Anda di halaman 1dari 19

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A.

Epidemiologi Penyakit Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari penyakit, mencakup studi

tentang pola-pola penyakit serta pencarian determinan-determinan penyakit tersebut. Epidemiologi dapat diartikan sebagai studi tentang penyebaran penyakit pada manusia di dalam konteks lingkungannya Dalam batasan epidemiologi ini sekurang-kurangnya mencakup tiga elemen, yakni:2 a. Mencakup semua penyakit Epidemiologi mempelajari semua penyakit, baik penyakit infeksi maupun non-infeksi, seperti kanker, penyakit kekurangan gizi, kecelakaan lalu lintas maupun kecelakaan kerja, sakit jiwa dan sebagainya. Bahkan negara-negara maju epidemiologi ini mencakup juga kegiatan pelayanan kesehatan. b. Populasi Apabila kedokteran klinik berorientasi pada gambaran-gambaran penyakit individu, maka epidemiologi ini memusatkan perhatiannya pada distribusi penyakit pada populasi (masyarakat) atau kelompok.

c. Pendekatan ekologi Frekuensi dan distribusi penyakit dikaji dari latar belakang pada kesehatan lingkungan manusia baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Hal inilah yang dimaksud pendekatan ekologis. Terjadinya penyakit pada seseorang dikaji dari manusia dan total lingkungan. Di dalam epidemiologi penyebaran penyakit biasanya timbul pertanyaan yang perlu dianalisis, yakni:2 Siapa (who). Siapakah yang menjadi sasaran penyebaran penyakit itu atau orang yang terkena penyakit. Di mana (where). Di mana penyebaran atau terjadinya penyakit. Kapan (when). Kapan penyebaran atau terjadinya penyakit tersebut. Jawaban atau pertanyaan-pertanyaan ini merupakan faktor-faktor yang menentukan terjadinya suatu penyakit. Dengan kata lain terjadinya atau penyebaran suatu penyakit ditentukan oleh 3 faktor utama, yakni: orang, tempat, dan waktu.2 Peranan epidemiologi, khususnya dalam konteks program kesehatan adalah sebagai alat (tool) dan sebagai metode atau pendekatan. Epidemiologi sebagai alat dapat diartikan bahwa dalam melihat suatu masalah selalu mempertanyakan siapa yang terkena masalah, di mana dan bagaimana penyebaran masalah, serta kapan penyebaran masalah itu terjadi.3 Demikian pula pendekatan pemecahan masalah tersebut selalu dikaitkan dengan masalah, di mana atau dalam lingkungan bagaimana penyebaran masalah

serta bilamana masalah tersebut terjadi. Kegunaan lain dari epidemiologi khususnya dalam program kesehatan adalah ukuran-ukuran epidemiologi seperti, prevalensi, point of prevalence, dan sebagainya dapat digunakan dalam perhitungan-perhitungan: prevalensi, kasus baru, case fatality rate, dan sebagainya.3

B.

Pengukuran Epidemiologi Penyakit Bagian dari epidemiologi bertujuan melihat bagaimana penyebaran kesakitan

dan kematian menurut sifat-sifat orang, tempat dan waktu. Dalam hubungan dengan kesakitan yaitu incidence rate, prevalence rate (point period prevalence rate), attack rate, dan dalam hubungan dengan kematian yaitu crude death rate, disease specific rate dan adjusted death rate.2 Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum mengukur suatu epidemiologi penyebaran penyakit adalah sebagai berikut:2 1) Untuk penyusunan rate dibutuhkan tiga elemen, yaitu (a) jumlah orang yang terserang penyakit atau yang meninggal, (b) jumlah penduduk dari mana penderita berasal (reference population), dan (c) waktu atau periode di mana orang-orang terserang penyakit. 2) Apabila pembilang terbatas pada umur, seks, atau golongan tertentu maka penyebut juga harus terbatas pada umur, seks, atau golongan yang sama. 3) Bila penyebut terbatas pada mereka yang dapat terserang atau terjangkit penyakit, maka penyebut tersebut dinamakan populasi yang mempunyai risiko (population at risk)
5

