Anda di halaman 1dari 62

KELOMPOK 5

Refi Nurul Fazwah Yustin Nurwulandari Nur Maulida Lia Layusa Fauziah Apelia Candra R. Ruth W. Valentine Ita Puspitasari Diastry Winanda P. Priscilla Tania W. Iin Febrianti S. 260112130041 260112130042 260112130043 260112130044 260112130045 260112130046 260112130047 260112130048 260112130049 260112130050

Farmakoterapi Terapan
Penyakit TBC

DEFINISI

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang mampu menginfeksi secara laten maupun progresif (Elin YS. dkk., 2010).

Mycobacterium tuberculosis termasuk bakteri basil gram positif, berbentuk batang, dinding selnya mengandung komplek lipida-glikolipida serta lilin (wax) yang sulit ditembus zat kimia. Umumnya Mycobacterium tuberculosis menyerang paru (80%) dan sebagian kecil organ tubuh lain(Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2005).

FAKTOR RISIKO
FAKTOR RISIKO UNTUK INFEKSI
Lokasi dan Tempat Lahir
TB dapat menginfeksi siapa saja, tapi risikonya tidak merata. rumah sakit tempat lahir tempat kerja seperti penjara, penampungan, atau panti jompo (petugas kesehatan harus " Think TB " saat merawat pasien yang mengalami gejala seperti batuk, demam, dan kehilangan berat badan. lingkungan bermain dan keluarga (Penyalahgunaan alkohol atau penggunaan narkoba, dan banyak yang koinfeksi dengan hepatitis B atau human immunodeficiency virus ( HIV ) ). batasi kontak dengan pasien TB paru yang paling mungkin untuk mencegah terinfeksi

Cont
FAKTOR RISIKO UNTUK INFEKSI
Ras, Etnis, Umur, dan Jenis Kelamin
Di Amerika Serikat, mempengaruhi etnis minoritas. Hispanik, kulit hitam, dan Asia memiliki tingkat TB 7.3, 8.3, dan 19,6 kali lebih tinggi dibandingkan kulit putih pada tahun 2005 > Asia dan Kepulauan Pasifik 22,5% kasus Orang kulit putih yang lebih tua dan Asia > orang yang lebih muda. Hal ini mencerminkan reaktivasi infeksi laten diperoleh bertahuntahun sebelumnya ketika TB. Kulit hitam dan Hispanik yang lebih tua > orang muda, tetapi perbedaan dengan usia tidak disebutkan. Koinfeksi dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV), terutama antara orang-orang 25 hingga 44 tahun.

FAKTOR RISIKO PENYAKIT

Setelah terinfeksi dengan M. tuberculosis, risiko seumur hidup seseorang aktif TB adalah sekitar 10% (selama 2 tahun pertama setelah infeksi).
Anak-anak muda dari 2 tahun dan orang dewasa berusia di atas 65 tahun memiliki 2-5 kali risiko lebih besar untuk penyakit aktif dibandingkan dengan kelompok usia lainnya. Pasien dengan keadaan gagal ginjal, kanker, dan terapi obat imunosupresif memiliki 4 sampai 16 kali risiko yang lebih besar dibandingkan pasien lain.

Pasien yang terinfeksi HIV memiliki risiko tahunan TB aktif sekitar 10%, daripada risiko seumur hidup. Oleh karena itu, semua pasien dengan infeksi HIV harus diskrining untuk infeksi tuberkulosis, dan mereka yang diketahui terinfeksi dengan M. tuberculosis diuji untuk infeksi HIV.

ETIOLOGI

Tuberkulosis adalah penyakit menular


langsung yang disebabkan oleh

Mycobacterium tuberculosis, yang


sebagian besar (80%) menyerang paruparu. Penularan penyakit ini melalui inhalasi droplet, khususnya yang didapat dari pasien TB paru dengan batuk berdarah

atau berdahak yang mengandung basil


tahan asam (BTA) yang positif.

