Anda di halaman 1dari 20

SEMINAR ANALISIS INFORMASI KEUANGAN

CAMELS ANALYSIS

Anggota Kelompok : Ria Elramadani Shinta Milatina Trissa Talkhasari Kemala Ramadhanny 1010532043 1010532052 1010533022 1010533041

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ANDALAS 2013

ANALISIS CAMELS
1. PENGERTIAN CAMELS Dalam kamus Perbankan (Institut Bankir Indonesia), edisi kedua tahun 1999: CAMEL adalah aspek yang paling banyak berpengaruh terhadap kondisi keuangan bank, yang mempengaruhi pula tingkat kesehatan bank, CAMEL merupakan tolok yang menjadi obyek pemeriksaan bank yang dilakukan oleh pengawas bank. CAMEL terdiri atas lima criteria yaitu modal, aktiva, manajemen, pendapatan dan likuiditas. Berdasarkan kamus Perbankan (Institut Bankir Indonesia), edisi kedua tahun 1999, peringkat CAMEL dibawah 81memperlihatkan kondisi keuangan yang lemah yang ditunjukan oleh neraca bank, seperti rasio kredit tak lancar terhadap total aktiva yang meningkat, apabila hal tersebut tidak diatasi akan mengganggu kelangsungan usaha bank, bank yang terdaftar pada pengawasan dianggap sebagai bank bermasalah dan diperiksa lebih sering oleh pengawas bank jika dibandingkan dengan bank yang tidak bermasalah. Bank dengan peringkat CAMEL diatas 81 adalah bank dengan pendapatan yang kuat dan aktiva tak lancer sedikit, peringkat CAMEL tidak pernah diinformasikan secara luas.

2. KONSEP CAMELS

Analisis CAMELS merupakan salah satu bagian di teknik analisis laporan keuangan bank yang dikembangkan oleh regulator Amerika Serikat sebagai alat pengukuran keuangan dari lembaga keuangan..Dia digunakan dalam menilai dan mengukur tingkat kesehatan bank yang pada dasarnya menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitataif atas berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi dan perkembangan suatu bank.Analisisnya terdiri dari Capital, Assets, Management, Earning, Liquidity, dan

Sensitivity.Kriteriasensitivity to market risk merupakan aspek tambahan dari metode penilaian kesehatan bank yang sebelumnya, yaitu CAMEL. CAMEL pertama kali diperkenalkan di Indonesia sejak dikeluarkannya Paket Februari

1991 mengenai sifat-sifat kehati-hatian bank. Paket tersebut dikeluarkan sebagai dampak kebijakan Paket Kebijakan 27 Oktober 1988 (Pakto 1988). CAMEL berkembang menjadi CAMELS pertama kali pada tanggal 1 Januari 1997 di Amerika. CAMELS berkembang di Indonesia pada akhir tahuan 1997 sebagai dampak dari krisis ekonomi dan moneter. Menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4382), bank wajib memelihara tingkat kesehatannya sesuai dengan ketentuan kecukupan modal, kualitas asset, kualitas manajemen, likuiditas, solvabilitas, sensitivitas, dan aspek lainnya yang berhubungan dengan usaha-usaha yang dilakukan bank umum maupun BPR dengan wajib melakukan kegiatan usaha tersebut sesuai dengan prinsip kehati-hatian dan melaporkan kinerjanya kepada BI yang berperan sebagai regulator bagi bankbank. Penilaian tingkat kesehatan bank dilakukan secara triwulan. Analisis keuangan dari aspek CAMELS memungkinkan manajemen untuk mengidentifikasi berbagai hubungan kunci serta kecenderungan yang dapat memberikan dasar pertimbangan menegenai potensi keberhasilan bank di masa mendatang.Analisis CAMELS menggambarkan rasio keuangan dengan membandingkan suatu jumlah tertentu dengan jumlah lainnya.Selain itu, CAMELS juga dapat digunakan untukmenyususn peringkat dan memprediksi kebangkrutan bank.Namun analisis manajemen pada analisis CAMELS dapat melibatkan penilaian yang sangat subjektif. Tingkat kesehatan bank yang sehat, cukup sehat, atau kurang sehat, akan diturunkan menjadi tidak sehat, apabila terdapat: 1. Perselisihan intern yang diperkirakan akan menimbulkan kesulitan dalam bank bersangkutan 2. Campur tangan pihak-pihak di luar bank dalam kepengurusan

