Anda di halaman 1dari 4

A.

Warna suatu bahan dapat diukur dengan menggunakan alat kolorimeter, spektrofotometer, atau alat-alat lain yang dirancang khusus untuk mengukur warna. Cara pengukuran warna yang lebih teliti dilakukan dengan mengukur komponen warna dalam besaran value, hue, dan chroma. Nilai value menunjukkan gelap terangnya warna, nilai hue mewakili panjang geombang yang dominan yang akan menentukan apakah warna tersebut merah, hijau, atau kuning, sedangkan chroma menunjukkan intensitas warna (Winarno, 1992). Warna bahan makanan biasanya diukur dalam unit L*a*b* yang merupakan standar internasional pengukuran warna, diadopsi oleh CIE (Commission Internationale d'Eclairage). Penerangan atau Lightness berkisar anara 0 dan 100 sedangkan parameter kromatik (a, b) berkisar antara -120 and 120 (Gokmen et al., 2007). Skala warna CIELAB adalah skala warna yang seragam. Dalam sebuah skala warna yang seragam, perbedaan antara titiktitik plot dalam ruang warna dapat disamakan untuk melihat perbedaan warna yang direncanakan (Hunterlab, 2008). Dengan CIELAB kita mulai diberikan pandangan serta makna dari setiap dimensi yang dibentuk, yaitu: - Besaran CIE_L* untuk mendeskripsikan kecerahan warna, 0 untuk hitam dan L* = 100 untuk putih), - Dimensi CIE_a* mendeskripsikan jenis warna hijau merah, dimana angka a* negatif mengindikasikan warna hijau dan sebaliknya CIE_a* positif mengindikasikan warna merah, - Dimensi CIE_b* untuk jenis warna biru kuning, dimana angka b* negatif mengindikasikan warna biru dan sebaliknya CIE_b* positif mengindikasikan warna kuning (Anonim, 2008). CIEDE2000 (CIE E* tahun 2000) yang memperhatikan komponenkomponen chroma (C), jenis warna (h), kecerahan (L) sebagai dasar perhitungan. Perhitungan CIEDE2000 adalah perumusan E* yang terakhir oleh CIE yang paling mendekati persepsi mata manusia atas perbedaan warna. Untuk itu digunakan istilah populer untuk membedakan warna seperti pada

Perbedaan komponen
L* a* b* C* h (+) lebih cerah (-) lebih gelap (+) lebih merah (-) lebih hijau (+) lebih kuning (-) lebih biru (+) lebih kuat (-) lebih kusam Perbedaan Jenis warna (dalam satuan sudut)

H E*

Perbedaan Jenis warna (dalam satuan metrik) Perbedaan Warna

Total perbedaan warna dapat disebut dengan E*. E* adalah nilai tunggal yang diperoleh untuk menghitung perbedaan L*,a* dan b* antara sampel dan standar. Terdapat dua perbedaan nilai lainnya yang berhubungan pada skala ruang warna CIELab yaitu, C* dan H*. C* adalah perbedaan chroma antara sampel dan standar yang diuraikan dalam sistem koordinat. H* adalah perbedaan sudut hue antara sampel dan standar yang diuraikan dalam sistem koordinat. Perhitungan pada skala warna CIELab menggunakan persamaan-persamaan sebagai berikut: L*= L*sampel L*standar ................................................. (6) a* = a*sampel a*standar ................................................ (7) b*= b*sampel b*standar ................................................. (8) C*= dimana C*= C* sampel C* standar ............................................. (10) H* = E* = ......................................... (11) ............................................ (12) ............................................... .............. (9)

Skala warna CIELab dapat digunakan pada berbagai objek yang akan diukur warnanya. Skala warna ini digunakan terutama pada industri-industri (Walford, 1980). B. Salah satu kriteria mutu gula aren yang telah ditetapkan oleh Standard Nasional Industri adalah warna gula. Mengenai warna gula palma, BSN (1995) telah menetapkan standar warna gula yaitu warna kuning kecokelatan sampai cokelat. Penetapan warna gula aren seperti di atas masih didasarkan pada penglihatan dengan mata. Dalam dunia industri hal ini masih kurang tepat oleh karena setiap orang mempunyai penafsiran yang berbeda-beda. Itulah sebabnya mengapa penetapan warna gula aren secara objektif perlu dilakukan (Pontoh, siap terbit). Selain itu, parameter lain yang telah ditentukan oleh BSN (1995), yaitu gula pereduksi dan kadar air masing-masing maksimal 10 %. Adanya

gula pereduksi dalam gula aren disebabkan adanya ragi yang menfermentasi sukrosa menjadi gula pereduksi. Semakin tinggi kandungan gula pereduksi dalam gula aren semakin kurang baik kualitas gula tersebut. Faktor lain yang mempengaruhi kualitas gula adalah pH. Semakin rendah pH, semakin rendah kualitas gula tersebut. Hal ini disebabkan oleh adanya mikroorganisme yang menyebabkan fermentasi lebih lanjut gula pereduksi menjadi asam-asam organik (Pontoh, siap terbit). Menurut Duxbury (2005), salah satu faktor penting dalam penentuan kualitas pangan adalah warna. Penentuan warna makanan telah dikembangkan dengan berbagai metode dengan menggunakan berbagai peralatan seperti kolorimeter dan spektrofotometer (Duxbury, 2005 dan Pontoh,2013). Menurut Altenburg (2000), teknik pengujian warna gula menggunakan spektrofotometer dikenal dengan metode ICUMSA. ICUMSA (International Commision for Uniform Methods of Sugar Analysis) merupakan lembaga yang dibentuk untuk menyusun metode analisis kualitas gula. Mengenai warna gula, ICUMSA telah menetapkan kualitas warna gula. Menurut Altenburg (2000), metode pengujian warna gula dengan standar ICUMSA yaitu menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang 420 nm dan 720 nm.Pontoh (Siap terbit) telah mengembangkan metode analisa warna untuk gula aren dengan metode ICUMSA. Namun sampai saat ini belum ada laporan yang menghubungkan kualitas warna gula aren dengan parameter kualitas gula aren lainnya seperti kadar air, pH dan gula pereduksi. Analisis warna dilakukan dengan menggunakan mata telanjang (visual) dan metode ICUMSA. Pengamatan visual dilakukan dengan melihat penampakan warna gula mulai dari yang berwarna kuning muda kecokelatan sampai hitam kecokelatan.Penentuan indeks warna gula dilakukan dengan mengambil 0,6 g sampel gula selanjutnya dilarutkan dalam aquades sebanyak 40 mL. Larutan sampel tersebut ditambahkan aquades sampai 100 mL. Kemudian larutan tersebut dituang kedalam wadah gelas kimia. Dipastikan pH meter dalam keadaan yang bersih dan telah dikalibrasi pada larutan buffer pH 4 dan pH 6,8. pH larutan sampel diatur sampai 7 dengan menambahkan 0,1 M HCl atau 0,1 M NaOH. Larutan tersebut diaduk dengan stirer magnetik selama pH larutan diatur. Kemudian dibaca absorbansinya pada spektrofotometer dengan panjang gelombang 420 nm dan 720 nm. Indeks warna larutan sampel dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: Indeks warna = Dimana a* = A = absorban

b = panjang sel (cm) c = konsentrasi (g/mL)