Anda di halaman 1dari 182

Materi Ini Dikembangkan oleh BKKBN Bekerjasama dengan YAI Dan Diujicobakan di 10 Kabupaten Lokasi Proyek SMPFA Pada

Tahun 2001 - 2002

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

EDITOR Eddy N. Hasmi Siti Fatonah Mira Fajri Afiati

DESIGN COVER DAN ISI Pierre A. Pongai

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

DAFTAR ISI

PENANGGUNG JAWAB KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BUKU 1 BUKU 2


PANDUAN KONSELOR KESEHATAN REPRODUKSI PANDUAN PENDIDIK SEBAYA KESEHATAN REPRODUKSI

BUKU 3 BUKU 4 BUKU 5

MANUAL PELATIHAN PENDIDIK SEBAYA KESEHATAN REPRODUKSI

MANUAL PELATIHAN KONSELOR KESEHATAN REPRODUKSI

MANUAL PELATIHAN PELATIH (TOT)

BUKU 6

PEDOMAN PENDUKUNG LAIN

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

PENYUSUN Ninuk Widiantoro Agustine Dwiputri Herna Lestari

ILUSTRATOR Ahmad Fauzi

Buku 1

Panduan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I Definisi Pendidik Sebaya dan Persyaratan BAB II Persiapan Kegiatan Pendidikan Sebaya BAB III Penyelenggaraan Pendidikan Sebaya BAB IV Kiat-Kiat Menjadi Pendidik Sebaya yang Berhasil BAB V Menyampaikan Informasi Kesehatan Reproduksi dalam Kelompok Besar DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN Contoh Penyampaian Materi Kesehatan Reproduksi Remaja bagi Pendidik Sebaya 11 8 11 7 5 4 1

Buku 1

Panduan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

KATA PENGANTAR
Buku Panduan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi ini ditujukan bagi para pendidik
sebaya yang akan melaksanakan kegiatan penyebaran informasi/pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi. Penulis menyadari bahwa setiap orang terutama remaja dan kaum muda, merasa lebih nyaman untuk bertanya tentang hal-hal yang sensitif seperti: seksualitas, menstruasi, masturbasi, kehamilan, dan infeksi alat-alat kelamin pada teman sebayanya. Panduan ini berisi: 1. Definisi Pendidik Sebaya dan Persyaratan

2. Persiapan Kegiatan Pendidikan Sebaya 3. Penyelenggaraan Pendidikan Sebaya 4. Kiat-Kiat menjadi Pendidik Sebaya yang Berhasil 5. Contoh Penyampaian Materi Kesehatan Reproduksi Remaja bagi Pendidik Sebaya

Dengan Mengikuti isi panduan ini, diharapkan Pendidik Sebaya mampu menyebarkan informasi secara kreatif sehingga dapat menarik perhatian dan minat teman-teman sebayanya. Untuk mengoptimalkan keterampilannya, Pendidik Sebaya seyogyanya mulai melatih diri dengan menyebarkan informasi kesehatan reproduksi dalam kelompok kecil (tidak lebih dari 12 orang). Setelah lebih terbiasa dan menguasai materi secara mendalam, para pendidik sebaya dapat meningkatkan kemampuannya dalam kelompok besar (+ 50 orang) untuk kegiatan ceramah. Penulis menyadari bahwa buku ini masih belum sempurna. Berbagai masukan dari pembaca kami harapkan untuk lebih melengkapi buku panduan ini.

Jakarta, 2002

Penyusun

Buku 1

Panduan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

BAB-1 DEFINISI PENDIDIK SEBAYA DAN PERSYARATAN

Siapakah Pendidik Sebaya itu? Pendidik Sebaya adalah orang yang menjadi narasumber bagi kelompok sebayanya. Mereka adalah orang yang

aktif dalam kegiatan sosial di lingkungannya, misalnya aktif di karang taruna, pramuka, OSIS, pengajian, PKK, dan-lain-lain

GAMBAR 1. PENDIDIK SEBAYA HARUS RAMAH

Mengapa Pendidik Sebaya diperlukan? 1. Karena Pendidik Sebaya menggunakan bahasa yang kurang lebih sama sehingga informasi mudah dipahami oleh sebayanya. 2. Teman sebaya mudah untuk mengemukakan pikiran dan perasaannya di hadapan pendidik sebayanya. 3. Pesan-pesan sensitif dapat disampaikan secara lebih terbuka dan santai.

Apakah syarat-syarat menjadi Pendidik Sebaya? 1. Aktif dalam kegiatan sosial dan populer di lingkungannya; 2. Berminat pribadi menyebarluaskan informasi KR; 3. Lancar membaca dan menulis; 4. Memiliki ciri-ciri kepribadian, antara lain: ramah, lancar dalam mengemukakan pendapat, luwes dalam pergaulan, berinisiatif dan kreatif, tidak mudah tersinggung, terbuka untuk hal-hal baru, mau belajar serta senang menolong;

Buku 1

Panduan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

Pengetahuan apa saja dimiliki Pendidik Sebaya?

yang

perlu

Keterampilan apa saja dimiliki Pendidik Sebaya?

yang

perlu

Yang perlu dimiliki terutama adalah : 1. Pengetahuan Kesehatan Reproduksi, mencakup: organ reproduksi dan fungsinya, proses terjadinya kehamilan, Penyakit Menular Seksual (PMS) termasuk HIV/AIDS, metode kontrasepsi dan lain-lain; 2. Pengetahuan mengenai hukum, agama dan peraturan perundangundangan mengenai Kesehatan Reproduksi.

Pendidik Sebaya harus memiliki keterampilan komunikasi interpersonal, yaitu hubungan timbal balik yang bercirikan: 1. Komunikasi dua arah; 2. Perhatian pada aspek verbal dan non-verbal. 3. Penggunaan pertanyaan untuk menggali informasi, perasaan dan pikiran; 4. Sikap mendengar yang efektif.

KETERANGAN
Komunikasi dua arah Berbeda dengan komunikasi satu arah dimana hanya satu pihak yang berbicara, dalam tempo singkat namun hasilnya kurang memuaskan; komunikasi dua arah memungkinkan kedua belah pihak sama-sama berkesempatan untuk mengajukan pertanyaan, pendapat dan perasaan. Waktu yang digunakan memang lebih lama, namun hasil yang dicapai memuaskan kedua belah pihak. Pendidik Sebaya hendaknya: 1. Menggunakan sederhana dan kelompok. 2. Menghindari dimengerti. kata-kata yang mudah dipahami

istilah

yang

sulit

3. Menghindari kata-kata yang bisa menyinggung perasaan orang lain.

Komunikasi Verbal dan Non-Verbal Komunikasi verbal adalah bentuk komunikasi dengan menggunakan katakata.

Komunikasi non-verbal adalah komunikasi yang tampil dalam bentuk nada suara, ekspresi wajah-wajah dan gerakan anggota tubuh tertentu. Dalam menyampaikan informasi, Pendidik Sebaya perlu mempertahankan kontak mata dengan lawan bicara,

Buku 1

Panduan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

menggunakan nada suara yang ramah dan bersahabat. Cara Bertanya Ada dua macam cara bertanya, yaitu pertanyaan tertutup dan pertanyaan terbuka. Pertanyaan Tertutup: 1. Adalah pertanyaan yang memerlukan jawaban yang singkat. Bisa dijawab dengan Ya dan Tidak . 2. Biasanya digunakan pembicaraan untuk informasi dasar. di awal menggali

3. Memungkinkan lawan bicara untuk mengungkapkan diri apa adanya. Contoh : Apa yang kau ketahui tentang PMS? Bagaimana rasanya waktu mengalami haid pertama?

Mendengar efektif 1. Dalam melaksanakan pendidikan sebaya, mendengar efektif dapat dilakukan dengan cara: Menunjukkan minat mendengar Memandang lawan bicara Tidak memotong pembicaraan Menunjukkan perhatian dengan cara bertanya Mendorong peserta untuk terus bicara baik dengan komentar kecil (misal: mm..., ya...), atau ekspresi wajah tertentu (misalnya menganggukan kepala).

3. Tidak memberi kesempatan peserta untuk menjelaskan perasaan/pendapatnya. Contoh: 1. Berapa usiamu? 2. Apakah kamu pernah kegiatan semacam ini? Pertanyaan Terbuka: 1. Mampu mendorong orang untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran. 2. Bisa memancing panjang. jawaban yang mengikuti

Buku 1

Panduan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

BAB-2 PERSIAPAN KEGIATAN PENDIDIKAN SEBAYA

Dimanakah pendidikan sebaya dapat dilakukan? Dimana saja asalkan nyaman buat Pendidik Sebaya dan kelompoknya. Kegiatan tidak harus dilakukan di ruangan khusus. Bisa dilakukan di teras mesjid, di bawah pohon yang rindang, di

ruang kelas yang sedang tidak dipakai, di aula gereja, dan sebagainya. Tempat pendidikan sebaya sebaiknya tidak ada orang lalu-lalang dan jauh dari kebisingan sehingga diskusi bisa berlangsung tanpa gangguan.

GAMBAR 2. DI TERAS MESJID

Persiapan apa yang harus dilakukan oleh Pendidik Sebaya sebelum pertemuan? 1. Membaca kembali topik yang akan disajikan, baik dari buku panduan yang telah dimiliki maupun bacaan lainnya;

2. Menyiapkan alat bantu sesuai topik yang akan dibicarakan, misalnya alat peraga, contoh-contoh kasus, kliping koran, dan lain-lain

Buku 1

Panduan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

GAMBAR 3. KEGIATAN DI DALAM KELAS

BAB-3 PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN SEBAYA


Berapakah jumlah ideal peserta kegiatan pendidikan sebaya? Yang ideal, pendidikan sebaya diikuti oleh tidak lebih dari 12 peserta agar setiap peserta mempunyai kesempatan bertanya. Bila peserta terlalu banyak, tanya jawab menjadi kurang efektif, dan peserta tidak akan mendapatkan pemahaman serta pengetahuan yang cukup memadai

GAMBAR 4. PESERTA PENDIDIKAN SEBAYA

Bagaimana menyelenggarakan pendidikan sebaya? 1. Pendidik Sebaya (PS) mencari teman seusia yang berminat terhadap kesehatan reproduksi. Hindari cara-

cara pemaksaan. Para peserta harus bersedia mengikuti seluruh pertemuan yang telah disepakati. 2. Untuk dapat memahami keseluruhan materi kesehatan reproduksi, paket

Buku 1

Panduan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

pertemuan sekurangnya 8 kali. Setiap kali pertemuan berlangsung

antara

jam.

GAMBAR 5. PENGENALAN ORGAN REPRODUKSI

3. Tempat dan waktu pertemuan ditentukan bersama oleh peserta. 4. Pendidikan diberikan oleh dua orang Pendidik Sebaya. Satu pendidik menyampaikan dan memandu diskusi. Satu pendidik lainnya melakukan pencatatan terhadap pertanyaan yang diajukan peserta, observasi tentang proses diskusi, serta membantu menjawab pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh Pendidik Sebaya pertama. Peran Pendidik Sebaya dilakukan bergantian dengan tujuan agar setiap pendidik mempunyai kesempatan untuk menyampaikan informasi dan memandu diskusi. Selain itu mereka juga bisa saling memberikan umpan balik selama menjadi pemandu. 5. Pendidik dengan Sebaya memulai acara menyampaikan materi

selama tidak lebih dari setengah jam, waktu selebihnya digunakan untuk diskusi dan menampung pertanyaan. 6. Bila ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab, jawaban bisa ditunda untuk ditanyakan kepada mereka yang lebih ahli, bisa dokter/paramedis, tokoh masyarakat atau tokoh agama, dan lain-lain. Topik-topik apa yang perlu dibahas? 1. Pengenalan organ reproduksi lakilaki dan perempuan dan fungsinya masing-masing; 2. Proses terjadinya kehamilan, termasuk kehamilan yang tidak diinginkan dan bahaya aborsi yang tidak aman; 3. Metode-metode pencegahan kehamilan (metode kontrasepsi);

Buku 1

Panduan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

4. Penyakit-penyakit menular seksual, termasuk HIV/AIDS;

5. Gender dan seksualitas; dan 6. Narkoba.

BAB-4 KIAT-KIAT MENJADI PENDIDIK SEBAYA YANG BERHASIL


Bagaimana kiat-kiat menjadi Pendidik Sebaya yang berhasil 1. Mau terus belajar dan memperluas wawasan. 2. Rajin mencari informasi tambahan. 3. Menyisipkan humor pemberian materi. dalam

4. Kreatif mencari alat bantu untuk menghidupkan suasana pembelajaran.

GAMBAR 6. MEMBERIKAN PUJIAN PADA PESERTA

Apakah yang harus dan tidak boleh dilakukan oleh Pendidik Sebaya dalam pendidikan sebaya?

5. 6.

Berbicara dengan jelas dan lantang; Memancing pertanyaan peserta pertemuan; dari

7. Pendidik Sebaya harus melakukan halhal berikut: 1. Membuat persiapan kegiatan pembelajaran; Menguasai materi; Melibatkan semua peserta dalam kegiatan pembelajaran; Menggunakan alat bantu; sebelum 8.

Mengatur waktu dengan cermat; Duduk dalam lingkaran agar bisa memandang satu sama lain; Menjaga kontak mata dalam bicara; Memperhatikan peserta; bahasa tubuh

9. 10.

2. 3.

11.

Periksa apakah informasi sudah dimengerti peserta; Bersikap sabar tapi percaya diri.
Panduan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

4.

12.

Buku 1

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

Pendidik Sebaya jangan melakukan halhal berikut: 1. 2. Membelakangi peserta; Meremehkan komentar pendapat peserta; dan

5. 6.

Menggurui. Hanya melihat pada satu atau dua peserta saja, sebaiknya memandang kepada keseluruhan secara bergantian; Menghakimi.

3.

Membaca materi. Materi sebaiknya sudah dihapal dan dipahami; Berbicara dengan kepada peserta. nada keras

7.

4.

GAMBAR 7. JANGAN MEMBELAKANGI PESERTA

BAB-5 MENYAMPAIKAN INFORMASI KR PADA REMAJA DALAM KELOMPOK BESAR (PESERTA LEBIH DARI 50 ORANG)
Pendidik Sebaya yang telah terlatih untuk memberikan atau menyampaikan informasi KR dalam kelompok yang kecil dapat meningkatkan kemampuannya pada kelompok yang lebih besar. Disebut kelompok besar bila jumlah peserta lebih dari 50 orang. Kegiatan ini sering disebut dengan penyuluhan. Contoh kegiatan ini adalah: 1. Ceramah di sekolah; 2. Ceramah pada peringatan hari-hari khusus, misalnya acara Tujuh Belas Agustus, Hari Kartini, Hari Pendidikan Nasional, dan sebagainya;

Buku 1

Panduan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

3. Penyuluhan kader di desa; 4. Penyuluhan pada organisasi kemasyarakatan, misalnya: pramuka, karang taruna, pengajian, remaja gereja, dan sebagainya. Dalam menghadapi kelompok besar, apa saja yang harus diperhatikan oleh Pendidik Sebaya? Sebelum penyuluhan, seorang Pendidik Sebaya harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1. Kesiapan Pribadi Membaca materi disampaikan; Cari informasi penyuluhan; yang akan

3. Alat Bantu Pastikan ketersediaan fasilitas alat bantu, misalnya: OHP, in-focus, pengeras suara (microphone), listrik, dan sebagainya. Perhatikan apakah alat-alat tersebut dapat berfungsi dengan baik. Pastikan bahwa alat bantu (termasuk gambar) yang digunakan dapat dilihat oleh semua peserta dengan mudah. Jika menggunakan lembar transparan, perhatikan jumlah baris kalimat dalam setiap tampilan tidak lebih dari 7 baris ke bawah. Jika menggunakan tulisan tangan, gunakan huruf besar yang jelas agar mudah terbaca.

mengenai peserta

Bahasa dan alat bantu yang akan digunakan perlu disesuaikan dengan keadaan peserta penyuluhan; Rencanakan skenario alokasi waktu dan melatih diri untuk kegiatan ceramah. 2. Pengaturan Tempat Meskipun jumlah peserta banyak, jika ruangan memungkinkan atur kursi/tempat duduk yang memudahkan interaksi antara pendidik dan peserta. Hindari bentuk susunan tempat duduk berderet kebelakang seperti di kelas/sekolah. Idealnya kursi tersusun membentuk huruf U .

4. Tiba di tempat lebih awal dari waktu penyuluhan (+ 15-30 menit) untuk memeriksa fasilitas alat bantu.

Pada saat penyuluhan, seorang Pendidik Sebaya harus memperhatikan sebagai berikut: 1. Perkenalkan diri sebelum memulai penyuluhan. Secara singkat, jelaskan tujuan dari topik yang akan disampaikan.

2.

Buku 1

Panduan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

3.

Sampaikan informasi secara menarik, berbicara singkat dan mudah dimengerti. Sisipkan humor-humor segar. Pastikan suara dapat didengar dengan jelas oleh seluruh peserta. Hindari nada suara yang datar. Jangan bicara terlalu cepat. Kemukakan hal-hal yang penting terlebih dahulu. Tekankan diingat. hal-hal yang perlu

9.

Usahakan tidak menetap pada satu posisi atau tempat, berdiri di belakang mimbar atau duduk di belakang meja. Jangan memandang pada satu arah atau beberapa peserta saja. Bagi perhatian secara merata. Perhatikan bahasa tubuh peserta. Jika peserta terlihat tidak mengerti atau tidak tertarik (terlihat mengantuk atau berbicara dengan peserta lain), pancing dengan pertanyaan yang dapat mengungkapkan pengetahuan, pemahaman dan perasaan peserta. Beri kesempatan peserta untuk bertanya. Sekali-kali, lempar pertanyaan peserta untuk dijawab oleh peserta lain. Beri pujian kepada peserta yang dapat menjawab pertanyaan dengan benar. Alokasi waktu untuk setiap penyuluhan/ceramah, tidak lebih dari dua jam dengan pembagian waktu penyampaian materi dan diskusi 50% : 50%. Kira-kira 10 menit terakhir, buat rangkuman dari seluruh pembicaraan dan hasil diskusi. Akan lebih baik jika Pendidik Sebaya menyiapkan ringkasan informasi yang dipresentasikan

4.

10.

11.

5.

6.

7.

Hindari istilah tehnis medis atau istilah asing, misalnya: discharge, ovum, dan lain-lain. Pada awal penyampaian dan setiap pergantian topik, jangan lupa gali pengetahuan peserta dengan cara memberikan 1 - 2 pertanyaan terkait.

12.

8.

Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya komunikasi satu arah. Contoh: Topik penyuluhan: Penyakit Menular Seksual (PMS) Pertanyaan: Apakah yang anda ketahui tentang PMS? Sebutkan jenis-jenis PMS? Bagaimana cara penularan PMS? menghindari

13.

14.

15.

Buku 1

10

Panduan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

untuk dibagikan pada peserta di akhir ceramah.

16.

Akhiri kegiatan mengucapkan salam dan terima kasih.

dengan perpisahan

Daftar Pustaka
1. Budiharsana, Meiwita dan H. Lestari. Draft. Jakarta: YAI, 2001. Buku Saku Kesehatan Reproduksi Remaja.

2.

Djajadilaga. Langkah-langkah Praktis Paket Pelayanan Kesehatan Reproduksi Remaja di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar. Jakarta Depkse dan UNFPA, 1999. Henry, Jill Tabutt, N. Widyantoro, dan K. Graff. Trainers Guide: Counselling the Postabortion Patient: Training for Service Providers. NY: AVSC International, November 1999. Sadli, Saparinah, dkk. Jakarta: PKMI, 1991. Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan Konselor Kontap.

3.

4.

5. 6.

Widyantoro, Ninuk. Abortion Counselling in Vietnam. NY: AVSC, 1998. Widyantoro, Ninuk (Pengalaman pribadi).

Lampiran

Contoh Penyampaian Materi Kesehatan Reproduksi Remaja Bagi Pendidik Sebaya

Pendidik Sebaya diharapkan kreatif dalam menyampaikan materi kesehatan reproduksi remaja. Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindari kebosanan dalam penyampaian. Penyampaian materi bisa dilakukan dengan cara curah pendapat, diskusi kelas/kelompok, bermain peran/drama, demonstrasi, ceramah singkat, dll. Berikut ini adalah salah satu contoh cara penyampaian.

Buku 1

11

Panduan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

A. Alat Reproduksi Manusia dan Fungsinya (120 Menit) 1. Katakan kepada peserta bahwa sekarang kita akan membahas mengenai alat-alat reproduksi manusia. 2. Bagikan gambar peta buta alat reproduksi perempuan dan laki-laki, minta peserta untuk menuliskan nama-nama dari alat reproduksi yang telah ditentukan. Minta beberapa peserta untuk mengemukakan jawaban mereka 3. Tayangkan bergambar lembar alat transparan reproduksi

perempuan dan laki-laki yang telah dilengkapi dengan nama masingmasing bagian alat reproduksi tersebut. Bahas bersama peserta nama lain yang biasa digunakan di daerah masing-masing. 4. Terangkan fungsi masing-masing alat, misalnya indung telur adalah tempat sel telur diproduksi. Beri kesempatan peserta untuk mengemukakan pengetahuan mereka dan mengajukan pertanyaan. 5. Rangkum berbagai hal penting mengenai alat reproduksi dan fungsinya.

GAMBAR 8. ORGAN REPRODUKSI LAKI-LAKI

GAMBAR 9. ORGAN REPRODUKSI PEREMPUAN

B. Remaja dan Perkembangannya (60 menit) 1. Ajak peserta untuk mengingat kembali masa ketika mereka memasuki masa akil baligh. Tanyakan kepada mereka tanda-

tanda dan perubahan apa yang mereka rasakan, baik fisik maupun perasaan mereka. Bahas bersama mengenai perkembangan emosi dan seksual yang terjadi pada masa tersebut. Bahas pula mengenai isu-

Buku 1

12

Panduan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

isu yang terkait, misalnya mengenai mimpi basah dan masturbasi pada remaja laki-laki, serta menstruasi pada remaja perempuan. Tanyakan pengalaman dan penghayatan peserta ketika mengalami perubahan dan berbagai tanda tadi. Tekankan kepada peserta bahwa semua hal tersebut wajar terjadi pada seorang remaja. 2. Berikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya dan mendiskusikan pengalaman-pengalamannya.

mengomentari jawaban suami istri tersebut.

pasangan

C. Sek, Seksualitas dan Jender (120 menit) 1. Lakukan permainan mengenai kelahiran bayi. Minta seorang peserta perempuan berperan sebagai ibu yang baru melahirkan. Minta peserta tersebut duduk sambil menggendong bayinya (boneka), disebelahnya peserta lain diminta berperan sebagai suaminya. Beberapa peserta diminta menjadi tamu dan menanyakan berbagai hal sehubungan dengan kelahiran bayi. Misalnya, bayimu laki-laki atau perempuan? jika besar nanti, kamu ingin anakmu menjadi apa? Kamu sendiri sebenarnya menginginkan bayi laki-laki atau perempuan? dsb. Para tamu diminta pula untuk

2. Tanyakan kepada peserta apa yang bisa kita pelajari dari permainan tadi. Kemudian pelatih menjelaskan beda antara seks dan jender. Gunakan lembar transparan bertuliskan definisi kedua kata tersebut. Jelaskan pula mengenai konsep seksualitas. Tambahkan penjelasan mengenai konsep lain yang terkait, seperti: kesehatan seksual, hak-hak reproduksi, dll. Berikan contohcontoh kongkrit sebanyak mungkin. Kaitkan dengan perkembangan seksual remaja dan ketimpangan jender yang ada. Jangan lupa memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya. Pertanyaan peserta mungkin meluas hingga ke aspek perilaku seksual suatu daerah tertentu, misalnya Sifon di Nusa Tenggara Timur (mengenai tradisi melakukan hubungan seksual setelah seorang laki-laki di khitan) atau budaya penggunaan tongkat Madura (semacam batang kayu yang dimasukkan ke dalam vagina untuk menyerap cairan vagina).

Buku 1

13

Panduan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

D. Hubungan Seksual, Kehamilan dan Pencegahannya serta Aborsi (180 menit) 1. Katakan pada peserta bahwa topik bahasan selanjutnya adalah hubungan seksual, kehamilan dan pencegahannya, serta aborsi. 2. Lakukan curah pendapat tentang apa yang dimaksud dengan hubungan seksual. Lengkapi jawaban dengan penjelasan bahwa hubungan seksual dalam bahasan ini merujuk kepada ekspresi/tindakan seksual yang berpeluang besar untuk terjadinya kehamilan. Misalnya dengan mendekatkan, menggesekkan, memasukkan sebagian atau seluruh penis ke dalam vagina memungkinkan masuknya sperma ke dalam vagina. 3. Ajak peserta untuk membahas tentang kehamilan. Bagi peserta menjadi beberapa kelompok kecil @ 4-5 orang. Minta kelompok untuk membahas proses terjadinya suatu kehamilan. Beri peserta waktu 15 menit untuk mendiskusikan dan menyiapkan hasil diskusi kelompoknya untuk dipresentasikan. 4. Lengkapi presentasi kelompok dengan menayangkan lembar balik transparan tentang proses kehamilan. 5. Selanjutnya, katakan kepada peserta bahwa kita akan beralih pada

pembahasan mengenai pencegahan kehamilan. Lakukan curah pendapat mengenai berbagai metode/cara untuk mencegah kehamilan. Ajak peserta untuk aktif menyumbangkan pendapat mengenai hal ini. Pelatih perlu menjelaskan bahwa cara pencegahan kehamilan terbagi dalam cara alami (misalnya, metode kalendar/pantang berkala, senggama terputus, pemeriksaan lendir pada vagina) dan cara modern (kondom, AKDR/IDU/Spiral, pil, suntik, susuk, PKPK/pil kontrasepsi pencegah kehamilan, sterilisasi). Gunakan buku Pedoman Kesehatan Reproduksi sebagai rujukan. Lakukan tanya jawab. 6. Katakan kepada peserta bahwa sekarang akan dibahas mengenai kehamilan yang tidak diinginkan. Lontarkan pertanyaan: Kondisi dan alasan apa saja yang membuat suatu kehamilan tidak diinginkan? Lakukan pembahasan dengan merujuk buku Pedoman Kesehatan Reproduksi mengenai kehamilan yang tidak diinginkan. Minta peserta untuk memberikan contoh-contoh yang ada di lingkungan sekitar tempat tinggal. 7. Sampaikan bahwa aborsi merupakan topik terakhir dalam pembicaraan ini. Lakukan permainan pendahuluan jaring laba-laba. Minta enam peserta untuk menjadi

Buku 1

14

Panduan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

relawan. Satu peserta diminta berperan sebagai remaja putri (RP) yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, karenanya ingin mengugurkan kandungannya. Lima peserta lainnya berdiri mengelilinginya. Peserta lain diminta menjadi observer. Pelatih menceritakan dengan singkat riwayat RP tersebut. Katakan bahwa RP adalah murid SMU kelas 2 yang dihamili dan ditinggal pergi oleh pacar. Pelatih menanyakan pertanyaan sebagai berikut: Mengapa RP memutuskan menghentikan kehamilannya? untuk

memberikan pendapat mengenai makna dari permainan tadi. 8. Terangkan bahwa ada dua jenis aborsi, yaitu aborsi spontan dan aborsi yang disengaja. 9. Lengkapi pembahasan dengan menerangkan mengenai aborsi aman dan aborsi tidak aman. Terangkan mengenai macam-macam aborsi tidak aman, seperti pijatan, minum jamu atau obat-obatan, loncat-loncat, dll. Jelaskan bahwa aborsi aman tidak sama dengan infanticida (pembunuhan bayi). Berikan kesempatan pada peserta untuk mengemukakan pendapatnya.

