Anda di halaman 1dari 48

PENGARUH PENGGUNAAN STRATEGI BELAJAR AKTIF TIPE LEARNING TOURNAMENT TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA DI KELAS VIII SMPN

1 KOTO RAJO Proposal Diajukan Untuk Memenuhi salah satu Persyaratan mata kuliah Metodologi Penelitian

OLEH : LIMI 2411. 057

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA JURUSAN TARBIYAH SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) SJECH M. DJAMIL DJAMBEK BUKITTINGGI 1434 H / 2013 M

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu usaha bagi manusia yang dapat membimbing agar manusia bisa mengembangkan kemampuan yang dimilikinya sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku, pendidikan juga merupakan kebutuhan mutlak yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan dimanapun dan sampai kapanpun dia berada.Tanpa pendidikan mustahil suatu kelompok manusia dapat hidup berkembang sejalan dengan aspirasi (cita-cita) untuk maju, sejahtera dan bahagia menurut konsep pandangan hidup mereka. 1 Salah satu cabang ilmu pengetahuan yang mempunyai peranan penting adalah matematika, karena matematika adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang telah mendasari lahirnya ilmu-ilmu baru pada dewasa ini. Seperti halnya ilmu pengetahuan lain seperti: kedokteran, fisika, kimia, biologi, teknik, ekonomi, dan lain-lainnya.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Erman dkk, bahwa matematika sering disebut ratu sekaligus pelayan ilmu pengetahuan. Matematika merupakan sumber bagi perkembangan ilmu yang lainnya. Melalui matematika pemecahan hal-Pentingnya matematika terlihat dari seringnya ilmu tersebut digunakan sebagai solusi dalam memecahkan masalah sehari-hari. Sebelum matematika dijadikan sebagai suatu disiplin ilmu , Alquran telah terlebih dahulu menggambarkan bahwa sangat dibutuhkannya matematika dalam kehidupan seperti : dalam mengkaji ilmu falaq (perbintangan) sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Yunus ayat 5 sebagai berikut :

Fuad ihsan, Dasar-dasar kependidikan, (Jakarta : Rineka Cipta,1996), h.2

Artinya: Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak . Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui .(QS.10 : 5).2 Dari ayat di atas Allah SWT telah menjelaskan bahwa Dia menetapkan tempat-tempat bulan dan matahari itu agar orang-orang beriman tahu jumlah tahun baik permulaan maupun berakhirnya. Maksud dari perhitungan disini adalah perhitungan waktu, hari, jam dan sebagainya. Di sini tercermin betapa pentingnya peranan matematika untuk memecahkan masalah tersebuthal yang rumit dan sistematis mampu terselesaikan dengan rinci dan jelas. Namun ketika kita akan mendefenisikan matematika secara mutlak, itu merupakan hal yang sulit karena matematika dapat dipandang dari berbagai sudut pandang. Hal ini terjadi karena matematika berdasarkan logika. Oleh karena itu perlu bagi kita mengetahui beberapa pengertian tentang matematika. Matematika memiliki banyak defenisi yang telah disampaikan oleh para ahli, sesuai dengan sudut pandang masing-masing para ahli tersebut. Sebagaimana yang disampaikan oleh Jhonson dan Rising bahwa matematika adalah pola berfikir mengorganisasikan pembuktian yang logis yang didefenisikan dengan cermat, jelas dan akurat.Berhubungan dengan pengertian matematika, matematika juga dapat dipandang sebagai ilmu yang berkaitan dengan pola dan keteraturan, seperti yang ditegaskan oleh Jhon A. Van de Walle. Sebagai sesuatu yang sifatnya praktis, matematika merupakan ilmu tentang pola dan urutan. Matematika tidak membahas tentang molekul atau sel, tetapi membahas tentang
2

Departemen Agama RI, Alquran dan Terjemahannya,(Bandung:Diponegoro,2004),hal.166

bilangan, kemungkinan, bentuk, algoritma dan perubahan. Sebagai ilmu yang objeknya abstrak, matematika bergantung pada logika, bukan pada pengamatan sebagai standar kebenarannya, meskipun menggunakan pengamatan, simulasi sebagai alat untuk menentukan kebenaran.3 Dari beberapa defenisi yang telah dikemukakan di atas terlihat bahwa secara keseluruhan matematika merupakan cabang ilmu yang erat kaitannya dengan pola dan aturan tertentu yang telah disepakati yang dianggap sebagai dasar dalam pemikiran yang logis dan sistematis. Sehingga dapat kita pandang bahwa untuk dapat mempelajari matematika dengan baik mestilah benar-benar dapat memaksimalkan logikanya. Sehingga konsep matematika yang abstrak dari pelajaran matematika tersebut dapat dimengerti dengan baik. Dalam perkembangan IPTEK yang terjadi tidak terlepas dari ilmu matematika, oleh karena itu hendaknya pembelajaran matematika dapat menjadi suatu pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar matematikaNamun pada kenyataannya di lapangan hasil belajar siswa masih rendah. Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan pada 13 September 2013 di SMPN 1 Koto Rajo , peneliti memperoleh data rata rata nilai ulangan harian siswa kelas VIII seperti tabel berikut. dan bahkan percobaan

Jhon A. Van de Walle, Matematika Sekolah Dasar dan Menengah, (Jakarta: Erlangga, 2006), h. 12

Tabel 1.1: Nilai Ulangan Harian Matematika Siswa Kelas VIII SMPN 1 Koto Rajo Tahun Pelajaran 2013

Kelas

Jumlah Siswa 39 39 42 42

% Tuntas 71 28, 21 33,33 38,10 26,19

% Tidak Tuntas < 71 71, 79 66,67 61,90 73,81

Rata-Rata

VIII.1 VIII.2 VIII.3 VIII.4

52,67 52,82 50 54,31

Sumber : Guru bidang studi matematika kelas VIII SMPN 1 Koto Rajo Dari tabel 1 terlihat bahwa semua kelas memiliki rata-rata nilai ulangan harian di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan oleh SMPN Koto Rajo untuk bidang studi matematika pada Kompetensi Dasar (KD) ini yaitu 71, 00.hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa tidak tuntas untuk bidang studi matematika. Berdasarkan hasil observasi peneliti pada 13 September 2013 penelitian juga melihat guru masih menggunakan pembelajaran konvensional. Proses pembelajaran cenderung

terpusat pada guru. Guru mengawali pembelajaran dengan menyampaikan materi, diikuti pemberian contoh soal dan siswa disuruh mengerjakan soal latihan yang dicatat di papan tulis. Setelah itu guru bersama sama dengan siswa menjawab soal tersebut. Namun hanya sebagian siswa saja yang terlihat aktif. Sehingga siswa hanya memperhatikan, mendengarkan dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Mereka kurang aktif dan kreatif untuk mempelajari materi baik sebelum maupun pelajaran sesudahnya. Disini terlihat bahwa metode yang digunakan oleh guru belum

mencapai hasil yang maksimal. Meskipun berbagai usaha telah dilakukan dalam peningkatan

mutu pendidikan matematika, namun kenyataannya di lapangan masih banyak siswa yang kurang menyukai bahkan membenci matematika. Sebagaimana hasil wawancara peneliti dengan siswa kelas VIII SMPN 1 Koto Rajo pada 19 September 2013 , bahwa mereka menganggap remeh tugas yang diberikan oleh guru. Di saat tugas tersebut diperiksa hanya beberapa orang saja yang mengerjakannya. Siswa kurang termotivasi untuk bertanya kepada yang lebih paham sehingga membuat mereka kurang mengerti tugas yang diberikan oleh guru dan akhirnya tidak mengerjakan tugas tersebut. Menurut Mc. Donald, siswa yang mempunyai motivasi yang kuat akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar. Hasil belajar itu akan optimal kalau ada motivasi yang kuat. Di sini peneliti dapat menyimpulkan bahwa motivasi berpengaruh terhadap hasil belajar matematika siswa. Siswa yang mempunyai motivasi yang tinggi akan banyak melakukan kegiatan belajar dan hasil belajarnya akan lebih baik. Sebagai salah satu komponen utama dalam proses pembelajaran, guru diharapkan mampu menerapkan strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam belajar guna meningkatkan hasil belajar siswa dan melatih mereka untuk berbagi pengetahuan dengan teman yang lainnya. Salah satu strategi yang dapat diterapkan untuk mengatasi permasalahan di atas adalah dengan menerapkan Strategi Belajar Aktif tipe Learning Tournament (Turnamen Belajar).4 Strategi Belajar Aktif tipe Learning Tournament (Turnamen Belajar) adalah suatu strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan hasil, aktivitas dan motivasi belajar siswa. Dengan adanya turnamen atau pertandingan setiap siswa ingin mendapatkan nilai bagus, baik keinginan individu maupun keinginan kelompok. Oleh sebab itu siswa yang mempunyai kemampuan lemah diharapkan termotivasi untuk belajar, agar dapat memenangkan pertandingan tersebut dan siswa yang mempunyai kemampuan lebih merasa harus berbagi
Melvin Silberman, Active Learning : 101 Strategi Pembelejaran Aktif (Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2007), hal.159
4

