Anda di halaman 1dari 12

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Batu merupakan benda yang tidak asing lagi bagi kita.Sepintas mendengar kata batu tidak lebih dari seonggok benda mati yang berat dan murah harganyanamun Mereka berada dimana - mana dan sering kita jumpai dalam kehidupan sehari hari. Setiap kita menjumpai batu pasti kita membayangkan sifatnya yang keras. Dan dari yang kita ketahui Penyusun bumi ini sebagian adalah batu dan kunci pembentukan awalnya batu adalah dari sebyag magma karena magma merupakan induk dari segala macam batuan. Dikarenakan proses pendinginan yang berasal dari dalam bumi, sela atau diluar bumi maka akan terbentukanya sebuah susunan batu yang disebut batuan beku, dimulai dari proses penghancuran batu itu sendiri yang dilalui tanpa adanya perubahan kimia, mengendap dan berlapis-lapis serta mengalamai proses pembatuan. Batu juga dapat membantu kehidupan manusia dan batu sudah digunakan manusia dari zaman dahulu kala, dimana fungsi dan penggunaan hanya melalui proses yang sederhana. Batu yang ada di sekitar mereka sudah dimanfaatkan untuk berbagai keperluan dan aktivitas, Jenis yang beragam membuat manusia berpikir agar dapat mengolahnya menjadi berbagai macam bentuk dan fungsi Seiring dengan berkembangnya zaman dan kemajuan teknologi serta pola pikir manusia yang terus berkembang,batu sekarang telah diketahu setiap jenis dan sifat yang berbeda, yang dapat diolah menjadi berbagai macam keperluan sebagai penunjang keperluan kehidupan sehari hari. Jenis batuan mempunyai sifat yang berbeda. Sifat batuan tersebut meliputi bentuk, warna, kekerasan, tingkat kehalusan dan mengilap atau tidaknya batuan tersebut. Setiap jenis batuan tersebut lah yang akan manusia olah dengan fungsi sesuai sifat batuan tersebut.

1.2 Rumusan masalah Sebagaimana kita telah ketahui terdapat banyak sekali jenis jenis batuan yang memiliki perbedaan struktur dan sifat sifat yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari hari. Dengan mengetahuinya maka sebuah batu memberikan kontribusi yang sangat berarti dengan itu kita harus mengetahui sebuah struktur batu

itu sendiri dalam artian kita dapat memberikan perlakuan yang berbeda pada setiap batu untuk mengetahuinya Dalam jenis batuan yang kita ketahui terdapat ketinggian yang berbeda pada proses pembentukan batu. Dan untuk penelusuran akan kita telusuri apakah adanya sebuah perbedaan struktur, sifat dan bentuk secara umum dari setiap perbedaan ketinggian dimana batu itu dibentuk Penggunaan batu dalam kehidupan sehari hari untuk menunjang sebuah aktivitas manusia sangat amat beragam. Dan pada dasarnya kita harus mengetahui tujuan tujuan penggunaan batu dengan perbedaan sifat

