Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH HIV

Mata Kuliah Patologi Klinik

Disusun Oleh : KELOMPOK 1

ANGGOTA : 1. NORMALITA SULISTYANAWATI 2. DIDING PAUJI 3. CHATARINA INDAH PURANTI 4. TIRZA LONGKUTOY 5. NURUL SETYO W (08733) (09155) (09116) (09132) (09145)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS GADJAH MADA TAHUN AJARAN 2013/2014

I.

PENDAHULUAN

Dasar Teori
HIV (human immunodeficiency virus) adalah sebuah retrovirus yang menginfeksi sel sistem kekebalan tubuh manusia - terutama CD4+ Sel T dan makrofag dan menghancurkan atau merusak fungsi mereka. Infeksi dari HIV menyebabkan melemahnya sistem kekebalan tubuh, yang menyebabkan kekurangan imun. HIV merupakan penyebab dasar AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome). Ada dua tipe HIV yaitu : pertma HIV-1 diidentifikasi pada tahun 1984 di Amerika Serikat dan kedua HIV-2 diidentifikasi dari penderita AIDS di Afrika Barat pada tahun 1986. Pada HIV-1 dan HIV-2 mempunyai kesamaan dalam hal struktur, cara penularan dan infeksi oportunistik yang menyertainya. Sedangkan untuk cara pencegahan dan penangggulangannya tidak jauh berbeda. Yang membedakan antara keduanya hanya daerah penyebarannya. HIV-2 jarang dijumpai di luar Afrika, dan memiliki masa inkubasi yang lebih panjang dibandingkan dengan HIV-1. Infeksi HIV-1 dan AIDS mula-mula dikenali pada laki-laki heteroseksual dan pengguna obat intravena di New York, San Fransisco dan Los Angeles pad tahun 1979-1980. Sebagian besar orang dengan AIDS adalah laki-laki dan antara umur 20-50 tahun. Infeksi pada orang tua biasanya berhubungan dengan pemakaian darah yang terinfeksi HIV.

II.

PEMBAHASAN

A. IMUNOPATOGENESIS Tahap tahap dalam replikasi virus HIV: 1. Pelekata (Attachment): HIV melekat pada sebuah sel (sel CD4). 2. Peleburan (Fusion): HIV memasukkan bahan genetik (RNA, ribonucleic acid) ke dalam sel host bersama beberapa enzimnya (protein) seperti reverse transcriptase, HIV protease (HIV protease) dan integrase. 3. Bahan genetik HIV (RNA) akan diubah menjadi bahan genetik sel (DNA) untuk membuat turunan DNA. Langkah ini menggunakan enzim reverse transcriptase. 4. Penggabungan (Integration): Turunan DNA masuk ke dalam inti yang

mengandung bahan genetik sel ( DNA virus) dan bergabung dengan bahan genetik sel (DNA sel). Dalam langkah ini dipergunakan enzim integrase. 5. Pembacaan dan penyalinan (transcription & translation : Setelah DNA virus dan DNA sel bergabung, virus mengambil alih tugas dari sel kemudian akan memproduksi dan menghasilkan virus. 6. DNA virus membentuk cetakan yang diperlukan untuk membuat turunannya. Cetakan ini meliputi bahan genetik dan perintah membuat protein virus (genom virus). 7. Genom virus membentuk kapsid, lalu membentuk tonjolan pada dinding sel dan melepaskan diri. Kemudian virus mengalami maturasi, memotong-motong DNAnya menjadi virus-virus baru yang siap menginfeksi sel-sel lainnya. Untuk memotong DNA virus dipergunakan enzim protease.

Cara penularan Melalui hubungan seksual tanpa menggunakan kondom. Melalui jarum suntik dan/atau spuit yang dipergunakan bersama. Infeksi dari ibu hamil ke pada bayinya, sewaktu sedang hamil, melahirkan, atau sewaktu menyusui. Melalui transfusi, olahan darah, atau transplantasi organ tubuh. Pembuatan tato dengan jarum yang kotor atau tidak steril.

