Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN KASUS SIROSIS HEPATIS

Penyusun: dr. Pragesty Zenerkinda

Pendamping: dr. Utariyah Budiastuti

PROGRAM DOKTER INTERNSHIP RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BATANG KABUPATEN BATANG 2013

BORANG PORTOFOLIO

Nama Peserta Nama Wahana Topik Tanggal Kasus Nama Pasien

: dr. Pragesty Zenerkinda : RSUD Batang : Sirosis Hepatis : 27 November 2013 : Ny. D No.RM : 292569

Tanggal Presentasi : 6 Desember 2013 Budiastuti Tempat Presentasi Obyektif Presentasi Keilmuan Neonatus Bumil Deskripsi Keterampilan Bayi

Pendamping : dr. Utariyah

: Komite Medik RSUD Batang Penyegaran Masalah Dewasa Tinjauan Pustaka Istimewa Lansia

Diagnostik Manajemen

: perempuan, 32 tahun, mengeluh perut membesar sejak 2 bulan SMRS

Tujuan Bahan Bahasan Audit Cara Membahas Data Pasien Nama Klinik

: Diagnosis, manajemen, prevensi : Tinjauan pustaka Riset Kasus Pos

: Diskusi Presentasi dan Diskusi E-mail : Ny. D : Ruang Melati RSUD Batang No. Registrasi 292569 Telp. 391033

DATA UTAMA UNTUK BAHAN DISKUSI

1. Diagnosis / Gambaran Klinis Auto anamnesis dilakukan di bangsal Melati pada tanggal 27 November 2013 jam 07.30. a. Keluhan Utama: Perut membesar b. Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke IGD RSUD Batang dengan keluhan utama perut semakin membesar sejak 2 bulan SMRS. Perutnya dirasakan semakin hari semakin membesar dan bertambah tegang. Pasien merasa perutnya penuh dan kadang terasa kesulitan bernapas. Pasien juga mengeluh nyeri pada ulu hati sejak 1 bulan namun memberat sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit. Nyeri ulu hati dikatakan seperti ditusuk-tusuk dan terus-menerus dirasakan oleh pasien sepanjang hari. Keluhan ini dikatakan tidak membaik ataupun memburuk dengan makanan. Keluhan nyeri juga disertai keluhan mual yang dirasakan hilang timbul namun dirasakan sepanjang hari, dan muntah yang biasanya terjadi setelah makan. Muntahan berisi makanan atau minuman yang dimakan sebelumnya, dengan volume kurang lebih gelas aqua, tapi tidak ada darah, tidak ada muntah hitam. Keluhan mual dan muntah ini membuat pasien menjadi malas makan (tidak nafsu makan). Pasien juga mengeluh lemas sejak 2 minggu sebelum masuk rumah sakit. Keluhan lemas dikatakan dirasakan terus menerus dan tidak menghilang walaupun pasien telah beristirahat. Keluhan ini dikatakan dirasakan di seluruh bagian tubuh dan semakin memberat dari hari ke hari hingga akhirnya 6 hari sebelum masuk rumah sakit pasien tidak bisa melakukan aktivitas sehari-hari. 3 hari SMRS pasien panas. Panas naik turun. Panas sering timbul pada malam hari. Dan turun ketika pagi hari. Tidak ada bengkak di kedua kaki. BAB hitam disangkal. BAK seperti teh

disangkal. Riwayat badan dan mata kuning disangkal. Rambut rontok dan gusi berdarah disangkal oleh pasien. Gangguan menstruasi disangkal.

2. Riwayat Pengobatan Pasien belum pernah menjalani pengobatan dan baru pertama kali datang ke IGD RSUD Batang. 3. Riwayat Kesehatan/ Penyakit: Riwayat merokok : disangkal : diakui sejak 1 tahun : disangkal : disangkal

Riwayat minum jamu Riwayat minum alkohol Riwayat sakit kuning

Riwayat Komorbid Lain : Hipertensi (-), Diabetes Melitus (-), Penyakit Ginjal (-), Penyakit Jantung (-),Asma (-), Keganasan (-). Riwayat Alergi : disangkal Riwayat Operasi : disangkal Riwayat Opname : disangkal Riwayat pengobatan TB : disangkal Riwayat trauma : disangkal

4. Riwayat Keluarga: Riwayat komorbid keluarga : Hipertensi (-), Diabetes Melitus (-), Penyakit Ginjal (-), Penyakit Jantung (-),Asma (-), Keganasan (-). Riwayat atopi di keluarga : disangkal

5. Riwayat Pekerjaan: Pasien adalah seorang ibu rumah tangga.

6. Kondisi lingkungan Sosial dan Fisik : Pasien tinggal bersama suami dan anaknya. Pembiayaan pasien menggunakan SKTM, kesan ekonomi kurang. 7. Anamnesis Sistemik:

Demam CNS Kardiovaskuler Respirasi Gastrointestinal

: (+) : kejang (-), penurunan kesadaran (-), kaku kuduk(-) : sesak napas saat aktivitas (-) : batuk (-),pilek (-),nyeri telan (-) : nyeri perut (+), mual (+) muntah (+), nafsu makan

berkurang (+), BAB (+) biasa Urogenital Integumen Muskuloskeletal : BAK (+) seperti biasa : ujud kelainan kulit (-) : kelemahan otot(-), keterbatasan gerak (-)

8. Pemeriksaan Fisik: Keadaan Umum Kesadaran Vital Sign : Pasien tampak sakit sedang : Compos mentis, GCS E4V5M6, : -

Tekanan darah Nadi Respiration rate Suhu

: 130/80 mmHg : 85 x/mnt : 20 x/mnt : 38,6oC

Kepala

: Mesocephal, rambut hitam, tidak mudah rontok, distribusi merata.

Mata

: Pupil Refleks cahaya Konjungtiva Sklera : Isokhor (3 mm/ 3 mm) : +/+ : Anemis -/: Ikterik -/-

Hidung

: Septum deviasi :-

Telinga : Mulut : Leher

Sekret Hiperemis

: -/: -/-

Bentuk telinga normal kanan dan kiri Membran timpani intak kanan dan kiri Mukosa : tidak hiperemis kanan dan kiri Serumen : -/Sekret : -/-

Mukosa bibir kering (-) Karies pada gigi (-) Faring tidak hiperemis : Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid

Pemeriksaan Fisik Thoraks Paru Inspeksi : simetris ka ki, ketinggalan gerak (-), retraksi intercosta (-).

