Anda di halaman 1dari 4

Rectal swab adalah prosedur di mana kapas kecil steril dimasukkan ke dalam rektum untuk tujuan koleksi sampel

yang akan diuji untuk penyakit dan infeksi tertentu daerah rectum + 2-3 cm diatas lubang anus.. Tinja serta jaringan dan kadang-kadang lendir dapat dikumpulkan dan dikirim untuk pengujian. Berbagai jenis infeksi virus, bakteri, dan parasit dapat dideteksi melalui rektal swab.

Pasien mungkin menerima usap dubur untuk sejumlah alasan, tetapi biasanya dilakukan untuk memeriksa berbagai jenis infeksi. Wanita hamil dapat menerima tes ini ketika sedang diperiksa untuk bakteri strep B, meskipun hal ini paling sering dilakukan saat kehamilan menggunakan tes swab vagina gantinya. Jika strep B hadir dalam rektum, namun, itu bisa menjadi indikasi yang baik bahwa mungkin berakhir jalan lahir juga sehingga pengobatan dapat dimulai.

Infeksi parasit juga dapat diuji untuk menggunakan usap dubur. Parasit termasuk organisme seperti cacing kremi yang dapat menginfeksi saluran pencernaan jika makanan yang mengandung larva mereka tertelan. Banyak kali cacing akan hadir ketika swab diambil. Obat dapat diberikan untuk membunuh parasit dalam banyak kasus.

Infeksi bakteri yang menyebabkan demam dan gejala lain juga mungkin memerlukan penggunaan tes usap dubur. Hal ini dilakukan untuk memeriksa bakteri tertentu dalam saluran pencernaan yang dapat menyebabkan perut marah. Hal ini dapat dilakukan dalam kombinasi dengan tes tambahan untuk diagnosis yang lebih akurat.

Selama proses swabbing pasien mungkin merasa sedikit ketidaknyamanan. Spons umumnya dimasukkan beberapa inci ke dalam rektum dan kemudian dihapus. Kebanyakan pasien dilakukan dalam beberapa menit. Pasien mungkin diminta untuk menahan diri dari mencuci daerah dubur selama beberapa jam sebelum tes dilakukan. Pelumas pribadi, wewangian, dan zat lain yang dapat mempengaruhi hasil juga harus dihindari. Hal ini untuk memastikan setiap infeksi bakteri yang menyebabkan hadir pada saat spons.

Swab rektal dapat oleh perawat, dokter umum, dan dokter keluarga lainnya. Beberapa klinik juga mungkin menawarkan swabbing dubur untuk pengujian penyakit tertentu. Setelah swab selesai, contoh dikirim ke laboratorium untuk pengujian. Pengobatan dapat diberikan sebelum hasil tes kembali jika gejala infeksi tertentu yang hadir

PEMERIKSAAN REKTAL SWAB

I. PENDAHULUAN Rektal swab merupakan apusan yang dilakukan pada daerah rectum + 2-3 cm diatas lubang anus. Kuman-kuman pathogen penyebab gastroenteritis dapat diisolasi dari swab rectum.Kumankuman yang ditemukan dari swab rectum juga terdapat pada saluran pencernaan. II. TUJUAN Untuk mengisolasi dan idertifikasi kuman pathogen (gastroenteritis) pada saluran pencernaan III BAHAN / SPESIMEN Faeces/rectal swab. IV. REAGEN/MEDIA 1. Carry and blair 2. Ss agar, mc agar tcbs agar 3. Antisera salmonela paratyphi A 4. Antisera salmonela paratiphy B 5. Antisera salmonela paratyphi C 6. Antisera coly pathogen 1-5 7. Antisera coly pathogen 6-11 8. Antisera shigella Disentriae 9. Antisera shigella flexineri 10. Antisera shigella boydii 11. Antisera shigella sonii 12. Alkali pepton 1 % 13. Seletnite broth 14. Alkohol 70 % 15. Gulagula 16. TSI, SIM ,simon sitrat

