Anda di halaman 1dari 12

Pengertian dan Cara Kalibrasi Alat Kesehatan

Pengertian Kalibrasi
Pengertian / arti kalibrasi menurut wikipedia adalah proses verifikasi bahwa suatu akurasi alat ukur sesuai dengan rancangannya. Kalibrasi biasa dilakukan dengan membandingkan suatu standar yang tertelusur dengan standar nasional maupun internasional dan bahan-bahan acuan tersertifikasi. Sedangkan pengertian / arti kalibrasi ISO/IEC Guide 17025 adalah serangkaian kegiatan yang membentuk hubungan antara nilai yang ditunjukkan oleh instrumen ukur atau sistem pengukuran, atau nilai yang diwakili oleh bahan ukur, dengan nilai-nilai yang sudah diketahui yang berkaitan dari besaran yang diukur dalam kondisi tertentu. Dengan kata lain, kalibrasi adalah kegiatan untuk menentukan kebenaran konvensional nilai penunjukkan alat ukur dan bahan ukur dengan cara membandingkan terhadap standar ukur yang mampu telusur (traceable) ke standar nasional untuk satuan ukuran dan/atau internasional. Sistem manajemen baik itu sistem manajemen mutu ISO 9001 : 2008, sistem manajemen lingkungan ISO 14001 : 2005, ataupun sistem manajemen kesehatan keselamatan kerja OHSAS 18001 : 2008 juga mempersyaratkan dalam salah satu klausulnya bahwa peralatan yang digunakan dalam suatu perusahaan yang berpengaruh terhadap mutu, lingkungan, ataupun kesehatan harus dikalibrasi ataupun diverivikasi secara berkala.

Arti Pentingnya Kalibrasi


Kalibrasi alat ukur selain digunakan untuk memenuhi salah satu persyaratan / klausul sistem manajemen mutu ISO 9001 : 2008, sistem manajemen lingkungan ISO 14001 : 2005, ataupun OHSAS 18001 : 2007 tetapi juga mempunyai manfaat lainnya antara lain : 1. Jaminan mutu terhadap produk yang dihasilkan melalui sistem pengukuran yang valid. 2. Menghindari cacat/penyimpangan hasil ukur. 3. Menjamin kondisi alat ukur tetap terjaga sesuai spesifikasinya. Mudah2an artikel singkat tentang pengertian / arti kalibrasi ini bisa bermanfaat bagi pembaca sekalian. Syarat Mendirikan Perusahann Kalibrasi syarat : Personel pelaksana kalibrasi berkompeten (tersertifikasi), Peralatan kalibrator yang tertelusur dan ijin penyelenggara kalibrasi (berbadan hukum), Rekomendasi organisasi profesi (DPP Ikatemi). Prosedur ijin bisa ditanyakan langsung ke Dinkes Propinsi Jateng (Lt.5).

Kalibrasi Dimensi
Kalibrasi dimensi.. Ruang lingkup dari kalibrasi dimensi ini bisa dikatakan paling luas dibandingkan dengan ruang lingkup yang lainnya. Berbagai peralatan dari yang umum digunakan semisal stell ruler / penggaris sampai dengan yang mungkin jarang kita temui semisal coordinate measuring machine ataupun meja rata. Karena peralatan-peralatan tersebut memang hanya digunakan pada industri tertentu. Kalibrator yang digunakan untuk kalibrasi dalam ruang lingkup dimensi inipun bisa bermacam-macam antara lain : gauge block set, laser interferometer, ataupun profile projector.

Pelatihan Kalibrasi
Pelatihan Kalibrasi Kalibrasi terhadap alat ukur yang mempunyai dampak terhadap mutu produk yang dihasilkan oleh perusahaan menjadi sesuatu yang wajib untuk menjamin tingkat kebenaran dari peralatan ukur

