Anda di halaman 1dari 25

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Definisi dan Fungsi Resep Berdasarkan Kepmenkes RI Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 tentang resep, resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, dokter hewan kepada apoteker untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi pasien sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Resep dalam arti yang sempit ialah suatu permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, atau dokter hewan kepada apoteker untuk membuatkan obat dalam bentuk sediaan tertentu dan menyerahkannya kepada penderita.1 Menurut UU yang dibolehkan menulis resep ialah dokter umum, dokter spesialis, dokter gigi, dan dokter hewan. Bagi dokter umum dan dokter spesialis tidak ada pembatasan mengenai jenis obat yang boleh diberikan kepada penderitanya. Di apotek, bila obatnya sudah diserahkan kepada penderita menurut peraturan pemerintah kertas resep tersebut harus disimpan dan diatur menurut urutan tanggal dan nomor urut pembuatan serta harus disimpan minimal selama 3 tahun.1 Sebuah resep mempunyai beberapa fungsi :2 a) Sebagai perwujudan cara terapi Terapi seorang dokter itu rasional atau tidak, dapat dilihat dari resep yang dituliskan. Karena bila seorang dokter memberikan suatu terapi, pasti dia akan menuliskan sebuah resep, baik itu pasien rawat jalan ataupun rawat inap. Dari

obat-obat yang diberikan akan memberikan gambaran terapi yang diberikan oleh dokter tersebut. b) Merupakan dokumen legal Sebuah resep merupakan dokumen yang diakui keabsahannya untuk mendapatkan obat-obat yang diinginkan oleh dokter. Baik obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras, narkotik maupun psikotropik. Jadi seorang pasien akan dengan mudah mendapatkan obat-obatan tersebut dengan resep. Karena begitu pentingnya sebuah resep sebagai dokumen legal maka diharapkan seorang dokter tidak meletakkan blanko resep secara sembarangan karena dikhawatirkan dipergunakan oleh orang untuk mendapatkan obat yang seharusnya dia tidak gunakan. c) Sebagai catatan terapi Seorang dokter hendaknya menuliskan resep rangkap dua, dimana yang pertama diberikan kepada pasien untuk menebus obat di apotek, sedangkan yang kedua sebagai arsip dan catatan bahwa pasien tersebut telah mendapatkan terapi dengan obat-obat yang ada di arsip tersebut. d) Merupakan media komunikasi Sebuah resep merupakan sarana komunikasi antara dokter-apoteker-pasien. Apoteker akan tahu pasien akan diberi obat apa saja, berapa jumlahnya, apa bentuk sediaannya, berapa kali sehari dan kapan harus meminumkannya.

B. Kertas Resep Resep oleh dokter dituliskan di atas suatu kertas resep. Ukuran kertas resep yang ideal adalah lebar 10-12 cm dan panjang 15-18 cm. Kertas resep

hendaknya oleh dokter disimpan ditempat yang aman untuk menghindarkan dicuri dan disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggungjawab, antara lain untuk menuliskan resep palsu meminta obat bius. Suatu hal yang terpuji apabila dokter menuliskan resep sebanyak rangkap dua, satu untuk penderita dan satu turunan untuk dokumentasi bagi dokter sendiri mengenai terapi yang diberikan pada setiap penderitanya.3 Menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.280/MENKES/SK/V/1981 tentang penyimpanan resep di apotek, kertas resep harus disimpan, diatur menurut urutan tanggal dan nomor unit pembuatan, disimpan sekurang-kurangnya selama 3 tahun. Hal ini digunakan untuk memungkinkan penelusuran kembali apabila setelah sekian waktu terjadi sesuatu akibat dari obat yang diberikan. Resep-resep oleh apotek boleh dimusnahkan setelah melebihi 3 tahun dengan membuat proses verbal (berita acara) pemusnahan.3

C. Kelengkapan Resep Resep harus dituliskan dengan lengkap, supaya dapat memenuhi syarat untuk dibuatkan obatnya di apotek. Resep yang lengkap terdiri dari :2,3 1. Nama dan alamat dokter serta nomor surat ijin praktek, nomor telepon, jam dan hari praktek. 2. Nama kota serta tanggal resep itu ditulis oleh dokter. 3. Superscriptio Tanda R/, singkatan dari recipie berarti harap diambil.

