Anda di halaman 1dari 10

BAB 5 OVERVIEW OF THE FINANCIAL STATEMENT AUDIT

Tujuan utama dari audit laporan keuangan adalah untuk menyatakan pendapat apakah laporan keuangan klien telah menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum (GAAP). Seorang auditor harus dapat membagi audit atas saldo akun utama dan golongan transaksi, dan kemudian audit atas asersi laporan keuangan untuk setiap saldo akun dan golongan transaksi. Selanjutnya membuat keputusan perencanaan yang penting tentang apa yang dianggap material bagi laporan keuangan, dan resiko audit atas salah saji. Auditor juga menjelaskan jasa bernilai tambah yang mungkin bermanfaat bagi manajemen dan dewan direksi dan mengkomunikasikan atas temuan-temuan audit, memberikan pernyataan pendapat atas laporan keuangan kepada dewan direksi, manajemen dan komite audit. Adapun gambaran umum audit laporan keuangan dapat di gambarkan sebagai berikut:

Sumber: Boynton & Johnson, Modern Auditing, edisi ke-8, penerbit John Wiley & Sons, 2006,halaman 184. Mengembangkan harapan atas laporan keuangan (developing expectations of financial statements) melibatkan penggunaan pengetahuan tentang kinerja bisnis untuk mengembangkan harapan atas jumlah yang dilaporkan dalam laporan keuangan. Seorang auditor juga harus memahami masalah sistem informasi (information system issue) dalam industri dan bisnis, sebagai contoh pertukaran data electronic dalam suatu entitas dan bagaimana pengendalian intern yang dibutuhkan bagi perusahaan.

Gambar: Kerangka Proses Audit Sumber: Boynton & Johnson, Modern Auditing, edisi ke-8, penerbit John Wiley & Sons, 2006, halaman 186.

Gambaran proses audit dibagi menjadi enam tahap seperti pada gambar di atas, yaitu: Tahap I. Menjalankan risiko asersi prosedur.

Dalam tahap ini terbagi menjadi: Langkah 1: Mengidentifikasi asersi laporan keuangan yang relevan. Hal yang harus dilakukan dalam audit adalah mengidentifikasi sejumlah tujuan audit yang spesifik dari asersi yang dibuat oleh manajemen atas setiap akun yang dilaporkan dalam laporan keuangan. Adapun terbagi menjadi lima kategori asersi laporan keuangan yaitu: Keberadaan atau keterjadian (existence or occurrence). Berkaitan dengan apakah aktiva atau kewajiban entitas memang ada pada tanggal tertentu dan apakah transaksi yang dicatat benar terjadi selama periode tersebut untuk menghindari kecenderungan lebih saji (overstatement). Kelengkapan (completeness). Berkaitan dengan apakah semua transaksi dan akun yang harus disajikan dalam laporan keuangan telah tercantum secara lengkap untuk menghindari kecenderungan kurang saji (understatement). Hak dan kewajiban (rights and obligations). Berkaitan dengan apakah aktiva telah menjadi hak entitas dan hutang memang telah menjadi kewajiban entitas pada suatu tanggal tertentu. Penilaian atau alokasi (valuation or allocation). Berkaitan dengan komponen aktiva, kewajiban, pendapatan, dan beban telah dicantumkan dalam laporan keuangan dengan jumlah yang semestinya. Penyajian dan pengungkapan (presentation and disclosure). Berkaitan dengan komponen tertentu dari laporan keuangan telah digolongkan, diuraikan dan diungkapkan dengan jelas. Pengumpulan bukti yang dilakukan oleh auditor digunakan untuk mengevaluasi asersi manajemen bagi setiap saldo akun yang material dalam kelompok transaksi. Langkah 2: Memahami tentang bisnis dan lingkungan bisnis perusahaan. Seorang auditor harus memahami : Lingkup industry, peraturan-peraturan lingkungan, dan faktor eksternal lainnya. Sifat perusahaan, termasuk kebijakan-kebijakan akuntansi