1.3. Tujuan Penulisan Sebagaimana kita ketahui bahwa sebuah batu sudah dapat dijadikan kebutuhan manusia dari setiap aktivitas dalam kehidupan sehari hari. Oleh sebab itu kita harus mengetahui dan mengenal struktural batu dari setiap jenis batu yang ada disekitar kita dengan tujuan apakah terdapat perbedaan sebuah sifat dari jenis batu yang diambil dengan perbedaan ketinggian dari beberapa sampel yang kita ambil. Dengan mengetahui hasilnya perbedaan tersebut maka kita dapan mencari tahu apa kegunaan dari batuan tersebut dengan fungsi serta dilengkapi alasan alasan mengapa kita harus menggunakan batu tersebut sebagai penunjang manusia dalam setiap aktivitasnya 1.4. Manfaat Penulisan Dengan adanya penulisan makalah ini, diharapkan terdapat manfaat yang dapat diperoleh dan dapat digunakan bahkan di aplikasikan dalam kehidupan sehari hari. Manfaat yang terlihat jelas adalah kita dapat mengetahu sebuah perbedaan struktur jenis batuan yang diambil dari perbedaan tempat yaitu berupa ketinggian yang dimulai dari permukaan air laut. Dengan mengetahu setiap struktur batu tersebut kita dapat pengetahuan mengenai kegunaan batu dalam kehidupan sehari dengan berbagai macam fungsi dan bentuk lain nya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Batu Berdasarkan pentunjuk pada masa lampau, batu merupakan Zat padat pada bagian luar bumi. Batu telah terbentuk pada awal sejarahnya bumi ini tebentuk dan pembentukan itu akan terus berlangsung selama proses siklus pembentukan batu yang terbentuk hingga saat ini. Dari sebuah batu dapat menyimpan sebuah petunjuk bagaimana bumi ini berlangsung dari awal tebentuknya bumi hingga saat ini. Berbgai jenis batu dapat terbentuk akibat tiga cara yang pertama disebut Batuan piroklastik adalah batuan volkanik klastik yang dihasilkan oleh serangkaian proses yang berkaitan dengan letusan gunungapi. Material penyusun tersebut terendapkan dan terbatukan / terkonsolidasikan sebelum mengalami transportasi (reworked) oleh air atau es ( Williams, 1982). Pada kenyataanya batuan hasil kegiatan gunungapi dapat berupa aliran lava sebagaimana diklasifikasikan dalam batuan beku atau berupa produk ledakan/eksplosiv dari material yang bersifat padat, cair ataupun gas lalu terdapat batuan endapan / sedimen adalah batuan yang terbentuk akibat litifikasi bahan rombakan batuan asal atau hasil reaksi kimia maupun hasil kegiatan organisme.. Dimuka bumi ini dibandingkan dengan batuan beku, batuan endapan / sedimen sangatlah sedikit, 5 % volume walaupun demikian penyebarannya di muka bumi menempati lebih dari 65 % luasan. Oleh karena itu batuan endapan merupakan lapisan tipis di kulit bumi. Dan yang terakhir Batuan metamorf adalah hasil dari perubahan perubahan fundamental batuan yang sebelumnya telah ada. Proses metamorf terjadi dalam keadaan padat dengan perubahan kimiawi dalam batas- batas tertentu saja dan meliputi proses proses rekristalisasi, orientasi dan pembentukan mineral mineral baru dengan penyusunan kembali elemen elemen kimia yang sebenarnya telah ada.Metamorfosa adalah proses rekristalisasi di kedalaman kerak bumi (3 20km) yang keseluruhannya atau sebagian besar terjadi dalam keadaan padat, yakni tanpa melalui fasa cair. Proses metamorfosa suatu proses yang tidak mudah untuk dipahami karena sulitnya menyelidiki kondisi di kedalaman dan panjangnya waktu(Threez.2011).

2.2 Batuan Sedimen Sedimen merupakan bahan atau partikel yang terdapat di permukaan bumi (di daratan ataupun lautan), yang telah mengalami proses pengangkutan (transportasi) dari satu tempat (kawasan) ke tempat lainnya. Air dan angin merupakan agen pengangkut yang utama. Sedimen ini apabila mengeras (membatu) akan menjadi batuan sedimen. Faktor-faktor yang mengontrol terbentuknya sedimen adalah iklim, topografi, vegetasi dan juga susunan yang ada dari batuan. Sedangkan faktor yang mengontrol pengangkutan sedimen adalah air, angin, dan juga gaya gravitasi. Sedimen dapat terangkut baik oleh air, angin, dan bahkan salju/gletser. Mekanisme pengangkutan sedimen oleh air dan angin sangatlah berbeda. Pertama, karena berat jenis angin relatif lebih kecil dari air maka angin sangat susah mengangkut sedimen yang ukurannya sangat besar. Besar maksimum dari ukuran sedimen yang mampu terangkut oleh angin umumnya sebesar ukuran pasir. Kedua, karena sistem yang ada pada angin bukanlah sistem yang terbatasi (confined) seperti layaknya channel atau sungai maka sedimen cenderung tersebar di daerah yang sangat luas bahkan sampai menuju atmosfer. Sedimen-sedimen yang ada terangkut sampai di suatu tempat yang disebut cekungan. Di tempat tersebut sedimen sangat besar kemungkinan terendapkan karena daerah tersebut relatif lebih rendah dari daerah sekitarnya dan karena bentuknya yang cekung ditambah akibat gaya grafitasi dari sedimen tersebut maka susah sekali sedimen tersebut akan bergerak melewati cekungan tersebut. Dengan semakin banyaknya sedimen yang diendapkan, maka cekungan akan mengalami penurunan dan membuat cekungan tersebut semakin dalam sehingga semakin banyak sedimen yang terendapkan. Penurunan cekungan sendiri banyak disebabkan oleh penambahan berat dari sedimen yang ada dan kadang dipengaruhi juga struktur yang terjadi di sekitar cekungan seperti adanya patahan(Hartono.2007)