4. Incriptio Nama setiap jenis atau bahkan obat yang diberikan, bentuk sediaan serta jumlahnya. Jenis atau bahan obat dalam resep terdiri dari: (1) Remedium cardinale atau obat pokok yang mutlak harus ada, obat pokok ini dapat berupa bahan tunggal, tetapi juga dapat terdiri dari beberapa bahan, (2) Remedium adjuvants yaitu bahan yang membantu kerja obat pokok. Adjuvants tidak mutlak perlu ada dalam tiap resep, (3) Corrigens, hanya diperlukan untuk memperbaiki rasa,warna atau bau obat (corrigens saporis, coloris, dan odoris), (4) Constituens atau vehikulum, sering kali perlu terutama kalau resep berupa komposisi dokter sendiri dan bukan obat jadi misalnya constituens obat minum umumnya air. Jumlah bahan obat dalam resep dinyatakan dalam satuan berat untuk bahan padat (microgram, milligram, gram) dan satuan isi untuk cairan (tetes, milliliter, liter). Perlu diingat bahwa dengan menuliskan angka tanpa keterangan lain yang dimaksud adalah gram. 5. Subscriptio Cara Pembuatan atau bentuk sediaan yang dikehendaki, misalnya f.l.a. pulv (fac lege artis pulveres): buatlah sesuai aturan, obat berupa puyer. Biasanya subscriptio hanya ada pada resep formula magistralis.

6. Signatura/transciptio Aturan pemakaian obat umumnya ditulis dengan singkatan bahasa latin. Aturan pakai ditandai dengan signa, biasa disingkat S. Aturan penggunaan yang ditulis seperti : a. Berapa kali sehari dipakai b. Kapan saja obat tersebut digunakan c. Bagaimana cara menggunakannya d. Apakah obat tersebut harus diminum sampai habis atau kalu perlu saja e. Dan sebagainya 7. Identitas penderita Nama penderita dibelakang kata Pro: merupakan identitas penderita, dan sebaiknya dilengkapi dengan umur dan alamatnya yang akan memudahkan penelusuran bila terjadi sesuatu dengan obat pada penderita. Jika penderita seorang anak, maka harus dituliskan berat badannya, sehingga apoteker dapat mencek apakah dosis yang diberikan sudah cocok untuk berat badan sekian. Alamat penderita juga perlu dicantumkan, karena ada kemungkinan di apotek ada dua nama yang sama, kalau ada alamatnya maka kemungkinan untuk tertukar akan kecil sekali terjadi. 8. Kesahan resep Tanda tangan atau paraf dari dokter/dokter gigi/dokter hewan yang menuliskan resep tersebut yang menjadikan suatu resep itu otentik. Resep obat suntik dari golongan narkotika harus dibubuhi tanda tangan lengkap oleh dokter/dokter gigi/dokter hewan yang menulis resep dan tidak cukup dengan paraf saja.

Masing-masing bagian dari resep tersebut mempunyai fungsi penting, sehingga jika resep tidak lengkap akan mengganggu kelancaran penyediaan obat.

D. Resep dan Pengobatan Rasional Sebuah resep dikatakan benar dan rasional bila memnuhi syarat:2 a. Jelas, dapat dibaca Resep harus dituliskan dengan jelas supaya apoteker dapat membaca dengan mudah. Bila ditulis dengan tulisan yang tidak jelas, maka ada kemungkinan apoteker tidak dapat membaca atau malah ada

kemungkinan apoteker salah dalam membaca resep tersebut. Jadi untuk menghindari hal tesebut, sebuah resep harus ditulis dengan jelas. 2. Sesuai aturan/kaidah penulisan yang berlaku Sebuah resep harus dituliskan sesuai dengan kaidah penulisan resep yang berlaku. Contoh : 1) Penggunaan singkatan yang harus menggunakan bahasa latin Kalau singkatan itu bukan bahasa latin, ada kemungkinan apoteker tidak tahu artinya. Contoh: penulisan kalau perlu yang kadang-kadang dituliskan kp, yang seharusnya prn. 2) Penulisan nama obat Penulisan nama obat harus menggunakan penulisan yang baku. Tulisan itu dapat dibaca oleh semua apotek. Ada beberapa dokter yang menuliskan resep magistralis yang berisi berbagai macam obat