Palpasi

: - ketinggalan gerak Anterior Posterior -

Fremitus Anterior N N N N N N N Posterior N N N

Perkusi Posterior

Anterior

Sonor Sonor Sonor Sonor Sonor Sonor Sonor Sonor Pekak Sonor Pekak Sonor

Auskultasi : suara dasar vesikuler Anterior + + + + + + + Posterior + + +

Suara tambahan: Wheezing (-/-), Ronkhi (-/-)

Jantung - Inspeksi - Palpasi


- Perkusi

: iktus cordis tidak tampak : iktus cordis tidak kuat angkat : Batas jantung kanan di linea sternalis dekstra ICS 4, Batas jantung kiri di linea midclavicularis sinistra ICS 5

- Auskultasi : BJ 1 dan BJ 2 tunggal, murmur -, gallop

Abdomen Inspeksi : Perut tampak membuncit, tidak ada venektasi, tidak ada scar, spider naevi (-) Auskultasi Perkusi Asites Palpasi : Bising usus 12 kali per menit, bruit (-) : Pekak (+) : shifting dullness (+) , undulasi (+) : Distended, nyeri tekan epigastrium (+), nyeri hipokondriaka dekstra dan sinistra (+). Ekstremitas - Clubbing finger (-), - Oedem Hepatomegali (+) Spleenomegali (-) tekan

- Akral dingin -

Eritem Palmaris (-)

Genital

: tidak dilakukan pemeriksaan

Pemeriksaan Penunjang Laboratorium Jenis Pemeriksaan Hasil 27/11 Leukosit Eritrosit 4,74 4,75 4,8 10,8 x 103/uL L: 4,7 6,1 x 106/uL P: 4,2 5,4 x 106/uL Hemoglobin Hematokrit MCV MCH MCHC Trombosit LED I/II Neutrofil% Limfosit% Monosit% Eosinofil% Basofil% GDS SGOT SGPT Ureum Creatinin Bilirubin Total 10,6 31,2 65,7 22,3 34 552 60/80 66,5 20,7 11,8 0,6 0,4 90 16 12 16 0,58 1,15 L: 14 -18 g/dL P: 12 -16 g/dL L: 42 52 % P: 12 -16 % 79 99 fL 27 31 pg 33 - 37 g/dL 150 450 x 103/ uL (L:0-15, P:0-20) (50-70) (25-40) (2-8) (2-4) (0-1) < 200 < 37 < 42 10-50 0,6-1,10 0-1,2 Nilai Normal

Bilirubin Direct Bilirubin Indirect Protein Total Albumin Globulin

0,39 0,76 7,86 3,29 4,57

0-0,35 0,1-1,0 6.1 8.2 3,5-5 2-3,9

Pemeriksaan Radiologi Foto Thoraks PA Tidak dilakukan Pemeriksaan USG Abdomen

10

Kesan: Hepatomegali dengan ascites Suspect fibrosis hepar Efusi pleura dextra Tak tampak kelainan pada ren dextra sinistra dan lien

Daftar Pustaka

1. Sylvia Anderson Price, Lorraine McCarty Wilson. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Volume 1. Edisi 6. Jakarta: EGC. 2. Vinay Kumar, Ramzi S. Cotran, Stanley L. Robbins. 2007. Buku Ajar Patologi Robbins. Volume 2. Edisi 7. Jakarta: EGC. 3. Aru W. Sudoyo, dkk. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 1. Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. 4. Corwin, Elisabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Edisi 3. Jakarta: EGC. 5. Davey, Patrick. 2005. At a Glance Medicine. Jakarta: EMC.

11

Hasil Pembelajaran Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio 1. Subjektif : Pasien datang ke IGD RSUD Batang dengan keluhan utama perut semakin membesar sejak 2 bulan SMRS. Perutnya dirasakan semakin hari semakin membesar dan bertambah tegang. Pasien merasa perutnya penuh dan kadang terasa kesulitan bernapas. Pasien juga mengeluh nyeri pada ulu hati sejak 1 bulan namun memberat sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit. Nyeri ulu hati dikatakan seperti ditusuk-tusuk dan terus-menerus dirasakan oleh pasien sepanjang hari. Keluhan ini dikatakan tidak membaik ataupun memburuk dengan makanan. Keluhan nyeri juga disertai keluhan mual yang dirasakan hilang timbul namun dirasakan sepanjang hari, dan muntah yang biasanya terjadi setelah makan. Muntahan berisi makanan atau minuman yang dimakan sebelumnya, dengan volume kurang lebih gelas aqua, tapi tidak ada darah, tidak ada muntah hitam. Keluhan mual dan muntah ini membuat pasien menjadi malas makan (tidak nafsu makan). Pasien juga mengeluh lemas sejak 2 minggu sebelum masuk rumah sakit. Keluhan lemas dikatakan dirasakan terus menerus dan tidak menghilang walaupun pasien telah beristirahat. Keluhan ini dikatakan dirasakan di seluruh bagian tubuh dan semakin memberat dari hari ke hari hingga akhirnya 6 hari sebelum masuk rumah sakit pasien tidak bisa melakukan aktivitas sehari-hari. 3 hari SMRS pasien panas. Panas naik turun. Panas sering timbul pada malam hari. Dan turun ketika pagi hari.

2. Objektif: Dari pemeriksaan fisik ditemukan keadaan umum tampak sakit sedang, suhu 38,6. Pemeriksaan fisik paru menunjukkan fremitus kanan bawah menurun, suara pekak di kanan bawah dan vesikuler menurun. Dari pemeriksaan fisik

12

abdomen didapatkan perut membuncit, distended, nyeri tekan epigastrium, hipokondriaka sinistra dan dextra, ascites (+), hepatomegali (+). Dari pemeriksaan laboratorium didapatkan trombosit, dan LED meningkat. SGOT dan SGPT normal. Rasio albumin dan globulin terbalik. Dari USG abdomen didapatkan fibrosis hepar dan efusi pleura dextra. 3. Diagnosis Sirosis hepatis criteria Child Pugh B 4. Penatalaksanaan : a. Pengobatan - Infus D5 20 tpm - Injeksi Furosemid 2x 1 amp - Injeksi Ranitidin 2x 1 amp - Injeksi Ondansentron 3x 4 mg - Infus Paracetamol 3x500 mg - Injeksi Ketorolac 3x 30 mg - Injeksi Cefoperazone 2x1 gr - Letonal 1x1 - Curcuma 1x1 - Propanolol 2x1 - Spironolacton 2x1 tab b. Edukasi - Edukasi pasien dan keluarga pasien tentang penyakitnya diderita - Edukasi pasien dan keluarga nya untuk kontrol rutin dan minum obat teratur untuk mengurangi komplikasi. - Edukasi untuk menghentikan minum jamu. - Edukasi tentang dietnya yaitu makan lemak secukupnya, diet TKTP dan rendah garam.

