Anda di halaman 1dari 9

ANALISIS KESTABILAN LERENG HIGH WALL PIT YUDISTIRA CUT BACK PT.

THIESS CONTRACTORS INDONESIA SATUI KALIMANTAN SELATAN


Oleh : Juki Bodi Sembada Prodi Teknik Pertambangan UPN Veteran Yogyakarta No. Hp. : 085228252345, e-mail : jukibodi@yahoo.com Ringkasan PT. Thiess Contractors Indonesia (TCI) penambangannya menggunakan sistem tambang terbuka metode strip mine. Kondisi penambangan terkini pada High Wall blok 159 telah mencapai elevasi -70 m, blok 162 dan 163 mencapai elevasi 0 m, dan kondisi High Wall blok 164 saat ini belum dibuka untuk kegiatan penambangan. Kondisi Side Wall blok 163 sama dengan kondisi High Wall blok 163 yaitu telah mencapai elevasi 0 m dan kondisi Side Wall blok 160 telah sampai elevasi -70 m. Analisis geoteknik dibutuhkan untuk mengetahui kestabilan lereng High Wall blok 159, 162, 163, dan 164 sehingga dapat memastikan bahwa desain geometri lereng yang digunakan saat ini aman untuk penambangan sampai batas akhir. Permasalahan yang ada pada PT. TCI adalah material properties yaitu kohesi yang akan digunakan untuk analisis kestabilan lereng belum dilakukan validasi. Hasil validasi terhadap kohesi diharapkan bisa digunakan untuk menganalisis stabilitas lereng High Wall pada kondisi sekarang dan kondisi lereng High Wall sampai mencapai batas akhir pengalian. Penyelesaian masalah ini adalah dengan melakukan pengambilan data kuat tekan batuan dengan menggunakan Schmidt Hammer. Nilai kuat tekan batuan akan digunakan untuk menentukan parameter kuat geser dari massa batuan berdasarkan kriteria Hoek & Brown. Salah satu parameter kuat geser massa batuan yaitu kohesi akan dilakukan validasi. Kohesi yang akan divalidasi adalah kohesi Sandstone dan Siltstone. Kohesi akan divalidasi dengan kohesi dari data pengujian laboratorium. Nilai kohesi dari pengujian laboratorium yaitu 240 kPa untuk Sandstone dan 299 kPa untuk Siltstone, sedangkan nilai kohesi yang dihasilkan dengan kriteria Hoek & Brown adalah 235 kPa untuk Sandstone dan 154 untuk Siltsone. Kohesi pada pengujian laboratorium lebih besar daripada pengujian berdasarkan kriteria Hoek & Brown. Hal tersebut terjadi karena pengujian laboratorium menggunakan batuan yang utuh ( intact rock) sedangkan pengujian berdasarkan kriteria Hoek & Brown menggunakan massa batuan ( rock mass). Hasil tersebut menunjukkan validasi data yang benar karena kohesi rock mass lebih kecil dari kohesi intact rock. Berdasarkan validasi data kohesi diatas, data-data pada pengujian di lapangan akan digunakan untuk menganalisis lereng High Wall. Analisis lereng High Wall blok 159, 162, dan 163 pada kondisi aktual menghasilkan nilai FK > 1,3 sedangkan pada kondisi mineout lereng High Wall blok 159 menghasilkan nilai FK 1,302, blok 162 FK 1,351, blok 163 FK 1,381, dan blok 164 FK 1,349. Hasil analisis menunjukkan kondisi lereng High Wall yang stabil karena nilai FK yang dihasilkan lebih besar dari 1,3. Kata kunci : Validasi, Kohesi, FK Pendahuluan Kegiatan penambangan di Pit Yudistira Cut Back yang semakin dalam akan mempengaruhi kestabilan lereng, khususnya lereng High Wall. Untuk menjamin keamanan dari kegiatan penambangan diperlukan lereng yang mantap dan stabil. Pada daerah penelitian belum dilakukan analisis terhadap lereng High Wall, oleh karena itu diperlukan analisis mengenai kestabilan lereng High Wall untuk menjamin keamanan tersebut. Tujuan Tujuan penelitian ini untuk : 1) Validasi material properties massa batuan daerah penelitian.

