang diinginkan, serta bila sebuah film mengalami overexposed, maka bisa dihasilkan gambar yang baik dengan underdeveloping begitu pula sebaliknya.

Tabel 2.1 Komposisi Larutan Developer

Fungsi Activator

Bahan Kimia Sodium carbonate

Aktifitas kimiawi Melunakkan &

mengembangkan emulsi sehingga reducing agent bisa bekerja lebih efektif Reducing Agents Metol Hydroquinone Menghasilkan gambaran abu-abu; gambaran Menghasilkan hitam lebih

lambat daripada metol; menghasilkan kontras

yang baik antara hitam dan putih

Restrainer

Potassium bromide

Mereduksi kristal-kristal yang tidak tertembus

sinar X dan mencegah gambaran kabut pada film Preservative Sodium sulfite Mencegah zat pereduksi teroksidasi

Solvent

Water

Pelarut bahan kimia

2. Rinsing Rinsing merupakan tahap yang penting untuk menghentikan developing dengan cara membersihkan sisa-sisa developer. Umumnya membutuhkan waktu sekitar 20 detik dengan air yang mengalir. Tahap ini tetap harus dilakukan dalam ruang gelap di bawah safelight

3. Fixing Fungsi utama adalah untuk melarutkan dan menghilangkan kristal silver halide dari emulsi film yang tidak terproses selama developing. Proses fixing dilakukan dengan cara memasukkan film dalam larutan fixer selama 10 menit, dan menggoncangkan film setiap 5-30 detik untuk mencegah terbentuknya gelembung udara, sampai terbentuk bayangan gigi dan jaringan sekitarnya. Waktu yang singkat dapat mengakibatkan film akan berubah warna menjadi kabur dan kecoklatan
Tabel 2.2 Komposisi Larutan Fixer

Fungsi Acidifier

Bahan Kimia Acetic or sulfuric acid

Aktivitas Kimia Menetralisir sisa-sisa larutan developer yang masih tersisa

Fixing agent

Ammonium thiosulfate

Melarutkan sisa kristal silver halida yang tidak tersinari

Hardener Preservative

Alumunium chloride/sulfide Mengerutkan Sodium sulfite gelatin pada

&

mengeraskan film;

emulsi

Menjaga

keseimbangan

kimiawi larutan fixer Solvent Water Pelarut bahan kimia

4. Washing Menggunakan air mengalir sampai bau asam dari larutan fixer menghilang. Efektif pada suhu air 60oF. Tujuannya adalah untuk menghilangkan sisa-sisa larutan fixer. Proses washing yang tidak baik dapat menyebabkan discolorisasi dan menyebabkan stains (kotoran atau noda) pada film sehingga mengurangi keakuratan informasi diagnostik.

5. Drying Merupakan tahap akhir dari prosesing film. Film dikeringkan dalam suhu ruang menggunakan dryer dalam heated drying cabinet . Film harus benar-benar dalam kondisi kering sebelum dipegang

Secara singkat prosedur precessing film dapat disimpulkan bahwa setelah melakukan
pengambilan radiograf, film akan segera dicuci. Tahapan pencucian film dimulai dengan memasukkan film pada larutan developer selama beberapa saat hingga bayangan muncul. Fungsi dari larutan tersebut adalah mengubah ion perak bromida dalam kristal menjadi logam perak. Tahapan selanjutnya memasukkan film ke dalam larutan fixer dalam waktu 2 kali waktu pencucian pada larutan developer, fungsinya adalah mengubah kristal bromida menjadi tidak berkembang lagi dan menyingkirkan senyawa perak yang tidak tersinari. Pencucian selanjutnya dengan menggunakan larutan washer yang berfungsi membersihkan dari kelebihan atau sisa-sisa perak bromida pada film dengan waktu pencucian 30-40 menit dan selanjutnya film dikeringkan.

2.1.5 Metode Film Processing 2.1.5.1 Metode Manual 2.1.5.1.1 Dengan Kamar Gelap Metode manual dengan kamar gelap menggunakan metode visual dan metode temperatur (waktu). Yang biasa dipergunakan pada lab radiologi adalah metode visual. Perbedaan nyata antara metode visual dan metode temperatur waktu adalah pada saat developing. Pada metode visual, film dimasukkan dalam larutan developer sampai terbentuk bayangan putih. Sementara itu, pada metode temperatur, waktu, lamanya tahap developing mengikuti tabel temperatur waktu (Ratna, 2003).

2.1.5.1.1.1 Metode Visual Yang dipergunakan dalam klinik gigi adalam metode visual (Margono, 1998) : 1. Sebelumnya semua lampu dipadamkan kecuali safe light 2. Film yang sudah disinari dibawa ke kamar gelap dan dibuka dari pembungkusnya 3. Masukkan film yang sudah dibuka tersebut ke dalam larutan developer selama 8-10 detik tergantung dari developer yang digunakan. Film diangkat keluar dari developer dan diamati di bawah safe light, dilihat adanya bayangan putih yang kabur atau belum (proses ini disebut proses developing). 4. Kemudian film tersebut dicuci di bawah air yang mengalir selama 20 detik (proses ini disebut proses rinsing).

5. Film selanjutnya dimasukkan ke dalam larutan fiksasi sampai terlihat gambaran gigi dan jaringan sekitarnya (proses ini disebut proses fixing). 6. Film tersebut di cuci di bawah air yang mengalir sampai bau asam dari larutan fiksasi hilang (proses ini disebut proses washing). 7. Proses yang terakhir ini adalah tahap pengeringan dari film tersebut (proses ini disebut proses drying).

Keuntungan dari metode visual, antara lain (Margono, 1998) : 1. Film lebih dapat berkembang dalam hal kontras detailnya pada bagian subyek yang harus terlihat, sehingga gambar pada film yang seharusnya terang akan terlihat terang dan yang seharusnya gelap akan terlihat gelap. 2. Dengan metode ini apabila jumlah film yang akan diproses cukup banyak dan waktu penyinaran bervariasi, tidak akan menimbulkan kebingungan pada pemrosesan film-film tersebut. 3. Apabila film ternyata disinari terlalu berlebihan maka dengan metode ini akan dimungkinkan mengurangi efek penyinaran sehingga didapat detail gambar yang lebih bagus. 4. Apabila film sedikit kurang tersinari maka dengan metode ini akan dimungkinkan mempertajam penyinaran sehingga didapat detail gambar yang lebih bagus.

2.1.5.1.1.2 Metode Temperatur (Waktu) Beberapa tahap dalam melakukan metode temperatur, antara lain (Ratna, 2003) : 1. Sebelumnya semua lampu dipadamkan kecuali safe light 2. Film yang telah disinari dibawa ke kamar gelap dan dibuka dari pembungkusnya. 3. Film digantung pada penggantung film kemudian dimasukkan ke dalam larutan developer dengan temperatur tertentu. Lamanya sesuai dengan temperatur waktu. 4. Kemudian dibilas dengan air (proses ini disebut proses rinsing). 5. Selanjutnya film dimasukkan ke dalam larutan fiksasi sampai terlihat gambar yang jelas (proses ini disebut fixing). 6. Film dicuci kembali dengan air yang mengalir (tahap washing).

7. Tahap yang terakhir adalah tahap pengeringan (tahap drying).

Tabel 2.3 Tabel Temperatur Waktu

Keuntungan dengan metode temperatur, yaitu (Processing Room, 2012) : 1. Dapat dengan tepat mengecek waktu penyinarannya, sebagai contoh apabila film dimasukkan dalam developer pada 65 derajat Fahrenheit dalam waktu 5 menit dan ternyata terlalu hitam, maka film tersebut kurang tersinari dan apabila film terlalu putih maka film tersebut tersinari berlebihan. 2. Film tidak perlu dicek dari waktu ke waktu, interval waktunya sudah diset, apabila alarm berbunyi, maka film dapat dikeluarkan dari larutan tersebut.

1.1.5.1.2 Tanpa Kamar Gelap (Self-Processing) Dalam klinik kedokteran gigi juga menggunakan metode tanpa kamar gelap atau yang disebut sebagai metode self-processing. Larutan pemroses yang mengandung developer dan fiksasi dalam satu larutan yang disebut monobath, disuntikkan ke dalam pembungkus film yang sudah disinari, lalu dipijat dengan jari selama 15 detik. Kemudian pembungkus film dibuka dan film dimasukkan ke dalam larutan pengeras. Lalu, dibilas dengan air yang mengalir dan kemudian dikeringkan (Processing Room, 2012).

Gambar 2.6 Metode Self-Processing

1.1.5.2

Metode Otomatis Dalam metode otomatis, pemrosesan film dilakukan dengan menggunakan alat.