tersebut dan juga untuk memenuhi persyaratan sistem manajemen baik itu sistem manajemen mutu ISO 9001 : 2008, sistem manajemen lingkungan ISO 14001 : 2004, serta sistem manajemen keselamatan kerja OHSAS 18001 : 2007. Ironisnya dampak dari kegiatan tersebut adalah melambungnya cost / biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan dalam mengkalibrasi peralatan yang mereka miliki, terlebih jika peralatan yang mereka miliki berjumlah banyak. Dalam usaha untuk melakukan penghematan terhadap perusahaan tersebut, tidak salah jika banyak perusahaan mempertimbangkan untuk melakukan kalibrasi internal, dimana kalibrasi dilakukan oleh personel yang merupakan karyawan mereka sediri. Pelatihan kalibrasi dirasa sangatlah penting untuk meningkatkan personel yang bertanggung jawab terhadap bidang kalibrasi tersebut. Pelatihan kalibrasi sebaiknya diberikan tidak hanya kepada personel yang bertanggung jawab terhadap kalibrasi saja, tetapi sebaiknya juga diberikan sampai ke level operator sehingga mereka memahami kegiatan pengukuran yang mereka lakukan. Jadi dalam hal ini pelatihan kalibrasi secara in house kalibrasi sangat saya rekomendasikan.

Yang Akan Dipelajari Pelatihan Kalibrasi


Dalam pelatihan kalibrasi berikut ini kurang lebih gambaran apa saja yang akan kita pelajari : 1. Istilah dan terminologi dalam bidang kalibrasi 2. Teori ketidakpastian kalibrasi 3. Data pengamatan asli dan Simulasi pengukuran kalibrasi 4. Praktek kalibrasi 5. Pengolahan data pengamatan asli dan perhitungan ketidakpastian serta penerbitan sertifikat 6. Penentuan toleransi alat ukur 7. Pengecekan antara, pembuatan control chart, dan jaminan mutu hasil kalibrasi 8. Modul / materi pelatihan dan sertifikat kalibrasi

Toleransi Alat Ukur Kalibrasi


Toleransi alat ukur Karena masih pemula dalam dunia kalibrasi, pertanyaan yang sering saya hadapi adalah bagaimana menghubungkan hasil sertifikat kalibrasi dengan suatu alat ukur untuk menentukan bahwa alat ukur tersebut masih layak atau tidak. Seperti kita ketahui, didalam sertifikat kalibrasi biasanya hasil yang kita peroleh adalah koreksi dan ketidakpastian. Lalu dibandingkan dengan apakah kedua hal tersebut untuk menilai alat layak atau tidak? Apakah dengan akurasinya? Ataukah dengan hal lainnya? Itulah Pertanyaan yang kan timbul pada saat anda belajar kalibrasi

Menentukan Toleransi Alat Ukur Kalibrasi


Mungkin ada sebuah pertanyaan: bagaimana cara menentukan toleransi alat jika alat tersebut benar2 baru dan baru akan dikalibrasi? Sebelum membahas bagaimana menentukan toleransi alat ukur, kita bahas dulu makna toleransi. Tolerate yang menjadi akar kata tolerance (toleransi), oleh New Oxford American Dictionary diartikan kira-kira mampu menanggung sesuatu (yang buruk) tanpa efek buruk. Kalau diartikan lebih bebas, toleransi berarti: kemampuan menerima suatu penyimpangan (dari kondisi ideal) tanpa terjadinya efek yang buruk. Dalam dunia industri, toleransi merupakan bagian dari spesifikasi suatu produk. Dalam konteks ini, toleransi dapat diartikan besarnya perbedaan antara kondisi aktual dibandingkan kondisi ideal,