yang dituliskan singkatan namanya yang hanya apotek tertentu yang tahu. 3. Ditulis dikertas resep (blanko resep) dengan ukuran lebar 10-12 cm dan panjang 15-18 cm. 4. Ditulis lengkap sesuai dengan ketentuan kelengkapan resep yang sudah dijelaskan di atas. Selain itu resep yang tepat, aman, dan rasional adalah resep yang meliputi tepat indikasi, tepat obat, tepat penderita, tepat dosis dan cara pemakaian, dan tepat bentuk sediaan :4 a) Tepat indikasi

Indikasi pemakaian obat secara khusus adalah indikasi medik bahwa intervensi dengan obat memang diperlukan dan telah diketahui memberikan manfaat terapetik. Pada banyak keadaan, ketidakrasionalan pemakaian obat terjadi oleh karena keperluan intervensi farmakoterapi dan kemanfaatannya tidak jelas. b) Tepat obat Pemilihan jenis obat harus memenuhi beberapa segi pertimbangan, yakni : a. Kemanfaatan dan keamanan obat sudah terbukti secara pasti. b. Obat memiliki efektifitas yang telah terbukti. c. Jika antibiotik maka jenis antibiotik sesuai dengan sensitivitas dari dugaan kuman penyebab berdasarkan terapi empirik (educated guess) atau sesuai dengan hasil uji sensitifitas terhadap kuman penyebab jika uji sensitifitas dilakukan. d. Derajat penyakit pasien

e. Risiko dari pengobatan dipilih yang paling kecil untuk pasien dan imbang dengan manfaat yang akan diperoleh. Risiko pengobatan mencakup toksisitas obat, efek samping, dan interaksi dengan obat lain. f. Biaya obat paling sesuai untuk alternatif-alternatif obat dengan manfaat dan keamanan yang sama dan paling terjangkau oleh pasien. g. Jenis obat yang paling mudah didapat (available). i. Sedikit mungkin kombinasi obat atau jumlah jenis obat. Banyak ketidakrasionalan terjadi oleh karena pemilihan obat-obat dengan manfaat dan keamanan yang tidak jelas atau pemilihan obat obat yang mahal padahal alternatif yang sama dengan harga lebih murah juga tersedia. c) Tepat penderita

Ketepatan pasien serta penilaiannya mencakup pertimbangan apakah ada kontraindikasi atau adakah kondisi-kondisi khusus yang memerlukan penyesuaian dosis secara individual. d) Tepat cara pemakaian dan dosis obat Cara pemakaian obat memerlukan pertimbangan farmakokinetika, yakni: cara pemberian, besar dosis, waktu pemberian, frekuensi pemberian dan lama pemberian, sampai ke pemilihan cara pemakaian yang paling mudah diikuti oleh pasien dan paling aman serta efektif untuk pasien. e) Tepat bentuk sediaan obat

Menentukan bentuk sediaan berdasarkan efek terapi maksimal, efek samping minimal, aman dan cocok, mudah, praktis, dan harga murah

