Anda di halaman 1dari 17

BAB II LANDASAN TEORI

2.1

Transistor sebagai Saklar Selain bekerja sebagai penguat, transistor juga dapat bekerja sebagai saklar,

transistor memiliki tiga daerah yang dapat dilihat pada gambar 2.1 berikut ini :
RC RB RB V V + VBB VCe + VCC RC VCC RC Sakelar tertutup Q

tB

Sakelar terbuka

Gambar 2.1 Rangkaian Transistor dan garis bebannya (Wasito,1995, h:12)

Jika sebuah transistor digunakan sebagai saklar, maka transistor tersebut hanya dioperasikan pada salah satu dari dua kondisi yaitu kondisi saturasi (jenuh) dimana transistor seperti saklar tertutup atau kondisi cut off (tersumbat) dimana transistor sebagai yang terbuka. Sedangkan jika transistor bekerja pada on atau off, maka transistor akan bekerja sebagai penguat yaitu jika Vbe transistor lebih besar 0,5 volt dan lebih kecil dari 0,8 volt. (Wasito, 1995, h:12). Ketika transistor berada dalam kondisi saturasi, maka: 1. Arus pada kolektor maksimum, Ic = Ic (sat). 2. Tegangan pada terminal kolektor emitter, Vce = 0 volt 3. Tegangan pada beban yang dihubungkan seri dengan terminal kolektor = Vce. Sedangkan transistor dalam keadaan cut off, maka: 1. Tidak ada arus yang mengalir dikolektor Ic = 0 volt. 2. Tegangan pada terminal kolektor emitter dengan Vce, yaitu Vce = Vce. 3. Tegangan pada beban dihubungkan seri pada kaki kolektor adalah nol.

Dalam merancang rangkaian transistor sebagai saklar maka agar saklar dapat menutup, harga lb > lb (sat) untuk menjamin dapat mencapai saturasi penuh. (Wasito,1995,h:12).

2.2

Kristal Kristal mempunyai sifat piezoelektrik yaitu bahwa bila suatu potensial listrik

dikenakan pada permukaan-permukaannya maka kristal tersebut secara fisik akan berubah bentuk. Sebaliknya, bila kristal yang sama diubah bentuknya secara mekanis oleh tekanan, suatu potensial listrik akan terjadi diantara permukaanpermukaannya. (Wasito,1995.h:14).

RS XL LS CP

fS
XC

fP

CS

Gambar 2.2 Kristal Piezoelektrik

Kristal ini juga memperlihatkan gejala resonansi mekanis bila dipacu oleh suatu potensial bolak-balik dengan frekuensi yang tepat. Frekuensi resonansi mekanis itu ditentukan oleh ukuran besar dan bentuk dari contoh kristal yang bersangkutan dan dapat diatur untuk mendapatkan beberapa tingkat frekuensi yaitu kira-kira 20 KHz hingga 50 MHz, dengan ketelitian yang cukup baik. Dalam bentuk kemasan piezoelektrik merupakan sepotong kristal yang dibentuk sedemikian rupa sehingga memberikan frekuensi mekanis yang dikehendaki dengan elektroda-elektroda yang diisolasi dan dilekatkan pada permukaanpermukaan yang berhadapan, sehingga terbentuk suatu alat yang kapasitif. (Wasito,1995,h:14).

Secara listrik, resonasi mekanis alat ini membuat kristalnya terlihat sebagai suatu rangkaian resonasi seri dengan faktor Q yang tinggi sekali, dengan sebuah kapasitor yang pararel dengannya. Kapasitor ini menyebabkan suatu resonansi pararel kedua, yang terjadi pada suatu frekuensi dekat sekali dengan titik resonansi mekanis. Reaktansi suatu kristal kuarsa (quartz) diperlihatkan dalam gambar 2.2 untuk frekuensi-frekuensi rendah hingga resonansi mekanis seri, kristal itu bersifat kapasitif. Untuk frekuensi-frekuensi diantara resonansi seri dan titik-titik resonansi pararel, reaktansi itu induktif, dan untuk frekuensi-frekuensi diatas resonansi pararel, reaktansi tersebut kembali bersifat kapasitif. Pada resonansi pararel Xls =Xes dan rekatansi adalah nol, sedangkan pada resonansi pararel Xls = (Xes seri Xep) dan reaktansi adalah tak terhingga. Frekuensi-frekuensi resonansi kristal adalah sangat tertentu dan sangat mantap (stable), asal saja suhu kerja dijaga konstan, sehingga sangat sesuai untuk digunakan sebagai resonansi Q yang tinggi yang mengatur frekuensi kerja dari rangkaian osilator. (Wasito,1995,h:14).