Minta peserta untuk memberikan kemungkinan jawaban. Untuk setiap jawaban yang dampaknya memberatkan RP, minta para peserta yang mengelilingi untuk menjeratkan tali secara bergiliran pada tubuh RP. Semakin banyak jawaban yang memberatkan RP semakin banyak jeratan pada tubuhnya. Kemudian pancing pendapat peserta bagaimana mencegah terjadinya kejadian kehamilan yang tidak diinginkan. Setiap jawaban yang memberikan pemecahan persoalan, membuka jeratan yang melingkar di tubuh RP. Setelah permainan selesai, ajak peserta untuk merenungkan dan

E. Penyakit Menular Seksual (PMS) (180 Menit) 1. Katakan kepada peserta bahwa kita akan beralih kepada topik PMS. Bagi peserta ke dalam kelompok kecil @ 4 orang. Minta setiap kelompok untuk membahas macam-macam PMS yang mereka ketahui dan cara pengobatan yang biasa dilakukan di daerah masing-masing. Setelah 10 menit, minta salah seorang wakil setiap kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka. 2. Lengkapi jawaban hasil diskusi kelompok dengan menjelaskan dan menayangkan lembar transparan berisi mengenai macam-macam PMS,
Panduan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Buku 1

15

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

gejala, masa inkubasi, efeknya, cara pengobatan dan perkiraan besar biaya pengobatan. Gunakan pula rujukan dari buku Pedoman Kesehatan Reproduksi. Berikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya dan mengemukakan pendapatnya.

dijadikan topik bahasan?" Lengkapi jawaban peserta dengan menjelaskan bahwa korban kekerasan umumnya adalah kelompok yang dianggap paling lemah dalam masyarakat, dalam hal ini adalah perempuan dan anak-anak. 3. Lakukan curah pendapat mengenai beberapa macam kekerasan yang biasa terjadi pada perempuan. Minta beberapa peserta untuk menyebutkan beberapa contoh kekerasan yang biasa terjadi di daerah masing-masing. Diskusikan bersama.

F. Kekerasan terhadap Perempuan (60 menit) 1. Katakan pada peserta bahwa topik bahasan selanjutnya adalah kekerasan terhadap perempuan. 2. Lontarkan pertanyaan Mengapa kekerasan terhadap perempuan dan bukan kekerasan terhadap laki-laki yang

Buku 1

16

Panduan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

PENYUSUN Ninuk Widiantoro Agustine Dwiputri Herna Lestari

ILUSTRATOR Ahmad Fauzi

Buku 2

Manual Pelatihan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI 1. Pembukaan dan Perkenalan 2. Pengertian Pendidikan Sebaya 3. Komunikasi Antar Pribadi Satu Arah Dua Arah Verbal Non Verbal Cara Bertanya Mendengarkan 4 6 7 8 10 19 20 21 1 3

4. Isu-Isu Kesehatan Reproduksi 5. Teknik Presentasi 6. Peragaan/Praktik Pendidik Sebaya 7. Penutup

Catatan: Pelatihan diselenggarakan selama 4 hari Poin 1 3 dilaksanakan selama 1 hari Poin 4 dilaksanakan selama 2 hari Poin 5 7 dilaksanakan selama 1 hari

Buku 2

Manual Pelatihan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

KATA PENGANTAR
Kesehatan Reproduksi merupakan isu yang sudah lama menjadi topik pembicaraan. Isu
ini semakin hangat dibicarakan orang sejak diselenggarakannya Konferensi Kependudukan di Kairo tahun 1994 (ICPD 1994), dimana banyak pemerintah berusaha mengimplementasikannya di negara masing-masing, termasuk di Indonesia. Walaupun demikian, ternyata masih sangat terbatas orang yang mampu memahami kesehatan reproduksi secara benar. Tidak hanya pada masyarakat awam, bahkan masih cukup banyak pengambil kebijakan dan petugas kesehatan yang masih terbatas pengetahuannya. Dari berbagai pengalaman melatih petugas kesehatan, penulis berpandangan bahwa untuk menyebarkan informasi atau pengetahuan kesehatan reproduksi (KR) kepada masyarakat secara efektif dan sistematis diperlukan beberapa tahap. Pertama, melakukan pelatihan kepada calon pendidik sebaya (peer educators). Pendidik Sebaya adalah narasumber bagi rekan-rekan sebayanya. Untuk dapat menjadi pendidik sebaya yang efektif diperlukan syarat-sayarat sebagai berikut: (1) aktif dalam suatu kegiatan di lingkungannya, misalnya kegiatan keagamaan, karang taruna, pramuka, dsb; (2) memiliki motivasi atau minat pribadi untuk menjadi pendidik sebaya; dan (3) memiliki cirri-ciri kepribadian, seperti: ramah, luwes dalam pergaulan, senang menolong orang lain, dsb. Kedua, melatih sebagian para pendidik sebaya yang tampak terampil menjadi konselor KR. Konselor adalah mereka yang dapat membantu orang lain agar mampu mencari penyelesaian masalahnya sendiri. Pendidik sebaya yang bisa ditingkatkan menjadi konselor adalah mereka yang terbukti menguasai pengetahuan KR dan memiliki komunikasi interpersonal yang menonjol. Ketiga, para konselor yang telah berpengalaman dapat ditingkatkan keterampilannya menjadi pelatih KR. Selain berpengalaman, para calon pelatih KR seyogyanya mendapat pengakuan dari lingkungan sebayanya sebagai konselor yang baik dan handal. Tahapan yang berjenjang ini dibutuhkan agar setiap peserta pelatihan memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara lebih mantap.

Buku 2

Manual Pelatihan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia Buku panduan ini ditujukan kepada setiap orang yang berminat untuk menyebarkan pengetahuan KR dan membantu orang-orang yang mengalami masalah-masalah yang berkaitan dengan kesehatan reproduksinya. Buku ini merupakan satu paket yang terdiri dari: (1) pengetahuan KR yang berisi aspek-aspek medis dan psikologis; (2) panduan pendidik sebaya KR; (3) manual pelatihan pendidik sebaya KR; (4) panduan konselor KR; (5) manual pelatihan konselor KR; dan (6) panduan pelatih KR.

Jakarta, 2002

Penyusun

Buku 2

Manual Pelatihan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

SESI-1 A. PEMBUKAAN
kirimkan juga bahan LA01a dan LA01b. Waktu : 10 menit

Tujuan 1. Peserta memahami diadakannya pelatihan Sebaya. maksud Pendidik

Langkah/tahapan pelatihan: 1. Buka pelatihan mengucapkan salam. dengan

2. Peserta memahami informasi mengenai waktu, isi dan metode pelatihan. Metode: Ceramah singkat. Bahan yang diperlukan: Kertas/karton besar/lembar transparansi bertuliskan lembar acuan (LA01a dan LA01b): LA01a berisi tujuan pelatihan, LA01b berisi jadwal pelatihan. Overhead Projector/OHP/LCD (bila ada) atau papan tulis. Alat tulis.

2. Menyampaikan tujuan pelatihan sambil menayangkan LA01a. 3. Uraikan jadwal pelatihan dan topiktopik serta pendekatan yang akan digunakan. 4. Perkenalkan diri dan jelaskan peran anda dalam pelatihan. 5. Beri kesempatan pada peserta untuk menanyakan hal-hal yang kurang jelas. 6. Bagikan LA01a dan LA01b kepada seluruh peserta.

Persiapan Awal: 1. Pelatih menyiapkan bahan untuk ditayangkan (LA01a dan LA01b). 2. Pelatih memperbanyak LA01a dan LA01b sebanyak peserta. 3. Jika diperlukan, minta seseorang dari instansi setempat untuk membuka pelatihan. Undang dan hubungi yang bersangkutan sekurangnya seminggu sebelum pelatihan, dan B. PERKENALAN Tujuan: 1. Peserta dan pelatih saling mengenal satu sama lain. 2. Mencairkan suasana pelatihan. 3. Membentuk kesepakatan bersama selama mengikuti Pelatihan.

Buku 2

Manual Pelatihan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

Metode: Permainan, ceramah singkat dan diskusi. Bahan yang diperlukan: 1. Lembaran kertas besar (flipchart) kosong. 2. Kartu nama sejumlah peserta dan pelatih. 3. Daftar pertanyaan untuk perkenalan. 4. Kertas dan karton kosong. 5. Overhead Projector/OHP/LCD (bila ada) atau papan tulis. 6. Alat tulis. Persiapan awal: 1. Membuat 4 macam daftar pertanyaan yang bervariasi. 2. Memperbanyak daftar pertanyaan agar setiap peserta mendapat lembar daftar pertanyaan. Waktu : 30 menit:

dengan pertanyaan yang tertera. Pelatih ikut melakukan hal yang sama. 2. Bagikan lembar pertanyaan kepada setiap peserta. 3. Instruksikan untuk mulai. Setelah 5 menit, pelatih minta peserta kembali ke tempatnya masing-masing. 4. Minta kepada dua atau tiga peserta untuk menyampaikan hasil perkenalannya. 5. Setelah itu minta tiap peserta untuk memperkenalkan diri (termasuk pelatih) dengan menyebutkan: nama; tempat tinggal; kegiatan yang digeluti. 6. Pelatih meminta peserta untuk menyusun tata tertib dan kesepakatan selama pelatihan berlangsung. 7. Tuliskan daftar kesepakatan pada kertas besar, tempelkan pada dinding yang mudah terlihat. Daftar pertanyaan: Jenis I 1. Cari teman yang mempunyai saudara kandung lebih dari 2 orang. Gali informasi lebih lanjut. Cari teman yang sudah punya pacar. Gali informasi lebih lanjut.

Langkah/tahapan pelatihan: 1. Pelatih mengajak peserta untuk berkenalan dengan mengikuti instruksi permainan sbb: Saya akan membagikan daftar pertanyaan pada setiap peserta. Setelah dibaca dan ada perintah untuk mulai, tiap peserta harus menjalankan instruksi yang tertulis dalam lembar yang diterimanya. Tugas diselesaikan dalam waktu 5 menit. Lakukan perkenalan dan gali keterangan lebih lanjut sesuai

2.

Buku 2

Manual Pelatihan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

Jenis II 1. 2. Cari teman yang sudah punya anak. Cari teman kondom. yang tahu tentang

2.

Cari teman yang tahu tentang salah satu satu macam PMS.

Jenis IV 1. Cari teman yang bisa mengendarai motor. Cari teman yang tahu tentang salah satu jenis narkoba.

Jenis III 1. 3. Cari teman yang tempat tinggalnya dekat dengan anda. 2.

SESI-2 PENGERTIAN PENDIDIKAN SEBAYA


Tujuan: 1. Peserta memahami arti pendidikan sebaya dan pentingnya peran PS dalam KR. 2. Peserta memahami tugas dan peran sebagai pendidik sebaya. 3. Peserta mampu memahami persyaratan dan langkah-langkah untuk melaksanakan pendidikan sebaya. Metode: Curah pendapat, ceramah dan diskusi. Bahan yang diperlukan: 1. Buku panduan pendidik sebaya. 2. Kertas/karton besar/lembar transparansi bertuliskan lembar acuan (LA02ah): 1. LA02a berisi informasi tentang arti PS, 2. LA02b berisi informasi syarat-syarat PS, 3. LA02c berisi perlunya PS, informasi tentang

tentang

4. LA02d berisi informasi tentang tempat melaksanakan pendidikan sebaya, 5. LA02e berisi informasi tentang penyelenggaraan pendidikan sebaya, 6. LA02f berisi informasi tentang persiapan PS sebelum pelaksanaan pendidikan sebaya, 7. LA02g berisi informasi tentang kiat menjadi PS, 8. LA02h berisi informasi tentang halhal yang perlu dan jangan dilakukan oleh PS. Persiapan Awal: 1. Menyiapkan LA02a sampai dengan LA02h;

Buku 2

Manual Pelatihan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

2. Menyediakan buku panduan pendidik sebaya sebanyak jumlah peserta. Waktu : 120 menit:

3. Lakukan tanya jawab dengan peserta mengenai isi LA02a. 4. Lakukan hal yang sama dengan LA02b sampai dengan LA02h. 5. Bagikan LA02a s/d LA02h kepada semua peserta.

Langkah/Tahapan Pelatihan: 1. Tayangkan judul LA02a dan lakukan curah pendapat mengenai arti judul tersebut. 2. Lengkapi pendapat peserta dengan memperlihatkan keseluruhan isi LA02a.

SESI-3 A. KOMUNIKASI SATU ARAH DAN DUA ARAH


3. Kertas/karton besar/lembar transparansi bertuliskan lembar acuan (LA03a). LA03a yang berisi pengertian komunikasi satu arah dan dua arah. Overhead Projector/OHP (bila ada) atau papan tulis.

Tujuan: 1. Peserta memahami perbedaan antara komunikasi satu arah dan dua arah. Peserta memahami keuntungan menggunakan komunikasi dua arah dalam pendidikan sebaya.

2.

4.

Metode: Permainan, ceramah singkat dan diskusi. Bahan yang diperlukan: 1. Dua lembar kertas kosong dan pensil untuk masing-masing peserta. Contoh gambar pada kertas dan transparansi.

Persiapan Awal: 1. Pelatih menyiapkan dua macam gambar pada karton atau OHV. Memperbanyak LA03a sebanyak jumlah partisipan. Periksa kembali LA03a. 30 menit

2.

2.

3.

Waktu :

Buku 2

Manual Pelatihan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

Langkah/Tahapan Pelatihan: 1. Tanyakan kepada peserta secara singkat yang dimaksud dengan komunikasi satu arah dan dua arah. Terangkan kepada peserta bahwa sekarang akan melakukan permainan komunikasi satu arah dan dua arah. Minta salah seorang peserta untuk menjadi relawan. Terangkan kepada peserta bahwa relawan akan membimbing mereka dalam menggambar sesuatu. Tugas peserta adalah mengikuti instruksi yang diberikan oleh relawan tanpa diperbolehkan untuk bertanya atau memberikan komentar apapun. Berikan gambar kepada relawan. Minta relawan untuk menyampaikan secara lisan gambar yang dilihatnya sehingga peserta lain dapat menggambar bentuk yang sama. Relawan tidak diperkenankan melakukan kontak mata dengan peserta dan hanya mempergunakan komunikasi verbal (tidak boleh menggunakan gerakan anggota badan).

8.

Setelah relawan menjelaskan gambarnya, mencatat waktu.

selesai pelatih

9.

2.

Pelatih memperlihatkan gambar kepada peserta untuk mengetahui ketepatan gambar yang dimaksud. Tanyakan apa yang dirasakan oleh relawan dan peserta terhadap permainan tersebut. Catat perasaan mereka pada papan tulis. Terangkan kepada peserta bahwa sekarang akan dilakukan permainan komunikasi dua arah. Berikan gambar relawan. lain kepada

10.

3.

11.

4.

12.

13.

14.

5. 6.

Peserta diperbolehkan mengajukan pertanyaan kepada relawan, dan relawan harus menanggapi pertanyaan tersebut. Catat waktu permainan. Perlihatkan gambar kedua kepada peserta. Minta relawan dan menjelaskan perasaannya. peserta

15. 16.

17.

7.

18.

Catat perasaan peserta dan relawan pada papan tulis. Terangkan perbedaan komunikasi satu arah dan dua arah dengan mempergunakan LA03a.

19.

Buku 2

Manual Pelatihan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

20.

Bagikan LA03a kepada semua peserta.

21.

Simpulkan bahwa komunikasi dua arah akan lebih efektif dalam melakukan pendidikan sebaya.

SESI-3 B. KOMUNIKASI VERBAL DAN NON-VERBAL


LA03c berisi contoh-contoh komunikasi non-verbal. 3. Overhead Projector/OHP (bila ada) atau papan tulis. 4. Kertas kosong dan alat tulis. Persiapan Awal: 1. Menyiapkan kartu perasaan. 2. Memeriksa LA12 dan memperbanyak sebanyak peserta. Waktu : 60 menit

Tujuan: 1. Peserta memahami aspek verbal dan non-verbal dalam komunikasi. 2. Peserta mampu menggunakan aspek non-verbal sebagai salah satu cara untuk menciptakan komunikasi yang efektif. 3. Peserta mampu menangkap arti dari aspek non-verbal yang muncul dalam komunikasi. 4. Peserta terampil menggunakan aspek verbal dan non-verbal dalam berkomunikasi. Metode: Curah pendapat, demonstrasi, ceramah singkat dan diskusi. Bahan yang diperlukan: 1. Kartu/kertas kosong berukuran + 3 x 8 cm bertuliskan berbagai perasaan seperti sinis, sedih, meremehkan, bosan, bingung, gembira, terkejut. 2. Kertas/karton besar/lembar transparansi bertuliskan lembar acuan (LA03b dan LA03c): LA03b berisi contoh-contoh komunikasi verbal;

Langkah/Tahapan Pelatihan: 1. Sampaikan kepada peserta bahwa selain komunikasi dua arah, pendidik sebaya perlu memahami pentingnya memperhatikan aspek verbal dan non-verbal dalam komunikasi. 2. Lakukan curah pendapat pada peserta apa yang mereka ketahui mengenai aspek verbal dan nonverbal dalam komunikasi. 3. Berikan ceramah singkat dan contoh tentang aspek verbal dalam komunikasi sambil menayangkan LA03b (verbal).

Buku 2

Manual Pelatihan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

4. Terangkan kepada peserta bahwa aspek non-verbal juga memegang peranan yang penting dalam komunikasi. 5. Minta peserta untuk memberikan contoh-contoh aspek non-verbal. 6. Lengkapi penjelasan aspek nonverbal dengan menayangkan LA03c (non-verbal).

7. Minta peserta untuk melakukan demonstrasi aspek non-verbal dengan memberikan kartu-kartu perasaan. 8. Buat rangkuman mengenai aspek verbal dan non-verbal dalam komunikasi. 9. Bagikan LA03b-c kepada seluruh peserta.

SESI-3. C. CARA BERTANYA


Persiapan Awal: 1. Memeriksa LA03d. 2. Memperbanyak jumlah peserta. LA03e sebanyak

Tujuan: 1. Peserta mampu membedakan pertanyaan terbuka dan tertutup. 2. Peserta mampu menggunakan dua macam pertanyaan tersebut dalam melakukan pendidikan sebaya. Metode : Curah pendapat, ceramah singkat dan diskusi. Bahan yang diperlukan: 1. Kertas/karton besar/lembar transparansi bertuliskan lembar acuan (LA03d dan LA03e): a. LA03d berisi pertanyaan tertutup; b. LA03e berisi pertanyaan terbuka. pengertian

Waktu :

30 menit:

Langkah/Tahapan Pelatihan: 1. Sampaikan kepada peserta bahwa dalam berkomunikasi perlu memperhatikan jenis-jenis pertanyaan yang bisa digunakan. 2. Ajukan pertanyaan tertutup kepada peserta, misalnya: Apakah anda mengerti dengan penjelasan tadi? 3. Ajukan pertanyaan terbuka kepada peserta, misalnya: Bagaimana pendapat anda dengan penjelasan tadi? 4. Minta peserta untuk membedakan kedua jenis pertanyaan tersebut dan

pengertian

2. Overhead Projector/OHP/LCD (bila ada) atau papan tulis. 3. Kertas kosong dan alat tulis.

Buku 2

Manual Pelatihan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

jelaskan pengertian pertanyaan tertutup dan terbuka dengan menggunakan LA03d dan LA03e.

5. Buat kesimpulan bahwa pertanyaan terbuka bisa memancing peserta untuk mengungkapkan perasaannya. 6. Bagikan peserta. LA03d-e kepada semua

SESI-3 D. MENDENGAR EFEKTIF


Waktu : 60 menit

Tujuan: 1. Peserta memahami arti mendengar efektif. 2. Peserta mampu menerapkan caracara mendengar yang baik. Metode: Permainan, curah pendapat, ceramah singkat dan diskusi. Bahan yang diperlukan: 1. Kertas/karton besar/lembar transparansi bertuliskan lembar acuan (LA03f): a. LA03f berisi cara mendengar efektif. 2. Overhead Projector/OHP (bila ada) atau papan tulis. 3. Kertas kosong dan alat tulis. Persiapan Awal: 1. Memeriksa LA03f. 2. Memperbanyak jumlah peserta. LA03f sebanyak

Langkah/Tahapan Pelatihan: 1. Ajak peserta untuk permainan bersama. melakukan

2. Minta peserta untuk menghitung satu dan dua secara berurutan. 3. Minta seluruh peserta dari kelompok nomor satu untuk mencari pasangan dari peserta kelompok nomor dua. 4. Minta peserta duduk berhadapan dengan pasangannya. 5. Minta seluruh peserta kelompok nomor satu untuk keluar ruangan. 6. Pelatih menjelaskan kepada kelompok nomor satu untuk memikirkan cerita menarik untuk disampaikan kepada pasangannya. Cerita akan disampaikan selama 3 menit. 7. Tanpa sepengetahuan kelompok nomor satu, pelatih menjelaskan kepada kelompok nomor dua agar mereka tidak memperhatikan pasangannnya pada saat

Buku 2

Manual Pelatihan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

pasangannya menceritakan sesuatu dengan menunjukkan hal-hal tertentu yang menandakan mereka tidak berminat. Bila pelatih memberikan tanda tertentu yang disepakati, kelompok nomor dua harus merubah sikap dan mulai memperhatikan cerita pasangannya. 8. Minta peserta kelompok nomor satu masuk ruangan. 9. Setelah peserta duduk berpasangan, permainan dimulai. 10. Setelah permainan berlangsung 11/2 menit, pelatih memberikan tanda sesuai dengan kesepakatan dengan peserta kelompok nomor dua, sehingga mereka mulai merubah sikap dan mulai memperhatikan cerita temannya. 11. Setelah 11/2 menit kemudian, minta peserta kembali ke tempat duduk masing-masing. 12. Ajukan pertanyaan kepada kelompok peserta nomor satu: Tingkah laku apa saja yang diperlihatkan pasangannya ketika mereka mulai bercerita?

Bagaimana perasaan mereka melihat respon pasangannya? Respon apa yang diharapkan dari pasangan pada saat mereka berbicara?

13. Jelaskan bahwa sikap-sikap tertentu dapat membuat seseorang tidak berminat untuk mengutarakan pendapat atau perasaannya. 14. Bagi peserta menjadi 2 atau 4 kelompok kecil (satu kelompok terdiri dari 4-5 orang). 15. Dua kelompok diminta untuk mendiskusikan sikap-sikap positif yang bisa menimbulkan minat untuk bercerita. 16. Dua kelompok diminta untuk mendiskusikan sikap-sikap negatif yang bisa menyebabkan pembicara malas untuk melanjutkan cerita. 17. Minta salah satu peserta dari setiap kelompok untuk mempresentasikan hasil kelompoknya. 18. Pelatih menekankan kembali perlunya mempelajari sikap-sikap positif dan menghindari sikap-sikap negatif. 19. Tayangkan dan bagikan LA03f.

Buku 2

Manual Pelatihan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

SESI-4 ISU-ISU KESEHATAN REPRODUKSI


Tujuan: 1. Peserta memahami mengenai hal-hal yang berkaitan dengan seks, seksualitas dan jender; 2. Peserta memahami alat reproduksi manusia dan fungsinya; 3. Peserta memahami mengenai hubungan seksual, kehamilan, pencegahan kehamilan pada remaja, kehamilan tidak diinginkan dan aborsi; 4. Peserta memahami berbagai macam penyakit menular seksual (PMS), termasuk HIV/AIDS, dan risikonya; dan 5. Peserta memahami isu kekerasan terhadap Perempuan. Metode: Ceramah singkat, curah pendapat, permainan, diskusi kelompok/kelas dan bermain peran; serta jika memungkinkan menampilkan drama satu babak (potongan cerita film). Bahan yang diperlukan: 1. Kertas/karton besar/lembar transparansi bertuliskan lembar acuan (LA04a-d): a. LA04a berisi gambar reproduksi perempuan, alat b. LA04b berisi gambar reproduksi laki-laki, alat

c. LA04c berisi gambar proses pembuahan dan perkembangan janin, d. LA04d berisi beda seks dan jender, e. LA04e berisi jenis-jenis PMS, 2. Buku Satu mengenai Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Remaja. 3. Kertas/karton kosong dan alat tulis. 4. Overhead Projector/OHP (bila ada) atau papan tulis. 5. Peta buta mengenai organ reproduksi perempuan dan laki-laki. 6. Perlengkapan-perlengkapan permainan: tali, boneka, amplop (sebanyak peserta) bertuliskan positif dan negatif untuk permainan wild fire) dll. 7. Alat Bantu visual Persiapan Awal: 1. Menyiapkan alat bantu visual yang diperlukan sebagai contoh untuk peserta. 2. Memeriksa LA04 dan perbanyak sejumlah peserta.