pengetahuan dengan siswa yang kurang pandai agar mendapatkan skor yang tinggi dan memenangkan pertandingan tersebut. Berdasarkan uraian di atas, penulis ingin melakukan penelitian dengan judul: Pengaruh Penggunaan Strategi Belajar Aktif Tipe Learning Tournament terhadap Hasil Belajar Matematika Di Kelas VIII SMPN 1 Koto Rajo . B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, maka peneliti mengidentifikasi beberapa permasalahan pokok yaitu: 1. Hasil belajar matematika siswa masih rendah 2. Proses pembelajaran matematika masih terpusat oleh guru. 3. Aktivitas belajar siswa masih rendah. 4. Motivasi siswa untuk belajar matematika masih kurang. C. Batasan Masalah Mengingat keterbatasan kemampuan dan pengetahuan yang peneliti miliki, maka masalah yang dibahas dalam penelitian ini dibatasi pada hasil belajar matematika siswa kelas VIII SMPN 1 Koto Rajo. D. Rumusan Masalah Berdasarkan batasan masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Apakah terdapat pengaruh yang signifikan dalam penggunaan strategi belajar aktif tipe learning tournament terhadap hasil belajar matematika di kelas VIII SMPN 1 Koto Rajo? E. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang peneliti tulis pada batasan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang signifikan dalam

penggunaan strategi belajar aktif tipe learning tournament terhadap hasil belajar matematika di kelas VIII SMPN Koto Rajo. F. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan berguna untuk : 1. Bagi Siswa Sebagai pengalaman baru bagi siswa sehingga mereka menemukan konsep dan pengetahuan matematika. 2. Bagi Guru. Sebagai bahan pertimbangan dan masukan bagi guru matematika di SMPN 1 Koto Rajo dalam melaksanakan proses belajar mengajar guna meningkatkan hasil belajar matematika siswa 3. Bagi Peneliti Tambahan pengetahuan dan pengalaman serta pedoman bagi peneliti, sebagai calon guru dalam upaya menciptakan pembelajaran yang efektif dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

BAB II LANDASAN TEORI A. Pembelajaran Aktif 1.Pengertian Kata pembelajaran berasal dari kata belajar , yang mana belajar adalah kegiatan

salah satu interaksi timbal balik antara siswa dan guru serta sesama siswa pencapain tujuan pembelajaran. Atau dapat di artikan belajar adalah aktivitas psikis seseorang yang membawa perubahan aspek kepribadian orang lain yang telah melakukan proses belajar. Belajar juga dapat di artikan sebagai proses perubahan tingkah laku akibat adanya interaksi individu dengan lingkungan. Belajar selalu melibatkan tiga hal pokok yaitu perubahan tingkah laku, sifat perubahannya relatif tetap (permanen) serta perubahan tersebut disebabkan oleh interaksi dengan lingkungan bukan oleh proses kedewasaan atau perubahan-perubahan juga merupakan upaya

kondisi fisik yang temporer sifatnya.Sedangkan pembelajaran

membelajarkan siswa. Oleh karena itu pembelajaran lebih menekankan pada bagaimana cara tercapainya tujuan. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut hal-hal yang tidak boleh tinggal adalah bagaimana cara mengorganisasikan pembelajaran, bagaimana menyampaikan isi pembelajaran, dan bagaimana menata interaksi antara sumber-sumber belajar yang ada agar dapat berfungsi secara optimal. Atau dapat juga dikatakan bahwa pembelajaran adalah suatu program, ciri suatu program adalah sistematik, sistemik dan terencana. Pembelajaran bersifat interaktif dan komunikatif. Dalam proses pembelajaran guru hendaknya dapat menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan terjadinya kegiatan belajar siswa.5 Pembelajaran aktif dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh siswa, sehingga semua siswa dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Disamping itu
5

Wirna,skripsi,hal 33-34.

pembelajaran aktif juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa agar tetap tertuju pada proses pembelajaran. Pembelajaran aktif merupakan suatu strategi dengan segala bentuk pembelajaran yang memungkinkan siswa berperan secara aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri baik dalam bentuk interaksi sesama siswa maupun siswa dengan guru dalam proses pembelajaran tersebut Mengajar bukan semata persoalan menceritakan dan belajar bukanlah konsekuensi otomatis dari penuangan informasi kedalam otak siswa. Belajar memerlukan keterlibatan mental dan kerja siswa agar proses pembelajaran dapat menjadi efektif. Untuk itu dalam mengajar guru harus menggunakan strategi mengajar yang sesuai dengan materi pembelajaran. Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dihubungkan dengan belajar mengajar, strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru siswa perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan. Sementara itu, Kemp (Wina Sanjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efesien. Selanjutnya, dengan mengutif pemikiran J.R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan, artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Strategi dalam proses pembelajaran memegang peran penting. Guru harus dapat memilih dan mengunakan strategi pembelajaran yang dapat melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajar mengajar. Hal ini sesuai dengan pendapat Zaini yang mengatakan dalam

bahwa: guru harus dapat menyampaikan materi pelajaran dengan strategi yang bervariasi dan melibatkan siswa secara aktif. Tujuannya agar siswa mempunyai jiwa kemandirian dalam belajar dan diusahakan untuk menumbuhkan daya kreatifitas siswa. Strategi pembelajaran ini disebut Strategi Pembelajaran Aktif. 6 Berdasarkan keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran aktif yaitu strategi yang menuntut keaktifan dan partisipasi siswa seoptimal mungkin agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien serta hasil belajar pun dapat dimaksimalkan. Pembelajaran aktif adalah suatu pembelajaran yang mengajak siswa untuk belajar secara aktif dalam proses belajar mengajar. Ketika siswa belajar dengan aktif berarti mereka yang mendominasi aktivitas pembelajaran. Dengan ini mereka secara aktif menggunakan pikiran, baik untuk menentukan ide pokok dari materi pelajaran, memecahkan persoalan dan mengaplikasikan apa yang mereka pelajari ke dalam suatu persoalan dalam kehidupan nyata.. Beberapa penelitian membuktikan bahwa perhatian siswa berkurang bersamaan dengan berlalunya waktu. Pollio Penelitian (1984) menunjukkan bahwa siswa dalam ruang kelas hanya memperhatikan pelajaran sekitar 40% dari waktu pembelajaran yang tersedia. Sementara penelitian McKeachie (1986) menyebutkan bahwa dalam sepuluh menit pertama perthatian siswa dapat mencapai 70%, dan berkurang sampai menjadi 20% pada waktu 20 menit terakhir.Kondisi diatas tersebut adalah yang sering terjadi pada siswa. Belajar yang hanya mengandalkan indera pendengaran mempunyai kelemahan, padahal hasil belajar harus disimpan dalam waktu lama. Sesuai dengan kata bijak yang dikemukaan oleh Konfusius yang telah dimodifikasi dalam Silberman sebagai berikut: 1. Yang saya dengar, saya lupa.

