Anda di halaman 1dari 37

PROGRAM INTERNSHIP DOKTER INDONESIA LAPORAN MINI PROJECT

PERUBAHAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU TENTANG ASI EKSKLUSIF SEBELUM DAN SETELAH PENYULUHAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TANGGUL

Oleh: dr. Ali Sibra Mulluzi

Pendamping: dr. Diyan Pusposari

PUSKESMAS TANGGUL DINAS KESEHATAN KABUPATEN JEMBER 2013

KATA PENGANTAR

Puji Syukur ke hadirat ALLAH SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan penelitian yang berjudul Perubahan Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Ibu Tentang Asi Eksklusif Sebelum Dan Setelah Penyuluhan Di Wilayah Kerja Puskesmas Tanggul. Penyusunan laporan ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, oleh karena itu penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada: 1. dr. Bambang Witarno selaku kepala Puskesmas Tanggul. 2. dr. Diyan Pusposari yang telah memberikan tugas, petunjuk, kepada kami sehingga kami termotivasi dan menyelesaikan tugas ini. 3. Semua pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan dalam penyusunan laporan ini, yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu. Penulis berupaya menyusun laporan ini dengan sebaik-baiknya. Semoga laporan ini bermanfaat bagi pembaca.

Jember, September 2013 Penulis

ii

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL ......................................................................................... KATA PENGANTAR ....................................................................................... i ii

DAFTAR ISI ...................................................................................................... iii BAB 1. PENDAHULUAN ................................................................................ 1.1 1.2 1.3 1.4 Latar Belakang ............................................................................... Rumusan Masalah .......................................................................... Tujuan Penelitian ........................................................................... Manfaat Penelitian ......................................................................... 1 1 2 2 2 4 3 3 3 3 6 8

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................... 2.1 Air Susu Ibu (ASI) ....................................................................... 2.1.1 Pengertian ASI ................................................................... 2.1.2 Volume ASI ....................................................................... 2.1.3 Komposisi ASI ................................................................... 2.1.4 Zat Gizi dalam ASI ............................................................ 2.1.5 Kandungan Antibodi dalam ASI ........................................

2.1.6 Manfaat ASI ....................................................................... 10 2.2 Laktasi ............................................................................................. 11 2.2.1 Fisiologi Laktasi ................................................................. 11 2.2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi ASI............. 13 2.3 2.4 ASI Eksklusif .................................................................................. 14 Kerangka Konsep ........................................................................... 15

BAB 3. METODE PENELITIAN ................................................................... 16 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 3.6 Jenis Penelitian ............................................................................... 16 Tempat dan Waktu Penelitian ...................................................... 16 Desain Penelitian ........................................................................... 16 Sampel Penelitian ........................................................................... 16 Metode Pengumpulan Data ........................................................... 16 Instrumen Penelitian ...................................................................... 17

iii

3.7 3.8

Definisi Operasional ....................................................................... 17 Aspek Pengukuran ......................................................................... 17

BAB 4. HASIL ................................................................................................... 18 4.1 4.2 4.3 4.4 4.5 4.6 4.7 Profil Komunitas Umum (Puskesmas Tanggul) ........................ 18 Data Geografis ................................................................................ 19 Data Demografis ............................................................................. 20 Sumber Daya Kesehatan ............................................................... 21 Sarana Kesehatan yang Ada ....................................................... 21 Data Kesehatan Primer ................................................................. 22 Karakteristik Responden ............................................................... 22 4.7.1 4.7.2 4.7.3 4.8 4.9 Umur Responden................................................................ 22 Pendidikan Responden ....................................................... 23 Pekerjaan Responden ......................................................... 23

Gambaran Pengetahuan Ibu Saat Pre-Test & Post-Test .......... 23 Gambaran Sikap Ibu Saat Pre-Test & Post-Test ....................... 24

4.10 Hasil Tabulasi Silang Pengetahuan dengan Karakteristik ....... 25 4.11 Hasil Tabulasi Silang Sikap dengan Karakteristik .................... 26 BAB 5. PEMBAHASAN DAN DISKUSI ........................................................ 27 5.1 5.2 5.3 5.4 Pengetahuan Ibu Sebelum Diberikan Penyuluhan ................... 27 Pengetahuan Ibu Sesudah Diberikan Penyuluhan.................... 28 Sikap Ibu Sebelum Diberikan Penyuluhan................................ 29 Sikap Ibu Sesudah Diberikan Penyuluhan ................................ 30

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................ 31 6.1 6.2 Kesimpulan ..................................................................................... 31 Saran................................................................................................ 31

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 32

iv

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ASI merupakan makanan pertama dan utama bagi bayi yang bernilai gizi tinggi serta terjangkau. Pola pemberian ASI yang dianjurkan ialah pemberian ASI segera atau 30 menit hingga satu jam setelah melahirkan, selanjutnya pemberian ASI saja atau menyusui secara ekslusif hingga bayi usia enam bulan dan pemberian makanan tambahan setelah umur enam bulan serta tetap memberian ASI diteruskan sampai umur dua tahun (UNICEF/WHO/IDAI, 2005;22). Kejadian diare dapat terjadi 3-14 kali lebih tinggi pada anak-anak yang diberi susu formula dibandingkan dengan anak yang hanya diberi ASI. Memberikan ASI kepada bayi anda bukan saja memberikan kebaikan bagi bayi tapi juga keuntungan untuk ibu, proses menyusui menguntungkan ibu dengan terdapatnya lactational infertility, hingga memperpanjang child spacing (Pudjiadi, 2000). Berdasarkan data seksi gizi Dinas Kesehatan Jawa Timur, Jember menduduki peringkat ke-14 dalam hal cakupan pemberian ASI Eksklusif. Dari 40.299 bayi pada tahun 2012, hanya 66,37% yang mendapat ASI Eksklusif. Dimana pemberian ASI Eksklusif terbanyak di Kabupaten Bangkalan (87,08%) dan terendah di Kabupaten Lamongan (37,82%). (Dinkes Jatim, 2012) sedangkan di kecamatan Tanggul sendiri dari 692 bayi pada bulan Juli 2013 hanya 484 bayi yang diberikan ASI Eksklusif (sekitar 69%). Salah satu penyebab rendahnya pemberian ASI eksklusif yaitu kurangnya pengetahuan ibu yang berdampak pada perilaku ibu dalam menyusui. Untuk mengubah perilaku ibu dalam pemberian ASI tersebut diperlukan banyak upaya, salah satunya melalui pendidikan kesehatan (Penkes). Pemberian Penkes tentang ASI eksklusif mampu merubah perilaku, sikap ibu dalam menyusui dan dapat menambah pengetahuan ibu mengenai ASI eksklusif (Winarsih, Resnayati, & Susanti, 2007, hlm.50).

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka disusun rumusan masalah sebagai berikut: Bagaimanakah gambaran tingkat pengetahuan dan sikap ibu mengenai ASI eksklusif sebelum dan setelah diberikan penyuluhan di wilayah kerja Puskesmas Tanggul?

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum Untuk mengetahui pengaruh penyuluhan ASI eksklusif terhadap pengetahuan dan sikap ibu hamil wilayah kerja Puskesmas Tanggul. 1.3.2. Tujuan Khusus 1. Mengidentifikasi karakteristik responden berdasarkan umur, pendidikan, pekerjaan, paritas, dan sumber informasi. 2. Mengidentifikasi pengetahuan responden tentang ASI Eksklusif. 3. Mengidentifikasi sikap responden tentang ASI Eksklusif. 4. Untuk mengetahui pengaruh penyuluhan ASI ekskusif terhadap pengetahuan ibu. 5. Untuk mengetahui pengaruh penyuluhan ASI eksklusif terhadap sikap ibu.

