Anda di halaman 1dari 3

THE OUTSOURCING DECISION

Dalam era globalisasi dan tuntutan persaingan industri yang semakin ketat, suatu perusahaan dituntut untuk berusaha meningkatkan kinerja usahanya melalui pengelolaan organisasi yang lebih efektif dan efisien, sehingga perusahaan dapat mempertahankan keunggulan kompetitif yang dimilikinya. Dengan demikian, perusahaan tidak akan mengalami kekalahan dalam persaingan. Pada dasarnya, ada banyak hal yang dapat dilakukan perusahaan untuk mempertahankan keunggulan kompetitifnya. Salah satunya adalah dengan melakukan outsourcing, yaitu menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan yang sifatnya non-core atau penunjang kepada perusahaan lain melalui perjanjian pemborongan pekerjaan atau penyediaan jasa pekerja/ buruh. Hal ini dilakukan agar perusahaan dapat tetap fokus pada bisnis inti yang menjadi sumber keunggulan kompetitifnya, tanpa harus memberikan perhatian lebih pada kegiatan penunjang yang ada pada perusahaan. Dalam memutuskan suatu pekerjaan akan dilaksanakan secara outsourcing atau tidak, ada berbagai pertimbangan yang harus diperhatikan oleh akuntan manajemen, di antaranya: apakah pekerjaan tersebut merupakan bisnis inti perusahaan apakah pekerjaan tersebut bersifat strategis / kritikal Setelah mengetahui jawaban atas kedua pertanyaan di atas, maka manajemen dapat melakukan analisa terhadap setiap aktivitas yang ada. Dalam hal ini, perusahaan dapat menggunakan pendekatan matriks untuk menentukannya. Ada dua pendekatan model yang dapat digunakan, yaitu model Price Waterhouse Cooper dan model Komang. Dalam model Price Waterhouse Cooper, hal yang menjadi indikator penilaian adalah tingkat kompetitif dan strategik aktivitas. Jika aktivitas yang ada merupakan aktivitas yang kompetitif dan bersifat strategik, maka aktivitas tersebut tidak perlu dioutsourcing. Jika aktivitas yang ada merupakan aktivitas yang kompetitif, namun tidak bersifat strategik, maka aktivitas tersebut dapat dioutsourcing dan dapat pula tidak.

Jika aktivitas yang ada merupakan aktivitas yang tidak kompetitif dan tidak bersifat strategik, maka perusahaan dapat melakukan outsourcing atas aktivitas tersebut.

Jika aktivitas yang ada merupakan aktivitas yang tidak kompetitif, namun bersifat strategik, maka perusahaan sebaiknya tidak melakukan outsourcing jika memungkinkan. Sedangkan dalam model Komang, hal yang menjadi indikator penilaian

adalah jenis aktivitas dan tingkat kritikal dari aktivitas tersebut. Jika aktivitas yang ada bukan merupakan aktivitas inti perusahaan, namun bersifat kritikal, maka aktivitas tersebut dapat dioutsourcing dengan mempertimbangkan keahlian dan mekanisme pengendalian perusahaan Jika aktivitas yang ada merupakan aktivitas inti perusahaan dan bersifat kritikal, maka aktivitas tersebut hanya akan dioutsourcing apabila perusahaan membutuhkan keahlian yang tidak dia miliki Jika aktivitas yang ada bukan merupakan aktivitas inti perusahaan dan tidak bersifat kritikal, maka aktivitas tersebut dapat dioutsourcing. Jika aktivitas yang ada merupakan aktivitas inti perusahaan, namun tidak bersifat kritikal, maka akivitas tersebut dapat dioutsourcing. Setelah mengetahui aktivitas-aktivitas yang akan dioutsourcing, maka manajemen akan menanyakan apakah dengan mengoutsourcing aktivitas tersebut, perusahaan dapat melaksanakan aktivitas secara lebih baik dan apakah aktivitas outsourcing tersebut membawa manfaat bagi perusahaan. Dalam hal ini, yang menjadi pertimbangan strategis perusahaan adalah keunggulan teknis,

fleksibilitas, dan munculnya peluang inovasi. Jika perusahaan dapat melaksanakan aktivitas dengan baik dan kinerjanya dapat meningkat, maka outsourcing dapat dilakukan. Selain hal di atas, ada beberapa pro dan kontra atas penerapan outsourcing yang juga dapat dijadikan pertimbangan manajemen. Pro dan kontranya adalah sebagai berikut:
PRO - Menghemat biaya - Business owner bisa fokus pada core business. KONTRA - Penghematan biaya sering tidak terwujud - Ketergantungan pada vendor dapat lebih besar

- Menghemat waktu - Fleksibilitas lebih besar - Biaya investasi biaya belanja. berubah menjadi

- Tidak lagi dipusingkan dengan oleh turn over tenaga kerja. - Bagian dari modenisasi dunia usaha

- Waktu yang dibutuhkan untuk mengelola kontrak lebih mahal - Fleksibilitas membutuhkan biaya yang tinggi. - Ketidakpastian status ketenagakerjaan dan ancaman PHK bagi tenaga kerja meningkatkan biaya. - Perbedaan perlakuan Compensation and Benefit antara karyawan internal dengan karyawan outsource. - Perusahaan kehilangan peluang pengembangan dari aktivitas tersebut.

Saya termasuk salah satu pihak yang kontra dengan outsourcing. Selain akan menimbulkan banyak pengangguran, outsourcing juga terkadang

membutuhkan biaya yang mahal. Hal ini akan terjadi jika perusahaan telah memiliki ketergantungan yang tinggi pada vendor. Dengan demikian, vendor akan bebas menentukan biaya yang harus dibayarkan oleh perusahaan, sementara untuk beralih kembali ke tenaga internal juga membutuhkan biaya yang besar. Perusahaan yang telah kehilangan kesempatan untuk mengembangkan aktivitas tersebut harus mengeluarkan biaya untuk perekrutan dan pelatihan karyawan. Dampak buruk yang lainnya, tenaga kerja outsourcing belum tentu loyal dengan perusahaan kita. Mereka bisa saja melakukan kegiatan yang tidak perusahaan harapkan, seperti bekerja dengan kualitas seadanya, dan mereka juga dapat mengungkap rahasia perusahaan dan menjelma menjadi kompetitor utama perusahaan.