Film yang sudah disinari dimasukkan ke dalam prosesor otomatis yang sudah berisikan larutan developer dan fiksasi. Film secara otomatis melalui kedua larutan tersebut dan keluar dari alat telah dalam keadaan kering. Proses ini biasa digunakan untuk film-film yang ukurannya besar, misalnya panoramik dan sefalometrik (Processing Room, 2012). Automatic film processing merupakan metode yang cepat dan mudah untuk melakukan prosesing dental x-ray film. Setelah melepaskan paket film, automatic processor akan melakukan tahapan prosesing dengan sendirinya (Ratna, 2003).

Gambar 2.7 Unit Metode Otomatis Cepat untuk film processing

Keuntungan menggunakan metode otomatis, antara lain : 1. Membutuhkan waktu yang lebih sedikit 2. Waktu dan temperatur lebih terkontrol 3. Peralatan yang dibutuhkan lebih sedikit 4. Tempat yang digunakan lebih minimal

2.2 Ruang Film Processing atau Dark Room Dalam suatu proses radiografi processing room atau dark room merupakan salah satu pendukung yang penting dalam menunjang keberhasilan suatu proses pemotretan. Hal ini disebabkan karena processing room dapat mengubah film dari bayangan laten ke

dalam bayangan tampak. Processing room disebut juga final proses akhir karena processing room merupakan rangkaian yang terakhir dalam suatu proses radiografi.

2.2.1 Definisi Processing Room atau dark room adalah suatu area atau tempat dilakukan pengolahan film sebelum dan sesudah di expose ( dari bayangan laten menjadi bayangan tetap ).

2.2.2 Fungsi Fungsi processing room antara lain : ( Simanjuntak,2012 ) 1. Mengisi atau mengosongkan kaset 2. Memasukkan film ke dalam processing automatic 3. Perawatan dan pemeliharaan processing automatic 4. Penyimpanan film yang belum di expose 5. Prosedur duplikasi atau substraksi 6. Silver recovery 2.2.3 Syarat Persiapan penggunaan pesawat sinar-x dan alat pemroses film yang harus dikerjakan sebelum memulai program pengawasan mutu (quality control). Hal ini penting agar prosedur yang dilakukan dan penanganan yang dikerjakan mampu mengatasi persoalan yang ada sebelum dilakukan program pengawasan mutu. Dalam suatu proses radiografi atau processing room merupakan komponen penting dalam menentukan keberhasilan suatu proses radiografi. Karena melalui processing room, film dapat diubah dari bayangan laten ke bentuk bayangan tampak. Processing room merupakan proses akhir dari proses radiografi (Arif, 2008). Berikut adalah syarat ruang film processing atau dark room.

2.2.3.1 Pengaturan pencahayaan Pengaturan pencahayaan dalam processing room ada 4 tipe penerangan, yaitu: 1) Penerangan umum atau general illumination, yaitu : a. Lampu pijar b. Lampu neon 2) Penerangan khusus atau Special Illumination a. Safe Light sebagai pengontrol processing film

Safe light di dalam dark room radiologi harus ada, sebab tidak memungkinkan bila bekerja di dalam ruangan yang benar-benar gelap. Safe light sebaiknya berfilter sehingga film yang sangat sensitif dapat mentolerirnya. Selain itu, juga harus memperhatikan watt dari bola lampu dan jarak cahaya dengan tempat pemrosesan. Biasanya digunakan 2 safe light, yang pertama di atas bangku pengeringan dan yang lain di tempatkan di atas tangki air. Lampu yang berwarna putih digunakan untuk memeriksa radiograf yang masih basah (Gunawan, 1998). Safe light terletak minimal 3 meter dari counter untuk mencegah terjadinya fogging safe light dari film yang belum diproses. Cahaya pada safe light ada dua tipe yaitu (Anonymous, 2010) : a) Tipe langsung Cahaya safe light langsung mengenai area kerja yang ditempatkan minimal 1.2 meter dari permukaan tempat bekerja. Tipe ini merupakan tipe yang paling baik untuk loading dan unloading cassette. b) Tipe tidak langsung Cahaya safe light yang diarahkan ke eternity sehingga cahaya yang digunakan adalah cahaya refleksi. Tipe tidak langsung ini ditempatkan 2.1 meter dari lantai.

3) Vising box, yaitu untuk mengecek hasil dari processing film 4) Lampu indikator, yaitu yang dipasang di depan pintu kamar gelap

2.2.3.2 Pengaturan tata letak ruangan Tata letak ruangan processing film terbagi berdasarkan lokasi dan bagian interior dari darkroom (anonymous, 2011). a. Lokasi Penempatan ruangan yang tepat bertujuan agar mudah di akses jika dibutuhkan dan terlindung dari sinar langsung atau sinar hambur serta bersebelahan dengan ruang pemeriksaan dan dihubungkan dengan heatch cassette. b. Interior darkroom Bagian ini terdiri dari dua bagian, yang pertama adalah bagian basah (wet side) contohnya tangki prosesing. Kedua adalah bagian kering (dry side), contohnya meja dan film box.

c. Ukuran processing room a) Automatic processing : sebaiknya membentuk bujursangkar dengan luas 7 m2 dan tinggi 3 m2 b) Manual processing : sebaiknya berbentuk memanjang dengan luas 10 m2 yang bertujuan memudahkan dalam pengaturan bahan-bahan dalam darkroom dan tinggi 3 m2

2.2.3.3 Pengaturan ventilasi Ventilasi yang memadai di dalam darkroom sangat penting. Idealnya, sistem pendingin udara dengan ventilasi menyalurkan cahaya yang kuat. Kipas ekstraktor harus diletakkan di ujung darkroom untuk memastikan terpenuhinya sirkulasi udara yang memadai. Pertukaran udara harus mencapai sebesar 15 perubahan tiap jam (P. J. Lloyd, 2001) Ventilasi berfungsi sebagai pertukaran udara di dalam ruang processing film dan menjaga kestabilan dalam cairan prosesing. Ventilasi diatur supaya udara dapat berotasi 6-10 kali/jam. Suhu dalam ruangan berkisar antara 180-220oC dengan kelembaban 40% hingga 60%. Ventilasi dibuat di atas loteng dengan bentuk cerobong asap atau dapat menggunakan Air Conditioner, kipas angin, dan lain sebagainya (anonymous, 2010). 2.2.3.4 Pengaturan Ketersediaan dan Pembuangan Air Sirkulasi air di dalam kamar gelap harus selalu mengalir supaya kebersihan air dalam kamar gelap terus terjaga kebersihannya dan pada film tidak menimbulkan artefak. Tujuan sirkulasi air adalah untuk membersihkan film dari sisa-sisa developer dan fixer, dengan demikian cairan yang terbawa air akan mengalir serta mendukung kualitas gambar yang baik . 2.2.3.5 Pengaturan tempat penyimpanan dan pengeringan film Syarat-syarat penyimpanan film : 1. Terlindung dari radiasi pengion (sinar-X) dan sinar gamma. 2. Jauh dari bahan kimia seperti developer dan fixer. 3. Tidak terjadi tekanan mekanik baik di antara kotak-kotak film sendiri atau oleh benda-benda lain. 4. Suhu kira-kira 13 derajat Celcius

5. Kelembaban udara maksimal 50% dalam keadaan dingin dan kering

Bila syarat-syarat tidak terpenuhi maka : 1. Fog level meninggi. 2. Sensitifitas film menurun 3. Kontras film menurun.

Teknik Penyimpanan Film : 1. Penyimpanan Film di Gudang :


Udara dingin dan kering Ventilasi udara cukup Film harus disimpan secara tegak atau berdiri Harus di simpan tersusun menurut tanggal kadaluwarsa Temperature 20 derajat Celcius

2. Penyimpanan film di kamar gelap :


Simpan di meja kering Pada saat membuka dalam keadaan gelap Disimpan tegak Kotak film selalu tertutup

3. Penyimpanan film di kamar pemeriksaan :


Tersimpan dalam kaset Jauh dari sumber radiasi Terpisah antara film yang sudah di ekspose dengan yang belum.

Pengeringan (drying) merupakan tahap akhir dari siklus pengolahan film. Tujuan pengeringan adalah untuk menghilangkan air yang ada pada emulsi. Hasil akhir dari proses pengolahan film adalah emulsi yang tidak rusak, bebas dari partikel debu, endapan kristal, noda, dan artefak. Cara yang paling umum digunakan untuk melakukan pengeringan adalah dengan udara. Ada tiga faktor penting yang mempengaruhinya, yaitu suhu udara, kelembaban udara, dan aliran udara yang melewati emulsi.

2.2.3.6 Pengaturan Pintu Masuk Pintu ruangan pesawat sinar-X dilapisi dengan timah hitam dengan ketebalan tertentu sehingga tingkat radiasi di sekitar ruangan pesawat sinar-X tidak melampaui Nilai Batas Dosis 1 mSv/tahun (satu milisievert per tahun). Di atas pintu masuk ruangan pemeriksaan dipasang lampu merah yang menyala pada saat pesawat dihidupkan sebagai tanda sedang dilakukan penyinaran (lampu peringatan tanda bahaya radiasi).

