Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN

  • 1.1 LATAR BELAKANG

Secara global terdapat 200 kasus gangguan ginjal per sejuta penduduk. 8 juta di antara jumlah populasi yang mengalami gangguan ginjal berada dalam tahap gagal ginjal kronis. Penelitian sebelumnya mengatakan terdapat hubungan antara mengalami gagal ginjal dengan timbulnya gangguan psikiatri pada pasien ( Cohen et al., 2004 ). Kondisi ini bisa terjadi pada kasus gagal ginjal akut maupun yang kronis.

Penyakit apapun yang berlangsung dalam kehidupan manusia dipersepsikan sebagai suatu penderitaan dan mempengaruhi kondisi psikologis dan sosial orang yang mengalaminya. Akan tetapi petugas kesehatan sering kali cenderung memisahkan aspek biologis dari aspek psikososial yang dialami pasien ( Leung, 2002 ).

Aspek psikososial menjadi penting diperhatikan karena perjalanan penyakit yang kronis dan sering membuat pasien tidak ada harapan. Pasien sering mengalami ketakutan, frustasi dan timbul perasaan marah dalam dirinya. ( Harvey S, 2007 ).

Penelitian oleh para profesional di bidang penyakit ginjal menemukan bahwa lingkungan psikososial tempat pasien gagal ginjal tinggal mempengaruhi perjalanan penyakit dan kondisi fisik pasien ( Leung, 2002 ).

  • 1.2 RUMUSAN MASALAH

    • 1. Apakah yang dimaksud gagal ginjal kronis?

    • 2. Bagaimanakah asuhan keperawatan pada gagal ginjal kronis?

      • 1.3 TUJUAN

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini diharapkan pembaca mampu mengidentifikasi apakah yang dimaksud dengan gagal ginjal kronis dan bagaimanakah asuhan keperawatannya.

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

2.1 DEFINISI

Chronic Kidney Disease ( CKD ) merupakan penurunan faal ginjal yang menahun yang umumnya tidak riversibel dan cukup lanjut. ( Burner, 2002 ).

Gagal ginjal kronik ( GGK) biasanya akibat akhir dari kehilangan fungsi ginjal lanjut secara bertahap ( Doenges, 1999 : 626 )

Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir ( ESRD ) merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit,menyebabkan uremia ( retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah ). ( Brunner & Suddarth, 2002: 1448 )

Gagal ginjal kronik merupakan perkembangan gagal ginjal yang progresif dan lambat,biasanya berlangsung beberapa tahun. ( Price, 1992 : 812 )

  • 2.2 ANATOMI FISIOLOGI SISTEM PERKEMIHAN Ginjal terdiri beberapa bagian, yang diantaranya sebagai berikut :

    • a. Renal Capsule (Fibrous Capsule), Tiap ginjal dibungkus oleh suatu membran transparan yang berserat yang disebut renal capsule.

    • b. Cortex merupakan lapisan pembungkus ginjal, merupakan jaringan yang kuat yang melindungi lapisan dalam ginjal.

    • c. Medulla berada dibawah Cortex. Bagian ini merupakan area yang berisi 8 sampai 18 bagian berbentuk kerucut yang disebut piramid, yang terbentuk hampir semuanya dari ikatan saluran berukuran mikroskopis.

    • d. Pelvis renalis berada di tengah tiap ginjal sebagai saluran tempat urin mengalir dari ginjal ke kandung kemih.

    • e. Vena Renal dan Arteri Renal Dua dari pembuluh darah penting, vena renal dan arteri renal. Dua pembuluh ini merupakan percabangan dari aorta abdominal (bagian abdominal dari arteri utama yang berasal dari jantung) dan masuk kedalam ginjal melalui bagian cekung ginjal.

      • f. Nephrons merupakan unit fungsional dari ginjal dalam menjalankan fungsi ini.

      • g. Glomerulus adalah filter utama dari nefron dan terletak dalam Bowman's capsule.

  • h. Henle's Loop, merupakan bagian dari tubulus renal yang kemudian menjadi sangat sempit yang menjulur jauh kebawah kapsul Bowman dan kemudian naik lagi keatas membentuk huruf U.

  • i. Renal Collecting Tubule (Tubulus Pengumpul) Disebut juga Pembuluh Bellini, suatu pembuluh kecil sempit yang panjang dalam ginjal yang mengumpulkan dan mengangkut urin dari nefron.

  • j. Kapsula bowman Merupakan suatu invaginasi dari tubulus proksimal, terdapat ruang yang mengandung urine antara rumbai kapiler dan kapsula bowman, dan ruang yang mengandung ini dikenal dengan nama ruang bowman atau ruang kapsular.

h. Henle's Loop , merupakan bagian dari tubulus renal yang kemudian menjadi sangat sempit yang menjulur

Unit fungsional ginjal disebut nefron. Nefron terdiri dari korpus renalis/Malpighi ( yaitu glomerulus dan kapsul Bowman ), tubulus kontortus proksimal, lengkung Henle, tubulus kontortus distal yang bermuara pada tubulus pengumpul. Di sekeliling tubulus ginjal tersebut terdapat pembuluh kapiler,yaitu arteriol ( yang membawa darah dari dan menuju glomerulus ) serta kapiler peritubulus ( yang memperdarahi jaringan ginjal ) Berdasarkan letaknya nefron dapat dibagi menjadi:

3

(1) nefron kortikal, yaitu nefron di mana korpus renalisnya terletak di korteks yang relatif jauh dari medula serta hanya sedikit saja bagian lengkung Henle yang terbenam pada medula, dan (2) nefron juxta medula, yaitu nefron di mana korpus renalisnya terletak di tepi medula, memiliki lengkung Henle yang terbenam jauh ke dalam medula dan pembuluh-pembuluh darah panjang dan lurus yang disebut sebagai vasa rekta.

  • 2.3 ETIOLOGI

Penyebab GGK termasuk glomerulonefritis, infeksi kronis, penyakit vaskuler ( nefrosklerosis ), proses obstruksi ( kalkuli ), penyakit kolagen ( luris sutemik ), agen

nefrotik ( amino glikosida ), penyakit endokrin ( diabetes ). ( Doenges, 1999 : 626 ) Penyebab GGK menurut Price, 1992 : 817, dibagi menjadi delapan kelas, antara lain :

  • 1. Infeksi misalnya pielonefritis kronik

  • 2. Penyakit peradangan misalnya glomerulonefritis

  • 3. Penyakit vaskuler hipertensif misalnya nefrosklerosis benigna, nefrosklerosis maligna, stenosis arteria renalis

  • 4. Gangguan jaringan penyambung misalnya lupus eritematosus sistemik, poliarteritis nodosa,sklerosis sistemik progresif

  • 5. Gangguan kongenital dan herediter misalnya penyakit ginjal polikistik, asidosis tubulus ginjal

  • 6. Penyakit metabolik misalnya DM, gout, hiperparatiroidisme, amiloidosis

  • 7. Nefropati toksik misalnya penyalahgunaan analgesik, nefropati timbale

  • 8. Nefropati obstruktif misalnya saluran kemih bagian atas : kalkuli neoplasma, fibrosis netroperitoneal. Saluran kemih bagian bawah : hipertropi prostat, striktur uretra, anomali kongenital pada leher kandung kemih dan uretra.

  • 2.4 PATOLOGI Gagal ginjal kronis diakibatkan oleh hilangnya nefron fungsionil karena rusaknya glomerular dan atau tugular. Kondisi ini merupakan penyakit multisistim yang mempengaruhi SSP, jantung, traktus GI, otot, tulang dan darah. Berbagai manisfestasi terjadi pada tingkat fungsi ginjal yang berbeda bagi setiap pasien tapi cenderung semakin nyata apabila kecepatan filtrasi glomelurus turun sampai < 15-20 mL/menit ( BUN >100-120 mg/dL). Banyak manifestasi insufisiensi ginjal diakibatkan oleh BUN dan mungkin juga karena terakumulasinya produk-produk akhir metabolik yang tak terukur lainnya.

