Anda di halaman 1dari 10

A.

PENGERTIAN Potensiometri merupakan metode analisis kimia berdasar hubungan antara potensial elektroda relatif dengan konsentrasi larutan dalam suatu sel kimia. Metode ini berguna untuk menentukan titik setara suatu titirasi secra instrumental sebagai pengganti indikator visual. Alat yang digunakan untuk melakukan percobaan ini adalah potensiometri atau pH meter dengan elektroda kerja dan referensi yang tercelup dalam larutan yang diukur. Hasil pengukuran berupa harga potnsional elektroda yang dapat dibuat kurva hubungan antara potensial (E) dan volume pereaksinya (Sumar, 1994). Potensiometri merupakan salah satu cara pemeriksaan fisik kimia yang menggunakan peralatan listrik untuk mengukur potensial elektroda, besarnya potensial elektroda ini tergantung pada kepekatan ionion tertentu dalam larutan, karena itu dengan memakai persamaan Nernst : E = Eo + k log (c) Dimana : E = sel potensial yang diukur Eo = konstan selama pemberian suhu C = konsentrasi yang ditentukan Potensial suatu elektroda tidak dapat diukur tersendiri, tetapi dapat ditentukan dengan menggunakan elektroda indikator dengan elektroda pembanding yang hanya memiliki harga potensial yang tetap selama pengukuran. Elektroda pembanding yang diambil sebagai baku international adalah elektroda hidrogen baku. Harga potensial elektroda ini ditetapkan nol pada kesadahan baku ( H+ )= 1 M, tekanan gas H2 = 1 atm dan suhu 25o C, sedangkan gaya gerak listrik ( GGL ) pasangan elektroda itu diukur dengan bantuan potensiometer yang sesuai, dan sering digunakan peralatan elektronik (Underwood, 1998). Potensial dalam titrasi potensiometri dapat diukur sesudah penambahan sejumlah kecil volume titran secara berturut-turut atau secara kontinu dengan perangkat automatik. Presisi dapat dipertinggi dengan sel konsentrasi. Elektroda indikator yang digunakan dalam titrasi potensiometri tentu saja akan bergantung pada macam reaksi yang sedang diselidiki. Jadi untuk suatu titrasi asam basa, elektroda indikator dapat berupa elektroda hidrogen atau sesuatu elektroda lain yang peka akan ion hidrogen, untuk titrasi pengendapan halida dengan perak nitrat, atau perak dengan klorida akan digunakan elektroda perak, dan untuk titrasi redoks (misalnya, besi(II)) dengan dikromat digunakan kawat platinum semata-mata sebagai elektroda redoks (Khopkar, 1990). Potensiometri merupakan aplikasi langsung dari persamaan Nerst dengan cara pengukuran potensial dua elektroda tidak terpolarisasi pada kondisi arus nol. Persamaan Nersnt memberikan hubungan antara potensial relatif suatu elektroda dan
1

