Anda di halaman 1dari 13

ASKEP HIPRTENSI 1.

DEFENISI HIPERTENSI Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya diatas 90 mmHg dan pada populasi manula tekanan sistoliknya 160 mmHg dan diastoliknya diatas 90 mmHg (Brunner, 2004) Hipertensi dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu : 1. Hipertensi esensial (Primer) yang belum diketahui pasti penyebabmya, namun diduga karena faktor stress, genetik, obesitas, alkohol, rokok, pola makan yang salah, perubahan pada jantung dan pembuluh darah. 2. Hipertensi sekunder yang penyebabnya karena adanya penyakit jantung, DM, ginjal, dan kelainan hormonal. Kategori Normal Tinggi Stadium 1 (Hipertensi Ringan) Stadium 2 (Hipertensi Sedang) Stadium 3 (Hipertensi Berat) Stadium 4 (Hipertensi Maligna) Tekanan darah sistolik <130 mmHg Tekanan darah diastolik Dibawah 85 mmHg

140 - 159 mmHg

85 - 89 mmHg

160 - 179 mmHg

100 - 109 mmHg

180 - 209 mmHg

110 - 119 mmHg

210 mmHg

120 mmHg atau lebih

2. ETIOLOGI
a. Faktor Predisposisi Umur: Tekanan darah cenderung meningkat seiring bertambahnya usia, kemungkinan seseorang menderita hipertensi juga semakin besar. Pada umumnya penderita hipertensi adalah orang-orang yang berusia 40 tahun namun saat ini tidak menutup kemungkinan diderita oleh orang berusia muda. Boedhi Darmoejo dalam tulisannya yang dikumpulkan dari berbagai penelitian yang dilakukan di Indonesia menunjukkan bahwa 1,8% - 28,6% penduduk yang berusia diatas 20 tahun adalah penderita hipertensi. Jenis kelamin : Wanita penderita hipertensi diakui lebih banyak dari pada laki--laki. Tetapi wanita lebih tahan dari pada laki-laki tanpa kerusakan jantung dan pembuluh darah. Pria lebih banyak mengalami kemungkinan menderita hipertensi dari pada wanita. Pada pria hipertensi lebih banyak disebabkan oleh aktivitas pria yang berat, kerja keras dan kesibukan lainnya menimbulkan tekanan dan pikiran berat sehingga menimbulkan stress seperti perasaan kurang nyaman terhadap pekerjaan sebagai pemicu terjadinya hipertensi pekerjaan, Sampai usia 55 tahun pria beresiko lebih tinggi terkena hipertensi dibandingkan wanita. Menurut Edward D. Frohlich seorang pria dewasa akan mempunyai peluang lebih besar yakni 1 diantara 5 untuk mengidap hipertensi Genetik Kasus hipertensi esensial 70% - 80% diturunkan dari orang tuanya. Apabila riwayat hipertensi di dapat pada kedua orang tua maka dugaan hipertensi esensial lebih besar bagi seseorang yang kedua orang tuanya menderita hipertensi ataupun pada kembar monozygot (sel telur) dan salah satunya menderita hipertensi maka orang tersebut kemungkinan besar menderita hipertensi. Ras

HIPERTENSI

Page 1

Pada ras kulit hitam terdapat Kadar renin yang rendah dan sensitivitas terhadap vasopresin lebih besar sehingga dapat memicu terjadinya tekanan darah tinggi (hipertensi). b. Faktor Presipitasi Konsumsi garam yang tinggi (>30 g) menganjurkan pembatasan konsumsi garam dapur hingga 6 gram sehari (sama dengan 2400 mg Natrium) Obesitas Pada orang yang terlalu gemuk, tekanan darahnya cenderung tinggi karena seluruh organ tubuh dipacu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan energi yang lebih besar jantung pun bekerja ekstra karena banyaknya timbunan lemak yang menyebabkan kadar lemak darah juga tinggi, sehingga tekanan darah menjadi tinggi. Berat badan yang berlebihan juga akan membuat seseorang susah bergerak dengan bebas. Jantung berkerja keras untuk memopa darah agar bisa menggerakkan badan berlebihan dari tubuh. Disamping itu pembuluh darah mengecil dan tersumbat dan sebagai akibat aterosklerosis sehingga darah yang lewat tidak maksimal dan terjadilah tekanan darah yang kuat dan tinggi. Merokok Merokok dapat merusak pembuluh darah, menyebabkan arteri menyempit dan lapisan menjadi tebal dan kasar. Keadaan paru-paru dan jantung mereka yang merokok tidak dapat bekerja secara efisien. Merokok dapat dipengaruhi oleh 3 faktor ini: Dengan menghirup asap rokok akan meningkatkan kadar karbonmonoksida (CO) darah. Hemoglobin sebagai komponen darah yang mengangkut O2 lebih mudah terikat pada CO daripada O2 oleh karena itu, O2 yang di suplai ke jantung menjadi sangat berkurang, sehingga membuat jantung bekerja lebih berat untuk menghasilkan energi yang sama besarnya. Asam nikotinat pada tembakau akan memicu pelepasan katekolamin yang menyebabkan konstriksi arteri. Aliran darah dan oksigenasi jaringan menjadi terganggu. Merokok meningkatkan adhesi trombosit, sehingga mengakibatkan kemungkinan terjadinya pembentukan trombus. Stress Hampir semua orang didalam kehidupan mereka mengalami stress berhubungan dengan pekerjaan mereka. Hal ini dapat dipengaruhi karena tuntutan kerja yang terlalu banyak (bekerja terlalu keras dan sering kerja lembur). Gangguan ginjal Gangguan pada ginjal dapat mengakibatkan perubahan pada fungsi ginjal. Meningkat penahan air dan garam oleh ginjal dimana ginjal tidak mampu membuang sejumlah garam dan air didalam tubuh. Volume darah di dalam tubuh meningkat, sehingga tekanan darah juga meningkat. Kelainan hormon Pelepasan hormon epinefrin (adrenalin) dan non-epinefrin (nonadrenal) diduga sebagai salah satu penyebab hipertensi.meningkatnya pengeluaran hormon insulin sebagai salah satu hormon yang mengatur gula darah dapat menyebabkan penebalan pembuluh darah dan karinanya meningkatkan resistensi perifer. 3. MANIFESTASI KLINIK a. Sakit kepala b. Sesak nafas c. Lemas/kelelahan d. Gelisah e. Kesadaran menurun f. Vertigo (pusing berat) g. Nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan muntah, akibat peningkatan tekanan darah dalam rongga kepala. h. Penglihatan kabur akibat kerusakan pada retina seperti perdarahan, eksudat (kumpulan cairan), penyempitan pembuluh darah dan pada kasus berat dapat terjadi edema pupil ( edema discus opticus ). i. Ayunan langkah yang tidak mantap karena kerusakan susunan saraf pusat. j. Sering kencing pada malam hari karena peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerulus. HIPERTENSI Page 2

