Anda di halaman 1dari 25

laporan Ekoper Blanakan MAngrove

KARAKTERISTIK EKOSISTEM HUTAN MANGROVE (Studi kasus : Hutan Mangrove di Blanakan, Subang) Kelompok 6 *) ABSTRAK Praktikum dengan objek penelitian karakteristik ekosistem perairan estuari dan mangrove ini dilakukan dengan tujuan untuk mengenal dan mempelajari komponen-komponen biotik dan abiotik yang terdapat disana serta interaksi yang terjadi di antara keduanya. Lokasi yang dipilih untuk praktikum ini yaitu hutan mangrove Blanakan yang terletak di daerah Subang, Jawa Barat. Metode yang digunakan dalam praktikum ini yaitu pengambilan data dan contoh secara langsung di lapangan (hutan mangrove) dan penelusuran serta tinjauan pustaka dilakukan untuk melengkapi informasi dan teori pendukung terkait objek penelitian. Untuk ekosistem hutan mangrove data yang diambil berupa jumlah pohon, semak dan anakan. Selain itu, diukur pula diameter dan tinggi dari setiap tanaman yang dijadikan objek penelitian. Untuk analisis di laboratorium, dihitung kerapatan jenis, kerapatan relatif jenis, frekuensi jenis, frekuensi relatif jenis, penutupan jenis, penutupan relatif jenis, dan nilai penting jenis. Praktikum perairan estuari ini dilakukan dengan menggunakan alat alat sederhana yang telah dipersiapkan sebelumnya. Data dan contoh diambil berdasarkan parameter fisika, biologi dan kimia. Hasil yang didapat dari pengambilan data dan contoh yaitu data fisika berupa suhu, warna perairan, kedalaman, kecerahan, dan tipe substrat, data kimia berupa besarnya pH dan salinitas perairan, dan untuk contoh biologi berupa plankton, nekton, bentos, dan neuston yang hidup dalam ekosistem tersebut. Pembahasan dilakukan terhadap data dari parameter fisika dan kimia, kemudian dikaitkan dengan literatur dan ditarik kesimpulan. Khusus untuk parameter biologi, ditentukan jenis dan kelimpahannya, kemudian dikaitkan dengan parameter fisika dan kimia dengan landasan teori yang tepat. Kesimpulan ditarik secara menyeluruh terhadap komponen biotik dan abiotik serta interaksi yang terjadi di antara keduanya. Hasil yang diperoleh kelompok kami dalam praktikum ini dari parameter fisika antara lain suhu perairan o o berkisar antara 30 C 31 C. Kedalamannya perairan berada pada kisaran 0,55 m 0,72 m. Untuk kecerahan perairan berkisar antara 0,27 m 0,29 m. Tipe substrat padaperairan hutan mangrove ini merupakan lumpur halus. Dari parameter kimia diukur derajat keasamannya dan diketahui perairan 0 tersebut memiliki pH sekitar 6. Selain itu salinitasnya sebesar 20 /00. Untuk parameter biologi, akan dilihat ada atau tidaknya plankton, perifiton, neuston, bentos, dan nekton. Dari praktikum ini diketahui bahwa di perairan hutan mangrove Blanakan ditemukan beberapa jenis plankton yaitu : Amphora, Aphanizomenon, Nitzschia pungens, Nitzschia seriata, Nitzschia sigma, Merismopedia, Tabellaria, Chromogaster, Keratela, Ploesoma, Spirostomun, dan Synchaeta. PENDAHULUAN

*) Taufik Abdillah (C54070047), Ludvi Kamalikasari (C54070048), M. Gufron (C54070049), Aulia Al Delanov (C54070050), Seandy Firmansyah (C54070051), Ega Putra (C54070052), Siti Hajar Aulia (C54070085),M. Fachrul Riza (C54070038), Kenia Yolanda S. (C54070040), M. Iqbal (C54070041), Aldino R. Wicaksono (C54070043), Nurcholis (C54070044), Norihiko Zikrie (C54070045), Anugerah Aditya Y. (C540700), Retowulandari (C54070082) Di bawah bimbingan :

Estuari adalah daerah pantai semi tertutup yang berhubungan langsung dengan laut terbuka yang sangat dipengaruhi oleh pasang surut dimana terjadi percampuran antara air laut dan tawar dari buangan air daratan, contohnya muara sungai, teluk pantai, rawa pasang surut, dan badan air dibalik pematag pantai (Odum, 1971). Estuaria dapat dianggap sebagai zona transisi atau ekotone antara habitat air tawar dan

