Anda di halaman 1dari 63

LOGO

LAPORAN KASUS
YOHANES SUDARMANTO 022010101047

Pembimbing dr. H. Djoko Koentoro, Sp. THT SMF THT RSUD dr. SOEBANDI JEMBER

Identitas pasien
Nama Jenis Kelamin Umur Status marital Agama Pekerjaan Alamat : Tn. Mahfud : laki-laki : 23 Tahun : Belum menikah : Islam : : Kaliwining RT 2/12 Rambipuji Jember

Anamnesa
Keluhan Utama telinga kiri kurang mendengar sejak 10 tahun yll RPS Telinga kiri dirasakan pendengarannya menurun sejak 10 thn yll. Sebelumnya didahului dengan sakit telinga sebelah kiri dan keluar cairan. Namun pasien tidak berobat. Selain itu dikeluhkan pasien sering pilek dan hidung kiri sering terseumbat, batuk (-). Telinga kiri sering gatal, sering terdengar suara nging dan terkadang terasa cekot-cekot, selain itu pasien mengeluhkan bahwa saat ia membungkuk ia merasakan ada cairan yang keluar dalam hidungnya. Tidak ada keluhan nyeri saat menelan.

RPD - disangkal RPK - disangkal RPO - dikatakan tidak pernah berobat untuk keluhan telinganya hanya jika ada keluhan seperti demam dan flu pasien membeli obat di warung. RA Alergi: (-)

Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Kesadaran Keadaan umum Tanda tanda vital : Compos Mentis : Baik : T = 110/70 mmHg RR = 20 x/menit N = 72 x/menit t = 36,7 0C : A/I/C/D = -/-/-/pembesaran KGB (-) : C : S1S2 tunggal P : Vesk +/+ , Ro -/- , Wh -/: Soepel , Bising Usus +N : Akral hangat Oedem + + + + -

Kepala/Leher Thorax Abdomen Ekstremitas

Status Telinga, Hidung & Tenggorok: AD A. Telinga

AS

AD
CAE: Hiperemi Sekret Edema Serumen Furunkel Membran timpani: Warna Reflek cahaya Retraksi Bulging Perforasi
Putih mutiara

AS
+ hiperemi + -

+ -

AD

AS

Setelah suction CAE AS


CAE: Hiperemi Sekret Edema Serumen Furunkel Membran timpani: Warna Reflek cahaya Retraksi Bulging Perforasi

AD

AS

Putih mutiara

hiperemi

+ -

+ -

Palpasi/Perkusi
AD Tragus pain Nyeri tarik auricula Nyeri retroaurikula AS -

Tes penala tidak dilakukan

B. Hidung
Inspeksi :
Deformitas Deviasi Septum Mukosa: Cavum nasi Septum Konka Konka Meatus : (-) : (-) : : : : : edema (-), hiperemi (-) edema (-), hiperemi (-) edema (-), hiperemi (-) dbn sekret (-), masa (-)

Palpasi :
Krepitasi : (-) Nyeri tekan daerah sinus
: (-)

C. Tenggorokan

Inspeksi : Mukosa faring : hiperemi (-), edema (-), granulasi (-) Uvula : deviasi (-), hiperemi (-) Arcus Faring : hiperemi (-), edema (-) Tonsil : ukuran T1-T1, hiperemi -/-, kripte tidak melebar, detritus -/-, permukaan rata. Gigi geligi : dbn

RESUME:
Px laki-laki, 23 th, dg keluhan pendengaran telinga kiri berkurang sejak 10 tahun yll, sering flu, hidung kiri terasa buntu dan saat menunduk terasa keluar cairan telinga kiri sering gatal sering mendengar nging. RPO: obat untuk flu dan demam. Riwayat alergi: (-) AS: gatal, nyeri tarik auricula (-),tragus pain (-), CAE: sekret (-) purulen (-), edema (-), furunkel (-) membran timpani hiperemi (+). AD: CAE & MT dbn. Hidung & tenggorok: dbn.