Buku 2

10

Manual Pelatihan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

3. Menyiapkan buku satu KRR dan peta buta, perbanyak sejumlah peserta. 4. Menyiapkan perlengkapan yang digunakan dalam permainan. Waktu : 630 menit:

5. Rangkum berbagai hal penting mengenai alat reproduksi dan fungsinya.

Langkah/Tahapan Pelatihan: A. Alat Reproduksi Manusia dan Fungsinya (60 menit) 1. Katakan kepada peserta bahwa sekarang kita akan membahas mengenai alat-alat reproduksi manusia. 2. Bagikan gambar peta buta alat reproduksi perempuan dan laki-laki, minta peserta untuk menuliskan nama-nama dari alat reproduksi yang telah ditentukan. Minta beberapa peserta untuk mengemukakan jawaban mereka 3. Tayangkan LA04a dan LA04b mengenai alat reproduksi perempuan dan laki-laki yang telah dilengkapi dengan nama masingmasing bagian alat reproduksi tersebut. Bahas bersama peserta berbagai nama lain yang biasa digunakan di daerah setempat. 4. Terangkan fungsi masing-masing alat, misalnya indung telur adalah tempat sel telur diproduksi. Beri kesempatan pada peserta untuk turut mengemukakan pengetahuan mereka dan mengajukan pertanyaan.

B. Remaja dan Perkembangannya (60 menit) 1. Ajak peserta untuk mengingat kembali masa ketika mereka memasuki masa akil baligh. Tanyakan kepada mereka tandatanda dan perubahan apa yang mereka rasakan, baik fisik maupun perasaan mereka. Bahas bersama mengenai perkembangan emosi dan seksual yang terjadi pada masa tersebut. Bahas pula mengenai isuisu yang terkait, misalnya mengenai mimpi basah dan masturbasi pada remaja laki-laki, serta menstruasi pada remaja perempuan. Tanyakan pengalaman dan penghayatan peserta ketika mengalami perubahan dan berbagai tanda tadi. Tekankan kepada peserta bahwa semua hal tersebut wajar terjadi pada seorang remaja. 2. Berikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya dan mendiskusikan pengalaman-pengalamannya.

Buku 2

11

Manual Pelatihan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

C. Seks, Seksualitas dan Gender (90 menit) 1. Lakukan permainan mengenai kelahiran bayi. Minta seorang peserta perempuan berperan sebagai ibu yang baru melahirkan. Minta peserta tersebut duduk sambil menggendong bayinya (boneka), disebelahnya peserta lain diminta berperan sebagai suaminya. Beberapa peserta diminta menjadi tamu dan menanyakan berbagai hal sehubungan dengan kelahiran bayi. Misalnya, bayimu laki-laki atau perempuan? jika besar nanti, kamu ingin anakmu menjadi apa? Kamu sendiri sebenarnya mengingingkan bayi laki-laki atau perempuan? dsb. Para tamu diminta pula untuk mengomentari jawaban pasangan suami istri tersebut. 2. Tanyakan kepada peserta apa yang bisa kita pelajari dari permainan tadi. Kemudian pelatih menjelaskan beda antara seks dan jender. Gunakan LA04d mengenai definisi kedua kata tersebut. Jelaskan pula mengenai konsep seksualitas. Tambahkan penjelasan mengenai konsep lain yang terkait, seperti: kesehatan seksual, hak-hak reproduksi, dll. Berikan contoh-contoh kongkrit sebanyak mungkin. Kaitkan dengan perkembangan seksual remaja dan ketimpangan jender yang ada.

Jangan lupa memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya. Pertanyaan peserta mungkin meluas hingga ke aspek perilaku seksual suatu daerah tertentu, misalnya Sifon di Nusa Tenggara Timur (mengenai tradisi melakukan hubungan seksual setelah seorang laki-laki di khitan) atau budaya penggunaan tongkat Madura (semacam batang kayu yang dimasukkan ke dalam vagina untuk menyerap cairan vagina).

D. Tekanan Teman Sebaya (45 menit) 1. Jelaskan mengenai terjadinya perkembangan psikologis pada remaja khususnya mengenai pencapaian identitas diri dan besarnya pengaruh teman sebaya. 2. Lakukan tanya jawab mengenai definisi tekanan teman sebaya. Tayangkan lembar balik atau transparansi definisi tekanan teman sebaya. 3. Minta peserta untuk menyebutkan contoh-contoh tekanan teman sebaya berdasarkan pengalaman mereka. 4. Minta peserta untuk membedakan contoh-contoh tekanan teman sebaya yang berkaitan dengan Kesehatan reproduksi dan mana yang tidak.

Buku 2

12

Manual Pelatihan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

5. Tanyakan kepada peserta mengenai apa yang mereka lakukan sebelum memutuskan untuk menerima atau menolak tekanan teman sebaya. 6. Beri kiat-kiat untuk membantu remaja memutuskan menerima atau menolak tekanan dengan cara meminta mereka membuat dua kolom yang berisi dampak positif dan dampak negatif dari tekanan teman sebaya tersebut.

menjadi beberapa kelompok kecil @ 4-5 orang. Minta kelompok untuk membahas proses terjadinya suatu kehamilan. Beri peserta waktu 15 menit untuk mendiskusikan dan menyiapkan hasil diskusi kelompoknya untuk dipresentasikan. 4. Lengkapi presentasi kelompok dengan menayangkan lembar balik transparan tentang proses kehamilan. 5. Selanjutnya, katakan kepada peserta bahwa kita akan beralih pada pembahasan mengenai pencegahan kehamilan. Lakukan curah pendapat mengenai berbagai metode/cara untuk mencegah kehamilan. Ajak peserta untuk aktif menyumbangkan pendapat mengenai hal ini. Dalam penjelasannya pelatih perlu mengemukakan bahwa cara pencegahan kehamilan terbagi dalam cara alami (misalnya, metode kalendar/pantang berkala, senggama terputus, pemeriksaan lendir pada vagina) dan cara modern (kondom, AKDR/IDU/Spiral, pil, suntik, susuk, PKPK/pil kontrasepsi pencegah kehamilan, sterilisasi). Gunakan buku satu sebagai rujukan. Lakukan tanya jawab. 6. Katakan kepada peserta bahwa sekarang akan dibahas mengenai kehamilan yang tidak diinginkan. Lontarkan pertanyaan: Kondisi dan

E. Hubungan Seksual, Kehamilan dan Pencegahannya, Serta Aborsi (120 menit) 1. Katakan pada peserta bahwa topik bahasan selanjutnya adalah hubungan seksual, kehamilan dan pencegahannya, serta aborsi. 2. Lakukan curah pendapat tentang apa yang dimaksud dengan hubungan seksual. Lengkapi jawaban dengan penjelasan bahwa hubungan seksual dalam bahasan ini merujuk kepada ekspresi/tindakan seksual yang berpeluang besar untuk terjadinya kehamilan. Misalnya dengan mendekatkan, menggesekkan, memasukkan sebagian atau seluruh penis ke dalam vagina memungkinkan masuknya sperma ke dalam vagina. 3. Ajak peserta untuk membahas tentang kehamilan. Bagi peserta
Buku 2

13

Manual Pelatihan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

alasan apa saja yang membuat suatu kehamilan tidak diinginkan? Lakukan pembahasan dengan merujuk Buku Satu mengenai kehamilan yang tidak diinginkan. Minta peserta untuk memberikan contoh-contoh yang ada di lingkungan sekitar tempat tinggal. 7. Sampaikan bahwa aborsi merupakan topik terakhir dalam sesi ini. Lakukan permainan pendahuluan jaring laba-laba. Minta enam peserta untuk menjadi relawan. Satu peserta diminta berperan sebagai remaja putri (RP) yang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, karenanya ingin mengugurkan kandungannya. Lima peserta lainnya berdiri mengelilinginya. Peserta lain diminta menjadi observer. Pelatih menceritakan dengan singkat riwayat RP tersebut. Katakan bahwa RP adalah murid SMU kelas 2 yang dihamili dan ditinggal pergi oleh pacar. Pelatih menanyakan pertanyaan sebagai berikut: Mengapa RP memutuskan untuk menghentikan kehamilannya? Minta peserta untuk memberikan kemungkinan jawaban. Untuk setiap jawaban yang dampaknya memberatkan RP, minta para peserta yang mengelilingi untuk menjeratkan tali secara bergiliran

pada tubuh RP. Semakin banyak jawaban yang memberatkan RP semakin banyak jeratan pada tubuhnya. Kemudian pancing pendapat peserta bagaimana mencegah terjadinya kejadian kehamilan yang tidak diinginkan. Setiap jawaban yang memberikan pemecahan persoalan, membuka jeratan yang melingkar di tubuh RP. Setelah permainan selesai, ajak peserta untuk merenungkan dan memberikan pendapat mengenai makna dari permainan tadi. 8. Terangkan bahwa ada dua jenis aborsi, yaitu aborsi spontan dan aborsi yang disengaja. Tayangkan gambar mengenai tindakan aborsi. Lakukan curah pendapat dengan merujuk pada Buku Satu. 9. Lengkapi pembahasan dengan menerangkan mengenai aborsi aman dan aborsi tidak aman. Tayangkan LA mengenai macam-macam aborsi tidak aman, seperti pijatan, minum jamu atau obat-obatan, loncat-loncat, dll. Jelaskan bahwa aborsi aman tidak sama dengan infanticida (pembunuhan bayi). Berikan kesempatan pada peserta untuk mengemukakan pendapatnya.

Buku 2

14

Manual Pelatihan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

F. Penyakit Menular Seksual (PMS) (120 menit) 1. Katakan kepada peserta bahwa kita akan beralih kepada topik PMS. Bagi peserta ke dalam kelompok kecil @ 45 orang. Minta setiap kelompok untuk membahas macam-macam PMS yang mereka ketahui dan cara pengobatan yang biasa dilakukan di daerah masing-masing. Setelah 15 menit, minta salah seorang wakil setiap kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka. 2. Lengkapi jawaban hasil diskusi kelompok dengan menjelaskan dan menayangkan LA04e berisi tabel mengenai macam-macam PMS, gejala, masa inkubasi, efeknya, cara pengobatan dan perkiraan besar biaya pengobatan. Gunakan pula rujukan dari Buku Satu. Berikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya dan mengemukakan pendapatnya.

berjalan-jalan di dalam lingkaran, dalam waktu itu anda menyentuh pundak seseorang. Jelaskan bahwa peserta yang ditepuk pundaknya berarti telah terinfeksi HIV. 2. Setelah anda menyentuh pundak seseorang, mintalah peserta untuk membuka matanya dan tanyakan apakah mereka dapat mengetahui dan menunjuk seseorang yang telah disentuh tadi (terinfeksi HIV). Katakan kepada peserta bahwa kita tidak dapat mengetahui apakah seseorang terinfeksi atau tidak hanya dengan cara melihat penampilan luar seseorang. 3. Mulailah berdiskusi mengenai bagaimana perasaan peserta waktu anda berjalan-berjalan dalam lingkaran. Tunjukkan bahwa bahkan dalam permainan sekalipun orang tidak mau disentuh atau dianggap terinfeksi HIV. 4. Peserta yang pundaknya anda sentuh ini tidak boleh memberitahukan anggota kelompok lainnya. Pelatih keluar dari lingkaran dan meminta peserta untuk saling bersalaman dengan 4 peserta lainnya. Pelatih menjelaskan bahwa salaman sama artinya dengan melakukan hubungan seks yang tidak aman. 5. Peserta yang ditepuk pundaknya diminta untuk bersalaman dengan

G. HIV/AIDS (120 menit) 1. Pelatih menjelaskan bahwa mereka akan bermain wild fire (api yang merajalela). Minta peserta untuk berdiri melingkar, sedangkan pelatih berdiri di tengahnya. Beritahu peserta bahwa mereka akan diminta menutup mata dan anda akan

Buku 2

15

Manual Pelatihan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

cara menggarukkan salah satu jarinya ke telapak tangan peserta lain. Peserta yang tangannya digaruk saat bersalaman, harus menggaruk tangan peserta lain saat bersalaman. Tekankan bahwa garukan itu menunjukkan keterpaparan terhadap HIV dan belum terinfeksi. 6. Setelah bersalaman selesai, masuklah kembali ke tengah lingkaran tanyakan: Apakah ada seseorang yang memilih untuk tidak bersalaman ? Katakan bahwa semua orang dapat menentukan pilihannya sendiri dalam melakukan hubungan seks yang tidak aman, dan tidak melakukan hubungan seks adalah salah satu pilihan tersebut. Mintalah semua yang digaruk telapak tangannya dan yang disentuh pundaknya untuk maju selangkah ke dalam lingkaran. Semua yang telapaknya tidak digaruk diminta untuk kembali pada tempat duduk masing-masing pada lingkaran yang sebelah luar. 7. Jelaskan bahwa untuk latihan ini orang-orang pada lingkaran dalam telah meneliti kembali pengalaman seksual mereka selama sepuluh tahun terakhir dan sampai pada kesimpulan bahwa mereka telah sampi pada resiko terinfeksi HIV pada tingkat pengalaman seksual. Jelaskan bahwa yang ada dilingkaran

luar juga telah meneliti ulang pengalaman seksual mereka dan menyimpulkan bahwa mereka belum sampai pada resiko terinfeksi HIV melalui perilaku seksual mereka. 8. PENTING SEKALI PADA TAHAP INI UNTUK MEMBERITAHU KELOMPOK: Apa yang baru saja anda lihat dan alami dikenal dengan nama situasi kelompok. Maksudnya, keterpaparan pada HIV yang cepat terjadi karena pasangan-pasangan seksual dipilih dari sekelompok orang tertentu, jaringan seksual yang tertutup. Apabila jaringan seksual itu terbuka, dimana ada kesempatan untuk berhubungan seks dengan orang lain di luar kelompok, risiko pada keterpaparan tak akan setinggi itu dan penularannya juga tidak secepat itu. 9. Mulailah diskusi mengenai bagaimana rasanya duduk dalam lingkaran luar atau lingkaran dalam pada tahap ini. Pertanyaan-Pertanyaan Diskusi: a. Lingkaran luar - apa pendapat anda mengenai mereka yang sekarang duduk di tengah?

b. Lingkaran luar - perbuatan apa yang berbeda dengan perbuatan yang dilakukan mereka di tengah? c. Lingkaran dalam - apakah yang anda pikirkan sekarang setelah

Buku 2

16

Manual Pelatihan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

mengetahui anda mungkin terinfeksi HIV? d. Lingkaran dalam - apakah anda akan memberitahu seseorang bahwa anda mungkin terinfeksi, dan siapa? e. Lingkaran dalam - apa yang anda perlukan pada tahap ini? f. Lingkaran dalam - apakah anda akan meneruskan melakukan hubungan seks yang tidak aman?

yang menolak diperiksa agar dia pindah ke lingkaran luar, ingatlah untuk mengeceknya kembali waktu latihan selesai. 12. Kocoklah amplop hasil pemeriksaan dan bagikan. Mintalah agar peserta jangan membukanya dulu tapi memegangnya saja. Bicarakan mengenai periode penungguan yang biasanya dialami di negara anda dan adakan diskusi mengenai isyu-isyu baru yang diperlukan sekarang. Pertanyaan-Pertanyaan Diskusi: a. Apa yang anda perlukan selama periode itu? b. Apakah anda akan memberitahukan seseorang bahwa anda telah melakukan pemeriksaan, dan siapa? c. Apakah anda akan melanjutkan hubungan seks tanpa pengaman? d. Apakah anda akan berkonsentrasi penuh dikantor/ dirumah? e. Apa yang anda pikirkan selama waktu itu? Sebelum membuka hasil mereka, ingatkan kelompok bahwa hasil pemeriksaan sebenarnya tidak dibagikan dengan cara begini. Hasil tersebut seharusnya diberikan dalam suasana pribadi dan rahasia, yang memungkinkan diskusi dan pengenalan pribadi.

Jangan lupa mengingatkan peserta bahwa pada tahap ini yang terjadi hanyalah paparan terhadap HIV. 10. Penting untuk menjelaskan perbedaan antara infeksi HIV dan AIDS dan mendiskusikan prosedur pemeriksaan dan arti hasil pemeriksaan yang positif dan negatif. 11. Tawarkan untuk melakukan pemeriksaan sebagai bagian dari latihan dan doronglah peserta untuk menerimanya pemeriksaan hanya untuk latihan. Walaupun demikian, apabila seseorang menolak untuk diperiksa, tanyakan alasannya, berikan informasi yang mungkin membantu mereka dalam mengambil keputusan, dan jika mereka tetap menolak untuk melakukannya, biarkanlah dan lanjutkan latihan. Beberapa mungkin akan tetap menolak untuk diperiksa walaupun telah diberi informasi. Minta peserta
Buku 2

17

Manual Pelatihan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

13. Mintalah peserta untuk membuka amplop. Mintalah mereka yang mendapat hasil negatif untuk menaruh kembali kartu kedalam amplop dan berikan kembali pada anda sementara anda berkeliling. Sambil anda mengumpulkan kembali hasil-hasil yang negatif, mintalah mereka yang mendapat hasil negatif tersebut untuk kembali pada kursi mereka di lingkaran luar. 14. Diskusikan bagaimana rasanya mendapat hasil pemeriksaan yang negatif. Diskusi keperluan untuk pemeriksaan kembali apabila perilaku riskan telah terjadi dalam tiga bulan sebelum ini sehubungan windaw period. Diskusikan mengenai perlunya merubah perilaku untuk mempertahankan status HIV yang negatif. 15. Diskusikan mengenai pikiran dan perasaan mereka yang tertinggal di lingkaran dalam dengan hasil yang positif. Tekankan aspek positif dari mengetahui status; sebagai contoh mendapatkan perhatian medis lebih cepat sewaktu diperlukan, mengurangi faktor stress, memperbaiki diet, menghindari infeksi lain dan sebagainya. Pertanyaan-Pertanyaan Diskusi: a) Bagaimana perasaan anda?

b) Apa arti tersebut bagi kehidupan anda? c) Apakah anda akan merubah perlaku anda? Siapa? d) Apakah anda akan akan merubah perilaku anda? bagaimana perubahan tersebut? e) Apakah anda akan memberitahu teman kerja atau majikan anda? f) Apa yang anda perlukan pada saat ini?

g) Tindakan apa yang akan anda ambil karena hasil pemeriksaan ini? h) Teruskan menjelaskan perbedaan antara infeksi HIV dan AIDS. Jawablah permintaan-permintaan akan informasi. 16. Bila diskusi telah berakhir, mintalah peserta yang dapat hasil positif untuk menaruh kembali kartu mereka ke dalam amplop. Jelaskan bahwa anda sebagai fasilitator merasakan apa yang mereka alami dan ingin melakukan sesuatu untuk membantu mereka. Beritahu peserta bahwa anda mempunyai mukjijat bahwa dengan mengembalikan kartu pada anda, mereka juga mengembalikan virus, dan dengan cara ini anda telah membantu mereka. 17. Masing-masing peserta yang dapat hasil positif diminta pendapat

Buku 2

18

Manual Pelatihan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

pribadi mereka pada saat ini, dan cara yang efektif adalah meminta mereka berdiri dan keluar dari lingkaran dalam, menanyakan nama lengkap mereka, dan tanyalah: Melihat kembali situasi tadi, apa pendapat anda mengenai HIV berhubung anda sudah keluar dari situasi tersebut? 18. Setelah peserta-peserta dengan hasil pemeriksaan yang positif selesai berbicara, mintalah semua peserta untuk kembali ke dalam lingkaran besar dan ambil nafas pelan-pelan. Sambil membuang nafas, mintalah mereka untuk melupakan hal-hal yang ingin mereka lupakan dan biarkan tangan dan pundak rileks. 10. Mintalah tiap peserta untuk melihat kembali latihan tadi dan menyebutkan satu kata untuk menggambarkan perasaan mereka mengenai partisipasi mereka.

H. Kekerasan Terhadap Perempuan (45 MENIT) 1. Katakan pada peserta bahwa topik bahasan selanjutnya adalah kekerasan terhadap perempuan. 2. Lontarkan pertanyaan mengapa kekerasan terhadap perempuan dan bukan kekerasan terhadap laki-laki yang dijadikan topik bahasan?" Lengkapi jawaban peserta dengan menjelaskan bahwa korban kekerasan umumnya ada kelompok yang dianggap paling lemah dalam masyarakat, dalam hal ini adalah perempuan dan anak-anak. 3. Lakukan curah pendapat mengenai beberapa macam kekerasan yang biasa terjadi pada perempuan. Minta beberapa peserta untuk menyebutkan beberapa contoh kekerasan yang biasa terjadi di daerah masing-masing. Diskusikan bersama di dalam kelas.

SESI-5 TEKNIK PRESENTASI


Tujuan: 1. Peserta mampu menyampaikan informasi secara efektif 2. Peserta mampu mendemonstrasikan keterampilannya 3. Peserta mengenal macam-macam alat bantu visual, mampu menciptakan dan menggunakan alat bantu visual

Metode: Demonstrasi, curah pendapat, ceramah singkat dan diskusi.

Buku 2

19

Manual Pelatihan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

Bahan yang diperlukan: 1. Kertas/karton besar/lembar transparansi bertuliskan lembar acuan (LA05a dan LA05b): a. LA05a berisi kiat-kiat komunikator yang baik; b. LA05b berisi bantu visual. menjadi

Waktu :

75 Manit

Langkah/Tahapan Pelatihan: 1. Jelaskan kepada peserta bahwa pendidik sebaya dalam menyampaikan informasi tentang kesehatan reproduksi harus menggunakan cara-cara yang menarik. 2. Membagi peserta menjadi 4 kelompok, dua kelompok diminta mendiskusikan cara-cara penyampaian informasi secara menarik, dua kelompok lain memikirkan dan mendiskusikan alat bantu visual yang berguna untuk dipakai dalam kelompok kecil. 3. Minta setiap kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi.

contoh-contoh

alat

2. Overhead Projector/OHP (bila ada) atau papan tulis. 3. Kertas/karton kosong dan alat tulis. Persiapan Awal: 1. Menyiapkan alat bantu visual yang diperlukan sebagai contoh untuk peserta 2. Memeriksa LA05 3. Memperbanyak jumlah peserta LA05 sebanyak

Pelatih menyimpulkan hasil diskusi dilengkapi dengan menayangkan dan membagikan LA05.

SESI-6 PERAGAAN DAN PRAKTIK PENDIDIK SEBAYA


Tujuan: Peserta mampu mendemonstrasikan keterampilannya dalam memberikan informasi KR kepada kelompok sebayanya. Metode: Demonstrasi dan diskusi. Bahan-bahan yang diperlukan: 1. Kertas/karton besar/lembar transparansi bertuliskan lembar acuan (LA06a dan LA06b): a. LA06a berisi lembar petunjuk peragaan; b. LA06b berisi lembar observasi. 2. Karton dan kertas kosong.

Buku 2

20

Manual Pelatihan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

3. Alat tulis (spidol berwarna). 4. Alat bantu visual yang bisa dipinjam oleh peserta selama peragaan. Persiapan Awal: 1. Memeriksa LA06 2. Memperbanyak jumlah peserta LA06 sebanyak

4. Bagikan lembar petunjuk peragaan (LA06a) kepada semua peserta, minta mereka untuk meneliti kembali persiapan sesuai dengan petunjuk yang diberikan. 5. Bagikan lembar observasi (LA06b) kepada peserta. Peserta yang tidak sedang melakukan peragaan, diminta mengisi lembar observasi untuk menilai keterampilan peserta yang sedang melakukan peragaan. 6. Lama peragaan untuk setiap pasangan peserta adalah 5 - 10 menit. 7. Pelatih menanyakan perasaan peserta yang baru saja melakukan peragaan. 8. Tanyakan kepada peserta hal-hal yang menurutnya perlu ditingkatkan. 9. Peserta lain dan pelatih memberikan saran membangun berdasarkan LA16b yang diberikan. 10. Lakukan hal yang sama kepada pasangan peserta lain (poin 6 - 9).

3. Persiapan tempat untuk demonstrasi 4. Jika memungkinkan beberapa orang menjadi tamu Waktu : 240 menit siapkan peserta

Langkah/tahap pelatihan: 1. Siapkan beberapa topik bahasan. 2. Kepada peserta tamu, dijelaskan bahwa mereka diundang untuk membantu pelatihan calon pendidik sebaya. Minta mereka untuk tidak ragu-ragu mengajukan pertanyaan sehubungan dengan topik yang dibawakan. 3. Pelatih membagi kelompok yang terdiri dari dua orang.

SESI-7 PENUTUP
Tujuan: Menutup secara pelatihan pendidik sebaya. Metode: Ceramah singkat Bahan yang diperlukan: formal 1. Kertas lembar acuan (LA07a dan LA07b): a. LA07a berisi lembar test akhir; b. LA07b berisi lembar evaluasi kegiatan secara keseluruhan.
Manual Pelatihan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Buku 2

21

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

2. Overhead Projector/OHP (bila ada) atau papan tulis. 3. Kertas kosong dan alat tulis. Persiapan Awal: 1. Memeriksa LA07. 2. Memperbanyak jumlah peserta. LA07 sebanyak

1. Bagikan LA07a dan LA07b. 2. Terangkan cara mengisi LA07a dan LA07b. 3. Kumpulkan LA07a dan LA07b yang telah diisi. 4. Katakan kepada peserta bahwa mereka diminta menerapkan seluruh materi yang telah diterima dalam pelatihan pada pendidikan sebaya. Sampaikan juga bahwa mereka akan disupervisi secara berkala. Dalam jangka waktu tertentu, pelatih sebaya yang dinilai berpenampilan baik akan dilatih menjadi konselor Kesehatan Reproduksi. 5. Bila ada seseorang tertentu yang akan menutup, minta orang tersebut menutup pelatihan secara formal.

