Anda di halaman 1dari 19

BAB II KONSEP DASAR TEORI Pengertian Anemia adalah berkurangnya jumlah eritrosit serta hemoglobin dalam 1 mm 3 darah atau

berkurangnya volume sel yang dipadatkan (packed red cells volume) dalam 100 ml darah. Anemia aplastik merupaka keadaan yang disebabkan bekurangnya sel hematopoetik dalam darah tepi seperti eritrosit, leukosit dan trombosit sebagai akibat terhentinya pembentukan sel hemopoetik dalam sumsum tulang. Anemia aplastik adalah anemia yang normokromik normositer yang disebabkan oleh disfungsi sumsum tulang, sedemikian sehingga sel darah yang mati tidak diganti. Anemia aplastik adalah anemia yang disebabkan terhentinya pembuatan sel darah oleh sumsum tulang (kerusakan susum tulang). (Ngastiyah.1997.Hal:359) Anemia aplastik merupaka keadaan yang disebabkan bekurangnya sel hematopoetik dalam darah tepi seperti eritrosit, leukosit dan trombosit sebagai akibat terhentinya pembentukan sel hemopoetik dalam sumsum tulang. (Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI.2005.Hal:451) Anemia aplastik adalah kegagalan anatomi dan fisiologi dari sumsum tulang yang mengarah pada suatu penurunan nyata atau tidak adanya unsur pembentukan darah dalam sumsum.(Sacharin.1996.Hal:412) 2.2 Etiologi a. Faktor congenital : sindrom fanconi yang biasanya disertai kelainan bawaan lain seperti mikrosefali, strabismus, anomali jari, kelainan ginjal dan lain sebagainya. b. Faktor didapat - Bahan kimia : benzena, insektisida, senyawa As, Au, Pb. - Obat : kloramfenikol, mesantoin (antikonvulsan), piribenzamin (antihistamin), santoninkalomel, obat sitostatika (myleran, methrotrexate, TEM, vincristine, rubidomycine dan sebagainya), obat anti tumor (nitrogen mustard), anti microbial. - Radiasi : sinar roentgen, radioaktif. - Faktor individu : alergi terhadap obat, bahan kimia dan lain lain. - Infeksi : tuberculosis milier, hepatitis dan lain lain. - Keganasan , penyakit ginjal, gangguan endokrin, dan idiopatik. (Mansjoer.2005.Hal:494) 2.3 Patofisiologi Walaupun banyak penelitian yang telah dilakukan hingga saat ini, patofisiologi anemia aplastik belum diketahui secara tuntas. Ada 3 teori yang dapat menerangkan patofisiologi penyakit ini yaitu : 1. kerusakan sel hematopoitik 2. kerusakan lingkungan mikro sumsum tulang 3. proses imunologik yang menekan hematopoisis Keberadaan sel induk hematopoitik dapat diketahui lewat petanda sel yaitu CD 34, atau dengan biakan sel. Dalam biakan sel padanan induk hematopoitik dikenal sebagai, longterm 2.1

