Anda di halaman 1dari 28

AKTIFITAS DAN LATIHAN a) Body Mechanic (mekanika tubuh) adalah suatu usaha mengoordinasikan sistem muskuloskeletal dan sistem

saraf dalam mempertahankan keseimbangan, postur dan kesejajaran tubuh selama mengangkat, membungkuk, bergerak dan melakukan aktivitas. Penggunaan mekanika tubuh yang tepat dapat mengurangi risiko cedera sistem muskuloskeletal. Mekanika tepat juga memfasilitasi pergerakan tubuh yang memungkinkan mobilisasi fisik tanpa terjadi ketegangan otot dan penggunaan energi otot yang berlebihan. Hal hal tersebut mencakup: 1. Kesejajaran tubuh (Body Alignment)

Kesejajaran tubuh dan pustur merupakan istilah yang sama dan mengacu pada posisi sendi, tendon, ligamen dan otot selama berdiri, duduk dan berbaring. Kesejajaran tubuh yang benar mengurangi ketegangan pada struktur muskuloskeletal, mempertahankan tonus (ketegangan) otot secara kuat dan menunjang keseimbangan. 2. Keseimbangan tubuh

Kesejajaran tubuh menunjang keseimbangan tubuh. Tanpa keseimbangan ini, gravitasi akan berubah, meningkatkan gaya gravitasi, sehingga menyebabkan risiko jatuh dan cedera. Keseimbangan tubuh diperoleh jika dasar penopang luas, pusat gravitasi berada pada dasar penopang, dan garis vertikal dapat ditarik dari pusat gravitasi ke dasar penopang. Keseimbangan tubuh dapat juga ditingkatkan dengan postur dan merendahkan pusat gravitasi, yang dicapai dengan posisi jongkok. Semakin sejajar postur tubuh, semakin besar keseimbangannya (Perry dan Potter, 1994). Keseimbangan dibutuhkan untuk mempertahankan posisi, memperoleh kestabilan selama bergerak dari satu posisi ke posisi lain, melakukan aktivitas sehari-hari, dan bergerak bebas di komunitas. Kemampuan untuk mencapai keseimbangan dipengaruhi oleh penyakit, gaya berjalan yang tidak stabil pada toddler, kehamilan, medikasi dan proses menua. Gangguan pada kemampuan ini merupakan ancaman untuk keselamatan fisik dan dapat menyebabkan ketakutan terhadap keselamatan seseorang dengan membatasi diri dalam beraktivitas (Bergetal, 1992) 3. Koordinasi Gerakan

Berat adalah gaya tubuh yang digunakan terhadap gravitasi. Ketika suatu obyek diangkat, pengangkat harus menguasai berat obyek dan mengetahui pusat gravitasinya. Karena manusia tidak mempunyai bentuk geometris yang sempurna, maka pusat gravitasinya biasanya berada pada 55% sampai 57% tinggi badannya ketika berdiri dan berada ditengah. Friksi adalah gaya yang muncul dengan arah gerakan yang berlawanan dengan arah gerakan benda. Misalnya menggerakkan klien diatas tempat tidur maka akan terjadi friksi. Perawat dapat mengurangi friksi dengan mengikuti beberapa prinsip dasar. Semakin besar area permukaan suatu obyek yang bergerak, semakin besar friksi. Klein pasif atau immobilisasi akan menghasilkan friksi yang lebih besar untuk bergerak. Friksi dapat juga dikurangi dengan mengangkat, bukan mendorong klien. Mengangkat

merupakan komponen gerakan keatas dan mengurangi tekanan antara klien dan tempat tidur atau kursi. b) Prinsip Body Mechanic

Mekanika tubuh penting bagi perawat dan klien. Hal ini mempengaruhi tingkat kesehatan mereka. Mekanika tubuh yang benar diperlukan untuk mendukung tingkat kesehatan dan mencegah kecacatan serta untuk menjaga keselamatan klien. Disamping itu, mekanika tubuh juga bertujuan untuk, menghibur pasien yaitu dengan meningkatkan kenyamanan dan kerjasama. Dalam hal ini, perawat menggunakan berbagai kelompok otot untuk setiap aktivitas keperawatan, seperti berjalan selama ronde keperawatan, memberikan obat, mengangkat dan memindahkan klien dan menggerakkan objek. Gaya fisik dari berat dan friksi dapat mempengaruhi pergerakan tubuh. Jika digunakan dengan benar, kekuatan ini dapat meningkatkan efisiensi perawat. Penggunaan yang tidak benar dapat mengganggu kemampuan perawat untuk mengangkat, memindahkan, dan mengubah posisi klien (Owen dan Garg, 1991) Perawat juga menggabungkan pengetahuan tentang pengaruh fisiologis dan patologis pada mobilisasi dan kesejajaran tubuh.

Organ yang Terkait dengan Body Mechanics dan Body Alignment 1. Mekanika tubuh adalah usaha untuk mengkoordinasi sistem muskuloskeletal dan saraf sehingga individu bergerak, mengangkat, membungkuk, berdiri, duduk, berbaring, dan melakukan aktivitas sehari-hari dengan sempurna. 2. Koordinasi gerakan tubuh membutuhkan integrasi fungsi sistem skeletal, otot skelet, dan sistem saraf. a. Skelet

Mendukung struktur penyokong tulang untuk bergerak, menghubungkan ligament dan otot, melindungi organ penting, mengatur produk kalsium dan sel darah merah. b. Sistem saraf

Mendukung gerakan awal dan control gerakan volunter

3.

Organ yang terkait

Otak yang bekerja sama dengan telinga. Didalam telinga terdapat koklea yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan tubuh. Keseimbangan: Pada telinga, nervus yang terbesar dalam kanalis semisirkularis menghantarkan impulsimpuls menuju otak. Impuls-impuls ini dibangkitkan dalam kanal-kanal, karena adanya perubahan kedudukan cairan dalam kanal atau saluran-saluran itu. Hal ini mempunyai

hubungan erat dengan kesadaran kedudukan kepala terhadap badan. Apabila seseorang didorong ke salah satu sisi maka kepalanya cenderung miring ke arah lain (berlawanan dengan arah badan yang didorong) guna mempertahankan keseimbangan, berat badan diatur, posisi badan dipertahankan sehingga jatuhnya badan dapat dipertahankan. Perubahan kedudukan cairan dalam saluran semisirkuler inilah yang merangsang impuls. Respons badan berupa gerak refleks, guna memindahkan berat badan serta mempertahankan keseimbangan. Untuk mempertahankan posisi tertentu, gaya grafitasi harus dilawan melalui mekanisme sensori organ proprioseptif. Aparatus vestibuli mendeteksi perubahan sinyal untuk mengaktifkan respons motor adaptif dalam mempertahankan keseimbangan. Index katz adalah pemeriksaan disimpulkan dengan system penilaian yang didasarkan pada tingkat bantuan orang lain dalam melakukan aktifitas fungsionalnya. Salah satu keuntungan dari alat ini adalah kemampuan untuk mengukur perubahan fungsi aktivitas dan latihan setiap waktu, yang diakhiri evaluasi dan aktivitas rehabilisasi. Pengukuran pada kondisi ini meliputi Indeks Katz 1 Mandi Dapat mengerjakan Sebagaian/pada bagian tertentu sendiri dibantu 2 Berpakaian Seluruhnya tanpa Sebagian/ pada bagian tertentu bantuan dibantu 3 Pergi ke toilet Dapat mengerjakan Memerlukan bantuan sendiri 4 Berpindah Tanpa bantuan Dengan bantuan (berjalan) 5 BAB dan BAK Dapat mengontrol Kadang-kadang ngompol / defekasi di tempat tidur 6 Makan Tanpa bantuan Dapat makan sendiri kecuali hal-hal tertentu Klasifikasi: A : Mandiri, untuk 6 fungsi B : Mandiri, untuk 5 fungsi C : Mandiri, kecuali untuk mandi dan 1 fungsi lain. D : Mandiri, kecuali untuk mandi, bepakaian dan 1 fungsi lain E : Mandiri, kecuali untuk mandi, bepakaian, pergi ke toilet dan 1 fungsi lain F : Mandiri, kecuali untuk mandi, bepakaian, pergi ke toilet dan 1 fungsi lain G : Tergantung untuk 6 fungsi. Sebagian besar/ seluruhnya dibantu Seluruhnya dengan bantuan Tidak dapat pergi ke WC Tidak dapat melakukan Dibantu seluruhnya Seluruhnya dibantu