2.5 PATOFISIOLOGI

(Corwin, 2001)

Glomerulo Obstruksi Neprotik Nepritis Nepritis Nepritis Kronik dan Infeksi Diabetik Hypertensi Lupus Penurunan Iskemi dan Angiopati
Glomerulo
Obstruksi
Neprotik
Nepritis
Nepritis
Nepritis Kronik
dan Infeksi
Diabetik
Hypertensi
Lupus
Penurunan
Iskemi dan
Angiopati
Kerusakan
fungsi
infeksi
sehingga
Vaskularisasi
jar. Ginjal <
jaringan dan
glomerulus
nefron
Nefron
nefron ginjal
Jaringan
ginjal < O²
dan nutrisi
ginjal

Gagal Ginjal Kronik

2.5 PATOFISIOLOGI ( Corwin, 2001) Glomerulo Obstruksi Neprotik Nepritis Nepritis Nepritis Kronik dan Infeksi Diabetik Hypertensi
 

Pencernaan

 

Kulit

 
Pencernaan Kulit Ggn.Metab. >Urokrom protein Gatal ekskariosis Ureum > daripada air Urea Frost liur Pucat. Kuning,
Pencernaan Kulit Ggn.Metab. >Urokrom protein Gatal ekskariosis Ureum > daripada air Urea Frost liur Pucat. Kuning,

Ggn.Metab.

   

>Urokrom

 

protein

Gatal

ekskariosis

Ureum >

 

daripada air

 

Urea Frost

liur

Pucat. Kuning, Gatal
Pucat.
Kuning,
Gatal

Cegukan

Pencernaan Kulit Ggn.Metab. >Urokrom protein Gatal ekskariosis Ureum > daripada air Urea Frost liur Pucat. Kuning,

Anoreksia Mual

 

Muntah

Bau Mulut

Stomatitis

 
 
Pencernaan Kulit Ggn.Metab. >Urokrom protein Gatal ekskariosis Ureum > daripada air Urea Frost liur Pucat. Kuning,

Gangguan

   

Gangguan.

pemenuhan

Interigas kulit

nutrisi kurang

 

dari kebutuhan

 

tubuh

2.5 PATOFISIOLOGI ( Corwin, 2001) Glomerulo Obstruksi Neprotik Nepritis Nepritis Nepritis Kronik dan Infeksi Diabetik Hypertensi
2.5 PATOFISIOLOGI ( Corwin, 2001) Glomerulo Obstruksi Neprotik Nepritis Nepritis Nepritis Kronik dan Infeksi Diabetik Hypertensi

Syaraf dan Otot

Syaraf dan Otot Restless Leg sindrom. Burning Feet sindrom. Ensepalopati Perubahan proses pikir

Restless Leg

sindrom.

Burning Feet

sindrom.

Ensepalopati

Syaraf dan Otot Restless Leg sindrom. Burning Feet sindrom. Ensepalopati Perubahan proses pikir

Perubahan

proses pikir

2.5 PATOFISIOLOGI ( Corwin, 2001) Glomerulo Obstruksi Neprotik Nepritis Nepritis Nepritis Kronik dan Infeksi Diabetik Hypertensi
Kardiovaskular
Kardiovaskular
Hipertensi Odema
Hipertensi
Odema

> Renin

Angiotensi-

Aldosteron

Arterisklerosis

dini

Ggn Elektrolit

dan

kohesifikasi

> Renin Angiotensi- Aldosteron Arterisklerosis dini Ggn Elektrolit dan kohesifikasi Penurunan Curah Jantung

Penurunan Curah

Jantung

2.5 PATOFISIOLOGI ( Corwin, 2001) Glomerulo Obstruksi Neprotik Nepritis Nepritis Nepritis Kronik dan Infeksi Diabetik Hypertensi
2.5 PATOFISIOLOGI ( Corwin, 2001) Glomerulo Obstruksi Neprotik Nepritis Nepritis Nepritis Kronik dan Infeksi Diabetik Hypertensi

Endokrin

Endokrin Ggn.Seksual Ggn.Tolerasi glukosa Ggn.Metab. lemak Pada Laki produksi testosteron dan spermatogenesis kurang. Pada Wanita Gangguan

Ggn.Seksual

 

Ggn.Tolerasi

glukosa

Ggn.Metab.

lemak

Endokrin Ggn.Seksual Ggn.Tolerasi glukosa Ggn.Metab. lemak Pada Laki produksi testosteron dan spermatogenesis kurang. Pada Wanita Gangguan

Pada Laki

produksi

testosteron dan

spermatogenesis

kurang.

Pada Wanita

Gangguan

Menst.,ovulasi

Hematologi

Hematologi Anaemia Ggn Fungsi dan Trombositopeni Ggn Fungsi Eritropoitin < Defisiensi besi Hemolisis

Anaemia

Ggn Fungsi

dan

Trombositopeni

Ggn Fungsi

Hematologi Anaemia Ggn Fungsi dan Trombositopeni Ggn Fungsi Eritropoitin < Defisiensi besi Hemolisis

Eritropoitin <

Defisiensi besi

Hemolisis

2.5 PATOFISIOLOGI ( Corwin, 2001) Glomerulo Obstruksi Neprotik Nepritis Nepritis Nepritis Kronik dan Infeksi Diabetik Hypertensi
Resiko cedera (Profil darah abnormal)
Resiko cedera
(Profil darah
abnormal)

5

2.6

TANDA DAN GEJALA

  • 1. Hematologik Anemia normokrom, gangguan fungsi trombosit, trombositopenia, gangguan lekosit.

  • 2. Gastrointestinal Anoreksia, nausea, vomiting, fektor uremicum, hiccup, gastritis erosiva.

  • 3. Syaraf dan otot Miopati, ensefalopati metabolik, burning feet syndrome, restless leg syndrome.

  • 4. Kulit Berwarna pucat, gatal-gatal dengan eksoriasi, echymosis, urea frost, bekas garukan karena gatal.

  • 5. Kardiovaskuler Hipertensi, nyeri dada dan sesak nafas, gangguan irama jantung, edema.

  • 6. Endokrin Gangguan toleransi glukosa, gangguan metabolisme lemak, gangguan seksual,

libido, fertilitas dan ereksi menurun pada laki-laki, gangguan metabolisme vitamin

D.

2.7 KOMPLIKASI

  • 1 Hiperkalemia: akibat penurunan ekskresi, asidosis metabolik, katabolisme dan masukan diit berlebih.

  • 2 Perikarditis : Efusi pleura dan tamponade jantung akibat produk sampah uremik dan dialisis yang tidak adekuat.

  • 3 Hipertensi akibat retensi cairan dan natrium serta malfungsi sistem renin-angiotensin- aldosteron.

  • 4 Anemia akibat penurunan eritropoetin, penurunan rentang usia sel darah merah.

  • 5 Penyakit tulang serta kalsifikasi akibat retensi fosfat, kadar kalsium serum rendah, metabolisme vitamin D dan peningkatan kadar aluminium.

  • 6 Asidosis metabolic, Osteodistropi ginjal

  • 7 Sepsis, Neuropati perifer, Hiperuremia

2.8

PENATALAKSANAAN

  • 1. Tentukan dan tatalaksana terhadap penyebab.

  • 2. Optimalisasi dan pertahankan keseimbangan cairan dan garam.

  • 3. Diet tinggi kalori rendah protein.

  • 4. Kendalikan hipertensi.

