Anda di halaman 1dari 64

I.

PENDAHULUAN

  • 1.1 LATAR BELAKANG Kesuburan suatu perairan dapat diketahui antara lain dari jumlah dan

komposisi organisme plankton. Komunitas plankton merupakan suatu komponen yang penting dalam suatu ekosistem perairan. Sebab organisme plankton khususnya phytoplankton mempunyai peranan penting dalam siklus rantai makanan di lingkungan perairan. Phytoplankton mengandung pigmen klorofil

maupun melaksanakan proses fotosintesis dimana air dan karbondioksida dengan adanya sinar surya dan garam-garam basa dapat menghasilkan senyawa organik. Sehingga phytoplankton disebut sebagai produsen primer. Sebagai produsen primer phytoplankton merupakan pangkal rantai makanan dan dasar yang mendukung kehidupan seluruh organisme perairan lainnya (Satya, 2010). Plankton adalah organisme atau makhluk hidup yang harus dan disebut pula sebagai jasad-jasad renik yang melayang di dalam air. Istilah plankton, dari bahasa yunani yang artinya clifting, yaitu yang berarti plankton hanya dapat melayang di dalam air. Istilah plankton pertama kali dipakai oleh Benser penemunya pada tahun 1987, dengan menggambarkannya sebagai organisme-organisme bersifat mikroskopik. Plankton dibagi menjadi dua kelompok, yaitu phytoplankton dan zooplankton yang memakan phytoplankton (Herawati, 1989). Plankton adalah organisme ( tumbuhan dan hewan yang hidupnya melayang dalam air dan pergerakannya dipengaruhi oleh arus. Jadi plankton dapat berupa

tumbuhan yang biasa disebut “ PHYTOPLANKTON ” dan plankton hewan yang biasa disebut “ ZOOPLANKTON “ dan jumlahnya tentu jauh lebih banyak dari pada ikan. Banyaknya jumlah plankton tidak terlepas dari perannya yang sangat penting, dimana phytoplankton bisa menghasilkan energi melalui proses fotosintesis ) yang secara langsung atau tidak dibutuhkan semua makhluk hidup melalui proses rantai makanan dalam ekosistem yang kompleks. Plankton

1

|

P

a g e

termasuk kelompok algae, kelompok taksonomi yang dominan berbeda antara air tawar dan laut (Apridayani, 2008).

1.2

TUJUAN

  • 1.2.1 Tujuan dari materi pengamatan ekologi kolam adalah agar plankton dapat mengetahui komponen ekologi (Biotik dan Abiotik) yang mempengaruhi kehidupan plankton.

  • 1.2.2 Tujuan materi pengumpulan plankton adalah :

    • a. Menambah keterampilan praktikan terutama dalam penentuan lokasi dan pengambilan sample plankton.

    • b. Menambah pengetahuan praktikan tentang tta cara penyimpanan plankton.

  • 1.2.3 Tujuan dari pembuatan preparat adalah menambah keterampilan mahasiswa (praktikan) dalam membuat preparat plankton

  • 1.2.4 Tujuan dari pengamatan palnkton di bawah mikroskop adalah :

    • a. Menambah keterampilan praktikan dalam penggunaan mikroskop dan penentuan luas bidang pandang.

    • b. Menambah pengetahuan praktikan tentang bentuk-bentuk plankton serta dapat membedakan antara phytoplankton, zooplankton dan seresah.

    • c. Menambah pengetahuan tentang cara penentuan bidang pandang untuk perhitungan plankton.

  • 1.2.5 Tujuan dari materi identifikasi adalah menambah pengetahuan praktikan tentang bagaimana cara mengidentifikasi plankton dan menentukan klasifikasinjya.

  • 1.2.6 Tujuan dari materi estimasi kelimpahan plankton adalah menambah pemahaman praktikan tentang hitungan kelimpahan plankton sehingga dapat menganalisa kesuburan berdasarkan plankton.

  • 2

    |

    P

    a g e

    1.3

    TEMPAT DAN WAKTU

    Pelaksanaan praktikum planktonology ini dilaksanakan dua kali praktikum, yaitu praktikum lapang dan praktikum laboratorium. Praktikum lapang dilaksanakan pada tanggal 29 September 2013 pukul 08.45 di depan kolam

    permanen perpustakaan Universitas Brawijaya Malang. Untuk praktikum Laboratorium dilaksanakan pada tanggal 2 Oktober 2013 pukul 07.00 WIB di Laboratorium Hidrologi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya Malang.

    3

    |

    P

    a g e

    II.

    TINJAUAN PUSTAKA

    • 2.1 MATERI JENIS DAN KLASIFIKASI PLANKTON Plankton merupakan mekhluk tumbuhan atau hewan, berukuran kecil yang hidupnya melayang-layang di dalam air dan selalu terbawa hanyut oleh arus. Pengertian dan definisi dari plankton dikemukakan oleh Victor Hensen pada tahun 1987. Plankton merupakan istilah yang berasal dari bahasa Yunani “Planktos” yang artinya “hanyut” atau “mengembara”. Istilah dan pengertian ini diberikan

    kepada jenis makhluk hidup tersebut karena selalu terbawa oleh pergerakan arus. Plankton tidak mempunyai kemampuan untuk berenang seperti nekton yang berenang bebas misalnya ikan, udang, cumi-cumi, paus. Plankton adalah organisme atau jasad renik yang hidup bebas di perairan, seperti perairan ait tawar, payau, maupun laut. Plankton terdiri dari makhluk hidup yang hidupnya sebagai

    hewan (zooplankton) dan sebagai tumbuhan (phytoplankton) yang dapat berpoto sintesis hingga berperan sebagai produsen. Plankton yang terdiri dari bermacam- macam jenis dapat di klasifikasikan menurut kategori seperti : 1) Fungsi, 2) Ukuran, 3) Daur hidup, 4) Sifat sebaran. Sesuai penggolongan tersebut maka dapat dibedakan jenis-jenis plankton, sehingga mempermudah dalam pengenalan. Plankton yang merupakan organisme mikroskopik yang berbeda dalam air untuk melihatnya diperlukan mikroskop karena ukurannya yang kecil (Nontji, 2008). Menurut Madinawati (2010) fungsinya plankton dapat diklasifikasikan menjadi 4 golongan utama, yaitu :

    Phytoplankton Zooplankton Bakteriaplankton Virioplankton

    2.1.1

    PENGERTIAN PLANKTON

    Plankton adalah organisme renik yang hidupnya melayang-layang mengikuti pergerakan air. Plankton di dalam perairandapat dikelompokkan menjadi dua yaitu phytoplankton dan Zooplankton. Phytoplankton adalah organisme renik yang hidupnya melayang-layang mengikuti pergerakan air yang berasal dari jasad nabati, sedangkan zooplankton adalah organisme yang hidupnya melayang-layang mengikuti pergerakan air yang berasal dari jasad hewani (Rahayu, 2009). Plankton adalah organisme yang meliputi biota yang hidupnya mengapung atau hanyut di perairan pelagik. Tempat hidupnya ada yang terapung-apung dilapisi permukaan dan bahkan sampai lapisan kedalaman 500 m. Istilah plankton berasal dari bahasa Yunani yang berarti pengembara. Ukuran dari organisme plankton pada umumnya relatif sangat kecil atau berukuran mikroskopik (Trimaningsih, 2005).

    • 2.1.2 PENGELOMPOKAN PLANKTON

      • A. BERDASARKAN UKURAN Menurut Chairi (2012), plankton berdasarkan ukurannya dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan, yaitu : Net plankton (plankton jaring) yaitu plankton yang dapat tertangkap dengan jaring atau dengan mata jaring (mesh size) berukuran µm. Nano plankton yaitu plankton yang lolos dari jaring berukuran 220 µm. Ultranano plankton yaitu plankton yang berukuran lebih kecil dari 2 µm. Macam-macam plankton berdasarkan ukuran menurut Sunarto (2008), adalah :

    • - Plankton jaring ( Net plankton )

    -

    Mega plankton (20-200cm)

    • - Nano plankton

    -

    Makroplankton (2-20cm)

    • - Ultranano plankton

    - Mesoplankton (0,2-20cm)

    5

    |

    P

    a g e

    • B. BERDASARKAN ASAL

    Menurut Wirahara (2003), adapun plankton berdasarkan asalnya

    dibedakan menjadi dua, yaitu :

    • - Auto plankton : plankton yang berasal dari habitat tersebut (palnkton asli dari suatu habitat).

    • - Allo plankton : plankton yang datang dari perairan lain (hanyut terbawa oleh suangai atau arus).

    • C. BERDASARKAN SIKLUS HIDUP Pengelompokan plankton berdasarkan siklus hidup dibagi menjadi 2 bagian, yaitu :

      • - Holoplankton : plankton yang sepanjang hidupnya dilalui sebagai plankton

      • - Megaplankton : kehidupan plankton ini hanya terjadi pada awal yaitu pada stadium telur dan larva.

    Menurut Subroto (2008), berdasarkan siklus hidupnya plankton dibagi menjadi :

    Holoplnkton

    Dalam kelompok ini termasuk plankton yang seluruh siklus hidupnya dijalani sebagai plankton, mulai dari telur, larva, hingga dewasa. Mesoplankton

    Plankton dari golongan ini menjalani kehidupannya sebagai plankton haya pada awal dari siklus hidup biota tersebut, yakni pada tahap sebagai telur saja. Beranjak dewasa ia akan berubah menjadi nekton yakni hewan yang aktif berenang bebas atau sebagai benthos yang hidup menetap atau melekat di dasar laut. Oleh sebab itu, mesoplankton sering disebut plankton sementara. Tikoplankton

    Tikoplankton sebenarnya bukanlah plankton yang sejati karena biota ini dalam keadaan normalnya hidup di dasar laut sebagai benthos. Namun karena gerak air menyebabkan ia terlepas dari dasar dan terbawa arus mengembara sementara sebagai plankton.