1.4 Manfaat Penelitian 1. Sebagai bahan masukan bagi puskesmas dalam upaya peningkatan cakupan program 2. Sebagai sumber informasi untuk mengetahui pengetahuan dan sikap ibu terhadap pemberian ASI Eksklusif. 3. Mempromosikan tentang pentingnya pemberian ASI Eksklusif, dan saran yang membangun untuk penelitian selanjutnya.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Air Susu Ibu (ASI) 2.1.1 Pengertian ASI Air Susu Ibu adalah suatu emulsi dalam larutan protein, laktosa dan garam-garam anorganik yang disekresi oleh kalenjar mamae ibu, yang berguna sebagai makanan bagi bayi yang mengandung nutrisi-nutrisi dasar dan elemen dengan jumlah yang sesuai, untuk pertumbuhan bayi yang sehat. ASI tidak memberatkan fungsi traktus digestivus dan ginjal yang belum berfungsi baik pada bayi yang baru lahir. Karena ASI sangat mudah dicerna sistem pencernaan bayi yang masih rentan, bayi mengeluarkan lebih sedikit energi dalam mencerna ASI, sehingga ia dapat menggunakan energi selebihnya untuk kegiatan tubuh lainnya, pertumbuhan dan perkembahan organ sehingga dapat menghasilkan pertumbuhan fisik yang optimum (Pudjiadi, 2005).

2.1.2 Volume ASI Pada minggu bulan terakhir kehamilan, kelenjar-kelenjar pembuat ASI mulai menghasilkan ASI. Apabila tidak ada kelainan, pada 4 hari pertama sejak bayi lahir akan dapat menghasilkan 100-300 ml ASI dalam sehari, dari jumlah ini akan terus bertambah sehingga mencapai sekitar 300-450 ml/hari pada waktu bayi mencapai usia minggu kedua. Pada hari ke 10 sampai seterusnya volume bervariasi yaitu 300850 ml/hari tergantung pada besarnya stimulasi saat laktasi. Volume ASI pada tahun pertama adalah 400850 ml/hari, tahun kedua 200400 ml/hari, dan sesudahnya 200 ml/hari (Manajemen laktasi, 2004).

2.1.3 Komposisi ASI Komposisi ASI berubah menurut stadium penyesuaian sesuai dengan kebutuhan bayi pada saat itu. ASI yang dihasilkan sampai minggu pertama (kolostrum) komposisinya berbeda dengan ASI yang dihasilkan kemudian (ASI peralihan dan ASI matur). ASI yang dihasilkan ibu yang melahirkan kurang bulan komposisinya berbeda dengan ASI yang dihasilkan oleh ibu melahirkan cukup

bulan. Demikian pula komposisi ASI yang dihasilkan saat bayi mulai menyusui dan akhir fase menyusui. Menurut stadium laktasinya, terdapat tiga bentuk ASI dengan karakteristik dan komposisi berbeda yaitu: a. Stadium Kolostrum Di sekresi pada 4 hari pertama setelah persalinan yang diproduksi sebesar 150300 ml/hari. Komposisi kolostrum ASI lebih banyak mengandung protein dibandingkan ASI matur, tetapi berlainan dengan ASI matur dimana protein yang utama adalah casein, pada kolostrum protein yang utama adalah globulin, khususnya tinggi dalam level immunoglobulin A (IgA), yang membantu melapisi usus bayi yang masih rentan dan mencegah kuman memasuki bayi. IgA ini juga mencegah alergi makanan. Kolostrum juga berfungsi sebagai pencahar (pembersih usus bayi) yang membersihkan mekonium sehingga mukosa usus bayi yang baru lahir segera bersih dan siap menerima makanan selanjutnya. Jumlah energi dalam kolostrum hanya 58 kalori/100 ml b. ASI transisi / peralihan ASI yang diproduksi pada hari ke 5 sampai pada hari ke 10. Jumlah volume ASI semakin meningkat tetapi komposisi protein semakin rendah, sedangkan lemak dan hidrat arang semakin tinggi, hal ini untuk memenuhi kebutuhan bayi karena aktivitas bayi yang mulai aktif dan bayi sudah mulai beradaptasi dengan lingkungan. Pada masa ini pengeluaran ASI mulai stabil. c. ASI matang / matur adalah ASI yang dikeluarkan pada hari ke 10 sampai seterusnya dengan volume bervariasi yaitu 300850 ml/hari tergantung pada

besarnya stimulasi saat laktasi. ASI matur merupakan nutrisi bayi yang terus berubah disesuaikan dengan perkembangan bayi sampai 6 bulan. Setelah 6 bulan bayi mulai dikenalkan dengan makanan pendamping selain ASI.

Tabel 1 Ringkasan perbedaan antara ASI, Susu Sapi, Susu formula

Properti Kontaminasi bakteri Anti Infeksi Faktor pertumbuhan Protein

ASI Tdk ada

Susu Sapi Mgkn ada

Susu Formula Ada dicampurkan bila

Ada Ada

Tidak ada Tidak ada

Tidak ada Tidak ada

Jml

sesuai

dan Terlalu banyak dan Sebagian sukar dicerna Kasin:whey 80:20 diperbaiki Disesuaikan ASI Whey: betalactoglobulin dgn

mdh dicerna Kasein:whey 40:60 Whey : alfa

Lemak

-Cukup lemak (ALE), AA

asam - Kurang ALE esensial - Tdk ada lipase DHA /

-Kurang ALE -Tdk ada DHA dan AA - Tdk ada lipase

-Mengandung lipase Zat besi Jumlah kecil tapi Banyak mudah dicerna tdk dpt Ditambahkan ekstra tdk diserap dgn baik Vitamin Air Cukup Cukup Tdk cukup vit A,C Perlu tambahan Vit ditambahkan Mungkin tambahan Sumber: Konseling menyusui: Pelatihan untuk tenaga kesehatan : kerjasama WHO/UNICEF/BK.PP.ASI /2000 perlu

diserap dgn baik

Dari beberapa penelitian telah dibuktikan bahwa komposisi ASI yang diproduksi oleh ibu yang melahirkan bayi kurang bulan (ASI prematur) berbeda dengan ASI yang diproduksi oleh ibu yang melahirkan bayi cukup bulan (ASI 5

matur). Pada bayi yang lahir sebelum waktunya (preterm) ASI yang dihasilkan ibu memiliki kuantitas IgA, laktoferin dan lysozym yang lebih banyak dibandingkan ASI dari ibu yang melahirkan tepat waktu karena kondisi bayi masih belum dalam keadaan optimal untuk beradaptasi dan lebih rentan terhadap permasalahan kesehatan (Neonatal division AIIMS, 2005). Selanjutnya komposisi ASI yang dihasilkan saat bayi mulai menyusu dan akhir fase menyusu. Pada awal fase menyusu ASI (5 menit pertama) yang dikeluarkan disebut foremilk, air susu encer dan bening yang hanya mengandung sekitar 1 2g/dl lemak, susu ini berasal dari payudara yang berisi, air susu yang encer ini akan membantu memuaskan rasa haus bayi waktu mulai menyusui. Air susu berikutnya disebut hindmilk yang merupakan ASI yang dihasilkan pada saat akhir menyusui (setelah 15-20 menit), air susu yang kental dan putih ini berasal dari payudara yang keriput/mulai kosong, mengandung sedikitnya tiga sampai empat kali lebih banyak lemak. Ini akan memberikan sebagian besar energi yang dibutuhkan oleh bayi, sehingga penting diperhatikan agar bayi, banyak memperoleh air susu ini (Mizuno, K. et al., 2008).