13

FOLLOW UP
S 28 November 2013 Perut terasa mbeseseg (+), mual, muntah 1x, panas (+), nyeri ulu hati (+) O TD: 120/ 70 Suhu: 38,3 Nadi: 90x/ menit RR: 20x/menit KU: sedang, CM Thorax: vesikuler kanan menurun Abdomen: distended, ascites (+), nyeri tekan epigastrium, hipokondriaka dextra dan sinistra P

Infus D5 20 tpm Injeksi Furosemid 2x 1 amp Injeksi 2x 1 amp Injeksi Ondansentron 3x 4 mg Infus Paracetamol 3x500 mg Injeksi Ketorolac 3x 30 mg Injeksi Cefoperazone 2x1 gr Letonal 1x1 Curcuma 1x1 Propanolol 2x1 Ranitidin

29 November 2013

Perut terasa mbeseseg (+), mual, muntah (-), panas (+), nyeri ulu hati (+)

TD: 120/ 70 Suhu: 38 Nadi: 88x/ menit RR: 20x/menit KU: sedang, CM Thorax: vesikuler kanan menurun Abdomen: distended, ascites (+), nyeri tekan

Infus D5 20 tpm Injeksi Furosemid 2x 1 amp Injeksi 2x 1 amp Injeksi Ondansentron 3x 4 mg Infus Paracetamol 3x500 mg Ranitidin

14

epigastrium, hipokondriaka dextra dan sinistra

Injeksi Ketorolac 3x 30 mg Injeksi Cefoperazone 2x1 gr Letonal 1x1 Curcuma 1x1


Propanolol 2x1

30 November 2013

Perut terasa mbeseseg (+), mual, muntah (-), panas (), nyeri ulu hati (+)

TD: 120/ 80 Suhu: 36,5 Nadi: 88x/ menit RR: 20x/menit KU: sedang, CM Thorax: vesikuler kanan menurun Abdomen: distended, ascites (+), nyeri tekan epigastrium, hipokondriaka dextra dan sinistra berkurang

Infus D5 20 tpm Injeksi Furosemid 2x 1 amp Injeksi 2x 1 amp Injeksi Ondansentron 3x 4 mg Infus Paracetamol 3x500 mg Injeksi Ketorolac 3x 30 mg Injeksi Cefoperazone 2x1 gr Letonal 1x1 Curcuma 1x1 Propanolol 2x1 Ranitidin

1 Desember 2013

Perut terasa mbeseseg (+), mual , muntah (-), panas (-), nyeri ulu hati (+)

TD: 120/ 80 Suhu: 37 Nadi: 88x/ menit RR: 20x/menit KU: sedang, CM

Infus D5 20 tpm Injeksi Furosemid 2x 1 amp Injeksi 2x 1 amp Ranitidin

15

Thorax: vesikuler kanan menurun Abdomen: distended, ascites (+), nyeri tekan epigastrium, hipokondriaka dextra dan sinistra

Injeksi Ondansentron 3x 4 mg Infus Paracetamol 3x500 mg Injeksi Ketorolac 3x 30 mg Injeksi Cefoperazone 2x1 gr Letonal 1x1 Curcuma 1x1

2 Desember 2013

Perut terasa mbeseseg (+), mual, muntah (-), panas (), nyeri ulu hati (-)

TD: 120/ 70 Suhu: 37,5 Nadi: 88x/ menit RR: 20x/menit KU: sedang, CM Thorax: vesikuler kanan menurun Abdomen: distended, ascites (+), nyeri tekan epigastrium, hipokondriaka dextra dan sinistra

Infus D5 20 tpm Injeksi Furosemid 2x 1 amp aff Ganti Furosemid

tab 2-1-0 Injeksi 2x 1 amp Injeksi Ondansentron 3x 4 mg Infus Paracetamol 3x500 mg aff Ganti Paracetamol tablet K/P Injeksi Ketorolac 3x 30 mg aff Injeksi Cefoperazone 2x1 gr Ranitidin

16

Letonal 1x1 Curcuma 1x1


3 Desember 2013 Perut terasa mbeseseg (+), mual, muntah (-), panas (), nyeri ulu hati (-) TD: 120/ 70 Suhu: 36,3 Nadi: 85x/ menit RR: 20x/menit KU: sedang, CM Thorax: vesikuler kanan menurun Abdomen: distended, ascites (+) berkurang, nyeri tekan epigastrium, hipokondriaka dextra Furosemid tab 2-1-0 Spironolacton 2x1 Propanolol 2x1 Paracetamol 3x1

PEMBAHASAN

1. Sirosis Hepatis A. Definisi Istilah Sirosis hati diberikan oleh Laence tahun 1819, yang berasal dari kata Khirros yang berarti kuning orange (orange yellow), karena perubahan warna pada nodul nodul yang terbentuk. Pengertian sirosis hati dapat dikatakan sebagai berikut yaitu suatu keadaan disorganisasi yang difuse dari struktur hati yang normal akibat nodul regeneratif yang dikelilingi jaringan mengalami fibrosis. Sirosis adalah suatu keadaan patologis yang menggambarkan stadium akhir fibrosis hepatik yang berlangsung progresif yang ditandai dengan distorsi dari arsitektur hepar dan pembentukan nodulus regeneratif. B. Etiologi

17

Alkohol merupakan penyebab sirosis hati yang paling sering dijumpai di negara-negara barat. Hal ini berhubungan erat dengan kebiasaan hidup masyarakat barat yang sering mengkonsumsi alkohol. Namun, infeksi virus kronis adalah penyebab tersering di seluruh dunia. Di Indonesia, infeksi virus hepatitis B dan Hepatitis C merupakan penyebab tersering dari sirosis hati. Hasil penelitian di Indonesia menyebutkan bahwa sirosis hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B sebesar 40-50%, virus hepatitis C setinggi 30-40%, sedangkan 10-20% sisanya tidak diketahui penyebabnya dan termasuk dalam kelompok virus bukan B dan C (non B-non C). Alkohol sebagai penyebab sirosis di Indonesia mungkin hanya kecil sekali karena belum ada datanya. Dengan ditemukannya HCV, maka diagnosis sirosis hati idiopatik (cryptogenik) semakin berkurang. Pasien yang masih berusia muda dengan sirosis hati harus mendapat perhatian yang khusus sebagai kasus yang mungkin dapat diobati (mis. Wilsons disease). Berat badan yang berlebihan juga merupakan faktor predisposisi bagi sirosis hati. Orang yang gemuk pada bagian di atas pinggang (apple type) lebih beresiko daripada orang yang gemuk pada daerah di bawah pinggang (pear type). Sel lemak pada tubuh bagian atas berbeda kualitasnya dengan sel lemak yang ditemukan di paha dan tungkai.