Endang Komara, Strategi Pembelajaran Aktif, http://www.geocities.ws/endang.komara /Strategi Pembelajaran Aktif.htm. (Bandung:2003)

2. Yang saya dengar dan lihat, saya sedikit ingat. 3. Yang saya dengar, lihat dan pertanyaan/diskusikan dengan orang lain saya mulai paham. 4. Dari yang saya dengar, lihat, bahas dan terapkan saya dapatkan pengetahuan dan keterampilan. Yang saya ajarkan kepada orang lain saya kuasai. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa belajar aktif sangat diperlukan karena siswa diajak untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran, tidak hanya mental tetapi juga melibatkan fisik. Dengan cara ini biasanya siswa akan merasakan suasana yang lebih menyenangkan sehingga hasil belajar dapat dimaksimalkan. 2.Prinsip pembelajaran aktif Prinsip pembelajaran aktif adalah suatu proses pembelajaran yang lebih menekankan pada siswanya untuk dapat aktif dalam mengembangkan bakat keterampilan, mengasah pengetahuannya dan menciptakan suasana belajar terdiri bagi dirinya sehingga akan tercipta suasana belajar yang lebih nyaman dan lebih mudah dalam memahami pelajaran yang disampaikan oleh guru. Prinsip pembelajaran aktif menurut Melvin L. Silberman: 1. Memperkenalkan belajar aktif 2. Menjadikan siswa aktif sejak awal

Untuk dapat menciptakan siswa lebih aktif sejak awal maka perlu buat rencana susunan aktivitas pembuka yang menjadikan siswa lebih mengenal satu sama lain merasa lebih leluasa, ikut berpikir dan memperlihatkan minatnya terhadap pelajaran, kita perlu

mamiliki tujuan yang harus dicapai seorang guru diantaranya adalah Pembentukan Tim , Penilaian secara sederha, Melibatkan belajar siswa secara langsung . 3. Membantu siswa mendapatkan pengetahuan, keterampiulan dan sikap secara aktif. 4. Menjadikan belajar tak terlupakan Prinsip Pembelajaran aktif dalam psikologi belajar adalah : 1. 2. 3. 4. Pembelajaran aktif sebagai motivator Pembelajaran aktif sebagai prinsip latar dan konteks Pembelajaran aktif sebagai fokus/ pemusatan perhatian Pembelajaran aktif sebagai prinsip hubungan sosial

5. Pembelajaran aktif sebagai prinsip belajar sambil bekerja 6. 7. Pembelajaran aktif sebagai proses perbedaan Individual Pembelajaran aktif sebagai prinsip menemukan

8. Pembelajaran aktif sebagai prinsip pemecahan masalah Prinsip pembelajaran aktif menurut Kamaluddin Ahmad: 1. 2. 3. Pembelajaran aktif dilihat prosesnya Pembelajaran aktif dari segi sifatnya. Pembelajaran aktif bersifat langsung yaitu memberikan pertanyaan-pertanyaan secara lisan pada saat pembelajaran berlangsung. . 4. Pembelajaran aktif dilihat dari kebebasan dalam memilih kegiatan. 5. Dengan pemberlakuan system belajar aktif

3. Tipe Tipe Pembelajaran Aktif Mel Silberman menyebutkan bahwa tipe tipe pembelajaran aktif ini ada 101, diantaranya : a. The study group ( kelompok belajar) b. Card sort (memilah dan memilih kartu) c. Learning tournament (turnamen belajar) d. The power of two (kekuatan berdua) e. Non threatening role playing ( bermain yang menyenangkan) f. Triple role playing ( bermain peran tiga model) g. Rotating roles ( permainan bergilir) h. Dst.7

Dari beberapa tipe yang dikemukakan Silberman, tipe pembelajaran yang peneliti gunakan dalam penelitian ini yaitu tipe Learning Tournament (Turnament Belajar). Dalam pembelajaran matematika siswa dituntut untuk banyak mengerjakan soal-soal latihan dan dengan adanya turnamen membuat siswa yang paham bisa memberikan pengetahuannya kepada temannya yang kurang paham dan siswa yang kurang paham dituntut untuk mau bertanya dan belajar kepada temannya yang sehingga adanya keinginan individu maupun kelompok untuk memenangkan turnamen. 4.Pembelajaran Aktif Tipe Learning Tournament Tipe Learning Tournament adalah salah satu bagian dari pembelajaran aktif (active learning). Tipe ini merupakan suatu bentuk yang disederhanakan dari Teams Games

Tournamen (TGT) yang dikembangkan oleh Robert Slavin dan kawan kawan. Tipe learning tournament ini juga menggabungkan satu kelompok belajar dan kompetisi tim dan dapat
7

Melvin Silberman, Active Learning : 101 Strategi Pembelajaran Aktif, , hal.v

digunakan untuk mengembangkan pelajaran atas macam macam fakta, konsep dan keahlian yang luas. Turnamen belajar ini dapat terdiri dari beberapa ronde (babak), antara ronde / babak setiap tim diberi kesempatan untuk menjalani sesi belajar secara kelompok (kooperatif). Pelaksanaan turnamen belajar dapat disesuaikan dengan kebutuhan dengan minimal dua ronde babak. Teknik ini dapat dilaksanakan setiap pertemuan/sub pokok bahasan atau setiap pokok bahasan, dengan lama pelaksanaan disesuaikan dengan kondisi yang ada. Sebelum melanjutkan tahap/ronde berikutnya, diharapkan siswa tidak mengalami kesulitan dalam belajar. Silberman mengungkapkan prosedur pembelajaran tipe Learning Tournament sebagai berikut: 1) Membagi siswa dalam beberapa kelompok beranggotakan 2 hingga 8 siswa. 2) Buatlah beberapa pertanyaan untuk mengetes pemahaman siswa terhadap materi itu. Gunakan bentuk tes yang mudah diskor seperti pilihan ganda, mengisi titik titik, benar salah atau istilah untuk didefenisi. 3) Berikan pertanyaan tersebut pada siswa. Bagian ini dianggap ronde pertama dari learning tournament. Setiap siswa harus menjawab pertanyaan secara individu. 4) Setelah pertanyaan diberikan, beritahukan siswa jawaban yang benar dan mintalah mereka menghitung skor masing masingnya. Umumkan skor setiap kelompok 5) Mintalah setiap kelompok untuk mendiskusikan kembali materi. Kemudian berikan pertanyaan pertanyaan tes, bagian ini disebut ronde kedua dari learning tournament. Jumlahkan skor masing masing individu menjadi skor kelompok.

6) Guru dapat membuat beberapa ronde sesuai kebutuhan, tetapi pastikan tiap kelompok mempunyai waktu berdiskusi diantara setiap ronde. 8 Berdasarkan prosedur pembelajaran tipe Learning Tournament yang dikemukakan oleh Silberman di atas, penulis menyimpulkan sebagai berikut: 1) Guru membuka pelajaran, menyampaikan tujuan dan indikator pembelajaran. 2) Guru menyebutkan nama nama siswa atas beberapa tim yang disusun berdasarkan kemampuan akademik 3) Guru menjelaskan materi pelajaran secara garis besar sesuai dengan yang akan dipelajari dan didiskusikan dalam tim. Seterusnya membagi Lembar Kerja Siswa (LKS) yang berisi ringkasan materi yang disertai contoh-contoh soal dan beberapa soal latihan. 4) Guru meminta siswa untuk berdiskusi sekaligus memahami materi dan menyelesaikan soal-soal yang telah diberikan kepada masing-masing tim, sebagai bentuk persiapan siswa dalam menghadapi turnamen 5) Guru mengawasi jalannya diskusi 6) Selanjutnya membahas soal latihan yang telah dijawab dalam tim secara bersama dengan meminta perwakilan anggota tim yang dipilih secara acak untuk menuliskan jawabannya pada papan tulis, soal yang dibahas adalah soal yang dianggap sulit oleh siswa pada umumnya. 7) Selanjutnya memulai turnamen dengan mengawali pemberian soal turnamen yang berbentuk pilihan ganda kepada masing-masing anggota dalam tim dan meminta anggota tim untuk menjawab soal tersebut secara individu dalam tim. Ini dikatakan sebagai turnamen ronde 1.

