Anda di halaman 1dari 17

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Prolaps uteri adalah turunnya uterus dari tempat yang biasa oleh karena

kelemahan otot atau fascia yang dalam keadaan normal menyokong uterus. Atau turunnya uterus melalui dasar panggul atau hiatus genitalis. Prolaps uteri lebih sering ditemukan pada wanita yang telah melahirkan, wanita tua, dan wanita yang bekerja berat. Pertolongan persalinan yang tidak terampil seperti memimpin meneran pada saat pembukaan rahim belum lengkap, perlukaan jalan lahir yang dapat menyebabkan lemahnya jaringan ikat penyangga vagina, seorang ibu dengan multigravida sehingga jaringan ikat di bawah panggul kendor, juga dapat memicu terjadinya prolaps uteri. Prolaps uteri terjadi karena kelemahan ligamen endopelvik terutama ligamentum tranversal dapat dilihat pada nullipara dimana terjadi elangosiokoli disertai prolapsus uteri tanpa sistokel tetapi ada enterokel.Pada keadaan ini fasia pelvis kurang baik pertumbuhannya dan kurang ketegangannya. Faktor penyebab lain yang sering adalah melahirkan dan menopause.Persalinan lama dan sulit,meneran sebelum pembukaan lengkap,laserasi dinding vagina bawah pada kala II,penatalaksanaan pengeluaran plasenta,reparasi otot-otot dasar panggul menjadi atrofi dan melemah.Oleh karena itu prolaps uteri tersebut akan terjadi bertingkat-tingkat.

BAB 2 PEMBAHASAN

2.1 Definisi Prolaps uteri adalah keadaan dimana turunnya uterus melalui hiatus genitalois yang disebabkan kelmahan ligament-ligamen,fasia ( sarung ) dan otot Dasar panggul yang menyongkong uterus. Sehingga dinding vagina depan jadi tipis dan disertai penonjolan kedalam lumen vagina. Prolapsus uteri adalah pergeseran letak uterus ke bawah sehingga serviks berada di dalam orifisium vagina ( prolapsus derajat 1 ), serviks berada di luar orifisium (prolapsus derajat 2 ), atau seluruh uterus berada di luar orifisium.

2.2

Epidemiologi Kejadian prolaps uteri semakin lama makin berkurang sejalan dengan

menurunnya paritas. Kini, paritas berkisar antara 2-3 kali, dan makin banyak persalinan dilakukan oleh tenaga terlatih atau professional. Kejadian prolaps uteri disebabkan kombinasi antara paritas tinggi dan umur penderita. Yang dijumpai saat ini, sebagian besar berusia sekitar 50 tahun keatas dengan paritas lebih dari 4 orang, pertolongan persalinan dilakukan oleh tenaga medis umumnya seperti, bidan dan dukun. Dengan meningkatnya pengetahuan dan social ekonomi masyarakat, makin banyak persalinan dilakukan dirumah sakit dengan paritas yang kecil sehingga kejadian prolaps uteri makin berkurang.

Prolaspsus uteri lebih sering dijumpai pada wanita yang telah melahirkan, wanita tua dan wanita dengan pekerjaan yang berat. Djafar Siddik pada penyelidikan selama 2 tahun (1969-1971) memperoleh 63 kasus prolapsus dari 5.372 kasus ginekologi di RS Dr. Pirngadi, Medan. Terbanyak pada grande multipara dalam masa menopause. Dari 63 kasus tersebut, 69 % berumur 40 tahun. Walaupun jarang sekali prolapsus uteri juga ditemukan pada seorang nullipara. Kehamilan pada prolapsus total sangat jarang terjadi, mengingat proses koitusnya sukar berhasil, namun kehamilan pada uterus yang mengalami prolapsus parsial lebih sering ditemukan.

2.3

Klasifikasi

Desensus uteri, uterus turun tetapi serviks masih didalam vagina. Prolapsus uteri tingkat I, uterus turun dengan serviks uteri turun paling rendah sampai introitus vaginae; Prolapsus uteri tingkat II, uterus untuk sebagian keluar dari vagina; Prolapsus uteri tingkat III, atau prosidensia uteri, uterus keluar seluruhnya dari vagina, disertai dengan inversion vaginae.