Tabel 1. Sebab-sebab Sirosis dan/ atau Penyakit Hati Kronik Penyakit Infeksi Bruselosis Ekinokokus Skistosomiasis Toksoplamosis Hepatitis virus (hepatitis B, hepatitis C, hepatitis D, sitomegalovirus) Penyakit Keturunan dan Metabolik Defisiensi 1-antitripsin Sindrom fanconi Galaktosemia Penyakit Gaucher Penyakit simpanan glikogen Hematokromatosis

18

Intoleransi fruktosa herediter Tirosinemia herediter Penyakit wilson Obat dan Toksin Alkohol Amiodaron Arsenik Obstruksi bilier Penyakit perlemakan hati non alkoholik Sirosis bilier primer Kolangitis sklerosis primer Penyebab lain atau tidak terbukti Penyakit usus inflamasi kronik Fibrosis kistik Pintas jejunoileal Sarkoidosis C. Klasifikasi

Berdasarkan morfologi Sherlock membagi Sirosis hati atas 3 jenis, yaitu : 1. Mikronodular (besar nodul kurang dari 3mm) : Ditandai dengan terbentuknya septal tebal teratur, di dalam parenkim hati mengandung nodul halus dan kecil merata tersebut di seluruh lobul. Sirosis mikronodular besar nodulnya sampai 3 mm, sedangkan sirosis makronodular ada yang berubah menjadi makronodular sehingga dijumpai campuran mikro dan makronodular. 2. Makronodular (besar nodul lebih dari 3mm) : ditandai dengan terbentuknya septa dengan ketebalan bervariasi ada nodul besar didalamnya ada daerah luas dengan parenkim yang masih baik atau terjadi regenerasi parenkim. 3. Campuran (yang memperlihatkan gambaran mikro-dan makronodular) Secara Fungsional

Secara fungsional sirosis terbagi atas :

19

1. Sirosis hati Kompensata, sering disebut dengan Laten Sirosis hati. Pada atadiu kompensata ini belum terlihat gejala-gejala yang nyata. Biasanya stadium ini ditemukan pada saat pemeriksaan screening. 2. Sirosis hati Dekompensata, dikenal dengan Active Sirosis hati, dan stadium ini biasanya ikterus. gejala-gejala sudah jelas, misalnya ; ascites, edema dan

D. Patogenesis 1. Sirosis Lannec Sirosis alkoholik atau secara historis disebut sirosis Lannec ditandai oleh pembentukan jaringan parut yang difus, kehilangan selsel hati yang uniform, dan sedikit nodul regenerative. Sehingga kadang-kadang disebut sirosis mikronodular. Sirosis mikronodular dapat pula diakibatkan oleh cedera hati lainnya. Tiga lesi utama akibat induksi alcohol adalah :
a. Perlemakan hati alkoholik b. Hepatitis alkoholik c. Sirosis alkoholik

20

Perlemakan Hati Alkoholik Steatosis atau perlemakan hati, hepatosit teregang oleh vakuola lunak dalam sitopl asma berbentuk makrovesikel yang

mendorong inti hepatosit ke membran sel. Hepatitis Alkoholik Fibrosis perivenular berlanjut menjadi sirosis panlobular akibat masukan alcohol dan destruksi hepatosit yang

berkepanjangan. Fibrosis yang terjadi dapat berkontraksi di tempat cedera dan merangsang pembentukan kolagen. Di daerah periportal dan perisentral timbul septa jaringan ikat seperti jarring yang akhirnya menghubungkan triad portal dengan vena sentralis. Jalinan ikat halus ini mengelilingi massa kecil sel hati yang masih ada yang kemungkinan mengalami regenerasi dan membentuk nodulus. Namun demikian kerusakan sel yang terjadi melebihi perbaikannya. Penimbunan kolagen terus berlanjut, ukuran hati mengecil, berbenjol-benjol alkoholik. Mekanisme cedera hati alkoholik masih belum pasti. Diperkirakan mekanismenya sebagai berikut : 1. Hipoksia sentrilobular, metabolisme asetaldehid etanol (nodular) menjadi keras, terbentuk sirosis

meningkatkan konsumsi oksigen lobular, terjadi hipoksemia relative dan cedera sel di daerah yang jauh dari aliran darah yang teroksigenasi. 2. Infiltrasi/aktivitas neutrofil, terjadi pelepasan chemoattractants neutrofil oleh hepatosit yang memetabolisme alcohol. Cedera jaringan dapat terjadi dari neutrofil dan hepatosit yang melepaskan intermediet oksigen reaktif, protease, dan sitokin. 3. Formasi acetaldehyde-protein adducts berperan sebagai

neoantigen, yang menghasilkan limfosit yang tersensitisasi serta antibody spesifik yang menyerang hepatosit pembawa antigen ini

