Anda di halaman 1dari 24

Filum Brachiopoda 2.

1 Filum Brachiopoda Brachiopoda adalah Bivalvia yang berevolusi pada zaman awal periode Cambrian yang masih hidup hingga sekarang yang merupakan komponen penting organisme benthos pada zaman Paleozoikum. Brachiopoda berasal dari bahasa latin brachium yang berarti lengan (arm), dan poda yang berarti kaki (foot). Brachiopoda artinya hewan ini merupakan suatu kesatuan tubuh yang difungsikan sebagai kaki dan lengan atau dengan kata lain binatang yang tangannya berfungsi sebagai kaki. Filum ini merupakan salah satu filum kecil dari invertebrata. Hingga saat ini terdapat sekitar 300 spesies dari filum ini yang mampu bertahan dan sekitar 30.000 fosilnya telah dinamai. Mereka sering kali disebut dengan lampu cangkang atau lamp shell. Secara umum brachiopoda merupakan salah satu fosil hewan yang sangat melimpah keberadaannya pada sedimen yang berasal dari zaman paleozoikum. Salah satu kelasnya, yaitu Inarticulata bahkan menjadi penciri penting (fosil index) zaman Cambrian awal. Karakteristik Brachiopoda : Lophoporates coelomate, enterocoelic. Tubuh tertutup oleh 2 cangkang, satu ke arah dorsal dan yang lainnya ke arah ventral (bilvalvia). Biasanya melekat pada substrat dengan pedicle. Cangkang dilapisi oleh mantel yang dibentuk oleh pertumbuhan dinding tubuh dan membentuk rongga mantel. Lophophore membentuk kumparan dengan atau tanpa didukung oleh skeletel internal. Usus berbentuk U. Mempunyai satu atau sepasang metanefridia. Sistem peredaran darah terbuka. Sebagian besar diocious, larve disebut lobate. Ganate berkembang dari jaringan gonad pada peritonium. Hidup soliter sebagai organisme bentik di laut. Kehidupan Filum Brachiopoda : Hidup di air laut: benthos sessil. Ada yang hidup di air tawar, namun sangat jarang.

Mampu hidup pada kedalaman hingga 5.600 meter secara benthos sessil. Genus Lingula hanya hidup pada daerah tropis/hangat dengan kedalaman maksimal 40 meter. Hingga saat ini diketahui memiliki sekitar 300 spesies dari Brachiopoda. Brachiopoda modern memiliki ukuran cangkang rata-rata dari 5mm hingga 8 cm. Kehadiran rekaman kehidupannya sangat terkait dengan proses bioconoese danthanathoconoese. 2.2 Klasifikasi Filum Brachiopoda Klasifikasi Fillum Brachiopoda dibagi menjadi 2 kelas yaitu klas Articulata/Phygocaulina dan klas Inarticulata/Gastrocaulina. Kelas Articulata/Phygocaulina (terdapat hinge/engsel) Cangkang atas dan bawah (valve) dihubungkan dengan otot dan terdapat selaput dan gigi. Kelas Articulata / Pygocaulina memiliki masa hidup dari Zaman Cambrian hingga ada beberapa spesies yang dapat bertahan hidup sampai sekarang seperti anggota dari ordo Rhynchonellida dan ordo Terebratulida. Berikut adalah ciri-ciri dari kelas Articulata : a. b. c. d. e. f. Cangkang dipertautkan oleh gigi dan socket yang diperkuat oleh otot. Cangkang umunya tersusun oleh material karbonatan. Tidak memiliki lubang anus. Memiliki keanekaragaman jenis yang besar. Banyak berfungsi sebagai fosil index. Mulai muncul sejak Zaman Kapur hingga saat ini. Pembagian Ordo dalam Kelas Articulata : Ordo Orthida (Cambrian-Permian) Ordo Strophomenida (Ordovician-Jurassic) Ordo Pentamerida (Cambrian-Devonian) Ordo Rhynchonellida (Ordovician-Recent) Ordo Spiriferida (Ordovician-Jurassic) Ordo Terebratulida (Devonian-Recent) 1. Ordo Orthida Umumnya memiliki sepasang cangkang sangat biconvex dan straight hinge line. Impunctate shell = tidak terdapat indikasi perforasi sama sekali. Terdapat 2 suborder:

a. Orthacea (impunctate): Orthis dan Platystrophia (Ordovisium). b. Dalmanellacea (punctate): Dalmanella (Ordovisium ~ Devonian). 2. Ordo Strophomenida Seperti Orthida yang diperkirakan merupakan nenek moyang (ancestor)-nya, Ordo Strophomenida ini cangkangnya umumnya juga memiliki straight hinge line. Ciri lain dari Ordo Strophomenida ini adalah cangkangnya pseudopunctate (cangkangnya tidak perforate/pori tetapi terdapat bentuk-bentuk kanal yang disebut taleolae), dan umumnya salah satu cangkangnya cekung (brachial valve) dan cangkang lainnya cembung dengan radial ribs. Kisarannya dari Ordovisium ~ Jura. 3. Ordo: Pentamerida Ordo Pentamerida ini juga merupakan turunan langsung dari Ordo Orthida dimana cangkangnya juga bersifat impunctate. Umumnya berukuran besar dan sangat biconvex, memiliki hinge-line yang pendek dan delthyrium yang terbuka. Kisaran umurnya adalah Ordovisium ~ Perm. 4. Ordo: Rhynchonellida Genus ini memiliki cangkang impunctate (tidak memiliki perforasi) dan fibrous, spherical dan hinge line yang pendek. Umumnya dilengkapi dengan sulcus (lubang pembuangan) dan lipatan yang berbentuk paruh yang menonjol pada pedicle valve (rostrate). Diperkirakan merupakan turunan dari Pentamerida sebagai nenek moyangnya (ancestor). Pertamakali muncul pada Ordovisium Tengah dan mencapai puncak penyebarannya pada Mesozoikum. 5. Ordo: Spiriferida Ordo Spiriferida ini adalah kelompok fosil Brachiopoda yang terbesar dan penting, dimana sebagian besar cangkangnya bersifat impunctate dan sebagian kecil bersifat punctuate. Memiliki radial ribbed atau cangkang yang terlipat (folded shell) dan bersifat strongly biconvex. Biasanya terdapat interarea yang mudah teramati (well developed interarea) padapedicle valve, tetapi tidak terdapat pada brachial valve. Penyebaran vertical ordo ini adalah Ordovisium Tengah ~ Permian Atas, ada beberapa yang berhasil survive sampai Lias. 6. Ordo: Terebratulida Secara umum cangkangnya bersifat punctate (terdapat kanal-kanal kecil yang menerus sampai permukaan cangkang), permukaan cangkang relatif licin (smooth), hinge line relatif pendek, foramen (lubang) berbentuk bundar pada bagian paruh. Diasumsikan merupakan turunan dari Kelompok Dalmanellacea

(Ordo Orthida). Pemunculan pertama-nya diketahui sejak Silur Atas dan mencapai puncak perkembangannya pada Zaman Kapur. Kelas Inarticulata/Gastrocaulina (tanpa hinge/engsel) Cangkang atas dan bawah (valve) tidak dihubungkan dengan otot dan terdapat socket dan gigi yang dihubungkan dengan selaput pengikat. Berikut ini adalah ciri-ciri dari kelas Inarticulata: a. b. Tidak memiliki gigi pertautan (hinge teeth) dan garis pertautan (hinge line). Pertautan kedua cangkangnya dilakukan oleh sistem otot, sehingga setelah mati cangkang akan terpisah. c. Cangkang umumnya berbentuk membulat atau seperti lidah, tersusun oleh senyawa fosfat atau khitinan. d. Mulai muncul sejak Zaman Cambrian awal hingga sekarang. Pembagian Ordo dalam Kelas Inarticulata : Ordo Lingulida Ordo Acrotretida 1. Ordo Lingulida: katu kecil memanjang. - Genus Lingula terdapat hampir di seluruh dunia dan mulai ada sejak Ordovisium. Ordo Acrotretida (Inarticulata) Pedicle valve umumnya conicle, circular relief tinggi sampai datar, brachial valve datar (flat). Contoh : Orbiculoida : Ordovisium Kapur

2.

2.3 Rekaman Filum Brachiopoda dalam Skala Waktu Geologi Filum Brachiopoda (Cambrian-Recent) Kelas Inarticulata (Cambrian-Recent) Ciri-ciri: Tidak mempunyai gigi pertautan (hinge teeth) dan garis pertautan (hinge line) pertautan kedua cangkangnya dilakukan oleh sistem otot, sehingga setelah mati cangkang langsung terpisah. Cangkangnya umumnya berbentuk membulat atau seperti lidah, tersusun oleh senyawa fosfat atau khitinan. Hewan ini muncul sejak zaman Cambrian awal hingga masa kini. Contohnya : Khitinan. Kelas Articulata (Cambrian-Recent).

Ciri-ciri: a. b. c. d. e. f.

Cangkang dipertautkan oleh gigi dan socket. Cangkang umumnya tersusun oleh material karbonatan. Tidak mempunyai lubang anus. Mempunyai keanekaragaman jenis yang besar. Banyak yang berfungsi sebagai fosil index. Mulai muncul sejak Zaman Kapur hingga masa kini.

