Anda di halaman 1dari 9

AR-3122 ARSITEKTUR TEPAT GUNA CASSIA COOP TRAINING CENTER AFIFAH H. A.

(15211100)

ABSTRAK Globalisasi membawa masuk teknologi baru dan arsitektur baru ke dalam Indonesia. Hal tersebut membuat arsitektur tradisional mulai ditinggalkan dan tergantikan oleh bentuk-bentuk baru dengan teknologi-teknologi baru. Namun sayangnya penggunaan teknologi dan arsitektur baru ini kurang didampingi oleh pengetahuan yang cukup sehingga bangunan kurang dapat menjawab konteks lingkungan. Penggunaan teknik bangun sederhana dan material lokal serta penggunaan kaidah kaidah lokal dalam bangunan sebenarnya lebih dapat menjawab permasalahan lingkungan yang ada. Hal ini dapat dipelajari dalam studi kasus bangunan Cassia Coop Training Center yang terletak di tepi Sungai Kerinci. Desain bangunan yang ada mampu merespon konteks dengan baik tanpa melupakan fungsi dan struktur bangunan. Baik konteks fisik seperti penghawaan, ketahanan terhadap gempa, perlindungan terhadap hujan dan sinar matahari juga konteks non fisik seperti kondisi sosial dan budaya masyarakat setempat. Kata kunci: Globalisasi, Teknik Bangunan Sederhana, Penghawaan, Ketahanan Gempa, Perlindungan Terhadap Matahari, Perlindungan Terhadap Hujan. BAB I PENDAHULUAN Seiring berkembangnya pengetahuan dan era globalisasi, semakin mudahlah informasi yang dapat diterima. Hal ini berarti semakin banyak pula unsur-unsur budaya dan teknologi yang terserap oleh masyarakat Indonesia. Budaya dan teknologi asing masuk dan mempengaruhi kodisi budaya dan teknologi di Indonesia. Masuknya budaya dan teknologi asing dapat menjadi sesuatu yang baik atau buruk tergantung dengan implementasi yang dilakukan dan kesesuaiannya dengan konteks. Budaya dan teknologi yang masuk ini dapat tercermin langsung dari arsitektur yang ada. Orang semakin lama semakin meninggalkan bentuk dan desain arsitektur tradisional dan lebih memilih menggunakan teknologi hasil serapan dari luar. Penggunaan bentuk dan desain arsitektur asing sebenarnya sah-sah saja selama mampu menyelesaikan permasalahan yang ada dengan baik. Namun sayangnya dalam beberapa kasus yang ada implementasi arsitektur asing tersebut tidak sesuai dengan kondisi lingkungan yang
1

ada. Banyak bangunan tidak tahan terhadap gempa dan tidak memperhatikan unsur-unsur iklim tropis. Hal tersebut terjadi karena teknologi baru dalam mendirikan bangunan ini kurang dikuasai oleh masyarakat setempat dan hanya dibuat dengan pemahaman yang kurang memadai. Kurang sesuainya penggunaan arsitektur asing dalam merespon kondisi lingkungan dan penggunaan teknologi baru secara gelap mata agaknya menimbulkan permasalahan yang cukup signifikan. Padahal sejatinya Indonesia telah memiliki warisan arsitektur dan teknologi bangunan yang telah diturunkan turun temurun dan terbukti dapat menjawab permasalahan-permasalahan lingkungan yang terjadi pada iklim tropis seperti curah hujan yang tinggi, kelembaban yang tinggi, dan sinar matahari yang cukup terik sepanjang tahun. Kearifan lokal yang telah ada dan diwariskan dari generasi ke generasi seakan mulai pudar dan tergantikan oleh arsitektur baru yang sebenarnya asing. Asing karena pada dasarnya banyak orang tidak memahami sepenuhnya mengenai teknologi baru tersebut. Untuk itu pada tulisan ini saya ingin mencoba melakukan analisis desain terhadap sebuah bangunan yang dibangun dengan konstruksi sederhana menggunakan material lokal. Hal ini untuk megetahui bagaimana persoalan fungsi, konteks, dan struktur dapat terselesaikan dengan menggunakan desain dan bentuk yang dikenal oleh masyarakat.