k. Edema dan pembengkakan akibat peningkatan tehanan kapiler. Dalam keadaan hipertensi berat penderita dapat mengalami penurunan kesadaran dan bahkan koma karena terjadi pembengkakan otak.

4.

PATOFISIOLOGI Tekanan darah di pengaruhi oleh curah jantung dan tahanan perifer. Faktor yang mempengaruhi curah jantung dan tahanan perifer akan mempengaruhi tekanan darah seperti faktor genetik dan umur, (faktor yang tidak dapat di ubah), stress, obesitas, merokok, asupan Na yang meningkat, kelainan hormonal dan penyakit ginjal, (Faktor yang dapat di ubah). Perubahan fungsi membran sel pada kelainan genetik diduga terjadi perubahan pada membran sel yang dapat menyebabkan konstriksi fungsional dan hipertensi struktural. Kontriksi yang terjadi pada pembuluh darah yang mengakibatkan terjadi peningkatan tekanan perifer yang kemudian menyebabkan peningkatan tekanan darah. Perkembangan gerontologis. Perubahan struktural dan fungsional pada sistem pembuluh darah perifer bertanggung jawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usila. Perubahan tersebut meliputi atereklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan ekstensi dan daya regang pembuluh darah konsekuensinya aorta dan arteri besar berkurang. Kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang di pompa oleh jantung menyebabkan peningkatan tekanan perifer54 yang pada akhirnya mengakibatkan peningkatan tekanan darah. Sistem renin angiotensin dan aldosteron berperan dalam timbulnya hipertensi. Produksi renin di pengaruhi oleh berbagai fakto antara lain stimulasi sistem saraf simpatis yang merupakan respon dari stress psikologis dan penurunan aliran darah ke ginjal . renin berperan mengubah angiotensinogen menjadi angiotensi 1 kemudian di ubah menjadi angiotensi 2 yang merupakan vasokonstriktor kuat yang pada gilirannya merangsang pelepasan aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan tekanan intravaskular. Hipertensi yang disebabkan oleh kelainan hormonal misalnya pada sindrom chusing adanya pelepasan ACTH yang tidak adekuat akan meningkatan konsentrasi glukokortikoid plasma sehingga meningkatkan efek katekolamin (peningkatan curah jantung) dan kerja mineralokortikoid, kortisol yang berkadar tinggi (retensi natrium). Faktor gaya hidup yang dapat mempengaruhi hipertensi adalah obesitas, merokok, asupan natrium yang meningkat. Pasien Obesitas terjadi peningkatan glokosa dalam darah. Peningkatan glukosa dalam darah dapat merusak sel endotel pembuluh darah sehingga terjadi reaksi imun dan peradangan sehingga akhirnya terjadi pengendapan trombosit, makrofag, dan jaringan fibrosa yang akan menyebabkan penebalan dinding pembuluh darah sehingga terjadi peningkatan tahanan perifer dan menyebabkan peningkatan tekanan darah. Peningkatan intake sodium menyebabkan retenasi sodium di ginjal yang mengakibatkan retensi cairan di ginjal yang akan meningkatkan volume plasma. Dengan peningkatan volume plasma akan terjadi peningkatan curah jantung dan peningkatan tekanan darah (Keperawatan Medikal Bedah Vol.2/2004). KOMPLIKASI Ada beberapa komplikasi yang diakibatkan oleh penyakit Hipertensi, jika tidak ditangani sejak dini, penyakit komplikasi yang dapat timbul diantaranya: Kerusakan penglihatan Tekanan darah yang sangat tinggi akibat dari adanya penyempitan pembuluh darah. Penebalan serta pengerutan dinding pembuluh darah dari berbagai sebab. Dalam keadaan ini jantung memompa darah dengan kontraksi yang cepat sehingga darah yang keluar keseluruh tubuh lewat pembuluh darah mengalami tekanan yang sangat kuat akibat sumbatan dari dinding pembuluh darah. Akibatnya pembuluh darah perifer pada mata dan organ pecah. Organ dimata tidak mendapat suplai nutrisi dan oksigen lewat aliran darah, sehingga mengakibatkan penglihatan menjadi kabur dan kebutaan. Stroke Hipertensi adalah faktor utama terjadinya stroke. Hal ini terjadi karena tekanan darah yng terlalu tinggi menyebabkan perubahan struktur arteri-arteri dan penyumbatan pembuluh darah. Pembuluh darah yang menyempit menyebabkan darah terganggu sehingga pembuluh darah yang mempengaruhi otak akan Page 3

5.