2) Menganalisis data kekar untuk potensi terdapatnya longsoran translasional pada lereng penambangan. 3) Menganalisis kestabilan lereng penambangan dengan material properties batuan yang didapatkan di lapangan dan telah dilakukan validasi dengan data material properties sebelumnya. 4) Membuat kesimpulan tentang hal-hal yang menyebabkan lereng daerah penelitian tidak stabil. Batasan Masalah Pada penelitian ini dibuat batasan masalah sebagai berikut : a. Lokasi penelitian berada di Pit YCB yaitu di lereng HW blok 159, 162, 163, dan 164. b. Analisis dilakukan terhadap penampang melintang lereng HW menggunakan metode Bishop dengan mengabaikan faktor kegempaan. c. Penentuan kuat tekan batuan di lapangan menggunakan alat Schmidt Hammer. d. Penentuan parameter kekuatan geser dengan kriteria Hoek & Brown. Metode Penelitian 1. Cara Penelitian Cara penelitian yaitu : a. Mencari arah umum kekar dan kondisi permukaan lithology di lereng HW dan SW kemudian diolah menggunakan metode stereografis untuk menentukan jenis potensi longsoran translasional. b. Mengambil nilai Rebound number (Rn) dari masing-masing lithology batuan yang terletak pada lereng SW. c. Menghitung nilai kuat tekan batuan berdasarkan hasil data Rn Schmidt Hammer. d. Mengolah data kuat tekan dengan menggunakan kriteria Hoek & Brown untuk menentukan material properties batuan. e. Melakukan validasi material properties batuan dengan data material properties sebelumnya. f. Analisis kestabilan lereng HW dengan material properties batuan hasil validasi menggunakan metode Bishop 2. Prosedur Penelitian Adapun prosedur penelitian yang dilakukan, meliputi: a. Studi Literatur Studi literatur bertujuan untuk mencari bahan-bahan yang berhubungan dengan penelitian dari buku-buku dan laporan penelitian yang telah ada. b. Pengambilan Data a). Data Primer Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung dari hasil pengamatan di lapangan. Data primer yang didapatkan saat penelitian adalah : Geometri, arah dan kemiringan lereng. Orientasi bidang diskontinu. Kondisi bidang diskontinu. Rn dari masing-masing lithology lereng SW. Titik lokasi daerah penelitian. b). Data Sekunder Data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung, yaitu dapat menyalin atau mengutip dari data yang sudah ada. Data sekunder yang didapatkan pada saat penelitian adalah : Data survey berupa peta topografi, peta IUP Satui, dan peta lokasi daerah penelitian. Data geologi yaitu berupa, geologi regional, geologi lokal, litologi dan stratigrafi. Data pengukuran curah hujan daerah penelitian. Material properties batuan daerah penelitian sebelumnya. Data unit weight batuan daerah penelitian c. Penelitian Lapangan

d.

Penelitian lapangan dimaksudkan adalah untuk memperoleh data primer dan sekunder. Data primer yang diambil adalah sebagai berikut: a. Geometri, arah dan kemiringan lereng. b. Orientasi bidang diskontinu. c. Kondisi bidang diskontinu. d. Rn dari dari Schmidt Hammer untuk masing-masing batuan pembentuk lereng SW. e. Titik lokasi daerah penelitian. Data primer yang didapatkan dari lokasi penelitian selanjutnya akan diolah dan dianalisis. Hasil pengolahan data primer berupa material properties dilakukan validasi dengan data material properties batuan sebelumnya. Hasil validasi digunakan untuk analisis kestabilan lereng. Adapun pengolahan dan analisis data yang dilakukan adalah sebagai berikut: a. Menentukan arah umum dari setiap family bidang diskontinu dengan proyeksi stereografis. Arah umum kekar dianalisis untuk mengetahui potensi longsor translasional yang terjadi pada lereng HW dan SW. b. Mengolah data Rn Schmidt Hammer untuk mendapatkan nilai kuat tekan batuan. c. Mengolah data kuat tekan batuan untuk mendapatkan material properties batuan. d. Melakukan validasi terhadap material properties batuan yang diolah dengan material properties batuan yang sudah ada sebelumnya. e. Menganalisis kestabilan lereng dengan cara memasukkan nilai material properties batuan yang telah dilakukan validasi. f. Memberikan rekomendasi geometri lereng yang aman jika ditemukan geometri lereng sebelumnya tidak aman. Pembuatan Laporan Laporan berupa hasil dari penelitian beserta pembahasan.