2.1.4 Zat Gizi dalam ASI 1. Karbohidrat Karbohidrat dalam ASI yang utama adalah laktosa, yang jumlahnya berubah-ubah setiap hari menurut kebutuhan tumbuh kembang bayi. Misalnya hidrat arang dalam kolustrum untuk tiap 100 ml ASI adalah 5,3 gram, dan dalam ASI peralihan 6,42 gram, ASI hari ke 9 adalah 6,72 gram; ASI hari ke 30 adalah 7 gram. Rasio jumlah laktosa dalam ASI dan PASI adalah 7:4 yang berarti ASI terasa lebih manis dibandingkan dengan PASI, kondisi ini yang menyebabkan bayi yang sudah mengenal ASI dengan baik cenderung tidak mau minum PASI. Produk dari laktosa adalah galaktosa dan glukosamin. Galaktosa merupakan nutrisi vital untuk pertumbuhan jaringan otak dan juga merupakan nutrisi medula spinalis, yaitu untuk pembentukan myelin (pembungkus sel saraf). Laktosa meningkatkan penyerapan kalsium dan magnesium yang sangat penting untuk pertumbuhan tulang, terutama pada masa bayi untuk proses pertumbuhan

gigi dan perkembangan tulang. Hasil pengamatan yang dilakukan terhadap bayi yang mendapat ASI ekslusif menunjukkan rata-rata pertumbuhan gigi sudah terlihat pada bayi berumur 5 atau 6 bulan, dan gerakan motorik kasarnya lebih cepat. Laktosa oleh fermentasi di dalam usus akan diubah menjadi asam laktat. Asam laktat ini membuat suasana di usus menjadi lebih asam. Kondisi ini sangat menguntungkan karena akan menghambat pertumbuhan bakteri yang berbahaya dan menjadikan tempat yang subur bagi bakteri usus yang baik yaitu lactobacillus bifidus karena proses pertumbuhan dibantu oleh glukosamin (Pudjiadi, 2004) 2. Protein Protein dalam ASI merupakan bahan baku pada pertumbuhan dan pekembangan bayi. Protein ASI sangat cocok karena unsur protein didalamnya hampir seluruhnya terserap oleh sistem pencernaan bayi. Hal ini disebabkan karena protein ASI merupakan kelompok protein Whey, protein yang sangat halus, lembut, dan mudah dicerna sedangkan komposisi protein yang ada di dalam susu sapi adalah kasein yang kasar bergumpal dan sangat sukar dicerna oleh bayi. 3. Lemak Jenis lemak yang ada dalam ASI mengandung lemak rantai panjang yang merupakan lemak kebutuhan sel jaringan otak dan sangat mudah dicerna serta mempunyai jumlah yang cukup tinggi. Docosahexaenoic acid (DHA) dan Arachidonic acid (AA) merupakan asam lemak tak jenuh rantai panjang (polyunsaturated fatty acids) yang diperlukan untuk pembentukan sel-sel otak (myelinasi) yang optimal. Jumlah DHA dan AA dalam ASI sangat mencukupi untuk menjamin pertumbuhan dan kecerdasan anak. Selain itu DHA dan AA dalam tubuh dapat disintesa dari substansi prekusornya yaitu asam linolenat (Omega 3) dan asam linoleat (Omega 6). Sumber utama kalori dalam ASI adalah lemak. Walaupun kadar lemak dalam ASI tinggi tetapi mudah diserap oleh bayi karena trigliserida dalam ASI lebih dulu dipecah menjadi asam lemak dan gliserol oleh enzim lipase dalam ASI. (Dadhich, J.P., Dr. 2007). 4. Mineral

Zat besi dan kalsium didalam ASI merupakan mineral yang sangat stabil dan jumlahnya tidak dipengaruhi oleh diet ibu. Walaupun jumlah kecil tidak sebesar susu sapi tetapi dapat diserap secara keseluruhan dalam usus bayi. Berbeda dengan susu sapi yang jumlahnya tinggi namun sebagia besar harus dibuang melalui sistem urinaria maupun pencernaan karena tidak dapat dicerna. Kadar mineral yang tidak dapat diserap akan memperberat kerja usus bayi untuk mengeluarkan, menganggu keseimbangan dalam usus bayi, dan meningkatkan pertumbuhan bakteri yang merugikan yang akan mengakibatkan kontraksi usus bayi tidak normal sehingga bayi kembung, gelisah karena konstipasi atau gangguan metabolisme. 5. Vitamin Vitamin K yang berfungsi sebagai katalisator pada proses pembekuan darah terdapat dalam ASI dalam jumlah yang cukup. Namun pada minggu pertama usus bayi belum mampu membentuk vitamin K, sedangkan bayi setelah persalinan mengalami pendarahan perifer yang perlu dibantu dengan pemberian vitamin K untuk proses pembekua darah. Dalam ASI vitamin A, D, C ada dalam jumlah yang cukup, sedangkan golongan vitamin B kecuali riboflavin dan pantotenik sangat kurang. Tetapi tidak perlu ditambahkan karena bisa diperoleh dari menu yang dikonsumsi ibu.

2.1.5 Kandungan Antibodi dalam ASI ASI mengandung macam-macam substansi anti infeksi yang melindungi bayi terhadap infeksi terutama bilamana kebersihan lingkungan tidak baik. Faktorfaktor proteksi dalam ASI tersebut dapat dilihat dari tabel berikut :

Tabel 2 Komponen unggul yang terkandung dalam ASI yang dapat melindungi bayi dari berbagai penyakit

NO

Komposisi

Peranan

1.

Faktor bifidus

Mendukung

proses

perkembangan

bakteri yang menguntungkan dalam usus bayi untuk mencegah pertumbuhan

bakteri yang merugikan seperti E. Coli patogen

2.

Laktoferin & Transferin

Mengikat zat besi sehingga zat besi tidak digunakan oleh bakteri patogen untuk pertumbuhannya.

3.

Laktoperoksidase

Bersama dengan peroksidase hidrogen dan ion tiosianat membantu membunuh Streptococcus

4.

Faktor Antistaphilococcus

Menghambat Staphilococcus patogen.

pertumbuhan

5.

Sel limfosit dan makrofag

Mengeluarkan zat anti bodi untuk meningkatkan penyakit. imunitas terhadap

6.

Komplemen

Memperkuat Fagosit

7. 8.

Imunoglobulin Lizosim

Memberikan kekebalan terhadap infeksi Memiliki fungsi bakteriostatik terhadap enterobakteri dan bakteri gram negatif

9.

Interferon

Menghambat pertumbuhan virus

10.

Faktor pertumbuhan epidermis

Membantu pertumbuhan selaput usus bayi sebagai perisai untuk menghindari zat-zat merugikan yang masuk ke

peredaran darah.