habitat lautan, tetapi banyak dari kelengkapan fisika dan biologinya yang utama tidaklah bersifat transisi melainkan unik. Ciri khas dari daerah estuari itu sendiri adalah dengan adanya hutan mangrove, dimana hutan mangrove merupakan daerah yang mendominasi wilayah estuari tersebut. (Retno, 2008) Hutan mangrove atau mangal adalah sebutan umum yang digunakan untuk menggambarkan suatu varietas komunitas pantai tropik yang didominasi oleh beberapa spesies pohon-pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin. (Nybakken,1992). Sedangkan menurut Nontji (2005), hutan mangrove sendiri adalah tipe hutan yang khas, didominasi oleh tumbuhan mangrove yang dapat tumbuh dan berkembang di substrat berlumpur di sepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Hutan mangrove seringkali disebut pula sebagai hutan pantai, hutan pasang surut, hutan payau, atau hutan bakau. Ekosistem ini merupakan salah satu sumber daya wilayah pesisir yang sangat produktif. Hutan mangrove merupakan ekosistem yang kompleks terdiri atas flora dan fauna daerah pantai, hidup sekaligus di habitat daratan dan air laut antara batas air pasang dan surut. Ekosistem ini berperan dalam melindungi garis pantai dari erosi, gelombang laut, dan angin topan. Tanaman mangrove berperan juga sebagai buffer (perisai alam) dan menstabilkan tanah dengan menangkap dan memerangkap endapan material dari darat yang terbawa air sungai dan yang kemudian terbawa ke tengah laut oleh arus. Hutan mangrove tumbuh subur dan tersebar luas di daerah delta dan dialiri aliran sungai besar dengan muara yang lebar. Di pantai yang tidak ada sungainya, daerah mangrovenya sempit. Hutan mangrove mempunyai toleransi tinggi terhadap kadar garam dan dapat berkembang di daratan bersalinitas tinggi dimana tanaman biasa tidak dapat tumbuh. (Anonim, 2008) Hutan mangrove memiliki ciri-ciri terpengaruh pasang surut, bersubstrat lumpur, pohon dapat mencapai tinggi 30 m, tumbuh di pantai yang merupakan jalur yang dilewatinya. Jenis-jenis yang tumbuh mulai dari laut ke darat adalah Avicennia, Rhizophora, Sonneratia, Xylocarpus, Lumnitzera, dan Bruguiera. Kondisi-kondisi fisik mangrove sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan hutan mangrove. Jika kondisi fisik ini dalam keadaan normal, maka mangrove dapat hidup dengan baik, namun apabila terjadi gangguan, maka akan menimbulkan ganguan bagi ekosistem mangrove, misalkan jika aliran air tawar dari permukaan terhambat masuk ke hutan mangrove, maka salinitas di dalam hutan mangrove akan meningkat. (Reid, 1961) Komunitas fauna hutan mangrove membentuk percampuran antara dua kelompok, yaitu kelompok fauna daratan/terestial yang umumnya menempati bagian atas pohon mangrove, terdiri atas insekta, ular, primata, dan burung. Kelompok fauna perairan/akuatik terdiri atas dua tipe, yaitu yang hidup di kolom air terutama berbagai jenis ikan dan udang, yang menempati substrat baik keras (akar dan batang pohon mangrove) maupun lunak (lumpur) terutama kepiting, kerang, dan berbagai jenis invertebrata lainnya. Fungsi dan manfaat hutan mangrove sebagai peredam gelombang dan angin, pelindung dari abrasi, penahan lumpur dan perangkap sedimen, penghasil sejumlah detritus, penghasil kayu untuk bahan konstruksi dan kayu bakar, pemasok larva ikan, dan juga dapat dijadikan sebagai tempat pariwisata. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa tujuan dilakukan praktikum ini yaitu untuk mengenal komponen penyusun ekosistem perairan estuari dan hutan mangrove di daerah Blanakan, Subang. BAHAN DAN METODE Pengambilan contoh dan pengukuran parameter dilakukan pada hari Minggu, 23 November 2008, bertempat di hutan mangrove Blanakan, yang terletak di daerah Subang, Jawa Barat. Alat alat yang 2 dipergunakan antara lain transek kuadrat berukuran 1x1 m yang dibentuk dari paralon berdiameter dua inchi. Alat ini digunakan untuk menentukan lokasi substasiun pada perairan. Paralon panjang dengan ukuran dua meter dan berdiameter tiga inchi, digunakan untuk mengukur kedalaman perairan. Secchi disk, paralon berdiameter dua inchi yang berskala, cutter, ember, termometer, refraktometer, botol film, plankton net, pH indikator, saringan, karet gelang, meteran kain, tali rafia, spidol permanen, dan kertas label. Bahan bahan yang digunakan yaitu: akuades, formalin 4%, dan lugol 4%. Setelah semua alat dan bahan disiapkan, hal pertama yang dilakukan adalah memplotkan tali rafia untuk membatasi wilayah mangrove yang akan di teliti dan diamati, kemudian dilanjutkan dengan penentuan substasiun (SS) yang terdiri dari SS 1, SS 2, dan SS 3. Setiap substasiun dibatasi dengan transek kuadrat. Selanjutnya,

paralon panjang ukuran dua meter dengan diameter tiga inchi diambil. Alat ini digunakan untuk mengukur kedalaman perairan dan pengambilan bentos disubstasiun tersebut. Sebelum paralon ini dimasukkan ke dalam wilayah substasiun yang ditentukan, terlebih dahulu dibuat skala pengukuran pada paralon tersebut. Kecerahan perairan diukur dengan alat secchi disk, alat ini terbuat dari triplek berdiameter dua puluh sentimeter. Secchi disk yang digunakan diberi cat dengan warna hitam dan putih. Alat ini digantung dengan tali rafia yang dimasukkan ke dalam paralon berdiameter dua inchi dan telah diberi skala ukur. Pengukuran dilakukan dengan cara memasukkan secchi disk tersebut sampai tidak terlihat lagi, disaat itulah kecerahan air diukur. Setelah itu secchi disk diangkat perlahan-lahan agar warna hitam putihnya kembali terlihat, disaat itu juga skala ukur kembali dibaca. Termometer digunakan untuk mengukur suhu dengan cara mencelupkan termometer tersebut ke dalam perairan, alat ini tidak dipegang langsung, melainkan dihubungkan dengan tali raffia. Hal ini dilakukan untuk mencegah adanya kontak suhu tubuh kita dengan termometer yang akan menyebabkan terjadinya kesalahan pengukuran. Meteran kain digunakan untuk mengukur keliling pohon dan anakan mangrove, sedangkan refraktometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur salinitas perairan. Kadar keasaman perairan diukur dengan menggunakan pH indikator. Plankton dan perifiton ditampung di botol film. Untuk contoh plankton, botol film diikat menggunakan karet gelang pada bagian ujung dari plankton net, kemudian ember berukuran sepuluh liter disiapkan. Tuangkan air esturi ke dalam plankton net yang telah diikat dengan botol film tadi sebanyak sepuluh kali ulangan, hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan plankton. Pengambilan perifiton dilakukan dengan cara mengerik substrat yang menempel di batu dengan menggunakan cutter. Akuades digunakan sebagai media cair penyimpanan bentos dan perifiton yang telah diambil. Untuk pengawetan bentos, perifiton, dan plankton digunakan lugol 4% dan formalin 4%. Formalin digunakan untuk mengawetkan bentos, neuston, dan nekton, sedangkan lugol digunakan untuk mengawetkan perifiton dan planktonnya. Pengambilan sampel di lapangan Dalam pengambilan contoh, yang dilakukan pertama kali adalah penentuan substasiun yang terdiri dari SS 1, SS 2 dan SS 3. Setelah itu, dilakukan pengukuran terhadap parameter fisika yang terdiri dari suhu, warna perairan, kedalaman, kecerahan, dan tipe substrat. Warna perairan di hutan magrove Blanakan dilakukan secara visual. Pengukuran tingkat kecerahan dilakukan sebanyak tiga kali pengulangan di setiap stasiunnya dengan menggunakan secchi disk. Langkah menggunakan sechi disk, pertama (d1) sechi disk dicelupkan ke dalam perairan sampai warna putih menghilang lalu ukur kedalamannya pada saat itu, kemudian angkat kembali sechi disk sampai warna hitam terlihat lalu ukur kedalamannya (d2). Kemudian hitung rataan dari kedua nilai yang kita peroleh tersebut. Pengukuran suhu perairan dilakukan dengan menggunakan termometer. Alat ini di celupkan ke perairan tersebut (tidak semua bagiannya tercelup dan diusahakan agar tidak terjadi kontak langsung dengan tangan yang suhunya bisa mempengaruhi hasil pengukuran). Pengukuran dilakukan sebanyak tiga kali ulangan di setiap stasiun. Kedalaman diukur menggunakan paralon berukuran dua meter, sebelumnya paralon telah ditandai setiap satu cm. Parameter kimia yang diukur dari perairan ini adalah derajat keasamaan (pH) dan salinitas. pH diukur menggunakan kertas lakmus dengan cara sebagian kertas tersebut di celupkan kemudian dicocokkan dengan literatur. Refraktometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur salinitas perairan, dimana air payau dari perairan di masukan kedalam refraktormeter dan dilihat angka yang yang berada di layar fraktometer sebelah kiri. Plankton, perifiton, dan bentos merupakan parameter biologi yang diambil dari perairan tersebut. Plankton diambil menggunakan plankton net. Ember diisi penuh dengan air sungai kemudian air tersebut dituangkan ke dalam plankton net. Air hasil penyaringan akan tertampung di dalam botol film yang