Mycobacterium tuberculosis

Bentuknya basil Gram positif Bersifat aerob Dinding selnya mengandung komplek lipida-glikolipida serta lilin (wax) yang sulit ditembus zat kimia Memiliki sifat khusus tahan terhadap asam pada pewarnaan

PATOFISIOLOGI

Mycobacterium tuberculosis Inhalasi droplet (basil tuberkel)

alveolus

Fagositosit makrofag

Masa inkubasi

Basil tuberkel mati

Basil tuberkel bereplikasi dg makrofag

Koloni (focus primer GOHN) Menyebar ke saluran limfa regional

limfangitis

limfadenitis

Kompleks primer

Menyebar lewat peredaran darah

Merangsang respon imun seluler sel T (hanya mengisolasi basil TB)

Acute Hematogenic Spread

Occult Hematogenic Spread

Membungkus basil TB diikuti jaringan fibrosa

tuberkel Diseminasi TB primer Menyebar ke organ lain tuberkel Basil berdistribusi (bakterimia)

resolusi

pengkejuan

Merangsang interleukin - 1

kalsifikasi

TB sekunder

Zat endogen pyrogen

GHON kompleks

prostagladin

pencairan di alveolus

Berdistribusi ke hipotalamus

Bahan cain dilepaskan ke bronkus

termoregulator

Akumulasi secret di jalan napas

Suhu tubuh meningkat

Hipertermi

Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif Mengahambat pernapasan

Batuk berdahak

Peningkatan metabolisme

O2 dalam tubuh menurun

Kurangnya paparan tentang penyakit dan pengobatan

Pengguna an otot abdomen

Peningkatan metabolisme Kelelahan Kompensasi tubuh Meningkatkan frekuensi pernapasan

Kurang Pengetahuan Refluk fagal

Pemecahan cadangan makanan

Reaksi mual muntah

Pemecahan cadangan makanan

Meningkatkan frekuensi pernapasan

Kebutuhan nutrisi sel meningkat

Reaksi mual muntah

Sesak
Pola Napas Tidak Efektif

Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

- konjungtiva pucat (karena anemia) - konjungtiva sianosis (karena hipoksemia) - konjungtiva terdapat pethechia (karena emboli lemak atau endokarditis)

- Sianosis perifer (vasokontriks i dan menurunnya aliran darah perifer) - Penurunan turgor (dehidrasi) - Edema. - Edema periorbital.

- Sianosis - Clubbing finger.

- membrane mukosa sianosis - bernapas dengan mengerutkan mulut.

- pernapasan dengan cuping hidung.

- adanya distensi/bend ungan.

- retraksi otot Bantu pernapasan - pergerakan tidak simetris antara dada kiri dan dada kanan. - Tactil fremitus, thrills - Suara napas normal - Suara napas tidak normal (creklerlr/rales, ronkhi, wheezing, friction rub/pleural friction) - Bunyi perkusi

- pernapasan normal (eupnea) - pernapasan cepat (tacypnea) - pernapasan lambat (bradypnea)

MANIFESTASI KLINIK
Gejala Utama
Batuk terus menerus dan berdahak selama tiga minggu atau lebih

Gejala Tambahan
Dahak bercampur darah Batuk darah Sesak nafas dan nyeri dada Badan lemah dan nafsu makan menurun, berkeringat pada malam hari

Jalur perkembangbiakan bakteri hingga menyebabkan gejala-gejala TBC

Gejala TBC pada anak


Gejala umum:

Berat badan turun terus selama 3 bulan dan tidak naik meski mengkonsumsi makanan penuh gizi Demam lama tanpa sebab yang jelas (bukan tifus, malaria atau ISPA) Pembesaran kelenjar limfe yang tidak sakit, biasanya di daerah bawah ketiak dan lipatan paha Diare yang tidak sembuh dengan pengobatan diare

TBC pada anak secara spesifik sulit ditemukan gejala, tetapi perlu dilakukan uji klinis radiologis dan uji tuberculin.

Sumber: Buku Saku Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Depkes RI

DIAGNOSIS
Diagnosis TBC pada Orang Dewasa
Diagnosis TBC Paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila sedikitnya dua dari tiga spesimen SPS BAT hasilnya positif.