(manajemen) bank, termasuk di dalamnya kerja sama yang tidak wajar sehingga salah satu atau beberapa kantornya berdiri sendiri

3. Window dressing dalam pembukuan dan atau laporan bank secara materiil berpengaruh terhadap keuangan sehingga mengakibatkan penilaian yang keliru terhadap bank 4. Praktik bank dalam bank atau melakukan usaha bank di luar pembukuan bank 5. Kesulitan keuangan yang mengakibatkan penghentian sementara atau pengunduran diri dari keikutsertaan dalam kliring

3. FAKTOR PENILAIAN CAMELS Berdasarkan surat edaran Bank Indonesia No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004, aspek/ factor yang dinilai dengan rasio CAMELS meliputi:

1. Permodalan (Capital) Kecukupan modal adalah pengukuran dari bank untuk menentuan apakah solvabilitas dapat diperhatikan karena risiko yang telah terjadi sebagai suatu program bisnis.Modal memungkinkan lembaga keuangan untuk tumbuh, membangun, dan mempertahankan kepercayaan public dan peraturan, dan memberikan cadangan untuk dapat menyerap potensi kerugian pinjaman di atas dan di luar masalah dan di luar masalah yang diidentifikasikan.Sebuah bank harus mampu menghasilkan modal internal, melalui retensi laba, sebagai tes kekuatan modal.Peningkatan modal sebagai akibat dari penyajian kembali karena perubahan akuntansi standar bukanlah peningkatan modal yang sebenarnya. Kekurangan modal merupakan gejala umum yang dialami bank-bank di negara berkembang.Kekurangan modal tersebut dapat bersumber dari dua hal, yaitu jumlah modal yang kecil dan kualitas modal yang buruk.Dengan demikian, pengawas bank harus yakin bahwa bank harus mempunyai modal yang cukup, baik jumlah maupun kualitasnya. Selain itu, para pemegang saham maupun pengurus bank harus benar-benar bertanggungjawab atas modal yang sudah ditanamkan.Untuk

menganalisanya, analis dapat menggunakan rasio permodalan.

Rasio permodalan berfungsi untuk mengukur kemampuan bank dalam menyerap kerugian-kerugian yang tidak dapat dihindari lagi serta dapat pula digunakan untuk mengukur besar kecilnya kekayaan bank tersebut atau kekayaan yang dimiliki oleh para pemegang sahamnya. Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif factor permodalan antara lain dilakukan melalui penilaian terhadap komponen-komponen sebagai berikut:

a. Kecukupan pemenuhan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) terhadap ketentuan yang berlaku Kecukupan modal dapat dihitung dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) yang merupakan perbandingan antara jumlah modal dengan aktiva tertimbang menurut risiko.

Pada dasarnya, CAR adalah rasio kinerja bank untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko, seperti kredit yang diberikan kepada nasabah.CAR merupakan indikatior terhadap kemampuan bank untuk menutupi penurunan aktivanya sebagai akibat dari kerugiankerugian bank yang disebabkan oleh aktiva yang berisiko. Berdasarkan ketentuan yang dibuat Bank Indonesia dalam rangka tata cara penilaian kesehatan bank terdapat ketentuan bahwa modal bank terdiri dari modal inti dan modal pelengkap. Di mana modal inti terdiri dari modal disetor, agio saham, cadangan umum, acdangan tujuan, laba ditahan, laba/ rugi tahun lalu, laba/ rugi tahun berjalan dan bagian kekayaan bersih anak perusahaan yang laporan keuangannya dikonsolidasaikan. Sedangkan modal pelengkap terdiri dari cadangan revaluasi aktiva tetap, cadangan penghapusan aktiva yang

diklasifikasikan, modal kuasai, dan pinjaman subordinasi.