culture-initiating cell (LTC-IC), long-term marrow culture (LTMC), jumlah sel induk/ CD 34 sangat menurun hingga 1-10% dari normal. Demikian juga pengamatan pada cobble-stone area forming cells jumlah sel induk sangat menurun. Bukti klinis yang yang menyokong teori gangguan sel induk ini adalah keberhasilan transplantasi sumsum tulang pada 60-80% kasus. Hal ini membuktikan bahwa dengan pemberian sel induk dari luar akan terjadi rekonstruksi sumsum tulang pada pasien anemia aplastik. Beberapa sarjana menganggap gangguan ini dapat disebabkan oleh proses imunologik. Kemampuan hidup dan daya proliferasi serta diferensiasi sel induk hematopoitik tergantung pada lingkungan mikro sumsum tulang yang terdiri dari sel stroma yang menghasilkan berbagai sitokin perangsang seperti GM-CSF,G-CSF dan IL-6 dalam jumlah normal sedangkan sitokin penghambat seperti ? (IFN-?), tumor necrosis factor-? (TNF-?), protein macrophage inflamatory 1? (MIP-1?), dan transforming growth factor ?2 (TGF-?2) akan meningkat. Sel stroma pasien anemia aplastik dapat menunjang pertumbuhan sel induk, tapi sel stroma normal tidak dapat menumbuhkan sel induk yang berasal dari pasien. Berdasar temuan tersebut, teori kerusakan lingkungan mikro sumsum tulang sebagai penyebab mendasar anemia apalstik makin banyak ditinggalkan. Anemia aplasia sepertinya tidak disebabkan oleh kerusakan stroma atau produksi faktor pertumbuhan. Kerusakan akibat Obat. Kerusakan ekstrinsik pada sumsum terjadi setelah trauma radiasi dan kimiawi seperti dosis tinggi pada radiasi dan zat kimia toksik. Untuk reaksi idiosinkronasi yang paling sering pada dosis rendah obat, perubahan metabolisme obat kemungkinan telah memicu mekanisme kerusakan. Jalur metabolisme dari kebanyakan obat dan zat kimia, terutama jika bersifat polar dan memiliki keterbatasan dalam daya larut dengan air, melibatkan degradasi enzimatik hingga menjadi komponen elektrofilik yang sangat reaktif (yang disebut intermediate); komponen ini bersifat toxic karena kecenderungannya untuk berikatan dengan makromolekul seluler. Sebagai contoh, turunan hydroquinones dan quinolon berperan terhadap cedera jaringan. Pembentukan intermediat metabolit yang berlebihan atau kegagalan dalam detoksifikasi komponen ini kemungkinan akan secara genetic menentukan namun perubahan genetis ini hanya terlihat pada beberapa obat; kompleksitas dan spesifitas dari jalur ini berperan terhadap kerentanan suatu loci dan dapat memberikan penjelasan terhadap jarangnya kejadian reaksi idiosinkronasi obat.
2.4 Manifestasi Klinis Tanda dan gejala yang sering dialami pada anemia aplastik adalah : Lemah dan mudah lelah Granulositopenia dan leukositopenia menyebabkan lebih mudah terkena infeksi bakteri Trombositopenia menimbulkan perdarahan mukosa dan kulit Pucat Pusing Anoreksia

Peningkatan tekanan sistolik Takikardia Penurunan pengisian kapler Sesak Demam Purpura Petekie Hepatosplenomegali Limfadenopati (Tierney,dkk.2003.Hal:95)

2.5

Penatalaksanaan Secara garis besar terapi untuk anemia aplastik terdiri atas beberapa terapi sebagai berikut : 1. Terapi Kausal Terapi kausal adalah usaha untuk menghilangkan agen penyebab. Hindarkan pemaparan lebih lanjut terhadap agen penyebab yang tidak diketahui. Akan tetapi,hal ini sulit dilakukan karena etiologinya tidak jelas atau penyebabnya tidak dapat dikoreksi. 2. Terapi suportif Terapi suportif bermanfaat untuk mengatasi kelainan yang timbul akibat pansitopenia. Adapun bentuk terapinya adalah sebagai berikut : a. Untuk mengatasi infeksi Hygiene mulut Identifikasi sumber infeksi serta pemberian antibiotik yang tepat dan adekuat/. Transfusi granulosit konsertat diberikan pada sepsis berat. b. Usaha untuk mengatasi anemia Berikan transfusi packed red cell (PRC) jika hemoglobin < 7 gr/ atau tanda payah jantung atau anemia yang sangat simptomatik. Koreksi Hb sebesar 9-10 g% tidak perlu sampai normal karena akan menekan eritropoesis internal c. Usaha untuk mengatasi perdarahan Berikan transfusi konsertat trombosit jika terdapat pedarahan mayor atau trombosit < 20.000/mm3. 3. Terapi untuk memperbaiki fungsi sumsum tulang Obat untuk merangsang fungsi sumsum tulang adalah sebagai berikut : a. Anabolik steroid dapat diberikan oksimetolon atau stanal dengan dosis 2-3 mg/kgBB/hari. Efek terapi tampak setelah 6-8 minggu. Efek samping yang dialami berupa virilisasi dan gangguan fungsi hati. Kortikosteroid dosis rendah sampai menengah. GM-CSF atau G-CSF dapat diberikan untuk meningkatkan jumlah neutrofil. 4. Terapi Definitif Terapi definitif merupakan terapi yang dapat memberikan kesembuhan jangka panjang. Terapi definitif untuk anemia aplastik terdiri atas dua jenis pilihan sebagai berikut :