21

4. Pembentukan radikal bebas oleh jalur alternative dari metabolism etanol, disebut sistem yang mengoksidasi enzim mikrosomal. Patogenesis fibrosis alkoholik meliputi banyak sitokin, antara lain faktor nekrosis tumor, interleukin-1, PDGF, dan TGF-beta. Asetaldehid kemungkinan mengaktifasi sel stelata tetapi bukan suatu faktor patogenik utama pada fibrosis alkoholik. 2. Sirosis Hepatis Pasca Nekrosis Gambaran patologi hati biasanya mengkerut, berbentuk tidak teratur, dan terdiri dari nodulus sel hati yang dipisahkan oleh pita fibrosis yang padat dan lebar. Gambaran mikroskopik konsisten dengan gambaran makroskopik. Ukuran nodulus sangat bervariasi, dengan sejumlah besar jaringan ikat memisahkan pulau parenkim regenerasi yang susunannya tidak teratur. Patogenesis sirosis hati menurut penelitian terakhir,

memperlihatkan adanya peranan sel stelata. Dalam keadaan normal sel stelata mempunyai peran dalam keseimbangan. Jika terpapar faktor tertentu yang berlangsung secara terus menerus (misal: hepatitis virus, bahan-bahan hepatotoksik), maka sel stelata akan menjadi sel yang membentuk kolagen. Jika proses berjalan terus maka fibrosis akan berjalan terus di dalam sel stelata, dan jaringan hati yang normal akan diganti oleh jaringan ikat. Sirosis hati yang disebabkan oleh etiologi lain frekuensinya sangat kecil sehingga tidak dibicarakan di sini. 3. Sirosis Biliaris Kerusakan sel hati yang dimulai di sekitar ductus biliaris akan menimbulkan pola sirosis yang dikenal sebagai sirosis biliaris. Tipe ini merupakan 2% penyebab kematian akibat sirosis. Penyebab tersering sirosis biliaris adalah obstruksi biliaris pascahepatik. Stasis empedu menyebabkan penumpukan empedu di dalam massa hati dan kerusakan sel-sel hati. Terbentuk lembar-lembar fibrosa di tepi

22

lobules, namun jarang memotong lobulus seperti pada Sirosis Lannec. Hati membesar, keras, bergranula halus, dan berwarna kehijauan. Ikterus selalu menjadi bagian awal dan utama dari sindrom ini, demikian pula pruritus, malabsorbsi dan steatorea. Sirosis biliaris primer menampilkan pola yang mirip dengan sirosis biliaris sekunder yang baru saja dijelaskan di atas, namun lebih jarang ditemukan. Penyebab keadaan ini tidak diketahui. Sirosis biliaris primer paling sering terjadi pada wanita usia 30 hingga 65 tahun dan disertai dengan berbagai gangguan autoimun. Antibody antimitokondrial dalam sirkulasi darah (AMA) terdapat dalam 90% pasien. Sumbatan empedu sering ditemukan dalam kapiler-kapiler dan duktulus empedu, dan sel-sel hati sering kali mengandung pigmen hijau. Saluran empedu ekstrahepatik tidak ikut terlibat. Hipertensi portal yang timbul sebagai komplikasi jarang terjadi. Osteomalalasia terjadi pada sekitar 25% penderita sirosis biliaris primer (akibat menurunnya absorbsi vitamin D).

E. Manifestasi Klinis Stadium awal sirosis sering tanpa gejala sehingga kadang ditemukan pada waktu pasien melakukan pemeriksaan kesehatan rutin atau karena kelinan penyakit lain. Selama bertahun-tahun, sirosis hati bersifat laten, dimana perubahan-perubahan patologis berkembang lambat sehingga akhirnya gejala-gejala yang timbul membangkitkan kesadaran akan kondisi ini. Selama masa laten yang panjang, fungsi hati mengalami kemunduran secara bertahap. Gejala awal pasien dengan penyakit sirosis (tipe kompensata) bersifat samar dan nonspesifik berupa perasaan mudah lelah dan lemas, selera makan berkurang, perut terasa kembung, mual dan berat badan menurun. Nyeri tumpul atau perasaan berat pada epigastrium atau kuadran kanan atas abdomen dijumpai pada separuh dari semua penderita.

23

Pada lelaki dapat timbul suatu impotensi, testis mengecil, buah dada membesar sampai pada hilangnya dorongan seksual. Pada wanita terjadi abnormalitas menstruasi biasanya terjadi amenorea. Bila sudah lanjut (sirosis dekompensata), gejala-gejala lebih menonjol terutama bila timbul komplikasi kegagalan hati dan hipertensi porta, meliputi hilangnya rambut badan, gangguan tidur, dan demam tidak begitu tinggi. Mungkin disertai adanya gangguan pembekuan darah, perdarahan gusi, epistaksis, gangguan siklus haid, ikterus dengan air kemih berwarna seperti teh pekat, muntah darah terjadi 15-25%, melena, serta perubahan mental, meliputi mudah lupa, sukar konsentrasi, bingung, agitasi sampai koma. Temuan Klinis: 1. Spider angiomata (spider teleangiektasis atau spider naevi) yang merupakan lesi vaskuler yang dikelilingi beberapa vena-vena kecil. Tanda ini sering ditemukan di dada, bahu, muka dan lengan atas. Mekanisme terjadinya tidak diketahui dengan jelas. Ada anggapan dikaitkan dengan peningkatan ratio estradiol/testosteron bebas. Tanda ini juga dapat ditemukan selama hamil, malnutrisi berat bahkan ditemukan pula pada orang sehat walau umumnya ukuran lesi kecil.

2. Eritema palmaris berupa warna merah saga pada daerah thenar dan hipothenar pada telapak tangan. Hal ini juga dikaitkan dengan perubahan metabolisme hormon esterogen. Tanda ini pula tidak spesifik pada sirosis.

24

Ditemukan pula pada kehamilan, arthritis rheumatoid, hiperthiroidisme, dan keganasan hematologi.

3. Perubahan kuku-kuku Murchrche burupa pita putih horisontal dipisahkan dengan warna normal kuku. Mekanismenya juga belum diketahui, diperkirakan akibat hipoalbuminemia. Tanda ini juga bisa ditemukan pada hipoalbuminemia yang lain seperti syndroma nefrotik. 4. Jari gada lebih sering ditemukan pada sirosis bilier. Osteoarthropati hipertropi juga ditemukan pada pasien sirosis sebagai suatu periostitis proliferatik kronik yang menimbulkan nyeri.

5. Kontraktur dupuytren akibat fibrosis fasia palmaris menimbulkan kontraktur fleksi jari-jari berkaitan dengan alkoholisme tetapi tidak berkaitan secara spesifik dengan sirosis. Tanda ini juga bisa ditemukan pada pasien dengan

25

Diabetes Melitus, distrofi refleks simpatetik, dan perokok yang juga mengkonsumsi alkohol.