Tujuan, strategis, dan risiko bisnis terkait yang dinyatakan tidak material. Manajemen dan hasil kinerja keuangan perusahaan Langkah 3: Membuat keputusan mengenai materialitas. Konsep materialitas dapat mempengaruhi proses audit, karena auditor membuat pertimbangan awal mengenai materialitas, sementara auditor membuat perikatan untuk membuat keputusan penting tentang lingkup audit. Meterialitas merupakan konsep penting yang akan menjadi pedoman auditor dalam menentukan lingkup pekerjaan audit. Untuk menemukan pengabaian ataupun salah saji yang bersama-sama berpotensi mencapai suatu jumlah yang akan mempengaruhi para pengguna laporan keuangan. Konsep materialitas ini juga menjadi pedoman auditor ketika mengevaluasi temuan audit. Langkah 4: Menjalankan prosedur analisis. Prosedur analisis adalah mengevaluasi informasi keuangan yang dijadikan bahan dari hubungan antara data keuangan dan data non keuangan. Selain itu, prosedur analisis digunakan untuk mengidentifikasi potensi dari kemungkinan salah saji laporan keuangan. Langkah 5: Mengidentifikasi risiko atas kemungkinan terjadinya salah saji yang material, termasuk risiko kecurangan. Untuk mengidentifikasi risiko atas kemungkinan terjadinya salah saji yang material digunakan komponen risiko audit yang terdiri dari risiko bawaan, risiko pengendalian, dan risiko deteksi. Selain itu, digunakan juga risiko kecurangan. Langkah 6: Mengembangkan persiapan strategi audit Dalam tahap ini auditor membuat keputusan sementara tentang komponen atas model dari resiko audit dan pengembangan strategi awal berdasarkan dari bukti-bukti yang telah dikumpulkan. Langkah 7: Memahami pengendalian internal Auditor memahami pengendalian internal untuk : Mengidentifikasi tipe-tipe dari potensi salah saji Memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi risiko atas salah saji yang materialitas Mendesain prosedur, ketepatan waktu, dan proses audit selanjutnya.

Tahap II. Memahami risiko dari salah saji yang material. Hasil kesimpulan dari tahap I, seorang auditor harus mengidentifikasi berbagai resiko salah saji yang material dan mempertimbangkan: 1. Faktor resiko potensial yang terkait dengan salah saji laporan keuangan, juga pada tingkat

laporan keuangan atau tingkat assersi. 2. Menentukan besarnya resiko yang akan ditimbulkan dari salah saji yang material di dalam laporan keuangan. 3. Menentukan kemungkinan resiko yang ditimbulkan dari salah saji yang material. 4. Menentukan resiko signifikan bawaan yang timbul.

Tahap III. Merespon resiko yang ditimbulkan Setelah auditor mengidentifikasi resiko yang mungkin timbul dari hasil salah saji yang material, auditor harus merespon dan mengatur dengan tepat, dan memberikan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan agar bebas dari salah saji. Respon atas resiko yang ditimbulkan termasuk keputusan tentang: Staffing dan Supervisi Pengujian audit. Ada 3 tipe prosedur audit: o Risiko prosedur penilaian o Pengujian pengendalian o Pengujian substantif

Tahap IV. Melaksanakan prosedur audit lanjutan 1. Resiko lanjutan prosedur penilaian. Umumnya tanggungjawab auditor adalah menilai resiko dari salah saji yang material. Proses pengujian atas control yang dilakukan memerlukan penyertaan bukti dan diperlukan sistem pengendalian intern. 2. Pengujian pengendalian. Bertujuan untuk melihat efektifitas dari operasional. 3. Pengujian substantif: a. Prosedur analisis. b. Pengujian terinci atas transaksi. c. Pengujian terinci atas saldo.

Tahap V. Mengevaluasi bukti audit

Tahapan lanjutan yang dilakukan oleh auditor setelah mengumpulkan barang bukti dan melaksanakan prosedur audit lanjutan adalah;

1. Mengevaluasi kembali risiko prosedur asersi 2. Menetapkan temuan-temuan yang signifikan 3. Kesimpulan formulir dan dokumen

Tahap VI. Mengkomunikasikan temuan-temuan audit Elemen terakhir yang dilakukan oleh auditor adalah memberikan opini yang disampaikan kepada manajemen atau pengguna audit. 1. Opini auditor atas laporan keuangan melalui laporan audit. 2. Mengkomunikasikan hasil audit lainnya yang diminta oleh pihak manajemen dan board of directors. 3. Mengkomunikasikan hasil temuan dari proses audit.

BAB 6 AUDIT EVIDENCE

Bukti audit adalah semua informasi yang digunakan oleh auditor dalam pembuatan kesimpulan (opini) dibuat. Bukti audit termasuk di dalamnya adalah: (1). catatan akuntansi yang menghasilkan laporan keuangan, dan (2). Informasi lainnya yang berhubungan/terkait dengan catatan akuntansi dan pendukung alasan logis dari auditor tentang laporan keuangan yang layak. Untuk itu, auditor harus memperoleh bahan bukti audit yang cukup dan kompeten sebagai dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat.