3. Jika diperlukan seseorang dari instansi setempat untuk menutup pelatihan, undang dan hubungi yang bersangkutan sekurangnya seminggu sebelum pelatihan, dan ceritakan secara singkat mengenai proses pelatihan. Waktu : 30 menit:

Langkah/tahap pelatihan:

DAFTAR PUSTAKA
1. Budiharsana, Meiwita dan H. Lestari. Buku Saku Kesehatan Reproduksi Remaja. Draft. Jakarta: YAI, 2001. 2. Djajadilaga : Langkah-langkah Praktis Paket Pelayanan Kesehatan Reproduksi Remaja di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar. Jakarta Depkse dan UNFPA, 1999. 3. Henry, Jill Tabutt, N. Widyantoro, dan K. Graff. Trainers Guide: Counselling the Postabortion Patient: Training for Service Providers. NY: AVSC International, November 1999. 4. Sadli, Saparinah, dkk. Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan Konselor Kontap. Jakarta: PKMI, 1991. 5. Widyantoro, Ninuk. Abortion Counselling in Vietnam. NY: AVSC, 1998. 6. Widyantoro, Ninuk (Pengalaman pribadi).

Buku 2

22

Manual Pelatihan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

PENYUSUN Ninuk Widiantoro Agustine Dwiputri Herna Lestari

ILUSTRATOR Ahmad Fauzi

Buku 3

Panduan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I Definisi Konseling BAB II Persyaratan Konselor BAB III Tempat Konseling dan Klien Kesehatan Remaja BAB IV Langkah-Langkah Konseling dan Menghadapi Situasi Sulit DAFTAR PUSTAKA 7 11 4 1 1

Buku 3

Panduan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

KATA PENGANTAR
Buku Panduan Konseling Kesehatan Reproduksi (KR) untuk Teman Sebaya ini, merupakan
kelanjutan dari Buku Panduan Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi. Buku ini berisi berbagai informasi dan kiat-kiat untuk membantu para konselor sebaya dalam mempersiapkan dan melaksanakan kegiatan konseling bagi sebaya. Sesuai dengan program nasional mengenai Kesehatan Reproduksi Remaja yang diprakarsai oleh Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Pendidik Kesehatan Reproduksi Sebaya yang telah memiliki pengalaman dan dinilai terampil dalam menyebarkan informasi tentang Kesehatan Reproduksi, dapat meningkatkan keterampilannya menjadi Konselor KR. Program Konseling Kesehatan Reproduksi Sebaya dimaksud untuk memberdayakan remaja dan kaum muda, agar mampu mencari jalan keluar dari permasalahan mereka sehubungan dengan Kesehatan Reproduksinya. Penulis menyadari kemungkinan kekurangan dalam menyusun panduan ini, karenanya sangat mengharapkan berbagai masukan dari pembaca untuk penyempurnaan.

Jakarta, 2002

Penyusun

Buku 3

Panduan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

BAB - I DEFINISI KONSELING


Apakah konseling kesehatan reproduksi (KR) itu ? Konseling KR adalah suatu proses tatap muka dimana seorang konselor membantu kliennya untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan kesehatan reproduksinya. Di dalam proses konseling, harus terjadi: 1. Hubungan saling percaya; 2. Komunikasi yang terbuka; 3. Pemberdayaan klien agar mampu mengambil keputusannya sendiri.

BAB - 2 PERSYARATAN KONSELOR


Apa saja persyaratan menjadi konselor KR ? 1. Berpengalaman sebaya. sebagai pendidik 5. Peka terhadap perasaan orang dan mampu berempati. 6. Dapat dipercaya memegang rahasia. dan mampu

2. Mempunyai minat yang sungguhsungguh untuk membantu klien. 3. Terbuka untuk pendapat orang lain. 4. Menghargai dan menghormati klien.

7. Pendidikan minimal Setingkat SLTA.

Buku 3

Panduan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

Pengetahuan dan keterampilan apa yang harus dimiliki seorang konselor KR ? a. Seorang konselor KR harus memiliki pengetahuan mengenai: 1. Organ-organ reproduksi fungsinya masing-masing. 2. Proses terjadinya kehamilan. 3. Bahaya aborsi yang tidak aman. 4. Jenis-jenis kontrasepsi beserta cara pakai/kerja dan efek sampingnya. 5. Jenis-jenis penyakit menular seksual (PMS) termasuk HIV/AIDS, dan infeksi saluran reproduksi (ISR). 6. Hak-hak klien. 7. Program dan kebijakan pemerintah berkaitan dengan kesehatan reproduksi misalnya aborsi. Di samping itu, seorang konselor KR perlu menggali informasi mengenai latar belakang kehidupan klien dan alasan klien memerlukan konseling. Konselor juga harus mampu memahami perasaan dan kebutuhan klien. dan

b. Seorang konselor harus memiliki keterampilan dalam: 1. Membina suasana yang aman, nyaman dan menimbulkan rasa percaya klien terhadap konselor 2. Melakukan komunikasi interpersonal, yaitu hubungan timbal balik yang bercirikan: a. Komunikasi dua arah; b. Perhatian pada aspek verbal dan non-verbal; c. Penggunaan pertanyaan untuk menggali informasi, perasaan dan pikiran; d. Sikap mendengar yang efekti. Keterangan Komunikasi dua arah Berbeda dengan komunikasi satu arah dimana hanya satu pihak yang berbicara, dalam tempo singkat namun hasilnya kurang memuaskan; komunikasi dua arah memungkinkan kedua belah pihak sama-sama berkesempatan untuk mengajukan pertanyaan, pendapat dan perasaan. Waktu yang digunakan memang lebih lama, namun hasil yang dicapai memuaskan kedua belah pihak.

Buku 3

Panduan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

Komunikasi Verbal dan Non-Verbal Komunikasi verbal adalah bentuk komunikasi dengan menggunakan katakata. Konselor KR hendaknya: 1. Menggunakan sederhana dan kelompok. 2. Menghindari dimengerti. kata-kata yang mudah dipahami

3. Tidak memberi kesempatan klien untuk menjelaskan perasaan/ pendapatnya. Contoh: a. Berapa usiamu? b. Dimana tempat tinggalmu? Pertanyaan Terbuka: 1. Mampu mendorong klien untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran. 2. Bisa memancing panjang. jawaban yang

istilah

yang

sulit

3. Menghindari kata-kata yang bisa menyinggung perasaan orang lain. Komunikasi non-verbal adalah komunikasi yang tampil dalam bentuk nada suara, ekspresi wajah-wajah dan gerakan anggota tubuh tertentu. Dalam menyampaikan informasi, Konselor KR perlu mempertahankan kontak mata dengan lawan bicara, menggunakan nada suara yang ramah dan bersahabat. Cara Bertanya Ada dua macam cara bertanya, yaitu pertanyaan tertutup dan pertanyaan terbuka. Pertanyaan Tertutup: 1. Adalah pertanyaan yang memerlukan jawaban yang singkat. Bisa dijawab dengan Ya dan Tidak . 2. Biasanya digunakan pembicaraan untuk informasi dasar. di awal menggali

3. Memungkinkan klien mengungkapkan diri apa adanya. 4. Contoh : a. Apa yang kau ketahui tentang PMS? b. Bagaimana rasanya mengalami haid pertama? Mendengar efektif Untuk melakukan konseling KR yang baik, mendengar efektif dapat dilakukan dengan cara: 1. Jaga kontak mata dengan lawan bicara/klien (sesuaikan dengan budaya setempat). 2. Tunjukkan minat mendengar. 3. Jangan melakukan kegiatan lain atau memotong pembicaraan. 4. Ajukan pertanyaan yang relevan. 5. Tunjukkan empati. waktu

Buku 3

Panduan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

6. Lakukan refleksi dengan cara mengulang kata-kata klien dengan kata-kata sendiri. 7. Mendorong klien untuk terus bicara baik dengan memberikan komentar

kecil (misal: mm..., ya...), atau ekspresi wajah tertentu (misalnya menganggukan kepala).

BAB - 3 TEMPAT KONSELING DAN KLIEN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA


Dimana konseling KR bisa dilakukan ? Sebenarnya konseling dapat dilakukan dimana saja asalkan syarat-syarat berikut terpenuhi: 1. Terjamin privacy; 2. Nyaman, tidak bising; 3. Tenang.

Siapa saja yang membutuhkan konseling KR ? Semua orang, tidak terbatas dengan usia dan jenis kelamin yang ingin bertanya atau mengalami masalah sehubungan kesehatan reproduksinya. Kelompok-

kelompok berikut memerlukan perhatian dan bantuan khusus, misalnya : 1. Kelompok remaja; 2. Klien dengan kehamilan yang tidak diinginkan;

Buku 3

Panduan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

3. Orang dengan HIV/AIDS (ODHA); 4. Kelompok lansia. Apa kiat-kiat untuk melaksanakan konseling pada Kelompok Khusus? a. Remaja

tidak akan menceritakan kunjungan, pembicaraan atau keputusan yang diambil klien kepada orang lain. 5. Mudah didekati. Jangan panik atau marah, tunjukkan sikap tenang. 6. Menghargai. Jangan memandang rendah klien remaja. 7. Memahami. Jangan memberi penilaian kepada klien remaja. 8. Bersabar. Jangan memaksa klien untuk segera mengambil keputusan karena mungkin saja klien remaja memerlukan waktu yang lama untuk mencapai satu keputusan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan bila klien dari kelompok remaja. 1. Memberikan keterampilan kepada remaja untuk mengatakan tidak, bernegosiasi (dengan lawan jenis) dan mengambil keputusan. 2. Membantu klien membedakan hubungan sosial dan hubungan seksual. 3. Membimbing remaja membuat jangka panjang atau menyiapkan masa depan 4. Membimbing remaja dalam memahami ide tentang risiko atau perilaku beresiko

Remaja seringkali menghadapi masalah kesehatan reproduksi yang lebih banyak dan beragam dibandingkan klien yang lebih tua. Konseling untuk remaja membutuhkan sikap dan pemahaman yang lebih khusus serta pengetahuan yang lebih banyak. Dengan demikian, menghadapi klien remaja, seorang konselor KR harus: 1. Terbuka, membiarkan remaja untuk bertanya tanpa membatasi topik pertanyaan termasuk topik yang tabu untuk dibicarakan 2. Fleksibel, membicarakan berbagai isu KR yang ingin diketahui remaja, termasuk isu pubertas dan seks tanpa rasa canggung. Konselor memberikan jawaban yang sederhana dengan kata-kata yang mudah dimengerti 3. Dapat dipercaya. Pertahankan kejujuran, bila tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan klien remaja, katakan dengan jujur. Katakan pada klien bahwa anda akan berusaha mencari jawabannya. 4. Menjaga kerahasiaan. Katakan kepada klien remaja bahwa anda

Buku 3

Panduan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

5. Menyadari bahwa remaja yang aktif seksual seringkali beresiko terkena PMS dibandingkan klien dewasa. 6. Perilaku seksual anak muda biasanya diperkuat atau dihambat oleh orang yang lebih tua 7. Remaja biasanya hanya sekali-kali melakukan hubungan seksual 8. Remaja mungkin saja berencana tak akan melakukan hubungan seks lagi, tapi kenyataannya mengulangi lagi. 9. Para remaja dengan rentang usianya yang sama dapat mempunyai tingkat pengetahuan yang sangat berbeda-beda, ataupun sikap, perilaku dan pengalaman yang berbeda pula. b. Klien dengan diinginkan Kehamilan Tidak

tempat penampungan bayi untuk adopsi dan sebagainya. 4. Menyiapkan diri untuk menjadi perantara untuk berkomunikasi dengan pasangan atau orang tua klien. c. Klien dengan HIV/AIDS (ODHA) Menghadapi klien yang HIV/AIDS, konselor perlu: terinfeksi

1. Menjaga kerahasiaan secara lebih ketat. Para ODHA umumnya sangat takut bila keadaan mereka diketahui oleh orang lain, takut dikucilkan, mudah terancam harga diri, takut dicerai oleh pasangannya dan sebagainya. 2. Menunjukkan empati tanpa rasa kasihan. Jika konselor menunjukkan perhatian berlebihan dan cenderung mengasihani, para ODHA justru bisa tersinggung. 3. Memperhatikan dan mengantisipasi adanya perasaan-perasaan khusus yang dialami para ODHA, seperti: kesedihan mendalam, kemarahan, mengingkari kenyataan, dendam, malu, ingin bunuh diri. 4. Mengupayakan agar klien yang aktif secara seksual, berbeda menghindari penularan pada orang lain dengan menggunakan kondom.

Menghadapi klien dengan Kehamilan Yang Tidak Diinginkan, Konselor perlu: 1. Memperhatikan dan antisipasi adanya perasaan-perasaan khusus seperti: tertekan, konflik, bingung 2. Membantu klien menata dan mengarahkan perasaan yang dialami, agar kemudian mampu mengambil keputusan tanpa rasa sesal 3. Memiliki informasi rujukan yang luas, misalnya dokter spesialis kandungan, psikolog, ahli agama,

Buku 3

Panduan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

d. Klien Lanjut Usia (LANSIA) Menghadapi klien lanjut usia, konselor perlu menunjukkan: 1. Penghargaan. Kelebihan LANSIA adalah banyaknya pengalaman hidup yang perlu dihargai. 2. Sikap sabar. Umumnya LANSIA senang membicarakan hal-hal yang menyangkut masa lalu, sehingga bisa menimbulkan kebosanan bagi yang mendengar. Keterbatasan lain berupa

penurunan fungsi penginderaan seperti pendengaran atau penglihatan. 3. Sikap hormat. Di Indonesia menghormati orang yang lebih tua dianggap penting, karenanya cara berbicara dan nada suara konselor harus mencerminkan sikap hormat tersebut.

BAB - IV LANGKAH-LANGKAH KONSELING DAN MENGHADAPI SAAT SULIT


Persiapan apa yang harus dilakukan oleh konselor KR sebelum pertemuan ? 1. Menyiapkan mental dan psikologis dalam arti konselor tidak dalam kondisi terbawa oleh emosi atau masalahnya sendiri; 2. Mengatur dan menata tempat konseling sesuai dengan persyaratan; 3. Menyiapkan alat bantu untuk mempermudah pemberian penjelasan, bisa berupa brosur, alat peraga, gambar, contoh alat kontrasepsi, leaflet, dsb.

Buku 3

Panduan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

Apa saja langkah-langkah/tahapan konseling? 1. Mengucapkan salam. 2. Mempersilahkan klien duduk. 3. Menciptakan situasi yang membuat klien merasa nyaman. 4. Mengajukan pertanyaan tentang maksud dan tujuan klien mendatangi konselor (pertanyaan bisa berlanjut ke hal-hal yang diperlukan ). 5. Berikan informasi setepat dan sejelas mungkin sesuai dengan persoalan yang diajukan, termasuk berbagai alternatif jalan keluar. Hindari memberikan informasi yang tidak dibutuhkan klien. 6. Mendorong dan membantu klien untuk menentukan jalan keluar atas persoalan yang dihadapinya. 7. Bila klien terlihat puas, ucapkan salam penutup. Bila diskusi dengan klien belum selesai dan klien belum mampu mengambil keputusan, tawarkan klien untuk mengatur pertemuan selanjutnya. Apa saja yang termasuk situasi sulit dalam konseling KR ? Dalam melakukan konseling, terkadang tidak bisa dihindarkan ditemuinya situasi-situasi yang sulit sehingga membutuhkan pendekatan yang hati-hati, antara lain :

1. Bila klien pasif dan diam; 2. Klien menangis; 3. Klien menanyakan hal yang bersifat pribadi; 4. Klien minta konselor mengambil keputusan; untuk

5. Konselor tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan; 6. Konselor tidak menemukan solusi masalah; 7. Konselor dan klien saling mengenal. Bagaimana mengatasi situasi sulit? Klien yang diam 1. Jika klien berdiam diri diawal pertemuan, tataplah klien dan gunakan bahasa tubuh yang memperlihatkan simpati dan minat sambil mengatakan:saya melihat ada kesulitan pada anda untuk berbicara. Hal ini sering dialami oleh klien yang baru. Saya rasa anda kuatir. Tunggulah jawaban klien. 2. Jika klien diam selama pembicaraan berlangsung, bisa merupakan sesuatu yang wajar karena mungkin klien sedang berpikir atau memutuskan bagaimana mengutarakan perasaan atau pikiranpikirannya. Berikan waktu pada klien untuk berpikir.

Buku 3

Panduan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

Klien sok pintar 1. Mengembalikan masalah kepada klien. 2. Memberikan contoh yang konkret (seperti buku/gambar) & pengertian yang sebenarnya. 3. Mendorong agar klien bisa memutuskan jalan keluar yang terbaik bagi masalahnya sendiri. Klien menangis 1. Jangan membuat asumsi/mendugaduga mengapa klien anda menangis. 2. Tunggulah beberapa saat. Bila berlanjut, katakan bahwa menangis itu tidak apa-apa. Menangis adalah

reaksi yang wajar, hal ini membuat klien merasa dibolehkan untuk mengutarakan alasan-alasannya menangis. Tanyakan alasannya dengan hati-hati. 3. Konselor tenang. berusaha untuk tetap

4. Apabila klien terus menangis, maka konselor memberi kesempatan kepada klien untuk menumpahkan emosinya, mengeluarkan beban dan ganjalan -ganjalan lain dalam tangisnya.

Konselor tak dapat menemukan solusi bagi masalah klien 1. Perlihatkan pengertian dengan cara memberitahu seseorang lain yang dapat membantunya.

2. Menunda pertemuan untuk mencari jawaban yang tepat. Konselor tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan klien 1. Katakan dengan jujur dan terbuka bahwa anda tidak tahu jawabannya,

Buku 3

Panduan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

tetapi dapat bersama klien mencari jalan keluarnya. Cek pada supervisi atau sumber-sumber referensi lainnya, dan berikan jawabannya yang tepat pada klien. Konselor melakukan suatu kesalahan 1. Perbaiki kesalahan dan minta maaf. Mengakui kesalahan menunjukkan penghargaan pada klien. 2. Bersikap jujur. Konselor mengenal dan klien sudah saling

pengetahuan khusus (medis, agama). 2. Menunda jawaban untuk dicarikan jawaban kepada ahli. 3. Rujuk klien pada ahlinya.

B. Konselor tidak menemukan solusi 1. Konselor cukup menerima keluhan masalah klien. 2. Mendiskusikan dengan pihak yang mampu menemukan/ membantu memberi solusi. 3. Menunda pertemuan untuk mencari jawaban yang tepat. Klien menanyakan hal yang bersifat pribadi 1. Usahakan untuk membicarakan pribadi anda. tidak

1. Tekankan soal kerahasiaan klien dan privasinya. 2. Bila klien menginginkan, aturlah pertemuan dengan konselor lain. 3. Bersikap profesional (melihat/menganggap klien seperti klien yang lainnya). Pengetahuan konselor yang terbatas A. Jika konselor tidak dapat menjawab pertanyaan: 1. Berkata jujur akan ketidaktahuan konselor berkaitan dengan

2. Bila klien menanyakan hal yang bersifat pribadi, anda tidak perlu menjawab.

Buku 3

10

Panduan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

DAFTAR PUSTAKA

1.

Budiharsana, Meiwita dan H. Lestari. Buku Saku Kesehatan Reproduksi Remaja. Draft. Jakarta: YAI, 2001. Djajadilaga. Langkah-langkah Praktis Paket Pelayanan Kesehatan Reproduksi Remaja di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar. Jakarta Depkse dan UNFPA, 1999. Henry, Jill Tabutt, N. Widyantoro, dan K. Graff. Trainers Guide: Counselling the Postabortion Patient: Training for Service Providers. NY: AVSC International, November 1999. Sadli, Saparinah, dkk. Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan Konselor Kontap. Jakarta: PKMI, 1991. Widyantoro, Ninuk. Abortion Counselling in Vietnam. NY: AVSC, 1998. Widyantoro, Ninuk (Pengalaman pribadi).

2.

3.

4.

5. 6.

Buku 3

11

Panduan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

PENYUSUN Ninuk Widiantoro Agustine Dwiputri Herna Lestari

ILUSTRATOR Ahmad Fauzi

Buku 4

Manual Pelatihan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Pembukaan dan Perkenalan Pengertian Konseling Komunikasi Efektif Tahapan Konseling Situasi Sulit dalam Konseling Pendalaman Materi KR Secara Medis (Studi Kasus) Peragaan dan Praktik Konseling Penutup 1 2 4 5 6 7 8 11 12

DAFTAR PUSTAKA

Buku 4

Manual Pelatihan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

KATA PENGANTAR
Kesehatan Reproduksi merupakan isu yang sudah lama menjadi topik pembicaraan. Isu
ini semakin hangat dibicarakan orang sejak diselenggarakannya Konferensi Kependudukan di Kairo tahun 1994 (ICPD 1994), dimana banyak pemerintah berusaha mengimplementasikannya di negara masing-masing, termasuk di Indonesia. Walaupun demikian, ternyata masih sangat terbatas orang yang mampu memahami kesehatan reproduksi secara benar. Tidak hanya pada masyarakat awam, bahkan masih cukup banyak pengambil kebijakan dan petugas kesehatan yang masih terbatas pengetahuannya. Dari berbagai pengalaman melatih petugas kesehatan, penulis berpandangan bahwa untuk menyebarkan informasi atau pengetahuan kesehatan reproduksi (KR) kepada masyarakat secara efektif dan sistematis diperlukan beberapa tahap. Pertama, melakukan pelatihan kepada calon pendidik sebaya (peer educators). Pendidik Sebaya adalah narasumber bagi rekan-rekan sebayanya. Untuk dapat menjadi pendidik sebaya yang efektif diperlukan syarat-sayarat sebagai berikut: (1) aktif dalam suatu kegiatan di lingkungannya, misalnya kegiatan keagamaan, karang taruna, pramuka, dsb; (2) memiliki motivasi atau minat pribadi untuk menjadi pendidik sebaya; dan (3) memiliki cirri-ciri kepribadian, seperti: ramah, luwes dalam pergaulan, senang menolong orang lain, dsb. Kedua, melatih sebagian para pendidik sebaya yang tampak terampil menjadi konselor KR. Konselor adalah mereka yang dapat membantu orang lain agar mampu mencari penyelesaian masalahnya sendiri. Pendidik sebaya yang bisa ditingkatkan menjadi konselor adalah mereka yang terbukti menguasai pengetahuan KR dan memiliki komunikasi interpersonal yang menonjol. Ketiga, para konselor yang telah berpengalaman dapat ditingkatkan keterampilannya menjadi pelatih KR. Selain berpengalaman, para calon pelatih KR seyogyanya mendapat pengakuan dari lingkungan sebayanya sebagai konselor yang baik dan handal. Tahapan yang berjenjang ini dibutuhkan agar setiap peserta pelatihan memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara lebih mantap.

Buku 4

Manual Pelatihan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia Buku panduan ini ditujukan kepada setiap orang yang berminat untuk menyebarkan pengetahuan KR dan membantu orang-orang yang mengalami masalah-masalah yang berkaitan dengan kesehatan reproduksinya. Buku ini merupakan satu paket yang terdiri dari: (1) pengetahuan KR yang berisi aspek-aspek medis dan psikologis; (2) panduan pendidik sebaya KR; (3) manual pelatihan pendidik sebaya KR; (4) panduan konselor KR; (5) manual pelatihan konselor KR; dan (6) panduan pelatih KR.

Jakarta, 2002

Penyusun

Buku 4

Manual Pelatihan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

SESI - 1 A.
Tujuan 1. Peserta memahami maksud diadakannya pelatihan konseling. 2. Peserta memahami informasi mengenai waktu, isi dan metode pelatihan konseling. Metode: Ceramah singkat Bahan yang diperlukan: 1. Kertas/karton besar/lembar transparansi bertuliskan lembar acuan (LAK01 dan LAK02): LAK01 berisi tujuan pelatihan LAK02 berisi jadwal pelatihan 2. Overhead Projector/OHP (bila ada) atau papan tulis; 3. Kertas/karton transparansi kosong; 4. Alat tulis. Persiapan Awal: 1. Pelatih menyiapkan bahan tayangan (LAK01 dan LAK02). 2. Pelatih memperbanyak LAK01 dan LAK02 sejumlah peserta. 3. Jika diperlukan, minta seseorang dari instansi setempat untuk membuka pelatihan. Undang dan hubungi yang bersangkutan sekurangnya seminggu sebelum pelatihan, dan
Buku 4

PEMBUKAAN
kirimkan juga bahan LAK01 dan LAK02. Waktu : 10 menit

Langkah/tahapan pelatihan: 1. Buka pelatihan mengucapkan salam. dengan

2. Menyampaikan tujuan pelatihan sambil menayangkan LAK01. 3. Uraikan jadwal pelatihan dan topiktopik serta pendekatan yang akan digunakan. 4. Perkenalkan diri dan jelaskan peran anda dalam pelatihan. 5. Beri kesempatan pada peserta untuk menanyakan hal-hal yang kurang jelas. 6. Bagikan LAK01 kepada seluruh peserta dan LAK02

besar/lembar

B.

PERKENALAN

Tujuan: 1. Peserta dan pelatih saling mengenal satu sama lain. 2. Mencairkan suasana pelatihan. 3. Membentuk kesepakatan bersama selama mengikuti pelatihan.

