Anda di halaman 1dari 3

Dalam hukum internasional suatu Negara tidak memiliki kewajiban untuk menyerahkan tersanga pelaku kejahatan kepada Negara

asing, karena adanya prinsip soverignity bahwa setiap Negara memilki otoritas hukum atas orang yang berada dalam batas negaranya. Karena ketiadaan kewajiban internasional tersebut dan keinginan untuk mengadili pelaku kejahatan dari Negara lain telah membentuk suatu jaringan persetujuan atau perjanjian ekstradisi, kebanyakan Negara di dunia telah menandatanganiperjanjian ektradisi bilateral dengan Negara lainnya.1 Ekstradisi adalah penyerahan oleh suatu Negara kepada Negara lain yang meminta penyerahan seseorang yang disangka atau dipidana karena melakukan sesuatu kejahatan diluar wilayah Negara yang menyerahkan dan sisalam yurisdiksi wilayah Negara yang meminta penyerahan tersebut, karena berwenang untuk mengadii dan memidananya.2 Dari definisi ini dapatlah dikemukakan beberapa unsure penting yang harus dipenuhi agar dapat disebut ekstradisi, yaitu : 1. Ekstradisi adalah merupakan penyerahan orang yang diminta yang dilakukan secara formal, jadi harus melalui cara atau prosedur tertentu. 2. Ekstradisi hanya bisa dilakukan apabila didahului dengan permintaan untuk menyerahkan dari Negara peminta kepada ngara yang diminta. 3. Ekstradisi bisa dilakukan baik berdasarkan perjanjian ekstradisi yang sudah ada sebelumnya atau bisa juga dilakukan berdasarkan azas timbale balik apabila sebelumnya tidak ada perjanjian ektradisi antara kedu pihak. Dalam hal ini praktek Negara berbeda-beda. Ada Negara yang bersedia menyrerahkan orang yang diminta walaupun ebelumnya tidak ada perjanjian ektradisi antara kedua pihak. Ada Negara yang tidak bersedia menyerahkan orang yang diminta apaila sebelumnya tidak ada perjanjian ektradisi antara kedua pihak. 4. Orang yang diminta bisa berstatus sebagai tersangka, tertuduh atau terdakwa dan bisa juga sebagai terhukum. 5. Maksud dan tujuan ektradisi addalah untuk mengadili orang yang diminta atau menjalani masa hukumannya. Ditinjau dari asal katanya, istilah ektradisi berasal dari bahasa latin extradere dengan maksud penyerahan yang dilakukan secara formal baik berdasarkan prinsip timbale balik, atas seseorang yang dituduh melakukan tindak pidana kejahatan atau atas seseorang Pada tanggal 18 januari 1979 telah diundangkan dalam Lembaran Negara tahun 1979 Nomor 2, Undang-undang Nomor 1 tahun 1979 tentang ektradisi yang
1 2

menggantikan koninklijk Besluit 8 Mei 1883 No. 26 (Staatsblad 1883-1888) tentang Uitlevering van vreemdelinger (penyerahan orang asing). Hal ini dilakukan mengingat peraturan itu adalah hasil legistlatif dan pemerintah Belanda pada waktu yang lampau dan ditetapkan lebih dari 90 tahun sebelum Undang-undang Nomor 1 tahun 1979 dikeluarkan, karena itu sudah barang tenteu peraturan tersebut tidak sesuai lagi dengan tata hukum dan perkembangan Negara. Oleh karena itu peraturan tersebut dicabut dan disusun suatu Undang-Undang nasional yang mengatur tentang ektradisi orang-orang yang disangka telah melakukan kejahatan di luar negeri melarikan diri ke Indonesia, ataupun untuk menjalani pidana yang telahdijatuhkan dengan putusan pengadilan. Undang-undang ini dimaksudkan untuk memberikan dasar hukum bagi pembuat perjanjian dengan Negara-negara asing maupun untuk menyerahkan seseorang tanpa adanya perjanjian. Keputusan tentang permintaan ektradisi bukanlah keputusan badan yudikatif namun merupakan keputusan badan eksekutif, oleh sebab itu pada taraf terakhir terletak dalam tangan presiden, setelah mendapat nasihat yuridis dari menteri kehakiman berdasarkan penetapan pengadilan.3 Permintaan ektradisi diaukan kepada presiden melalui menteri kehakiman oleh pejabat yang berweanng di Negara asing melalui saluran diplomatic. Permintaan ektradisi tersebut harus disertai dengan dokumen yang diperlukan antara lain mengenai identitas,kewarganegaraan, uraian tentang tindak pidana yang dituduhkan, surat permintaan penahanan. Bagi orang yang dicari karenan harus menjalani pidannya disertai lembaran asli atau salinan otentik dari putusan pengadilan dan surat tersebut disertai bukti-bukti yang sah yang diperlukan. Apabila ada alasan-alasan yang mendesak sebelum permintaan ektradisi diajukan, pejabat yang berwenang di Indonesia dapat menahan sementara orang yang dicari tersebut atas permintaan Negara peminta. Mengenai penahanan itu berlaku ketentuan dalam hukum acara pidana Indonesia. Apabila dalam waktu yang cukup pantas permintaan ektradisi tidak diajukan, maka orang tersebut dibebaskan. Ekstradisi tumbuh dan berkembang dari praktek Negara-negara yang lama kelamaan berkembang menjadi hukum kebiasaan. Dari praktek dan hukum kebiasaan inilah Negara-negara mulai merumuskan didalam perjanjian-perjanjian internasional tentang ekstradisi, baik yangbilateral maupun multilateral, disamping menammbahkan ketentuan-ketentuan baru, sesuai dengan kesepakatan para pihak.

Tetapi satu hal patut dicatat bahwa sampai saat ini masih belum terdapat sebuah konvensi ekstradisi yang berlaku secara universal. Oleh karena itu mungkin akan timbul anggapan bahwa perjanjian-perjanjian ektradisi bilateral dan multilateral tersebut berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Anggapan ini meskipun mengandung nilai kebenaran, tetapi tidak seluruhnya benar, karena banyak perjanjian perjanjian ektradisi yang memiliki kesamaan-kesamaan dalam pengaturan mengenai berbagai pokok masalah. Behkan pokok-pokok masalah yang terdapat dalam perjanjianperjanjian ekstradisi, terdapat pula didalam perundang-undangan ektradisi.4 Dasar-dasar yang samai ini terus oleh Negara-negara baik dalam merumuskan perjanjian-perjanjian ektradisi maupun dalam perundang-undangan ekstradisi. Atau dengan perkataan lain dapat dikatakan bahwa dasar-dasar yang sama ini telah diterima dan diakui sebagai azas-azas yang melandasi ektradisi.