Berdasarkan ketentuan Bank Indonesia, bank yang dinyatakan termasuk sebagai bank yang sehat harus memiliki CAR paling sedikit sebesar 8 %.Hal ini didasarkan kepada ketentuan yang ditetapkan oleh BIS (Bank for International Settlements). Adapun penilaian rasio CAR berdasarkan surat edaran Bank Indonesia No 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004, antara lain:

Tabel 2.1 Kriteria Pengukuran Rasio CAR Kriteria Sehat Tidak sehat < 8% Hasil Rasio

Kriteria peringkat dan penilaian rasio CAR adalah sebagai berikut:

1) Peringkat 1 jika rasio CAR lebih tinggi dan sangat signifikan dengan rasio CAR yang ditetapkan dalam ketentuan 2) Peringkat 2 jika rasio CAR lebih tinggi dan cukup signifikan dibandingkan dengan rasio CAR yang ditetapkan dalam ketentuan 3) Peringkat 3 jika rasio CAR dengan batas minimum 8% atau 8 4) Peringkat 4 jika rasio CAR di bawah ketentuan yang berlaku 5) Peringkat 5 jika rasio CAR di bawah ketentuan yang berlaku dan cenderung tidak solvable.

b. Komposisi Permodalan

c. Trend ke depan / proyeksi KPMM

d. Aktiva Produktif Yang Diklasifikasikan (APYD) dibandingkan dengan modal bank

e. Kemampuan bank memelihara kebutuhan penambahan modal yang berasal dari keuntungan (laba ditahan)

1) 2)

f. Rencana permodalan untuk mendukung pertumbuhan usaha

g. Akses kepada sumber permodalan

1) 2) 3) Profitabilitas

4) Peringkat bank atas surat utang dari lembaga pemeringkat 5) Performance saham atau obligasi yang diterbitkan bank di pasar sekunder 6) Performance of subscription level

h. Kinerja keuangan pemegang saham unutk meningkatkan permodalan 1) Kondisi keuangan pemegang saham 2) Peringkat perusaaan pemegang saham 3) Core business pemegang saham 4) Track record pemegang saham

2. Kualitas Aset (Asset Quality) Dalam kondisi normal, sebagian besar asset suatu bank terdiri dari kredit dan asset lain yang dapat menghasilkan atau menjadi sumber pendanaan bagi bank, sehingga jenis asset tersebut sering disebut sebagai asset produktif. Di dalam menganalisis suatu bank, pada umumnya perhatian difokuskan pada kecukupan modal bank karena masalah solvensi memang penting. Namun demikian, menganalisis kualitas aktiva produktif secara cermat tidak kalah pentingnya. Kualitas aktiva produktif bank yang sangat jelek secara implisit akan menghapus modal bank. Walaupun secara riil bank memiliki modal yang cukup besar, apabila kualitas aktiva produktifnya sangat buruk dapat saja kondisi modalnya menjadi buruk juga. Hal ini antara lain terkait dnegan berbagai permasalahan, seperti pembentukan cadangan, penilaian asset, pemberian pinjaman kepada pihak terkait, dan sebagainya. Permasalahan pemberian pinjaman kepada pihak terkait yang diatur dalam ketentuan Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) adalah masalah yang serius di berbagai negara berkembang seperti di Indonesia.Sering kali bank dimiliki dan dikendalikanoleh individu,