Kejadian penulisan resep yang tidak rasional dilaporkan dalam suatu penelitian oleh Oviave (1989) yaitu 74,3 % disebabkan oleh penulisan resep yang tidak esensial, dalam suatu survey mengenai polifarmasi pada pasien di rumah sakit dilaporkan terjadi insidens efek samping, karena adanya kemungkinan interaksi obat.5 Bentuk-bentuk ketidakrasionalan pemakaian obat dapat dikelompokkan seperti berikut :6 1. Peresepan boros (extravagant), yakni peresepan dengan obat-obat yang lebih mahal padahal ada alternatif yang lebih murah dengan manfaat dan keamanan yang sama. Termasuk di sini mestinya adalah peresepan yang terlalu berorientasi ke pengobatan simtomatik sampai mengurangi alokasi obat-obat yang lebih vital. Misalnya pemakaian obat-obat antidiare yang berlebihan dapat menurunkan alokasi untuk oralit yang notabene lebih vital untuk menurunkan mortalitas. 2. Peresepan berlebihan (over prescribing), terjadi bila dosis obat, lama pemberian atau jumlah obat yang diresepkan melebihi ketentuan. Juga peresepan dengan obat-obat yang sebenarnya tidak diperlukan dapat dikategorikan dalam bentuk ketidak-rasionalan ini 3. Peresepan yang salah (incorrect prescribing), mencakup pemakaian obat untuk indikasi yang keliru, diagnosis tepat tetapi obatnya keliru, pemberian obat ke pasien salah. Juga pemakaian obat tanpa memperhitungkan kondisi lain yang diderita bersamaan. 4. Peresepan majemuk (multiple prescribing), yakni pemakaian dua atau lebih kombinasi obat padahal sebenarnya cukup hanya diberikan obat tunggal saja.

Termasuk di sini adalah pengobatan terhadap semua gejala yang mungkin tanpa mengarah ke penyakit utamanya. 5. Peresepan kurang (under prescribing) terjadi kalau obat yang diperlukan tidak diresepkan, dosis tidak cukup atau lama pemberian terlalu pendek. Penyebab dari pengobatan yang tidak rasional antara lain :7 a) Kurangnya informasi Kurangnya update informasi dari dokter mengenai pengobatan yang terbaru mengakibatkan kesalahan terapi. b) Kesalahan pelatihan atau pendidikan lulusan medis yang kurang memadai Kurangnya pelatihan klinis yang tepat mengenai menulis resep selama periode pelatihan, ketergantungan pada bantuan diagnostik, ketimbang klinis diagnosis, yang meningkat dari hari ke hari. c) Kurangnya komunikasi antara tenaga kesehatan dengan pasien Medical Practitioners & tenaga profesional kesehatan lainnya kurang memberikan waktu kepada pasien & tidak menjelaskan beberapa informasi dasar tentang menggunakan obat. d) Kurangnya fasilitas diagnostik atau ketidakpastian diagnostik Diagnosis yang benar adalah langkah penting menuju terapi obat rasional. Kesalahan diagnostik mengakibatkan kesalahan terapi. e) Permintaan dari pasien Untuk memenuhi harapan pasien dan permintaan bantuan secara cepat, dokter memberikan resep obat untuk setiap keluhan tunggal. Juga, ada keyakinan

10

bahwa "Setiap sakit memiliki pil" Semua ini meningkatkan kecenderungan dari polifarmasi. f) Sistem suplai yang kurang baik dan pengaturan obat yang tidak efektif Tidak adanya pengawasan obat secara teratur dan adanya peredaran jumlah obat yang besar di pasaran mengarahkan kecenderungan kepada pengobatan yang irrasional. g) Kegiatan promosi farmasi industri Program promosi obat yang menguntungkan dari berbagai industri farmasi mempengaruhi peresepan obat.

11

BAB II ANALISA RESEP

2.1 Resep Contoh Resep dari Poliklinik Tumbuh Kembang

12

Keterangan Resep Poliklinik Tanggal Nama Pasien No RMK Umur Jenis Kelamin Berat Badan Pendidikan Alamat Keluhan Utama Diagnosa : Tumbuh Kembang Anak RSUD Ulin Banjarmasin : 5 Maret 2012 : An. M. Naseh : 98 08 77 : 7 Tahun : Laki-laki : 19 kg : Tidak diketahui : Ratu Zaleha Gg. 9 Banjarmasin : Tidak dituliskan : TB paru

2.2 Analisis Resep 2.2.1. Penulisan Resep 1. Secara umum resep agak kurang jelas terbaca, suatu resep harus jelas dibaca sehingga tidak menimbulkan kesalahan dalam pemberian obatobatan. 2. Resep telah ditulis pada kertas resep dengan blanko R/ dimana ukuran kertas yang ideal adalah lebar 10-12 cm dan panjang 15-18 cm. Pada resep tersebut belum tepat karena ukuran panjangnya resep lebih panjang dari ketentuan, yaitu 21 cm.