Melvin Silberman, Active Learning : 101 Strategi Pembelajaran Aktif , ,hal 159

8) Guru bersama-sama dengan siswa mengoreksi jawaban siswa dengan cara koreksi silang dengan tim yang lainnya. Dihitung skor individu dan skor tim. 9) Tim yang keluar sebagai pemenang turnamen adalah tim yang mendapatkan stiker bintang terbanyak. 10) Guru menutup pelajaran dengan mengarahkan siswa pada sebuah kesimpulan mengenai topik yang dibahas dan memberikan pekerjaan rumah (PR). Tipe pembelajaran turnamen belajar memungkinkan siswa saling mendukung, saling membantu dan peduli. Siswa yang kurang pandai mendapat masukan dari siswa yang lebih pandai, sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajarnya dan diharapkan hasil belajarnya dapat meningkat dan mencapai standar ketuntasan belajar. Pada evaluasi yang memberi kesempatan belajar antar ronde/babak dalam tes turnamen belajar dimungkinkan siswa saling mengevaluasi dan memfollow up terhadap kekurangan masing-masing anggota terhadap topik tertentu, sehingga diharapkan pada ronde berikutnya menghasilkan prestasi yang lebih baik. Dengan demikian, tipe pembelajaran turnamen belajar diharapkan dapat meningkatkan

standar ketuntasan belajar yang dicapai siswa. Dalam penelitian ini, peneliti menentukan tim yang menang melalui beberapa langkah sebagai berikut: a. Menghitung skor individu dan skor tim 1). Skor Individu Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam menentukan skor individu adalah : a) Menetapkan skor dasar Setiap siswa diberikan skor berdasarkan rata-rata skor turnamen yang diperoleh sebelumnya. Untuk pertemuan pertama skor dasar diambil dari skor

yang diperoleh dari rata-rata nilai ulangan harian siswa pada kelas VIII tahun pelajaran 2013/2014

b) Menghitung skor turnamen terkini Siswa memperoleh poin untuk turnamen yang berkaitan dengan pembelajaran terkini. c) Menghitung skor perkembangan Siswa mendapatkan skor perkembangan yang besarnya ditentukan apabila skor turnamen terkini mereka menyamai atau melampaui skor dasar mereka, dengan menggunakan skala sebagai berikut: Tabel 2.1 : Penilaian peningkatan skor turnamen9 Skor Turnamen Lebih dari 10 poin di bawah skor awal 10 poin hingga 1 poin dibawah skor awal Skor awal hingga 10 poin di atas skor awal Lebih dari 10 poin diatas skor awal Pekerjaan sempurna Poin Peningkatan 0 poin 10 poin 20 poin 30 poin 30 poin

Besar skor yang disumbangkan tiap siswa kepada timnya ditentukan oleh berapa skor siswa melampaui rata-rata skor turnamen siswa itu sendiri di waktu lampau. Siswa dengan pekerjaan sempurna mendapatkan poin perkembangan maksimum tanpa memperhatikan skor dasar mereka. Sistem
George M. Jacobs, Gan Siowck Lee & je, Sica Ball, Cooperative Learning, (Singapore : Kagan Cooeprative Learning, 1997), hal. 79
9

perkembangan individual ini memberikan setiap siswa suatu kesempatan baik untuk menyumbangkan skor maksimum kepada tim jika (dan hanya jika) siswa itu melakukan yang terbaik. Sehingga menunjukan peningkatan perkembangan substansial atau mencapai pekerjaan sempurna. 2). Skor Tim Skor tim dihitung dengan menambahkan skor peningkatan tiap-tiap individu anggota tim dan membagi dengan jumlah anggota tim tersebut. b. Penghargaan Tim Penghargaan diberikan kepada tim yang memenangkan turnamen..

Penghargaan tersebut didapat apabila skor rata-rata mereka melampaui kriteria tertentu. Dalam memberikan penghargaan terhadap prestasi kelompok terdapat tiga tingkatan penghargaan yang dikemukakan oleh Slavin dalam Ibrahim, dkk sebagai berikut: Tabel 2.2: Tingkatan Penghargaan Tim10 Nilai Rata-rata 15 20 25 Penghargaan Bagus Sangat bagus Istimewa

c. Pembentukan Kelompok Pembentukan kelompok dalam pembelajaran tipe learning tournament ini dilakukan berdasarkan teknik pembentukan kelompok dalam pembelajaran kooperatif. Pembelajarn kooperatif sangat memperhatikan heterogen. Maksud kelompok
10

George M. Jacobs, Gan Siowck Lee & je, Sica Ball, Cooperative Learning, ,hal. 80

heterogen adalah terdiri dari campuran kemampuan akademik siswa, latar belakang sosial ekonomi, jenis kelamin maupun ras. Hal ini bermanfaat untuk melatih siswa menerima perbedaan pendapat dan bekerja dengan teman yang berbeda latar belakang dengan dirinya. 5. Kelebihan dan Kekurangan Learning Tournament Slavin mengemukakan beberapa kelebihan dari pembelajaran yang menggunakan tournament yaitu : a. Para siswa memperoleh teman lebih banyak dari kelompok siswa yang ada di kelas yang menggunakan pembelajaran konvensional b. Meningkatkan persepsi siswa bahwa hasil yang mereka peroleh tergantung dari kinerja bukan keberuntungan c. Meningkatkan harga diri sosial pada siswa tetapi tidak untuk harga diri akademik mereka d. Meningkatkan kekooperatifan terhadap yang lain (kerjasama verbal dan nonverbal) e. Keterlibatan siswa lebih tinggi dalam belajar bersama f. Meningkatkan kehadiran siswa di sekolah.11

Adapun kekurangan dari pembelajaran yang menggunakan turnament ini adalah lebih banyak membutuhkan waktu dan guru harus bisa membuat rancangan pembelajaran yang lebih bagus. B. PEMBELAJARAN MATEMATIKA

http://mahmuddin.wordpress.com/2009/12/23/strategi-pembelajaran-kooperatif-tipe-gamestournament-tgt/ (dikutip tanggal 8 Oktober 2011)

11

Hal terpenting yang harus diperhatikan oleh seorang guru adalah kesiapan siswa diawal pembelajaran, karena jika siswa tidak siap tentu pelajaran yang disampaikan oleh guru tidak di terima dengan baik, yang akhirnya proses belajar menjadi membosankan, sehingga pembelajaran berlangsung tidak menyenangkan. Pembelajaran adalah upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal12. Selain itu, menurut konsep komunikasi pembelajaran adalah proses komunikasi fungsional antara siswa dengan guru, siswa dengan siswa, dalam rangka perubahan sikap dan pola pikir yang akan menjadi kebiasaan bagi siswa yang bersangkutan. Guru berperan sebagai komunikator, siswa sebagai komunikasikan, dan materi yang dikomunikasikan berisi pesan berupa ilmu pengetahuan13. Dari 2 pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan penataan lingkungan agar belajar tumbuh dan berkembang secara optimal, dimana dalam proses belajar terdapat komunikasi antar siswa dengan guru,siswa dengan siswa dan materi yang dikomunikasikan berupa pengetahuan. Berbicara tentang matematika, akan berhubungan dengan hakekat matematika, pada siapa dan bagaimana matematika itu diberikan. Matematika adalah ilmu yang mempelajari tentang bahasa simbol, numerik, bahasa yang majemuk dam emosional, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa matematika dapat juga dikatakan sebagai ilmu sains. Berkenaan dengan defenisi matematika tersebut, James mengatakan bahwa : Matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan satu sama lainnya dengan jumlah yang banyak yang terbagi kedalam tiga bidang, yaitu aljabar,analisis