  • 5. Jaga keseimbangan eletrolit.

  • 6. Mencegah dan tatalaksana penyakit tulang akibat GGK.

  • 7. Modifikasi terapi obat sesuai dengan keadaan ginjal.

  • 8. Deteksi dini terhadap komplikasi dan berikan terapi.

  • 9. Persiapkan program hemodialisis.

    • 10. Transplantasi ginjal

  • 2.9 PEMERIKSAAN PENUNJANG Menurut Suyono ( 2001 ), untuk menentukan diagnosa pada CKD dapat dilakukan cara sebagai berikut :

    • 1. Pemeriksaan laboratorium

Menentukan derajat kegawatan CKD, menentukan gangguan sistem dan membantu menetapkan etiologi.

  • 2. Pemeriksaan USG

Untuk mencari apakah ada batuan, atau massa tumor, juga untuk mengetahui beberapa pembesaran ginjal.

  • 4. Pemeriksaan EKG

Untuk melihat kemungkinan hipertropi ventrikel kiri, tanda-tanda perikarditis, aritmia dan gangguan elektrolit

2.10 PENCEGAHAN

Obstruksi dan infeksi saluran kemih dan penyakit hipertensi sangat lumrah dan sering kali tidak menimbulkan gejala yang membawa kerusakan dan kegagalan ginjal. Penurunan kejadian yang sangat mencolok adalah berkat peningkatan perhatian terhadap peningkatan kesehatan. Pemeriksaan tahunan termasuk tekanan darah dan pemeriksaan urinalisis. Pemeriksaan kesehatan umum dapat menurunkan jumlah individu yang menjadi insufisiensi sampai menjadi kegagalan ginjal. Perawatan

ditujukan kepada pengobatan masalah medis dengan sempurna dan mengawasi status kesehatan orang pada waktu mengalami stress ( infeksi, kehamilan ). ( Barbara C Long, 2001 ).

  • 2.11 KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

Proses keperawatan secara umum diartikan sebagai pendekatan dalam pemecahan masalah yang sistematis untuk memberikan asuhan keperawatan terhadap setiap orang. Selaim itu, proses keperawatan juga diartikan sebagai suatu metode yang sistematis untuk mengkaji respon manusia terhadap masalah-masalah kesehatan dan membuat rencana asuhan keperawatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Masalah-masalah kesehatan dapat berhubungan dengan klien, keluarga klien, orang terdekat, dan masyarakat. Proses keperawatan menurut Potter dan Perry (1997) adalah suatu pendekatan dalam pemecahan masalah, sehingga perawat dapat merencanakan dan memberikan asuhan keperawatan. Tahapannya meliputi : pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan (termasuk identifikasi hasil yang diperkirakan), implementasi, dan evaluasi. (Haryanto, 2008:

3).

1. Pengkajian

Potter dan Perry (1997), pengkajian adalah proses sistematis berupa pengumpulan, verifikasi, dan komunikasi data tentang klien. Fase dari pengkajian meliputi pengumpulan data dan analisa data.

a. Pengumpulan data b. Langkah ini merupakan langkah awal dan dasar dari proses keperawatan. Dalam pengkajian, data dikumpulkan secara lengkap dari berbagai sumber, antara lain dari klien, keluarga, pemeriksaan medis maupun catatan kesehatan klien. Pengumpulan data merupakan kegiatan dalam menghimpun informasi dari klien meliputi unsur Bio- Psiko- sosial- spiritual secara komprehensif. Data yang dikumpulkan terdiri atas :

1) Identitas Identitas klien meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, status marital, tanggal masuk, tanggal pengkajian, ruang rawat, nomor medrek, diagnosa medis dan alamat. Identitas penanggung jawab terdiri dari nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat dan hubungan dengan klien. 2) Riwayat kesehatan Keluhan utama berupa keluhan yang dirasakan klien pada saat dilakukan pengkajian. Klien dengan Gagal ginjal kronik biasanya datang dengan keluhan nyeri pada pinggang, buang air kecil sedikit, bengkak/edema pada ekstremitas, perut kembung, sesak.

Riwayat penyakit sekarang merupakan informasi sejak timbulnya keluhan sampai dirawat dirumah sakit. Berkaitan dengan keluhan utama yang dijabarkan dengan PQRST yang meliputi hal-hal yang meringankan dan memberatkan. Kualitas dan kuantitas dari keluhan, penyebaran serta tingkat kegawatan atau skala dan waktu.

Riwayat penyakit dahulu yang perlu dikaji adalah riwayat pada perkemihan, riwayat penyakit ginjal sebelumnya, riwayat menggunakan obat-obatan nefrotoksik, kebiasaan diet, nutrisi, riwayat tidak dapat kencing, dan riwayat penyakit DM.

Riwayat penyakit keluarga, ditanyakan pada klien atau keluarganya, apakah ada keluarga klien yang mempunyai penyakit keturunan dan penyakit dengan riwayat yang sama. Perlu dikaji riwayat kesehatan keluarga yang dapat mempengaruhi timbulnya penyakit GGK seperti hipertensi, diabetes mellitus, sistemik lupus eritematosa, dan arthritis.

3) Pemeriksaan Fisik (Dongoes, Moorhouse, & Geissler, 1999: 629-628) Sistem Pernafasan, pada klien dengan GGK ditemukan adanya gejala napas pendek, dyspnea nokturnal paroksismal, batuk dengan/tanpa sputum kental. Dengan tanda-tanda tachipnoe, dyspnea, pernafasan kusmaul, batuk produktif dengan sputum merah muda encer, edema paru.

Sistem Kardiovaskuler, pada klien dengan GGK ditemukan adanya gejala riwayat hipertensi lama atau berat, nyeri dada (angina), gagal jantung kongestif, edema pulmoner, perikarditis. Dengan tanda-tanda hipertensi, nadi kuat, edema jaringan umum dan pitting pada kaki, telapak, tangan. Tanda lainnya pucat, kulit coklat kehijauan, kuning, dan kecenderungan perdarahan.

Sistem Pencernaan, pada klien dengan GGK ditemukan adanya anoreksia, nausea, vomiting, cegukan, rasa metalik tak sedap pada mulut, ulserasi gusi, perdarahan gusi/tidak, nyeri ulu hati, distensi abdomen, konstipasi.

Sistem Eliminasi, pada klien dengan GGK ditemukan adanya gejala penurunan frekuensi urine, oliguria, anuria, abdomen kembung, diare, konstipasi. Tandanya perubahan warna urine (kuning pekat, merah, cokelat).

Sistem Muskuloskeletal, pada klien dengan GGK ditemukan kelemahan otot, kejang otot, nyeri pada tulang, fraktur tulang, dan keterbatasan gerak sendi.

Sistem Integumen, pada klien dengan GGK ditemukan adanya gejala kulit gatal (pruritis), petekie, Penurunan turgor kulit, echimosis, dan pucat.

Sistem Persyarafan, pada klien dengan GGK ditemukan adanya gejala sakit kepala, penglihatan kabur, kram otot/kejang, kesemutan dan kelemahan khususnya ekstremitas bawah (neuropati perifer). Dengan tanda-tanda gangguan status mental (penurunan lapang perhatian, ketidakmampuan berkonsentrasi, kehilangan memori, kacau, penurunan tingkat kesadaran, stupor, koma), rambut tipis, kuku rapuh dan tipis.

4) Data Psikososial, klien dengan GGK ditemukan adanya kesulitan menentukan kondisi seperti tidak mampu bekerja, tidak mampu mempertahankan fungsi peran biasanya dalam keluarga yaitu sebagai ibu.

5) Data Spiritual, pada klien dengan GGK ditemukan adanya perasaan tak berdaya, tidak ada harapan, tidak ada kekuatan, menolak, ansietas, takut, marah, mudah terangsang, dan perubahan kepribadian.