13

3. Resep belum ditulis dengan bahasa Latin secara benar, dimana terdapat beberapa bagian yang belum menggunakan bahasa latin, seperti penulisan kata pagi, malam, dan 2d.d. yang seharusnya dapat dirubah menjadi bahasa Latin sehingga resep ini belum memenuhi kriteria penulisan resep yang benar.

2.2.2. Kelengkapan Resep 1. Nama dan Alamat Dokter Pada bagian atas tidak tercantum alamat rumah sakit. Nama dokter dan instansi/bagian Rumah Sakit tempat dokter tersebut bekerja (Unit Anak) telah tercantum. Nama pasien telah tertulis pada bagian atas dari resep tersebut. 2. Nama kota dan tanggal resep dibuat Nama kota telah tertulis di resep, disertai dengan tanggal resep tersebut dibuat. 3. Superscriptio Tanda R/ telah dicantumkan pada resep tersebut, dan tanda R/ selalu ada pada awal setiap nama obat yang akan diresepkan. 4. Inscriptio a. Jenis/bahan obat dalam resep ini terdiri dari : (1) Remedium cardinale atau obat pokok yang digunakan adalah antibiotik izoniazid 175mg, rifampisin 250mg, pirazinamid 450mg.

14

(2) Remedium adjuvants atau obat tambahan yang digunakan adalah Vitamin B6 1 tablet tanpa satuan mg dan Apialys. (3) Corrigens, dalam resep ini tidak disertakan tambahan zat yang berguna untuk memperbaiki rasa,warna atau bau obat, walaupun sebenarnya resep ini adalah resep marginalis, sehingga mengurangi dari kelengkapan resep. (4) Constituens atau vehikulum, dalam resep ini tidak digunakan. 5. Subscriptio Pada resep ini dicantumkan subscriptio yaitu m.f.l.a.pulv = mische fac lege artis pulveres = campur dan buatlah sesuai aturan obat berupa puyer. 6. Signatura/Transcriptio Pada setiap resep, aturan pakai ditandai dengan signatura, atau disingkat S. Penulisan aturan pakai resep ini sudah cukup lengkap, karena pada pemberian beberapa obat telah dicantumkan waktu pemakaian yaitu pagi atau malam, tetapi waktu pemberian sebelum atau sesudah makan tidak dicantumkan. 7. Identitas Pasien Pada resep ini hanya dicantumkan nama pasien. Sedangkan umur, dan alamat pasien tidak dicantumkan. Penulisan identitas pasien harus dilengkapi dengan alamatnya, untuk memudahkan penelusuran jika terjadi sesuatu dengan obat pasien. Selain itu, resep akan mudah

15

diberikan pada pasien tanpa khawatir dapat tertukar dengan resep pasien lainnya.

2.3.

Keabsahan Resep Pada resep tersebut telah tercantum tanda tangan dokter yang menulis

resep, dan juga nama dokter yang menulis resep, sehingga menjadikan resep ini sebuah bukti otentik. Pada resep ini hanya dicantumkan nama kota dan propinsi dari Rumah Sakit tersebut, namun tidak disebutkan alamat lengkap dari Rumah Sakit tersebut.

2.2.4. Dosis, Frekuensi, Lama dan Waktu Pemberian Obat 1. INH Isoniazid (isonikotinik hidrazil) adalah obat anti-tuberkulosis (OAT) yang sangat efektif saat ini, bersifat bakterisid dan sangat efektif terhadap kuman dalam keadaan metabolik aktif (kuman yang sedang berkembang) dan bersifat bakteriostatik terhadap kuman yang diam. Obat ini efektif pada intrasel dan ekstrasel kuman, dapat berdifusi ke dalam seluruh jaringan dan cairan tubuh termasuk CSS, cairan pleura, cairan asites, jaringan kaseosa, dan memiliki angka reaksi simpang (adverse reaction) yang sangat rendah.8 Isoniazid diberikan secara oral. Dosis harian yang biasa diberikan adalah 5 15 mg/kgBB/hari, maksimal 300 mg/hari, dan diberikan dalam satu kali pemberian. Isoniazid yang tersedia umumnya dalam bentuk tablet 100 mg dan 300