Sumber: Karyadi, 2003 9

2.1.6 Manfaaat ASI ASI sebagai makanan utama bayi mempunyai manfaat terhadap bayi, antara lain sebagai berikut: 1. ASI sebagai makanan alamiah yang baik untuk bayi, mudah dicerna dan memiliki komposisi, zat gizi yang ideal sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan pencernaan bayi. 2. ASI mengandung laktosa yang lebih tinggi dibandingkan dengan susu buatan. Didalam usus laktosa akan di fermentasi menjadi asam laktat yang bermanfaat untuk : menghambat pertumbuhan bakteri yang bersifat patogen. Merangsang pertumbuhan organisme mikroorganisme yang dapat menghasilkan asam organik dan mensintesa beberapa jenis vitamin. Memudahkan penyerapan berbagai jenis mineral seperti calsium, magnesium. 3. ASI mengandung zat pelindung (antibodi) yang dapat melindungi bayi selama 0-6 bulan pertama 4. ASI tidak mengandung betalactoglobulin yang dapat menyebabkan alergi pada bayi. 5. ASI eksklusif sampai enam bulan menurunkan resiko sakit jantung anak pada masa dewasa. Selain memberikan kebaikan bagi bayi, menyusui bayi juga memberikan manfaat pada ibu, yaitu : 1. Mencegah perdarahan pasca persalinan dan mempercepat kembalinya rahim ke bentuk semula. 2. Mempercepat ibu kembali ke berat badan sebelum hamil. 3. Menunda kesuburan. Pemberian ASI dapat digunakan sebagai cara mencegah kehamilan. Namun, ada tiga syarat yang harus dipenuhi, yaitu: bayi belum diberi makanan lain; bayi belum berusia enam bulan; dan ibu belum haid.

10

4. Menimbulkan perasaan dibutuhkan dan memperkuat hubungan batin antara ibu dan bayi. 5. Mengurangi kemungkinan kanker payudara pada masa yang akan datang.

Manfaat lain dari pemberian ASI pada bayi untuk keluarga, antara lain adalah sebagai berikut: 1. Aspek ekonomi, ASI tidak perlu dibeli, sehingga dana yang seharusnya digunakan untuk membeli susu formula dapat digunakan untuk keperluan lain. 2. ASI sangat praktis karena dapat diberikan dimana saja dan kapan saja. 3. Mengurangi biaya pengobatan. Bayi yang mendapat ASI jarang sakit, sehingga dapat menghemat biaya untuk berobat.

2.2 Laktasi 2.2.1 Fisiologi Laktasi Laktasi atau menyusui yaitu proses produksi, sekresi, dan pengeluaran ASI. Proses laktasi dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah faktor hormonal. Mulai dari bulan ketiga kehamilan, tubuh wanita memproduksi hormon yang menstimulasi munculnya ASI dalam sistem payudara progesteron, estrogen, prolaktin, oksitosin, human placental lactogen (HPL) Pada bulan kelima dan keenam kehamilan, payudara siap memproduksi ASI. Pada fase terakhir kehamilan, payudara wanita memasuki fase Laktogenesis I. Saat itu payudara memproduksi kolostrum, yaitu berupa cairan kental yang kekuningan. Pada saat itu, tingkat progesteron yang tinggi mencegah produksi ASI sebenarnya. Saat melahirkan, keluarnya plasenta menyebabkan turunnya tingkat hormon progesteron, estrogen, dan HPL secara tiba-tiba, namun hormon prolaktin tetap tinggi. Hal ini menyebabkan produksi ASI besar-besaran yang dikenal dengan fase Laktogenesis II. Apabila payudara dirangsang, level prolaktin dalam darah meningkat, memuncak dalam periode 45 menit, dan kemudian kembali ke

11

level sebelum rangsangan tiga jam kemudian. Keluarnya hormon prolaktin menstimulasi sel di dalam alveoli untuk memproduksi ASI, dan hormon ini juga keluar dalam ASI itu sendiri. Penelitian mengindikasikan bahwa level prolaktin dalam susu lebih tinggi apabila produksi ASI lebih banyak, yaitu sekitar pukul 2 pagi hingga 6 pagi, namun level prolaktin rendah saat payudara terasa penuh. Proses laktogenesis II dimulai sekitar 30-40 jam setelah melahirkan, tetapi biasanya para ibu baru merasakan payudara penuh sekitar 50-73 jam (2-3 hari) setelah melahirkan. Artinya, memang produksi ASI sebenarnya tidak langsung setelah melahirkan. Sistem kontrol hormon endokrin mengatur produksi ASI selama kehamilan dan beberapa hari pertama setelah melahirkan. Ketika produksi ASI mulai stabil, sistem kontrol autokrin dimulai. Fase ini dinamakan Laktogenesis III. Pada tahap ini, apabila ASI banyak dikeluarkan, payudara akan memproduksi ASI dengan banyak pula. Penelitian berkesimpulan bahwa apabila payudara dikosongkan secara menyeluruh juga akan meningkatkan taraf produksi ASI. Dengan demikian, produksi ASI sangat dipengaruhi seberapa sering dan seberapa baik bayi menghisap, dan juga seberapa sering payudara dikosongkan. Terdapat dua refleks pada ibu yang sangat penting dalam proses laktasi yaitu : a. Refleks prolaktin Dalam puting susu terdapat banyak ujung saraf sensoris. Bila ini dirangsang, maka timbal impuls yang menuju hipotalamus selanjutnya ke kelenjar hipofisis anterior sehingga kelenjar ini mengeluarkan hormon prolaktin, hormon inilah yang berperan pada produksi ASI. Prolaktin dibentuk lebih banyak pada malam hari. b. Refleks Aliran (let down reflex) Rangsangan puting susu tidak hanya diteruskan sampai ke kelenjar hipofisis anterior, tetapi juga ke kelenjar hipofisis posterior, yang mengeluarkan hormon oksitosin. Hormon ini berfungsi memacu kontraksi otot polos yang ada di dinding alveolus dan dinding saluran, sehingga ASI dipompa keluar. Oksitosin juga memacu kontraksi otot rahim sehingga involusi makin cepat dan baik. Tidak jarang perut ibu terasa mulas pada

12

hari-hari pertama meyusui dan ini adalah mekanisme alamiah untuk kembalinya rahim ke bentuk semula (Guyton, 2003).

2.2.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi Produksi ASI Makanan Ibu Makanan yang dikonsumsi ibu dalam masa menyusui tidak secara langsung mempengaruhi mutu ataupun jumlah air susu yang dihasilkan. Namun jika makanan ibu terus-menerus tidak mengandung cukup zat gizi yang diperlukan tentu pada akhirnya kelenjar-kelenjar pembuat air susu dalam payudara ibu tidak akan dapat bekerja dengan sempurna, dan akhirnya akan berpengaruh terhadap produksi ASI. Ketentraman Jiwa dan Pikiran Ibu yang selalu dalam keadaan gelisah, kurang percaya diri dan rasa tertekan dan berbagai bentuk ketegangan emosional, mungkin akan gagal dalam menyusui bayinya. Penggunaa Alat Kontrasepsi yang mengandung estrogen dan progesteron Bagi ibu yang dalam menyusui tidak dianjurkan menggunakan kontrasepsi pil yang mengandung hormon estrogen, karena hal ini dapat mengurangi 13

jumlah produksi ASI bahkan dapat menghentikan produksi ASI secara keseluruhan oleh karena itu alat kontrasepsi yang paling tepat digunakan adalah alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) yaitu IUD atau spiral. Karena AKDR dapat merangsang uterus ibu sehingga secara tidak langsung dapat meningkatkan hormon oksitosin yang dapat merangsang produksi ASI. Kurang sering menyusui atau memerah payudara Apabila bayi tidak bisa menghisap ASI secara efektif, antara lain akibat: o Struktur mulut dan rahang yang kurang baik o Teknik perlekatan yang salah Kelainan endokrin ibu (jarang terjadi) Jaringan payudara hipoplastik

2.3 ASI Eksklusif Yaitu memberikan ASI saja selama bayi berumur 0-6 bulan. ASI tanpa bahan makanan lain dapat mencukupi kebutuhan pertumbuhan sampai usia sekitar enam bulan, setelah itu ASI hanya berfungsi sebagai sumber protein, vitamin dan mineral utama untuk bayi yang mendapat makanan tambahan yang tertumpu pada beras. Pengenalan makanan tambahan dimulai pada usia enam bulan dan bukan empat bulan, karena pertama dari hasil penelitian jumlah komposisi ASI masih cukup untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi apabila ASI diberikan secara tepat dan benar sampai bayi berumur enam bulan. Dari segi kebutuhan cairan dan energi, bayi usia 6 bulan dengan berat badan ideal 7,5 kg membutuhkan intake cairan sebesar 750 ml/hari, dengan kebutuhan kalori 750kkal/hari, serta protein 18,75 gr/hari. Ibu dengan bayi usia 6 bulan ASI yang diproduksi 300-850 ml/hari dengan kandungan kalori sebesar 70kkal dan protein sebesar 1,3gram tiap 100ml ASI. Karena itu selama kurun waktu 6 bulan ASI mampu memenuhi kebutuhan gizi bayi. Setelah 6 bulan volume pengeluaran ASI menjadi menurun dan sejak saat itu kebutuhan gizi tidak lagi dapat dipenuhi oleh ASI saja dan harus mendapat makanan tambahan.