6) Aktivitas/Istirahat, pada klien dengan GGK ditemukan adanya gejala kelelahan, kelemahan, gangguan tidur (insomnia/gelisah), kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan rentang gerak.

7) Data Penunjang (Doenges, Moorhouse, Geissler, 1999: 629-628) a. Laboratorium Urine, volume biasanya kurang dari 400 ml/24 jam (oliguria) atau urine tidak ada (anuria), warna secara abnormal urine keruh, sedimen kotor atau kecoklatan, berat jenis kurang dari 1,015 (menetap pada 1,010 menunjukan kerusakan ginjal berat), osmolalitas kurang dari 350 mOsm/kg menunjukan kerusakan tubular, dan rasio urine/serum sering 1:1, klirens kreatinin menurun, natrium lebih besar dari 40 mEq/L karena ginjal tidak mampu mereabsorpsi natriun, protein derajat tinggi proteinuria (3-4+) secara kuat menunjukan kerusakan glomerulus. Darah, BUN/kreatinin meningkat, hitung darah lengkap, Ht menurun pada adanya anemia, Hb biasanya kurang dari 7-8 g/dl. Natrium serum menurun, kalium meningkat, kalsium menurun, magnesium/posfat meningkat, protein (khususnya albumin menurun), pH menurun.

  • b) Pyelogram Retrograd menunjukkan abnormalitas pelvis ginjal dan ureter.

  • c) KUB foto menunjukan ukuran ginjal, ureter, kandung kemih, dan adanya obstruksi

(batu).

  • d) Arteriogram ginjal mengkaji sirkulasi ginjal dan mengidentifikasi adanya massa.

  • e) Sistouretrogram berkemih menunjukan kandung kemih, refluks kedalam ureter.

  • f) Ultrasono ginjal menentukan ukuran ginjal, adanya massa, kista, obstruksi pada

saluran perkemihan bagian atas.

  • g) Biopsi ginjal dilakukan secara endoskopik untuk menentukan sel jaringan untuk

diagnosis histologis.

  • h) Endoskopi ginjal, nefroskopi dilakukan untuk menentukan pelvis ginjal.

  • i) EKG mungkin abnormal menunjukkan ketidakseimbangan elektrolit dan asam basa.

    • b. Analisa data

Setelah data terkumpul, data harus ditentukan validitasnya. Setiap data yang didapat, kemudian dianalisis sesuai dengan masalah. Menentukan validitas data membantu menghindari kesalahan dalam intrepetasi data. Berdasarkan data-data yang ada di klien dengan GGK, maka masalah keperawatan yang muncul adalah Kelebihan volume cairan, Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, Kurang pengetahuan, Intoleransi aktivitas, Gangguan harga diri, Penurunan curah jantung, Resiko gangguan integritas kulit, Ketidakpatuhan.

  • 2.12 Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan adalah cara mengidentifikasi, memfokuskan, mengatasi kebutuhan spesifik klien dan merespon terhadap masalah aktual dan resiko tinggi. (Dongoes, 2000).

    • 1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan keluaran urine, diet berlebih dan retensi cairan dan natrium.

    • 2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah, pembatasan diet dan perubahan membran mukosa mulut.

    • 3. Ganguan integritas kulit berhubungan dengan gangguan tatus metabolik, sirkulasi, sensasi, penurunan turgor kulit, penurunan aktifitas, akumulasi ureum dalam kulit.

    • 4. Intoleransi aktifitas berhubnungan dengan keletihan, anemia, retensi produk sampah dan prosedur.

    • 5. Gangguan konsep diri ( gambaran diri ) berhubungan dengan penurunan fungsi tubuh, tindakan dialisis, koping maladaptif.

    • 6. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.

2.13 Rencana Asuhan Keperawatan

Diagnosa 1: Kelebihan volume cairan berhubhngan dengan penurunan keluaran urine, diet berlebih dan retensi cairan dan natrium.

Tujuan: Mempertahankan berat tubuh ideal tanpa kelebihan cairan

Kriteria hasil: Klien tidak sesak nafas, edema ekstermitas berkurang, piting edema (-), produksi urine >600 mL/hari.

Intervensi

Rasional

  • 1. Kaji status cairan:

  • 1. Pengkajian merupakan dasar dan data

  • c. TTV

dasar berkelanjutan untyk memantau

  • d. Timbang berat badan harian

perubahan dan mengevaluasi intervensi.

  • e. Keseimbangan masukan dan

pengeluaran.

  • f. Turgor kulit dan adanya edema.

  • 2. Batasi masukan cairan

  • 2. Pembatasan cairan akan menentukan berat

tubuh ideal, keluaran urine, dan respon terhadap terapi

  • 3. Identifikasi sumber potensial cairan:

  • 3. Sumber kelebihan cairan yang tidak

  • a. Medikasi dan cairan yang

diketahui dapat diidentifikasi.

digunakan untuk pengobatan: oral

dan intravena

  • b. Makanan

  • 4. Bantu pasien dalam menghadapi

  • 4. Kenyamanan pasien mengingkatkan

ketidaknyamanan dalam pembatasan cairan.

kepatuhan terhadap pembatasan diet.

  • 5. Kolaborasi:

  • 5. Diuretik bertujuan untuk menurunkan

Berikan diuretik, contoh: furosemide, spironolakton, hydronolakton, adenokortikosteroid ,golongan

volume plasma dan menurunkan retensi cairan dijaringan sehingga menurunkan resiko terjadinya edema paru.

prednisone.

Adenokortikosteroid, golongan prednisone

6. Lakukan dialisis

digunakan untuk menurunkan proteinuri. 6. Dialisis akan menurunkan volume cairan yang berlebih.

Diagonsa 2: Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah, pembatasan diet dan perubahan membran mukosa mulut.

Tujuan: Mempertahankan masukan nutrisi yang adekuat

Kriteria hasil: Mempertahankan atau meningkatkan berat badan seperti yang diindikasikan oleh situasi individu, bebas edema.

Intervensi

 

Rasional

 
  • 1. Kaji status nutirisi :

1.

Menyediakan

data

dasar

untuk

  • a. Perubahan berat badan

memantau

perubahan

dan

  • b. Pengukuran antopometrik

mengevaluasi intervensi

 
  • c. Nilai labolatorium (elektrolit seru, BUN, kreatinin, protein, transperin, dan kadr besi)

 
  • 2. Kaji pola diet nutrisi pasien :

2.

Pola diet dahulu dan sekarang dapat

  • a. Riwayat diet

dipertimbangan

dalam

menyusun

  • b. Makanan kesukaan

menu

  • c. Hitung kalori

  • 3. Kaji faktor yang berperan dalam merubah masukan nutrisi :

  • 3. Menyediakan informasi mengenai faktor lain yang dapat diubah atau

  • a. Anoreksia, mual atau muntah

dihilangkan untuk meningkat

  • b. Diet yang tidak menyenangkan bagi pasien

masukan diet

  • c. Depresi

  • d. Kurang memahami pembatasan diet

  • e. Stomaitis

  • 4. Menyediakan makanan kesukaan pasien dalam batas-batsa diet

  • 4. Mendorong peningkatan masukan diet.