sejauh bahwa perbedaan tersebut tidak sampai mengakibatkan kegagalan fungsi maupun penurunan fungsi yang signifikan. Misalkan sebuah komponen mesin mempunyai spesifikasi ukuran 90 mm dengan toleransi 0,1 mm. Ini berarti bahwa komponen tersebut masih dapat berfungsi dengan baik asalkan ukurannya di antara 89,9 mm dan 90,1 mm. Setelah melalui proses produksi, hasil yang diharapkan adalah suatu produk yang memiliki ukuran atau sifat-sifat lain sesuai spesifikasi dan toleransi yang telah ditetapkan. Karena itu dilakukan pengujian mutu terhadap produk tersebut, dengan cara melakukan pengukuran. Hasil pengukuran dibandingkan dengan spesifikasi tadi. Jika hasil pengukuran menunjukkan bahwa produk tersebut mempunyai ukuran sesuai dengan spesifikasi, maka produk tersebut dinyatakan sesuai dengan spesifikasi. Di dalam proses pengukuran tadi, terdapat sumber-sumber ketidakpastian pengukuran, sehingga hasil pengukuran pun mempunyai nilai ketidakpastian pengukuran. Maka dalam paradigma terbaru, penilaian kesesuaian (conformity assessment) harus memperhitungkan nilai ketidakpastian dan nilai pengukuran. Suatu produk baru dapat dikatakan sesuai dengan spesifikasi jika memenuhi ketentuan: E+UT dengan: E = penyimpangan dari spesifikasi (absolut) U = nilai ketidakpastian pengukuran (pada tingkat kepercayaan 95 persen) T = toleransi untuk produk tersebut (absolut) Dengan kata lain, nilai ketidakpastian pengukuran harus lebih kecil daripada toleransi yang diberikan untuk produk yang diukur. Idealnya nilai ketidakpastian pengukuran besarnya sepersepuluh dari toleransi, atau dalam kondisi terburuk, nilai ketidakpastian pengukuran diharapkan tidak lebih dari sepertiga toleransi. Uraian di atas menunjukkan bahwa toleransi berkaitan d engan produk yang diukur, bukan dengan alat ukurnya. Untuk alat ukur, VIM (kosakata metrologi internasional) 2008 memberikan istilah maximum permissible error (MPE). Antara MPE dan toleransi memang ada kesamaan makna, tetapi dianjurkan untuk tidak dicampuraduk. Kembali ke proses di atas, maka seharusnya urutan yang benar adalah: 1. Spesifikasi dan toleransi (T1) untuk sebuah produk ditetapkan; 2. Pengukuran terhadap produk tersebut dilakukan dengan sistem pengukuran yang mempunyai ketidakpastian pengukuran (U1) cukup kecil dibandingkan toleransi T1; 3. Alat ukur yang dipakai dalam sistem pengukuran tersebut dikalibrasi menggunakan sistem kalibrasi yang dapat memberikan nilai ketidakpastian pengukuran (U2) lebih kecil daripada U1; 4. dan seterusnya. Jadi, pada saat kita akan mengalibrasi alat ukur, harus sudah jelas dulu berapa MPE (bukan toleransi) untuk alat ukur tersebut. Baru kita mengevaluasi ketidakpastian pengukuran dari kalibrasi tersebut, supaya kita bisa menilai apakah ketidakpastian pengukuran tersebut memadai (cukup kecil) dibandingkan MPE-nya. Ibaratnya, kalau mau mengemudikan sebuah kendaraan, tentukan dulu tujuannya! Jangan mulai menjalankan kendaraan kalau kita belum tahu ke mana tujuannya. Toleransi objek ukur adalah tujuan yang ingin dicapai; pengukuran atau kalibrasi alat ukur dan evaluasi ketidakpastian adalah cara untuk mencapai tujuan tersebut.

http://djokosoeprijanto.blogspot.com/2013/03/pengertian-dan-cara-kalibrasi-alat.html

PENGETAHUAN KALIBRASI DAN PEMELIHARAAN PERALATAN LABORATORIUM Posted on November 23, 2009 by xbrasi 1. Pendahuluan Hasil pengukuran yang diberikan oleh beberapa alat sejenis tidak selalu menunjukkan hasil yang sama, meskipun alat tersebut mempunyai tipe yang sama. Perbedaan ini diperbesar lagi dengan adanya pengaruh lingkungan, operator, serta metode pengukuran. Padahal dalam menghasilkan hasil pengukuran tersebut sangat diharapkan bahwa setiap alat ukur yang digunakan dimanapun memberikan hasil ukur yang sama dalam kaitannya dengan keperluan keamanan, kesehatan, transaksi, dan keselamatan. Agar setiap alat dapat memberikan hasil ukur dengan keabsahan yang sama, alat ukur tersebut perlu mempunyai ketelusuran kepada standar nasional atau standar internasional. Cara untuk memberikan jaminan bahwa alat yang digunakan mempunyai ketelusuran kepada standar nasional adalah dengan melakukan kalibrasi terhadap alat tersebut. Lebih dari itu untuk memelihara ketelusuran tersebut perlu dilakukan perawatan alat dalam selang kalibrasi tertentu. Dalam penerapan standar ISO/IEC 17025 : 2005, kiranya upaya-upaya untuk menyamakan persepsi bagi semua pihak terkait perlu dilaksanakan. Ketelusuran pengukuran tidak hanya sekedar menjadi persyaratan administratif, melainkan telah menjadi kebutuhan teknis yang mendasar terutama dengan diwajibkannya mencantumkan estimasi ketidakpastian dalam hasil uji. Makalah ini memuat pengetahuan dasar kalibrasi dan pemeliharaan peralatan laboratorium untuk membekali para peserta pelatihan agar dalam melaksanakan kegiatan pengukuran di laboratorium dapat memahami prinsip kalibrasi, pelaksanaan kalibrasi, dan pemeliharaan peralatan laboratorium. 2. Metrologi Metrologi didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan tentang ukur mengukur ( science of measurement). Bidang kerja metrologi mencakup standarisasi, pengujian, dan jaminan mutu. Sedangkan bidang yang dikelolanya adalah mengenai satuan ukur, alat ukurnya sendiri, dan prosedur pengukuran. Metrologi dewasa ini terbagi dalam tiga bagian yaitu metrologi legal, metrologi industri dan metrologi ilmiah. Metrologi legal menangani peneraan alat-alat ukur yang langsung berhubungan dengan kepentingan konsumen sedang metrologi industri menangani alat-alat