konsentrasi spesies ioniknya yang sesuai dalam larutan. Dengan pengukuran potensial revensibel suatu elektroda, maka perhitungan aktivitas atau konsentrasi suatu komponen dapat dilakukan. Jika dua elektroda yang sama diletakkan pada silinder berisi larutan yang sama, (tetapi berbeda konsentrasi) serta dihubungkan dengan suatu jembatan garam, maka potensial diantara dua lektroda sesuai dengan perbandingan kedua konsentrasinya tersebut. Ini diketahui sebagai sel konsentrasi (Khopkar, 2003). Dalam suatu titrasi potensiometri titik akhir ditemukan dengan menentukan volume yang menyebabkan perubahan relative besar dalam potensial apabila titran ditambahakan beberapa metode menyalurkan beberapa data titrasi dapat digunakan untuk semua reaksi digunakan untuk tujuan titrimetri asam basa, reaksi pengendapan dan pembentukan kompleks. Dipilih suatu alat elektroda indicator yang tepat untuk suatu elektroda pembanding seperti kalomel untuk melengkapi sel titrasi potensiometri dapat digunakan dengan tangan ataupun dengan potensioautomatik penekanan kurva titrasi secara automatic pada titik akhir(Underwood, 1998). Sejak permulaan abad ini metode potensiometri telah digunakan untuk mendeteksi titik akhir titrasi. Sekarang meode ini dapat digunakan secara langsung untuk menentukan konsentrasi suatu ion (ion selective electrode). Alat-alat yang diperlukan dalam metode potensiometri adalah : 1. Elektroda pembanding 2. Elektroda indicator 3. Alat pengukur potensial B. ALAT YANG DIPERLUKAN DALAM METODE POTENSIOMETRI 1. Elektroda Pembanding Elektroda pembanding adalah suatu elektroda dengan harga potensial setengah sel yang diketahui, konstan, dan sama sekali tidak peka terhadap komposissi larutan yang sedang disilidiki. Pasangan elektroda pembanding adalah elektroda indikator yang potensialnya tergantung pada konsentrasi zat yang sedang diselidiki. Bebrapa contoh elektroda pembanding : - Elektroda Kalomel Setengah sek elektoda kalomel dapat ditunjukkan sebagai : ll Hg2Cl2 (satd), KCl (xM) l Hg Dengan x meunjukkan konsentrasi KCl didalam larutan. Reaksi elektroda dapat dituliskan sebagai : Hg2Cl2 + 2e- 2Hg + 2Cl2

Potensial sel ini akan bergantung pada konsentrasi klorida x, dan harga konsentrasi ini harus dituliskan untuk memperjelas elektroda. Elektroda kalomel jenuh (saturated calomel electrode, SCE), biasanya banyak digunakan oleh para pakar kimia analitik karena banyak tersedia dipasaran dan konsentrasi klorida tidak mempengaruhi harga potensial elektroda.Harga potensial SCE adalah 0,244 V pada 25oC dibandingkan terhadapelektroda hidrogen standart. Elektroda calomel ditunjukan oleh gambar di bawah ini.

Elektroda kalomel terbuat dari tabung gelas atau plastik dengan panjang 5 - 15 cm dan garis tengah 0,5 - 1 cm. Pasta Hg/HgCI terdapat di dalam tabungyang lebih dalam, dihubungkan dengan larutan KCI jenuh melalui lubang kecil.Kontak elektroda ini dengan larutan dari setengah sel lainnya melalui penyekatyang terbuat dari porselen atau asbes berpori. Elektroda Perak / Perak Klorida Elektroda pembanding yang mirip dengan elektroda adalah terdiri dari suatu perak yang dicelupkan kedalam larutan Cl yang dijenuhkan dengan AgCl. Setengah sel elektroda perak dapat ditulis : ll AgCl (satd), KCl (xM) l Hg Reaksi setengah selnya adalah AgCl + e_ Ag + ClBiasanya elektroda ini terbuadari suatu larutan jenuh atau 3,5M KCl yang harga potensialnya adalah 0.199 V (jenuh) dan 0.205 V (3,5M) pada 25 0C. Elektroda ini dapat digunakan pada suhu yag lebih tinggi sedangkan elektroda kalomel tidak (Sumar, 1994).
3