Keterangan: Mandiri: berarti tanpa pengawasan, pengarahan, atau bantuan aktif dari orang lain. Seseorang yang menolak melakukan suatu fungsi dianggap tidak melakukan fungsi, meskipun dianggap mampu. PENGKAJIAN KEBUTUHAN LATIHAN DAN AKTIFITAS Riwayat Kesehatan Pengkajian terkait aktivitas klien meliputi riwayat aktivitas dan olahraga yang mencakup tingkat aktivitas, toleransi aktivitas, jenis dan frekuensi olahraga, faktor yang mempengaruhi mobilitas serta pengaruh imobilitas. . 2. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik berfokus pada aktivitas dan olahraga yang menonjolkan kesejajaran tubuh, cara berjalan, penampilan dan pergerakan sendi, kemampuan dan keterbatasan gerak, kekuatan dan massa otot, serta toleransi aktivitas.

Kesejajaran tubuh. Tujuan pemeriksaan kesejajaran tubuh adalah untuk mengidentifikasi perubahan postur akibat pertumbuhan dan perkembangan normal, hal-hal yang perlu dipelajari untuk mempertahankan postur tubuh yang baik, faktorfaktor yang menyebabkan postur tubuh yang buruk (misalkan kelelahan dan harga diri rendah), serta kelemahan otot dan kerusakan motorik lainnya. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menginspeksi pasien dari sisi lateral, anterior, dan posterior guna mengamati apakah: Bahu dan pinggul sejajar Jari-jari kaki mengarah ke depan Tulang belakang lurus, tidak melengkung ke sisi yang lain

Cara berjalan. Pengkajian cara berjalan dilakukan untuk mengidentifikasi mobilitas klien dan risiko cedera akibat jatuh. Hal ini dilakukan dengan meminta klien berjalan sejauh kurang lebih 10 kaki di dalam ruangan, kemudian amati hal-hal berikut : Kepala tegak, pandangan lurus, dan tulang belakang lurus Tumit menyentuh tanah lebih dahulu daripada jari kaki Kaki dorsofleksi pada fase ayunan Lengan mengayun ke depan bersamaan dengan ayunan kaki di sisi yang berlawanan

Gaya berjalan halus, terkoordinasi, dan berirama; ayunan tubuh dari sisi ke sisi minimal dan tubuh ke depan, dan gerakan dimulai dan diakhiri dengan santai.

Kecepatan berjalan (normalnya 70-100 langkah per menit) Penampilan dan pergerakan sendi. Pemeriksaan ini meliputi inspeksi, palpasi, serta pengkajian rentang gerak aktif atau rentang gerak pasif. Hal-hal yang perlu dikaji antara lain : Adanya kemerahan atau pembengkakan sendi Adanya deformitas Perkembangan otot yang terkait dengan masing-masing sendi Adanya nyeri tekan Krepitasi Peningkatan temperatur di sekitar sendi Derajat gerak sendi

Kemampuan dan keterbatasan gerak. Pengkajian ini bertujuan untuk mendapatkan data tentang adanya indikasi rintangan dan keterbatasan pada pergerakan klien dan kebutuhan untuk memperoleh bantuan. Hal-hal yang perlu dikaji antara lain: Bagaimana penyakit klien mempengaruhi kemampuan klien untuk bergerak.

Adanya hambatan dalam bergerak (misalnya terpasang selang infuys atau gips yang berat)

Kewaspadaan mental dan kemampuan klien untuk mengikuti petunjuk Keseimbangan dan koordinasi klien. Adanya hipotensi ortostatik sebelum berpindah tempat Derajat kenyamanan klien Penglihatan Kekuatan dan massa otot. Sebelum membantu klien mengubah posisi atau berpindah tempat, perawat harus mengkaji kekuatan dan kemampuan klien untuk bergerak. Langkah ini di ambil utnuk menurunkan risiko tegang otot dan cedera tubuh, baik bagi klien maupun perawat. Toleransi aktivitas. Pengkajian ini bermanfaat untuk membantu meningkatakan kemandirian klien yang mengalami : Disabilitas kardiovaskular dan respiratorik Imobilisasi komplet dalam waktu yang lama

Penurunan massa otot atau gangguan muskuloskeletal Tidur yang tidak mencukupi Nyeri Depresi,cemas, atau tidak termotivasi.

Alat ukur yang paling bermanfaat untuk meperkirakan toleransi klien terhadap aktivitas adalah frekuensi, kekuatan, dan iramama denyut jantung; frekuensi, kedalaman, dan irama pernapasan serta tekanan darah.

Masalah terkait mobilitas. Pengkajian ini dilakukan melalui metode inspeksi, palpasi, dan auskultasi; pemeriksaan hasil tes laboratorium; serta pengukuran berat badan, asupan cairan, dan haluaran cairan. Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan segera setelah klien mengalalmi imobilisasi. Data yang diperoleh tersebut kemudian menjadi standar yang akan dibandingkan dengan data selama periode imobilisasi.

MOBILISASI DAN IMMOBILISASI OBJEKTIF Setelah menyelesaikan pokok bahasan ini, peserta didik mampu: - mendefinisikan beberapa terminasi kunci terkait mobilisasi - menggambarkan konsep dasar dalam mobilisasi: fungsi skeletal, otot skeletal, dan sistem saraf dalam mengatur pergerakan; pengaruh fisiologik, dan patologik pada kesegarisan tubuh dan mobilisasi sendi; perubahan fungsi fisiologik dan psikososial yang berhubungan dengan immobilisasi - mengkaji klien dengan gangguan mobilisasi - merumuskan diagnosa keperawatan yang benar untuk masalah mobilisasi - menulis rencana keperawatan untuk gangguan mobilisasi - melakukan latihan rentang pergerakan sendi aktif/ pasif (praktikum) - melakukan teknik positioning/ perubahan posisi klien di tempat tidur (praktikum) - melakukan teknik ambulasi bagi klien (praktikum) - mengevaluasi rencana keperawatan untuk masalah mobilisasi KATA KUNCI - mekanika tubuh - body alignment/ kesegarisan tubuh atau postur - keseimbangan tubuh - berat - friksi - propiosepsi SUMBER Carpenito, L.J. (1999). Nursing care plans and documentation: Nursing diagnoses and collaborative problems. (third edition). Philadelphia: Lippincott. Craven, R.F., Hirnle, C.J. (2000). Fundamentals of nursing: Concepts, process, and practice. (fifth edition). California: Addison, Wesley Publishing Co. Leahy, J.M.& Kizilay, P.E. (1998). Foundation of nursing practice: A nursing approach. USA: WB Saunders Company. MOBILISASI DAN IMMOBILISASI Hanny Handiyani, SKp, M.Kep. ILUSTRASI Anda seorang perawat di ruang rawat bedah ortopedi dan bertanggung jawab untuk merawat enam klien. Klien anda Tn. A (20 tahun) telah dirawat di ruang tersebut selama tujuh hari dengan diagnosa medis fraktur femur sepertiga distal dekstra pascaoperasi pemasangan fiksasi internal hari keenam. Klien takut untuk menggerakkan anggota tubuhnya karena nyeri. Punggung, bokong, dan tumitnya tampak merah karena lama tertekan. Dokter bedahnya juga telah menginstruksikannya untuk latihan berjalan. Anda mencoba membantu klien tersebut berjalan, namun karena beban klien terlalu berat, anda mengalami kesulitan untuk melakukannya. Sebagai perawat, apa yang harus anda perhatikan dan lakukan untuk mengatasi masalah tersebut?