Ordo Brachiopoda Articulata a. Order Orthida (Cambrian-Permian) b. Order Strophomenida (Ordocivian-Jurassic) c. Order Pentamerida (Cambrian-Devonian) d. Order Rhynchonellida (Ordovician-Recent) e. Order Spiriferida (Ordovician-Jurassic) f. Order Terebratulida (Devonian-Recent) Pada akhir Zaman Permian, terjadi kepunahan masal yang melibatkan hampir semua golongan Brachiopoda. Hanya sedikit takson yang selama, seperti golongan Trebratulid dan Lingula, dan masih terdapat hingga masa kini (Holosen). Brachiopoda masa kini selalu ditemukan dalam keadaan tertambat dengan menggunakan pedikelnya, baik pada batuan keras maupun cangkang binatang yang telah mati.

Tabel 1.1 Perbedaan Kelas Articulata dan Inarticulata Klasifikasi Calciata Approach Three-part Approach Ordo Engsel Anus Inarticulata Lingulata Linguliformea Lingulid Discinida a Craniforme a Craniida Articulata Calciata Rhynchonelliformea Terebratuli da Rhynconelli da

Tidak memiliki gigi Bagian depan tubuh, pada usus berbentuk U Berisi Coelom dengan otot keluar Tidak ada

Gigi dan soket Tidak ada Tidak memiliki coelom, otot menyambung dengan badan

Pedicle

Pendek, Tidak ada, Panjang, melekat menyambun di dalam pada g pada liang permukaa permukaan n Glycosaminoglycan s dan kitin Glycosaminoglycan s dan apatit (kalsium fosfat) Kolagen dan protein lainnya kitin dan apatit Kalsit Kitin

Pendek, melekat pada permukaan keras

Periostracu m Lapisan Primer Cangkang Lapisan Cangkang Dalam Chaetae sekitar daerah bukaan cangkang Coelom

Protein

Kalsit

Protein dan Kalsit

Ya

Tidak ada

Ya

Ya

Tidak ada

Ya

terbagi

2.4 Fosil Brachiopoda dan kegunaan dalam Geologi Kegunaan fosil Brachiopoda ini yaitu sangat baik untuk fosil index (index fossil) untuk strata pada suatu wilayah yang luas. Brachiopoda dari kelas Inarticulata; genus Lingula merupakan penciri dari jenis brachiopoda yang paling tua, yaitu Lower Cambrian. Jenis ini ditemukan pada batuan Lower Cambrian dengan kisaran umur 550 juta tahun yang lalu. Secara garis besar, jenis filum Brachiopoda ini merupakan hewan-hewan yang hidup pada Masa Paleozoikum, sehingga kehadirannya sangat penting untuk penentuan umur batuan sebagai index fossil. ABSTRAK Brachiopoda merupakan kelompok hewan lain selain Ectoprocta yang terkait dengan fosil-fosil dari jaman Cambria. Mereka dinamakan demikian karena anggapan yang salah bahwa hewan ini menggunakan lengan-lengan mereka yang menggulung untuk bergerak. Dalam kelompok ini lebih banyak jenis yang menjadi fosil daripada yang masih hidup Phylum ini merupakan salah satu phylum kecil dari benthic invertebrates. Hingga saat ini terdapat sekitar 300 spesies dari phylum ini yang mampu bertahan & sekitar 30.000 fosilnya telah dinamai Brachiopoda modern memiliki ukuran cangkang rata-rata dari 5 mm hingga 8 cm. Filum brachiopoda adalah invertebrate bentik laut yang secara visul mirip dengan muluska dengan memiliki sepasang cngkang atau katup. Bedanya, katup pada brachiopoda bagian dorso-ventral dan pelecypoda yang lateral. Mereka merupakan kelompok hewan purba dan banyak dari mereka menjadi catatan fosil. Ada 260 spesies makhluk hidup yang telah tercatat dan salah satu genusnya, Lingula, dikenal sebagai fosil hidup. Pada Ekspedisi Siboga (1899 1999) mencatat brachioppoda yang ada di Indonesia. Artikel ini akan menginformasikan tentang klasifikasi, ciri ciri, morfologi umum brachiopoda, morfologi dan karakteristik pada tiap kelas, dan nilai ekologi.