2.3 Gelombang Ultrasonic Gelombang ultrasonic adalah gelombang suara yang memiliki frekuensi diatas batas pendengaran manusia. Gelombang ultrasonic memiliki frekuensi diatas 20 kHz, umumnya dapat didengar oleh binatang-binatang yang memiliki kepekaan terhadap gelombang ultrasonic seperti kelelawar. (Paul;,1983, H:70). Pada aplikasi pengukuran jarak, gelombang ultrasonic masih digunakan karena pertimbangan ekonomis dan praktis, memiliki efisiensi harga yang tinggi. Namun demikian gelombang ultrasonic yang berada pada frekuensi yang lebih rendah memiliki energi yang lebih rendah sehingga hanya mampu menjangkau jarak yang tidak begitu jauh. Dengan demikian untuk pemakaian pengukuran jarak pendek gelombang ultrasonic lebih efisien dibandingkan dengan gelombang sinar lain. Hal lain yang menentukan pemilihan ultrasonic adalah sebaran pancaran yang lebar. Sifat gelombang ultrasonic yang lebih lebar sebaran pancarannya dapat mengatasi dimana benda yang memantulkan tidak sama betuknya setiap saat.

Karena pada jarak tertentu tidak menyebabkan jarak secara akurat namun lebih mendeteksi nilai rata-rata jarak yang dipancarkan oleh gelombang ultrasonic.

2.4

Transducer Ultrasonic Transducer adalah suatu alat listrik yang dapat mengubah suatu bentuk

energi ke bentuk energi yang lain. Dalam rangkaian listrik transducer mengubah suatu besaran fisik non listrik seperti suhu, tekanan, bunyi dan sebagainya menjadi besaran listrik. Transducer ultrasonic baik pengirim maupun penerima menggunakan teknik piezoelektrik yaitu penggetaran membran menggunakan sifat kapasitif dari suatu bahan. Dengan teknik piezoelektrik ini dapat dibuat ultrasonic transducer yang kecil bentuknya dan memiliki kepekaan yang tinggi. (Paul,1993,h:46). Setiap transducer ultrasonic memiliki karakteristik frekuensi pengirim dan penerima yang sama. Untuk itu setiap piranti yang menggunakan pengirim ultrasonic harus memiliki frekuensi yang sama dengan frekuensi penerimanya. Transducer ultrasonic dipilih dalam rangkaian alat ini karena merupakan transducer aktif yaitu transducer yang dapat membangkitkan signal listrik sendiri bila terjadi perubahan enegi dari luar. Kekurangannya dari transducer ultrasonic adalah dalam kondisi statis tidak dapat terjadi perubahan sehingga tidak menghasilkan sinyal listrik. (Paul,1993,h:46).

2.5 IC Pewaktu MC1455 IC Pewaktu MC1455 adalah merupakan IC kontrol yang stabil dapat membangkitkan tundaan waktu atau guncangan/ osilasi yang akurat. Terminal tambahan di sediakan untuk pemicu dan reset jika diperlukan. Pada mode tundaan waktu, waktu dengan cermat dikontrol oleh satu eksternal resistor dan kapasitor. Untuk operasi astabil sebagai osilasi, frekuensi dan daur aktif (duty cycle) dikontrol dengan akurat menggunakan dua eksternal resistor dan satu kapasitor. Sifat-sifat dari IC MC1455 adalah : 1. Pengganti dari IC Pewaktu NE555. 2. Pewaktu (timming) dari mikrodetik (s) hingga jam.

3. Dapat beroperasi pada mode Astabel dan Monostabel. 4. Daur aktif (duty cycle) yang dapat diatur. 5. Kemantapan suhu 0.005 % per oC.

Gambar 2.3 Kemasan dan Konfigurasi pin-pin IC pewaktu MC1455

IC MC1455 mempunyai dua jenis case yaitu case 751 (D Suffix) dan case 626 (P1 Suffix) keduanya dikemas dalam kemasan plastik seperti terlihat pada gambar 2.3 Pada gambar 2.4 terlihat diagram blok dari IC MC1455, merupakan rangkaian ekuivalen dengan 20 transistor, 15 resistor, dan 2 dioda. Rangkaian ekuivalen dalam diagram blok memberikan fungsi kontrol, penyulutan (triggering), level sensing atau comparison discharge, dan power output.