Mengenai istilah dan klasifikasi prolapsus uteri terdapat perbedaan pendapat antara ahli ginekologi. Friedman dan Little (1961) mengemukakan beberapa macam klasifikasi yang dikenal yaitu:

A.

Prolapsus uteri tingkat I, dimana serviks uteri turun sampai introitus vaginae; Prolapsus uteri tingkat II, dimana serviks menonjol keluar dari introitus vaginae; Prolapsus uteri tingakta III, seluruh uterus keluar dari vagina; prolapsus ini juga dinamakan prosidensia uteri.

B.

Prolapsus uteri tingkat I, serviks masih berada didalam vagina; Prolapsus uteri tingkat III, serviks keluar dari introitus, sedang pada prosidensia uteri, uterus seluruhnya keluar dari vagina.

C.

Prolapsus uteri tingkat I, serviks mencapai introitus vaginae; Prolapsus uteri tingkat II, uterus keluar dari introitus kurang dari bagian ; Prolapsus uteri tingkat III, uterus keluar dari introitus lebih besar dari bagian.

D.

Prolapsus uteri tingkat I, serviks mendekati prosessus spinosus; Prolapsus uteri tingkat II, serviks terdapat antara prosessus spinosus dan introitus vaginae; Prolapsus uteri tingkat III, serviks keluar dari introitus.

E.

Klasifikasi ini sama dengan klasifikasi D, ditambah dengan prolapsus uteri tingkat IV (prosidensia uteri).

2.4

Etiologi Etiologi dari prolapsus uteri terdiri dari : Kelemahan jaringan ikat pada daerah

rongga panggul, terutama jaringan ikat tranversal. Pertolongan persalinan yang tak terampil sehingga meneran terjadi pada saat pembukaan belum lengkap. Terjadi perlukaan jalan lahir yang dapat menyebabkan lemahnya jaringan ikat penyangga vagina. Serta ibu yang banyak anak sehingga jaringan ikat di bawah panggul kendor. Menopause juga dapat menyebabkan turunnya rahim karena produksi hormon estrogen berkurang sehingga elastisitas dari jaringan ikat berkurang dan otot-otot panggul mengecil yang menyebabkan melemahnya sokongan pada rahim Dasar panggul yang lemah oleh kerusakan dasar panggul pada partus (rupture perinea atau regangan) atau karena usia lanjut. Menopause, hormon estrogen telah berkurang sehingga otot dasar panggul menjadi atrofi dan melemah. Tekanan abdominal yang meninggi karena ascites, tumor, batuk yang kronis atau mengejan (obstipasi atau strictur dari tractus urinalis). Partus yang berulang dan terjadi terlampau sering. Partus dengan penyulit. Tarikan pada janin sedang pembukaan belum lengkap. Ekspresi menurut creede yang berlebihan untuk mengeluarkan placenta. Jadi tidaklah mengherankan jika prolapsus genitalis terjadi segera setelah partus atau dalam masa nifas. Ascites dan tumor-tumor didaerah pelvis mempermudah terjadinya hal tersebut. Bila prolapsus uteri dijumpai pada nullipara, factor

penyebabnya adalah kelainan bawaan berupa kelemahan jaringan penunjang uterus.

Partus yang berulang kali dan terjadi terlampau sering, partus dengan penyulit, merupakan penyebab prolapsus genitalis, dan memperburuk prolaps yang sudah ada. Faktor-faktor lain adalah tarikan pada janin pada pembukaan belum lengkap, prasat Crede yang berlebihan untuk mengeluarkan plasenta, dan sebagainya. Jadi, tidaklah mengherankan bila prolapsus genitalis terjadi segera sesudah partus atau dalam masa nifas. Asites dan tumor-tumor di daerah pelvis pada nullipara, faktor penyebabnya adalah kelainan bawaan berupa kelemahan jaringan penunjang uterus. Faktor penyebab lain yang sering adalah melahirkan dan menopause. Persalinan yang lama dan sulit, meneran sebelum pembukaan lengkap, laserasi dinding vagina bawah pada kala II, penataksanaan pengeluaran plasenta, reparasi otot-otot dasar panggul yang tidak baik. Pada Menopause, hormon esterogen telah berkurang sehingga otot-otot dasar panggul menjadi atrofi dan melemah.