TERMINASI KUNCI Mekanika tubuh adalah suatu usaha sistem muskuloskeletal dan sistem saraf yang terkoordinasi untuk mempertahankan keseimbangan, postur, dan kesegarisan tubuh selama mengangkat, membungkuk, bergerak, dan melakukan aktifitas sehari-hari. Penggunaan mekanika tubuh yang sesuai dapat mengurangi risiko injuri sistem muskuloskeletal dan memfasilitasi pergerakan tubuh yang memungkinkan mobilisasi fisik tanpa ketegangan otot, dan menggunakan energi otot yang berlebihan. Kesegarisan tubuh atau postur berhubungan dengan posisi sendi, tendon, ligament, dan otot ketika posisi berdiri, duduk, dan berbaring. Kesegarisan tubuh yang benar mengurangi ketegangan pada struktur muskuloskeletal, mempertahankan tonus otot secara adekuat, dan menunjang keseimbangan. Kesegarisan tubuh menunjang keseimbangan tubuh. Keseimbangan adalah kemampuan untuk mencapai dan mempertahankan postur tubuh tetap tegak melawan gravitasi (duduk atau berdiri) sebaik mungkin untuk mengatur seluruh keterampilan aktifitas fisik (Glick, 1992 dikutip dari Kozier, 1997). Keseimbangan diatur oleh serebelum dan telinga dalam (kanalis semisirkuler). Tanpa keseimbangan ini, pusat gravitasi akan berubah, gaya gravitasi meningkat, dan konsekuensinya menyebabkan risiko jatuh dan injuri. Keseimbangan tubuh diperoleh dengan adanya dasar pendukung yang luas, pusat gravitasi berada pada dasar pendukung, dan garis vertikal dapat digambar dari pusat gravitasi melalui dasar pendukung, postur yang benar (lurus) dan pusat gravitasi yang lebih rendah. Berat adalah gaya pada tubuh yang menggunakan gravitasi. Ketika suatu objek diangkat, pengangkat harus mengetahui berat objek dan mengetahui pusat gravitasinya. Pada objek yang simetri, pusat gravitasi berada tepat pada pusat objek. Pada manusia, pusat gravitasinya biasanya berada pada 55-57% tinggi badannya ketika berdiri dan berada di tengah-tengah. Gaya berat selalu mengarah ke bawah, hal ini menjadi alasan mengapa objek yang tidak seimbang itu jatuh. Friksi (gaya gesek) adalah gaya yang terjadi pada gerakan benda yang berlawanan. Perawat dapat mengurangi friksi dengan mengikuti beberapa prinsip dasar, antara lain meminimalkan permukaan tubuh (menyilangkan lengan klien di dada), meminimalkan beban, menggunakan kekuatan dan gerakan klien saat mengangkat (ajak klien berpartisipasi), mengangkat menggunakan pull sheet. KONSEP DASAR MOBILISASI Mobilisasi atau kemampuan seseorang untuk bergerak bebas merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang harus terpenuhi. Tujuan mobilisasi adalah memenuhi kebutuhan dasar (termasuk melakukan aktifitas hidup sehari-hari dan aktifitas rekreasi), mempertahankan diri (melindungi diri dari trauma), mempertahankan konsep diri, mengekspresikan emosi dengan gerakan tangan non verbal. Immobilisasi adalah suatu keadaan di mana individu mengalami atau berisiko mengalami keterbatasan gerak fisik. Mobilisasi dan immobilisasi berada pada suatu rentang. Immobilisasi dapat berbentuk tirah baring yang bertujuan mengurangi aktivitas fisik dan kebutuhan oksigen tubuh, mengurangi nyeri, dan untuk mengembalikan kekuatan. Individu normal yang mengalami tirah baring akan kehilangan kekuatan otot rata-rata 3% sehari (atropi disuse). Mobilisasi sangat dipengaruhi oleh sistem neuromuskular, meliputi sistem otot, skeletal, sendi, ligament, tendon, kartilago, dan saraf. Otot Skeletal mengatur gerakan tulang karena adanya kemampuan otot berkontraksi dan relaksasi yang bekerja sebagai sistem pengungkit.

Ada dua tipe kontraksi otot: isotonik dan isometrik. Pada kontraksi isotonik, peningkatan tekanan otot menyebabkan otot memendek. Kontraksi isometrik menyebabkan peningkatan tekanan otot atau kerja otot tetapi tidak ada pemendekan atau gerakan aktif dari otot, misalnya, menganjurkan klien untuk latihan kuadrisep. Gerakan volunter adalah kombinasi dari kontraksi isotonik dan isometrik. Meskipun kontraksi isometrik tidak menyebabkan otot memendek, namun pemakaian energi meningkat. Perawat harus mengenal adanya peningkatan energi (peningkatan kecepatan pernafasan, fluktuasi irama jantung, tekanan darah) karena latihan isometrik. Hal ini menjadi kontra indikasi pada klien yang sakit (infark miokard atau penyakit obstruksi paru kronik). Postur dan Gerakan Otot merefleksikan kepribadian dan suasana hati seseorang dan tergantung pada ukuran skeletal dan perkembangan otot skeletal. Koordinasi dan pengaturan dari kelompok otot tergantung dari tonus otot dan aktifitas dari otot yang berlawanan, sinergis, dan otot yang melawan gravitasi. Tonus otot adalah suatu keadaan tegangan otot yang seimbang. Ketegangan dapat dipertahankan dengan adanya kontraksi dan relaksasi yang bergantian melalui kerja otot. Tonus otot mempertahankan posisi fungsional tubuh dan mendukung kembalinya aliran darah ke jantung. Immobilisasi menyebabkan aktifitas dan tonus otot menjadi berkurang. Skeletal adalah rangka pendukung tubuh dan terdiri dari empat tipe tulang: panjang, pendek, pipih, dan ireguler (tidak beraturan). Sistem skeletal berfungsi dalam pergerakan, melindungi organ vital, membantu mengatur keseimbangan kalsium, berperan dalam pembentukan sel darah merah. Sendi adalah hubungan di antara tulang, diklasifikasikan menjadi: - Sendi sinostotik mengikat tulang dengan tulang mendukung kekuatan dan stabilitas. Tidak ada pergerakan pada tipe sendi ini. Contoh: sakrum, pada sendi vertebra - Sendi kartilaginous/sinkondrodial, memiliki sedikit pergerakan, tetapi elastis dan menggunakan kartilago untuk menyatukan permukaannya. - Sendi kartilago terdapat pada tulang yang mengalami penekanan yang konstan, seperti sendi, kostosternal antara sternum dan iga. - Sendi fribrosa/sindesmodial, adalah sendi di mana kedua permukaan tulang disatukan dengan ligamen atau membran. Serat atau ligamennya fleksibel dan dapat diregangkan, dapat bergerak dengan jumlah yang terbatas. Contoh: sepasang tulang pada kaki bawah (tibia dan fibula) - Sendi sinovial atau sendi yang sebenarnya adalah sendi yang dapat digerakkan secara bebas di mana permukaan tulang yang berdekatan dilapisi oleh kartilago artikular dan dihubungkan oleh ligamen oleh membran sinovial. Contoh: sendi putar seperti sendi pangkal paha (hip) dan sendi engsel seperti sendi interfalang pada jari. Ligamen adalah ikatan jaringan fibrosa yang berwarna putih, mengkilat, fleksibel mengikat sendi menjadi satu sama lain dan menghubungkan tulang dan kartilago. Ligamen itu elastis dan membantu fleksibilitas sendi dan memiliki fungsi protektif. Misalnya, ligamen antara vertebra, ligamen non elastis, dan ligamentum flavum mencegah kerusakan spinal kord (tulang belakang) saat punggung bergerak. Tendon adalah jaringan ikat fibrosa berwarna putih, mengkilat, yang menghubungkan otot dengan tulang. Tendon itu kuat, fleksibel, dan tidak elastis, serta mempunyai panjang dan ketebalan yang bervariasi, misalnya tendon akhiles/kalkaneus.