Gambar 2.4 Diagram Blok Rangkaian Dalam IC MC 1455

10

Terminal-terminal (Pin-pin) IC MC1455 : 1. Pin 1 (Ground) Pin ini merupakan potensial negatif dari IC MC1455, pin ini umumnya dipasang pada saat dioperasikan dari tegangan supply positif. 2. Pin 2 (Trigger / Pemicu) Pin ini merupakan input bagi lower comparator dan digunakan untuk mengatur latch, bila berubah dapat menyebabkan output menjadi tinggi. Pemicuan dikerjakan dengan memberikan level dari atas ke bawah sebesar 1/3 Vcc. 3. Pin 3 (Output / Keluaran) Output dari IC ini berasal dari high current totem-pole stage yang dibuat dari lima buah transistor. Pin 3 bisa menjadi sumber arus atau penerima arus. Sebuah beban supply ambang akan hidup bila output rendah dan mati bila output tinggi. Sebuah beban ter-ground akan hidup bila keluaran rendah 4. Pin 4 (Reset) Pin ini digunakan untuk mereset latch dan mengembalikan output pada keadaan low atau sama dengan potensial ground. Untuk mereset keluarannya membutuhkan tegangan ambang sebesar 0,7 Volt dan arus sebesar 0,1 mA. Bila tidak digunakan maka sebaiknya input reset (pin 4) dihubungkan ke Vcc untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam mereset. 5. Pin 5 (Control Voltage / Pengendali Tegangan) Pin ini mengijinkan hubungan langsung ke 2/3 Vcc pembagi tegangan, hal ini merupakan referensi untuk upper comparator. Pin 5 dapat tidak digunakan tapi disarankan untuk memasang 0,01 F sebagai bypass ke ground untuk menghilangkan ripple dari tegangan supply. 6. Pin 6 (Threshold / Ambang) Pin ini merupakan salah satu input ke upper comparator dan digunakan untuk mereset latch yang mengakibatkan keluaran menjadi

11

rendah. Mereset melalui pin ini dilakukan dengan memberikan tegangan sebesar 2/3 Vcc. 7. Pin 7 (Discharge / Pengosongan) Pin ini dihubungkan ke open kolektor transistor NPN. Sedangkan kaki emitter terhubung ke ground sehingga saat transistor aktif maka pin 7 terhubung ke ground. Umumnya kapasitor dipasang di antara pin 7 dan ground dan pengosongan akan terjadi pada saat transistor aktif. Saat transistor tidak aktif, maka pin 7 bekerja sebagai hubungan terbuka dan memungkinkan kapasitor mengisi muatannya. Kondisi transistor ini sama dengan timming pada bagian output. Transistor aktif pada saat output low dan tidak aktif pada saat output high. Pada aplikasi tertentu, output open kolektor ini dapat digunakan sebagai pembantu terminal output. 8. Pin 8 (Vcc / Tegangan Sumber) Pin ini merupakan terminal positif tegangan supply dari IC 1455. Tegangan kerja dari IC ini berkisar antara 4.5 Volt sampai dengan 16 Volt. Ini akan bekerja tanpa merubah perioda waktunya walaupun pada tegangan yang berbeda.

2.6

Osilator Osilator adalah suatu rangkaian elektronic yang dapat membangkitkan

gelombang atau sinyal dengan frekuensi dan amplitudo tertentu tanpa sinyal input. Bentuk gelombang yang dihasilkan dapat berupa gelombang sinusoida, gelombang persegi, gelombang segitiga, pulsa dan betuk gelombang yang lain. (Paul,1993,h:87) Prinsip dasar osilator adalah closed loop amplifier dengan feedback positif, besarnya gain adalah sebesar :

12

Af =

A 1 + AB

...........................................................(2.1)

