Anda di halaman 1dari 12

1. Latar Belakang Undang undang No.

. 26/2009 tentang kesehatan menyatakan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat diselenggarakan upaya kesehatan dalam bentuk kegiatan dengan pendekatan peningkatan kesehatan (Ppromotif), pencegahan penyakit (Preventif) penyembuhan penyakit (Kuratif), dan pemulihan kesehatan (Rehabilitative) yang di laksanakan secara terpadu, menyeluru, dan berkesinambungan. Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun social yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara social dan ekonomis. Upaya keshatan adalah setiap kegiatan ato serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu , terintegrasi dan berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan dalam bentuk pencegahan penyakit, peningkatan kualitas, pengobatan penyakit dan pemulihan kesehatan oleh pemerintan dan atau masyarakat (Depkes RI, 2009). Pelayanan di bidang kesehatan merupakan salah satu bentuk pelayanan yang paling bayak dibutukan oleh masyarakat. Tidak mengherankan apabila bidang kesehatan perlu untuk selalu dibenahi agar bias memberikan pelyanan kesehatan yang terbaik untuk masyarakat. Pelayan kesehatan yang dimaksud tentunya adalah pelayanan kesehatan yang cepat, tepat, murah dan ramah. Mengingat akan sebuah Negara akan biasa menjalankan pembagunan dengan baik apabilah di dukung oleh masyarakat yang sehat secara jasmani dan rohani. Berangkat dari kesadaran tersebut, rumah sakit- rumah sakit maupun puskesmas yang ada di Indonesia baik ilik pemerinta maupun swasta, selalu berupaya untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada pasien dan keluarganya. Baik melalui penyediaan peralatan pngobatan, tenaga medis yang berkualitas sampai pada fasilitas pendukung lainnaya seperti kantin, ruang tunggu, apotek, dan sebagainya. Dengan demikian masyarakat benarbenar memperoleh pelayanan kesehatan yang tepat dan cepat ( novayanti,2012).

Menurut psal 34 ayat (3) juga menyebutkan bahwa Negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan yang layak dan pada ayat (2) menyatakan bahwa Negara mengebngkan system jaminan social bagi seluru rakyat. Isi dari pasal 34 ayat (3) da ayat (2)UUd tersebut masing-masing di jabarkandalam UUd No.32 tahun 2004 tentang pemerintah Daerah Khususnya pasal 22F yang menybutkan bahwa dalam menyelenggarakan otonomi daerah mempunyai kewajiban menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan, dan undang-undang No. 40 tahun 2004 tentang system jaminan social Nasional (SJSN). Untuk mencapai derajat kesehatanmasyarakat yang terkandung dalam undang-undang kesehatanitu, perintah mendorong masyarakat untukikut secara aktif melibatkan peran serta masyarakat dalam pembiayaan perintahan kesehatan dengan melaksanakan Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Hutauruk dkk, 2000).

Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta merupakan institusi yang turut mendukung upaya dalam mewujudkan pembagunan kesehatan, salah satunya dengan membentuk seksi tim jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat (JPKM). Didukung dengan undangundang No. 32 tahun 2004 mengenai otopnomi daerah da peraturan pemerintah, antara pemerintah pusat, pemerintah daerah propinsi dan pemerintah kabupaten atau kota, maka Kota Yogyakarta semakin mantap untuk mendukung JPKM dengan melaksanakan program pembiayaan dan jaminan kesehatan Daerah ( JAMKESDA). Pemerintah Kota Yogyakarta telah melaksanakan program jamkesda ini sejak tahun 2005 dimana pelaksanaannya melalui unit pelaksanaan teknisi (UPT) penyelenggaraan jamkesda. (Perwal Kota Yogyakarta, 2012) Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi yang merupakan salah satu Rumah Sakit penerimah pasien umum dan pasien dengan asuransi kesehatan seperti jamkesda harus memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat pengguna jamkesda yang memerlukan pelayanan kesehatan. Program jamkesda ini sudah dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi sejak tahun 2011. Akan tetapi sejauh ini belum pernah diadakan evaluasi tentang implementasi jamkesda di rumah sakit ini.

