Anda di halaman 1dari 15

TUGAS K3 KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TERHADAP AWAK KAPAL SV.

KENARI MILIK PT BARUNA RAYA LOGISTIC

Disusun Oleh

Nama No. Mahasiswa Jurusan Jenjang

: Edy Supriadi : 121.031187 : TEKNIK MESIN : S-1

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT SAINS &TEKNOLOGI AKPRIND YOGYAKARTA

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TERHADAP AWAK KAPAL SV.KENARI MILIK PT BARUNA RAYA LOGISTIC

A. Latar Belakang Masalah Sumber daya manusia adalah salah satu aset perusahaan yang utama, selain didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas, keberhasilan tujuan perusahaan juga didukung oleh penggunaan alat atau teknologi yang canggih. Sebab ke dua hal tersebut sangat mutlak diperlukaan dalam rangka pencapaian produktivitas yang maksimal. Perusahaan yang tidak menggunakan alat yang canggih akan bisa berakibat fatal, sehingga akan mengurangi produktivitas karyawan dalam bekerja. Salah satu dampak negative dari penggunaan alat yang tidak berkualiatas adalah sering terjadinya kecelakaan kerja yang pada ujungnya berakibat pada turunnya produktivitas karyawan. Pelaksanaan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja merupakan bagian dari perlindungan bagi karyawan. Hal tersebut sesuai dengan Undang-undang No. 14 Th. 1999 tentang keselamatan dan kesehatan kerja, sesuai dengan hal tersebut maka perlu dilakukan antisipasi guna mengurangi tingkat resiko yang dilakukan oleh perusahaan terdiri dari : identifikasi bahaya, perkiraan akibat bahaya, sarana pengawasan operasional, perencanaan tindakan darurat. Penyebarluasan informasi kepada pemilik atau manajemen perusahaan sehingga dapat dijadikan acuan bagi mereka agar dapat memahami betapa pentingnya penerapan program keselamatan dan kesehatan kerja bagi karyawan. Dampak perkembangan pasar dunia bebas, keselamatan dan kesehatan kerja (K3) telah menjadi isu global, dan mempunyai kedudukan startegis, karena selain menyangkut aspek perlindungan tenaga kerja, lingkungan kerja, cara kerja, proses produksi, sangat erat pula kaitannya dengan pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja juga merupakan salah satu pilar tegaknya Hak Asasi Manusia (HAM). Oleh kerena itu dengan diadakannya program K3 sangat mendorong dalam penciptaan lingkungan kerja yang nyaman dan sehat, yang menjadi salah satu penentu daya saing perusahaan. Karena itu pelaksanaan K3 jangka panjang sangat berpengaruh terhadap kualitas manajemen, serta efisiensi kerja dan produktivitas perusahaan.

Upaya mendorong peningkatan penerapan standar K3, selain merupakaan tugas fungsi instansi ketenagakerjaan, juga merupakaan tugas dan fungsi berbagai instansi. Antara lain bidang industri, perdagangan dan bidang kesehatan dikalangan perusahaan, Karena K3 tidak

hanya memberi keutungan bagi perusahaan, tapi juga memberi kepuasan terhadap para konsumen yang berkepentingan. Salah satu perusahaan yang rentan dengan kecelakaan adalah perusahaan pelayaran, khususnya karyawan yang ada dikapal (Anak Buah Kapal). karena mereka langsung berhadapan dengan alam setiap mereka kerja (Sedang berlayar). Oleh sebab itu setiap karyawan yang ada dikapal harus ada sertificate keselamatan. Perusahaan pelayaran dalam hal ini lebih berhati-hati dalam memilih orang atau karyawan yang akan ditempatkan pada bagian kapal, hal ini salah satu cara untuk menghindari terjadinya kecelakaan di laut. Sebab karyawan yang handal, berkualitas dan mempunyai ketrampilan yang sesuai dengan SOLAS dan STCW 95 bagian deck dan mesin.