Dimana : Af = gain dengan feedback A = open loop gain B = factor feed Vf / Vo Kondisi yang harus dipenuhi agar terjadi osilasi sesuai dengan kriteria Barkausan adalah : 1. Closed loop gain harus sama dengan atau lebih besar dari satu (AB 1). 2. Pergesaran phasa pada feedback network dan amplifier harsu 0o atau 360o. Berdasarkan benuk gelombang yang dihasilkan maka osilator dibedakan menjadi dua macam yaitu : 1. Osilator Harmonis yaitu osilator yang menghasilkan keluaran berupa gelombang sinusoida. 2. Osilator Relaksasi yaitu osilator yang menghasilkan gelombang bukan sinusoida seperti gelombang persegi, gelombang gigi gergaji dan gelombang segitiga. Pada dasarnya osilator relaksasi merupakan rangkaian saklar yang disaklar dari keadaan jenuh ke menyumbat dan sebaliknya oleh rangkaian RC dengan frekuensi tertentu. Osilator relaksasi untuk gelombang persegi umumnya dibangkitkan dengan komponen gerbang-gerbang digital seperti gate NOT maupun NAND. Pembangkit delombang persegi sederhana dapat dibuat dengan rangkaian RC bersama dengan dua gerbang NOT (inverter). Rangkaian dari osilator ini ditunjukkan oleh gambar 2.5.
D R2 N2 B + C C

R1 A

N1

Gambar 2.5 Pembangkit pulsa persegi

13

Cara kerjanya adalah sebagai berikut : 1. Pada keadaan mula-mula tegangan titik A rendah, tegangan dititik B menjadi tinggi dan tegangan pada titik C rendah, sedangkan arus yang mengalir dari titik B ke titik A melalui R2 dan R1 diabaikan karena sangat kcil (R1 > R2). Fungsi dari R1 sebagai kompensasi untuk menstabilkan sinyal keluaran, dimana nilai R2 umumnya lebih kecil besar atau sama dengan 10 kali R2. 2. Pengisian kapasitor berlangsung hingga tegangan titik A mencapai 2/3 Vcc (ViH Inverter CMOS dengan tegangan catu Vcc). Pada saat tegangan titik A mencapai 2/3 Vcc tegangan titik B menjadi rendah, dan tegangan keluaran titik C menjadi tinggi. 3. Kapasitor mendapat polaritas tegangan yang berlawanan, maka terjadi pembuangan muatan kapasitor hingga tegangan titik A menjadi 1/3 Vcc, tegangan titik B menjadi tinggi dan tegangan keluaran titik C menjadi rendah kembali. Kapasitor C mulai diisi ulang. 4. Proses ini terjadi berulang-ulang sehingga pada keluaran gerbang N2 dihasilkan pulsa gelombang persegi. Frekuensi sinyal keluaran dapat ditentukan dengan persamaan pengisian dan pembungan muatan rangkaian RC. Waktu yang diperlukan kapasitor mengisi muatan sehingga tegangan dititk A naik dari 0 menjadi 2/3 Vcc adalah :

2.7

Filter Filter adalah suatu rangkaian yang berfungsi untuk melewatkan sinyal-sinyal

yang diperlukan dan menahan sinyal-sinyal yang tidak dikehendaki serta untuk memperkecil pengaruh noise dan interferensi pada sinyal yang dikehendaki. (Paul, 1993,h:123). Rangkaian filter dapat bersifat pasif maupun aktif menggunakan operasional amplifier (op amp) dengan komponen resistor dan kapasitor. Sedangkan filter pasif yaitu filter yang hanya tersusun dari resistor dan kapasitor, atau resistor dan inductor maupun kombinasi ketiga komponen tersebut.

14

Filter aktif mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan filter pasif seperti ukurannya yang lebih kecil, ringan dan murah serta memberikan banyak keleluasaan dalam hal perancangannya. Adapun kekurangan filter aktif ini adalah adanya kebutuhan akan catu daya dan kepekaan terhadap perubahan keadaan sekitarnya seperti perubahan suhu.

2.7.1 Low Pass Filter RC (LPF) Low Pass Filter adalah filter yang akan meloloskan frekuensi yang berada dibawah frekuensi cut off (fc dan meredam frekuensi diatas fc. Frekuensi cut off dari low pass filter RC dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : 1 fc = 2 RC .......................................................(2.2)

Rangkaian low pass filter RC dan karakteristiknya dapat dilihat pada gambar 2.6 berikut ini :
R

+
V1 C Vo

- 2dB

fC Gambar 2.6 Rangkaian dan karkteristik frekuensi dari LPF

Rangkaian low pass filter RC memiliki penguatan yang konstan hingga pada frekuensi pole tertentu. Penguatan mulai menurun seiring dengan naiknya frekuensi. Pada saat penguatan menurun, rangkaian ini memiliki karakteristik sebagai integrator. Pada gambar berikut ini memperlihatkan frekuensi responnya dan kurva fasa naik.