DIAGNOSIS:

Rhinosinusitis maxilaris sinistra kronis ec rhinogen et suspect hearing lost AS sinistra


Planing Audiometri Rontgen waters Antibiotika 10-14 hari (Clindamicin metronodazol) Obat dekongestan oral (Rhinos sr) Membersihkan sekret telinga dengan lidi kapas. Analgesik (asam mefenamat)

PENATALAKSANAAN:

Prognosis:
Ad vitam: ad bonam Ad fungsional: ad bonam

TERIMA KASIH

LOGO

SINUSITIS

SINUSITIS
BATASAN radang mukosa sinus paranasal Dibagi menjadi:
Sinusitis maksila Sinusitis etmoid Sinusitis frontal Sinusitis sfenoid

Paling sering

SINUSITIS
Sinus maksila = antrum Highmore paling sering terkena, karena: Sinus paranasal terbesar Letak ostium lebih tinggi dari dasar Dasar sinus maksila adalah dasar akar gigi Ostium sinus maksila di sekitar hiatus semilunaris yang sempit

Para Nasal Sinuses Coronal Section

Frontal sinus Bulla ethmoidalis Hiatus semilunaris Maxillary S ostium

Uncinate Process
Maxillary sinus

OMC

SINUSITIS
PATOFISIOLOGI Edema kompleks osteomeatal Mukosa menempel Silia tidak dapat bergerak Lendir tidak dapat dialirkan Gangguan drainase dan ventilasi

Silia kurang aktif Lendir lebih kental


Hipoksia dan retensi lendir Perubahan jaringan (hipertrofi/polipoid/kista) infeksi bakteri anaerob

SINUSITIS
FAKTOR PREDISPOSISI
Obstruksi mekanik
Rinitis alergi dan rinitis kronik Polusi Udara dingin dan kering

SINUSITIS
KLASIFIKASI
Sinusitis Akut beberapa hari s/d 4 minggu
Sinusitis Subakut 4 minggu s/d 3 bulan Sinusitis Kronis > 3 bulan

SINUSITIS AKUT
ETIOLOGI
Rinitis akut Infeksi Faring Infeksi gigi rahang atas Berenang dan menyelam Trauma Barotrauma

SINUSITIS AKUT
GEJALA SUBYEKTIF
Gejala Sistemik : demam dan rasa lesu Gejala Lokal:
Ingus kental, kadang berbau dirasakan mengalir ke nasofaring Hidung tersumbat Nyeri di daerah sinus
Sinusitis maksila bawah kelopak mata, tulang alveolaris Sinusitis etmoid pangkal hidung dan kantus medius Sinusitis frontal dahi Sinusitis sfenoid verteks, occipital, belakang bola mata, mastoid

Nyeri alih

SINUSITIS AKUT
GEJALA OBYEKTIF
Inspeksi: pembengkakan daerah muka Rinoskopi anterior:
mukosa konka hiperemis dan edema Mukopus di meatus medius sinusitis maksila, sinusitis etmoid anterior, sinusitis frontal Mukopus di meatus superior sinusitis etmoid posterior, sinusitis sfenoid

Rinoskopi posterior: mukopus di nasofaring (post nasal drip)

SINUSITIS AKUT
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Transiluminasi: sinus yang sakit suram/gelap Radiologik perselubungan atau penebalan mukosa atau air-fluid level

PEMERIKSAAN MIKROBIOLOGIK
Sekret dari meatus medius/meatus superior Dapat ditemukan flora normal, Pneumococcus, Streptococcus, Haemophilus influenzae, virus, jamur

Maxillary Sinusitis

Plain X-ray

Anterior rhinoscopy, Endoscopy

CT scan

Fluid Level in Maxillary Sinusitis

In plain X ray

In coronal CT scan

SINUSITIS AKUT
TERAPI
Medikamentosa
Antibiotika: golongan Penicillin, 10-14 hari Dekongestan lokal Analgetika

Pembedahan
Bila ada komplikasi ke orbita atau intrakranial atau ada nyeri yang hebat

SINUSITIS SUBAKUT
Gejala klinis = sinusitis akut Tanda-tanda radang akut (demam, sakit kepala hebat, nyeri tekan) mereda Rinoskopi anterior: sekret purulen di meatus medius/superior Rinoskopi posterior: sekret purulen di nasofaring Transiluminasi: sinus yang sakit, suram/gelap