14

Pada saat bayi berumur enam bulan sistem pencernaannya mulai matur. Setelah berumur enam bulan usus bayi mampu menolak faktor alergi ataupun kuman yang masuk. Hal ini dikarenakan pori-pori jaringan usus bayi yang pada awalnya berongga seperti saringan pasir yang memungkinkan bentuk protein ataupun kuman akan langsung masuk dalam sistem peredaran darah dan dapat menimbulkan alergi, akan tertutup rapat setelah bayi berumur enam bulan (Manajemen laktasi, 2004).

Tabel 3 Kebutuhan cairan, kalori dan protein bayi menurut U/BB

Kebutuhan per hari Umur 1 bulan 3 bulan 4 bulan 5 bulan 6 bulan 7 bulan 8 bulan 9 bulan 10 bulan 11 bulan 12 bulan 2 tahun Cairan (ml) 500 600 650 700 750 800 850 900 950 1000 1050 1600 Kalori (kkal) 350 600 650 700 750 800 850 900 950 1000 1050 1600 Protein (gr) 8,75 15 16,25 17,5 18,75 20 21,25 22,5 23,75 25 26,25 32

2.4 Kerangka konsep

15

BAB 3. METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di posyandu Puskesmass Tanggul pada Bulan Agustus 2013 minggu ketiga.

3.3 Desain Penelitian Jenis peneilitian ini adalah kuasi eksperiment dengan pendekatan one group pretest-postest untuk mengetahui perubahan tingkat pengetahuan dan sikap ibu tentang ASI Eksklusif sebelum dan sesudah penyuluhan di posyandu Puskesmas Tanggul, pada rancangan ini tidak ada kelompok pembanding (control).

3.4 Sampel Penelitian Sampel pada penelitian ini adalah ibu yang memiliki bayi di posyandu Puskesmas Tanggul bulan Agustus 2013 yang diambil secara acak.

3.5 Metode Pengumpulan Data 3.5.1. Data Primer Data primer yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi : pengetahuan dan sikap, ibu hamil tentang ASI eksklusif yang di peroleh melalui wawancara langsung dengan responden dengan menggunakan keusioner yang diberikan kepada responden sebelum dan sesudah penyuluhan. 3.5.2 Data sekunder Data sekunder diperoleh dari Puskesmas Tanggul, yaitu data mengenai demografi penduduk, serta gambaran umum mengenai Kecamatan Tanggul dan jumlah ibu menyusui dan ASI Eksklusif.

16

3.6. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian yang di gunakan adalah kuesioner, dan leaflet.

3.7. Definisi Operesional 1. Penyuluhan ASI eksklusif adalah suatu usaha penyebarluasan informasi tentang ASI eksklusif kepada ibu hamil dengan menggunakan metode ceramah, dan leaflet. 2. Pengetahuan ibu adalah adalah segala sesuatu yang diketahui ibu tentang pemberian ASI eksklusif sebelum dan sesudah penyuluhan menyangkut semua yang diketahui ibu tentang ASI eksklusif. 3. Sikap ibu adalah respon atau tanggapan ibu terhadap ASI Eksklusif sebelum dan sesudah penyuluhan.

3.8 Aspek Pengukuran 1. Pengetahuan Kuesioner pengetahuan ibu terdiri atas 15 pertanyaan. Pemberian skor dilakukan berdasarkan ketentuan, jawaban benar diberi skor 1, dan jawaban salah diberi skor 0. Sehingga skor total yang tertinggi adalah 15. Skor yang diperoleh masing-masing responden dijumlahkan, dibandingkan dengan skor maksimal kemudian dikalikan 100. Dengan memakai skala pengukuran menurut Hadi Pratomo dan Sudarti (1986), yaitu: 1. Baik, bila jawaban responden benar >75% dari total nilai angket pengetahuan. 2. Sedang, bila jawaban responden benar 40%-75% dari total nilai angket pengetahuan. 3. Kurang, bila jawaban responden benar <40% dari total nilai angket pengetahuan. Maka penilaian terhadap pengetahuan responden, yaitu: 1. Skor 12-15 = baik. 2. Skor 7-11 = sedang. 3. Skor <7 = kurang.

17

2. Sikap Sikap ibu diukur dengan memberikan 10 buah pertanyaan menggunakan kuesioner, dengan ketentuan : - jawaban sangat setuju diberi nilai 3 - jawaban setuju diberi nilai 2 - jawaban tidak setuju diberi nilai 1 Berdasarkan jumlah nilai yang telah diperoleh responden maka ukuran tingkat sikap ibu hamil menurut Pratomo (1990): a. Kategori baik, apabila nilai yang diperoleh responden lebih besar dari 75% b. Kategori sedang, apabila nilai yang diperoleh responden 40%-75% c. Kategori kurang, apabila nilai yang diperoleh responden kurang dari 40% Maka penilaian terhadap sikap responden, yaitu: 1. Skor 24-30 = baik. 2. Skor 13-23 = sedang. 3. Skor <13 = kurang

18

BAB 4. HASIL

4.1 Profil Komunitas Umum (Puskesmas Tanggul) Kecamatan Tanggul merupakan salah satu kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Jember. Tanggul terdiri dari 5 desa yaitu: Tanggil Kulon, Tanggul wetan, Patemon, Kramat Sukohardjo Klatakan ,dan Manggisan. Berikut luas wilayah masing-masing desa dengan rincian jumlah RT/RW, jumlah rumah dan KK :
Nama Desa Luas wilayah km-2 115.63 88.99 111.07 152.63 117.79 178.7 Juml RT/RW 61/20 81/28 63/6 42/6 62/31 30991 Juml. rumah 1882 2687 1695 1547 2023 1834 Juml. KK 3460 5037 2728 1727 3165 1117

Tanggul Kulon Tanggul Wetan Patemon Kramat Suko Manggisan klatakan

4.2 Data Geografis

Probolinggo Puskesmas Klatakan Kec. Semboro Puskesmas Tanggul terletak di Kecamatan Tanggul, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut : Sebelah Selatan : daerah dataran rendah berbatasan dengan wilayah Puskesmas Semboro Kecamatan Semboro. Kec. Sumberbaru

19

Sebelah Utara Sebelah Barat

: daerah pegunungan atau dataran tinggi berbatasan dengan dengan wilayah Kabupaten Probolinggo : daerah dataran rendah berbatasan dengan wilayah Puskesmas Semboro yaitu desa Pondokdalem, ke barat menuju Surabaya.

Sebelah Timur

: daearah dataran rendah berbatasan dengan wilayah Puskesmas Klatakan Kecamatan Tanggul, ke timur menuju Kabupaten Jember.