Macam-macam pintu : a) Sistem satu pintu : Lebih murah Menghemat ruangan (ekonomis) Memiliki pengunci otomatis yang dihubungkan dengan sistem pencahayaan sehingga ketika ruangan gelap, processing film dalam keadaan pintu terkunci Pintu tidak tembus cahaya

b) Sistem dua pintu : Menghemat tempat Kunci otomatis Tiap pintu harus kokoh dan ditempatkan dengan baik untuk mencegah cahaya masuk ketika ditutup

c) Sistem pintu zig-zag Tidak memenuhi tempat Efisien dari segala hal Praktis

d) Sistem dinding penyekat(Labirin) Terdiri dari 2 lorong parallel. Sistem ini memerlukan ruangan yang lebih luas dari sistem yang lain. Labirin akan terlihat lebih efektif bila : Permukaan tembok kasar dan dicat hitam Panjang tiap lorong minimal 3 m Lebar lorong tidak lebih dari 0,7 m

Keuntungan : Mudah dan cepat untuk melalui setiap waktu Ventilasi processing room yang terus menerus

e) Sistem berputar Menggunakan metal yang berbentuk silinder dengan bagian terbuka pada sisi untuk memasuki sistem ini. Untuk dapat masuk ke dalam processing room, perlu melewati silinder dan dirotasikan secara manual sampai tiba di processing room. Keuntungan sistem ini adalah hemat waktu .

2.2.3.7 Pengaturan Lapisan Dinding dan Lantai Ruang gelap harus cukup untuk peralatan pemrosesan film dan seorang operator yang setidaknya berukuran 1,2x1,5 m. Tidak ada standar khusus untuk ketebalan dinding dan lantai dari ruang gelap. Tetapi, mengingat kebutuhan ruang gelap adalah untuk selalu terjaganya suhu di bawah 90 F (White dan Pharoah, 2000), akan lebih baik jika dinding ruang gelap dibentuk dari batu alam. Dinding batu alam merupakan salah satu material yang paling banyak menyimpan radiasi panas, karena itu dinding yang dibuat dari batu memberi rasa dingin lebih lama, saat material lain sudah panas. Dinding batu alam paling disarankan untuk rumah agar lebih dingin dan mengurangi bahkan menghilangkan penggunaan AC. Dinding batu alam setebal 30 cm bisa menahan panas maksimum hingga 8 jam, artinya panas dari luar ditahan dalam dinding tersebut selama 8 jam sebelum benar-benar panas (Hindarto, 2011). Rumah-rumah buatan Belanda zaman dahulu banyak yang memakai dinding batu alam pada bagian bawah rumah yang juga berfungsi sebagai penahan panas. Dinding batu alam bissa merupakan perpanjangan dari pondasi batu kali. Memperhatikan kemampuan material pembentuk dinding dan lantai ruang gelap dalam menahan panas

sangatlah penting karena suhu diatas 90 F akan meningkatkan densitas film yang kemudian akan merusak kualitas gambar. Selain itu, penggunaan plaster dinding juga harus tepat. Karena keretakan dinding akan mengakibatkan masuknya cahaya yang juga akan menganggu pemrosesan film.

2.2.3.8 Pengaturan Pipa Saluran Air dan Tangki Pemrosesan Semua ruang gelap harus memiliki tangki pengolahan. Tangki haruslah dapat mengeluarkan air panas dan dapat mempertahankan suhu antara 60 - 75 F. Ukuran yang paling baik adalah sekitar 20x25 cm (8x10 inci) yang dapat berfungsi sebagai jaket dua sisipan dilepas yang muat di dalam tangki lepasan/tangki utama (White danPharoah, 2000).

Gambar 1.TangkiPemrosesandanBagian-bagiannya

Tangki-tangki lepasan biasanya mampu diisi hingga 3.8 L developer atau fixer dan ditempatkan dalam tangki utama. Sisa ruangan dalam tangki selain untuk tangki lepasan adalah untuk mempertahankan air mengalir yang berguna untuk menjaga suhu developer dan fixer dalam tangki lepasan dan untuk mencuci film. Pengembang lazim ditempatkan di dalam tangki lepasan sisi kiri dan fixer di dalam tangki lepasan sebelah kanan. Semua tangki harus terbuat dari stainless steel, yang tidak bereaksi dengan solusi pengolahan dan mudah dibersihkan. Tangki utama harus memiliki penutup untuk mengurangi oksidasi solusi

pengolahan, melindungi film yang telah masuk dalam developer terpapar cahaya, dan meminimalkan penguapan(White danPharoah, 2000).

Gambar 2.Denah Tangki dan Pipa Air Perangkat tangki utama dan lepasan yang selanjutnya bermuara pada saluran

pembuangan, lalu disimpan pada wadah tertentu yang selanjutnya akan dikelola oleh perusahaan pengolah limbah. Selain tangki utama dan lepasan, juga terdapat wastafel yang berguna untuk tempat mencuci tangan sebagai langkah asepsis.

2.2.3.9 Pengaturan Iluminasi Ruang gelap memiliki dua sumber cahaya iluminasi yaitu cahaya putih dan safelight. Cahaya putih adalah sumber cahaya standar yang biasa digunakan di rumah-rumah yang berfungsi untuk penerangan saat membersihkan ruangan regular di luar pemrosesan berlangsung. Safelight adalah iluminasi intensitas rendah yang relatif memiliki panjang gelombang yang tinggi (merah) yang tidak mempengaruhi film tetapi mempermudah seseorang untuk melihat cukup baik di dalam ruang gelap. Lebih baik untuk menempatkan satu safelight di atas area kerja pada dinding belakang tangki pemrosesan dan agak ke kanan tangki berisi fixir. Untuk meminimalkan pemaparan, Safelight harus mempunyai daya sebesar 15 Watt dan harus dipasang minimal 4 meter di atas permukaan dimana film diproses (White danPharoah, 2000).

Gambar 3. Tata letaksafelight

Film-film X-Ray sangat sensitif terhadap spektrum biru-hijau dan kurang sensitif untuk panjang gelombang warna kuning dan merah. Dengan demikian, filter GBX-2 merah dianjurkan karena safelight dalam ruang gelap intraoral atau extraoral film yang ditangani. Film yang berada di bawah safelight tidak boleh lebih dari 5 menit karena emulsi pada film menunjukkan kepekaan cahaya dari safelight dengan pemaparan (White danPharoah, 2000).

2.2.4 Jenis Ruang Film Processing Ruang Processing Film adalah suatu area atau tempat dilakukan pengolahan film sebelum dan sesudah diexpose (dari bayangan laten menjadi bayangan tetap). Fungsi ruang processing, antara lain untuk mengisi/mengosongkan kaset, memasukkan film ke dalam processing automatic, perawatan dan pemeliharaan processing automatic, untuk penimpanan film yang belum diekspos, dan silver recovery. Lokasi, desain, dan konstruksi dari suatu fasilitas x-ray processing adalah faktorfaktor utama dari instalasi serfis radiografi yang memenuhi syarat. Fasilitas-fasilitas ini mungkin merupakan sebuah ruangan atau serangkaian ruangan untuk aktivitas-aktivitas individu, tergantung dari jumlah dan sifat dari pekerjaan yang dilaksanakan. Oleh karena kepentingan khusus dari ruangan-ruangan ini untuk penanganan, processing, dan penyimpanan film x-ray, fitur-fitur mendasar maupun mendetil wajib dikerjakan dengan seksama. Ketika perencanaan menggambarkan kepedulian dan kejelian, upaya

dikeluarkan akan segera diimbangi dengan kemudahan pengoperasian, peningkatan produksi, dan penurunan biaya pemeliharaan. Aliran film x-ray dari ruang radiografi, melalui fasilitas pengolahan, untuk melihat ruang harus operasi sederhana namun halus yang membutuhkan langkahlangkah yang mungkin paling sedikit. Rutinitas ini dapat dipercepat dengan perencanaan yang tepat dari lokasi dalam departemen ruangan atau kamar yang ditujukan untuk pengolahan, dan dengan pengaturan efisien peralatan. Idealnya, kamar pengolahan harus disuplai dengan udara disaring, pada tekanan di atas bahwa dari luar. Hal ini sangat penting ketika udara luar mungkin terkontaminasi dengan pasir, kotoran, atau partikel udara lainnya. Volume film yang akan ditangani di departemen, dan pentingnya akses cepat pada hasil radiografi, akan menentukan apakah proses manual atau otomatis akan digunakan.