SINUSITIS SUBAKUT
TERAPI
Medikamentosa diatermi pencucian sinus Medikamentosa:
Antibiotika spektrum luas Dekongestan lokal Analgetika Antihistamin Mukolitik

SINUSITIS SUBAKUT
Diatermi dengan sinar gelombang pendek, 5-6 kali Pencucian Sinus:
Sinusitis maksila pungsi irigasi Sinusitis etmoid, frontal, sfenoid pencucian sinus cara Proetz (Proetz displacement therapy)

PUNGSI DAN IRIGASI SINUS MAKSILA

SINUSITIS KRONIS
PATOFISIOLOGI
Polusi bahan kimia Silia rusak Obstruksi mekanik gangguan drainase perubahan mukosa alergi dan defisiensi imunologik

Infeksi Kronis Pengobatan infeksi akut yang tidak sempurna

SINUSITIS KRONIS
GEJALA SUBYEKTIF Gejala hidung dan nasofaring: sekret di hidung dan post nasal drip Gejala faring: rasa tidak nyaman dan gatal di tenggorok Gejala telinga: pendengaran terganggu Sakit kepala Gejala mata penjalaran infeksi melalui duktus nasolakrimalis Gejala saluran napas: batuk, komplikasi di paru Gejala di saluran cerna: gastroenteritis

SINUSITIS KRONIS
GEJALA OBYEKTIF
Tidak ada pembengkakan wajah Rinoskopi anterior: sekret kental purulen dari meatus medius/superior Rinoskopi posterior: sekret purulen di nasofaring

PEMERIKSAAN MIKROBIOLOGIK
Kuman aerob: S.aureus, S.viridans, H.influenzae Kuman anaerob: Peptostreptokokus, Fusobakterium

SINUSITIS KRONIS
TERAPI
Medikamentosa Diatermi Pencucian sinus (5-6 kali tidak ada perbaikan & sekret purulen tetap banyak) Operasi radikal Medikamentosa:
Antibiotika 2 minggu dekongestan lokal analgetik antihistamin mukolitik

SINUSITIS KRONIS
TERAPI
Diatermi
Dengan sinar gelombang pendek selama 10 hari

Pencucian Sinus (2 kali/minggu):


Sinusitis maksila pungsi irigasi Sinusitis etmoid, frontal, sfenoid pencucian sinus cara Proetz (Proetz displacement therapy)

SINUSITIS KRONIS
TERAPI
Pembedahan Radikal
Sinusitis maksila: operasi Caldwell-Luc Sinusitis etmoid: etmoidektomi intranasal/ekstranasal Sinusitis frontal: drainase intranasal/ekstranasal Sinusitis sfenoid: drainase intranasal

Pembedahan Tidak Radikal


dengan Bedah Sinus Endoskopik Fungsional (BSEF)

OPERASI CALDWELL-LUC

FESS:
Functional

Endoscopic
Sinus Surgery

(BSEF):
Bedah Sinus Endoskopik Fungsional

KOMPLIKASI
Osteomielitis dan abses subperiostal
sering akibat sinusitis frontal osteomielitis sinus maksila fistula oroantral

Kelainan Orbita
edema palpebra, selulitis orbita, abses subperiostal, abses orbita, trombosis sinus kavernosus

Kelainan intrakranial
meningitis, abses ekstradural/subdural, abses otak, trombosis sinus kavernosus

Kelainan Paru
bronkitis kronik, bronkiektasis, asma bronkial

SELULITIS ORBITA

Sub-periosteal abscess

RINOSINUSITIS

Beberapa alasan yang mendasari perubahan istilah Sinusitis menjadi Rinosinusitis adalah : 1.membran mukosa hidung dan sinus secara embriologis satu sama lainnya saling berhubungan. 2.sebagian penderita sinusitis juga menderita rinitis. 3.gejala pilek,buntu hidung dan berkurangnya penciuman ditemukan baik pada sinusitis maupun rinitis. 4.CT scan penderita common cold menunjukkan inflamasi mukosa yang melapisi hidung dan sinus paranasal secara simultan. Beberapa fakta diatas menunjukkan bahwa sinusitis merupakan kelanjutan rinitis.Hal ini mendukung konsep one airwaydisease yaitu penyakit disalah satu bagian saluran nafas akan cenderung berkembang ke bagian lain.