Kelebihan utama potensiometer adalah pada saat potensial dibaca, tidak ada arus yang mengalir dalam larutan (arus residual akibat tanan sel dan efek polarisasi dapat diabaikan). Sel standar yang biasanya digunakan untuk mengkalibrasi potensiometer adalah sel Weston jenuh dengan potensial 1,01864 V pada 20 0C yang berkurang sebanyak 410-5 V tiap kenaikan temperatur 10C. Suatu pH meter adalah seperangkat alat pengukur potensial elektroda tanpa aliran arus dan sekaligus menguatkan sinyal yang ditimbulkan pada elektroda gelas dengan suatu tabung vakum elektrik. Suatu pH meter dengan tipe defleksi, paling tidak mempunyai tipe panel kendali berupa tombol operasi, tombol standarisasi dengan beffer standar, tombol kompensator temperatur yang memungkinkan untuk memperbaiki kepekaannya berdasarkan ketergantungan potensial Nerst terhadap temperatur. Beberapa model dilengkapi juga dengan suatu tombol seleksi skala, dan ini dikenal sebgai pH meter dengan skala diperluas (Khopkar, 2003). 2. Elektroda indicator Electrode indikator dibagi menjadi dua kategori, elektroda logam dan elektroda elektroda membran. Elektroda logam dapat dikelompokkan kedalam elektroda jenis pertama, jenis kedua, jenis ketiga dan elektroda redoks (Sumar, 1994). - Elektroda Logam Beberapa logam seperti perak, raksa, tembaga, dan timbal dapat bekerja sebagai elektroda indikator, apabila berhubungan dengan suatu larutan dari ionnya. Misalnya potensial yang ditimbulkan pada sepotong kawat perak yang tercelup dalam suatu larutan perak nitrat berubah-ubah dengan aktivitas ion perak sesuai dengan ramalan persamaan Nernst. Kiranya pemindahan elektron
4

reversibel terjadi antara permukaan logam dan ion-ion di dalam larutan. Elektroda jenis ini yang ionnya dapat bertukar secara langsung dengan logam disebut elektroda jenis pertama (Underwood, 1998). Jadi, Elektroda jenis pertama adalah elektroda yang langsung berkeseimbangandengan kation yang berasal dari logam tersebut. Contoh, elektroda tembaga. Cu 2+ + 2e Cu(s) Sehingga, E = E0Cu (0,059/2) log [1/Cu2+] E = EoCu - (0,059/2) pCu dengan pCu adalah - log [Cu2+], jadi elektroda tembaga mengukur langsung pCu. Logam lain yang mempunyai sifat dapat balik (reversibel) meliputi, perak,raksa, kadmium, seng dan timbal. Elektroda perak-perak klorida, sebagai suatu elektroda pembanding merupakan suatu contoh elektroda jenis kedua. Pada suatu elektroda jenis kedua, ion dalam larutan tidak bertukar eletron secara langsung dengan elektroda logam. Jadi, Elektroda jenis kedua adalah elektroda yang harga potensialnya bergantungpada konsentrasi suatu anion yang dengan ion yang berasal dari elektroda membentuk endapan atau ion kompleks yang stabil. Contoh, elektroda perakuntuk halida, reaksinya dapat ditulis : AgCl(s) + e Ag(s) + ClSehingga, E = E0 (0,059/1) ) log [Cl-] E = E0 - 0,059 pCl Contoh lain, elektroda raksa untuk mengukur konsentrasi anion EDTA(disingkat Y4-). Pengukurannya didasarkan pada sifat elektroda raksa dalamlarutan kompleks stabil Hg(II)-EDTA encer. Reaksi pada elektroda adalah, HgY2- + 2 eHg(l) + Y4- E = 0,21 V Untuk reaksi tersebut berlaku, E = 0,21 - (0,059/2) log { [Y4-] / [HgY2-] } Untuk menggunakan sistem elektroda ini perlu ditambahkan sedikit HgY 2 kedalam larutan. Karena kompleks ini sangat stabil (untuk HgY2-, Kf = 6,3 x 1021),maka konsentrasi HgY2- diangap tetap. Sehingga persamaannya menjadi, E = K - (0,059/2) log [Y4-] E = K - (0,059/2) pY dengan K = 0,21 - (0,059/2) log {1 / [HgY2-] } Suatu elektroda jenis ketiga yang secara luas dipakai adalah elektroda raksa EDTA. Telah diamati oleh Reilley dan Schmid bahwa potensial elektroda suatu raksa bersangkut secara reversibel dengan ion-ion logam lain dalam
5

