Anda di halaman 1dari 8
  • A. TUJUAN

Mengetahui prinsip evaporasi

Mengetahui kegunaan ekstrak

  • B. DASAR TEORI Evaporator adalah sebuah alat yang berfungsi mengubah sebagian atau keseluruhan sebuah pelarut dari sebuah larutan dari bentuk cair menjadi uap. Evaporator mempunyai dua prinsip dasar, untuk menukar panas dan untuk memisahkan uap yang terbentuk dari cairan. Evaporator umumnya terdiri dari tiga bagian, yaitu penukar panas, bagian evaporasi(tempat di mana cairan mendidih lalu menguap), dan pemisah untuk memisahkan uap dari cairan lalu dimasukkan ke dalam kondenser (untuk diembunkan/kondensasi) atau ke peralatan lainnya. Hasil dari evaporator (produk yang diinginkan) biasanya dapat berupa padatan atau larutan berkonsentrasi. Larutan yang sudah dievaporasi bisa saja terdiri dari beberapa komponen volatil (mudah menguap). Evaporator biasanya digunakan dalam industri kimia dan industri makanan. Pada industri kimia, contohnya garam diperoleh dari air asin jenuh (merupakan contoh dari proses pemurnian) dalam evaporator. Evaporator mengubah air menjadi uap, menyisakan residu mineral di dalam evaporator. Uap dikondensasikan menjadi air yang sudah dihilangkan garamnya. Pada sistem pendinginan, efek pendinginan diperoleh dari penyerapan panas oleh cairan pendingin yang menguap dengan cepat (penguapan membutuhkan energi panas). Evaporator juga digunakan untuk memproduksi air minum, memisahkannya dari air laut atau zat kontaminasi lain (Wikipedia, 2013). Rotary vakum evaporator adalah instrumen yang menggunakan prinsip destilasi (pemisahan). Prinsip utama dalam instrumen ini terletak pada penurunan tekanan pada labu alas bulat dan pemutaran labu alas bulat hingga berguna agar pelarut dapat menguap lebih cepat dibawah titik didihnya. Instrumen ini lebih disukai, karena hasil yang diperoleh sangatlah akurat. Bila dibandingkan dengan teknik pemisahan lainnya, misalnya menggunakan teknik pemisahan biasa yang menggunakan metode penguapan menggunakan oven. Maka bisa dikatakan bahwa instrumen ini akan jauh lebih unggul. Karena pada instrumen ini memiliki suatu teknik yang berbeda dengan teknik pemisahan yang lainnya. Dan teknik yang digunakan dalam rotary vakum evaporator ini bukan hanya terletak pada pemanasannya tapi dengan menurunkan tekanan pada labu alas bulat dan memutar labu alas bulat dengan kecepatan tertentu. Karena teknik itulah, sehingga suatu pelarut akan menguap dan senyawa yang larut dalam pelarut tersebut tidak ikut menguap namun mengendap. Dan dengan pemanasan dibawah titik didih pelarut, sehingga senyawa yang terkandung dalam pelarut tidak rusak oleh suhu tinggi.

FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PROSES EVAPORATOR

  • 1. Konsentrasi dalam cairan

Untuk liquida msuk evaporator dalam keadaan encer, juga semakin pekat larutan, semakin tinggi pula titik didih larutan dan untuk ini harus diperhatikan adanya kenaikan titik didih (KTD).

  • 2. Kelarutan solute dalam larutan

    • a. Dengan demikian pekatnya larutan, maka konsentrasi solute makin tinggi pula, sehingga btas hasil kali kelarutan dapat terlampaui yang akibatnya terbentuk Kristal solute. Jika dengan adanya hal ini, dalam evaporasi harus diperhatikan batas konsentrasi solute yang maksimal yang dapat dihasilkan oleh proses evaporasi.

    • b. Pada umumnya, kelarutan suatu granul/solid makin besar dengan makin tingginya suhu, sehingga pada waktu “drainage” dalam keadaan dingin dapat terbentuk Kristal yang dalam hal ini dapat merusak evaporator. Jadi harus diperhatikan suhu drainage.

    • c. Sensitifitas materi terhadap suhu dan lama pemanasan Beberapa zat materi yang dipanskan dalam evaporasi tidak tahan terhadap suhu tinggi atau terhadap pemanasan yang terlalu alam. Misalnya bahan-bahan biologis seperti susu, jus, bahan-bahan farmasi dan sebagainya. Jadi untuk zat- zat semacam ini diperlukan suatu cara tertentu untuk mengurangi waktu pemanasan dan suhu operasi.