Etiologi : Penyebab utama dan terpenting dari rinosinusitis adalah obstruksi ostium sinus. Faktor lokal atau sistemik dapat menyebabkan inflamasi atau kondisi yang mengarah pada obstruksi misalnya : ISPA,alergi,kelainan anatomi,defisiensi imun,paparan bahan iritan dll. Patofisiologi :digambarkan sebagai lingkaran tertutup,dimulai dengan inflamasi mukosa hidung khususnya kompleks osteomeatal (KOM). Secara skematik sbb : Inflamasi mukosa hidung edem dan eksudasiobstruksi ostium sinusgangguan ventilasi dan drainase,resorbsi oksigen yang ada di rongga sinushipoksi (oksigen menurun,PH menurun,tekanan negatif)permeabilitas kapiler meningkat, sekresi kelenjar meningkattransudasi,peningkatan eksudasi serus,penurunan fungsi siliaretensi sekresi di sinus,tempat yang baik untuk pertumbuhan kuman.

Pada anak2 : Rinosinusitis merupakan gejala sisa dari ISPA yang kebanyakan disebabkan virus. Meskipun infeksi virus secara klinis menyembuh dalam 5-7 hari,akan tetapi kelainan fungsi silia baru akan kembali normal dalam 4-6 minggu. Defisiensi Ig mengakibatkan rinosinusitis berulang,demikian juga adanya gangguan transpor mukosiliar pada kistik fibrosis. Pada dewasa : rinitis alergi merupakan faktor predisposisi penting,terutama pada Rinosinusitis kronis (80%). Deviasi septum,hipertrofi konka media dan konka bulosa merupakan patologi yang sering ditemukan di kompleks osteomeatal,yang menyebabkan obstruksi ostium sinusgangguan drainase dan ventilasiRinosinusitis kronis.

DIAGNOSA KLINIK RINOSINUSITIS : Menurut Task Force on Rhinosinusitis of The American Association of Otolaryngology Head and Neck Surgery gejala klinik digolongkan menjadi : 1.Gejala major : a.nyeri daerah muka b.rasa penuh daerah muka c.buntu hidung d.pilek purulen/post nasaldrip e.hiposmia/anosmia f.panas 2.Gejala minor : a.sakit kepala c.nyeri gigi e.batuk

b.bau d.rasa capai e.nyeri/rasa penuh di telinga

Curiga Rinosinusitis bila dijumpai 2 atau lebih gejala major atau dijumpai 1 gejala major dan 2 gejala minor.

Apa yang perlu dilakukan bila curiga rinosinusitis : Tahap I : Periksa rinoskopi anterior -mukosa konka edem dan hiperemi -sekret mukopurulen di kavum nasi -sekret mukopurulen di meatus medius -perhatikan kelainan anatomis Tahap II : X foto Waters -mukosa sinus edem -air fluid level -perselubungan menyeluruh -mukokel/polip Tahap III : Evaluasi faktor penyebab/underlying disease -alergi -infeksi -kelainan anatomis -lingkungan -asma

Terapi : Prinsip terapinya adalah: mengobati infeksi yang ada dan mengembalikan fungsi drainase & ventilasi ostium sinus. 1.Medikamentosa : a.Antibiotika Pada RSA bakteri yang berperan adalah streptokokus pneumoni,hemofilus influenzae dan moraxella catarrhalis. Pada RSK bakteri yang berperan adalah pseudomonas aeroginosa,staphylococcus aureus dan kuman anaerob. Pemberian untuk RSA : 14 hari; RSK 3-6 minggu b.Simptomatis Dekongestan : oral/lokalvasokonstriksiostium terbuka fungsi drainase dan ventilasi kembali. Kortikosteroid intra nasal:pada Rinitis Alergi berefek anti inflamasi,menghilangkan edem ostium sinus,menormalkan fungsi silia,mencegah migrasi eosinofil. Antihistamin Analgesik/antipiretik Diatermi:penurunan edem,sekret lebih encer,vasodilatasi memperbaiki drainase dan ventilasi sinus maksila Lain2 : sekretolitik, nebuliser