6. Ginekomastia secara histologis merupakan proliferasi benigna jaringan glandula mamae laki-laki, kemungkinan berupa peningkatan androstenedion. Selain itu ditemukan pula hilangnya rambut di dada dan aksila pada laki-laki, sehingga laki-laki mengalami perubahan ke arah feminisme. Sebaliknya pada perempuan, menstruasinya cepat berhenti sehingga dikira fase menopause. 7. Atrofi testis hipogonadisme menyebabkan impotensi dan infertil. Tanda ini menonjol pada sirosis alkoholik dan hemokromatosis. 8. Hepatomegali, ukuran hati yang sirotik bisa membesar, normal atau mengecil. Bilamana hati teraba, hati sirotik teraba membesar, keras dan nodular. 9. Splenomegali biasanya ditemukan pada sirosis terutama yang penyebabnya karena nonalkoholik. Pembesaran ini akibat kongesti pulpa merah lien akibat hipertensi porta. 10. Ascites berupa penimbunan cairan dalam rongga peritoneum akibat dari hipertensi porta dan hipo-albuminemia. Caput medusa merupakan pelebaran vena-vena kolateral dinding perut juga akibat hipertensi porta. 11. Fetor hepatikum sebagai bau napas yang khas pada pasien sirosis disebabkan peningkatan konsentrasi dimetil sulfid akibat pintasan porto sistemik yang berat.

26

12. Ikterus

pada

kulit

dan

membran

mukosa

merupakan

akibat

dari

hiperbilirubinemia. Bila kada bilirubin serum kurang dari 2-3 mg/dl, maka ikterik tidak dapat dilihat dengan kasat mata. Warna urin terlihat gelap seperti air teh. Pada kulit biasanya ditemukan hiperpigmentasi, terutama pada daerah distal ekstremitas. 13. Ensepalopati hepatik diyakini terjadi akibat kelainan metabolisme amonia dan peningkatan kepekaan otak terhadap toksin. Berkembangnya enselopati hepatik sering merupakan keadaan terminal sirosis dan akan dibicarakan lebih mendalam kemudian. Sindrom ini ditandai dengan Asterixis bilateral (flaping tremor) tetapi tidak sinkron berupa gerakan mengepak-ngepak dari tangan, dorsofleksi tangan. Tanda-tanda lain yang dapat menyertai antaranya demam yang tidak tinggi akibat nekrosis hepar, batu pada vesika felea, pembesaran kelenjar parotis terutama pada sirosis alkoholik akibat sekunder infiltrasi lemak, fibrosis dan edema. Manifestasi Hipertensi Portal Hipertensi portal didefinisikan sebagai peningkatan tekanan vena porta yang menetap di atas nilai normal yaitu 6 sampai 12 cm H2O. Tanpa memandang penyakit dasarnya, mekanisme primer penyebabhipertensi portal adalah peningkatan resistensi terhadap aliran darah melalui hati. Selain itu, biasanya terjadi peningkatan aliran arteria splangnikus. Kombinasi kedua faktor yaitu menurunnya aliran keluar melalui vena hepatika dan meningkatnya aliran masuk bersama-sama menghasilkan beban berlebihan pada sistem portal. Pembebanan berlebihan sistem portal ini merangsang timbulnya aliran kolateral guna menghindari obstruksi hepatik (varises). Tekanan balik pada sistem portal menyebabkan splenomegali dan sebagian bertanggung jawab atas tertimbunnya asites. Asites merupakan penimbunan cairan encer intraperitoneal yang mengandung sedikit protein. Faktor utama patogenesis asites adalah peningkatan

27

tekanan hidrostatik pada kapiler usus (hipertensi porta) dan penurunan tekanan osmotikkoloid akibat hipoalbuminemia. Faktor lain yang berperan adalah retensi natrium dan air serta peningkatan sintesis dan aliran limfe hati. Saluran kolateral penting yang timbul akibat sirosis dan hipertensi portal terdapat pada esofagus bagian bawah. Pirau darah melalui saluran ini ke vena cava menyebabkan dilatasi vena-vena tersebut (varises esofagus). Varises ini terjadi pada sekitar 70% penderita sirosis lanjut. Perdarahan dari varises ini sering menyebabkan kematian. Sirkulasi kolateral juga melibatkan vena superfisial dinding abdomen, dan timbulnya sirkulasi ini mengakibatkan dilatasi vena-vena sekitar umbilicus (kaput medusa). Sistem vena rektal membantu dekompensasi tekanan portal sehingga vena-vena berdilatasi dan dapat menyebabkan berkembangnya hemoroid interna. Perdarahan dari hemoroid yang pecah biasanya tidak hebat, karena tekanan di daerah ini tidak setinggi tekanan pada esofagus karena jarak yang jauh dari vena porta. Splenomegali pada sirosis dapat dijelaskan berdasarkan kongesti pasif kronis akibat aliran balik dan tekanan darah yang lebih tinggi pada vena lienalis. F. Diagnosis Pasien yang datang berobat dapat dicurigai ke arah sirosis apabila ditemukan kelainan pada pemeriksaan laboratorium ketika seseorang memeriksakan kesehatannya secara rutin atau waktu skrining untuk evaluasi keluhan spesifik. Lakukan pemeriksaan darah lengkap. Tes fungsi hati meliputi aminotransferase, alkali fosfatase, gama glutamil traspeptidase (-GT), bilirubiun, albumin, globulin dan waktu protrombin. Aspartat Aminotransferase (AST) atau Serum Glutamil Oksalo Asetat (SGOT) dan Alanin Amonotransferase (ALT) atau Serum Glutamil Piruvat Trasnsaminase (SGPT) meningkat tapi tidak begitu tinggi. AST lebih meningkat

28

daripada ALT, namun apabila transaminase normal, tidak mengenyampingkan adanya sirosis. Alkali fosfatase meningkat kurang dari 2 3 kali harga batas normal atas. Kadar yang tinggi bisa ditemukan pada pasien kolangitis sklerosis primer dan sirosi bilier primer. Gama Glutamil Transpeptidase (-GT) kadarnya seperti