    • D. BERDASARKAN HABITAT

    Menurut Madnawati (2010), berdasarkan bentuk hidupnya plankton

    dibagi menjadi dua golongan yaitu Phytoplankton (plankton nabati) dan Zooplankton (plankton hewani). Phytoplankton mempunyai sifat autotrof yang mampu merubah bahan anorganik menjadi organik dan menghasilkan oksigen yang sangat mutlak diperlukan bagi kehidupan makhluk hidup yang lebih tingkatannya. Sedangkan zooplankton tidak dapat memproduksi zat-zat organik. Zooplankton bersifat herbivora dan karnivora. Zooplankton bersifat herbivora memakan phytoplankton sedangkan karnivora memakan zooplankton herbivor. Menurut Trimaningsih (2005), pengelompokan plankton berdasarkan habitatnya, yaitu :

    • a. Holiplankton (plankton bahari)

    • - Plankton oseanik : plankton yang hidupnya diluar paparan benua

    • - Plankton neritik : plankton yang hidupnya di atas paparan benua (mulut suangai, perairan pantai dan perairan lepas pantai)

    • - Plankton air payau : plankton yang hidupnya di perairan yang bersalinitas rendah

      • b. Limnology (perairan tawar)

    • - semua plankton yang hidupnya di perairan yang bersalinitas rendah (

    <5% ).

    E. BERDASARKAN JENIS MAKANAN

    Menurut Herwati (1989),berdasarkan jenis makanan plankton dibedakan menjadi dua (2) yaitu:

    • a. Plankton tanaman atau nabati disebut phytoplankton yang memiliki chlorofil sehingga memungkinkan untuk melakukan fotosintesis.

    • b. Zooplankton terdiri dari plankton yang makanannya bersifat holosit termasuk jenis plankton hewan.

    Menurut Agus (2008), secara fungsional plankton digolongkan menjadi dua golongan utama yaitu:

    • a. Fitoplankton

    Fitoplankton mempunyai fungsi penting dilaut,karena bersifat autotrofik yakni dapat menghasilkan sendiri bahan organic makanannya. Selain itu, juga mampu melakukan proses fotosintesis untuk menghasilkan bahan organic. Karena mengandung organic,Fitoplankton disebut sebagai produsen primer.

    • b. Zooplankton

    Zooplankton bersifat heterotrofik berarti tak dapat memproduksi sendiri bahan organic dari bahan organic.

    2.1.3 KLASIFIKASI PLANKTON

    • A. PHYLUM CHLOROPHYTA

    Menurut Herawati (1989), ciri-ciri phylum Chlorophyta yaitu:

    Berwarna hijau,karena proporsi pigmen pada chloroplast jauh

    lebih banyak Kebanyakan bersifat ephyphytic,sessile symbiotic

    Dinding sel bagian dalam terdiri dari 2 lapisan utama

    Sering menyebabkan blooming di perairan

    Hidup melayang pada atau dekat permukaan air

    Hidup secara koloni

    Jikan mati menghasilkan bau busuk

    Menurut Dermawan (2005), klasifikasi phylum Chlorophyta yaitu:

    Phylum

    : Chlorophyta

    Class

    : Chlorophyceae

    Order

    : Chlorococcales

    Family

    : Scenedesmaceae

    Genus

    : Scenedesmus

    • B. PHYLUM CHYANOPHYTA

    Menurut Agus (2008), klasifikasi Cyanophyta yaitu:

    Ada satu kelas pada kelas Cyanophyta yaitu Cyanophyceae Ada 3 klas pada Cyanophyta yaitu:

    1.

    Chroococcelles

    • 2. Oscillatoriales

    • 3. Chamasiphonales

    • 1. Ordo Chroococcelles

    Tidak menghasilkan spora

    Unicell,koloni

    Reproduksi ada 2 cara, yaitu:

    -Pembelahan sel dengan cara unicell

    -Fragmentasi dengan cara koloni

    Mempunyai 1 Family yaitu Chroocacceae

    Contoh Genus: Gloeocapsa,Chroococcus,Microcytis

    • 2. Ordo Oscillatoriales

    Tidak menghasilkan spora

    Saluran Filamen

    Sebagian punya heterocyst dan sebagian tidak

    Reproduksi: Fragmentasi (umumnya) dansebagian akineta

    Ada 3 Family, yaitu:

    • - Oscilla toriaceae ( tidak punya heterocyst) Contoh Genus: Oscillatoria,Lyngbya,Spicullina,Arthospira.

    • - Nostocaceae (mempunyai heterocyst serta memproduksi alarela) Contoh Genus: Nostoc,Arabaeara.

    • - Rivulariaceae (punya heterocyst serta sebagian mempunyai akinae) Contoh Genus: Rivularia,Gloetichia.

    • 3. Ordo Chamasiphonales

    Menghasilkan spora

    Unicell,Filamen

    Ada 2 Family,yaitu:

    • - Chamaesiphonaceae

    • - Dermocarpaceae Contoh Genus: Chamaesiphon, Dermocarpa

    C. PHYLUM CHRYSOPHYTA

    Kromotopora dari Chrisophyta sering kali terlihat jelas memiliki warna kuning-coklat karena adanya B karoten yang dominan dan tambahan karotenoid Xanthophylus pada colonial A. Umumnya alga Chrysophyta berada dalam bentuk uniseluler, sedikit yang berkoloni dan jarang yang berfilamen. Pada kelompok ini banyak spesies tidak memiliki membrane sel dan diikat hanya oleh membrane sitoplasma, beberapa memiliki permukaan sel, hanya ditutupi oleh lapisan/kalsium yang tipis (Asriyana dan Yuliana,2012).

    Menurut Smith (2005), berikut klasifikasi salah satu phylum Chrysophyta:

    Kingdom

    : Chloromaineda

    Phylum

    : Chrysophyta

    Class

    : Chrysophyta

    Ordo

    : Naviculates

    Genus

    : Navicula

    Menurut Kemdiknas (2010), klasifikasinya dari salah satu phylum Chrisophyta:

    Kingdom

    : Viridiplante

    Phylum

    : Chrisophyta

    Class

    : Diatomophyceae

    Ordo

    : Bacillaria

    Family

    : Bacillaria ceap

    Genus

    : Bacillaria

    Spesies

    : Bacillaria sp

    D. PHYLUM RODOPHYTA

    Menurut Gandjurr et.al , (1988), Rhodophyta (Yunani: Rhodon + phyton = tumbuhan) hampir sama hidup dilaut, chlorophyl biasanya tertutup oleh pigmen-pigmen merah, siklus hidupnya rumit, makanan disimpan sebagai karbohidrat yang bukan pati, spesies Rhodophyta kira-kira ada 2500 jenis spesies.

    Menurut Smith (2005), klasifikasinya salah satu phylum Rhodophyta:

    Kingdom

    : Plantae

    Phylum

    : Rodophyta

    Class

    : Rodhophyta

    Ordo

    : Gigantiralles

    Family

    : Gracilariaceae

    Genus

    : Gracillaria

    Spesies

    : Pedicellata

    Menurut Jennifer (2009), klasifikasinya phylum Rhodophyta:

    Kingdom

    : Protista

    Phylum

    : Rhodophyta

    Class

    : Rhodophicaeae

    Genus

    : Dasya

    Spesies

    : Pedicellaria

    E. PHYLUM DIMOFLAGELLATA

    Dimoflagellata merupakan organisme terpenting setelah diatom sebagai produsen makanan (phytoplankton) pada habitat air laut. Dimoflagellata mempunyai 2 flagella yang letaknya berdasarkan satu sama lain dan biasanya terjebak pada pusat sel (Herawati dan

    Lusiani,2005).

    Menurut Smith (2005),klasifikasinya dari salah satu phylum Dimoflagellata:

    Kingdom

    : Plantae

    Phylum

    : Dimoflagellata

    Class

    : Dinoflagellata

    Ordo

    : Gonyaulacules

    Family

    : Gonyaulaceae

    Genus

    : Gonyaulax

    Spesies

    : Gonyaulax balechii Menurut Diantoro (2011), klasifikasinya salah satu

    Dimoflagellata:

    Kingdom

    : Protista

    Phylum

    : Dimoflagellata

    Class

    : Dimoflagellaea

    Family

    : Dimophyceae

    Genus

    : Dynophysis

    Spesies

    : Exuriella marina

    2.1.4 KLASIFIKASI ZOOPLANKTON A. PHYLUM ROTIFERA

    Menurut Edmanson (1903) dalam Jani (2005), Bronchious merupakan salah satu rotifera yang diklasifikasikan berdasarkan tingkat hirarkinya:

    Phylum

    : Rotifera

    Kelas

    : Monogonanta

    Ordo

    : Plaima

    Family

    : Branchionidae

    Genus

    : Branchinous

    Spesies

    : Branchinous pliocilitis

    Menurut Lubzens,et.al,(1989) dalam Sumartini (2005), Rotifera memiliki karakteristik seperti ukuran yang kecil, kecepatan renang rendah dan melayang di dalam air, dapat dikultur. Pada kepadatan tinggi, pertumbuhan cepat dan berukuran pendek serta dapat dilakukan pengayaan dengan asam lemak atau anti biotik yang dibutuhkan dalam pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva.