2.Operatif : Terapi bedah untuk berbagai sinus adalah sebagai berikut : Sinus maksila : irigasi sinus,nasal antrostomi,Caldwell Luc Sinus etmoid : etmoidektomi intra/ekstra nasal Sinus frontal : intra/ekstra nasal,fronto-etmoidektomi Sinus sfenoid : trans nasal Irigasi sinus :(Antral lavage) Kegagalan sinus maksila untuk membersihkan sekret atau pro duk infeksi dg terapi medis mucociliary blanket rusak atau obstruksi ostium sinusretensi didalam antrum. Pada kondisi ini irigasi akan membuang produk infeksi spt. jaringan nekrotik,kuman,toksin,debris.Juga dapat dilakukan pemeriksaan kultur atau sitologi.Irigasi juga akan membantu ventilasi dan oksigenasi sinus. Irigasi pertama kali dilakukan oleh Hartman pada tahun 1885 melalui meatus medius ;sekarang lebih disukai melalui mea tus inferior.

Nasal antrostomi:(Naso antral window) Indikasi tindakan ini adalah:infeksi kronis,infeksi rekuren dan oklusi ostium sinus.Adanya lubang yang cukup lapang pada antrostomidrainase secara gravitasiinfeksi berkurang;ada akses untuk antral lavage serta dapat melakukan visualisasi kedalam sinusmengeluarkan jaringan nekrotik,benda asing. Biasanya dikerjakan melalui meatus inferior, dengan lokal atau general anestesi. Operasi Caldwell-Luc : Th 1893 Caldwell melakukan pembukaan sinus maksila mela lui fosa kanina yang dikombinasi dengan nasal antrostomi.Pd. th.1897 Luc melakukan tindakan yang hampir sama. Operasi ini kemudian dikenal sebagai operasi CWL (Caldwell-Luc). Dengan cara ini visualisasi ke sinus maksila lebih baik peni laian penyakit di antrum menjadi lebih baik & memberi jalan menuju etmoid dan sfenoid melalui dinding supero medial.

Functional Endoscopic Sinus Surgery (FESS) : Sekarang ini diketahui bahwa yang paling berperan penting pada sinusitis rinogen adalah daerah osteo meatal kompleks. Pada th 1978 endoskopi nasal dan sinus dipublikasikan secara sistematis,detil dan luas oleh Messerklinger,yang juga mempelajari mucociliary clearance didalam sinus dan hidung. Konsep endoskopi untuk diagnosis dan terapi operatif dari sinusitis yang rekuren didasarkan atas penemuan Messerklinger bahwa hapir semua infeksi pada sinus maksila dan frontal adalah rinog dan itu merupakan infeksi sekunder dari fokus yang terdapat pada selule etmoidalis anterior,khususnya didaerah infundibulum etmoid dan resesus frontalis yg dikenal sebagai osteomeatal unit,yang kemudian menyebar kedalam sinus2 besar tersebut.

Pada penelitian > 2500 penderita, Stamberger membuktikan bahwa dengan membenahi jalan untuk drainase dan ventilasi menjadi fisiologis kembali, maka kelainan sinus maksila dan sinus frontal dapat disembuhkan tanpa menyentuh sinus2 tersebut,bahkan pada kelainan mukosa yang sebelumnya dianggap ireversibel. Saat ini penggunaan FESS dengan peralatan yang makin berkembang juga semakin luas,sehingga indikasi FESS meliputi: -Sinusitis akut rekuren atau kronis pada semua sinus. -Poliposis nasi -Mukokel pada semua sinus -Mikosis pada semua sinus -Benda asing -Tumor jinak atau pada kasus tertentu tumor ganas -Osteoma yang kecil dll Terapi bedah pada rinosinusitis telah dimulai sejak 120 th yl. Dengan ditemukannya FESS pada akhir th.1970-an dan peralatan yang makin lengkap dan berkembang, maka tonggak sejarah baru untuk mengatasi rinosinusitis pada semua sinus berkembang dengan cepat.