Manual Pelatihan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

Metode : Permainan, ceramah singkat dan diskusi. Bahan yang diperlukan : 1. Lembaran kertas besar (flipchart) kosong; 2. Kartu nama sejumlah peserta dan pelatih; 3. Kertas dan karton kosong; 4. Overhead Projector/OHP (bila ada) atau papan tulis; 5. Alat tulis. Persiapan awal: Pelatih menyiapkan instruksi yang akan diberikan. 40 menit

anda tidak kenal yang berasal dari daerah yang tidak sama dengan daerah asal anda. Setelah berkenalan secara singkat, minta kepada teman anda untuk bercerita secara singkat pengalaman yang dianggap paling menarik selama menjadi pendidik sebaya. 2. Setelah itu, secara bergantian setiap peserta diminta untuk menyampaikan kembali secara singkat kepada seluruh peserta. 3. Pelatih meminta peserta untuk menyusun tata tertib dan kesepakatan selama pelatihan berlangsung. Tuliskan daftar kesepakatan pada kertas besar tempelkan pada dinding yang mudah terlihat.

Waktu :

Langkah/tahapan pelatihan: 1. Pelatih mengajak peserta untuk berkenalan dengan mengikuti instruksi yang berbunyi sbb: anda diminta memilih satu teman yang paling

SESI - 2 PENGERTIAN KONSELING


Tujuan: 1. Peserta memahami arti konseling dan pentingnya peran konselor dalam KR. 2. Peserta mampu persyaratan konselor. memahami 3. Peserta mampu mengetahui hak-hak klien. 4. Peserta mampu memahami dan menghargai nilai-nilai klien dan tidak memaksakan kehendaknya sendiri.

Buku 4

Manual Pelatihan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

Metode: Curah pendapat, permainan, ceramah dan diskusi. Bahan yang diperlukan: 1. Buku panduan konselor; 2. Lembar pernyataan nilai (tidak untuk dibagikan kepada peserta); 3. Kertas/karton besar/lembar transparansi bertuliskan lembar acuan (LAK03 s/d LAK08) LAK03 berisi konseling. informasi arti

Waktu :

105 menit

Langkah/Tahapan Pelatihan: 1. Tayangkan judul LAK03 dan jelaskan secara singkat bahwa kita akan membicarakan mengenai pengertian konseling, persyaratan menjadi konselor, hak-hak klien serta nilai yang dimiliki setiap orang. 2. Pelatih membagi kelas ke dalam 4 kelompok. 3. Kelompok 1 diminta mendiskusikan tentang arti konseling dan persyaratan menjadi konselor. 4. Kelompok 2 diminta mendiskusikan pengetahuan dan keterampilan apa saja yang dimiliki konselor. 5. Kelompok 3 diminta mendiskusikan tempat konseling dan siapa saja yang membutuhkan konseling. 6. Kelompok 4 diminta mendiskusikan tentang hak-hak yang dimiliki klien. 7. Beri waktu selama 15 menit untuk berdiskusi, selanjutnya minta salah satu untuk presentasi hasil diskusi. 8. Tuliskan hasil diskusi pada lembar presentasi. 9. Pelatih menayangkan dan menjelaskan LAK03-LAK09 sambil menambahkan hal-hal yang belum disebutkan oleh peserta dalam presentasinya. Lakukan tanya jawab.

LAK04 berisi informasi persyaratan konseling.

tentang

LAK05 berisi informasi tentang pengetahuan dan keterampilan konselor. LAK06 berisi informasi tempat konseling. tentang

LAK07 berisi informasi tentang siapa saja yang membutuhkan konseling. LAK08 berisi informasi tentang hakhak klien. LAK09 berisi pengertian nilai dan sikap. Persiapan Awal: 1. Menyiapkan LAK03 sampai dengan LAK09. 2. Menyediakan buku panduan pendidik sebaya sebanyak jumlah peserta.

Buku 4

Manual Pelatihan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

10. Bagikan LAK03-LAK09 setiap peserta.

kepada

11. Pelatih membahas mengenai pengertian nilai dan sikap sambil menayangkan LAK09. 12. Agar peserta lebih memahami, minta semua peserta untuk berkumpul di tengah ruangan. 13. Tempelkan kertas berisi kata setuju di salah satu sisi tembok ruangan dan kata tidak setuju di sisi yang lain. 14. Katakan kepada peserta bahwa pelatih akan membacakan beberapa pernyataan. Peserta diminta untuk memikirkan sendiri (tidak diskusi) mengenai pernyataan tersebut. Bila

peserta setuju, mereka harus bergeser ke sisi tempat pernyataan setuju ditempelkan, bila tidak setuju bergeser ke sisi dengan pernyataan tidak setuju. Tanyakan alasan mereka mengemukakan setuju atau tidak setuju. 15. Setelah selesai, katakan kepada peserta bahwa setiap orang pada umumnya akan bertindak sesuai dengan nilai dan sikap yang dianutnya sehingga dapat memutuskan keputusannya dengan baik, oleh karena itu dalam konseling, konselor sebaiknya tidak mengambil keputusan untuk klien. Konselor harus menghormati nilai, pikiran, dan pendapat klien.

Catatan untuk pelatih: Beri kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan pendapatnya Jika terlihat kecenderungan hanya 1-2 peserta saja yang mendominasi pembicaraan, pelatih harus mendorong peserta lain untuk mengemukakan fikirannya

SESI - 3 KOMUNIKASI EFEKTIF (MENDATAR AKTIF)


Tujuan: 1. Peserta mampu memahami berkomunikasi yang efektif. cara Bahan yang diperlukan: 1. Kertas/karton besar/lembar transparansi bertuliskan lembar acuan (LAK10). LAK10 yang berisi pengertian contoh-contoh mendengar efektif. LAK11 yang berisi lembar observasi.
Manual Pelatihan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

2. Peserta mampu mendemonstrasikan komunikasi efektif. Metode: Simulasi, ceramah singkat dan diskusi.
Buku 4

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

2. Overhead Projector/OHP (bila ada) atau papan tulis. 3. Alat tulis. Persiapan Awal: 1. Memperbanyak LAK10 dan LAK11 sebanyak jumlah partisipan. 2. Periksa kembali LAK10 dan LAK11. Waktu : 90 menit

3. Minta setiap kelompok untuk memilih topik diskusi KR yang dinilai paling sulit. 4. Bagikan LAK11 (lembar observasi) untuk dipakai peserta yang berperan sebagai observer untuk menilai keterampilan mendengar. 5. Peserta berganti peran setiap 11 menit. 6. Setelah selesai, minta peserta kembali ke tempat masing-masing untuk berdiskusi. 7. Tanyakan kepada beberapa peserta (4-5 orang) hasil observasi mereka. Tutup sesi dengan menayangkan LAK10, tekankan lagi poin-poin penting dari mendengar efektif.

Langkah/Tahapan Pelatihan: 1. Pelatih memberikan penjelasan mengenai apa yang dimaksud dengan komunikasi efektif. Ingatkan dalam konteks konseling, aspek komunikasi mendengar, memegang bagian yang paling penting. 2. Bagi peserta dalam kelompok kecil yang terdiri dari 3 orang per kelompok. Katakan kepada masingmasing peserta bahwa secara bergiliran mereka akan berperan menjadi konselor, klien dan observer.

SESI - 4 TAHAPAN KONSELING


Tujuan: 1. Peserta memahami tahapan-tahapan pelaksanaan konseling KR. 2. Peserta mampu mendemonstrasikan tahapan-tahapan pelaksanaan konseling KR. Metode: Curah pendapat, demonstrasi, ceramah singkat. Bahan yang diperlukan: 1. Contoh-contoh alat bantu.

Buku 4

Manual Pelatihan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

2. Kertas/karton besar/lembar transparansi bertuliskan lembar acuan (LAK12). a. LAK12 berisi konseling. tahap-tahap

harus diperhatikan dan diikuti oleh konselor. 2. Lakukan curah pendapat dengan cara menanyakan kepada peserta tahap-tahap konseling tersebut. Tulis di atas karton atau papan tulis. 3. Tayangkan konseling). LAK11 (tahap-tahap

3. Overhead Projector/OHP (bila ada) atau papan tulis. 4. Kertas kosong/karton dan alat tulis. Persiapan Awal: 1. Menyediakan alat-alat bantu (brochure, leaflet, lembar bali, alat kontrasepsi dll) yang digunakan dalam konseling. 2. Menyediakan (LAK11). 3. Memeriksa memperbanyak peserta. Waktu : lembar observasi

4. Lakukan demonstrasi dengan cara meminta 2-3 pasangan peserta untuk melakukan konseling di hadapan seluruh peserta. 5. Berikan alat-alat bantu yang bisa dipergunakan oleh peserta yang akan melakukan demonstrasi. 6. Peseta lainnya diminta menjadi observer sambil mengisi lembar observasi konseling (LAK11). 7. Diskusikan hasil demonstrasi. Tekankan hal-hal yang positif dan perlu diperhatikan. Bagikan LAK12 kepada seluruh peserta.

LAK12 sebanyak

dan jumlah

120 menit

Langkah/Tahapan Pelatihan: 1. Jelaskan bahwa untuk membina hubungan yang baik dengan klien dan untuk melancarkan jalannya konseling, maka ada tahapan yang

SESI - 5 SITUASI SULIT DALAM KONSELING


Tujuan: 1. Peserta mengenali berbagai situasi sulit dalam konseling. 2. Peserta mampu mengatasi situasi sulit dalam konseling.

Buku 4

Manual Pelatihan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

Metode: Curah pendapat, diskusi kelompok, presentasi, dan ceramah singkat. Bahan yang diperlukan: 1. Kertas/karton besar/lembar transparansi bertuliskan lembar acuan LAK13 (macam-macam situasi sulit). 2. Overhead Projector/OHP (bila ada) atau papan tulis. 3. Kertas/karton/plastik transparan dan alat tulis. Persiapan Awal: 1. Memeriksa LAK13. 2. Memperbanyak jumlah peserta. LAK13 sebanyak

yang biasanya terjadi selama proses konseling. 2. Catat jawaban peserta pada sehelai karton atau papan tulis. 3. Membagi peserta menjadi beberapa kelompok. 4. Masing-masing kelompok diminta mendiskusikan 1-2 macam masa sulit dan cara mengatasinya. 5. Minta peserta menuliskan hasil diskusi pada lembaran yang telah tersedia. 6. Minta satu wakil dari kelompok untuk mempresentasikan. 7. Pelatih merangkum hasil diskusi kelompok dan menekankan hal-hal yang paling penting sambil menayangkan LAK13. 8. Bagikan peserta. LAK13 kepada semua

Langkah/Tahapan Pelatihan: 1. Lakukan curah pendapat selama 5 menit mengenai situasi-situasi sulit

SESI - 6 PENDALAMAN MATERI KR SECARA MEDIS (STUDI KASUS)


Tujuan: Peserta mendalami berbagai informasi berkaitan dengan KR berdasarkan pengalaman selama melakukan pendidikan sebaya. Metode: Curah pendapat, singkat dan diskusi. Bahan yang diperlukan: ceramah 1. Alat peraga. 2. Overhead Projector/OHP (bila ada) atau papan tulis. 3. Kertas/karton/transparan kosong dan alat tulis.

Buku 4

Manual Pelatihan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

Persiapan Awal: Mempersiapkan alat peraga yang dibutuhkan. Langkah/Tahapan Pelatihan: 1. Secara singkat sampaikan kepada peserta bahwa isi dari modul ini adalah menjawab pertanyaanpertanyaan KR yang sulit dijawab ketika memberikan pendidikan sebaya. 2. Demi kelancaran dan efektifitas diskusi, bagi peserta dalam pasangan. Minta pasangan duduk berdampingan. 3. Setiap pasangan diminta untuk menuliskan jawaban atas pertanyaan yang muncul dalam diskusi kelas yang akan dilakukan. 4. Pelatih memulai diskusi dengan cara menanyakan hal-hal apa saja yang

ingin diketahui mengenai KR.

oleh

peserta

5. Membagi diskusi kelas dalam beberapa sesi tanya jawab. Setiap sesi tidak lebih dari 4 pertanyaan. 6. Untuk menjawab setiap pertanyaan yang muncul beri kesempatan pertama pada peserta lain untuk menjawabnya. Setelah itu pelatih (medis dan non-medis) dapat menambahkan atau meluruskan dengan jawaban yang lebih sesuai atau lengkap. 7. Jangan lupa mengingatkan peserta untuk mencatat pertanyaan yang muncul dan jawaban yang diberikan. 8. Kumpulkan lembar pertanyaan dan jawaban kepada peserta untuk kemudian diketik, diperbanyak dan dibagikan sesuai dengan jumlah peserta.

SESI - 7 PENDALAMAN MATERI KR SECARA MEDIS (STUDI KASUS)


Tujuan: Peserta mampu mendemonstrasikan keterampilan konseling pada klien tamu (bukan pada sesama peserta). Metode: Demonstrasi dan diskusi. Bahan-bahan yang diperlukan: 1. Alat peraga untuk dipakai dalam praktik konseling. 2. Kertas/karton besar/lembar transparansi bertuliskan lembar acuan (LAK09 dan LAK14): a. LAK11 berisi lembar observasi b. LAK14 berisi lembar kepuasan klien 3. Kertas/karton/transparan kosong. 4. Alat tulis (spidol berwarna).

Buku 4

Manual Pelatihan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

5. Alat bantu evaluasi. Persiapan Awal:

visual

untuk

tahap

menyiapkan tempat konseling masing-masing. Tempat konseling dilengkapi dengan meja kecil yang bernomor. 6. Berikan juga petunjuk cara mengisi lembar observasi dan lembar kepuasan klien. 7. Pelatih menjelaskan tugas-tugas selama praktik konseling: a. Konselor bertugas melakukan konseling dengan mengingat semua hal penting yang sudah dibicarakan sebelumnya b. Observer bertugas mengamati dan mencatat jalan proses konseling di dalam lembar observasi. Selama proses konseling, observer duduk agak di belakang konselor. Bila waktu konseling telah selesai, Observer harus memberitahukan konselor. c. Pewawancara klien berada di luar ruangan konseling. Ia bertugas mewawancara klien setelah konseling menggunakan lembar kepuasan klien (LAK14) dan mengantarkan klien ke meja berikutnya. 8. Katakan bahwa setiap pewawancara harus mengantarkan klien tamu ke mejanya. Setelah praktik konseling berlangsung selama 15-20 menit, pelatih akan memberikan tanda sesuai dengan kesepakatan. Setelah
Manual Pelatihan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

1. Mempersiapkan alat peraga yang diperlukan. 2. Memeriksa dan memperbanyak LAK11 dan LAK14 sebanyak jumlah peserta. 3. Persiapan tempat untuk demonstrasi konseling untuk 6-7 kelompok (@3 orang). 4. Menyiapkan beberapa klien tamu sebanyak jumlah kelompok. Waktu : 180 menit

Langkah/tahapan pelatihan: A. Persiapan 1. Pelatih menjelaskan bahwa peserta akan diminta untuk melakukan konseling kepada klien tamu. 2. Satu-dua peserta diminta untuk melakukan demonstrasi konseling dipandu oleh pelatih selama + 1/2 menit. 3. Bagi peserta dalam kelompok kecil @ 3 orang. 4. Setiap peserta dalam kelompok secara bergilirian akan berperan sebagai konselor, observer dan pewawancara. 5. Setiap kelompok diminta memilih alat peraga yang dibutuhkan dan

Buku 4

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

konseling selesai, pewawancara mewawancarai klien tamu di tempat terpisah dengan menggunakan LAK14. Bila jumlah klien hanya sejumlah kelompok, pewawancara mengantarkan klien ke meja konseling berikutnya. Bila jumlah klien sebanyak peserta, ucapkan terima kasih. 9. Selanjutnya kelompok bertukar peran, dan menyiapkan diri untuk konseling berikutnya. Bila klien tamu berikutnya berasal dari meja sebelumnya, untuk menghindari pengulangan isi konseling, konselor menanyakan apa saja yang sudah dibicarakan dengan konselor sebelumnya sehingga konselor bisa memberikan tambahan informasi atau melanjutkan pembahasan 10. Setiap kelompok diminta untuk mendiskusikan dan berlatih konseling. 11. Katakan mereka punya waktu yang mencukupi. 12. Sementara itu pelatih memberikan arahan kepada klien tamu secara terpisah. Katakan bahwa mereka diminta membantu peserta untuk mengasah keterampilan konseling KR, dengan berperan sebagai klien. Mereka akan diminta untuk mengajukan pertanyaan dan masalah tentang topik-topik KR. Masalah

yang diajukan bisa saja bukan masalah yang dialaminya sendiri, tetapi masalah orang lain. Misalnya, anggota keluarga atau orang lain yang dikenal. Berilah contoh beberapa permasalahan KR, misalnya menstruasi tidak teratur. 13. Jumlah klien tamu sedikitnya sejumlah kelompok dan paling banyak sejumlah peserta. 14. Hindarkan pertemuan antara peserta dan klien tamu sebelum konseling dimulai, agar tidak terbina raport sebelumnya. B. Praktik Konseling 1. Keseluruhan praktik konseling berlangsung selama 90 menit dengan catatan setiap sesi konseling berlangsung tidak lebih dari 20 menit. 2. Selama praktik berlangsung, pelatih melakukan observasi dari jarak jauh dan berkeliling. C. Evaluasi 1. Kelompok peserta dibagi menjadi dua, masing-masing dipandu oleh seorang pelatih untuk mengevaluasi hasil praktik konseling. 2. Peserta diminta berbagi pengalaman mengenai perasaan-perasaan selama melakukan konseling, pendapat dan penilaian klien tamu terhadap konseling yang telah dilakukan

Buku 4

10

Manual Pelatihan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

(berdasarkan hasil wawancara), dan memberikan masukan serta saran (umpan balik) demi peningkatan keterampilan konselor berdasarkan hasil observasi. 3. Peserta diminta berkumpul dalam kelompok besar, dan pelatih merangkum kegiatan praktik konseling. 4. Pelatih memberikan beberapa petunjuk teknis kegiatan konseling

yang akan dilakukan di tempat masing-masing. 5. Pelatih menekankan kepada peserta bahwa mereka tetap harus melakukan tugas sebagai pendidik sebaya sehingga pengetahuan dan keterampilan KRnya semakin terasah.

SESI - 8 PENUTUP
Tujuan: Menutup secara formal pelatihan konseling. Metode: Ceramah singkat. Bahan yang diperlukan: 1. Kertas lembar acuan (LAK15 dan LAK16). LAK15 berisi lembar test akhir. LAK16 berisi lembar evaluasi kegiatan secara keseluruhan konseling. 2. Overhead Projector/OHP (bila ada) atau papan tulis. 3. Kertas kosong dan alat tulis. Persiapan Awal: 1. Memeriksa LAK15. 2. Memperbanyak LAK16 sebanyak jumlah peserta. 3. Jika diperlukan seseorang dari instansi setempat untuk menutup pelatihan, undang dan hubungi yang bersangkutan sekurangnya seminggu sebelum pelatihan, dan ceritakan secara singkat mengenai proses pelatihan. Waktu : 30 menit

Langkah/tahapan pelatihan: 1. Bagikan LAK15 dan LAK16. 2. Terangkan cara mengisi LAK15 dan LAK16. 3. Kumpulkan LA15 dan LA16 yang telah diisi.

Buku 4

11

Manual Pelatihan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

4. Katakan kepada peserta bahwa mereka diminta menerapkan seluruh materi yang telah diterima selama pelatihan konseling. Sampaikan juga bahwa mereka akan disupervisi secara berkala. Dalam jangka waktu

tertentu, konselor yang berpenampilan baik akan menjadi pelatih.

dinilai dilatih

Bila ada seseorang tertentu yang akan menutup, minta orang tersebut menutup pelatihan secara formal.

DAFTAR PUSTAKA
1. Budiharsana, Meiwita dan H. Lestari. Buku Saku Kesehatan Reproduksi Remaja. Draft. Jakarta: YAI, 2001. Djajadilaga : Langkah-langkah Praktis Paket Pelayanan Kesehatan Reproduksi Remaja di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar. Jakarta Depkse dan UNFPA, 1999. Henry, Jill Tabutt, N. Widyantoro, dan K. Graff. Trainers Guide: Counselling the Postabortion Patient: Training for Service Providers. NY: AVSC International, November 1999. Sadli, Saparinah, dkk. Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan Konselor Kontap. Jakarta: PKMI, 1991. Widyantoro, Ninuk. Abortion Counselling in Vietnam. NY: AVSC, 1998. Widyantoro, Ninuk (Pengalaman pribadi).

2.

3.

4.

5. 6.

Buku 4

12

Manual Pelatihan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

MODUL - 1 A. PEMBUKAAN
Tujuan 1. Peserta memahami maksud diadakannya pelatihan untuk calon pelatih KR. 2. Peserta memahami informasi mengenai waktu, isi dan metode pelatihan untuk calon pelatih KR. Metode: Ceramah singkat. Bahan yang diperlukan: 1. Kertas/karton besar/lembar transparansi bertuliskan lembar acuan (LAP01a dan LAP01b) LAP01a berisi tujuan pelatihan LAP01b berisi jadwal pelatihan 2. Overhead Projector/OHP (bila ada) atau papan tulis 3. Kertas/karton transparansi kosong 4. Alat tulis Persiapan Awal: 1. Pelatih menyiapkan bahan untuk ditayangkan (LAP01a dan LAP01b). 2. Pelatih memperbanyak LAP01a dan LAP01b sebanyak jumlah peserta. 3. Jika diperlukan, minta seseorang dari instansi setempat untuk membuka pelatihan. Undang dan hubungi yang bersangkutan sekurangnya
Buku 4

seminggu sebelum pelatihan, dan kirimkan juga bahan LAP01a dan LAP01b. Waktu : 10 menit:

Langkah/tahap pelatihan: 1. Buka pelatihan mengucapkan salam. dengan

2. Menyampaikan tujuan pelatihan sambil menayangkan LAP01a. 3. Uraikan jadwal pelatihan dan topiktopik serta pendekatan yang akan digunakan. 4. Perkenalkan diri dan jelaskan peran anda dalam pelatihan. 5. Beri kesempatan pada peserta untuk menanyakan hal-hal yang kurang jelas. 6. Bagikan LAP01a dan LAP01b kepada seluruh peserta.

besar/lembar

B. PERKENALAN
Tujuan 1. Peserta memahami pentingnya melakukan perkenalan di awal pelatihan untuk memahami latarbelakang peserta pelatihan dan motivasi mengikuti pelatihan.

13

Manual Pelatihan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

2. Peserta mampu menyadari perlunya menciptakan suasana belajar yang nyaman dan efektif. Metode: curah pendapat, kerja kelompok, ceramah singkat, dan berbagai macam permainan pencairan. Bahan yang diperlukan: 1. Lembar kertas besar (flipchart); 2. Spidol berwarna dan alat tulis lain; 3. Kertas kosong; 4. LAP01c berisi formulir biodata; contoh-contoh

3. Lakukan sebuah permainan untuk memasuki sesi perkenalan dengan peserta 4. Minta salah seorang peserta untuk memimpin sesi perkenalan 5. Pelatih merangkum dilakukan perkenalan pelatihan Tahap II 1. Bagi peserta menjadi 4 kelompok. Dua kelompok mendiskusikan pentingnya memahami latarbelakang peserta pelatihan dan membuat contoh-contoh komponen yang harus diketahui dalam biodata. Dua kelompok berikutnya mendiskusikan mengenai motivasi peserta dan menyusun daftar pertanyaan untuk menggali motivasi peserta. 2. Minta masing-masing peserta untuk mempresentasikan hasil kerja kelompok 3. Pelatih merangkum dan melengkapi hasil presentasi kelompok dengan menayangkan LAP01b dan 1c yang telah disiapkan 4. Beri kesempatan mengajukan peserta untuk pertanyaan perlunya di awal

5. LAP01d berisi contoh-contoh kuesioner untuk menggali motivasi peserta pelatihan. Persiapan awal: Siapkan LAP dan sejumlah peserta. 120 menit perbanyak

Waktu :

Langkah/tahap pelatihan: Tahap I 1. Minta peserta untuk menjelaskan pentingnya perkenalan pada setiap awal pelatihan 2. Tuliskan jawaban peserta di lembar kertas besar atau transparansi

Buku 4

14

Manual Pelatihan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

MODUL - 2 PERSIAPAN DAN MERENCANAKAN SEBUAH PELATIHAN


Tujuan: Peserta mampu mempersiapkan dan merencanakan hal-hal yang diperlukan untuk menyelenggakan sebuah pelatihan. Metode: curah pendapat, kerja kelompok dan ceramah singkat. Bahan yang diperlukan: 1. Lembar kertas besar atau transparansi (Bila tersedia OHV); 2. Spidol tiga warna. 3. LAP02 Persiapan Awal Siapkan LAP 2 sejumlah peserta. 60 menit dan perbanyak 2. Tuliskan jawaban peserta di lembar kertas besar 3. Bagikan LAP02 (hal 169 -171) 4. Beri waktu 5 menit pada peserta dan tanyakan kepada peserta apakah masih ada hal-hal yang ingin ditambahkan pada LAP02 5. Bagi peserta menjadi 3 kelompok. Minta semua kelompok untuk memberi tanda (V) pada kolom yang disiapkan pada LAP 2 sesuai dengan tugas masing-masing. Kelompok pertama merundingkan hal-hal yang perlu disiapkan sebelum pelatihan. Kelompok dua merundingkah halhal yang perlu disiapkan selama pelatihan berlangsung. Kelompok ketiga, merundingkan hal-hal yang perlu disiapkan setelah pelatihan berakhir. 6. Beri kesempatan peserta untuk mengajukan pertanyaan.