Nama Desa

Tanggul Kulon Tanggul Wetan Patemon Kramat Suko Manggisan

Luas wilayah km-2 115.63 88.99 111.07 152.63 117.79 578.7

Jarak kePusk 2 4 5 8 7

Waktu tempuh /menit 10 15 20 45 30

Juml RT/RW 61/20 81/28 63/6 42/6 62/31 309/91

Juml. rumah 1882 2687 1695 1547 2023 9834

Juml. KK 3460 5037 2728 1727 3165 16117

4.3 Data Demografis Jumlah Penduduk Kecamatan Tanggul Tahun 2009 dari data proyeksi penduduk Kabupaten Jember oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Jember sejumlah 56.264 jiwa. Data Kependudukan 2013
Nama Desa Pria 6229 7963 5115 3132 5429 27868 Jumlah Penduduk Wanita 6468 8289 5310 3252 5637 28956 Total 12697 16252 10425 6384 11066 56824 Pria 659 845 541 331 347 2723 Jumlah Penduduk Usila Wanita 778 996 639 391 359 3163 Total 1437 1841 1180 722 706 5886

Tgl.Kulon Tgl.Wetan Patemon Kramat SH Manggisan Jumlah

Data Sarana Pendidikan


Nama Desa Tgl.Kulon Tgl.Wetan Patemon Kramat SH Manggisan Jumlah Jml.TK 5 3 2 1 11 Jml.SD/MI 4/3 7/2 4/1 5/4 23/14 Jml.SLTP/Mts 2/3/1 -/-/-/1 5/2 Jml.SLTA/MA 3/1/-/-/1/5/Ponpes 1 2 2 1 3 9

Data Penduduk sasaran KB/Kesehatan 2013


Nama Desa Jml.Bayi Jml.Anak Jml.WUS Jml.Bumil Juml.Bulin

20

Tgl.Kulon Tgl.Wetan Patemon Kramat SH Manggisan Jumlah

204 261 167 102 178 912

1-4 th 847 1085 695 426 738 3791

3449 4420 2832 1734 3006 15441

235 302 193 118 205 1053

225 288 185 113 196 1007

4.4 Sumber Daya Kesehatan yang Ada Data Ketenagaan


No I Jenis Tenaga Puskesmas Induk Dokter Dokter gigi Bidan Perawat Kesehatan Perawat Gigi Sanitarian Analis Kesehatan AA RO Ahli Gizi Juru Rawat Tenaga Umum Tenaga Teknisi Alkes Pekarya Halaman Sopir Jurumasak II Puskesmas Pembantu Perawat Kesehatan Bidan III Polindes Bidan di desa IV Poskesdes Bidan 1 1 1 1 4 1 2 PNS 2 1 8 9 1 1 1 1 1 3 5 1 1 1 PTT 3 Magang 2 11 1 15 -

4.5 Sarana Pelayanan Kesehatan yang Ada


Nama Desa Tgl.Kulon Tgl.Wetan Patemon Kramat SH Manggisan Jumlah Jml.Pustu 1 1 1 3 Jml.Dansa 1 1 1 3 Jml.Polindes 1 1 1 Jml.Posyandu 15 17 14 9 11 66 Pos lain -

1. 2.

Unit Layanan di Puskesmas Tanggul Unit Layanan BP Umum Unit Layanan Gigi

21

3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.

Unit Layanan Refraksi Unit Layanan TB Dots Unit Layanan 24 Jam / UGD Unit Layanan KIA / KB / Imunisasi Unit Layanan Laboratorium Unit Layanan Rawat Inap Unit Layanan VK Bersalin Unit Layanan Kamar Obat Unit Layanan Loket

4.6 Data Kesehatan Masyarakat (Primer)


Grafik 1. Pencapaian ASI Eksklusif di wilayah Puskesmas Tanggul Hingga Pertengahan Tahun 2013
100.00% 90.00% 80.00% 70.00% 60.00% 50.00% 40.00% 30.00% 20.00% 10.00% 0.00% Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Cakupan ASI Eksklusif 45.64% 46.50% 44.72% 43.30% 66.31% 62.44% 69.44%

4.7 Karateristik Responden 4.7.1 Umur Responden


Tabel 4. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur No. 1 2 3 Umur (tahun) 18-24 25-31 >31 Total Jumlah 10 12 8 30 Persentase (%) 33,33 40,00 26,67 100

22

Berdasarkan tabel 4 menunjukkan

bahwa umur responden terbanyak

adalah 25-31 dengan jumlah 12 orang (40,00%) dan yang paling sedikit berumur >31 yaitu 8 orang (26,67%) 4.7.2 Pendidikan
Tabel 5. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pendidikan No. 1 2 3 Pendidikan SD SMP SMA Total Jumlah 20 5 5 30 Persentase (%) 66,67 16,67 16,67 100

Tabel 5 menjelaskan bahwa umumnya responden berpendidikan terakhir SD yaitu sebanyak 20 orang (66,67%) dan sedangkan responden yang berpendidikan terakhir SMP dan SMA berjumlah sama yaitu sebanyak 5 orang (16,67%). 4.7.3 Pekerjaan Responden hampir secara keseluruhan tidak bekerja atau sebagai ibu rumah tangga yaitu 24 orang (80%). 3 orang (10%) responden sebagai buruh tani dan 3 orang lain sebagai wiraswasta (10%).

4.8 Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang ASI Eksklusif Sebelum (pre- test) dan Sesudah (Post-test) diberikan penyuluhan Grafik 2. menjelaskan adanya perubahan tingkat pengetahuan antara sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan pada responden. Perbedaan tingkat pengetahuan ini disebabkan karena penyuluhan yang diberikan kepada responden sehingga bisa membantu responden meningkatkan pengetahuannya tentang ASI eksklusif.

23

Grafik 2 Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang ASI Eksklusif

30 25 20 15 10 5 0 Pre-Test Post-Test Baik Sedang Kurang

Berdasarkan hasil pre-test didapatkan hasil bahwa tingkat pengetahuan responden sebelum diberikan penyuluhan adalah sebanyak 19 orang (63,3 %) berada pada kategori baik, 7 orang (23,3%) pada kategori sedang dan sebanyak 4 orang (13,3%) berkategori kurang. Dapat dikatakan bahwa umumnya tingkat pengetahuan responden tentang ASI eksklusif cukup baik. Sementara itu setelah dilakukukan pos-test didapatkan hasil bahwa tingkat pengetahuan responden

setelah diberikan penyuluhan adalah baik sebanyak 26 orang (86,7%), sedang sebanyak 4 orang (13,3%) dan tidak ada yang kurang.. Bisa dikatakan bahwa tingkat pengetahuan responden mengalami peningkatan menjadi lebih baik

setelah di berikan penyuluhan.

4.9 Gambaran Sikap Ibu Tentang ASI Eksklusif Sebelum (pre-test) dan Sesudah (Post-test) diberikan penyuluhan Pada grafik 3 dapat dilihat bahwa sikap responden terbanyak sebelum diberikan penyuluhan adalah sebanyak 17 orang (56,7%) berada pada kategori sedang, 11 orang (36,7%) berada pada kategori baik dan sebanyak 2 orang (6,7%) dengan kategori kurang. Dapat dikatakan bahwa sikap responden tentang ASI eksklusif sebelum diberikan penyuluhan sejalan dengan pengetahuannya terhadap hal yang sama. Kemudian setelah diberikan penyuluhan adalah sebanyak 24 orang (80,0%) berkategori baik, sebanyak 6 orang (20,0%) berada pada kategori sedang. Artinya ada pengaruh penyuluhan terhadap sikap responden setelah di lakukan penyuluhan yang ditandai dengan meningkatkannya responden yang memiliki sikap baik berdasarkan hasil post-test.