  • 5. Tingkatan masukan protein yang mengandung nilai biologis tinggi seperti : telur, produk susu dan daging

  • 5. Protein lengkap diberikan untuk mencapai keseimbangan nitrogen yang diperlukan untuk pertumbuhan dan penyembuhan

  • 6. Anjurkan cemilan tinggi kalori, rendah protein , rendah natrium, diantara waktu makan

  • 6. Mengurangi makanan dan protein yang dibatasi dan menyediakan kalori untuk energi, membagi protein untuk pertumbuhan dan pertumbuhan jaringan

  • 7. Ciptakan lingkungan

yang

  • 7. Faktor yang tidak menyenangkan

menyenangkan selama waktu makan

yang ber5peran menimbulkan anoreksia dihilangkan

  • 8. Timbang berat badan harian

  • 8. Untuk memantau status cairan dan nutrisi

  • 9. Kaij bukti adanya masukan protein yang tidak adekuat

  • 9. Masukan protein yang tidak adekuat dapat menyebabkan penuruna

  • a. Pembentukan edema

albumin dan protein lain,

  • b. Penyembuhan yang lambat

pembentukan

edema,

dan

  • c. Peurunan kadar albuminserum

perlambatan penyembuhan

Diagnosa 3 : Gangguan integritas kulit berhubungan dengan gangguan status metabolic, sirkulasi, sensasi, penurunan turgor kulit, penurunan aktivtas, akumulasi ureum dalam kulit.

Tujuan : Tidak terjadi kerusakan integritas kulit .

Kreteria hasil : Kulit tidak kering, hiperpigmentasi berkurang, memar pada kulit berkurang.

Intervensi

 

Rasioanal

  • 1. Kaji terhadap kekeringan kulit, pruritis, ekskoriasi, dan infeksi.

  • 1. Perubahan mungkin disebabkan oleh penuruna aktivitas kelenjar keringat atau pengumpulan kalsium dan pospat pada lapisan kutaneus .

  • 2. terhadap

Kaji

adanya

petekie

dan

  • 2. Perdarahan yang abnormal sering

purpura.

dihubungkan dengan penurunan jumlah dan fungsi platelet akibat urenia.

  • 3. Monitor lipatan kulit dan area yang edema.

  • 3. Area-area ini sangat mudah terjadinya injuri.

  • 4. Gunting kuku dan pertahankan kuku terpotong pendek dan bersih.

  • 4. Penurunan curah jantung memngakibatkan gamgguan perfusi ginjal, retensi natrium/air\, dan penurunan urine output

  • 5. Kaloborasi : Berikan pengobatan antipruritis ssesuai pesanan .

  • 5. Mengurangi stimulus gatal pada kulit

Diagnosa 4 : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, anemia, retensi produk sampah dan prosedur dialis .

Tujuan : Berpartisipasi dalam aktivitas yang dapat di toleransi.

Kreteria hasil : Meningkatkan rasa sejahtera, yang dapat berpartisipasi dalam aktivitas perawatan mandiri yang dipilih.

intervensi

 

rasioanal

  • 1. Kaji faktor yang menimbulkan keletihan :

 

1.

Menyediakan informasi tentang indikasi ketingkat keletihan.

  • a. Anemia

 
  • b. Ketidak seimbangan cairan dan elektrolit.

  • c. Retensi produk sampah.

  • d. Depresi.

  • 2. Tingkatkan kemandirian dalam aktivitas perawatan diri yang dapat di toleransi bantu jika keletihan terjadi .

.

2. Meningkatkan aktivitas ringan/seedang dan memperbaiki harga diri.

  • 3. Anjurkan aktivitas alternatif sambil istirahat.

 
  • 3. Mendorong latihan dan aktivitas dalam batas-batas yang dapat ditoleransi dan istirahat yang adekuat.

  • 4. Anjurkan istirahat setalah dialisis.

 
 
  • 4. Istirahat yang adekuat dianjurkan setelah dialisis yang bagi banyak pasien sangat menglelahkan.

Diagnose 5 : Gangguan konsep diri (gambaran diri) berhubungan dengan penurunan fungsi tubuh, tindakan dialysis coping maladaptif.

Tujuan : Pasien mampu mengembangkan coping yang positif.

Kreteria hasil : Pasien kooperatif pada setiap intervensi keperawatan mampu :

  • a. Mampu menyatakan atau mengomunikasikan dengan orang terdekat tentang situasi dan perubahan yang seedang terjadi

  • b. Mampu menyatakan penerimaan diri terhadap komunikasi.

c.

Mengakui dan menggabungkan perubahan kedalam konsep diri dengan cara yang akurat tanpa harga diri yang negatif.

Intervensi

 

Rasioanal

  • 1. Kaji perubahan dalam dari gangguan persepsi dan hubungan dengan derajat ketidak mampuaan .

  • 1. Menentukan bantuan individual dalam menyusun rencana perawatan atau pemilihan intervensi.

  • 2. Identifikasi arti dari kehilangan atau disfunsi pada fasi.

  • 2. Mekanisme coping pada beberapa pasien dapat menerima dan mengatur perubahan fungsi secara efektif.

  • 3. Anjurkan

klien

untuk

  • 3. Menunjukan penerimaan, dan

mengekspresiakan perasaan .

membantu pasien untuk mengenal dan mulai menysesuaikan dengan perasaan tersebut.

  • 4. Bantu dan anjurkan perawatan yang baik dan memperbaiki kebiasaan .

  • 4. Membantu meningkatkan perasaan harga diri dan mengontrol lebih dari satu area kehidupan .

  • 5. Anjurkan orang yang terdekat untuk mengizinkan pasien

  • 5. Menghidupkan kembali perasaan kemandirian dan membantu

melakukan

sebanyak-

perkembangan harga diri, serta

banyakannya hal-hal untuk dirinya.

mempengaruhi proses rehabilitasi.

  • 6. Dukung prilaku atau usaha seperti peningkatan minat atau partisipasi dalam aktivitas dalam

  • 6. Pasien dapat beradaptasi terhadap perubahan dan pengertian tentang peran individu masa mendatang.

rehabilitasi .

Diagnosa 6 : Kurangnya pengatahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan, berhubungan dengan informasi. Tujuan : Meningkatkan pengatahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan. Kreteria hasil : Meningkatkan pengatahuan pasien mengenai penyakit yang dideritanya .

Intervensi

Rasioanl

  • 1. Kaji

pemahaman

mengenai

  • 1. Merupakan instruksi dasar

penyebab

gagal

ginjal,

untuk penjelasan penyuluhan

konsekuensinya

dan

lebih lanjut .

penangannnya :

a.

Penyebab gagal ginjal pasien.

b.

Pengertian gagal ginjal.

c.

Pemahaman mengenai funsi renal .

d.

Hubungan

antara

cairan,

pembatasan diet

dengan

gagal ginjal.

e.

Rasioanal penangan

(hemodialisa,

dialisis

peritonial, transplantasi)

  • 2. fungsi

Jelaskan

renal

dan

  • 2. Pasien dapat belajar tentang

kuenskuensi

gagal

ginjal

sesuai

gagal ginjal dan penangan

dengan

tingkat

pemahaman

dan

setelah mereka siap untuk

kesiapan pasien untuk belajar.

memahami dan menerima

diagnosis

dan

konsekuensinya.

  • 3. pasien

Bantu

untuk

  • 3. Pasien dapat melihat bahwa

mengidentifikasi

cara-cara

untuk

kehidupannya tidak harus

memahami

berbagai

perubahan

berubah akibat penyakit.

akibat penyakit dan penangan yang memopengaruhi hidupnya. 4. Sediakan informasi baik tertulis

4.

Pasien

memiliki

informasi

maupun secara oral dengan tepat

yang dapat digunakan untuk

tentang :

klarifikasi

selanjutnya

  • a. Fungsi dan kegagalan renal.

dirumah.

  • b. Pembatasan cairan dan diet.

 
  • c. Medikasi

  • d. Melaporkan masalah, tanda dan gejala.

  • e. Jadwal tindak lanjut.

  • f. Sumber dikomunitas.

  • g. Pilihan terapi.