    • d. Pembuataan buih dan percikan Kadang-kadang beberapa zat, seperti larutan NaOH, “skim milk” dan beberapa asam lemak akan menimbulkan buih, busa yang cukup banyak selama penguapan disertai dengan percikan-percikan liquida yang tinggi. Buih/percikan ini dapat terbawa oleh uap yang keluar dari evaporator dan akibatnya terjadi kehilangan. Jadi harus diusahakan pencegahannya.

    • e. Pembentukan kerak Banyak larutan yang sifatnya mudah membentuk kerak/endapan. Dengan terbentuknya kerak ini akan mengurangi overall heat transfer coefficient, jadi diusahakan konsentrasi/teknikevaporator yang tepat karena biaya pembersihan kerak atau memakan waktu atau biaya.

  • C. ALAT DAN BAHAN

    • 1. Labu Dasar Bulat

C. ALAT DAN BAHAN 1. Labu Dasar Bulat 2. Hot plate : berfungsi untuk mengatur suhu
  • 2. Hot plate : berfungsi untuk mengatur suhu pada waterbath dengan temperatur yang diinginkan (tergantung titik didih dari pelarut)

C. ALAT DAN BAHAN 1. Labu Dasar Bulat 2. Hot plate : berfungsi untuk mengatur suhu
  • 3. WaterBath : sebagai wadah air yang dipanaskan oleh hot plate untuk labu alas yang berisi “sampel”

C. ALAT DAN BAHAN 1. Labu Dasar Bulat 2. Hot plate : berfungsi untuk mengatur suhu
  • 4. Kondensor : berfungsi sebagai pendingin yang mempercepat proses perubahan fasa, dari fasa gas ke fasa cair.

C. ALAT DAN BAHAN 1. Labu Dasar Bulat 2. Hot plate : berfungsi untuk mengatur suhu

5.

Ujung rotor “sampel” : berfungsi sebagai tempat labu alas bulat sampel bergantung. (No: 3)

5. Ujung rotor “sampel” : berfungsi sebagai tempat labu alas bulat sampel bergantung. (No: 3) 6.
  • 6. Lubang kondensor : berfungsi pintu masuk bagi air kedalam kondensor yang airnya disedot oleh pompa vakum. (No: 4)

5. Ujung rotor “sampel” : berfungsi sebagai tempat labu alas bulat sampel bergantung. (No: 3) 6.
  • 7. Lubang kondensor : berfungsi pintu keluar bagi air dari dalam kondensor. (No:6)

5. Ujung rotor “sampel” : berfungsi sebagai tempat labu alas bulat sampel bergantung. (No: 3) 6.

8.

Vakum :

8. Vakum : 9. Filtrat ( sampel hasil maserasi ) D. PROSEDUR KERJA Menghidupkan Alat dan
  • 9. Filtrat ( sampel hasil maserasi )

8. Vakum : 9. Filtrat ( sampel hasil maserasi ) D. PROSEDUR KERJA Menghidupkan Alat dan
  • D. PROSEDUR KERJA

Menghidupkan Alat dan Mengatur Suhu 40
Menghidupkan Alat dan
Mengatur Suhu 40
957 mL Sampel Hasil Maserasi ( Filtrat)
957 mL Sampel Hasil Maserasi ( Filtrat)
  • masukkan dalam

Labu Evaporasi (Labu Dasar Bulat)
Labu Evaporasi (Labu Dasar Bulat)
  • Pasang dan oleskan vaselin pada

Ujung Rotor
Ujung Rotor

Turunkan secara perlahan sampai
sebagian dari labu tercelup dalam

Water Bath
Water Bath
8. Vakum : 9. Filtrat ( sampel hasil maserasi ) D. PROSEDUR KERJA Menghidupkan Alat dan
Labu Diputar
Labu Diputar

Menghidupkan tombol pemutar, sementara itu vakum dihidupkan (putaran sampai di 4)

1.

Menghidupkan alat dan mengatur suhu 40

  • 2. Masukkan 957 mL filtrat dalam labu evaporasi

  • 3. Sebelum labu evaporator dipasang pada ujung rotor, oleskan terlebih dahulu dengan vaselin pada bagian penghubung kedua benda supaya mudah untuk dilepas, gunakan juga klip untuk memperkuat sambungan.