Keselamatan adalah : Suatu keadaan dalam lingkungan kerja yang dapat menjamin secara maksimal keselamatan orang-orang yang berada didalam atau tempat kerja tersebut, baik orang tersebut karyawan atau bukan karyawan dari organisasi kerja itu. (Ida Rahmawati, 2001:9) K3 sangat besar peranannya dalam peningkatan produktivitas perusahaan, terutama dapat mencegah korban manusia dan segala kerugian akibat kecelakaan tersebut, dan secara positif untuk mewujudkan kualitas hidup masyarakat sesuai dengan tujuan pembangunan. Dengan demikian K3 yang berjalan dengan baik dapat mendorong dan memicu produktivitas dan produksi.

B. Pengertian Manajemen Keselamatan Menurut Bennett (2006:188) fungsi manajemen keselamatan dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara sebagai berikut : 1. Mengungkapkan sebab musabab dari kecelakaan (akarnya), dan 2. Meneliti apakah ada pengendalian atau tidak Kesalahan operasional yang menimbulkan kecelakaan tidak terlepas dari perencanaan yang kurang lengkap, keputusan-keputusan yang tidak tepat, dan salah perhitungan dalam organisasi, pertimbangan, dan praktek manajemen yang kurang mantap. Thomas J. Peter et.all (2001:50) mengungkapkan bahwa: Perusahaan-perusahaan yang sukses biasannya menggunakan tenaga kerja yang bermutu tinggi, atau berminat mencapai keunggulan dalam pekerjaan mereka setiap hari. Ungkapan ini ada benarnya karena kelayakan (merit) dan keunggulan (excellennce) erat kaitannya dengan produktifitas yang tinggi.

International Safety Management Code (ISM Code), (2003:2): Means the International Management Code for the Safe Operation of Ships and for Pollution Prevention as adopted by the Assembly, as may be amended by the Organization and "Safety management system" means a structured and documented system enabling Company personnel to implement effectively the Company safety and environmental protection policy. Berdasarkan pendapat diatas, maka pengertian manajemen keselamatan dapat disimpulkan bahwa manajemen keselamatan adalah sistem keseluruhan meliputi

perencanaan, pelaksanaan, tanggungjawab, prosedur dalam penerapan dan pencapaian kebijakan keselamatan kerja dan keselamatan lingkungan.

C. Pengertian Keselamatan Pelayaran Hananto Soewedo (majalah Figur, edisi XIV/2007, hal 13) mengatakan bahwa : Keselamatan pelayaran merupakan faktor yang sangat penting ketika seorang Nakhoda menjalankan tugasnya menakhodai kapal pelayaran mengarungi samudera. Menurut PP nomor 3/2001 tentang Keselamatan dan Keamanan Penerbangan : Keselamatan transportasi merupakan keadaan yang terwujud dari penyelenggaraan transportasi yang lancar sesuai dengan prosedur operasi dan persyaratan kelaik teknis. Undang-undang RI nomor 21 pasal 1 tentang Pelayaran berbunyi Pelayaran adalah : Segala sesuatu yang berkaitan dengan angkutan di perairan, kepelabuhanan, serta keamanan dan keselamatannya. D.A. Lasse, (2006 :59) dalam bukunya Keselamatan Pelayaran di Lingkungan Teritorial Pelabuhan mengatakan bahwa : Kapal mempengaruhi keselamatan pelayaran harus dapat mengikuti setiap gerakan yang diperintahkan karena dilengkapi dengan mesin, baling-baling, kemudi, jangkar, tali tambat, alat-alat komunikasi, dan awak kapal yang keseluruhan memenuhi ketentuan kelaik yang disyaratkan. Berdasarkan pendapat-pendapat diatas, maka pengertian keselamatan pelayaran adalah keselamatan yang dipengaruhi beberapa faktor penunjang seperti Nakhoda, Kapal, dan Prosedur sehingga kecelakaan kapal dapat dicegah untuk penyelenggaraan transportasi laut.

D. Pengertian Keselamatan Kerja Semua kegiatan kerja, baik yang didarat, dilaut, diudara ataupun disemua tempat kerja itu dilakukan sangat memerlukan dukungan keselamatan, Hal tersebut seperti telah diatur oleh Pemerintah dalam Undang-undang No. 1 Th. 1970. Menurut Undang-undang No. 1 Th.