Waktu :

Langkah/Tahapan Pelatihan 1. Lakukan curah pendapat mengenai hal apa saja yang perlu disiapkan untuk menyelenggarakan suatu pelatihan

MODUL - 3 MELATIH YANG EFEKTIF (ADULT LEARNING)


Tujuan: Peserta memahami prinsipprinsip dan karakteristik cara pembelanjaran orang dewasa. Metode: ceramah singkat. Bahan yang diperlukan: 1. Kertas/karton besar/lembar transparansi bertuliskan lembar acuan (LAP3a-d)

Buku 4

15

Manual Pelatihan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

LAP03a yang berisi gambar tentang teori gelas kosong LAP03b yang berisi gambar tentang belajar dari pengalaman LAP03c tentang dewasa yang berisi gambar pembelajaran orang

Persiapan Awal: 1. Siapkan LAP03 sejumlah peserta. Waktu : 60 menit dan perbanyak

Langkah/Tahapan Pelatihan 1. Pelatih memberikan ceramah singkat mengenai beda cara belajar yang conventional dan cara belajar orang dewasa. 2. Tayangkan LAP03a, 3b, 3c, berupa gambar (hal 193 - 195) dan LAP 3d tentang tiga prinsip dasar dan karakteristik cara pembelajaran orang dewasa (hal 13-14). Selingi ceramah singkat dan tayangan gambar dengan tanya jawab

LAP03d yang berisi tiga prinsip dasar dan karakteristik cara pembelajaran orang dewasa 2. Overhead Projector/OHP (bila ada) atau papan tulis. 3. Alat tulis

MODUL - 4 KETERAMPILAN PELATIH


Tujuan: Peserta dapat menerapkan keterampilan-keterampilan sebagai pelatih, yang terdiri dari: 1) menggunakan komunikasi verba-non verbal; 2) memberikan pujian dan dorongan pada peserta pelatihan; 3) keterampilan dalam menerima dan memberikan umpan balik; 4) keterampilan bertanya. Metode: Curah pendapat, demonstrasi. Bahan yang diperlukan: 1. Kertas/karton besar/lembar transparansi bertuliskan lembar acuan (LAP04) a. LAP04 yang berisi 4 keterampilan melatih. 2. Handicamp (bila ada) 3. Kaset Video dan Video recorder 4. Lembar kertas besar atau transparansi (bila tersedia OHV) 5. Alat tulis

Buku 4

16

Manual Pelatihan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

Persiapan Awal 1. Siapkan lembar kertas besar atau transparansi yang berisi 4 kolom kosong; 2. Siapkan lembar formulir mengenai 4 keterampilan melatih (LAP04), perbanyak sejumlah peserta. Waktu : 150 menit

kolom 2 untuk keterampilan pelatih memberikan pujian dan dorongan; kolom 3 untuk keterampilan pelatih melakukan umpan balik; dan kolom 4 untuk keterampilan pelatih mengajukan pertanyaan). 5. Pelatih melengkapi pengisian kolomkolom sambil menayangkan LAP04 6. Minta 1-2 peserta untuk mendemonstrasikan beberapa keterampilan tersebut dihadapan peserta lainnya. 7. Bila memungkinkan, rekam demonstrasi yang dilakukan peserta untuk kemudian diulas. Beri kesempatan mengajukan peserta untuk pertanyaan

Langkah/Tahapan Pelatihan 1. Lakukan curah pendapat mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan oleh seorang pelatih 2. Tayangkan lembar yang berisi 4 kolom kosong 3. Minta peserta untuk mengemukakan keterampilan apa saja yang diperlukan seorang pelatih 4. Tuliskan jawaban peserta pada kolom yang telah ditentukan (kolom 1 untuk jenis-jenis keterampilan komunikasi verbal dan non-verbal;

MODUL - 5 TEHNIK PELATIHAN


Tujuan: Peserta memahami berbagai macam tehnik pelatihan. Metode: ceramah singkat, kelompok dan presentasi. Bahan yang diperlukan: kerja 1. Kertas/karton besar/lembar transparansi bertuliskan lembar acuan LAP05a dan LAP05b. a. LAP05a yang berisi 8 macam tehnik pelatihan.

Buku 4

17

Manual Pelatihan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

b. LAP05b yang berisi kelebihan dan keterbatasan masing-masing tehnik pelatihan 2. Lembar kertas besar atau transparan (bila tersedia OHV) 3. Spidol 4. Kertas kosong Persiapan Awal Siapkan LAP05 sejumlah peserta. dan perbanyak

peran, 6) tanya jawab, 7) praktikum, dan 8) kerja kelompok 3. Tekankan kepada peserta bahwa sebagai pelatih perlu mengkombinasi dari beberapa macam tehnik pelatihan tersebut agar tidak menimbulkan kebosanan. 4. Bagi peserta menjadi empat kelompok. Setiap kelompok membahas manfaat dan keterbatasan dari dua macam tehnik pelatihan. 5. Minta salah satu peserta dari setiap kelompok untuk mempresentasikan hasil kerja kelompok. 6. Pelatih merangkum presentasi kerja kelompok sambil menayangkan LAP05b tentang kelebihan dan keterbatasan masing-masing tehnik pelatihan. Beri kesempatan peserta untuk mengajukan pertanyaan.

Waktu :

120 menit

Langkah/Tahapan Pelatihan 1. Lakukan curah pendapat mengenai berbagai macam tehnik pelatihan yang diketahui oleh peserta 2. Pelatih menayangkan dan menjelaskan LAP05a yang berisi 8 macam tehnik pelatihan, yaitu: 1) ceramah, 2) ceramah dengan gambar, 3) demonstrasi, 4) diskusi, 5) bermain

MODUL - 6 ALAT BANTU DALAM PELATIHAN


Tujuan: 1. Peserta memahami manfaat penggunaan alat bantu dalam pelatihan. 2. Peserta mengenal macam-macam alat bantu yang digunakan dalam pelatihan 3. Peserta mampu mengembangkan ide mengenai alat bantu yang tepat dan menarik dalam pelatihan 4. Peserta trampil menggunakan berbagai macam alat bantu dalam pelatihan, mulai yang sederhana hingga yang kompleks.

Buku 4

18

Manual Pelatihan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

Metode: curah pendapat, diskusi, ceramah singkat, demonstrasi, dan kerja kelompok. Bahan yang diperlukan: 1. Bahan-bahan demonstrasi, seperti spidol, gunting, selotip, tali plastik, dll 2. Lembar kertas besar 3. Kertas kosong. Persiapan Awal 1. Menyiapkan demonstrasi bahan-bahan untuk

3. Pelatih menjelaskan hal-hal perlu diperhatikan dalam menggunakan alat bantu yang disebutkan peserta 4. Bagi peserta dalam kelompok kecil @ 4 orang. 5. Bagikan bahan-bahan untuk dijadikan alat bantu pelatihan yang menarik 6. Minta setiap kelompok untuk membuat alat bantu visual sesuai dengan topik-topik kesehatan reproduksi yang telah ditentukan dengan cara diundi, misalnya alat kontrasepsi IUD, tubektomi, vasektomi, susuk KB, alat-alat reproduksi, narkoba dll. 7. Beri kesempatan 40 menit kepada setiap kelompok untuk membuat alat bantu 8. Minta setiap kelompok mempresentasikan hasil kelompok untuk kerja

2. Menyiapkan lembar petunjuk kerja kelompok 3. Menyiapkan bahan-bahan yang akan digunakan oleh kelompok untuk mengembangkan alat bantu, misalnya lembar kertas besar, lembaran kain, dsb. Waktu : 120 menit

Langkah/Tahapan Pelatihan 1. Tanyakan kepada peserta jenis-jenis alat bantu yang digunakan dalam pelatihan. 2. Pelatih mencatat jawaban lembar kertas besar pada

9. Pelatih merangkum dan memberikan komentar berupa pujian atau saran untuk perbaikan 10. Beri kesempatan peserta mengajukan pertanyaan.

Buku 4

19

Manual Pelatihan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

MODUL - 7 PRAKTIK MELATIH


Tujuan: Peserta mampu mendemonstrasikan kemampuan dan keterampilannya dalam melatih pendidik sebaya dan konselor mengenai kesehatan reproduksi. Metode: bermain peran (role play), demonstrasi, praktikum, dan diskusi. Bahan-bahan yang diperlukan 1. Kertas/karton besar/lembar transparansi bertuliskan lembar acuan (LAP07) LAP07 berisi lembar observasi 2. Copy dari modul untuk dijadikan bahan praktikum 3. Kartun berisi praktikum instruksi praktik Waktu : 300 menit

Langkah/tahap pelatihan 1. Pelatih menjelaskan bahwa peserta akan mempraktekkan keterampilan menjadi pelatih. 2. Minta peserta untuk berpasangan 3. Bagikan lembar instruksi yang berisi topik yang harus dibawakan kepada setiap pasangan 4. Beri peserta waktu 60 menit untuk mempersiapkan diri termasuk menyiapkan alat bantu dan merundingkan tugas yang akan dikerjakan 5. Minta satu pasangan untuk mempraktikkan selama 10 menit. 6. Sementara itu, peserta lain melakukan observasi sambil mengisi lembar observasi. 7. Bila memungkinkan, rekam demonstrasi yang dilakukan peserta untuk kemudian diulas. 8. Beri tanggapan dan komentar pada setiap presentasi. Minta juga peserta lain untuk memberikan tanggapan dan komentar. 9. Lakukan hal yang pasangan lainnya. sama pada

4. Handicamp + Kaset Video + Video recorder (bila memungkinkan) Persiapan Awal 1. Mempersiapkan dan memperbanyak lembar observasi (LAP07) 2. Menyiapkan kartun berisi instruksi praktik praktikum 3. Memperbanyak contoh-contoh modul yang berasal dari buku 2 atau buku 4 sesuai dengan topik yang dipilih, misalnya pendidik sebaya, komunikasi dua arah, komunikasi verbal non-verbal, dsb.
Buku 4

20

Manual Pelatihan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

10. Pelatih mengemukakan hal-hal positif yang sudah ditampilkan peserta serta mengingatkan hal-hal yang perlu diperbaiki.

11. Beri kesempatan peserta mengajukan pertanyaan.

MODUL - 8 EVALUASI PELATIHAN


Tujuan: 1. Peserta memahami perlunya dilakukan evaluasi pelatihan. 2. Peserta mampu mengidentifikasi halhal yang perlu dievaluasi. 3. Peserta mampu menyusun evaluasi pelatihan. Metode: curah pendapat, kelompok, dan kerja kelompok. Bahan yang diperlukan: 1. Kertas lembar acuan (LAP08b - c). LAP08a berisi perlunya evaluasi dalam suatu pelatihan LAP08b berisi hal-hal yang perlu dievaluasi LAP08c evaluasi berisi contoh-contoh alat Persiapan Awal Siapkan LAP08 sejumlah peserta Waktu : dan perbanyak

120 menit

Langkah/tahap pelatihan: 1. Lakukan curah pendapat pertanyaan berikut ini: a) Mengapa dalam suatu perlu dilakukan evaluasi b) Hal-hal apa dievaluasi saja untuk

diskusi

pelatihan

yang

perlu

2. Tuliskan jawaban pelatihan pada lembar besar yang telah disediakan 3. Tayangkan LAP08a (mengenai perlunya evaluasi dalam suatu pelatihan) diikuti dengan LAP08b (hal-hal yang perlu dievaluasi). Bandingkan dengan jawaban peserta. 4. Tayangkan LAP08c. Katakan pada peserta bahwa ada macam-macam alat untuk evaluasi pelatihan, misalnya kuesioner terbuka, kuesioner metode pengurutan

2. Lembar kertas besar 3. Transparan 4. Alat tulis

Buku 4

21

Manual Pelatihan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

penilaian (rating), lembar pre-test dan post-test. 5. Bagi peserta ke dalam empat kelompok. Setiap kelompok diberi tugas untuk menyusun satu macam alat evaluasi (misalnya kuesioner dengan rating untuk menilai penyelenggaraan pelatihan, kuesioner terbuka tentang pelatih atau materi pelatihan, dan daftar observasi untuk menilai keterampilan peserta).

6. Tuliskan jenis tugas dalam kartun kecil, berikan pada masing-masing kelompok. 7. Minta masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil kerja kelompok. 8. Minta kelompok lain untuk memberikan komentar dan saran untuk melengkapi. 9. Beri kesempatan mengajukan peserta untuk pertanyaan.

MODUL - 9 PENUTUP
Tujuan: Menutup pelatihan. secara formal 2. Jika diperlukan seseorang dari instansi setempat untuk menutup pelatihan, undang dan hubungi yang bersangkutan sekurangnya seminggu sebelum pelatihan, dan ceritakan secara singkat mengenai proses pelatihan. Waktu : 30 menit

Metode: Ceramah singkat. Bahan yang diperlukan: 1. Kertas lembar acuan (LAP09a dan LAP09b). LAP09a berisi lembar test akhir LAP09b berisi lembar evaluasi kegiatan secara keseluruhan konseling 2. Overhead Projector/OHP (bila ada) atau papan tulis. 3. Kertas kosong dan alat tulis. Persiapan Awal 1. Siapkan LAP09 sejumlah peserta. dan perbanyak

Langkah/tahap pelatihan: 1. Bagikan LAP09a dan LAP09b. 2. Terangkan cara mengisi LAP09a dan LAP09b. 3. Kumpulkan LAP09a dan LAP09b yang telah diisi. 4. Katakan kepada peserta bahwa mereka diminta menerapkan seluruh materi yang telah diterima selama

Buku 4

22

Manual Pelatihan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

pelatihan konselng. Sampaikan juga bahwa mereka akan disupervisi secara berkala. Dalam jangka waktu tertentu, konselor yang dinilai berpenampilan baik akan dilatih menjadi pelatih.

5. Bila ada seseorang tertentu yang akan menutup, minta orang tersebut menutup pelatihan secara formal.

Buku 4

23

Manual Pelatihan Konselor Sebaya Kesehatan Reproduksi

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

PENYUSUN Ninuk Widiantoro Mira Fajri Afiati

Buku 5

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

LEMBAR ACUAN PELATIHAN TOT


LAP01a LAP01b LAP01c LAP01d LAP02 LAP03a LAP03b LAP03c LAP03d LAP04 LAP05a LAP05b LAP06 LAP07 LAP08a LAP08b LAP08c LAP09a LAP09b = tujuan pelatihan = jadwal pelatihan = contoh formulir biodata; = contoh kuesioner menggali motivasi peserta = mempersiapkan & merencanakan pelatihan = gambar teori gelas kosong = gambar belajar dari pengalaman = pembelajaran orang dewasa (adult learning) = contoh tata ruang = 4 keterampilan melatih = tehnik pelatihan = kelebihan dan keterbatasan tehnik pelatihan = jenis alat bantu visual = lembar observasi = manfaat evaluasi dalam suatu pelatihan = apa dan siapa yang perlu dievaluasi = jenis-jenis evaluasi = lembar uji awal/akhir = lembar evaluasi kegiatan keseluruhan konseling

Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.

Buku 5

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

LAP01a

TUJUAN PELATIHAN
TUJUAN UMUM: Mempersiapkan tenaga potensial yang telah terseleksi untuk dijadikan pelatih pendidik sebaya yang handal dalam bidang kesehatan reproduksi TUJUAN KHUSUS Membekali calon pelatih dengan: Kemampuan/pengetahuan menyelenggarakan dan merencanakan pelatihan Kemampuan melatih dengan menggunakan teknik pembelajaran orang dewasa Berbagai teknik Keterampilan melatih Pengetahuan mengenai beragam teknik pelatihan Kemampuan mengevaluasi suatu pelatihan

Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.

Buku 5

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

LAP01b

JADWAL PELATIHAN TOT


Pembukaan dan Perkenalan (130 menit) Mempersiapkan dan Merencanakan Sebuah Pelatihan (60 menit) Melatih yang Efektif (Adult Learning) (60 menit) Keterampilan Pelatih (150 menit) Tehnik Pelatihan (120 menit) Menggunakan Alat Bantu Dalam Pelatihan (60 menit) Praktik Melatih (300 menit) Evaluasi Pelatihan (120 menit) Penutup (30 menit)

Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.

Buku 5

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

LAP01c

CONTOH FORMULIR DATA

MBAK NINUK (YAY. AIDS) Form Biodata peserta pelatihan

Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.

Buku 5

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

LAP01d

Contoh kuesioner menggali motivasi peserta pelatihan


HARAPAN PESERTA PELATIHAN

1.

2.

3.

Apa yang anda harapkan dari pelatihan ini (TOT)? .. .. .. Setelah pelatihan ini apa yang akan anda lakukan didaerah anda? .. . . . Perubahan apa yang anda harapkan dari pelatihan ini? ..

Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.

Buku 5

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

LAP02

MEMPERSIAPKAN & MERENCANAKAN PELATIHAN


Lokasi dan tempat Tempat pelatihan sesuai dengan dana yang ada, serta nyaman dan praktis bagi peserta dan pelatih. Ruangan pelatihan cukup luas dan nyaman. Perhatikan penataan ruangan, misalnya: penerangan ruangan dan sirkulasi udara. Jika diperlukan pikirkan juga ruangan tambahan untuk kerja kelompok kecil agar tidak saling mengganggu. Pikirkan juga fasilitas untuk penginapan, apakah cukup layak. Periksa kamar mandi, fasilitas telepon dan siapkan P3K (obat - obatan) Jika ruangan dan kamar - kamar harus disewa, pikirkan kebijakan untuk pembatalan Bicarakan dengan pengelola tempat mengenai jumlah ruang yang diperlukan dan jadwal kedatangan maupun keberangkatan peserta.

Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.

Buku 5

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

MEMPERSIAPKAN & MERENCANAKAN PELATIHAN


(lanjutan)

LAP02

Materi dan Bahan Pelatihan Siapkan materi yang akan dibagikan kepada peserta Siapkan sertifikat pelatihan Siapkan kartu nama, notes dan alat tulis untuk peserta Siapkan sarana pelatihan (spidol, kapur tulis, kertas lembar balik, lembar transparan, dll) Siapkan lembar informasi mengenai tempat pelayanan umum disekitar lokasi pelatihan (wartel, toko, tempat rekreasi, rute bis, taksi, dll). Peralatan Atur dan siapkan peralatan yang akan digunakan (overhead, papan tulis, layar, slide projektor, dsb) Pelatih mengatur dan mencoba gambar slide yang akan diperlihatkan terlebih dahulu Siapkan seorang teknisi untuk mengatasi kemungkinan kerusakan peralatan Cek kekuatan listrik ruangan Siapkan perlengkapan lain (baterai, kabel sambungan, colokan kombinasi listrik, lampu projektor cadangan Cek semua peralatan listrik Cek tempat fotocopy terdekat
Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.

Buku 5

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

LAP02

MEMPERSIAPKAN & MERENCANAKAN PELATIHAN


(lanjutan)

Tim Pelatih Lakukan koordinasi dengan tim pelatih Pastikan tanggal, waktu, dan topik pelatihan kepada masing-masing pelatih Pastikan materi dan cara melatih Hubungi pembicara tamu bila diperlukan Kirim undangan dan jadwal pelatihan kepada seluruh pelatih Beri informasi pada pelatih mengenai latar belakang peserta pelatihan Tanyakan peralatan yang diperlukan pelatih dan peralatan yang tersedia Siapkan tenaga sekretaris atau administrasi untuk membantu pelatih

Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.

Buku 5

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

MEMPERSIAPKAN & MERENCANAKAN PELATIHAN


(lanjutan)

LAP02

Peserta pelatihan Tentukan kriteria pemilihan peserta untuk memperoleh komitmen, motivasi dan keseriusan peserta dalam jangka panjang Tulis dan kirim undangan pada peserta, beserta jadwal dan waktu kedatangan dan keberangkatan Informasikan sarana yang ditanggung dan tidak ditanggung oleh penyelenggara pelatihan Kirimkan juga tujuan pelatihan dan daftar acara kepada peserta Atur dan informasikan secara jelas transportasi peserta mulai dari tempat asal sampai tiba ditempat pelatihan Informasikan alamat dan telepon, tempat pelatihan dan penginapan, serta contact-person yang bisa dihubungi Pembiyaan Upayakan agar pembiayaan direncanakan dan diatur secara cermat dan seksama

Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.

Buku 5

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

LAP03c

PEMBELAJARAN ORANG DEWASA (adult learning)


Cara belajar tradisional, ciri-ciri: Informasi satu arah dari pelatih ke peserta Pelatih merasa suatu keharusan memberikan pengetahuan/pengalamannya kepada peserta Pelatih mengira-ngira sendiri kebutuhan peserta Cara belajar orang dewasa, ciri-ciri Peserta harus tahu mengapa mereka perlu ikut pelatihan Peserta mempunyai kebutuhan untuk mengarahkan dirinya sendiri Peserta dianggap sebagai orang yang mempunyai pengetahuan dan pengalaman sehubungan dengan pelatihan ini Peserta akan lebih aktip bila diberi kesempatan untuk berpendapat dan berpikir

Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.

Buku 5

10

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

PEMBELAJARAN ORANG DEWASA (adult learning)


(lanjutan)

LAP03c

Tiga prinsip dasar belajar orang dewasa 1. Kesempatan berpartisipasi aktif dalam pelatihan membuat peserta mudah mengingat materi pelatihan 2. Keberhasilan pelatihan tergantung dari suasana yang diciptakan. Jika banyak pujian dan dorongan peserta akan lebih giat dan bersemangat 3. Pengalaman belajar secara mandiri akan meningkatakan rasa percaya diri dan tanggung jawab peserta Hasil penelitian tentang belajar membuktikan bahwa umumnya orang akan mengingat: 20% dari apa yang didengar 40% dari apa yang didengar dan dilihat 80% dari apa yang ditemukan dan dilakukan
Sumber: Studies by socony - vacum 0:1, peroleum company, pathfinder international.

Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.

Buku 5

11

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

LAP03d

CONTOH TATA RUANG


Meja pelatih Papan/OHP pelatih

Peserta

Meja pelatih

Papan/OHP pelatih

Peserta

Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.

Buku 5

12

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

LAP04

EMPAT KETERAMPILAN MELATIH


4 Keterampilan melatih 1. Komunikasi verbal - non verbal 2. Pujian dan dukungan 3. Memberikan umpan balik 4. Menggunakan pertanyaan terbuka tertutup I. CARA BERKOMUNIKASI Sentuhan Gerakan tubuh Suara Penggunaan kota Ekspresi wajah Kontak mata

Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.

Buku 5

13

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

LAP04

EMPAT KETERAMPILAN MELATIH (lanjutan)


Komunikasi non-verbal
Cara berkomunikasi tanpa menggunakan kata-kata. Contoh komunikasi non-verbal yang efektif: Tampil santai Senyum Menatap mata peserta secara bergantian Menunjukkan minat saat peserta berbicara Tampil serius Menunjukkan penerimaan Jangan berdiri/menatap pada satu tempat Usahakan tidak berdiri dibelakang meja atau podium Mendekatlah kepada peserta yang sedang bicara Tampil bersemangat karena semangat akan menular Hindari gerakan anggota tubuh yang mengganggu, misal menunjuk-nunjuk dengan jari, menggarukgaruk rambut

Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.

Buku 5

14

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

LAP04

EMPAT KETERAMPILAN MELATIH (lanjutan)


Komunikasi verbal
Kata-kata yang diucapkan dengan nada berbeda bisa memberikan arti dan interprestasi berbeda (ramah, formal, sinis, marah) karenanya pelatih perlu: Membuat variasi dari nada, volume dan kecepatan suara untuk menekankan hal-hal penting yang akan disampaikan. Hindari nada datar yang bisa menyebabkan kebosanan. Mulai setiap sesi pelatihan dengan pengantar yang jelas dengan nada suara yang kuat untuk menarik perhatian, contoh: nah, saudara sekarang kita memasuki bagian yang paling penting Berkomunikasilah secara personal dengan menyebut nama kecil/panggilan peserta yang disukainya Libatkan pendapat dan contoh dari peserta pelatihan, misal: seperti yang dikatakan oleh mbak Siti... Jangan terlalu sering mengulang kalimat yang sama Gunakan kata-kata yang mudah dimengerti dan diterima peserta. Humor sangat dianjurkan, namun jangan yang memberi makna negatif (vulgar) Usahakan kesinambungan antara sesi pelatihan
Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.

Buku 5

15

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

LAP04

EMPAT KETERAMPILAN MELATIH (lanjutan)


II. PUJIAN DAN DUKUNGAN
Pujian bermakna penerimaan atas ucapan peserta Dukungan bisa meningkatkan percaya diri peserta. Contoh: Betul sekali, wah ini ide yang hebat, Betul, seratus

III. MEMBERIKAN UMPAN BALIK


Umpan balik (UB) adalah cara berkomunikasi untuk menerima dan memberikan informasi mengenai perilaku Tata cara memberikan umpan balik 1. UB diberikan Pada waktu yang tepat (segera, jangan ditunda) Ditujukan langsung pada orang yang dituju. Dengan kata seperti saya pikir, saya rasa Dalam porsi yang pas tidak kurang atau berlebih Langsung pada perilaku yang dapat diubah. 2. UB mengandung pengertian apa dan bagaimana bukan menjawab pertanyaan mengapa 3. UB tidak mengandung penilaian atau nasehat 4. UB tidak mengandung sentimen atau prasangka 5. UB ditujukan untuk memperjelas komunikasi

Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.

Buku 5

16

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

LAP04

EMPAT KETERAMPILAN MELATIH (lanjutan)


Yang perlu di ingat: Tidak ada pertanyaan yang bodoh Tidak perlu merasa malu Tidak boleh merendahkan nilai/norma yang dianut seseorang Tidak boleh menanyakan hal pribadi Tiap peserta punya hak untuk berpartisipasi Bicara atas nama anda sendiri gunakan pernyataan saya

Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.

Buku 5

17

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

EMPAT KETERAMPILAN MELATIH (lanjutan)


IV. PERTANYAAN TERBUKA & TERTUTUP
Pertanyaan tertutup dapat dijawab dengan singkat, bisa hanya dengan satu kata Pertanyaan terbuka memerlukan jawaban yang lebih panjang dan harus dipikir terlebih dahulu Keuntungan dan Kerugian Pertanyaan Tertutup: Dapat dijawab dengan cepat. Bila peserta menjawab tidak mengerti maka pelatih harus menjelaskan seluruh informasi dengan menggunakan contoh-contoh yang lain (bisa merupakan bumerang bagi pelatih). Keuntungan Pertanyaan Terbuka: Pertanyaan terbuka bisa merangsang pendapat/pikiran peserta, bisa merupakan cara untuk membuka diskusi. Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa pertanyaan terbuka bukan cara yang baik untuk digunakan pada peserta yang tidak terbiasa mengemukakan pendapatnya

Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.

21

Buku 5

18

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

LAP05a

TEHNIK PELATIHAN
I. CERAMAH adalah penyampaian informasi yang umumnya dilakukan dengan cara komunikasi satu arah. Tehnik ini sering digunakan, tapi sebenarnya kurang mendidik. KELEBIHAN: Dapat menyampaikan informasi yang tidak tersedia dalam buku Dapat mempresentasikan fakta-fakta secara singkat Dapat memberikan banyak fakta dan info sekaligus Dapat menghubungkan antara teori dan praktik atau pengalaman nyata KETERBATASAN Peserta menjadi pasif, tidak dilibatkan Kurang kesempatan untuk pemecahan masalah Sulit mengevaluasi kemajuan belajar peserta Peserta sukar memusatkan perhatian dalam jangka waktu lama Hal-hal yang dapat diingat sangat sedikit

SAYA LUPA APA YANG SAYA DENGAR

Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.

22

Buku 5

19

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

LAP05a

TEHNIK PELATIHAN

(lanjutan)

II. CERAMAH DENGAN GAMBAR adalah ceramah dengan menyertakan gambargambar atau audio visual KELEBIHAN Lebih menarik dari ceramah karena dilengkapi dengan gambar-gambar. Materi bahasan lebih mudah di ingat Konsep bahasan dapat di perjelas dengan menggunakan gambar atau model KETERBATASAN Pelatih membutuhkan persiapkan lebih lama Pelatih harus lebih kreatif

Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.

23

Buku 5

20

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

LAP05a

TEHNIK PELATIHAN

(lanjutan)

III. DEMONSTRASI adalah gabungan presentasi visual dan verbal. Pelatih menerangkan dan memberikan contoh - contoh informasi yang diberikannya. KELEBIHAN Merangsang beberapa indera sekaligus, sehingga informasi mudah dan lebih lama diingat Menghubungkan teori dan praktik Memperjelas prinsip dan konsep-konsep Mengembangkan kemampuan observasi Memperjelas hal-hal yang harus dilakukan Jawaban dari pertanyaan bisa ditampilkan secara lebih praktis KETERBATASAN Sangat tergantung pada keterampilan pelatih dalam menampilkan sebuah contoh Tidak efektif digunakan dalam kelompok yang terlalu besar Membutuhkan waktu lebih panjang Tidak efektif bila tidak segera diikuti dengan latihan oleh peserta

Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.

24

Buku 5

21

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

LAP05a

TEHNIK PELATIHAN

(lanjutan)

IV. DISKUSI adalah suatu aktivitas dimana peserta berinteraksi dengan cara berbagi pendapat, pandangan, ide dan pemecahan masalah berdasarkan kekuatan pikiran masing-masing Ada 2 macam diskusi 1. Diskusi kelas, pelatih mengarahkan dan mengontrol diskusi secara terstruktur (agar tujuan tercapai) 2. Diskusi kelompok, peserta dibagi dalam kelompok kecil dengan topik telah ditentukan. Peserta berbicara secara tidak formal dan bebas dalam mengemukakan pendapat. KELEBIHAN Peserta dapat saling bertukar ide dan pengalaman Mengembangkan kekuatan pikiran Membuat partisipasi peserta menjadi optimal Meningkatkan penghargaan terhadap pendapat orang lain Pelatih bisa mengevaluasi sikap dan pengetahuan peserta Membina kerjasama KETERBATASAN Perlu keterampilan sebagai ketua kelompok Suasana berisik, bila pelatih tidak mengelola dengan baik Memerlukan waktu lebih lama Bisa menyinggung perasaan peserta jika idenya dikritik Bila ketua kelompok dominan, proses berbagi tidak terjadi
Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.
25

Buku 5

22

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

LAP05a

TEHNIK PELATIHAN

(lanjutan)

V. BERMAIN PERAN adalah suatu tindakan yang dilakukan peserta dalam bentuk sandiwara, memerankan figur-figur tertentu yang ditentukan pelatih sebelumnya (misalnya, A menjadi konselor dan B menjadi klien ) KELEBIHAN Membantu peserta dalam mengembangkan keterampilan berpikir secara langsung Mendorong peserta untuk menggali dan mempraktikan berbagai cara pemecahan masalah Mengembangkan keterampilan berkomunikasi Membuat proses belajar lebih menyenangkan Membuka kesempatan untuk menunjukan perilaku dan kemampuan peserta KETERBATASAN Perlu waktu lama Hanya dapat digunakan untuk memainkan suatu situasi (misal mencontohkan cara konseling ) Sangat tergantung pada usaha peserta Tidak cocok digunakan untuk semua topik

Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.

26

Buku 5

23

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

LAP05a

TEHNIK PELATIHAN

(lanjutan)

VI. TANYA JAWAB Adalah metode dimana baik pelatih maupun peserta melontarkan pertanyaan untuk dijawab KELEBIHAN Pelatih dapat menilai pemahaman/pengetahuan peserta Dapat merangsang minat dan membuat peserta berfikir Peserta bisa mengekspresikan pendapatnya Membuat informasi menjadi jelas KETERBATASAN Agar tanya jawab berlangsung efektif, pelatih harus: Berfikir cepat dan jelas Menguasai permasalahan Mampu mengulang pertanyaan yang tidak jelas Mampu memutuskan dengan cepat kapan suatu pertanyaan/jawaban harus diperdalam Ada 2 jenis pertanyaan: 1. Pertanyaan yang memancing ingatan (kapan kasus AIDS pertama ditemukan di Indonesia/) 2. Pertanyaan yang merangsang pikiran/pendapat (mengapa penyebaran AIDS sangat cepat di Indonesia?)
Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.
27

Buku 5

24

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

LAP05a

TEHNIK PELATIHAN

(lanjutan)

VII. PRAKTIKUM Adalah aktifitas di mana peserta memperagakan pengetahuan yang diperoleh di kelas di bawah pengawasan pelatih. Contoh: membuat alat bantu penerangan KELEBIHAN Peserta dapat memperagakan pengetahuannya dalam kondisi yang sebenarnya Pelatih bisa langsung memberikan masukan Peserta bisa mengatasi persoalan dalam situasi yang sebenarnya Pelatih bisa mengidentifikasi informasi/ketrampilan yang masih diperlukan peserta Mendorong peserta berkreasi secara bebas KETERBATASAN Membutuhkan perencanaan matang (misal, mengundang orang luar untuk berperan sebagai klien atau peserta penyuluhan) Jika peserta terlalu banyak, waktu yang dibutuhkan akan lam dan bis amenimbulkan kebosanan Tujuan praktikum tidak tercapai tanpa supervisi yang baik dari pelatih

Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.

28

Buku 5

25

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

LAP05a

TEHNIK PELATIHAN

(lanjutan)

VIII. KERJA KELOMPOK Adalah teknik pelatihan di mana peserta dibagi menjadi beberapa kelompok kecil untuk mengerjakan suatu tugas KELEBIHAN Mengembangkan rasa tanggung jawab kelompok Menumbuhkan saling pengertian Mengajar peserta untuk membuat kesepakatan bersama Menyingkat waktu Sama dengan kelebihan pada teknik diskusi. KETERBATASAN Membutuhkan perencanaan yang cermat Membutuhkan pelatih yang terampil Tehnik kerja kelompok dapat digunakan dalam kondisi: Topik bahasan terlalu luas Memancing lebih banyak pendapat untuk cara spesifik Saat kelompok kecil dianggap perlu untuk merencanakan suatu aktifitas

Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.

29

Buku 5

26

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

LAP06

JENIS ALAT BANTU VISUAL


BERUPA GAMBAR, MISALNYA: POSTER
ATAU GAMBAR YANG DIBUAT SENDIRI DI ATAS SEHELAI KARTON ALAT PERAGA, MISALNYA: JENIS-JENIS KONTRASEPSI, CELEMEK BERGAMBAR. BERUPA TULISAN SINGKAT, MISALNYA: KARTON BERTULISKAN, LEMBAR TRANSPARAN DLL

Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.

30

Buku 5

27

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

LAP07

LEMBAR OBSERVASI PELATIHAN TOT


NO. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 1. 2. 3. 4. 5. 6. JENIS KEGIATAN NON-VERBAL SUARA LANTANG DAN JELAS TEMPO BICARA TIDAK TERLALU CEPAT PANDANGAN TERBAGI SECARA MERATA DAPAT MENJAGA KONTAK MATA WAJAH RAMAH PERCAYA DIRI VERBAL MENYEBUT PESERTA DENGAN NAMA MEMASTIKAN BAHWA PESERTA PAHAM MEMBERI KESEMPATAN BERTANYA MENDORONG PESERTA YANG PASIF UNTUK BERBICARA MEMBERI PUJIAN MENYISIPKAN HUMOR YA TIDAK

Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.

31

Buku 5

28

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

LAP08a

MANFAAT EVALUASI DALAM PELATIHAN


Memberikan masukan, untuk:

Meningkatkan keterampilan dan kemampuan pelatihan Meningkatkan kualitas penyelenggaraan pelatihan Mengetahui dampak pelatihan kepada peserta (pengetahuan peserta, keterampilan dan penerimaan peserta)

Pelatih dapat memperbaiki design pelatihan yang akan digunakan pada kesempatan lain Menilai/mengukur keberhasilan pelatihan

Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.

32

Buku 5

29

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

LAP08b

APA DAN SIAPA YANG PERLU DIEVALUASI


1.
PELATIH

Keterampilan Penguasaan materi

2.

PESERTA

Pemahaman Keterampilan

3. 4.

MATERI PELATIHAN PENYELENGGARAAN


Tempat Waktu Konsumsi Alat bantu dll

Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.

33

Buku 5

30

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

LAP08c

JENIS-JENIS EVALUASI
Lembar evaluasi harian Kotak saran Test awal dan akhir Wawancara Kuesioner Percakapan informal Check list

NOTE: Evaluasi bisa dilakukan sepanjang pelatihan -- baik pada awal, akhir maupun pada saat pelatihan dengan cara yang berbeda-beda.

Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.

34

Buku 5

31

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

LAP09a

UJI AWAL/AKHIR
No. PERNYATAAN PENILAIAN

I. Lingkari Ya atau Tidak pada pernyataan berikut: 1. Apakah anda pernah mengikuti TOT? Ya, Tidak Bila Ya, sebutkan kapan dan dimana? .. Apakah anda berkesempatan mempraktekkan keterampilan anda? Ya, Tidak

2.

II. Nilai Keterampilan/pengetahuan anda dengan melingkari jawaban yang tersedia 1. 3. 4. Tahu pengetahuan pembelajaran orang dewasa Tahu kapan harus menggunakan pertanyaan tertutup dan terbuka Memahami teknik-teknik pelatihan sbb: a. Ceramah b. Ceramah dengan gambar c. Demonstrasi d. Diskusi e. Bermain peran f. Tanya jawab 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 3 1 1 2 2 3 3

Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.

35

Buku 5

32

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

LAP09a

UJI AWAL/AKHIR
No. 4. PERNYATAAN

(lanjutan)

PENILAIAN

Memahami teknik-teknik pelatihan sbb: g. Praktikum i. Kerja keompok 1 1 2 2 3 3

III. Evaluasi mempunyai bagian penting untuk meningkatkan pelatihan. Jawab pertanyaan berikut: 1. Apa manfaat evaluasi dalam pelatihan? Jawab: . . . Apa saja yang harus dievaluasi dalam sebuah pelatihan? Jawab: .. .. .. Buatlah contoh sebuah lembar evaluasi.

2.

3.

Cara penilaian bagian III: (1) Tahu; (2) Tidak tahu; (3) Ragu-ragu.

Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.

36

Buku 5

33

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

LAP09b

LEMBAR EVALUASI
No. PERNYATAAN I. MATERI PELATIHAN Saya merasa 1. 2. Tujuan setiap modul diuraikan dengan jelas Materi disajikan dengan jelas dan sistematis II. INFORMASI TEKNIS Saya mendapat pengetahuan baru dalam pelatihan ini. Saya sekarang mampu: 1. 2. 3. 4. Menerapkan teori pembelajaran orang dewasa dalam suatu pelatihan Keterampilan melatih, misalnya komunikasi Verbal Non Verbal Menggunakan berbagai teknik pelatihan, termasuk menggunakan alat bantu visual Merencanakan dan mengevaluasi pelatihan 1 1 1 1 2 2 2 2 3 3 3 3 4 4 4 4 1 1 2 2 3 3 4 4 1 2 3 4

Penilaian: (1) tidak setuju; (3) setuju;

(2) kurang setuju; (4) sangat setuju

Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.

37

Buku 5

34

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

LAP09b

LEMBAR EVALUASI
No. PERNYATAAN III. METODE PELATIHAN Saya merasa 1. 2. 3. 4. Penyampaian materi oleh pelatih jelas dan sistematis Diskusi kelas menambah pemahaman saya

(lanjutan)
1 2 3 4

1 1 1 1

2 2 2 2

3 3 3 3

4 4 4 4

Saya melatih keterampilan dalam bermain peran dan praktikum Pelatih mendorong saya untuk bertanya dan mengemukakan pendapat IV. LOKASI DAN JADWAL PELATIHAN

Saya merasa 1. 2. Lokasi dan jadwal pelatihan cukup tepat Materi pelatihan yang dibutuhkan tersedia 1 1 2 2 3 3 4 4

SARAN: . Penilaian: (1) tidak setuju; (3) setuju; (2) kurang setuju; (4) sangat setuju

Disusun oleh Ninuk W., Agustine D., dan Herna L.

38

Buku 5

35

Manual Pelatihan Pelatih (TOT) Pendidik & Konselor Sebaya

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

PENYUSUN Ninuk Widiantoro Siti Fatonah Mira Fajri Afiati

Buku 6

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI A. B. C. D. E. F. PANDUAN SELEKSI CALON PENDIDIK SEBAYA PANDUAN SELEKSI KONSELOR SEBAYA PANDUAN KERJA PENDIDIK SEBAYA PANDUAN KERJA KONSELOR SEBAYA PANDUAN MONITORING UNTUK MEMANTAU KINERJA PS/KS DALAM MELAKUKAN KEGIATAN FORMULIR PRE & POST TEST 21 37 1 7 9 14

Buku 6

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

A.

PANDUAN SELEKSI CALON PENDIDIK SEBAYA


4. Menyiapkan Formulir Calon-Calon Pendidik Sebaya, menyiapkan lembar absen berikut no. telpnya

1. Kumpulkan calon 2 sampai 3 kali dari jumlah yang dibutuhkan; 2. Memperhatikan syarat-syarat umum yang perlu diperhatikan dalam penentuan calon PS, yaitu : a) Usia berkisar antara 18 hingga 30 tahun, namun diutamakan berusia 20 hingga 29 tahun dan tidak duduk di kelas 3 SMU (karena ujian) b) Calon PS adalah orang yang aktif baik itu di organisasi sekolah, masyarakat dan memiliki banyak relasi c) Calon PS sebaiknya berasal dari agama, status perkawinan, status ekonomi, usia dan suku yang berbeda d) Bersedia mengikuti ketentuan yang dibuat misalnya adanya pelatihan, tugas yang akan diemban dsb. 3 Menjelaskan kepada calon mengenai hak dan kewajiban yang mereka peroleh selama ikut dalam program. Ini penting diketahui sejak awal oleh calon sehingga mereka dapat memutuskan sejak awal apakah mereka akan terlibat atau tidak dengan program yang akan dikembangkan;

Sebelum memulai untuk seleksi, harap untuk memeriksa isian formulir dari masing-masing calon Pendidik Sebaya. 1. Menyeleksi Calon-Calon Pendidik Sebaya, dengan cara : a) Membagi group menjadi dua bagian Group yang pertama kita berikan topik-topik yang menarik sambil kita ajak berdiskusi. Topik-topik tersebut antara lain : 1. Pandangan Remaja PORNOGRAFI Mengenai

2. Kehamilan Di Luar Nikah Dari diskusi ini hal-hal yang perlu diperhatikan adalah orang-orang yang aktif dalam diskusi dan memberikan jawaban dengan alasan yang dapat diterima. Sememtara itu, group yang lain bisa kita berikan tugas mengarang. Calon PS bebas memilih tema karangan yang telah ditetapkan. Tema karangan tersebut : 1. Kenapa Anda Berminat Menjadi Pendidik Sebaya 2. Jika Anda Sudah Dilatih, Apa yang Akan Anda lakukan ?

Buku 6

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

Dari karangan ini dapat dilihat tulisan, bahasa, dan isi karangan. ( lihat motivasinya ) b) Melakukan wawancara semua peserta calon PS. Hal penting yang perlu diperhatikan dalam wawancara ini adalah : sikap dari PS, penggunaan bahasa, nada suara, penampilan & pengetahuan, bahasa tubuh, kontak mata, cara menjawab dan semua hal-hal sekecil-kecilnya yang dilakukan oleh PS.

Perlu diperhatikan untuk wawancara, harap dilakukan secara ringkas dan tidak bertele-tele, fokuskan kepada hal-hal yang penting untuk digali.

Jika terlalu banyak peserta calon PS, bisa berbagi dengan teman. Menginformasikan kepada calon PS kapan pengumuman Pendidik Sebaya yang terpilih akan dilakukan.

Buku 6

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

FORMULIR INTERVIEW
Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi Remaja

NAMA JENIS KELAMIN PEKERJAAN HARI/TANGGAL

: ________________________________________________________________ : ________________________________________________________________ : ________________________________________________________________ : ________________________________________________________________

TEMPAT PERTEMUAN : ________________________________________________________________ 1. PANDANGAN TENTANG PROGRAM KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA


______________________________________________________________________________________________________ ______________________________________________________________________________________________________ ______________________________________________________________________________________________________ ______________________________________________________________________________________________________ ______________________________________________________________________________________________________ ______________________________________________________________________________________________________

2. HARAPAN TENTANG PROGRAM KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA


______________________________________________________________________________________________________ ______________________________________________________________________________________________________ ______________________________________________________________________________________________________ ______________________________________________________________________________________________________ ______________________________________________________________________________________________________ ______________________________________________________________________________________________________

Buku 6

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

SARAN-SARAN

______________________________________________________________________________________________________ ______________________________________________________________________________________________________ ______________________________________________________________________________________________________ ______________________________________________________________________________________________________ ______________________________________________________________________________________________________ ______________________________________________________________________________________________________

Buku 6

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

FORMULIR IDENTITAS PESERTA


Pelatihan Pendidik Sebaya

DATA PRIBADI

NAMA JENIS KELAMIN TMP/TGL LAHIR ALAMAT TELPON/E-MAIL PENDIDIKAN PEKERJAAN ALAMAT DATA KELUARGA

: ________________________________________________________ : ________________________________________________________ : ________________________________________________________ : ________________________________________________________


________________________________________________________

: ________________________________________________________ : ________________________________________________________ : ________________________________________________________ : ________________________________________________________


________________________________________________________

NAMA AYAH/IBU PEKERJSAAN AYAH/IBU URUTAN KELUARGA STATUS PERNIKAHAN NAMA SUAMI/ISTRI PEKERJAAN SUAMI/ISTRI JUMLAH ANAK

: ________________________________________________________ : ________________________________________________________ : ________________________________________________________ : ________________________________________________________ : ________________________________________________________ : ________________________________________________________ : ________________________________________________________

Buku 6

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

AKTIFITAS DALAM ORGANISASI

NAMA ORGANISASI ALAMAT TELEPON JABATAN

: ________________________________________________________ : ________________________________________________________
________________________________________________________

: ________________________________________________________ : ________________________________________________________

KEGIATAN YG DILAKUKAN : ________________________________________________________


________________________________________________________ ________________________________________________________

NAMA ORGANISASI ALAMAT TELEPON JABATAN

: ________________________________________________________ : ________________________________________________________
________________________________________________________

: ________________________________________________________ : ________________________________________________________

KEGIATAN YG DILAKUKAN : ________________________________________________________


________________________________________________________ ________________________________________________________

NAMA ORGANISASI ALAMAT TELEPON JABATAN

: ________________________________________________________ : ________________________________________________________
________________________________________________________

: ________________________________________________________ : ________________________________________________________

KEGIATAN YG DILAKUKAN : ________________________________________________________


________________________________________________________

Buku 6

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

B.

PANDUAN SELEKSI KONSELOR SEBAYA


sebaya dilakukan dalam konteks dengan penilaian yang dilakukan oleh supervisor terhadap kinerja mereka selama melakukan pendampingan.

Calon konseor sebaya adalah mereka yang telah mendapatkan pelatihan pendidik sebaya dan telah melakukan tugas tertentu (pembinaan kelompok) yang diberikan. Seleksi calon konselor

Kriteria Penilaian Pendidik Sebaya Menjadi Konselor Sebaya


Untuk menjadi seorang Konselor Sebaya bukanlah hal yang mudah. Para pendidik sebaya dimonitoring, dipantau untuk nantinya disaring secara ketat siapa saja yang memang benar-benar dapat menjadi seorang konselor sebaya. Penilaian ini dilakukan. Bukan hanya kemampuan penguasaan materi, namun akhlak, kepribadian, dan prilaku sehari-hari, apakah dapat menjadi panutan khususnya bagi teman-teman sebayanya dan lingkungan masyarakat sekitar pada umumnya menjadi point penting dalam pemilihan seorang Konselor Sebaya. Berikut ini disajikan Kriteria penilaian untuk menjadi Konselor Sebaya dari penguasaan materi atau ketrampilan pemberian informasi :

Umum :
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Pendahuluan; Kecocokan isi materi; Relevansi isi materi; Penggunaan materi visual; Kejelasan presentasi; Kemampuan membangkitkan partisipasi pendengar; Adanya komunikasi dua arah; Ketrampilan kelompok; pemeliharaan

Manajemen waktu; Manajemen Pertanyaan; Manajemen masalah;

Buku 6

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

12.

Kesimpulan.

Verbal :
1. 2. 3. 4. 5. 6. Menyebut nama; peserta dengan

Non Verbal :
1. 2. 3. 4. 5. 6. Suara lantang dan jelas; Tempo bicara; Kesamaan perhatian kepada peserta; Dapat menjaga kontak mata; Wajah ramah; Percaya diri.

Memberi kesempatan peserta untuk bertanya; Memastikan memahami ; peserta

Mendorong peserta peserta yang pasif untuk berbicara; Memberi pujian; Menyisipkan humor.

Buku 6

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

C.

PANDUAN KERJA PENDIDIK SEBAYA

DEFINISI PENDIDIK SEBAYA

Siapakah pendidik sebaya itu?


Pendidik sebaya (PS) adalah orang yang menjadi narasumber bagi kelompok sebayanya. Mereka adalah orang yang aktif dalam kegiatan sosial di lingkungannya, misalnya aktif di Karang Taruna, pramuka, OSIS, pengajian, PKK dll.

2.

Berminat pribadi untuk menyebarluaskan informasi tentang KRR. Lancar membaca dan menulis. Memiliki ciri-ciri kepribadian, antara lain: ramah, lancar dalam mengemukakan pendapat, luwes dalam pergaulan, berinisiatif dan kreatif, serta senang menolong.

3. 4.

Mengapa pendidik diperlukan ?


1.

sebaya

Karena pendidik sebaya menggunakan bahasa yang kurang lebih sama sehingga mudah dipahami oleh sebayanya. Teman sebaya mudah untuk mengemukakan pikiran dan perasaannya dihadapan pendidik sebayanya. Pesan-pesan sensitif disampaikan secara terbuka dan santai. dapat lebih

MEMPERSIAPKAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN SEBAYA

2.

Dimanakah pendidikan sebaya dapat dilakukan ?


Dimana saja, asalkan nyaman buat pendidik sebaya dan kelompoknya. Kegiatan tidak harus dilakukan di ruangan khusus. Bisa dilakukan di teras mesjid, di bawah pohon yang rindang, di ruang kelas yang sedang tidak dipakai, di aula gereja, dsb. Tempat pendidikan sebaya sebaiknya tidak ada orang lalu-lalang dan jauh dari kebisingan sehingga diskusi bisa berlangsung tanpa gangguan.

3.

Apakah syarat-syarat menjadi pendidik sebaya ?


1. Aktif dalam kegiatan sosial dan populer di lingkungannya.
Buku 6

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

Persiapan apa dilakukan oleh pertemuan ?

yang harus PS sebelum

reproduksi. Hindari cara-cara pemaksaan. Para peserta harus bersedia mengikuti seluruh pertemuan yang telah disepakati. 2. Kuasai buku materi dalam buku pegangan PS. Agar anggota kelompok dapat memahami keseluruhan materi dalam buku pegangan PS, paket pertemuan sekurang-kurangnya 6 kali. Setiap kali pertemuan berlangsung antara 2-2 1/2 jam. Tentukan tempat dan waktu pertemuan bersama-sama dengan anggota kelompok. Pendidikan diberikan oleh dua orang pendidik sebaya. Satu pendidik menyampaikan dan memandu diskusi. Sementara pendidik lainnya melakukan pencatatan terhadap pertanyaan yang diajukan peserta, observasi tentang proses diskusi, serta membantu menjawab pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh pendidik sebaya pertama. Peran pendidik sebaya dilakukan bergantian dengan tujuan agar setiap
Panduan Praktis Operasional

1.

Membaca kembali topik yang akan disajikan, baik topik pada buku panduan pertama maupun bacaan lainnya. Menyiapkan alat bantu sesuai topik yang akan dibicarakan, misalnya alat peraga, contoh kasus, kliping koran, dll.

2.

PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN SEBAYA

3.

Berapakah jumlah ideal peserta kegiatan pendidikan sebaya ?


Sebaiknya pendidikan sebaya diikuti oleh tidak lebih dari 12 peserta, agar setiap peserta mempunyai kesempatan lebih banyak untuk bertanya dan berdiskusi. Bila peserta terlalu banyak, tanya jawab menjadi tidak efektif, dan peserta tidak akan mendapatkan pemahaman serta pengetahuan yang cukup memadai.