PENDAHULUAN

Brachiopoda adalah hewan laut yang hidup di dalam setangkup cangkang terbuat dari zat kapur atau zat tanduk. Mereka biasa hidup menempel pada substrat dengan semen langsung atau dengan tangkai yang memanjang dari ujung cangkang. Hewan kecil yang halus dan bercangkang ini dinamakan kerang lampu. Mereka sering dikira kerang karena memiliki setangkup cangkang. Tetapi cangkang hewan ini menghadap dorso-ventral (atas-bawah), sedangkan cangkang kerang lateral (kiri-kanan) (Romimohtarto, 2001). Brachiopoda adalah Bivalvia yang berevolusi pada zaman awal periode Cambrian yang masih hidup hingga sekarang yang merupakan komponen penting organisme benthos pada zaman Paleozoikum. Brachiopoda berasal dari bahasa latin brachium yang berarti lengan (arm), poda yang berarti kaki (foot). Brachiopoda artinya hewan ini merupakan suatu kesatuan tubuh yang difungsikan sebagai kaki dan lengan atau dengan kata lain binatang yang tangannya berfungsi sebagai kaki. Phylum ini merupakan salah satu phylum kecil dari bentik invertebrates. Hingga saat ini terdapat sekitar 300 spesies dari phylum ini yang mampu bertahan dan sekitar 30.000 fosilnya telah dinamai. Mereka sering kali disebut dengan lampu cangkang atau lamp shell. Brachiopoda adalah filum hewan laut yang telah keras "katup" (kerang) pada permukaan atas dan bawah, tidak seperti susunan kiri dan kanan dalam kerang moluska. Katup Brachiopod yang berengsel pada bagian belakang, sementara bagian depan dapat dibuka untuk menyusui atau mentutup untuk perlindungan. Brachiopoda memiliki engsel bergigi dan membuka secara sederhana dengan otot penutup, sementara brachiopoda juga tidak jelas memiliki engsel untoothed dan otot yang lebih kompleks. Dalam brachiopod khas batang-seperti proyekproyek pedikel dari sebuah lubang di engsel atau dari lubang di katup lebih besar, melampirkan hewan ke lumpur dasar laut tapi jelas itu akan menghalangi pembukaan. Brachiiopoda berasala dari kata brachion = tangan dan pous = kaki. KLASIFIKASI BRACHIOPODA Kelas Articulata Cangkang atas dan bawah (valve) dihubungkan dengan otot dan terdapat selaput dan gigi.

Kelas Inarticulata Cangkang atas dan bawah (valve) tidak dihubungkan dengan otot dan terdapat socket dan gigi yang dihubungkan dengan selaput pengikat.

CIRI CIRI BRACHIOPODA Ciri ciri dari brachiopoda adalah: Simetri bilateral Tubuh mempunai dua lapisan (bilayer), jaringan dan organ Mempunyai selom Sistem syaraf dengan menggunaka ganglion cincin oesophagal Sistem sirkulasi terbuka dengan jantung satu atau lebih Tidak mempunyai alat pertukaran gas Reproduksi secara seksual dan gonochorist, tapi tanpa menggunakan gonad sejati Makan partikel di air. Semuanya hidup di lingkungan laut MORFOLOGI BRACHIOPODA Lingula unguis merupakan spesies yang termasuk pada filum ini yang marganya menjadi marga hewan tertua yang masih hidup. Ia memiliki cangkang dari zat tanduk yang terdiri dari dua tangkup, tetapi tidak berengsel. Kedua tangkup ini tidak seperti kerang yang terdiri dari tangkup kiri dan kanan, terdiri dari bagian atas dan bawah. Tidak seperti kerang yang nbukaannya ada di bawah, bukaan cangkang Lingula ada di depan. Bagian utama dari tubuhnya berisi veisera (veicera), yang terletak di separuh belakang dari cangkangnya. Sebuah ruang yang luas tertutup di antara kedua tangkup cangkang di depan tubuh adalah rongga mantel (mantle cavity), yang bagian dalamnya dilapisi oleh mantel, sebuah tutup dari dinding tubuh. Ke dalam rongga ini menjulur kedua lengan ulir dari dinding tubuh depan. Pada pinggiran seriap lengan terdapat dua baris tentakel yang dipenuhi oleh bulu getar (Romimohtarto, 2001). Pada permukaan dalam dari tangkup atas dekat ujung belakang, melekat satu tangkai berotot berbentuk silindrik yang panjang dinamakan pedikel (pedicle) yang berisi perpanjangan berbentuk tabung dari rongga tubuh. Selama air surut, tangkai ini memendek untuk menarik cengkang ke dalam lubang. Dan selama air pasang, tangkai memanjang untuk mendorong cangkang ke permukaan air. Biasanya ujung depan dari cangkang tidak pernah menonjol di atas permukaan pasir atau lumpur (Romimohtarto, 2001). Pada saat makan, bulu-bulu atau rambut-rumbut yang terdapat di sepanjang pinggirian mantel menjulur di atas permukaan di atas permukaan pasir dari bagianb depan hewan. Mereka membentuk tiga tabung bulu berbentuk kerucut, satu tengah dan lateral. Setiap lengan menjulur den tentakel membuka gulungan dan mekar. Tapak-tapak bulu getar tertentu pada tentakel dari lengan memukulmukul bersamaan menyebabkan arus air berisi makanan dari oksigen masuk ke