1. Menghidupkan alat dan mengatur suhu 40 2. Masukkan 957 mL filtrat dalam labu evap orasi
  • 4. Setelah labu sudah terpasang, turunkan perlahan-lahan sampai sebagian dari labu tercelup dalam WaterBath

  • 5. Rotavapor dinyalakan dengan menekan tombol On/Off dan kecepatan berputarnya diatur 4, kemudian pompa vakum dinyalakan. Labu berputar

1. Menghidupkan alat dan mengatur suhu 40 2. Masukkan 957 mL filtrat dalam labu evap orasi
  • 6. Menunggu hasil evaporasi

  • E. HASIL PENGAMATAN

Sampel ekstrak yang didapat Jumlah filtrat yang sisa dari evaporasi
Sampel ekstrak
yang didapat
Jumlah filtrat yang
sisa dari evaporasi
E. HASIL PENGAMATAN Sampel ekstrak yang didapat Jumlah filtrat yang sisa dari evaporasi Jumlah filtrat keseluruhan
E. HASIL PENGAMATAN Sampel ekstrak yang didapat Jumlah filtrat yang sisa dari evaporasi Jumlah filtrat keseluruhan
E. HASIL PENGAMATAN Sampel ekstrak yang didapat Jumlah filtrat yang sisa dari evaporasi Jumlah filtrat keseluruhan

Jumlah filtrat keseluruhan Jumlah Fitrat yang sisa dari evaporasi Filtrat yang dipakai Ekstrak yang didapat

= 2589 mL = 1632 mL = 957 mL = 200 mL

  • F. PEMBAHASAN Rotary Evaporator atau Rotary Vacuum Evaporator merupakan alat yang menggunakan prinsip vakum distilasi. Prinsip utama alat ini terletak pada penurunan tekanan sehingga pelarut dapat menguap pada suhu di bawah titik didihnya dan terpisah dari sumbernya dengan pemanasan secara vakum. Rotary Evaporator mampu menguapkan pelarut dibawah titik didih sehingga zat yang terkandung di dalam pelarut tidak rusak oleh suhu yang tinggi. Banyak cairan organik yang tidak dapat didistilasi pada tekanan atmosfer karena temperatur yang diperlukan untuk berlangsungnya distilasi dapat menyebabkan senyawa terdekomposisi (biasanya terjadi pada senyawa bertitik didih lebih dari 200 o C). Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengoperasian Rotary Evaporator ini adalah:

    • 1. Selang air serta tekanan in dan out agar jangan sampai tertukar.

    • 2. Kemampuan alat pompa vakum.

Pada percobaan ini, hasil evaporasi (ekstrak) yang didapat tidak terlalu pekat, hal ini mungkin vakum yang kita gunakan tidak terlalu bagus, juga mungkin juga

karena waktu yang relatif singkat,sehingga ekstrak yang kita coba tidak dapat memikat lalat yang ada meskipun dengan dua perlakuan yang berbeda. Etanol dalam labu penampung dapat digunakan kembali karena telah murni dengan dievaporasi. Dari hasil percobaan tersebut, didapatkan ekstrak kental sabut kelapa sebanyak 200 mL dari 957 mL filtrat yang digunakan.

  • G. KESIMPULAN Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa :

    • - Ekstraksi senyawa bahan alam dapat dilakukan dengan cara maserasi dilanjutkan dengan evaporasi.

    • - dalam hal ini kemampuan alat pompa vakum juga berpengaruh pada hasil evaporasi.

    • - ekstrak yang kita dapat harus ditambah dievaporasi karena belum terlalu kental.

    • - Hasil evaporasi yang didapat adalah 200 mL dari 957 mL filtrat yang digunakan

  • H. DAFTAR PUSTAKA

  • Ahyari, J. 2009. Rotary Evaporator. http://blogkita.info.com. Diakses pada tanggal 7 Desember 2013.

    I Nengah Juliana. 2013. Rotary Evaporator.

    http://Inengahjuliana.blogspot.com. Diakses pada tanggal 7 Desember 2013 Arie Rahman.2013. Ekstraksi Senyawa Bahan Alam. http://arhycancer.blogspot.com. Diakses pada tanggal 8 Desember 2013