Anda di halaman 1dari 4

NEO-MODERN ARCHITECTURE Aliran Neo-Modern muncul pada masa antara tahun 1980 seiring dengan perkembangan jaman sejak

dinyatakannya kematian arsitektur modern (1975) dan kemudian ditandai munculnya bangunan-bangunan baru postmodern. Karya-karya Arsitektur Neo-Modern sangat bertentangan dengan sifat klasik. Ciri-ciri yang mendasar pada bangunan-bangunan Neo-Modern yaitu : 1. Memiliki konsep yang spesifik seperti bangunan-bangunan postmodern aliran lainnya pada umumnya. Dapat bersifat abstrak tetapi juga merepresentasikan sesuatu, tidak hanya sebagai stilasi dari suatu bentukan tertentu. 2. Masih memperlihatkan kejelasan struktur dan sainsnya dengan ide-ide yang inovatif, beralasan dan masuk akal. 3. Pertimbangan yang sangat mendasar terhadap karakter bangunan dengan tetap memperhatikan segi manusia yang menggunakannya. 4. Pada umumnya merupakan pengembangan/lanjutan dari bentukan-bentukan sederhana melalui konsep-konsep dan rekayasa baik secara karakter bangunan maupun fungsi struktur serta sains dengan pemikiran yang mendalam. 5. Keseragaman dan keserasian pada facade bangunan lebih diutamakan dengan penggunaan bahan dan warna terkadang bersifat monoton namun inovatif. 6. Memadukan unsur-unsur yang berkesan mungkin dan yang tidak mungkin.

Ciri-ciri diatas merupakan ciri-ciri umum yang dapat terlihat secara visual dari bangunan Neomodern. Untuk mengungkapkannya, para arsitek Neomodern memanfaatkan bentuk, penggunaan material dan warna serta struktur dan teknologi yang membuat Neomodern berkembang juga menjadi beberapa aliran seperti Plastism, Suprematism, High-tech dan lain-lain.

PETER EISENMAN Peter Eisenman (lahir 11 Agustus 1932 di Newark, New Jersey) adalah seorang arsitek Amerika. Eisenman menerima gelar Sarjana Arsitektur dari Cornell, Master Arsitektur sarjana dari Columbia University's Graduate School of Arsitektur, Perencanaan dan Pelestarian, dan MA dan gelar Ph.D. dari University of Cambridge. Pada 1957, ia mulai bekerja pada berbagai perusahaan konsultan arsitektur, termasuk perusahaan milik Walter Gropius, The Architects Cooperative. Awal 1980, Eisenmann mendirikan perusahaan sendiri di New York dan sejak saat itu ia merancang beberapa struktur penting. Fokus Eisenman dalam arsitektur, "membebaskan" adalah penting dari sudut pandang akademis dan teoritis namun menghasilkan struktur yang baik buruk dibangun dan bermusuhan dengan pengguna. Beberapa contoh karya-karya Peter Eisenman: House VI (Frank tempat tinggal), Cornwall, Connecticut, Desain: 1972.

Wexner Pusat Seni, Universitas Negeri Ohio, Columbus, Ohio, 1989 Nunotani bangunan, Edogawa Tokyo Jepang, 1991 Greater Columbus Convention Center, Columbus, Ohio, 1993 Memorial untuk orang-orang Yahudi Dibunuh di Eropa, Berlin, 2005

Morfologi Bangunan Peter Eisenman: Dalam Guardiola House, Santa Maria del Mar, Peter Eisenman hampir selalu merancang karyanya di atas alas persegi empat, namun dimodifikasi dalam bentukpbentuk yang variatif. Eisenman merasa perlu untuk melepaskan satu persatu hubungan antara struktur, bentuk, arti, isi, simbol yang disebutnya sebagai tindakan, displacement. Peter Eisenman mengembangkan bentuk-bentuk arsitektur yang menyatakan suatu dunia tanpa perintah atau logika. The End of the Classical: the End of the End, the End of the Beginning Lewat essay ini Eisenman menciptakan pertentangan antara paradigma Klasikal dan Humanis dalam arsitektur. Dalam hal ini Eisenman menempatkan arsitektur sebagai fiksi, bebas dari bobot masa lalu dan masa depannya. Apa yang bisa dijadikan contoh dalam arsitektur ketika intisari dari apa hal yang efektif dalam teori klasikal sudah ditampilkan dalam simulasi? Pertanyaan tersebut membawa pada suatu karakter yaitu kehilangannya kemampuan kita untuk menciptakan gaya baru untuk arsitektur, tanpa mendasarkannya pada hal-hal yang selama ini diterapkan dalam arsitektur klasikal. The End of Beginning Ketika arsitektur klasikal diajarkan untuk mendapatkan sumber dari hal-hal ilahi dan alami dan arsitektur modern dibuat untuk memperoleh nilai dari hal-hal yang deduktif, arsitektur bukan-klasikal dapat membuatnya sewenang-wenang, konsep yang simple dan tanpa memiliki nilai/makna sekalipun. The End of the End Karakter kedua dari arsitektur bukan-klasikal adalah kebebasannya dalam tujuan/ cita-cita apriori. Yang dalam aristektur klasikal berupa proses perubahan/ komposisi berhenti menjadi pembuatan strategi kausal, proses penambahan / pengurangan dari asalnya. Oleh karena itu, untuk mengusulkan the end of beginning dan the end of the end adalah untuk mengusulkan the end of beginnings dan ends of value utnuk menciptakan sebuah karya yang abadi. Sebuah karya yang abadi tidak perlu menentukan hubungan antara masa depan yang diidealisasikan dan masa lalu yang diidealisasikan.