Cont

Cont
Uji tuberkulin tidak bermanfaat bagi orang dewasa karena: Hasil uji tersebut bisa positif untuk orang yang pernah terpapar Mycobacterium tuberculosis. Hasil uji tersebut bisa negatif (palsu), apabila seseorang tsb menderita HIV/AIDS, malnutrisi berat disamping menderita TBC juga.

Cont
Diagnosis TBC pada Anak Seorang anak harus dicurigai menderita tuberkulosis jika:
Mempunyai sejarah kontak erat (serumah) dengan penderita TBC BTA positif. Terdapat reaksi kemerahan cepat setelah penyuntikan BCG (dalam 3-7 hari).

Terdapat gejala umum TBC.

Cont
Uji tuberkulin (Mantoux)
Uji tuberkulin dilakukan dengan cara Mantoux (pernyuntikan intrakutan ) dengan semprit tuberkulin 1 cc jarum nomor 26.
Tuberkulin yang dipakai adalah tuberkulin PPD RT 23 kekuatan 2 TU. Pembacaandilakukan 4872 jam setelah penyuntikan. Diukur diameter transveral dari indurasi yang terjadi. Ukuran dinyatakan dalam milimeter, uji tuberkulin positif bila indurasi >10 mm ( pada gizi baik ), atau >5 mm pada gizi buruk.

Cont
Reaksi cepat BCG

Bila dalam penyuntikan BCG terjadi reaksi cepat (dalam 3-7 hari ) berupa kemerahan dan indurasi > 5 mm, maka anak tersebut dicurigai telah terinfeksi Mycobacterium tubercolosis.

Cont
Foto Rongen Dada
Gambar rontgen TBC paru pada anak tidak khas dan interpretasi foto biasanya sulit, harus hatihati kemungkinan bisa overdiagnosis atau underdiagnosis. Paling mungkin kalau ditemukan infiltrat dengan pembesar kelenjar hilu atau kelenjar paratrakeal.

Cont
Pemeriksaaan Mikrobiologi dan Serologi
Pemeriksaan BTA secara mikroskopis langsung pada anak biasanya dilakukan dari bilasan lambung karena dahak sulit didapat pada anak. Pemeriksaan BTA secara biakan ( kultur ) memerlukan waktu yang lama cara baru untuk mendeteksi kuman TBC dengan cara PCR (Polymery hain Reaction)

Cont

KOMPLIKASI
Pneumotoraks spontan Penyebaran infeksi Kor pulmunale

Insufisiensi kardio pulmoner

Komplikasi TB

aspergilomata

Bronkiektasis

Hemoptis berat

Kolaps

TERAPI
Non Farmakologi

Farmakologi

Mencegah berkembangnya kuman Mycobacterium tuberculosis.

Merubah BTA (+) menjadi (-) secepat mungkin

Jangka panjang

Mencegah kekambuhan

Hasil terapi yang diinginkan

Menghilangkan atau mengurangi gejala dan lesi perbaikan daya tahan imonologis. Mencegah penularan kuman dari pasien yang dicurigai terinfeksi TBC

Meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengobatan

Jangka pendek

Meningkatkan kualitas hidup pasien

Mencegah terjadinya resistensi terhadap kuman Mycobacterium tuberculosis.

Sering berjemur sinar matahari (6-8 ) Edukasi

bedrest

Olahraga

Terapi nonfarkol

Diet sehat

Menjaga sirkulasi udara

Menjaga sanitasi

TERAPI FARMAKOLOGI

Menggunakan obat lini pertama atau kedua


OBAT LINI PERTAMA Isoniazid (INH) Rifampisin Pirazinamid Etambutol OBAT LINI KEDUA Streptomisin Kanamisin P-Aminosalicylic acid Ethionamide Cycloserine Levofloxacin Claritromisin

(Dipiro, 2008)

Prinsip Pengobatan
Obat TBC diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis obat, dalam jumlah cukup dan dosis tepat selama 6-9 bulan Pengobatan TBC diberikan dalam 2 tahap

Fase Awal/ Intensif (Fase I)

biasanya dilakukan selama 2 bulan tujuannya : menghancurkan bakteri ekstraseluler secara cepat. dibutuhkan pemberian obat setiap hari, karena pertumbuhan populasi bakteri relatif cepat. INH dan rifampin merupakan obat utama atau dalam kombinasi dg pirazinamid + streptomisin atau etambutol bila diduga telah terjadi resistensi dan/atau diinginkan untuk membunuh bakteri lebih cepat.