HIPERTENSI

lemah dan pecah. Saat itu akan terjadi perdarahan di otak sehingga akan timbul stroke. Stroke juga dapat timbul akibat sumbatan dari gumpalan darah yang tinggal dipembuluh darah yang sempit, yang akan memperburuk keadaan pembuluh darah arteri ke otak. Kerusakan ginjal Kerusakan ginjaldiketahui dapat terjadi akibat hipertensi sebagai salh satu komplikasi. Hal ini juga dapat terjadi karena volume darah yang meningkat akibat vasokonstriksi pembuluh darah dalam tubuh akan menyempit dan menebalkan aliran darah menuju ginjal akibat ginjal tidak dapat membuang sejumlah air dan natrium dari dalam darah. Natrium dan air menumpuk dalam jaringan tubuh kemudian terjadi odem. Jika keadaan ini terus terjadi,ginjal akan bekerja terus sampai tidak mampu bekerja dengan baik akhirnya terjadi disfungsi ginjal atau gagal ginjal. Payah jantung Peningkatan tekanan darah sistemik meningkatan resistensi terhadap pemompaan darah dari ventrikel kiri, sehingga beban kerja jantung bertambah dan tidak mampu lagi memompa darah keseleruh tubuh sehingga akibatnya terjadi hipertrofi ventrikel untuk meningkatakan kekuatan kontraksi, akan tetapi kemampuan ventrikel untuk mempertahankan curah jantung terlampauhi dan terjadi dilatasi mengakibatkan payah jantung (Coungestive Heart Fleure).

6. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a. HB atau Hr untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan (visikositas) dan dapat mengidentifikasikan factor-faktor resiko seperti anemia dan hiperkogulabilitas. b. BUN/ Kreatinin untuk mengetahui keadaan perfusi ginjal c. Glukosa untuk mengetahui adanya peingkatan kadar katekolamin yang dapat meningkatkan hipertensi, dan untuk mengetahui adanya kadar gula yang tinggi dalam darah (Diabetes melitus adalah pencetus hipertensi). d. Kalsium serum Hiperkalsemia dapat mengindikasikan adanya aldosteron utama penyebab menjadi efek samping terapi diuretik. Kalsium serum peningkatan kadar kalsium serum e. Kolesterol dan triliserin serum peningkatan kadar dapat mengidentifikasikan pencetus untuk adanya pembentukan plak. Ateromosa (efek kardiovakuler) f. Pemeriksaan tiroid Hipertrioidisme dapat menimbulkan vasokontraksi dan hipertensi g. EKG Dapat menunjukkan pembesaran jantung, pola regangan,gangguan kondusi, peningkatan P adalah salah satu tanda diri penyakit jantung hipertens h. Urinalisasi Memperhatikan protein sel darah merah, atau sel darah putih .Glukosa menyisyaratkan disfungsi ginjal atau adanya diabetes

7. PENATALAKSANAAN MEDIS
a. Terapi Non Farmakologis

Diet : Mengurangi asupan garam (sodium klorida) Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh Menkonsumsi makanan berserat karena dapat menakhan atau mengurangi asupan natrium. Penurunan berat badan Menghentikan kebiasaan buruk (rokok, alkohol) Perbanyak asupan kalium dan magnesium. Latihan fisik/ olahraga yang teratur/ terarah Misalnya : Joging, bersepeda, berlari, dll. Edukasi, psikologis
Teknik biofeedback Teknik relaksasi Pendidikan kesehatan/ penyuluhan b. Terapi Farmakologis 1) Diuretik HIPERTENSI Page 4

Diuretik thiazid seperti : cholothazid dan chlorth lidon Diuretik loop seperti : fulrosemide (lasix) Cara kerja : Membantu ginjal membunag garam dan air, yang akan mengurangi volume cairan di seluruh tubuh. Melebarkan pembuluh darah dan keseimbangan natrium. 2) Inhibitor A drenergik Beta-blocker dan alfa blocker seperti : propranadol, Hcl, nodolol, dokzasoin, prazoin. Cara kerja : Menghambat sistem saraf simpatis Mengurangi denyut jantung dan keluaran total darah dari jantung. Menghambat produksi adrenalin 3) Vasodilator ACE inhibitor dan pengubah angiotensin Seperti : minoxidil, gaptopril, hifedipine, lisinopen, dihidrat. Cara kerja : Vasodilatasi langsung pada pembuluh antriol, merelaksasi otot polos. Menurunkan kerja jantung dan konsumsi energi, meningkatkan pengiriman oksigen ke jantung.

A. Konsep Asuhan Keperawatan 1. PENGKAJIAN Pola Gordon a. Pola Persepsi Kesehatan Dan Pemeliharaan Kesehatan 1) Keadaan sebelum sakit. Pasien mengaku bahwa ia memiliki kebiasaan merokok dan dalam sehari pasien dapat mengonsumsi minuman berkafein hingga 2 gelas. Karena aktivitas pasien yang padat, pasien tidak mempunyai waktu untuk berolahraga dan pasien juga jarang memeriksakan diri ke petugas medis. 2) Riwayat penyakit saat ini - Keluhan utama: kepala pusing dan terasa berat serta daerah tengkuk terasa tegang - Riwayat keluhan utama Pasien mengeluh merasakan pusing dan nyeri yang terasa berat di tengkuk yang dialami sejak semalam, dan gejala tidak berhenti setelah pasien melakukan aktivitas bahkan setelah pasien beristirahat 3) Riwayat kesehatan keluarga Ada keluarga pasien yang mengalami hipertensi. b. Pola Aktivitas dan Latihan 1) Keadaan sebelum sakit Pasien tidak memiliki aktivitivitas yang lebih selain pekerjaan di kantor, dan jika pulang ke rumah pasien biasanya langsung tidur atau bersantai di depan teras rumahnya sambil menikmati beberapa cangkir kopi. 2) Keadaan sejak sakit Pasien mengatakan bahwa pekerjaannya di kantor mulai terganggu karena pasien mengalami pusing dan nyeri yang terasa berat di tengkuk. 3) Pemeriksaan fisik TTV : Tekanan darah dua kali: berturut-turut dalam keadaan istirahat : 180/100mmHg dan 175/100mmHg. c. Pola Tidur dan Istirahat 1) Keadaan sebelum sakit Pasien mengatakan kalau tidur malam jam 12 malam dan bangun jam 5 pagi. Pasien sering duduk berjam-jam di depan laptop untuk mengerjakan pekerjaan kantor sebelum tidur. Pasien jarang tidur HIPERTENSI Page 5

