Anda di halaman 1dari 31

Cairan elektrolit

Cairan tubuh manusia, termasuk darah 60 % BBT pada pria dewasa CES sebagai lingkungan internal sel dimana terdapat zat-zat makanan dan ion-ion yang diperlukan oleh sel terjaga keseimbangannya sel tetap hidup dan mampu menjalankan tugasnya Keseimbangam /homeostasis ini tergantung pada kemampuan tubuh untuk mempertahankannya
Lolo File 2010

Terdapat 2 parameter penting dalam pengaturan keseimbangan cairan :


Volume CES Osmolaritas CES

Ginjal mengontrol volume CES mempertahankan keseimbangan Na+ dan mengontrol osmolaritas CES

Lolo File 2010

Cairan tubuh :
CIS 2/3 bagian CES 1/3 bagian :
Cairan intravaskuler (plasma) 20 % Cairan interstitial 80 % Cairan lain transeluler (jumlah kecil)

Ion terpenting CES (Na+ dan Cl-), CIS (K+) Perbedaan komposisi terjadi barrier

Lolo File 2010

Sistem syaraf menerima informasi tentang perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit dari : baroreseptor di arkus aorta dan sinus karotikus, osmoreseptor di hypotalamus dan reseptor regang di atrium Hormon yang berperan dalam defisit cairan : angiotensin II, aldosteron dan ADH / Vasopresin Hormon yang berperan dalam kelebihan cairan adalah ANP

Lolo File 2010

1. Afinitas Hb terhadap O2 terutama dikendalikan oleh pH darah 2. pH darah (arterial) : 7,4 (7,35 - 7,45) 3. Sistem yang berperan mempertahankan pH darah : a. sistem buffer b. sistem pernapasan c. sistem renal
Lolo File 2010

Buffer memperkecil perubahan kadar H+ Buffer utama yang dilepas dari sel adalah bikarbonat (HCO3) Hb berperan penting untuk buffer H+ yang dilepas oleh karbonik anhidrase pada eritrosit H+ juga dibuffer oleh buffer intrasel terutama buffer protein dan buffer fosfat
Lolo File 2010

Merupakan buffer terpenting dalam plasma (dalam eritrosit juga ada tetapi kadarnya lebih rendah) Penting sebab :
Kadarnya tinggi CO2 dikendalikan sistem pernapasan (pCO2~ [H2CO3]) [HCO3-] dikendalikan sistem renal (Serum CO2 content ~ [HCO3-])
Lolo File 2010

1. 2. 3.

Terdapat pada eritrosit dan pada sel tubulus ginjal sumber HCO3Enzim ini mengandung Zinc Mengkatalisis reaksi : CO2 + H2O H2CO3 H+ + HCO3 Melalui reaksi ini ginjal mengatur kadar HCO3-plasma dengan cara reabsorpsi dan sintesis HCO3-, sedangkan eritrosit mengatur melalui responsnya terhadap perubahan pCO2

Lolo File 2010

1. Melalui pengaturan ekskresi asam Mengatur pertukaran Na+ - H+ Meningkatkan reabsorbsi HCO32. Melalui pengaturan ekskresi ammonia : Sel2 tubulus ginjal dapat membentuk ammonia dari asam2 amino intrasel terutama glutamin diekskresikan. H2O NH4+ L- Glutamat L- Glutamin Glutaminase

Lolo File 2010

1. Sistem buffer : [HCO3-] / [H2CO3] 2. Sistem pernafasan : pH yang turun merangsang Hiperventilasi agar ekskresi CO2 meningkat [H2CO3] agar ratio [HCO3] / [H2CO3] kembali 20/1 3. Meningkatkan ekskresi asam dan menahan basa dgn cara (meningkatkan : pertukaran Na+ - H+, pembentukan ammonia dan reabsorpsi HCO3-)
Lolo File 2010

1. BMR 2. Pembentuk panas utama kontraksi otot skeletal 3. Reaksi-reaksi kimia yang terjadi di tubuh pembentukan panas tubuh 4. Penyerapan makanan meningkatkan pembentukan panas spesific dynamic action 5. Mekanisme kerja dari endokrin

Penglepasan Panas bisa terjadi secara :


1. Radiasi akibat radiasi gelombang elektromagnetik 2. Konduksi melalui kontak langsung (gerak molekul) 3. Konveksi melalui aliran udara 4. Evaporasi penguapan