2.2.1 Cara Pengangkutan dan Pembentukan Cara yang pertama yaitu berupa Suspension cara ini umumnya terjadi pada sedimensedimen yang sangat kecil ukurannya (seperti lempung) sehingga mampu diangkut oleh aliran air atau angin yang ada.Lalu terdapat Bed load cara ini terjadi pada sedimen yang relatif lebih besar (seperti pasir, kerikil, kerakal, bongkah) sehingga gaya yang ada pada aliran yang bergerak dapat berfungsi memindahkan pertikel-partikel yang besar di dasar. Pergerakan dari butiran pasir dimulai pada saat kekuatan gaya aliran melebihi kekuatan inertia butiran pasir tersebut pada saat diam. Gerakan-gerakan sedimen tersebut bisa menggelundung, menggeser, atau bahkan bisa mendorong sedimen yang satu dengan
4

lainnya.Saltation yang dalam bahasa latin artinya meloncat umumnya terjadi pada sedimen berukuran pasir dimana aliran fluida yang ada mampu menghisap dan mengangkut sedimen pasir sampai akhirnya karena gaya grafitasi yang ada mampu mengembalikan sedimen pasir tersebut ke dasar.Pada saat kekuatan untuk mengangkut sedimen tidak cukup besar dalam membawa sedimen-sedimen yang ada maka sedimen tersebut akan jatuh atau mungkin tertahan akibat gaya gravitasi yang ada. Setelah itu proses sedimentasi dapat berlangsung sehingga mampu mengubah sedimen-sedimen tersebut menjadi suatu batuan sedimen. Material yang menyusun batuan sedimen adalah lumpur, pasir, kelikir, kerakal, dan sebagainya. Sedimen ini akan menjadi batuan sedimen apabila mengalami proses pengerasan(Stott 2007)

2.2.2 Proses Pembentukan Batu Sedimen Sedimen akan menjadi batuan sedimen melalui proses pengerasan atau pembatuan (lithifikasi) yang melibatkan proses pemadatan (compaction), sementasi (cementation) dan diagenesa dan lithifikasi. Ciri-ciri batuan sedimen adalah: (1). Berlapis (stratification), (2) Mengandung fosil, (3) Memiliki struktur sedimen, dan (4). Tersusun dari fragmen butiran hasil transportasi.Secara umumnya, sedimen atau batuan sedimen terbentuk dengan dua cara, yaitu Batuan sedimen yang terbentuk dalam cekungan pengendapan atau dengan kata lain tidak mengalami proses pengangkutan. Sedimen ini dikenal sebagai sedimen autochthonous. Yang termasuk dalam kelompok batuan autochhonous antara lain adalah batuan evaporit (halit) dan batugamping.Batuan sedimen yang mengalami proses transportasi, atau dengan kata lain, sedimen yang berasal dari luar cekungan yang ditransport dan diendapkan di dalam cekungan. Sedimen ini dikenal dengan sedimen allochthonous. Yang termasuk dalam kelompok sedimen ini adalah Batupasir, Konglomerat, Breksi, Batuan Epiklastik. Selain kedua jenis batuan tersebut diatas, batuan sedimen dapat dikelompokkan pada beberapa jenis, berdasarkan cara dan proses pembentukkannya, yaitu Terrigenous (detrital atau klastik). Batuan sedimen klastik merupakan batuan yang berasal dari suatu tempat yang kemudian tertransportasi dan diendapkan pada suatu cekungan. ContohKonglomerat atau Breksi, BatupasirBatulanau ,LempungSedimen kimiawi/biokimia (Chemical/biochemical).

Batuan sedimen kimiawi / biokimia adalah batuan hasil pengendapan dari proses kimiawi suatu larutan, atau organisme bercangkang atau yang mengandung mineral silika
5

atau fosfat. Batuan yang termasuk dalam kumpulan ini adalah Evaporit ,Batuan sedimen karbonat (batugamping dan dolomit) ,Batuan sedimen bersilika (rijang) , Endapan organik (batubara) dan Batuan volkanoklastik (Volcanoclastic rocks). Batuan volkanoklastik yang berasal daripada aktivitas gunungapi. Debu dari aktivitas gunungapi ini akan terendapkan seperti sedimen yang lain. Adapun kelompok batuan volkanoklastik adalah berupa Batupasir tufa dan AglomeratBatuan sedimen klastikBatuan yang terbentuk dari hasil rombakan batuan yang sudah ada (batuan beku, metamorf, atau sedimen) yang kemudian diangkut oleh media (air, angin, gletser) dan diendapkan disuatu cekungan. Proses pengendapan sedimen terjadi terus menerus sesuai dengan berjalannya waktu sehingga endapan sedimen semakin lama semakin bertambah tebal. Beban sedimen yang semakin tebal mengakibatkan endapan sedimen mengalami kompaksi. Sedimen yang terkompaksi kemudian mengalami proses diagenesa, sementasi dan akhirnya mengalami lithifikasi (pembatuan) menjadi batuan sedimen(Sutanto.2004).