    B. PHYLUM ARTHROPODA

    Menurut Hadi (2011), klasifikasi Arthropoda meliputi:

    Filum Arthropoda

    : Arthropoda

    SubFilum Tribolita SubFilum Chol

    : Hanya diketahui dari fosil : Cerata

    Kelas

    Merostomata

    Kelas

    Arachnida (laba-laba,kalajengking)

    Kelas

    Pyenogonida

    SubFilum Crustacea

    : Krustacea

    Kelas

    Branchipoda

    Kelas Copepoda

    Kelas Ostrocoda

    Kelas

    Cirripoda

    Kelas

    Moluscotraca (udang,kepiting)

    SubFilum Uniramia

    Kelas

    Onychopora

    Kelas

    Diclopoda

    Kelas

    Chillipoda

    Kelas

    Pauroda

    Kelas

    Syimpila

    Kelas

    Entomoripha

    Kelas

    Insecta

    Menurut Gillet dan Conrod (2011), klasifikasi Arthropoda, meliputi:

    Phylum

    : Arthropoda

    Sub Filum

    : Chelicerata

    Klass

    : Arachnidae

    Order

    Araneale

    Order

    Pseudes corpioner

    Order

    Solpiugida

    Order

    Akaniformes

    Sub Filum

    : Crustacea

    Klass

    : Crustacea

    Order

    Notootracea

    Order

    Corchostracea

    Order

    Tsopoda

    Order

    Decapoda

    Sub Filum

    : Uniramia

    Klass

    Insecta

    Klass

    Chillopoda

    C. PHYLUM COPEPODA

    Mysocylops adalah cyclopoid Copepoda merupakan salah satu predator yang saat ini potensinya sebagai jasad pengendali jentik nyamuk masih terus diteliti

    (Malen, 2011 dalam Widyastuti et.al, 2010).

    Mysocyclops dapat bertahan hidup selama dalam rotasi populasi Copepoda (Widyastuti. et.al, 2010).

    Komunitas Zooplankton (dengan total dari 92 spesies) adalah diperoleh dari Dadidocera (11 spesies), Copepoda (2 spesies), Rotifera (78 spesies). Kebanyakan diperoleh oleh Family Cladocera yaitu Basminidae (25 spesies), Cydoridae (3 spesies) dan Daphillinidae (3 spesies). Copepoda diperoleh oleh Family Cyclopidae dan Diaptomiae tiap Family 1 spesies.

    • 2.2 PARAMETER KUALITAS AIR DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

    KEHIDUPAN PLANKTON (FITOPLANKTON

    DAN ZOOPLANKTON).

    Air merupakan kebutuhan pokok bagi makhluk hidup dan merupakan sumber daya alam,sehingga keberadaannya perlu dimanfaatkan. Di samping itu air menjadi perantara bagi penyakit menular. Krena keberadaannya dan

    pemanfaatannya perlu diawasi agar kualitasnya tetap terjaga dan tidak membahayakan bagi kesehatan. Sumber air adalah wadah air yang terdapat di atas dan di bawah permukaan air tanah, termasuk dalam pengertian ini akuifer, mata air, sungai, rawa, danau, situ, waduk, dan muara. Kualitas air adalah upaya pemeliharaan kualitas air sehingga tercapai kualitas yang diinginkan sesuai peruntukannya untuk menjamin agar kualitas air tetap dalam kondisi alamiahnya. Air mengandung zat organic dan unsur lainnya akan mempengaruhi besarnya Chlorin demand sehingga diperlukan konsentrasi klorin yang makin tinggi (Widyastuti, 2005).

    Faktor yang mempengaruhi kehidupan plankton (Fitoplankton dan Zooplankton). Fitoplankton terdiri dari berbagai spesies dengan karakteristik morfologis (warna) masing-masing air hijau tua, didominasi Chlorophyta. Warna air hijau kecoklatan, didominasi diatom (Kelas Bacillariophyta). Warna air coklat kecerahan, didominasi diatom (Kelas Dimoflagellata) (Peid and Wood, 1976 dalam Koestawa, 2005).

    2.2.1. Suhu

    Suhu adalah besaran yang menyatakan derajat panas dinginnya suatu benda beserta alatnya termometer yang dibuat berdasarkan sifat termometrik. Pada hakikatnya suhu adalah ukuran energi kinetik rata-rata yang dimiliki oleh molekul-molekul benda. Dengan demikian, suhu menggambarkan bagaimana gerakan molekul-molekul benda. Sebagai contoh kita memanaskan sebatang besi. Besi akan memuai dan beberapa sifat fisik benda tersebut akan berubah. Sifat-sifat benda yang bisa berubah akibat adanya perubahan suhu disebut sifat termometrik (Atophysics, 2011).

    Suhu adalah panas dinginnya suatu substrat variabel lingkungan penting untuk organisme akuatik. Pergantian atau pencampuran air akan mempengaruhi suhu tinggi. Kisaran optimal suhu umum adalah 28°C - 32°C. Sedangkan pada suhu rendah berkisar kurang dari 25°C. Air memiliki

    keistimewaan dimana saat didinginkan, air menyusut hingga mencapai 4°C. Jika didinginkan kembali, air justru memuai hingga suhunya 0°C. Apabila suhu turun, permukaan air pada sebuah danau lebih dingin akibat air permukaan yang tenggelam karena massa jenisnya lebih besar (Perry, 2005).

    2.2.2. pH

    pH merupakan derajat keasaman untuk menyatakan tinggi keasaman atau basa yang dimiliki oleh suatu zat, larutan, dan benda. pH normal memiliki nilai 7. Sementara bila nilai pH lebih dari 7 menunjukkan zat tersebut memiliki sifat basa, sedangkan nilai pH lebih kecil dari 7 menyatakan suatu zat yang bersifat asam. Adapun nilai pH 0 menunjukkan derajat keasaman yang tinggi dan nilai pH 14 menunjukkan derajat kebasaan tertinggi. Indikator asam-basa dapat diukur menggunakan pH meter yang bekerja berdasarkan prinsip elektrolit atau konduktivitas suatu larutan. Definisi yang formal dari tentang pH adalah negatif logaritma dari aktivitas ion hidrogen. pH merupakan singkatan dari Power of Hydrogen (Chapter, 2006).

    pH adalah suatu variabel yang harus diukur dan dikontrol. Terutama sekali bila hasil (produk) pengolahan proses akan dikonsumsi makhluk hidup. Proses penetralan pH adalah bagian dari pengolahan limbah khususnya air bersih. Kesulitan dalam perancangan dan pengendalian pH dikarenakan karakteristik non linear pH yang memiliki rumus :

    pH = - log [H + ]
    pH = - log [H + ]

    dengan persamaan polynomial orde tinggi untuk H + . Ion H + dalam suatu larutan asam-basa dengan menggabungkan pendekatan secara fisika dan kimia (Psycho- chemil at approach). pH yang optimum untuk proses koagulasi yang akhirnya dapat

    diaplikasikan untuk meningkatkan kinerja membran dan kualitas air olahan. Semakin besar nilai pH umpan, maka semakin kecil nilai efektivitas koagulasi-nya baik berdasarkan TOS maupun COD (Lubis, 2005).

    • 2.2.3. Kecerahan

    Kecerahan air bergantung pada warna dan kekeruhan. Kecerahan merupakan transparansi perairan yang ditentukan secara visual dengan menggunakan secchidisk. Nilai kecerahan dinyatakan dalam satuan meter. Kecerahan dipengaruhi oleh keadaan cuaca, waktu pengukuran, kekeruhan, dan peralatan tersuspensi serta ketelitian orang yang melakukan pengukuran. Pengukuran dilakukan disaat cuaca cerah (Effendi,

    2005).

    Kecerahan air yang diukur dari permukaan sampai permukaan dengan kedalaman enam meter memiliki nilai kecerahan berkisar 70-80 cm. perbedaan kisaran nilai kecerahan pada tiap lokasi dapat disebabkan oleh faktor biologi yang berupa plankton dan faktor fisika yang berupa perbedaan padatan tersuspensi dan terlarut (Rahau,et.al., 2007).

    Berdasarkan nilai korelasi antar parameter bio-fisika kimia perairan, kelimpahan fitoplankton berkolerasi erat dengan kecerahan dan kelimpahan zooplankton. Dimana kecerahan berkaitan dengan intensitas cahaya matahari yang kemudian berpengaruh terhadap proses fotosintesis oleh fitoplankton. Makin besar kecerahan suatu perairan maka laju fotosintesis makin tinggi (Erik, 2006).

    • 2.2.4. DO (Dissolved Oxygen)

    Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen) dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernafasan, proses metabolism, atau penukaran zat yang kemudian menghasilkan energy untuk pertumbuhan dan pembiakan. Di samping itu, oksigen juga dibutuhkan untuk oksidasi bahan-bahan organic dan anorganik dalam proses aerobic. Sumber utama oksigen dalam suatu perairan berasal dari suatu proses difusi dari udara bebas dan hasil fotosintesis. Kecepatan difusi oksigen dari udara,

    tergantung dari beberapa faktor seperti kekeruhan, air, suhu, salinitas, pergerakan, massa air, dan udara seperti arus, gelombang, dan pasang surut. Jika kedalaman bertambah maka akan terjadi penurunan kadar oksigen terlarut (Salim, 2010).