ukur yang tidak langsung berhubungan dengan kepentingan konsumen dalam transaksi, misalnya alat ukur yang digunakan dalam pengujian di laboratorium, alat ukur yang digunakan untuk keperluan proses di pabrik, dan alat ukur yang digunakan sebagai alat penjamin keselamatan. Metrologi legal terbagi dua yaitu metrologi legal perdagangan yang sekarang dibawah kewenangan Depperindag (dahulu dibawah kewenangan Departemen Perdagangan) dan metrologi radiasi nuklir dibawah kewenangan Batan. Cakupan kerja metrologi legal ditujukan untuk menjamin transaksi yang adil antara lain untuk perlindungan konsumen dan produsen, perdagangan, juga untuk keselamatan dan kesehatan. Sedangkan metrologi radiasi nuklir ditujukan untuk menjamin keselamatan dan kesehatan dari bahaya radiasi. Kegiatan metrologi legal sudah lama dikenal sebagai kegiatan tera (tera dan tera ulang). Metrologi teknis bidang kerjanya menangani ketelusuran pengukuran di laboratorium maupun industri yang lebih dikenal dengan kegiatan kalibrasi. Metrologi ilmiah mengelola penelusuran dan pemeliharaan peralatan standar hirarki tinggi yang dijadikan acuan bagi kedua metrologi lainnya. 1. Pengertian kalibrasi Secara umum kalibrasi mempunyai pengertian sebagai rangkaian kegiatan membandingkan hasil pengukuran suatu alat dengan alat standar yang sesuai untuk menentukan besarnya koreksi pengukuran alat serta ketidakpastiannya. Dalam pengertian ini alat standar yang digunakan juga harus terkalibrasi dibuktikan dengan sertifikat kalibrasi. Dengan demikian maka besarnya koreksi pengukuran alat dapat ditelusurkan ke standar nasional atau standar internasional dengan suatu mata rantai kegiatan kalibrasi yang tidak terputus. Alat ukur yang telah dikalibrasi tidak akan secara terus menerus berlaku masa kalibrasinya, karena peralatan tersebut selama masa penggunaanya pasti mengalami perubahan spesifikasi akibat pengaruh frekuensi pemakaian, lingkungan penyim-panan, cara pemakaian, dan sebagainya. Untuk itulah selama berlakunya masa kalibrasi alat bersangkutan perlu dipelihara ketelusurannya dengan cara perawatan dan cek antara secara periodik. 2. Alat standar Kalibrasi Alat standar kalibrasi dapat berupa objek ukur atau berupa alat ukur. Yang dikate-gorikan objek ukur adalah alat standar kalibrasi yang tidak memiliki skala, berupa objek yang akan diukur oleh peralatan laboratorium. Sedangkan yang dikelompokkan kedalam standar kalibrasi berupa alat ukur adalah standar kalibrasi yang memiliki skala, sering berupa instrumen.