Fase Lanjutan (Fase II)

berjalan lebih lama untuk mengeliminasi bakteri yang masih hidup (dalam makrofag atau granuloma). digunakan kombinasi INH dan rifampin pemberiannya tidak setiap hari, 2-3 kali seminggu selama 4 bulan bakteri dalam makrofag atau granuloma berkembang lambat sehingga pemberian obat pun harus dalam jangka waktu lebih panjang. rifampin sangat aktif terhadap bakteri yang aktivitas pertumbuhannya perlahan-lahan, shg secara teoritis pemberian 2-3 kali seminggu dapat memperkuat kerjanya.

OPSI REGIM PENGOBATAN TB


Fase 1 : 2HRZ + E/S Fase 2 : 4H3R3 Obat ini diberikan untuk : Penderita baru TBC Paru BTA Positif Penderita TBC Paru BTA negatif Rontgen positif yang sakit berat dan Penderita TBC Ekstra Paru berat.

Opsi I
Opsi II Opsi III

Fase I : 2HRZES Fase II : 1HRZE/S & 5H3R3 Obat ini diberikan untuk : Penderita kambuh ( relaps ) Penderita Gagal ( failure ) Penderita dengan Pengobatan setelah lalai ( after default )

Fase I : 2HRZ Fase II : 4H3R3 Obat ini diberikan untuk : Penderita baru BTA negatif dan rontgen positif sakit ringan Penderita ekstra paru ringan yaitu TBC kelenjar limfe ( limfadenitis ) pleuritis eksudativa unilateral TBC kulit, tbc tulang ( kecuali tulang belakang ) sendi dan kelenjar aderenal.

Dosis
OBAT INH Rifampisin Pirazinamid Etambutol Streptomisin DOSIS DEWASA (MAKS) 300 mg/hari atau 900 mg, 2-3 x seminggu 600 mg/hari atau 2-3 x seminggu 2000 mg/hari, 4000 mg 2 x seminggu atau 3000 mg, 3 x seminggu 2500 mg/hari atau 2-3 x seminggu 1000 mg/hari atau 2-3 x seminggu

Obat Primer (Lini Pertama)

Isoniazid

Etambutol

Lini Pertama

Rifampisin

Pyrazinamid

Isoniazid (INH)
Bersifat bakterisida menghambat enzim esensial yang penting untuk sintesis asam mikolat dan dinding sel mikobakteri Dosis harian yang dianjurkan adalah 5 mg/kg BB, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu dengan dosis 10 mg/kg BB.

Rifampisin
Bersifat bakterisida Menghambat sintesis DNA bakteri Konsentrasi bakterisid berkisar 3-12 g/ml/obat ini dapat meningkatkan aktivitas streptomisin dan INH, tetapi tidak untuk etambutol, dapat membubuh kuman yang persisten (dortmant) yang tidak dapat dibunuh oleh INH Dosis 10 mg/kgBB diberikan sama untuk pengobatan harian maupun intermiten 3 kali seminggu.

Pirazinamid
Bersifat bakterisida Menghambat aksi sintetase asam lemak I (FAS I). FAS I adalah terlibat dalam sintesis asam mycolic rantai pendek merupakan komponen struktural penting dari dinding sel mikobakteri Dosis harian yang dianjurkan 25 mg/kg BB, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 35 mg\kg BB

Etambutol
Bakteriostatik menghambat sintesis metabolisme sel sehingga menyebabkan kematian sel Dosis harian yang dianjurkan 15 mg/kg Bb sedangkan untuk pengobatan untuk intermiten 3 kali seminggu digunakan dosis 30 mg\kg BB. digunakan sebagai terapi kombinasi tuberkulosis dengan obat lain, sesuai regimen pengobatan jika diduga ada resistensi. Jika resiko resistensi rendah, obat ini dapat ditinggalkan

Obat sekunder (Lini Kedua)