Kartilago adalah jaringan penghubung pendukung yang tidak mempunyai vaskuler, terutama berada di sendi dan toraks, trakhea, laring, hidung, dan telinga. Bayi mempunyai sejumlah besar kartilago temporer. Kartilago permanen tidak mengalami osifikasi kecuali pada usia lanjut dan penyakit, seperti osteoarthritis. Sistem saraf mengatur pergerakan dan postur tubuh. Area motorik volunteer utama, berada di konteks serebral, yaitu di girus prasentral atau jalur motorik. Propriosepsi adalah sensasi yang dicapai melalui stimulasi dari bagian tubuh tertentu dan aktifitas otot. Proprioseptor memonitor aktifitas otot dan posisi tubuh secara berkesinambungan. Misalnya: proprioseptor pada telapak kaki berkontribusi untuk memberi postur yang benar ketika berdiri atau berjalan. Saat berdiri, ada penekanan pada telapak kaki secara terus menerus. Proprioseptor memonitor tekanan, melanjutkan informasi ini sampai memutuskan untuk mengubah posisi. Faktor yang mempengaruhi mobilisasi: 1. Sistem neuromuskular 2. Gaya hidup 3. Ketidakmampuan 4. Tingkat energi 5. Tingkat perkembangan - Bayi: sistem muskuloskeletal bayi bersifat fleksibel. Ekstremitas lentur dan persendian memiliki ROM lengkap. Posturnya kaku karena kepala dan tubuh bagian atas dibawa ke depan dan tidak seimbang sehingga mudah terjatuh. - Batita: kekakuan postur tampak berkurang, garis pada tulang belakang servikal dan lumbal lebih nyata - Balita dan anak sekolah: tulang-tulang panjang pada lengan dan tungkai tumbuh. Otot, ligamen, dan tendon menjadi lebih kuat, berakibat pada perkembangan postur dan peningkatan kekuatan otot. Koordinasi yang lebih baik memungkinkan anak melakukan tugas-tugas yang membutuhkan keterampilan motorik yang baik. - Remaja: remaja putri biasanya tumbuh dan berkembang lebih dulu dibanding yang laki-laki. Pinggul membesar, lemak disimpan di lengan atas, paha, dan bokong. Perubahan laki-laki pada bentuk biasanya menghasilkan pertumbuhan tulang panjang dan meningkatnya massa otot. Tungkai menjadi lebih panjang dan pinggul menjadi lebih sempit. Perkembangan otot meningkat di dada, lengan, bahu, dan tungkai atas. - Dewasa: postur dan kesegarisan tubuh lebih baik. Perubahan normal pada tubuh dan kesegarisan tubuh pada orang dewasa terjadi terutama pada wanita hamil. Perubahan ini akibat dari respon adaptif tubuh terhadap penambahan berat dan pertumbuhan fetus. Pusat gravitasi berpindah ke bagian depan. Wanita hamil bersandar ke belakang dan agak berpunggung lengkung. Dia biasanya mengeluh sakit punggung. - Lansia: kehilangan progresif pada massa tulang total terjadi pada orangtua. Kondisi patologik: - Postur abnormal: a. Tortikolis: kepala miring pada satu sisi, di mana adanya kontraktur pada otot sternoklei domanstoid b. Lordosis: kurva spinal lumbal yang terlalu cembung ke depan/ anterior c. Kifosis: peningkatan kurva spinal torakal d. Kipolordosis: kombinasi dari kifosis dan lordosis e. Skolioasis: kurva spinal yang miring ke samping, tidak samanya tinggi hip/ pinggul dan bahu f. Kiposkoliosis: tidak normalnya kurva spinal anteroposterior dan lateral

g. Footdrop: plantar fleksi, ketidakmampuan menekuk kaki karena kerusakan saraf peroneal - Gangguan perkembangan otot, seperti distropsi muskular, terjadi karena gangguan yang disebabkan oleh degenerasi serat otot skeletal - Kerusakan sistem saraf pusat - Trauma langsung pada sistem muskuloskeletal: kontusio, salah urat, dan fraktur. Respon fisiologik dari perubahan mobilisasi, adalah perubahan pada: - muskuloskeletal seperti kehilangan daya tahan, penurunan massa otot, atropi dan abnormalnya sendi (kontraktur) dan gangguan metabolisme kalsium - kardiovaskuler seperti hipotensi ortostatik, peningkatan beban kerja jantung, dan pembentukan thrombus - pernafasan seperti atelektasis dan pneumonia hipostatik - metabolisme dan nutrisi antara lain laju metabolic; metabolisme karbohidrat, lemak dan protein; ketidakseimbangan cairan dan elektrolit; ketidakseimbangan kalsium; dan gangguan pencernaan (seperti konstipasi) - eliminasi urin seperti stasis urin meningkatkan risiko infeksi saluran perkemihan dan batu ginjal - integument seperti ulkus dekubitus adalah akibat iskhemia dan anoksia jaringan - neurosensori: sensori deprivation Respon psikososial dari antara lain meningkatkan respon emosional, intelektual, sensori, dan sosiokultural. Perubahan emosional yang paling umum adalah depresi, perubahan perilaku, perubahan dalam siklus tidur-bangun, dan gangguan koping. ASUHAN KEPERAWATAN PENGKAJIAN Pengkajian Ciri Khas Penting Diagnosa Kep Ukur ROM selama latihan ekstremitas Tanyakan klien tentang persepsinya terhadap nyeri Tanyakan klien tentang daya tahan dan toleransi aktivitas Inspeksi keutuhan area kulit ekstremitas yang digips Observasi gaya jalan dan kemampuan bergerak dengan bebas Keterbatasan ROM pada bahu kiri Enggan mencoba menggerakkan bahu kiri Gagal mengkoordinasi ketika melakukan ROM pada bahu kiri Klien mengeluh nyeri seperti tertusuk pada lengan kiri Klien mengatakan kekuatan otot bahu kirinya berkurang Abrasi kulit di perimeter area yang digips Kemampuan untuk mengubah posisi dengan bebas berkurang Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan nyeri pada bahu kiri Risiko injuri berhubungan dengan tekanan dari gips DIAGNOSA KEPERAWATAN Contoh Diagnosa Keperawatan NANDA yang berhubungan dengan mekanik tubuh yang tidak sesuai dan gangguan mobilisasi Intoleransi aktivitas berhubungan dengan: - Kesegarisan tubuh yang buruk - Penurunan mobilisasi Risiko injuri berhubungan dengan: - Ketidaklayakan mekanik tubuh