2.2.4.1 Daerah Proses Manual Jika beban kerja kecil atau intermiten, ruang yang berisi semua fasilitas dapat digunakan (Lihat Gambar). Namun, jika volume proses manual relatif tinggi, produksi dapat dipercepat dengan membagi operasi antara tiga bidang: Ruang untuk bongkar muat kaset, ruang pengolahan dengan melalui-dinding tangki, dan ruang mencuci dan mengeringkan. Secara umum, ruang pengolahan data secara manual harus cukup besar untuk menampung semua yang diperlukan peralatan tanpa berdesak-desakan. Namun, tidak ada keuntungan dalam memiliki ruang lantai yang berlebihan, meskipun kebutuhan untuk ekspansi masa depan harus diantisipasi. Ruangan terlihat pada gambar di bawah ini akan memungkinkan pengolahan lebih dari 200 film per hari, dan dapat dibangun dalam ruang lantai 91/2 x 15 meter. Hal yang paling efisien adalah menempatkan area pengolahan berdampingan ruang eksposur. Namun, pada departemen di mana radiasi dengan penetrasi tinggi digunakan, jumlah radiasi perisai dibutuhkan untuk melindungi personil dan film mungkin mahal, dalam hal ini, ruang pengolahan harus berada pada jarak yang aman.

Gambar: Rencana manual sinar-x ruang pengolahan.

2.2.4.1.1 Loading Bench Pada dasarnya, operasi yang dilakukan di daerah pengolahan harus dipisahkan menjadi bagian kering dan basah. Kegiatan kering seperti penanganan film yang belum diproses, bongkar muat kaset dan pemegang eksposur, dan pemuatan gantungan pengolahan - semua dilakukan pada loading bench. Alat ini dapat diletakkan berlawanan dengan processing tank di ruang yang sama atau dalam kamar terpisah yang letaknya berdekatan. Ketika kabinet kaset-transfer ini digunakan, pemakai harus membuka ke loading bench, yang harus menyediakan fasilitas untuk penyimpanan gantungan pengolahan dan barang-barang lainnya, dan kotak film cahaya tipis. Barang-barang seperti kabinet mentransfer, kotak

penyimpanan film, dan pengolahan kurung gantungan tersedia secara komersial.

2.2.4.1.2 Processing Tank Pengolahan film, yang melibatkan kegiatan pengembangan basah, berhenti, memperbaiki, dan mencuci, harus dilakukan di daerah yang terpisah dari bangku pemuatan. Pengaturan ini adalah dirancang untuk menghindari cipratan solusi di layar, film, dan area pemuatan dan, secara umum, untuk mencegah interferensi dengan operasi bongkar-bangku. Tanktank harus terbuat dari bahan yang tahan korosi. Mayoritas sekarang sedang dibuat dari AISI Tipe 316 stainless steel dengan 2 sampai 3 persen dari molibdenum. Teknik khusus harus digunakan dalam pembuatan tank ini untuk menghindari korosi di daerah dilas. Kapasitas film daerah pengolahan seluruh ditentukan oleh ukuran tangki insert. Berdasarkan waktu pengembangan 5 menit, tangki pengembang 5 galon dapat menangani 40 film satu jam dengan empat gantungan ditangani secara bersamaan, dan memungkinkan terdapat waktu selama gantungan dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam wadah. Kapasitas tangki mandi berhenti harus sama dengan yang dari tangki pengembang, dan tangki fixer harus minimal dua kali lebih besar sebagai tangki pengembang. Tangki cuci harus ditahan setidaknya empat kali jumlah gantungan ditampung dalam tangki pengembang.

2.2.4.1.3 Pengering Film Salah satu pertimbangan penting dalam merancang daerah

pengolahan adalah pengering film. Hal penting yang menjadi syarat utama adalah harus fast-acting tanpa membuat film overheat. Udara panas, inframerah, dan pengering-pengering tersedia secara komersial. Bila mungkin, filter harus dimasukkan dalam airtake tersebut. Hal ini mungkin membuat resistensi pada aliran udara bersamaan dengan hal itu, membutuhkan kipas dengan kapasitas yang lebih besar daripada yang diperlukan tanpa filter. Sebuah drip pan dilepas di bawah setiap kompartemen Film atau laci adalah berguna sebagai bantuan dalam menjaga pengering bersih. Sebagai tindakan pencegahan, elemen pemanas

harus terhubung dalam rangkaian fan sehingga panasnya tidak dapat diaktifkan tanpa menyalakan kipas angin.

2.2.4.2 Daerah Pengolahan Otomatis Perbedaan utama antara kamar pengolahan untuk proses manual dan otomatis adalah adanya tangki pengolahan memakan ruang. Satu satunya bagian dari prosesor otomatis yang perlu berada di ruang pengolahan stasiun film makan, dan ini cukup kecil. Rencana dapat mengikuti bentuk umum dari Gambar . Perhatikan ketentuan dalam luar (cahaya) kamar untuk pencampuran dan menyimpan bahan kimia pengolahan dan mencuci komponen prosesor. Dalam perencanaan ruang pengolahan baru untuk prosesor otomatis, pertimbangan awal harus diberikan untuk menyediakan air, listrik, drainase, dan fasilitas pembuangan yang diperlukan oleh prosesor. Kelebihan dari proses otomatis sendiri adalah sebagai berikut: a. b. c. d. Hemat waktu-film kering diproduksi dalam 5 menit. Ruang gelap sering tidak dibutuhkan. Pengontrolan, proses standarisasi mudah dipertahankan. Zat kimia dapat diisi secara otomatis oleh beberapa mesin.

Sedangkan kekurangan dari proses otomatis adalah: a. Sangat diperlukan pengawasan ketat dan pembersihan teratur; roller yang kotor dapat menghasilkan mark (bercak) pada film. b. c. d. Beberapa model harus benar-benar persis. Peralatannya mahal. Mesin kecil tidak dapat memproses film ekstraoral yang besar (lebar)

Gambar?

2.2.5 Spesifikasi Ruangan dan Kondisi a. Lokasi Mudah diakses jika dibutuhkan Terlindungi dari sinar langsung Bersebelahan dengan ruang pemeriksaan dan dihubungkan dengan kaset heatch (Rochester, 2005)

b. Interior Dark Room Bagian basah ( wet side ) , contoh : tangki prosessing Bagian kering ( dry side ) , contoh : meja,film box, dll

c. Ukuran Automatic prosessing : Sebaiknya bujur sangkar = Luas : 7 m2, Tinggi : 3 m

Manual prosessing

: Sebaiknya memanjang = Luas : 10 m2, Tinggi : 3 m 10 m2

(memanjang) dengan maksud memudahkan pengaturan bahan-bahan dalam kamar gelap. (Rochester, 2005)

d. Lantai 1. Syaratnya : Tidak mudah rapuh dan keropos serta tahan terhadap cairan prosessing Tidak licin dan mudah dibersihkan Dapat menyerap cairan kimia Berwarna cerah

2. Bahan Bitumen ( turunan aspal ) Keramik, porselin

e. Dinding 1. Syarat-syaratnya : Harus terjamin proteksi radiasi Warna cerah seperti merah jambu , kream dll Mudah dibersihkan Dari bahan water proof / Porselin Tahan terhadap korosi

2. Syarat ketebalan : Barium plaster 25cm campuran Ba2SO4 dengan semen Batu bata yang ekuivalen dengan 2 mm Pb dengan tebal 25cm disusun miring Kombinasi antara batu bata dengan bata yang dilapisi Barium plester setebal 1 cm

Dari beton yang tebalnya 15 cm Balok dengan batang carbon : 25 cm Papan biasa dilapisi dengan 2mm Pb

f. Langit-langit 1. Tinggi kurang lebih 2,7-3 m 2. Bahan cat yang tidak mudah terkelupas / cat minyak

g. Ventilasi 1. Berfungsi sebagai pertukaran udara dalam kamar gelap . Dan menjaga kestabilan dari cairan cairan prosesing . 2. Diatur agar udara berotasi 6-10 kali/jam 3. Suhu dalam ruangan 180-220C 4. Kelembaban 40 % - 60 % 5. Ventilasi dibuat di atas loteng dengan bentuk cerobong asap atau bisa menggunakan AC, kipas angin dll .

h. Pintu Masuk Kamar gelap : 1. Persyaratannya : Kedap cahaya Personil mudah masuk tanpa mengganggu jalannya processing Harus memenuhi syarat processing Dapat mengatur ventilasi

2. Macam-macam pintu : 1. Sistem 1 pintu Lebih murah Menghemat ruangan (ekonomis) Memiliki pengunci otomatis yang dihubungkan dengan sistem pencahayaan sehingga ketika ruangan gelap, processing film, pintu terkunci . Pintu tidak tembus cahaya

2. Sistem 2 pintu Menghemat tempat Kunci otomatis Tiap pintu harus kokoh dan ditempatkan dengan baik untuk mencegah cahaya masuk ketika ditutup

3. Sistem pintu zig-zag Tidak memakan tempat

Efisien dari segala hal Praktis

4. Sistem dinding penyekat ( Labirin ) Terdiri dari 2 lorong paralel perlu ruangan yang lebih luas dari sistem yang lain . Labirin akan terlihat lebih efektif bila : Permukaan tembok kasar dan dicat hitam Panjang tiap lorong min 3 m Lebar lorong tidak lebih dari 0,7 m

