Anda di halaman 1dari 27

TRAUMA DADA

Pneumothorak dan Hemothorak


Kelompok 3

Trauma
Trauma adalah luka atau cedera fisik lainnya atau cedera fisiologis akibat gangguan emosional yang hebat (Brooker, 2001).

Trauma thorax
semua ruda paksa pada thorax dan dinding thorax, baik trauma atau ruda paksa tajam atau tumpul. (Hudak, 1999).

ANATOMI FISIOLOGI PARU-PARU

Paru-paru adalah struktur elastis seperti spon. Paru-paru berada dalam rongga torak, yang terkandung dalam susunan tulang-tulang iga dan letaknya disisi kiri dan kanan mediastinum (Mediastinum adalah struktur blok padat yang berada dibelakang tulang dada. Paru-paru menutupi jantung, arteri dan vena besar, esofagus, dan trakea).

Fungsi utama paru-paru adalah untuk pertukaran gas antara udara atmosfer dan darah. Dalam menjalankan fungsinya, paru-paru ibarat sebuah pompa mekanik yang berfungsi ganda, yakni menghisap udara atmosfer ke dalam paru (inspirasi) dan mengeluarkan udara alvelus dari dalam tubuh (ekspirasi).

PNEUMOTHORAK
Pneumotorax adalah terdapatnya udara dalam rongga pleura, sehingga paruparu dapat terjadi kolaps.

KLASIFIKASI BERDASARKAN PENYEBAB


Pneumothorak Spontan (setiap pneumotoraks yang terjadi tiba-tiba tanpa adanya suatu penyebab )

Pneumothorak Spontan Primer

Pneumothorak Spontan Sekunder

Pneumothorak Traumatik : 1. Traumatik bukan iatrogenik 2. Traumatik Iatrogenik

Pneumothorak spontan primer

suatu pneumotoraks yang terjadi tanpa ada riwayat penyakit paru yang mendasari sebelumnya. Ada teori yang menyebutkan, disebabkan oleh factor konginetal, yaitu terdapatnya bula pada subpleura viseral, yang suatu saat akan pecah akibat tingginya tekanan intra pleura, sehingga menyebabkan terjadinya pneumotoraks Pneumotoraks spontan sekunder merupakan suatu pneumotoraks yang penyebabnya sangat berhubungan dengan penyakit paruparu, banyak penyakit paru-paru yang dikatakan sebagai penyebab dasar terjadinya pneumotoraks tipe ini

Pneumothorak spontan sekunder

Pneumothorak Traumatik

pneumotoraks yang terjadi akibat suatu trauma, baik truma penetrasi maupun bukan yang menyebabkan robeknya pleura, dinding dada maupun paru.

Traumatik Bukan Iatrogenik Traumatik Iatrogenik

pneumotoraks yang terjadi karena jejas kecelakaan, misalnya jejas pada dinding dada baik terbuka maupun tertutup, barotrauma. Pneumotoraks jenis ini terjadi akibat trauma tumpul atau tajam yang merusak pleura viseralis atau parietalis
Terjadi bisa karena tindakan medis Ex : pemasangan kateter vena sentral, Penyebab lainnya antara lain akupunkktur transthoracic, resusitasi jantung-paru, dan penyalahgunaan obat melalui vena leher (Sharma, 2009).

KLASIFIKASI BERDASARKAN JENIS FISTULANYA


Open Pneumothorak
pneumotoraks dimana terdapat hubungan antara rongga pleura dengan bronkus yang merupakan bagian dari dunia luar karena terdapat luka terbuka pada dada Pada tipe ini, pleura dalam keadaan tertutup (tidak ada jejas terbuka pada dinding dada), sehingga tidak ada hubungan dengan dunia luar.

Simple Pneumothorak

Tension Pneumothorak

pneumotoraks dengan tekanan intrapleura yang positif dan makin lama makin bertambah besar karena ada fistel di pleura viseralis

WOC

MANIFESTASI

Nyeri mendadak di daerah dada akibat trauma pleura Pernafasan yang cepat dan dangkal (takipnea) serta dispnea umum terjadi Deviasi trakea juga dapat terjadi (Corwin, 2009) Sesak nafas (bernafas terasa berat) Nyeri berat, memburuk pada gerakan pernafasan (Wibisono, 2004) Pergeseran mediastinal dan distensi vena jugular dalam pneumotorax tensi Denyut nadi lemah dan cepat (Sarwiji, 2011). Bunyi nafas melemah atau lenyap di paru-paru yang mengalami kolaps sianosi

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Gas darah dan saturasi hemoglobin akan menunjukkan adanya hipoksia Pemeriksaan sinar-X biasanya dapat mendeteksi paru yang kolaps (Corwin, 2009) Rotgen Pemisahan pleura viseralis dari permukaann pleura parietalis merupakan tanda utama dari pneumotoraks

KOMPLIKASI
Pneumotorax dapat menyebabkan hipoksia dan dipsnea berat. Kematian dapat terjadi (Corwin, 2009) Pio-pneumothoraks terdapatnya pneumothoraks disertai empiema secara bersamaanpada satu sisi paru Gawat nafas Disritmia Atelektasis

PROGNOSIS

Setelah pneumotoraks spontan primer, 30% pasien mengalami episode kedua dalam waktu 5 tahun. Setelah episode kedua, tingkat rekurensi meningkat di atas 50% dan oleh karenanya penderita disarankan untuk menjalani pleurodesis

PENATALAKSANAAN

Tension Pneumotorax harus segera ditangani dengan memasukkan slang atau jarum berukuran besar ke dalam ruang pleura diikuti penghisapan udara keluar dari ruang tersebut. Pneumotorax spontan kecil atau pneumotorax yang terjadi sekunder akibat trauma dada diobati dengan insersi slang yang dihubungkan dengan alat penghisap sampai cedera pleura sembuh. Setiap luka akibat penetrasi alat harus dibalut atau tertutup (Corwin, 2009) Berikan oksigen konsentrasi tinggi untuk mengatasi hipoksia WSD

HEMOTHORAK
Hemotoraks adalah adanya darah pada rongga pleura. Perdarahan berasal daridinding dada, parenkim paru, jantung, atau pembuluh darah besar (Mancini, 2011).

ETIOLOGI
Penyebab utama dari hemotoraks adalah laserasi paru atau laserasi dari pembuluh darah interkostal yang disebabkan oleh trauma tajam atau trauma tumpul Dislokasi fraktur dari vertebra torakal juga dapat menyebabkan terjadinya hemotoraks.

MANIFESTASI

Anemia Syok hipovolemik Sesak nafas Suara nafas berkurang (Sjamsuhidayat, 2005) Nyeri dada Sianosis Ekspansi dan kaku di sisi dada yang diserang, sedangkan sisi yang tidak diserang akan naik dan turun saat respirasi Hipotensi Dispnea ringan sampai berat Takipnea (Sarwiji, 2011)

PEMERIKSAAN DIAGNOSIS
Sinar

X dada : menyatakan akumulasi udara / cairan pada area pleura, dapat menunjukan penyimpangan struktur mediastinal (jantung). GDA : Variabel tergantung dari derajat fungsi paru yang dipengeruhi, gangguan mekanik pernapasan dan kemampuan mengkompensasi Torasentesis : menyatakan darah/cairan serosanguinosa (hemothorak). Hb : mungkin menurun, menunjukan kehilangan darah.

KOMPLIKASI
Komplikasi dapat berupa : Kegagalan pernafasan Kematian dini Fibrosis atau parut dari membran pleura syok Empyema Fibrothorax

PENATALAKSANAAN

foto-rontgen. Selang dada berdiameter besar dimasukkan kedalam rongga dada biasanya pada spasium interkostal keempat sampai keenam Autotransfusi, jika terjadi perdarahan hebat dari selang dada Resusitasi cairan, penggantian volume darah yang dilakukan bersamaan dengan dekompresi rongga pleura.

CONTOH KASUS PNEUMOTHORAK

Px Tn. A Usia 38 th datang ke IRD Sehat Sempurna diantar oleh polisi setelah mengalami kecelakaan lalu lintas 2 jam SMRS. Saat kejadian dada samping kanan bawah dan perut kanan atas terkena trauma benda tumpul (stang motor), Posisi jatuh telungkup. Px ingat saat kejadian, riwayat pingsan setelah kejadian disangkal. Keluhan yang dirasakan adalah nyeri dada sebelah samping kanan bawah setelah terbentur disertai sesak nafas. Nyeri dada dirasakan terus menerus sejak kejadian sampai saat dibawah ke RS. Px mengeluh batuk sedikit-sedikit, tidak disertai dahak dan darah. Px tidak mengeluh sakit kepala dan pusing, px mengeluh nyeri perut kanan atas, tapi tidak disertai keluhan mual dan muntah, badan terasa lemas.

Pernapasan 24 x/ mnt, nadi 88 x/ mnt, TD 90/ 60 mmHg Dari pemeriksaan didapatkan klien nampak sakit berat, keluar keringat dingin, nadi cepat dan lemah, tekanan darah menurun, akal dingin lembab dan didapatkan tanda distress nafas, trakea terdorong sisi kiri, gerakan dada yang sakit tertinggal, ICS yang sakit tampak melebar, focal fremitus sisi kanan turun, dari perkusi sisi kanan hipersonor dan jantung terdorong kesisi kiri. Dari foto dada didapatkan tanda pneumothorak.

Primary Survey Airway Assessment : 1. Perhatikan patensi airway :Paten 2. Dengar suara napas: Vesikuler Management : 1. Inspeksi orofaring secara cepat dan menyeluruh, lakukan chin-lift dan jaw thrust, hilangkan benda yang menghalangi jalan napas 2. Re-posisi kepala, pasang collar-neck 3. Lakukan cricothyroidotomy atau traheostomi atau i ntubasi (oral / nasal)

Breathing Assesment 1. Periksa frekwensi napas : 24x/menit. 2. Perhatikan gerakan respirasi:asimetris. 3. Palpasi toraks: Gerakan dada yang sakit tertinggal, focal fremitus sisi kanan turun. 4. Auskultasi dan dengarkan bunyi napas:hipersonor Management: 1. Lakukan bantuan ventilasi bila perlu 2. Lakukan tindakan bedah emergency untuk atasi tension pneumotoraks

Circulation Assesment 1. Periksa frekwensi denyut jantung dan denyut nadi: 88x/menit. 2. Periksa tekanan darah: 90/60 mmHg. 3. Pemeriksaan pulse oxymetri 4. Periksa vena leher dan warna kulit (adanya sianosis) Management 1. Resusitasi cairan dengan memasang 2 iv lines 2. Torakotomi emergency bila diperlukan 3. Operasi Eksplorasi vaskular emergency

Disability Assessment Respon : Alert Kesadaran : Compos Mentis GCS : 456 Pupil : Isokor Refleks Cahaya : Ada Keluhan Lain : Management : Exposure Assessment Deformitas : Tidak Contisio : Tidak Abrasi : Tidak Penelitian : Tidak Laserasi : Tidak Edema : Tidak Keluhan lain : Tidak Ada Management :

ASKEP