15

Persamaan fungsi transfer untuk respon frekuensi low pass filter adalah :

Vo =

1/2

RC

Vi(1+2 RC)+jf ................................(2.3)

Fungsi transfer ini berbagai atas tiga bagian: 1. Bila f << 1/2 2. Bila f = 1/2 3. Bila f >> 1/2 RC, Vo/Vi = 1 atau 0 dB dan sudut phasa 0o RC, Vo/Vi = 0,707 -450 atau -3 dB RC, Vo/= (1/2 RC) (1/1)-900, dimana

Penguatan menurun bersamaan dengan kenaikan frekuensi, pada bagian ini low pass filter ini berindak sebagai integrator. (Paul,1993,h:132).

2.7.2. Rangkaian Band pass Filter (BFP) Band Pass Filter adalah filter yang hanya melewatkan sinyal-sinyal yang frekuensinya tercantum dalam pita frekuensi atau pass band tertentu. Frekuensi dari sinyal yang berada dibawah pita frekuensi maupun diatas, tidak dapat dilewatkan atau diredam oleh rangkaian band pass filter. Gambar 2.7 dibawah ini memperlihatkan respon dari band pass filter.

Penguatan (dB)

3 dB

f1

fd

kHz

Gambar 2.7 Grafik frekuensi respon dari BPF

Dilihat dari respon band pass mulai naik mencapai puncaknya kemudian turun. Frekuensi tengah dinyatakan dengan fc yang mempunyai penguatan

16

maksimum. Ketika penguatan tegangan berkurang 3 dB dari penguatan tegangan pada fc maka terdapat frekuensi pancung bawah f1 dan frekuensi diatas f2 disebut pita frekuensi atau pass band yang akan melewatkan frekuensi yang tercakup diantaranya. Sedangkan frekuensi berada dibawah frekuensi pancung bawah f1 dan diatas frekuensi pancung atas f2 akan direkam, daerah tersebut disebut stopband. (Boyleslad,1992,h:145) Parameter penting dalam suatu rangkaian band pass filter adalah lebar pita atau bandwitdh ( f atau B), dan selektivitas (Q). Selektivitas didefinisikan sebagai perbandingan antara frekuensi tengah fc terhadap lebar pita f yang dirumuskan sebagai berikut: Q = fc f ....................................................(2.4)

Dan lebar pita atau bandwitdh adalah lebar dari daerah pass band yaitu selisih besar frekuensi pancung atas dengan frekuensi pancung bawah, yang dirumuskan sebagai berikut: f = f2 - f1 Q

....................................................(2.5)

Berdasarkan rumus diatas memberikan suatu ukuran lebar pita yang relatif pada rangkaian band pass filter. Makin tinggi harga Q maka makin sempit lebar pitanya karena itu filter ini menjadi semakin selektif. Band pass filter secara sederhana dapat dibuat dengan menggunakan penguat operasional dan dua pasang komponen RC seperti pada gambar 2.8 berikut ini :

17

R2 C2

C1 Vin

R1

Vout

Gambar 2.8 Rangkaian Band Pass Filter aktif

Kapasitor C1 dan resistor R2 akan membentuk sebuah high pass filter, sedangkan kapasitor C2 dan R2 akan membentuk sebuah low pass filter. Band pass filter pada umumnya terdiri dari sebuah low pass filter dan high pass filter jika frekuensi sinyal input berada pada daerah pass band yaitu diantara kedua frekuensi pancung f1 dan f2 maka sinyal akan diperkuat oleh penguat dan dapat dilewatkan. Jika sinyal masukan mempunyai frekuensi dibawah frekuensi pancung bawah, reaktansi kapasitor C1 akan membesar sehingga kapasitor menjadi open (terbuka) dan tegangan keluaran menjadi nol. Jika sinyal masukan mempunyai frekuensi diatas frekuensi pancung atas f1 maka reaktansi kapasitor C1 mengecil sehingga kapasitor menjadi short (terhubung singkat) dan terjadi penguatan tegangan. Jika frekuensi masukan dibawah frekuensi pancung f2 maka frekuensi kapasitor C2 membesar sehingga kapasitor menjadi terbuka dan terjadi penguatan tegangan. Jika frekuensi masukan diatas frekuensi pancung atas f2 maka reaktansi kapasitor C2 mengecil sehingga kapasitor terhubung singkat dan arus langsung masukan R2 tanpa melalui penguatan sehingga tidak terjadi penguatan tegangan pada keluaran.

