Anda di halaman 1dari 2

http://www.migas-indonesia.com/2012/07/drilling-mud.

html

Susunan kimiawi batuan dari satu daerah di kedalaman tertentu bias berbeda-beda dengan tempat2 yang lain. Bahkan di lobang yang sama, mud properties dari hole section yang atas dengan hole section di bawahnya bias berbeda karena perbedaan kimiawi batuan tsb, selain formation pressure dan temperaturenya juga bisa berbeda. Semakin tinggi temperature dan tekanan di hole section tertentu, semakin ketat pula pengawasan mud properties yang diperlukan (mud cost / bbl nya pun biasanya akan semakin mahal). Dalam operasi drilling, mud properties ini akan di cek terus secara kontinu, at least 2x sehari untuk me-maintain mud properties yang diinginkan. Lumpur yang sudah dipersiapkan dengan cantik akan berubah propertiesnya karena adanya kontaminasi dengan masuknya material2 serta fluida2 lain yang berasal dari lubang yang sedang dibor, seperti yang sudah disebut oleh Bung Ridwan di bawah ini. Di bawah ini saya ambilkan contoh range dari mud properties yang saya ambil dari sebuah sumur di daerah Ramba. Biasanya mud properties untuk daerah2 lain juga tidak akan beranjak jauh dari range di bawah ini: 1. Density (Mud Weight) = ???? [ppg] -> beratnya tergantung formation pressure dan fracture gradient dari hole section yang sedang dibor. Gunanya untuk hole stability dan mencegah kick / blow-out. 2. Viscosity = 40-55 [sec/quart] -> Diukur dengan mengunakan Marsh Funnel untuk mengetahui dengan cepat konsistensi dari lumpur bor (untuk air tawar pada suhu 75degF, Viscosity-nya = 26 [sec/qt], used as the baseline). 3. PV (Plastic Viscosity) = 6-15 [centipoises] 4. YP (Yield Point) = 14-22 [lbs/100ft2] 5. Gel Strength (10 sec / 10 mins) = 2/3 - 4/5 [lbs/100ft] PV, YP maupun Gel Strength merupakan parameter2 rheology lumpur yang pada intinya mencerminkan hole cleaning capability dari system Lumpur yang digunakan. Gel Strength mencerminkan kemampuan lumpur untuk "memegang" atau "men-suspend" drill cuttings agar tidak turun kembali ke dasar lobang dan stay di tempat pada saat pompa lumpur sedang "off". Parameter rheology lumpur ini diukur dengan menggunakan alat rotational viscometer, dimana: PV = Bacaan pada 600RPM - Bacaan pada 300RPM, dengan satuan [centipoise] YP = Bacaan pada 300RPM - PV, dengan satuan [lbs/100ft2] 6. pH = 8.5 - 10 -> dibuat dalam suasana basa untuk mencegah korosi. 7. API Fluid Loss = 5-7 [cc/30 mins] -> mencerminkan jumlah relatif fluida lumpur yang masuk ke dalam formasi. Mud cake yang terbentuk sebaiknya tidak tebal dan sifatnya liat (tough) untuk stabilitas dinding sumur dan meminimize "formation damage" karena intrusi fluida lumpur. 8. HT-HP Fluid Loss = ??? [cc/30 mins] -> as required, tergantung kondisi setempat dan drilling program. 9. Drill Solids = <6 [% by volume]. Low Gravity Solid (LGS) akan banyak berpengaruh pada mud viscosity, sedangkan High Gravity Solid (HGS) pada density dari lumpur tsb.

10. Salinity (Chloride content) -> tergantung kondisi setempat. Pada intinya kandungan Chloride dalam air menentukan kemampuan bentonite (clay) untuk terhydrasi. Itulah sebabnya, untuk operasi drilling di offshore diperlukan air tawar untuk pre-hydrate gel/bentonite terlebih dahulu sebelum Lumpur bisa dicampur dengan air laut dan mud additive yang lain. 11. Excess Lime = 150-200 mg/liter -> menggunakan hardness test, yang mencerminkan jumlah Calsium yang terlarut / tersuspensi di dalam lumpur. 12. Selain mud properties tersebut di atas, dilakukan juga Alkalinity test yang dinyatakan dalam Pm (untuk mud) dan Pf (untuk filtrate) untuk mengetahui kemampuan campuran lumpur untuk bereaksi terhadap asam (menggunakan larutan phenolphthalien). Ada juga Methylene Blue Test (MBT) <17ppb equivalent bentonite, dst dst ... Untuk referensi tambahan, ada baiknya anda membaca buku American Petroleum Institute (API) Recommended Practice (RP 13D) "Recommended Practice on the Rheology and Hydraulics of Oilwell Drilling Fluids" dan API RP 13I "Recommended Practice for Laboratory Testing of Drilling Fluids"