dalam rongga mantel melalui setiap tabung bulu lateral. Setalah menyaring air berisi partikel reknik dan makanan dan memindahkan sebagian oksigen terlarut, hewan itu membuang air melalui satu-satunya tabung bulu median (Romimohtarto, 2001). Lingula unguis tumbuh lambat, mencapai panjang cangkang 5 cm dalam waktu 12 tahun. Hewannya menjadi matang kelamin pada umur kira-kira 1-1,5 tahun ketika panjang cangkangnya 2,25 cm, seperti yang telah diamatai di pantai utara Singapura. Pemijahan terjadi sepanjang tahun. Telur dan spermatozoa disebar di air dimana terjadi pembuahan. Embrio yang terbentuk menjadi larva yang berenang bebas. Larva ini menghanyut di permukaan laut dan makan tumbuhtumbuhan renik yang terdapat di laut tersebut (Romimohtarto, 2001). MORFOLOGI DAN KARAKTERISTIK TIAP KELAS Kelas Articulata Berikut adalah morfologi dan karakteristik dari Klas Articulata : a. Cangkang dipertautkan oleh gigi dan socket yang diperkuat oleh otot. b. Cangkang umunya tersusun oleh material karbonatan. c. Tidak memiliki lubang anus. d. Memiliki keanekaragaman jenis yang besar. e. Banyak berfungsi sebagai fosil index. f. Mulai muncul sejak Zaman Kapur hingga saat ini. Kelas Inarticulata Cangkang atas dan bawah (valve) tidak dihubungkan dengan otot dan terdapat socket dan gigi yang dihubungkan dengan selaput pengikat. Berikut ini adalah ciri-ciri dari klas Inarticulata : a. Tidak memiliki gigi pertautan (hinge teeth) dan garis pertautan (hinge line). b. Pertautan kedua cangkangnya dilakukan oleh sistem otot, sehingga setelah mati cangkang akan terpisah. c. Cangkang umunya berbentuk membeulat atau seperti lidah, tersusun oleh senyawa fosfat atau khitinan. d. Mulai muncul sejak Jaman Cambrian awal hingga sekarang. NILAI EKOLOGI Spesies dari branchiopoda seperti Daphnia dan Artemia merupakan sumber pakan alami yang sangat penting dalam pembenihan ikan laut maupun tawar karena memiliki beberapa keuntungan, yaitu kandungan nutrisinya tinggi, berukuran kecil yang sesuai dengan ukuran mulut larva, pergerakannya lambat, sehingga mudah ditangkap oleh larva ikan,

dan tingkat pencemaran terhadap air kultur lebih rendah apabila dibandingkan dengan penggunaan pakan buatan. Kandungan proteinnya bisa mencapai lebih dari 70% kadar bahan kering. Secara umum, dapat dikatakan terdiri dari 95% air, 4% protein, 0.54 % lemak, 0.67 % karbohidrat dan 0.15 % abu. Dalam bidang pertanian Daphnia biasanya hidup dalam populasi persawahan dan dapat bermanfaat sebagai penghancur dan memindahkan bahan organik serta dapat dimanfaatkan sebagai sumber kitin. Selain ituDaphnia juga dapat digunakan sebagai indikator dari perubahan serta pencemaran lingkungan.

2. Persamaan antara cangkang Brachiopoda dan Pelecypoda :


o o

Cangkang sepasang atau setangkup. Kesamaan morfologi cangkang berupa Beak, dan ornamentasi cangkang berupa garis tumbuh yang secara konsentris membesar menjauhi beak

Cangkang Brachiopoda :
o

o o

Pada kenampakan muka cangkang memperlihatkan kenampakan yang simetris ke arah kiri dan kanan, sedangkan pada kenampakan samping kenampakan cangkang asimetris Arah anterior dan posterior ditentukan berdasarkan bentukan cangkang (pedicle valve) dan berarah vertikal Pembagian/pembedaan cangkang didasarkan oleh besarnya cangkang dan ada tidaknya pedicle opening (pedicle valve dan brachial valve). Beak tegak (tidak miring)

Cangkang Pelecypoda :
o

o o o

Pada kenampakan muka cangkang memperlihatkan kenampakan yang asimetris, sedangkan pada kenampakan samping cangkang memperlihatkan kenampakan simetris. Arah anterior dan posterior ditentukan berdasarkan bentukan cangkang dan arah kemiringan beak (lateral) Pembagian/pembedaan cangkang didasarkan oleh arah tonjolan beak (snistral dan dekstral). Beak miring atau menonjol ke satu arah.

