Anda di halaman 1dari 9

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan masalah perekonomian jangka panjang dan menjadi kenyataan yang selalu dialami oleh suatu bangsa. Ditinjau dari sudut ekonomi, perkembangan ekonomi menimbukan dua efek penting, yaitu kemakmuran atau taraf hidup masyarakat meningkat dan penciptaan kesempatan kerja baru karena semakin bertambahnya jumlah penduduk. Dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi diharapkan dapat mencapai stabilitas moneter dan ekonomi yang mantap dan dinamis. Dengan demikian, diharapkan bangsa Indonesia dapat lebih memeratakan pembangunan untuk mengurangi berbagai kesenjangan. Dan salah satu tolok ukur bagi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi adalah dengan meningkatnya pendapat per kapita (Pertumbuhan Ekonomi Para 1 dan 3). Menurut Wakil Ketua Banggar DPR RI Djoko Udjianto bahwa tema arah kebijakan fiskal pada 2014 adalah "Memperkuat Pertumbuhan Ekonomi Yang Inklusif, Berkualitas dan Berkelanjutan Melalui Pelaksanaan Kebijakan Fiskal Yang Sehat dan Efektif". Salah satu langkah utama yang akan dilakukan pemerintah sehubungan dengan arah kebijakan itu adalah meningkatkan belanja modal secara signifikan untuk mendukung pembangunan infrastruktur (Empat Langkah para 2-3). Mentri Keuangan Chatib Basri mengatakan, konsumsi rumah tangga dan investasi masih akan berlanjut menopang perekonomian Indonesia. Maka dari itu menurutnya, pemerintah akan terus mengeluarkan kebijakan fiskal yang mendorong investasi dan konsumsi rumah tangga selalu tumbuh. Salah satunya adalah menjaga pasokan pangan dan meningkatkan kualitas infrastruktur untuk kepentingan investasi. Sementara dalam upaya mendorong peningkatan investasi, pemerintah akan meningkatkan belanja pemerintah dalam rangka penyediaan infrastruktur yang diharapkan mendorong adanya investasi dari dunia usaha (Pemerintah dan DPR para 10) Dalam teori pertumbuhan endogen, pengeluaran pemerintah memiliki peran dalam pertumbuhan ekonomi dengan asumsi implikasi pengeluaran pemerintah adalah untuk kegiatan produktif misalnya belanja infrastruktur. Belanja yang bersifat produktif dan bersentuhan langsung dengan kepentingan publik akan dapat menstimulus perekonomian. Misalnya, pembangunan infrastruktur akan mendorong investasi, dengan adanya investasi ekonomi akan berkembang dan menciptakan lapangan kerja baru sehingga akan menyerap
Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia

pengangguran dan memperkecil kemiskinan dan pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan perkapita. Menurut Nurjoni, bahwa : Tak diragukan lagi, infrastruktur memegang peranan penting sebagai salah satu roda penggerak pertumbuhan ekonomi. Pembangunan sektor ini menjadi fondasi bagi pembangunan ekonomi selanjutnya. Keberadaan infrastruktur yang memadai sangat diperlukan untuk menopang pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, lebih merata dan lebih menyejahterakan masyarakat. Lebih lanjut Nurjoni menjelaskan bahwa: Keterbatasan pembangunan infrastruktur menyebabkan melambatnya laju investasi di tanah air dalam beberapa tahun terakhir ini. Di sisi lain, harus diakui infrastruktur di Indonesia masih belum bisa meningkatkan daya saing sektor riil (Nurjoni, para.1-2) Salah satu tugas penting dari pemerintahan daerah adalah menyediakan dan membangun infrastruktur publik melalui alokasi Belanja Modal pada APBD. Belanja Modal merupakan belanja pemerintah daerah yang mempunyai pengaruh penting terhadap pertumbuhan ekonomi suatu daerah dan akan memiliki daya ungkit dalam menggerakkan roda perekomian daerah. Realisasi penyerapan belanja daerah termasuk belanja modal dipengaruhi oleh bagaimana pola perencanaan dan penganggaran di daerah, mekanisme transfer dan pelaksanaan program/kegiatan di daerah (Evaluasi Belanja Modal hal.7). Saat pemerintah daerah memutuskan untuk melakukan alokasi ke belanja modal melalui pembangunan infrastruktur, maka dana perimbangan akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Karena dengan adanya infrastruktur yang baik maka akan mengundang minat para investor yang secara umum membantu menggiatkan kegiatan ekonomi, dan selanjutnya tentu saja membuka berbagai lapangan kerja serta mengurangi tingkat pengangguran. Belanja modal merupakan salah satu komponen yang dapat di andalkan dalam upaya menciptakan pertumbuhan ekonomi daerah. Dengan program peningkatan belanja modal, mau tak mau menyentuh langsung peningkatan pembangunan beragam infrastruktur, seperti sarana pertanian, transportasi, dan infrastruktur lain yang langsung menopang produktivitas dan kesejahteraan rakyat. Itu berarti di masa mendatang, semua belanja akan berorientasi ke daerah, karena membangun bangsa adalah pembangunan daerah serta membentuk kapital atau modal yang semakin besar di daerah. Trans-Sumatera, trans-Sulawesi, hingga transKalimantan harus diwujudkan. Untuk kepentingan rakyat, semua itu harus dibesarkan anggarannya. Karena anggaran infrastruktur, sektor pertanian, kesehatan dan transportasi akan dilipatgandakan, biaya operasional, perjalanan dinas, atau pun belanja modal yang tidak produktif harus diturunkan. Itu berarti

Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia

para birokrat tidak bisa lagi seenaknya bermain-main dengan belanja operasional atau mencatut perjalanan dinas. Yang terpenting, pemerintah sudah memberi isyarat mengenai perubahan orientasi pembangunan. Fokus tidak lagi ke perkotaan, melainkan ke daerah. Infrastruktur akan dilengkapi agar daerah memiliki daya saing untuk menarik modal asing (Produktivitas Anggaran para.5-7). Pembangunan infrastruktur untuk menunjang pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja mendapat perhatian pemerintah mengingat fondasi utama untuk mendorong peningkatan laju pertumbuhan ekonomi hanya akan terjadi jika terjadi peningkatan stok dan perbaikan kualitas infrastruktur (RAPBN 2011 para.11) Dari uraian yang telah dikemukakan diatas, dapat dikatakan adanya hubungan yang kuat antara belanja pemerintah dalam pembangunan infrastruktur dengan pertumbuhan ekonomi. Namun demikian, dalam kenyataannya tidak selalu bahwa peningkatan belanja pemerintah dalam bidang infrastruktur akan merupakan faktor penentu pertumbuhan ekonomi. Banyak penelitian empiris yang menjelaskan hubungan belanja modal pemerintah (infrastruktur) dengan pertumbuhan ekonomi. Secara teoritis, pengeluaran pemerintah yang lebih besar cenderung mengurangi pertumbuhan ekonomi (Ram 76:191-203). Pertama, disebabkan kegiatan pemerintah sering dilakukan tidak dengan efisien. Kedua, proses pengaturan yang memberikan beban yang berlebihan dan biaya pada sistem ekonomi. Ketiga, banyak kebijakan fiskal dan moneter pemerintah cenderung mendistorsi insentif ekonomi dan produktivitas yang lebih rendah dari sistem. Pada sisi lain peran pemerintah dalam proses pembangunan ekonomi mencakup; (i) peran pemerintah dalam mengharmonisasikan konflik diantara kepentingan sosial dan swasta, (ii) mencegah eksploitasi negara oleh asing, (iii) mengarahkan kepada peningkatan investasi yang produktif dan menyediakan pilihan optimal secara sosial untuk pembangunan dan pertumbuhan (Gonzales-Paramo dan Martinez 33:184-205) (Pascual dan Garcia 2). Belanja modal (infrastruktur) di daerah juga dapat dikatakan sangat kecil, walaupun sejak dilakukannya desentralisasi/otonomi daerah, pengeluaran pemerintah daerah untuk infrastruktur meningkat, sementara pengeluaran pemerintah pusat untuk infrastruktur mengalami penurunan yang drastis. Ini merupakan suatu persoalan serius, karena walaupun pemerintah pusat meningkatkan porsi pengeluarannya untuk pembangunan infrastruktur, sementara pemerintah daerah tidak menambah pengeluaran mereka untuk pembangunan infrastruktur di daerah masing-masing, maka akan terjadi kepincangan pembangunan infrastruktur antara tingkat nasional dan daerah, yang akhirnya akan menghambat kelancaran
Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia

investasi dan pertumbuhan ekonomi antar wilayah di dalam negeri (Infrastruktur Dalam Para. 4) Tidak seluruh belanja modal berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. Pasalnya, sebagian anggaran sebenarnya kembali ke birokrasi dalam bentuk pembangunan gedung dan fasilitas kantor. Sekretaris Jenderal Forum Indonesia Untuk Transparani (fitra) Yuna Farhan menjelaskan, belanja modal selama ini lebih banyak dikenal sebagai belanja untuk membangun infrastruktur. Namun kenyataannya, sebagian alokasinya kembali untuk birokrasi. Contohnya adalah alokasi dana untuk pengadaan kendaraan dinas yang termasuk dalam belanja modal. Pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun 2013, dana Rp 2,5 triliun di 59 kementerian dan lembaga negara digunakan untuk membeli kendaraan dinas. Di samping itu, Yuna membahkan, penyerapan belanja modal adalah yang terendah dibanding belanja lainnya (Belanja Modal Para. 1-4) Aschauer menunjukkan dampak signifikan dari modal publik terhadap pertumbuhan ekonomi (177-200). Hasil ini, menunjukkan hal yang berbeda terutama untuk kasus Amerika Serikat (Holtz-Eakin 12-21). Penelitian lain menjelaskan dampak modal publik atas tingkat pertumbuhan dari output seperti regresi antar negara. Hasilnya menunjukkan investasi publik/GDP berpengaruh positif tetapi tidak cukup signifikan dihubungkan dengan pertumbuhan ekonomi (Barro 407-43) (Robles vol.16 no.1:98-9). Easterly dan Rebelo menjelaskan dampak positif dan signifikan dari investasi pemerintah terhadap pertumbuhan output (vol.32 no.3:417-58). Devarajan dan Zhou menemukan hubungan signifikan dan negatif diantara rasio pengeluaran komunikasi dan transportasi terhadap total pengeluaran dan pertumbuhan ekonomi (vol.37 no.3:313-44) (Robles vol.16 no.1:99). Lin menekankan cara-cara yang berbeda dimana pemerintah dapat meningkatkan pertumbuhan (melalui barang-barang publik dan infrastruktur, jasa-jasa sosial, dan campur tangan yang direncanakan). Disisi lain, perpajakan pemerintah dapat mengarah kepada misalokasi sumber daya, tidak produktif dan pengeluaran yang tidak efisien (26:83-94) (Pascual dan Garcia 2). Cheng dan Lee menemukan bahwa di Taiwan pengeluaran pemerintah yang terlampau besar tidak mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi menghambat pertumbuhan ekonomi disebabkan oleh crowding out effect atau peningkatan pajak (27:1051-66) (Pascual dan Garcia 2). Hal yang menyebabkan perbedaan adalah pada masalah ekonometri tertentu seperti unit roots dan spurious correlation (Jorgenson, Februari), endogeneity of public
Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia

capital (Cashin 42:237-69), serta measurement errors in the public capital proxies (Baltagi dan Pinnoi vol.20 no.2:351-59). Anasman (2009), belanja modal pemerintah tidak signifikan berpengaruh positif terhadap pertumbuhan PDRB di Provinsi Sumatera Barat. Karena belanja modal lebih banyak dialokasikan kepada belanja modal transportasi yang tidak dialokasikan lebih besar kepada pembangunan sarana transportasi ke daerah-daerah produksi pertanian, namun untuk perbaikan infrastruktur transportasi yang sudah ada, seperti pemeliharaan sarana jalan. Pada penelitian ini, istilah belanja modal pemerintah, belanja pemerintah dalam pembangunan infrastruktur, belanja modal publik, investasi pemerintah, investasi publik, mempunyai arti yang sama. Dari berbagai hasil penelitian diatas menunjukkan bahwa hubungan diantara belanja modal pemerintah dengan pertumbuhan ekonomi menunjukkan hasil positif dan negatif. Hal ini mendorong penulis untuk melihat apakah belanja modal pemerintah kabupaten/kota di provinsi Sulawesi selatan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan (2006-2012). Sebagai gambaran untuk permasalahan penelitian ini, disajikan data Belanja Modal Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011.
Tabel 1.1. Belanja Modal Pemerintah Tahun 2011, PDRB Deflator, Belanja Modal Pemerintah Riil Tahun 2011, Ln(Belanja Modal Pemerintah Riil Tahun 2011) Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan PDRB Deflator Tahun 2011 1,760 1,313 1,692 1,799 1,423 1,955 1,810 1,450 1,331 1,428 Ln (Belanja Modal Pemerintah Riil) Tahun 2011 25,12 25,69 25,59 25,42 25,22 25,34 25,23 25,28 25,57 25,79