Terapi imunosuprersif Pemberian anti-lymphocyte globuline (ALG) atau anti-thymocyte globuline (ATG) dapat menekan proses imunologis Terapi imunosupresif lain, yaitu pemberian metilprednison dosis tinggi b. Transplantasi sumsum tulang Transplantasi sumsum tulang merupakan terapi definitif yang memberikan harapan kesembuhan, tetapi biayanya mahal. 2.6 Komplikasi 1. Perdarahan 2. Infeksi organ 3. Gagal jantung 2.7 Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Anemia Aplastik A. Pengkajian 1. Anamnesa Identitas Klien Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang dipakai, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, no. register, tanggal MRS, diagnosa medis. Riwayat Penyakit Sekarang Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari anemia yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi terjadinya penyakit. Riwayat Penyakit Dahulu Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab anema aplastik, serta penyakit yang pernah diderita klien sebelumnya yang dapat memperparah keadaan klien dan menghambat proses penyembuhan. Riwayat Penyakit Keluarga Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit anemia merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya anemia, sering terjadi pada beberapa keturunan, dan anemia aplastik yang cenderung diturunkan secara genetik. 2. Pemeriksaan Fisik a. Aktivitas / Istirahat - Keletihan, kelemahan otot, malaise umum - Kebutuhan untuk tidur dan istirahat lebih banyak - Takikardia, takipnea ; dipsnea pada saat beraktivitas atau istirahat - Letargi, menarik diri, apatis, lesu dan kurang tertarik pada sekitarnya - Ataksia, tubuh tidak tegak - Bahu menurun, postur lunglai, berjalan lambat dan tanda tanda lain yang menunjukkan keletihan b. Sirkulasi - Riwayat kehilangan darah kronis, mis : perdarahan GI

a. -

Palpitasi (takikardia kompensasi) Hipotensi postural Disritmia : abnormalitas EKG mis : depresi segmen ST dan pendataran atau depresi gelombang T Bunyi jantung murmur sistolik Ekstremitas : pucat pada kulit dan membrane mukosa (konjungtiva, mulut, faring, bibir) dan dasar kuku Sclera biru atau putih seperti mutiara Pengisian kapiler melambat (penurunan aliran darah ke perifer dan vasokonsriksi kompensasi) Kuku mudah patah, berbentuk seperti sendok (koilonikia) Rambut kering, mudah putus, menipis c. Integritas Ego Keyakinan agama / budaya mempengaruhi pilihan pengobatan mis transfusi darah Depresi d. Eliminasi Riwayat pielonefritis, gagal ginjal Flatulen, sindrom malabsorpsi Hematemesis, feses dengan darah segar, melena Diare atau konstipasi Penurunan haluaran urine Distensi abdomen e. Makanan / cairan Penurunan masukan diet Nyeri mulut atau lidah, kesulitan menelan (ulkus pada faring) Mual/muntah, dyspepsia, anoreksia Adanya penurunan berat badan Membrane mukusa kering,pucat Turgor kulit buruk, kering, tidak elastic Stomatitis Inflamasi bibir dengan sudut mulut pecah f. Neurosensori Sakit kepala, berdenyut, pusing, vertigo, tinnitus, ketidakmampuan berkonsentrasi Insomnia, penurunan penglihatan dan bayangan pada mata Kelemahan, keseimbangan buruk, parestesia tangan / kaki Peka rangsang, gelisah, depresi, apatis Tidak mampu berespon lambat dan dangkal Hemoragis retina Epistaksis Gangguan koordinasi, ataksia g. Nyeri/kenyamanan

Nyeri abdomen samar, sakit kepala h. Pernapasan Napas pendek pada istirahat dan aktivitas Takipnea, ortopnea dan dispnea i. Keamanan Riwayat terpajan terhadap bahan kimia mis : benzene, insektisida, fenilbutazon, naftalen Tidak toleran terhadap dingin dan / atau panas Transfusi darah sebelumnya Gangguan penglihatan Penyembuhan luka buruk, sering infeksi Demam rendah, menggigil, berkeringat malam Limfadenopati umum Petekie dan ekimosis Diagnosa Keperawatan Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen/nutrient ke sel. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan /absorpsi nutrient yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan sekunder (penurunan hemoglobin leucopenia, atau penurunan granulosit (respons inflamasi tertekan). Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan sirkulasi dan neurologist. Konstipasi atau Diare berhubungan dengan penurunan masukan diet; perubahan proses pencernaan; efek samping terapi obat. Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurang terpajan/mengingat ; salah interpretasi informasi ; tidak mengenal sumber informasi.