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Definisi Umum Batuan tersusun atas berbagai jenis mineral, mineral ini terbentuk secara anorganik, dan alami. Batuan yang ada di alam terdiri atas : Batuan beku, yang merupakan hasil dari pembekuan magma. Batuan ini di bagi lagi menjadi batuan beku plutonik ( jika terbentuk di dalam ), porfiri ( gang ), dan ekstrusif ( di luar ). Batuan Metamorf, terbentuk karena adanya tekanan dan suhu yang tinggi, batuan ini terbentuk dari batuan beku dan sedimen. Batuan Metamorf dapat dibedakan berdasarkan ada tidaknya penjajaran batuannya menjadi foliasi dan non foliasi. Adapun penggolongan lain menjadi Metamorf kontak, Metamorf dinamo, dan Metamorf Pneumatolistis. Batuan sedimen, terbentuk dari batuan beku yang mengalami dislokasi akibat sebab tertentu, adapun urutannya sebagai berikut : pelapukan erosi deposisi litifikasi. Batuan ini dapat dibedakan menjad I dua golongan, yaitu : klastik dan non klastik. Batuan endapan atau batuan sedimen adalah salah satu dari tiga kelompok utama batuan (bersama dengan batuan beku dan batuan metamorfosis) yang terbentuk melalui tiga cara utama: pelapukan batuan lain (clastic); pengendapan (deposition) karena aktivitas biogenik; dan pengendapan (precipitation) dari larutan. Jenis batuan umum seperti batu kapur, batu pasir, dan lempung, termasuk dalam batuan endapan. Batuan endapan meliputi 75% dari permukaan bumi. Batuan sedimen (batuan endapan) adalah batuan yang terjadi akibat pengendapan materi hasil erosi. Sekitar 80% permukaan benua tertutup oleh batuan sedimen. Materi hasil erosi terdiri atas berbagai jenis partikel yaitu ada yang halus, kasar, berat dan ada juga yang ringan. Cara pengangkutannya pun bermacam-macam seperti terdorong (traction), terbawa secara melompat-lompat (saltion), terbawa dalam bentuk suspensi, dan ada pula yang larut (salution). Klasifikasi lebiih lanjut seperti berikut:

Berdasarkan proses pengendapannya


7

o o o

batuan sedimen klastik (dari pecahan pecahan batuan sebelumnya) batuan sedimen kimiawi (dari proses kimia) batuan sedimen organik (pengedapan dari bahan organik)

Berdasarkan tenaga alam yang mengangkut


o o o o

batuan sedimen aerik (udara) batuan sedimen aquatik (air sungai) batuan sedimen marin (laut) batuan sedimen glastik (gletser)

Berdasarkan tempat endapannya


o o o o

batuan sedimen limnik (rawa) batuan sedimen fluvial (sungai) batuan sedimen marine (laut) batuan sedimen teistrik (darat)

Penamaan batuan sedimen biasanya berdasarkan besar butir penyusun batuan tersebut. Penamaan tersebut adalah: breksi, konglomerat, batupasir, batulanau, batulempung.

Breksi adalah batuan sedimen dengan ukuran butir lebih besar dari 2 mm dengan bentuk butitan yang bersudut

Konglomerat adalah batuan sedimen dengan ukuran butir lebih besar dari 2 mm dengan bentuk butiran yang membudar

Batu pasir adalah batuan sedimen dengan ukuran butir antara 2 mm sampai 1/16 mm Batu lanau adalah batuan sedimen dengan ukuran butir antara 1/16 mm sampai 1/256 mm

Batu lempung adalah batuan sedimen dengan ukuran butir lebih kecil dari 1/256 mm

3.2 Hasil Pengamatan Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh penulis, sampel data yang diambil dan diamati adalah batuan yang berasal dari daerah Batu, sekeliling sungai Brantas, dan sekitar daerah Sigura-gura. Menurut sampel yang diambil, batuan tersebut tergolong pada batuan sedimen karena berdasarkan spesifikasi yang diamati oleh penulis, batuan tersebut cocok dengan spesifikasi batuan sedimen.