Hasil Penelitian 1. Pemetaan Geoteknik Untuk Analisis Potensi Longsoran Translasional Pemetaan geoteknik ini dilakukan untuk mendapatkan arah umum kekar dan arah dari lereng penambangan. Dari data tersebut kemudian dianalisis untuk mendapatkan potensi longsoran translasional. Data diambil dengan memembentangkan scanline pada lereng yang terdapat bidang-bidang diskontinu (kekar). Kekar-kekar yang terdapat pada lereng diukur dengan menggunakan kompas geologi dan diambil strike dan dip-nya. Selain itu arah dan kemiringan dari lereng dan scanline juga diukur. Pengukuran arah (strike) kekar dibagi kedalam famili-famili. Famili yang digunakan adalah famili A (strike 270o 360o), famili B (strike 0o 90o), famili C (strike 90o 180o), dan famili D (strike 180o 270o). Pengelompokan tersebut digunakan untuk mempermudah dalam menentukan spasi kekar. Spasi kekar diukur pada setiap famili, kemudian dari setiap famili dirata-ratakan untuk mendapat spasi kekar secara umum. 2. Pemetaan Geoteknik Untuk Analisis Kestabilan Lereng Pada kasus ini pemetaan dilakukan pada setiap lithology lereng SW Blok 160 dan 163. Data yang diambil berupa rebound number dan arah (strike/dip) dari lithology tersebut, lihat lampiran C. Masing-masing lithology diambil sepuluh rebound number (Rn Rn10) kemudian diambil modusnya untuk menentukan nilai kuat tekan batuan. Nilai kuat tekan diperoleh dengan menggunakan grafik yang tertera pada alat Schmidt Hammer, lihat Gambar 1.

Gambar 1 Grafik Schmidt Hammer Kuat tekan yang diperoleh merupakan kuat tekan material yang berbentuk kubus (UCS Cube), sedangkan untuk mendapatkan parameter kekuatan geser diperlukan kuat tekan material yang berbentuk silinder (UCS Cylinder). Oleh karena itu diperlukan sebuah konversi nilai kuat tekan dari kubus ke silinder. Berdasarkan SNI 03 1974 1990 konversi UCS Cube ke UCS Cylinder digunakan faktor pengali sebesar 0,83, lihat Tabel 1. Tabel 1 Daftar Konversi Kuat Tekan Beton dari Bentuk Kubus ke Bentuk Silinder (SNI 03 1974 -1990) Bentuk benda uji Perbandingan Kubus : 15 cm x 15 cm x 15cm 20 cm x 20 cm x 20 cm Silinder : 15 cm x 30 cm 1,00 0,95 0,83

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 3.

Tabel 2 Nilai kuat tekan uniaksial (UCS Cylinder) rata-rata daerah penelitian (MPa) Rata-rata Standar Lithology Min. Maks. Deviasi ( ) () Shalestone 0,21 17,03 4,20 4,29 Siltstone 1,12 37,32 21,03 11,46 Claystone 0,21 5,94 1,95 2,06 Sandstone 0,21 43,47 13,09 12,58 Carbonaceous mudstone 0,21 4,08 1,57 1,57 Coal 0,21 84,85 28,68 23,36

Validasi Material Properties Sebelum Pit Yudistira Cut Back dibuka pada tahun 2010 dilakukan pemboran pada tahun 2003. Hasil pemboran berupa core tersebut kemudian dilakukan uji laboratorium untuk mendapatkan material properties batuan, lihat Tabel 3. Tabel 3 Material Properties Batuan Hasil Pengujian Laboratorium Pit Yudhistira (Data Uji 2003) Capp Material (kPa) (gr/cm3) (...o) Sandstone 240,00 13,00 2,37 Siltstone 299,00 21,50 2,46 Mudstone 135,00 12,30 2,57 Batubara 286,00 45,70 1,46