B. 1. 2. 3.

4.

5. 6. 7.

C. NCP

Nn0 11

Diagnosa Keperawatan Perubahan perfusi jaringan b.d penurunan komponen seluler yang diperlukan

Tujuan Peningkatan perfusi jaringan KH : Klien menunjukkan perfusi adekuat,

Intervensi Awasi tanda vital kaji pengisian kapiler, warna kulit/membrane mukosa, dasar

Rasional Memberikan informasi tentang derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan membantu

untuk pengiriman misalnya tanda vital kuku. oksigen/nutrient ke stabil. - Tinggikan kepala sel. tempat tidur sesuai toleransi. -

menetukan kebutuhan intervensi. Meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan oksigenasi untuk kebutuhan seluler. Catatan : kontraindikasi bila - Awasi upaya ada hipotensi. pernapasan ; auskultasi bunyi - Gemericik napas perhatikan menununjukkan bunyi adventisius. gangguan jajntung karena regangan jantung lama/peningkatan kompensasi curah jantung. Iskemia seluler mempengaruhi jaringan miokardial/ potensial risiko infark. Termoreseptor jaringan dermal dangkal karena gangguan oksigen

- Selidiki keluhan nyeri dada/palpitasi. - Hindari penggunaan botol penghangat atau botol air panas. Ukur suhu air mandi dengan thermometer. - Kolaborasi pengawasan hasil pemeriksaan laboraturium. Berikan sel darah merah lengkap/packed produk darah sesuai indikasi. - Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi. -

Mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan pengobatan /respons terhadap terapi.

Memaksimalkan transport oksigen ke

22

Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai oksigen (pengiriman) dan kebutuhan.

Dapat mempertahankan /meningkatkan ambulasi/aktivitas. KH : melaporkan peningkatan toleransi aktivitas (termasuk aktivitas sehari-hari) - menunjukkan penurunan tanda intolerasi fisiologis,misalnya nadi, pernapasan, dan tekanan darah masih dalam rentang normal -

jaringan. Kaji kemampuan - Mempengaruhi ADL pasien. pilihan intervensi/bantuan Kaji kehilangan atau gangguan - Menunjukkan keseimbangan, perubahan gaya jalan dan neurology karena kelemahan otot defisiensi vitamin B12 mempengaruhi keamanan pasien/risiko cedera Observasi tandatanda vital - Manifestasi sebelum dan kardiopulmonal dari sesudah aktivitas. upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah Berikan oksigen adekuat ke lingkungan jaringan tenang, batasi - Meningkatkan pengunjung, dan istirahat untuk kurangi suara menurunkan bising, kebutuhan oksigen pertahankan tirah tubuh dan baring bila di menurunkan indikasikan regangan jantung Gunakan teknik dan paru menghemat energi, anjurkan - Meningkatkan pasien istirahat aktivitas secara bila terjadi bertahap sampai kelelahan dan normal dan kelemahan, memperbaiki tonus anjurkan pasien otot/stamina tanpa melakukan kelemahan. aktivitas Meingkatkan harga semampunya diri dan rasa (tanpa terkontrol. memaksakan diri). Kaji riwayat Mengidentifikasi

33

Perubahan nutrisi Kebutuhan nutrisi

kurang dari kebutuhan tubuh b.d kegagalanuntuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan /absorpsi nutrient yangdiperlukan untuk pembentukan seldarah merah

terpenuhi KH : Menunujukkan peningkatan /mempertahankan berat badan dengan nilai laboratorium normal. Tidak mengalami tanda mal nutrisi. Menununjukkan perilaku, perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan atau mempertahankan berat badan yang sesuai.