sebelumnya diikatkan di dasar plankton net. Langkah ini dilakukan sebanyak sepuluh kali ulangan. Organisme perifiton diperoleh dengan cara mengambil substrat bebatuan yang berada di dasar perairan, 2 cara pengambilanya dengan mengerik salah satu bagian batu tersebut seluas 4 cm menggunakan cutter, hasil kerikan selanjutnya dimasukkan ke dalam botol film yang berisi akuades. Bentos diambil dengan menggunakan paralon sepanjang dua meter dan diameter tiga inchi. Hal yang dilakukan untuk memperloleh bentos yaitu dengan mengambil subtrat perairan menggunakan paralon. Paralon tersebut dimasukan ke permukaan sustrat, kemudian diangkat dan dipindahkan ke dalam saringan. Substrat diayak untuk mendapatkan bentos. Nekton didapatkan dengan mengambil langsung organisme tersebut menggunakan saringan. Pengambilan data dan contoh untuk hutan mangrove dilakukan dengan cara membuat plot pada setiap zona hutan mangrove. Plot dibuat bujur sangkar dengan ukuran 10 m x 30 m. Plot tersebut dibagi lagi menjadi tiga bagian denga ukuran masing-masing 10 m x 10 m. Pengamatan mangrove dilakukan di setiap plot tersebut. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui jenis atau spesies mangrove, jumlah pohon, anakan dan semai dari jenis spesies tersebut. Pengelompokan dilakukan dengan cara mengukur keliling dan tinggi setiap pohon dan anakan mangrove. Dari hasil pengukuran tersebut tanaman mangrove dikelompokkan ke dalam pohon, semai dan anakan. Analisis Laboratorium dan Data Analisis laboratorium dilakukan pada hari Selasa tanggal 25 November 2008 bertempat di lab Bima 2 FPIK. Analisis yang dilakukan di laboratorium meliputi analisis biologis dan analisis data yang diperoleh dari analisis biologis tersebut. Analisis biologis yang dilakukan yakni menggunakan mikroskop elektron untuk mengidentifikasi jenis plankton dan perifiton dari contoh data yang telah diambil dan diawetkan pada praktek lapangan. Analisis data dilakukan setelah data dari analisis biologis diperoleh. Analisis data yang dilakukan yaitu menghitung jumlah kelimpahan dari plankton, perifiton, dan kepadatan bentos menggunakan rumus. Rumus rumus yang digunakan, yaitu: Kelimpahan Plankton

Kepadatan Perifiton

Keterangan : N = kelimpahan Oi = Luas gelas penutup (324 mm) Op = Luas satu lapang pandang (1,306 mm) Vp = Volume botol sampel (30mL) Vo = Volume satu tetes air (0,05 mL)

Vs = Volume air disaring (100 L) n = Jumlah plankton ditemukan / spesies P = Jumlah lapang pandang (5) X = Ulangan (1 3 ulangan) A = Luas kerikan (2x2 cm) d1 = Kedalaman saat awal secchi disk menghilang (cm) d2 = Kedalaman saat awal secchi disk muncul (cm) Kecerahan Perairan

Kecerahan = d1+ d2 2 Kepadatan Bentos

Keterangan : X = Kelimpahan n = Jumlah individu / satu satuan alat M = Luas bukaan mulut (0.003m) X = ulangan Indeks Nilai Penting (INP) : INP digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh suatu organisme terhadap lingkungannnya, misalnya Avicennia spp. mempunyai peranan atau tidak terhadap ekosistem mangrove. Untuk menghitung nilai penting seperti kepadatan relatif, frekuensi relatif dan persentase penutupan serta menduga keadaan atau karakteristik ekosistem mangrove dari nilai tersebut digunakan rumus :

INP = RDi + RCi+ RFi

Kerapatan spesies

Keterangan : Di = Kerapatan spesies ni = Jumlah total tegakan spesies ke-i A = Luas plot Kerapatan relatif spesies

Keterangan : RDi = Jumlah individu spesies ke-I/total individu ni = Jumlah total tegakan spesies ke-i n = Tegakan seluruh spesies Frekuensi spesies

Keterangan:

Fi = Frekuensi spesies ke-i Pi = Jumlah petak contoh tempat ditemukannya mangrove P = Plot yang diamati Frekuensi relatif spesies

Keterangan : RFi = Frekuensi relatif spesies F = Jumlah frekuensi untuk seluruh spesies Fi = Frekuensi spesies Penutupan spesies

Keterangan :

BA = Penutupan spesies Ci = Penutupan spesies A = Luas total area pengambilan contoh Penutupan relatif spesies

Keterangan : RCi = Penutupan relatif Ci = Penutupan jenis Diameter pohon spesies

Keterangan : DBH = Diameter pohon spesies-i CBH = Keliling batang pohon HASIL DAN PEMBAHASAN Lingkungan Perairan Tabel 1. Parameter Fisika Kimia Ekosistem Perairan Payau Parameter Fisika Warna Suhu Kedalaman Kecerahan Tipe Substrat Kimia pH Salinitas
0 o

Unit

C m m

SS1 Hijau kecoklatan 30 0,63 0,28 Lumpur

SS2 Hijau kecoklatan 30,50 0,72 0,27 Lumpur 8 20

SS3 Hijau kecoklatan 30.33 0,58 0,29 Lumpur

Kisaran 30 31 0,55 -0,72 0,27 0,29 -

/00

Secara keseluruhan warna perairan di daerah hutan mangrove Blanakan berwarna hijau kecoklatan. Hal ini berkaitan dengan tipe substrat dan bahan-bahan baik yang organik maupun non-