Streptomisin Bakterisida menghambat sintesis protein pada ribosom mikrobakterium dosis harian yang dianjurkan 15 mg/kg BB, sedangkan pengobatan untuk intermiten 3 kali seminggu digunakan dosis yang sama

Kanamisin : Bakterisida, Golongan Aminoglikosida Asam Aminosalisilat : Bakteriostatik

EVALUASI HASIL TERAPI


Pemantauan kemajuan hasil pengobatan pada orang dewasa dilaksanakan dengan pemeriksaan ulang dahak secara mikroskopis. Untuk memantau kemajuan pengobatan dilakukan pemeriksaan specimen sebanyak dua kali sewaktu dan pagi ) hasil pemeriksaan dinyatakan negatif bila ke 2 spesimen tersebut negatif bila salah satu spesimen positif, maka dilakukan pemeriksaan ulang.

Pemeriksaan ulang dahak untuk memantau kemajuan pengobatan dilakukan pada :

Cont

Akhir tahap Intensif Dilakukan seminggu sebelum akhir bulan ke 2 pengobatan penderita baru BTA positif dengan kategori 1,atau seminggu sebelum akhir bulan ke 3 pengobatan ulang penderita BTA positif dengan kategori 2.

Sebulan sebelum akhir pengobatan Dilakukan seminggu sebelum akhir bulan ke 5 pengobatan penderita baru BTA positif dengan kategori 1, atau seminggu sebelum akhir bulan ke 7 pengobatan ulang menderita BTA positif dengan katagori 2.

Akhir pengobatan Dilakukan seminggu sebelum akhir bulan ke 6 pengobatan pada penderita baru BTA positif dengan kategori 1 , atau seminggu sebelum akhir bulan ke 8 pengobatan ulang BTA positif , dengan kategori 2. Pemeriksaan ulang dahak pada sebulan sebelum akhir pengobatan dan akhir pengobatan ( AP) bertujuan untuk menilai hasil pengobatan ( Sembuh atau gagal )

Cont

*Keterangan kategori pasien


1 : ( 2HRZE / 4H3R3 ) Obat ini diberikan untuk : Penderita baru TBC Paru BTA Positif Penderita TBC Paru BTA negatif Rontgen positif yang sakit berat dan Penderita TBC Ekstra Paru berat.

2 : ( 2HRZES / HRZE / 5H3R3E3 ) Obat ini diberikan untuk : Penderita kambuh ( relaps ) Penderita Gagal ( failure ) Penderita dengan Pengobatan setelah lalai ( after default ) 3 : 2HRZ / 4H3R3 Obat ini diberikan untuk : Penderita baru BTA negatif dan rontgen positif sakit ringan Penderita ekstra paru ringan yaitu TBC kelenjar limfe ( limfadenitis ) pleuritis eksudativa unilateral TBC kulit, tbc tulang ( kecuali tulang belakang ) sendi dan kelenjar aderenal.

Contoh kasus
Ny. AK, 27 tahun (TB = 157 cm, BB = 55 kg) datang ke RSUD dengan keluhan utama batuk berdarah sejak 1 sebelum masuk rumah sakit (SMRS). Keluhan batuk berdahak sudah dirasakan sejak 1,5 bulan SMRS. Dahak kental awalnya berwarna putih kemudian menjadi berwarna kuning kehijauan. Batuk dirasakan semakin hari semakin berat. Pasien mengeluhkan demam yang hilang timbul dan tidak terlalu tinggi, sering tidak enak, cepat lelah, nafsu makan menurun, terasa ada penurunan berat badan, dan berkeringat pada malam hari. Tidak ada keluhan sesak nafas, nyeri dada, dan sakit kepala. Pasien berasal dari lingkungan menengah ke bawah, dan tinggal di lingkungan padat penduduk, cahaya matahari kurang masuk ke dalam rumah. Sebelumnya pasien belum pernah mengalami batuk berdahak sampai selama ini. Ada tetangga pasien yang menderita batuk-batuk sejak lama.