2.5

Patofisiologi Prolapsus uteri terdapat dalam beberapa tingkat, dari yang paling ringan

sampai prolapsus uteri totalis. Terutama akibat persalinan, khususnya persalinan per vaginam yang susah, dan terdapatnya kelemahan-kelemahan ligamen-ligamen yang tergolong dalam fasia endopelvik, dan otot-otot serta fasia-fasia dasar panggul. Juga dalam keadaan tekanan intraabdominal yang meningkat dan kronik akan memudahkan penurunan uterus, terutama apabila tonus otot-otot mengurang seperti pada penderita dalam manopause . Serviks uteri terletak diluar vagina, akan tergeser oleh pakaian wanita tersebut, dan lambat laun menimbulkan ulkus, yang dinamakan ulkus dekubitus. Jika

fasia di bagian depan dinding vagina kendor biasanya trauma obstetrik, ia akan terdorong oleh kandung kencing sehingga menyebabkan penonjolan dinding depan vagina kebelakang yang dinamakan sistokel. Sistokel yang pada mulanya hanya ringan saja, dapat menjadi besar karena persalinan berikutnya, yang kurang lancar, atau yang diselesaikan dalam penurunan dan menyebabkan urethrokel. Urethrokel harus dibedakan dari divertikulum uretra. Pada divertikulum keadaan uretra dan kandung kencing normal, hanya dibelakang uretra ada lubang, yang membuat kantong antara uretra dan vagina . Kekendoran fasia dibagian belakang dinding vagina oleh trauma obstetrik atau sebab-sebab lain dapat menyebabkan turunnya rektum kedepan dan menyebabkan dinding belakang vagina menonjol ke lumen vagina yang dinamakan rektokel. Enterokel adalah hernia dari kavum dauglasi. Dinding vagina atas bagian belakang turun dan menonjol kedepan. Kantong hernia ini dapat berisi usus atau omentum.

2.6

Manifestasi Klinis Gejala dan tanda-tanda sangat berbeda dan bersifat individual.Kadangkala

penderita yang satu dengan prolaps uteri yang cukup berat tidak mempunyai keluhan apapun,sebaliknya penderita lain dengan prolaps ringan mempunyai banyak keluhan. Keluhan-keluhan yang hampir selalu dijumpai : 1. Perasaan adanya suatu benda yang mengganjal atau menonjol di genetalia eksterna. 2. Rasa sakit di pinggul dan pinggang(Backache).Biasanya jika penderita berbaring,keluhan menghilang atau menjadi kurang. 3. Sistokel dapat menyebabkan gejala-gejala:

a. Miksi sering dan sedikit-sedikit. Mula-mula pada siang hari, kemudian lebih berat juga pada malam hari b. Perasaan seperti kandung kencing tidak dapat dikosongkan seluruhnya. c. Stress incontinence yaitu tidak dapat menahan kencing jika batuk,mengejan. Kadang-kadang dapat terjadi retensio urine pada sistokel yang besar sekali. 4. Retokel dapat menjadi gangguan pada defekasi: a. Obstipasi karena feces berkumpul dalam rongga retrokel. b. Baru dapat defekasi setelah diadakan tekanan pada retrokel dan vagina. 5. Prolapsus uteri dapat menyebabkan gejala sebagai berikut: a. pengeluaran serviks uteri dari vulva menggangu penderita waktu berjalan dan bekerja.Gesekan portio uteri oleh celana menimbulkan lecet sampai luka dan dekubitus pada portio uteri. b. lekores karena kongesti pembuluh darah di daerah serviks dan karena infeksi serta luka pada portio uteri. 6. Enterokel dapat menyebabkan perasaan berat di rongga panggul dan rasa penuh di vagina.