13

Erman Suherman, ., hal. 8 Erman Suherman,....hal. 9

12

dan geometri.14 Menurut Hamzah matematika adalah alat untuk berfikir berkomunikasi, memecahkan masalah yang terdapat didalamnya unsur-unsur logika.15 Dari beberapa defenisi matematika yang telah dikemukakan di atas terlihat bahwa secara keseluruhan matematika merupakan cabang ilmu yang erat kaitannya dengan pola dan aturan tertentu yang telah disepakati yang dianggap yang sebagai dasar dalam pemikiran yang logis. Dan nilai kebenaran dalam matematika berdasarkan kepada logika, yang dianggap sebagai dasar dalam perkembangan ilmu matematika. Agar penyampaian matematika terlaksana dengan baik, seorang guru dapat menerapkan strategi, metode dan model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang disampaikan, sehingga menimbulkan motivasi dan semangat siswa untuk belajar matematika. Menurut John Son dan Rising, matematika adalah pola pikir, pola mengorganisasikan, pembuktian yang logik, matematika itu adalah bahasa yang menggunakan istilah yang didefenisikan dengan cermat, jelas dan akurat, representatifnya dengan symbol.16 Berdasarkan uraian tersebut dapat dijelaskan bahwa belajar matematika adalah belajar mengenai ilmu tentang struktur dan hubungan-hubungan yang memerlukan simbol. Simbol-simbol itu penting untuk memanipulasi aturan-aturan dengan operasi yang diterapkan. Dalam pembelajaran matematika, sangat diperlukan sekali peranan aktif siswa, peranan aktif siswa ini dalam menghubungkan konsep-konsep dan struktur dari matematika yang dipelajari. Objek-objek dalam matematika tersendiri dari konsep, fakta, Dalam teori belajar yang dikemukakan Gagne dikemukakan bahwa: dalam pembelajaran matematika ada dua objek yang diperoleh siswa yaitu objek langsung dan objek tidak langsung. Objek tak langsung antara lain kemampuan menyelidiki dan
Erman Suherman dkk, Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer, (Bandung:Universitas Pendidikan Indonesia, 2001), h.16 15 Hamzah B. Uno, Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011 ) ,Cet ke-VII, h. 131 16 Tim MKPBM Jurusan Pendidikan Matematika ,Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer,,hal.19
14

memecahkan masalah, belajar mandiri dan tahu bagaimana semestinya belajar. Sedangkan objek langsung berupa fakta, keterampilan, konsep dan aturan. 17 Dalam pembelajaran matematika, pengalaman belajar masa lampau memegang peranan penting untuk memahami konsep-konsep. Dengan demikian siswa diharapkan belajar aktif dan tidak sekedar menerima saja yang diberikan guru, siswa yang aktif akan melibatkan dirinya dalam menemukan prinsip dasar sehingga siswa lebih mengerti konsep dengan baik dan mengingat lebih lama serta dapat menggunakan konsep-konsep tersebut. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pada saat belajar matematika siswa akan menemukan berbagai fakta, keterampilan, konsep, dan aturan tertentu serta sekaligus siswa juga akan memperoleh kemampuan menyelidiki, memecahkan masalah dan belajar mandiri. Untuk dapat memiliki hal tersebut siswa dituntut untuk terlibat secara aktif dan kreatif dalam pembelajaran, yang menjadi inti selama proses pembelajaran bukanlah guru tetapi siswa itu sendiri.

1. Ruang Lingkup Pelajaran Matematika di Kelas VIII Kelas VIII, semester 1 Standar Kompetensi Aljabar 1. Memahami bentuk Kompetensi Dasar 1.1.Melakukan operasi aljabar 1.2. Menguraikan bentuk aljabar ke dalam faktor-faktornya 1.3. Memahami relasi dan fungsi 1.4. Menentukan nilai fungsi

aljabar, relasi, fungsi dan persamaan garis lurus

17

Tim MKPBM, Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer, , hal. 35

1.5. Membuat sketsa grafik fungsi aljabar sederhana pada sistem koordinat Cartesius 1.6. Menentukan gradien,

persamaan dan grafik garis lurus

2. Memahami

system

2.1. Menyelesaikan

system

persamaan linear dua variabel menggunakannya dalam masalah Geometri Dan Pengukuran 3. Menggunakan teorema dalam Masalah Pythagoras pemecahan pemecahan dan

persamaan linear dua variabel 2.2.Membuat model matematika dari masalah yang berkaitan dengan

3.1. Menggunakan

teorema

Pythagoras untuk menentukan panjang sisi sisi segitiga 3.2. Memecahkan masalah pada bangun datar yang berkaitan dengan teorema pythagoras

Kelas VIII, semester 2 Standar kompetensi Geometri dan Pengukuran 4. Menentukan unsur, bagian Kompetensi dasar 4.1.Menentukan unsure dan bagian bagian

lingkaran serta ukurannya

lingkaran 4.2.Menghitung keliling dan luas lingkaran 4.3.Menggunakan hubungan sudut pusat, panjang

busur, luas juring dalam pemecahan masalah 4.4. Menghitung garis persekutuan lingkaran 4.5. Melukis lingkaran dalam dan lingkunan luar suatu segitiga 5.1.Mengidentifikasi sifat sifat kubus, balok, panjang singgung dua

5. Memahami sifat sifat kubus, balok, prisma, limas dan bagian bagiannya serta ukurannya menentukan

prisma dan limas serta bagian bagiannya 5.2. Membuat jaring jarring

kubus,

balok,

prisma dan limas 5.3. Menghitung luas

permukaan dan volume kubus, balok, prisma

dan limas

C. HASIL BELAJAR

1. pengertian hasil belajar Hasil belajar merupakan kemampuan yang diperoleh individu setelah proses belajar berlangsung, yang dapat memberikan perubahan tingkah laku baik pengetahuan, pemahaman, sikap, dan keterampilan peserta didik sehingga menjadi lebih baik dari

sebelumnya.Sebagaimana yang dikemukakan Dimyati dan Modjiono (2002:3) hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya pengalaman dan puncak proses belajar. Menurut Oemar Hamalik hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti. Winkel dalam Purwanto (2009:45) menyatakan bawa: hasil belajar adalah perubahan yang mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya. Aspek perubahan itu mengacu kepada aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pendapat tersebut didukung oleh Sudjana (2009:3) hasil belajar ialah perubahan tingkah laku yang mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik yang dimiliki siswa setelah menerima pengaman belajarnya. . Matematika merupakan suatu ilmu yang berhubungan atau menelaah bentuk-bentuk atau struktur-struktur yang abstrak.18 Dengan demikian siswa dikatakan berhasil dalam belajar matematika apabila mereka memahami konsep yang disajikan, serta mampu mengaplikasikan konsep-konsep tersebut ke situasi yang lain. 1. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

http://rastodio.com/pendidikan/pengertian-kompetensi-guru.html (diakses pada Jumat, 9 September 2011)

18

Strategi pembelajaran yang digunakan guru merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Selain itu hasil belajar juga dipengaruhi beberapa faktor diantaranya faktor internal dan faktor eksternal. a. Faktor Internal Faktor internal meliputi faktor fisiologis yaitu kondisi jasmani dan keadaan fungsi fungsi. Keadaan jasmani yang sehat akan kuat dibanding jasmani yang kurang sehat. Faktor psikologis yaitu yang mendorong dan memotivasi belajar, diantaranya : adanya keinginan untuk tahu, keinginan untuk mendapatkan simpati dari orang lain, dll. b. Faktor Eksternal Faktor faktor eksternal yaitu faktor dari luar diri anak yang ikut mempengaruhi hasil belajar anak , diantaranya : faktor yang berasal dari orang tua, sekolah dan masyarakat.19 Selain dari faktor internal dan eksternal di atas, faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah minat, kecerdasan, bakat, dan motivasi. 2. Bentuk Bentuk Hasil Belajar Horward Kingsley membagi tiga macam hasil belajar , yakni (a)Keterampilan dan kebiasaan, (b)Pengetahuan dan pengertian, dan (c)sikap dan cita cita. Sedangkan Gagne membagi lima kategori hasil belajar, yakni (a)Informasi verbal, (b)Keterampilan intelektual, (c)Strategi kognitif, (d)Keterampilan intelektual dan (e)Keterampilan motoris. Klasifikasi hasil belajar oleh Benyamin Bloom secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga ranah yaitu : ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotoris.20 1. Ranah Kognitif
http://heru-id.blogspot.com/2011/05/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-hasil.html (diakses tanggal 14 Oktober 2011) 20 Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 1999), hal.22-31
19