24

Grafik 3 Gambaran Sikap Ibu Tentang ASI Eksklusif


30 20 10 0 Pre-Test Post-Test Baik Sedang Kurang

4.10 Hasil Tabulasi Silang Pengetahuan Karakteristik Responden pada saat pre-test

Responden Berdasarkan

Berdasarkan hasil tabulasi silang antara tingkat pengetahuan dengan karakteristik responden menunjukkan bahwa semua kelompok umur berkategori pengetahuan baik lebih banyak dibanding kategori lain. Kelompok umur 18-24 lebih banyak mempunyai kategori pengetahuan baik dibandingkan kelompok umur lain yaitu 70%. Untuk kategori pengetahuan kurang lebih banyak pada kelompok umur >31 yaitu 25%. Untuk pendidikan responden, responden dengan pendidikan SMA secara keseluruhan memiliki kategori pengetahuan baik yaitu 100%. Sedangkan untuk kategori pengetahuan sedang dan kurang paling banyak terdapat pada kelompok responden dengan pendidikan SD.

Tabel 6. Distribusi Pengetahuan Responden Berdasarkan Karakteristik Responden dalam pemberian ASI eksklusif pada saat pretest No. Kelompok Umur N 1 2 3 18-24 25-31 >31 7 8 4 Baik % 70,00 66,67 50,00 Total Kategori Pengetahuan Sedang n 2 3 2 % 20,00 25,00 25,00 Kurang n 1 1 2 % 10,00 8,33 25,00 n 10 12 8 30 % 100 100 100 100 Jumlah

25

Pendidikan 1 2 3 SD SMP SMA

N 10 4 5

% 50,00 80,00 100,00 Total

n 6 1 -

% 30,00 20,00 -

n 4 -

% 20,00 -

n 20 5 5 30

% 100 100 100 100

4.11 Hasil Tabulasi Silang Sikap Responden Berdasarkan Karakteristik Responden pada saat pre-test Berdasarkan hasil tabulasi silang antara tingkat sikap dengan karakteristik responden menunjukkan kelompok umur 18-24 dan 25-31 lebih banyak berada pada kategori sikap sedang. Responden yang menunjukkan sikap baik lebih pada kategori umur >31. Sedangkan berdasarkan pendidikan responden, responden dengan pendidikan SD dan SMP lebih banyak mempunyai sikap sedang. Responden dengan pendidikan SMA lebih banyak bersikap baik terhadap program ASI Eksklusif.

Tabel 7 Distribusi Sikap Responden Berdasarkan Karakteristik Responden pada saat pretest No. Kelompok Umur N 1 2 3 18-24 25-31 >31 3 3 5 Baik % 30,00 25,00 62,50 Total Pendidikan 1 2 3 SD SMP SMA N 8 3 % 40,00 60,00 Total n 10 5 2 % 50,00 100,00 40,00 n 2 % 10,00 n 7 9 1 Kategori Sikap Sedang % 70,00 75,00 12,50 Kurang n 2 % 25,00 n 10 12 8 30 n 20 5 5 30 % 100 100 100 100 % 100 100 100 100 Jumlah

26

BAB V PEMBAHASAN DAN DISKUSI

5.1. Pengetahuan Ibu tentang ASI Eksklusif Sebelum Diberikan Penyuluhan Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pemberian ASI eksklusif pada ibu hamil adalah pengetahuan gizi. Seseorang yang mempunyai pengetahuan gizi yang baik, diharapkan akam memilliki perilaku pemberian ASI eksklusif yang baik. Salah satu strategi untuk memperoleh perubahan perilaku menurut WHO yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003) adalah dengan pemberian informasi untuk meningkatkan pengetahuan adalah dengan pemberian informasi sehingga menimbulkan kesadaran dan dapat dilakukan adalah dengan penyuluhan. Karakteristik ibu yang mencakup umur, pendidikan, pekerjaan bisa

mempengaruhi proses perubahan perilaku. Umur responden rata-rata masih dalam kategori usia produktif memungkinkan mereka masih mampu untuk menangkap informasi yang diberikan dan bisa mengingatnya kembali. Begitu juga dengan karakteristik pekerjaan. Responden yang mayoritas sebagai ibu rumah tangga 100% sangat mendukung dalam menyediakan waktu untuk mendengarkan

penyuluhan, membaca leaflet, dan mencoba melakukan tindakan penyuluhan yang dianjurkan. Berdasarkan hasil tabulasi silang antara tingkat pengetahuan dengan karakteristik responden menunjukkan bahwa semua kelompok umur berkategori pengetahuan baik lebih banyak dibanding kategori lain. Kelompok umur 18-24 lebih banyak mempunyai kategori pengetahuan baik dibandingkan kelompok umur lain yaitu 70%. Untuk kategori pengetahuan kurang lebih banyak pada kelompok umur >31 yaitu 25%. Untuk pendidikan responden, responden dengan pendidikan SMA secara keseluruhan memiliki kategori pengetahuan baik yaitu 100%. Sedangkan untuk kategori pengetahuan sedang dan kurang paling banyak terdapat pada kelompok responden dengan pendidikan SD. Hal ini sesuai dengan pendapat yang menyatakan bahwa pendidikan formal seseorang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan gizi nya. Semakin

27

tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin tinggi pula kemampuan seseorang untuk menyerap pengetahuan praktis baik dalam pendidikan formal dan non formal (Berg, 1987). Dari hasil penelitian diperoleh bahwa pengetahuan ibu hamil sebelum diberikan penyuluhan ASI eksklusif mayoritas baik (63,3%) dan dengan pengetahuan sedang adalah 23,3%. Jika dilihat dari tingginya persentase ibu hamil yang mempunyai tingkat pengetahuan tentang ASI eksklusif cukup baik, hal ini mungkin disebabkan karena aktifnya responden dalam mengikuti posyandu dan aktifnya kader dan tenaga kesehatan dalam promosi kesehatan. Berdasarkan grafik 1 menjelaskan bahwa seluruh responden mengalami peningkatan pengetahuan baik setelah diberikan penyuluhan. Peningkatan tersebut terutama dalam hal manfaat utama ASI eksklusif bagi bayi, sebelum diberikan penyuluhan tidak ada responden yang menjawab pertanyaan secara benar, serta dalam hal pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan. Pada umumnya ibu masih beranggapan pemberian ASI eksklusif cukup sampai usia 3 bulan. Berbagai keunggulan mengenai manfaat pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, mulai dari pertumbuhan fisik yang sempurna, perkembangan kecerdasan yang pesat, hingga kematangan emosional seorang anak, terpacu berkat ASI eksklusif selama enam bulan.

5.2 Pengetahuan Ibu tentang ASI Eksklusif Sesudah diberikan Penyuluhan Berbagai keunggulan mengenai manfaat pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, mulai dari pertumbuhan fisik yang sempurna, perkembangan kecerdasan yang pesat, hingga kematangan emosional seorang anak, terpacu berkat ASI eksklusif selama enam bulan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh penyuluhan ASI pos-test

eksklusif terhadap pengetahuan ibu hamil. Setelah dilakukukan

didapatkan hasil bahwa tingkat pengetahuan responden setelah diberikan penyuluhan adalah baik sebanyak 26 orang (86,7%), sedang sebanyak 4 orang (13,3%) dan tidak ada yang kurang.