- Ketidaklayakan posisi - Ketidaklayakan teknik pemindahan Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan: - Pengurangan ROM - Tirah baring - Penurunan kekuatan Tidak efektifnya bersihan jalan napas b.d: - Stasisnya sekresi paru - Ketidaklayakan posisi tubuh Tidak efektifnya pola napas b.d: - Penurunan pengembangan paru - Penumpukan sekresi paru - Ketidaklayakan posisi tubuh Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan: - Pola napas asimetris - Penurunan pengembangan paru - Penumpukan sekresi paru Risiko kurangnya volume cairan b.d penurunan asupan cairan Gangguan integritas kulit atau risiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan/ b.d: - Pembatasan mobilisasi - Tekanan pada permukaan kulit - Pengurangan kekuatan Perubahan eliminasi urin b.d: - Pembatasan mobilisasi - Risiko infeksi - Retensi urin Risiko infeksi berhubungan dengan: - Stasisnya sekresi paru - Gangguan integritas kulit - Stasisnya urin Inkontinensia total berhubungan dengan: - Perubahan pola eliminasi - Pembatasan mobilisasi Tidak efektifnya koping individu b.d: - Pengurangan tingkat aktivitas - Isolasi sosial Gangguan pola tidur berhubungan dengan: - Pembatasan mobilisasi - Rasa tidak nyaman

PERENCANAAN Contoh Rencana Keperawatan pada gangguan mobilitas fisik Diagnosa Keperawatan: gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri bahu kiri Definisi: gangguan mobilitas fisik merupakan kondisi individu menunjukkan keterbatasan kemampuan dalam mobilitas fisik secara bebas Tujuan Klien akan mencapai ROM normal (fleksi dan ekstensi 1800) bahu kiri dalam 4 bulan Hasil yang diharapkan Klien akan ROM pada kesatuan ekstremitas atas Klien akan menunjukkan aktivitas perawatan diri menggunakan lengan kiri dalam 2 hari Klien akan mengikuti program latihan secara teratur pada saat pulang Intervensi Usulkan pemberian analgesik 30 menit sebelum latihan ROM Ajarkan klien untuk latihan ROM spesifik pada bahu dan lengan kiri Buat jadual latihan aktif antara waktu makan dan mandi Rasional Aktivitas analgesik akan maksimal pada saat klien memulai latihan Pendidikan membuat klien mempunyai kesempatan dan pengetahuan untuk menjaga dan meningkatkan ROM (Lehmkuhl et al, 1990) Hal ini akan mendukung frekuensi latihan yang berpengaruh pada kesatuan dan pengurangan risiko perkembangan kontraktur Rencana keperawatan didasari oleh satu atau lebih tujuan-tujuan berikut: 1. mempertahankan kesegarisan tubuh yang sesuai 2. mencapai kembali kesegarisan tubuh atau tingkat optimal kelurusan tubuh 3. mengurangi cidera pada kulit dan sistem musculoskeletal dari ketidaktepatan mekanika atau kesegarisan tubuh 4. mencapai ROM penuh atau optimal 5. mencegah kontraktur 6. menjaga kepatenan jalan napas 7. mencapai ekspansi paru dan pertukaran gas optimal 8. memobilisasi sekresi jalan napas 9. menjaga fungsi kardiovaskuler 10. meningkatkan toleransi aktivitas 11. mencapai pola eliminasi normal 12. menjaga pola tidur normal 13. mencapai sosialisasi 14. mencapai kemandirian penuh dalam aktivitas perawatan diri 15. mencapai stimulasi fisik dan mental IMPLEMENTASI Lihat penuntun praktikum Kriteria dasar cara mengangkat berikut ini: 1. Posisi berat. Berat yang akan diangkat sebaiknya sedekat mungkin dengan pengangkat. Tempatkan obyek sedemikian rupa sehingga menggunakan kekuatan mengangkat yang dimiliki perawat 2. Tinggi obyek. Tinggi yang paling baik untuk diangkat sebaiknya vertikal yaitu sedikit di atas dari tinggi pertengahan seseorang dengan lengan menggantung sejajar siku. 3. Posisi tubuh. Jika posisi tubuh pengangkat bervariasi dengan tugas mengangkat yang berbedabeda, ikuti petunjuk umum yang dapat dipakai untuk sebagian besar keadaan. Tubuh diposisikan dengan tubuh tegak sehingga kelompok otot-otot multipel bekerja sama dengan cara yang tepat

4. Berat maksimum. Setiap perawat sebaiknya tahu berat maksimum yang aman untuk membawa- aman bagi perawat dan klien. Obyek yang terlalu berat adalah jika beratnya sama dengan atau lebih dari 35% berat badan orang yang mengangkat. Oleh karena itu, perawat yang beratnya 130 lb (59,1 kg) sebaiknya tidak mencoba mengangkat orang imobilisasi yang beratnya 100 lb (45,5 kg). Meskipun perawat mungkin mampu melakukannya, hal ini akan berisiko menjatuhkan klien atau menyebabkan cidera punggung perawat.

EVALUASI Sesuaikan dengan tujuan

MEMINDAHKAN PASIEN DARI TEMPAT TIDUR KE BRANGKAR 1. Pengertian: Adalah memindahkan pasien yang mengalami ketidakmampuan, keterbatasan, tidak boleh melakkukan sendiri, atau tidak sadar dari tempat tidur ke brankar yang dilakukan oleh dua atau tiga orang perawat. 1. Tujuan: memindahkan pasien antar ruangan untuk tujuan tertentu (misalnya pemeriksaan diagnostik, pindah ruangan, dll.) 1. Alat dan Bahan : 1. Brankar 2. Bantal bila perlu 1. Prosedur : 1. Ikuti protokol standar 2. Atur brankar dalam posisi terkunci dengan sudut 90 derajat terhadap tempat tidur 3. Dua atau tiga orang perawat menghadap ke tempat tidur/pasien 4. Silangkan tangan pasien ke depan dada 5. Tekuk lutut anda , kemudian masukkan tangan anda ke bawah tubuh pasien 6. Perawat pertama meletakkan tangan dibawah leher/bahu dan bawah pinggang, perawat kedua meletakkan tangan di bawah pinggang dan panggul pasien, sedangkan perawat ketiga meletakkan tangan dibawah pinggul dan kaki. 7. Pada hitungan ketiga, angkat pasien bersama-sama dan pindahkan ke brankar 8. Atur posisi pasien, dan pasang pengaman. 9. Lengkapi akhir protokol Sumber; Perry, Peterson, Potter; Buku Saku Keterampilan dan Prosedur Dasar Azis Alimul Hidayat, S.Kp; Buku Saku Praktikum KDM