3. Petugas kalibrasi Meskipun beberapa pelaksanaan kalibrasi dapat dilakukan dengan mudah, tetapi petugas kalibrasi yang diharapkan dapat melaksanakan kalibrasi dengan baik dan benar kiranya perlu mempunyai kualifikasi yang memadai. Hal ini akan lebih terasa urgensinya jika dalam proses kalibrasi harus menghadapi perhitungan baik berupa konversi, standar deviasi, maupun perhitungan ketidakpastian serta menafsirkan hasil kalibrasi berdasarkan metode kalibrasi untuk kepentingan laboratorium penguji. Pada pokoknya petugas kalibrasi harus sensitif terhadap hasil kalibrasi yang telah diperoleh, tidak boleh terlalu mengandalkan patokan metode kalibrasi yang telah begitu rutin dilakukan sehingga mengabaikan sensitifitas kalibrasi itu sendiri. Diluar persyaratan teknis diatas petugas kalibrasi perlu memiliki kepribadian yang baik, mempunyai dedikasi yang tinggi, serta bertanggung jawab terhadap setiap pekerjaan kalibrasi yang sedang dan yang telah dilaksanakannya. 1. Kalibrasi dan cek antara Kalibrasi mengandung pengertian sebagai suatu rangkaian kegiatan untuk menentukan kebenaran konvensional suatu alat ukur dengan cara membandingkan hasil ukur alat tersebut dengan standar ukur yang sesuai dan tertelusur ke standar nasional atau internasional. Sedangkan cek antara mempunyai pengertian sebagai suatu konfirmasi dengan cara pengujian dan penyajian bukti bahwa persyaratan yang telah ditetapkan telah terpenuhi. Cek antara dimaksudkan untuk pemeliharaan ketelusuran peralatan kepada standar nasional. Cek antara dilakukan diantara selang kalibrasi untuk memeriksa bahwa alat yang telah dikalibrasi tersebut masih memenuhi persyaratan teknis, misalnya fluktuasi suhu oven masih dalam batas 2C sehingga masih boleh digunakan untuk pengujian kadar air kopi yang mempersyaratkan suhu pengeringan 1305C. Sebagai dasar untuk pengoperasian alat semisal oven diatas, laboratorium dapat melihat hasil kalibrasi dalam sertifikat kalibrasi untuk menentukan posisi penempatan bahan yang dipanaskan didalam oven. Dengan demikian jelas perbedaannya antara kalibrasi dan cek antara. Kalibrasi memerlukan alat standar yang terkalibrasi sedangkan cek antara tidak selalu harus dilakukan dengan alat standar yang terkalibrasi. 2. Proses kalibrasi Rangkaian kegiatan kalibrasi secara sederhana dapat digambarkan sebagai kegiatan persiapan kalibrasi, pelaksanaan kalibrasi, perhitungan data kalibrasi, penentuan ketidakpastian dan penerbitan laporan kalibrasi.

2.1. Persiapan kalibrasi 7.1.a Persiapan alat standar dan alat yang dikalibrasi Alat yang akan dikalibrasi dan alat standar dikondisikan pada kondisi yang sama sesuai metode kalibrasi, hal ini diperlukan untuk menghindarkan perbedaan hasil ukur akibat pengaruh lingkungan. 7.1.b Pelaksana kalibrasi Pelaksana kalibrasi harus dipilih orang yang mengerti tentang kalibrasi yang akan dilaksanakan, misalnya telah pernah mengikuti kursus kalibrasi, telah berpengalaman dibidangnya, dan dalam hal tertentu memerlukan persyaratan latar belakang pendidikan atau persyaratan fisik tertentu (misalnya tidak boleh buta warna). Hal ini diperlukan untuk menghindari kesalahan pengambilan data ukur. 7.1.c Kondisi lingkungan kalibrasi Kondisi lingkungan kalibrasi harus diatur sedemikian sesuai persyaratan metode kalibrasi umpama suhu dan kelembaban. Tidak selamanya kalibrasi harus dilakukan pada ruang yang terkondisi dengan ketat. Pengkondisian lingkungan kalibrasi biasanya dilakukan untuk kalibrasi peralatan yang mudah berubah akibat pengaruh suhu, kelembaban, getaran, cahaya, dan sebagainya. 7.1.d Metode kalibrasi Metode kalibrasi dapat mengacu kepada metode standar internasional maupun metode standar lainnya semisal text book, jurnal, buletin, dan manual peralatan, namun perlu diperhatikan bahwa acuan tersebut harus merupakan publikasi yang diakui masyarakat luas. Selain itu dari beberapa pilihan metode kalibrasi dapat dipilih metode yang mudah dilaksanakan, karena sulitnya mengikuti metode kalibrasi dapat berakibat kesalahan dalam pengambilan data kalibrasi. 7.2 Pelaksanaan kalibrasi 7.2.a Pengamatan awal Jika alat yang dikalibrasi berupa instrumen, pastikan bahwa alat tersebut dapat beroperasi normal. Jika alat berupa objek ukur pastikan bahwa alat mempunyai bentuk sempurna. Pada prinsipnya pelaksanaan kalibrasi tidak bertujuan untuk memperbaiki alat, karenanya alat yang tidak normal seyogyanya tidak boleh dikalibrasi. Alat demikian harus diperbaiki dulu oleh petugas yang khusus menangani perbaikan alat hingga alat tersebut diyakini beroperasi normal. 7.2.b Penyetelan Penyetelan alat yang akan dikalibrasi biasanya diperlukan untuk menghindari kesalahan titik nol. Penyetelan dapat berupa menyetel kedataran, pembersihan alat dari kotoran, menyetel titik nol, dalam hal misalnya kalibrasi neraca elektronik penyetelan dapat berupa kalibrasi internal sesuai prosedur dalam manual. 7.2.c Pengamatan kewajaran hasil ukur