Gejala-gejala HIV/AIDS Dibagi menjadi 3 stadium, yaitu: infeksi akut, kronik, dan AIDS. a. Infeksi akut merupakan stadium paling dini dan singkat. Gejala-gejalanya seperti: Bisul dengan bercak kemerahan, biasanya pada tubuh bagian atas dan tidak gatal. Sakit kepala Sakit pada otot-otot Sakit tenggorokan Pembengkaan kelenjar Diare ( mencret) Mual-mual Muntah-muntah

b. Infeksi HIV kronik Dimulai pada 3-6 minggu setelah infeksi. Pada stadium ini tidak menunjukkan gejala apapun (seperti orang sehat), stadium ini berlangsung sampai 10 tahun. Akan tetapi sistem imun

berangsur-angsur menurun. Pada orang normal, sel CD4 sebesar 450-1200 sel per ml. Apabila sel CD4 menurun sampai 200 atau kurang, maka penderita akan masuk dalam stadium AIDS.

c. Gejala-gejala AIDS Gejala infeksi oportunistik yang menyertai infeksi HIV. Pada gejala ini sistem imun telah rusak. Gejala-gejala yang bisa dijumpai seperti : Selalu merasa lelah Pembengkakan kelenjar pada leher atau lipatan paha Panas lebih dari 10 hari Penurunan berat badan yang tidak biasa dijelaskan penyebabnya Bercak keunguan pada kulit yang tidak hilang-hilang Diare berat, berlangsung lama Infeksi jamur (candida) pada mulut, tenggorokan, atau vagina Mudah memar/pendarahan yang tidak bisa dijelaskan penyebabnya

AIDS Council of NSW membangi infeksi HIV menjadi 4 staium, yaitu : a. Stadium 1 Infeksi Primer : Penderita mengalami infeksi untuk pertama kali dengan keluhan seperti flu. b. Stadium 2 Kelainan Tanpa Gejala : Penderita tetap merasa sehat, ini berlangsung selama beberapa tahun. c. Stadium 3 Kelainan dengan Gejala-gejala : Penderita mengalami gejala-gejala ringan seperti rasa lelah, keringat malam, dll. d. Stadium 4 Kelainan Berat : Penderita mengalami gejala-gejala yang lebih berat karena daya tahan tubuh yang menurun ( AIDS, Aquired Immunodeficiency Syndroms).

B. Manifestasi HIV AIDS pada Rongga Mulut Manifestasi oral infeksi HIV/AIDS pada anak-anak mempunyai perbedaaan dengan orang dewasa, dapat terjadi lebih awal dan adanya lesi oral merupakan salah satu indikator infeksi HIV dan perkembangannya menjadi AIDS. Nilai CD4 yang rendah merupakan karateristik terjadinya imunosupresi yang menjadi faktor predisposisi

berkembangnya infeksi oportunistik dan keganasan. 1. Candidiasis Candida adalah jamur flora normal yg terletak di mukosa rongga mulut yang akan berubah menjadi patogen apabila sistem kekebalan tubuh host menurun, pada penderita

yang sedang menjalani terapi immunosuppressive. Kandidiasis oral merupakan salah satu penyakit pada rongga mulut berupa lesi merah dan lesi putih yang disebabkan oleh jamur jenis Kandida sp, dimana Kandida albican merupakan jenis jamur yang menjadi penyebab utama. 2. Oral Hairy Leukoplakia Oral Hairy Leukoplakia (OHL) adalah suatu bercak putih, permukaannya kasar, bervariasi mulai dari lapisan vertikal sampai plak keriput. OHL adalah lesi mulut yang merupakan indikator dari infeksi HIV stadium lanjut dan merupakan tanda patognomotik dari AIDS. OHL ini dapat dijumpai pada semua penderita dari berbagai golongan resiko. Secara klinis OHL tampak sebagai lesi putih, tidak dapat dilepas, terutama mengenai sisi lateral dan ventral lidah, namun terkadang mengenai permukaan mukosa lainnya. 3. Sarkoma Kaposi Sarkoma Kaposi adalah neoplasma di jaringan ikat dan seringkali terkait dengan AIDS. Sarkoma Kaposi disebabkan oleh virus yang dulu bernama KS-herpes virus, tapi sekarang bernama Human Herpes Virus-8 (HHV-8). Transmisi melalui kontak sesksual, melalui ibu kepada anaknya. Lesi ini muncul pada mukosa rongga mulut terutama pada mukosa palatal dan gingival. Dalam infeksi HIV, lesi ini lebih sering ditemukan pada pria. Kaposis Sarcoma ditemukan pada penderita HIV. 4. Penyakit Periodontal Ada dua tipe penyakit periodontal yang biasa dijumpai yaitu gingivitis dan periodontitis. Gingivitis adalah bentuk penyakit periodontal yang ringan, dengan tanda klinis gingiva berwarna merah, membengkak dan mudah berdarah. 5. Necrotizing Ulcerative Periodontitis (NUP) Nekrosis, ulserasi, merupakan bentuk dari periodontitis yang tumbuh cepat secara progresif pada penderita HIV. NUP dapat digambarkan sebagai pemanjangan proses dari NUG dimana dalam keadaan ini terjadi lepasnya tulang alveolar, kehilangan perlekatan jaringan periodontal. Ciri-ciri NUP: nekrosis jaringan lunak, destruksi jaringan periodontal, dan lepasnya jaringan tulang interproksimal.