Keuntungan : Mudah dan cepat untuk melalui setiap waktu Ventilasi processing room yang terus menerus

5. Sistem berputar Menggunakan metal yang berbentuk silinder dengan bagian terbuka pada sisi untuk masuk . Untuk dapat masuk ke dalam processing room, perlu melangkah ke silinder dan dirotasikan secara manual sampai tiba diprocesing room . Keuntungannya : hemat waktu.
2.2.6 Sarana dan Prasarana Kamar gelap untuk fasilitas radiografi harus dicat putih atau dengan warna terang, agardapat membantu penglihatan dalam situasi di mana tingkat pencahayaan minim. Counter tops juga harus putih, atau berwarna terang, dan backingpada tembok di belakang meja pemuat film yang berwarna terang harus tahan terhadap kerusakan dari kaset dan penutup kaset selama pemuatan. Sebuah kamar gelap yang bersih akan menghasilkan lebih sedikit artefak dari debu dan kotoran dan usahayang diperlukan untuk membersihkan kaset dan layar menjadi lebih kecil. Kamar gelap harus dibersihkan setiap hari pada awal hari kerja sebelum memproses film dalam kamar gelap. Petunjuk untuk menjaga kamar gelap bersih: 1. Pel lantai kamar gelap dengan pel lembab. 2. Pinggirkan semua benda yang tidak penting dari counter tops dan permukaan kerja. 3. Gunakan handuk bebas serat yang bersih dan basah untuk menyeka processor feed

tray lalu counter tops dan permukaan lainnya di kamar gelap. Passbox juga harus dibersihkan setiap hari. 4. Jaga agar tangan tetap bersih untuk meminimalkan sidik jari dan artefak penanganan. 5. Lap atau vakum ventilasi udara dan safelights seminggu sekali sebelum membersihkan feeding tray dan counter tops.

Untuk kamar gelap yang lebih besar, pembersih udara elektrostatik yang berguna untuk mengurangi jumlah kotoran, debu dan listrik statis di kamar gelap. Seharusnya dalam kamar gelap diberi larangan merokok, makan, dan minum. Merokok dapat menghasilkan abu yang dapat terdeposit di layar (artefak) serta pada detektor prosesor yang sensitif. Makan juga menghasilkan partikel yang dapat terdeposit di kaset dan menyebabkan artefak. Ketika minuman tumpah pada kaset, maka mungkin layar akan harus diganti. Jika minuman tumpah pada film bin, biaya penggantian film sangat mahal. Bubuk dari bahan kimia kering dapat menyebabkan artefak film dan dapat mengkontaminasi larutan kimia lainnya. Di atas counter top hanya ada sesedikit mungkin barang. Barang apapun yang ada pada counter top akan membuat pembersihan menjadi lebih susah dan lebih mudah debu untuk menumpuk. Bila mungkin jangan ad arak di atas counter top meskipun keberadaan rak mempermudah peletakan film tapi akan menambah tempat penempelan debu. Lemari tertutup dapat digunakan selama pada atasnya tidak digunakan sebagai tempat meletakkan barang. Ventilasi untuk penghangat dan pendingin ruangan tidak seharusnya masuk ke ruangan melalui counter yang digunakan untuk menangani kaset. Hal ini juga dapat menambah debu dan kotoran pada counter. Langit-langit kamar gelap harus dibangun dari bahan padat seperti drywall. Bila ada cahaya yang masuk saat prosesing maka akan dapat menimbulkan gambaran kabut pada hasil radiografi. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah temperature dan kelembaban. Temperatur dijaga agar tetap pada tingkat yang nyaman bagi pekerja- pekerja yang ada dalam kamar gelap. Kelembaban harus dijaga agar berada diantara 40 dan 60 persen. Jika kelembaban turun di bawah 40 persen maka pada hasil film akan terjadi peningkatan tanda statis. Jika kelembaban naik di atas 60 persen, film terkadang menjadi lengket sehingga penanganan akan jadi sulit. Temperatur dan atau kelembaban yang tinggi akan menyebabkan perspirasi yang menyebabkan peningkatan tanda bekas jari pada hasil radiografi. Kelembaban yang tinggi atau rendah dapat menyebabkan kesusahan dalam transport film untuk loader kaset otomatis dan sistem penanganan film dalam kamar gelap dan untuk rapid film changer. Sarana dan prasarana yang harus terdapat pada kamar gelap, yaitu :

a. Meja kering : rak kaset, film hopper dan aksesoris lainnya. b. Meja basah : tangki prosesing c. Label printer ( pencetak identifikasi pasien ) d. Cassette Hatch : alat bantu transport kaset yang dipasang pada pembatas kamar gelap dan kamar pemeriksaan. e. Film Hopper : tempat penyimpanan film yang belum terkena expose f. Cupboard : tempat penyimpanan film dalam jumlah kecil untuk mengganti apabila persediaan film pada hopper habis, letaknya didalam loading bench g. Penerangan h. Hanger film i. j. Tower dispenser untuk mengering Termometer

k. Time Manual processing l. Automatic procesing

2.2.7 Transportasi Transpor film berfungsi untuk transportasi film dari kamar gelap ke ruang pemeriksaan atau sebaliknya. Transpor film membutuhkan peralatan seperti: 1. Cassette Hatch terdiri dari dua kotak yaitu exposed dan unexposed dengan syarat tidak tembus radiasi, tidak ada bocoran sinar, dan bersifat interlock 2. Ban berjalan dengan syarat tidak bersebelahan dengan ruang pemeriksaan dan ada proteksi radiasi untuk melindungi cassette.

2.2.8 Interior Ruang prosesing radiologi dibagi menjadi dua bagian yaitu daerah kerja basah (wet side) dan daerah kerja kering (dry side). Kegiatan prossesing radiografi dilaksanakan di kamar gelap diawali dari daerah kering dengan memasukkan film radiografi yang belum di ekspos (unekspose) ke dalam kaset yang selanjutnya dilakukan eksposi terhadap film, serta member identitas. Kegiatan selanjutnya adalah unloading yaitu mengeluarkan film radiografi dari dalam kaset untuk dilakukan prossesing film radiografi. Sedangkan kegiatan yang dilakukan di daerah basah adalah aktivitas memproses atau mengolah film secara kimiawi.

2.2.8.1 Kamar Basah Kelengkapan daerah basah : Safe light Rak gantungan film/film hanger Lemari tempat penyimpanan cassette dan box film Meja basah : tangki processing Bak yang terisi air yang mengalir Tangki pembangkit (developer) Tangki penetap (fixer)

2.2.8.2 Kamar Kering Kelengkapan daerah kering : Alat kamera identifikasi film Alat pengering fil Viewing box film/light cas Lemari untuk menyimpan film sinar X, kaset-kaset, penggantung film (hanger)

Gambar konstruksi kamar gelap yang terdiri atas daerah basah disebelah kiri atas dan daerah kering di sisi sebelah kanan

2.2.9 Standarisasi Ruang Film Processing Kegiatan kendali mutu untuk ruang pemroses film radiografi yang terdiri dari; 1. Pengujian terhadap rancangan ruangan a. kebocoran kamar gelap b. safe light kamar gelap 2. Pengujian alat pemroses film radiografi otomatis 3. Pengujian alat pemroses film radiografi secara manual a. pengadukan larutan b. penggantian larutan c. penyimpanan bahan kimia

1.a. UJI KEBOCORAN KAMAR GELAP TUJUAN Pengujian ini bertujuan untuk menentukan ada atau tidaknya kebocoran cahaya yang ke atau berasal dari ruang gelap. ALAT DAN BAHAN CARA KERJA Tidak ada 1. Pastikan semua cahaya di luar ruang gelap dalam keadaan menyala (ON) ; 2. Masuklah ke ruang gelap dan tutuplah pintunya ; 3. Matikan semua lampu di ruang gelap ; 4. Tunggu sekitar 5 menit untuk adaptasi mata di ruang gelap ; 5. Amati dan perhatikan lokasi yang ada cahaya yang masuk atau yang berasal dari ruang gelap, termasuk pintu, prosesor, langit-langit, sistem ventilasi dan fiting lampu.

PENILAIAN EVALUASI

DAN Film radiografi peka terhadap cahaya tampak dan akan meningkatkan tingkat base fog. Setiap area yang terlihat ada cahaya harus disegel atau ditutup rapat. Uji safelight dapat digunakan untuk

memeriksa tingkat fog (fog level) yang disebabkan oleh sumber cahaya.