Ukuran-ukuran epidemiologi merupakan ukuran-ukuran frekuensi penyakit yang menggambarkan karakteristik kejadian (occurrence) suatu penyakit atau masalah kesehatan di dalam populasi. Ukuranukuran epidemiologi tersebut, adalah:3 1. Proporsi Proporsi merupakan perbandingan yang pembilangnya merupakan bagian dari penyebut. Proporsi digunakan untuk melihat komposisi suatu variabel dalam populasi. Apabila menggunakan angka dasar (konstanta) adalah 100, maka disebut persentase.3 Proposi = X X+Y Contoh: Proposi penduduk wanita dan laki laki : Jika penduduk wanita 30 orang dan penduduk laki laki adalah 50 orang. Proporsi penduduk wanita = 37,5% Proporsi penduduk laki-laki = 62,5% 2. Ratio Ratio merupakan perbandingan antara dua kejadian atau dua hal antara numerator dan denominator tidak saling tergantung atau tidak ada sangkut pautnya. Ratio digunakan untuk menyatakan besarnya kejadian. Ratio dapat juga dinyatakan sebagai perbandingan.3 xK

Ratio = X x K Y Contoh: Sex ratio DKI Jakarta: Jika laki-laki ada 40 orang dan perempuan 60 orang Maka rationya = 1 : 1,5 3. Rate Rate adalah perbandingan antara suatu kejadian dengan jumlah penduduk yang mempunyai risiko kejadian tersebut, menyangkut interval waktu tertentu. Rate untuk menyatakan dinamika dan kecepatan kejadian dalam suatu populasi masyarakat tertentu. Contohnya, penyakit campak berisiko pada balita dan penyakit cancer servik berisiko pada wanita.3 Rate = X x K Y X : Jumlah kejadian tertentu yang terjadi dalam kurun waktu tertentu. Y : Jumlah penduduk yang mempunyai risiko mengalami kejadian terttentu dalam kurun waktu tertentu ( pop. At risk) K : konstanta (angka dasar) Setiap gangguan di dalam fungsi maupun struktur tubuh seseorang dianggap sebagai penyakit. Penyakit, sakit, cedera, gangguan dan sakit, semuanya dikategorikan di dalam istilah tunggal morbiditas.2

Morbiditas merupakan derajat sakit, cedera atau gangguan pada suatu populasi. Morbiditas juga merupakan suatu penyimpangan dari status sehat dan sejahtera atau keberadaan suatu kondisi sakit. Morbiditas mengacu pada angka kesakitan yaitu jumlah orang yang sakit dibandingkan dengan populasi tertentu yang sering kali merupakan kelompok yang sehat atau kelompok yang berisiko.2 Di dalam Epidemiologi, ukuran utama morbiditas adalah angka insidensi dan prevalensi dan berbagai ukuran turunan dari kedua indikator tersebut. Setiap kejadian penyakit, kondisi gangguan atau kesakitan dapat diukur dengan angka insidensi dan angka prevalensi.2 1. Incidence Rate Incidence rate dari suatu penyakit tertentu adalah jumlah kasus baru yang terjadi di kalangan penduduk selama periode waktu tertentu.2

Incidence rate =

Jumlah kasus baru suatu penyakit selama periode tertentu Populasi yang mempunyai risiko X 1000

Contoh: Pada bulan Desember 2008 di Kecamatan X terdapat penderita campak 80 anak balita. Jumlah anak yang mempunyai risiko penyakit tersebut (anak balita) di Kecamatan X= 8.000. Maka incidence rate penyakit campak tersebut adalah: 80 8.000 X 1000 = 10

Beberapa catatan:2 a. Di dalam mempelajari incidence rate diperlukan penentuan waktu atau saat timbulya penyakit. Bagi penyakit-penyakit yang akut seperti influenza, infeksi staphylococcus, gastroenteritis, acute myocardial infarction, dan cerebral hemorrhage, penentuan incidence rate ini tidak begitu sulit berhubung waktu terjadinya dapat diketahui secara pasti atau mendekati pasti. Lain halnya dengan penyakit dimana timbulnya tidak jelas, waktu ditegakkan diagnosis pasti diartikan sebagai waktu mulai penyakit. b. Incidence rate selalu dinyatakan dalam hubungan dengan periode waktu tertentu seperti bulan, tahun, dan seterusnya. Apabila penduduk berada dalam ancaman diserangnya penyakit hanya untuk waktu terbatas (seperti hanya dalam epidemi suatu penyakit infeksi), maka periode waktu terjadinya kasus-kasus baru adalah sama dengan lamanya epidemi. Insidence rate pada suatu epidemi itu disebut attack rate. Manfaat incidence rate adalah:4 - Mengetahui masalah kesehatan yang dihadapi - Mengetahui risiko untuk terkena masalah kesehatan yang dihadapi - Mengetahui beban tugas yang harus diselenggarakan oleh suatu fasilitas pelayanan kesehatan.