2.7

Diagnosis Keluhan-keluhan penderita,fisik, kehamilan dan pemeriksaan ginekologik

umumnya dengan mudah dapat menegakkan diagnosis prolapsus genitalis. Friedman dan Little, menganjurkan cara pemeriksaan sebagai berikut : Penderita dalam posisi jongkok disuruh mengejan, dan ditentukan dengan pemeriksaan dengan jari, apakah porsio uteri pada posisi normal, atau porsio sampai introitus vagina, atau apakah serviks uteri sudah keluar dari vagina. Selanjutnya

dengan penderita berbaring dengan posisi litotomi, ditentukan pula panjangnya servik uteri. Serviks uteri yang lebih panjang biasanya dinamakan elongsio kolli. Pada sistokel dijumpai di dinding vagina depan benjolan kistik lembek dan tidak nyeri tekan. Benjolan ini bertambah besar jika penderita mengejan. Jika dimasukkan kedalam kandung kencing kateter logam, kateter itu diarahkan kedalam sistokel, dapat diraba keteter tersebut dekat sekali pada dinding vagina. Uretrokel letaknya lebih kebawah dari sistokel, dekat pada orifisium urethrae eksternum. Menegakkan diagnosis rektokel mudah, yaitu menonjolnya rectum ke lumen vagina sepertiga bagian bawah. Penonjolan ini berbentuk lonjong, memanjang dari proksimal ke distal, kistik dan tidak nyeri. Untuk memastikan diagnosis, jari dimasukkan kedalam rectum, dan selanjutnya dapat diraba dinding rektokel yang menonjol lumen vagina. Enterokel menonjol ke lumen vagina lebih atas dari rektokel. Pada pemeriksaan rectal dinding rectum lurus, ada benjolan ke vagina terdapat diatas rectum .

2.8

Komplikasi

1. Keratinisasi Mukosa Vagina dan Portio Uteri Procidentia uteri disertai keluarnya dinding vagina ( inversion ) karena itu mukosa vagina dan serviks uteri menjadi tebal serta berkerut dan berwarna keputuh-putihan. 2. Dekubitus Jika serviks uteri terus keluar dari vagina, ujungnya bergeser dengan paha dan pakaian dalam, hal itu dapat menyebabkan luka dan radang dan lambat laun timbul ulcus dekubitus. Dalam keadaan demikian perlu dipikirkan kemungkinan karsinoma,

lebih-lebih pada penderita berumur lanjut. Biopsi perlu dilakukan untuk mendapatkan kepastian ada tidaknya karsinoma insitu. 3. Hipertrofi Serviks Uteri dan Elongasio Koli Jika serviks uteri menurun sedangkan jaringan penahan dan penyokong uterus masih cukup kuat, maka kerana tarikan ke bawah dari bagian uterus yang turun serta pembendungan pembuluh darah, serviks uteri mengalami hipertrofi dan menjadi panjang pula. Hal yang terakhir ini dinamakan Elongasio Kolli. Hipertrofi ditentukan dengan periksa lihat dan periksa raba sedang pada elongasio kolli serviks uteri pada pemeriksaan raba lebih panjang dari biasa. 4. Gangguan miksi dan stress incontinensia Pada sistocele berat miksi kadang-kadang terhalang, sehingga kandung kemih tidak dapat dikosongkan sepenuhnya. Turunnya uterus bias juga menyempitkan ureter, sehingga bias menyebabkan hidroureter dan hidronefrosis. Adanya Cystocele dapat pula mengubah bentuk sudut antara kandung kemih dan urethra akibat stress incontinensia. 5. Infeksi Saluran Kemih Adanya retensio urine memudahkan timbulnya infeksi. Sistitis yang terjadi dapat meluas ke atas dan menyebabkan Pielitis dan pielonefritis. Akhirnya hal itu dapat menyebabkan gagal ginjal. 6. Kemandulan Karena menurunnya serviks uteri sampai dekat pada introitus vagina atau keluar sama sekali dari vagina, tidak mudah terjadi kehamilan.

7. Kesulitan Pada Waktu Partus Jika wanita dengan prolapsus uteri hamil, maka pada waktu persalinan bias timbul kesulitan pada pembukaan serviks, sehingga kemajuan persalinan terhalang. 8. Haemorhoid Feses yang terkumpul dalam rektokel memudahkan obstipasi dan timbulnya haemorhoid. 9. Inkarserasi Usus Halus Usus halus yang masuk kedalam enterokel dapat terjepit dan tidak direposisi lagi. Dalam hal ini perlu dilakukan laparotomi untuk membebaskan usus yang terjepit.