halnya alkali fosfatase pada penyakit hati. Kadarnya tinggi pada penyakit hati alkoholik kronik karena alkohol selain menginduksi GT mikrosomal hepatik, juga bisa menyebabkan bocornya GT dari hepatosit. Bilirubin kadarnya bisa normal pada sirosis kompensata namun meningkat pada sirosis yang lanjut. Albumin merupakan zat yang disintesis di hati sehingga kadarnya menurun seiring dengan perburukan sirosis. Globulin merupakan akibat sekunder dari sirosis. Akibat sekunder dari pintasan antigen bakteri dari sistem porta ke jaringan limfoid, selanjutnya menginduksi produksi immunoglobulin. Waktu protrombin menggambarkan derajat/tingkatan disfungsi sintesis hati. Sehingga, pada sirrosis waktu protrombin menjadi memanjang. Albumin serum dan waktu protrombin merupakan indikator terbaik dari sintesis hati. Natrium serum menurun, terutama pada sirosis dengan ascites karena ketidakmampuan ekskresi air bebas. Kadar natrium juga turut dipengaruhi oleh efek diuretik. Kelainan hematologi seperti anemia dapat berupa anemia monokrom normositer, hipokrom mikrositer atau hipokrom makrositer. Anemia dengan trombositopenia, leukopenia dan neutropenia akibat spelomegali kongestif yang berkaitan dengan hipertensi portal sehingga terjadi hipersplenisme. Pemeriksaan radiologis barium meal dapat melihat varices untuk mengkonfirmasi adanya hipertensi porta. Ultrasonografi (USG) sudah secara rutin digunakan karena pemeriksaan non-invasif dan mudah digunakan, namun sensitivitasnya kurang. Pemeriksaan hati yang bisa

29

dinilai dengan USG berupa sudut hati, permukaan hati, ukuran, homogenitas dan adanya massa. Pada sirosis lanjut, hati mengecil dan nodular, permukaan irregular, sudut tumpul dan ada peningkatan ekogenitas (kasar) parenkim hati. Selain itu USG juga bisa untuk melihat ascites, splenomegali, trombosis vena porta dan pelebaran vena porta, serta skrining adanya karsinoma hati pada pasien sirosis hati.

G. Penatalaksanaan Etiologi sirosis mempengaruhi penanganan sirosis. Terapi ditujukan untuk mengurangi progresi penyakit, menghindarkan bahan-bahan yang memudahkan kerusakan hati, pencegahan dan penanganan komplikasi. Bilamana tidak ada koma hepatik, diberikan diet yang mengandung 1 g/kgBB dan kalori sebanyak 2000-3000 kalori/hari. Tatalaksana pasien sirosis yang masih kompensata ditujukan untuk mengurangi progresi kerusakan hati. Terapi pasien ditujukan untuk menghilangkan etiologi diantaranya alkohol dan bahan-bahan lain yang toksik dan dapat mencederai hati dihentikan penggunaannya. Pemberian

asetaminofen,kolkisisn, dan obat herbal bisa menghambat kolagenik. Pada hepatitis autoimun dapat diberikan steroid atau imunosupresif. Pada hemokromatosis flebetomi diberikan setiap minggu sampai konsentrasi besi menjadi normal dan diulang sesuai kebutuhan. Pada penyakit hati nonalkoholik, menururnkan berat badan akan mencegah terjadinya sirosis. Pada hepatitis B, interferon dan Lamivudin (analog nukleosida) merupakan terapi utama. Lamivudin sebagai terapi lini pertama diberikan 100 mg secara oral tiap hari selama setahun. Namun pemberian Lamivudin setelah 9-12 bulan menimbulkan mutasi YMDD sehingga terjadi resistensi obat. Interferon alfa diberikan secara suntikan subkutan 3MU 3 kali seminggu selama 4-6 bulan, namun ternyata banyak juga yang kambuh.

30

Pada hepatitis kronik, kombinasi interferon dan Ribavirin merupakan terapi standar. Interferon diberikan secara suntikan subkutan 5 MIU 3 kali seminggu dan dikombinasi dengan ribavirin 800-1000 mg/hari selama 6 bulan. Pada pengobatan fibrotik hati, pengobatan antifibrotik saat ini lebih mengarah pad aperadangan dan tidak pada fibrosis. Di masa datang, menempatan sel stelata sebagai mediasi target pengobatan dan mediator fibrogenik akan merupakan terapi utama. Pengobatan untuk mengurangi aktifitas dari sel stelata bisa merupakan salah satu terapi pilihan. Interferon mempunyai aktifitas antifibrotik yang dihubungkan dengan pengurangan aktivitas sel stelata. Kolkisin mempunyai efek antiperadangan dan mencegah pembentukan kolagen. Namun belum terbukti secara penelitian memiliki antifibrosis dan sirosis. Metroteksat dan vitamin A juga dicobakan sebagai antifibrosis. Penatalaksanaan asites dapat berupa tirah baring dan diawali dengan diet rendah garam, konsumsi garam sebanyak 5,2 gram atau 90 mmol/hari. Diet rendah garam dikombinasi dengan obat-obat diuretik. Awalnya dengan pemberian spironolakton dengan dosis 100-200 mg sekali sehari. Respon diuretik bisa dimonitor dengan penurunan berat badan 0,5 kg/hari tanpa oedem kaki atai 1kg/hari dengan oedem kaki. Bilamana pemberian spironolakton tidak adekuat bisa dikombinasi dengan furosemid dengan dosis 20-40 mg/hari. Pemberian bisa ditambah dosisnya bila tidak ada respon maksimal 160mg/hari. Parasintesis dilakukan bila asites sangat besar. Pengeluaran asites bisa 4-6 liter dan dilindungi dengan pemberian albumin. Penatalaksanaan ensefalopati hepatik dengan laktulosa untuk

membantu pasien untuk mengeluarkan amonia. Neomisin bisa digunakan untuk mengurangi bakteri usus penghasil amonia, diet protein dikurangi sampai dengan 0,5 g/kgBB perhari terutama diberikan yang asam amino rantai cabang. Penatalaksanaan varises esofagus dengan obat penyekat beta (propanolol). Waktu perdarahan akut bisa diberikan somatostatin atau oktreotid diteruskan dengan tindakan skleroterapi atau ligasi endoskopi. Peritonitis bakterial spontan

31

diberikan antibiotik seperti sefotaksim intravena, amoksisilin atau aminoglikosida. Sindrom hepatorenal: mengatasi perubahan sirkulasi darah di hati, mengatur keseimbangan garam dan air. Transplantasi hati, terapi definitif pada pasien sirosis dekompensata. Namun, sebelum melakukan transplantasi hati ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi resipien dulu. TIPS shunt (Transjugular intrahepatic portosystemic shunt) dapat juga dilakukan pada pasien sirosis hati yang merupakan prosedur invasif. TIPS shunt adalah pipa logam yang diletakkan di hati dengan bantuan x-ray melalui insisi pada vena jugularis di leher. TIPS shunt belekrja dengan menurunkan tekanan pada hipertensi portal. Banyak digunakan untuk mengatasi pasien dengan komplikasi seperti asites atau perdarahan dari varises yang tidak bisa dikontrol dengan obat atau endoskopi.