2.

Attack rate Attack rate yaitu jumlah penderita baru suatu penyakit yang ditemukan pada suatu saat dibandingkan dengan jumlah penduduk yang mungkin terkena penyakit tersebut pada saat yang sama.4 Attack rate = Jumlah kasus selama epidemi Populasi yang mempunyai risiko-risiko Contoh: Pada waktu terjadinya wabah morbili di Kelurahan Y pada tahun 2007, terdapat 18 anak yang menderita morbili. Jumlah anak yang mempunyai risiko di kelurahan tersebut = 2000 anak. Attack rate penyakit tersebut adalah: 18 X 1000 = 9 2.000 c. Untuk penyakit yang jarang maka incidence rate dihitung untuk periode waktu bertahun-tahun. Di dalam periode waktu yang panjang ini penyebut dapat berubah karena dalam waktu itu jumlah populasi yang mempunyai risiko juga dapat berubah. d. Pengetahuan mengenai incidence rate berguna di dalam mempelajari faktorfaktor etiologi dari penyakit yang akut maupun kronis. Incidence rate adalah salah satu ukuran langsung dari kemungkinan (probabilitas) untuk menjadi sakit. Dengan membandingkan incidence rate suatu penyakit dari berbagai penduduk yang berbeda di dalam satu atau lebih faktor (keadaan)
10

X 1000

maka kita dapat memperoleh keterangan faktor mana yang menjadi faktor risiko dari penyakit bersangkutan. Kegunaan seperti ini tidak dipunyai oleh prevalence rate. Manfaat attack rate adalah :4 Memperkirakan derajat serangan atau penularan suatu penyakit. Makin tinggi nilai AR, maka makin tinggi pula kemampuan

Penularan penyakit tersebut. 3. Prevalence Rate Prevalence rate mengukur jumlah orang di kalangan penduduk yang menderita suatu penyakit pada satu titik waktu tertentu.2 Prevalence rate = Jumlah kasus-kasus penyakit yang ada pada satu titik waktu Jumlah penduduk seluruhnya Contoh: Kasus penyakit TBC paru di Kecamatan W pada waktu dilakukan survey pada Juli 2008 adalah 96 orang dari 24.000 penduduk di kecamatan tersebut. Maka Prevalence Rate TBC di Kecamatan W adalah: 96 X 1000 = 4 X 1000

24.000 Catatan:2

11

a. Prevalence rate bergantung pada dua faktor (a) berapa jumlah orang yang telah sakit pada waktu lalu dan (b) lamanya menderita sakit. Meskipun hanya sedikit orang yang sakit dalam setahun, apabila penyakit tersebut kronis, jumlahnya akan meningkat dari tahun ke tahun dan dengan demikian prevalence rate secara relatif akan lebih tinggi dari incidence rate. Sebaliknya, apabila penyakitnya akut (lamanya sakit pendek baik oleh karena penyembuhan ataupun kematian, maka prevalence rate secara relatif akan lebih rendah daripada incidence rate. b. Prevalence rate terutama untuk penyakit kronis, penting untuk perencanaan kebutuhan fasilitas, tenaga, dan pemberantasan penyakit. Prevalence yang dibicarakan di atas point prevalence. Jenis ukuran lain yang digunakan ialah period prevalence. 4. Period Prevalence Rate Period prevalence rate adalah jumlah penderita lama dan baru suatu penyakit yang ditemukan pada suatu jangka waktu tertentu dibagi dengan jumlah penduduk pada pertengahan jangka waktu yang bersangkutan Nilai period prevalence rate hanya digunakan untuk penyakit yang sulit diketahui saat munculnya, misalnya pada penyakit kanker dan kelainan jiwa.5 Period prevalence = Jumlah kasus penyakit selama period X 1000

Penduduk rata-rata dari periode tersebut (mid period population)

12

Contoh: Pada periode tahun 2008 (Januari-Desember) di Kelurahan A terdapat 75 penderita malaria. Pada pertengahan tahun 2008 penduduk Kelurahan A berjumlah 5000 orang. Maka period prevalence malaria di kelurahan A adalah: 75 5000 X 1000 = 15

5.