1970 pasal I menyebutkan tempat kerja yang memerlukan keselamatan kerja adalah ditiap ruangan atau lapangan baik yang terbuka maupun yang tertutup, dimana tenaga kerja bekerja atau yang sering dimasuki oleh tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dimana terdapat sumber bahaya. Termasuk didalamnya semua ruangan, lapangan, halaman dan sekelilingnya yang memerlukan bagian-bagian yang berhubungan dengan tempat kerja tersebut. Keselamatan kerja dapat diartikan suatu keadaan dalam lingkungan atau tempat kerja yang menjamin secara maksimal keselamatan orang-orang yang berada didaerah atau tempat tersebut, baik orang tersebut karyawan ataupun bukan karyawan dari organisasi kerja itu. Berdasarkan pendapat diatas, keselamatan kerja meliputi hal-hal sebagai berikut: 1. Penempatan benda atau barang dengan benar, sehingga tidak membahayakan atau mencelakakan orang-orang yang berada disekitarnya. Apabila barang atau benda tersebut dapat membahayakan dan menimbulkan kecelakaan kalau dipegang, disentuh, dicium dan didekati tanpa mempergunakan alat pelindung tertentu, maka harus diberi tanda-tanda dan peringatan yang cukup atau petunjuk. 2. Penyediaan perlengkapan pencegahaan kecelakaan, berupa alat pencegah kebakaran dan pintu darurat pertolongan apabila terjadi kecelakaan misalnya alat PPK, Perahu penolong disetiap kapal besar, tabung oksigen dan ambulace. 3. Memberikan alat perlindungan yang sesaui dan baik pada karyawan yang memakai alat pelindung tersebut, berupa gas masker, alat pelindung dada dan pakaian anti peluru. Ada beberapa syarat keselamatan kerja yang terdapat pada peraturan perundang-undang No. I th. 1970 pasal 3 yang ditetapkan untuk : a. Mencegah dan mengurangi kecelakaan b. Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran. c. Mencegah dan mengurangi bahaya kebakaran. d. Memberikan kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau kejadian-kejadian lain yang berbahaya. e. Memberikan pertolongan pada kecelakaan . f. Memberi alat-alat perlindungan diri pada pekerja. g. Mencegah dan mengidentifikasi timbulnya atau menyebarkan luasnya suhu, kelembahan, debu, asap, uap, gas, hembusan angin, sinar radiasi, suar dan getaran. h. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik fisik maupun psikis, keracunan dan infeksi. i. Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai .

j. Menyelengggarakan suhu dan lembab udara yang baik. k. Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup. l. Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban. m. Mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binatang teruatam barang. n. Mangamankan dan memelihara segala jenis bangunan. o. Mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat, perlakuan dan penyimpanan barang. p. Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya . q. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang bahaya kecelakaan menjadi bertambah. Jadi jelaslah sudah, bahwa masalah kecelakaan kerja bukan hanya menjadi masalah bagian personalia, akan tetapi masalah tersebut telah menjadi masalah yang ditangani secara serius oleh pemerintah. Setiap tindakan yang efektif hendaknya terlebih dahulu harus dibuat rencana terlebih dahulu, setelah suatu perusahaan ada minat tersebut maka hal tersebut harus cepat direalisasikan. Bukti dari keseriusan tersebut adalah dibuatnya suatu program, baik program yang komplek maupun yang sederhana. Program keselamatan kerja dapat terdiri dari salah satu atau lebih elemen-elemen sebagai berikut : a. Didukung oleh manajemen puncak dukungan dari manajemen puncak mutlak diperlukan, agar program K3 dapat berjalan secara efektif dan efisien, Dukungan tersebut dapat ditunjukkan secara konkrit, misal dengan dibentuknya direktur keselamatan kerja. b. Direktur keselamatan kerja Untuk memperlancar program keselamatan dan kesehatan kerja maka suatu perusahaan kemudian mengangkat seorang direktur keselamatn kerja, dimana tugas dari direktur keselamatan kerja ini adalah mengawasi setiap program yang telah ditentukan. c. Gatra (Aspek) tehnis Setiap pelaksanaan program keselamatan dan kesehatan kerja memerlukan perhatian yang cermat dari aspek tehnis. Aspek tersebut meliputi penerangan cukup, tempat kerja yang bersih, ventilasi cukup serta semua peralatan yang bahaya diberi alat pengaman. d. Pendidikan Beberapa cara yang dapat ditempuh dalam proses mendidik karyawan agar, karyawan bertindak, berfikir dan bekerja secara aman, diantaranya dengan :