organik yang terlarut dalam lingkungan perairan tersebut (Ewusie, 1990). Selain itu warna hijau kecoklatan disebabkan pula oleh bahan organik yang terlarut dalam perairan hutan mangrove tersebut. Tipe substrat di perairan payau adalah lumpur halus, substrat mangrove terbentuk dari akumulasi sedimen yang terbawa dari pantai atau dari daerah yang lebih tinggi mengalir ke bawah sepanjang sungai. Endapan lumpur dalam jumlah besar secara normal akan menghasilkan pengikisan tanah yang telah dipengaruhi secara fisik oleh aksi erosi gelombang dan arus pasang surut di mulut sungai. Muatan lumpur yang tinggi pada runs-off meyediakan lumpur pada hutan sehingga memberikan kesuburan tanah dan hutan menjadi produktif (Anonim, 2008). Suhu diukur setelah warna perairan diamati, dari hasil pengamatan didapat suhu di perairan o o hutan mangrove berkisar antara 30 -31 C. Kennish (1990) menyatakan bahwa mangrove tumbuh subur pada kondisi daerah tropik dimana suhu udaranya lebih dari 20C. Pada umumnya suhu yang cocok bagi produksi daun mangrove adalah suhu rata-rata daerah tropis (Weich, 1980). Seperti yang telah o o disebutkan di atas bahwa dari hasil pengamatan diketahui suhu perairan berkisar antara 30 -31 C, hal ini dikarenakan saat suhu lingkungan pada waktu tersebut sudah mulai meningkat, yang disebabkan adanya sinar matahari. Dengan suhu yang tinggi dapat mempengaruhi laju fotosintesis & pertumbuhan fitoplankton di perairan. Tingkat percepatan proses-proses dalam sel atau metabolisme sel akan meningkat sejalan dengan meningkatnya suhu (Reynold, 1990). Suhu yang demikian memungkinkan berkembangnya organisme-organisme seperti plankton dan tumbuhan air dengan baik. Hutan mangrove tidak memiliki karakteristik kedalaman seperti yang dimiliki oleh danau yang memiliki kecenderungan semakin menuju pusat danau maka kedalaman akan bertambah, atau sungai dimana kedalaman terlihat pada stratifikasi secara horizontal, sungai bagian hulu akan memiliki kedalaman yang lebih kecil dibandingkan dengan sungai bagian tengah dan sungai bagian tengah akan memiliki kedalaman yang paling besar dibandingkan dengan kedua bagian tersebut (Reid, 1961). Karena tipe substrat di perairan payau di Blanakan Subang adalah lumpur maka kedalaman bervariasi. Kedalaman rata-rata pada SS1 adalah 0,63 m, kedalaman rata-rata pada SS2 meningkat menjadi 0,72 m, dan kedalaman rata-rata pada SS3 menurun kembali menjadi 0,58 m. Kecerahan yang didapat dari pengamatan pada ekosistem mangrove memiliki kisaran 0,27 m 0,29 m. Nilai kecerahan yang paling besar terdapat pada SS3 dan nilai kecerahan paling kecil terdapat pada SS2. Kecerahan sangat berhubungan dengan kemampuan fitoplankton dan tumbuhan air dalam melakukan fotosintesis (Odum, 1971). Hal ini didukung dengan jumlah fitoplankton yang melimpah pada SS3 sehingga kecerahan pada SS3 lebih tinggi dari sub stasiun lainnya. Derajat keasaman (pH) pada perairan sebesar 8,0. pH tersebut termasuk pada kisaran perairan yang sangat produktif, dimana menurut litelatur perairan yang produktif itu berada pada kisaran 7.5-8.5 (Weich, 1980). Dengan kisaran pH perairan yang demikian maka perairan tersebut cukup baik untuk menunjang kehidupan organisme. Untuk salinitas, berdasarkan pengukuran didapatkan nilai salinitas sebesar 20 . Mangrove dapat hidup dan tumbuh didaerah estuaria dengan kisaran salinitas antara 10 30 dan mangrove dapat tumbuh secara optimal pada salinitas 28-34 .(Reynolds, 1990). Berdasarkan hasil pengambilan sampel parameter fisika dan kimia tersebut dapat disimpulkan bahwa biota diperairan estuari dapat hidup dengan kondisi yang optimal karena hasil yang didapat sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan biota tersebut. BIOLOGI Plankton Tabel 2. Kelimpahan Plankton Perairan Payau Spesies SS1 (Ind/L) SS2 (Ind/L) SS3 (Ind/L)

Fitoplankton

Amphora Aphanizomenon Nitzschia pungens Nitzschia seriata Nitzschia sigma Merismopedia Tabellaria Chromogaster Keratela Ploesoma Spirostomun Synchaeta

Total Zoopalnkton

298 0 496 0 99 198 595 1686 0 298 99 0 198

0 198 99 0 794 99 298 1488 198 0 0 198 99

198 99 99 298 695 99 396 1884 0 99 0 0 298

Total

595

495

397

Grafik 1. Kelimpahan fitoplankton dan zooplankton pada perairan hutan mangrove Blanakan Dari tabel dan penyajian grafik di atas jumlah kelimpahan fitoplankton terbesar berada pada SS3 yaitu sebesar 1884 ind/L sedangkan yang terkecil berada pada SS2 yaitu sebesar 1488 ind/L. Untuk zooplankton kelimpahan terbesar berada pada SS3 sebesar 298 ind/L sedangkan yang terkecil berada pada SS2 sebesar 99 ind/L. Kelimpahan fitoplankton lebih besar dibanding kelimpahan zooplankton. Perbedaan komposisi ini berhubungan dengan tingkat kecerahan, suhu, kedalaman, dan pH perairan. Kecerahan sangat penting dalam perairan karena berkaitan erat dengan proses fotosintesis fitoplankton dan tanaman air lainnya. Penetrasi sering kali dihalangi oleh zat terlarut dalam air, membatasi zona fotosintesa. Kekeruhan terutama bila disebabkan oleh lumpur dan partikel yang dapat mengendap dan sering kali penting sebagai faktor pembatas, sedangkan bila kekeruhan disebabkan oleh organisme, ukuran kekeruhan merupakan indikasi produktivitas (Odum, 1971). Perlu diingat bahwa semakin dalam suatu perairan maka semakin sulit bagi cahaya untuk menembus kedalaman perairan, sehingga proses fotosintesis hanya terjadi pada kedalaman tertentu (Reid, 1961). Itulah sebabnya mengapa kelimpahan plankton di SS3 paling banyak dari pada substasiun substasiun lainya. Perifiton Tabel 3. Kepadatan Perifiton Perairan Payau Spesies SS1 (Ind/ cm )
2

SS2 (Ind/ cm )

SS3 (Ind/ cm )