    Penurunan jumlah oksigen akibat peningkatan konsentrasi ammonia merupakan ancaman bagi hewan abiotik. Konsentrasi oksigen rendah akan meningkatkan kecepatan respirasi. Menurut efisiensi respirasi dan pertumbuhan yang dapat berakhir pada kematian missal. Konsentrasi oksigen terlarut merupakan parameter yang sangat penting dalam menentukan kualitas perairan. Konsentrasi oksigen ditentukan oleh keseimbangan antara produksi dan konsumsi oksigen dalam ekosistem. Oksigen diproduksi oleh komunitas autrotof melalui proses fotosintesis (Miller, 2005).

    2.2.5. CO 2 (Karbon Dioksida)

    CO 2 di dalam air berwujud gas. Gas CO 2 tidak hanya berada di dalam air. Akan tetapi, juga berada di udara bebas. Karbon di-oksida atau gas asam arang dihasilkan sebagai produk dari proses respirasi makhluk hidup dari proses penguraian bahan organik. Kandungan karbon di-oksida sebaiknya seminimal mungkin. Jumlah kandungan karbon di-oksida sangat tergantung dari oksigen terlarut di dalam air (Hambali, 2010).

    Karbon di-oksida merupakan salah satu unsur makanan penting yang diperlukan oleh semua tumbuhan air untuk berasimilasi, misalnya fitoplankton, algae, dan lain-lainnya. Tumbuhan air merupakan salah satu faktor penyubur perairan yang bermanfaat untuk pertumbuhan ikan karena dapat menjadi makanan alami ikan. Perairan yang subur tampak berwarna hijau agak kecokelatan. Kesuburan tumbuhan di perairan di tentukan oleh kadar CO 2 terlarut di dalam air. Jumlah CO 2 yang kurang mencukupi akan mengurangi kesuburan perairan karena pertumbuhan tumbuhan air tidak subur. Kadar CO 2 terlarut dalam air juga mempengaruhi pH perairan yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap semua biota perairan (Bambang, 2011).

    2.2.6.

    Nitrat

    Nitrat merupakan hasil dari reaksi biologi yaitu nitrogen organik, limbah industri, dan domestik yang mengandung nitrat dan menjadi poksi untuk permukaan air. Nitrat merupakan elemen pada perairan alami yang merupakan mineral netral yang jumlahnya sedikit (Susanto, 2008).

    Komposisi organik sebenarnya merupakan substansi yang dapat ditemukan dan dilapisi biosfat yang sulit untuk dibuktikan dengan air murni. Akan tetapi, dapat diperkirakan dengan derajat dan dengan kekuatan pengamatan bahan organik (Hutchinson, 2008).

    • 2.2.7. Phosphat

    Orthopospat merupakan bentuk sederhana fosfat di dalam air dan ortofosfat terlarut dapat digunakan oleh dan tanaman. Fosfat yang terlarut di perairan alami merupakan hasil dari proses pelapukan, buatan alami, erosi tanah, pemupukan, dan fosil, serta mineralisasi bahan organik yang berasal dari tubuh biota nabati dan hewani (Arfiati, 2005).

    Komposisi organic sebenarnya merupakan substansi bekas yang dapat ditemukan di lapisan biosfer yang sulit dibuktikan. Kesulitan tersebut dapat ditemukan dalam air murni yang dapat diperkirakan dengan derajat. Dengan kekuatan pengamatan secara kuantitatif dalam menganalisis bahan organik ( Hutchinso, 2008).

    • 2.2.8. TOM (Total Organic Matter)

    Nutrisi organik karbohidrat, protein, lemak, dan vitamin digunakan oleh jasad itu sendiri. Jasad merupakan sumber nutrisi dar jasad heterotrof seperti zooplankton (Ekawati, 2005).

    Zooplankton biasanya banyak terdapat di perairan yang kaya bahan organik. Karena, baik bahan organik maupun bakteri yang terdapat di dalam pupuk organik merupakan makanan zooplankton (Jusin, 2008).

    2.3. MATERI KELIMPAHAN PLANKTON

    Menurut Odum (1971), kelimpahan plankton baik fitoplankton maupun zooplankton yang ditemukan selama penelitian nilainya bervariasi. Baik pada setiap kedalaman ataupun di lokasi pengambilan. Tingginya nilai kelimpahan yang diperoleh disebabkan oleh parameter-parameter lingkungan yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan plankton pada kisaran

    yang sesuai seperti suhu dan pH perairan pada nilai optimal. Parameter fisika dan kimia seperti suhu, nitrat, dan fosfor merupakan faktor utama dalam menunjang pertumbuhan plankton disamping penetrasi cahaya matahari. Nilai kelimpahan berkisar antara 393,75 4887,5 inci / kedalaman untuk fitoplankton yang hidup di kedalaman 0,2 meter. Sedangkan pada kedalaman

    • 2 4 meter, nilai kelimpahannya berkisar antara 1668,75 4743,75

    inci/kedalaman. Sedangkan untuk zooplankton yang hidup pada kedalaman 0,2 meter memiliki nilai kelimpahan sebesar 93,75 993,75 ind / L. Sedangkan pada kedalaman 0 2 meter, nilai kelimpahan zooplankton berkisar 318,75 787,5 ind/L. Dan untuk kedalaman 2 4 meter nilai kelimpahan zooplankton berkisar 93,75 787,5 ind/L. Serta untuk kedalaman

    • 4 6 meter, nilai kelimpahan zooplankton adalah 375 993,75 ind/L. Menurut Laaner (1976), kesuburan perairan berdasarkan kelimpahan plankton dapat dibedakan menjadi tiga yaitu :

    Oligotrofik ( jumlah fitoplankton dari 0 2000 individu)

    Mesotrofik ( jumlah fitoplankton dari 200 15000 individu)

    Eutrofik

    ( jumlah fitoplankton lebih dari 15000 individu)

    2.3.1. Indeks Keragaman

    Menurut Madnawati (2010), distribusi dan komposisi jenis plankton dapat diketahui dengan mengetahui Index Diversity (H’) menggunakan rumus Shannon dan Weaver yaitu :

    dimana :

    H’

    = Indeks Keragaman Jenis

    Pi

    = Proporsi kelimpahan dari jenis

    ni

    = jumlah individu dari jenis plankton

    N

    = Jumlah total individu plankton

    Kisaran total indeks keragaman dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

    H’ < 2,3026

    : menyatakan keanekaragaman rendah

    2, 3026 < H’ < 6,9078 : menyatakan keanekaragaman sedang

    H’ < 6,9078

    : menyatakan keanekaragaman tinggi

    Menurut Sugianto, et.al (2009), indeks keragaman fitoplankton dihitung menggunakan persamaan Shannon dan Weaver. Perhitungan ini menggambar analisis informasi mengenai jumlah individu serta beberapa banyak jenis yang ada dalam suatu komunitas. Rumus perhitungan yang digunakan adalah :

    dengan :

    H’

    = Indeks Keragaman Shanon-Weaver

    Pi

    = ni/N

    ni

    = jumlah individu dari jenis ke-1

    N

    = Jumlah seluruh individu

    2.3.2. Indeks Dominasi

    Nilai Indeks Dominasi termasuk dalam kisaran rendah. Ini disebabkan nilai indeks pada setiap kedalaman dan pada tiap lokasi menunjukkan nilai mendekati nol dengan kisaran 0,072 0,31. Indeks Dominasi pada semua kedalaman 0 2 meter nialinya berkisar 0,10 0,24. Pada kedalaman 2 4 meter nilainya berkisar 0,11 0,21. Sedangkan, pada kedalaman 4 6 meter nilainya berkisar antara 0,072 0,31. Indeks Kemerataan pada semua kedalaman nilainya mendekati satu yaitu berkisar antara 0,65 0,85. Pada kedalaman 0,2 meter nilainya berkisar antara 0,76 0,85. Sedangkan pada kedalaman 2 4 meter berkisar antara 0,66 0,83. Dan pada kedalaman 4 6 meter berkisar antara 0,66 0,73 (Madinawati, 2010).

    Menurut Simpson ( 2009 ), Indeks Dominasi (D) yaitu :

    dengan : D ni N

    = Indeks Dominasi = jumlah individu jenis ke-1 = jumlah total individu

    Nilai D mendekati nol mengartikan bahwa tidak ada jenis yang mendominasi dan apabila nilai D mendekati nilai satu menyatakan bahwa terdapat jenis yang mendominasi.

    III.

    MATERI DAN METODE

    3.1 ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM 3.1.1 Parameter Kualitas Air

    a). Suhu Alat-alat yang digunakan ialah :

    Thermometer Hg Tali raffia

    : untuk mengukur suhu perairan kolam. : untuk mengikat ujung thermometer Hg.

    Bahan-bahan yang digunakan ialah :

    Air sampel kolam

    : tempat yang diukur suhunya

    b). PH

    Alat-alat yang digunakan ialah :

    Kotak standart pH

    : untuk menentukan besarnya pH perairan sungai dengan warna pada pH paper.

    Stopwacth

    : untuk mengukur waktu.

    Bahan-bahan yang digunakan ialah :

    Sampel air kolam tradisional : tempat yang diukur besarnya pH.

    pH paper

    : untuk mengukur besarnya pH air kolam.

    c). Kecerahan

    Alat-alat yang digunakan ialah :

    Secchi disk

    : untuk mengukur kecerahan pada perairan

    Penggaris

    : untuk mengukur d1 dan d2

    Bahan-bahan yang digunakan ialah :

    Sampel air kolam

    : sebagai air yang akan diukur tingkat kecerahannya

    d). DO (Dissolved Oxygen) Alat-alat yang digunakan ialah :

    Botol DO

    : untuk wadah sample air kolam tradisional.