FREKUENSI UJI

Setiap hari

1.b. UJI SAFELIGHT TUJUAN Untuk menentukan waktu yang aman dalam

penanganan film radiografi yang telah dan belum diekspos pada kondisi cahaya yang aman. ALAT DAN BAHAN 1. Film radiografi ukuran 18 cm x 24 cm; 2. Stop watch atau timer ; 3. Kartu safelight; 4. Kertas karton atau sejenis tutup tak tembus cahaya dengan ukuran 20 cm x 25 cm CARA KERJA 1. Dalam keadaan gelap, letakkan film yang akan diuji ke kaset ukuran 18 cm x 24 cm. Untuk uji pemrosesan sendiri, tutuplah jendela pengintai dengan bahan tak tembus cahaya ; 2. Tutuplah setengah panjang kaset dengan timah dan berikan eksposi sinar-X pada bagian setengah yang lainnya untuk menghasilkan densitas optik 0,6 - 1,0 setelah pemrosesan ; 3. Dalam kegelapan total, pindahkan film dan tempatkan di atasnya pemegang uji keamanan cahaya. Pastikan bahwa sisi-sisi film ditutup oleh sisi penutup ; 4. Hidupkan lampu pengaman dan geserlah penutup tak tembus cahaya pada garis 4 menit. Beberapa lampu pengaman memerlukan waktu pemanasan, maka lindungi film dalam masa pemanasan ini; 5. Setelah 4 menit, tariklah penutup ke bawah ke garis 2 menit. Ulangi untuk bagian yang lainnya sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Bagian yang pertama harus terpapar ke safelight selama total waktu 8 menit pada akhir pengujian yaitu 4 + 2 + 1 +

0,5 + 0,25 + 0,25 = 8 menit 6. Proseslah film radiografi tanpa safelight.

PENILAIAN EVALUASI

DAN Film akan mengalami eksposi pada waktu 15 detik,

30 detik, 1 menit, 2 menit, 4 menit dan 8 menit. Garis-garis yang tertutup oleh sisi penutup berperan sebagai densitas dasar untuk film yang tidak tereksposi dan yang terekposi oleh safelight. Dengan menggunakan penilaian visual, tentukan tahap

pertama yang diketahui lebih gelap daripada densitas dasar untuk setengah bagian film yang tereksposi sinar-X dan untuk setengah bagian film yang tidak tereksposi sinar-X terlebih dahulu. Waktu

penanganan film baik sebelum dan sesudah eksposi sinar-X, tidak boleh lebih dari 1,5 (satu setengah) kali waktu yang ditentukan di atas.
FREKUENSI UJI

Dilakukan ketika diurigai terjadi kebocoran safelight dengan indikator penurunan kualitas citra radiografi

2. UJI PENGOLAH FILM AUTOMATIK Terdapat 3 komponen utama yang harus dilakukan dalam kendali mutu pengolah film otomatik yaitu : 1) Aktivitas larutan kimia Aktivitas larutan kimia dipengaruhi beberapa variabel, termasuk diantaranya adalah suhu larutan, replenishment rate, pH larutan, specific gravity dan kesempurnaan campuran larutan. Pengecekan terhadap variabel ini sebaiknya dilakukan secara rutin setiap hari sesuai rekomendasi pabrik (daily).

2) Pembersihan alat Prosedur pembersihan alat dimaksudkan untuk melepas dan membersihkan sub-komponen alat pengolah otomatik seperti roller transport system, bak larutan kimia dan lain-lain dari kerak atau kemacetan system penggerak.

Prosedur ini dilakukan enam bulan sekali (semi-annually) atau tergantung beban kerja alat mengacu rekomendasi pabrik.

3) Perawatan dan pemantauan kinerja alat. Prosedur ini dilakukan secara reguler seminggu sekali (weekly) atau tergantung beban kerja alat. Perawatan sub komponen khususnya pada pompa-pompa larutan replenishment dan air sebaiknya dilakukan secara periodik sebulan sekali (monthly) atau tergantung beban kerja alat mengacu rekomendasi pabrik. Pemantauan kinerja alat merupakan bagian terpenting dari kendali mutu pengolah film otomatik. Pengendalian mutu radiograf agar konsisten dari waktu ke waktu ditentukan oleh dry-to-dry film processing. Dengan melakukan aplikasi sensitometry terhadap pengolah film otomatik setiap hari dan dikombinasi dengan pengecekan semua variabel yang berpengaruh terhadap aktivitas larutan kimia maka unjuk kerja yang optimal dari alat pemroses film otomatik dapat terjaga dari waktu ke waktu. Disamping itu, gangguan-gangguan alat bersifat sederhana (trobleshoots) yang dapat mereduksi kualitas ouput pemrosesan film dapat terdeteksi secara dini pula.

3.a. PROSEDUR PENGADUKAN LARUTAN TUJUAN Agar konsentrasi dan kerja larutan yang kita buat sesuai dengan standar sehingga mampu mengolah film secara optimal. Sebelum melakukan kegiatan kendali mutu, hendaknya dalam membuat larutan pembangkit (developer) dan penetap (fixer) harus memperhatikan petunjuk teknis penggunaan dari produk yang digunakan. ALAT DAN BAHAN 1. Developer 2. Fixer

Tabel standar spesifikasi tangki prosessing manual dengan banyaknya film Dental yang diproses. (Norean D Chesney and Muriel O chesney. Radiography Imaging, fourth edition)

CARA KERJA

1. Lakukan penggantian larutan bahan kimia prosessing film minimal satu bulan sekali atau bila larutan sudah melemah 2. Persiapan alat dan bahan harus sudah tersedia 3. Kosongkan air dalam bak secara regular. 4. Bersihkan bak dengan sikat dan deterjen 5. Bilas dengan air bersih yang mengalir 6. Tutup drainase 7. Isi air bersih ke dalam bak 8. Masukkkan kembali tangki-tangki yang sudah bersih ke dalam bak 9. Catat tanggal kegiatan 10. Kembalikan bahan dan alat yang dipakai ke tempat semula 11. Bersihkan dan keringkan kembali lantai dan dinding dari percikan air 12. Pastikan ruang kamar prosessing film selalu bersih dan kering untuk menjaga kelembaban

FREKUENSI UJI

Setiap hari

PENILAIAN DAN Harus diperhatikan standar kualitas bak air yaitu: EVALUASI 1. dinding dan lantai bak dilapisi porselin / keramik warna putih atau pink dan usahakan selalu bersih 2. ukuran tinggi 75-100 cm, lebar 60 cm dan panjang 200 cm,

3. dapat menggantung hanger dengan film yang sudah diproses, 4. air di bak harus selalu bersirkulasi, 5. kran-kran harus selalu berfungsi dengan baik, 6. mempunyai cadangan air bersih yang cukup.

Tangki Developer dan Fixer 1. Harus selalu bersih luar dan dalam 2. Tidak berkarat dan berlumut 3. Selalu tertutup apabila tidak sedang melakukan proses 4. Harus terbuat dari bahan yang kuat dan anti karat, misalnya dari stainlesteell, flexiglass / plastik dengan ukuran; tinggi 50 cm, panjang 45 cm, lebar 15 cm, volume 18 20 liter 5. Mempunyai tutup tangki 6. Mempunyai pegangan agar mudah diangkat atau diturunkan pada waktu dibersihkan.

Ukuran tangki prosessing manual yang bervariasi akan mempengaruhi volume larutan dan air prosedsing manual yang dibutuhkan atau digunakan. Standar spesifikasi tangki

prosessing manual dengan menggunakan indikator banyaknya penggunaan film dental sebagai parameternya. 3.b. PROSEDUR PENGGANTIAN LARUTAN

ALAT BAHAN

DAN 1. 2 buah ember besar ( 20 liter ) dengan warna berlainan 2. 2 buah gayung plastik 3. 2 buah pengaduk 4. 2 buah pompa air plastik 5. 1 buah marker 6. 1 set sarung tangan karet

CARA KERJA

1. Buka tutup tangki 2. Masukkan larutan developer / fixer menggunakan pompa air plastik ke dalam jerigen 20 L 3. Angkat tangki developer / fixer dari dalam bak 4. Bersihkan tangki-tangki dengan sikat plastik di luar kamar prosessing 5. Bilas dengan air yang mengalir 6. Sikat kembali dengan sikat plastik dan gunakan deterjen 7. Bilas dengan air bersih yang mengalir, dan pastikan sudah bersih 8. Masukkan larutan developer / fixer yang sudah dibuat sebelumnya cukup sampai setengah tangki 9. Angkat tangki-tangki ke dalam bak 10. Tambah larutan developer / fixer secukupnya 11. Pasang tutup tangki 12. Diamkan beberapa jam dan bila akan dipakai, masukkan potongan es batu ke dalam bak prosessing. 13. Pakai masker, sarung tangan dan celemek 14. Peralatan untuk membuat larutan developer tidak boleh digunakan untuk membuat larutan fixer. 15. Buang larutan developer / fixer dari tangki dengan bantuan selang plastik 16. Angkat tangki developer dan fixer keluar bak dan bersihkan sesuai prosedur 17. Siapkan ember yang telah berisi air bersih masing-masing 10 liter 18. Buka bungkus developer bungkusan A masukan sedikit demi sedikit sambil diaduk di dalam ember sampai serbuk larutan habis. 19. Aduk dengan adukan kayu sampai rata 20. Masukan serbuk larutan B ke dalam ember sambil diaduk 21. Aduk terus sampai semua laruan larut