nutrisi, termasuk makan yang disukai Observasi dan catat masukkan makanan pasien Timbang berat badan setiap hari. -

Berikan makan sedikit dengan frekuensi sering dan atau makan diantara waktu makan - Observasi dan catat kejadian mual/muntah, flatus dan dan gejala lain yang berhubungan - Berikan dan Bantu hygiene mulut yang baik ; sebelum dan sesudah makan, gunakan sikat gigi halus untuk penyikatan yang lembut. Berikan pencuci mulut yang di encerkan bila mukosa oral luka. Kolaborasi pada ahli gizi untuk rencana diet. - Kolaborasi ;

defisiensi, memudahkan intervensi Mengawasi masukkan kalori atau kualitas kekurangan konsumsi makanan Mengawasi penurunan berat badan atau efektivitas intervensi nutrisi Menurunkan kelemahan, meningkatkan pemasukkan dan mencegah distensi gaster Gejala GI dapat menunjukkan efek anemia (hipoksia) pada organ.

Meningkatkan nafsu makan dan pemasukkan oral. Menurunkan pertumbuhan bakteri, meminimalkan kemungkinan infeksi. Teknik perawatan mulut khusus mungkin diperlukan bila jaringan rapuh/luka/perdarah an dan nyeri berat. Membantu dalam rencana diet untuk

pantau hasil memenuhi pemeriksaan kebutuhan laboraturium individual - Meningkatakan efektivitas program - Kolaborasi; pengobatan, berikan obat termasuk sumber sesuai indikasi diet nutrisi yang dibutuhkan. - Kebutuhan penggantian tergantung pada tipe anemia dan atau adanyan masukkan oral yang buruk dan defisiensi yang diidentifikasi. 44 Risiko tinggi terhadap infeksi b.d tidak adekuatnya pertahanan sekunder (penurunan hemoglobin leucopenia, atau penurunan granulosit (respons inflamasi tertekan). Infeksi tidak terjadi. Tingkatkan cuci mencegah KH : tangan yang baik ; kontaminasi - mengidentifikasi oleh pemberi silang/kolonisasi perilaku untuk perawatan dan bacterial. Catatan : mencegah/menurunkan pasien pasien dengan risiko infeksi. anemia - meningkatkan berat/aplastik dapat penyembuhan luka, Pertahankan berisiko akibat flora bebas drainase purulen teknik aseptic normal kulit. atau eritema, dan ketat pada menurunkan risiko demam. prosedur/perawata kolonisasi/infeksi n luka bakteri Berikan perawatan kulit, perianal dan menurunkan risiko oral dengan kerusakan cermat kulit/jaringan dan infeksi Motivasi meningkatkan perubahan ventilasi semua posisi/ambulasi segmen paru dan yang sering, membantu latihan batuk dan memobilisasi sekresi napas dalam untuk mencegah pneumonia

54

Konstipasi atau

membantu dalam Tingkatkan pengenceran secret masukkan cairan pernapasan untuk adekuat mempermudah pengeluaran dan mencegah stasis cairan tubuh misalnya pernapasan dan ginjal. Pantau/batasi membatasi pengunjung. pemajanan pada Berikan isolasi bakteri/infeksi. bila Perlindungan isolasi memungkinkan dibutuhkan pada anemia aplastik, bila respons imun sangat terganggu. Pantau suhu adanya proses tubuh. Catat inflamasi/infeksi adanya menggigil membutuhkan dan takikardia evaluasi/pengobatan dengan atau tanpa . demam Amati indikator infeksi eritema/cairan lokal. Catatan : luka pembentukan pus mungkin tidak ada bila granulosit tertekan. Ambil specimen membedakan untuk adanya infeksi, kultur/sensitivitas mengidentifikasi sesuai indikasi pathogen khusus dan mempengaruhi pilihan pengobatan Berikan antiseptic mungkin digunakan topical ; antibiotic secara propilaktik sistemik untuk menurunkan kolonisasi atau untuk pengobatan proses infeksi local Membuat/kembali pola - Observasi warna - Membantu

Diare berhubungan dengan penurunan masukan diet; perubahan proses pencernaan; efek samping terapi obat.