4.

Bagaimana menyelenggarakan pendidikan sebaya ?


1. Cari teman seusia yang berminat terhadap kesehatan

Buku 6

10

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

pendidik mempunyai kesempatan untuk menyampaikan informasi dan memandu diskusi. Selain itu, mereka juga bisa saling memberikan umpan balik selama menjadi pemandu. 5. Mulai acara dengan menyampaikan materiselama tidak lebih dari 30 menit. Waktu selebihnya dapat digunakan untuk diskusi dan tanya jawab. Bila ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab, maka jawaban dapat ditunda untuk ditanyakan kepada mereka yang lebih ahli (dokter, bidan, perawat, psikolog, tokoh masyarakat, tokoh agama, dll). Catatlah pertanyaan yang tidak dapat terjawab tersebut. Setelah mendapat jawabannya, jangan lupa untuk menyampaikannya segera kepada anggota kelompok pada saat pertemuan berikutnya.

Topik-topik apa yang perlu disampaikan kepada kelompok ?


1. Pengenalan organ reproduksi laki-laki dan perempuan serta fungsi dari organ tersebut. Tumbuh kembang remaja Kehamilan, termasuk kehamilan yang tidak diinginkan, bahaya aborsi yang tidak aman, metode pencegahan kehamilan Penyakit menular seksual (PMS), termasuk HIV/AIDS Gender dan seksualitas Narkoba dan Miras

2. 3.

6.

4. 5. 6.

KIAT MENJADI PENDIDIK SEBAYA YANG SUKSES

Bagaimana kiat menjadi PS yang sukses ?


1. Memiliki motivasi untuk menguasai materi dengan terus belajar dan memperluas wawasan pengetahuan. Rajin mencari tambahan informasi

2. 3.

Tidak merasa lebih pintar dari kelompoknya

Buku 6

11

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

4. 5. 6.

Menghargai waktu yang telah disepakati bersama kelompok Menyisipkan humor pemberian materi dalam

8.

Duduk dalam lingkaran agar bisa memandang satu sama lain Jaga kontak mata dalam bicara Perhatikan peserta bahasa tubuh

9. 10. 11. 12.

Kreatif mencari alat bantu/peraga untuk menghidupkan suasana pembelajaran Mampu menjalin hubungan baik dengan orang-orang yang dapat menjadi nara sumber (dokter, paramedis, psikolog, tokoh agama, tokoh masyarakat, guru, dsb.)

Periksa apakah informasi sudah dimengerti peserta Bersikap sabar dan percaya diri

7.

Hal-hal apa yang sebaiknya dihindari oleh PS dalam melakukan pendidikan sebaya ?
1. 2. 3. Jangan membelakangi peserta Jangan meremehkan komentar dan pendapat peserta Materi jangan dibaca, tetapi sudah dihafal dan dipahami oleh PS Jangan berbicara dengan nada yang keras kepada peserta Jangan menggurui Jangan hanya melihat pada satu atau dua peserta saja, tetapi keseluruhan secara bergantian

Apa yang harus dilakukan oleh PS dalam melakukan pendidikan sebaya ?


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Membuat persiapan sebelum kegiatan pembelajaran Menguasai materi Melibatkan semua peserta dalam kegiatan pembelajaran Menggunakan alat bantu Berbicara jelas dan lantang Pancing pertanyaan peserta pertemuan dari

4. 5. 6.

Atur waktu dengan cermat

Buku 6

12

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

7.

Jangan menghakimi peserta yang mengungkapkan suatu

permasalahan atau bertanya.

Buku 6

13

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

D.

PANDUAN KERJA KONSELOR SEBAYA


Apa yang dimaksud dengan penyuluhan KR oleh KS ?
Penyuluhan adalah kegiatan pemberian informasi kesehatan reproduksi kepada kelompok besar, yaitu kelompok masyarakat yang beranggotakan lebih dari 50 orang. Contoh adalah: 1. 2. kegiatan ini antara lain

PENGERTIAN

Apa yang dimaksud dengan Konseling ?


Konseling adalah suatu proses tatap muka dimana seorang konselor membantu kliennya untuk memecahkan masalahnya.

Apa yang dimaksud dengan Konselor ?


Konselor adalah orang yang dapat membantu orang lain agar mampu mencari penyelesaian masalahnya sendiri.

Ceramah KRR di sekolah Ceramah KRR pada peringatan hari-hari khusus, misalnya acara Tujuh Belas Agustus, Hari Kartini, Hari Pendidikan Nasional, Hari Anak, Hari Keluarga Nasional, Hari AIDS, Hari Pramuka, dan sebagainya. Penyuluhan bagi kader-kader di desa (misalnya: PKK) Penyuluhan pada organisasi kemasyarakatan, misalnya: pramuka, karang taruna, pengajian, remaja gereja, dan sebagainya.

Apa yang dimaksud dengan Konselor Sebaya (KS) ?


Pendidik sebaya yang telah menjalani pelatihan konselor dan memiliki kemampuan untuk menjadi konselor disebut sebagai konselor sebaya (KS). KEGIATAN KONSELOR SEBAYA

3. 4.

Kegiatan apa saja yang dapat dilakukan Konselor Sebaya?


KS dapat melakukan dua kegiatan inti, yaitu penyuluhan dan konseling.

Buku 6

14

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

Apa yang dimaksud dengan konseling KR oleh KS ?


Konseling kesehatan reproduksi adalah proses tatap muka dimana konselor sebaya membantu memecahkan masalah-masalah kesehatan reproduksi yang dialami kliennya. BAGAIMANA MELAKSANAKAN KEGIATAN PENYULUHAN 3.

memungkinkan atur kursi/tempat duduk yang memudahkan interaksi antara pendidik dan peserta; Hindari bentuk susunan tempat duduk seperti di kelas/sekolah. Alat Bantu Pastikan ketersediaan fasilitas alat bantu, misalnya: OHP, in-focus, pengeras suara (microphone), listrik, dan sebagainya. Perhatikan apakah alat-alat tersebut dapat berfungsi dengan baik. Pastikan bahwa alat bantu (termasuk gambar) yang digunakan dapat dilihat oleh semua peserta dengan mudah. Jika menggunakan lembar transparan, perhatikan jumlah baris kalimat dalam setiap tampilan tidak lebih dari 7 baris ke bawah.

Apa yang harus diperhatikan dalam kegiatan penyuluhan ?


Sebelum penyuluhan 1. Kesiapan Pribadi Membaca materi yang akan disampaikan Cari informasi mengenai peserta penyuluhan Bahasa dan alat bantu yang akan digunakan perlu disesuaikan dengan peserta penyuluhan. Rencanakan dan berlatih diri 2. Pengaturan Tempat Meskipun jumlah peserta banyak, jika skenario

Buku 6

15

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

4.

Tiba di tempat lebih awal dari waktu penyuluhan (+ 15-30 menit) untuk memeriksa fasilitas alat bantu.

Topik penyuluhan: Penyakit Menular Seksual (PMS) Pertanyaan: Apakah yang anda ketahui tentang PMS? Sebutkan jenis-jenis PMS? Bagaimana cara menghindari penularan PMS? 7. Usahakan tidak menetap pada satu posisi atau tempat, berdiri di belakang mimbar atau duduk di belakang meja. Jangan memandang pada satu arah atau beberapa peserta saja. Bagi perhatian secara merata. Perhatikan bahasa tubuh peserta. Jika peserta terlihat tidak mengerti atau tidak tertarik (terlihat mengantuk atau berbicara sendiri dengan peserta lain), pancing dengan pertanyaan. Ajukan pertanyaan yang dapat mengungkapkan pengetahuan, pemahaman dan perasaan peserta. Beri kesempatan peserta untuk bertanya. Sekali-kali, lempar

Saat penyuluhan 1. 2. Perkenalkan diri sebelum memulai penyuluhan Secara singkat, jelaskan tujuan dari topik yang akan disampaikan Sampaikan informasi secara menarik. Pastikan suara dapat didengar dengan jelas oleh seluruh peserta. Hindari nada suara yang datar. Jangan bicara terlalu cepat. Hindari istilah tehnis medis atau istilah asing, misalnya: discharge, ovum, dan lain-lain. Pada awal penyampaian dan setiap pergantian topik, jangan lupa gali pengetahuan peserta dengan cara memberikan 1 - 2 pertanyaan terkait. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya komunikasi satu arah. Contoh: 10.

3. 4.

8.

5.

9.

6.

Buku 6

16

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

pertanyaan peserta kepada peserta lain. Beri pujian kepada peserta yang dapat menjawab pertanyaan dengan benar. 11. Alokasi waktu untuk setiap penyuluhan/ceramah, tidak lebih dari dua jam dengan pembagian waktu penyampaian materi dan diskusi 50%:50%. Akhiri kegiatan dengan mengucapkan salam perpisahan dan terima kasih.

sederhana dengan kata-kata yang mudah dimengerti. 3. Dapat dipercaya; Pertahankan kejujuran, bila tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan klien, katakan dengan jujur. Katakan pada klien bahwa anda akan berusaha mencari jawabannya. Menjaga kerahasiaan; Katakan kepada klien bahwa anda tidak akan mencertiakan kunjungan, pembicaraan atau keputusan yang diambil klien kepada orang lain. Mudah didekati; Bersikap ramah, jangan mudah panik atau marah, dan tunjukkan sikap tenang. Tunjukkan penghargaan; Cobalah untuk tidak memandang rendah siapapun klien yang datang. Memahami; Pahami perasaan klien dan hindari memberi penilaian kepada klien. Sabar; Berikan waktu kepada klien untuk menentukan keputusannya. Jangan memaksa klien untuk segara mengambil keputusan
Panduan Praktis Operasional

4.

12.

BAGAIMANA MELAKSANAKAN KONSELING PADA REMAJA

5.

Bagaimana konselor menghadapi klien (remaja) ?


1. Terbuka; Membiarkan remaja untuk bertanya tanpa membatasi topik pertanyaan termasuk topik yang tabu untuk dibicarakan. Fleksibel; Membicarakan berbagai isu kesehatan reproduksi yang ingin diketahui remaja, termasuk isu pubertas dan seks tanpa rasa canggung. Konselor memberikan jawaban yang 6.

2.

7.

8.

Buku 6

17

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

Hal yang perlu diperhatikan bila klien adalah remaja


1. Memberikan ketrampilan kepada remaja untuk mengatakan TIDAK, bernegosiasi dan mengambil keputusan. Membantu klien membedakan hubungan sosial dan hubungan seksual. Membimbing remaja membuat rencana jangka panjang atau menyiapkan masa depan. membimbing remaja memahami ide tentang risiko atau perilaku berisiko. Menyadarkan bahwa remaja aktif seksual seringkali berisiko terkena PMS dibandingkan klien dewasa. Perilaku seksual anak muda biasanya diperkuat atau dihambat kemungkinannya oleh orang yang lebih tua. Remaja biasanya hanya sekalisekali atau coba-coba melakukan hubungan seksual. Remaja mungkin saja berencana tak akan melakukan hubungan seks lagi, tetapi
Buku 6

kenyataannya mengulanginya lagi. 9. Para remaja dengan rentang usia yang sama dapat mempunyai tingkat pengetahuan, sikap, perilaku dan pengalaman yang sangat berbeda dalam kesehatan reproduksi. DALAM CARA

2.

3.

TANTANGAN KONSELING DAN MENGATASINYA

4.

Bagaimana menghadapi klien yang diam ?


1. Jika klien berdiam diri diawal pertemuan: tataplah klien, gunakan bahasa tubuh yang memperlihatkan simpati dan minat. Katakan: Saya melihat ada kesulitan pada anda untuk bicara. Hal ini sering dialami oleh klien yang baru. Saya rasa anda kuatir. Tunggulah jawaban klien. Jika klien diam selama pembicaraan berlangsung, bisa merupakan sesuatu yang wajar. Mungkin klien sedang berpikir atau memutuskan bagaimana mengutarakan perasaan atau pikirannya.
Panduan Praktis Operasional

5.

6.

7.

2.

8.

18

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

Berikan waktu untuk berpikir.

pada

klien

Jika konselor tidak menjawab pertanyaan


1.

dapat

Bagaimana menghadapi klien yang menangis ?


1. Jangan membuat asumsi atau menduga-duga mengapa klien anda menangis. Tunggulah beberapa saat, bila menangis berlanjut katakan bahwa menangis itu tidak apaapa. Menangis adalah reaksi yang wajar. Ungkapan ini bisanya akan membuat klien merasa diperbolehkan untuk mengutarakan alas analasannya menangis. Tanyakan alasannya dengan hati-hati.

Katakan dengan jujur dan terbuka bahwa anda tidak tahu jawabannya, tetapi dapat bersama klien mencari jalan keluarnya. Cek pada supervisor atau sumber referensi lainnya dan berikan jawabannya yang tepat pada klien.

2.

2.

Jika konselor melakukan suatu kesalahan


1. Perbaiki kesalahan dan minta maaf. Mengakui kesalahan menunjukkan penghargaan pada klien. Bersikaplah jujur.

Jika konselor tidak dapat membantu menemukan pemecahan masalah klien


1. Apabila konselor tidak dapat mencari pemecahan masalah klien, maka sampaikan pengertian dengan cara memberitahu atau merujuk kepada orang orang lain yang mungkin dapat membantunya.

2.

Jika konselor dan klien sudah saling mengenal


1. 2. Tekankan soal kerahsiaan klien dan privasinya Bila klien menginginkan, aturlah pertemuan dengan konselor lain.

Buku 6

19

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

Jika klien pribadi


1.

menanyakan

hal

2.

Usahakan untuk tidak membicarakan pribadi anda.

Bila klien menanyakan hal yang bersifat pribadi, anda tidak perlu menjawabnya

Buku 6

20

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

E. PANDUAN MONITORING UNTUK MEMANTAU KINERJA PS/KS DALAM MELAKUKAN KEGIATAN


OBSERVASI PENDIDIK SEBAYA
NAMA PS KABUPATEN PROPINSI OBESERVER : _______________________________________________________________________________ : _______________________________________________________________________________ : _______________________________________________________________________________ : _______________________________________________________________________________

NO 1

KRITERIA EVALUASI UMUM Pendahuluan Kecocokan isi materi Relevansi isi materi Penggunaan materi visual Kejelasan presentasi Kemampuan membangkitkan partisipasi pendengar Adanya komunikasi 2 arah Ketrampilan pemeliharaan kelompok Manajemen waktu Manajemen pertanyaan Manajemen masalah Kesimpulan

BAIK

CUKUP

KURANG

NON VERBAL Suara lantang dan jelas Tempo bicara Kesamaan perhatian kepada peserta

Buku 6

21

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia Dapatt menjaga kontak mata Wajah ramah Percaya diri 3 VERBAL Menyebut peserta dengan nama Memberi peserta kesempatan untuk bertanya Memastikan peserta memahami Mendorong peserta yang pasif untuk berbicara Memberi pujian Menyisipkan humor

* Observasi dilakukan dengan memonitoring kegiatan PS dalam memberikan materi pada kelompok binaannya, kelengkapan alat bantu, pembagian materi, kerjasama tim, ketrampilan dalam menyampaikan topik bahasan, menjawab pertanyaan dan sikap/cara penyampaiannya Catatan :
_________________________________________________________________________________________ _________________________________________________________________________________________ _________________________________________________________________________________________

Perlu perbaikan :
_________________________________________________________________________________________ _________________________________________________________________________________________ _________________________________________________________________________________________

Buku 6

22

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

OBSERVASI KONSELOR SEBAYA


NAMA PS KABUPATEN PROPINSI OBESERVER NO 1 : _______________________________________________________________________________ : _______________________________________________________________________________ : _______________________________________________________________________________ : _______________________________________________________________________________ BAIK CUKUP KURANG

KRITERIA EVALUASI UMUM Pendahuluan Kecocokan isi materi Relevansi isi materi Penggunaan materi visual Kejelasan presentasi Kemampuan membangkitkan partisipasi pendengar Adanya komunikasi 2 arah Ketrampilan pemeliharaan kelompok Manajemen waktu Manajemen pertanyaan Manajemen masalah Kesimpulan

NON VERBAL Suara lantang dan jelas Tempo bicara Kesamaan perhatian kepada peserta Dapatt menjaga kontak mata Wajah ramah

Buku 6

23

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia Percaya diri 3 VERBAL Menyebut peserta dengan nama Memberi peserta kesempatan untuk bertanya Memastikan peserta memahami Mendorong peserta yang pasif untuk berbicara Memberi pujian Menyisipkan humor * Observasi dilakukan dengan memonitoring kegiatan PS dalam memberikan materi pada kelompok binaannya, kelengkapan alat bantu, pembagian materi, kerjasama tim, ketrampilan dalam menyampaikan topik bahasan,menjawab pertanyaan dan sikap/cara penyampaiannya Catatan :
_______________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________

Perlu perbaikan :
_______________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________

Buku 6

24

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

FORMULIR ABSENSI
Pendidik Sebaya
Hari/tanggal Tempat pertemuan Waktu Topik pembicaraan Nama Pembicara Nama Observer DAFTAR PESERTA
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 NAMA ALAMAT NO. TLP PARAF

: _________________________________________________________________________ : _________________________________________________________________________ : _________________________________________________________________________ : _________________________________________________________________________ : _________________________________________________________________________ : _________________________________________________________________________

Buku 6

25

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

FORMULIR EVALUASI KINERJA PENDIDIK SEBAYA OLEH PELATIH DAERAH (PEMBIMBING) Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi Remaja
Kabupaten : _______________________________________________
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Nama Pendidik Sebaya Informasi Ketrampilan Initial

A A A

Buku 6

26

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

FORMULIR LAPORAN PELATIH DAERAH Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi Remaja

Nama Pendidik Sebaya Hari/Tanggal Kabupaten

: : :

______________________________________________________ ______________________________________________________ ______________________________________________________

1.

Kesan Umum

_______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________

2.

Informasi Kesehatan Reproduksi Remaja

_______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________

3.

Ketrampilan Pendidik Sebaya

_______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________

Buku 6

27

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia 4. a. Kesimpulan Kelebihan

_______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________

b.

Kekurangan

_______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________

5.

Saran-saran

_______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________

Observer

( __________________________ )

Buku 6

28

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

FORMULIR EVALUASI PESERTA Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi Remaja


Hari/Tanggal Tempat Pertemuan Waktu Nama Pembicara Nama Peserta : : : : : ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________

1.

Pendapat umum tentang program Kesehatan Reproduksi Remaja

_______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________

2.

Sikap/cara komunikasi Pendidik Sebaya dalam memberikan informasi tentang Kesehatan Reproduksi Remaja

_______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________

3.

Ketrampilan Pendidik Sebaya dalam memberikan informasi tentang Kesehatan Reproduksi Remaja

_______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________

Buku 6

29

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia 4. Penilaian terhadap informasi Kesehatan Reproduksi Remaja yang diberikan

_______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________

5.

Kritik dan saran tentang program/materi Kesehatan Reproduksi Remaja

_______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________

DD D D D D D D D

Buku 6

30

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

FORMULIR EVALUASI PESERTA Pendidik Sebaya Kesehatan Reproduksi Remaja


Hari/Tanggal Tempat Pertemuan Waktu Nama Pembicara Nama Peserta : : : : : ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________

1.

Cara Penyampaian Materi/Pendidik Sebaya

NO

MATERI

MANFAAT *

CARA PENYAMPAIAN PENDIDIK SEBAYA * C K BS B C K

BS 1 2 3 Masa Remaja/Masa Puber Seks, Seksualitas, Kesehatan Seksual Hubungan Seksual, Kehamilan & Cara Penyegahannya Kehamilan Tak diinginkan & Aborsi HIV/AIDS Penyakit Menular Seksual Kekerasan Terhadap Perempuan *) Beri tanda

4 5 6 7

, untuk BS : Baik Sekali, B : Baik, C : Cukup, K : Kurang

2.

Pendapat umum tentang program Kesehatan Reproduksi Remaja

_______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________

Buku 6

31

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia 3. Materi Kesehatan Reproduksi Remaja yang perlu diperdalam pembahasannya

_______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________

4.

Topik/materi yang perlu ditambahkan dalam pemberian informasi tentang Kesehatan Reproduksi Remaja

_______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________

5. Penilaian terhadap alat bantu yang digunakan untuk menyampaikan informasi Kesehatan Reproduksi Remaja

tentang

_______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________

6.

Penilaian terhadap Pendidik Sebaya dalam memberikan informasi tentang Kesehatan Reproduksi Remaja

_______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________

Buku 6

32

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia 7. Saran/kritik terhadap program Kesehatan Reproduksi Remaja

_______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________ _______________________________________________________________________________________________________

Buku 6

33

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

LEMBAR PANDUAN OBSERVASI KEGIATAN ADVOKASI KONSELOR SEBAYA Oleh PELATIH / PEMBIMBING
I. l. 2 Identifikasi Sasaran Propinsi Kabupaten : : 1. Jawa Tengah 1. Kab. Brebes 2.Kab. Pemalang 3. Kab. Cilacap 4. Kab. Jepara 5. Kab. Rembang 3. 4. 5. Nama Konselor Sebaya : Topik Bahasan : Kategori/sasaran Sekolah Perusahaan Organisasi Kemasyarakatan LSM Rumah Sakit/Puskesmas Lain-lain :.. 6. Tempat yang dikunjungi : 2. Jawa Timur 1. Kab. Ngawi 2. Kab. Trenggalek 3. Kab. Jombang 4. Kab. Sampang 5. Kab. Pamekasan

Alamat : Telepon/Fax 7. : P W = = Orang Orang__ Orang

Jumlah Peserta

Jumlah :

Buku 6

34

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia 8. Bentuk Kegiatan a. Penyuluhan

b. Diskusi/Talkshow c. Pelatihan

d. Pameran e. Lainnya : .

Lembar Evaluasi

No I

Kriteria Evaluasi UMUM Relevansi isi materi Penggunaan materi visual Kejelasan Presentasi Kemampuan membangkitkan partisipasi pendengar Adanya komunikasi 2 arah Manajemen waktu Manajemen pertanyaan Kemampuan menyimpulkan NON VERBAL Suara lantang dan jelas Tempo bicara Kesamaan perhatian kepada peserta Dapat menjaga kontak mata Wajah ramah Percaya diri VERBAL Menyebut peserta dengan nama Memberi peserta kesemptan untuk bertanya Memastikan peserta memahami Mendorong peserta yang pasif untuk bicara Memberi Pujian Menyisipkan humor

Baik

Cukup

Kurang

Buku 6

35

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

III.
9.

Catatan selama Observasi


Respon Peserta ( Uraian singkat tentang kondisi dan dinamika peserta Selama mengikuti kegiatan )

10.

Pertanyaan unik peserta

11.

Hal -hal yang perlu diperbaiki.

Penanggung jawab

Pihak yang dikunjungi

Buku 6

36

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

F.

FORMULIR PRE DAN POST TEST

LEMBAR TEST AWAL/AKHIR Calon Pendidik Sebaya ataupun Peserta Diskusi Kelompok

Lembar test ini dapat diberikan kepada calon pendidik sebaya yang akan mengikuti pelatihan pendidik sebaya ataupun kepada peserta diskusi kelompok yang akan diberikan oleh pendidik sebaya. Tujuannya adalah untuk melihat seberapa jauh terjadi peningkatan pengetahuan peserta didik (baik calon pendidik sebaya maupun peserta diskusi kelompok) setelah dilakukan intervensi.

NO 1

PERTANYAAN Perempuan bisa hamil hanya bila melakukan hubungan seks beberapa kali Salah satu contoh komunikasi non verbal adalah bersuara keras Pendidik Sebaya adalah orang yang lebih pandai dibandingkan teman sebayanya Kondom merupakan alat kontrasepsi yang paling rendah tingkat keberhasilannya Payudara termasuk organ seksual Pendidik Sebaya adalah orang yang ramah, humoris dan berinisiatif Pendidikan Sebaya harus dilakukan di ruang khusus dan tertutup Konsom bisa mencegah terjangkitnya penyakit menular seksual Penyakit AIDS bisa ditularkan melalui gigitan nyamuk Pertanyaan tertutup hanya bisa dijawab dengan YA atau TIDAK

B B

S S

2 3

B B

S S

5 6

B B

S S

7 8 9 10

B B B B

S S S S

Buku 6

37

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia

LEMBAR TEST AWAL/AKHIR


Calon Konselor Sebaya
1. Tujuan memberikan konseling Kesehatan Reproduksi adalah memberikan informasi dan nasihat pada seorang yang bermasalah:

B
2.

Konselor yang baik menyadari perlunya perhatian kebutuhan dan masalah setiap klien yang berbeda beda

B
3.

Tujuan konselor bertanya pada klien adalah untuk membina hubungan yang lebih akrab dengan kliennya

B
4.

Mendengarkan berbeda dengan mendengarkan dalam hal aktivitas

B
5.

Dalam menjelaskan mengenai alat/cara kontrasepsi, konselor harus memasukkan pula informasi mengenai efek samping

Buku 6

38

Panduan Praktis Operasional

Kerjasama BKKBN dengan Yayasan AIDS Indonesia 6. Dalam memberikan informasi, seorang konselor kesehatan menggunakan kalimat-kalimat yang detail sehingga jelas reproduksi perlu

B
7.

Salah satu perbedaan antara konseling dan pendidik sebaya adalah bahwa pada konseling kesehatan reproduksi, klien perlu diberdayakan untuk mengambil keputusan

B
8.

Mendorong dan membantu klien untuk menentukan sendiri jalan keluar atas persoalannya harus dilakukan sejak awal tahapan konseling

B
9.

Bila seorang klien menangis dihadapannya, konselor perlu menduga-duga mengenai penyebabnya

10.

Bila seorang klien menanyakan hal yang bersifat pribadi dari konselor, konselor tidak perlu menjawabnya

Buku 6

39

Panduan Praktis Operasional

Diterbitkan oleh Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi, BKKBN Pusat Cetakan I tahun 2002