Terdapat lima asersi manajemen yang di jelaskan dalam GAAS (Generally Accepted Auditing Standard), yaitu: 1. Eksistensi atau keterjadian (Existence or Occurrence) 2. Kelengkapan (Completeness) 3. Hak dan Kewajiban (Rights and Obligations)

4. Penilaian atau alokasi (Valuation or Allocation) 5. Penyajian dan pengungkapan (Presentation dan Disclosure)

Adapun tujuan dari audit secara spesifik dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu: 1. Tujuan audit berkait-transaksi. Dimaksudkan untuk berfungsi sebagai kerangka kerja bagi auditor dalam mengumpulkan bahan bukti kompeten yang cukup dibutuhkan oleh standar pekerjaan lapangan dan memutuskan bahan bukti yang pantas untuk dikumpulkan sesuai dengan penugasan. Ada 5 tujuan audit yaitu: Eksistensi. Tujuan ini berkenaan dengan apakah transaksi yang tercatat memang secara aktual terjadi Kelengkapan. Tujuan ini menyangkut apakah seluruh transaksi yang seharusnya ada dalam jurnal secara aktual telah dimasukkan. Tujuan eksistensi dan kelengkapan mempunyai penekanan yang berlawanan, sebab eksistensi berkaitan dengan lebih saji (overstatement) dengankan kelengkapan berkaitan dengan kurang saji (understatement). Akurasi. Tujuan ini menyangkut keakuratan informasi untuk transaksi akuntansi tercatat dengan nilai yang benar. Cut-off. Tujuan ini untuk mencatat transaksi ke dalam periode akuntansi yang benar.

Klasifikasi. Tujuan ini untuk mencatat semua transaksi sesuai dengan kelompok dan golongan yang tepat.

2. Tujuan audit berkait-saldo. Tujuan dari audit berkait saldo diterapkan kepada saldo akun, sedangkan tujuan audit berkait transaksi diterapkan kepada jenis atau golongan transaksi. Tujuan audit berkait-saldo terbagi menjadi: Eksistensi. Tujuan ini menyangkut apakah angka-angka yang dimasukkan dalam laporan keuangan memang seharusnya dimasukkan. Kelengkapan. Tujuan ini menyangkut apakah semua angka-angka yang seharusnya dimasukkan memang diikutsertakan secara lengkap. Hak dan Kewajiban. Aktiva harus dimiliki sebelum dapat diterima untuk dicantumkan dalam laporan keuangan, demikian pula dengan kewajiban harus menjadi milik suatu entitas. Hak biasanya berhubungan dengan aktiva dan kewajiban dengan hutang Penilaian atau alokasi. Pengklasifikasian dan penilaian terhadap pos-pos sesuai dengan alokasi yang tercatat secara akurat sesuai dengan pisah batas dan realisasi.

3. Pengungkapan tujuan audit. Tujuan ini terbagi menjadi: Eksistensi dan Hak & Kewajiban. Kelengkapan Klasifikasi dan dapat dimengerti. Akurat dan Penilaian.

Materialitas; Pernyataan konsep FASB No. 2 mendefinisikan materialitas (materiality) sebagai besarnya pengabaian atau salah saji informasi akuntansi yang dalam kaitannya dengan kondisi di sekitarnya, akan memungkinkan pertimbangan pihak yang berkepentingan yang mengandalkan infomrasi tersebut akan berubah atau terpengaruh oleh pengabaian atau salah saji tersebut.

Laporan audit standar menjelaskan bahwa audit dirancang untuk memperoleh keyakinan yang memadai (bukan absolut) bahwa laporan keuangan telah bebas dari salah saji yang material.