Pengujian laboratorium tersebut akan digunakan sebagai acuan untuk menetukan material properties pada kondisi sekarang. Nilai material properties khusunya kohesi akan dilakukan validasi terhadap beberapa material hasil pengujian laboratorium diatas. Validasi terhadap kohesi harus memperhitungkan letak dan posisi dari material yang akan divalidasi. Validasi tersebut digunakan untuk memastikan apakah material properties yang dihasilkan pada kondisi sekarang sudah benar jika dibandingkan dengan data pemboran yang ada di lapangan. Material yang akan divalidasi adalah Sandstone dan Siltstone. Validasi dilakukan terhadap material tersebut karena melihat pada sayatan pemboran hanya material itu saja yang ditampilkan dengan jelas, lihat Gambar 2. Material Sandstone yang akan divalidasi terletak dibawah lapisan batubara sedangkan material Siltstone terletak diatas batubara. Batubara yang berada diatas material Sandstone merupakan batubara SR5 dan yang dibawah material Siltstone adalah batubara SU1. Material mudstone dan batubara tidak dilakukan validasi, karena pada peta sayatan pemboran material tersebut tidak ditunjukkan lapisannya, sehingga sangat sulit untuk divalidasi.

Batubara SR5

Keterangan No. 1 : Lithology Sandstone No. 2 : Lithology Siltstone

Batubara SU1

Gambar 2 Sayatan Pemboran Pit Yudistira (Tahun 2003) 4. Analisis Kestabilan Lereng HW akan dianalisis menggunakan desain geometri lereng HW yang sudah ada hingga mencapai batas terakhir penambangan. Desain lereng HW blok 159 yang akan dianalisis memiliki geometri lereng tunggal dengan kemiringan 60 o, tinggi 20 m, dan lebar bench 7,5 m. Lereng HW blok 162 164 memiliki desain HW yang sama, yaitu dengan kemiringan 60o, tinggi 20 m, dan lebar bench 17 m. Analisis kestabilan lereng menggunakan empat penampang melintang lereng yaitu penampang melintang A1-A1 pada lereng HW blok 164, A2-A2 pada lereng HW blok 163, A3-A3 pada lereng HW blok 162, dan A4-A4 pada lereng HW blok 159, lihat Gambar 3.

: Orientasi Kekar

Gambar 3 Lokasi Penampang Melintang Lereng High Wall Pembahasan 1. Validasi Material Properties Untuk melakukan valiadasi perlu dilakukan uji kuat tekan pada lithology sandstone dan siltstone. Uji kuat tekan dilakukan dengan alat Schmidt Hammer, yaitu dengan mengambil Rebound Number (Rn) dari lithology tersebut. Nilai kuat tekan digunakan untuk menentukan parameter kuat geser. Penentuan parameter kuat geser dengan menggunakan kriteria Hoek & Brown. Berikut merupakan tabel validasi pada lithology Sandstone dan Siltstone. Tabel 4 Perbandingan Nilai Kohesi Pengujian di Lab. dan tidak langsung Lithology Kohesi (kPa) Pengujian di lab. Pengujian tidak langsung Sandstone 240 235 Siltstone 299 147 Tabel 4 menunjukkan perbedaan nilai kohesi. Nilai kohesi pada pengujian laboratorium lebih besar daripada pengujian tidak langsung di lapangan. Hal tersebut terjadi karena pengujian di laboratorium menggunakan batuan yang utuh (intact rock) sedangkan di lapangan menggunakan massa batuan (rock mass). Data pada Tabel 5.4 menunjukkan validasi data yang benar karena kohesi rock mass lebih kecil dari kohesi intact rock. Berdasarkan hasil validasi tersebut maka material properties batuan hasil penelitian di lapangan dapat digunakan untuk menganalisis stabilitas lereng HW. Untuk kemajuan penambangan kedepannya material properties ini harap selalu diperbarui, karena memungkinkan menjumpai struktur dan kondisi batuan yang berbeda sehingga menyebabkan nilai yang berbeda pada material properties. 2. Analisis Stereografis Kegiatan pemetaan geoteknik dilakukan pada lereng High Wall blok 159, 161, 163 dan lereng Side Wall blok 160, 163. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengetahui potensi longsor yang terjadi pada lereng tersebut. Pemetaan geoteknik yang dilakukan antara lain adalah mengukur arah dan kemiringan kekar, spasi kekar, kemenerusan, tingkat pelapukan, lebar isian dan arah serta kemiringan lereng. Hasil analisis secara keseluruhan terdapat potensi longsoran baji pada lereng HW blok 159, 163, dan potensi longsoran topling pada lereng HW 163. 3. Analisis Kestabilan Lereng High Wall Analisis kestabilan lereng High Wall blok 159, 162, 163, 164 menggunakan variasi muka air tanah. Muka air tanah pada elevasi -50 m pada kondisi aktual digunakan kemiringan antara 5o 20o. Hasil analisis bisa dilihat pada Tabel 5 Terlihat sangat jelas sekali bahwa air tanah sangat mempengaruhi stabilitas lereng Ditunjukkan dengan nilai FK yang berubah pada muka air tanah dengan kemiringan yang berbeda. Tabel 5