2.9

Penatalaksanaan Faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan terapi prolapsus adalah: keadaan umum Masih bersuami atau tidak Keinginan punya anak Umur Tingkat prolaps

Terapi prolaps dapat dibagi: A. Terapi Kuratif atau Non Operatif Pengobatan cara ini tidak seberapa memuaskan dan hanya memberikan hasil sementara. Cara ini dilakukan pada prolaps ringan tanpa keluhan, jika yang bersangkutan masih ingin punya anak. Jika penderita menolak untuk dilakukan operasi atau jika kondisinya tidak mengijinkan untuk dioperasi.

Yang termasuk pengobatan tanpa operasi: 1) 2) Latihan-latihan otot dasar panggul Latihan ini sangat berguna pada prolaps yang ringan yang terjadi pasca

persalinan yang belum lewat 6 bulan. Tujuannya adalah untuk menguatkan otot dasar panggul atau otot uang mempengaruhi mictio. Latihan ini dilakukan selama beberapa bulan. 3) Caranya: penderita disuruh menguncupkan anus dan jaringan panggul, seperti

biasanya setelah BAB, atau penderita disuruh membayangkan seolah-olah sedang mengeluarkan air kencing dan tiba-tiba menghentikannya. 4) Latihan ini bias menjadi lebih efektif dengan menggunakan perineometer

menurut Kegel. Alat ini terdiri dari obsturator yang dimasukkan ke dalam vagina dengan selaput pipa dihubungkan dengan suatu manometer. Dengan demikian kontraksi otot-otot dasar panggul dapat diukur. 5) 6) Stimulasi otot-otot dengan alat-alat listrik Kontraksi otot-otot dasar panggul dapat ditimbulkan dengan alat listrik,

elektrodenya dapat dipasang dalm pessarium yang dimasukkan dalam vagina. 7) 8) Pengobatan dengan Pessarium Pengobatan dengan pessarium sebetulnya hanya bersifat paliatif, yakni

menahan uterus di tempatnya selama dipakai. Jika Pessarium diangkat timbul prolaps lagi. Prinsip pemakaian pessarium ialah bahwa alat tersebut mengadakan tekanan pada dinding vagina bagian atas sehingga bagian dari vagina tersebut beserta uterus tidak dapat turun dan melewati vagina bagian bawah. Kerugian pessarium ini adalah perasaan rendah diri dan pessarium harus dibersihkan sebulan

sekali. Untuk penanganan prolapsus uteri selama awal kehamilan, uterus harus direposisi dan dipertahankan dalam posisinya dengan pessarium yang sesuai. B. Terapi Operatif 1. Ventrofiksasi Pada wanita yang masih tergolong muda dan masih menginginkan anak dilakukan operasi untuk membuat uterus Ventrofiksasi, dengan cara memendekkan ligamentum Rotundum atau mengikatkan ligamentum rotundum ke dinding perut atau dengan cara operasi Purandare. 2. Hysterektomi vagina Hysterektomi vaginal sebagai terapi prolaps kita pilih kalau ada methroragi, patologi portio atau tumor dari uterus, juga pada prolaps uteri tingkat lanjut. 3. Manchester Fothergill Dasarnya ialah memendekkan ligamentum Cardinale. Disamping itu dasar panggul diperkuat ( Perineoplasty ) dan karena sering ada elongasio coli dilakukan amputasi dari portio. Cystokele atau Rectokele dapat diperbaiki dengan Kolporafia anterior atau posterior. 4. Kolpocleisis ( Neugebauer Le Fort ) Pada wanita tua yang seksual tidak aktif lagi dapat dilakukan operasi sederhana dengan menghubungkan dinding vagina depan dengan bagian belakang, sehingga lumen vagina ditiadakan dan uterus terletak diatas vagina yang tertutup itu. Akan tetapi operasi ini dapat mengakibatkan tarikan pada dasar kandung kemih kebelakang, sehingga dapat menimbulkan inkontinensia urine, atau menambah inkontinensia yang telah ada. Coitus tidak mungkin lagi setelah operasi.