normal dari fungsi usus. KH: Menunjukkan perubahan perilaku/pola hidup, yang diperlukan sebagai penyebab, factor pemberat. -

feses, konsistensi, frekuensi dan jumlah Auskultasi bunyi usus -

Awasi intake dan output (makanan dan cairan). -

Dorong masukkan cairan 2500-3000 ml/hari dalam toleransi jantung -

Hindari makanan yang membentuk gas Kaji kondisi kulit perianal dengan sering, catat perubahan kondisi kulit atau mulai kerusakan. Lakukan perawatan perianal setiap defekasi bila terjadi diare. Kolaborasi ahli gizi untuk diet siembang dengan tinggi serat dan bulk. - serat menahan enzim pencernaan

mengidentifikasi penyebab /factor pemberat dan intervensi yang tepat. bunyi usus secara umum meningkat pada diare dan menurun pada konstipasi dapat mengidentifikasi dehidrasi, kehilangan berlebihan atau alat dalam mengidentifikasi defisiensi diet membantu dalam memperbaiki konsistensi feses bila konstipasi. Akan membantu memperthankan status hidrasi pada diare menurunkan distress gastric dan distensi abdomen mencegah ekskoriasi kulit dan kerusakan

65

dan mengabsorpsi air dalam alirannya sepanjang traktus intestinal dan - Berikan pelembek dengan demikian feses, stimulant menghasilkan bulk, ringan, laksatif yang bekerja sebagai pembentuk bulk perangsang untuk atau enema sesuai defekasi. indikasi. Pantau - mempermudah keefektifan. defekasi bila (kolaborasi) konstipasi terjadi. - Berikan obat antidiare, misalnya Defenoxilat Hidroklorida dengan atropine (Lomotil) dan obat - menurunkan mengabsorpsi air, motilitas usus bila misalnya diare terjadi. Metamucil. (kolaborasi). Kurang Pasien mengerti dan Berikan informasi memberikan dasar pengetahuan memahami tentang tentang anemia pengetahuan sehubungan penyakit, prosedur spesifik. sehingga pasien dengan kurang diagnostic dan rencana Diskusikan dapat membuat terpajan/mengingat pengobatan. kenyataan bahwa pilihan yang tepat. ; salah interpretasi KH : terapi tergantung Menurunkan informasi ; tidak - Pasien menyatakan pada tipe dan ansietas dan dapat mengenal sumber pemahamannya proses beratnya anemia. meningkatkan informasi. penyakit dan kerjasama dalam penatalaksanaan program terapi penyakit. Tinjau tujuan dan ansietas/ketakutan - Mengidentifikasi persiapan untuk tentang factor penyebab. pemeriksaan ketidaktahuan - Melakukan tiindakan diagnostic meningkatkan stress, yang perlu/perubahan selanjutnya pola hidup. meningkatkan beban jantung. Pengetahuan menurunkan ansietas.

Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang.

megetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang, klien akan tenang dan mengurangi rasa cemas diet dan pola makan Anjurkan klien yang tepat dan keluarga membantu proses untuk penyembuhan. memperhatikan diet makanan nya mengetahui Minta klien dan seberapa jauh keluarga pemahaman klien mengulangi dan keluarga serta kembali tentang menilai keberhasilan materi yang telah dari tindakan yang diberikan dilakukan

BAB III PEMBAHASAN KASUS KASUS Tuan A,masuk rumah sakit pada tanggal 3 Desember 2009, jam 10.00 WIB.Mengeluhkan sakit kepala pada bagian tengkuknya, badan sering terasa lemas, dan sering kesemutan pada saat istirahat.Setelah dilakukan pemeriksaan didapat TD 110/ 60 mmhg, SH 34.5oC, Nadi 80x/ menit,HB 3,6 g/dl. Dengan RR normal, BB menurun, sedangkan pada skelera mata memutih, kuku membentuk koilonikia(kuku melengkung seperti sendok).
A. ANALISA DATA NO DATA S 1 : - Tn A mengeluh sakit kepla - Mudah lelah - Kesemutan

PENYEBAB MASALAH Penurunan komponen Perubahan Perfusi seluler yang diperlukan Jaringan untuk pengiriman