18

Frekuensi pancung bawah yang terjadi berdasarkan gambar diatas adalah : 1 f1 = 2 R2C1 ..............................................(2.6)

Frekuensi pancung atas yang terjadi adalah : 1 f1 = 2 R2C1 ..............................................(2.7)

Sedangkan frekuensi tengahnya (fc) adalah : fc = f2 - f1 2

..............................................(2.8)

2.8

Operasional Amplifier (Op-Amp)

Penguat operasional atau op-amp adalah suatu rangkaian yang menerima sebuah isyarat dan mengeluarkan sebentuk isyarat tak berubah yang lebih besar dikeluarkannya. Terdapat dua jenis penguat operasional yaitu penguat tak membalik (non inverting) dan penguat membalik (inverting).

(Robert,1994,h:124).
TAK MEMBALIK

+
A

V1

V out

MEMBALIK

V2

Gambar 2.9 Lambang operasional amplifier

Gambar 2.9 adalah simbol dari penguat operasional, A adalah penguat tegangan (volt gain), Vi merupakan masukan tak membalik dan fasa tegangan masukan sama dengan fasa tegangan keluaran, sedangkan V2 merupakan

19

masukan membalik dan fasa tegangan masukan berbeda 1800 dengan tegangan keluaran. Tegangan masukan diffrensialnya adalah:

Vin = V1-V2

...........................................................

(2.9)

Tegangan masukan diffrensial ada karena perbedaan tegangan antara masukan tak membalik dengan masukan membalik. Selama penguat operasional bekerja pada daerah pada daerah linier maka tegangan output dinyatakan dalam persamaan: Vout = A Vin (2.10)

Cara termudah untuk menggunakan suatu penguat operasional adalah loop terbuka (tidak ada resistor umpan balik), seperti ditunjukkan dalam gambar 2.9. Karena penguatan yang tinggi dari penguat operasional tegangan kesalahan yang sedikit (secara tipikal dalam mikrovolt) menimbulkan ayunan (swing) output maksimum. Misalnya, jika V1 lebih besar dari pada V2 maka tegangan kesalahan adalah positif dan tegangan output menuju ke harga positif maksimumnya secara tipikal 1 sampai 2V kurang dari tegangan catu. Dipihak lain jika V1 kurang dari V2 maka tegangan output berayun keharga negatif maksimum. (Robert G., Operational Amplifier, 1994).

+VCC V in Vout +VEE a


-V

Vout
+V

sat

sat b

Gambar 2.10.(a) Op-amp sebagai komparator, (b) Karakteristik komparator

20

Gambar 2.10.(b) memperlihatkan respon dari komparator. Tegangan kesalahan Positif mendorong output ke + Vsat. Harga positif maksimum dari tegangan output. Tegangan kesalahan negatif menimbulkan tegangan output Vsat. Jika sebuah penguat operasional digunakan seperti ini, maka disebut komparator karena semua yang dapat dilakukannya adalah membandingkan V1 dengan V2 yang menghasilkan output positif atau negatif jenuh tergantung pada V1 lebih besar atau lebih kecil dari pada V2. (Robert G, 1994, h:125)

2.9

Regulator Tegangan (IC 7812T)

Integrated Circuit (IC) merupakan semikonduktor yang didalamnya dapat memuat ratusan atau ribuan komponen dasar elektronik. Komponen-komponen yang ada dalam IC membentuk suatu subsistem terintegrasi yang bekerja untuk keperluan tertentu. Setiap jenis IC didesain untuk keperluan khusus sehingga pada rangkaian IC tersebut memiliki rangkaian internal yang beragam. Regulator tegangan ( IC 7812T) digunakan untuk menghasilkan tegangan yang konstan sebesar 12 volt dengan arus maksimum 1,5 ampere. Regulator tegangan dapat memiliki perlindungan terhadap sirkuit pendek serta peredam panas yang melindungi IC dari panas yang berlebihan. Pada gambar 2.11 merupakan bentuk fisik Regulator Tegangan (IC 7812T). Regulator tegangan ditempatkan diantara dua buah resistor yang berguna sebagai filter tegangan yang melewati regulator tegangan.

Gambar 2.11. Bentuk Fisik Regulator (IC 7812T)

21

Regulator tegangan ( IC 7812T) digunakan untuk menghasilkan tegangan yang konstan sebesar 12 volt dengan arus maksimum 1,5 ampere. Regulator tegangan dapat memiliki perlindungan terhadap sirkuit pendek serta peredam panas yang melindungi IC dari panas yang berlebihan Regulator tegangan ditempatkan diantara dua buah resistor yang berguna sebagai filter tegangan yang melewati regulator tegangan.