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Hasil Analisis Stabilitas Lereng HW kondisi aktual FK Lereng HW Muka Air Tanah Blok 159 Blok 162 Blok 163 5o 1,392 1,944 2,803 10o 1,375 1,944 2,803 11o 1,370 1,944 2,645 12o 1,357 1,908 2,324 13o 1,351 1,680 2,089 14o 1,343 1,494 2,026 15o 1,336 1,406 2,026 20o 1,291 1,406 2,026

Analisis selanjutnya yaitu pada lereng HW dengan kondisi sudah mineout.. Analisis lereng HW blok 159 yang sudah mineout tidak menggunakan air tanah (kondisi lereng kering). Untuk lereng HW yang lain menggunakan muka air tanah dengan kemiringan 10 o 40o. Hasil analisis bisa dilihat pada Tabel 6. Tabel 6 Hasil Analisis Stabilitas Lereng HW kondisi mineout FK Lereng HW Muka Air No. Tanah Blok 159 Blok 162 Blok 163 Blok 164 1. Kering 1,302 1,590 1,438 1,408 2. 10o 1,488 1,438 1,408 3. 20o 1,351 1,381 1,349 4. 30o 1,040 1,080 1,040 5. 40o 0,822 0,877 0,801 4. Pemantauan LW Ramp Metode pemantauan yang digunakan untuk memantau titik yang berada di LW Ramp Pit YCB adalah metode pemantauan permukaan dengan survey optik. Faktor-faktor dipertimbangkan dalam pemilihan sistem pemantauan adalah waktu untuk pemasangan instrumen, tingkat gerakan dan akses yang aman menuju ke lapangan. Dari hasil pemantauan terhadap titik pantau yang terdapat pada LW Ramp Pit YCB menghasilkan koordinat yaitu berupa koordinat Easting, Northing, dan Elevasi. Pemantauan yang dilakukan pada titik yang sama dengan waktu yang berbeda menghasilkan perbedaan pada koordinat tersebut. Perbedaan tersebut menandakan bahwa pada titik pantau terdapat pergerakan. Hasil pemantauan dapat dilihat pada Gambar 4 dan Tabel 7.

II

III

Gambar 4 Grafik total perpindahan titik pantau LW Ramp Pit YCB Tabel 7 Total Perpindahan Titik Pantau LW Ramp Pit YCB Total Perpindahan Kecepatan Titik Pantau (m) (cm/detik) YLW 01 0,073 0,0000034

No. 1.

Segmen I

Hasil Analisis Aman

2.

II

3.

III

YLW 02 YLW 03 YLW 04 YLW 01 YLW 02 YLW 03 YLW 04 YLW 01 YLW 02 YLW 03 YLW 04

0,098 0,063 0,128 0,154 0,129 0,131 0,163 0,082 0,07 0,105 0,115

0,0000045 0,0000029 0,0000059 0,000018 0,000015 0,000015 0,000019 0,0000018 0,0000015 0,0000023 0,0000025