oleh

a. Tipe hasil belajar : pengetahuan Pada tahap ini memuat kemampuan menghafalkan rumus, definisi dan mengingat fakta-fakta. b. Tipe hasil belajar : pemahaman Pada tahap ini memuat kemampuan memahami, menafsirkan dan mampu membuat estimasi c. Tipe hasil belajar : aplikasi Kemampuan yang dilihat di tahap ini adalah kemampuan menerapkan materi ke dalam situasi baru d. Tipe hasil belajar : analisis Kemampuan dalam mengklasifikasikan prinsip prinsip dan menghubungkan antar unsur. e. Tipe hasil belajar : sintesis Diantaranya : menyatukan unsur-unsur atau bagian-bagian menjdi keseluruhan. f. Tipe hasil belajar : evaluasi Pada tahap ini evaluasi dilakukan untuk mengukur kemampuan siswa. 2. Ranah Afektif a. Reciving/attending : kepekaan menerima rangsangan b. Responding : jawaban c. Valuing : penilaian d. Organisasi e. Karakteristik niliai/ internalisasi nilai 3. Ranah Psikomotoris a. Gerakan refleks : gerakan tidak sadar b. Keterampilan pada gerakan gerakan dasar

c. Kemampuan perseptual d. Kemampuan di bidang fisik e. Gerakan gerakan skill f. Kemampuan komunikasi. Dalam penelitian ini bentuk hasil belajar yang peneliti gunakan adalah bentuk hasil belajar yang dikemukakan oleh Bloom yaitu ranah kognitif yang diukur dengan melaksanakan tes hasil belajar setelah pembelajaran (post tes). D.Hipotesis Penelitian Berdasarkan permasalahan di atas maka hipotesis penelitian ini adalah Terdapat pengaruh yang signifikan dalam penggunaan strategi belajar aktif tipe learning tournament terhadap hasil belajar matematika di kelas VIII SMPN 1 Koto Rajo .

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Menurut Mardalis penelitian eksperimen bertujuan untuk menjelaskan apa-apa yang akan terjadi bila variabelvariabel tertentu dikontrol (dimanipulasi) secara tertentu.21 Berdasarkan permasalahan yang diteliti jenis penelitian ini adalah penelitian pra-experimental. Rancangan penelitian yang digunakan adalah One Group Pretest-Posttest Design dimana dalam penelitian yang hanya dilakukan pada satu kelompok sampel. Rancangan penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut: Tabel 3.1: Rancangan Penelitian One Group Pretest-Posttest Design22

Pretest

Treatment X

Posttest

Keterangan: T1: X: T2: Pretest untuk mengukur hasil belajar sebelum subjek diberikan perlakuan. Strategi Belajar Aktif Tipe Learning Tournament. Posttest setelah melakukan Strategi Belajar Aktif Tipe Learning Tournament

B. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi adalah sekumpulan objek yang akan dijadikan sebagai bahan penelitian (penelaahan) dengan ciri mempunyai karakteristik yang sama. Populasi dalam penelitian ini ada sebanyak empat kelas sebagaimana terlihat pada tabel berikut Tabel 3.2: Jumlah siswa kelas VIII SMPN 1 Koto Rajo Tahun 2013/2014

21 22

Mardalis.Metode Penelitian Suatu Pendekatan Proposal.(Jakarta:Bumi Aksara, 2009), hal. 26 Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, , hal.102

Kelas VIII1 VIII2 VIII3 VIII4 Jumlah

Jumlah Siswa 39 39 42 42 162

Sumber: Guru bidang studi matematika kelas VIII SMPN 1 Koto Rajo

2. Sampel Sampel adalah bagian dari populasi untuk dijadikan sebagai contoh atau bahan penelaahan dengan harapan contoh yang diambil dari populasi tersebut dapat mewakili (representative) terhadap populasinya. Mengingat jumlah populasi yang sangat besar dan terbatasnya kemampuan peneliti dari segi tenaga, dana, dan waktu maka penelitian ini dilakukan terhadap sampel yang mewakili populasi. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah random sampling (acak) dimana semua anggota populasi diberi peluang yang sama untuk menjadi anggota sampel.23 Agar sampel dapat mewakili dan menggambarkan sifat serta karakteristik dari populasi, maka langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut: a. Mengumpulkan rata rata nilai ulangan harian matematika siswa kelas VIII SMPN 1 Koto Rajo tahun 2013 dari setiap kelas populasi. b. Melakukan uji normalitas populasi terhadap rata rata nilai ulangan harian yang bertujuan untuk mengetahui apakah populasi berdistribusi normal atau tidak. Hipotesis yang diajukan adalah :

23

Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, , hal.36

H 0 = populasi berdistribusi normal

H 1 = populasi berdistribusi tidak normal


Untuk melihat sampel berdistribusi normal, digunakan uji Lilifors yang dikemukakan oleh Sudjana dengan langkah langkah sebagai berikut : 1) Data X1, X2, X3,..., Xn diperoleh dan disusun dari data yang terkecil sampai yang terbesar 2) Mencari skor baku dari skor mentah dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Zi

Xi X S

Dengan:

Z i = Skor baku
S = Simpangan baku

X = Skor rata-rata

Xi = Skor dari tiap soal 3) Dengan menggunakan daftar distribusi normal baku dihitung peluang F(Zi) = P (Z < Zi). 4) Menghitung jumlah proporsi skor baku yang lebih kecil atau sama Zi yang dinyatakan dengan S (Zi) dengan menggunakan rumus:
SZ i Banyaknya Z1 , Z 2 ,...Z n yang Z i n

5) Menghitung selisih antara F(Zi) dengan S(Zi) kemudian tentukan harga mutlaknya. 6) Ambil harga mutlak yang terbesar dari harga mutlak selisih itu diberi simbol L0, L0 = maks F Z i S Z i

7) Kemudian bandingkan L 0 dengan nilai L yang ada pada tabel. Pada taraf a 0,05 jika L 0 Ltabel maka H0 diterima.24 Untuk mengakuratkan data pada penelitian ini peneliti menggunakan SPSS dengan kriteria uji apabila nilai r lebih kecil daripada tingkat yang digunakan yaitu 0,05 maka H0 ditolak yang berarti bahwa data berdistribusi normal. 25 Setelah dilakukan perhitungan dengan menggunakan SPSS maka diperoleh hasil sebagai berikut: c. Melakukan uji homogenitas dengan menggunakan uji varians. Uji ini bertujuan untuk membandingkan dua buah peubah bebas. Kriteria yang diujikan adalah dua buah distribusi dikatakan memiliki penyebaran yang homogen apabila nilai hitung F lebih kecil dari nilai tabel F dengan =0,05 dan dk1=(n1-1) dan dk2=(n2-1). Dalam hal lainnya distribusi tidak homogen/berbeda.

Rumus uji statistik yang digunakan adalah F = Keterangan : : varians yang kecil. Bentuk hipotesis statistik yang akan diuji adalah ; H0 : H1 : =
26

Setelah dilakukan analisis data ditemukan hasil berikut :

24 25

Sudjana, Metode Statistika, (Bandung : Tarsito, 2005), hal.466 Sambas Ali Muhidin, Analisis Korelasi,Regresi dan Jalur dalam Penelitian,,hal 83 26 Sambas Ali Muhidin, Analisis Korelasi,Regresi dan Jalur dalam Penelitian,,hal.84

d. Melakukan uji kesamaan rata rata dengan menggunakan teknik anava satu arah dengan langkah langkah sebagai berikut : 1. Tuliskan hipotesis statistik yang diajukan H0 : 1 = 2 H1 : 1 2 2. Tentukan taraf nyatanya () 3. Tentukan wilayah kritiknya dengan menggunakan rumus f > f [ k 1, k(n-1)] 4. Tentukan perhitungan melalui rumus berikut : Jumlah Kuadrat Total (JKT): dengan derajat kebebasan =n(k)-1 JKP:

dengan derajat kebebasan= k-1 Jumlah Kuadrat Galat (JKG): JKT JKP dengan derajat kebebasan= k(n-1)

Untuk menyederhanakan perhitungan analisis variansi ini maka diringkas dalam bentuk tabel berikut:

Sumber Keragaman

Jumlah

derajat

Kuadrat

Kuadrat (JK) Perlakuan JKK

kebebasan (dk) k-1

Tengah Fhit=
=KTP= =KTG=

Galat Total

JKG JKT

k(n-1) n(k)-1

5. Keputusannya Diterima Ho jika f < f [ k 1, k(n 1] Tolak Ho jika f >f [ k 1, k(n-1)].27

C. Variabel dan Data 1. Variabel Variabel dalam penelitian ini ada dua yaitu variabel bebas dan variabel terikat. a. Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi variabel lain yaitu pembelajaran dengan menggunakan strategi belajar aktif tipe Learning Tournament b. Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi variabel bebas yaitu hasil belajar siswa setelah menggunakan strategi belajar aktif tipe Learning Tournament. 2. Data