Point Prevalence Rate Point prevalence rate adalah jumlah penderita lama dan baru suatu penyakit pada suatu saat dibagi dengan jumlah penduduk pada saat itu. Dapat dimanfaatkan untuk mengetahui mutu pelayanan kesehatan yang

diselenggarakan.5

Jumlah penderita lama & baru saat itu Point prevalence rate = xK Jumlah penduduk saat itu

Mortalitas merupakan istilah epidemiologi dan data statistik vital untuk kematian. Dikalangan masyarakat, ada 3 hal umum yang menyebabkan kematian, yaitu:6 a) Degenerasi organ vital dan kondisi terkait, b) Status penyakit,

13

c) Kematian akibat lingkungan atau masyarakat ( bunuh diri, kecelakaan, pembunuhan, bencana alam, dsb.) Macam macam angka kematian (mortality rate/mortality ratio) dalam epidemiologi antara lain:6 1. Angka Kematian Kasar (Crude Death Rate) 2. Angka Kematian Perinatal (Perinatal Mortality Rate) 3. Angka Kematian Bayi Baru Lahir (Neonatal Mortality Rate) 4. Angka Kematian Bayi (Infant Mortalaity Rate) 5. Angka Kematian Balita (Under Five Mortalaty Rate) 6. Angka Kematian Pasca-Neonatal (Postneonatal Mortality Rate) 7. Angka Lahir Mati / Angka Kematian Janin (Fetal Death Rate) 8. Angka Kematian Ibu (Maternal Mortality Rate) 9. Angka Kematian Spesifik Menurut Umur (Age Specific Death Rate) 10. Angka Kematian Akibat Penyakit Tertentu (Cause Disease Spesific Death Rate) 11. Case Fatality Rate (CFR) 1. Angka Kematian Kasar (Crude Death Rate) Crude Death Rate jumlah semua kematian yang ditemukan pada satu jangka waktu (umumnya 1 tahun) dibandingkan dengan jumlah penduduk pada pertengahan waktu yang bersangkutan. Istilah crude (kasar) digunakan karena setiap aspek kematian tidak memperhitungkan usia, jenis kelamin, atau variabel lain.6

14

Catatan:2 a. Jumlah penduduk disini bukanlah merupakan penyebut yang sebenarnya, oleh karena berbagai golongan umur mempunyai kemungkinan mati yang berbedabeda, sehingga perbedaan dalam susunan umur antara beberapa penduduk akan menyebabkan perbedaan dalam crude death rate meskipun rate untuk berbagai golongan umur sama. b. Kekurangan-kekurangan dari crude death rate ini adalah (1) terlalu menyederhanakan pola yang kompleks dari rate, dan (2) penggunaannya dalam perbandingan angka kematian antarberbagai penduduk yang mempunyai susunan umur yang berbeda-beda, tidak dapat secara langsung melainkan harus melalui prosedur penyesuaian (adjustment). c. Crude death rate digunakan untuk perbandingan-perbandingan menurut waktu dan perbandingan-perbandingan internasiomal. 2. Angka Kematian Perinatal (Perinatal Mortality Rate) Periode yang paling besar resiko kematiannya bagi umat manusia adalah periode perinatal dan periode setelah usia 60 tahun. Di dalam kedokteran klinis, evaluasi terhadap kematian anak dalam beberapa hari atau beberapa jam bahkan

15

beberapa menit setelah lahir merupakan hal yan penting agar kematian dan kesakitan yang seharusnya tidak perlu terjadi dalam periode tersebut bisa dicegah.6 PMR adalah jumlah kematian janin yang dilahirkan pada usia kehamilan 28 minggu atau lebih ditambah dengan jumlah kematian bayi yang berumur kurang dari 7 hari yang dicatat selama 1 tahun per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama.6

3. Angka Kematian Bayi Baru Lahir (Neonatal Mortality Rate) Angka kematian bayi baru lahir (neonatal mortality rate) adalah jumlah kematian bayi berumur kurang dari 28 hari yang dicatat selama 1 tahun per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama.6 Manfaat NMR adalah untuk mengetahui:6 a) Tinggi rendahnya usaha perawatan postnatal b) Program imunisasi c) Pertolongan persalinan d) Penyakit infeksi, terutama saluran napas bagian atas.