keluarga, atau kelompok kecil yang sepenuhnya mengendalikan dan mencengkeram penguru atau pengelola bank. Dengan keadaan tersebut adapt dipastikan bahwa good corporate governance, system pengendalian intern dan bahkan para pengawas ekstern menjadi tidak berfungsi. Kepemilikan bank juga sering terkait dengan kepemilikan badan usaha komersial non bank yang lain. Hal ini juga akan mendorong pemberian pinjaman kepada pihak terkait ini juga dapat dikaburkan sehingga akan sulit dideteksi oleh para pengawas. Hal-hal tersebut pada akhirnya akan memperburuk kondisi aktiva produktif bank. Beberapa permasalahan berat yang dihadapi bank-bank di Indonesia pada saat ini sebenarnya juga timbul dari masalah itu. Dampak permasalahan kredit kepada pihak terkait ini dapat dikurangi atau dicegah dengan: a. Pengawas harus mempunyai wewenang untuk melakukan pengawasan konsolidasi b. Definisi kredit kepada pihak terkait ini harus jelas dan rinci c. Informasi mengenai kepemilikan, kredit dan juga investasi harus diumumkan dan dengan mudah diketahui oleh public d. Pengatur dan pengawas harus mendorong penerapan good corporate governance, terutama untuk mendorong agar pemegang saham dan pengurus bank dapat bertanggungjwab penuh apabila bank mengalami kesulitan.

Untuk dapat melakukan penilaian terhadap kualitas aktiva produktif dan pembentukan cadangan atas aktiva produktif yang diklasifikasikan, sangat diperlukan adanya pengaturan dan prinsip-prinsip akuntansi yang jelas dan diterapkan secara konsisten oleh semua bank.Keputusankeputusan yang terkait dengan masalah ini tidak boleh diserahkan kepada pengelola bank.Aktiva yang diklasifikasikan merupakan aktiva produktif yang sudah atau mengandung potensi tidak memberikan penghasilan. Besarnya cadangan yang wajib dibentuk sekurang-kurangnya: a. 25 % dari aktiva produktif golongan Dalam Perhatian Khusus (DPK)

b. 50 % dari aktiva produktif golongan kurang lancer atau setelah terlebih dahulu dikurangi dengan agunan yang dikuasai c. 75 %dari aktiva produktif golongan diragukan atau setelah terlebih dahulu dikurangi dengan nilai aguan yang dikuasai d. 100 % dari aktiva produktif golongan macet dan masih tercatat dalam pembukuan bank, atau setelah terlebih dahulu dikurangi dengan nilai agunan yang dikuasai

Rasio kualitas aset digunakan untuk mengetahui kualitas asset, yaitu penanaman dana bank dalam rupiah atau valuta asing dalam bentuk kredit, surat berharga, penempatan pada bank lain, dan penyertaan. Penilaian tersebut dilakukan untuk melihat apakah aktiva produktif digunakan untuk menghasilkan laba secara maksimal. Selain itu, penilaian kualitas asset dimaksudkan untuk menilai kondisi asset bank, termasuk antisipasi atas risiko gagal bayar dan pembiayaan (credit risk) yang akan muncul. a. Aktiva produktif yang

diklasifikasikan dibandingkan dengan total aktiva produktif / Bad Debt Ratio (BDR)

b. Debitur inti di luar pihak terkait dibandingkan dengan total kredit

c. Perkembangan Aktiva Produktif Bermasalah / Non Performing Asset Dibandingkan Dengan Aktiva Produktif

Aktiva Produktif Bermasalah (APB) dapat digunakan untuk mennetukan kemampuan manajemen bank dalam mengelola aktiva produktif yang bermasalah.Aktiva produktif yang bermaslah adalah aktiva produktif dengan kualitas kurang lancer, digunakanm dan macet.