Kapan rinosinusitis dirujuk ? Pengobatan medikamentosa dapat memberikan hasil yang baik,tidak berhasil samasekali atau menjadi rekuren. Pada kasus yang refrakter atau rekuren maka penderita dirujuk ke ahli THT untuk dilakukan tindakan operatif. Upaya pencegahan rinosinusitis : 1.Penanganan rinitis alergi sedini mungkin,termasuk edukasi cara menghindari alergen penyebab,sebab 30-40% penderita rinitis alergi dijumpai adanya rinosinusitis. 2.Penanganan rinitis non alergi,sehingga fungsi drainase dan ventilasi ostium tetap normal. 3.Koreksi kelainan anatomis hidung sedini mungkin (septum koreksi,ekstraksi polip,adenotomi dll) 4.Meminimalkan kadar polutan dilingkungan penderita untuk mencegah rusaknya barier pertahanan mukosa.

Komplikasi sinusitis : Pada umumnya jarang terjadi;jika ada biasanya akibat infeksi akut sinusitis atau eksaserbasi akut dari sinusitis kronik. Komplikasi dapat dibagi menjadi : 1.Komplikasi orbita (selulitis dan abses orbita) 2.Osteomielitis (tulang maksila dan frontal) 3.Mukokel 4.Komplikasi loko-regional (faringitis,laringitis,otitis media, bronkitis,serangan asma) 5.Komplikasi intra kranial (meningitis,abses intrakranial,trom bosis sinus kavernosus)

1.Komplikasi orbita Perjalanan langsung infeksi dari sinus etmoid,sinus frontal & sinus maksila. Bakteri sampai ke orbita melalui dinding sinus yg tipis,melalui celah/foramen didinding tsb atau mel. vena. Chandler membuat klasifikasi berdasarkan gradasi berat peny. a.Edem palpebra b.Selulitis orbita c.Abses sub periosteal d.Abses orbita e.Trombosis sinus kavernosus Ad a dan b relatif ringan,dapat sembuh dengan antibiotika. Ad c,d,e berat dan dapat fataloperasi segera utk mengeluar kan pus dari dalam sinus dan orbita.

Gejala awal adalah pembengkakan dan kemerahan kelopak mataedem palpebra.Terapi:antibiotika. Jika berlanjutselu litis orbita dimana edem merata seluruh orbita,disertai propto sis&nyeri, konjungtiva hiperemi dan mulai timbul gangguan visus.Terapi :pemberian segera antibiotika intravena dosis tinggi dan nasal dekongestan dapat mengobati infeksi & men cegah komplikasi lebih lanjut. Abses subperiosteral :kuman atau materi purulen masuk dan terkumpul dalam rongga subperiosteal yang terletak antara dinding orbita dan periorbita. Umumnya kuman berasal dari sinus etmoid melalui lamina papirasea atau dari sinus frontal kumpulan pus menekan bola mata kearah lateral bawah. Di bedakan dengan abses orbitapendorongan bola mata kearah anterior .

Penderita mengeluh nyeri hebat,gangguan gerak bola mata & gangguan visus akibat penekanan langsung pada nervus opticus dan pembuluh darah retina.Abses subperiosteal dpt pecah ke dalam orbita menjadi abses orbita. CT Scan memberi gambaran perselubungan homogen yg cembung didaerah antara orbita dan periorbita. Jika ada gambaran udaraabses. Abses orbita : terjadi akibat perluasan pus kedalam orbita atau pecahnya abses subperiosteal. Tekana intra kranial meningkat kerusakan nervus opticus dan organ intra orbita lain. Gejala: proptosis,gangguan gerak bola mata dan gangguan visus berat bahkan dapat menjadi buta krn regangan n.opticus atau nekrosis septik .Pus keluar melalui kelopak mata. CT Scan mengkonfirmasi adanya pus, lokasi&perluasannya. Tindakan operasi yang dipilih adalah etmoidektomi.

2.Osteomielitis Osteomielitis akibat sinusitis hanya terjadi ditulang diploikpada anak2 hanya di sinus maksila; sedangkan pada remaja dan dewasa hanya ditulang frontal. Osteomielitis maksila biasanya didapati di negara dengan keadaan sosial ekonomi yang sangat jelek. Gejala berupa pembengkakan pipi dan kelopak mata bawah yang disertai rasa nyeri. Organisme penyebab tersering adalah Staphylcoccus aureus. Pengobatan adalah antibiotika intrabena dan debridement jika diperlukan. Osteomielitis tulang frontal lebih berbahaya karena biasanya lebih ekstensif. Didapati pembengkakan dahi dan kelopak mata atas disertai rasa nyeri yang tumpul. Abses subperiosteal di dahi juga dapat terjadi yang disebut sebagai Potts puffy tumor. Ini sangat berbahaya dengan kemungkinan komplikasi intrakranial dan dapat fatal. Pengobatan harus segera dilaksanakan dengan antibiotika intravena dosis tinggi, drenase bedah sinus frontal dan debridement jika sudah terjadi pembentukan pus.