- kedinginan - mata berkunang kunang O : - Hb Turun 3,6 g/ dl - Ekstremitas atas dan bawah dingin - Suhu 36o C - kulit pucat - Gelisah S : - Tn A mengeluh badan 2 meras lemas O : - keadaan umum lemah - porsi yang disediakan 3 sendok yang dimakan - tugor jelek 3 S : - Tn a mengatakan susah tidur - nyeri pusing O : - Tn a tampak menguap saat ditanya - mata merah - tidur lebih kurang 5 jam - mata cekung - meringis

oksigen/nutrient ke sel

Penurunan keinginan Perubahan nutrisi untuk makan sekunder kuran dari kebutuhan terhadap anoreksia tubuh

Gangguan perfusi selebral

fungsi Gangguan rasa nyaman atau nyeri

4 S : - Tn A mengeluh lelah dan Ketidak seimbangan 02 lemah O: - sebagian aktivitas dibantu orang lain - Hb = 3,6

Intoleransi aktivitas

informasi 5 S : - Tn A mengeluh apakah Kurang akan cepat sembuh dan tentang penyakit nya kapan bs pulang O : - cemas atau gelisah - TnA sering bertanya tentang penyakit nya

Kurang pengetahuan tentang penyakit tentang kondisi proknosis

B. NCP NO Diagnosa Tujuan dan KH : keperawatan Perubahan perfusiPerubahan perfusi 1 jaringan b/d ketidak jaringan teratasi. seimbangan 02 .DiKH : tandai dengan Tn A1.kualitas pengisian mengeluh kepala kapiler kembali baik. sakit , mudah lelah,2. HB normal 14-16 kesemutan, g/dl kedinginan, mata berkunang-kunang, ekstremitas dingin, kulit pucat,gelisah, suhu 36 C

Intervensi observasitandatandavital

Rasional memberi informasi tentang derajat atau ke adekuatan perfusi jaringan dan membantu menentukan kebutuhan intervensi meningkatkan ekspansi paru dan memaksimalkan oksigenasi untuk kebutuhan seluler dipsnea gemeritik menunjukan gejala karena regangan di jantung atu peningkatran kompensasi curah jantung iskemia seluler mempengaruhi jaringan miokardinal atau potensial infak diharapkan mengetahui dan dapata mengambil langkah agra tn a dapat istirahat dengan tenang dengan mengetahui tingkat nyeri dapat menentukan intervensi yang akan di lakukan diharapkan derngan relaksasi nyeri atau pusing berkurang

tinggikan tempat tifur sesuai toleransi

observasi upaya pernapasan

selidiki keluhan nyeri dada

Gangguan rasa nyaman nyeri b/d perfusi selebral ditandai dengan, Tn 1 A mengatakan susah 2 utk tidur nyeri atau pusing, mata merah, 3 tidur lebih kurang 5 jam, mata cekung., 4 hb 36 g/dl

Istirahat dan tidur tn a dapat terpenuhi KH : Tn A tampak segar Tn A tidak menguap waktu ditanya Mata tidak merah lagi Cekung mata hilang

Kaji perubahan istirahat atau gangguan istirahat

kaji intensitas tinggi

ajarkan teknik relaksasi dan distraksi

jelaskan penyebab agar Tn.A mengerti nyeriatau pusing ,memahami penyebab rasa/pusing mengganggu istirahat dan tidur 3 Intoleransi aktivitas b/d ketidak seimbangan 02 ditandai dengan, tn a mengeluh lemah, sebagian aktivitas dibantu orang lain, hb 3,6 g/dl tn a dapat - observasi tanda vital mealakukan tindakan- anjurkan tn A untuk aktivitas ttanpa menggunakan teknik bantuan orang lain penghematan energi KH : 1. makan menyuap - anjurkan tn a untuk tanpa bantuan arang menghentikan lain aktivitas bila ada palpitasi, kelemahan, pusing,. Diketahui keadaan Tn.A Mendorng pasien untuk banyak membatasi penyimpangan energi dan mencegah kelemahan regangan atau stres kardio pulmonal berlebihan dapat menimbulkan dekompensasi atau kegagalan Nutrisi tn.a terpenuhi- kaji status nyeri dapat diketahui KH : intake makanan yang 1. keadaan umum masuk sehingga membaik kekurangan akan 2. porsi yang masukan zat gizi juga disediakan habis dapat diketahui - jelaskan pd tn. dapat menjelaskan Penting nya makan kepada tn.a penting bagi tubuh nya makanan bagi tubuh agar pengetahuan nya bertambah dan di harapkan tn. A makan . berikan makanan yang merangsang nafsu makan dan dikolaborasikan dengan ahli gizi - dengan makanan yang merangsang nafsu makan, diharapkan tn.a da selera untuk makan dan kebutuhan nutrisi