Aman Aman Aman Aman Aman Aman Aman Aman Aman Aman Aman

Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan, maka dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu: 1. Nilai kohesi Sandstone dan Siltstone hasil pengujian laboratorium 240 kPa dan 299 kPa, pengujian di lapangan 235 kPa dan 147 kPa. Data tersebut menunjukkan hasil validasi yang benar karena kohesi hasil pengujian laboratorium ( intact rock) lebih besar dari hasil pengujian di lapangan (mass rock) 2. Berdasarkan hasil analisis stereografis terdapat potensi longsoran baji pada lereng HW blok 159, 163 dan potensi longsoran topling pada lereng HW 163. Walaupun memiliki potensi longsoran baji dan topling analisis kestabilan lereng tetap menggunakan longsoran busur, karena batuan di daerah penelitian memiliki nilai kuat tekan yang kecil dan tergolong batuan lunak sehingga potensi longsoran yang terjadi bisa berbentuk busur. 3. Hasil analisis kestabilan lereng HW aktual dengan kemiringan air tanah dibawah 15 o pada elevasi -50 m adalah aman. 4. Hasil analisis kestabilan lereng HW kondisi mineout adalah stabil/aman, jika lereng HW blok 162 164 kemiringan muka air tanah 20o, dan lereng HW blok 159 dalam kondisi kering (tidak ada air tanah). 5. Faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan lereng diantaranya yaitu : a) Geometri lereng penambangan, melihat geometri lereng kondisi mineout pada lereng HW blok 159 dengan lebar bench 7,5 m, memiliki FK lebih kecil jika dibandingkan dengan lereng HW blok 162 kondisi mineout dengan lebar bench 17 m. Hal tersebut menunjukkan bahwa geometri lereng sangat berpengaruh terhadap stabilitas lereng lereng. b) Keberadaan muka air tanah, melihat Gambar 5.8 yaitu perbandingan nilai FK dengan kemiringan muka air tanah dapat disimpulkan bahwa kemiringan air tanah yang semakin besar akan menyebabkan penurunan nilai FK, begitu pula sebaliknya. Saran 1. Material properties harap diperbarui seiring dengann kemajuan penambangan. 2. Perlu dilakukan pemantauan air tanah disekitar lereng HW, sehingga analisis stabilitas lereng semakin akurat. 3. Kegiatan penambangan harap selalu mengikuti desain lereng HW yang sudah ada, apabila tidak mengikuti desain akan sangat dimungkinkan untuk menjadi potensi ketidakstabilan pada lereng HW tersebut. 4. Pada lokasi High Wall diperlukan pemantauan dengan melakukan survey optik secara periodik agar dapat mengetahui pergerakan lereng. Daftar Pustaka 1. Abramson, L. W., Thomas S. L., Sunil S. and Gleen M. B., 2002, Slope Stability and Stabilization Methods 2nd edition, Jhon Whiley & Son, Inc., New York, USA. 2. Alvian, M. C., 2012, Analisis Kestabilan Lereng High Wall Blok 1-3 Pit Lisat Di PT. TCI, Melak, Kutai Barat, Kalimantan Timur, Skripsi, Program Studi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknologi Mineral, UPN Veteran, Yogyakarta.

3.

Arief, S., 2008, Analisis Kestabilan Lereng dengan Metode Irisan , Paper, Inco, Sorowako, Sulawesi Selatan. Bieniawski Z. T, 1989, Engineering Rock Mass Clasifications, Jhon Whiley & Sons, Inc., Canada. Brown E. T., 1981, Rock characterization testing and monitoring, ISRM Methods, Royal school of mines, London. Suggested

4.

5.

6.

Hoek, E., and Bray, J. W., 1981, Rock Slope Engineering, Revised fourth edition, the Institution of Mining and Metalurgy, London and New York. Huang, Yang H., 1927, Stability Analysis of Earth Slopes, Van Nostrand Reinhold Company, New York. Kusuma, D. A., 2011, Perancangan Kembali Lereng Menggunakan Metode Analisis Balik Pada Pit Tutupan di PT. Adaro Indonesia Kalimantan Selatan , Skripsi, Program Studi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknologi Mineral, UPN Veteran, Yogyakarta. Saptono, S., 2012, Using the Schmidt Hammer on Rock Mass Characteristic in Sedimentary Rock at Tutupan Coal Mine, Proceedings of International Symposium on Earth Scince and Technology, Institute of Technology Bandung.

7.

8.

9.

10. Saptono, S., Kramadibrata, Sulistianto dan B. Irsyam. M, 2012, Studi Jarak kekar Berdasarkan Pengukuran Singkapan Massa Batuan Sedimen di Lokasi Tambang Batubara , Prosiding Simposium dan Seminar Geomekanika ke-1 tahun 2012. 11. Saptono, S., Kramadibrata, Sulistianto B., dan Wattimena R. K., 2009, Pengaruh Ukuran Contoh Terhadap Kekuatan Batuan, Jurnal JTM 2009, Institut Teknologi Bandung. 12. Wyllie, D. C. and Christopher W. M., 2004, Rock Slope Engineering Civil and Mining 4 th Edition, Spon Press, 270 Madison Avenue, New York, USA.