Pada pemeriksaan umum diketahui TD = 125/90 mmHg, nadi 75x/menit, nafas 22x/menit, suhu 37,7 C. Pada pemeriksaan fisik ditemukan bahwa terdapat wheezing dan ronki basah pada kedua lapangan paru, pada pemeriksaan penunjang darah rutin didapatkan keluhan anemia (Hb 8,7 g/dL) dan kadar leukosit tinggi (13.500/mm3). Pada rontgen thoraks tampak adanya perselubungan pada kedua paruparu. Dari hasil uji mikrobiologi dengan sampel sputum didapatkan hasil uji BTA positif dan dari uji biakan mikroba didapatkan hasil

Hasil foto rontgen thorax

Mycobacterium tuberculosis.

Pembahasan dengan SOAP


SUBJECTIVE (S)
Nama pasien= Ny. AK Umur = 27 tahun Tinggi / Berat = 157 cm / 55 kg Keluhan = batuk berdarah sejak 1 hari SMRS dan batuk berdahak sejak 1,5 bulan SMRS disertai demam hilang timbul, rasa tidak enak badan, cepat lelah, nafsu makan menurun, dan ada penurunan berat badan.

OBJECTIVE (O)
Tekanan darah = 125/90 mmHg Nadi = 75x/menit Nafas = 22x/menit Suhu = 37,7 C Pemeriksaan fisik = ada wheezing dan ronki basah pada kedua lapangan paru Hb = 8,7 g/dL Leukosit = 13.500/mm3 Uji mikrobiologi (sampel sputum) = uji BTA (+) ; uji biakan mikrobiologi M. tuberculosis (+)

contd

ASSESMENT (A)
Pasien diduga menderita tuberkulosis. Hal ini berdasarkan gejala / keluhan yang dialami dimana batuk berdahak yang dialami selama 1,5 bulan dengan dahak berwarna kuning kehijauan. Diagnosis ini diperkuat oleh adanya hasil positif pada uji BTA dan biakan mikrobiologi yang memberikan hasil positif M. tuberculosis. Selain itu juga dapat dilihat dari hasil foto rontgen yang menunjukkan adanya perselubungan pada kedua paru-paru. Diduga ny. AK merupakan penderita baru karena sebelumnya tidak pernah mengeluhkan gejala yang sama.

PLAN (P)
menyembuhkan pasien mencegah kematian mencegah kekambuhan memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT Terapi non farmakologi Terapi farmakologi Konseling dan PIO

TUJUAN TERAPI

PENATALAKSANAAN TERAPI

Terapi Non Farmakologi


Tujuan terapi non farmakologis untuk TB Upaya yang dapat dilakukan pasien

Mencegah penyebaran TB, Melakukan investigasi pada daerah endemik TB, dan Meningkatkan kondisi pasien menjadi well-being (lebih sehat).

Terapi nutrisi dan peningkatan system imun pasien Menghindari polusi, stop merokok, banyak istirahat Pengadaan sarana pemukiman yang memadai: adanya ventilasi yang cukup untuk memungkinkan sinar matahari yang masuk Apabila telah terjadi kerusakan jaringan dapat dilakukan operasi pada jaringan yang rusak

Terapi Farmakologi
Tahap awal/intensif
Pasien menular tidak menular dalam 2 minggu Sebagian besar pasien TB BTA positif negatif dalam 2 bulan

Tahap lanjutan
Jenis obat lebih sedikit, jangka waktu lebih lama Membunuh kuman persister, mencegah terjadinya kekambuhan (Depkes RI, 2009)

Menurut WHO dan Depkes RI, Pasien baru TB paru BTA positif. Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif Pasien TB ekstra paru

kategori 1: 2HRZE/4H3R3E3 tahap intensif Isoniazid (INH), Rifampisin, Pirazinamid, dan Etambutol pada 2 bulan pertama tahap lanjutan, terapi dilanjutkan menggunakan Isoniazid (INH), Rifampisin, dan Etambutol setiap 3 kali seminggu selama 4 bulan berikutnya

Pasien memiliki BB 55 kg, maka

sesuai dengan kategori pengobatannya, dosis yang diberikan adalah

PIO
Informasi yang harus diketahui pasien dan keluarganya antara lain (DiPiro, 2005):
TB disebabkan kuman, bukan penyakit keturunan atau kutukan TB dapat disembuhkan dengan berobat teratur

Cara penularan TB, gejala-gejala yang mencurigakan dan cara pencegahannya.