Tujuan mobilisasi sendi untuk mengembalikan fungsi sendi yang normal tanpa nyeri pada waktu melakukan aktivitas gerak sendi. Secara mekanik tujuannya untuk memperbaiki joint play movement melalui mekanisme gerak arthrokinematik yang benar. Secara biomekanik gerakan suatu sendi akan mengikuti pola gerak arthrokinematik dan arteokinematik. Pada sendi bahu yang merupakan sendi yang sangat komplek selalu mengikuti maka mobilisasi sendi juga dipengaruhi oleh struktur sendi yang lain dalam mempertahankan mobilitasnya yang normal. Sendi yang terlibat pada gerakan bahu tercakup dalam komponen shoulder girdle, sehingga untuk memobilisasi sendi bahu juga melibatkan sendi lain misalnya acromio clavicular, sternoclavicular dan cervico thoracal serta costo scapular. Disisi lain peran otot juga sangat menentukan mobilisasi sendi bahu, misalnya otot deltoideus, rotator cuff dan otot lain di sekitar sendi bahu. Pada kondisi tertentu nyeri bahu dapat terjadi oleh karena factor muskuler yang secara tidak langsung apabila otot tersebut mengalami patologi akan menekan struktur vaskuler dan persyarafan yang melintasi sendi bahu misalnya pada kondisi scalmi sindrom, pectoralis sindrom yang sering disebut TOC. Sindroma nyeri bahu sangat luas, apabila dikaji secara holistic, sehingga untuk membatasi pengertian mobilisasi disini hanya akan dibahas tentang mobilisasi artikuler yang berkaitan dengan (1) mekanisme joint play yaitu roll-gliding dan traksi serta (2) mobilisasi muskuler pada otot postural yang ikut mempengaruhi mobilitas sendi bahu. Sebelum melakukan mobilisasi sendi bahu maka harus dipahami tentang pengertian permukaan sendi concave dan convex sebgai dasar artrokinetik. Pada sendi bahu, glenohumeral berpermukaan convex sedang cavitas glenoidalis bersifat concave. Gliding akan berlawanan dengan arah gerak tulang (osteokinetik). Sedang sendi yang berpermukaannya concave maka arah gliding (sliding) searah dengan tulang yang bergerak. Traksi pada sendi bahu ke arah lateral, ventral cranial atau tegak lurus dengan permukaan sendi pada posisi maximal loose packed position. Pelaksanaan traksi tujuan terapi bias ke segala arah menurut daerah keterbtasan sendi. TREATMENT RULES: Sebelum melakukan terapi menggunakan teknik-teknik mobilisasi manual (manual terapi), ada aturan-aturan (treatment rules) yang harus diketahui terlebih dahulu oleh terapis, yaitu: 1. Posisi pasien Pasien diposisikan enal & nyainan schingga otot-ototnya nicks. Sendi diposisikan pada resting position (MLPP) atau actual resting position. Tulang pembentuk sendi bagian pioksinial difiksasi. 2. Posisi terapis Terapis harus menggtinakan prinsip-prinsip ergonomis dan berdiri atau memposisikan din sedekat rnungkin dengan pasien. Kedua kaki/tungkai melebar agar stabil. Apabila memungkinkan gunakan pengaruh gravitasi atau berat tubuh untuk mendorong atau menarik. 3. Fiksasi Untuk memfiksasi bagian tubuh tertentu bisa digunakan tangan terapis atau menggunakan sabuk atau dengan bantuan (difiksasi) orang lain. Fiksasi dilakukan sedekat mungkin (lengan ruang sendi tanpa menimbulkan nyeri). 4. Tangan terapis yang aktif/bergerak Tangan terapis memegang bagian tubuh sedekat mungkin dengan ruang sendi untuk digerakkan. Untuk menghindari nyeri kadang-kadang perlu merubah pegangan.

5. Arah Gerakan Arah gerakan translasi selalu tegak lurus atau sejajar dengan bidang terapi. Gerakan tegak lurus terhadap dan ke arah bidang terapi disebut traksi dan traksi ini dilakukan untuk mengurangi nyeri maupun sebagai traksi-mobilisasi untuk memperbaiki mobilitas sendi. Traksi untuk mengurangi nyeri dilakukan pada posisi MLPP atau apabila tidak memungkinkan maka diposisikan pada aktual resting position. Traksi-mobilisasi dan glide-mobilisasi harus dilakukan tanpa menimbulkan nyeri. Terapi untuk kekakuan sendi selalu diawali dengan traksi-mobilisasi, dan apabila memungkinkan bisa diberi modalitas fisioterapi yang lain untuk mengurangi nyeri misalnya; panas, dingin ataupun stimulasi elektris. Apabila terapi pertama tersebut ada perbaikan maka dilanjutkan dengan pemberian glide-mobilisasi ke arah gerakan yang terbatas. 6. Indikasi Traksi dan Gliding Traksi: Grade I: - Untuk mengurangi nyeri - Selalu digunakan pada saat melakukan glide-mobilisasi Grade II: - Untuk mengurangi nyeri (the slack is not completely taken-up) - Untuk tes joint play movement (traction-test) Grade III: - Untuk menambah mobilitas sendi (traksi-mobilisasi) - Untuk tes joint play movement (traction-test)Gliding: Grade II: - Untuk tes joint play movement (glide-test) Grade III: - Untuk menambah mobilitas sendi (glide-mobilisasi) - Untuk tes joint play movement (glide-test) 7. Traksi untuk Mengurangi Nyeri Sendi yang terasa nyeri pertama-tama harus diterapi dengan traksi. Biasanya digunakan traksi intermittent (grade I atati II) dengan interval 10 detik. Traksi dilakukan pelan-pelan, kemudian dengan pelan-pelan pula traksi dilepaskan sehingga sendi kembali ke posisi awal. Setelah sendi istirahat beberapa detik, prosedur di atas diulangi kembali. Amplitudo, durasi dan frekuensi gerakan sendi yang pasti sangat bervariasi tergantung pada respon pasien terhadap terapi tersebut. Terapis harus pandai-pandai memodifikasi teknik yang digunakan berdasarkan respon subjektif pasien terhadap terapi yang diberikan. 8. Mobilisasi Sendi untuk Menambah Mobilitas (pada kekakuan sendi) Traksi-mobilisasi grade III efektif untuk memperbaiki mobilitas sendi karena dapat meregang (stretch) jaringan lunak sekitar persendian yang memendek. Traksimobilisasi dipertahankan selama 7 detik atau lebih dengan kekuatan maksimal sesuai dengan toleransi pasien. Antara dua traksi yang dilakukan, traksi tidak perlu dilepaskan total ke posisi awal melainkan cukup diturunkan ke grade II dan kemudian lakukan traksi grade III lagi. Prosedur tersebut dilakukan berulang-ulang. Glide-rnobilization grade III yang dilakukan ke arah gliding yang terbatas juga efektif untuk meregang jaringan yang menghambat gerakan. Dalam melakukan glideinobilisasi ini selalu disertai dengan traksi grade I yang tujuannya untuk menetralisir gaya kompresi yang ada dalam sendi sehingga mempermudah terjadinya gliding. Apabila problemnya hanya gerakan gliding terbatas maka traksi maupun gliding yang

di lakukan adalah inermittent dan waktunya relatif pendek. Apabila terdapat jaringan lunak memendek maka diperlukan regangan yang dipertahankan dalam waktu satu menit atau lebih. 9. Evaluasi Evaluasi dilakukan sebelum dan sesudah terapi, bahkan harus selalu dilakukan selama terapi berlangsung. Untuk terapi permulaan biasanya diberikan traksi -mobilisasi sebanyak 10 kali. Apabila tidak terjadi hal-hal yang tidak diharapkan maka terapi bisa ditambah dengan glide-mobilisasi. Apabila pasien merasakan nyeri maka harus dilakukan evalusi secara hati-hati sebelum terapi dilanjutkan. Apabila setelah dilakukan mobilisasi berulang-ulang tidak didapatkan perbaikan maka terapi (dengan manual terapi) untuk hal ini dihentikan. 10. Tujuan Mobilisasi Sendi Tujuan mobilisasi sendi adalah untuk mengembalikan fungsi sendi normal dan tanpa nyeri. Secara mekanis, tujuannya adalah untuk memperbaiki joint play dan dengan demikian memperbaiki roll-gliding yang teijadi selama gerakan aktif. Terapi harus diakhiri apabila sendi sudah mencapai LGS maksimal tanpa nyeri dan pasien dapat melakukan gerak aktjf dengan normal. Pelaksanaan Manual Terapi Regio Bahu: 1. Caput Humeri: Traksi-latero-ventro Cranial

Pasien: Tidur telentang Terapis: Berdiri di sisi bagian yang diterapi Fiksasi: Scapula difiksasi oleb berat tubuh pasien (ditiduri). Apabila memungkinkan dapat difiksasi menggunakan sabuk. Pelaksanaan: Kedua tangan terapis memegang humerus sedekat mungkin dengan sendi, kemudian melakukan traksi ke arah latero-ventro-cranial. Lengan bawah pasien rileks disangga lengan bawah terapis. Lengan bawah terapis yang berlainan sisi mengarahkan gerakan. Indikasi: Mobilisasi tidak langsung non spesifik. 2. Caput Humeri: Traksi posisi abduksi endorotasi Pelaksanaan seperti gambar no.1 3. Caput Humeri: Traksi posisi abduksi eksorotasi Pelaksanaan seperti No.2