Respon termoregulator : 1. Respon-respon otonom (vasodilatasi, vasokontriksi) 2. somatik (aktivitas kerja otot) 3. endokrin reaksi kimiawi 4. perubahan sikap Area pengatur panas : 1. Regio hipotalamus anterior aktif oleh panas inisiasi untuk penglepasan panas 2. Regio hipotalamus posterior aktif oleh dingin inisiasi untuk pembuatan panas dan pertahankan panas

(Silverthorn)

Pusat kontrol irama sirkadian bagian ventral anterior hypothalamus. Pusat tidur substansia ventrikulo retikularis medulo oblongata (mengatur kegiatan sinkronisasi) Pusat penggugah / aurosal state rostral medulo oblogata (berfungsi desinkronisasi)

Proses jaga dan tertidur dipengaruhi oleh aktifitas ARAS (Ascending Reticualry Activity System) ARAS dipengaruhi oleh neurotransmiter : serotonergik, noradrenergik, kholinergik dan histaminergik.

Diseluruh batang otak dan ke dalam talamus berjalan suatu jaringan luas neuron yang saling berhubungan yang disebut formatio retikularis Jaringan ini menerima dan mengintegrasikan semua masukan sinaps

Serat serat asendens yang berasal dari formatio retikularis membawa sinyal ke atas untuk membangunkan dan mengaktifkan korteks serebrum Serat-serat ini menyusun sistem aktivasi retikuler (reticular activating system / RAS) yang mengontrol seluruh derajat kewaspadaan korteks dan penting dalam kemampuan mengarahkan perhatian

1. Sistem serotonergik
dipengaruhi oleh hasil metabolisma asam amino trypthopan Bila asam amino trypthopan banyak serotonergik yang dihasilkan banyak menyebabkan keadaan tidur. lokasi yang terbanyak sistem serotogenik nukleus raphe dorsalis di batang otak fase tidur REM

2. Sistem Adrenergik
Neuron-neuron yang terbanyak mengandung norepineprin badan sel nukleus cereleus di batang otak fase tidur REM

3. Sistem Kholinergik
lokasi yang terbanyak sistem kholinergik lokus sereleus fase tidur REM

4. Sistem histaminergik
Pengaruhnya sangat sedikit

5. Sistem Hormon
Hormon-hormon ACTH, GH, TSH, dan LH mempengaruhi pengeluaran neurotransmiter norepinefrin, dopamin dan serotonin

1. Penyakit 2. Lingkungan 3. Aktifitas tubuh 4. Pola hidup 5. Status emosional 6. Obat-obatan / stimulant dan alkohol 7. Motivasi

Serabut otot mrp fusi bbrp mioblast syncytium Dibagian tengah : miofibril (aktin & miosin) RE RS: berperan mengatur konsentrasi Ca++ disekitar miofibril, kaya akan Calsequestrin protein pengikat Ca++ Terdapat glikogen sumber E Bagian-bagian dr struktur otot rangka .

Suplai O2 dapat terganggu oleh kondisi-kondisi yang berpengaruh pada proses respirasi, yaitu : 1. Proses Ventilasi Pulmoner 2. Difusi Gas antara alveoli dan Kapiler Paru 3. Transport O2 dan CO2 melalui darah ke sel sel jaringan

Faktor-faktor yang berpengaruh : 1. Ketebalan membran mmb tebal : difusi 2. Area permukaan membran 3. Berat molekul dan kelarutan gas dalam mmb 4. Perbedaan tekanan pada semua sisi membran

Transport O2 dari paru ke jaringan dipengaruhi oleh :


1. 2. 3. 4. CO fungsi sistem kardiovaskuler Jumlah Eritrosit oxyhemoglobin Latihan penggunaan O2 oleh sel CO Haematokrit peningkatan viskositas CO transport O2

1. Lingkungan (ketinggian, panas, dingin dan polusi udara) 2. Exercise 3. Emosi 4. Gaya hidup 5. Status kesehatan 6. Narkotik

Ductus 2,5 lingkaran

Chemical Composition of the Cochlear fluids

ST

SV

Perilymph Sodium (mM) Chloride (mM) Potassium (mM) Bicarbonate (mM) Calcium (mM) Protein (mg/dl) pH 148 119 4.2 21 1.3 178 7.3

Perilymph 141 121 6.0 18 0.6 242 7.3

Endolymph 1.3 132 157 31 0.023 38 7.4

CSF 149 129 3.1 19 24 7.3

Potential (mV) 0 <3 85 ST = scala tympani, SV = scala vestibuli, CSF = cerebrospinal fluid Data summary from Wangemann & Schacht, 1996