    Biuret

    : sebagai wadah dalam proses titrasi.

    Statif

    : sebagai penyangga biuret saat titrasi.

    Pipet tetes

    : untuk mengambil larutan MnSO4, NaOH + KI,

    Corong

    H2SO4 dalam skala kecil. : untuk membantu memeasukkan larutan kedalam

    Washing bottle

    biuret. : sebagai wadah aquades.

    Bahan-bahan yang digunakan ialah :

    Air sample

    : air yang diukur kadar DOnya

    MnSO4

    : untuk mengikat O2.

    NaOH + KI

    : membentuk endapan cokelat dan melepas I2.

    H2SO4

    : untuk melarutkan endapan cokelat dan mengoksidasi asam.

    Amilum

    : indikator suasana basa dan indikator warna ungu.

    Na2S2O3

    : sebagai penitrasi larutan dan untuk mengikat I2 serta

    Kertas label

    membentuk bair menjadi bening : untuk menandai alat agar tidak tertukar.

    Aquades

    : untuk membersihkan alat.

    e). Karbondioksida (CO2) Alat-alat yang digunakan ialah :

    Erlenmeyer 250 ml Gelas ukur 25 ml Biuret Statif Pipet tetes

    : sebagai tempat pereaksi larutan. : untuk mengukur volume larutan air sample. : wadah Na2CO3 saat titrasi. : untuk penyangga biuret. : untuk mengambil larutan pp dalam jumlah kecil.

    Botol aqua

    : wadah air sampel kolam tradisional.

    Bahan-bahan yang digunakan ialah :

    Na2CO3

    : untuk mengikat CO2 bebas diperairan menjadi 2NaHCO3.

    PP

    : indikator basa dan indikator warna.

    Air sample

    : bahan yang diukur kadar CO2nya.

    Kertas label

    : untuk menandai alat agar tidak tertukar.

    f). Nitrat Nitrogen Alat-alat yang digunakan ialah :

    Gelas ukur

    : untuk mengetahui besarnya volume suatu larutan

    Pipet tetes

    : untuk mengambil larutan asam fenol dalam skala

    Cawan porselen

    kecil. : media untuk membuat kerak.

    Spatula

    : untuk menghomogenkan larutan.

    Cuvet

    : sebagai wadah larutan dan larutan baku standart.

    Rak cuvet

    : untuk meletakkan cuvet.

    Washing botle

    : untuk tempat aquadest.

    Pipet volume

    : mengambil larutan NH4OH dalam jumlah besar,

    Bola hisap

    : membantu mengambil larutan NH4OH yang

    Hot plate

    disambungkan ke pipet volume. : untuk memanaskan dan menguapkan air sampel yang

    Beaker glass Spektrofotometer

    terdapat pada cawan porselen. : untuk wadah larutan Nessler. : untuk mengetahui nilai nitrat nitrogen secara digital melalui panjang gelombang cahaya.

    Bahan-bahan yang digunakan ialah :

    NH4OH

    : untuk melarutkan lemak, minyak dan kerak.

    Asam fenol disulfonik : untuk melarutkan kerak nitrat.

    Larutan baku standart : sebagai pembanding secara visual.

    Tissue

    : untuk membersihkan alat yang telah digunakan.

    Air sample

    : bahan yang diukur kadar nitrat nitrogennya.

    Kertas label

    : untuk menandai alat agar tidak tertukar.

    Aquadest

    : untuk kalibrasi dan mengencerkan larutan asam fenol

    Kerak nitrat

    disulfonik dan NH4OH. : sebagai bahan yang diuji kandungan nitratnya.

    Kertas saring

    : menyaring air sampel kolam tradisional.

    g). Orthofosfat

    Alat-alat yang digunakan ialah :

    Gelas ukur

    : untuk mengukur volume air sample kolam.

    : untuk menyimpan larutan.

    Erlenmeyer

    : untuk mereaksikan larutan air sample kolam +

    Cuvet

    SnCl2 + ammonium molybdat.

    Pipet tetes

    : untuk mengambil larutan SnCl2 + ammonium

    Rak cuvet Spektrofotometer

    molybdat : untuk meletakkan cuvet. : untuk mengetahui nilai nitrat nitrogen secara digital melalui panjang gelombang cahaya.

    Bahan-bahan yang digunakan ialah :

    SnCl2

    : indicator warna biru dan pereduksi larutan.

    ammonium molybdat : untuk mengikat fosfat dan membentuk ammonium fosfomolybdat. Larutan baku standart : untuk pembandingan.

    Sample air

    : sebagai bahan yang diukur orthofosfatnya.

    Kertas label

    : untuk menandai alat agar tidak tertukar.

    Tissue

    : untuk membersihkan dan mengeringkan alat

    Kertas saring

    : menyaring air sampel kolam tradisional.

    h). TOM (Total Organic Matter) Alat-alat yang telah digunakan ialah :

    Hot plate

    : untuk memanaskan larutan air sample + KMnO4 +

    H2SO4.

    Erlenmeyer Thermometer Hg

    : untuk mereaksikan larutan : untuk mengkur suhu larutan air sample saat

    Pipet tetes

    dipanaskan. : mengambil larutan Na-oxalate dalam skala kecil.

    Bola hisap

    : membantu mengambil larutan H2SO4 yang

    Washing botle

    disambungkan ke pipet volume. : wadah aquadest.

    Gelas ukur

    : untuk mengukur volume suatu larutan air sample

    Biuret

    : untuk wadah larutan KMnO4 0,01 N saat titrasi.

    Statif

    : penyangga biuret saat titrasi.

    Stirrer

    : untuk membantu menghomogenkan larutan.

    Sentrifuge

    : alat pengaduk.

    Corong

    : untuk membantu memeasukkan larutan kedalam biuret.

    Bahan-bahan yang digunakan ialah :

    KMnO4

    : sebagai oksidator dan pengikat bahan organik.

    H2SO4 (1:4)

    : indikator asam dan mempercepat reaksi.

    Na-oxalate

    : untuk pereduktor.

    Sample air

    : bahan yang diuji kadar TOMnya.

    Kertas labe

    : untuk menandai alat agar tidak tertukar.

    Aquadest

    : untuk mengencerkan larutan.

    Tissue

    : untuk membersihkan dan mengeringkan alat

    3.1.2 Pengambilan Sampel Plankton Alat alat yang digunakan adalah :

    Ember 5 L Plankton net Botol film Karet gelang

    : untuk mengambil air kolam. : untuk mengumpulkan plankton. : Sebagai wadah sampel air kolam. : untuk mengikat botol film pada ujung plankton net agar tidak lepas.

    Pipet tetes

    : untuk mengambil amilum dalam skala kecil.

    Solasi

    : untuk melapisi botol film agar lebih rapat.

    Gunting

    : untuk menggunting solasi

    Bahan bahan yang digunakan adalah :

    Air sampel

    : bahan (perairan) yang diukur kelimpahan planktonnya.

    Lugol

    : untuk bahan preservasi

    Kertas label

    : untuk menandai alat agar tidak tertukar.

    3.1.3 Pembuatan Preparat dan Pengamatan Plankton Alat alat yang digunakan adalah :

    Mikroskop

    : untuk mengamati plankton.

    Objek glass

    : sebagai alas sampel air.

    Cover glass

    : untuk menutupi sampel air pada objek glass.

    Washing bottle

    : wadah aquades.

    Pipet tetes

    : untuk mengambil sampel air dalam skala kecil.

    Nampan

    : untuk tempat alat dan bahan.

    Bahan bahan yang digunakan adalah :

    Sampel plankton Tissue

    : air yang diamati kandungan planktonnya. : untuk membersihkan alat.

    Aquadest

    : untuk membersihkan/mengkalibrasi objek glass dan cover glass.

    3.2 METODE PRAKTIKUM

    3.2.1 Suhu

    Thermometer Hasil
    Thermometer
    Hasil

    dimasukkan / dicelupkan ke dalam air selama ± 1 menit dengan posisi membelakangi matahari

    diusahakan jangan menyentuh tangan secara langsung

    ditunggu hingga 1-2 menit

    dilakukan pembacaan di dalam perairan

    dicatat dalam skala 0 C

    3.2.2 pH

    pH paper Hasil
    pH paper
    Hasil

    dimasukkan ke dalam perairan

    ditunggu hinga 1-2 menit

    diangkat dari air dan dikibas-kibaskan hingga setengah kering

    dicocokkan warnanya dengan warna yang tertera pada kotak pH (pH standart)

    dicatat kadar pHnya

    3.2.3 Kecerahan

    Secchi Disk Hasil
    Secchi Disk
    Hasil

    dimasukkan ke dalam perairan sungai

    dilihat sampai secchi disk tidak tampak pertama kali

    ditandai dengan karet gelang sebagai

    ditenggelamkan secchi disk hingga benar-benar tidak tampak

    diangkat pelan-pelan secchi disk hingga pertama kali terlihat

    ditandai dengan karet gelang sebagai

    dihitung kecerahan dengan rumus

    3.2.4 DO ( Disolve Oksigen )

    BOTOL DO Dicatat volume botol Botol DO yang Sudah Terisi Air Sampel Dibuka botol DO Ditambah
    BOTOL DO
    Dicatat volume botol
    Botol DO yang Sudah Terisi Air Sampel
    Dibuka botol DO
    Ditambah 2 ml MnSO 4
    Ditambah 2 ml NaOH+KI
    Diendapkan sekitar 30 menit
    Botol DO yang Terbentuk Endapan Coklat
    Tambahkan 2 ml larutan H 2 SO 4
    Tambahkan 3-4 tetes amylum
    Dihitung dengan rumus
    Hasil