Perkembangan aktiva produktif bermasalah dibandingkan dengan aktiva produktif

Semakin besar rasio ini mengidikasikan kinerja / kualitas aktiva produktif yang semakin memburuk.Hal ini juga berkaitan dengan kinerja manajemen bank yang tidak optimal dalam mengelola aktiva produktifnya.Kualitas aktiva produktif perlu dijaga agar terhindar dari kelompok aktiva produktif bermasalah agar dapat menjalankan usaha perbankan yang sehat. Adapun kriteria penetapan peringkat dari penilaian rasio APB yang sesuai dengan Surat Edaran Bank Indonesia No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 adalah:

Tabel 2.2 Kriteria Peringkat dalam Rasio APB


Aspek APB Peringkat 1 2 3 4 5 Perkembangan Perkembangan Perkembangan Perkembangan Perkembangan rasio sangat rsaio rendah rasio moderat rasio cukup rasio tinggi rendah atau berkisar tinggi antara 5 % - 8 %

d. Tingkat kecukupan pembentukan PPAP

e. Kecukupan kebijakan dan prosedur aktiva produktif 1) Keterlibatan pengurus bank dalam menyusun dan menetapkan kebijakan aktiva produktif serta memonitor pelaksanaannya. 2) Konsistensi antara kebijakan dengan pelaksanaan, tujuan, dan strategi usaha bank (rencana bisnis) f. Sistem kaji ulang (review) internal terhadapaktiva produktif 1) Frekuensi review 2) Independent review 3) Ketahanan terhadap regulasi internal dan eksternal 4) Sistem informasi aktiva produktif 5) Proses keputusan manajemen g. Kinerja penanganan Aktiva Produktif (AP) 1.

2.

3.

4.

5. Kualitas penanganan AP bermasalah 6. Review terhadap independensi unit kerja pananganan AP bermasalah (Workout Unit)

3. Manajemen (Management) Manajemen atau pengelolaan bank sakan menentukan sehat tidaknya suatu bank.Mengingat hal tersbut, maka pengelolaan suatu manajemen sebuah bank mendapatkan perhatian yang besar dalam penilaian tingkat kesehatan suatu bank diharapkan dapat menciptakan dan memelihara kesehatannya.

Penilaian terhadap factor manajemen antara lain dilakukan melalui penilaian terhadap komponen-komponen sebagai berikut: a. Manajemen Umum 1) Struktur dan komposisi pengurus bank 2) Penanganan Conflict of Interest 3) Independensi pengurus bank 4) Kemampuan unutk membatasi atau mencegah penurunan kualitas Good Corporate Governance 5) Transparansi informasi dan edukasi nasabah 6) Efektivitas kinerja fungsi komite

b. Penerapan Sistem Manajemen Risiko 1) Pengawasan aktif dewan komisaris dan direksi 2) Kecukupan kebijakan, prosedur, dan penetapan limit 3) Kecukupan prosesidentifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalina risiko, serta system informasi manajemen risiko 4) Sistem pengendalian intern yang menyeluruh

c. Kepatuhan Bank Umum 1) Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) 2) Posisi Devisa Netto (PDN) 3) Prinip mengenal nasabah (Know Your Customer, KYC Principles) 4) Kepatuhan terhadap komitmen dan ketentuan lainnya

Biasanya penilaian tersebut dilakukan dengan menggunakan kuisioner. Selain melalui penilaian di atas, aspek manajemen ini dapat juga dinilai menggunakan indicator Net Profit Margin (NPM).Rasio ini diukur dengan membandingkan jumlah net income dengan operating income.Semakin tinggi rasio ini berarti semakin tinggi pendapatan operasional dalam menghasilkan laba bersih.

4. Rentabilitas (Earnings) Rasio rentabilitas merupakan alat untuk menganalisis atau mengukur tingkat efisiensi usaha dan kemampuan bank dalam menghasilkan laba. Laba menentukan kemampuan bank untuk menembah modal (melalui laba ditahn), menyerap kerugian pinjaman, mendukung pertumbuhan masa depan asset, dan memberikan pengembalian kepada investor. Sumber pendapatan terbesar bagi sebuah bank adalah pendapatan bunga bersih (pendapatan bunga dari bunga pinjaman kurang bunga dibayar pada deposito dan utang).Sumber yang paling penting kedua juga berasal dari valuta asing dan perdagangan logam mulia, dan komisi biaya transaksi serta kepercayaan operasi. Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif factor rentabilitas antara lain dilakukan melalui penilaian terhadap komponen-komponen sebagai berikut:

a. Return on Asset (ROA)