Perifiton

Diatomae Polycystis Oscillatoria Spirogyra Zygnema Total

9923 4962 0 7443 14885

2481 4962 2481 2481 2481

2481 0 4962 2481 9923

37213

14886

19847

Grafik 2. Kepadatan Perifiton Perairan Payau Grafik diatas memberikan informasi bahwa kelimpahan perifiton terbanyak perairan payau di 2 Blanakan Subang terdapat pada SS1 yaitu sebesar 37213 ind/cm selanjutnya, komposisi terbesar setelah SS1 adalah SS3 yaitu sebesar 19847 ind/L, sedangkan yang kelimpahan terendah terdapat pada SS2 yaitu sebesar 14886 ind/L. Dari tabel diatas terlihat bahwa kelimpahan dan komposisi peryphiton terbesar ada pada SS1 dibandingkan dengan sub satasiun lainnya. Hal ini dikarenakan substrat yang terdapat di SS1 didominasi oleh substrat kasar dan berat yang merupakan tempat bagi peryphiton untuk menempel. Keberadaan substrat pada SS3 diperkirakan berasal dari pohon mangrove yang berada dekat dengan SS2 seperti sisa batang, daun, dan ranting jatuh yang terbawa air. Kecerahan berpengaruh pada kemampuan perifiton untuk berfotosintesis dan sekaligus sebagai sumber makanan dan penyedia oksigen bagi organisme lainnya. Semakin besar tingkat kecerahan maka semakin banyak kelimpahan perifiton. Karena SS2 yang lokasinya berada di perairan yang memiliki kecerahan yang kecil dibandingkan sub stasiun lainnya, hal ini berpengaruh pada komposisi fitoplankton (ketersediaan makanan bagi perifiton) pada daerah tersebut. Kelimpahan perifiton pada daerah tersebut akan lebih kecil jika dibandingkan dengan kedua substasiun yang lain. Hal tersebut dikarenakan kelimpahan plankton dan ketersediaan matahari yang rendah pada daerah tersebut. Bentos Tabel 4. Kelimpahan Benthos Perairan Payau. Spesies Bentos Rhynchonescella Torrea candida Cavolinia inflexa Total SS1 (Ind/ cm ) 11,11 0 0 11,11
2

SS2 (Ind/ cm ) 0 0 11,11 11,11

SS3 (Ind/ cm ) 0 11,11 0 11,11

Grafik 3. Kelimpahan bentos di perairan payau Bentos adalah organisme yang hidup pada permukaan atau di dalam substrat dasar perairan yang meliputi flora (fitobentos) maupun fauna (zoobentos). Habitat organisme ini di dasar perairan dapat berada di permukaan substrat dasar (epifauna) atau di dalam substrat dasar (infauna) (Goldman and Horne, 1983). Dari grafik diatas dapat dilihan bahwa kepadatan bentos pada setiap sub stasiun sama yaitu 2 11,11 Ind/ cm . Hal ini dikarenakan tipe substrat yang sama dan kedalaman yag tidak terlalu berbeda pada setiap sub stasiun. Bentos hidup relatif menetap sehingga baik digunakan sebagai petunjuk kualitas lingkungan karena selalu mengalami kontak dengan limbah yang masuk ke habitatnya. Bentos juga merupakan organisme yang melekat atau beristirahat pada dasar atau hidup di dasar endapan terlebih lagi dari tipe cara makannya dibagi menjadi dua, yaitu tipe penyaring dan tipe pemakan deposit atau sisa sisa (Odum, 1971).

Ekosistem Hutan Mangrove


Indeks Nilai Penting (INP) Tabel 5. Indeks Nilai Penting (INP) No 1 2 Spesies Avicennia Rhizophora RDi 95,3488 9,3000 RCi 0,9954 0,0046 RFi 24,998 75,0018 INP 121,3422 84,3064 Keterangan

Spesies mangrove yang paling mendominasi di Blanakan Subang adalah Avicennia marina. Dari tabel di atas kita dapatkan bahwa Avicenia mempunyai peranan yang penting bagi komunitas hutan mangrove Blanakan, Subang. Pohon Avicennia mempunyai INP sebesar 297 dan anakan sebesar 213. Avicennia banyak mendominasi di zona ini karena avicennia mampu beradaptasi dengan lingkungan mangrove yang sering mengalami perendaman oleh air laut karena letaknya yang dekat dengan laut. Avicennia mempunyai adaptasi yang tinggi dengan perakarannya. Hal ini dapat membantu spesies ini dalam mengikat sedimen dan mempercepat proses daratan. Nekton dan Neuston Pada percobaan ini ditemukan adanya nekton disetiap substasiun dengan jumlah yang sangat banyak, nekton tersebut adalah jenis yaitu ikan bandeng (Chanos chanos). Hal ini dikarenakan perairan tersebut dijadikan sebagai tempat budidaya ikan bandeng oleh masyarakat sekitarnya. Di perairan hutan mangrove ini kelompok kami tidak mendapatkan neuston, hal ini bukan dikarenakan neuston tidak hidup

di peraian ini melainkan wilayah pengamatan kita yang sempit sehingga kemungkinan mendapatkan neuston relative kecil. DAFTAR PUSTAKA Nontji, Anugerah. 2005. Laut Indonesia. Djambatan. Jakarta. Nyabakken, J. W. 1992. Biologi Laut : Suatu Pendekatan Ekologis. Diterjemahkan oleh H. M. Eidman, Koesoebiono, D. G. Bengen, M. Hutomo dan S. Subarjo. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Odum, E.P. 1971. Fundamental of Ecology. Third Edition. W.B. Saunders Co. Philadelphia and London. 546 p. Reid, George K. 1961. Ecology of inland water and estuaries. Reinhold Book Coorporation: New York.

Suksesi dan Siklus Nutrient pada Ekosistem Estuaria

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Dalam ekosistem perairan (tawar, pesisir dan lautan) berbagai jasad hidup (biotik) dan lingkungan fisik (abiotik) merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dan saling terkait. Dua komponen ini saling berinteraksi antara satu dengan lainnya, sehingga terjadi pertukaran zat (energi) diantara keduanya. Estuari adalah salah satu jenis perairan yang memiliki variasi yang tinggi ditinjau dari faktor fisik, kimia, biologi, ekologi dan jenis habitat yang terbentuk di dalamnya. Oleh karena itu interaksi antara komponen fisik, kimia dan biologi yang membentuk suatu ekosistem sangat kompleks. Hal ini disebabkan karena dinamika dari estuari sangat besar, baik dalam skala waktu yang pendek karena adanya pasang surut maupun dalam skala waktu yang panjang karena adanya pergantian musim. Semakin padatnya populasi manusia serta semakin padatnya aktifitas didarat yang hasil dari aktifitasnya bermuara ke sungai, maka ekosistem sungai atau ekosistem estuary merupakan ekosistem yang sangat rentan terhadap dampak ortopogenik. Hal ini disebabkan karena hal tersebut mempengaruhi transport nutrient ke perairan yang pada akhirnya berpengaruh terhadap produktifitas perairan tersebut. Oleh karena itu, dalam makalah ini kami akan membahas secara lebih mendalam tentang bagaimana suksesi dan siklus nutrient pada ekosistem estuaria.

B. Tujuan penulisan Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana suksesi dan siklus nutrient pada ekosistem estuary.