Untuk memperoleh pelayanan dengan jamkesda pihak pasien harus mengikuti prosedur-prosedur di Rumah Sakit Bethesda Lempuyangwangi, pasien harus membawah kelengkapan yaitu fotocopian surat rujukan dari puskesmas, kartu jaminan kesehatan meliputi Kartu Jamkesda atau Kartu Menuju Sehat (KMS), Kartu Keluarga (KK) dan Kartu TAnda Penduduk (KTP). Akan tetapi jika pasien tidak memiliki kartu jaminan kesehatan tetapi memiliki KK dan KTP Kota Yogyakarta yang masi aktif maka pasien tetap akan bias dilayani dengan jam kesda. Dalam prosedur tersebut seringkali terjasi ketidaklengkapan berkasberkas persyaratn yang harus dilengkapai sehingga pasien tidak bias dilayani. Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti ingin megetahui penerapan program jamkesda di Rumah Sakiy Umum Bethesda Lempuyangwangi agar tetap memuaskan dan mengoptimalkan pelayanan kepada pasien miskin atau kurang mampu. Alasan lain adalah karena penelitian yang serupa belum perna dilakukan di rumah sakit ini. Oleh karena itu penelitian melakukan penelitian dengan judul Evaluasi Implementasi Program Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) di Ruamah Sakit Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta 2013.

2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka pertayaan penelitian ini adalah Bagaimana Evaluasi Implementasi program Jamkesda di Rumah Sakit Bethesda Lempuyangwangi?
3. Tujuan Penelitian

a. Tujuan Umum Megenai Evaluasi Implementasi Program Jamkesda di Rumah Sakit umum Bethesda Lempuyangwangi. b.Tujuan Khusus 1) Untuk mengetahui tujuan-tujuan dalam program jamkesda yang telah tercapai di Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Yogyakarta Tahun 2013. 2) Untuk mengetahui hasil implementasi dari program jamkesda di Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi Tahun 2013. 3) Untuk mengethui kelayakan untuk di kembangkannya program jamkesda di Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi.

4. Manfaat Penelitian

a. Bagi Rumah Sakit Sebagai masukan bagi Rumah Sakit dalam pelaksanaan program jamkesda yang telah di laksanakan. b. Bagi peneliti Sebagai pengebangan potensi dan penerapan teori-teori yang telah di peroleh di bangku kuliah mengenai program jamkesda di rumah sakit yang telah di terapkan dalam kegitan penelitian. c. Bagi pembaca dan peneliti jenis Diharapkan dapat mnejadi acuan dalam penyusunan laporan yang sejenis.

5. Landasan Teori (Teori Yang Menjelaskan Fenomena Yang Diangkat) a. Evaluasi 1) Pegertian evaluasi Evalusi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selnjutnya informasi tersbut digunakan untuk menetukan alternative yang tepat dalam mengambil keputusan. Fungsi utama sebuah evaluasi dalam hal ini adalh menyediakan informasi-informasi yang berguna bagi pihak Decision maker untuk menentukan kebijakan yang akan diambil berdasrkan evaluasi yang telah dilakukan (Arikuntoro dan Cepi,2008) 2) Tujuan Dan Fungsi Evaluasi adalah a) Untuk mengetahui apakah tujuan-tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai dalam kegiatan. b) Untuk memberikan objektivitas pengatan terhadap perilaku hasil. c) Untuk mengetahui kemampuan dan menentukan kelayakan. d) Untuk memberikan umpan bakik bagi kegiatan ytang telah dilakukan (Crawford.2000)

3) Model Evaluasi Ada beberapa model yang dapat tercapai dalam melakukan evaluasi yaitu: a) Sistem Assessment b) Program planning yaitu c) Program implementatioan d) Program improvement e) Program certification

4) Pendekatan Evaluasi Evaluasi memiliki tujua-tujuan altenatif dan tujuan-tujuan tersbut mempegaruhi evaluasi suatu program atau kegiatan. Mengenal pandanganpandangan yang beraneka ragam dan mengetahui bahwa tidak semua evaluator setujua pada pendekatan tersebut dalam melakukan evaluasi suatu program atau kegiatan adalh penting.