PROSEDUR AUDIT

Prosedur audit (audit procedures) adalah metode atau teknik yang digunakan oleh para auditor untuk mengumpulkan dan mengevaluasi bahan bukti yang mencukupi dan kompeten. Adapun jenis-jenis prosedur audit adalah: Inspeksi dokumen dan catatan (inspection of documents and records). Terbagi menjadi 2: o Pemeriksaan bukti pendukung (vouching) meliputi: (1) Pemilihan ayat jurnal dalam catatan akuntansi (2) mendapatkan serta memeriksa dokumentasi yang digunakan sebagai dasar ayat jurnal tersebut untuk menentukan validitas dan ketelitian pencatatan akuntansi. Prosedur vouching digunakan untuk mendeteksi adanya salah saji berupa penyajian yang lebih tinggi dari seharusnya dalam catatan akuntansi. o Penelurusan (tracing) yang sering disebut sebagai penelusuran ulang, auditor (1) memilih dokumen yang dibuat pada saat transaksi dilaksanakan (2) menentukan bahwa informasi yang diberikan oleh dokumen tersebut telah dicatat dengan benar dalam catatan akuntansi (jurnal dan buku besar). Arah pengujian ini berawal dari dokumen menuju ke catatan akuntansi. Inspeksi aktiva berwujud (inspection of tangible assets) meliputi pemeriksaan rinci terhadap dokumen dan catatan, serta pemeriksaan sumberdaya berwujud. Dengan melakukan inspeksi atas dokuen, auditor dapat menetukan ketepatan persyaratan dalam faktur atau kontrak yang memerlukan pengujian atas transaksi akuntansi tersebut. Pengamatan (observtion) berkaitan dengan memperhatikan pelaksanaan beberapa kegiatan atau proses yang bertujuan untuk memperoleh pemahaman atas pengendalian intern. Permintaan keterangan (Inquiry) meliputi permintaan keterangan secara lisan atau tertulis oleh auditor, umumnya berupa pertanyaan yang timbul setelah dilaksanakannya prosedur analitis kepada manajemen atau karyawan dan meminta keterangan pada pihak ekstern seperti penasehat hukum. Konfirmasi (confirmations) adalah bentuk permintaan keterangan yang memungkinkan auditor memperoleh informasi secara langsung dari sumber independen di luar organisasi klien (pihak ke 3). Perhitungan ulang (Recalculation). Memeriksa perhitungan matematika yang akurat atas dokumen atau catatan. Biasanya auditor menggunakan audit software dalam melakukan perhitungan ulang dan membandingkannya dengan catatan yang terdapat di buku besar. Pelaksanaan ulang (Reperformance). Perhitungan dan rekonsiliasi yang dibuat oleh klien dilakukan pengecekan dan di hitung ulang, untuk menentukan proses yang telah sesuai dengan pengendalian intern yang telah dirumuskan. Prosedur analitis (analytical procedures). Terdiri dari penelitian dan perbandingan hubungan antara data. Prosedur ini meliputi perhitungan dan penggunaan rasio-rasio sederhana, analisis

vertikal atau laporan persentase, perbandingan jumlah yang sebenarnya dengan data historis atau anggaran. Seperti penggunaan model matematis dan statistik (analisis regresi). Teknik audit berbantuan komputer (Computer-assisted audit techniques/CAAT). Bila catatan akuntansi klien menggunakan media elektronik, maka auditor harus memeriksa prosedur analitis, mengevaluasi, memilih sampling transaksi dan mencoba data uji program klien untuk menentukan apakah pengendalian intern telah berfungsi.

PROGRAM AUDIT (AUDIT PROGRAM) Standar audit yang berlaku umum menyatakan bahwa dalam merencanakan audit, auditor harus mempertimbangkan sifat, luas, dan saat pekerjaan yang harus dilaksanakan serta harus mempersiapkan suatu program audit tertulis untuk setiap audit. Program audit tersebut menyatakan bahwa prosedur audit yang diyakini oleh auditor merupakan hal yang penting untuk mencapai tujuan audit. Bentuk program audit akan sangat beragam tergantung pada kondisi audit, praktik, serta kebijakan kantor akuntan tersebut. Maksud suatu program audit adalah untuk mengatur secara sistematis prosedur audit yang akan dilaksanakan selama audit berlangsung. Auditor menentukan tujuan audit spesifik yang telah dikembangkan berdasarkan asersi audit ketika mengembangkan program audit.

KERTAS KERJA (WORKING PAPERS) Kertas kerja sebagai catatan yang disimpan oleh auditor tentang prosedur audit yang ditetapkan pengujian yang dilaksanakan, informasi yang diperoleh dan kesimpulan tentang masalah yang dicapai dalam audit. Adapun jenis kertas kerja meliputi: Kertas kerja neraca saldo/ merupakan kertas kerja yang paling penting di dalam audit. o Karena menjadi mata rantai penghubung antara akun buku besar klien dan item-item yang dilaporkan dalam laporan keuangan. o Memberikan dasar untuk pengendalian seluruh kertas kerja individual o Mengidentifikasi kertas kerja spesifik yang memuat bukti audit bagi setiap item laporan keuangan. Skedul dan analisis; digunakan secara bergantian untuk menggambarkan setiap kertas kerja yang memuat bukti yang mendukung item-item dalam kertas kerja neraca saldo. Memoranda audit dan dokumentasi informasi penguat, merujuk pada data tertulis yang disusun oleh auditor dalam bentuk naratif. Memoranda meliputi komentar atas pelaksanaan prosedur audit yang meliputi (1) lingkup pekerjaan (2) temuan-temuan (3) kesimpulan audit. Ayat jurnal penyesuaian dan reklasifikasi. Ayat jurnal penyesuaian merupakan koreksi atas kesalahan klien sebagai akibat pengabaian atau salah penerapan GAAP, sedangkan ayat

jurnal reklasifikasi berkaitan dengan penyajian laporan keuangan yang benar dengan saldo akun yang sesuai.