16

mg, dan dalam bentuk sirup 100 mg/5ml. Sediaan dalam bentuk sirup biasanya tidak stabil, sehingga tidak dianjurkan penggunaannya.8 Konsentrasi puncak di dalam darah, sputum, dan CSS dapat dicapai dalam 1 2 jam, dan menetap selama paling sedikit 6 8 jam. Isoniazid dimetabolesme melalui asetilasi di hati. Anak-anak mengeliminasi isoniazid lebih cepat daripada orang dewasa, sehingga memerlukan dosis mg/kgBB yang lebih tinggi daripada dewasa.8 2. Rifampisin Rifampisin bersifat bakterisid pada intrasel dan ekstrasel, dapat memasuki semua jaringan, dan dapat membunuh kuman semidorman yang tidak dapat dibunuh oleh isoniazid. Rifampisin diabsorpsi dengan baik melalui sistem gastroinstestinal pada saat perut kosong (1 jam sebelum makan), dan kadar serum puncak tercapai dalam 2 jam. Saat ini, rifampisin diberikan dalam bentuk oral dengan dosis 10 20 mg/kgBB/hari, dosis maksimal 600 mg/hari, dengan dosis satu kali pemberian perhari.8 Jika diberikan bersamaan dengan isoniazid, dosis rifampisin tidak melebihi 15 mg/kgBB/hari dan dosis isoniazid 10 mg/kgBb/hari. Seperti halnya isoniazid, rifampisin didistribusikan secara luas ke jaringan dan cairan tubuh, termasuk CSS. Ekskresi rifampisin terutama terjadi melalui traktus bilier. Kadar yang elektif juga dapat ditemukan di ginjal dan urin.8 3. Pirazinamid Pirazinamid adalah derivat dari nikotinamid, berpenetrasi baik pada jaringan dan cairan tubuh termasuk CSS, bakterisid hanya pada intrasel pada

17

suasana asam dan resorbsi baik pada saluran cerna. Pemberian pirazinamid secara oral sesuai dosis 15 30 mg/kgBB/hari dengan dosis maksimal 2 gram/hari. Kadar serum puncak 45g/ml dalam waktu 2 jam. Pirazinamid diberikan pada fase intensif karena pirazinamid sangat baik diberikan pada saat suasana asam, yang timbul akibat jumlah kuman masih sangat banyak. Penggunaan pirazinamid aman pada anak. Pirazinamid tersedia dalam bentuk tablet 500mg, tetapi seperti isoniazid, dapat digerus dan diberikan bersama dengan makanan.8 4. Apialys Merupakan suatu obat paten yang diindikasikan untuk meningkatkan nafsu makan. Dimana dalam 5ml mengandung berbagai macam vitamin yaitu, vitamin A, B1, B2, B6, B12, C, dan D. Dan juga mengandung nikotinamida, Lisin HC, [d]-pantoteno, dan asam l-glutamat. Dosis yang dianjurkan yaitu 1 sendok teh sekali sehari untuk dewasa dan anak-anak.9 5. Vitamin B6 Di alam vitamin ini terdapat dalam tiga bentuk yaitu piridoksin yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, serta piridoksal dan piridoksamin yang terutama berasal dari hewan. Ketiga bentuk piridoksin tersebut dalam tubuh diubah menjadi piridoksal fosfat. Kebutuhan manusia akan vitamin B6 (piridoksin) berhubungan dengan konsumsi protein yaitu kira-kira 2mg/100mg protein.10 Defisiensi piridoksin pada manusia dapat mengakibatkan : 10 1. Kelainan kulit berupa dermatitis seboroik dan peradangan pada selaput lendir mulut dan lidah 2. Kelainan SSP berupa perangsangan sampai timbulnya kejang

18

3. Gangguan sistem eritropoetik berupa anemia hipokromik mikrositer. Indikasi pemberian piridoksin adalah untuk mencegah atau mengobati neuritis perifer oleh obat misalnya isoniazid, sikloserin, hidralazin, penisilamin yang bekerja sebagai antagonis piridoksin dan atau meningkatkan ekskresinya melalui urin. Jika diberikan bersamaan dengan INH diperlukan dosis 10mg/hari. 10 Piridoksin, piridoksal dan piridoksamin mudah diabsorbsi melalui saluran cerna. Metabolit terpenting dari ketiga bentuk tersebut adalah 4-asam piridoksat. Ekskresi melalui urin terutama dalam bentuk 4-asam piridoksat dan piridoksal.10