1) Memberikan penjelasan mengenai keselamatan kerja pada saat pelantikan karyawan baru. 2) Penekanan titik keselamatan selama sidang atau pelantikan ditempat kerja. 3) Usaha-usaha khusus yang dilakukan oleh penyelia tingkat pertama pembentukan panitia keselamatan 4) Pengadaan rapat-rapat khusus tentang keselamatan karyawan. 5) Penggunaan majalah perusahaan. 6) Penggunaan gambar-gambar, poster untuk menekankan pentingnya masalah keselamatan kerja. e. Analisa kecelakaan Apabila terjadi kecelakaan, biasanya tindakan pencegahaan telah gagal, walaupun demikian bukan berarti pihak perusahaan telah salah dalam penerapan program keselamatan tersebut. Dengan demikian dapat dipelajari alatalat yang dapat menimbulakan bahaya, sehingga dapat ditekan bahaya yang ditimbulkan. Analisa hendaknya digunakan untuk maksud maksud perbaikan dimasa yang akan datang. f. Perlombaan keamanan keselamatan kerja Penyelenggaraan perlombaan keamanan tersebut merupakan salah satu cara untuk mendidik karyawan tentang pentingnya penggunaan alat-alat pengaman. g. Pelaksanaan peraturan Keharusan untuk menjalankan peraturan-peraturan yang telah dibuat, disertai dengan pemberian sanksi-sanksi apabila peraturan tersebut dilanggar, dengan demikian akan sangat membatu pelaksanaan program ini.

E. Pengertian Kecelakaan Kerja Pada intinya kecelakaan kerja itu bersifat tidak pasti, karena tidak dapat diprediksi kapan terjadinya, dimana tempatnya serta besar atau kecilnya kerugian yang ditimbulkan. Sehingga orang sering beranggapan bahwa kecelakaan itu berhubungan dengan nasib seseorang. Padahal kecelakaan itu sebenarnya selalu didahului oleh gejala-gejala yang menandakan akan adanya suata kecelakaan tersebut. dengan kata lain kecelakaan itu bisa dicari apa penyebabnya. Menurut Sumamur (1993:8), Kecelakaan adalah kejadian tak terduga dan tak diharapkan, tidak terduga karena didalamnya tidak terdapat unsur kesengajaan serta tidak diharapkan karena peristiwa kecelakaan dapat menimbulkan kerugian baik ringan maupun berat.

Moekijat (1997:202) menyebutkan bahwa kecelakaan adalah suatu atau sesuatu peristiwa yang tidak diharapkan yang merintangi atau menganggu jalannya kegiatan biasa. Peristiwa terjadinya kecelakaan harus diketahui secara tepat, bagaimana dan mengapa terjadi. Keterangan mengenai kecelakaan kerja misalnya oleh alat yang digunakan atau tertimpa oleh benda yang jatuh. Bila suatu bagian dari rentetan suatu kejadian dihilangkan maka kecelakaan tidak akan terjadi. Kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak diduga semula yang dapat menimbulkan korban manusia dan harta benda.(Siswanto, 2002:47) Umumnya penyebab kecelakaan kerja dapat digolongkan menjadi 3 (Tiga) Macam yaitu: a. Tindakan manusia dalam bekerja yang menimbulkan bahaya-bahaya kecelakaan seperti sifat manusia, lalai, malas, lupa, khilaf dan kurang berhati-hati sehingga mendatangkan akibat yang buruk. b. Hal-hal yang tidak terjangkau oleh manusia pada saat itu. hal ini dinamakan faktor X yang perlu diperhatikan. c. Lingkungan, fasilitas dan peralatan kerja yang dapat menimbulkan bahaya kecelakaan kurangnya fasilitas, rusaknya peralatan atau tidak tersedianya peralatan yang memadai serta lingkungan yang tidak nyaman. Untuk menghindari hal-hal tersebut diatas, maka suatu perusahaan harus melakukan cara-cara agar tingkat kecelakaan dapat ditekan sekecil mungkin. Adapun akibat dari adanya kecelakaan tersebut dapat menimbulkan kerugian-kerugian, antara lain : a. Kerugian akibat hilangnya waktu karyawan yang terluka. b. Kerugian akibat hilangnya waktu karyawan lain yang berhenti bekerja, karena : 1) Rasa ingin tahu 2) Rasa simpati 3) Membantu menolong karyawan yang terluka 4) Alasan-alasan lain c. Kerugian akibat hilangnya waktu bagi para mandor, penyelia atau pimpinan lainnya antara lain, sebagai berikut : 1) Membantu karyawan yang terluka 2) Menyelidiki penyebab kecelakaan 3) Mengatur agar proses produksi ditempat karyawan yang terluka tetap dapat dilanjutkan oleh karyawan yang lainnya.