    Dibuang air yang bening diatas endapan

    Dimasukkan ke dalam perairan, dimiringkan sebesar 45 secara perlahan

    Ditunggu sampai penuh hingga tidak ada gelembung

    Ditutup botol do di perairan, jika terjadi gelembung pada botol do ulangi sekali lagi pengambilan sampelnya

    Dihomogenkan sampai membentuk endapan coklat

    Dititrasi dengan Na 2 S 2 O 3 sampai jernih pertama kali

    Dicatat volume larutan Na 2 S 2 O 3 yang dipakai dalam titrasi

    3.2.5 CO 2 ( Karbondioksida )

    Air Kolam Hasil
    Air Kolam
    Hasil

    Diambil dari perairan dengan botol 600 ml

    Diukur 25 ml dengan gelas ukur

    Dimasukkan kedalam Erlenmeyer

    Ditambahkan 2-3 tetes pp

    Jika berwarna pink maka tidak perlu dititrasi langsung diamati

    Tapi jika tidak berwarna pink maka dititrasi dahulu dengan Na 2 CO 3 hingga

    berwarna pink pertama kali

    Dihitung volume Na 2 CO 3 yang dikeluarkan

    Dihitung dengan rumus

    3.2.6 Nitrat Nitrogen

    Diambil air sampel sebanyak 12,5 ml dengan gelas ukur 12,5 ml

    Disaring air sampel dengan kertas saring

    Dituangkan pada cawan porselen

    Dipanaskan diatas hotplate

    Diuapkan sampai terbentuk kerak nitrat

    Diangkat dan didinginkan

    Ditambahkan 0,5 ml asam fenol disulfonik dengan pipet volume

    Diaduk dengan spatula sampai kerak terlarut

    Diencerkan dengan 2,5 ml aquades

    Dimasukkan ke beaker glass

    Ditambahkan NH 4 OH sampai terbentuk warna kuning yang konstan

    Dipindahkan ke gelas ukur

    Diencerkan dengan akuades sampai 12,5 ml

    Dimasukkan ke dalam cuvet

    Dihitung nitrat nitrogen dengan spektrofotometer, ƛ = 410 µm dan diperoleh nilai y

    Dihitung dengan rumus Y=ax + b

    3.2.7

    Orthofosfat

    Air Kolam Hasil
    Air Kolam
    Hasil

    Diambil air sampel 12,5 ml dengan gelas ukur

    Dituangkan ke dalam Erlenmeyer

    Ditambahkan 1 ml ammonium molybdat dan dihomogenkan

    Diberi 2 tetes SnCl 2 dan dihomogenkan hingga berubah warna menjadi biru

    Dimasukkan ke dalam cuvet

    Diukur orthofosfat dengan spektrofotometer, ƛ = 690 µm

    Dihitung dengan rumus Y=ax + b

    • 3.2.8 TOM ( Total Organic Metter)

    Diambil air sampel 25 ml dengan gelas ukur

    Dimasukkan ke dalam Erlenmeyer

    Ditambahkan 5 ml H 2 SO 4 dengan pipet volume dan dihomogenkan

    Dipanaskan diatas hotplate hingga suhu70 o -80 o C

    Diangkat dan didiamkan hingga suhu turun 60 o -70 o C

    Ditambahkan Na-oxalate 0,01 N sampai tidak berwarna

    Dititrasi dengan KMNO 4 0,01 N sampai berwarna pink pertama kali sebagai x ml

    Diambil 2 ml aquadest dan larutan prosedur (1-7) dan dicatat titran yang digunakan sebagai y ml

    Dihitung V.titran yang terpakai

    (

    )

    Dihitung dengan rumus

    3.2.9 Pengambilan Sampel Plankton

    Air Kolam Sampel Plankton Hasil
    Air Kolam
    Sampel Plankton
    Hasil

    Kalibrasi terlebih dahulu plankton net dengan air yang akan diamati

    Botol film dipasang pada ujung plankton net dan diikat

    Ambil sampel air dengan ember 5 L sebanyak 25 L

    Saring menggunakan plankton net

    Sampel disaring dengan cara menggoyangkan plankton net

    Tutup botol film dari dalam plankton net

    Diberi bahan pengawet 3-4 tetes

    Diberi label

    Masukkan ke dalam cool box yang berisi es batu

    Disimpan dalam refrige dengan suhu 4 o C

    3.2.10 Pembuatan Preparat Dan Pengamatan Plankton

    Preparat

    Hasil

    Objek glas dan cover glass dikalibrasi dengan aquadest

    Dibersihkan dengan tissue searah

    Sampel plankton dikocok dengan perlahan

    Ambil sebanyak 1 tetes dengan mengarahkan pipet

    Teteskan ke permukaan objek glass

    Tutup objek glass dengan cover glass dengan kemiringan 45 o

    Apabila terdapat gelembung dalam pembuatan preparat maka harus diulangi lagi

    Mikroskop

       

    Hasil

     

    Preparat plankton diletakkan diatas meja objek

    Nyalakan mikroskop

    Putar pengaturan cahaya dan diafragma

    Pilih pembesaran 40 kali

    Temukan fokus, putar pemutar kasar dan halus sehingga preparat terlihat jelas

    Cari luas bidang pandang

    Dihitung dengan rumus ( B= 1 / 4 π (D) 2 ) , D=D 1 D 2

    Amati plankton yang ada disetiap bidang pandang

    Hitung jumlahnya dan dicari klasifikasinya

    4. HASIL DAN PEMBAHASAN

    4.1. DATA HASIL PENGAMATAN

    4.1.1. Data Tabel Pengamatan Kualitas Air

    Parameter

     

    Waktu ( WIB )

     

    08.45

     

    14.00

    Suhu

    25

    28

    Kecerahan

    39

    cm

    28

    cm

    pH

    8

    8

    DO

    37, 135

    37,96

    CO

    23, 9712

    3,99

    Warna Kolam

    Bening

    Hijau

    Nitrat

    0,554

    0,554

    Fosfat

    0,284

    0,284

    TOM

    121,34

    121,34

    4.1.2 Data Tabel Jenis dan Klasifikasi Plankton

    Jam

    BP

    Gambar

    Jml.

     

    Klasifikasi

    Gamb. Litratur

           
    • 2 Filum

    : Chlorophyta

    2 Filum : Chlorophyta

    Sub.Filum : Chloropyceae

    Ordo

    : Chlorococcales

    Famili

    :

    Dictosphaeriacceae

    (googleimages,2013)

    Spesies

    :

    Dimorphococcus

           
    • 1 Filum

    : Chlorophyta

    1 Filum : Chlorophyta

    Sub.Filum : Chloropyceae

    Ordo

    : Chlorococcales

    Famili

    : Radiococcacea

    Spesies

    : Askenasyella

    (googleimages,2013)

           
    • 1 Filum

    : Chrysophyta

    1 Filum : Chrysophyta

    Ordo

    : Pennales

    Famili

    : Naviculaceae

    Genus

    : Mastugloca

    (googleimages,2013)

    Spesies

    : Mastuglorase

           
    • 1 Filum

    : Chrysophyta

    1 Filum : Chrysophyta

    Ordo

    : Pennales

    Famili

    : Naviculaceae

    Genus

    : Frustula

    Spesies

    : Frustula

    (googleimages,2013)

    rambaldes

           
    • 1 Filum

    : Chlorophyta

    1 Filum : Chlorophyta

    Sub.Filum : Chloropyceae

    Ordo

    : Zygnematales

    Famili

    : Desmidiacene

    Spesies

    : Groenbladia

    (googleimages,2013)

    neglects

           
    • 1 Filum

    : Chlorophyta

    1 Filum : Chlorophyta

    Sub.Filum : Chloropyceae

    Ordo

    : Zygnematales

    Famili

    : Desmidiacene

    Spesies

    : Hyacothea

    (googleimages,2013)

    cadisi

           
    • 1 Filum

    : Baccilanophyta

    1 Filum : Baccilanophyta

    Sub.Filum :

    Baccilanophyceae

    Ordo

    : Rewaber

    Famili

    : Naviculaceae

    (googleimages,2013)

    Spesies

    : Brebissonia

    baecki

           
    • 1 Filum

    : Chordata

    1 Filum : Chordata

    Ordo

    : Pyromatida

    Famili

    : Prosomatidae

    Genus

    : Pyrosoma

    Spesies

    : Pyrosoma

    (googleimages,2013)

    vertillicatum

    neuman

           
    • 2 Filum

    : Chlorophyta

    2 Filum : Chlorophyta

    Sub.Filum : Chloropyceae

    Famili

    : Chlorellacceae

    Genus

    : Seenedes

    macceae

    (googleimages,2013)

    Spesies

    : Dicellula plancto nicaswir

           
    • 2 Filum

    : Chlorophyta

    2 Filum : Chlorophyta

    Sub.Filum : Chloropyceae

    Famili

    : Chlorellacceae

    Genus

    : Palmellopsis

    Spesies

    : Palmellopsis

    gelatinosa

    (googleimages,2013)

           
    • 1 Filum

    : Chlorophyta

    (googleimages,2013)

    (googleimages,2013)

    Ordo

    : Tetrasporales

    Famili

    :