V. ALAT 1. 2. 3. 4. 5. Pinset Incubator lampu busen jarum ose kertas label

6. lidi kapas 7. objek glas

VI. CARA KERJA: 1. Pengambilan Spesimen Orang yang hendak diambil swabnya diminta bersimpuh dan menungging di atas tempat tidur. Tangan kiri petugas pengambil swab membuka lubang anus dan tangan kanan memasukan lidi kapas seteril ke dalam lubang anus dengan cara memutar sampai kurang lebih 2-3 cm ke dalam lubang anus. Setelah itu lidi kapas ditarik ke luar dengan sambil tetap diputar. Selanjutnya lidi kapas tadi dimasukkan dalam media carry and blir sampai terbenam ke dalam media. Apabila lidi/ tangkainya terlalu panjang, kita potong sehingga botol bisa ditutup dengan rapat. Setelah diberi label, specimen kita bawa ke laboratorium untuk diperiksa. 2. Cara Pemeriksaan 1. Siapkan media-media TCBS agar, SS agar, Mac Coli agar, selenite broth dan alkali pepton 1% dengan diberi label sesuai dengan label pada sampel yang akan diperiks. 2. Sampel (lidi kapas) pada media carry dan blair diambil dengan pinset secara asepptik dan dioleskan pada TCBS agar, SS agar, Mac coli agar, dan lidi kapas juga dikocok-kocok pada selenite broth dan alkali pepton 1% broth. 3. Ambil ose, panaskan sampai membara kemudian dinginkan dengan cara menempelkan pada media, setelah itu buat goresan pada masing-masing media tadi 4. Semua media yang telah digores tadi bersma-sama dengan alkali pepton broth 1% dan selenite broth, diinkubasi pada suhu 35-37 C selma 18-24 jam. 3. Pembacaan Hasil 1. Vibrio cholera a. Koloni yang berwarna kuningpada media TCBS agar, yang dicurigai sebagai kuman vibrio colera diuji dengan antesera polyvalen vibrio, apabila hasilnya positif yang ditandai dengan terjadinya aglutinasi, test diulanjutkan dengan biokimii dan selnjutnya dikomfirmasi dengan uji antiera ogawa dan bila perlu dengan uji gula-gula. b. Apabila koloni pada media TCBS menunjang untuk Vibrio colera namun tidak terjadi aglutinasi pada test biokimia, konfirmasikan dengan uji antisera polivalent . Kalau uji biokimia positif untuk Vibrio colera, uji lgi dengan Nacl 3%, kalau tidak terjadi aglutinasi, diharapkan Vibrio colera non aglutinasi (NAG, Vibrio corela) 2. Salmonella sp. a. Koloni tersangka pada media SS agar yaitu koloni putih trnasparan, diuji biokimia (TSI, SIM, Simon sitrat) apabila terjdi aglutinasi pada salah satu tersebut. Pengujian dkonfirmasikan dengan

antesera Salmonella typhi A,B,dan C dan bila perlu diuji dengan gula-gula. Sehinga diperoleh hasil yang betul-betul akurat. b. Apabila koloni pada media SS agar tersebut diuji dengan semua antisera tidak menghasilkan hasil positif, kalu laporkan hasil negatif. 3. Shigella sp. a. Koloni yang berwarna putih kemerahan dengan titik merah tua pada media SS agar, dicurigai sebagai koloni Shigella sp. Selanjutnya diuji dengan biokimia. Apabila salah satu dari tersebut menunjukkan aglutinasi positif, untuk konformasi lakukan pengujian dengan antisera Shigella dysentriae, Shigella flexneri, Shigella boydii, dan Shigella sonni dan gula-gula b. Apabila koloni yang dicurigai pada media SS agar setelah dilakukan pengujian dengan antisera hasilnya negatif, hasil bisa langsung dikeluarkan. 4. E coli pathogen a. Koloni berwarna merah bata pada media Mc C agar. Bentuk koloni datat b. Lakukan pengujian biokimia dan uji aglutinasi antisera E coli pathogen 1-5 & 6- 11

Anda mungkin juga menyukai