22. Masukan larutan developer yang sudah diaduk rata ke dalam tangki developer, setengah volume cairan developer cukup 23. Tutup tangki dengan rapat 24. Ulangi hal di atas untuk pembuatan fixer 25. Bersihkan semua peralatan yang dipakai dari noda larutan 26. Simpan semua alat ketempatnya

Catatan a. Pastikan kamar prosessing tetap bersih dari noda-noda developer / fixer. b. Peralatan untuk membuat setiap larutan harus mempunyai identitas yang berbeda c. Jangan menggunakan peralatan membuat fixer untuk membuat larutan developer atau sebaliknya d. Gunakan potongan batu es agar suhu larutan menjadi cukup dingin dan dapat langsung digunakan. e. Larutan atau bubuk kimia yang kita terima hendaknya digunakan sesuai dengan urutan penerimaan atau sistem FIFO (first in first out). f. Dalam pembuatannya, hendaknya mengikuti petunjuk yang tertera :.: g. Larutan harus ditambahkan cairan / bubuk sesuai takarannya h. Semua bahan harus dicampur dan diaduk sampai batas tertentu i. Pengadukan harus dilakukan dengan jarak waktu tertentu (2 3 menit) j. Larutan kimia harus dimasukkan ke dalam tangki secara bertahap sambil terus diaduk. FREKUENSI UJI Setiap hari

PENILAIAN DAN Kesalahan pembuatan bisa berakibat cairan yang dibuat EVALUASI menjadi tidak berguna. Untuk menghindari terjadinya

kontaminasi dengan kulit akibat dari bubuk larutan tersebut, maka : Petugas yang membuat hendaknya memakai pakaian pelindung

mengenai kulit

Sebelum larutan digunakan, periksa dulu suhu dan daya kerja Cucilah tangan setelah membuat larutan agar kulit tidak terkontaminasi.

Sebelum menggunakan unit chemical prosessing manual, sebaiknya lakukan beberapa hal berikut :

ditentukan

jenuh larutan developer dan fixer

Pembuatan larutan developer dan fixer Tolok ukur

- 20C untuk manual.

3.c. PROSEDUR PENYIMPANAN BAHAN KIMIA

TUJUAN

Untuk memastikan bahwa penggunaan bahan kimia dalam pelayanan radiologi dapat menghasilkan radiograp yang optimal.

ALAT BAHAN

DAN 1. Termometer ruangan 2. Kertas kerja

CARA KERJA

Penyimpanan jangka pendek 1. Hendaknya simpan sedikit saja larutan kimia di kamar gelap 2. Simpan di tempat yang agak jauh dari bagian kerja kamar gelap sehingga tidak mengganggu proses kerja.

Penyimpanan jangka panjang 1. Tandailah box cairan kimia sesuai dengan tanggal kedatangannya dan catat banyaknya persediaan yang ada 2. Tempatkan cairan tersebut pada tempat yang agak tinggi (jangan terlalu tinggi untuk kemudahan menempatkannya) 3. Buatlah ventilasi yang baik 4. Gunakan sesuai dengan prinsip hukum perputaran (first in first out) 5. Periksalah apakah ada kebocoran dan percikan cairan kimianya. Bila ada percikan, segera bersihkan 6. Jika memungkinkan aturlah suhu ruangan agar tetap berada antara suhu 100 - 180 C. 7. Pastikan ruangan ini tidak mengandung jaringan pipa yang bisa menimbulkan panas 8. Jangan sekali-kali menyimpan atau meletakkan cairan kimia pada sinar matahari langsung 9. Ruangan harus selalu terkunci, hanya petugas yang ditunjuk yang boleh memasukinya. FREKUENSI UJI Setiap dilakukan pembelian dan penggantian larutan.

PENILAIAN DAN Mengacu pada kriteria gambar radiografi EVALUASI

2.2.10 Perawatan Ruang Film Processing Membersihkan screen debgan alcohol atau air sabun Membersihkan tangki processing / sirkulasi air Mengetes safe light Membersihkan kamar gelap

Menjaga agar tidak ada cahaya yang dapat menembus kamar gelap Memperhatikan temperatur dan kelembaban udara Disiplin dalam bekerja

2.3

Proteksi

Ruang

Film

Processing

a) Kamar gelap dan unit pengolahan dekstop Pemeriksaan rutin harus dilakukan untuk memastikan bahwa kamar gelap tetap ringan ketat dan bahwa safelights tidak menghasilkan fogging film. Unit Desktop harus sama diperiksa untuk cahaya yang sedikit. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan tes sederhana. Pemeriksaan rutin harus dilakukan setiap 12 bulan atau jika ada perubahan pada kamar gelap atau peralatan telah dilakukan. Log tertulis pemeriksaan tersebut membantu dalam mempertahankan program QA. b) Film Kualitas radiografi dapat dikurangi dengan penyimpanan film yang tidak memadai. Produsen akan meletakkan standar QA. Penyimpanan yang buruk misalnya di suhu yang tinggi, di dekat peralatan X-ray atau penanganan yang buruk semua dapat menyebabkan artefak. Film tidak boleh digunakan setelah tanggal kadaluarsanya dan program QA harus mencakup langkah-langkah pengendalian stok. c) Kaset Untuk film radiografi ekstraoral bekerja dengan mengintensifkan layar yang digunakan. Kaset dapat menjadi rusak yang menyebabkan kebocoran cahaya dan kurangnya hasil film / kontak layar. Hal ini penting untuk mengenali kesalahan yang diproduksi dan untuk memeriksa film sebagai bagian dari program QA. Layar harus bersih dan tidak rusak untuk mempertahankan kualitas gambar yang baik. Munculnya artekfak sangatlah umum. Untuk mengatasi ini, layar harus dilindungi dengan menjaga kaset ditutup, kecuali ketika loading atau bongkar film. Layar harus dibersihkan menggunakan layar yang tepat bersih pada rezim reguler rinci dalam program QA.

Keselamatan Kerja Tentang Radiasi Setiap sarana pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan

radiodiagnostik dan radiologi intervensional memenuhi keselamatan radiasi sebagaimana

yang diatur dalam Peraturan Kepala BAPETEN tentang Keselamatan Radiasi dalam Penggunaan Pesawat Sinar-X Radiodiagnostik dan Radiologi Intervensional. Program ini berlaku bagi semua peralatan yang berhubungan dengan penggunaan sinar-X untuk tujuan diagnostik pada manusia dan sarana pendukungnya yaitu pesawat sinar-X diagnostik terpasang tetap (fixed/stationary) dan pesawat sinar-X mobile tanpa diperlengkapi dengan flouroskopi. Sedangkan sarana pendukung tersebut adalah kamar gelap, prosesing film, peralatan proteksi radiasi, kaset dan tabir penguat dan film radiografi, kotak amatan (viewing box).

Kendali Mutu Atau Quality Control A. Peralatan pengujian Peralatan pengujian yang dipakai pada program ini harus terkalibrasi oleh laboratorium kalibrasi. Jenis peralatan pengujian meliputi: 1. Pantom abdomen dengan ketebalan bervariasi untuk uji kendali paparan otomatis (AEC) 2. Saringan/filter aluminium 3. Peralatan uji ketepatan dan kesamaan berkas sinar-X 4. Densitometer 5. Elektrometer dan bilik ionisasi atau dosimeter digital 6. Kaset radiografi yang terisi film (yaitu 24 cm x 30 cm dan 35 cm x 43 cm) atau film yang terbungkus. 7. Lux meter 8. Balok timbal (3 mm x 50 mm x 50 mm) 9. Selotip 10. Peralatan analisis berkas sinar-X non invasif, atau peralatan tes yang terpisah. Pengukuran invasif menggunakan peralatan yang terkalibrasi dan

menggunakan metode tes yang tepat. 11. Meteran 12. Tongkat penyangga. 13. Formulir laporan uji.

B. Hal-hal yang perlu dilakukan sebelum melakukan pengujian : Perizinan sesuai syarat perizinan yang di keluarkan oleh lembaga/badan regulasi telah dipenuhi, antara lain:

1. Perizinan pemanfaatan alat yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) 2. Perizinan pelayanan Radiologi Diagnostik yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan RI / Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. 3. Rating alat dan rentang penggunaan tegangan tabung sinar-X 4. Penggunaan alat penganalisis berkas sinar-x non-invasif 5. Proteksi radiasi C. Kegiatan kendali mutu Kegiatan ini dibagi ke dalam tiga kegiatan besar, yaitu: 1. Pengujian terhadap tabung kolimasi : a) iluminasi lampu kolimator b) berkas cahaya kolimasi c) kesamaan berkas cahaya kolimasi 2. Pengujian terhadap tabung pesawat sinar-x : a) kebocoran rumah tabung b) tegangan tabung, c) waktu eksposi. 3. Pengujian terhadap generator pesawat sinar-x terdiri dari a) output radiasi b) reproduktibilitas c) half value layer 4. Pengujian terhadap automatic exposure control. a) kendali paparan/densitas standar b) penjejakan ketebalan pasien dan kilovoltage. c) waktu tanggap minimum

D. Kegiatan kendali mutu untuk perlengkapan radiografi yang terdiri dari: 1. Pengujian terhadap film : a) optimasi film radiografi b) sensitifitas film radiografi 2. Pengujian terhadap kaset dan tabir penguat : a) kebocoran kaset radiografi b) kebersihan tabir penguat/intensifying screen c) kontak tabir penguat dengan film radiografi.