Pada umumnya, batuan sedimen dapat dikenali dengan mudah di lapangan dengan adanya pelapisan. Pelapisan pada batuan sedimen disebabkan oleh perbedaan jenis butir misalnya antara batu pasir dan batu lempung serta perbendaan warna dari batuan tersebut. Selain itu, struktur dari sedimen juga menjadi penciri dari batuan sedimen, seperti struktur silang siur atau struktur gelembur gelombang. Ciri lainnya adalah sifat klasik, yaitu yang tersusun dari fragmen-fragmen lepas hasil pelapukan batuan yang kemudian tersemenkan menjadi batuan sedimen klastik. Sedimen klastik. Disamping itu, kandungna fosil juga menjadi penciri dari batuan sedimen , mengingat fosil terbentuk sebagai akibat dari organisme yang terperangkap ketika batuan tersebut diendapkan. Pada hakekatnya tekstur adalah hubungan antara butir/mineral yang terdapat di dalam batuan. Sebagaimana diketahui bahwa tekstur yang terdapat dalam batuan sedimen terdiri dari fragmen batuan/mineral dan matrik (masa dasar). Adapun yang termasuk dalam tekstur pada batuan sedimen klastik terdiri dari besar butir, bentuk butir, kemas (fabric), pemilahan (sorting), sementasi, porositas (kesarangan), dan permeabilitas (kelulusan). Besar butir adalah ukuran butir dari material penyusun batuan sedimen. Bentuk butir pada sedimen klastik dibagi menjadi : Rounded (membundar), Sub-rounded (membundar tanggung), Sub-angular (menyudut tanggung), dan angular (menyudut). Kemas (fabric) adalah hubungan antara masa dasar dengan fragmen batuan/mineralnya. Kemas pada batuan sedimen ada dua yaitu kemas terbuka dan kemas tertutup. Kemas terbuka yaitu hubungan antara masa dasar dan fragmen butiran yang kontras sehingga terlihat fragmen butiraan mengambang diatas masa dasar batuan. Kemas tertutup yaitu hubungan antara fragmen butiran yang relatif seragam sehingga menyebabkan masa dasar tidak terlihat. Pemilahan (sorting) adalah keseragaman ukuran butir dari fragmen penyusun batuan. Sementasi (cement) adalah pengikat antar butir dari fragmen penyusun batuan, misalnya: karbonat, silika, dan oksida besi. Porositas (kesarangan) adalah ruang yang terdapat diantara fragmen butiran yang ada pada batuan. Jenis porositas pada batuan sedimen adalah porositas baik, porosita sedang, dan porositas buruk. Permeabilitas adalah sifat yang dimiliki oleh batuan untuk dapat meloloskan air. Jenis permeabilitas pada batuan sedimen adalah permeabilitas baik, sedang, dan buruk. Menurut klasifikasi diatas, pada sampel yang diambil di derah Batu, berdasarkan hasil pengendapannya, batuan tersebut termasuk golongan batuan sedimen klastik dan berdasarkan tempat mengendapnya, batuan tersebut termasuk ke dalam sedimen teristrik. Menurut besar
9

butir, batuan tersebut masuk dalam kelompok batu pasir karena memiliki ukuran butir 1mm dengan bentuk butir membundar. Kemasnya termasuk kemas terbuka, porositasnya sedang, dan memiliki permeabilitas yang sedang. Menurut struktur seperti itu, batuan tersebut dapat dimanfaatkan menjadi.................................. Pada sampel yang diambil di daerah sungai Brantas, berdasarkan hasil pengendapannya batuan tersebut termasuk golongan

10

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan Pembentukan bebagai mineral di alam akan menghasilkan berbagai bentuk dan jenis batuan tertentu. Batuan tersusun atas berbagai jenis mineral, mineral ini terbentuk secara anorganik, dan alami. Batuan yang ada di alam terdiri atas batuan beku, batuan metamorf dan batuan sedimen. Pada pengamatan kali ini, menurut sampel yang diambil dari berbagai lokasi yaitu daerah Batu, sungai Brantas, dan daerah Sigura-gura, menurut klasifikasi batuan dan data yang diperoleh dari hasil pengamatan, batuan tersebut merupakan contoh dari batuan sedimen. Batuan sedimen adalah salah satu dari tiga jenis batuan yang terbentuk melalui tiga cara utama: pelapukan batuan lain (clastic); pengendapan (deposition) karena aktivitas biogenik; dan pengendapan (precipitation) dari larutan.

11

DAFTAR PUSTAKA

Hartono.2007, Geografi :Jelajah bumi , Citra Praya. bandung

Carole Stott, 2007 , Bencana alam. Erlangga Jakarta

Indah Threez, 2011 Batuan, Mineral dan Fosil . Erlangga 2005

Rachman Sutanto, 2004 , Dasar" ilmu Tanah dan kenyataan. Kanisius. jakarta

12