C. ASUHAN KEPERAWATAN

a. Pengkajian
1. Riwayat : Tes HIV positif, riwayatperilakuberesikotinggi, menggunakanobatobat. 2. Penampilanumum : Pucat dan kelihatan leleh, Kurangnya perawatan diri.

3. Gejalasubyektif Demamkronik,denganatautanpamenggigil,keringatmalamhariberulang

: kali,

lemah, lelah, anoreksia, BB menurun, nyeri, Sulittidur, sakitkepala, edema muka,mulutkering, suaraberubah, disfagia, epsitaksis. 4. Psikososial: Perubahanpolahidup, perasaantakut, cemas. 5. Status mental : Emosi mudah Meningkat, depresi, berkeinginan untuk bunuhdiri, kehilangan kemampuan berinteraksi dengan lingkungansekitar,

gangguanprooses berpikir, kehilangan sebagian memori. 6. Neurologis :gangguanrefleks pupil, nystagmus, vertigo,

ketidakseimbangan,kejang, paraplegia. 7. Muskuloskletal : focal motor deifisit, lemah, tidakmampumelakukan ADL. 8. Kardiovaskuler : Takikardi, sianosis, hipotensi, edemperifer. 9. Pernapasan : Dyspnea, takipnea, sianosis, menggunakanotot bantu pernapasan, batukproduktifatau non produktif. 10. GI : Intake makandanminummenurun, mual, muntah, BB menurun, diare, inkontinensia, perutkram, hepatosplenomegali, kuning. 11. GU : Lesiataueksudatpada genital 12. Integument :kering, gatal, rash ataulesi, petekiepositif

b. Diagnosa Keperawatan
1. Resikotinggiinfeksiberhubungandenganimunosupresi, yang beresiko. 2. Resikotinggiinfeksi (kontakpasien) berhubungandenganinfeksi HIV, malnutrisidanpolahidup

adanyainfeksinonopportunisitik yang dapatditransmisikan. 3. Intoleransaktivitasberhubungandengankelemahan, malnutrisi, kelelahan. 4. Perubahannutrisikurangdarikebutuhantubuhberhubungandengan intake yang pertukaranoksigen,

kurang, meningkatnyakebutuhan metabolic, danmenurunnyaabsorbsizatgizi. 5. Diareberhubungandenganinfeksi GI 6. Tidakefektifkopingkeluargaberhubungandengancemastentangkeadaan dicintai. orang

Daftar Pustaka

Greenspan D, Greenspan JS. 1997.Oral manifestations of HIV infection. AIDS Clin Care;9:29-33.

Irna,Sufiawati& Febrina Rahmayanti Priananto.2003.Manifestasi Oral Yang Berhubungan Dengan Tingkat Imunosupresi Pada Anak-Anak Yang Terinfeksi Hiv/Aids Dan Penatalaksanaannya. Macfarlane Burnet Institute for Medical Research and Public Health Limited: Jakarta James, A.Cottone, dkk.1998.Mengendalikan Penyebaran Infeksi pada Praktik Dokter Gigi.Widya Medika: Jakarta.