2.2.5. Bentuk Sediaan Obat 1. Isoniazid (INH) Tersedia dalam bentuk tablet 100mg dan 300mg, dan juga sirup 10mg/ml.11 2. Rifampisin Tersedia dalam bentuk kapsul 150mg, 300mg. Tablet 450mg, 600mg. Sirup 20mg,100mg, atau 125mg/5ml.11 3. Pirazinamid Tersedia dalam bentuk tablet 250mg dan 500mg. 11 4. Vitamin B6 Tersedia dalam bentuk tablet 10mg, 25mg dan injeksi 100g/ml. 11 5. Apialys Tersedia dalam bentuk syrup 100ml. 9

19

2.2.6. Interaksi Obat Pemberian obat minum diatas terdiri atas 5 jenis obat. Penggunaan obat-obatan di atas tidak ada yang menimbulkan interaksi berupa penghambatan efek obat dan dapat dikombinasikan pemakaiannya.

2.2.7. Efek Samping Obat 1. Isoniazid Efek samping penggunaan INH adalah reaksi hipersensitivitas mengakibatkan demam, berbagai kelainan kulit berbentuk morbiliform, makulopapular, mulut terasa kering, rasa tertekan pada ulu hati, methemoglobinemia, tinnitus dan retensi urin.8,12 2. Rifampisin Efek samping yang muncul adalah ruam kulit, demam, mual dan muntah. Berbagai keluhan yang berhubungan dengan sistem saraf seperti rasa lelah, mengantuk, sakit kepala, pening, ataksia, bingung, sukar berkonsentrasi, sakit pada tangan dan kaki, dan melemahnya otot dapat juga terjadi. 8,12 3. Pirazinamid Efek samping yang kemungkinan muncul adalah hepatotoksisitas (dalam 1 5% penderita), mual, muntah, demam dan hiperurisemia. 10 4. Vitamin B6 Memiliki efek samping neuropati sensorik atau sindrom neuropati dalam dosis antara 50 mg-2 gram per hari untuk jangka panjang. Gejala awal dapat berupa

20

sikap yang tidak stabil dan rasa kebas di kaki, diikuti pada tangan dan sekitar mulut.10 5. Apialys Tidak disertakan dalam kemasan.9

2.2.8. Analisis Diagnosis Dengan diagnosa Tuberkulosis, kategori obat dapat dibagi dalam obatobat primer dan obat-obat sekunder.8,11,13 1. Obat primer meliputi isoniazid, rifampisin, pirazinamida, etambutol, dan streptomisin (kanamisin, amikasin). Obat-obat ini paling efektif dan paling rendah toksisitasnya, tetapi menimbulkan resistensi dengan cepat bila digunakan sebagai obat tunggal. Maka terapi selalu dilakukan dengan kombinasi 3-4 macam obat. Yang paling banayak digunakan adalah kombinasi INH, rifampisin dan pirazinamida. 2. Obat sekunder meliputi klofazimin, fluorokinolon, sikloserin, rifabutin dan asam p-aminosalisilat (PAS). Obat-obat ini memiliki kegiatan yang lebih lemah dan biasanya hanya digunakan bila terdapat resistensi atau intoleransi terhadap obat-obat primer. Fluorokinolon termasuk siprofloksasin memegang peranan penting pada TBC multi-resisten, dengan aktifitas yang bisa

disamakan dengan INH. Pengobatan tuberkulosis terdiri dari dua fase, yaitu fase pengobatan

