Anda di halaman 1dari 7

a. Pengertian Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang salah.

Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya klien. Waham dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan dan perkembangan seperti adanya penolakan, kekerasan, tidak ada kasih sayang, pertengkaran orang tua dan aniaya. (Budi Anna Keliat,1999). Gangguan isi pikir dapat diidentifikasi dengan adanya waham. Waham atau delusi adalah ide yang salah dan bertentangan atau berlawanan dengan semua kenyataan dan tidak ada kaitannya degan latar belakang budaya (Keliat, 2009) b. Tanda dan gejala : Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama, kebesaran, curiga, keadaan dirinya) berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai dengan kenyataan Klien tampak tidak mempercayai orang lain, curiga, bermusuhan Takut, kadang panik Tidak tepat menilai lingkungan / realitas Ekspresi tegang, mudah tersinggung c. Penyebab Penyebab secara umum dari waham adalah gannguan konsep diri : harga diri rendah. Harga diri rendah. Waham dipengaruhi oleh factor pertumbuhan dan perkembangan seperti adanya penolakan, kekerasan, tidak ada kasih sayang, pertengkaran orang tua dan aniaya. Waham dapat dicetuskan oleh tekanan, isolasi, pengangguran yang disertai perasaan tidak berguna, putus asa, tidak berdaya. d. Psikopatologi waham Proses terjadinya waham dapat diuraikan sebagai berikut ; a. seseorang merasa terancam oleh orang lain atau oleh dirinya sendiri, mempunyai pengalaman kecemasan dan timbul perasaan bahwa sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi b. Seseorang kemudian berusaha terhadap persepsi diri dan obyek realita melalui manifestasi, lisan terhadap suatu kejadian ayau suatu keadaan.

c. Dilanjutkan dengan memperoykesikan pikiran dan perasaaan lingkungannya, sehingga pikiran, perasaan, dan keinginan yang negatif, dan tidak dapat diterima akan terlihat datangnya dari dirinya d. Akhirnya orang tersebut berusahan untuk memberikan alasan atau rasional tentang interpretasi personal ( diri sendiri ) terhadap realita kepada diri sendiri dan orang lain

Pohon Masalah
Kerusakan komunikasi verbal

Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan

Perubahan isi pikir: waham

Core problem

Gangguan konsep diri: harga diri rendah

e. Diagnosa Keperawatan Kerusakan komunikasi : verbal Perubahan isi pikir : waham Gangguan konsep diri : harga diri rendah. PERENCANAAN NO DX Tujuan Kriteria hasil 1 Perubaha Tum: klien Klien mampu n isi pikir tidak terjadi membina hubungan kerusakan salin percayadengan komunikasi perawat dengan verbal Tuk 1: Klien kriterial hasil : dapat - Membalas sapaan membina

INTERVENSI 1.1 Bina hubungan. saling percaya: salam terapeutik, perkenalkan diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat

hubungan saling percaya dengan perawat

perawat - Eksperi wajah bersahabat & senang. - Ada kontak mata, jabatangan - Mau menyebut nama dan klien mau duduk berdapingan dengan perawat - klien mau mengutarakan masalah yang di hadapi.

kontrak yang jelas topik, waktu, tempat). 1.2 Jangan membantah dan mendukung waham klien: katakan perawat menerima keyakinan klien "saya menerima keyakinan anda" disertai ekspresi menerima, katakan perawat tidak mendukung disertai ekspresi ragu dan empati, tidak membicarakan isi waham klien. 1.3 Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindungi: katakan perawat akan menemani klien dan klien berada di tempat yang aman, gunakan keterbukaan dan kejujuran jangan tinggalkan klien sendirian. 1.4 Observasi apakah wahamnya

mengganggu aktivitas harian dan perawatan diri 2: Klien dapat mengidentifi kasi kemampuan yang dimiliki 2.1 Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis. 2.2 Diskusikan bersama klien kemampuan yang dimiliki pada waktu lalu dan saat ini yang realistis. 2.3 Tanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian anjurkan untuk melakukannya saat ini (kaitkan dengan aktivitas sehari - hari dan perawatan diri). 2.4 Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai kebutuhan waham tidak ada. Perlihatkan kepada klien bahwa klien sangat penting. 3.1 Observasi

3: Klien

dapat mengidentifi kasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi

kebutuhan klien sehari-hari. 3.2 Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di rumah maupun di rumah sakit (rasa sakit, cemas, marah). 3.3 Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham. 3.4 Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan memerlukan waktu dan tenaga (buat jadwal jika mungkin). 3.5 Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk menggunakan wahamnya. 4.1 Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (diri, orang lain, tempat dan waktu). 4.2 Sertakan klien

4: Klien dapat berhubungan dengan realitas

dalam terapi aktivitas kelompok : orientasi realitas. 4.3 Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien 5: Klien dapat menggunaka n obat dengan benar 5.1 Diskusikan dengan kiten tentang nama obat, dosis, frekuensi, efek dan efek samping minum obat. 5.2 Bantu klien menggunakan obat dengan priinsip 5 benar (nama pasien, obat, dosis, cara dan waktu). 5.3 Anjurkan klien membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan. 5.4 Beri reinforcement bila klien minum obat yang benar.

Daftar pustaka 1. Keliat Budi A. 1999. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Edisi 1. EGC : Jakarta 2. http://arsipguntur.blogspot.com/2013/03/lp-waham.html 3. http://ahlinyajiwa.blogspot.com/2013/02/laporan-pendahuluan-waham.html 4. http://rastirainia.wordpress.com/2009/11/25/laporan-pendahuluan-asuhankeperawatan-pada-klien-dengan-gangguan-isi-pikir-waham/