siang, dan lebih sering menghabiskan waktunya seusai bekerja dengan tidur siang atau bersantai didepan teras rumahnya. 2) Keadaan sejak sakit Pasien mengatakan sejak ia merasakan nyeri berat di tengkuk, ia lebih banyak mengahabiskan waktu istirahat dengan tidur siang seusai beraktivitas. d. Pola Nutrisi Dan Metabolik 1) Keadaan sebelum sakit Pasien mengatakan bahwa ia sering mengkonsumsi makanan yang tinggi akan kadar garam seperti ikan asin, dan pasien sangat sering mengkonsumsi kopi dengan kadar kafein yang cukup tinggi juga minuman yang bersoda seperti sprite. 2) Keadaan sejak sakit Pasien mengatakan sejak ia mengetahui tekanan darahnya tinggi, ia mulai mengurangi konsumsi makanan yang mempunyai kadar garam yang cukup tinggi serta minuman yang mengandung kadar kafein dan soda yang cukup tinggi. e. Pola Eliminasi 1) Keadaan sebelum sakit Pasien mengatakan Buang Air Kecil (BAK) sebanyak 6 sampai 8 kali dalam 1 hari, dan warnanya berwarna kuning dan berbau ammoniak. 2) Keadaan sejak sakit Pasien mengatakan Buang Air Kecil (BAK) dalam satu hari sebanyak 2 sampai 3 kali sehari dan terasa sakit saat berkemih. f. Pola Persepsi Kognitif 1) Keadaan sebelum sakit Pasien mengatakan tidak mengalami gangguan dalam proses berpikir dan pasien tidak mengalami masalah dengan penglihatannya. 2) Keadaan sejak sakit Pasien mengatakan mengalami gangguan dalam proses berpikir terbukti dari sulitnya pasien berkonsentrasi denga pekerjaannya di kantor, serta mengalami gangguan atau masalah pada penglihatannya. 2. DIAGNOSA KEPERAWATAN a. Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung b/d hipertrofi ventrikel b. Intoleran aktivitas b/d ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan oksigen c. Nyeri b/d peningkatan tekanan vaskuler serebral d. Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh b/d asupan yang berlebihan terhadap kebutuhan metabolik e. Ketidakefektifan koping individu b/d tidak adekuatnya tingkst persepsi kendali diri f. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi, rencana pengobatan b/d keterbatasan kognitif

3. INTERVENSI DAN RASIONAL a. Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung b/d hipertrofi ventrikel. NOC: Menunjukkan curah jantung yang memuaskan,dibuktikan oleh efektifitas pompa jantung,status sirkulasi,perfusi jaringan (organ abdomen,jantung,serebral,perifer,dan pulmonal), dan perfusi jaringan (perifer);dan status tanda vital. NIC: 1) Pantau TD.ukur pada kedua tangan/paha untuk evaluasi awal. Gunakan ukuran manset yang tepat dan teknik yang akurat. R/ Perbandingan dari tekanan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang keterlibatan/bidang masalah vascular. Hipertensi berat diklasifikasikan pada orang dewasa sebagai HIPERTENSI Page 6

peningkatan tekanan diastolik di sampai 130; hasil pengukuran diastolik di atas 130 dipertimbangkan sebagai peningkatan pertama, kemudian maligna. Hipertensi sistolik juga merupakan faktor risiko yang ditentikan untuk penyakit serebrovaskular dan penyakit iskemi jantung bila tekanan diastolic 90-115 2) Catat keberadaan,kualitas denyutan sentral dan perifer. R/ Denyutan karotis,jugularis,radialis dan femoralis mungkin teramati/terpalpasi. Denyut pada tungkai mungkin menurun, mencerminkan efek dan vasokontriksi(peningkatan SVR) dan kongesti vena. 3) Auskultrsi tonus jantung dan bunyi napas R/ S4 umum terdengar pada pasien hipertensi berat karena adanya hipertrofi atrium (peningkatan volume/tekanan atrium) perkembangan S3 menunjukkan hipertrofi ventrikel dan kerusakan fungsi. Adanya krekels dan mengi dapat meningdikasikan kongesti paru sekunder terhadap terjadinya gagal jantung kronik. 4) Amati warna kulit, kelembapan,suhu, dan masa pengisian kapiler. R/ Adanya Pucat, dingan , kulit lembab dan masa pengisian kapiler yang lambat mungkin berkaitan dengan vasokintriksi atau dekompensasi atau penurunan curah jantung 5) Catat edema umum/tertentu R/ Dapat Mengidentifikasi gagal jantung ,kerusakan ginjal/ vaskuler 6) Berikan lingkungan tenang, nyaman, kurangi aktivitas/keributan lingkungan. Batasi jumlah pengunjung dan lamanya tinggal. R/ Membantu menurunkan rangsang simpatis, meningkatkan relaksasi 7) Pertahankan pembatasan aktivitas,spt, istirahat di tempat tidur/kursi; jadwal periode istirahat tanpa gangguan ; bantu pasien melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan. R/ Menurunkan stress dan ketegangan yang mempengeruhi tekanan darah dan perjalanan penyakit hipertensi 8) Lakukan tindakan-tindakan yang nyaman,spt pijatan punggung dan leher, meningkatan kepala tempat tidur. R/ Mengurangi ketidaknyamanan dan menurunkan rangsang simpatis 9) Anjurkan teknik relaksasi,panduan imajinasi,aktivitas pengalihan. R/ Dapat Menurunkan rangsang yang menimbulkan stress, membuat efek tenang sehingga menurunkan tekanan darah.