Gambar Brachiopoda (kiri) dan Pelecypoda (kanan) Tampak muka Tampak samping Tampak muka Tampak samping

3. a. Beak : bagian dari cangkang yang menonjol b. Brachial valve : valve atau cangkang brachiopoda yang berukuran lebih kecil c. Costae : bagian yang menonjol dari plication d. Lophophore : 2 buah tentakel yang berbulu getar (cilia) yang terpilin (p.18 al.3) e. Orthid :golongan brachiopoda yang mempunyai bentuk setengah lingkaran, bikonvex, mempunyai garis pertautan (hinge line) yang lurus serta hiasan yang bersifat radial. 4. Brachiopoda memiliki range umur panjang (sampai recent) dan abundansinya pada paleozoik. 5. a. Persamaan Spirifer dengan Rafinesquina :

cangkang setangkup termasuk kedalam Brachiopoda Artikulata (memiliki hinge teeth dan hinge line). Perbedaan Spirifer dengan Rafinesquina :

bentuk dasar cangkang dimana pada Spirifer terdapat lekukan pada bagian fold memberikan kenampakan bentuk hati, sedangakan pada Rafinesquina berupa lengkungan yang menerus Pada cangkang Spirifer memiliki lipatan (fold), sedangkan Rafinesquina tidak memiliki lipatan

Pola plication pada Spirifer cenderung memiliki bentuk konvex dari arah Beak menuju ujung cangkang, sedangkan pada Rafinesquina berbentuk konkaf atau cekung. Separasi plication yang lebih besar pada Spirifer Tonjolan beak pada Spirifer lebih besar daripada pada Rafinesquina

b. Persamaan Rafinesquina dengan Platystrophia :


Bentuk dasar cangkang yang hampir sama berupa lengkungan yang menerus Bentukan beak yang tidak terlalu menonjol Perbedaan Rafinesquina dengan Platystrophia:

Separasi plication yang lebih besar pada Platystrophia dibandingkan Rafinesquina Pada cangkang Platystrophia memiliki lipatan (fold), sedangkan Rafinesquina tidak memiliki lipatan Pada Platystrophia terdapat dua plication yang lebar dan berkembang menjadi fold ke bagian tengah cangkang, sedangkan pada Rafinesquina plication berukuran sama tanpa lipatan dibagian tengah cangkang.

c. Persamaan Atrypa dengan Lingula :


Termasuk kedalam Brachiopoda Inartikulata (tidak memiliki hinge teeth dan hinge line). Cangkang tidak memiliki lipatan (fold) Pola garis tumbuh konsentris dan membesar ke arah luar dari beak Perbedaan Atrypa dengan Lingula :

Atrypa memiliki plication sedangakan Lingula tidak Bentuk dasar cangkang Lingula berbentuk elipsoid, sedangkan pada Atrypa bentuk dasar cangkang lebih variatif dalam lengkungannya membentuk kenampakan yang lebih membundar. Bentuk kenampakan cangkang pada Lingula adalah bikonveks dilihat dari samping, sedangkan pada Atrypa bentuk cangkang relatif lebih plankonveks.

d. Persamaan Pentamerus dengan Terebratula :

Termasuk kedalam brachiopoda artikulata Perbedaan Pentamerus dengan Terebratula :

Terebratula memiliki permukaan cangkang yang halus tanpa ornamentasi, sedangkan pentamerus memiliki ornamentasi pada permukaan cangkangnya. Terebratula mempunyai lophophore yang ditopang oleh loop yang bersifat gampingan, sedangkan pentamerus. Beak pada terebratulla menggantung sedangkan pada pentamerus menempel.

e. Persamaan Juresania dengan Atrypa :


Bentuk dasar cangkang relatif plan-konveks Termasuk kedalam Brachiopoda Inartikulata (tidak memiliki hinge teeth dan hinge line). Plication berorientasi melengkung menjauhi Beak dalam bentuk cekung (konkaf) Perbedaan Juresania dengan Atrypa :

Pola plication pada Atrypa menerus dari Beak ke arah luar, sedangkan pada Juresania terputus-putus Brachial valve pada Juresania relatif menutupi pedicle valve, sedangkan pada Atrypa tidak Bentukan cangkang pada Juresania melengkung dan menerus, sedangakan pada Atrypa relatif bergelombang.

6. Fungsi dari pedicle adalah untuk menambatkan diri pada dasar, sehingga tidak terbawa oleh arus atau gelombang dan untuk menambatkan diri selama mencari makanan. Sedangkan pedicle opening adalah lubang tempat keluarnya pedicle yang terdapat pada pedicle valve. Tafsiran terhadap habitat Brachiopoda ini adalah pada daerah dengan arus yang cukup kuat yaitu pada daerah laut dangkal dimana makanan dan ruang akomodasinya tersedia.

