Anda di halaman 1dari 3

Rangkuman Materi Patofisiologi Renal 2013

Patofisiologi Patofisiologi adalah diambil dari dua kata yaitu patologi dan fisiologi. Patologi adalah ilu mengenai penyakit dan Fisiologi adalah ilmu tentang fungsi tubuh yang normal. Jadi Patofisiologi adalah ilmu yang mempelajari mengenai fungsi-fungsi tubuh yang mengalami gangguan atau fungsi-fungsi yang berubah akibat proses penyakit. Ginjal Ginjal adalah organ ekskresi dalam vertebr ata yang berbentuk mirip kacang. Sebagai bagian dari sistem urin, ginjal berfungsi menyaring kotoran (terutama urea) dari darah dan membuangnya bersama dengan air dalam bentuk urin. Manusia memiliki sepasang ginjal yang terletak di belakang perut atau abdomen. Ginjal ini terletak di kanan dan kiri tulang belakang, di bawah hati dan limpa. Di bagian atas (superior) ginjal terdapat kelenjar adrenal (juga disebut kelenjar suprarenal). Ginjal adalah sepasang organ saluran kemih yang terletak di rongga retroperitoneal bagian atas. Bentuknya menyerupai kacang dengan sisi cekungnya menghadap ke medial. Kedua ginjal terletak di sekitar vertebra T12 hingga L3. Ginjal kanan biasanya terletak sedikit di bawah ginjal kiri untuk memberi tempat untuk hati. Sebagian dari bagian atas ginjal terlindungi oleh iga ke sebelas dan duabelas. Kedua ginjal dibungkus oleh dua lapisan lemak (lemak perirenal dan lemak pararenal) yang membantu meredam goncangan. Ginjal yang normal pada orang dewasa berukuran : Panjang: 10-13 cm (4 -5 inci) Lebar: 5-7,5 cm (2-3 inci) Berat: kurang lebih 150 gram Persentase berat ginjal: 0,5% dari berat tubuh Fungsi Ginjal yaitu 1) Membuang racun dan produk buangan/limbah dari darah. Racun di dalam darah diantaranya urea dan uric acid. Jika kandungan kedua racun ini terlalu berlebihan, akan mengganggu metabolisme tubuh. 2) Menjaga kebersihan darah dengan meregulasi seluruh cairan (aira dan garam) di dalam tubuh. 3) Meregulasi tekanan darah. Ginjal menghasilkan enzim renin yang bertugas mengontrol tekanan darah dan keseimbangan elektrolisis. Renin mengubah protein dalam darah menjadi hormon angiotensis. Selanjutnya angiotensis akan diubah menjadi aldosterone yang mengabsorbsi sodium dan air ke dalam darah. 4) Mengatur keseimbangan pH darah. 5) Memproses vitamin D sehingga dapat distimulasi oleh tulang. 6) Memproduksi hormon erythropoiethin yang bertugas memproduksi sel darah merah di tulang. Patofisiologi Ginjal A. Bawaan : Asidosis tubulus renalis Congenital hydronephrosis Congenital obstruction of urinary tract Duplicated ureter Ginjal sepatu kuda Penyakit ginjal polycystic Renal dysplasia Unilateral small kidney B. Didapat : Diabetic nephropathy Glomerulonephritis Hydronephrosis adalah pembesaran satu atau kedua ginjal yang disebabkan oleh terhalangnya aliran urin. Interstitial nephritis Batu ginjal ketidaknormalan yang umum dan biasanya menyakitkan. Tumor ginjal Wilms tumor Renal cell carcinoma Lupus nephritis Minimal change disease Dalam sindrom nephrotic, glomerulus telah rusak sehingga banyak protein dalam darah masuk ke urin. Other frequent features of the nephrotic syndrome include swelling, low serum albumin, and high cholesterol. Pyelonephritis adalah infeksi ginjal dan seringkali disebabkan oleh komplikasi infeksi urinary tract. Gagal ginjal Gagal ginjal akut Gagal ginjal kronis

Penjelasan Patofisiologi Ginjal 1. Asidosis tubulus renalis Tergolong penyakit yang jarang terjadi, dengan manifestasi klinis yang tidak spesifik sehingga diagnosa sering terlambat. Asidosis tubulus renalis (renal tuular acidosis, RTA) adalah suatu penyakit ginjal (renal) khususnya pada bagian tubulus
NURRAMADHANI.A.SIDA.