BAB II KAJIAN PUSTAKA Teori Angin Angin adalah udara yang bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Angin berhembus dikarenakan beberapa bagian bumi mendapat lebih banyak panas matahari debandingkan tempat lain. Akibatnya udara yang naik mengembang dan menjadi lebih ringan. Karena lebih ringan dibandingkan udara sekitarnya, udara akan naik. Begitu udara panas tadi naik, tempatnya akansegera digantikan oleh udara sekitar terutama udara dari atas yang lebih dingin dan berat. Proses ini terjadi terus menerus , akibatnya kita bisa merasakan adanya pergerakan udara yang disebut dengan angin. (Nasir, 1990) Strategi Pencapaian Suhu Nyaman Pada Daerah Tropis Berdasarkan Artikel: Kenyamanan Suhu Dalam Arsitektur Tropis oleh Tri H. Karyono 1999 Beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam kaitannya dalam modifikasi iklim secara ilmiah adalah: 1. Penanaman pohon lindung disekitar bangunan sebagai upaya menghalangi radiasi matahari secara langsung pada material keras seperti halnya atap, dinding, halaman parkir, atau halaman yang ditutup dengan material keras (beton, aspal) akan sangat membantu untuk menurunkan suhu lingkungan. Dari berbagai penelitian yang dilakukan
2

diantaranya Akbari dan Parker memperlihatkan bahwa penurunan suhu hingga 3 derajat bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai dengan cara penanaman pohon lindung di sekitar bangunan. 2. Pendinginan malam hari Simulasi computer terhadap efek pendinginan malam hari yang dilakukan oleh Cambridge Architectural Research Limited memperlihatkan bahwa penurunan suhu hingga tiga persen dapat dicapai dengan penggunaan material bangunan yang berat (beton, bata) apabila perbedaan suhu antara siang dan malam tidak ebih dari delapan derajat. 3. Meminimalkan perolehan panas Hal ini dapat dilakukan dengan bebagai cara, pertama menghalangi radiasi sinar matahari langsung pada dinding transparan yang dapat mengakibatkan terjadinya efek rumah kaca,yang berarti akan menaikan suhu dalam bangunan. Kedua, mengurangi transmisi panas dari dinding , dinding massif yang terkena panas matahari langsung dengan melakukan penyelesaian rancangan tertentu seperti: Membuat dinding lapis berongga yang diberi ventilasi pada rongganya Menempatkan ruang-ruang service pada tempat jatuhnya radiasi matahari langsung. Memberi ventilasi antara ruang atap dan langit-langit agar tidak terjadi akumulasi panas pada ruangan. Seandainya tidak, panas yang terkumpul pada ruangan ini akan ditransmisikan ke bawah, ke ruangan bawahnya. Ventilasi atap ini sangat berarti untuk pencapaian suhu udara yang rendah.

Konstruksi Bangunan Tropis Memiliki tritisan yang lebar Fungsi tritisan adalah untuk menghindari radiasi sinar matahari langsung dan menghindari tampias hujan terhadap dinding dan jendela bangunan. Tritisan yang lebar biasanya 1.5-2 meter dengan mempertimbangkan sistem struktut atap.

BAB III STUDI KASUS Studi kasus yang akan dilakukan adalah studi desain bangunan yang terletak pada pinggiran Sungai Kerinci di Jambi. Luas bangunan sekitar 500 meter persegi dengan fasad utara menghadap sungai kerinci. Selain itu terdapat berbagai macam pohon-pohon eksotis seperti durian dan langsat yang tersebar di lokasi bangunan. Bangunan difungsikan sebagai pusat pelatihan bagi petani kayu manis. Bangunan ini direncanakan dan dirancang agar dapat memberikan tempat yang bersih dengan sanitasi yang baik dan aman bagi para petani kayu manis dan untuk menjawab permasalahan pabrik kayu manis terdahulu yang tidak aman dan tidak memenuhi syarat sanitasi yang baik. Ide utama dari bangunan ini adalah atap yang ringan dengan struktur kayu dengan dasar yang berat dengan material bata dan beton. Seluruh material yang digunakan adalah material lokal. Kayu yang dipakai adalah kayu pohon kayu manis yang berlimpah dan bata lokal hasil produksi setempat.

Bangunan didesain memisahkan struktur atap dan dinding. Hal ini dimaksudkan agar setiap komponen bangunan memiliki frekuensi getar material yang berbeda. Pemisahan komponen bangunan agar memiliki frekuensi getar yang berbeda adalah konsep desain untuk menahan gempa bumi yang sering terjadi pada daerah ini. Bangunan ini terbukti telah mampu menahan beberapa gempa yang telah terjadi terhitung setelah bangunan ini terbangun dengan skala gempa yang mencapai lebih dari lima skala ritcher.

Program ruang bangunan ini terdiri dari lima kompartemen terpisah dengan courtyard di tengahnya. Pemisahan ruang menjadi kompartemen-kompartemen terpisah menyebabkan setiap ruang memiliki bukaan hampir ke segala arah. Selain itu pembentukan ruang juga memperhatikan letak-letak pohon yang ada di lokasi sehingga terbentuk pembayangan alami pada courtyard dan menyebabkan iklim dalam bangunan menjadi lebih sejuk.