III. MOLUSCA 1. Perbedaan pokok antara kelas Gastropoda dengan kelas Chepalopoda adalah kebanyakan Chepalopoda cangkangnya terputar pada satu bidang (planispiral), sedangkan pada Gastropoda putarannya bersifat trochospiral (tidak sebidang) dan helicoid (cepat membesar). Perbedaaan lain yang lebih penting adalah bahwa rongga pada Chepalopoda terbagi menjadi camerae (kamar) oleh septa yang menyilang rongga tersebut. 2. Gambar fosil Dentalium dan bagian-bagian cangkangnya :

Berdasaran bentuk morfologinya, lingkungan hidup Dentalium ini pada habitat laut dangkal dan sungai dengan energi rendah (daerah muara). 3. Fungsi columella pada Gastropoda adalah sebagai sumbu putaran spiral cangkang dan columella juga merupakan bagian dari aperture (inner lip), dimana aperture memiliki fungsi sebagai saluran masuknya makanan. 4. Apa persamaan dan perbedaan antara : 1. Conus dengan Turitella Perbedaan : Turitella Memiliki garis tumbuh Conus Tidak memiliki garis tumbuh

Terdapat carina

Tidak terdapat carina

Ukuran spire dan whorl besar Ukuran spire dan whorl kecil

Persamaan :

Cangkang Turitella dan Conus sama-sama terputar ke kanan. Cangkang Turitella dan Conus sama-sama memiliki bagian apex, suture, dan aperture. 2. Macoma dengan Mercenaria

Perbedaan : Macoma Memiliki gigi pertautan Pallial sinus horisontal dan lebar Mercenaria Tidak memiliki gigi pertautan Pallial sinus kecil

Persamaan :

Hidup di laut dangkal Cangkang setangkup Ornamentasi cangkang seperti beak, garis tumbuh, garis pallial, pallial sinus. 3. Epitonium dengan Goniobasis

Perbedaan : Epitonium Whorl secara polos berkontak Interval diantara rib lebih halus Memiliki umbilikus yang jelas Goniobasis Kontak antara whorl berupa sutur yang goniated Interval antara rib lebih kasar

Umbilikus tidak terlalu jelas dengan apertur oval

Persamaan :

fosil sama-sama berumur upper cretaceous sampai recent 4. Ammonit dengan Belemnitella

Perbedaan : Ammonit Umbilikus berbentuk lingkaran Apertur obligue Belemnitella Umbilikus sempit Apertur lebar

Persamaan :

Termasuk kedalam kelas cephalopoda Sama-sama mmemiliki tentakel, aperture dan siphuncle Sama-sama memiliki sutur ammonitic

5. Jaman apa yang ditunjukkan oleh : 1. Mesalia = Miosen 2. Belemnit = Jura - Kapur 3. Lyropecten = Kapur - sekarang 4. Glycimris = Miosen 6. 3 genus Gastropoda, 2 genus Pelecypoda, dan genus Chepalopoda yang secara bersama mungkin hidup pada kala Eosen : Gastropoda : - Eolis - Fissurella - Turitella Pelecypoda : - Venus - Pecten Chepalopoda : - Nautilus 7. 2 genus Gastropoda, 3 genus Pelecypoda, dan genus Chepalopoda yang secara bersama mungkin hidup pada jaman Kapur : Gastropoda : - Vaginella - Anisomyon Pelecypoda : - Cardium - Mactra - Clavagella Chepalopoda : - Nautilus undulatus - Baculites

7. Suatu singkapan mengandung fosil Gastropoda dalam jumlah yang sangat banyak 1. Batuan yang terbentuk adalah batuan karbonat dengan nama petrologis Rudstone 2. Lingkungan yang ditunjukkan oleh kumpulan fosil seperti itu adalah lingkungan laut dangkal. 9. Posterior

Beak

Garis tumbuh

Termasuk cangkang bagian kanan (dekstral) 10.Genus Pelecypoda lain apakah yang : 1. paling mirip dengan Pecten adalah Lyropecten 2. Berdinding cangkang tebal dan hidup pada jaman kapur adalah Gryphea 10.Perbedaan pola sutur Nautiloid dengan Ammonitic : Nautiloid Sutur nautiloid Sutur tidak kompleks (lurus) Memiliki umbilikus yang jelas Ammonitic Sutur ammonitic Sutur kompleks dengan pola lekukan yang bervariasi Umbilikus tidak terlalu jelas dengan apertur oval