d. Kerugian akibat penggunaan waktu dari petugas pemberi pertolongan dan staf departemen rumah sakit, apabila pembayaran ini tidak ditanggung oleh pihak perusahaan. e. Kerugian akibat rusaknya mesin, perkakas atau peralatan lainnya atau oleh kerena tercemarnya bahan-bahan material. f. Kerugian akibat hilangnya kesempatan memperoleh laba dari produktivitas karyawan yang terluka akibat dari penggunaan mesin yang menganggur. . g. Kerugian yang timbul akibat ketegangan ataupun menurunnya moral kerja karena kecelakaan tersebut. Seperti diuraikan diatas, bahwa terjadinya kecelakaan adalah akibat dari tindakan dan rasa tidak aman dalam bekerja. Jika kedua hal tersebut digabungkan, maka yang akan terjadi adalah kecelakaan yang tidak diinginkan. Setiap perubahan urutan-urutan maupun penghasilan faktor maka akan mempengaruhi terjadinya kecelakaan. Hal tersebut disimpulkan bahwa upaya pencegahaan kecelakaan sebenarnya adalah usaha untuk menghilangkan salah satu faktor-faktor tersebut.

Pencegahan kecelakaan dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain : a. Peraturan-peraturan Peraturan adalah ketentuan yang harus dipatuhi mengenai hal-hal seperti kondisikerja umum, perorangan, kontruksi, pemeliharaan, pengawasan, pengujian dan

pengoperasian peralatan industri. Kewajiban-kewajiban para pengusaha dan pekerja, pelatihan, pengadaan kesehatan, pertolongan pertama dan pemeriksaan kesehatan. b. Standarisasi Standarisasi adalah menetapkan standar-standar resmi, setengah resmi ataupun tidak resmi, misalnya mengenai kontruksi yang aman dari jenis-jenis peralatan industri tertentu, kebiasaan-kebiasaan yang aman dan sehat ataupun tentang alat pengamanan perorangan. c. Pengawasan Sebagai contoh adalah usaha-usaha penegakan peraturan yang harus dipatuhi. 1) Riset teknis Termasuk hal hal seperti penyelidikan, peralatan dan ciri-ciri dari bahan berbahaya, penelitian tentang pelindung mesin, pengujian masker pernapasan, penyelidikan berbagai metode pencegahan ledakan gas dan debu atau pencarian bahan-bahan yang paling cocok serta perancangan tali kerekan lainnya.

2) Riset medis Dalam riset medis ini, yang termasuk adalah penyelidikan dampak fisilogis dan patologis dari faktor-faktor lingkungan dan tehnologi serta kondisi-kondisi fisik yang amat merangsang terjadinya kecelakaan. 3) Riset strategis Untuk mengetahui jenis-jenis kecelakaan yang terjadi, berapa banyak, kepada tipe orang yang bagaimana yang menjadi korban, dalam kegiatan seperti apa dan apa saja yang menjadi penyebabnya. 4) Riset psikologis Sebagai contoh adalah penyelidikan pola-pola psikologis yang menyebabkan kecelakaan. 5) Pendidikan Pendidikan ini meliputi pengajaran subyek keselamatan sebagai mata pelajaran dalam akademi tehnik, mesin, dan kursus-kursus ataupun magang. 6) Pelatihan Sebagai contoh yaitu pemberian intruksi-intruksi praktis bagi para pekerja khususnya bagi para pekerja baru. 7) Persuasi Yaitu penerapan berbagai metode publikasi dan himbuan untuk mengembangkan kesadaran akan keselamatan. 8) Asuransi Yaitu dengan cara penyediaan dana untuk meningkatkan upaya-upaya pencegahan kecelakaan, misal pabrik-pabrik yang telah mengadakan standar pengaman yang tinggi. 9) Tindakan-tindakan pengamanan yang dilakukan secara individu.