3.Mukokel Mukokel terjadi jika saluran keluar sinus tersumbat. Paling sering ditemukan di sinus frontal, meskipun dapat juga terjadi di sinus etmoid, maksila dan sfenoid. Di dalam kista terjadi pengumpulan mukus yang steril yag kemudian menjadi kental. Kista yang perlahan-lahan membesar ini dapat mendorong dinding sinus, menyebabkan erosi serta medorong organ-organ di sekitarnya, terutama orbita. Gejala utama adalah sakit kepala dan pembengkakan daerah muka. Keadaan menjadi lebih hebat jika disertai infeksi menjadi piokel. Jika mukokel meluas ke orbita, dapat terjadi diplopia dan protopsis. Pemeriksaan CT scan akan menunjukkan gambaran sinus yang melebar dengan penipisan dinding. Pengobatan berupa tindakan bedah mengeluarkan kista dan memulihkan drenase sinus. Untuk sinus frontal, biasanya dengan cara fronto-etmoidektomi eksterna(operasi Howarth) atau osteoplastik.

4.Komplikasi loko-regional Komplikasi regional terjadi akibat penjalaran infeksi dan peradangan melalui mukosa traktus aerodigestivus. Materi mukopurulen dari sinus dapat turun sebagai post nasal drip. Di faring pus ini dapat menyebabkan faringitis granuler dengan nodule-nodule yang terjadi akibat jaringan limfatik yang hipertrofi. Selanjutnya pita suara dapat terkena menyebabkan laringitis. Sinusitis juga dianggap sebagai penyebab dan komplikasi dari tonsilitis dan otitis media. Post nasal drip ini selanjutnya dapat menyebabkan bronkitis pada anak-anak disertai keluhan batuk kronik. Akhir-akhir ini jelas hubungan sinusitis sebagai pencetus serangan asma.

5.Komplikasi intrakranial Terhadap fossa kranii anterior,sinus frontal, etmoid dan sfenoid hanya dipisahkan oleh dinding tulang tipis. Komplikasi sinusitis ke intrakranial yang tersering adalah meningitis. Komplikasi lainnya adalah ensefalitis, abses intrakranial (ekstradural, subdural atau serebral) dan trombosis sinus kavernosus. Infeksi terjadi melalui penjalaran langsung materi infeksi melalui dinding tipis tersebut atau tromboplebitis yang retrograd. Pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada meningitis adalah pungsi lumbal, disamping menegakkan diagnosis juga untuk mengetahui organisme penyebab, kecuali jika ada peningkatan tekanan intrakranial yang dapat diketahui dari adaya papil edem.

Trombosis sinus kavernosus merupakan komplikasi yang fatal. Gejala berupa demam tinggi, kesadaran menurun dan tanda-tanda iritasi otak disertai demam tinggi. Gejala lokal berupa mata yang prop-tosis dan kelumpuhan syaraf otak yang melintasi sinus cavernosus yaitu syaraf otak ke III, IV, cabang oftalmik dan maksilaris dari syaraf V dan VI. Abses intrakranial mungking sulit didiagnosis, para dokter juga harus mempunyai kecurigaan yang tinggi, juga terhadap komplikasi intrakranial lainnya, terutama jika ada pasien sinusitis yang kesadarannya menurun atau timbul gejala-gejala defisit neurologik. Pemeriksaan penunjang yang diperlukan adalah CT scan dengan kontras atau MRI. Pegobatan semua komplikasi intrakranial adalah dengan antibiotika dosis tinggi intravena. Pada intradural atau subdural perlu tindakan drainase oleh ahli bedah otak, bersamaan dengan drainase terhadap sinus yang sakit oleh ahli bedah THT.