BAB II SUKSESI DAN SIKLUS NUTRIENT PADA EKOSISTEM ESTUARIA

A. Pengertian Estuari Estuaria merupakan wilayah pesisir semi tertutup yang berhubungan dengan laut terbuka dan menerima masukan air tawar dari daratan melalui sungai, sehingga air laut yang berkadar garam tinggi dapat bercampur dengan air tawar. Daerah estuaria dapat berupa muara sungai, teluk dan rawa pasangsurut. Secara ekologis, estuaria adalah daerah peralihan atau ekoton yang merupakan tempat bertemunya arus sungai dengan arus pasang surut. Pertemuan kedua arus ini menghasilkan suatu sifat air yang tidak sama dengan sifat air sungai dan air laut (Tuwo, 2011). Dengan adanya proses pencampuran di wilayah estuaria, maka wilayah ini sangat dipengaruhi oleh kadar salinitas, dimana wilayah estuaria dibagi menjadi beberapa mintakat yaitu Hyperhaline, Euhaline, Mixohaline, oligohaline, dan Limnetik (Air tawar). Dengan ciri dan karakteristik tersebut estuaria memiliki banyak tipe yang diklasifikasikan berdasarkan atas topografi, pengenceran air tawar dan penguapan, geomorfologi, sirkulasi dan struktur dari sirkulasi, distribusi salinitas, pola pencampuran air tawar dan air laut serta stratifikasinya. Dari tipe tersebut ekosistem estuaria sangat dipengaruhi oleh kadar salinitas, suhu, sedimen, gelombang, pasang surut, substrat, ketersediaan oksigen, dan parameter kimia seperti limbah dan bahan polutan serta aktivitas biologi dari organisme yang hidup di kawasan estuaria (Salasanto 2012).

B. Karakteristik estuarI Karakteristik ( ciri ciri ) ekosistem estuaria adalah sebagai berikut : 1. Keterlindungan Estuaria merupakan perairan semi tertutup sehingga biota akan terlindung dari gelombang laut yang memungkinkan tumbuh mengakar di dasar estuaria dan memungkinkan larva kerang-kerangan menetap di dasar perairan. 2. Kedalaman Kedalaman estuaria relatif dangkal sehingga memungkinkan cahaya matahari mencapai dasar perairan dan tumbuhan akuatik dapat berkembang di seluruh dasar perairan, karena dangkal memungkinkan penggelontoran (flushing) dengan lebih baik dan cepat serta menangkal masuknya predator dari laut terbuka (tidak suka perairan dangkal). 3. Salinitas

Secara definitif, suatu gradient salinitas akan tampak pda suatu saat tertentu , tetapi pada gradient bervariasi bergantung pada musim , topografi estuari , pasang surut dan jumlah air tawar . 4. Pasang surut Pasang surut merupakan salah satu kekuatan .tempat yang perbedaan pasang surutnya cukup besar , pasang naik mendorong air laut jatuh ke hulu estuari ,menggeser isohaline ke hulu .Pasang turun sebaliknya , menggeser isohaline ke hilir . Perpaduan antara air tawar dari daratan, pasang surut dan salinitas menciptakan suatu sistem gerakan dan transport air yang bermanfaat bagi biota yang hidup tersuspensi dalam air, yaitu plankton. 5. Subtrat Kebanyakan estuary didominasi oleh subtrat berlumpur yang sering kali sangat lunak .substrat berlumpur ini berasal dari sedimen yang dibawa ke dalam estuary baik oleh air laut maupun air tawar . 6. Suhu Suhu air di estuary lebih bervariasi daripada perairan pantai didekatnya . 7. Gerakan ombak dan arus Dangkalnya perairan estuari pada umumnya juga jadi penghalang bagi terbentuknya ombak yang besar . Arus di estuari terutama disebabkan oleh kegiatan pasang suruit dan aliran sungai . 8. Kekeruhan Karena besarnya jumlah partikel tersuspensi dalam perairan estuari ,setidaknya pada waktu tertentu dalam setahun , air menjadi sangat keruh , kekeruhan tertinggi terjadi saat aliran sungai maxsimum. 9. Oksigen Masuknya air tawar dan air laut secara teratur ke dalam estuari bersama-sama dengan kedangkalannya, pengadukannya dan percampurannya oleh angin menyebabkan ketersediaan oksigen dalam perairan cukup .

C. Produktifitas Hayati Estuaria Ekosistem estuaria merupakan ekosistem yang produktif. Produktivitas hayatinya setaraf dengan prokduktivitas hayati hutan hujan tropik dan ekosistem terumbu karang[5]. Produktivitas hayati estuaria lebih tinggi dibandingkan dengan produktivitas hayati perairan laut dan perairan tawar. Hal ini salah

satunya disebabkan oleh fungsi dari estuaria yang merupakan perangkap zat hara dan bahan organik yang berasal dari perairan disekitarnya terutama. Zat-zat yang terperangkap tersebut akan mengalami suatu siklus yang disebut dengan siklus nutrient yang keberadaannya dipengaruhi oleh musim, kondisi muara (Flynn, 2008), pasang surut, debit air tawar dan angin (Arndt dkk., 2011). Berikut adalah factorfaktor yang mempengaruhi produktifitas estuary menurut Ekawartika (2012). 1. Estuaria berperan sebagai penjebak zat hara. Jebakan ini bersifat fisik dan biologis. Ekosistem estuaria mampu menyuburkan diri sendiri melalui :

Dipertahankanya dan cepat didaur ulangnya zat-zat hara oleh hewan-hewan yang hidup di dasar esutaria seperti bermacam kerang dan cacing.

Produksi detritus, yaitu partikel- partikel serasah daun tumbuhan akuatik makro (makrofiton akuatik) seperti lamun yang kemudian dimakan oleh bermacam ikan dan udang pemakan detritus.

Pemanfaatan zat hara yang terpendam jauh dalam dasar lewat aktivitas mikroba (organisme renik seperti bakteri ), lewat akar tumbuhan yang masuk jauh kedalam dasar estuary atau lewat aktivitas hewan penggali liang di dasar estuaria seperti bermacam cacing.

2. Di daerah tropik estuaria memperoleh manfaat besar dan kenyataanya bahwa tetumbuhan terdiri dari bermacam tipe yang komposisinya sedemikian rupa sehingga proses fotosintesis terjadi sepanjang tahun. Estuaria sering memiliki tiga tipe tumbuhan, yaitu tumbuhan makro (makrofiton) yang hidup di dasar estuary atau hidup melekat pada daun lamun dan mikrofiton yang hidup melayang-layang tersuspensi dalam air (fitoplankton). Proses fotosintesis yang berlansung sepanjang tahun ini menjamin bahwa tersedia makanan sepanjang tahun bagi hewan akuatik pemakan tumbuhan. Dalam hal ini mereka lebih baik, dinamakan hewan akuatik pemakan detritus, karena yang dimakan bukan daun segar melainkan partikel-partikel serasah makrofiton yang dinamakan detritus. 3. Aksi pasang surut (tide) menciptakan suatu ekosistem akuatik yang permukaan airnya berfluktuasi. Pasang umumnya makin besar amplitudo pasang surut, makin tinggi pula potensi produksi estuaria, asalkan arus pasang tidak tidak mengakibatkan pengikisan berat dari tepi estuaria. Selain itu gerak bolak-balik air berupa arus pasang yang mengarah kedaratan dan arus surut yang mengarah kelaut bebas, dapat mengangkut bahan makanan, zat hara, fitoplanton, dan zooplankton.