Analisis ROA digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba dengan menggunakan total asset yang dipunyai perusahaan.Total asset yang lazim digunakan untuk menghitung ROA sebuah bank adalah jumlah dari asset-aset produktif yang terdiri dari penempatan surat-surat berharga, penempatan dalam bentuk kredit. Semakin tinggi ROA akan semakin baik, karena untuk memperoleh ROA yang besar diperlukan adanya aktiva produktif yang berkualitas dan manajemen yang solid. Selain itu, semakin tinggi ROA, semakin

besar pula tingkat

keuntungan

yang dicapai

bank sehingga

kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil. Adapun kriteria penetapan peringkat dan penilaian rasio yang sesuai dengan Surat Edaran Bank Indonesia No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 adalah:

Tabel 2.3 Kriteria Peringkat dalam Rasio ROA


Aspek ROA 1 Perolehan laba yang sangat tinggi (perkembangan rasio tinggi) 2 Perolehan laba tinggi (perkambangan rasio cukup tinggi) Peringkat 3 Perolehan laba cukup tinggi atau rasio ROA berkisar antara 0,5 % - 1,25 % 4 Perolehan laba rendah atau cenderung mengalami kerugian (ROA mengarah negatif) 5 Bank mengalami kerugian yang besar (ROA negatif)

b. Return on Equity (ROE)

c. Net Interest Margin (NIM)

d. Biaya Operasional dibandingkan dengan Pendapatan Operasi (BOPO) Rasio ini digunakan untuk mengetahui tingkat perbandingan antara biaya operasional yang ditanggung bank dengan pendapatan

operasional yang diperoleh bank.Semakin kecil angka rasio BOPO, maka semakin baik kondisi bank tersebut.

Adapun penilaian rasio BOPO berdasrkan Surat Edaran Bank Indonesia No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004: Tabel 2.4 Kriteria Pengukuran Rasio BOPO Kriteria Sehat Tidak sehat Hasil Rasio

Kriteria peringkat dari penilaian rasio BOPO adalah: 1) Peringkat 1 jika tingkat efisien sangat baik (perkembangan rasio cukup rendah) 2) Peringkat 2 jika tingkat efisien baik (perkembangan rasio cukup rendah) 3) Peringkat 3 jika tingkat efisiensi cukup baikatau rasio BOPO berkisar antara 94 % - 96 % 4) Peringkat 4 jika tingkat efisiensi buruk (perkembangan rasio cukup tinggi) 5) Peringkat 5 jika tingkat efisiensi sangat buruk (perkembangan rasio tinggi) e. Perkembangan laba operasional

f. Komposisi portofolio aktiva produktif dan diversifikasi pendapatan

1) 2)

g. Penerapan prinsip akuntansi dalam pengakuan pendapatan dan biaya 1) Konsistensi pengakuan pendapatan bunga yang ebrkaitan dengan kualitas aktiva produktif 2) Metodologi akuntansi untuk pengakuan pendapatan dan biaya

h. Prospek laba operasional Hasil Stress Test proyeksi laba operasional berdasarkan rencana bisnis