Kolaborasi 1. Berikan obat-obat sesuai indikasi,contoh: diuretic tiazid, misalnya klorotiazid (diuril); hidroklorotiazid (esidrix/hidroDIURIL); bendroflumentiazid (naturetiun) R/ Tiazid mungkin digunakan sendiri atau dicampur dengan obat lain untuk menurunkan TD pada pasien dengan fungsi ginjal yang relative normal. Diuretik ini memperkuat agen-agen antihipertensif lain dengan membatsi retensi cairan. 2. Diuretic loop, mis furosemid (lasix);asam etakrinic (edecrin); bumetanid (burnex) R/ Obat ini menghasilkan dieresis kuat dengan menghambat resorpsi natrium klorida dan merupakan antihipertensif efektif,khususnya pada pasien yang resisten terhadap tiazid atau mengalami kerusakan ginjal. 3. Diuretic hemat kalium, mis, spironolakton (aldactone);triamterene (dyrenium;amilioride (midamor); R/ Dapat diberikan dalam kombinasidengan diuretic tiazid untuk meminimalkan kehilangan kalium.

HIPERTENSI

Page 7

4. Inhibator simpatis, mis, propanolol (inderal);metoprolol (lopressor); atenolol (tenormin); nadolol (cogard); metildopa (aldomet); reserpine (sersasi); klonidin (catapres;) R/ Kerja khusus obat ini bervariasi,tetapi secara umum menurunkan TD melalui efek kombinasi penurunan tahapan total perifer, menurunkan curah jantung,menghambat aktivitas simpatis,dan menekan pelepasan rennin. 5. Vasodilator misalnya, minosidil (loniten); hydralazin (apresoline);bloker saluran kalsium, mis, nifedipin (pr ocardia); verapamil (calan); R/ Mungkin diperlukan untuk mengobati hipertensi berat bila dikombinasikan diuretic dan inhibitor simpatis tidak berhasil mengontrol TD. Vasodilatasi vaskuler jantung sehat dan meningkatkan aliran darah koroner keuntungan sekunder dari terapi vasodilator 6. Agen-agen anti adrenergik: -1 bloker prazosin (minipres); tetazosin (hytrin) R/ Bekerja pada pembuluh darah untuk mempertahankan agar tidak konstriksi. 7. Bloker nuron adregernik: guanadrel (hyloree);quanetidin (ismelin);reserpin (serpasi);\ R/ Menurunkan aktivitas konstriksi arteri dan vena pada ujung saraf simpatis 8. Inhibitor adrenergic yang kerja secara sentral:klonidin; (catapres); guanabens (wytension); metildopa (aldomet) R/ Obat ini meningkatkan rangsang simpatis pusat vasomotor untuk menurunkan tahanan arteri perifer. 9. Vasodilator kerja langsung: hidralizin (apresoline); minoksidil; (loniten); R/ Merilekskan otot-otot polos vakuler 10. Vasodilator oral yang bekerja langsung: diazoksid (hyperstat); nitropusid;( nipride,nitropess) R/ Obat-obat ini diberikan secara intrvena untuk menangani kedaruratan hipertensi. 11. Bloker anglion,mis, guagenitidin (ismelin);trimetapan (arfonad), ACE inhibitor, mis, kaptopril (capoten) R/ Penggunaan inhibitor simpatis tambahan mungkin dibutuhkan (untuk efek kumulatifnya) bila tindakan lain gagal untuk mengontrol TD dan kerja sama pasien dengan regimen terapeutik telah ditetapkan. 12.Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi. R/ Pembatasan ini dapat menangani retensi cairan dengan resppon hipertensif,dengan demikian menurunkan beban kerja jantung. 2. Intoleran Aktivitas b/d ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan oksigen NOC: berpartisipasi dalam aktivitas fisik yang dibutuhkan dengan peningkatan normal denyut jantung, frekuensi pernapasan, dan tekanan darah serta memantau pola dalam batas normal. NIC: 1. Kaji respons pasien terhadap aktivitas, observasi frekuensi nadi lebih dari 20 kali per menit di atas frekuensi istirahat; Peningkatan TD selama/sesudah aktivitas (tekanan sistolik meningkat 40 mmHg atau tekanan distolik meningkat 20 mmHg); dispnea/nyeri dada, keletihan kelemahan berlebihan, diaphoresis, pusing atau pingsan. R/ Menyebutkan parameter membantu dalam mengkaji respons fisiologi terhadap stress aktivitas dan bila ada merupakan indicator dari kelebihan kerja yng berkaitan dengan tingkat aktivitas 4. Instruksikan pasien tentang teknik penghematan energy, misalnya menggunakan kursi saat mandi, duduk saat menyisir, menyikat gigi dan melakukan aktivitas dengan perlahan R/ Teknik menghemat energy mengurangi penggunaan energy,juga membantu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen 5. Berikan dorongan melakukan aktivitas atau perawatan diri bertahap jika dapat ditoleransi. Berikan bantuan sesuai kebutuhan R/ Kemajuaan aktivitas bertahap mencegah peningkatan kerja jantung tiba tiba. Memberikan bantuan hanya sebatas kebutuhan akan mendorong kemandirian dalam melakukan beraktivitas. c. Nyeri ,(Akut), Sakit Kepala b/d peningkatan tekanan vaskuler serebral NOC: Mempertahankan teknik relaksasi secara individual yang efektif untuk mencapai kenyamanan, Tidak mengalami gangguan dalam frekuensi pernapasan, frekuensi jantung atau tekanan darah NIC : HIPERTENSI Page 8