F. Pengertian Kesehatan Kerja Kesehatan adalah modal yang paling utama bagi para karyawan, karena dengan modal kesehatanlah karyawwan dapat bekerja secara maksimal, dengan demikian hasilyang dicapai akan maksimal. Sedangkan bagi perusahaan kesehatan karyawan adalah sesuatu yang sangat dihargai. Penghargaan tersebut bisa diujudkan dengan dilaksanakanya program-program kesehatan. Pengaruh lingkungan kerja yang baik tidak terlepas dari hal-hal sebagai berikut : Lingkungan yang baik, ventilasi yang cukup, penerangan serta suasan yang mendukung untuk bekerja. Beratnya pekerjaan, posisi saat bekerja dan juga lamanya jam kerja juga

10

menjadi salah satu faktor untuk dalam lingkungan kerja. Penggunaan alat-alat yang mutahir dan perkembangan ilmu industri yang tinggi mengakibatkan makin tinggi pula tingkat kecelakaan, jika hal tersebut tidak didukung oleh ketrampilan dan juga keahlian dari para pekerja. Kesehatan kerja adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk memerlihara dan meningkatkan derajat kesehatan tenaga kerja yang menyangkut baik upaya-upaya preventif (Pencegahan) Peningkatan, Rehabilitasi (Memperkerjakan kembali) ataupun kuratif (Pengobatan dan perawatan tenaga kerja (FX Suwar, 2002). Sumamur (2002:224) Maksud dan tujuan dari kesehatan kerja adalah melindungi pekerja dan masyarakat sekitar suatu perusahaan atau industri dari bahaya-bahaya yang mungkin timbul. Dalam rangka pencapaian tujuan tersebut maka harus dibuat kesepakatan antara pekerja dan juga perusahaan agar diadakanya fasilitas dan pelayanan kesehatan, yaitu semua usaha dan sarana untuk memperhatikan urusan yang menyangkut kesehatan pegawai. Adapun tujuan dari diadakanya pelayanan kesehatan diperusahaan, antara lain : 1. Memberikan bantuan kepada karyaawan dalam penyesuaian diri baik fisik maupun mental, terutama dalam penyesuaian pekerjaan dengan karyawan lain. 2. Melindungi karyawan terhadap setiap gangguan kesehatan yang timbul dari pekerjaan atau lingkungan kerja 3. Meningkatkan kesehatan badan, kondisis mental dan kemampuan fisik karyawan 4. Memberikan pengobatan dan perawatan semi rehabilitas bagi karyawan yang menderita sakit. Heidjrahman Ranupandojo dan Suad Husnan (1999:263), setiap perusahaan pasti memiliki tujuan yang berbeda beda dalam penerapan pelayanan kesehatan. Setelah perusahaan tersebut menentukan tujuan-tujuan dalam pelayanan kesehatan, maka langkah konkrit selanjutnya adalah membuat program-program kesehatan kerja, yaitu : 1. Pemeriksaan kesehatan pada waktu karyawan masuk pertama kali. 2. Pemeriksaan keseluruhan pada karyawan secara periodic. 3. Pemeriksaan kesehatan secara sukarela untuk semua karyawan secara periodic. 4. Tersedianya peralatan dan staf medis yang cukup 5. Pemberian perhatian yang sistematis dan preventif terhadap masalah ketegangan industri (Industrial Stress) 6. Pemeriksaan yang sistematis dan periodic terhadap persyaratan sanitasi yang baik.