H. Prognosis Prognosis sirosis sangat bervariasi dipengaruhi sejumlah faktor meliputi etiologi, beratnya kerusakan hati, komplikasi, dan penyakit lain yang menyertai. Klasifikasi child pugh juga untuk menilai prognosis pasien sirosis yang akan menjalani operasi, variabelnya meliputi konsentrasi bilirubin, albumin, ada tidaknya asites, ensefalopati dan status nutrisi. Klasifikasi ini terdiri dari chlid A, B, C, dan berkaitan dengan kelangsungan hidup. Angka kelangsungan hidup selama satu tahun untuk pasien dengan child A, B, C berturut turut 100,80, dan 45% Tabel 2.Klasifikasi Sirosis hati dengan Kriteria Child-Pugh: Skor / Parameter Bilirubin (mg %) Albumin (g %) Protrombin Time (quick %) Ascites 0 Minimal Sedang Banyak 1 < 2,0 > 3,5 > 70 2 2 - < 3,0 2,8 - < 3,5 40 - < 70 3 > 3,0 < 2,8 < 70

32

Hepatic Encephalopaty

Tidak Ada

Std. 1 2

Std. 3 - 4

Bila < 6 Bila < 7-9 Bila > 10

: child pugh A : child pugh B : child pugh C

Penilaian prognosis terbaru adalah dnegan model for end stage liver disease (MELD) digunakan untuk pasien sirosis yang akan dilakukan transplantasi hati. MELD adalah sistim skor untuk mengetahui tingkat keparahan dari sirosis hepatis. Hal ini berguna untuk memprediksi angka bertahan hidup dalam 3 bulan pada pasien yang telah menjalani prosedur operasi Transjugular intrahepatic portosystemic shunt(TIPS) dan berguna untuk menentukan prognosis dan prioritas untuk mendapatkan transplantasi hati. MELD menggunakan nilai dari bilirubin serum, kreatinin serum, dan ratio internasional untuk waktu pembekuan darah (INR) untuk memprediksi angka bertahan hidup. MELD = 3.78[Ln serum bilirubin (mg/dL)] + 11.2[Ln INR] + 9.57[Ln serum creatinine (mg/dL)] + 6.43

Apabila pasien telah menjalani hemodialisis sebanyak 2 x dalam seminggu terakhir, maka nilai untuk kreatinin serum harus 4.0.

Bila ada nilai di bawah 1 maka dimasukkan nilai 1 nya (jika bilirubin 0,8 amka dibulatkan menjadi 1) untuk menghindari nilai skor di bawah 0. Interpretasi skor MELD pada pasien yang dirawat, maka angka kematian

(mortality) selama 3 bulan adalah:


40 atau lebih 100% mortality 3039 83% mortality 2029 76% mortality 1019 27% mortality <10 4% mortality

33

I. Komplikasi Hati memiliki banyak fungsi metabolik yang sangat kompleks, sehingga banyak komplikasi yang menyertai sirosis. Sebagian komplikasi timbul pada umumnya disebabkan karena penyakit yang menyertai sirosis (sebagai contoh, osteoporosis lebih banyak pada penderita sirosis

dibandingkan dengan penyakit yang berhubungan dengan kandung empedu). Dibawah ini adalah beberapa komplikasi dari sirosis: 1. Ascites Asites adalah retensu dari sejumlah cairan yang berada di rongga abdomen. Bila jumlahnya sedikit, asites mungkin dapat terdeteksi dengan USG atau CT scan. Bila jumlahnya meningkat menimbulkan peningkatan ukuran dan isi abdomen, menurunkan nafsu makan dan rasa tidak nyaman di perut. Bila asites sangat banyak, cairan akan membatasi ekspansi normal dari dada ketika bernafas dan sering menyebabkan sesak. Selain itu, asites dapat terinfeksi yang menyebabkan peritonitis bakteri spontan. Gejalanya berupa demam dan nyeri perut, tapi sering gejala klinis tidak tampak. Peritonitis bakteri spontan merupakan komplikasi serius yang memerlukan penanganan dengan antibiotik yang biasanya diberikan secara intravena.

2. Varices Varises adalah pelebaran abnormal vena (sama dengan varises yang ada di tungkai bawah) yang terbentuk karena sistem digestive pasien dengan sirosis. Varises biasanya timbul di esofagus. Biasanya pasien disarankan untuk melakukan endoskopi untuk melihat adanya varises. Dinding dari vena melebar menjadi tipis sehingga memudahkan varises untuk robrk dan berdarah ke dalam traktus digestivus. Pada pasien yang memili varises yang besar tetapi tidak mengalami perdarahan, terapi medis

34

menggunakan obat antihipertensi atau terapi dengan endoskopi sangat dianjurkan untuk mengurangi resiko perdarahan. Perdarahan pada esofagus atau lambung merupakan kondisi yang dapat diselamatkan dan memerlukan intervensi segera. Gejalanya berupa muntah berwarna darah atau berwarna seperti kopi atau melena.

3. Ensefalopati hepatis Pada sirosis, fungsi filtrasi berkurang dan aliran balik dari usus tidak sepenuhnya didetoksifikasi. Sehingga ketika produk pembuangan ini memasuki sirkulasi, mereka memasuki otak dan kondisi ini disebut dengan ensefalopati hepatis. Gejala klinisnya adalah penurunan kesadaran, bingung, berbicara tidak lancar. Pada beberapa kasus, pasien dapat mengalami koma. Kita dapat melihat adanya tremor pada pasien ini. Level amonia juga akan meningkat.

4. Kanker hati Pasien dengan sirosis merupakan resiko tinggi dari terjadinya kanker hati yang disebut dengan karsinoma hepatoselular. Resiko terjadinya kanker hati tergantung pada penyakit yang menyertai, tetapi pad a pasien dengan hepatitis C resikonya sekitar 3% setiap tahun. Penanganan akan berhasil bila kanker ini terdeteksi secara dini. Kanker hati biasanya tidak memiliki gejala klinis ketika kecil dan penanganan akan terbatas pada penanganan gejala. Pasien akan direkomendasi untuk melakukan USG, CT scan atau MRI dari hati setiap 6 bulan untuk mendeteksi adanya tumor. Tes alfa fetoprotein digunakan untuk mendeteksi tumor. (AFP) juga dapat

35

Anda mungkin juga menyukai