B. Translasi (Gliding) Ventral 1. Sendi Bahu Caput Humeri Ventral posisi Abduksi Pasien : Tidur miring pada posisi sehat dengan sedikit rotasi pungung. Siku pasien disangga dengan guling atau bantal supaya bahu dalam keadaan rilek. Terapis : Berdiri di depan pasien. Fiksasi : Tangan yang berlawanan menyangga siku pasien dengan flexi 90 derajat dan abd bahu 60 derajat. Pelaksanaan : Tangan fisioterapis diletakkan dari sebelah dorsal dan sedekat mungkin dengan persendian, selanjutnya melakukan gerakan translasi ke arah ventral sedikit medial. Terapis : Menempelkan lengannya pada tubuh. Indikasi : Mobilisasi langsung, non spesifik untuk memperbaiki gliding ke arah ventral 2. Sendi Bahu Caput Humeri Ventral posisi Adduksi Pelaksanaan sama dengan no.1 3. Sendi Bahu Caput Humeri Ventral posisi Abduksi Horisontal Pelaksanaan seperti gambar No.2 C. Translasi Gliding Caudal 1. Sendi Bahu Caput Humeri Caudal Posisi Abduksi 2. Sendi Bahu Caput Humeri Caudal Posisi Abduksi Eksorotasi Pelaksanaan seperti gambar No. 1 3. Sendi Bahu Caput Humeri Caudal Posisi Abduksi Endorotasi Pasien: Tidur miring pada posisi yang sehat Terapis: Berdiri di sisi bagian belakang yang diterapi Fiksasi: Gelang bahu terfiksasi oleh posisi depresi thorax Pelaksanaan: Tangan yang sama diletakkan di bawah siku bagian lateral dari lengan bawah seproksimal mungkin. Tangan yang lain diletakkan pada sendi bahu pada bagian posterolateral. Tangan yang lain melakukan gerakan endorotasi, tangan yang sama mendorong caput humeri ke arah caudal sedikit lateral dan ventral Terapis: Menempelkan lengannya pada tubuh. Indikasi: Memperbaiki gerak abduksi eksorotasi D. Translasi Hiding Dorsal Sendi Bahu Caput Humeri Dorsal Posisi Abduksi Pasien: Telentang. Terapis: Duduk di sisi yang sakit. Fiksasi: Scapula difiksasi menggunakan kantong pasir. Pelaksanaan: Kedua tangan disatukan dan diletakkan pada bagian ventral lengan atas, sedekat mungkin dengan sendi. Siku pasien disangga di atas bahu terapis sisi yang sama. Kedua tangan dengan bantuan berat tubuh menggerakkan gliding ke arah bawah sedikit lateral. Indikasi: Mobilisasi langsung, non spesifik untuk gangguan gliding ke arah dorsal.

1. Sendi Bahu Caput Humeri Dorsal Posisi Aduksi Horisontal Pelaksanaan seperti gambar No. 1 2. Sendi Bahu Caput Humeri Dorsal Posisi Abduksi Horisontal Pasien: Tidur setengah miring telentang ke sisi sehat. Terapis: Berdiri di belakang pasien Fiksasi: Gelang bahu terfiksasi oleb posisi depresi. Pelaksanaan: Tangan sesisi memegang humerus sedekat mungkin dengan sendi dan lateral. Tangan yang lain diletakkan di atas tangan pertama. Kedua tangan melakukan gliding ke arah caudal dengan bantuan berat badan Indikasi: Mobilisasi langsung, non spesifik untuk memperbaiki gliding ke arah caudal E. Sendi Acromion Clavicularis 1. Traksi Acromion Clavicularis Posisi Lateral Pasien: Duduk. Lengan bawah diletakkan di atas meja atau tempat tidur. Sendi bahu sedikit abduksi. Terapis: Berdiri di belakang pasien. Fiksasi: Tangan yang sama memfiksasi clavicula acromion dari samping lateral dengan jari-jari mencengkram bagian ventral dan ibu jari bagian dorsal. Tangan yang sama memberikan fiksasi pada bahu bagian proksimal posterior. Pelaksanaan: Tangan yang lain mendorong ke arah ventral atau dorsal. Indikasi: Mobilisasi tidak langsung, non spesifik. 2. Translasi Acromion Clavicularis: Clavicula Ventral 3. Translasi Sendi Acromio Clavicularis: Clavicula Dorsal Pasien: Duduk Terapis: Berdiri di samping sisi yang sakit Fiksasi: Tangan yang tidak sesisi memfiksasi scapula dari sebelah dorsal. Pelaksanaan: Tangan yang lain diletakkan di ujulig lateral clavicula dan sebelali ventral, kemudian melakukan gliding ke arah dorsal sedikit medial. Indikasi: Mobilisasi langsung, non spesifik untuk gangguan gliding ke arah dorsal. Catatan: Mobilisasi Acromion clavicular dapat dimodifikasi dengan posisi scapula caudal atau ventral dan dorsal, tergantung dari posisi keterbatasan. F. Sterno clavicular (Traksi clavicula ke arah Lateral) Pasien: Duduk. Lengan bawah disangga di atas meja/tempat tidur. Terapis: Berdiri di belakang pasien. Fiksasi: Tangan yang tidak sesisi (dengan sisi yang sakit) memfiksasi dada pada sisi yang sama dan ventral. Pelaksanaan: Tangan yang lain memegang ujung medial clavicula (extremitas sternalis) dengan ibu jari (cranial) dan jari telunjuk yang ditekuk (caudal) dan kemudian melakukan traksi ke arah lateral sedikit cranial. Indikasi: Mobilisasi tidak langsung, non spesifik.

G. Sendi Sterni-clavicularis: Clavicula Caudal Pasien: Terlentang. Terapis: Berdiri sebelah cranial pasien. Fiksasi: Dada terfiksasi oleh berat tubuh. Pelaksanaan: Kedua ibu jari diletakkan di ujung lateral clavicula dan sebelah cranial, kemudian melakukan gliding ke arah caudal sedikit lateral. Indikasi: Mobilisasi langsung, non spesifik untuk memperbaiki gangguan gliding ke arah caudal. H. Sendi Sterno-Clavicularis: Clavicula Dorsal Pasien: Telentang Terapis: Berdiri di samping sisi yang sakit. Fiksasi: Dada terfiksasi oleh berat tubuh. Pelaksanaan: Tangan yang tidak sesisi, menggunakan ibu jari dan jari telunjuk yang ditekuk diletakkan di ujung medial clavicula dan kemudian melakukan gliding ke arah dorsal. Tangan yang lain membantu menstabilisasi gerakan. Indikasi: Mobilisasi langsung, non spesifik untuk memperbaiki gangguan gliding ke arah dorsal.

Tujuan mobilisasi sendi untuk mengembalikan fungsi sendi yang normal tanpa nyeri pada waktu melakukan aktivitas gerak sendi. Secara mekanik tujuannya untuk memperbaiki joint play movement melalui mekanisme gerak arthrokinematik yang benar.