16

4. Angka Kematian Bayi (Infant Mortalaity Rate) Angka kematian bayi (Infant Mortalaity Rate) adalah jumlah seluruh kematian bayi berumur kurang dari 1 tahun yang dicatat selama 1 tahun per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama.6

5. Angka Kematian Balita (Under Five Mortalaty Rate) Angka kematian balita (Under Five Mortalaty Rate) adalah jumlah kematian balita yang dicatat selama 1 tahun per 1000 penduduk balita pada tahun yang sama.6

6. Angka Kematian Pasca-Neonatal (Postneonatal Mortality Rate) Angka kematian pasca-neonatal (Postneonatal Mortality Rate) diperlukan untuk menelusuri kematian di negara belum berkembang , terutama pada wilayah
17

tempat bayi meninggal pada tahun pertama kehidupannya akibat malnutrisi, defisiensi nutrisi, dan penyakit infeksi.6 Postneonatal mortality rate adalah kematian yang terjadi pada bayi usia 28 hari sampai 1 tahun per 1000 kelahiran hidup dalam satu tahun.6

7. Angka Lahir Mati /Angka Kematian Janin (Fetal Death Rate) Kematian janin adalah kematian yang terjadi akibat keluar atau

dikeluarkannya janin dari rahim, terlepas dari durasi kehamilannya. Jika bayi tidak bernafas atau tidak menunjukkan tanda tanda kehidupan saat lahir, bayi dinyatakan meninggal. Tandatanda kehidupan biasanya ditentukan dari pernapasan, detak jantung, detak tali pusat atau gerakan otot volunter.6 Angka kematian janin adalah proporsi jumlah kematian janin yang dikaitkan dengan jumlah kelahiran pada periode waktu tertentu, biasanya 1 tahun.6

18

8. Angka Kematian Ibu (Maternal Mortality Rate) Angka Kematian Ibu (Maternal Mortality Rate) adalah jumlah kematian ibu sebagai akibat dari komplikasi kehamilan, persalinan dan masa nifas dalam 1 tahun per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama.6 Tinggi rendahnya MMR berkaitan dengan:6 a) Sosial ekonomi b) Kesehatan ibu sebelum hamil, bersalin dan nifas c) Pelayanan kesehatan terhadap ibu hamil d) Pertolongan persalinan dan perawatan masa nifas.

9. Angka Kematian Spesifik Menurut Umur (Age Specific Death Rate) Sebagai contoh age spesific death rate pada golongan umur 20-30 tahun:2 Age Spesific Death Rate = Jumlah kematian umur 20-30 tahun di daerah dalam waktu satu tahun X 1000

Jumlah penduduk berumur antara 20-30 tahun pada daerah dan tahun yang sama

19

Contoh: Jumlah penduduk Kecamatan B yang berumur 20-30 tahun pada pertengahan tahun 2008 adalah 1000 orang. Dari jumlah tersebut selama tahun 2008 meninggal 3 orang. Jadi age spesific death rate adalah: 3 1000 10. Angka Kematian Akibat Penyakit Tertentu (Cause Disease Spesific Death Rate) Sebagai contoh kematian karena TBC2 Cause (TB) Spesific Death Rate = Jumlah kematian karena TBC di suatu daerah dalam waktu satu tahun X 1000 X 1000 = 3

Jumlah penduduk rata-rata (pertengahan tahun) pada daerah dan tahun yang sama Contoh: Pada pertengahan tahun 2008 di Kecamatan C jumlah penduduknya 2000. Selama tahun 2008 terdapat 3 orang yang meninggal karena TBC. Maka kematian akibat TBCadalah: 3 2000 X 1000 = 1,5

20

11. Case Fatality Rate Case fatality rate (CFR) adalah persentase angka kematian oleh sebab penyakit tertentu, untuk menentukan kegawatan/ keganasan penyakit tersebut.7 CFR = Jumlah kematian akibat penyakit x 100% Jumlah kasus penyakit

21