    Glococystaeceae

    Genus

    : Palmellopsis

    Spesies

    : Palmellopsis

     

    gelatinosa

         

    18

    Spesies

    : Hyacothea

    (googleimages,2013)

    (googleimages,2013)

    Candisii

    Family

    : Desimidiacede

    Ordo

    : Zygretotales

    Sub Filum : Chlorophyceae

    Filum

    : Cholorophyta

     

    4.2. Pembahasan

    • 4.2.1. Deskripsi Stasiun Pengamatan

    Pada pratikum Planktonology untuk pratikum lapang dipilih stasiun pengamatan yaitu kolam permanen. Adapun deskrpsi mengenai kolam tersebut yatu dasar kolam berupa beton atau semen dan pinggiran kolam tersebut dari beton juga. Berbentuk segi empat dan terdapat bangunan perpusatakaan dsisi belakang kolam. Kolam dikelilingi tanaman hias dan beberapa pohon palem. Pada sisi timur terdapat kolam permanen juga. Diatas kolam tidak ada penutupan kolam (kolam mendapat matahari secara langsung). Namun ketika sudah pada posisi barat, sinar matahari akan terhalang beberapa pohon. Pada saat pengamatan, kolam permanen tampak berwarna kuning pada pagi hari pukul 08.15 WIB. Sedangkan pada siang hari Pukul 14.00 WIB Kolam tampak berwarna

    • 4.2.2. Hubungan Parameter Kualitas Air Suhu

    a.

    Pada pratikum Planktonology materi pengukuran kualitas air untuk para meter suhu terhadap perairan kolam tipe permanen didapatkan pada pagi hari Pukul 08.45 WIB, suhu perairan sebesar 25 0 C. jika dibandingkan dengan kelimpahan plankton dengan suhu perairan, pada pagi hari pukul 08.45 WIB, dengan suhu 25 0 C kelimpahan plankton divisi lebih. Menurut Effendi (2003) dalam yuliana (2007) kisaran suhu yang optimum untuk pertumbuhan firoplankton diperairan adalah 20 30 0 C. Pada kedalaman 0 2 m suhu air berkisar 30 30 0 C, pada kedalaman 2 4 m suhu air berkisar anatra 29 0 31 0 C. penurunan suhu antar lapisan kedalaman matahari relative kecil. Nilai kisaran tersebut adalah normal bagi perkembangan planton diperairan umum pada daerah tropic 21 31 0 C pada plankton masih dapat berkembang pada suhu antara 20 30 0 C (Rahayu,2007)

    • b. PH Pada pratikum planktonology materi kualitas air untuk parameter PH didapatkan hasil bahwa baik pada pukul 08.45 WIB, maupun pukul 14.00 WIB didapatkan PH sebesar 8. Jika dibandingkan dengan kelimpahan plankton, PH ini bersifat netral PH ini baik karena plankton tetap mengalami pertumbuhan meskipun pertumbuhan ini dipengaruhi factor lain. Nilai PH pada semua reaksi pada setiap kedalaman berkisar antara 7 7,5. PH optimal untuk pertumbuhan fitopalkton berkisar antara 6,0 8,0. Berdasarkan nilai tersebut, maka perairan diwaduk cirara memiliki PH yang normal dan masih mendukung untuk kehidupan fitoplankton (Rahayu, 2007).

    • c. Kecerahan

    Pada pratikum planktonology materi kualitas air parameter kecerahan didapatkan hasil bahwa pada pagi hari pukul 08.45 WIB didapatkan hasil kecerahan 39 cm. sedangkan pada pukul 14.00 WIB kecerahan sebesar 29 cm. jika dibandingkan dengan kelimpahan plankton paling banyak yaitu pada kecerahan.

    Menurut Sumroh (1992) dalam asmara (2005), kemampuan daya tembus sinar matahari keperairan sangat ditentukan oleh warna perairan, kandungan bahan-bahan organit maupun anorganik yang tersuspensi dalam perairan, kepadatan plankton, jafad renik dan detritus. Kekeruhan yang paling baik untuk budidaya ikan adalah disebabkan oleh plankton (Mahyudin,2010).

    • d. DO (Disolved Oksigen)

    Pada pratikum palntonology materi kualitas air untuk parameter DO

    didapatkan dari hasil pukul 08.45 WIB, sebesar 37,135 mg/ℓ. Sedangkan pukul 14.00 WIB didapatkan hasil DO sebesar 8,96 mg/ℓ. Dari data yang

    didapat dari DO pukul 08.45 WIB dan DO pukul 14.00 WIB terjadi

    penurunan kadar DO sebesar 28,175 mg/ℓ. Dibandingkan dengan kelimpahan pada pagi hari pukul 08.45 WIB dengan kandungan DO sebesar 37,135 mg/ℓ dengan kelimpahan chlorophyta sebesar 5988,3 mg/ℓ dan chryzophyta 47.891,1 mg/ℓ. Sedangkan pukul 14.00 WIB didapatkan hasil DO sebesar

    8,96 mg/ℓ dan chryzophyta 5232,1 mg/ℓ dan chlorophyta sebesar 3737,2 mg/ℓ

    dapat disimpulkan bahwa pada pukul 08.45 WIB kandungan DO nya lebih besar dibandingkan jam 14.00 WIB dan kelimpahannya juga lebih banyak pada pukul 08.45 WIB. Oksigen terlarut adalah banyaknya oksigen yang terlarut dalam massa air melalui proses difusi oksigen yang bisa masuk kedalam air. Jika kerapatan molekul molekul air rendah kondisi ini tercapai bila suhu rendah. Sebaliknya, jika suhu tinggi suhu air, kecepatan molekul air makin tinggi dan

    akibatnya oksigen semakin sulit masuk kedalam massa air (Kuncoro,2008).

    • e. CO 2 Pada pratikum Planktonology materi kualitas air untuk parameter CO 2 didapatkan hasil pada pukul 08.45 WIB. Kadar CO 2 sebesar 23,9712 mg/ℓ dan pada siang hari kadar CO 2 sebesar 3,99 mg/ℓ. Sedangkan bila dilihat dari hasil kelimpahan plankton pada jam 08.45 WIB. Karbondioksida sangat diperlukan untuk proses fotosintesis yaitu sebagai sumber karbon. Karbondioksida disetiap kedalaman nilainya turun, pada kedalaman 0 - m nilainya berkisar antara 4,99 6,59. Pada kedalaman 2 4 m nilainya berkisar antara 4,39 6,39 dan kedalaman 4 6 m nilainya berkisar antara 4,30 – 5,99 mg/ℓ (Rahayu,2007).

    • f. Nitrat Berdasarkan pada pratikum yang telah dilakukan didapatkan nilai nitrat perairan sebesar 0,554 mg/ℓ, pada pukul 08.45 WIB maupun 14.00WIB. Menurut Effendi (2003), kadar nitrat pada perairan alami terlampir tidak punah lebih dari 0,1 mg/ℓ, kadar nitrat 5 mg/ℓ. Mengakibatkan pertumbuhan algae dan tumbuh pesat (bleaming).

    • g. Phospat

    Berdasarkan pratikum yang sudah dilakukan, besar kadar pospat pada

    pukul 08.45 dan 14.00 WIB sebesar 0,284 mg/ℓ.

    Menurut Effendi, (2003), kadar fospat total perairan dibagi menjadi tiga, kesuburan rendah 0 – 0,02 mg/ℓ, kesuburan sedang 0,021 – 0,05 mg/ℓ, kesuburan tinggi 0,051 – 0,1 mg/ℓ.

    h.

    TOM

    Berdasarkan pratikum yang sudah dilakukan, didapatkan hasil nilai

    TOM pada pukul 08.45 WIB dan 14.00 WIB sebesar 121,34 mg/ℓ.

    Menurut Jafin (2008), ZooPlankton banyak terdapat dalam perairan kaya bahan organic, Karena bahan organic dan juga bakteri yang terdapat dalam popok merupakan sumber makanan zoo plankton.

    5.1. Kesimpulan

    PENUTUP

    Pada praktikum planktonology dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

    Plankton adalah organisme hidup yang hidup melayang layang dalam air laut atau air tawar dan pergerakkannya secara pasif bergantung pada angin dan arus. Pengelompokan plankton berdasarkan ukuran adalah ultra plankton, nano plankton, mikroplankton, meso plankton, mano plankton dan mega plankton. Pengelompokan plankton berdasarkan asal usulnya adalah dilopalnkton dan autoplankton. Pengelompokan plankton berdasarkan jenis makanannya adalah fitoplankton, sapra plankton, dan zooplankton. Macam-macam filum fitoplankton adalah Clonphyta, Cyanophyta, Chrizophyta, Rhodophyta dan Dimoflagellata. Macam macam filum Zooplankton adalah Rotifera, Arthopoda dan Copepoda. Factor-faktor yang mempengaruhi kehidupan plankton adalah dari factor fisika yaitu suhu dan kecerahan, sedangkan factor kimia antara lain PH,DO, CO 2 ,Nitrat, Phosfat, dan TOM. Indeks keragaman plankton dapat di pendeh dari persamaan :

    H = - ∑ m log 2 P 1 n
    H = - ∑
    m
    log 2 P 1
    n
      Semakin besar nilai keragaman suatu perairan akan semakin peraian Indeks dominasi dapat dianalifus dengan
    Semakin besar nilai keragaman suatu perairan akan semakin peraian
    Indeks dominasi dapat dianalifus dengan persamaan
    2
    D = ∑
    n 1
    N

    Nilai kelimpahan plankton dapat ditentukan dengan persamaan :

    T . V N = x n (mg/ℓ) L . V . P . N
    T . V
    N
    =
    x n (mg/ℓ)
    L . V . P . N

    Berdasarkan data yang diperoleh dan pengukuran parameter kolam permanen didepan perpustakaan pusat Universitas Brawijaya Malang termasuk local. Jenis plankton yang ditentukan berasal dari filum Chrysophyta dan Chlorophyta. Pada pagi hari (08.45 WIB) dan siang hari (14.00 WIB), divisi plankton yang mendominasi yaitu divisi Chryzophyta. Secara keseluruhan indeks keragaman dari plankton yang berhasil diidentifikasikan tergolong yakni pada H 1 1.