D. Siklus Biogeokimia Siklus Biogeokimia atau siklus organikanorganik adalah siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik. siklus tersebut tidak

hanya melalui organisme, tetapi juga melibatkan reaksi-reaksi kimia dalam lingkungan abiotik. Fungsi siklus biogeokimia adalah sebagai siklus materi yang mengembalikan semua unsur-unsur kimia yang sudah terpakai oleh semua yang ada di bumi baik komponen biotik maupun abiotik, sehingga kelangsungan hidup di bumi dapat terjaga. siklus-siklus biogeokimia antara lain; siklus air, siklus oksigen, siklus nitrogen, siklus karbon, dan siklus fosfor.

Siklus Nitrogen (N2) Jumlah gas nitrogen (N2) di atmosfer mencapai 80%. bentuk nitrogen di udara dapat berbentuk amonia (NH3), molekul nitrogen (N2), dinitrit oksida (N2O), nitrogen oksida (NO), nitrogen dioksida (NO2), asam nitrit (HNO2), asam nitrat (HNO3), basa amino (R3-N) dan lain-lain. Nitrogen juga dapat bereaksi dengan hidrogen atau oksigen dengan bantuan kilat/petir (Elektrisasi). tumbuhan menerima nitrogen dalam tanah dalam bentuk amonia (NO3), ion nitrit (NO2-), dan ion nitrat (NO3-). beberapa bakteri yang dapat menambat nitrogen terdapat pada akar legum dan akar tumbuhan lain misalnya Marsiella crenata. Selain itu, terdapat bakteri dalam tanah yang dapat mengikat nitrogen secara langsung, yakni Azotobacter sp. yang bersifat aerob dan Clostridium sp. yang bersifat anaerob. Nostoc sp. dan Anabaena sp.(ganggang biru) juga mampu menambat nitrogen. Nitrogen yang diikat biasanya dalam bentuk amonia. Amonia diperoleh dari hasil penguraian jaringan yang mati oleh bakteri. Amonia ini akan dinitrifikasi oleh bakteri nitrit, yaitu Nitrosomonas dan Nitrosococcus sehingga menghasilkan nitrat yang akan diserap oleh akar tumbuhan. Selanjutnya oleh bakteri denitrifikan, nitrat diubah menjadi amonia kembali, dan amonia diubah menjadi nitrogen yang dilepaskan ke udara. Dengan cara ini siklus nitrogen akan berulang dalam ekosistem.

Siklus Karbon Dan Oksigen Siklus karbon merupakan siklus biogeokimia terbesar. karena banyak di gunakan, 45% karbon digunakan untuk pertumbuhan, 45% untuk respirasi dan 10% untuk DOC. Proses timbal balik fotosintesis dan respirasi seluler bertanggung jawab atas perubahan dan pergerakan utama karbon. Naik turunnya CO2 dan O2 atsmosfer secara musiman disebabkan oleh penurunan aktivitas Fotosintetik. Dalam skala global kembalinya CO2 dan O2 ke atmosfer melalui respirasi hampir menyeimbangkan pengeluarannya melalui fotosintesis.Akan tetapi pembakaran kayu dan bahan bakar fosil menambahkan lebih banyak lagi CO2 ke atmosfir. Sebagai akibatnya jumlah CO2 di atmosfer meningkat. CO2 dan O2 atmosfer juga berpindah masuk ke dalam dan ke luar sistem akuatik, dimana CO2 dan O2 terlibat dalam suatu keseimbangan dinamis dengan bentuk bahan anorganik lainnya. Di atmosfer terdapat kandungan COZ

sebanyak 0.03%. Sumber-sumber COZ di udara berasal dari respirasi manusia dan hewan, erupsi vulkanik, pembakaran batubara, dan asap pabrik. Karbon dioksida di udara dimanfaatkan oleh tumbuhan untuk berfotosintesis dan menghasilkan oksigen yang nantinya akan digunakan oleh manusia dan hewan untuk berespirasi. Hewan dan tumbuhan yang mati, dalam waktu yang lama akan membentuk batubara di dalam tanah. Batubara akan dimanfaatkan lagi sebagai bahan bakar yang juga menambah kadar C02 di udara. Di ekosistem air, pertukaran C02 dengan atmosfer berjalan secara tidak langsung. Karbon dioksida berikatan dengan air membentuk asam karbonat yang akan terurai menjadi ion bikarbonat. Bikarbonat adalah sumber karbon bagi alga yang memproduksi makanan untuk diri mereka sendiri dan organism heterotrof lain. Sebaliknya, saat organisme air berespirasi, COz yang mereka keluarkan menjadi bikarbonat. Jumlah bikarbonat dalam air adalah seimbang dengan jumlah C02 di air. Secara umum, karbon akan diambil dari udara oleh organisme fotoautotrof (tumbuhan, ganggang, dll yang mampu melaksanakan fotosintesis). Organisme tersebut, akan memproses karbon menjadi bahan makanan yang disebut karbohidrat, dengan proses kimia sebagai berikut : 6 CO2 + 6 H2O (+Sinar Matahari yg diserap Klorofil) C6H12O6 + 6 O2

Karbondioksida + Air (+Sinar Matahari yg diserap Klorofil) Glukosa + Oksigen

Siklus Fosfor Di alam fosfor terdapat dalam dua bentuk, yaitu senyawa fosfat organik (tada tumbuhan dan hewan) dan anorganik (pada air dan tanah). Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik, begitu juga dengan batu dan fosil yang terkikis akan menjadi fosfat anorganik, yang kemudian fosfat anorganik itu akan terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen dasar laut. lalu akan di serap lagi oleh komponen organik (hewan dan tumbuhan). Proses biogeokimia pada di wilayah estuary salah satunya juga dipengaruhi oleh proses sedimantasi yang dilakukan oleh mangrove. Hal ini disebabkan karena proses sedimentasi tersebut dapat menyerap nutrisi dan unsurunsur hara lainnya yang sangat berpengaruh terhadap produktifitas suatu perairan (Prasad dan Ramanathan, 2008). Flynn (2008) dalam penelitiannya di Mullica RiverGreat Bay Estuary dengan menggunakan model Land-Ocean Interaction in the Coastal Zone (LOICZ) mengungkapkan bahwa konsentrasi karbon organik terlarut (DOC), nitrogen (DON), dan fosfor (DOP) mengalami perubahan pada musim-musim tertentu sangat berhubungan dengan kondisi salinitas. Konsentrasi DOC menurun dengan meningkatnya salinitas pada semua musim. Konsentrasi DON menurun pada salinitas yang tinggi pada mudim semi/musim

panas dan mencapai konsentrasi maksimum pada akhir musim dingin dan konsentrasi minimum pada musim panas. Sedangkan DOP mengalami peningkatan konsentrasi seiring dengan meningkatnya salinitas (Gambar 1). Diduga berbagai perubahan konsentrasi tersebut dipengaruhi oleh makroalga dan fitoplankton.