5. Operasi transposisi dari Watkins ( interposisi operasi dari Wertheim ) Prinsipnya ialah menjahit dinding depan uterus pada dinding depan vagina, sehingga korpus uteri dengan demikian terletak antara dinding vagina dan vesika urinaria dalam hiperantefleksi dan ekstra peritoneal. Disambing itu dilakukan amputasi portio dan perineoplasty. Setelah operasi ini wanita tidak boleh hamil lagi, maka sebaiknya dilakukan dalam menopause.

2.10 Prognosis Sebagian besar wanita dengan prolapsus uteri ringan tidak mengalami gejala dan tidak butuh pengobatan. Pessarium vagina dapat sangat efektif untuk banyak wanita dengan prolapsus uteri.tindakan operasi selalu memberikan hasil yang memuaskan, meskipun beberapa wanita mungkin membutuhkan pengobatan lagi di masa akan datang untuk prolapsus dinding vagina yang berulang

BAB 3 KESIMPULAN Prolapsus uteri adalah keadaan yang jarang terjadi. Kebanyakan terjadi pada wanita usia tua dan grandemultipara pada masa menopause. Hal ini dapat disebabkan oleh kelemahan dari otot dan struktur fascia pada usia yang lebih lanjut. Prolapsus uteri lebih sering dijumpai pada wanita yang telah melahirkan, wanita tua dan wanita dengan pekerjaan berat. Prolapsus uteri dapat disebabkan oleh dasar panggul yang lemah oleh karena partus yang berulang atau dengan penyulit (ruptur perineum atau regangan) atau usai lanjut, retinakulum uteri lemah, tekanan abdominal yang meninggi, ekspresi menurut Crede yang berlebihan untuk mengeluarkan plasenta. Keadaan ini dapat menyebabkan komplikasi seperti keratinisasi mukosa vagina dan portio uteri, dekubitus, hipertrofi serviks uteri dan elongasio kolli, gangguan miksi dan stress incontinensi, infeksi saluran kemih, kemandulan, kesulitan pada waktu partus, haemorrhoid, inkarserasi usus halus

DAFTAR PUSTAKA Winkjosastro H dr. Ilmu Kandungan Kelainan Letak-Letak alat Genital Edisi kedua. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta 2007. Hal. 421 Lotisna, D. Prolaps Genitalia Devisi uroginekologi rekonstruksi. Departemen Obstetri dan Ginekologi. FK UH. Makasar Junizaf Prolapsus alat genitalia Dalam: Junizaf Ed Buku ajar urognekologi. Subbagian Uroginekologi- Rekonstruksi Bagian Obstetri dan Ginekologi FK

UI/RSUPN-CM. Jakarta, 2002: 70-75 Rasjidi I. Manual Histerektomi. Histerektomi Vaginal. EGC. Jakarta.2008. Hal. 180189. Manuaba I. Dasar-Dasar Teknik Operasi Ginekologi. Operasi Prolaps Uteri. EGC. Jakarta.2004.Hal.354 Muchtar R. Kelainan dalam letak alat-alat genital. Dalam: S, Saifuddin AB. Ed. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 1991: 360-374 Suheimi K.H.dr. (26 July 2008). Penyakit dan Kelainan Alat Kandungan. Prolapsus Uteri. http://ksuheimi.blogspot.com/2008/06/penyakit-dan-kelainan-alat

kandungan_26.html .diunduh ( 26 oktober 2011 ) Clinic Mayo. Uterine Prolaps.( 10 April 2008). Womens Health.

http://www.womenshealthlondon.org.uk/leaflets/prolapse/prolapse.html.diu nduh ( 26 Oktober 2011 )

Mc. Neeley. G.S. et al. ( Desember 2008 ). Gynecology and Obstetrics. Pelvic Relaxation Syndrome. http://www.stjohnsmercy.org/healthinfo/adult/urology/cystocel.asp.diunduh. Manuaba Ida dr. Dasar-Dasar Teknik Operasi Ginekologi. EGC. Jakarta 2004.