larutan dengan adanya kompleks raksa(Underwood, 1998). Jadi, Elektroda jenis ketiga adalah elektroda logam yang harga potensialnyabergantung pada konsentrasi ion logam lain. Contoh, elektroda Hg dapatdigunakan untuk menentukan konsentrasi Ca2+, Zn2+, atau Cd2+ yang terdapatdalam larutan. Untuk elektroda Hg dengan kompleks EDTA seperti padaelektroda kedua, potensial elektrodanya dapat ditulis kembali, E = K - (0,059/2) log [Y4-] Bila ditambahkan sedikit kompleks Ca(II)-EDTA, maka kesetimbangan baru akan terbentuk : CaY2Ca2+ + Y4Kf = [Ca2+] [Y4-] / [CaY2-] Dengan menggabungkan harga konstanta pembentukan kompleks CaY 2- dengan persamaan sebelumnya didapat E = K - (0,059/2) log { Kf [CaY2-] / [Ca2+] } Elektroda Redoks Logam mulia seperti platina, emas, dan paladium bertindak sebagaielektroda indikator pada reaksi redoks. Contoh potensial elektroda platina didalam larutan yanfg mengandung ion-ion Ce3+dan Ce4+ adalah, E = E0 - 0,059 log [Ce3+]/[Ce4+] Dengan demikian elektroda platina dapat bertindak sebagai elektroda indikator didalam titrasi cerimetri. Elektroda Membran Elektroda membran berbeda dalam pokoknya dari elektroda logam yang telah dibahas. Tidak ada elektron yang diberikan oleh atau kepada membran. Justru sebuah membran membiarkan jenis-jenis ion tertentu untuk menembusnya, tetepi menahan yang lain. Elektroda gelas, yang digunakan untuk menentukan pH, merupakan contoh elektroda membran yang paling luas dikenal (Underwood, 1998). Klasifikasi elektroda indikator membran ada dua jenis, yaitu elektrodaselektif ion dan elektroda selektif molekul. 1. Elektroda selektif ion a. Membran Kristal Kristal tunggal, contoh LiF3 untuk F Polikristalin atau kristal campuran contoh Ag2S untuk S2-dan Ag+ b. Nonkristalin membrane Gelas, contoh gelas silikat untuk Na+ dan H+ Cairan, contoh cairan penukar ion untuk Ca2+ dan pembawa netral untuk K+
6

Cairan polimer contoh polivinil klorida untuk Ca2+ dan NO2. Elektroda selektif molekul a. Pendeteksi gas, contoh membran hidrofob untuk CO2 dan NH3 b. Elektroda bersubstrat enzim, contoh membran urease untuk urea darah 3. Alat Pengukur Potensial pH meter merupakan contoh aplikasi elektroda membran yang berguna untuk mengukur pH larutan. pH meter dapat juga digunakan untuk menentukan titik akhir titrasi asam basa pengganti indikator. Alat ini dilengkapi dengan elektroda gelas dan elektroda kalomel (SCE) atau gabungan dari keadaan (elektroda kombinasi). Diagram pH meter ditunjukkan(Sumar, 1994). Hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan elektroda-elektroda ialah cairan dalam elektroda adalah cairan dalam elektroda harus selalu dijaga lebih tinggi dari larutan yang diukur. Peringatan ini dimaksudkan untuk mencegah kontaminasi larutan elektroda atau penyumbatan penghubung karena reaksi ion-ion analit dengan ion raksa atau ion perak(Sumar, 1994). C. APLIKASI TITRASI POTENSIOMETRI Potensial suatu elektroda indikator berguna untuk menentukan titik ekuivalen suatu titrasi. Penentuan titik ekivalen dengan cara ini lebih teliti dari pada penggunaan indikator. Akan tetapi metode ini memerlukan waktu yang lebih lama jka tidak menggunakan titrasi automatik. Titrasi potensiometri dapat digunakan untuk titrasi pengendapan, pembentukan komplek, netralisasi, dan redoks (Sumar, 1994). Reaksi-reaksi yang berperan dalam pengukuran titrasi potensiometri yaitu reaksi pembentukan kompleks reaksi netralisasi dan pengendapan dan reaksi redoks. Pada reaksi pembentukan kompleks dan pengendapan, endapan yang terbentuk akan membebaskan ion terhidrasi dari larutan. Umumnya digunakan elektroda Ag dan Hg, sehingga berbagai logam dapat dititrasi dengan EDTA. Reaksi netralisasi terjadi pada titrasi asam basa dapat diikuti dengan elektroda indikatornya elektroda gelas. Tetapan ionisasi harus kurang dari 10-8. Sedangkan reaksi redoks dengan elektroda Pt atau elektroda inert dapat digunakan pada titrasi redoks. Oksidator kuat (KMnO 4, K2Cr2O7, Co(NO3)3) membentuk lapisan logam-oksida yang harus dibebaskan dengan reduksi secara katoda dalam larutan encer (Khopkar, 1990). Bermacam reaksi titrasi dapat diikuti dengan pengukuran potensiometri. Reaksinya harus meliputi penambahan atau pengukuran beberapa ion yang sesuai dengan jenis elektrodanya. Potensial diukur sesudah penambahan sejumlah kecil volume titran secara berturut-turut atau secara kontinyu dengan perangkat automatic. Presisi dapat dipertinggi dengan sel konsentrasi.
7