Figure 1. Representative seasonal distributions of dissolved organic carbon (DOC), nitrogen (DON), and phosphorus (DOP) vs. salinity in the Mullica RiverGreat Bay Estuary, New Jersey, from 2002 to 2003. Note that Panel A in the left column contains distributions from fall and winter, and Panel B in the right column contains distributions from spring and summer. Algae memiliki peran dalam proses fotosintesis untuk menghasilkan bahan organik dan oksigen dalam air sebagai dasar mata rantai makanan di perairan. Namun apabila keberadaan Algae di perairan dalam jumlah berlebih, maka dapat menurunkan kualitas perairan. Tingginya populasi fitoplankton (algae) beracun di perairan dapat menyebabkan berbagai akibat negatif yang merugikan perairan, seperti berkurangnya oksigen perairan dan menyebabkan kematian biota perairan lainnya. Masalah utama sebagai pemicu terjadinya proses peledakan kelimpahan fitoplankton di suatu perairan adalah kodisi lingkungan perairan tersebut yaitu adanya peningkatan nutrisi yang tidak seimbang pada trofik level di lapisan eufonik. Peningkatan masuknya nutrisi bisa merupakan proses alami (seperti proses umbulan atau upwelling, masukan dari air sungai yang tercemar) atau akibat aktivitas manusia. Selain itu buangan bahan organik diperairan biasanya berupa bahan nutrisi dari hasil pemupukan (fosfat,

nitrogen dan potasium) sebagai penyumbang utama akan pencemaran di perairan sehingga mengakibatkan beberapa jenis biota perairan mati (Sediadi & Thoha, 2000 dalam Noor 2011). Proses blooming dari fitoplankton dal alga yang menyebabkan eutrofikasi menurut Noor (2011) disebabkan oleh jumlah fosfor yang berlebihan dalam suatu perairan. Hal ini bisa dikenali dengan warna air yang menjadi kehijauan, berbau tak sedap, dan kekeruhannya yang menjadi semakin meningkat. Banyaknya eceng gondok yang bertebaran di rawa-rawa dan danau-danau juga disebabkan fosfat yang sangat berlebihan ini. Akibatnya, kualitas air di banyak ekosistem air menjadi sangat menurun. Rendahnya konsentrasi oksigen terlarut, bahkan sampai batas nol, menyebabkan makhluk hidup air seperti ikan dan spesies lainnya tidak bisa tumbuh dengan baik sehingga akhirnya mati. Hilangnya ikan dan hewan lainnya dalam mata rantai ekosistem air menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem air. Mou dkk., (2011) dalam penelitiannya tentang Nitrogen cycle of a typical Suaeda salsa marsh ecosystem in the Yellow River estuary mengungkapkan bahwa konsentrasi nitrogen pada sungai di Yellow River estuary dipengaruhi oleh dekomposisi serasah karena dekomposisi serasah dianggap sebagai jalan yang efektif dalam dalam pengembalian nutrisi. Serasah iNamun siklus nitrogen lebih sering dipengaruhi oleh gelombang. Keberadaan Nitrogen diperarairan ini tidak hanya mempengaruhi struktur dan fungsi rawa tetapi juga mempengaruhi stabilitas ekosistem. Nutrisi yang berlebihan dapat mempengaruhi keberadaan sepsis invasive seperti P. australis, T. sacchariflora dan T. chinensis dan menginduksi terjadinya degradasi yang parah dalam jangka waktu yang panjang terhadap ekosistem. Namun Liu dkk., (2009) menyebutkan bahwa degradasi tersebut juga dipengaruhi oleh limbah-limbah pertanian dan limbah domestic yang akan mempengaruhi produktifitas perairan.

BAB III KESIMPULAN 1. Estuaria merupakan tempat pertemuan air tawar dan air asin dan berperan sebagai daerah peralihan antara kedua ekosistem akuatik. Salinitas air berubah secara bertahap mulai dari daerah air tawar ke laut. Salinitas ini juga dipengaruhi oleh siklus harian dengan pasang surut aimya. Nutrien dari sungai memperkaya estuari. 2. Konsentrasi DOC (karbon terlarut) menurun dengan meningkatnya salinitas pada semua musim. Konsentrasi DON (nitrogen terlarut) menurun pada salinitas yang tinggi pada mudim semi/musim panas dan mencapai konsentrasi maksimum pada akhir musim dingin dan konsentrasi minimum pada musim panas. Sedangkan DIP (fosfor terlarut) mengalami peningkatan konsentrasi seiring dengan meningkatnya salinitas. 3. Ketersediaan nutrisi yang berlebihan pada estuaria dapat menyebabkan eutrofikasi yang dapat

membawa dampak buruk yang berkepanjangan terhadap kondisi ekosistem.

DAFTAR PUSTAKA

Arndt, S, dkk., 2011. Nutrient dynamics and phytoplankton development along an estuarycoastal zone continuum: A model study. Journal of Marine Systems 84 (2011) 4966

Flynn, A.M. 2008. Organic Matter and Nutrient Cycling in a Coastal Plain Estuary: Carbon, Nitrogen, and Phosphorus Distributions, Budgets, and Fluxes. Journal of Coastal Research 55 (2008) 76-94

Ikawartika. 2012. Ekosistem Estuaria. http://ikawartika.WordPress.com. Diakses, 4 Desember 2012

Liu, dkk., 2009. Nutrient budgets for large Chinese estuaries. Biogeosciences, 6, 22452263, 2009 Mou, dkk., 2011. Nitrogen cycle of a typical Suaeda salsa marsh ecosystem in the Yellow River estuary. Journal of Environmental Sciences 2011, 23(6) 958967

Noor, M. 2011. Pengaruh Eutrofikasi Terhadap Manusia. http://fishworld90.blogspot.com/p/eutrofikasi.html. Diakses, 4 Desember 2012

Prasad dan Ramanathan. 2008. Sedimentary nutrient dynamics in a tropical estuarine mangrove ecosystem. Estuarine, Coastal and Shelf Science 80 (2008) 6066

Tuwo, A. 2011. Pengelolaan Ekowisata Pesisir dan Laut. Brilian International. Surabaya Diposkan oleh Nasriani Syam di 07.16 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Tidak ada komentar: Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Arsip Blog

2013 (4) o Maret (4) Simbiosis Mutualisme Antara Kepiting Boxing dengan... Fungsi Feromon Dalam Interaksi Sosial dan Perilaku... Suksesi dan Siklus Nutrient pada Ekosistem Estuari... DINAMIKA POPULASI IKAN LEMURU 2012 (4)

Mengenai Saya

Nasriani Syam Lihat profil lengkapku Template Picture Window. Gambar template oleh cobalt. Diberdayakan