Secara biomekanik gerakan suatu sendi akan mengikuti pola gerak arthrokinematik dan arteokinematik. Pada sendi bahu yang merupakan sendi yang sangat komplek selalu mengikuti maka mobilisasi sendi juga dipengaruhi oleh struktur sendi yang lain dalam mempertahankan mobilitasnya yang normal. Sendi yang terlibat pada gerakan bahu tercakup dalam komponen shoulder girdle, sehingga untuk memobilisasi sendi bahu juga melibatkan sendi lain misalnya acromio clavicular, sternoclavicular dan cervico thoracal serta costo scapular. Disisi lain peran otot juga sangat menentukan mobilisasi sendi bahu, misalnya otot deltoideus, rotator cuff dan otot lain di sekitar sendi bahu. Pada kondisi tertentu nyeri bahu dapat terjadi oleh karena factor muskuler yang secara tidak langsung apabila otot tersebut mengalami patologi akan menekan struktur vaskuler dan persyarafan yang melintasi sendi bahu misalnya pada kondisi scalmi sindrom, pectoralis sindrom yang sering disebut TOC. Sindroma nyeri bahu sangat luas, apabila dikaji secara holistic, sehingga untuk membatasi pengertian mobilisasi disini hanya akan dibahas tentang mobilisasi artikuler yang berkaitan dengan (1) mekanisme joint play yaitu roll-gliding dan traksi serta (2) mobilisasi muskuler pada otot postural yang ikut mempengaruhi mobilitas sendi bahu. Sebelum melakukan mobilisasi sendi bahu maka harus dipahami tentang pengertian permukaan sendi concave dan convex sebgai dasar artrokinetik. Pada sendi bahu, glenohumeral berpermukaan convex sedang cavitas glenoidalis bersifat concave. Gliding akan berlawanan dengan arah gerak tulang (osteokinetik). Sedang sendi yang berpermukaannya concave maka arah gliding (sliding) searah dengan tulang yang bergerak. Traksi pada sendi bahu ke arah lateral, ventral cranial atau tegak lurus dengan permukaan sendi pada posisi maximal loose packed position. Pelaksanaan traksi tujuan terapi bias ke segala arah menurut daerah keterbtasan sendi. TREATMENT RULES: Sebelum melakukan terapi menggunakan teknik-teknik mobilisasi manual (manual terapi), ada aturan-aturan (treatment rules) yang harus diketahui terlebih dahulu oleh terapis, yaitu: 1.Posisi pasien Pasien diposisikan enal & nyainan schingga otot-ototnya nicks. Sendi diposisikan pada resting position (MLPP) atau actual resting position. Tulang pembentuk sendi bagian pioksinial difiksasi.

2.Posisi terapis Terapis harus menggtinakan prinsip-prinsip ergonomis dan berdiri atau memposisikan din sedekat rnungkin dengan pasien. Kedua kaki/tungkai melebar agar stabil. Apabila memungkinkan gunakan pengaruh gravitasi atau berat tubuh untuk mendorong atau menarik.

3.Fiksasi Untuk memfiksasi bagian tubuh tertentu bisa digunakan tangan terapis atau menggunakan sabuk atau dengan bantuan (difiksasi) orang lain. Fiksasi dilakukan sedekat mungkin (lengan ruang sendi tanpa menimbulkan nyeri). 4.Tangan terapis yang aktif/bergerak Tangan terapis memegang bagian tubuh sedekat mungkin dengan ruang sendi untuk digerakkan. Untuk menghindari nyeri kadang-kadang perlu merubah pegangan. 5.Arah Gerakan Arah gerakan translasi selalu tegak lurus atau sejajar dengan bidang terapi. Gerakan tegak lurus terhadap dan ke arah bidang terapi disebut traksi dan traksi ini dilakukan untuk mengurangi nyeri maupun sebagai traksi-mobilisasi untuk memperbaiki mobilitas sendi. Traksi untuk mengurangi nyeri dilakukan pada posisi MLPP atau apabila tidak memungkinkan maka diposisikan pada aktual resting position. Traksi-mobilisasi dan glidemobilisasi harus dilakukan tanpa menimbulkan nyeri. Terapi untuk kekakuan sendi selalu diawali dengan traksi-mobilisasi, dan apabila memungkinkan bisa diberi modalitas fisioterapi yang lain untuk mengurangi nyeri misalnya; panas, dingin ataupun stimulasi elektris. Apabila terapi pertama tersebut ada perbaikan maka dilanjutkan dengan pemberian glide-mobilisasi ke arah gerakan yang terbatas. 6.Indikasi Traksi dan Gliding Traksi: Grade I: - Untuk mengurangi nyeri - Selalu digunakan pada saat melakukan glide-mobilisasi Grade II: - Untuk mengurangi nyeri (the slack is not completely taken-up) - Untuk tes joint play movement (traction-test) Grade III: - Untuk menambah mobilitas sendi (traksi-mobilisasi) - Untuk tes joint play movement (traction-test) Gliding: Grade II: - Untuk tes joint play movement (glide-test) Grade III: - Untuk menambah mobilitas sendi (glide-mobilisasi) - Untuk tes joint play movement (glide-test) 7.Traksi untuk Mengurangi Nyeri Sendi yang terasa nyeri pertama-tama harus diterapi dengan traksi. Biasanya digunakan traksi intermittent (grade I atati II) dengan interval 10 detik. Traksi dilakukan pelan-pelan, kemudian dengan pelan-pelan pula traksi dilepaskan sehingga sendi kembali ke posisi awal. Setelah sendi istirahat beberapa detik, prosedur di atas diulangi kembali. Amplitudo, durasi dan frekuensi gerakan sendi yang pasti sangat bervariasi tergantung pada respon pasien terhadap terapi tersebut. Terapis harus pandai-pandai memodifikasi teknik yang digunakan berdasarkan respon subjektif pasien terhadap terapi yang diberikan.

8.Mobilisasi Sendi untuk Menambah Mobilitas (pada kekakuan sendi) Traksi-mobilisasi grade III efektif untuk memperbaiki mobilitas sendi karena dapat meregang (stretch) jaringan lunak sekitar persendian yang memendek. Traksi-mobilisasi dipertahankan selama 7 detik atau lebih dengan kekuatan maksimal sesuai dengan toleransi pasien. Antara dua traksi yang dilakukan, traksi tidak perlu dilepaskan total ke posisi awal melainkan cukup diturunkan ke grade II dan kemudian lakukan traksi grade III lagi. Prosedur tersebut dilakukan berulang-ulang. Glide-rnobilization grade III yang dilakukan ke arah gliding yang terbatas juga efektif untuk meregang jaringan yang menghambat gerakan. Dalam melakukan glide-inobilisasi ini selalu disertai dengan traksi grade I yang tujuannya untuk menetralisir gaya kompresi yang ada dalam sendi sehingga mempermudah terjadinya gliding. Apabila problemnya hanya gerakan gliding terbatas maka traksi maupun gliding yang di lakukan adalah inermittent dan waktunya relatif pendek. Apabila terdapat jaringan lunak memendek maka diperlukan regangan yang dipertahankan dalam waktu satu menit atau lebih. 9.Evaluasi Evaluasi dilakukan sebelum dan sesudah terapi, bahkan harus selalu dilakukan selama terapi berlangsung. Untuk terapi permulaan biasanya diberikan traksi -mobilisasi sebanyak 10 kali. Apabila tidak terjadi hal-hal yang tidak diharapkan maka terapi bisa ditambah dengan glidemobilisasi. Apabila pasien merasakan nyeri maka harus dilakukan evalusi secara hati-hati sebelum terapi dilanjutkan. Apabila setelah dilakukan mobilisasi berulang-ulang tidak didapatkan perbaikan maka terapi (dengan manual terapi) untuk hal ini dihentikan. 10.Tujuan Mobilisasi Sendi Tujuan mobilisasi sendi adalah untuk mengembalikan fungsi sendi normal dan tanpa nyeri. Secara mekanis, tujuannya adalah untuk memperbaiki joint play dan dengan demikian memperbaiki roll-gliding yang teijadi selama gerakan aktif. Terapi harus diakhiri apabila sendi sudah mencapai LGS maksimal tanpa nyeri dan pasien dapat melakukan gerak aktjf dengan normal.