Kabupaten/Kota

Belanja Modal Pemerintah Tahun 2011 109,087,000,000 148,069,000,000 130,856,000,000 110,623,000,000 90,079,000,000 101,543,000,000 91,194,000,000 95,865,000,000 137,564,000,000 160,217,000,000

Belanja Modal Pemerintah Riil Tahun 2011 81,861,771,000 143,916,794,000 129,898,583,000 109,932,467,000 90,085,931,000 101,543,435,000 91,194,417,000 95,972,179,000 128,117,887,000 160,217,082,000

Kab. Kep. Selayar Kab. Bulukumba Kab. Bantaeng Kab. Jeneponto Kab. Takalar Kab. Gowa Kab. Sinjai Kab. Maros Kab. Pangkajene Kep. Kab. Barru

Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia

6 Kab. Bone Kab. Soppeng Kab. Wajo


Kab. Sidenreng Rappang Kab. Pinrang Kab. Enrekang Kab. Luwu Kab. Tana Toraja Kab. Toraja Utara Kab. Luwu Utara Kab. Luwu Timur Kota Makassar Kota Pare-pare Kota Palopo

176,327,000,000 109,985,000,000 208,751,000,000 207,398,000,000 120,077,000,000 102,524,000,000 73,578,000,000 111,172,000,000 100,804,000,000 110,898,000,000 188,446,000,000 188,424,000,000 165,148,000,000 100,348,000,000

1,589 1,460 1,449 1,472 1,291 1,850 1,393 1,514 1,457 1,170 2,090 1,436 1,510 1,282

176,327,285,000 109,161,223,000 238,123,767,000 207,397,559,000 141,995,346,000 102,523,980,000 73,888,286,000 111,172,461,000 111,565,762,000 110,897,850,000 188,446,436,000 188,424,000,000 165,497,673,000 100,348,306,000

25,89 25,41 26,19 26,05 25,67 25,35 25,02 25,43 25,43 25,43 25,96 25,96 25,83 25,33

Sumber : BPS Statistik Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota 2010-2011 , BPS Sulawesi Selatan PDRB menurut Kabupaten/Kota Tahun 2008-2012, BPS Sulawesi Selatan & Bappeda Sulawesi Selatan Sulawesi Selatan Dalam Angka Tahun 2010-2011, APBD 2011, telah diolah kembali.

Produk Domestik Bruto Deflator Tahun 2011, Belanja Modal Pemerintah Riil Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011, Ln(Belanja Modal Pemerintah Riil Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011), Produk Domestik Regional Bruto Riil Tahun 2011 Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan Harga Konstan Tahun 2000, Produk Domestik Regional Bruto Riil Tahun 2010 Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan Harga Konstan Tahun 2000, Perubahan Produk Domestik Regional Bruto Riil Tahun 2011 serta Ln(Perubahan Produk Domestik Regional Bruto Riil Tahun 2011) Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan sebagaimana terlihat pada Tabel 1.1. Apabila Ln (Belanja Modal Pemerintah Riil Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011 dihubungkan terhadap Ln(Perubahan Produk Domestik Regional Bruto Riil Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011) akan memunculkan berbagai variasi hubungan diantara kedua variabel tersebut antar kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Selatan.

Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia

7 Tabel 1.1 Produk Domestik Regional Bruto Riil Tahun 2011 Atas Dasar Harga Konstan 2000, Produk Domestik Regional Bruto Riil Tahun 2010 Atas Dasar Harga Konstan 2000, Perubahan PDRB Riil Tahun 2011, Ln(Perubahan PDRB Riil Tahun 2011), Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan sambungan
Produk Domestik Regional Bruto Riil Tahun 2011 (Atas Dasar Harga Konstan 2000) 502,000,000,000 1,853,000,000,000 810,000,000,000 956,000,000,000 977,000,000,000 2,007,000,000,000 1,151,000,000,000 1,240,000,000,000 2,751,000,000,000 784,000,000,000 3,412,000,000,000 1,304,000,000,000 2,717,000,000,000 1,705,000,000,000 2,713,000,000,000 804,000,000,000 1,818,000,000,000 715,000,000,000 741,000,000,000 1,645,000,000,000 4,625,000,000,000 17,821,000,000,000 826,000,000,000 1,001,000,000,000 Produk Domestik Regional Riil Tahun 2010 (Atas Dasar Harga Konstan 2000) 463,000,000,000 1,742,000,000,000 747,000,000,000 891,000,000,000 911,000,000,000 1,890,000,000,000 1,087,000,000,000 1,153,000,000,000 2,520,000,000,000 730,000,000,000 3,213,000,000,000 1,208,000,000,000 2,449,000,000,000 1,524,000,000,000 2,533,000,000,000 752,000,000,000 1,692,000,000,000 663,000,000,000 687,000,000,000 1,533,000,000,000 4,905,000,000,000 16,252,000,000,000 767,000,000,000 925,000,000,000 Perubahan Produk Domestik Regional Bruto Riil Tahun 2011 39,000,000,000 111,000,000,000 63,000,000,000 65,000,000,000 66,000,000,000 117,000,000,000 64,000,000,000 87,000,000,000 231,000,000,000 54,000,000,000 199,000,000,000 96,000,000,000 268,000,000,000 181,000,000,000 180,000,000,000 52,000,000,000 126,000,000,000 52,000,000,000 54,000,000,000 112,000,000,000 280,000,000,000 1,569,000,000,000 59,000,000,000 76,000,000,000 Ln (Perubahan Produk Domestik Regional Bruto Riil Tahun 2011 24,38 25,43 24,86 24,89 24,91 25,48 24,88 25,18 26,16 24,71 26,01 25,28 26,31 25,92 25,91 24,67 25,55 24,67 24,71 25,44 26,35 28,08 24,80 25,05

Kabupaten/Kota

Kab. Kep. Selayar Kab. Bulukumba Kab. Bantaeng Kab. Jeneponto Kab. Takalar Kab. Gowa Kab. Sinjai Kab. Maros Kab. Pangkajene Kep. Kab. Barru Kab. Bone Kab. Soppeng Kab. Wajo Kab. Sidenreng Rappang Kab. Pinrang Kab. Enrekang Kab. Luwu Kab. Tana Toraja Kab. Toraja Utara Kab. Luwu Utara Kab. Luwu Timur Kota Makassar Kota Pare-pare Kota Palopo

Sumber : BPS Statistik Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota 2010-2011 , BPS Sulawesi Selatan PDRB menurut Kabupaten/Kota Tahun 2008-2012, BPS Sulawesi Selatan & Bappeda Sulawesi Selatan Sulawesi Selatan Dalam Angka Tahun 2010-2011, APBD 2011, telah diolah kembali.

Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia

Belanja Modal Pemerintah Kabupaten/Kota dapat berpengaruh positif atau negatif pada Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten/Kota untuk masing-masing Kabupaten/Kota (2006-2012). Pada tabel dan gambar diatas, belanja modal pemerintah yang dimaksud sesuai dengan Belanja Modal pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2011. Namun demikian, investasi swasta dan jumlah penduduk juga dilihat pengaruhnya terhadap Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten/Kota untuk masing-masing Kabupaten/Kota (2006-2012) 1.2. Rumusan Masalah Yang menjadi permasalahan penelitian dalam tesis ini adalah Bagaimana Pengaruh Belanja Modal Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan Terhadap Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan (2006-2012). 1.3. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh besarnya belanja modal pemerintah, investasi swasta, dan jumlah penduduk terhadap pertumbuhan produk domestik bruto kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Selatan (2006-2012). 1.4. Manfaat Penelitian a. Kontribusi empiris, untuk memperkuat penelitian sebelumnya, berkenaan dengan pengaruh besarnya belanja modal Pemerintah terhadap Pertumbuhan Produk Domestik Bruto yang dilakukan secara empiris pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Barat; b. Kontribusi kebijakan, memberikan masukan baik bagi Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah dalam hal penyusunan kebijakan di masa yang akan datang yang berkaitan dengan perencanaan, pengendalian, dan evaluasi dari APBN, APBD, UU, PP serta PERDA yang menyertainya; dan c. Kontribusi teori, sebagai bahan referensi dan data tambahan bagi peneliti-peneliti lainnya yang tertarik pada bidang kajian ini.

Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia

Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia