Anda di halaman 1dari 59

1

Introduksi

Disain penelitian Epidemiologi

Untuk mempelajari distribusi dan frekwensi penyakit di populasi dipakai disain studi epidemiologi deskriptif Untuk mempelajari diterminan suatu penyakit di populasi dipakai disain studi epidemiologi analitik

Penelitian epidemiologi berdasarkan unit pengamatan/unit analisisnya dapat dibagi menjadi : studi dengan unit pengamatan/analisis individu studi epidemiologi dengan unit pengamatan/analisis agregat Termasuk disain studi epidemiologi dengan unit pengamatan /analisis individu adalah : disain studi laporan kasus disain studi serial kasus disain studi potong lintang disain studi kasus - kontrol disain studi kohort disain studi intervensi
4

Termasuk disain studi epidemiologi dengan unit pengamatan /analisis agregat adalah : disain studi korelasi

Penelitian epidemiologi berdasarkan bagaimana tindakan peneliti terhadap subjek yang diteliti dapat dibagi menjadi : disain studi observasional disain studi intervensi

Termasuk disain studi epidemiologi yang bersifat studi observasional adalah : semua disain studi epidemiologi kecuali studi intervensi, yakni; semua disain studi epidemiologi deskriptif semua disain studi epidemiologi analitik kecuali studi intervensi

Pada disain studi epidemiologi yang bersifat studi observasional,


peneliti hanya mengobservasi subjek-subjek yang diteliti tanpa melakukan intervensi Pada disain studi epidemiologi yang bersifat intervensi, peneliti melakukan intervensi pada subjek-subjek yang diteliti

merupakan studi epidemiologi yang bersifat observasional unit pengamatan/analisisnya individual

merupakan laporan kasus-kasus penyakit dengan diagnosis


yang diduga sama biasanya merupakan penyakit-penyakit baru, masalah kesehatan baru, fenomena baru yang belum jelas menggambarkan riwayat penyakit, pengalaman klinis dari masing-masing kasus laporan kasus-kasus kemudian dapat dianalisis secara sederhana yakni dengan melihat distribusi/ frekwensi penyakit berdasarkan : gejala-gejala klinis Orang, Tempat, Waktu

tujuan :
diperoleh informasi tentang distribusi frekwensi penyakit /masalah kesehatan yang diteliti diperoleh informasi tentang kelompok yang berisiko tinggi terhadap penyakit dapat dipakai untuk membangun/memformulasikan hipotesis baru kelemahan : gambaran distribusi, frekwensi penyakit yang diperoleh

tidak dapat mewakili populasi


hanya berdasarkan kasus-kasus yang dilaporkan saja kelebihan : sebagai langkah awal untuk mempelajari suatu penyakit

sebagai jembatan antara penelitian klinis dan penelitian epidemilogi


dapat digunakan untuk sebagai dasar penelitian lebih lanjut : dengan melihat kelompok yang berisiko tinggi dengan membuktikan hipotesis yang dibangun
8

contoh dari suatu studi laporan kasus suatu penyakit yang belum jelas sebut penyakit X, 10 orang dengan gejala-gejala yang mirip satu sama lain : berdasarkan gejala dan pemeriksaan laboratoris Berat badan : 9 orang dengan gejala mengurus, 1 berat badan tidak turun Diare : 6 diare, 4 tidak ada diare Demam : 8 demam dengan pnemonia, 4 tidak demam

Bercak pada kulit : 7 orang mempunyai, 3 tidak ada bercak


Pemeriksaan laboratoris : semua pasien angka limfosit menurun drastis berdasarkan gambaran demografinya

sex : 9 pria, 1 wanita


umur : 8 dewasa muda, 2 tua pekerjaan : 6 pemusik, 4 pegawai
9

kebiasaan mengkonsumsi drugs : menggunakan jarum suntik 8 orang, cara lain 2 orang bukan pengguna perilaku berhubungan intim : sesama jenis 8 orang, lawan jenis 2 orang

dari data diatas dapat dilihat bahwa : dari gejala dan pemeriksaan laboratoris penyakit X tersebut adalah : 90 % berat-badan menurun 60 % diare 80 % demam dengan pneumonia 70 % bercak pada kulit 100 % limfosit menurun drastis

10

dari gambaran demografisnya 90% pria 80% dewasa muda 60% pemusik dari kebiasaan mengkonsumsi narkoba 80% pecandu narkoba dari perilaku seksual : 80 % homoseksual diperoleh gambaran distribusi, frekwensi penyakit berdasarkan : gejala dan tanda serta pemeriksaan laboratoris

gambaran demografi
kebiasaan mengkonsumsi narkoba perilaku seksual

11

dari analisis sederhana diatas didapat informasi kelompok orang

yang berisiko antara lain :


pria dewasa muda pemusik pecandu narkoba

homoseksual
dari informasi tadi dapat dibangun suatu hipotesis pria lebih berisiko untuk mendapat penyakit X dari pada wanita usia dewasa muda lebih berisiko untuk mendapat penyakit X

dari pada yang usia tua


pemusik lebih berisiko untuk mendapat penyakit X dari pada non pemusik pecandu narkoba lebih berisiko untuk mendapat penyakit X dari pada bukan pecandu homoseksual lebih berisiko untuk mendapat penyakit X dari pada bukan heteroseksual
12

Untuk

mendapatkan

informasi

yang

dapat

menggambarkan distribusi, frekwensi penyakit yang mewakili populasi diperlukan penelitian epidemiologi

deskriptif lain, dimana sampel penelitian mewakili


populasi yang diteliti disain studi epidemiologi yang sesuai dipakai untuk itu lintang. adalah disain studi potong

Untuk membuktikan hipotesis yang dibangun, dapat


dilakukan penelitian epidemiologi analitik lebih lanjut antara lain dapat dengan : studi kohort studi kasus kontrol

studi intervensi

13

Studi Epidemiologi Serial Kasus


merupakan studi epidemiologi yang bersifat observasional unit pengamatan/unit analisis adalah individu merupakan kumpulan kasus-kasus individual suatu penyakit dengan diagnosis yang sama

sama dengan studi laporan kasus tapi dengan kasus yang lebih banyak
surveilens yang rutin dilakukan untuk suatu penyakit yang belum jelas diagnosisnya ataupun sudah jelas diagnosisnya : merupakan kumpulan laporan kasus-kasus, atau serial kasus dapat digunakan untuk menditeksi munculnya penyakit baru

dapat digunakan juga untuk menditeksi adanya epidemi

14

kumpulan laporan kasus kemudian dianalisis secara sederhana yakni dengan melihat distribusi/ frekwensi penyakit berdasarkan Orang, Tempat, Waktu

tujuan : diperoleh informasi tentang distribusi frekwensi penyakit /masalah kesehatan yang diteliti diperoleh informasi tentang kelompok yang berisiko tinggi terhadap penyakit dapat dipakai untuk membangun/memformulasikan hipotesis baru

15

kelemahan : gambaran distribusi, frekwensi penyakit yang diperoleh tidak dapat mewakili populasi hanya berdasarkan kasus-kasus yang dilaporkan saja kelebihan : sebagai langkah awal untuk mempelajari gambaran epidemiologi

suatu penyakit
sebagai jembatan antara penelitian klinis dan penelitian epidemilogi dapat digunakan sebagai dasar untuk penelitian epidemiologi lebih lanjut : dengan melihat kelompok yang diduga berisiko tinggi

dengan membuktikan hipotesis yang dibangun

16

Latihan : Kota X mempunyai 8 RS. Seorang dokter disalah satu RS melakukan penelitian terhadap kasus kasus diabetes mellitus (DM), selama 1 tahun penelitiannya terkumpul data sebagai berikut :
No ID Sex Umur Suku Kadar gula Darah gr/dl 300 200 350 375 280 300 240 300 400 200 150 180 260 200 380 375 150 160 250 280 290 300 325 200 240 210 170 190 340 330 300 260 260 370 400 240 275 200 150 150 Komplikasi Status Keluar dr RS Meninggal Hidup Meninggal Meninggal Meninggal Meninggal Hidup Hidup Meninggal Hidup Hidup Hidup Hidup Hidup Meninggal Meninggal Hidup Hidup Hidup Hidup Hidup Meninggal Meningga Hidup Hidup Hidup Hidup Hidup Meninggal Meninggal Meninggal Meninggal Meninggal Meninggal Meninggal Hidup Hidup Hidup Hidup Hidup

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40

Wanita Wanita Pria Pria Pria Wanita Pria Wanita Pria Wanita Pria Wanita Pria Wanita Pria Pria Pria Pria Pria Wanita Wanita Pria Wanita Pria Wanita Pria Pria Pria Wanita Wanita Pria Wanita Wanita Pria Pria Pria Pria Pria Pria Pria

50 45 30 35 40 50 40 45 30 60 35 45 50 60 40 35 40 50 40 45 60 40 45 35 40 40 45 50 55 60 40 45 50 40 30 35 35 40 40 40

Jawa Jawa Sumatra Sumatra Jawa Jawa Betawi Betawi Betawi Betawi Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Jawa Sumatra Sumatra Betawi Betawi Betawi Betawi Sumatra Sumatra Jawa Betawi Betawi Sumatra Jawa Betawi Sumatra Betawi Betawi Betawi Betawi Betawi Jawa

Ada Ada Ada Ada Ada Ada Tidak ada Ada Ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Ada Ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Ada Ada Ada Ada Tidakada Ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Ada Ada Ada Ada Tidak ada Ada Ada Ada Ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

17

Tugas : deskripsikan distribusikan/frekwensi penyakit DM berdasarkan : jenis kelamin umur ada tidaknya komplikasi kadar gula darah status pada saat pulang dari RS

dapatkah gambaran distribusi/frekwensi diatas menggambarkan kondisi di populasi ? apa alasannya ? Dari data diatas dapatkah saudara menentukan kelompok yang diduga berisiko tinggi untuk penyakit DM ? bagaimana caranya dari data diatas dapatkah saudara memformulasikan hipotesis baru adakah hubungan antara komplikasi dengan kematian pada penderita DM jika ada hubungan antara kejadian komplikasi dengan kematian pada penderita DM dapatkah hasil tersebut digeneralisasikan di populasi dapatkah saudara memformulasikan hipotesis baru dari analisis hubungan tersebut

18

Studi Korelasi
nama lain studi ekologi

merupakan studi epidemiologi yang bersifat studi observasional


unit pengamatan/analisisnya adalah agregat , berikut beberapa contoh ukuran agregat : ukuran agregat yang mengukur nilai rata-rata, median,

atau proporsi dari kumpulan nilai-nilai individu di suatu


kelompok misal : nilai rate suatu penyakit ; insidens, prevalens nilai rata-rata asupan lemak pada suatu kelompok individu /masyarakat nilai cakupan program nilai median dari penghasilan sekelompok individu

19

ukuran agregat environment, merupakan ukuran yang mewakili karakteristik fisik misalnya : nilai cakupan rumah sehat pada suatu area nilai intensitas polusi pada suatu area nilai kepadatan jentik pada suatu area dari suatu lingkungan hidup

populasi studi terdiri dari kumpulan unit pengamatan dari mana ukuran agregat diukur sebagai contoh : unit pengamatan untuk angka kepadatan jentik, dan insidens DHF diukur berdasarkan area kerja puskesmas,

maka populasi studi terdiri dari kumpulan puskesmas - puskesmas

20

analisis yang dilakukan dapat bersifat: deskriptif : melihat distribusi frekwensi dari variabel yang diteliti (dalam unit agregat) analitik : melihat korelasi/hubungan antara variabel-variabel diteliti jika variabel exposure dan variabel outcome diukur sebagai data kontinyu hubungannya secara statistik diuji dengan uji korelasi

kekuatan/keeratan hubungan dilihat dengan melihat


nilai koefisien korelasi (r) jika variabel exposure dan variabel outcome diukur sebagai data kategorikal hubungannya secara statistik dapat diuji dengan uji kuadrat,

atau regressi logistik


kekuatan hubungan dilihat dengan menghitung RR atau OR

21

contoh : suatu studi ekologi ingin melihat korelasi antara cakupan imunisasi campak dengan insidens campak unit pengamatan puskesmas

populasi studi; 10 puskesmas


cakupan imunisasi campak dianggap sebagai (exposure / independent variable) insidens campak dianggap sebagai (outcome /dependent variable) contoh 1: jika variabel bebas dan variabel terikat diukur dengan skala kontinyu y = insidens campak

x = cakupan imunisasi campak


hubungan secara statitik diuji dengan uji korelasi kekuatan hubungan dilihat dari koefisien korelasi

22

data : ID PKM 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 N =10 X (%) 50 55 60 65 70 75 80 85 90 95 X Y(%) 60 70 35 30 25 20 25 20 15 10 Y X2 502 Y2 602 XY 50 x 60

X2

Y2

XY

n xy - ( x )(xy) r = ----------------------------------------------- n x2 - (x )2 n y2 - (y )2
23

persamaan garis linier : y = a + bx n xy - ( x )(y) b = -------------------------n x2 - (x )2 y - bx a = --------------------------n

b2 [ x2 - ( x )2/n] r2 = ---------------------------------------y2 - (y)2/n

r = r2

24

a = intercept merupakan titik dimana garis memotong sumbu y jika nilai a negatif, garis memotong sumbu y dibawah sumbu x jika nilai a positif, garis memotong sumbu y diatas sumbu x b = slope; angka dimana nilai y berubah untuk setiap unit perubahan pada x Jika nilai b negatif menunjukkan arah garis dari bagian atas sudut kiri kebagian bawah sudut kanan Jika nilai b positif menunjukkan arah garis dari bagian bawah sudut kiri ke bagian atas sudut kanan Dalam persamaan regressi disebut dengan koefisien regressi, memprediksi perubahan y untuk setiap unit perubahan pada x

25

r = koefisien korelasi menggambarkan kekuatan hubungan variabel x dan y nilai r berkisar dari 0 sampai 1

makin mendekati 1 ada hubungan linier yang kuat antara x dan y


makin mendekati 0 hampir tidak ada hubungan antara x dan y nilai r dapat positif ataupun negatif nilai r yang negatif menunjukkan adanya hubungan yang negatif antara x dan y

jika x meningkat y menurun


jika x menurun y meningkat nilai r yang positif menunjukkan adanya hubungan yang positif antara x dan y jika x meningkat y meningkat jika x menurun y juga menurun

26

sebagai contoh nilai r = - 0.95 ada hubungan linier yang kuat antara variabel x dan y jika x meningkat y menurun atau sebaliknya

r = positif dan mendekati 1

r = negatif dan mendekati 1

27

r = positif dan mendekati nol

28

Uji statistik : untuk melihat apakah nilai r yang didapat merupakan ukuran yang cukup bermakna secara statistik untuk mengindikasikan bahwa di populasi kedua variabel x dan y berkorelasi hipotesis : H0 : r = 0 HA : r 0

r = koefisien korelasi di populasi


uji statistik jika r = 0 n-2 t=r -----------dengan derajat kebebasan = n-2

1 - r2

29

jika dipakai = 0.05, dan hasil kalkulasi uji statistik

mempunyai nilai p < 0.05 maka H0 ditolak, artinya koefisien korelasi di populasi tidak sama dengan 0, artinya hasil kalkulasi r berdasarkan sampel tadi cukup

bermakna secara statistik atau dengan kata lain korelasi antara variabel x dan y bermakna secara statistik

30

contoh 2 : jika variabel terikat dan variabel bebas diukur dengan skala kategorikal data :

ID PKM 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

X (%) 50 55 60 65 70 75 80 85 90 95

kategori rendah rendah rendah rendah rendah tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi

Y (%) 60 70 35 30 25 60 25 20 15 10

kategori Tinggi Tinggi Rendah Rendah Rendah Tinggi Rendah Rendah Rendah Rendah

X = cakupan imunisasi campak y = insidens campak PKM = puskesmas


31

Tabel distribusi cakupan imunisasi campak dan insidens campak Dari data diatas
Insiden tinggi Cakupan rendah Cakupan tinggi Insiden rendah

3 1

2 4

5 5

32

Contoh : Dari 35 puskesmas yang mempunyai cakupan imunisasi rendah, 25 puskesmas mempunyai insiden campak yang tinggi :

proporsi dari insidens campak tinggi pada pkm cakupan rendah = 25/35
odds dari insidens campak tinggi|cakupan rendah = 25/10 Dari 50 puskesmas yang mempunyai cakupan imunisasi tinggi, 15 puskesmas mempunyai insiden campak yang tinggi

proporsi dari insidens campak tinggi pada pkm cakupan tinggi = 15/50
odds dari insidens campak tinggi|cakupan tinggi = 15/35

Insidens 25/35 RR= -------------------- = ------------ = 1.56 Insidens 15/50

odds odds

25/10 15/35

OR= ------------ = ------------- = 5.81

33

Uji statistik :

uji homogenitas proprorsi binomial


uji independensi kedua uji statistik diatas sama prosedurnya
k

( O - E )2
--------------E

2 = 2 : Khi kuadrat

i=1

O : Observed value / nilai yang diamati E : Expected value / nilai yang diharapkan H0 : angka cakupan imunisasi dengan insidens campak, independen (tak berhubungan) Ha : angka cakupan imunisasi dengan insidens campak, tak independen (berhubungan) : 0.05 dengan derajat kebebasan = (c-1)((r-1) c= kolom r=baris jika 2 memberikan nilai P lebih besar dari maka H0 ditolak

34

tabel kontingensi Observed insidens DHF

rendah
angka kpdt jentik tinggi total (a+b) (a+c) a = ---------------(a+b+c+d)

tinggi a c (a+c) (a+b) ( b+d) b =----------------(a+b+c+d)

rendah b d (b+d)

total (a+b) (c+d) (a+b+c+d)

(c+d) (a+c) c = ---------------(a+b+c+d)

(c+d) (b+d) d= -------------(a+b+c+d)

jika ada nilai sel E kurang dari 5, uji yang dipakai Fisher Exact Test
35

(a+b) (a+c) a = ---------------(a+b+c+d)


(c+d) (a+c) c = ---------------(a+b+c+d)

(a+b) ( b+d) b =----------------(a+b+c+d)


(c+d) (b+d) d= -------------(a+b+c+d)

jika ada nilai sel E kurang dari 5, uji yang dipakai Fisher Exact Test

D+ E+ Ea c

Db d

36

Contoh menghitung nilai expected Insidens penyakit tinggi rendah rendah 25(a) 15(c) 40(a+c) 10(b) 35(d) 45(b+d)

total 35 (a+b) 50 (c+d) 85 (a+b+c+d)

cakupan imunisasi
tinggi total

total row x total colum nilai expected =-----------------------------------grand total total row x total colum 35 x 40 ------------------------------------ = ------------------- = 16.47 grand total 85 total row x total colum 35 x 45 ------------------------------------ = ------------------- = 18.53 37 grand total 85

nilai expected a =

nilai expected b =

nilai expected c =

total row x total colum 50 x 40 ------------------------------------ = ------------------ = 23.53 grand total 85 total row x total colum 50 x 45 ------------------------------------ = ------------------= 26.47 grand total 85

nilai expected d =

38

( O - E )2 2 = --------------i=1 E
k

(25 - 16.17)2 (10 - 18.53)2 (15 - 23.53)2 (35 - 26.47)2 2 = --------------- + ------------------ + --------------- + -------------------- = 15.75 16.7 18.53 23.53 26.47
Didapat nilai 2 yang mana dibawa H0 akan mengikuti distribusi khi kuadrat untuk tingkat = 0.05 kita akan menolak H0 jika nilai nilai 2 > nilai 2d.f..1- kita akan menerima H0 jika nilai nilai 2 < nilai 2d.f..1-

39

nilai 2d.f..1- = 3.84 { d.f = derajat kebebasan = (r-1)(c-1) = (2-1)(2-1) =1 dan 1-= 1- 0.05 = 0.95)

kita menolak H0 karena nilai nilai 2 = 15.75 > 3.84 dimana nilai p < 0.05
artinya ada hubungan secara statistik antara variabel cakupan imunisasi campak dengan insiden campak

kelebihan dari studi korelasi :


jika data telah tersedia relatif murah dapat untuk melihat distribusi frekwensi kejadian penyakit /masalah kesehatan dalam satuan agregat di populasi dapat melihat hubungan antara variabel yang diteliti

dalam satuan agregat


dapat untuk membangun /memformulasikan hipotesis baru

40

kelemahan studi korelasi : tidak dapat melihat hubungan ditingkat individu. ada ecologic fallacy, yakni bias dalam menginterpretasikan, hubungan tingkat agregat disamakan dengan hubungan tingkat individu, misal ada hubungan antara angka cakupan imunisasi campak dengan angka insidens campak (hubungan dalam tingkat agregat) belum berarti dalam tingkat idividu ada hubungan antara imunisasi dengan kejadian penyakit campak pada seseorang sehingga untuk membuktikan adanya hubungan ditingkat individu, dari studi korelasi hanya dapat memformulasikan hipotesis baru

pembuktian hipotesis tadi dengan disain studi epidemiologi analitik

41

Disain Studi Potong-Lintang (cross-sectional study)


nama lain : studi prevalensi, survey bersifat observasional unit pengamatan dan unit analaisisnya adalah individu

populasi studi merupakan populasi umum


sampel diambil secara random (acak) setiap orang di populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi anggota sampel sampel representatif /mewakili populasi pengukuran variabel independet (exposure) dan variabel dependent (outcome) dilakukan secara simultan, sehinga : tidak dapat terlihat sekuens mana yang terjadi lebih dulu, variabel independent atau variabel dependent, atau sebaliknya konsekwensinya tidak dapat melihat hubungan sebab-akibat (exposure harus mendahului outcome )

42

analisis yang dilakukan dapat bersifat: deskriptif : distribusi frekwensi kejadian penyakit/ masalah kesehatan berdasarkan orang - tempat - waktu distribusi frekwensi variabel exposure dan outcome (angka prevalens) analitik : melihat korelasi/hubungan antara variabel-variabel diteliti jika variabel exposure dan variabel outcome diukur sebagai data kontinyu hubungannya secara statistik diuji dengan uji korelasi kekuatan/keeratan hubungan dilihat dengan melihat

nilai koefisien korelasi (r) ataupun dengan koefisien


regressi

43

jika variabel exposure dan variabel outcome diukur sebagai data kategorikal hubungannya secara statistik dapat diuji dengan

uji kuadrat, atau regressi logistik


kekuatan hubungan dilihat dengan menghitung PR atau OR jika variabel exposure diukur sebagai data kontinyu dan

variabel outcome diukur sebagai data kategorikal


hubungannya secara statistik dapat diuji dengan regressi logistik kekuatan hubungan dilihat dengan menghitung exponensial koefisien regressi setiap ada penambahan atau pengurangan satu satuan unit exposure terjadi peningkatan atau pengurangan odds outcome sebesar eksponensial koefisien regressi

44

jika variabel exposure diukur sebagai data kategorikal dan variabel outcome diukur sebagai data kontinyu hubungannya secara statistik dapat diuji dengan uji t (jika hanya2 kelompok exposure) dan tes Anova (bila lebih dari 2 kelompok) kekuatan hubungan dilihat dengan membandingkan masing-masing nilai mean pada masing-masing kelompok

45

Contoh : dalam suatu penelitian dengan disain potong lintang : ingin melihat hubungan antara skore intensitas psikosis dengan kadar amphetamin darah. D = skore intensitas psikosis (data kontinyu) E = kadar amphetamin darah (data kontinyu) pengukuran D dan E dilakukan secara simultan populasi pengguna amphetamin yang datang ke klinik ketergantungan obat sampel 10 orang yang diambil secara random dari populasi analisis deskriptif : menghitung mean, median, mode dari

variabel D dan E

46

analisis analitik : buat diagram scatter untuk melihat hubungan secara kasar analisis korelasi linear dan analisis regrresi alpha ditentukan 0,05 untuk melihat hubungan E dan D lihat koefisien korelasi r untuk melihat bagaimana E memprediksian D lihat koeffisien regressi b

47

Data Pasien 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Skore intesitas psikosis (Y) 10 30 20 15 45 35 50 15 40 55 Kadar amphetamin darah mg/ml ( X ) 150 300 250 150 450 400 425 200 350 475

48

persamaan garis linier : y = a + bx


n xy - ( x )(y) b = -------------------------n x2 - (x )2 y - bx a = --------------------------n

b2 [ x2 - ( x )2/n] r2 = ---------------------------------------y2 - (y)2/n

r = r2

silahkan hitung koefisien korelasi r

dan koefisen regressi b

49

Uji statsitik: t statistik

t=r

n-2 -----------1 - r2

dengan derajat kebebasan = n-2

Apakah ada hubungan secara statistik antara kadar amphetamin darah dengan skore intensitas psikosis Buatlah persamaan garis y = a + bx Seseorang pecandu dengan kadar amphetamin 360 mg/ml darah berapa kira-kira skore intesitas psikosisnya

50

Contoh 2 dalam suatu penelitian dengan disain potong lintang ingin melihat hubungan antara merokok dan bronchitis kronis. D = bronchitis kronis (data kategorikal)

E = merokok (data kategorikal)


pengukuran D dan E dilakukan secara simultan populasi merupakan pegawai di pabrik A sampel 1000 orang yang diambil secara random dari populasi

analisis deskriptif : menghitung distribusi frekwensi D dan E


analisis analitik : analisis khi kuadrat dengan tabel kontingensi alpha ditentukan 0,05 untuk melihat hubungan E dan D hitung OR atau PR

51

Tabel kontingensi 2x2 untuk data diatas Outcome D+ DE+ exposure Etotal 100 300 500 700 600 1000 200 200 total 400

52

Populasi

sampel dipilih secara random (acak) sampel representatif untuk populasi sampel

sampel

distribusi frekwensi variabel exposure distribusi frekwensi variabel outcome

Distribusi frekwensi berdasarkan variabel exposure pada sampel terpapar dengan exposure E + tidak terpapar dengan exposure E misal sampel terdiri dari 1000 orang terpapar dengan exposure E + = 400 orang = 40% tidak terpapar dengan exposure E - = 600 orang = 60%
E+ E40% 60%

prevalensi terpapar dengan exposure = 40% prevalensi tidak terpapar dengan exposure = 60%

53

Distribusi frekwensi berdasarkan variabel outcome pada sampel outcome positif D (disease) + outcomenegatif D (disease) misal sampel terdiri dari 1000 orang outcome positif D (disease) + = 300 orang = 30 % outcomenegatif D (disease) - = 700 orang = 70%
D+ D30% 70%

Prevalensi disease = 30% prevalensi not disease = 70%

54

Mendistribusikan variabel disease pada variabel exposure 200 D+ dari 400(E+) 100 D+ dari 600 (E-)

200 D E+ E-

500 D -

200 D+ 100 D+

200 D 500 D -

dari 400 orang (E+) prevalens D+ pada kelompok E+ = 200/400 dari 600 orang (E-) prevalens D+ pada kelompok E - = 100/600

prevalens D+ pada kelompok E+ = 200/400 Prevalens Ratio = ------------------------------------------------------------------ = 3 prevalens D + pada kelompok E- = 100/600
55

Odds D+E + (kelompok orang terpapar) = 200/200 Odds D+E - (kelompok tidaterpapar) = 100/500 Odds D+E + (kelompok orang terpapar) 200/200 OR = ---------------------------------------------------- = ------------ = 5 Odds D+E - (kelompok tidaterpapar) = 100/500 Tabel kontingensi 2x2 untuk data diatas Outcome D+ DE+ exposure Etotal 100 300 500 700 600 1000 200 200 total 400

56

Mendistribusikan variabel exposure pada variabel disease 200 E+ dari 300 (D+) 100 E 200 E+ dari 700 (D-) 500 E -

Prevalens E+D + (kelompok orang sakit) = 200/300 Prevalens E+D - (kelompok tidak sakit) = 200/700 Prevalens E+D + (kelompok orang sakit) 200/300 Prevalens Ratio = ---------------------------------------------------= ------------ = 2 1/3 Prevalens E+D - (kelompok tidak sakit) 200/700

57

Odds E+D + (kelompok orang sakit) = 200/100 Odds E+D - (kelompok tidak sakit) = 200/500

Odds E+D + (kelompok orang sakit) = 200/100 OR = ------------------------------------------------------------------ = 5 Odds E+D - (kelompok tidak sakit) = 200/500

Terlihat bahwa kalkulasi nilai OR tetap = 5. bila variabel disease didistribusikan pada variabel exposure atau bila variabel exposure dididtribusikan pada variabel disease

58

Kelebihan Studi Potong Lintang : dapat untuk melihat distribusi frekwensi penyakit di populsi dapat untuk melihat hubungan variabel exposure dan variabel outcome hasil analisisnya dapat dipakai untuk membangun hipotesis baru Kelemahan Studi Potong Lintang tidak dapat untuk melihat hubungan sebab akibat, karena variabel exposure dan variabel outcome diukur secara simultan

59