5. Likuiditas (Liquidity) Likuiditas adalah masalah yang sangat krusial dalam industry perbankan. Pada awal terjadinya krisis perbankan di Indonesia banyak yang mengatakan persoalan perbankaan pada saat itu hanyalah masalah likuiditas. Dengan demikian, pengelolaan likuiditas yang baik sangat menentukan bagi suatu bank dan masalah likuiditas ini harus dipantau secara terus-menerus oleh pengawas bank. Demikian juga laporan-laporan bank kepada public unutk keperluan transparansi, selalu menyertakan laporan-laporan yang memuat rasio-rasio yang terkait dengan kondisi likuiditas suatu bank, yang memungkinkan masyarakat untuk mendapat informasi tentang risiko likuiditas bank. Rasio likuiditas digunakan untuk menganalisis kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban-kewajibannya.Suatu bank dinyatakan likuid apabila bank tersebut dapat memenuhi kewajiban hutangnya, dapat membayar kembali semua simpanan nasabah, serta dapat memenuhi permintaan kredit yang diajukan tanpa terjadi penangguhan. Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif factor likuiditas antara lain dilakukan melalui penilaian terhadap komponen-komponen sebagai berikut: a. Aktiva likuid kurang dari 1 bulan dibandingka dengan pasiva likuid kurang dari 1 bulan

b. 1 Month Maturity Mismatch Ratio

c. Loan to Deposits Ratio (LDR)

LDR ini menggambarkan kemampuan suatu bank membayar kembali penarikan yang dilakukan nasabah dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. LDR tersebut menyatakan seberapa jauh kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Dengan kata lain, seberapa jauh pemberian kredit kepada nasabah kredit dapat mengimbang kewajiban bank untuk segera memenuhi permintaan deposan yang ingin menarik kembali uangnya yang telah digunakan oleh bank untuk memberikan kredit. Semakin tinggi rasio tersebut memberikan indikasi semakin rendahnya kemampuan likuiditas bank yang bersangkutan. Hal ini disebabkan karena jumlah dana yang diperlukan untuk membiayai kredit semakin besar. Adapun kriteria penetapan peringkat dsri penilaian LDR yang sesuai dengan Surat Edaran Bank Indonesia No 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 adalah: Tabel 2.5 Kriteria Peringkat dalam LDR Aspek LDR Peringkat 1 2 3 4 5

atau

d. Proyeksi cash flow 3 bulan mendatang

e. Ketergantungan pada dana antar bank dan deposan inti 1) 2)

f. Kebijakan

dan

pengelolaan

likuiditas

(Asset

and

Liabilities

Management, ALMA) 1) Kecukupan Contingency Funding Plan 2) Kesesuian kebijakan dengan struktur asset dan liabilitas 3) Kecukupan penetapan dan prosedur limit 4) Kecukupan akuntabilitas dan jenjang delegasi wewenang

g. Kemampuan bank umum memperoleh akses kepada pasar uang, pasar modal, atau sumber-sumber pendanaan lainnya. 1) Peringkat bank 2) Persyaratan fasilitas pendanaan jangka pendek 3) Track record dan ketersediaan money market line (credit line) 4)

h. Stabilitas dana pihak ketiga 1) Pertumbuhan DPK (Dana Pihak Ketiga) 2) Pertumbuhan deposan inti

6. Sensitivitas Terhadap Risiko Pasar (Sensitivity to Market Risk) Penilaian sensitivitas atas risiko pasar dimaksudkan untuk menilai kemampuan keuangan bank dalam mengantisipasi perubahan risiko pasar yang disebabkan oleh pergerakan nilai tukar. Penilaian pendekatan kuantitatif dan kualitatif factor sensitivitas terhadap risiko pasar antara lain dilakukan melalui penilaian terhadap komponen-komponen sebagai berikut: a. Modal atau cadangan yang dibentuk untuk mengcover fluktuasi suku bunga dibandingkan dengan potential loss suku bunga

b. Modal atau cadangan yang dibentuk untuk mencover fluktuasi nilai tukar dibandingkan dengan potential loss nilai tukar

c. Kecukupan penerapan system manajemen risiko pasar (market risk) 1) Pengawasan aktif dewan komisaris dan direksi bank terhadap potensi eksposur risiko pasar 2) Kecukupan kebijakan, prosedur, dan penetapan limit risiko pasar 3) Kecukupan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian risiko pasar, serta system informasi manajemen risiko pasar

Efektivitas pelaksanaan pengendalian intern (Internal Control) terhadap eksposur risiko pasar termasuk kecukupan fungsi audit intern.