1. Mempertahankan tirah baring selama fase akut R/ Meminimalkan stimulasi/ meningkatkan relaksasi 2. Berikan tindakan nonfarmakologik untuk menghilangkan sakit kepala, misalnya kompres dingin pada dahi, pijat pungung dan leher, tenang, redupkan lampu kamar, teknik relaksasi (panduan imajinasi distraksi) dan aktivitas waktu senggang. R/ Tindakan yang menurunkan tekanan vaskuler serebral dan yang memperlambat atau memblok respons simpatis efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya. 3. Hilangkan/ meminimalkan aktivitass vasokontriksi yang meningkatkan sakit kepala, misalnya mengejan saat BAB, batuk panjang, dan membungkuk R/ Aktivitas yang meningkatkan vasokontriksi menyebabkan sakit kepala karena adanya peningkatan tekanan vascular serebral 6. Bantu klien dalam ambulansi sesuai kebutuhan R/ Pusing, penglihatan kabur berhubungan dengan sakit kepala. Klien dapat mengalami episode hipotensi postural 7. Berikan cairan, makanan lunak, dilakukan untuk perawatan mulut teratur bila terjadi perdarahan hidung/ kompres hidung setelah dilakukan untuk menghentikan perdarahan. R/ Meningkatkan kenyamanan umum. Kompres hidung mengganggu menelan atau membutuhkan napas dengan mulut, menimbulkan stagnassi sekresi oral dan mengeringkan membrane mukosa 8. Analgesik R/ Menurunkan nyeri dan menurunkan rangsang system saraf simpatis 9. Antiansietas, misalnya lorazepam(ativan), diazepam(valium) R/ Mengurangi ketegangan dan ketidaknyamanan yang diperberat oleh stress. d. Perubahan Nutrisi Lebih dari Kebutuhan Tubuh b/d asupan yang berlebihan terhadap kebutuhan metabolik NOC: mengalami asupan kalori,lemak,karbohidrat,vitamin,mineral,zat besi, dan kalsium yang adekuat, tetapi tidak berlebihan NIC: 1. Kaji pemahaman klien tentang hubungan langsung antara hipertensi dan kegemukan R/ Kesalahan kebiasaan makan menunjang terjadinya asterosklerosis dan kegemukan,yang merupakan predisposisi untuk hipertensi dan komplikasinya misalnya stroke,penyakit ginjal,gagal jantung.kelbihan masukkan garam memperbanyak volume cairan intravaskuler dan dapat merusak ginjal,yang lebih memperburuk hipertensi. 2. Bicarakan pentingnya menurunkanmasukan kalori dan batasi masukan lemak, garam, dan gula sesuai indikasi. R/ motivasi untuk penurunan berat badan adalah internal. Individu harus berkeinginan untuk menurunkan berat badan, bila tidak maka program sama sekali tidak berhasil. 3. Tetapkan keinginan pasien menurunkan berat badan R/ mengidentifikasi kekuatan/kelemahan dalam program diit terakhir.membantu dalam menentukan kebutuhan individu untuk penyesuain/penyuluhan. 4. Kaji ulang masukan kalori harian dan pilih diet. R/ Penurunan masukan kalori seseorang sebanyak 500 kalori/hari dapat menurunkan berat badan 0,5 kg/minggu. Penurunan berat badan yang lambat mengindikasikan kehilangan lemak melalui kerja otot dan umumnya dengan cara mengubah kebiasaan makan. 5. Tetapkan rencana penurunan berat badan yang realistis dengan pasien misalnya penurunan berat badan 0,5 kg/minggu R/ memberikan data dasar tentang keadekuatan nutrisi yang dimakan,dan kondisi emosi saat makan.membantu memfokuskan pengertian pada factor mana pasien telah/dapat mengontrol perubahan 6. Dorong pasien untuk mempertahankan masukkan makanan harian termasuk kapan dan dimana makan dilakukan dan lingkungan dan perasaan sekitar saat makanan dimakan. R/ menghindari makanan tinggi lemak jenuh dan kolesterol penting dalam mencegah perkembangan aterogenesis HIPERTENSI Page 9