27

Syafriandi dan Atus Amadi Putra, Statistika Dasar,(Padang:FMIPA UNP,1999), hal.194

a. Data primer yaitu data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti. Data primer dalam penelitian ini adalah data hasil belajar siswa dengan pretes dan postes sebagaimana terdapat pada lampiran IV halaman 84 . b. Data sekunder yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung melalui dokumen

dokumen atau data yang diarsipkan.28 Dalam penelitian ini adalah nilai ulangan harian matematika siswa yang berada pada kelas VIII SMPN 1 Koto Rajo

sebelum dilakukan penelitian sebagaimana terdapat pada lampiran V halaman 85. 3. Sumber data Sumber data dalam penelitian ini adalah: a. Data primer bersumber dari kelas VIII SMPN 1 Koto Rajo yang menjadi sampel pada penelitian ini. b. Data sekunder bersumber dari Kantor Tata Usaha dan Guru bidang studi SMPN 1 Koto Rajo

D. Prosedur Penelitian Secara umum prosedur penelitian dapat dibagi atas tiga tahap, yaitu: 1. Tahap Persiapan 2. Tahap Pelaksanaan 3. Tahap Penyelesaian E. Instrumen Penelitian Dalam penelitian ini peneliti menggunakan instrumen untuk melihat hasil belajar siswa. 1. Tes Hasil Belajar

28

Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian ,, hal. 84-85

Tes yang akan diberikan adalah tes berbentuk essay. Karena tes essay bisa mendorong siswa untuk mengintegrasikan ide idenya sendiri. Menurut Mudjijo langkah langkah dalam menyusun tes hasil belajar adalah sebagai berikut :29 a. Menentukan tujuan mengadakan tes yaitu mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi pelajaran dan melihat apakah strategi yang digunakan berhasil diterapkan. b. Membuat batasan terhadap materi pelajaran yang akan diujikan c. Membuat kisi-kisi tes hasil belajar. d. Menyusun butir-butir soal menjadi bentuk tes akhir yang akan diujikan. e. Validasi Tes Validitas adalah tingkat ketetapan tes. Suatu tes dikatakan valid apabila tes tersebut dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Untuk mengetahui valid atau tidaknya suatu tes dianalisa dengan validitas isi atau validitas kurikulum yang divalidasi oleh seorang dosen dan seorang guru. f. Analisis Butir Soal Analisis ini dilakukan untuk melihat dan mengidentifikasi soal soal yang baik, kurang baik dan soal yang tidak baik sama sekali. Hal hal yang perlu dilakukan dalam melakukan analisis butir soal adalah : 1) Validitas tes Validitas tes mempersoalkan apakah isi butir soal tes yang diujikan itu mencerminkan isi kurikulum yang sebenarnya. Untuk menentukan validitas tes digunakan korelasi product moment : =
{

29

Mudjijo. Tes Hasil Belajar. (Padang : Bumi Aksara, 1995), hal. 73-85

Keterangan : N

= koefisien korelasi antara variabel X dan Y = jumlah testee

XY = jumlah perkalian antara skor item dan skor total X = jumlah skor item Y = jumlah skor total. Kriteria mengenai besarnya koefisien korelasi adalah sebagai berikut : 0, 81 1, 00 0, 61 0, 80 0, 41 0 ,60 0, 00 0, 20 : sangat tinggi : tinggi : cukup : sangat rendah.30

2)

Reliabilitas Reliabilitas alat ukur adalah ketetapan alat tersebut dalam mengukur apa

yang akan diukur, artinya kapan alat ukur tersebut digunakan akan memberikan hasil ukur yang sama. Untuk mencari reliabilitas tes tersebut dapat digunakan rumus :

=( Keterangan : : koefisien realibilitas tes : jumlah varians skor tiap item : varians total

k : banyaknya butir item yang dikeluarkan dalam tes.31

Zaenal Arifin, Evaluasi Pembelajaran, (Bandung:PT Rosdakarya, 2009), hal.257 Sambas Ali Muhidin dan Maman Abdurrahman, Analisis Korelasi, Regresi dan Jalur, (Bandung:Pustaka Setia, 2009),hal.38
31

30

Nilai reliabilitas yang didapatkan kemudian dibandingkan dengan tabel koefisien korelasi dengan db= n-2= 27-2 = 25 dan = 0,05. Melalui perhitungan didapatkan r11 =0,52 dan koefisien korelasi (r) adalah 0,381. Jadi r11 > r maka soal dinyatakan reliabel sebagaimana bisa dilihat pada lampiran XV halaman 139. 3). Indeks Kesukaran Indeks kesukaran soal digunakan untuk melihat apakah soal tersebut termasuk mudah, sedang dan sukar. Menurut Zainal Arifin untuk menghitung tingkat kesukaran soal digunakan langkah-langkah sebagai berikut : a) Menghitung rata-rata skor untuk tiap butir soal dengan rumus: Rata-rata= b) Menghitung tingkat kesukaran dengan rumus: Tingkat kesukaran= c) Membandingkan tingkat kesukaran dengan kriteria berikut: 0,00 0,30 = sukar 0,31 0,70 = sedang 0,71 1,00 = mudah.32 4). Daya Pembeda Soal Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan rendah dengan siswa berkemampuan tinggi. Dapat dilakukan dengan rumus : DP =

Keterangan :
32

Zaenal Arifin, Evaluasi Pembelajaran,,hal.134

DP : daya pembeda : rata rata skor kelompok tinggi : rata rata skor kelompok rendah

Skor Mak : skor maksimum Setelah didapatkan nilai daya pembeda kemudian dibandingkan dengan kriteria seperti berikut : 0,40 ke atas 0,30-0,39 0,20-0,29 0,19 ke bawah : sangat baik : baik : cukup, soal perlu perbaikan : kurang baik, soal harus dibuang.33

F. Teknik Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan dan akan digunakan sebagai dasar untuk menilai berhasil atau tidak tindakan perbaikan pembelajaran yang dicobakan yaitu data hasil belajar siswa dikumpulkan dari pemberian tes kepada siswa.

G. Teknik Analisis Data Data hasil belajar siswa dilihat dari tes akhir yang diberikan. Peneliti terlebih dahulu melakukan pengujian hipotesis secara statistik. Untuk melakukan uji statistik tersebut dilakukanlah uji berikut ini :

a. Uji Normalitas

33

Zaenal Arifin, Evaluasi Pembelajaran,,hal.133

Melakukan uji normalitas terhadap kelompok data dengan menggunakan uji Lilliefor. Dalam uji normalitas ini akan diuji hipotesis bahwa pretest dan post test berdistribusi normal. Untuk pengujian hipotesis ini menurut Sudjana mengemukakan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Menentukan rata-rata hasil belajar masing-masing kelompok, simpangan baku (S) dan variansi (S2). 2) Melakukan uji normalitas terhadap kelompok data dengan menggunakan uji Lilifors. Dalam uji normalitas akan diuji hipotesis bahwa data hasil belajar matematika kelas eksperimen berdistribusi normal. Dalam uji normalitas akan dilakukan prosedur sebagai berikut: a) Menyusun skor hasil belajar siswa dalam suatu tabel skor disusun dari skor yang terkecil sampai yang terbesar. b) Mencari skor baku dari skor mentah dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Zi

Xi X S

Dengan:

Z i = Skor baku
S
X

= Simpangan baku = Skor rata-rata

Xi

= Skor dari tiap soal

c) Dengan menggunakan daftar distribusi normal baku dihitung peluang F(Zi) = P (Z < Zi). d) Menghitung jumlah proporsi skor baku yang lebih kecil atau sama Zi yang dinyatakan dengan S (Zi) dengan menggunakan rumus:

SZ i

Banyaknya Z1 , Z 2 ,...Z n yang Z i n

e) Menghitung selisih antara F(Zi) dengan S(Zi) kemudian tentukan harga mutlaknya. f) Ambil harga mutlak yang terbesar dari harga mutlak selisih itu diberi simbol L0, L0 = maks F Z i S Z i g) Kemudian bandingkan L 0 dengan nilai Ltab. Pada taraf a 0,05 jika L 0 Ltabel maka H0 diterima.34

b. Persamaan Regresi Linier Sederhana Analisis data dilakukan dengan berorientasi kepada masalah dan tujuan penelitian. Untuk mencapai tujuan ini digunakan analisis regresi linier sederhana yang dikemukakan Sambas Ali Muhiddin dan Maman Abdurahman sebagai berikut: Keterangan: : variabel terikat : variabel bebas a,b : Koefisien regresi sampel.35 Untuk menentukan nilai koefisien a dan b dapat dihitung menggunakan rumus :

Dimana:
34 35

Sudjana, Metode Statistika, hal.466 Sambas Ali Muhidin dan Maman Abdurrahman, Analisis Korelasi, Regresi dan Jalur,,hal.188

: Rata-rata skor variabel X : Rata-rata skor variabel Y

c. Uji Kelinieran Pemeriksaan kelinieran regresi dilakukan melalui pengujian hipotesis nol, bahwa regresi linier melawan hipotesis tandingan bahwa regresi tidak linier. Langkah-langkah uji linier regresi menurut Sambas Ali Muhiddin dan Maman Abdurahman yaitu: 1) Menyusun tabel kelompok data variabel x dan variabei y. 2) Menghitung jumlah kuadrat regresi (JKreg(a)) dengan menggunakan rumus: JKreg(a) =

3) Menghitung jumlah kuadrat regresi b|a (JKreg JKreg (b|a) = b.(


b|a)

dengan menggunakan rumus:

4) Menghitung jumlah kuadrat residu (JKres) dengan menggunakan rumus: JKres =


|

5) Menghitung rata-rata jumlah kuadarat regresi a (RJKreg(a) dengan menggunakan rumus: RJKreg(b|a) = JKreg(b|a) 6) Menghitung rata-rata jumlah kuadrat regresi b|a (RJKreg(a) dengan menggunakan rumus: RJKreg(b|a) = JKreg(b|a) 7) Menghitung rata-rata jumlah kuadrat residu (RJKres) dengan menggunakan rumus: RJKres = 8) Menghitung jumlah kuadrat error (JKE) dengan menggunakan rumus: JKE =

Untuk menghitung JKE urutkan data x mulai dari data yang paling kecil sampai data yang paling besar. 9) Menghitung jumlah kuadrat tuna cocok (JKTC) dengan menggunakan rumus: JKTC = JKres - JKE 10) Menghitung rata-rata jumlah kuadrat tuna cocok (RJKTC) dengan menggunakan rumus: RJKTC = 11) Menghitung rata-rata jumlah kuadrat error (RJKE) dengan menggunakan rumus: RJKE = 12) Mencari nilai uji F dengan rumus: F = 13) Menentukan kriteria pengukuran. Jika Fhit < Ftab maka distribusi berpola linier 14) Mencari nilai Ftabel pada taraf signifikansi 95% atau = 0,05 menggunakan rumus: Ftabel = F(1-) (db TC, db E) dimana db TC = k 2 dan db E = n k 15) Membandingkan nilai uji F < nilai tabel F dan membuat kesimpulan.36 d. Keberartian Regresi Setelah diperoleh persamaan regresi sederhana, kemudian dilakukan uji keberartian regresi dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Menentukan rumusan hipotesis H0 dan H1. Hipotesis yang akan diuji adalah: H0 : = 0 (persamaan regresi tidak berarti) H1 : 0 (persamaan regresi berarti)37 2) Menentukan uji statistika yang sesuai. Uji statistika yang digunakan adalah uji F sebagaimana yang dikemukakan Sambas sebagai berikut:

Sambas Ali Muhidin ,Analisis Korelasi, Regresi, dan Jalur dalam Penelitian ,, hal.89 Wahana Komputer,Solusi Mudah dan Cepat untuk Pengolahan Data Statistik,(Jakarta: PT. Gramedia,2009), hal.130
37

36

a) Menghitung jumlah kuadrat regresi (JKreg(a)) dengan rumus: JKreg(a) = b) Menghitung jumlah kuadrat regresi b|a (JK b.(

reg b|a),

dengan rumus: JKreg

b|a

c) Menghitung jumlah kuadrat residu (JKres) dengan menggunakan rumus: JKres = d) Menghitung rata-rata jumlah kuadrat regresi a (RJKreg(a)) dengan rumus: RJKreg(a) = JKreg(a) e) Menghitung rata-rata jumlah kuadrat regresi b|a (RJKreg(a) dengan rumus: RJKreg(b|a) = JKreg(b|a) f) Menghitung rata-rata jumlah kuadrat residu (RJKres) dengan rumus: RJKres = g) Menghitung F, dengan rumus: F = c). Menentukan nilai kritis () atau nilai tabel F pada derajat bebas dbreg b/a dan dbres = n-2 d).Dengan menggunakan tabel F diperoleh Ftab = F(,db reg(b/a),db res) e).Selanjutnya disusun dalam daftar analisis variansi (ANAVA) seperti pada tabel berikut : =1

Tabel 3.15: Analisis of Varians Sumber Variansi Total koefisien dK N 1 JK JK (a) KT Fhitung RJK (a) Ftabel

(a) Regresi (b/a) Sisa N-2 1 JK (b/a) JK res RJK (b/a)=S2

Berdasarkan tabel di atas, didapat: JKT JK(a) JKreg(b|a) JKres RJK(b|a) F = =

= b.( = = JK(b/a) =
38

e. Menghitung Koefisien Korelasi dan Koefisien Determinasi Menurut Sudjana untuk menghitung koefisien korelasi (r) diperoleh dengan rumus: { Keterangan: r n Xi = Koefisien korelasi = Banyaknya anggota sampel = nilai pretest }{ }

38

Sambas Ali Muhidin,Analisis Korelasi, Regresi, dan Jalur dalam Penelitian , hal. 194

Yi

= nilai posttest

Dengan ketentuan jika: : Terdapat korelasi negatif sempurna antara variabel x dan y : Terdapat korelasi positif sempurna antara variabel x dan y : Tidak terdapat korelasi antara variabel x dan y : Terdapat korelasi negative antara variabel x dan y : Terdapat korelasi positif antara variabel x dan y39

Setelah nilai koefisien korelasi (r) didapatkan maka koefisien determinasi (r2) bisa kita cari dengan mengkuadratkan nilai r. Setelah itu untuk mencari seberapa besar pengaruh maka dapat kita gunakan rumus koefisien penentu (KP) sebagaimana menurut pendapat M. Iqbal Hasan sebagai berikut:

Keterangan : KP : Koefisien penentu : Koefisien determinasi40 Hal ini menunjukkan berapa besar pengaruh variabel x terhadap variabel y atau pengaruh strategi belajar aktif tipe learning tournament terhadap hasil belajar matematika di kelas VIII SMPN 1 Koto Rajo yang dilihat dari persentase yang didapatkan.

f. Pengujian Hipotesis

39 40

Sudjana, Metoda Statistika, hal.369 M. Iqbal Hasan, Pokok-Pokok Materi Statistik I,(Jakarta:Bumi Aksara,2003), hal. 248

Hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh yang signifikan dalam penggunaan strategi belajar aktif tipe learning tournament terhadap hasil belajar matematika dikelas VIII di SMPN 1 Koto Rajo. Hipotesis yang akan diuji dalam hal ini adalah: H0 : = 0 (tidak adanya pengaruh yang signifikan dalam penggunaan strategi belajar aktif tipe learning tournament terhadap hasil belajar) H1 : 0 (adanya pengaruh yang signifikan dalam penggunaan strategi belajar aktif tipe learning tournament terhadap hasil belajar)

Pengujian terhadap hipotesis ini menggunakan rumus berikut:


Keterangan:

r2 = koefisien determinasi n = banyaknya anggota sampel Dengan kriteria pengujian yang digunakan adalah H0 ditolak jika thitung ttabel dengan db = n-2 pada taraf signifikan
41

sssss

41

Sambas Ali Muhidin ,Analisis Korelasi, Regresi, dan Jalur dalam Penelitian ,,hal.129