Rangkuman Materi Patofisiologi Renal 2013


renalisnya. Dalam keadaan normal, ginjal menyerap asam sisa metabolisme dari darah dan membuangnya ke dalam urin. Pada penderita penyakit ini, bagian dari ginjal yang bernama tubulus renalis tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga hanya sedikit asam yang dibuang kedalam urin. Akibatnya terjadi penimbunanasam dalam darah, yang mengakibatkan terjadinya asidosis, yakni tingkay keasamaannya menjadi diatas ambang nomal. Pada penyakit ini, tubulus renalis tidak dapay berfungnsi sebagaimana mestinya dan hanya sedikit asam yang dibuang ke dalam air kemih. Jenis-jenis asidosis tubulus renalis : 1. Bisa menrupakan penyakit keturunan, bisa dipicu oleh penyakit autoimun atau obatobat tertentu, penyebab biasanya tidak diketahui, terutama pada wanita. Gejala dan kelainan metabolik yang terjadi : ketidak mampuan untuk membuang asam ke dalam air kemih, tingginya keasaman darah, dehidrasi ringan, rendahnya kadar kalium darah, menyebabkan kelemahan otot dan kelumpuhan, tulang yang rapuh, nyeri tulang, batu ginjal (endapan kalsium), gagal ginjal; 2) biasanya disebabkan oleh suatu penyakit keturunanseperti sindroma fanconi, intoleransi fruktosa yang diturunkan, penyakit wilson atau sindroma lowe. Bisa juga disebabkan oleh keracunan logam berat atau obat tertentu. Gejala dan kelainan metabolik yang terjadi : ketidakmampuan untuk menyerap kembali bikarbonat dari air kemih, sehingga bikarbonat terbuang, tingginya keasamaan darah, dehindrasi ringan, kadar kalium darah yang rendah. 3. Bukan merupakan penyakit keturunan. Penyebabnya adalah diabetes, penyakit autoimun, penyakit sel sabit atau suatu penyumbatan pada saluran kemih. Gejala dan kelainan metabolik yang terjadi: kekurangan atau ketidak mampuan untuk memberikan respon terhadap aldosterom (hormon yang membanntu mengatur pengeluaran kalium dan natrium diginjal. Tingginnya keasamaan darah yang jarang gangguan irama jantung dan kelumpuhan. 2. Congenital hydronephrosis Sebuah gangguan ginjal langka yang hadir pada saat lahir dan melibatkan pembesaran bagian ureter paling dekat dengan ginjal karena penyumbatan aliran urin dari ginjal. Tingkat keparahan kondisi ini ditentukan oleh derajat obstruksi. Hidronefrosis adalah penggembungan ginjal akibat tekanan balik terhadap ginjal karena aliran air kemih tersumbat. Dalam keadaan normal, air kemih mengalir dari ginjal dengan tekanan yang sangat rendah. Jika aliran air kemih tersumbat, air kemih akan mengalir kembali ke dalam tabung - tabung kecil di dalam ginjal (tubulus renalis) dan ke dalam daerah pusat pengumpulan air kemih (pelvis renalis). Hal ini akan menyebabkan ginjal menggembung dan menekan jaringan ginjal yang rapuh. Pada akhinya, tekanan hidronefrosis yang menetap dan berat akan merusak jaringan ginjal sehingga secara perlahan ginjal akan kehilangan fungsinya. Hidronefrosis biasanya terjadi akibat adanya sumbatan pada sambungan ureteropelvik (sambungan antara ureter dan pelvis renalis). Gejalanya tergantung pada penyebab penyumbatan, lokasi penyumbatan serta lamanya penyumbatan. Jika penyumbatan timbul dengan cepat (hidronefrosis akut), biasanya akan menyebabkan kolik renalis (nyeri yang luar biasa di daerah antara tulang rusuk dan tulang panggul) pada sisi ginjal yang terkena. Jika penyumbatan berkembang secara perlahan (hidronefrosis kronis), bisa tidak menimbulkan gejala atau n yeri tumpul di daerah antara tulang rusuk dan tulang pinggul). Nyeri yang hilang timbul terjadi karena pengisian sementara pelvis renalis atau karena penyumbatan sementara ureter akibat ginjal bergeser ke bawah. Air kemih dari 10% penderita mengandung darah. Sering ditemukan infeksi saluran kemih (terdapat nanah di dalam air kemih), demam dan rasa nyeri di daerah kandung kemih atau ginjal. Jika aliran air kemih tersumbat, bisa terbentuk batu (kalkulus). Hidronefrosis bisa menimbulkan gejala saluran pencerna an yang samar-samar, seperti mual, muntah dan nyeri perut. 3. Congenital obstruction of urinary tract (Obstruksi saluran kemih). Urinary tract obstruction (UTO) dapat terjadi pada level tubulus di ginjal sampai ke urethra. Mudah terjadi pada wanita (tumor pelvis), lelaki manula (prostate), pasien DM, pasien dengan gangguan neurologis, limfadenopati,

NURRAMADHANI.A.SIDA.

Rangkuman Materi Patofisiologi Renal 2013


refluks, nefrolitiasis atau retensi urin fungsional akibat obat (antikolinergik). Obstruksi saluran kemih adalah suatu keadaan dimana terhambatnya aliran urine baik secara permanen atau tidak akibat adanya hambatan yang berupa batu (massa), tumor, striktura, maupun oleh karena pengaruh infeksi. Penyebab : A. Faktor intrinsik : a. Batu. Pembentukan batu mulai dari kristal yang terperangkap di suatu tempat sepanjang saluran perkemihan. Faktor yang mempengaruhi pembentukan batu termasuk pH urine, konsentrasi zat terlarut urine, statis urine, beberapa infeksi, diet tinggi kalsium dan dimineralisasi tulang serta hyperparathyroid. Batu dapat bervariasi dalam bentuk dan ukuran, ada yang bentuknya bulat, lonjong dan tidak beraturan. Dalam hal ukuran dari beberapa milimeter sampai beberapa centimeter. b. Striktura. Kelainan ini dapat berupa kelainan bawaan, yaitu penyempitan yang berlebihan daripada penyempitan fisiologik atau dapat juga di dapat akibat dari trauma operasi. B. Faktor Ekstrinsik : a. Kehamilan. Pada wanita hamil sering terjadi obstruksi ureter. Penyebabnya belum jelas, mungkin karena hormonal, mungkin pula akibat tekanan oleh uterus yang membesar. b. Tumor. Tumor-tumor yang terdapat di sekitar ureter dapat mendesak ureter, misal : tumor rektum, prostat, kandung kemih dan alat-alat dirongga panggul. 4. Duplicated ureter

NURRAMADHANI.A.SIDA.