7. Instruksikan dan bantu memilih makanan yang tepat, hindari makanan dengan kejenuhan lemak tinggi (mentega,keju,telur,es krim,daging) dan kolesterol (daging berlemak,kuning telur,produk kalengan,jeroan) R/ memberikan konseling dan bantuan dengan memenuhi kebutuhan diet individual. 10. Rujuk ke ahli gizi sesuai indikasi R/ Memberikan konseling dan bantuan dengan memenuhi kebutuhan diet individual e. Ketidakefektifan koping individu b/d tidak adekuatnya tingkat persepsi kendali diri NOC: menunjukkan koping yang efektif yang dibuktikan oleh menggunakan perilaku untuk menurunkan stres NIC: 1. Kaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi perilaku, mis:,kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian, keinginan dan berpartisipasi dalam rencana pengobatan. R/ Mekanisme adaptif perlu untuk mengubah pola hidup seseorang, mengatasi hipertensi kronik, dan mengintegrasikan terapi yang diharuskan dalam kehidupan sehari-hari. 2. Catat laporan gangguan tidur, peningkatan keletihan, kerusakan konsentrasi, peka rangsang, penurunan toleransi sakit kepala, ketidakmampuan mengatasi/menyelesaikan masalah. R/ Manifestasi mekanisme koping maladaptif mungkin merupakan indicator marah yang ditekan dan diketahui telah menjadi penentu utama TD diastolic. 3. Bantu pasien untuk mengidentifikasi stressor spesifik dan kemungkinan strategi untuk mengatasinya. R/ Pengenalan terhadap stressor adalah langkah pertama dalam mengubah respons seseorang terhadap stressor. 4. Libatkan pasien dalam perencanaan perawatan dan beri dorongan partisipasi maksimum dalam rencana pengobatan. R/ Keterlibatan memberikan pasien perasaan control diri yang berkelanjutan, memperbaiki keterampilan koping, dan dapat meningkatkan kerja sama dalam regimen terapeutik. 5. Dorong pasien untuk mengevaluasi prioritas/tujuan hidup.Tanyakan pertanyaan seperti Apakah yang anda lakukan merupakan apa yang anda inginkan ? R/ Fokus perhatian pasien pada realitas situasi yang ada relatif terhadap pandangan pasien tentang apa yang diinginkan.Etika kerja keras, kebutuhan untuk control, dan focus keluar dapat mengarah pada kurang perhatian pada kebutuhan-kebutuhan personal. 6. Bantu pasien untuk mengidentifikasi dan mulai merencanakan perubahan hidup yang perlu.Bantu untuk menyesuaikan, ketimbang membatalkan tujuan diri/keluarga. R/ Perubahan yang perlu harus diprioritaskan secara realistic untuk menghidari rasa tidak menentu dan tidak berdaya. f. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi, rencana pengobatan b/d Keterbatasan kognitif. NOC: Mempertahankan TD dalam parameter normal. NIC: 1) Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar.Termasuk orang terdekat. R/ Kesalahan konsep dalam menyangkal diagnose karena perasaan sejahtera yang sudah lama dinikmati mempengaruhi minat pasien/orang terdekat untuk mempelajari penyakit,kemajuan, dan prognosis.Bila pasien tidak menerima realitas bahwa membutuhkan pengobatan kontinu, maka perubahan perilaku tidak akan dipertahankan. 2) Tetapkan dan nyatakan batas TD normal.Jelaskan tentang hipertensi dan efeknya pada jantung,pembuluh darah,ginjal, dan otak. R/ Memberikan dasar untuk pemahaman tentang peningkatan TD dan mengklarifikasi istilah medis yang sering digunakan.Pemahaman bahwa TD tinggi dapat terjadi tanpa gejala adalah ini untuk memungkinkan pasien melanjutkan pengobatan meskipun ketika merasa sehat. 3) Hindari mengatakan TD normaldan gunakan istilah terkontrol dengan baiksangat menggambarkan TD pasien dalam batas yang diinginkan.

HIPERTENSI

Page 10

R/ Karena pengobatan untuk hipertensi adalah sepanjang kehidupan,maka dengan penyampaian ide terkontrolakan membantu pasien untuk memahami kebutuhan untuk melanjutkan pengobatan/medikasi. 4) Bantu pasien dalam mengidentifikasi factor-faktor resiko kardiovaskular yang dapat diubah, mis:obesitas,diet tinggi lemak jenuh,dan kolestrol, pola hidup monoton,merokok dan minum alcohol (lebih dari 60 cc/hari dengan teratur),pola hidup penuh stress. R/ Faktor-faktor resiko ini telah menunjukkan hubungan dalam menunjang hipertensi dan penyakit kardiovaskular serta ginjal. 5) Atasi masalah dengan pasien untuk mengidentifikasi cara dimana perubahan gaya hidup yang tepat dapat dibuat untuk mengurangi factor-faktor diatas. R/ Faktor-faktor resiko dapat meningkatkan proses proses penyakit atau memperburuk gejala.Dengan mengubah pola perilaku yang biasa/memberikan rasa amandapat sangat menyusahkan.Dukungan, dan petunjuk empati dapat meningkatkan keberhasilan pasien dalam tugas ini. 6) Bahas pentingnya menghentikan merokok dan bantu pasien dalam membuat rencana untuk berhenti merokok. R/ Nikotin meningkatkan pelepasan katekolamin,mengakibatkan frekuensi jantung,TD,dan vasokontriksi,mengurangi oksigenasi jaringan, dan meningkatkan kerja miokardium. 7) Instruksikan dan peragakan teknik pemantauan TD mandiri.Evaluasi pendengaran,ketajaman penglihatan dan keterampilan manual serta koordinasi pasien. R/ Dengan mengajarkan pasien atau orang terdekat untuk memantau TD adalah menyakinkan untuk pasien, karena hasilnya memberikan penguatan visual/positif akan upaya pasien. 8) Jelaskan obat yang diresep bersamaan dengan rasional,dosis,efek samping yang diperkirakan serta efek yang merugikan/idiosinkrasi. R/ Informasi yang adekuat dan pemahaman bahwa efek samping (mis,:perubahan suasana hati,peningkatan berat badan awal,mulut kering) adalah umum dan sering menghilang dengan berjalannya waktu dengan demikian meningkatkan kerja sama rencana pengobatan. 9) Hindari/batasi masukan alcohol. R/ Kombinasi efek vasodilatasi alcohol dan efek penipisan volume dari diuretic sangat meningkatkan resiko hipotensi ortostatik. 10) Antihipertensi:Minum dosis yang diresepkan pada jadwal teratur,hindari melalaikan dosis,mengubah atau melebihi dosis,dan jangan menghentikan tanpa memeberitahu pemberi asuhan kesehatan;bangun dengan perlahan dari berbaring keposisi berdiri,duduk untuk beberapa menit sebalum berdiri,tidur dengan kepala agak ditinggikan. R/ : Penghentian obat mendadak menyebabkan rebound hipertensi yang dapat mengarah pada komplikasi berat. Ukur penurunan keparahan hipotensi ortostatik yang berhubungan dengan penggunaan vasodilator dan diuretic. 11) Sarankan untuk sering mengubah posisi,olahraga kaki saat berbaring. R/ Menurunkan bendungan vena perifer yang dapat ditimbulkan oleh vasodilator dan duduk/berdiri terlalu lama. 12) Rekomendasikan untuk menghidari mandi air panas,ruang penguapan, dan penggunaan alcohol yang berlebihan. R/ Mencegah vasodilatasi yang tak perlu dengan bahaya efek samping yaitu pingsan dan hipotensi. 13) Anjurkan pasien untuk berkonsultasi dengan pemberi perawatan sebelum menggunakan obatobatan yang diresepkan atau tidak diresepkan. R/ Tindak kewaspadaan penting untuk pencegahan interaksi obat yang kemungkinan berbahaya.Setiap obat yang mengandung stimulant saraf simpatis dapat meningkat TD atau dapat melawan efek antihipertensif. 14) Instruksikan pasien tentang peningkatan masukan makanan/cairan tinggi kalium,mis:jeruk,pisang,tomat,kentang,apricot,kurma,buah ara,kismis,Gatorade,sari buah jeruk, dan