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d tn.A mengatakan bahwa badan tersa lemah, keadaan umum lemah, porsi yang disediakan 3 sendok yang habis, tugor kulit jelek

terpenuhi

Kurang pengetahuan tentang kondisi prognosis b/d kurang informasi tentang 1. penyakit nya 2. ditandai dengan tn.a mengeluh tentang 3. penyakitnya dan bertanya kapan bisa pulang, tn.a gelisah, bertanya tentang penyakit nya

- motivasi tn. A untuk - dengan motivasi tn. makan A mau makan dan menghabiskan porsi yang dihidangkan tn.a mengerti, cemas, berikan penjelasan tn.a dan keluarga gelisah, hilang pada tn.a dan mengerti dan adpt KH : keluarga tentang mengurangi rasa tn..a tenang penyakit nya cemas/ gelisah tn.a 2. tn.a tidak maupun keluarga bertanya-tanya lagi jelaskan tentang Dengan penjelasan penyembuhan tn.a prosedur perawatan diharapakan Tn.A tentang penyakit nya dan pengobatan yang dan keluaraga dapat bertambah dijalankan mengetahui tindakan beri support mental yang akan dilakun Agar Tn.A mempunyai semangat dalam menghadapi penyaakitnya

BAB IV PENUTUP 3.1 Kesimpulan Anemia aplastik merupaka keadaan yang disebabkan bekurangnya sel hematopoetik dalam darah tepi seperti eritrosit, leukosit dan trombosit sebagai akibat terhentinya pembentukan sel hemopoetik dalam sumsum tulang. (Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI.2005.Hal:451) Anemia aplastik adalah kegagalan anatomi dan fisiologi dari sumsum tulang yang mengarah pada suatu penurunan nyata atau tidak adanya unsur pembentukan darah dalam sumsum.(Sacharin.1996.Hal:412) Penyebab dari anemia aplastik adalah :

a.

Faktor congenital : sindrom fanconi yang biasanya disertai kelainan bawaan lain seperti mikrosefali, strabismus, anomali jari, kelainan ginjal dan lain sebagainya. b. Faktor didapat Bahan kimia : benzene, insektisida, senyawa As, Au, Pb. Obat : kloramfenikol, mesantoin (antikonvulsan), piribenzamin (antihistamin), santoninkalomel, obat sitostatika (myleran, methrotrexate, TEM, vincristine, rubidomycine dan sebagainya), obat anti tumor (nitrogen mustard), anti microbial. Radiasi : sinar roentgen, radioaktif. Faktor individu : alergi terhadap obat, bahan kimia dan lain lain. Infeksi : tuberculosis milier, hepatitis dan lain lain. Keganasan , penyakit ginjal, gangguan endokrin, dan idiopatik. (Mansjoer.2005.Hal:494) 3.2 Saran Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan pada makalah ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan sekali kritik yang membangun bagi makalah ini, agar penulis dapat berbuat lebih baik lagi di kemudian hari. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA Carpenito, Lynda Juall.2009. Diagnosis Keperawatan Aplikasi Pada Praktik Klinis Edisi 9. Jakarta : EGC Doengoes, Mariliynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta : EGC Hillman RS, Ault KA. Iron Deficiency Anemia. Hematology in Clinical Practice. A Guide to Diagnosis and Management. New York; McGraw Hill, 1995 : 72-85. Lanzkowsky P. Iron Deficiency Anemia. Pediatric Hematology and Oncology.Edisi ke-2. New York; Churchill Livingstone Inc, 1995 : 35-50. Nathan DG, Oski FA. Iron Deficiency Anemia. Hematology of Infancy and Childhood. Edisi ke1. Philadelphia; Saunders, 1974 : 103-25. Price, Sylvia. 2005. Patofisiologis : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta : EGC