    5.2. Saran

    Pada praktikum Planktonology dasar ketika dilapang sebaiknya alat pengukuran dibawa pada suhu titik lokasi. Untuk materi ketika pratikum lapang, banyak yang tidak mendapatkan materi karena harus mengukur di lab fakultas. Untuk praktikum yang dilaksanakan dilaboraturium kurang efektif dalam pemberian materi.

    DAFTAR PUSTAKA

    Adnan , H . 2005. Kelimpahan Dan Keanekaragaman Fitoplnkton Di Danau Hambalat Kelurahan Patuk , Ketimpan Kota Palangkaraya. Jurnal Central Kalimantan. Fishieris Volume Iii No. 2. September 2005. Lembaga Penelitian Universitas Palangkaraya.

    Apriyant .2008. Pengantar Planktonology Bagi Hasil Pembudidaya. Kanisius. Yogyakarta

    Antarhadi. 2006. Pengantar Biologi Laut. Erlangga. Jakarta

    Bambang , Santosa. 2007. Pengaruh Factor Lingkungan Terhadap Distribusi Spesies , Komunitas Zooplankton Di Tluk Klabat. Perairn Bangka Belitung. Pusat Penelitian Oseonagrafi . Upi

    Boyd,C.E. 2005. Water Quality Pond Of Aquaculture. Albana. Alabana Aquaculture Experiment. Stasiun. Abum Universitas

    Edamandani. 2009. Studi Daerah Palangkaraya Ikan Cakalang Dan Maclidang Di Perairan Sumatra Barat Pada Musim Timer. Jurusan Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan . Fpik. Ipb. Bogor

    Effendie. H . 2005. Teladah Kualitas Air Bagi Pengolahan Sumberdaya Dan Lingkungan Perairan. Penerbit Khusus. Yogyakarta

    Ekamawati . 2005. Budidaya Makanan Alami. Fpik. Ub. Malang

    Firmansyah, Risky, Agus Mawardhi H Dan Umar Pratama.2004. Belajar Biologi. Pt. Grafindo Media Pratama. Bandung

    Galugu,M.B.2005. Analisa Kualitas Lingkungan Perairan Teluk Sehubungan Dengan Bahan Pencernaan Organic. Skripsi . Fpik . Ipb. Bogor

    Goldman .G.R. And Home.2008. Limnology-Mc-Growothe-Book-Company Uniped Statle Of Amerika. Amerika

    Google,Image. 2013. Gambar Fitoplankton Dan Zooplankton. Diakses Pada Tanggal 9 Oktober 2013 Pukul 11.00 Wib Handayani Dan Diana. 2005. Pengantar Planktonology ( Fitoplankton ).Wuffic.Ub Madinawati. 2010. Kunci Indentitas Zooplankton. Ui. Jakarta Nontji, Anugrah. 2008. Plankton Laut. Upi. Press. Jakarta Rokfa. 2011. Plankton Dan Producticity In The Oceans. Perjaman Press. Oxford

    Satya , Awalira , S. Suranisan. R. Ramadanya Dan E.Mulyadi. 2010. Pada Distribusi Dan Laju Akumulasi Karbon Organic Dalam Sedimen Serta Hubungan Dengan Padatan Bersuspensi Di Situbanta. Umnotek (2010 ) If (1). 71-81

    Sugianto, Yayuk, Krismono , Adriyani Sri Nastitidan Warsa,Andri. 2009. Keanekaragaman Fitoplankton Pada Perairan Calon Suaka Perairan Di Waduk Foto Panjang, Riau. Jurnal Life Perikanan Indonesia. Vol 15. No.1

    Sutama. 2007. Petunjuk Identifiksi Plankton Di Periran Jepara. Undip. Semarang Syaufina. 2007. Produktifitas Perairan. Ub. Malang Triaminingsih. 2005. Pengertian Tentang Plankton Dan System Warna

    Oseanografixix (4):

    25-29

    Widyastuti. 2010. Pengantar Diktat Planktonology. Ui Press. Jakarta

    LAMPIRAN 1

    LAMPIRAN 1 53 | P a g e
    LAMPIRAN 1 53 | P a g e

    LAMPIRAN 2

    • Pengukuran DO Diket : V. Awal : 50

    V.

    Akhir : 10

     

    V.

    Botol : 294, 87

     

    ....

    ??

    Ditanya : DO Jawab :

     

    :

     

    : 37.135 Mg/L

     
    • Pengukuran CO 2 Diket : Vi : 0.8

    V.

    Titran : 0.2

    Ditanya : CO 2

    ??

    Jawab :

     

    :

    : 23.9712 Mg/L

    LAMPIRAN 3

    • LBP : D1 = 5 : D2 = 18 5 = 13 LBP = ¼

    x л x D 2

    = ¼ x 3.14 x 13 2

    = ¼ x 3.14 x 169 = 132.665

    • KELIMPAHAN PLANKTON

    Dimorphococus

     

    =

    . 2

    =

     

    =

    = . 2

    . 2

    =

    = 8,8

     

    Dicellula planctonicaswir

    =

    . 2

    =

     

    =

    = . 2

    . 2

    =

    = 8,8

     

    Pamellopsis gelatinosa

    =

     

    . 2

     

    =

     

    =

    = . 2

    . 2

    =

    = 8,8

     

    Aslynasyella

    =

    1

    =

     

    .

    =

    = . 2

    . 2

    =

    = 17,6

     

    Pyrosoma vertilicatum neuman

    =

    1

    =

     

    .

    =

    = . 2

    . 2

    =

    = 17,6

     

    Mastroglorase

     

    =

    1

    =

     

    .

    =

    = . 2

    . 2

    =

    = 17,6

     

    Fustulla rambales

    =

     

    1

     

    =

     

    .

    =

    = . 2

    . 2

    =

    = 17,6

     

    Hyacothe cadisi

    =

    1

    =

     

    .

    =

    = . 2

    . 2

    =

    = 17,6

     

    Broenbladia neglects

    =

     

    1

     

    =

     

    .

    =

    = . 2

    . 2

    =

    = 17,6

     

    Brebisonia baecki

    =

    1

    =

     

    .

    =

    = . 2

    . 2

    =

    = 17,6

     

    Ehoenphonesis retovera

    =

     

    1

     

    =

     

    .

    =

    = . 2

    . 2

    =

    = 17,6

     

    Hyacothea

     

    =

    . 18

    =

     

    =

    = . 18

    . 18

    =

    = 316,8

    • INDEKS DOMINASI

    Dimorphococus

    = {

    } 2

    ={

    } 2

    = 3, 90625 X 10 -3

    Dicellula planctonicaswir

    = {

    } 2

    ={

    } 2

    = 3, 90625 X 10 -3

    Pamellopsis gelatinosa

    = {

    } 2

    ={

    } 2

    = 3, 90625 X 10 -3

    Aslynasyella

    = {

    } 2

    ={

    } 2

    = 9,765625 X 10 -4

    Pyrosoma nertilicatum neuman

    = {

    } 2

    ={

    } 2

    = 9,765625 X 10 -4

    Mastroglorase

    = {

    } 2

    ={

    } 2

    = 9,765625 X 10 -4

    Fustulla ranbaldes

    = {

    } 2

    ={

    } 2

    = 9,765625 X 10 -4

    Hyacothe cadisi

    = {

    } 2

    ={

    } 2

    = 9,765625 X 10 -4

    Groenbladia neglects

    = {

    } 2

    ={

    } 2

    = 9,765625 X 10 -4

    Brebisonia baecki

    = {

    } 2

    ={

    } 2

    = 9,765625 X 10 -4

    Ehoenphonesis retovera

    = {

    } 2

    ={

    } 2

    = 9,765625 X 10 -4

    Hyacothea candisii

     

    = {

    } 2

    ={

    } 2

    = 0, 31640625

    KERAGAMAN RELATIF

     

    Dimorphococus

     

    =

    = = 6,25 %

     

    Dicellula planctonicaswir =

     

    = = 6,25 %

    Pamellopsis gelatinosa =

    = = 6,25 %

    Aslynasyella

    =

    = = 3,125 %

    Pyrosoma nertilicatum neuman =

    = = 3,125 %

    Mastroglorase

    =

    = = 3,125 %

    Fustulla ranbaldes =

    = = 3,125 %

    Hyacothe cadisi

    =

    = = 3,125 %

    Groenbladia neglects =

    = = 3,125 %

    Brebisonia baecki =

    = = 3,125 %

    Ehoenphonesis retovera =

    = = 3,125 %

    Hyacothea candisii =

    =

    = 56,

    LAMPIRAN

    LAMPIRAN 64 | P a g e
    LAMPIRAN 64 | P a g e
    LAMPIRAN 64 | P a g e
    LAMPIRAN 64 | P a g e