HIPERTENSI

Page 11

minuman mengandung tinggi kalsium,mis:susu rendah lemak,yogurt,atau tambahan kalsium sesuai indikasi. R/ Diuretik dapat menurunkan kadar kalium.Penggantian diet lebih baik daripada obat dan semua ini diperlukan untuk memperbaiki kekurangan.Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mengkonsumsi kalsium 400-2000 mg per hari dapat menurunkan TD sistolik dan diastolic.Memperbaiki kekurangan mineral dapat juga mempengaruhi TD. 15) Riview tanda/gejala yang memerlukan pelaporan pada pemberi asuhan kesehatan,mis:sakit kepala yang terjadi saat bangun,peningkatan TD tiba-tiba dan terus-menerus nyeri dada/sesak napas, frekuensi nadi meningkat/tak teratur,peningkatan berat badan yang signifikan (1 kg/hari atau 2,5 kg/minggu) atau pembengkakan perifer/abdomen,gangguan penglihatan,sering perdarahan hidung tak terkontrol,depresi/emosi labil pusing yang hebat/episode pingsan, kelemahan/kram otot, mual/muntah, haus berlebihan, penurunan libido/impoten. R/ Deteksi dini terjadinya komplikasi,penurunan efektivitas atau reaksi yang merugikan dari regimen obat memungkinkan untuk intervensi. 16) Jelaskan rasional regimen diit yang diharuskan (biasanya diit rendah natrium,lemak jenuh,dan kolestrol). R/ Kelebihan lemak jenuh,kolestrol,natrium,alcohol,dan kalori telah didefinisikan sebagai risiko nutrisi dalam hipertensi.Diet rendah lemak dan tinggi lemak poli-tak jenuh menurunkan TD,kemungkinan melalui keseimbangan prostaglandin,pada orang-orang normotensif dan hipetensi. 17) Bantu pasien untuk mengidentifikasi sumber masukan natrium, (mis:garam meja, makanan bergaram, daging, dan keju olahan saus, sup kaleng, dan sayuran, soda kue, baking powder, MSG).Tekankan pentingnya membaca label kandungan dan obat yang dijual bebas. R/ Diit rendah garam selama dua tahun mungkin sudah mencukupi untuk mengontrol hipertensi sedang atau mengurangi jumlah obat yang dibutuhkan. 18) Dorong pasien untuk menurunkan atau menghilangkan kafein, mis:kopi, teh, cola, coklat. R/ Kafein adalah stimulan jantung dan dapat memberikan efek merugikan pada fungsi jantung. 19) Anjurkan pasien untuk memantau respons fisiologi sendiri terhadap aktivitas (mis:frekunsi nadi,sesak napas) laporkan penurunan toleransi terhadap aktivitas;dan hentikan aktivitas yang menyebabkan nyeri dada,sesak napas,pusing,keletihan berat,atau kelemahan. R/ Keterlibatan pasien dalam memantau toleransi aktivitasnya sendiri penting untuk keamanan dan/atau memodifikasi aktivitas kehidupan sehari-hari. 20) Dorong pasien untuk membuat program olahraga sendiri seperti olahraga aeorobik (berjalan,berenang) yang pasien mampu lakukan.Tekankan pentingnya menghindari aktivitas isometric. R/ Selain membantu menurunkan TD,aktivitas aerobic merupakan alat menguatkan system kardiovaskular.aktifitas isometric dapat meningkatkan kadar katekolamin serum,akan lebih meningkatkan TD. 21) Peragakan penerapan kompres es pada punggung leher dan tekanan pada sepertiga ujung hidung,dan anjurkan pasien menundukkan kepala kedepan bila terjadi perdarahan hidung. R/ Kapiler nasal dapat rupture sebagai akibat dari tekanan vaskuler berlebihan.Dingin dan tekanan mengkontriksikan kapiler,yang melambatkan perdarahan.Menundukkan kedepan menurunkan jumlah darah yang tertelan.

4. DISCHARGE PLANNING Mematuhi program asuhan dini a. Minum obat sesuai resep dan melaporkan setiap ada efek samping. b. Mematuhi aturan diet sesuai yang dianjurkan:pengurangan natrium,kolestrol,dan kalori. c. Olahraga secara teratur d. Mengukur tekanan darahnya sendiri secara teratur. e. Berhenti mengkonsumsi tembakau,kafein dan alkohol. f. Menepati jadwal kunjungan klinik atau dokter.

HIPERTENSI

Page 12

HIPERTENSI

Page 13