Berikut adalah salah satu karya Peter Eisenman :

The Memorial to the Murdered Jews of Europe

The Memorial To The Murdered Jews Of Europe, yaitu sebuah memorial untuk mengenang penganut Yahudi yang meninggal di camp pengungsian atau pembunuhan massal saat masa kejayaan nazi maupun di masa perang dunia kedua. Memorial untuk Kaum Yahudi Terbunuh di Eropa (dalam Bahasa Jerman Denkmal fr die ermordeten Juden Europas) didirikan di tengah kota Berlin pada tahun 2004. Monumen ini berdiri diatas tanah seluas 19,000 m2 yang dibuat bergelombang dan terdiri dari 2.711 lempengan beton, yang ditata rapi di sebuah lapangan terbuka. Lempengan beton tersebut memiliki panjang 2.38 m, lebar 0.95 m dan tinggi yang berbeda-beda dengan kisaran 0.2 m - 4.8 m. Menurut Eisenman, lempengan tersebut dirancang untuk menciptakan atmosfer yang menggelisahkan dan membingungkan, dengan maksud agar pengunjung dapat merasakan perasaan korban Holocaust saat berada di kamp konsentrasi dahulu. Monumen ini, yang juga dikenal dengan nama Memorial Holocaust, sangat populer dengan turis karena berbagai alasan. Monumen ini melengkapi koleksi bangunan dan monumen Perang Dunia II di Berlin. Berjalan jalan di tengah kota Berlin, melihat berbagai monumen peninggalan masa perang adalah sebuah perjalanan yang menyentuh hati, dan monumen yang satu ini akan melengkapi perjalanan tadi. Holocaust sendiri adalah sebuah kejadian yang mengerikan, yang patut diingat sampai anak cucu kita. Mulai dibangun pada 1 april 2003 dan selesai pada 15 Desember 2004. Diresmikan pada 10 Mei 2005, 60 tahun setelah perang dunia ke-II berakhir dan dibuka untuk umum dua hari setelahnya. Berlokasi satu blok di sebelah selatan dari The

Brandenburg Gate, daerah The Friedrichstadt. Biaya pembuatan monumen ini mencapai 25 juta Euro. Sebuah memorial building atau statue selalu di bangun dengan kesadaran untuk mengenang sebuah sejarah atau perisiwa penting suatu bangsa. Tidaklah mudah untuk bangsa jerman, untuk membuka kembali kisah pembunuhan yahudi yang sampai saat ini enggan di bicarakan, dikarenakan rasa bersalah dan malu yang harus ditanggung generasi saat itu. 10 tahun Jerman membuat konsep tentang bagaimana, dimana, siapa yang membuat dan akan seperti apa tempat itu. Seorang jurnalis Jerman bernama Lea Rosh yang mendorong pembuatan monumen ini. Pada tahun 1989, ia menemukan sebuah grup yang mendukung biaya dan konstruksi pembuatan monumen ini. Lalu untuk memilih design, dibuat sebuah kompetisi pada tahun 1994 dengan hadiah 25 ribu Euro. Design yang terpilih adalah hasil rancangan Peter Eisenman yang kebetulan merupakan seorang Yahudi. Kebetulan ini berarti lebih mengingat monumen ini memang sebuah tempat memorial untuk mengenang bangsa Yahudi. Peter Eisenman menimbulkan kontroversi ketika ia mengungkapkan denah rancangannya. Para kritikus memprotes rancangannya karena dianggap terlalu abstrak dan tidak menyampaikan pesan sejarah tentang kampanye Nazi menentang kaum Yahudi. Namun ada juga yang berpendapat monumen tersebut menyerupai sebuah bidang luas yang terdiri dari batu-batu nisan yang tidak bernama dan berhasil menangkap kengerian saat kamp Nazi yang mematikan itu. Tidak ada arti apa-apa itulah konsep Eisenman dalam membuat design tempat ini, tanpa arti, tanpa tulisan, tanpa makna, tanpa apa-apa, dengan konsep ini semua orang bebas memberikan arti dalam sudut pandang mereka sendiri setiap mereka melewatinya. Bila kita berjalan masuk ke dalam tengah dari tempat ini kita akan merasa sangat kecil dan terperpelosok masuk ke lubang (karena lahan yang makin landai dan menurun di tengah) dan tetutup batu yang kita lihat hanya langit. Sang arsitek menginginkan pengunjung untuk masuk ke tengah, merasakan betapa dingin dan hampanya berada di tengah kumpulan batu, karena kehampaan adalah cara terbaik untuk mengenang pembantaian yahudi kala itu. Hampa, karena tidak kuasa merubah sebuah sejarah pahit itu.