3. Pengujian untuk alat pelindung diri berupa inspeksi kebocoran 4. Pengujian tingkat pencahayaan film iluminator/viewing box.

E. Kegiatan kendali mutu untuk ruang pemroses film radiografi yang terdiri dari; 1. Pengujian terhadap rancangan ruangan : a) kebocoran kamar gelap b) safe light kamar gelap 2. Pengujian alat pemroses film radiografi otomatis 3. Pengujian alat pemroses film radiografi secara manual a) pengadukan larutan b) penggantian larutan c) penyimpanan bahan kimia 4. Pengujian alat pemroses film termal a) Penetapan nilai densitas rujukan b) Verifikasi penerimaan resolusi spatial dan tingkat artefak

Syarat Kendali Mutu 1. Ada tim yang ditetapkan oleh pimpinan sarana pelayanan kesehatan untuk mengelola kegiatan jaminan mutu. Tim terdiri dari dokter spesialis radiologi, fisikawan medik, radiografer senior (Kepala Radiografer), radiografer QC dan perwakilan dari Teknisi (Inhouse X-Ray service atau Engineering). 2. Tim mengadakan pertemuan secara berkala dan memiliki program yang jelas, menentukan frekuensi untuk mengontrol, memiliki dokumetasi perawatan alat dan melalukan review sejauh mana program dapat berjalan secara efektif. 3. Secara berkala dilakukan audit : a) dapat dilaksanakan oleh petugas yang berasal dari institusi itu sendiri ataupun dari institusi luar yang ahli dalam bidang radiologi diagnostik. b) dilaksanakan untuk bidang manajerial, keuangan dan teknis. c) dilaksanakan minimal 1 (satu) tahun sekali. d) hasil audit berupa temuan-temuan yang tidak sesuai dengan standar atau referensi diinformasikan kepada petugas terkait untuk dilakukan tindakan perbaikan 4. Kalibrasi alat ukur radiasi (AUR) oleh laboratorium yang telah terakreditasi dan ditunjuk oleh BAPETEN. 5. Setiap peralatan mempunyai penanggung jawab

6. Pelaksanaan jaminan dan kendali mutu sesuai dengan pedoman yang dikeluarkan oleh Depkes meliputi : a) Pemeriksaan fisik peralatan secara visual b) Pemeriksaan secara kuantitatif/kualitatif c) Pemeriksaan kamar gelap

Monitoring Dan Evaluasi Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk memantau pelaksanaan kegiatan dan mengevaluasi hasil pelaksanaan kegiatan sesuai dengan perencanaan dan dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan. Monitoring dan evaluasi dilakukan secara berkala dan terus menerus, yaitu : 1. Dilakukan di dalam instalasi radiologi itu sendiri oleh pimpinan instalasi/unit radiologi dengan staf untuk mengetahui kegiatan yang telah dilakukan sesuai dengan perencanaan dan pencapaian target yang telah ditentukan. Hasil monitoring diinformasikan kepada staf yang terkait untuk dilakukan perbaikan-perbaikan atau upaya pemecahan masalah 2. Dilakukan oleh Depkes/Dinkes Propinsi/Dinkes Kabupaten/Kota bersama dengan organisasi profesi dan institusi lain terkait untuk mengetahui pelaksanaan program ditelah ditetapkan. Hasil pemantauan dievaluasi dan diinformasikan kepada sarana pelayanan kesehatan yang bersangkutan untuk kemudian dilakukan tindakan perbaikan dan upaya lainnya

DAFTAR PUSTAKA Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1014/Menkes/SK/XI/2008 Tentang Standar Pelayanan Radiologi Diagnostik Di Sarana Pelayanan Kesehatan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1250/Menkes/SK/XII/2009 Tentang Pedoman Kendali Mutu (Quality Control) Peralatan Radiodiagnostik European Commission. 2004. Radiation Protection. European Guidelines On Radiation Protection In Dental Radiology

Daftar Pustaka

Anonymous. 2010. Processing room at radiology. Anonymous. 2011. Darkroom in radiology. Jakarta: Radiology sciences.
Anonim. 2010. Prosesing Room atau Kamar Gelap Radiologi. Accessed : 2010. Available from: http://carabudidayamodern.blogspot.com/2010/10/processing-room-atau-kamar-gelapdalam.html?m=1

Callinan, John. 1980. Radiografi in Modern Industry 4th edition. Eastman Kodak Company Jauhar, Arif. 2008. Standart Kamar Gelap Radiologi I: Kamar Gelap dan Alat Pemroses Film Radiografi. Depok: pusat kajian radiologi dan imajing. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1250/Menkes/Sk/Xii/2009 Tentang Pedoman Kendali Mutu (Quality Control) Peralatan Radiodiagnostik Lloyd,P. J. 2001. Quality Assurance Workbook for Radiographers & Radiological Technologists. Geneva: Publicated by world Health Organization/DIL/01.3 Margono, Gunawan, drg. 1998. Radiografi Intraoral. Jakarta: penerpitbukukedokteran EGC Rasad, Sjahriar. 2005. Radiologi Diagnostik. Jakarta. EGC. 2002 Rochester. 2005. Darkroom design for amateur photographers kodak publication no. Ak-3. Revised 3-05 printed in USA
Vermont Department of Health. 2011. X-Ray Facility Tips. Accessed: 2011. Available from:http://healthvermont.gov/enviro/rad/documents/xray_facility_tips_radiological_facility_d arkroom.pdf

Whaites E. Essentialials of Dental Radiography and Radiologi. London:Churchill Livingstone. 2003 . DAFTAR PUSTAKA Anam, Choirul, dkk. 2008. Pengaruh Kenaikan Suhu Cairan Developer terhadap Densitas Radiograf. Berkala Fisika hal 76.

Shantiningsih, Rurie Ratna. 2003. Processing Film. Tersedia di: http://scribd.com diakses pada 29 April 2013

Institut Pertanian Bogor. 2011. Tersedia di: http://repository.ipb.ac.id diakses pada 29 April 2013

Margono, drg. Gunawan. 1998. Radiografi Intraoral Teknik, Prosesing, Interpretasi Radiogram. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal. 30-33

Processing

Room

atau

Kamar

Gelap

dalam

Radiologi.

2012.

http://kiteklik.com/2010/10/processing-room-atau-kamar-gelap-dalam.html. Diakses 28 April 2013

Simanjuntak RR. 2012. ManajemenRumahSakit.p.1

Processing

Room

atau

KamarGelapdalamRadiografi.

Jauhar, Arif. 2008. Standart Kamar Gelap Radiologi I: Kamar Gelap dan Alat Pemroses Film Radiografi. Depok: pusat kajian radiologi dan imajing. Margono, Gunawan, drg. 1998. Radiografi Intraoral. Jakarta: penerpitbukukedokteran EGC. Anonymous. 2010. Processing room at radiology. Anonymous. 2011. Darkroom in radiology. Jakarta: Radiology sciences. Lloyd,P. J. 2001. Quality Assurance Workbook for Radiographers & Radiological Technologists. Geneva: Publicated by world Health Organization/DIL/01.3 Dofka,Charline M. 2000.Dental Terminology.Canada : the thomson Learning .p 90 Langland, Olaf E. dkk.2002.Principles of dental Imaging .2nd Edition. USA : Lipincott Willian & Wilkins.p 144 Sirvastava, Ram Kumar. 2011. Step by Step Oral Radiology. India : Jaypee .p.113 Whaites, Eric. 2003.Essential of Dental Radiography and Philadelphia : ELSEVIER. P.47 Radiology.3rd Edition.

Jurnal ADA. http://www.ncradiation.net/xray/documents/dental%20ADArad.pdf Jurnal fuji film. http://www.fujifilm.com/products/ndt/pdf/ixfilm_fundamentals_of_industrial_radiography.pdf DAFTAR PUSTAKA

White, Stuart C., Pharoah, Michael J. Oral Radiology : Principles and Interpretation 4th Edition.Mosby, Inc. 2000. ProboHindarto.4 Material DindingdanKemampuannyaMenahanRadiasiPanas. 2011. Diaksesmelalui probohindarto.wordpress.com pada 29 April 2013.

1. http://cafe-radiologi.blogspot.com/2010/10/processing-room-kamargelap.html 2. http://kiteklik.blogspot.com/2010/10/processing-room-atau-kamargelap-dalam.html