  • 2.14 Pelaksanaan Inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan pada nurging order untuk membantu klien dalam mencapai tujuan yang diharapkan( Nursalam, 2001: 63)

  • 2.15 Evaluasi Evaluasi semua tahap dalam proses keperawatan merupakan tahap yang menentukan sejauh mana tujuan tercapai hingg diharapkan:

    • 1. Klien tidak sesak nafas, edema ekstermitas berkurang, piting edema (-), produksi urine >600 mL/hari.

    • 2. Mempertahankan atau meningkatkan berat badan seperti yang diindikasikan oleh situasi individu, bebas edema.

    • 3. Kulit tidak kering, hiperpigmentasi berkurang, memar pada kulit berkurang.

    • 4. Meningkatkan rasa sejahtera, yang dapat berpartisipasi dalam aktivitas perawatan mandiri yang dipilih.

  • 5. Pasien kooperatif pada setiap intervensi keperawatan

  • 6. Meningkatkan pengatahuan pasien mengenai penyakit yang dideritanya.

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Kasus

Pada Tanggal 22 Mei 2013, Tn. A berumur 73 tahun datang ke Rumah Sakit Immanuel

dengan keluhan bengkak pada kedua kakinya, sehingga kedua kakinya sulit digerakkan.

Klien mengatakan badan terasa lemah, batuk berlendir, sesak nafas, mual dan muntah, nafsu

makan berkurang, dan klien juga mengatakan gatal-gatal di kulit (kaki dan tangan). Pada saat

pemeriksaan TTV, Tekanan Darah: 140/70 mmHg, Nadi: 72x/menit, Respirasi: 28x/mnt, Suhu Tubuh: 36,4ºC, Berat Badan: 65 Kg Tinggi Badan: 165 Cm

3.2 Pengkajian Keperawatan

1.

Anamnes

a.

Biodata

1). Identitas Klien

Nama

:

Tn. A

Umur

:

73 tahun

Jenis Kelamin

:

laki-laki

Alamat

:

Walian Lingkungan I Tomohon Selatan

Agama

:

Kristen Protestan

Suku/Bangsa

:

Minahasa/Indonesia

Status Pernikahan

:

Menikah

Pekerjaan

:

Pensiunan

Pendidikan

:

SMA

NO RM

:

72897

Tanggal MRS

:

22 Mei 2013 Pukul 14.30

Tanggal Pengkajian

:

22 Mei 2013 Pukul 16.00

Diagnosa Medis

:

CKD

2). Penanggung Jawab

Nama

:

Ny. C.R

Umur

:

42 Tahun

Jenis Kelamin

:

Perempuan

Pekerjaan

:

Pegawai Bank

Hubungan dengan klien

:

Anak Klien

  • b. Keluhan Utama

Badan terasa lemah

  • c. Riwayat kesehatan

1). Riwayat penyakit sekarang

Klien diantar ke Rumah Sakit karena bengkak Pada kedua kaki yang sudah dialami klien 1

bulan sebelum masuk rumah sakit tetapi belum dibawah ke Rumah Sakit karena klien

masih beraktivitas seperti biasa. Pada tanggal 22 Mei 2013 klien dibawah ke Rumah Sakit

karena klien mengeluh kedua kakinya semakin bengkak dan sulit di gerakkan, Setelah

diperiksa oleh Dokter klien dianjurkan untuk mendapat perawatan lebih lanjut.

Saat dikaji (Tanggal 22 Mei 2013, Jam 16.00) Klien mengeluh bengkak pada kedua

kakinya, sehingga kedua kakinya sulit digerakkan. Klien mengatakan badan terasa lemah,

batuk berlendir, sesak nafas, mual dan muntah, nafsu makan berkurang, dan klien juga

mengatakan gatal-gatal di kulit (Kaki dan tangan)

2). Riwayat penyakit dahulu

Klien Sudah 4 tahun menderita penyakit Diabetes Melitus, Klien sering keluar masuk

Rumah Sakit karena penyakit ini, klien sudah 4X masuk Rumah Sakit Kerena Penyakit

Diabetes Melitus.

3). Riwayat penyakit keluarga

Dalam keluarga klien ada penyakit keturunan seperti Diabetess Melitus.

  • d. Riwayat psikososial

Hubungan klien dengan keluarga terjalin baik. Klien selalu melibatkan diri dalam

kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Klien kooperatif dalam perawatan, klien dan keluarga

mengatakan tidak mengetahui tentang penyakit yang sedang diderita klien sekarang,

keluarga klien bertanya-tanya tentang penyakit yang sedang diderita klien sekarang.

  • e. Riwayat Spiritual

Sebelum sakit klien aktif dalam kegiatan-kegiatan kerohanian di jemaatnya. Klien percaya

bahwa penyakitnya ini hanyalah cobaan dari Tuhan dan klien juga percaya bahwa Tuhan

akan senantiasa memberikan kesembuhan pada klien melalui pengobatan dan perawatan

di Rumah sakit.

  • f. Aktivitas Sehari-hari

1) Nutrisi

a. Sebelum Masuk rumah sakit

Nafsu Makan

: Kurang sejak 1 minggu sebelum masuk Rumah Sakit

Frekuensi

: 3 x sehari

Jenis

: Nasi, Ikan, Sayur, dan buah

Porsi makan yang dihabiskan ½ bagian

b.

Saat Dikaji

Nafsu Makan

: Kurang

Frekuensi

: 3X sehari

Jenis

: Bubur, Ikan, Sayur dan buah

Porsi makan tidak dihabiskan, Hanya dimakan 2 Sendok makan, klien makan dibantu oleh

perawat dan keluarga, klien mengatakan mual dan 1x mutah.

2) Cairan

 

a.

Sebelum masuk Rumah sakit

Jenis minuman

: Air Putih

Frekuensi

: 7-8 Gelas / hari

b.Saat dikaji

Jenis Minuman

: Air Putih

Frekuensi

: Klien Minum1000cc air putih (4 gelas Besar)

3) Pola Eliminasi

a.

Sebelum masuk Rumah sakit

BAB

Frekuensi

: 1X/hari

Konsistensi

: Lembek, warna kuning

BAK

Frekuensi

: 5-6X/hari

 

Warna

: kuning jernih

b.

Saat dikaji

BAB

 

Klien belum BAB sejak masuk Rumah Sakit

BAK

 

Frekuensi

: 1-2X/ hari Jumlah 600cc

Warna

: Kuning kemerahan

4) Pola Aktivitas

a.

Sebelum masuk Rumah sakit

Klien beraktivitas seperti biasa, menonton TV, kadang-kadang klien jalan pagi

b.

Saat dikaji

Klien Bedrest, semua aktivitas klien dibantu oleh keluarga dan perawat.

5) Personal Hygine

 

a.

Sebelum masuk rumah sakit

Mandi 1X/hari, Cuci rambut 1X/hari, Sikat Gigi 1X/hari

b. Saat dikaji

 

Klien mandi lap di tempat tidur dilakukan oleh keluarga dan perawat

6) Pola Istirahat dan tidur

 

a.

Sebelum masuk rumah sakit

Tidur malam 7-8 Jam, tidur siang 1 jam

b.

Saat Dikaji

Tidur Malam 8-9 jam, tidur siang 3-4 Jam

7) Ketergantungan

Klien Tidak pernah mengkonsomsi alkohol

Klien Merokok, berhenti merokok ± 4 tahun yang lalu

Klien Sudah lama mengkonsumsi obat-obatan Hipertensi dan Diabetes Melitus.