Arah angin

Sistem penghawaan pada bangunan dibuat cukup baik dengan memisahkan struktur atap dan dinding bangunan, menciptakan area tempat angin dapat berhembus. Angin yang berhembus dari sungai menuju dataran pada siang hari dapat melewati bangunan dan membuat pergerakan udara yang memadai sehingga timbul kesejukan dalam ruangan untuk menghalau kelembaban lingkungan yang tinggi. Selain itu bukaan juga terdapat hampir pada setiap sisi bangunan sehingga setiap ruang mendapatkan pertukaran udara yang baik.

Sinar matahari dan hujan

Atap bangunan di desain memiliki satu kemiringan dengan kantilever yang memadai sehingga area dalam bangunan terlindungi dari hujan sekaligus berfungsi sebagai suatu usaha pembayangan matahari. Selain itu atap ditopang oleh kolom struktur yang didesain berbetuk Y agar bangunan dapat memberikan kesan yang menyatu dengan lingkungan sekitarnya yang merupakan perkebunan kayu manis. Skala tinggi dari atap juga dibuat sesuai dengan skala manusia, sehingga ruang terasa ramah dan manusiawi.

Desain bangunan dibuat sangat praktikal dan pragmatis mengingat keterbatasan-keterbatasan yang ada sehingga hanya terdapat sepuluh detail sederhana yang dipakai pada bangunan ini. Hal ini menyebabkan bangunan dapat terbangun dengan menggunakan tenaga kerja setempat. Kayu sebagai kolom struktur dijauhkan dari tanah dengan menggunakan angkur baja yang juga berfungsi sebagai pengaku kayu ke dasar. Selain itu bukaan-bukaan yang terdapat di bangunan ini juga mengambil inspirasi dan memanfaatkan kayu manis dari perkebunan kayu manis yang ada.

BAB IV ANALISIS Bangunan Cassia Coop Training Center yang terletak di tepi Sungai Kerinci, Jambi telah mampu menjawab kebutuhan dan tuntutan lingkungan dengan baik dari segi desain. Unsur-unsur iklim sebagai konteks lingkungan maupun fungsi dan struktur sebagai penentu arsitektur telah terjawab dengan baik. Desain bangunan yang memisahkan komponen atap dengan dinding dapat menjawab permasalahan penghawaan dan ventilasi juga menjawab permasalahan gempa bumi yang sering terjadi. Selain itu atap dengan kantilever yang memadai menjawab permasalahan perlindungan terhadap hujan dan sinar matahari yang cukup terik sepanjang tahun namun tetap dapat memasukkan cahaya matahari yang cukup. Ruang yang dibuat terpisah-pisah dan konsep courtyard juga membuat sistem ventilasi bangunan menjadi baik karena setiap ruangan memiliki bukaan hampir di setiap sisinya. Hal yang juga menarik adalah kemampuan desain Cassia Coop dalam menjawab tidak hanya permasalahan fisik seperti iklim namun juga budaya. Bangunan ini mengambil unsur-unsur sekitar sehingga bangunan menjadi familier dan tidak asing untuk pengguna bangunan yang merupakan petani kayu manis. Berdasarkan analisis dari kasus bangunan Cassia Coop Training Center ini terjawablah bahwa dalam pembuatan bangunan menggunakan teknologi sederhana yang dikenal dan dikerjakan oleh masyarakat dengan desain bangunan lokal yang memperhatikan fungsi, konteks, dan struktur dapat menjawab permasalahan desain yang ada dengan baik, bahwa kesederhaan sama sekali tidak mengurangi kualitas bangunan dan membuatnya lebih buruk dari bangunan dengan teknologi yang lebih maju.

BAB V KESIMPULAN Dari hasil studi pustaka teori dan hasil analisis dari studi kasus yang ada didapatkan bahwa bangunan Cassia Coop Training Center dapat dikatakan tepat guna. Dari segi desain, bangunan tesebut telah menjawab permasalahan konteks lingkungan baik fisik yang berupa iklim tropis dan permasalahan gempa bumi yang sering terjadi pada daerah tersebut. Selain itu Cassia Coop juga mampu menjawab permasalahan non fisik yang ada seperti permasalahan budaya dan sosial dengan menggunakan bentuk, teknologi, tenaga, maupun material lokal yang ada.

DAFTAR PUSTAKA Karyono, Tri H.. Kenyamanan Suhu Dalam Arsitektur Tropis. 1999.
http://www.tyintegnestue.no/sumatra/project-description http://www.archdaily.com/274835/casia-coop-training-centre-tyin-tegnestue-architects/ 8