11

G. Faktor-faktor Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Dalam rangka mewujudkan keselamatan dan kesehatan kerja yang baik, maka dalam pelaksanaannya tidak luput dari faktor-faktor didalamnya. Adapun faktor-faktor tersebut antara lain : 1. Faktor manusia Faktor manusia adalah faktor yang terpenting dalam rangka peningkatan produktivitas dan menciptakan suasana kerja yang aman termasuk didalamnya mewujudkan keselamatan dan kesehatan kerja, faktor tersebut meliputi : a. Faktor fisik, dalam faktor fisik ini meliputi antara lain : 1) Kesehatan 2) Struktur tubuh 3) Sikap kerja 4) Penginderaan 5) Dan sebagainya. b. Faktor sosial, yang termasuk dalam faktor social, antara lain : 1) Hubungan kerja dalam suatu kelompok 2) Struktur organisasi 3) Dan sebagainya. c. Faktor performansi, dalam faktor performansi, meliputi : 1) Pendidikan 2) Ketrampilan 3) Latar belakang 4) Keahlian 5) Dan sebagainya. 2. Faktor lingkungan kerja a. Faktor keselamatan kerja yang dipengaruhi olehlingkungan kerja antara lain: 1) Pencahayaan 2) Ventilasi 3) Pengaturan suhu 4) Kebisingan b. Faktor alat kerja Faktor alat berat sangat berpengaruh dalam keselamatan, karena penggunaan alat kerja yang salah juga akan berakibat fatal. sehingga akan mengakibatkan kecelakaan yang tidak diinginkan.

12

H. Pengertian Kapal Penulis mengambil definisi/pengertian sebuah kapal menurut Undang-undang yang berlaku di Negara Republik Indonesia dan juga dari Peraturan Pencegahan Tubrukan di Laut tahun 1972, menurut ke 2 peraturan tersebut, pengertian sebuah kapal adalah: 1. Pengertian kapal berdasarkan Undang-undang Pelayaran Republik Indonesia No. 21 tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2002 adalah : Kendaraan air dengan bentuk dan jenis apapun yang digerakkan dengan tenaga mekanik, tenaga angin, atau ditunda, termasuk kendaraan berdaya dukung dinamis, kendaraan dibawah permukaan air, serta alat apun dan bangunan terapung yang tidak berpindah-pindah. 2. Setiap jenis pesawat air, termasuk pesawat tanpa berat benaman dan pesawat terbang laut yang digunakan atau yang dapat digunakan sebagai sarana angkutan di air. 3. Menurut Undang-undang Nomor 21 tahun 1992 Pasal 1 angka 2 tentang pengertian kapal Kapal adalah kendaraan air dengan bentuk dengan jenis apapun yang digerakkan dengan tenaga angin atau ditunda termasuk kendaraan yang berdaya dukung dinamis, kendaraan di bawah muka air dan alat apung dan bangunan terapung yang tidak berpindah-pindah 4. Menurut Kitab Undang-undang Hukum Dagang Pasal 309:, Kapal adalah semua perahu dengan bentuk dan jenis apapun apabila tidak diperjanjikan lain, kapal termasuk perlengkapan 5. Menurut Kitab Undang-undang Hukum Dagang Pasal 310:: Kapal laut adalah semua kapal yang dioperasikan di laut atau yang diperuntukkan itu. 6. Menurut Kitab Undang-undang Hukum Dagang Pasal 311 : Kapal Indonesia adalah kapal yang dimiliki oleh warga Indonesia atau Badan Hukum yang didirikan berdasarkan hukum Indonesia berkedudukan di Indonesia, 2/3 sahamnya dimiliki oleh warganegara Indonesia

Berdasarkan pengertian kapal menurut para pakar tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian kapal adalah kendaraan air dengan bentuk dan jenis apapun yang digerakan dengan menggunakan tenaga penggerak yang digunakan diantaranya tenaga mesin diesel, tenaga mesin uap yang digunakan oleh kapal-kapal pengangkut barang (niaga) baik pengangkut peti kemas, general cargo, muatan curah, dan muatan cair (minyak bumi) serta muatan chemical dan gas.

Disamping itu kapal juga ada yang menggunakan tenaga kerjaa yaitu kapal layar atau

13

dengan bantuan layar. Untuk kapal-kapal cepat seperti kapal feri/penyeberangan menggunakan tenaga turbo.