Cara pemberian pengobatan pasien (tahap intensif dan lanjutan) Pentingnya pengawasan supaya pasien berobat secara teratur Kemungkinan terjadinya efek samping obat dan perlunya segera meminta pertolongan ke sarana pelayanan kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA
Alsagaff H, Mukty A.2006. Dasar Dasar Ilmu Penyakit Paru. AirlanggaUniversity Press. Surabaya Depkes RI. 2002. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta : Depkes RI. Depkes RI. 2005. Pharmaceutical Care untuk Tuberkulosis. Direktorat Bina Farmasi Komunitas Dan Klinik Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian Dan Alat Kesehatan. Depkes RI, 2007, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Edisi II, Bakti Husada, Jakarta Depkes RI. 2009. Keputusan Menteri Kesehatan Tentang Pedoman Penanggulangan Tuberkulosis (TB) no.364/Menkes/SK/V/2009. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta Elin YS., Retnosari A., Joseph IS., I Ketut a., A Adji PS., dan Kusnandar. 2010. ISO Farmakoterapi. Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia. Jakarta Joseph T. Dipiro et., all., 2008. Pharmacoterapy. A Pathophysiologic Approach. Seventh edition. The McGraw-Hill Companies, Inc. Mansjoer, A., dkk, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi III, Jilid I, Media Aesculapius FKUI, Jakarta Mansjoer, A., dkk, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi III, Jilid II, Media Aesculapius FKUI, Jakarta Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2010. Tuberkulosis - Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia 2006.ISBN 979-966147-1 Syarif, Amir. 1987. Farmakologi dan Terapi Edisi 3. Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. Sudoyo, AW, dkk. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. FKUI.Jakarta

TERIMA KASIH !

nekrosis

Imun adekuat

Imun tidak adekuat

Tjd kalsifikasi dan fibrosis

Tidak sukses lalu tjd fibrosis

Sukses mengontrol infeksi


Basil dorman

Liquefaction dan dinding fibrous kehilangan integritas strukturnya

Lesi sembuh

Fibrous Lepas

Necrotic semiliquid

Necrotic semiliquid
Dikeluarkan sebagai sputum mukopurulen purulen Jaringan membentuk kavitas / kaverne

Mukus + jar.granulasi,ulserasi, bronkostenosis wheezing

Menyebar secara hematogen

Pemb.drh di sekitar kaverne

Ke otak
Meningitis

radang
Aneurisma kraussman

Sekret dalam bronkus Suara tambahan berupa ronki basah

pecah Batuk darah

Fibrosis pada parenkim paru dengan sal.pernafasan yang masih terbuka


Penghantaran getaran suara meningkat

Penyempitan sal.nafas

dispnea Ronki kering

Fremitus suara meningkat

Tambah dengan kavitas akan menyebabkan hollowing sound sampai amforik.

Suara nafas menjadi bronkovesikuler atau bronkial didapatkan bronkofoni atau suara bisik yang disebut whispered pectoriloque

Bila mengenai trakea dan bronkus maka suara >> dan sering berulang ulang. Bila mengenai laring terdengar hollowing sound cough, batuk tanpa tenaga tetapi ada suara serak.

NYERI DADA
Neutrofil di pleura

kallikrein Kininogen

Kinin

Mendorong peningkatan permeabilitas kapiler

sistem komplemen

Merangsang reseptor nyeri di pleura parietal

kemotaksis

N.Splanknikus pleksus brakialis


Dan N.interkostalis NYERI DADA

Demam dan Anemia Def. Besi


Fagosit pelepasan pirogen endogen
Bila masuk ke dalam peredaran darah Keluarkan prostagandin
Meningkatkan setpoint di hipotalamus Kebutuhan bakteri akan besi meningkat karena suhu tubuh naik

Kadar Fe dalam plasma turun

Anemia def.besi

HUBUNGAN DIABETES DENGAN TBC?

Pada tuberkulosis bisa terjadi glucose intolerance Adanya infeksi akan meningkatkan TNF alfa dan IL 1
Derangement of lipid metabolism have been describe in patient TBC

Stimulasi hormon antiinsulin