a. Reaksi Netralisasi Titrasi asam basa dapat diikuti dengan elektroda indikatornya elektroda gelas. b. Reaksi pembentukan kompleks dan pengendapan Pembentukan endapan atau kompleks akan membebaskan ion terhidrasi dari larutan. Biasanya digunakan elektroda Ag dan Hg. Berbagai logam dapat dititrasi dengan EDTA. - Titrasi pengendapan Campuran halida dapat ditentukan dengan titrasi argentometri.Perubahan potensialnya dapat dideteksi oleh elektroda indikator perak atauelektroda membran perak sulfida yang sensitif terthadap ion Ag+. Pada permulaan titrasi, hanya AgI yang kelarutannya kecil teramati. Setelah semua Iterendapkan, Br- mengendap sebagai AgBr dan akhirnya AgCl terbentuk palingakhir (kelarutannya paling besar). - Titrasi Kompleksometri Misalnya titrasi ion Hg2+ dengan ion EDTA. Elektroda indikator logamraksa dan elektroda pembanding kalomel digunakan pada titrasi ini. Hargapotensial sel diukur berdasarkan reaksi reduksi ion Hg2+ pada elektroda indicator raksa. Hg2+ + 2 eHg(s) E0 = 0,854 V E = E0- (0,059/2) log [1/Hg2+] Persamaan tersebut digunakan untuk meramalkan harga potensial sebelumditambah titran larutan EDTA. Saat EDTA diteteskan, maka terjadikesetimbangan, Hg2+ + Y4HgY2Konsentrasi ion Hg2+ dalam larutan berkurang. Sebelum mencapai titik ekivalen,harga potensial dihitung dari persamaan E di atas.Setelah mencapai ekivalen (100%), konsentrasi ion Hg2+ dihitung berdasarkan tetapan pembentukan kompleks, Kf, Kf = [HgY2-] / [Hg2+] [Y4-] c. Reaksi Redoks Elektroda Pt atau elektroda inert dapat digunakan pada titrasi redoks. Oksidator kuat membentuk lapisan logam oksida yang harus dibebaskan dengan reduksi secara katoda dalam larutan encer (Khopkar, 2003)

PENUTUP Kesimpulan : Potensiometri merupakan metode analisis kimia berdasar hubungan antara potensial elektroda relatif dengan konsentrasi larutan dalam suatu sel kimia. Metode ini berguna untuk menentukan titik setara suatu titirasi secra instrumental sebagai pengganti indikator visual. Alat yang digunakan untuk melakukan percobaan ini adalah potensiometri atau pH meter dengan elektroda kerja dan referensi yang tercelup dalam larutan yang diukur. Hasil pengukuran berupa harga potnsional elektroda yang dapat dibuat kurva hubungan antara potensial (E) dan volume pereaksinya

Daftar pustaka http://catatankecilduniaku.wordpress.com/2012/04/18/potensiometri/ .


http://www.scribd.com/doc/29263727/Potensiometri-4

Bard, A.J. & Faulker, L.R. 1980.Electrochemical Methods . New York: JohnWilley & Sons.

10