intensif dan fase pemeliharaan.8,12

21

a. Fase intensif, terdiri dari isoniazid, rifampisin dan pirazinamid ditambah etambutol selama 2 bulan. Tetapi pada anak-anak, etambutol jarang diberikan dikarenakan potensi toksisitasnya pada mata. b. Fase pemeliharaan, menggunakan isoniazid bersama rifampisin. Pada status penderita tertulis bahwa diagnosa penyakit adalah TB paru, dimana menurut rekam medik bahwa anak pertama kali datang tanggal 5 Februari 2012 dan di diagnosa dengan TB paru. Jadi jika dilihat dari waktu penegakan diagnosis, anak ini menderita TB paru dimana sedang berada dalam fase intensif. Pada fase intensif, pengobatan yang diharus diberikan minimal terdiri dari tiga macam obat. Dimana obat yang diberikan adalah paduan antara rifampisin, pirazinamid, dan isoniazid. Indikasi Apialys pada anak ini tidak di jelas, sehingga perlu dipertimbangkan pemberian obat ini apakah sesuai dengan keadaan pasien. Kemungkinan pemberian ini ditujukan untuk membantu meningkatkan nafsu makan dan menambah vitamin, dimana sesuai dengan indikasi dari obat ini yaitu untuk merangsang dari nafsu makan. Tetapi dosis yang di berikan untuk anak ini tidak sesuai dengan dosis yang tertera pada kemasan obat, yaitu hanya diberikan 1 sendok teh sekali sehari. Berbeda dengan yang telah diresepkan yaitu pemberian sebanyak 1 sendok teh sebanyak 2 kali sehari pagi dan malam.9 Selain itu, jika hanya untuk menambah nafsu makan, ada baiknya hanya diberikan terapi non farmakologis kepada orang tua pasien tentang bagaimana kiat-kiat meningkatkan nafsu makan pada anak tanpa perlu memberikan obatobatan yang bersifat kimiawi.

22

2.3. Usulan Resep PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ULIN BANJARMASIN Jl. A.Yani km2 Banjarmasin telp. (0511)456789 Nama Dokter : dr. Gaban Tanda Tangan Dokter UPF/Bagian : Poli TumBang Kelas I / II / III / Utama Banjarmasin, 12 Oktober 2010 R/ INH tab 175mg Vitamin B6 tab 10mg SL q.s. m.f.l.a. pulv. d.t.d. no. XXX S s.d.d. pulv. I a.c (o.m.) R/ Rifampisin tab 190mg SL q.s. m.f.l.a. pulv. d.t.d. no. XXX S s.d.d. pulv. I a.c (o.m.) R/ Pirazinamid tab 450mg SL q.s. m.f.l.a. pulv. d.t.d. no. XXX S s.d.d. pulv. I a.c (o.m.)

Pro Umur Alamat RMK

: An. M. Naseh : 7 tahun (19 kg) : Jl. Ratu Zaleha Gg. 9 Banjarmasin : 98 08 77

23

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Berdasarkan analisis resep diatas dan berdasarkan 5 tepat pada resep rasional, maka resep tersebut : 1. Tepat obat Pemilihan obat dalam kasus sudah cukup tepat, walaupun pemberian obat Apialys tidak jelas indikasi pemberiannya. 2. Tepat dosis Pada resep ini sudah tepat dosis untuk obat antibiotic, tetapi untuk Apialys dosis yang diberikan melebihi dari dosis yang dianjurkan. 3. Tepat bentuk sediaan Penulisan kurang jelas namun bentuk sediaan yang diberikan sudah tepat yaitu puyer dan cair, cocok untuk anak-anak. 4. Tepat cara dan waktu penggunaan obat Pada resep ini obat diberikan per oral, hal ini sudah tepat sesuai dengan keadaan pasien yang masih bisa menelan obat. Mengenai waktu penggunaan obat tidak dituliskan dengan jelas kapan obat seharusnya diminum. 5. Tepat penderita Penggunaan obat telah sesuai dengan keadaan pasien anak-anak Berdasarkan analisis maka dapat disimpulkan bahwa resep tersebut masih ada beberapa kekurangan Waktu pemberian juga tidak dicantumkan.

24

3.2. Saran Tuberkulosis paru merupakan salah satu penyakit yang memerlukan keteraturan dalam hal peminuman obat, sehingga selain terapi farmakologis diperlukan juga terapi non farmakologis yaitu edukasi dan pemahaman kepada orang tua pasien agar pengobatan dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan oleh dokter yang memberikan terapi.

25

Anda mungkin juga menyukai