I. Pengertian Kelaik-lautan Kapal Undang-undang nomor 21 (1992:4) tentang Pelayaran menjelaskan bahwa : Kelaik-lautan kapal adalah keadaan kapal yang memenuhi persyaratan keselamatan kapal, pencegahan pencemaran perairan dari kapal, pengawakan, pemuatan, kesehatan dan kesejahteraan awak kapal, serta penumpang dan status hukum kapal untuk berlayar di perairan tertentu. D.A. Lasse, (2006; 178) berpendapat : Kapal yang laik-laut artinya kapal memenuhi semua peraturan yang dipersyaratkan. Namun keadaan itu masih kebutuhan dasar untuk digunakan berlayar di laut. All ships which undergo repairs, alterations, modifications and outfitting related thereto shall continue to comply with at least the requirements previosly applicable to these ships. Such ships if contructed before 1 July 1986 shall, as a rule, comply with the requirements for ships constructed on or after that date to at least the same axtent as they did before undergoing such repair, alterations or outfitting. Repairs, alterations and modifications of a major character and outfitting related thereto shall meet the requirements for ships constructed on or after 1 July 1986 in so far as the Administration deems reasonable and practicable, (SOLAS, 2001;41) Sesuai peraturan SOLAS (2001:41) bagian A dapat dijelaskan sebagai berikut semua kapal yang mengalami perbaikan perubahan dan modifikasi harus selalu atau paling sedikit memasuki persyaratan pokok konstruksi kapal. Kelaiklautan kapal adalah keadaan kapal yang memenuhi persyaratan keselamatan kapal, pencegahan pencemaran perairan dari kapal, pengawakan, pemuatan, kesehatan dan kesejahteraan awak kapal serta penumpang dan status hukum kapal untuk berlayar diperairan tertentu. Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kelaik-lautan kapal harus memenuhi standar internasional yang meliputi perlengkapan kapal, pencegahan pencemaran dan diawaki oleh awak kapal yang professional, serta mempunyai status hukum yang pasti untuk kapal yang berlayar.

J. Pengertian Kelaik - lautan Awak Kapal Menurut KM.18 tentang Pendidikan, Ujian Negara dan Sertifikasi Kepelautan (1997:3) : Kelaik-lautan awak kapal adalah awak kapal yang telah memenuhi standar kompetensi pengetahuan dan keterampilan kepelautan sesuai silabus. Menurut Keputusan Badan Diklat

14

No.434/DL.002/ Diklat2000 tentang Kurikulum Pendidikan Profesional Kepelautan Dan Pendidikan Tehnis Fungsional Kepelautan (2000:4): Kelaik-lautan awak kapal adalah persyaratan mutlak bagi awak kapal setelah melalui pendidikan dan latihan dan sertifikat kepelautan sesuai kurikulum. Menurut KM. 70 tentang Pengawakan (1998:12). Kelaik-lautan awak kapal adalah syarat mutlak bagi awak kapal yang akan bekerja di atas kapal dengan memenuhi dan memiliki sertifikat keahlian pelaut (Certificate of Competence-COC) dan sertifikat keterampilan khusus pelaut (Certificate of Proficiency-COP). Dalam Undang-Undang Nomor 21 pasal 1 tentang Pelayaran, (1992;4) : Awak kapal adalah orang yang bekerja atau dipekerjakan diatas kapal oleh pemilik atau operator kapal untuk melakukan tugas diatas kapal sesuai dengan jabatannya yang tercantum dalam buku sijil. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 70 tentang Pengawakan Kapal Niaga, pasal 3 menyatakan bahwa : Setiap awak kapal harus memiliki sertifikat keahlian pelaut (COC) dan sertifikat keterampilan pelaut (COP) Dari beberapa pengertian kelaik-lautan awak kapal diatas dapat diambil kesimpulan bahwa kelaik-lautan awak kapal merupakan syarat mutlak dan harus dimiliki oleh awak kapal apabila bekerja diatas kapal serta untuk menjamin keselamatan transportasi laut ditinjau dari kelaik-lautan awak kapal.

Patriaspot.blogspot.com

15