  • 2. Pemeriksaan fisik

    • a. Keadaan umum : Klien tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos Mentis

  • b. TTV : Tekanan darah : 140/70 mmHg,

Nadi

: 72x/mnt,

Respirasi

: 28x/mnt,

Suhu Tubuh

: 36,4ºC

BB

: 65 kg

TB

: 165 Cm

c. Pemeriksaan Persistem

1. Sistem Penafasan

Inspeksi : Tidak ada sekret, tidak ada polip, tidak ada pernapasan cuping hidung ,

terpasang Nasal Canula, O2 4 l/m, bentuk dada normal, pergerakan dada simetris kiri dan

kanan.

Auskultasi : Terdengar ronki paru-paru kiri dan kanan

Palpasi

: Tidak ada nyeri tekan

Perkusi

: Bunyi resonan

2. Sistem Kardiovaskuler

Inspeksi

: Bentuk dada normal, pergerakan dada simetris kiri dan kanan

Palpasi

: Iktus kordis teraba di interkostal ke 5

Auskultasi

: Bunyi jantung normal S1 dan S2

Tekanan Darah

: 140/70 mmHg

Nadi

: 72 x/menit

3.

Sistem Pencernaan

Inspeksi : Bibir kering dan pecah-pecah, mukosa mulut kering, nafas berbau amoniak. Perut

datar, tidak ada asites

Auskultasi : Bunyi usus terdengar 1-3 x/menit

 

Perkusi

Palpasi

: Bunyi timpani

: Tidak ada nyeri tekan

4.

Eliminasi

BAB

Klien belum BAB sejak masuk Rumah Sakit BAK Frekuensi : 1-2X/ hari Jumlah 600cc

Warna

: Kuning kemerahan

  • 5. Sistem Muskuloskeletal

Ekstermitas atas Inspeksi : Terpasang IFVD di tangan kiri, keadaan kulit di sekitar tempat pemasangan IVFD tidak terdapat tanda-tanda peradangan, tidak bengkak, tidak merah, tidak panas. Ekstermitas bawah

Inspeksi : Tampak edema pada ekstermitas bawah (Dari paha sampai telapak kaki), ROM menurun di bagian lutut dan pergelangan kaki, pergerakan ekstermitas bawah terbatas, kekuatan otot 2 Palpasi : Piting edema pada kedua ekstermitas bawah

  • 6. Sistem Integumen

Inspeksi : Kering dan bersisik, pruritus, dan edema,

  • 7. Sistem Persarafan

Mata Inspeksi : pupil isokor Reflek patela : (+) Reflek hammer : (-) CRT > 2 detik

  • 8. Sistem penginderaan

Mata Inspeksi : pergerakkan bebas, konjungtiva anemis, sclera putih Telinga

Inspeksi : Daun telinga simetris kiri dan kanan tidak ada serumen tidak ada gangguan

pendengaran

Hidung

Inspeksi : Tidak ada sekret, tidak ada polip, tidak ada pernapasan cuping hidung , terpasang

Nasal Canula, O2 4 l/m

Mulut

Inspeksi : Bibir kering dan pecah-pecah, mukosa mulut kering, nafas berbau amoniak.

3. Pemeriksaan Penunjang

Tgl 5 Mei 2010

 

a.

Pemeriksaan Darah

Niali Normal

GD : 515 mg/dl

110-140 mg/dl

Natrium : 189 meq/L

135-148 meq/L

Kalium : 7,05 meq/L

3,6-5,2 meq/L

Klorida : 93,4 meq/L

94-111 meq/L

Hb : 8,3 %

13-16 %

HT : 2%

124.000

Leukosit : 8300

5000-10.000 mm 3

b.

Test Fungsi Ginjal

Tgl 6 mei 2010 Urea UV : 287,6 mg/dl

10-50 mg/dl

Kreatinin : 6,26 mg/dl

0,5-1,1 mg/dl

Uric Acid : 9,03 mg/dl

3,5-7 mg/dl

Total Protein : 5,5 mg.dl

6,7-8,7 mg/dl

Albumin : 3,2 mg/dl

3,8-4,4 mg/dl

Globulin : 2,4 mg/dl

2-3,9 mg/dl

7 mei 2010 GD : 339 mg/dl Kolestrol : 155

110-140 mg/dl

Pemeriksaan Radiologi Foto Thorax : Hasil Normal

  • 4. Therapi Medis Tomar 3 X 1 Novorapid 8 Unit Impugan 1-1-0 O2 4L/menit

  • 5. Pengelompokan Data

Data Subjektif :

Lancid 0-0-1 Amoxiclave 3 X 500 mg Inj Rantidin 3x1 Amp

  • - Keluarga klien mengatakan klien mengalami bengkak di kedua kaki sejak 1 bulan sebelum klien masuk Rumah Sakit

  • - Klien mengatakan batuk berlendir

  • - Klien mengeluh sesak nafas

  • - Klien mengatakan gatal-gatal

  • - Klien mengatakan badan terasa lemah

  • - Klien mengeluh mual dan muntah

  • - Klien mengeluh nafsu makan berkurang

  • - Klien mengatakan sudah mengalami penyakit Diabetes Melitus sejak 4 tahun yang lalu

  • - Klien mengatakan sudah 4 x masuk rumah sakit dengan penyakit yang sama

  • - Keluarga klien mengatakan tidak tahu mengenai penyakit yang dialami klien Data Objektif :

    • - Kadaan Umum Klien tampak sakit sedang

  • - Tanda-Tanda Vital

Nadi

: 74x/m

Respirasi : 24x/m

  • - Jumlah urine yang keluar perharinya 600cc, warna kuning kemerahan

  • - Klien Bedrest

  • - Edema pada ekstrimitas bawah kiri dan kanan ( Dari paha sampai telapak kaki )

  • - Pitting edema pada ekstrimitas bawah

  • - Terdapat ronhi pada paru-paru kiri dan kanan

  • - Terpasang O2 4 l/m Nasal canula

  • - kulit kering dan bersisik

  • - pruritus

  • - Porsi makan tidak dihabiskan, yang dimakan Cuma 2 sendok makan

  • - Edema di wajah

  • - Konjungtiva anemis

  • - Terpasang IVFD di lengan sebelah kiri klien

  • - Keadaan kulit di sekitar tempat pemasangan IVFD tidak terdapat tanda-tanda peradangan

    • - ROM Menurun bagian lutut dan pergelangan kaki

    • - Pergerakan Ekstrimitas bawah terbatas

    • - Kekuatan otot ekstrimitas bawah 2

    • - Klien dan keluarga bertanya-tanya tentang penyakitnya

    • - Hasil laboratorium

Ureum

: 287,8 mg/dl

Creatinin

: 6,26 mg/dl

Uric Acid

: 9,03 mg/dl

Hb

: 8,3 %

Total protein : 5,5 mg/dl

Albumin

: 3,2 mg/dl

3.3 Analisa Data

DATA

PENYEBAB

MASALAH

DS :

Imobilisasi

Bersihan jaln nafas

  • - Klien mengeluh batuk berlendir

- Klien mengeluh batuk berlendir tidak efektif

tidak efektif

  • - Klien mengeluh sesak nafas

Pengeluaran sekret

DO :

berkurang

  • - Tanda-tanda Vital

- Tanda-tanda Vital

N : 74x/m R : 24x/m Terdapat ronhi pada paru-paru kiri dan kanan Terpasang O2 4 l/m, Nassal canula

Penumpukan sekret di jalan nafas

S :

Penurunan ginnjal

Penurunan ginnjal

Kelebihan volume

Keluarga klien mengatakan klien mengalami bengkak di kedua kaki

persisten dan irefersibel

cairan

sejak 1 bulan sebelum klien

Penurunan GFR

masuk Rumah Sakit

masuk Rumah Sakit

O :

Ginjal tidak mampu

 

