Anda di halaman 1dari 52

1.

Uji tourniquet menurut WHO Menurut WHO pada tes tourniquet dilakukan penghitungan jumlah petekie dalam daerah seluas 1 inci 2 (1 inci = 2,5 cm) dimana saja yang paling banyak petekienya termasuk di bawah fosa cubiti dan bagian dorsal lengan dan tangan. Dalam klinik untuk mempermudah penghitungan digunakan plastik transparan dengan gambaran lingkaran beriameter 2,8cm (10) atau bujur sangkar dengan ukuran 2,5 cm x 2,5 cm.

(http://irapanussa.blogspot.com/2012/06/tes-tourniquet.html) 2. Klasifikasi Efusi pleura Klasifikasi efusi pleura berdasarkan cairan yang terbentuk (Suzanue C Smeltezer dan Brenda G. Bare, 2002). 1. Transudat Merupakan filtrat plasma yang mengalir menembus dinding kapiler yang utuh, terjadi jika faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan dan reabsorbsi cairan pleura terganggu yaitu karena ketidakseimbangan tekanan hidrostaltik atau ankotik. Transudasi menandakan kondisi seperti asites, perikarditis. Penyakit gagal jantung kongestik atau gagal ginjal sehingga terjadi penumpukan cairan. 2. Eksudat Ekstravasasi cairan ke dalam jaringan atau kavitas. Sebagai akibat inflamasi oleh produk bakteri atau humor yang mengenai pleura contohnya TBC, trauma dada, infeksi virus. Efusi pleura mungkin merupakan komplikasi gagal jantung kongestif. TBC, pneumonia, infeksi paru, sindroma nefrotik, karsinoma bronkogenik, serosis hepatis, embolisme paru, infeksi parasitik. (http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/103/jtptunimus-gdl-kurniasafi-5149-2-bab2.pdf) 3. Tujuan pemeriksaan SGOT/SGPT SGOT singkatan dari Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase, sebuah enzim yang secara normal berada di sel hati dan organ lain. SGOT dikeluarkan kedalam darah ketika hati rusak. Level SGOT darah kemudian dihubungkan dengan kerusakan sel hati, seperti serangan virus hepatitis. SGOT juga disebut aspartate aminotransferase (AST). Sedangkan SGPT adalah singkatan dari Serum Glutamic Piruvic Transaminase, enzim ini banyak terdapat di hati. Dalam uji SGOT dan SGPT, hati dapat dikatakan rusak bila jumlah enzim tersebut dalam plasma lebih besar dari kadar normalnya. (http://farmasi07itb.wordpress.com/2010/10/27/tes-hepatitis-dengan-sgot-sgpt/)

4. Komposisi dan Indikasi cairan infus Cairan Kristaloid 1. Normal Saline Komposisi (mmol/l) : Na = 154, Cl = 154. Kemasan : 100, 250, 500, 1000 ml. Indikasi : a. Resusitasi b. Diare c. Luka Bakar d. Gagal Ginjal Akut Kontraindikasi : hipertonik uterus, hiponatremia, retensi cairan. Digunakan dengan pengawasan ketat pada CHF, insufisiensi renal, hipertensi, edema perifer dan edema paru. Adverse Reaction : edema jaringan pada penggunaan volume besar (biasanya paru-paru), penggunaan dalam jumlah besar menyebabkan akumulasi natrium. 2. Ringer Laktat (RL) Komposisi (mmol/100ml) : Na = 130-140, K = 4-5, Ca = 2-3, Cl = 109-110, Basa = 2830 mEq/l. Kemasan : 500, 1000 ml. Indikasi : mengembalikan keseimbangan elektrolit pada keadaan dehidrasi dan syok hipovolemik. Kontraindikasi : hipernatremia, kelainan ginjal, kerusakan sel hati, asidosis laktat. Adverse Reaction : edema jaringan pada penggunaan volume yang besar, biasanya paruparu. Peringatan dan Perhatian : Not for use in the treatment of lactic acidosis. Hati-hati pemberian pada penderita edema perifer pulmoner, heart failure/impaired renal function & pre-eklamsia. 3. Dekstrosa Komposisi : glukosa = 50 gr/l (5%), 100 gr/l (10%), 200 gr/l (20%). Kemasan : 100, 250, 500 ml. Indikasi : sebagai cairan resusitasi pada terapi intravena serta untuk keperluan hidrasi selama dan sesudah operasi. Diberikan pada keadaan oliguria ringan sampai sedang (kadar kreatinin kurang dari 25 mg/100ml). Kontraindikasi : Hiperglikemia. Adverse Reaction : Injeksi glukosa hipertonik dengan pH rendah dapat menyebabkan iritasi pada pembuluh darah dan tromboflebitis. 4. Ringer Asetat (RA) Indikasi : Penggunaan Ringer Asetat sebagai cairan resusitasi sudah seharusnya diberikan pada pasien dengan gangguan fungsi hati berat seperti sirosis hati dan asidosis laktat. Cairan ini terutama diindikasikan sebagai pengganti kehilangan cairan akut (resusitasi), misalnya pada diare, DBD, luka bakar/syok hemoragik; pengganti cairan selama prosedur

operasi; loading cairan saat induksi anestesi regional; priming solution pada tindakan pintas kardiopulmonal; dan juga diindikasikan pada stroke akut dengan komplikasi dehidrasi. Tabel I. Komposisi Beberapa Cairan Kristaloid Cairan Tonusitas Na(mmol/l) Cl(mmol/l) NaCl 0,9 308 154 % (isotonus) 154 Saline 77 (hipotonus) Dextrose 253 5% (hipotonus) 561 D5NS 154 (hipertonus 330 D5 NS 38,5 (isotonus) 2/3 D & Hipertonus 51 1/3 S Ringer 273 130 Laktat (isotonus) 273 D5 RL 130 (isotonus) Ringer 273,4 130 Asetat (isotonus) 154 77 5000 154 38,5 51 109 109 109 4 4 4 3 3 3 50 5000 5000 3333 28 28 28 K Ca Glukosa Laktat Asetat (mmol/) (mmol/l) (mg/dl) (mmol/l) (mmol/l)

Cairan Koloid Merupakan larutan yang terdiri dari molekul-molekul besar yang sulit menembus membran kapiler, digunakan untuk mengganti cairan intravaskuler. Umumnya pemberian lebih kecil, onsetnya lambat, durasinya lebih panjang, efek samping lebih banyak, dan lebih mahal. Mekanisme secara umum memiliki sifat seperti protein plasma sehingga cenderung tidak keluar dari membran kapiler dan tetap berada dalam pembuluh darah, bersifat hipertonik dan dapat menarik cairan dari pembuluh darah. Oleh karena itu penggunaannya membutuhkan volume yang sama dengan jumlah volume plasma yang hilang. Digunakan untuk menjaga dan meningkatkan tekanan osmose plasma. 1. Albumin Komposisi : Albumin yang tersedia untuk keperluan klinis adalah protein 69-kDa yang dimurnikan dari plasma manusia (cotoh: albumin 5%). Indikasi : Pengganti volume plasma atau protein pada keadaan syok hipovolemia, hipoalbuminemia, atau hipoproteinemia, operasi, trauma, cardiopulmonary bypass, hiperbilirubinemia, gagal ginjal akut, pancretitis, mediasinitis, selulitis luas dan luka bakar.

Pengganti volume plasma pada ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome). Pasien dengan hipoproteinemia dan ARDS diterapi dengan albumin dan furosemid yang dapat memberikan efek diuresis yang signifikan serta penurunan berat badan secara bersamaan. Hipoalbuminemia yang merupakan manifestasi dari keadaan malnutrisi, kebakaran, operasi besar, infeksi (sepsis syok), berbagai macam kondisi inflamasi, dan ekskresi renal berlebih. Pada spontaneus bacterial peritonitis (SBP) yang merupakan komplikasi dari sirosis. Sirosis memacu terjadinya asites/penumpukan cairan yang merupakan media pertumbuhan yang baik bagi bakteri. Terapi antibiotik adalah pilihan utama, sedangkan penggunaan albumin pada terapi tersebut dapat mengurangi resiko renal impairment dan kematian. Adanya bakteri dalam darah dapat menyebabkan terjadinya multi organ dysfunction syndrome (MODS), yaitu sindroma kerusakan organ-organ tubuh yang timbul akibat infeksi langsung dari bakteri. Kontraindikasi : gagal jantung, anemia berat. Produk : Plasbumin 20, Plasbumin 25. 2. HES (Hydroxyetyl Starches) Komposisi : Starches tersusun atas 2 tipe polimer glukosa, yaitu amilosa dan amilopektin. Indikasi : Penggunaan HES pada resusitasi post trauma dapat menurunkan permeabilitas pembuluh darah, sehingga dapat menurunkan resiko kebocoran kapiler. Kontraindikasi : Cardiopulmonary bypass, dapat meningkatkan resiko perdarahan setelah operasi, hal ini terjadi karena HES berefek antikoagulan pada dosis moderat (>20 ml/kg). Sepsis, karena dapat meningkatkan resiko acute renal failure (ARF). Penggunaan HES pada sepsis masih terdapat perdebatan. Muncul spekulasi tentang penggunaan HES pada kasus sepsis, dimana suatu penelitian menyatakan bahwa HES dapat digunakan pada pasien sepsis karena : Tingkat efikasi koloid lebih tinggi dibandingkan kristaloid, disamping itu HES tetap bisa digunakan untuk menambah volume plasma meskipun terjadi kenaikan permeabilitas. Pada syok hipovolemia diperoleh innvestigasi bahwa HES dan albumin menunjukkan manifestasi edema paru yang lebih kecil dibandingkan kristaloid. Dengan menjaga COP, dapat mencegah komplikasi lebih lanjut seperti asidosis refraktori. HES juga mempunyai kemampuan farmakologi yang sangat menguntungkan pada kondisi sepsis yaitu menekan laju sirkulasi dengan menghambat adesi molekuler. Sementara itu pada penelitian yang lain, disimpulkan HES tidak boleh digunakan pada sepsis karena : Edema paru tetap terjadi baik setelah penggunaan kristaloid maupun koloid (HES), yang manifestasinya menyebabkan kerusakan alveoli. HES tidak dapat meningkatkan sirkulasi splanchnic dibandingkan dengan gelatin pada pasien sepsis dengan hipovolemia. HES mempunyai resiko lebih tinggi menimbulkan gangguan koagulasi, ARF, pruritus, dan liver failure. Hal ini terutama terjadi pada pasien dengan kondisi iskemik reperfusi (contoh: transplantasi ginjal). Resiko nefrotoksik pada HES dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan gelatin pada pasien dengan sepsis.

Adverse reaction : HES dapat terakumulasi pada jaringan retikulo endotelial jika digunakan dalam jangka waktu yang lama, sehingga dapat menimbulkan pruritus. Contoh : HAES steril, Expafusin. 3. Dextran Komposisi : dextran tersusun dari polimer glukosa hasil sintesis dari bakteri Leuconostoc mesenteroides, yang ditumbuhkan pada media sukrosa. Indikasi : Penambah volume plasma pada kondisi trauma, syok sepsis, iskemia miokard, iskemia cerebral, dan penyakit vaskuler perifer. Mempunyai efek anti trombus, mekanismenya adalah dengan menurunkan viskositas darah, dan menghambat agregasi platelet. Pada suatu penelitian dikemukakan bahwa dextran-40 mempunyai efek anti trombus paling poten jika dibandingkan dengan gelatin dan HES. Kontraidikasi : pasien dengan tanda-tanda kerusakan hemostatik (trombositopenia, hipofibrinogenemia), tanda-tanda gagal jantung, gangguan ginjal dengan oliguria atau anuria yang parah. Adverse Reaction : Dextran dapat menyebabkan syok anafilaksis, dextran juga sering dilaporkan dapat menyebabkan gagal ginjal akibat akumulasi molekul-molekul dextran pada tubulus renal. Pada dosis tinggi, dextran menimbulkan efek pendarahan yang signifikan. Contoh : hibiron, isotic tearin, tears naturale II, plasmafusin. 4. Gelatin Komposisi : Gelatin diambil dari hidrolisis kolagen bovine. Indikasi : Penambah volume plasma dan mempunyai efek antikoagulan, Pada sebuah penelitian invitro dengan tromboelastropgraphy diketahui bahwa gelatin memiliki efek antikoagulan, namun lebih kecil dibandingkan HES. Kontraindikasi : haemacel tersusun atas sejumlah besar kalsium, sehingga harus dihindari pada keadaan hiperkalsemia. Adverse reaction : dapat menyebabkan reaksi anafilaksis. Pada penelitian dengan 20.000 pasien, dilaporkan bahwa gelatin mempunyai resiko anafilaksis yang tinggi bila dibandingkan dengan starches. Contoh : haemacel, gelofusine. Cairan Khusus MANNITOL D-Manitol. C6H14O6 Indikasi Menurunkan tekanan intrakranial yang tinggi karena edema serebral, meningkatkan diuresis pada pencegahan dan/atau pengobatan oliguria yang disebabkan gagal ginjal, menurunkan tekanan intraokular, meningkatkan ekskresi uriner senyawa toksik, sebagai larutan irigasi genitouriner pada operasi prostat atau operasi transuretral. ASERING Indikasi: Dehidrasi (syok hipovolemik dan asidosis) pada kondisi: gastroenteritis akut, demam berdarah dengue (DHF), luka bakar, syok hemoragik, dehidrasi berat, trauma. Komposisi:

Setiap liter asering mengandung: Na 130 mEq K 4 mEq Cl 109 mEq Ca 3 mEq -Asetat (garam) 28 mEq Keunggulan: Asetat dimetabolisme di otot, dan masih dapat ditolelir pada pasien yang mengalami gangguan hati Pada pemberian sebelum operasi sesar, RA mengatasi asidosis laktat lebih baik dibanding RL pada neonatus Pada kasus bedah, asetat dapat mempertahankan suhu tubuh sentral pada anestesi dengan isofluran Mempunyai efek vasodilator Pada kasus stroke akut, penambahan MgSO4 20 % sebanyak 10 ml pada 1000 ml RA, dapat meningkatkan tonisitas larutan infus sehingga memperkecil risiko memperburuk edema serebral KA-EN 1B Indikasi: Sebagai larutan awal bila status elektrolit pasien belum diketahui, misal pada kasus emergensi (dehidrasi karena asupan oral tidak memadai, demam) Dosis lazim 500-1000 ml untuk sekali pemberian secara IV. Kecepatan sebaiknya 300500 ml/jam (dewasa) dan 50-100 ml/jam pada anak-anak Bayi prematur atau bayi baru lahir, sebaiknya tidak diberikan lebih dari 100 ml/jam Komposisi : Tiap 1000 ml isi mengandung -sodium klorida 2,25 g -anhidrosa dekstros 37,5 g. -Elektrolit (meq/L) : a.Na+ 38,5 b.Cl- 38,5 c.Glukosa 37,5 g/L. d.kcal/L : 150 KA-EN 3A & KA-EN 3B Indikasi: Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian, pada keadaan asupan oral terbatas Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam) Mensuplai kalium sebesar 10 mEq/L untuk KA-EN 3A Mensuplai kalium sebesar 20 mEq/L untuk KA-EN 3B Kompisisi : KA-EN 3A

Tiap liter isi mengandung -sodium klorida 2,34 g -potassium klorida 0,75 g, sodium laktat 2,24 g -anhydrous dekstros 27 g. -Elektrolit (mEq/L) a.Na+ 60 b.K+ 10 c.Cl- 50 d.laktat- 20 e.glukosa : 27 g/L. f.kcal/L : 108 KA-EN 3B Tiap liter isi mengandung -sodium klorida 1,75g, -ptasium klorida 1,5g, -sodium laktat 2,24g, -anhydrous dekstros 27g. -Elektrolit (mEq/L) : a.Na+ 50, b.K+ 20, c.Cl- 50, d.laktat- 20, e.glukosa 27 g/L. f.kcal/L. 108 KA-EN MG3 Indikasi : Larutan rumatan nasional untuk memenuhi kebutuhan harian air dan elektrolit dengan kandungan kalium cukup untuk mengganti ekskresi harian, pada keadaan asupan oral terbatas Rumatan untuk kasus pasca operasi (> 24-48 jam) Mensuplai kalium 20 mEq/L Rumatan untuk kasus dimana suplemen NPC dibutuhkan 400 kcal/L Komposisi : Tiap liter isi mengandung bahan : sodium klorida 1,75g, potassium klorida 1,5g, sodium laktat 2,24g, anhydrous dekstros 100g. Elektrolit (mEq/L) : A. Na+ 50, B. K+ 20, C. Cl- 50, D. laktat- 20,

E. glukosa 100 g/L; F. kcal/L: 400 KA-EN 4A Indikasi : Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak Tanpa kandungan kalium, sehingga dapat diberikan pada pasien dengan berbagai kadar konsentrasi kalium serum normal Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik Komposisi (per 1000 ml): Na 30 mEq/L K 0 mEq/L Cl 20 mEq/L Laktat 10 mEq/L Glukosa 40 gr/L KA-EN 4B Indikasi: Merupakan larutan infus rumatan untuk bayi dan anak usia kurang 3 tahun Mensuplai 8 mEq/L kalium pada pasien sehingga meminimalkan risiko hipokalemia Tepat digunakan untuk dehidrasi hipertonik Komposisi: Na 30 mEq/L K 8 mEq/L Cl 28 mEq/L Laktat 10 mEq/L Glukosa 37,5 gr/L Otsu-NS Indikasi: Untuk resusitasi Kehilangan Na > Cl, misal diare Sindrom yang berkaitan dengan kehilangan natrium (asidosis diabet ikum, insufisiensi adrenokortikal, luka bakar) Mengandung elektrolit mEq/L Na+ = 154 Cl- = 154 Otsu-RL Indikasi: Resusitasi Suplai ion bikarbonat Asidosis metabolik Mengandung elektrolit mEq/L Na+ = 130 Cl- = 108.7 K+ = 4 Ca++ = 2.7 Laktat = 28

MARTOS-10 Indikasi: Suplai air dan karbohidrat secara parenteral pada penderita diabetik Keadaan kritis lain yang membutuhkan nutrisi eksogen s eperti tumor, infeksi berat, stres berat dan defisiensi protein Dosis: 0,3 gr/kg BB/jam Mengandung 400 kcal/L AMIPAREN Indikasi: Stres metabolik berat Luka bakar Infeksi berat Kwasiokor Pasca operasi Total Parenteral Nutrition Dosis dewasa 100 ml selama 60 menit Komposisi Setiap liter Amiparen isi mengandung L-leucine 14g, L-isoleucine 8g, L-valine 8g, lysine acetate 14,8g (L-lysine equivalent 10,5g), L-threonine 5,7g, L-tryptophan 2g, L-methionine 3,9g, L-phenylalanine 7g, L-cysteine 1g, L-tyrosine 0,5g, L-arginine 10,5g, L-histidine 5g, L-alanine 8g, L-proline 5g, L-serine 3g, aminoacetic acid 5,9g, L-aspartic acid 30 w/w%, total nitrogen 15,7g, sodium kurang lebih 2 mEq, acetate kira-kira 1220 mEq. Sodium bisulfit ditambahkan sebagai stabilisator. AMINOVEL-600 Indikasi: Nutrisi tambahan pada gangguan saluran GI Penderita GI yang dipuasakan Kebutuhan metabolik yang meningkat (misal luka bakar, trauma dan pasca operasi)

Stres metabolik sedang Dosis dewasa 500 ml selama 4-6 jam (20-30 tpm)

Komposisi : Tiap liter Aminovel 600 berisi amino acid (L-form) 50g, D-sorbitol 100g, ascorbic acid 400mg, inositol 500mg, nicotinamide 60mg, pyridoxine HCl 40mg, riboflavin sodium phosphate 2,5mg, Elektrolit : a. Sodium 35 mEq, b. potassium 25 mEq, c. magnesium 5 mEq, d. acetate 35 mEq, e. maleate 22 mEq, f. chloride 38 mEq. Setiap 50g asam amino berisi : a. L-isoleucine 3,2gram, b. L-leucine 2,4g, c. L-lysine (calculated as base) 2g, d. L-methionine 3g, e. L-phenylalanine 4g, f. L-threonine 2g, g. L-tryptophan 1g, h. L-valine 3,2g, i. L-arginine (calculated as base) 6,2g, j. L-histidine (calculated as base) 1g, k. L-alanine 6g, l. glycine 14g, m. L-proline 2g PAN-AMIN G Indikasi: Suplai asam amino pada hiponatremia dan stres metabolik ringan Nutrisi dini pasca operasi Tifoid Komposisi Tiap liter infuse mengandung L-arginine HCl 2,7g, L-histidine HCl H2O 1,3g, L-isoleucine 1,8g, L-leucine 4,1g, L-lysine HCl 6,2g, L-methionine 2,4g,

L-phenyilalanine 2,9g, L-threonine 1,8g, L-tryptophane 0,6g, L-valine 2g, glycine 3,4g, D-sorbitol 50g air. TUTOFUSIN OPS Per liter : Natrium 100 mEq, Kalium 18 mEq, Kalsium 4 mEq, Magnesium 6 mEg, Klorida 90 mEq, Asetat 38 mEq, Sorbitol 50 gram. Indikasi : o Air & elektrolit yang dibutuhkan pada fase sebelum, selama, & sesudah operasi. O Memenuhi kebutuhan air dan elektrolit selama masa pra operasi, intra operasi dan pasca operasi O Memenuhi kebutuhan air dan elektrolit pada keadaan dehidrasi isotonik dan kehilangan cairan intraselular o Memenuhi kebutuhan karbohidrat secara parsial Kontraindikasi : O Insufisiensi ginjal O intoleransi Fruktosa & Sorbitol O kekurangan Fruktosa-1-6-difosfate O keracunan Metil alkohol. Hati-hati pada : O Penyakit ginjal atau jantung O retensi cairan O hipernatremia. (medicastore.com) 5. Suara Dasar Paru Suara dasar paru secara tradisional digolongkan menjadi 4 yaitu suara trakeal,bronkial, bronkovesikuler dan vesikuler. Suara tracheal mempunyai ciri suara denganfrekuensi tinggi, kasar, disertai dengan masa istirahat (pause) antara fase inspirasi danekspirasi, dengan komponen ekspirasi terdengar sedikit lebih lama. Suara nafas trakeal dapatditemukan dengan menempelkan membran diafragma pada bagian lateral leher atau padafossa suprasternal. Sumber bunyinya adalah turbulensi aliran cepat pintu glottis. Suara nafas bronkial mempunyai bunyi yang juga sama kasar, frekuensi tinggi, dengan fase inspirasisama dengan fase ekspirasi. Suara ini terdapat pada saluran nafas dengan diameter 4 mm ataulebih, misalnya pada bronkus utama. Suara nafas bronkial dapat didengarkan pada daerahantara kedua scapula. Karena karakteristik suara trakeal dan bronkial hampir sama, beberapa penulis menggolongkannya menjadi satu terminologi,

yaitu suara trakeobronkial. Suara nafas bronkovesikuler sedikit berbeda dari suara trakeobronkial, terdengar lebih distal dari jalannafas. Bunyinya kurang keras, lebih halus, frekuensi lebih rendah disbanding suara bronkial,tetapi dengan komponen inspirasi dan ekspirasi yang masih sama panjang. Bunyi nafas inipada orang normal dapat didengar pada segitiga auskultasi (area di bagian posterior ronggadada yang dibatasi oleh m. trapezius, m. latissimus dorsi, dan m. rhomboideus mayor) dan lobus otot kanan paru). lebih distal, dengan karakteristiknya halus, lemah, dengan faseinspirasi merupakan bagian yang dominan, sedangkan fase ekspirasi hanya terdengarsepertiganya. Suara vesikuler berasal dari jalan nafas lobar dan segmental, ditransmisikanmelalui parenkim paru normal. Bila terdapat konsolidasi atau atelektasis pada saluran nafasdistal, maka suara yang normalnya vesikuler, akan menjadi suara bronkovesikuler atautrakeobronkial. Ini terjadi karena penghantaran udara yang bertambah karena adanyapemadatan pada jaringan paru. Ada pula yang berpendapat hal ini terjadi karena suaravesikuler yang menurun pada daerah auskultasi, sehingga yang masih terdengar adalah suaradari bronkus (suara bronkial).Suara vesikuler yang diperlemah didapatkan pada keadaan fungsi paru yang menurun(misalnya Schwarte, fibrosis pulmonum, emfisema) atau pada gangguan penghantaran suarakarena adanya cairan (efusi pleura) atau udara di pleura (pneumothorax). Keadaan ini jugabisa didapati pada anak yang gemuk atau atlet yang mempunyai lapisan otot yang tebal.Fase ekspirium suara vesikuler juga bisa diperpanjang pada keadaan di mana terdapatkesulitan mengelurkan udara waktu ekspirasi, seperti pada keadaan asma bronkiale ataubronkiolitis. Kesulitan ini disebabkan oleh banyaknya sekret, edema mukosa bronkus, dan konstriksi dari saluran nafas bawah. Ekspirasi yang memanjang sangat berhubungan denganbunyi tambahan paru yaitu wheezing, dan dapat didengarkan dengan telinga telanjang. Selainkeempat diatas, ada tiga tambahan lain dari suara napas dasar yaitu: suara napas amforik, cog-wheel breath sound dan metamorphosing breath sound. Suara napas amforik ialah suaranapas sangat menyerupai bunyi tiupan di atas mulut botol kosong, dapat didengar padakaverne. Cog-wheel breath sound dipakai untuk menyatakan terdapatnya suara napas yangterputus-putus, tidak kontinu, baik pada fase inspirasi maupun fase ekspirasi. Keadaan inimungkin disebabkan oleh adhesi pleura atau kelainan bronkus kecil. Terdapat misalnya padatuberculosis dini. Metamorphosing breath sound dimulai dengan suara yang halus kemudianmengeras, atau dimulai dengan vesicular kemudian berubah menjadi bronchial. (http://www.scribd.com/doc/97191469/Berbagai-Tipe-Gangguan-Bunyi-Nafas-PadaAnak) 6. Tipe pernafasan abnormal Takipnea atau polipnea adalah bernapas dengan cepat, biasanya menunjukkan adanya penurunan ketegangan paru atau rongga dada. Kedaan seperti itu terdapat pada pneumonia, kongesti paru, edema, ataupun kelainan dada restriktif lainnya. Jika frekuensi napas lebih dari 20 per menit, keadaan ini disebut takipnea. Bradipnea yaitu penurunan frekuensi napas atau pernapasannya lambat. Keadaan ini ditemukan pada depersi pusat pernapasan seperti pada overdosis narkotika. Apnea yaitu tidak adanya respirasi selama paling sedikit 10 detik. Keadaan ini sering ditemukan pada saat tidur dan menandakan adanya sleep apnea syndrome.

Pernapasan biot yaitu frekuensi napas yang tidak teratur dan disertai oeriode apne yang panjang. Napas kussmaul yaitu pernapasan yang cepat dan dalam, ditemukan pada asidosis metabolic. Pernapasan Cheyne-Stokes, yaitu frekuensi napas yang tidak teratur dan disertai periode perubahan frekuensi napas yang intermiten dan pernapasan dalam yang diselingi oleh periode apnea. (Djojodibroto, Darmanto. 2007. Manifestasi Klinis dan Pemeriksaan Fisik. Respirologi. Jakarta : EGC. hal 72) 7. Elektrolit dan nilai normalnya NATRIUM (Na) Natrium adaiah salah satu mineral yang banyak terdapat pada cairan elektrolit ekstraseluler (di luar sel), mempunyai efek menahan air, berfungsi untuk mempertahankan cairan dalam tubuh, mengaktifkan enzim, sebagai konduksi impuls saraf. Nilai normal dalam serum : Dewasa 135-145 mEq/L Anak 135-145 mEq/L Bayi 134-150 mEq/L Nilai normal dalam urin : 40 220 mEq/L/24 jam Penurunan Na terjadi pada diare, muntah, cedera jaringan, bilas lambung, diet rendah garam, gagal ginjal, luka bakar, penggunaan obat diuretik (obat untuk darah tinggi yang fungsinya mengeluarkan air dalam tubuh). Peningkatan Na terjadi pada pasien diare, gangguan jantung krohis, dehidrasi, asupan Na dari makanan tinggi,gagal hepatik (kegagalan fungsi hati), dan penggunaan obat antibiotika, obat batuk, obat golongan laksansia (obat pencahar). Sumber garam Na yaitu: garam dapur, produk awetan (cornedbeef, ikan kaleng, terasi, dan Iain-Iain.), keju,/.buah ceri, saus tomat, acar, dan Iain-Iain. KALIUM (K) Kalium merupakan elektrolit tubuh yang terdapat pada cairan vaskuler (pembuluh darah), 90% dikeluankan melalui urin, rata-rata 40 mEq/L atau 25 -120 mEq/24 jam wa laupun masukan kalium rendah. Nilai normal : Dewasa 3,5 5,0 mEq/L Anak 3,6 5,8 mEq/L Bayi 3,6 5,8 mEq/L Peningkatan kalium (hiperkalemia) terjadi jika terdapat gangguan ginjal, penggunaan obat terutama golongan sefalosporin, histamine, epinefrin, dan Iain-Iain. Penurunan kalium (hipokalemia) terjadi jika masukan kalium dari makanan rendah, pengeluaran lewat urin meningkat, diare, muntah, dehidrasi, luka pembedahan. Makanan yang mengandung kalium yaitu buah-buahan, sari buah, kacang-kacangan, dan Iain-Iain.

KLORIDA (Cl) Merupakan elektrolit bermuatan negatif, banyak terdapat pada cairan ekstraseluler (di luar sel), tidak berada dalam serum, berperan penting dalam keseimbangan cairan tubuh, keseimbangan asam-basa dalam tubuh. Klorida sebagian besar terikat dengan natrium membentuk NaCI (natrium klorida). Nilai normal : Dewasa 95-105 mEq/L Anak 98-110 mEq/L Bayi 95 -110 mEq/L Bayi baru lahir94-112 mEq/L Penurunan klorida dapat terjadi pada penderita muntah, bilas lambung, diare, diet rendah garam, infeksi akut, luka bakar, terlalu banyak keringat, gagal jantung kronis, penggunaan obatThiazid, diuretik, dan Iain-lain. Peningkatan klorida terjadi pada penderita dehidrasi,cedera kepala, peningkatan natrium, gangguan ginjal,penggunaan obat kortison, asetazolamid, dan Iain-Iain. KALSIUM (Ca) Merupakan elektrolit dalam serum, berperan dalam keseimbangan elektrolit, pencegahan tetani, dan dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi gangguan hormon tiroid dan paratiroid. Nilai normal : Dewasa 9-11 mg/dl (di serum) ; <150 mg/24 jam (di urin & diet rendah Ca) ; 200 300 mg/24 jam (di urin & diet tinggi Ca) Anak 9 -11,5 mg/dl Bayi 10 -12 mg/dl Bayi baru lahir7,4 -14 mg/dl. Penurunan kalsium dapat terjadi pada kondisi malabsorpsi saluran cerna, kekurangan asupan kalsium dan vitamin D, gagal ginjal kronis, infeksi yang luas, luka bakar, radang pankreas, diare, pecandu alkohol, kehamilan. Selain itu penurunan kalsium juga dapat dipicu oleh penggunaan obat pencahar, obat maag, insulin, dan Iain-Iain. Peningkatan kalsium terjadi karena adanya keganasan (kanker) pada tulang, paru, payudara, kandung kemih, dan ginjal. Selain itu, kelebihan vitamin D, adanya batu ginjal, olah raga berlebihan, dan Iain-Iain, juga dapat memacu peningkatan kadar kalsium dalam tubuh. (http://infolaboratoriumkesehatan.wordpress.com/2012/07/26/cara-membaca-hasillaboratorium-nilai-normal-hasil-laboratorium/) 8. Nilai normal gula darah puasa : Dewasa 70 -110 mg/dl Anak 60-100 mg/dl Bayi baru lahir30-80 mg/dl (http://infolaboratoriumkesehatan.wordpress.com/2012/07/26/cara-membaca-hasillaboratorium-nilai-normal-hasil-laboratorium/) 9. Hipoglikemi pada bayi Hipoglikemi adalah keadaan hasil pengukuran kadar glukose darah kurang dari 45 mg/dL (2.6 mmol/L). Hipoglikemia adalah masalah metabolik paling umum pada

neonatus. Pada anak-anak, sebuah glukosa darah nilai kurang dari 40 mg / dL (2,2 mmol / L) merupakan hipoglikemia. Sebuah glukosa plasma tingkat kurang dari 30 mg / dL (1,65 mmol / L) dalam 24 jam pertama kehidupan dan kurang dari 45 mg / dL (2,5 mmol / L) setelahnya merupakan hipoglikemia pada bayi baru lahir. (http://childrengrowup.wordpress.com/2012/08/10/penanganan-terkini-hipoglikemiapada-bayi/) 10. Hematokrit adalah Hematokrit menunjukkan persentase zat padat (kadar sel darah merah, dan Iain-Iain) dengan jumlah cairan darah. Semakin tinggi persentase HMT berarti konsentrasi darah makin kental. Hal ini terjadi karena adanya perembesan (kebocoran) cairan ke luar dari pembuluh darah sementara jumlah zat padat tetap, maka darah menjadi lebih kental.Diagnosa DBD (Demam Berdarah Dengue) diperkuat dengan nilai HMT > 20 %. Nilai normal HMT : Anak 33 -38% Pria dewasa 40 48 % Wanita dewasa 37 43 % Penurunan HMT terjadi pada pasien yang mengalami kehilangan darah akut (kehilangan darah secara mendadak, misal pada kecelakaan), anemia, leukemia, gagalginjal kronik, mainutrisi, kekurangan vitamin B dan C, kehamilan, ulkuspeptikum (penyakit tukak lambung). Peningkatan HMT terjadi pada dehidrasi, diare berat,eklampsia (komplikasi pada kehamilan), efek pembedahan, dan luka bakar, dan Iain-Iain. (http://infolaboratoriumkesehatan.wordpress.com/2012/07/26/cara-membaca-hasillaboratorium-nilai-normal-hasil-laboratorium/) 11. Manfaat L-Bio -Probiotik Mikroorganisme hidup dalam makanan yang difermentasi, bermanfaat untuk meningkatkan perimbangan mikroflora usus. Perlu asupan memadai karena probiotik tidak membentuk koloni secara permanen di usus. Bifidobacteria menguntungkan karena berperan: Menghambat pertumbuhan kuman patogen Aktivitas imunomodulasi Restorasi flora usus setelah terapi antibiotik Produksi enzim pencernaan Memperbaiki diare yang disebabkan penggunaan antibiotik Represi rotavirus Mekanisme kerja dengan melakukan perlekatan kompetitor inhibisi pada enterosit Memproduksi bakteriosin yang bersifat antibakteri -Prebiotik Laktulosa Inulin FOS (frukto oligo sakarida) GOS (galakto oligo sakarida) -Sinbiotik

Merupakan gabungan pre dan probiotik Meningkatkan daya tahan hidup bakteri probiotik oleh karena substrat yang spesifik untuk proses fermentasi telah tersedia sehingga tubuh mendapat manfaat sempurna dari sediaan ini. Contoh: Bifidobacteria + FOS Lactobacilli + laktitol Bifidobacteria + GOS Mekanisme Kerja Probiotik pada Diare Menurunkan pH usus melalui stimulasi bakteri penghasil laktat sehingga menciptakan suasana yang tidak menguntungkan untuk pertumbuhan bakteri patogen. Efek antagonis langsung terhadap bakteri pathogen: Kompetisi perlekatan pada reseptor bakteri patogen oleh bakteri probiotik Perbaikan fungsi imun, stimulasi sel imunomodulator dengan meningkatkan produksi antibodi, mobilisasi makrofag, limfosit Kompetisi nutrien Meningkatkan produksi musin mukosa usus sehingga meningkatkan respon imun alami. Beberapa preparat yang tersedia 7 strain bakteri Lactobacillus acidophilus, L.casei, L.salivarius Bifidobacterium infantis B.lactis, B.longum Lactococcus lactis L.acidophilus, B.lactis, Strep.thermophiluss L. acidophilus, B.lactis Premix vitamin: B1, B2, B6, C, dan selenium L.acidophilus, L.casei, L.rhamnosus, Bifidobacterium, Frukto-Oligo-Sakarida L.acidophilus, Dextrosa, Ca, Zn, Vitamin B, C L.rhamnosus L.acidophilus 2 x 109cfu/g

L-Bio Bio-GI Fahrenheit Pro-Bi Rasa jeruk

>108cfu/g

2-3 sachet per hari (2-5 tahun) Bisa dicampur makanan/susu, air 1-2 caps/hari 2 sachet per hari (2-6 tahun) Bayi 1 x 1 sachet Anak 2 x 1 caps 2-4 sachet per hari 1 x 1 cap per hari

Protexin (Sinbiotik) Dialac Kalbe farma Lasidofil

>107cfu/g 3 x 1010cfu/g 1,9 x 109cfu/g

Maltodextrin, Vit C, Mg

0,1 x 109cfu/g

(http://shintalarasaty.wordpress.com/2012/11/22/terapi-zinc-dan-propresin-biotik-padakasus-diare/) 12. Penggunaan Zinc Zinc juga berperan dalam mengatasi diare pada bayi dan anak-anak. Konsumsi zinc pada pasien diare dapat menurunkan jumlah ekskresi feses sampai 31%. Tidak hanya itu frekuensi buang air besar (BAB) juga berkurang sampai 40% dengan pemberian suplemen Zinc. Efektifitasnya dalam mengatasi diare tidak dipengaruhi oleh umur pasien serta jenis Zinc. Pemberian larutan oralit dan pemberian sirup Zinc secara terpisah (tidak boleh dicampurkan) telah terbukti lebih baik dalam mengatasi diare dibandingkan dengan pemberian larutan oralit saja. Zinc terbukti dapat meningkatkan absorpsi air dan elektrolit dengan cara membantu proses regenerasi mukosa intestinal. Zinc juga dapat membantu proses restorasi enzim-enzim di saluran pencernaan, sehingga proses pencernaan dapat pulih kembali seperti semula, tidak hanya itu Zinc juga dapat meningkatkan fungsi kekebalan tubuh. Rekomendasi WHO WHO telah merekomedasikan penggunaan zinc dalam pengobatan diare dengan dosis 10 mg per hari (bayi 2-5 bulan), dan dosis 20 mg per hari (anak 6 bulan ke atas) selama 10 hari, untuk mencegah kemungkinan terjadinya diare selama 3 bulan ke depan. Pemberian selama 10 hari berturut-turut tersebut harus tetap dilakukan meskipun diare sudah berhenti sebelum 10 hari. Untuk bayi, pemberian tablet zinc dapat dilarutkan dengan sedikit air putih atau ASI. Hal penting dalam mengatasi defisiensi Zinc adalah pemberian suplemen Zinc dan memfortifikasi makanan dengan Zinc, terutama makanan untuk bayi, anak-anak, dan ibu hamil. Makanan yang mengandung Zinc antara lain: tiram, kacang-kacangan, almond, biji labu dan bunga matahari, serta daging kalkun bagian leher dan daging sapi antara leher dan bahu. (http://www.anakku.net/meneropong-manfaat-zinc.html) 13. Kandungan oralit Kandungan oralit yang utama adalah campuran antara NaCl dengan gula (glukosa atau sukrosa). Oralit merupakan obat yang dianjurkan untuk mengatasi diare yang menyebabkan banyak kehilangan cairan tubuh. Perlu diperhatikan bahwa oralit tidak menghentikan diare, tetapi mengganti cairan tubuh yang hilang bersama tinja. Dengan mengganti cairan tubuh tersebut, terjadinya dehidrasi dapat dihindarkan. Cara membuat oralit kemasan : Siapkan 1 gelas ( 200 ml ) air matang / telah dimasak Masukan 1 bungkus bubuk oralit kedalam gelas aduk sampai larut benar Cairan oralit siap diminum Cara membuat cairan oralit :

Siapkan gula sebanyak 1 sendok makan Kemudian 1/4 sendok makan garam Air masak 1 gelas belimbing Campuran diaduk sampai larut benar Tiap habis diare diminum 2 gelas (http://www.amalinakayyisah.com/2012/09/cara-membuat-sendiri-cairan-oralit.html) Bedanya terdapat pada tingkat osmolaritas. Osmolaritas oralit baru lebih rendah yaitu 245 mmol/L dibanding total osmolaritas oralit lama yaitu 331 mmol/L. No Oralit lama (WHO/ UNICEF 1978) NaCl : 3,5 g NaHCO3 : 2,5 g KCl : 1,5 g Glukose: 20 g Na : 90 mEq/l K : 30 mEq/l HCO3 : 30 mEq/l Cl : 80 mEq/l Glukose : 111 mmol/l Osmolar: 331 mmol/l Oralit formula UNICEF 2004) baru (WHO/

1 2 3 4 5 6 7 8 9

NaCl : 2,6 g NaHCO3 : 2,9 g KCl : 1,5 g Glukose: 13,5 g Na : 75 mEq/l K : 20 mEq/l Citrate : 10 mEq/l Cl : 65 mEq/l Glukose : 75 mmol/l Osmolar : 245 mmol/l

14. Manfaat kandungan oralit Oralit diberikan untuk mengganti cairan dan elektrolit dalam tubuh yang terbuang saat diare. Walaupun air sangat penting untuk mencegah dehidrasi, air minum tidak mengandung garam elektrolit yang diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan elektrolit dalam tubuh sehingga lebih diutamakan oralit. Campuran glukosa dan garam yang terkandung dalam oralit dapat diserap dengan baik oleh usus penderita diare. (http://pediatricia.wordpress.com/2009/05/29/lintas-diare/) 15. Pemeriksaan Feses lengkap Macam pemeriksaan a. Makroskopis Pemeriksaan makroskopik tinja meliputi pemeriksaan jumlah, warna, bau, darah, lendir dan parasit. Feses untuk pemeriksaan sebaiknya yang berasal dari defekasi spontan. Jika pemeriksaan sangat diperlukan,boleh juga sampel tinja di ambil dengan jari bersarung dari rectum. Untuk pemeriksaan biasa dipakai tinja sewaktu, jarang diperlukan tinja 24 jam untuk pemeriksaan tertentu. Tinja hendaknya diperiksa dalam keadaan segar, kalau dibiarkan mungkin sekali unsureunsur dalam tinja itu menjadi rusak. Bahan ini harus dianggap bahan yang mungkin mendatangkan infeksi,berhati-hatilah saat bekerja. Dibawah ini merupakan syarat dalam pengumpulan sampel untuk pemeriksaan feses :

1) Wadah sampel bersih, kedap, bebas dari urine 2) Harus diperiksa 30 40 menit sejak dikeluarkan jika ada penundaan simpan di almari es 3) Tidak boleh menelan barium, bismuth dan minyak 5 hari sebelum pemeriksaan 4) Diambil dari bagian yang paling mungkin memberi kelainan. misalnya bagian yang bercampur darah atai lendir 5) Paling baik dari defekasi spontan atau Rectal Toucher sebagai pemeriksaan tinja sewaktu. 6) Pasien konstipasi dapat diberikan saline cathartic terlebih dahulu 7) Pada Kasus Oxyuris dapat digunakan metode schoth tape & object glass 8) Untuk mengirim tinja, wadah yang baik ialah yang terbuat dari kaca atau sari bahan lain yang tidak dapat ditembus seperti plastic. Kalau konsistensi tinja keras,dos karton berlapis paraffin juga boleh dipakai. Wadah harus bermulut lebar 9) Oleh karena unsure-unsur patologik biasanya tidak dapat merata, maka hasil pemeriksaan mikroskopi tidak dapat dinilai derajat kepositifannya dengan tepat, cukup diberi tanda (negatif),(+),(++),(+++) saja Berikut adalah uraian tentang berbagai macam pemeriksaan secara makroskopis dengan sampel feses. 1) Pemeriksaan Jumlah Dalam keadaan normal jumlah tinja berkisar antara 100-250gram per hari. Banyaknya tinja dipengaruhi jenis makanan bila banyak makan sayur jumlah tinja meningkat. 2) Pemeriksaan Warna a) Tinja normal kuning coklat dan warna ini dapat berubah mejadi lebih tua dengan terbentuknya urobilin lebih banyak. Selain urobilin warna tinjan dipengaruhi oleh berbagai jenis makanan, kelainan dalam saluran pencernaan dan obat yang dimakan. Warna kuning juga dapat disebabkan karena susu,jagung, lemak dan obat santonin. b) Tinja yang berwarna hijau dapat disebabkan oleh sayuran yang mengandung khlorofil atau pada bayi yang baru lahir disebabkan oleh biliverdin dan porphyrin dalam mekonium. c) Warna kelabu mungkin disebabkan karena tidak ada urobilinogen dalam saluran pencernaan yang didapat pada ikterus obstruktif, tinja tersebut disebut akholis. Keadaan tersebut mungkin didapat pada defisiensi enzim pankreas seperti pada steatorrhoe yang menyebabkan makanan mengandung banyak lemak yang tidak dapat dicerna dan juga setelah pemberian garam barium setelah pemeriksaan radiologik. d) Tinja yang berwarna merah muda dapat disebabkan oleh perdarahan yang segar dibagian distal, mungkin pula oleh makanan seperti bit atau tomat. e) Warna coklat mungkin disebabkan adanya perdarahan dibagian proksimal saluran pencernaan atau karena makanan seperti coklat, kopi dan lain-lain. Warna coklat tua disebabkan urobilin yang berlebihan seperti pada anemia hemolitik. Sedangkan warna hitam dapat disebabkan obat yang yang mengandung besi, arang atau bismuth dan mungkin juga oleh melena. 3) Pemeriksaan Bau

Indol, skatol dan asam butirat menyebabkan bau normal pada tinja. Bau busuk didapatkan jika dalam usus terjadi pembusukan protein yang tidak dicerna dan dirombak oleh kuman.Reaksi tinja menjadi lindi oleh pembusukan semacam itu. Tinja yang berbau tengik atau asam disebabkan oleh peragian gula yang tidak dicerna seperti pada diare. Reaksi tinja pada keadaan itu menjadi asam. Konsumsi makanan dengan rempah-rempah dapat mengakibatkan rempah-rempah yang tercerna menambah bau tinja. 4) Pemeriksaan Konsistensi Tinja normal mempunyai konsistensi agak lunak dan bebentuk. Pada diare konsistensi menjadi sangat lunak atau cair, sedangkan sebaliknya tinja yang keras atau skibala didapatkan pada konstipasi. Peragian karbohidrat dalam usus menghasilkan tinja yang lunak dan bercampur gas. Konsistensi tinja berbentuk pita ditemukan pada penyakit hisprung. feses yang sangat besar dan berminyak menunjukkan alabsorpsi usus 5) Pemeriksaan Lendir Dalam keadaan normal didapatkan sedikit sekali lendir dalam tinja. Terdapatnya lendir yang banyak berarti ada rangsangan atau radang pada dinding usus. a) Lendir yang terdapat di bagian luar tinja, lokalisasi iritasi itu mungkin terletak pada usus besar. Sedangkan bila lendir bercampur baur dengan tinja mungkin sekali iritasi terjadi pada usus halus. b) Pada disentri, intususepsi dan ileokolitis bisa didapatkan lendir saja tanpa tinja. c) Lendir transparan yang menempel pada luar feces diakibatkan spastik kolitis, mucous colitis pada anxietas. d) Tinja dengan lendir dan bercampur darah terjadi pada keganasan serta peradangan rektal anal. e) Tinja dengan lendir bercampur nanah dan darah dikarenakan adanya ulseratif kolitis, disentri basiler, divertikulitis ulceratif, intestinal tbc. f) Tinja dengan lendir yang sangat banyak dikarenakan adanya vilous adenoma colon. 6) Pemeriksaan Darah. Adanya darah dalam tinja dapat berwarna merah muda,coklat atau hitam. Darah itu mungkin terdapat di bagian luar tinja atau bercampur baur dengan tinja. a) Pada perdarahan proksimal saluran pencernaan darah akan bercampur dengan tinja dan warna menjadi hitam, ini disebut melena seperti pada tukak lambung atau varices dalam oesophagus. b) Pada perdarahan di bagian distal saluran pencernaan darah terdapat di bagian luar tinja yang berwarna merah muda yang dijumpai pada hemoroid atau karsinoma rektum. Semakin proksimal sumber perdarahan semakin hitam warnanya. 7) Pemeriksaan Nanah Pada pemeriksaan feses dapat ditemukan nanah. Hal ini terdapat pada pada penyakit Kronik ulseratif Kolon , Fistula colon sigmoid, Lokal abses.Sedangkan pada penyakit disentri basiler tidak didapatkan nanah dalam jumlah yang banyak. 8) Pemeriksaan Parasit

Diperiksa pula adanya cacing ascaris, anylostoma dan spesies cacing lainnya yang mungkin didapatkan dalam feses. 9) Pemeriksaan adanya sisa makanan Hampir selalu dapat ditemukan sisa makana yang tidak tercerna, bukan keberadaannya yang mengindikasikan kelainan melainkan jumlahnya yang dalam keadaan tertentu dihubungkan dengan sesuatu hal yang abnormal. Sisa makanan itu sebagian berasal dari makanan daun-daunan dan sebagian lagi makanan berasal dari hewan, seperti serta otot, serat elastic dan zat-zat lainnya. Untuk identifikasi lebih lanjut emulsi tinja dicampur dengan larutan Lugol maka pati (amylum) yang tidak sempurna dicerna nampak seperti butir-butir biru atau merah. Penambahan larutan jenuh Sudan III atau Sudan IV dalam alkohol 70% menjadikan lemak netral terlihat sebagai tetes-tetes merah atau jingga. b. Mikroskopis Pemeriksaan mikroskopik meliputi pemeriksaan protozoa, telur cacing, leukosit, eritosit, sel epitel, kristal, makrofag dan sel ragi. Dari semua pemeriksaan ini yang terpenting adalah pemeriksaan terhadap protozoa dan telur cacing. 1) Protozoa Biasanya didapati dalam bentuk kista, bila konsistensi tinja cair baru didapatkan bentuk trofozoit. 2) Telur cacing Telur cacing yang mungkin didapat yaitu Ascaris lumbricoides, Necator americanus, Enterobius vermicularis, Trichuris trichiura, Strongyloides stercoralis dan sebagainya. 3) Leukosit Dalam keadaan normal dapat terlihat beberapa leukosit dalam seluruh sediaan. Pada disentri basiler, kolitis ulserosa dan peradangan didapatkan peningkatan jumlah leukosit. Eosinofil mungkin ditemukan pada bagian tinja yang berlendir pada penderita dengan alergi saluran pencenaan. Untuk mempermudah pengamatan leukosit dapat ditambah 1 tetes asam acetat 10% pada 1 tetes emulsi feces pada obyek glass. 4) Eritrosit Eritrosit hanya terlihat bila terdapat lesi dalam kolon, rektum atau anus. Sedangkan bila lokalisasi lebih proksimal eritrosit telah hancur. Adanya eritrosit dalam tinja selalu berarti abnormal. 5) Epitel Dalam keadaan normal dapat ditemukan beberapa sel epite lyaitu yang berasal dari dinding usus bagian distal. Sel epitel yang berasal dari bagian proksimal jarang terlihat karena sel inibiasanya telah rusak. Jumlah sel epitel bertambah banyak kalau ada perangsangan atau peradangan dinding usus bagian distal. 6) Kristal Kristal dalam tinja tidak banyak artinya. Dalam tinja normal mungkin terlihat kristal tripel fosfat, kalsium oksalat dan asam lemak. Kristal tripel fosfat dan kalsium oksalat didapatkan setelah memakan bayam atau strawberi, sedangkan kristal asam lemak didapatkan setelah banyak makan lemak.

Sebagai kelainan mungkin dijumpai kristal Charcoat Leyden Tinja, Butir-butir amilum dan kristal hematoidin. Kristal Charcoat Leyden didapat pada ulkus saluran pencernaan seperti yang disebabkan amubiasis. Pada perdarahan saluran pencernaan mungkin didapatkan kristal hematoidin. 7) Makrofag Sel besar berinti satu dengan daya fagositosis, dalam sitoplasmanya sering dapat dilihat bakteri selain eritrosit, lekosit .Bentuknya menyerupai amuba tetapi tidak bergerak. 8) Sel ragi Khusus Blastocystis hominis jarang didapat. Pentingnya mengenal strukturnya ialah supaya jangan dianggap kista amoeba 9) Jamur a. Pemeriksaan KOH Pemeriksaan KOH adalah pemeriksaan tinja dengan menggunakan larutan KOH (kalium hidroksida) untuk mendeteksi adanya jamur, sedangkan pemeriksaan tinja rutin adalah pemeriksaan tinja yang biasa dilakukan dengan menggunakan lugol. Untuk membedakan antara Candida dalam keadaan normal dengan Kandidiasis adalah pada kandidiasis, selain gejala kandidiasis, dari hasil pemeriksaan dapat ditemukan bentuk pseudohifa yang merupakan bentuk invasif dari Candida pada sediaan tinja. Timbulnya kandidiasis juga dapat dipermudah dengan adanya faktor risiko seperti diabetes melitus, AIDS, pengobatan antikanker, dan penggunaan antibiotika jangka panjang. Kalau memang positif kandidiasis dan terdapat gejala kandidiasis, maka biasanya dapat sembuh total dengan obat jamur seperti fluconazole, tetapi tentu saja bila ada faktor risiko juga harus diatasi. Swap adalah mengusap mukosa atau selaput lendir atau pseudomembran kemudian hasil usapan diperiksa secara mikroskopik, sedangkan biopsi adalah pengambilan jaringan atau sel untuk dilakukan pemeriksaan secara mikroskopik juga. (http://medicalforbetter.blogspot.com/2011/06/pemeriksaan-laboratorium-feses-dan.html) 16. Capillary refill time adalah Capillary refill time adalah tes yang dilakukan cepat pada daerah kuku untuk memonitordehidrasi dan jumlah aliran darah ke jaringan (perfusi). Cara kerja tes CRT: Jaringan membutuhkan oksigen untuk hidup, oksigen dibawa kebagian tubuh oleh systemvaskuler darah.Tes CRT dilakukan dengan memegang tangan pasien lebih tinggi dari jantung(mencegah refluks vena ), lalu tekan lembut kuku jari tangan atau jari kaki sampai putih,kemudian dilepaskan. Catatlah waktu yang dibutuhkan untuk warna kuku kembali normal(memerah) setelah tekanan dilepaskan.Pada bayi yang baru lahir, pengisian kapiler dapat diukur dengan menekan pada tulangdada selama lima detik dengan jari telunjuk atau ibu jari, dan catat waktu yang dibutuhkanuntuk warna kulit kembali normal setelah tekanan dilepaskan. Penilaian tes CRT Jika aliran darah baik ke daerah kuku, warna kuku kembali normal kurang dari 2 detik. Pada bayibaru lahir batas normal pengisian kapiler adalah 3 detik.CRT memanjang (> 2 detik) pada : Dehidrasi (hipovolumia) Syok

Peripheral vascular disease hipotermia CRT memanjang utama ditemukan pada pasien yang mengalami keadaan hipovolumia(dehidrasi,syok), dan bisa terjadi pada pasien yang hipervolumia yang perjalanan selanjutnyamengalami ekstravasasi cairan dan penurunan cardiac output dan jatuh pada keadaan syok. (http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/003394.htm) 17. Pembesaran kelenjar getah bening Penyebab pembesaran kelenjar getah bening Penyebab umum terjadinya pembesaran kelenjar getah bening meliputi : Infeksi umum Radang tenggorokan Penyakit gondok Campak Infeksi telinga Infeksi gigi (abses gigi) Infeksi luka Infeksi lainnya Tuberkulosis (TB) Beberapa penyakit menular seksual, seperti sifilis Toksoplasmosis infeksi parasit yang dihasilkan dari kontak dengan tinja kucing yang terinfeksi atau makan daging kurang matang Gangguan sistem kekebalan Lupus penyakit peradangan kronis yang dapat menyerang sendi, kulit, ginjal, sel darah, jantung dan paru-paru Rheumatoid arthritis penyakit peradangan kronis yang menyerang jaringan yang melapisi sendi (sinovium) Human immunodeficiency virus (HIV) virus penyebab AIDS Kanker Limfoma kanker yang berasal dalam sistem limfatik Leukemia kanker jaringan tubuh yang membentuk darah, termasuk sumsum tulang dan sistem limfatik Kanker lain yang telah menyebar (metastasis) ke kelenjar getah bening Penyebab lainnya mungkin, tapi jarang, termasuk obat-obatan tertentu, seperti phenytoin (Dilantin), digunakan untuk mencegah kejang, dan imunisasi tertentu. Gejala dan tanda pembesaran kelenjar getah bening Kelenjar getah bening berjumlah sekitar 600 yang sebagian besar barada di kepala dan leher sehingga kelenjar getah bening yang paling sering membengkak dan membesar terletak pada daerah ini dan juga daerah ketiak dan selangkangan. Gejala dan tanda pembesaran dan pembengkakan kelenjar getah bening meliputi : Pembesaran kelenjar getah bening yang terkena dampak minimal 0,4 inci (1 cm) atau lebih Cenderung terasa nyeri pada kelenjar yang mengalami pembesaran dan pembengkakan Pembesaran kelenjar getah bening sering disertai pilek, sakit tenggorokan, demam dan indikasi lain dari infeksi saluran pernapasan atas

Biasanya pembengkakan kelenjar getah bening yang terjadi di seluruh tubuh mengindikasikan adanya infeksi, seperti HIV atau mononucleosis, atau gangguan kekebalan tubuh, seperti lupus atau rheumatoid arthritis Merah dan meradang pada kulit di atas kelenjar getah bening yang bengkak Tungkai bengkak, mungkin menunjukkan penyumbatan sistem getah bening yang disebabkan oleh pembengkakan di kelenjar getah bening yang letaknya jauh di bawah kulit. Pembesaran kelenjar getah bening yang cepat dan bersifat keras mungkin menunjukkan tumor (jarang) (http://maduhitampahit.blogspot.com/2012/06/penyebab-kelenjar-getah-bening.html) 18. Perbedaan infeksi virus dan infeksi bakteri Kenali gejala umum radang tenggorokan akibat infeksi virus sebagai berikut: rasa pedih atau gatal dan kering. batuk dan bersin. sedikit demam atau tanpa demam. suara serak atau parau. hidung meler dan adanya cairan di belakang hidung. Infeksi bakteri memang tidak sesering infeksi virus, tetapi dampaknya bisa lebih serius. Umumnya, radang tenggorokan diakibatkan oleh bakteri jenis streptokokus sehingga disebut radang streptokokus. Seringkali seseorang menderita infeksi streptokokus karena tertular orang lain yang telah menderita radang 2-7 hari sebelumnya. Radang ini ditularkan melalui sekresi hidung atau tenggorokan. Kenali gejala umum radang streptokokus berikut: tonsil dan kelenjar leher membengkak bagian belakang tenggorokan berwarana merah cerah dengan bercak-bercak putih. demam seringkali lebih tinggi dari 38 derajat celsius dan sering disertai rasa menggigil sakit waktu menelan. Radang streptokokus memerlukan bantuan dokter karena bila penyebabnya adalah kuman streptokokus dan tidak mendapat antibiotik yang memadai maka penyakit akan bertambah parah dan kuman dapat menyerang katup jantung sehingga menimbulkan penyakit Demam Rhematik.p; (http://medicastore.com/cooling_5/radang_tenggorokan.html) 19. Pengukuran lingkar kepala Padabayi kurang dari 2 tahun, lingkaran kepala diukur secara rutin. Pada anak yang lebih besar, lingkaran kepala baru diukur apabila terdapat kecurigaan pada kepalanya. Alat pengukur yang dipakai adalah pita metal yang fleksibel, karena pita yang terbuat dari kain mudah meregang sehingga dapat memberi nilai yang salah. Yang diukur adalah lingkaran kepala terbesar. Caranya dengan meletakkan pita melingkari kepala melalui glabella pada dahi, bagian atas alis mata dan bagian belakang kepala pasien yang menonjol yaitu protuberantia oksipitalis. Pita pengukur diletakkan sedemikian rupa hingga kencang melingkari kepala. Sebaiknya ada yang membantu sehingga kepala bayi dapat diem.

Pada waktu lahir lingkaran kepala adalah sekitar 35 cm, pada umur 6 bulan 43,5 cm. pada umur 1 tahun lingkaran kepala sudah bertambah 12 cm dari waktu lahir dan pada umur 6 tahun bertambah lagi 6 cm. setelah itu hanya terjadi penambahan lingkaran kepala sedikit saja, pada waktu dewasa lingkaran kepala adalah 55 cm. (Matondang.s dkk. 2003. DiagnosisFisis pada Anak.jakarta.CV.sagung seto.hal; 180) 20. Pemeriksaan suhu tubuh 1. Arteri pulmonalis Suhu tubuh yang diangap palin mendekati suhu yang terukur oleh thermostat di hipotalamus adalah suhu darah arteri pulmonalis, tetapi pengukuran tersebut merupakan cara invasive, menggunakan kateter arteri pulmonal sehingga hanya sesuai digunakan untuk perawatan intensif tau pasien badan tertentu. 2. Esofagus Suhu esofagus dianggap suhu yang mendekati suhu inti karena dekat dengan arteri yang membawa darah dari jantung ke otak, dan lebih tidak invasive dibandingkan dengan pengukuran suhu arteri pulmonalis. Namun suhu esofagus tidak sama sepanjang esophagus. Pada esofagus bagian atas dipengaruhi udara trakeal sedankan bagian 1/3 bawah paralel dengan suhu aliran daerah arteri pulmonalis. 3. Kandung kemih Kandung kemih merupakan tempat lain yang digunakan untuk pengukuran suhu tubuh, karena diasumsikan bahwa urin merupakan hasil filtrasi darah yang ekuivalen dengan 20% curah jantung dan merefleksikan suhu rata-rata aliran darah yang melalui ginjal pada satuan waktu tertentu. Namun tingkat keakuratan pengukuran suhu sangat tergantung dari jumlah urin yang keluar. 4. Rektal Suhu rektal diangap sebagai baku emas dalam pengukuran suhu karena bersifat praktis dan akurat dalam estimasi rutin suhu tubuh. Namun demikian ditemukan beberapa kelemahan. Bezinger dkk menyatakan pada rektum tidak ditemukan sistem termoregulasi. Suhu rektal lebih tinggi dibandingkan tempat lain (arteri pulmonalis), hal ini mungkin akibat aktivitas metabolik bakteri feses. Nilai suhu rektal dipengaruhi oleh kedalaman insersi termometer, kondisi aliran darah, dan ada atau tidaknya feses. Selain itu terapat risiko perforasi rektal dan infeksi nosokomial. 5. Oral Pengukuran oral lebih disukai karena kemudahan dalam teknik penukurannya, demikian juga dengan responnya terhadap perubahan suhu inti tubuh. Suhu sublingual cukup dapat diterima secara klinis karena arteri utamanya merupakan cabang arteri karotid eksterna dan mempunyai respon yang cepat terhadap perubahan suhu ini. 6. Aksila Pengukuran suhu aksila relative mudah bagi pemeriksa, nyaman bagi pasien, dan mempunyai risiko yang paling kecil untuk penyebaran penyakit. Kelemahan pengukuran suhu aksila terletak pada sensitivitasnya yang rendah dan mempunyai variasi suhu yan tinggi dan sangat sipengaruhi suhu lingkungan. 7. Membran timpani Secara teoritis membran timpani merupakan tempat yang ideal untuk pengukuran suhu inti karena terdapat arteri yang berhubungan dengan pusat termoregulasi. Termometer membran timpani saat ini menggunakan metode infrared radiation emitted detectors

(IRED). Walaupun dari segi kenyaman cukup baik, pengukuran suhu membran timpani hingga saat ini jarang dipergunakan karena variasi nilai suhu yang berkorelasi denga suhu oral atau rektal cukup besar. (Soedarmono, Sumarmo. 2010. Buku Ajar Infeksi & Pediatri Tropis. Edisi Kedua. Jakarta : Badan Penerbit IDAI) 21. Patomekanisme TBC paru

(http://staff.ui.ac.id/internal/140076093/material/DIAGNOSISDANPENATALAKSANA ANTBPARU08.pdf)

22. Pembesarn tonsil

Thane & Cody membagi pembesaran tonsil dalam ukuran T1 T4 : T1 : batas medial tonsil melewati pilar anterior sampai jarak pilar anterior uvula T2 : batas medial tonsil melewati jarak pilar anterior uvula sampai jarak anterior uvula T3 : batas medial tonsil melewati jarak pilar anterior uvula sampai jarak pilar anterior uvula T4 : batas medial tonsil melewati jarak anterior uvula sampai uvula atau lebih. (http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/32582/4/Chapter%20II.pdf) 23. Klasifikasi diare a. Diare Osmotik Diare osmotik adalah diare yang disebabkan oleh bahan-bahan osmotik, yaitu bahanbahan makanan tertentu yang tidak dapat diangkut oleh darah dan tertinggal di dalam usus. Beberapa contoh bahan osmotik adalah heksitol, sorbitol, dan manitol. Penyebab lain diare osmotik adalah kekurangan enzim laktase. Enzim laktase adalah enzim yang diproduksi di dalam usus halus. Enzim ini berfungsi mengubah laktosa (gula usus) menjadi glukosa dan galaktosa, sehingga dapat diserap oleh darah. Apabila orang yang kekurangan enzim laktase mengonsumsi susu atau produk olahan susu maka laktosa akan menumpuk di dalam usus halus sehingga mengakibatkan terjadinya diare osmotik. Berat ringannya diare yang dialami oleh penderita diare osmotik dipengaruhi oleh jumlah bahan osmotik yang dikonsumsi dan masuk ke usus. Pada umumnya, diare osmotik akan berhenti saat penderita berhenti mengonsumsi makanan yang mengandung bahan-bahan osmotik. b. Diare Sekretorik Diare sekretorik terjadi saat usus kecil dan usus besar mengeluarkan senyawa garam (terutama natrium klorida) dan air ke dalam feses. Sekresi garam dan air yang berlebihan ini dapat disebabkan oleh pelbagai faktor, seperti adanya senyawa toksin, minyak kastor,

atau asam empedu di dalam usus. Selain itu, diare sekretorik juga dapat disebabkan oleh adanya tumor tertentu, misalnya karsinoid, gastrinoma, dan vipoma. c. Sindroma Malabsorbsi Sindroma malabsorbsi merupakan gangguan penyerapan sari-sari makanan di dalam usus halus. Penderita gangguan ini biasanya tidak dapat mencerna makanan secara normal. Pada saat terjadi sindroma malabsorbsi secara menyeluruh, lemak dan karbohidrat tidak dapat diserap dengan baik. Lemak yang tertinggal di dalam usus besar dapat mengakibatkan diare sekretorik, sedangkan karbohidrat yang tertinggal dalam usus besar dapat mengakibatkan diare osmotik. Terjadinya sindroma malabsorbsi dapat dipicu oleh pelbagai faktor. Misalnya, sariawan nontropikal, insufisiensi pankreas, pengangkatan sebagian usus, berkurangnya aliran darah ke usus, penurunan produksi enzim tertentu di dalam usus halus, dan adanya penyakit pada hati.

d. Diare Eksudatif Diare eksudatif merupakan diare yang disebabkan oleh terjadinya peradangan atau terbentuknya borok pada usus besar. Peradangan atau borok ini dapat memicu pelepasan protein, darah, lendir, dan cairan lainnya yang dapat meningkatkan kandungan serat dalam feses dan membuat feses menjadi encer. Diare eksudatif biasanya dipicu oleh jenis penyakit lain, seperti TBC, limfoma, kanker, penyakit Chorn, dan kolitis ulserativa. e. Diare Karena Perubahan Bagian Usus Pada keadaan normal, feses biasanya memiliki kandungan air 60-90%. Untuk dapat mencapai keadaan tersebut, feses harus berada di dalam usus besar selama beberapa waktu tertentu. Apabila terlalu cepat atau terlalu lama di dalam usus besar maka feses menjadi tidak normal. jika terlalu cepat meninggalkan usus besar, feses menjadi sangat encer. Sebaliknya, feses akan menjadi sangat keras dan kering jika terlalu lama berada di dalam usus besar. Perubahan bagian (pasase) usus mengakibatkan feses terlalu cepat meninggalkan usus besar, sehingga feses menjadi sangat encer. Beberapa hal yang dapat mempersingkat keberadaan feses di dalam usus besar antara lain hipertiroid, pengangkatan sebagian usus halus atau usus besar, pembedahan perut, pengobatan borok dengan memotong saraf vagus, dan konsumsi obat-obatan pencahar. (http://e-sejati.blogspot.com/2012/11/jenis-jenis-diare-berdasarkan.html) 24. Pemeriksaan Hb PEMERIKSAAN HEMOGLOBIN METODE SAHLI Prinsip: Hb asam hematin (oleh HCl) warna as hematin dibandingkan dengan standart Tujuan: menetapkan kadar Hb dlm darah Reagen: lar HCl 0,1N, aquadest Alat:

Gelas berwarna sbg standart Tabung hemometer Pengaduk dari gelas Pipet Sahli, pipet Pasteur Kertas saring Cara pemeriksaan: Tab hemometer diisi lar HCl 0,1N sampai tanda 2 Hisap darah kapiler dng pipet Sahli smpi tanda 20 l Hapus kelebihan darah dng kertas tisu Masukan darah kedalam tabung hemometer Bilas darah dengan larutan HCl didlm tabung Cara pemeriksaan: Tunggu 5 menit pembentukan as. Hematin Tambah aquadest sampai warna sama dengan standart baca dalam gr/dl Nilai Normal: Laki-laki: 14 18 gr/dl Wanita : 12 16 gr/dl (http://worldhealth-bokepzz.blogspot.com/2012/06/cara-pemeriksaan-hemoglobinmetode.html) 25. Mekanisme kehilangan panas pada bayi BBL dapat kehilangan panas tubuh melalui cara-cara berikut : 1. Evaporasi Adalah jalan utama bayi kehilangan panas. jika saat lahir tubuh bayi tidak segera dikeringkan dapat terjadi kehilangan panas tubuh bayi sendiri. Kehilangan panas juag terjadi pada bayi yang terlalu cepat dimandikan dan tubuhnya tidak segera dikeringkan dan diselimuti. 2. Konduksi Adalah kehilangan panas tubuh melalui kontak langsung antara tubuh bayi dengan permukaan yang dingin. Meja, tempat tidur, atau timbangan yang temperaturnya lebih rendah dari tubuh bayi akan menyerap panas tubuh bayi melalui mekanisme konduksi apabila bayi diletakkan di atas benda-benda tersebut. Contoh : - Menimbang bayi tanpa alas timbangan - Tangan penolong yang dingin saat memegang BBL - Menggunakan stetoskop dingin untuk memeriksa BBL 3. Konveksi Adalah kehilangan panas tubuh yang terjadi saat bayi terpapar udara sekitar yang lebih dingin. Bayi yang dilahirkan atau ditempatkan di dalam ruangan yang dingin akan cepat mengalami kehilangan panas. Kehilangan panas juga terjadi jika terjadi konveksi aliran udara dari kipas angin, hembusan udara melalui ventilasi atau pendingin ruangan. Contoh : - Membiarkan atau menempatkan BBL di dekat jendela

- Membiarkan BBL di ruangan yang terpasang kipas angin 4. Radiasi Adalah kehilangan panas yang terjadi karena bayi ditempatkan di dekat benda-benda yang mempunyai suhu tubuh lebih rendah dari suhu tubuh bayi. Bayi bisa kehilangan panas dengan cara ini karena benda-benda tersebut menyerap radiasi panas tubuh bayi (walaupun tidak bersentuhan secara langsung). Panas dipancarkan dari BBL, keluar tubuhnya ke lingkungan yang lebih dinginn (Pemindahan panas antara 2 objek yang mempunyai suhu berbeda) Contoh : - BBL dibiarkan dalam ruangan ber AC - BBL dibiarkan dalam keadaan telanjang

(http://amazingbiges.blogspot.com/2012/02/mekanisme-kehilangan-panas-bayibaru.html) 26. Mekanisme menggigil Rangsangan Hipotalamik terhadap Menggigil Terletak pada bagian dorsomedial dari hipotalamus posterior dekat dinding ventrikel ketiga yang merupakan area pusat motorik primer untuk menggigil. Area ini normalnya dihambat oleh sinyal dari pusat panas pada area preoptik-hipotalamus anterior, tapi dirangsang oleh sinyal dingin dari kulit dan medulla spinalis. Ketika terjadi peningkatan yang tiba-tiba dalam produksi panas, pusat ini teraktivasi ketika suhu tubuh turun bahkan hanya beberapa derajat dibawah nilai suhu kritis. Pusat ini kemudian meneruskan sinyal yang menyebabkan menggigil melalui traktus bilateral turun ke batang otak, ke dalam kolumna lateralis medulla spinalis, dan akhirnya, ke neuron motorik anterior. Sinyal ini tidak teratur, dan tidak benar-benar menyebabkan gerakan otot yang sebenarnya. Sebaliknya, sinyal tersebut meningkatkan tonus otot rangka diseluruh tubuh. Ketika tonus meningkat diatas tingkat kritis, proses menggigil dimulai. Selama proses menggigil maksimum, pembentukan panas tubuh dapat meningkat sebesar 4-5 kali dari normal. (Guyton A. C, Hall J. E. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta : EGC.)

27. Imunisasi Advisory Committee on Immunization Practices merekomendasikan imunisasi rutin Tdap pada remaja sebagai berikut : Remaja usia 1118 tahun sebaiknya mendapat dosis tunggal Tdap dibandingkan vaksin tetanus dan diphtheria (Td) untuk booster imunisasi melawan tetanus, diphtheria, dan pertussis jika mereka telah mendapat vaksin DPT/DTaP lengkap yang direkomendasikan semasa bayi dan anak-anak (5 dosis sebelum usia 7 tahun; jika dosis keempat diberikan saat usia 7 tahun atau lebih maka tidak diperlukan dosis kelima) dan belum mendapat vaksinasi Td atau Tdap. Usia vaksinasi Tdap yang direkomendasikan yaitu 11-12 tahun. Remaja usia 1118 tahun yang mendapat Td, tapi belum mendapat Tdap, sebaiknya mendapat dosis tunggal Tdap untuk memberikan perlindungan terhadap pertussis jika mereka telah mendapat vaksinasi DTP/DTaP lengkap. Interval pemberian antara Td dan Tdap yaitu 5 tahun untuk mengurangi resiko reaksi lokal dan sistemik setelah vaksinasi Tdap. Walaupun demikian, dapat digunakan interval pemberian kurang dari 5 tahun. Penyedia vaksin sebaiknya memberikan vaksinasi Tdap dan tetravalent meningococcal conjugate pada remaja usia 1118 pada waktu yang bersamaan bila vaksin tersebut tersedia dan diindikasikan. Kontraindikasi Vaksin Tdap dan Td Kontraindikasi vaksin Tdap dan Td pada remaja usia 11-18 tahun adalah sebagai berikut : Individu dengan riwayat reaksi alergi serius terhadap komponen vaksin (misalnya syok anafilaktik) Remaja dengan riwayat ensefalopati (koma atau kejang berkepanjangan) tidak boleh mendapat komponen vaksin pertussis sehingga mereka hanya mendapat vaksinasi Td saja dan bukan vaksinasi Tdap. Vaksin Influenza Diberikan setiap tahun pada anak usia 6 bulan sampai 18 tahun. pada semua individu tidak memandang ada tidaknya faktor risiko. Diberikan 1 x intra muskuler Vaksin Human papillomavirus (HPV) Vaksin HPV yang telah beredar dibuat dengan teknologi rekombinan. Vaksin HPV berpotensi untuk mengurangi angka morbiditas dan mortalitas yang berhubungan dengan infeksi HPV genitalia. Terdapat 2 jenis vaksin HPV yaitu vaksin bivalen (tipe 16 dan 18, Cervarix) dan vaksin quadrivalen (tipe 6, 11, 16 dan 18, Gardasil). Vaksin ini mempunyai efikasi 96-100% untuk mencegah kanker leher rahim yang disebabkan oleh HPV tipe 16/18. Vaksin HPV telah disahkan oleh Food and Drug Administration (FDA) dan Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) dan di Indonesia sudah diizinkan badan POM RI. Imunisasi vaksin HPV diperuntukkan pada anak perempuan dengan usia >10 tahun. Imunisasi diberikan dengan dosis 0,5 mL secara intramuskular pada M.deltoideus, untuk vaksin HPV bivalen, imunisasi diberikan dengan jadwal 0, 1 dan 6 bulan. Sedangkan untuk vaksin HPV kuadrivalen, dengan jadwal 0, 2 dan 6.

Meningococcal conjugate vaccine (MCV) Infeksi meningokok adalah infeksi invasif yang mengakibatkan meningokoksemia, dan atau meningitis. Di Indonesia belum ada data yang pasti pada anak. Pencegahan diberikan kepada jemaah haji yang akan berada untuk waktu yang lama di daerah yang kecil dengan jumlah orang yang sangat banyak serta padat. Arab Saudi termasuk dalam meningitis belt dimana sering terjadi siklus epidemik Meningokokus. Rekomendasi Vaksin diberikan secara injeksi subkutan dalam pada remaja pada usia 11-18 tahun. Tidak dianjurkan sebagai imunisasi rutin, hanya dianjurkan pada golongan risiko tinggi. Imunisasi akan sangat dianjurkan bagi pelancong yang menuju daerah atau negara yang dikenal sebagai daerah hiperendemik atau epidemik penyakit meningokok. Imunisasi ulang Antibodi meningokok pada remaja dan orang dewasa dapat bertahan selama 10 tahun Apabila sering terpapar yang terus menerus maka imunisasi ulang pada remaja perlu diberikan setelah 5 tahun Pneumococcal polysaccharide vaccine (PPSV) Diberikan pada anak dengan kondisi medis tertentu yang mendasari, termasuk implant cochlear. Suatu vaksinasi ulang tunggal sebaiknya diberikan pada individu dengan asplenia fungsional atau anatomis maupun kondisi immunocompromise lainnya setelah usia 5 tahun. Vaksin Hepatitis A (HepA) Imunisasi menyebabkan terbentuknya serum neutralizing antibodies. Imunisasi hepatitis A dapat diberikan mulai usia anak 2 tahun. Diberikan dua dosis vaksin dalam rentang waktu 6 bulan. Lama proteksi antibodi HVA diperkirakan menetap selama 20 tahun. Proteksi jangka panjang terjadi akibat antibody protektif yang menetap atau akibat anamnestic boosting infeksi alamiah. Vaksin Hepatitis B (HepB) Vaksin VHB yang tersedia adalah vaksin rekombinan. Pemberian dengan dosis yang sesuai rekomendasi akan membentuk respons protektif (anti HBs 10 mIU/mL) pada > 90% dewasa, bayi, anak, dan remaja. Diberikan secara intramuskular dalam. Pada remaja diberikan di regio deltoid. Vaksin hepatitis B diberikan minimal sebanyak 3 kali dengan interval yang direkomendasikan adalah 1-2 bulan, antara pemberian vaksin pertama dan kedua, serta 412 bulan, antara pemberian vaksin kedua dan ketiga (akan memberikan respons antibodi paling optimal). Catch up immunization merupakan imunisasi yang belum pernah diimunisasi atau terlambat > 1 bulan dari jadwal seharusnya. Pada imunisasi catch up ini interval

imunisasi minimal 4 minggu antara dosis pertama dan kedua, kemudian 8-16 minggu antara dosis kedua dan ketiga Efektivitas vaksin dalam mencegah infeksi VHB adalah 90-95%. Memori sistem imun menetap minimal sampai 12 tahun pasca imunisasi sehingga tidak dianjurkan untuk imunisasi booster. Inactivated poliovirus vaccine (IPV) Bagi anak yang telah mendapat vaksinasi IPV atau semua poliovirus oral (OPV), diperlukan dosis keempat jika dosis ketiga diberikan pada usia 4 tahun atau lebih. Jika OPV maupun IPV diberikan sebagai suatu serial, sebaiknya diberikan total 4 dosis, tanpa memperhitungkan usia anak saat ini. Measles, mumps, and rubella vaccine (MMR) Imunisasi campak pada remaja diberikan berupa vaksin MMR. Pemberian vaksin MMR penting untuk wanita usia subur karena komponen rubella yang ada di dalamnya dapat mencegah rubella congenital apabila wanita tersebut hamil. Vaksin ini diberikan 1 kali. Vaksin Varicella Pemberian imunisasi varicella pada remaja yang belum pernah mendapat imunisasi diberikan imunisasi 2 kali dengan jarak pemberian selama 1 bulan sebanyak 0,5 ml. Sedangkan bagi yang sebelumnya hanya mendapatkan 1 kali penyuntikan maka diperlukan pemberian kedua untuk meningkatkan imunitas. Jenis vaksin yang direkomendasikan untuk kelompok ini adalah golongan monovalen. Serokonversi didapat pada 97% individu yang divaksinasi dan sekitar 70% terlindungi apabila terpapar infeksi oleh anggota keluarga. Untuk individu berusia 7 sampai 18 tahun tanpa adanya bukti imunitas, diberikan 2 dosis jika belum pernah divaksinasi sebelumnya atau dosis kedua jika sebelumnya mereka hanya mendapat 1 dosis. Catch-up Vaccines Catch-up vaccines adalah vaksin yang diberikan pada remaja yang tidak mendapat imunisasi lengkap sebelumnya. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi angka morbiditas dan mortalitas. (http://www.scribd.com/doc/142455001/Sap-Imunisasi-Dasar-Anak-051112) 28. Siklus Hidup Plasmodium Plasmodium merupakan protozoa parasit dari jenis sporozoa. Plasmodium sp pada manusia menyebabkan penyakit malaria dengan gejala demam, anemia dan spleomegali (pembengkakan spleen). Dikenal 4 (empat) jenis plasmodium, yaitu : 1.Plasmodium vivax menyebabkan malaria tertiana (malaria tertiana begigna). 2.Plasmodium malariae menyebabkan malaria quartana 3.Plasmodium falciparum menyebabkan malaria topika (malaria tertiana maligna). 4.Plasmodium ovale menyebabkan malaria ovale. Malaria menular kepada manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles sp. dalam siklus hidupnya. Plasmodium sp berproduksi secara sexual (sporogoni)dan asexual (schizogon) di dalam host yang berbeda, host dimana terjadi reproduksi sexsual, disebut

host definitive sedangakn reproduksi asexual terjadi pada host intermediate. Reproduksi sexual hasinya disebut sporozoite sedangkan hasil reproduksi asexual disebut merozoite. Daur hidup Plasmodium ada dua, yaitu: (a) Fase di dalam tubuh nyamuk (fase sporogoni) Di dalam tubuh nyamuk ini terlihat Plasmodium melakukan reproduksi secara seksual. Pada tubuh nyamuk, spora berubah menjadi makrogamet dan mikrogamet, kemudian bersatu dan membentuk zigot yang menembus dinding usus nyamuk. Di dalam dinding usus tersebut zigot akan berubah menjadi ookinet ookista sporozoit, kemudian bergerak menuju kelenjar liur nyamuk. Sporozoit ini akan menghasilkan spora seksual yang akan masuk dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk. (b) Fase di dalam tubuh manusia (fase skizogoni) Setelah tubuh manusia terkena gigitan nyamuk malaria, sporozoit masuk dalam darah manusia dan menuju ke sel-sel hati. Di dalam hati ini sporozoit akan membelah dan membentuk merozoit, akibatnya sel-sel hati banyak yang rusak. Selanjutnya, merozoit akan menyerang atau menginfeksi eritrosit. Di dalam eritrosit, merozoit akan membelah diri dan menghasilkan lebih banyak merozoit. Dengan demikian, ia akan menyerang atau menginfeksi pada eritrosit lainnya yang menyebabkan eritrosit menjadi rusak, pecah, dan mengeluarkan merozoit baru. Pada saat inilah dikeluarkan racun dari dalam tubuh manusia sehingga menyebabkan tubuh manusia menjadi demam. Merozoit ini dapat juga membentuk gametosit apabila terisap oleh nyamuk (pada saat menggigit) sehingga siklusnya akan terulang lagi dalam tubuh nyamuk, demikian seterusnya. (http://biologi-sakti.blogspot.com/2011/09/siklus-hidup-plasmodium.html) 29. Efektifitas Penggunaan Fogging Di tengah kondisi cuaca yang tak menentu dan masih sering terjadinya hujan di musim kemarau saat ini, Demam Berdarah, diare, dan penyakit musim hujan lainnya menghantui kita. Akan tetapi yang (selalu) menjadi perhatian kita selama ini adalah DBD. Menurutr Departemen Kesehatan RI Penyakit ini telah lama mengganggu mengganggu manusia dan terus berlanjut menghantui 40% penduduk dunia ini, setidaknya sudah menginfeksi lebih dari 500 juta jiwa per tahun dan menyebabkan lebih dari 1 juta jiwa meninggal. Sungguh data yang mengerikan, bukan? Oleh karena itu sangatlah dianjurkan melakukan tindakan 3M (Menguras, Menutup, Mengubur) untuk memotong siklus kehidupan nyamuk dengan Pembasmian Sarang Nyamuk (PSN). Sangat mudah dilakukan, tapi kita selalu menganggap perilaku tersebut dengan sebelah mata. Seakan-akan kita lebih senang mengobati daripada mencegah. Disamping itu, tindakan pencegahan lainnya adalah dengan penggunaan fogging, yaitu tindakan pengasapan dengan menggunakan bahan insektisida terhadap area-area yang ditengarai sebagai sarang nyamuk. Sebagaimana di lingkungan RW.19 (RT.03, RT.04, RT.05, dan RT.06) Desa Mangliawan Kecamatan Pakis Kabupaten Malang, yang pada hari Minggu (22/08/2010) melaksanakan fogging guna pencegahan penyakit yang disebabkan oleh nyamuk dan serangga lainnya. Tindakan tersebut dilaksanakan mengingat akhir-akhir ini penyakit DBD tengah menyerang beberapa warga di lingkungan RW.19 Mangliawan. Kami segenap pengurus dan warga RT.04 RW.19 menyampaikan terima kasih atas terlaksananya program fogging tersebut. Namun seiring dengan berjalannya hari, efektifitas penggunaan fogging sebagai media pencegahan penyakit DBD mulai menjadi pertanyaan besar? Nyamuk-nyamuk nakal mulai berterbangan dan mampir kembali.

Dalam sebuah tulisan ilmiah dari Riefka Aulia, (mahasiswi Fak Kesehatan Masyarakat fokus studi Kesehatan Lingkungan Universitas Jember) yang dimuat di http://netsains.com mengungkapkan bahwa penggunaan fogging sejauh ini tidak terlalu efektif. Daerah yang dilakukan pengasapan hanya aman dari gigitan nyamuk kurang dari 4 hari. Meski selama kurun waktu 4 hari itu kita aman dari kehadiran nyamuk, namun ada bahaya lainnya yang mengancam, yaitu bahan fogging itu sendiri. Bayangkan saja bahanbahan yang digunakan adalah air, mitan atau solar atau oli, bahkan di tambah insektisida. Kita tahu bahwa solar mengandung senyawa belerang yang dapat membahayakan kesehatan. Sementara itu, bentuk kabut asap dapat dibuat dengan cara melakukan proses pembakaran yang tidak sempurna dari bahan-bahan tadi. Hasil yang dominan dari proses ini adalah gas karbon monoksida (CO). Nah, gas CO ini sendiri apabila terhisap ke dalam paru-paru akan ikut peredaran darah dan akan menghalangi masuknya oksigen yang akan dibutuhkan oleh tubuh. Hal ini dapat terjadi karena gas CO bersifat racun metabolisme, yakni ikut bereaksi dengan darah. Sedangkan insektisidanya pun, jelas membahayakan kesehatan tubuh kita. Entah itu orang yang melakukan pengasapan maupun orang-orang yang terpapar asap. Sementara itu, secara teknis pada proses pengasapan yang seringkali dilakukan kurang tepat. Bagaimana tidak, mereka justru mengasapi got-got, air taman, dll. Sedangkan nyamuk Aedes sendiri sukanya hidup di air bersih. Akan tetapi, tujuan fogging itu sendiri tak ubahnya seperti placebo. Yakni hanya memberikan ketenangan psikologis semata. Inilah yang menjadikan kita memiliki persepsi yang salah mengenai fogging. Dan menjadi lagu lama bagi pemerintah untuk menenangkan masyarakat akan ancaman DBD, hal ini pulalah yang menjadi suatu indikator gagalnya program pemerintah. Pemberantasan DBD menjadi tanggung jawab kita bersama, dimulai dari informasi dan pemahaman yang tepat mengenai DBD. Tumbuhkan kepedulian anda, bukan pada diri semata tapi juga lingkungan sekitar. (http://rt04-jembawan.blogspot.com/2010/08/efektifitas-penggunaan-fogging.html) 30. Terapi diare menurut mtbs Rencana terapi A (penanganan diare di rumah) diare tanpa dehidrasi dengan memberi cairan semaunya, beri tablet zinc, lanjutkan pemberian makan, dan kunjungan ulang Rencana terapi B (penanganan dehidrasi ringan /sedang dengan oralit) dengan pemberian oralit 3 jam pertama dan segera dirujuk Rencana terapi C (penanganan di RS) dengan rehidrasi melalui intravena/menggunakan pipa nasogastrik pada dehidrasi berat Menangani diare persisiten dengan memerlukan makanan khusus Mengobati disentri yaitu dengan kotrimoksasol/asam nalidiksat Tindakan dan pengobatan infeksi lokal salep mata dengan tetrasiklin/kloramfenikol, mengeringkan telinga dengan kertas penyerap, luka dimulut dengan Gentian violet Memberi imunisasi setiap anak sakit sesuai kebutuhan

(http://www.gizikia.depkes.go.id/archives/artikel/manajemen-terpadu-balita-sakit-mtbs-atauintegrated-management-of-childhood-illness-imci)

31. Tuberkulosis Ekstrapulmonal dibagi atas beberapa bagian, diantaranya: 1. Pleuritis Tuberkulosis Pleuritis TB dapat merupakan manifestasi dari tuberkulosis primer atau tuberkulosis post primer. Secara tradisional, pleuritis TB dianggap sebagai manifestasi TB primer yang

banyak terjadi pada anak-anak. Pada tahun-tahun terakhir ini, umur rata-rata pasien dengan Pleuritis TB primer telah meningkat. Hipotesis terbaru mengenai Pleuritis TB primer menyatakan bahwa pada 6-12 minggu setelah infeksi primer terjadi pecahnya fokus kaseosa subpleura ke kavitas pleura. Antigen mikobakterium TB memasuki kavitas pleura dan berinteraksi dengan Sel T yang sebelumnya telah tersensitisasi mikobakteria, hal ini berakibat terjadinya reaksi hipersensitivitas tipe lambat yang menyebabkan terjadinya eksudasi oleh karena meningkatnya permeabilitas dan menurunnya klirens sehingga terjadi akumulasi cairan di kavitas pleura. Cairan efusi ini secara umum adalah eksudat tapi dapat juga berupa serosanguineous dan biasanya mengandung sedikit basil TB. Beberapa kriteria yang mengarah ke Pleuritis TB primer : (i). Adanya data tes PPD positif baru, (ii). Rontgen thorax dalam satu tahun terakhir tidak menunjukkan adanya kejadian tuberkolosis parenkim paru, (iii). Adenopati Hilus dengan atau tanpa penyakit parenkim. Umumnya, efusi yang terjadi pada Pleuritis TB primer berlangsung tanpa diketahui dan proses penyembuhan spontan terjadi pada 90% kasus. Pleuritis TB dapat berasal dari reaktivasi atau TB post primer. Reaktivasi dapat terjadi jika stasus imunitas pasien turun. Pada kasus Pleuritis TB reaktivasi, dapat dideteksi TB parenkim paru secara radiografi dengan CT scan pada kebanyakan pasien. Infiltrasi dapat terlihat pada lobus superior atau segmen superior dari lobus inferior. Bekas lesi parenkim dapat ditemukan pada lobus superior, hal inilah yang khas pada TB reaktivasi. Efusi yang terjadi hampir umumnya ipsilateral dari infiltrat dan merupakan tanda adanya TB parenkim yang aktif. Efusi pada pleuritis TB dapat juga terjadi sebagai akibat penyebaran basil TB secara langsung dari lesi kavitas paru, dari aliran darah dan sistem limfatik pada TB post primer (reaktivasi). Penyebaran hematogen terjadi pada TB milier. Efusi pleura terjadi 10-30% dari kasus TB miler. Pada TB miler, efusi yang terjadi dapat masif dan bilateral. PPD test dapat negatif dan hasil pemerikasaan sputum biasanya juga negatif. Gambaran Klinis dan Sekuele Gambaran klinis dari Pleuritis TB yang paling sering dilaporkan adalah batuk (71-94%), demam (71-100%), nyeri dada pleuritik (78-82%) dan dispneu. Batuk yang terjadi biasanya nonproduktif terutama ketika tidak terdapat lesi paru aktif. Keringat malam, sensasi mengigil, dyspneu, malaise, dan penurunan berat badan merupakan keluhan umum. Demam dan nyeri dada umumnya terdapat pada pasien muda, sedangkan batuk dan dyspneu umumnya pada pasien yang lebih tua. Durasi rata-rata dari gejala penyakit sekitar 14 hari pada pleuritis TB primer dan 60 hari pada pleuritis TB reaktivasi. Pasien dengan TB efusi pleura dan HIV bergejala dalam periode yang lebih lama dan mempunyai gejala tambahan seperti takipneu, keringat malam hari, malaise, diare, dan mempunyai kemungkinan lebih banyak terjadi hepatomegali, splenomegali dan limfadenopati. Hasil tes PPD negatif dilaporkan pada 30% pasien immunokompetan, dan lebih dari 50% pada pasien terinfeksi HIV. Pemeriksaan fisik ditemukan berkurangnya suara nafas dan perkusi pekak diatas tempat efusi. Pada keadaan tidak diberikannya obat anti tuberkulosis, resolusi dari efusi yang terjadi pada pleuritis TB biasanya spontan dalam beberapa bulan. Akan tetapi, setengah dari kasus yang tidak diterapi akan berkembang menjadi bentuk tuberkulosis paru dan ekstra

paru yang lebih berat yang dapat berakibat pada kecacatan dan kematian. Sekule lain pada pleuritis TB primer adalah terjadinya sisa penebalan pleura yang potensial menyebabkan pembatasan ventilasi. Infeksi kronik aktif dapat mengawali berkembangnya tuberkulosa empyema. Pecahnya kavitas parenkim ke ruang pleura dapat berkembang menjadi fistula bronkhopleural dan pyo-pnemothoraks. Metode Diagnosis Diagnosis dari Pleuritis TB secara umum ditegakkan dengan analisis cairan pleura dan biopsi pleura. Pada tahun-tahun terakhir ini, beberapa penelitian meneliti adanya penanda biokimia seperti ADA, ADA isoenzim, Lisozim, dan limfokin lain untuk meningkatkan efisiensi diagnosis. Hasil thorakosintesis efusi pleura dari Pleuritis TB primer mempunyai karakteristik cairan eksudat dengan total kandungan protein pada cairan pleura >30g/dL, rasio LDH cairan pleura dibanding serum > 0,5 dan LDH total cairan pleura >200U. Cairan pleura mengandung dominan limfosit (sering lebih dari 75% dari semua materi seluler), sering dikiuti dengan kadar glukosa yang rendah. Sayangnya, dari kharakteristik diatas tidak ada yang spesifik untuk tuberkulosis, keadaan lain juga menunjukkan kharakteristik yang hampir mirip seperti efusi parapnemonia, keganasan, dan penyakit rheumatoid yang menyerang pleura. Hasil pemeriksaan BTA cairan pleura jarang menunjukkan hasil positif (0-1%). Isolasi M.tuberculosis dari kultur cairan pleura hanya didapatkan pada 2040% pasien Pleuritis TB. Hasil pemeriksaan BTA dan kultur yang negatif dari cairan pleura tidak mengekslusi kemungkinan Pleuritis TB. Hasil pemeriksaan BTA pada sputum jarang positif pada kasus primer dan kultur menunjukkan hasil positif hanya pada 25-33% pasien. Sebaliknya, pada kasus reaktivasi pemeriksaan BTA sputum positif pada 50% pasien dan kultur positif pada 60% pasien. Hasil tes tuberkulin yang positif mendukung penegakkan diagnosis pleuritis TB di daerah dengan prevalensi TB yang rendah (atau tidak divaksinasi), akan tetapi hasil tes tuberkulin negatif dapat terjadi pada sepertiga pasien. Biopsi pleura parietal telah menjadi tes diagnositik yang paling sensitif untuk Pleuritis TB. Pemeriksaan histopatologis jaringan pleura menunjukkan peradangan granulomatosa, nekrosis kaseosa, dan BTA positif. Hasil biopsi perlu diperiksa secara PA, pewarnaan BTA dan kultur. Beberapa penelitian meneliti aktivitas ADA (adenosin deaminase) untuk mendiagnosis Pleuritis TB. Disebutkan bahwa kadar ADA > 70 IU/L dalam cairan pleura sangat menyokong ke arah TB, sedangkan kadar < 40 IU/L mengekslusi diagnosis. Sebuah meta analisis dari 40 penelitian yang diterbitkan sejak tahun 1966 sampai 1999 menyimpulkan bahwa tes aktivitas ADA (sensitivitas berkisar antara 47,1 sampai 100% dan spesifitas berkisar antara 0-100%) dalam mendiagnosis Pleuritis TB sangat baik (cukup baik untuk menghindari dilakukannya biopsi pleura pada pasien muda dari daerah dengan prevalensi TB yang tinggi). dINF- sebuah sitokin yang mempunyai hubungan dengan Th, terbukti mempunyai hubungan yang erat dengan efusi pleura yang disebabkan oleh karena TB. (menggunakan cut off point 140 pg/mld. Pada sebuah penelitian, INF- dalam cairan pleura) mempunyai sensitivitas 85,7% dan spesifitas 97,1% pada pasien dengan pleuritis TB.

Pemeriksaan dengan PCR (polymerase chain reaction) didasarkan pada amplifikasi fragmen DNA mikobakterium. Karena efusi pada pleuritis TB mengandung sedikit basil TB, secara teori sensitivitasnya dapat ditingkatkan mengunakan PCR. Banyak penelitian yang mengevaluasi efikasi PCR untuk mendiagnosis pleuritis TB dan menunjukkan bahwa sensitivitas berkisar antara 20-90% dan spesifitas antara 78-100%. 2. Meningitis tuberkulosis Meningitis Tuberkulosa tidak dapat di diagnosa hanya berdasarkan anamnesis dan gambaran klinis saja. Pada kasus meningitis tuberkulosa anak adanya riwayat paparan terhadap tuberkulosa sangat membantu diagnosa. Peranan foto toraks sangatlah penting pada pendekatan diagnosis meningitis tuberkulosa. Diagnosis pasti meningitis tuberkulosa didasarkan pada isolasi Mycobacterium tuberculosis pada cairan serebrospinal, namun kultur tersebut membtuhkan waktu lama dan tidak sensitive. Pemeriksaan pewarnaan Ziehl Neelsen untuk basil tahan asam merupakan pemlihan untuk pemeriksaan yang cepat, namun tehnik ini tidak sensitive.

Gejala dan tanda meningitis tuberculosa dapat dibagi menjadi 3 fase : 1. Fase Prodormal: a. Berlangsung selama 2 3 minggu b. Gejala: i. malaise ii. Cephalgia iii. Demam tidak Tinggi iv. Perubahan kepribadian 2. Fase meningitik: a. Tanda neurologis lebih nyata: i. Meningismus ii. Cephalgia hebat iii. Muntah iv. Kebingungan v. Cranial Nerve Syndrome 3. Fase paralitik: a. Merupakan fase percepatan penyakit b. Gejala kebingungan berlanjut menjadi stupor dan koma, kejang, hemiparesis. Diagnosis meningitis tuberculosa tidak mudah. Perlu kewaspadaan tinggi kearah kemungkinan meningitis tuberculosa bila didapatkan tanda-tanda kelainan neurologis dan tuberculosis millier. Maka bila didapatkan tanda-tanda SSP berupa rangsang meningeal dan bila ditemukan tuberculosis millier harus dilakukan pungsi lumbal untuk deteksi dini tuberculosis. Pemeriksaan apusan langsung untuk menemukan BTA dan biakan dari CSS sangat penting. Untuk mendapatkan hasil positif dianjurkan melakukan pungsi lumbal selama 3 hari berturut-turut. Terapi dapat langsung diberikan tanpa menunggu hasil pemeriksaan pungsi lumbal ke-2 dan ke-3. Cairan serebrospinal memberikan gambaran khas berupa peningkatan kadar protein dan penurunan kadar glukosa, serta pleositosis mononuclear dengan hitung sel antara 100-500 sel/ml.

Gambaran dari pemeriksaan CT scan dan magnetic resonance imaging (MRI) kepala pada pasien meningitis tuberculosis adalah normal pada awal penyakit. Seiring berkembangnya penyakit, gambaran yang sering ditemukan adalah penyangatan didaerah basal, tampak hidrosefalus komunikans yang disertai dengan tanda-tanda edema otak atau iskemia fokal yang masih dini. Selain itu, dapat juga ditemukan tuberculoma yang silent, yang biasanya didaerah cortex cerebri atau thalamus. Terapi segera diberikan tanpa ditunda bila ada kecurigaan klinis kearah meningitis tuberculosa. Terapi tuberculosa sesuai dengan konsep baku, yaitu 2 bulan fase intensive dengan 4-5 OAT (isoniazid, rifampisin, pirazinamid, streptomycin, dan etambutol), dilanjutkkan dengan 2 OAT(isoniazid dan rifampisin) hingga 12 bulan. Bukti klinis mendukung pnggunaan steroid sebagai terapi adjuvant. Steroid yang dipakai adalah prednisone 1-2 mg/kgBB/hari selama 4-6 minggu, setelah itu dilakukan penurunan dosis secara bertahap (tapering off) selama 4-6 minggu sesuai dengan lamanya regimen. Pada bulan pertama pasien harus tirah baring total. Prognosis pasien berbanding lurus dengan tahapan klinis saat pasien didiagnosis dan diterapi. Semakin lanjut tahap klinis semakin buruk prognosisnya. Adanya hidrosefalus disertai penyangatan (enhancement) daerah basal pada pemeriksaan CT scan menunjukkan tahap lanjut penyakit dengan progmosis yang buruk. 3.Tuberkulosis Limfonodi ( Tuberkulosis Kelenjar ) Tuberkulosis limfonodi superficial (scrofula) merupakan bentuk tuberkulosis ekstrapulmonal yang paling sering pada anak yang biasanya disebabkan karena minum susu yang tidak dipasteurisasi yang mengandung M. bovis. Kebanyakan kasus terjadi dalam 6-9 bulan infeksi awal oleh M. tuberkulosis, walaupun beberapa kasus tanpa bertahun-tahun. Limfonodi yang terinfeksi pada inguinal, epitrokhanter atau daerah aksiler akibat dari limfadenitis regional dihubungkan dengan tuberkulosis kulit atau system skeleton. Patofisiologi Limfonodi biasanya membesar perlahan-lahan pada awal stadium penyakit limfonodi. Limfonodi ini tetap tetapi tidak keras, tersendiri, dan tidak nyeri. Limfonodi sering terasa difiksasi pada jaringan dibawahnya atau yang menumpanginya. Penyakit paling sering unilateral, tetapi keterlibatan bilateral dapat terjadi karena perpindahan pola drainase pembuluh limpa pada dada dan leher bagian bawah. Gejala klinis Bila infeksi memburuk banyak nodus yang terinfeksi. Tanda-tanda dan gejala sistemik selain demam ringan biasanya tidak ada. Mulainya sakit kadang-kadang lebih akut dengan pembesaran limfonodi yang cepat, demam tinggi, nyeri dan berubah-ubah. 4. Tuberkulosis Tulang Penyakit ini tidak pernah primer, selalu sekunder terhadap fokus tuberculosis ditempat lain. Tuberculosis pada tulang paling banyak ditemukan ditulang panjang bagian metafisis dan di trockhanter major. Tuberkulosis tulang tersering pada vertebra ( spondilitis TB ), diikuti oleh sendi panggul ( koksitis TB ) dan sendi lutut ( gonitis TB ). (http://ketobapadah.blogspot.com/2011/05/tuberkulosis-ekstrapulmonal-pleuritis.html)

32. Wallgren Time Table TBC Manifestasi klinis tuberkulosis di berbagai organ muncul dengan pola yang konstan, sehingga dari studi Wallgreen dan peneliti lain dapat disusun suatu kalender terjadinya tuberkulosis di berbagai organ. Proses infeksi tuberkulosis tidak langsung memberikan gejala. Uji tuberkulin biasanya positif dalam 4-8 minggu setelah kontak awal dengan kuman tuberkulosis. Pada awal terjadinya infeksi, dapat dijumpai demam yang tidak tinggi dan eritema nodosum, tetapi kelainan kulit ini berlangsung singkat sehingga jarang terdeteksi. Sakit tuberkulosis primer dapat terjadi kapan saja pada tahap ini. Tuberkulosis milier dapat terjadi setiap saat, tetapi biasanya berlangsung dalam 3-6 bulan pertama setelah infeksi tuberkulosis, begitu juga dengan meningitis tuberkulosa. Tuberkulosis pleura terjadi dalam 3-6 bulan pertama setelah infeksi TB. Tuberkulosis sistem skeletal terjadi pada tahun pertama, walaupun dapat terjadi pada tahun kedua dan ketiga. Tuberkulosis ginjal biasanya terjadi lebih lama, yaitu 5-25 tahun setelah infeksi primer. Sebagian besar manifestasi klinis sakit TB terjadi pada 5 tahun pertama, terutama pada 1 tahun pertama, dan 90% kematian karena TB terjadi pada tahun pertama setelah diagnosis TB. (http://ketobapadah.blogspot.com/2011/05/tuberkulosis-tbc-i.html) 33. Indikator pengukuran BB/U, TB/U, BB/TB Indeks antropometri merupakan pengukuran dari beberapa parameter. Indeks antropometri juga merupakan rasio dari suatu pengukuran terhadap satu atau lebih pengukuran atau yang dihubungkan dengan umur. Terdapat beberapa indeks antropometri, diantaranya: BB/U (Berat Badan terhadap Umur) Indeks berat badan terhadap umur memiliki beberapa kelebihan, dantaranya: - Lebih mudah dan cepat dimengerti oleh masyarakat - Baik untuk mengukur status gizi akut dan kronis - Sensitif terhadap perubahan kecil - Pengukuran yang berulang dapat mendeteksi growth failure karena infeksi atau kekurangan energi dan protein. - Dapat mendeteksi kegemukan (overweight). Selain memiliki kelebihan, indeks berat badan terhadap umur memiliki beberapa kekurangan, diantaranya sering terjadi kesalahan dalam pengukruan, seperti pengaruh pakaian atau gerakan anak saat ditimbang. TB/ U (Tinggi Badan terhadap Umur) Menurut Beaton dan Bengoa (1973) indeks TB/U dapat memberikan status gizi masa lampau dan status sosial ekonomi. Indeks tinggi badan terhadap umur memiliki beberapa kelebihan, dantaranya: - Baik untuk menilai status gizi masa lampau - Alat dapat dibuat sendiri, murah dan mudah dibawa

Selain memiliki kelebihan, indeks tinggi badan terhadap umur memiliki beberapa kekurangan, yaitu diperlukan 2 orang untuk melakukan pengukuran, karena biasanya anak relatif sulit berdiri tegak. BB/ TB (Berat Badan terhadap Tinggi Badan) Berat badan memiliki hubungan linear dengan Tinggi Badan. Dalam keadaan normal perkembangan BB searah dengan pertumbuhan TB. Kelebihan indeks ini yaitu tidak memerlukan data umur, dapat membedakan proporsi badan (gemuk, normal, kurus), serta dapat menjadi indikator status gizi saat ini (current nutrition status). Sedangkan kekurangan indeks ini antara lain: sulit melakukan pengukuran TB pada balita. Lila/ U (Lingkar Lengan Atas terhadap Umur) Merupakan suatu indikator yang baik untuk menilai kekurangan energi dan protein berat, dengan alat ukur murah, sederhana, sangat ringan, dapat dibuat sendiri, kader posyandu dapat melakukannya. Sedangkan kekurangannya hanya dapat mengidentifikasi anak dengan KEP berat. Indeks Massa Tubuh (IMT) Salah satu penerapan antropometri dalam teknik pengukuran status gizi dilakukan dengan menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT). IMT merupakan cara sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa, khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan. IMT digunakan berdasarkan rekomendasi FAO/WHO/UNO tahun 1985 yang menyatakan batasan berat badan normal orang dewasa ditentukan berdasarkan Body Mass Index (BMI/IMT). IMT merupakan alat yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa (usia 18 tahun ke atas), khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan. IMT tidak dapat diterapkan pada bayi, anak, remaja, ibu hamil dan olahragawan. Juga tidak dapat diterapkan pada keadaan khsusus (penyakit) seperti edema, asites dan hepatomegali.

Untuk mengetahui nilai IMT seseorang, digunakan rumus atau perhitungan sebagai berikut:

Dengan karakteristik sebagai berikut:

Tebal Lemak Bawah Kulit Menurut Umur Pengukuran lemak tubuh melalui pengukuran ketebalan lemak bawah kulit (skinfold) dilakukan pada beberapa bagian tubuh, misal : lengan atas (tricep dan bicep), lengan bawah (forearm), tulang belikat (subscapular), di tengah garis ketiak (midaxillary), sisi dada (pectoral), perut (abdominal), paha, tempurung lutut (suprapatellar), pertengahan tungkai bawah (medial calv). Rasio Lingkar Pinggang dan Pinggul Suatu studi prospektif menunjukkan rasio pinggang-pinggul berhubungan dengan penyakir kardiovaskular. Rasio lingkar pinggang dan pinggul penderita penyakit kardiovaskular dengan orang sehat 0,938 dan 0.925.

Beberapa aspek yang dapat diukur dengan menggunakan teknik antropometri dapat disajikan dengan tabel seperti di bawah ini:

Ubun-ubun Ubun-ubun besar diameter transversal 2,5 4 cm

Menutup umur : 6 bulan 3% 9 bulan 13% 1 tahun 40% 19 bulan 90% Ubun-ubun kecil teraba sampai 4 8 minggu (tdpt pd lobus occipital) Ubun-ubun besar menutup: Lambat : rakitis, hidrosefalus, hipotiroid, rubella kongenital Cepat : pada kraniosinostosis, osteopetrosis Keadaan Normal : ubun-ubun besar rata/ sedikit cekung Menonjol : T.I.K meningkat (Tumor IK, meningitis, perdarahan IV) Cekung : dehidrasi, malnutrisi (http://dinkescianjur.blogspot.com/2013/02/hasil-bulan-penimbangan-balita-bpb.html) 34. Pengobatan TBC Pengobatan TBC Kriteria I (Tidak pernah terinfeksi, ada riwayat kontak, tidak menderita TBC) dan II (Terinfeksi TBC/test tuberkulin (+), tetapi tidak menderita TBC (gejala TBC tidak ada, radiologi tidak mendukung dan bakteriologi negatif) memerlukan pencegahan dengan pemberian INH 510 mg/kgbb/hari. Pencegahan (profilaksis) primer Anak yang kontak erat dengan penderita TBC BTA (+). INH minimal 3 bulan walaupun uji tuberkulin (-). Terapi profilaksis dihentikan bila hasil uji tuberkulin ulang menjadi (-) atau sumber penularan TB aktif sudah tidak ada. Pencegahan (profilaksis) sekunder Anak dengan infeksi TBC yaitu uji tuberkulin (+) tetapi tidak ada gejala sakit TBC. Profilaksis diberikan selama 6-9 bulan. Obat yang digunakan untuk TBC digolongkan atas dua kelompok yaitu : Obat primer : INH (isoniazid), Rifampisin, Etambutol, Streptomisin, Pirazinamid. Memperlihatkan efektifitas yang tinggi dengan toksisitas yang masih dapat ditolerir, sebagian besar penderita dapat disembuhkan dengan obat-obat ini. Obat sekunder : Exionamid, Paraaminosalisilat, Sikloserin, Amikasin, Kapreomisin dan Kanamisin. Dosis obat antituberkulosis (OAT) Obat Dosis harian (mg/kgbb/hari) Dosis 2x/minggu (mg/kgbb/hari) Dosis 3x/minggu (mg/kgbb/hari) INH 5-15 (maks 300 mg) 15-40 (maks. 900 mg) 15-40 (maks. 900 mg) Rifampisin 10-20 (maks. 600 mg) 10-20 (maks. 600 mg) 15-20 (maks. 600 mg) Pirazinamid 15-40 (maks. 2 g) 50-70 (maks. 4 g) 15-30 (maks. 3 g) Etambutol 15-25 (maks. 2,5 g) 50 (maks. 2,5 g) 15-25 (maks. 2,5 g)

Streptomisin 15-40 (maks. 1 g) 25-40 (maks. 1,5 g) 25-40 (maks. 1,5 g) Sejak 1995, program Pemberantasan Penyakit TBC di Indonesia mengalami perubahan manajemen operasional, disesuaikan dengan strategi global yanng direkomendasikan oleh WHO. Langkah ini dilakukan untuk menindaklanjuti Indonesia WHO joint Evaluation dan National Tuberkulosis Program in Indonesia pada April 1994. Dalam program ini, prioritas ditujukan pada peningkatan mutu pelayanan dan penggunaan obat yang rasional untuk memutuskan rantai penularan serta mencegah meluasnya resistensi kuman TBC di masyarakat. Program ini dilakukan dengan cara mengawasi pasien dalam menelan obat setiap hari,terutama pada fase awal pengobatan. Strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) pertama kali diperkenalkan pada tahun 1996 dan telah diimplementasikan secara meluas dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat. Sampai dengan tahun 2001, 98% dari populasi penduduk dapat mengakses pelayanan DOTS di puskesmas. Strategi ini diartikan sebagai "pengawasan langsung menelan obat jangka pendek oleh pengawas pengobatan" setiap hari. Indonesia adalah negara high burden, dan sedang memperluas strategi DOTS dengan cepat, karenanya baseline drug susceptibility data (DST) akan menjadi alat pemantau dan indikator program yang amat penting. Berdasarkan data dari beberapa wilayah, identifikasi dan pengobatan TBC melalui Rumah Sakit mencapai 20-50% dari kasus BTA positif, dan lebih banyak lagi untuk kasus BTA negatif. Jika tidak bekerja sama dengan Puskesmas, maka banyak pasien yang didiagnosis oleh RS memiliki risiko tinggi dalam kegagalan pengobatan, dan mungkin menimbulkan kekebalan obat. Akibat kurang baiknya penanganan pengobatan penderita TBC dan lemahnya implementasi strategi DOTS. Penderita yang mengidap BTA yang resisten terhadap OAT akan menyebarkan infeksi TBC dengan kuman yang bersifat MDR (Multi-drugs Resistant). Untuk kasus MDR-TB dibutuhkan obat lain selain obat standard pengobatan TBC yaitu obat fluorokuinolon seperti siprofloksasin, ofloxacin, levofloxacin (hanya sangat disayangkan bahwa obat ini tidak dianjurkan pada anak dalam masa pertumbuhan). Pengobatan TBC pada orang dewasa Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3 Selama 2 bulan minum obat INH, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol setiap hari (tahap intensif), dan 4 bulan selanjutnya minum obat INH dan rifampisin tiga kali dalam seminggu (tahap lanjutan). Diberikan kepada: Penderita baru TBC paru BTA positif. Penderita TBC ekstra paru (TBC di luar paru-paru) berat. Kategori 2 : HRZE/5H3R3E3 Diberikan kepada: Penderita kambuh. Penderita gagal terapi. Penderita dengan pengobatan setelah lalai minum obat.

Kategori 3 : 2HRZ/4H3R3 Diberikan kepada: Penderita BTA (+) dan rontgen paru mendukung aktif. Pengobatan TBC pada anak Adapun dosis untuk pengobatan TBC jangka pendek selama 6 atau 9 bulan, yaitu: 2HR/7H2R2 : INH+Rifampisin setiap hari selama 2 bulan pertama, kemudian INH +Rifampisin setiap hari atau 2 kali seminggu selama 7 bulan (ditambahkan Etambutol bila diduga ada resistensi terhadap INH). 2HRZ/4H2R2 : INH+Rifampisin+Pirazinamid: setiap hari selama 2 bulan pertama, kemudian INH+Rifampisin setiap hari atau 2 kali seminggu selama 4 bulan (ditambahkan Etambutol bila diduga ada resistensi terhadap INH). Pengobatan TBC pada anak-anak jika INH dan rifampisin diberikan bersamaan, dosis maksimal perhari INH 10 mg/kgbb dan rifampisin 15 mg/kgbb. Dosis anak INH dan rifampisin yang diberikan untuk kasus: TB tidak berat INH : 5 mg/kgbb/hari Rifampisin : 10 mg/kgbb/hari TB berat (milier dan meningitis TBC) INH : 10 mg/kgbb/hari Rifampisin : 15 mg/kgbb/hari Dosis prednison : 1-2 mg/kgbb/hari (maks. 60 mg) (http://dinkessulsel.go.id/new/images/pdf/pedoman/pedoman%20nasional%20penanggulangan%20tb.pdf)

34. Cara pemeriksaan hitung jenis : -Prinsip: terdapat perbedaan daya serap terhadap zat asam -Tujuan: menghitung jumlah tiap-tiap jenis leukosit dalam darah -Alat yang digunakan: Mikroskop Obyek glass Lancet steril Pencatat waktu Rak pengecatan Rak pengering Minyak imersi Kaca penggeser Pinsil kaca -Reagen: Larutan Wright Larutan buffer pH 6,4 Cara Pemeriksaan

Buat hapusan darah tepi Cat hapusan dengan lar. Wright 2 menit Tetesi dengan lar buffer sama banyak selama 5 menit Siram dengan aquadest Keringkan dan baca dengan mikroskop -Nilai Normal: Eosinofil : 1 3 % Basofil : 0 1 % Batang : 2 6 % Segmen : 50 70 % Limfosit : 20 40 %
http://labkesehatan.blogspot.com/2009/11/hitung-jenis-lekosit.html

35. Pembentukan trombosit : Thrombocytopoiesis Trombosit adalah sel anuclear nulliploid (tidak mempunyai nukleus pada DNA-nya) dengan bentuk tak beraturan dengan ukuran diameter 2-3 m yang merupakan fragmentasi dari megakariosit. Keping darah tersirkulasi dalam darah dan terlibat dalam mekanisme hemostasis tingkat sel dalam proses pembekuan darah dengan membentuk darah beku. Trombosit tak berinti, berbentuk cakram dengan diameter 1 4 mikrometer dan volume 7 8 fl. Nilai normal trombosit bervariasi sesuai metode yang dipakai. Jumlah trombosit normal menurut Deacie adalah 150 400 x 109 / l. Bila dipakai metode Rees Ecker nilai normal trombosit 140 340 x 109/ l, dengan menggunakan Coulter Counter harga normal 150 350 x 109/l. Fungsinya memegang peranan penting dalam pembekuan darah. Di dalam plasma darah terdapat suatu zat yang turut membantu terjadinya peristiwa pembekuan darah, yaitu Ca2+ dan fibrinogen. Fibrinogen mulai bekerja apabila tubuh mendapat luka. ketika kita luka maka darah akan keluar, trombosit pecah dan mengeluarkan zat yang dinamakan trombokinase. Trombokinasi ini akan bertemu dengan protrombin dengan pertolongan Ca2+ akan menjadi trombin. Trombin akan bertemu dengan fibrin yang merupakan benang-benang halus, bentuk jaringan yang tidak teratur letaknya, yang akan menahan sel darah, dengan demikian terjadilah pembekuan. Protrombin di buat didalam hati dan untuk membuatnya diperlukan vitamin K, dengan demikian vitamin K penting untuk pembekuan darah.
(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/31462/4/Chapter%20II.pdf)

36. Hapus darah tepi pada penderita DHFditemukan Jumlah rata-rata lpb pada pasien dd dan dbd mengalami puncak pada hari keenam sakit. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh sutaryo yang menemukan jumlah lpb mengalami puncak pada hari keenam.12 pasien ssd mempunyai jumlah lpb tertinggi pada saat syok. Jumlah lpb untuk setiap tipe klinis memiliki perbedaan yang bermakna dan jumlah lpb semakin tinggi sesuai dengan beratnya spektrum klinis. Secara teoritis respons imunologi terhadap limfosit terjadi lebih besar pada dbd dibanding dengan dd.15 hal lain yang dapat menjelaskan mengapa jumlah lpb pada ssd jauh lebih tinggi daripada dbd karena pada ssd monosit yang terinfeksi virus lebih banyak yang mengakibatkan sel limfosit berdiferensiasi berubah menjadi limfosit atipik yang khas (lpb) menjadi lebih

banyak. Pada penelitian kami juga dapat diketahui bahwa jumlah lpb pasien dd pada saat kedatangan dapat menjadi prediktor tingkat keparahan penyakit karena pada pasien yang akhirnya mengalami dbd secara signifikan memiliki jumlah lpb saat kedatangan lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang tetap mengalami dd. Pada penelitian ini tidak ditemukan pasien yang diagnosis awalnya dd atau dbd kemudian berubah menjadi ssd namun pasien ssd pada saat datang semuanya dalam keadaan sedang syok atau telah mengalami syok berulang. (http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/139/jtptunimus-gdl-sitimustak-6945-3-babii.pdf) 37. Cara kerja ibu profen, ketorolac, pct, metamizol natrium -Ibu profen Ibuprofen adalah golongan obat antiinflamasi non- steroid yang mempunyai efek antiinflamasi, analgesik dan antipiretik. Obat ini menghambat prostaglandin dan dengan kadar 400 mg atau lebih digunakan dimana rasa nyeri dan inflamasi merupakan gejala utama. -Ketorolac Ketorolac tromethamine merupakan suatu analgesik non-narkotik. Obat ini merupakan obat anti-inflamasi nonsteroid yang menunjukkan aktivitas antipiretik yang lemah dan anti-inflamasi. Ketorolac tromethamine menghambat sintesis prostaglandin dan dapat dianggap sebagai analgesik yang bekerja perifer karena tidak mempunyai efek terhadap reseptor opiat. -Paracetamol Parasetamol bekerja sebagai inhibitor untuk prostaglandin. Prostaglandin adalah bahan kimia dalam tubuh yang membawa pesan rasa nyeri ke otak. Ini adalah perbedaan utama antara parasetamol dan aspirin, serta pereda nyeri lainnya. Parasetamol memblok nyeri langsung pada sumbernya. Parasetamol juga dimetabolisme melalui hati alih-alih perut, sehingga lebih mudah digunakan bagi mereka dengan masalah perut. Parasetamol juga bekerja sebagai antipiretik, yang berarti dapat memengaruhi bagian otak (hipotalamus) yang mengatur suhu tubuh. -Metamizol natrium Metamizole Na adalah derivat metansulfonat dari aminopirin yang mempunyai khasiat analgesik. Mekanisme kerjanya adalah menghambat transmisi rasa sakit ke susunan saraf pusat dan perifer. Metamizole Na bekerja sebagai analgesik, diabsorpsi dari saluran pencernaan mempunyai waktu paruh 1-4 jam. (http://medicastore.com/) 38. Cara pemeriksaan turgor kulit dan interpretasinya Cara dan Keadaan Patologis Pemeriksaan Turgor Kulit Cara Normal: kulit kembali seperti semula dengan cepat tanpa meninggalkan tanda Patologis Lakukan palpasi pada daerah kulit dengan mencubit lengan atas atau abdomen dan melepaskannya secara cepat. Lipatan kulit kembalinya lambat dan adanya tanda menunjukkan adanya dehidrasi atau malnutrisi, penyakit kronik atau gangguan otot.

(http://dmanthree.blogspot.com/2013/02/cara-mengkaji-turgor-kulit.html) 39. Pada pengobatan TB paru, apa keistimewaan FDC dibanding obat lain, kekurangan, dan dosis berdasarkan BB anak Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan. Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat. Bila pengobatan tahap intensif ini diberikan secara tepat, biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif dalam 2 bulan. Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit namun dalam jangka waktu yang lebih lama. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persisten sehingga mencegah terjadinya kekambuhan. Jenis dan sifat Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yaitu: (a) Isoniazid (H) bersifat bakterisid, (b) Rifampisin (R) bersifat bakterisid, (c) Pirazinamid (Z) bersifat bakterisid, (d) Streptomisin (S) bersifat bakterisid, (e) Etambutol (E) bersifat bakteriostatik. Pemberian OAT disesuaikan dengan kondisi pasien dengan aturan pakai tersendiri. Ada dua kategori paduan OAT di Indonesia, yaitu: (a) kategori I: 2(HRZE)/4(HR)3, (b) kategori II: 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3. Kategori I diberikan untuk pasien baru TB paru BTA positif, pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif, pasien TB ekstra paru. Kategori II diberikan untuk pasien TB BTA positif yang telah diobati sebelumnya. Seiring dengan berkembangnya pengetahuan dibidang farmakologi, saat ini telah dibuat tablet kombinasi OAT yang dikenal dengan OAT fixed-dose combination atau disingkat dengan OAT-FDC (sering disebut FDC saja). Dengan adanya FDC ini diharapkan kepatuhan pasien TB dalam minum OAT dapat ditingkatkan sehingga akan meningkatkan kesembuhan pasien. Jenis-jenis tablet FDC dikelompokkan menjadi 2, yaitu: FDC untuk dewasa dan FDC untuk anak-anak. Tablet FDC untuk dewasa terdiri tablet 4FDC dan 2FDC. Tablet 4FDC mengandung 4 macam obat yaitu: 75 mg Isoniasid (INH), 150 mg Rifampisin, 400 mg Pirazinamid, dan 275 mg Etambutol. Tablet ini digunakan untuk pengobatan setiap hari dalam tahap intensif dan untuk sisipan. Tablet 2 FDC mengandung 2 macam obat yaitu: 150 mg Isoniasid (INH) dan 150 mg Rifampisin. Tablet ini digunakan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu dalam tahap lanjutan. Baik tablet 4FDC maupun tablet 2FDC pemberiannya disesuaikan dengan berat badan pasien. Untuk melengkapi paduan obat kategori II tersedia obat lain yaitu: tablet etambutol @400 mg dan streptomisin injeksi (vial @750 mg). Tablet FDC untu anak-anak terdiri dari tablet 3FDC dan 2FDC. Kedua jenis tablet diberikan kepada pasien TB anak yang berusia 0 14 tahun. Tablet 3FDC mengandung 3 macam obat antara lain: 30 mg INH, 60 mg Rifampisin, dan 150 mg Pirazinamid. Tablet ini digunakan untuk pengobatan setiap hari dalam tahap intensif. Tablet 2FDC mengandung 2 macam obat yaitu: 30 mg INH dan 600 mg Rifampisin. Tablet ini digunakan untuk pengobatan setiap hari dalam tahap lanjutan. Sama halnya dengan pemberian pada pasien dewasa, pemberian jumlah FDC pada pasien anak juga disesuaikan dengan berat badan anak. Berat Badan Tahap Intensif tiap hari selama 2 bulanTahap Lanjutan tiap hari selama 4 bulan

7 kg 1 tablet 3FDC 1 tablet 2FDC 8 9 kg 1,5 tablet 3FDC 1,5 tablet 2FDC 10 14 kg 2 tablet 3FDC 2 tablet 2FDC 15 19 kg 3 tablet 3FDC 3 tablet 2FDC 20 24 kg 4 tablet 3FDC 4 tablet 2FDC 25 29 kg 5 tablet 3FDC 5 tablet 2FDC

OAT-FDC tersedia dalam kemasan blister. Tiap blister terdapat 28 tablet. Tablet 4FDC dan 2FDC dikemas dalam dos yang berisi 24 blister @28 tablet. Untuk tablet etambutol 400 mg dikemas dalam dos yang berisi 24 blister @ 28 tablet. Streptomisisn injeksi dikemas dalam dos berisi 50 vial @ 750 mg. Untuk penggunaan streptomisin injeksi diperlukan aquabidest dan disposable syringe 5 m l dan jarum steril. Aquabidest tersedia dalam kemasan vial @ 5 ml dalam dos yang berisi 100 vial. Efek samping dari OAT-FDC umumnya sama dengan efek samping dari penggunaan OAT yang dalam tablet terpisah. Beberapa efek samping yang muncul berupa hilangnya nafsu makan, mual kadang disertai muntah, sakit perut, nyeri sendi, gatal dan kemerahan pada kulit, kesemutan hingga rasa terbakar di kaki, gangguan keseimbangan. Selain itu efek samping hepatotoksisitas bisa terjadi karena reaksi hipersensitivitas atau karena kelebihan dosis. Efek samping dari OAT tersebut diperkirakan terjadi pada sekitar 3 6 % pasien yang mendapat pengobatan dengan FDC. Bila diketahui dengan pasti bahwa FDC penyebab efek samping seperti yang disebutkan sebelumnya dan obat tersebut tidak dapat diberikan kembali, maka pasien diberikan OAT yang dalam bentuk tablet terpisah (OAT kombipak). Pengobatan TB perlu diperhatikan untuk pasien yang berada dalam kondisi khusus misalnya pasien wanita hamil, pasien dengan penyakit tertentu seperti DM, gagal ginjal, memiliki kelainan hati kronik. Untuk pengobatan TB pada wanita hamil perlu diperhatikan pada penggunaan streptomisin. Streptomisin tidak dapat digunakan pada kehamilan. Hal ini karena streptomisin bersifat permanent ototoxic dan dapat menembus barier plasenta. Keadaan ini dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pendengaran dan keseimbangan yang menetap pada bayi yang akan dilahirkan. Pasien DM harus selalu dikontrol dalam pengobatannya. Jika pasien juga menderita TBC perlu diperhatikan dalam penggunaan rifampisin, karena rifampisin dapat mengurangi efektivitas antidiabetika oral gol sulfonil urea sehingga perlu peningkatan dosis antidiabetika tersebut. Pasien DM yang memperoleh pengobatan insulin seringkali terjadi komplikasi retinopathy diabetika, oleh karena itu perlu diperhatikan untuk pemberia etambutol karena dapat memperparah kejadian tersebut. Pasien TB dengan gagal ginjal sebaiknya tidak menggunakan streptomisin dan etambutol dalam pengobatannya. Hal ini karena kedua obat tersebut diekskresi melalui ginjal. Jika tetap diberikan memungkinkan obat tersebut tidak dapat dieksresikan dari dalam tubuh karena ketidakmampuan ginjal. Akibatnya akan menimbulkan efek toksik dalam tubuh. Oleh karena itu dapat diberikan pengobatan dengan INH, rifampisin, dan pirazinamid untuk pasien TB dengan gagal ginjal. Ketiga obat tersebut diekskresi melalui empedu dan dapat diubah menjadi senyawa-senyawa yang tidak toksik. Paduan OAT yang paling aman untuk pasien TB dengan gagal ginjal adalah 2HRZ/4HR.

Pengobatan TB pada pasien dengan kelainan hati kronik dapat dilakukan jika pasien sudah melakukan pemeriksaan hati. Jika nilai SGOT dan SGPT meningkat lebih dari 3 kali maka OAT tidak diberikan dan bila sudah dalam pengobatan maka harus dihentikan. Jika peningkatannya kurang dari 3 kali maka pengobatan tetap dapat dilakukan dengan pengawasan ketat. Pasien dengan kelainan hati tidak boleh diberikan pirazinamid. Paduan OAT yang dianjurkan untuk pasien TB dengan kelainan hati yaitu 2RHES/6RH atau 2HES/10HE. Pencegahan terhadap penyakit TB dapat dilakukan dengan hidup sehat dengan makan makanan bergizi dan teratur, istirahat yang cukup, olah raga teratur, hindari rokok, minuman beralkohol, obat bius, hindari stress. Kemudian untuk mencegah terjadinya penularan TB, maka para pasien TB diharapkan menutup mulut saat batuk dan tidak meludah di sembarang tempat. Usaha pencegahan lainnya yaitu dengan melakukan imunisasi BCG (Bacillus Calmette-Guerin) yang akan memberikan kekebalan aktif pada penyakit TB. Selain itu menjaga daya tahan tubuh juga penting dalam mengantisipasi penyakit TB. Dengan daya tahan tubuh yang kuat maka tidak mudah untuk terserang infeksi oportunistik (TB). Tidak hanya AIDS yang memiliki hari peringatan tetapi TB pun memiliki hari peringatan yang jatuh pada tanggal 24 Maret. Tahun ini peringatan hari TB sedunia bertemakan Every Breath Counts, Stop TB now!. Tema ini menekankan pada kata breath yang tidak hanya berarti pernafasan tetapi juga merupakan pusat dari segala aktivitas manusia. Jadi, jika breath manusia rusak karena TB maka akan merusak juga seluruh aktivitas manusia. Tema ini mengingatkan akan bahaya TB dan urgensi pemberantasannya. (http://yosefw.wordpress.com/2007/12/23/terapi-fdc-fixed-dose-combination-padapasien-tb/) 40. Clini test pada feses Penentuan kadar gula dalam tinja dengan tablet Clinitest (Modifikasi Kerry dan Anderson, 1964) Prinsip kerja : Berdasarkan terjadinya reduksi ion cupri (CuSO4). Cara kerja : - Tinja cair ditampung dengan plastik. - Masukkan tinja cair tersebut dalam tabung Ames sebanyak 5 tetes. - Tambahkan dalam tabung tersebut 10 tetes air. - Masukkan 1 tablet Clinitest ke dalam tabung yang berisi larutan tersebut. - Perubahan warna yang terjadi kemudian dibandingkan dengan warna standar yang tersedia. Hasil : -Dinyatakan dengan (0%), Trace(0,25%),+(0,5%), ++(0,75%), +++(1%), ++++(2%). - Dicurigai adanya malabsorpsi laktosa bila didapatkan lebih dari 0,5% bahan pereduksi (++ - ++++) Cara pemeriksaan: Ke dalam tabung ames diteteskan 10 tetes air, kemudian 5 tetes tinja .Tambahkan 1 tablet clinitest. Baca sesudah 60 detik dan cocokkan dengan warna standar
(www.utmb.edu/poc/SOP/Current/mod_ClinitestStool.pdf)