Gambar cangkang Nautilod dengan Ammonitic : TAKSONOMI PELECYPODA

Susunan Taksonomi berikut adalah berdasarkan klasifikasi Newel (1965) dalam Anonim (2010) yang didasarkan pada morfologi. Pelecypoda termasuk dalam kingdom Animalia, Filum Molluska, yang terbagi lagi dalam beberapa sub kelas dan ordo antara lain adalah sebagai berikut : 1. Subkelas Palaeotaxodonta Ordo Nuculoida 2. Subkelas Cryptodonta Ordo Praecardioida Ordo Solemyoida 3. Subkelas Pteriomorphia (tiram, kupang, dll,) Ordo Arcoida Ordo Cyrtodontoida Ordo Mytiloida Ordo Ostreoida Ordo Praecardioida Ordo Pterioida 4. Subkelas Paleoheterodonta Ordo Trigonioida Ordo Unionoida (jenis-jenis kupang air tawar) Ordo Modiomorpha 5. Subkelas Heterodonta (mencakup remis, lokan, dan kerang-kerang yang biasa dikenal, Eulamellibranchia) Ordo Cycloconchidae Ordo Hippuritoida Ordo Lyrodesmatidae Ordo Myoida Ordo Redoniidae Ordo Veneroida 6. Subkelas Anomalodesmata Ordo Pholadomyoida

DESKRIPSI PELECYPODA

Dari kenampakan yang terlihat dari fosil, dapat disimpulkan bahwa jenis dari fosilisasi fosilCircomphalus strigillinus adalah permineralisasi dan juga internal mold. Permineralisasi adalah proses dimana mineral sebagian masuk menggantikan mineral yang ada atau berada di organisme, biasanya seperti mineral silica (SiO2), kalsium karbonat (CaCO3), besi oksida (FeO atau Fe2O3). Internal mold adalah masukannya mineral atau butiran-butiran mineral yang mengisi rongga-rongga kosong di dalam sebuah organism. Dalam hal ini, fosil Circomphalus strigillinustidak sempurna karena sebagian dari cangkang(katup) ada yang berlubang sehingga memungkinkan butiran-butiran mineral dapat masuk melalui lubang yang telah terbentuk dan mengisi rongga yang berada didalam fosil tersebut.

Aspek Hidup Circomphalus strigillinus Circomphalus strigillinus hidup di dasar laut secara infaunal dengan menggunakan siphon. Hidup pada 30-40 meter di bawah permukaan laut dan posisinya vertikal terhadap substratnya.

Umur Circomphalus strigillinus Pelecypoda mulai ada adalah fosil indeks yang baik untuk zaman paleozoikum tapi ada beberapa yang tidak baik digunakan, karena ada beberapa orde yang masih ada hingga sekarang. Leptaena rhomboidalis merupakan fosil indeks yang baik untuk rentang masa dari ordovisium sampai jurrasic atau lebih tepanya pada upper silurian.

Taksonomi Circomphlaus strigillinus Kingdom Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Animalia : Pelecypoda : Eulamellibranchiata : Veneroida :Veneridae : Circomphlaus : Strigillinus

APLIKASI PELECYPODA Secara ekologis, jenis Pelecypoda penghuni kawasan hutan mangrove memiliki peranan yang besar dalam kaitannya dengan rantai makanan di kawasan hutan mangrove, karena disamping sebagai pemangsa detritus, pelecypoda berperan dalam proses dekomposisi serasah dan mineralisasi materi organik yang bersifat herbivor dan detrivor. Daun mangrove yang jatuh dan masuk ke dalam air. Setelah mencapai dasar teruraikan oleh mikroorganisme (bakteri dan jamur). Hasil penguraian ini merupakan makanan bagi larva dan hewan kecil air yang pada gilirannya menjadi mangsa pelecypoda di samping sebagai pemangsa detritus. Akar pohon mangrove memberi zat makanan dan menjadi daerah nursery bagi ikan dan invertebrata yang hidup di sekitarnya. Ikan dan udang yang ditangkap di laut dan di daerah terumbu karang sebelum dewasa memerlukan perlindungan dari predator dan suplai nutrisi yang cukup di daerah mangrove. Berbagai jenis hewan darat berlindung atau singgah bertengger dan mencari makan di habitat mangrove (Irwanto, 2006).

Selain berperan sebagai rantai makanan terhadap ekosistem mangrove pelecypoda di jadikan makanan, cangkok pelecypoda bisa dimanfaatkan untuk membuat hiasan dinding, perhiasan wanita, atau dibuat kancing. Ada pula yang suka mengumpulkan berbagai macam cangkang pelecypoda untuk koleksi atau perhiasan. Pelecypoda juga mempunyai kemampuan untuk mengontrol jumlah racun dalam tubuh mereka melalui proses pengeluaran, sementara organisme lain tidak dapat melakukan hal ini. Organisme yang tidak dapat mengontrol jumlah kandungan racun akan mengakumulasi polutan dan jaringan mereka menunjukkan adanya polutan. Pelecypoda sangat baik mengakumulasi polutan sehingga digunakkan sebagai biomonitor polusi (Philips dalam Sitorus, 2008). Pelecypoda juga dapat dijadikan indeks fosil untuk menentukan berbagai indikator yang terdapat dalam kegunaan-kegunaan fosil.