Jumlah urine yang keluar perharinya 600cc, warna kuning

mengkonsentrasikan urine dengan normal

kemerahan

kemerahan
  • - Edema pada kedua Ekstrimitas

Gangguan absorbsi

Retensi cairan dan Na

Pitting edema pada ekstrimitas bawah

  • - Wajah tampak edema

bikarbonat

  • - Total protein : 5,5 mg/dl

  • - Albumin

: 3,2 mg/dl

 

Edema

DS :

Produksi eritropoitin

Intoleransi Aktivitas

Klien mengatakan badan terasa lemah

tidak adekuat

DO:

Penurunan stimulasi

  • - Klien Bedrest

sum-sum tulang

  • - Hb : 8,3 %

memproduksi sel darah

  • - Semua aktivitas klien dibantu

merah

Kekuatan otot di ekstrimitas

bawah 2

Sel darah merah

Konjungtiva anemis

berkurang

Keadaan umum tampak sakit sedang

 

ROM Menurun

Anemia

Pergerakan Ekstrimitas bawah

terbatas

Konsentrasi Hb

menurun

Konsentrasi O2 ke jaringan menurun

Kelemahan

DS :

Peningkatan urea dan

Nutrisi kurang dari

Klien mengeluh mual dan muntah Klien mengeluh badan terasa

asam urat dalam darah

kebutuhan tubuh

lemah

Mengiritasi mukosa

DO :

Porsi makan tidak dihabiskan,

Ulserasi mukosa

porsi makan yan dihabiskan hanya

2 sendok makan

Ulserasi mukosa

Merangsang

hipotalamus

Keadaan umum tampak sakit sedang ROM Menurun Anemia Pergerakan Ekstrimitas bawah terbatas Konsentrasi Hb menurun Konsentrasi
 

Mual,muntah, anoreksia

 

DS :

Peningkatan urea dan

Kerusakan integritas

  • - Klien mengatakan gatal

asam urat dalam darah

kulit

DO :

(BUN)

  • - Kulit kering dan bersisik

Penumpukan Kristal

  • - Pruritus

  • - Ureum

: 287,8 mg/dl

uremik dibawah kulit

  • - Creatinin

: 6,26 mg/dl

  • - Uric Acid

: 9,03 mg/dl

Pruritus

DS :

Terpasang alat-alat

Resiko tingi infeksi

DO :

invasive

Terpasang IVFD di ekstrimitas atas sebelah kiri Keadaan kulit di sekitar tempat pemasangan IVFD tidak terdapat tanda-tanda peradangan

DS :

Kurang terpajan

Kurang pengetahuan

Klien mengatakan sudah mengalami penyakit Diabetes Melitus sejak 4 tahun yang lalu

informasi

tentang kondisi dan penanganannya

Klien mengatakan sudah 4X masuk rumah sakit dengan penyakit yang sama Keluarga klien mengatakan tidak tahu mengenai penyakit yang dialami klien DO :

   

Klien dan keluarga bertanya-tanya tentang penyakitnya

 

3.4 .

Diagnosa Keperawatan

1.

Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d penumpukan sekret di jalan nafas yang ditandai

dengan

DS :

  • - Klien mengeluh batuk berlendir

  • - Klien mengeluh sesak nafas

DO :

  • - Tanda-tanda Vital N : 74x/m R : 24x/m

  • - Terdapat ronhi pada paru-paru kiri dan kanan

  • - Terpasan O2 Nasal canula

  • 2. Kelebihan volume cairan b/d retensi natrium dan cairan yang ditandai dengan DS :

    • - Keluarga klien mengatakan klien mengalami bengkak di kedua kaki sejak 1 bulan sebelum klien masuk Rumah Sakit DO :

      • - Jumlah urine yang keluar perharinya 600cc, warna kuning kemerahan

      • - Edema pada kedua Ekstrimitas bawah kiri dan kanan (Dari paha sampai telapak kaki)

        • - Pitting edema pada ekstrimitas

bawah

  • - Edema di wajah

  • - Total protein : 5,5 mg/dl

  • - : 3,2 mg/dl

Albumin

  • 3. Intoleransi aktivitas b/d kelemahan yang ditandai dengan DS :

- Klien mengatakan badan terasa lemah DO:

  • - Klien Bedrest

  • - Hb : 8,3 %

  • - Semua aktivitas klien dibantu

  • - Kekuatan otot di ekstrimitas bawah 2

  • - Konjungtiva anemis

    • - Keadaan umum tampak sakit sedang

    • - ROM Menurun

    • - Pergerakan Ekstrimitas bawah terbatas

  • 4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d Mual, muntah dan anoreksia yang ditandai dengan DS :

    • - Klien mengeluh mual dan muntah

DO :

- Porsi makan tidak dihabiskan, porsi makan yan dihabiskan hanya 2 sendok makan

  • 5. Kerusakan integritas kulit b/d penumpukan Kristal uremik di bawah kulit yang ditandai dengan DS :

    • - Klien mengatakan gatal DO :

    • - Kulit kering dan bersisik

  • - Pruritus

  • - Ureum

: 287,8 mg/dl

  • - Creatinin

: 6,26 mg/dl

  • - Uric Acid

: 9,03 mg/dl

  • 6. Resiko infeksi b/d terpasang alat-alat infasif yang ditandai dengan DS :

DO :

  • - Terpasang IVFD di ekstrimitas atas sebelah kiri

- Keadaan kullit di sekitar tempat pemasanga IVFD tidak terdapat tanda-tanda peradangan

  • 7. Kurang pengetahuan mengenai kondisi dan penanganannya b/d kurang terpajan informasi yang ditandai dengan DS : - Klien mengatakan sudah mengalami penyakit Diabetes Melitus sejak 4 tahun yang lalu - Klien mengatakan sudah 4X masuk rumah sakit dengan penyakit yang sama - Keluarga klien mengatakan tidak tahu mengenai penyakit yang dialami DO :

klien

  • - Klien dan keluarga bertanya-tanya tentang penyakitnya

4.1 Kesimpulan

BAB IV

PENUTUP

Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir ( ESRD ) merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit,menyebabkan uremia ( retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah ). ( Brunner & Suddarth,

2002: 1448 ) Penyebab GGK menurut Price, 1992 : 817, dibagi menjadi delapan kelas, antara lain :

  • 1. Infeksi misalnya pielonefritis kronik

  • 2. Penyakit peradangan misalnya glomerulonefritis

  • 3. Penyakit vaskuler hipertensif misalnya nefrosklerosis benigna, nefrosklerosis maligna, stenosis arteria renalis

  • 4. Gangguan jaringan penyambung misalnya lupus eritematosus sistemik, poliarteritis nodosa,sklerosis sistemik progresif

  • 5. Gangguan kongenital dan herediter misalnya penyakit ginjal polikistik, asidosis tubulus ginjal

  • 6. Penyakit metabolik misalnya DM, gout, hiperparatiroidisme, amiloidosis

  • 7. Nefropati toksik misalnya penyalahgunaan analgesik, nefropati timbale

  • 8. Nefropati obstruktif misalnya saluran kemih bagian atas : kalkuli neoplasma, fibrosis netroperitoneal. Saluran kemih bagian bawah : hipertropi prostat, striktur uretra, anomali kongenital pada leher kandung kemih dan uretra.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner& Sudarth, 2002, Edisi VIII, Vol. 2. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Alih

bahasa Agung Waluyo. Jakarta: EGC

Corwin, J, E, 2001. Buku Saku Patofisiologi. Alih bahasa Brahm Pendit. Jakarta: EGC

Carpenito, L,J. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan dan Dokumentasi Keperawatan, Alih

bahasa Ester, M. Jakarta: EGC

Doengoes E. Mrylynn, dkk.2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta: EGC

Nursalam, 2001. Proses& Dokumentasi Keperawata Konsep dan Praktik. Jakarta: Salemba

Medika Suyono, dkk. 2001. Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Jakarta : FK