Ada beberapa beberapa pendekatan umum dalam melkukan evaluasi yaitu: a) Pendekatan objective Oriented Approach b) Pendekatan Three Dimensional Cube atu Hammonds Evaluation Approach. c) Management Oriented Approach d) Goal Free Evaluation e) Consumer Oriented Approach.

b. Implementasi
Implementasi adalah Pelaksanaan keputusan kebijaksanaan dasar, biasanya dalam bentuk undangan, namun dapat pula berbentuk perintah-perintah atua keputusan-keputusan eksekutif yang penting atau keputusan badan peradilan, Lazimnya keputusan tersebut mengidentifikasikan masalah diatas, menyebutkan secara tegas tujuan atau sasaran yang ingin dicapai, dan berbagai cara untuk menstrukturkan atau mengatur proses implementasinya.

Factor-faktor yang mempengaruhi implementasi :


1) Komunikasi (communication) 2) Sumberdaya (Resorurces) 3) Disposisi (Disposition)

6.

Metode Penelitian a. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah jenis penelitian deskriptif kualitatif.

b. Subjek atau Informasi Penelitian Subjek dari penelitian ini adalah karyawan bagian jamkesda di Rumah Sakit Umum Bethesda Lempuyangwangi yaitu sebayak 4 petugas yaitu 1 Petugas bagian pedaftaran, 2 Petugas Rekam Medis dan 1 petugas klaim jamkesda. Penentuan sampel dengan teknik purposive sampling.
c. Cara Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data dilakukan dengan dua jenis data yaitu: 1). Data Primer Data Primer dalam penelitian ini adalah: a) Pengamatan Langsung (Obsevasi) b) Wawancara 2). Data Sekunder

Reliabilitas dalam penelitian kualitatif bersifat induvidu, atau berbedah antara peneliti satu dengan peneliti yang lain. Untuk menguji kredibilitas data digunakan metode tringulasi. Triangulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu. Rangka pengujian kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara pengecekan dengan wawancara, observasi atau teknik lain dengan dalam waktu atau situasi yang berbeda (Wiersma, 1986). Peneliti menggunakan triangulasi sumber data dalam melakukan uji kredibilitas data.

ATASAN

TEMAN

BAWAHAN

e. Analisis Data

1. Sejarah berdirinya Rumah Sakit Pada tahun 1926 dimasa kepemimpinan doctor Of Ringe selaku pimpinan rumah sakit petronela, beliau merencanankan untuk membuka rumah sakit-rumah sakit pembantu, salh satu diantaranya beliau membuka sebuah klinik bersalin serta klinik anak-anak di daerah bagian selatan Yogyakarta yaitu daerah Lempuyangan. Pada tahun 1936 dibawah pimpinan Doter Groot, klinik tersebut dipakai dan diperluas kareana terlalu sempit. Perluasan tersebut dengan jalan membeli sebinang tanah yang terletak dibelakangnya, klinik itu diperluas, khusus untuk kamar-kamar bayi dan kamar biasa, bagian yang ada digunakan sebagai kamar pemondokan bagi persalinan. Untuk persalinan tersedia 8 buah kamar dan 20 kamar untuk anak-anak. Di samping itu dibuka pula biro konsultasi bayi-bayi dan ibu-ibu yang mengandung dibawah pimpinan seorang dokter dari Rumah Sakit Petronela. Pimpinan harian dipegang oleh suster Prins, Perawat ahli ilmu kebinanan, dibantu oleh 2 orang bidan pribumi dan beberapa perwat putri. Pada tahun 1942 Suster Prins meninggal di Semarang. Pada saat kedudukan jepang tahun 1943, Rumah Sakit Petronelah dan beberapa Rumah Sakit pembantu diambil oleh pemerintah jepang. Pada saat itu mengalami penderitaan dan kerugian yang luar bias. Sebagai pengganti Suster Prins adalah Suster Sukismiati. pada tahun 1950 sebagai pelaksana harian di klinik Lempuyangwangi adalah suster Suoadmi sampai dengan tahun 1956, setelah itu dig anti dengan Suster Katinah sampai tahun 1960. Karena kebutuhan di masyarakat yang semakin berkembang dan dirasa perlu maka pada tanggal 12 september 1998 telah diterbitkan SK dari Dewan pengurus Yakkum yang mengangkat Dr. Bambang Hadi Baroto Sp.A sebagai Direktur Rumah Sakit Umum Bthesda Lempuyangwangi, hal tersebut sebagai tindak lanjut proses kemandirian RSKIA BETHESDA LEMPUYANGWANGI.