Anda di halaman 1dari 19

HOARSENESS (SUARA PARAU)

VA N D A S AT I VA J U L I A N T I ( 0 3 0 . 0 9 . 2 6 1 ) REZA GHARBA A. (030.09.199)


PEMBIMBING :
D R . H . Y U S W A N D I A F F A N D I , S P. T H T - K L D R . M . I V A N . D J A J A L A G A , M . K E S , S P. T H T - K L

PENDAHULUAN
Setiap keadaan yang menimbulkan gangguan dalam getaran, ketegangan serta gangguan dalam pendekatan kedua pita suara kiri dan kanan akan menimbulkan suara parau, yakni suara terdengar kasar (roughness) dengan nada lebih rendah dari biasanya. Suara merupakan produk akhir akustik dari suatu sistem yang lancar, seimbang, dinamis dan saling terkait, melibatkan respirasi, fonasi, dan resonansi. Suara dihasilkan oleh pembukaan dan penutupan yang cepat dari pita suara, yang dibuat bergetar oleh gabungan kerja antara tegangan otot dan perubahan tekanan udara yang cepat. Tinggi nada terutama ditentukan oleh frekuensi getaran pita suara.

DEFINISI
Suara parau adalah suatu istilah umum untuk setiap gangguan yang menyebabkan perubahan suara. Ketika parau, suara dapat terdengar serak, kasar dengan nada lebih rendah daripada biasanya, suara lemah, hilang suara, suara tegang dan susah keluar, suara terdiri dari beberapa nada, nyeri saat bersuara, atau ketidakmampuan mencapai nada atau intensitas tertentu. Suara parau bukan merupakan suatu penyakit, tetapi merupakan gejala penyakit. Perubahan suara ini seringkali berkaitan dengan kelainan pita suara yang merupakan bagian dari kotak suara (laring).

ANATOMI
Terdapat 3 sistem organ pembentuk suara yang saling berintegrasi untuk menghasilkan kualitas suara yang baik, yaitu : sistem pernapasan, laring, dan traktus vokalis supraglotis. Laring merupakan organ pembentuk suara yang kompleks yang terdiri dari beberapa tulang rawan serta jaringan otot yang dapat menggerakan pita suara.

ANATOMI

ANATOMI

ANATOMI
Otot-otot ekstrinsik berfungsi menggerakkan laring serta otot-otot intrinsik berfungsi membuka & menutup rima glotis

Laring dipersarafi oleh cabang-cabang n. vagus, yaitu n. Laringeus superior dan n. Laringeus inferior. Kedua saraf ini merupakan campuran saraf motorik dan sensorik.
Pendarahan untuk laring terdiri dari 2 cabang, yaitu a. Laringis superior dan a. Laringis inferior. Vena laringis superior dan vena laringis inferior letaknya sejajar dengan a. Laringis superior dan inferior dan kemudian bergabung dengan vena tiroid superior dan inferior.

FISIOLOGI
Fungsi proteksi Refleks batuk Fungsi respirasi Fungsi sirkulasi Fungsi laring dalam membantu proses menelan Fungsi untuk mengekspresikan emosi Fungsi fonasi

PROSES PEMBENTUKAN SUARA

Pita suara saat menarik nafas dalam, posisi respirasi

Pita suara tertutup, posisi fonasi

Sistem Produksi Suara

Pusat Kontrol Suara

Neuron Penghubung

FAKTOR RESIKO TERJADINYA MASALAH SUARA


- Merokok (faktor resiko karsinoma laring) - Konsumsi alkohol dan kafein berlebihan - Refluks gasroesofageal - Profesi yang menggunakan suara sebagai modal utama seperti guru, aktor, penyanyi - Usia - Lingkungan - Stres, gelisah, dan depresi dapat menyebabkan tremor pita suara

ETIOLOGI
INFEKSI
Laringitis akut Laringitis kronik

L E S I J I N AK P I TA SUARA

Nodul pita suara (vocal cord nodule) Polip Kista

NEOPLASMA
Keratosis laring

GANGGUAN NEUROLOGIS
Paralisis pita suara

Karsinoma laring

PENUAAN (PRESBYLARYNGI S)

PENDARAHAN

REFLUKS G A S T R O E S O FA G E A L

PENYEBAB LAIN Trauma Kelainan endokrin Artritis rheumatoid Penyakit granulomatosa

DIAGNOSIS
Anamnesis Pemeriksaan Fisik : Status Generalis dan Pemeriksaan THT (Pemeriksaan laring) Pemeriksaan Penunjang

PENATALAKSANAAN
Dua pendekatan : Pertama, terapi suara dengan komponen utama berupa edukasi dasar anatomi dan fisiologi produksi suara.

Kedua, konservasi suara yang prinsipnya lebih praktis dan realistis dibandingkan terapi suara.
Pencegahan : Istirahatkan suara dan banyak minum air putih Hindari merokok, alkohol, penggunaan obat-obatan tertentu Hindari konsumsi kafein dan coklat

PENATALAKSANAAN

Terapi Konservatif

Terapi Wicara
Terapi Medikamentosa Pembedahan

DAFTAR PUSTAKA
1. 2. 3. Shiel WC. Hoarseness. Available at: http://www.medicinenet.com/hoarseness/article.htm. Accessed on November 26th, 2013. Wang RC, Miller RH. Hoarseness and Vocal Cord Paralysis. In: Calhoun KH, editors. Head and Neck SurgeryOtolaryngoloy. 3rd Ed. USA: Lippincott Williams & Wilkins. 2005. p. 607, 609. Hermani B and Hutauruk SM. Disfonia. In: Soepardi EA, Iskandar NI, Bashiruddin J, and Restuti RD, editors. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung Tenggorok Kepala & Leher. 6th Ed. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007. p. 231-4. Faiz O dan Moffat D. At a glance anatomy. Jakarta: Penerbit Erlangga. 2004. p. 134-5. Cohen JI. Anatomi dan Fisiologi Laring. In: Adam GL, Boies LR, Higler PA,editors. BOIES, Buku Ajar Penyakit THT. 6th ed. Jakarta: Penerbit EGC; 1997. p. 370-371.

4. 5.

6.
7. 8. 9.

Hartree N. Hoarseness. Available at: http://www.patient.co.uk/showdoc/40000966/. Accessed on November 25th, 2013.


American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery. Available at: http://www.entnet.org/HealthInformation/hoarseness.cfm. Accessed on November 26th, 2013. Banovetz JD. Gangguan Laring Jinak. In: Adam GL, Boies LR, Higler PA, editors. BOIES, Buku Ajar Penyakit THT. 6th ed. Jakarta: Penerbit EGC; 1997. p. 387, 391. Adams GL. Tumor-Tumor Ganas Kepala dan Leher. In: Adam GL, Boies LR, Higler PA, editors. BOIES, Buku Ajar Penyakit THT. 6th ed. Jakarta: Penerbit EGC; 1997. p. 446.

10. Stasney R. Disorders of the Larynx. Available at: http://www.otohns.net/default.asp?id=15102. Accessed on November 26th, 2013. 11. Singapore Pain Specialist. Hoarseness. Diagnosis. Available at: http://www.wrongdiagnosis.com/symptoms/hoarse/tests.htm. Accessed on November 26th, 2013.