28

Peningkatan yang sangat signifikan terdapat pada pengetahuan tentang manfaat utama ASI eksklusif bagi bayi. Setelah diberikan penyuluhan

pengetahuan ibu hamil terhadap indikator ASI eksklusif sudah baik dibandingkan sebelum diberikan penyuluhan. Disamping itu identitas ibu yang mencakup umur dapat mempengaruhi peroses perubahan perilaku. Umur ibu yang rata-rata masih dalam usia produktif memungkinkan mereka masih mampu untuk menerima informasi yang diberikan dan bisa mengingatnya kembali. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Astuti dkk (2002), bahwa metode pendidikan kesehatan dengan penyuluhan (ceramah) dapat meningkatkan pengetahuan setelah dilakukan post-test dibandingkan dengan pengetahuan pretest. Dalam penelitian Bart (1994), mengatakan bahwa perilaku yang dilakukan atas dasar pengetahuan akan lebih bertahan lama dari pada perlaku yang tidak didasari dengan pengetahuan. Jadi pengetahuan yang memadai sangat dibutuhkan ibu hamil terutama dalam hal pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan.

5.3. Sikap Ibu tentang ASI Eksklusif Sebelum Diberikan Penyuluhan Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau objek. Manifestasi sikap tidak dapat terlihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku tertutup. Sikap belum merupakan tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Pendidikan kesehatan adalah peroses belajar. Pendidikan kesehatan membantu agar orang mengambil sikap yang bijaksana terhadap kesehatan dan kualitas hidup. Penyuluhan merupakan suatu metode dalam pendidikan kesehatan yang dapat merubah sikap seseorang menjadi lebih baik. Hal ini terbukti dari sikap respoden setelah diberikan penyuluhan memberikan perubahan yang berarti dari sikap negatif menjadi lebih positif bahkan sangat positf. Berdasarkan hasil tabulasi silang antara tingkat sikap dengan karakteristik responden menunjukkan kelompok umur 18-24 dan 25-31 lebih banyak berada pada kategori sikap sedang. Responden yang menunjukkan sikap baik lebih pada kategori umur >31. Sedangkan berdasarkan pendidikan responden, responden

29

dengan pendidikan SD dan SMP lebih banyak mempunyai sikap sedang. Responden dengan pendidikan SMA lebih banyak bersikap baik terhadap program ASI Eksklusif. Sikap yang kurang pada ibu hamil sebelum (pre-test) diberikan

penyuluhan antara lain: sikap ibu terhadap pemberian ASI eksklusif sampai usia 6 bulan, bayi yang diberikan ASI eksklusif jarang sakit jika dibandingkan dengan bayi yang diberi susu formula, waktu pemberian makanan tambahan pada saat bayi berusia diatas 6 bulan.

5.4.

Sikap Ibu tentang ASI Eksklusif Sesudah Diberikan Penyuluhan Pada grafik 2 dapat dilihat bahwa sikap responden terbanyak sebelum

diberikan penyuluhan adalah sebanyak 17 orang (56,7%) berada pada kategori sedang, 11 orang (36,7%) berada pada kategori baik dan sebanyak 2 orang (6,7%) dengan kategori kurang. Kemudian setelah diberikan penyuluhan adalah

sebanyak 24 orang (80,0%) berkategori baik, sebanyak 6 orang (20,0%) berada pada kategori sedang. Artinya ada pengaruh penyuluhan terhadap sikap responden setelah di lakukan penyuluhan yang ditandai dengan meningkatkannya responden yang memiliki sikap baik berdasarkan hasil post-test, serta ada kemungkinan juga sikap yang sudah ada terbentuk karena faktor sosial budaya di lingkungan tempat tinggal. Dengan adanya intervensi berupa penyuluhan ternyata dapat

mempengaruhi peningkatan sikap seseorang terhadap suatu hal. Sikap ibu hamil tentang ASI eksklusif dipengaruhi oleh pengetahuan ibu terhadap hal yang sama, serta ada kemungkinan juga sikap yang sudah ada terbentuk karena faktor sosial budaya di lingkungan tempat tinggal. Menurut Purwanto (1993) sikap bukan dibawa sejak lahir melainkan dibentuk dan dipelajari sepanjang perkembangan orang tersebut dalam hubungan dengan objeknya. Dalam hal ini pengetahuan yang diberikan melalui penyuluhan kepada ibu hamil membantu pembentukan sikap ibu hamil terhadap yang sama.

30

BAB.6 KESIMPULAN DAN SARAN

6.1.Kesimpulan Berdasarkan uraian hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa: 1. Ada pengaruh penyuluhan terhadap tingkat pengatahuan ibu dalam pemberian ASI eksklusif di Kecamatan Tanggul. 2. Ada pengaruh penyuluhan terhadap tingkat sikap ibu hamil dalam pemberian ASI eksklusif di Kecamatan Tanggul

6.2. Saran 1. Upaya meningkatkan pengetahuan, sikap ibu hamil tentang ASI eksklusif dapat lakukan dengan salah satu metode penyuluhan yaitu metode ceramah dan pembagian leaflet. 2. Diharapkan bagi petugas promosi kesehatan di Puskesmas agar memberikan penyuluhan tentang ASI eksklusif serta penyuluhan gizi lainnya kepada masyarakat terutama dengan metode ceramah guna membantu meningkatkan pengetahuan masyarakat serta membantu mewujudkan pencapaian pemberian ASI eksklusif.

31

DAFTAR PUSTAKA
Arafah, Nur. 2010 Gambaran Perilaku Ibu Menyusui Tentang Pemberian Asi Eksklusif Di Kecamatan Sibolga Selatan Kota Sibolga Tahun 2008. Medan: FK USU

Arifin, Siregar.2004. Pemberian ASI Eksklusif dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Bagian Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas

Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Medan: FK USU

BPNI. 2007. Production of breastmilk, establishing breastfeeding skills and the composition of breastmilk. http://www.bpni.com

Dadhich, J.P., Dr. 2007. Successful Infant and Young Child Feeding. http://www.bpni.org/Presentation/Successful_Exclusive_Breastfeeding.pdf

Dinkes Jatim. 2013. Daftar Isi Jatim Dalam Angka Terkini Tahun 2012 - 2013 Triwulan.

Emilia, Rika. 2009. Pengaruh Penyuluhan Asi Eksklusif Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Ibu Hamil Di Mukim Laure-E Kecamatan Simeulue Tengah Kabupaten Simeulue (Nad) Tahun 2008 . Medan: FKM USU

Linkages. 2002. Pemberian ASI eksklusif: Satu-satunya sumber cairan yang dibutuhkan bayi usia dini. Academy for educational.

http://www.linkagesproject.org Nelson E Waldo.2007.Text Book of Paediatric 18th edition. Philadelphia: Saunders

32

Notoadmodjo, Soekidjo. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta. Rineka Cipta.

Pudjiadji, Solihin. 2005. Ilmu Gizi Klinik pada Anak Edisi keempat. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Kedokteran.

Purwanti, 2004. Konsep Penerapan ASI ekslusif, Buku Kedokteran. Jakarta : EGC

Puskesmas Tanggul. 2013. Profil Puskesmas Tanggul. Jember

Puskesmas Tanggul. 2013 LB3 Gizi Tanggul 2013. Jember

Safitri Dian.2007. Dasar-Dasar Pemberian Susu Formula Pada Bayi, http://www.babycenter.com/refcap/baby/babyfeeding/9195.html

USAID Linkages Project, 2004. Exclusive Breastfeeding: The Only Water Source Young Infants Need - Frequently Asked Questions, Washington DC. U.S. Department of Health and Human Services on Womens Health. 2007. An Easy Guide to Breastfeeding. http://www.womenshealth.gov/pub/BF.General.pdf

WHO. 2001. The Optimal Duration of Exclusive Breastfeeding. Geneva: Department of Nutrition for Health and Development (NHD)

33