Pengamatan ini dimaksudkan untuk memastikan kewajaran penunjukan alat. Jika alat menunjukan hasil ukur yang tidak wajar mungkin perlu penyetelan kembali atau perlu dicari penyebab ketidakwajaran penunjukan alat tersebut. 7.2.d Pengukuran Pengukuran dilakukan pada titik ukur tertentu seperti dinyatakan dalam dokumen acuan kalibrasi sesuai kapasitas alat atau rentang ukur tertentu yang biasa digunakan oleh pengguna alat. Jika dokumen acuan kalibrasi tidak menyatakan titik ukur, biasanya pengukuran dilakukan dalam selang 10% dari kapasitas ukur alat. Titik uku harus dibuat mudah dibaca oleh pengguna alat. Pada waktu pengukuran hanyalah melakukan pengambilan data dan tidak boleh melakukan kegiatan lainnya yang mungkin menyebabkan pembacaan atau pencatatan menjadi salah. 7.2.e Pencatatan Pencatatan hasil ukur harus berdasar kepada apa yang dilihat bukan kepada apa yang dirasakan. Pencatatan dilakukan seobjektif mungkin menggunakan format yang telah dirancang dengan teliti sesuai dengan ketentuan metode kalibrasi. Selain data ukur hal yang perlu dicatat adalah identitas alat selengkapnya serta faktor yang mempengaruhi kalibrasi seperti suhu ruangan, kelembaban, tekanan udara dan sebagainya. 7.3 Perhitungan Data kalibrasi yang diperoleh dihitung sesuai metode kalibrasi. Perhitungan biasanya melibatkan pekerjaan mengkonversi satuan, menghitung nilai maksimum-minimum, nilai rata-rata, standar deviasi, atau menentukan persamaan regresi. Hasil perhitungan akan menjadi dasar dalam penarikan kesimpulan dan penentuan ketidakpastian kalibrasi. 7.4 Penentuan ketidakpastian Penentuan ketidakpastian kalibrasi diperlukan karena ternyata bahwa hasil kalibrasi yang diperoleh dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain operator, alat kalibrasi, alat bersangkutan, lingkungan, metode kalibrasi. Besarnya pengaruh faktor-faktor tersebut ada yang dominan dan ada pula yang dapat diabaikan tergantung jenis kalibrasi yang dilakukan. Dengan demikian nilai telusur atau kesalahan sistematik yang diperoleh dari kalibrasi tidak berada di satu titik tertentu melainkan dalam suatu rentang nilai sebesar nilai ketidakpastian kalibrasi. Untuk keterangan lebih rinci termuat dalam butir 8. 7.5 Laporan kalibrasi Format laporan kalibrasi hendaknya mengacu kepada pedoman SNI 1917025. Proses penerbitan laporan kalibrasi secara sederhana meliputi tahap:

7.5.a Pengkonsepan Pengkonsepan laporan berdasarkan hasil pengukuran, perhitungan data, dan perhitungan ketidakpastian; 7.5.b Pemeriksaan konsep Pemeriksaan konsep oleh petugas yang berwenang untuk mengecek kesalahan identitas alat, pengambilan data, kesalahan perhitungan data dan perhitungan ketidakpastian; 7.5.c Pengetikan konsep Pengetikan konsep laporan dan pemeriksaan kebenaran pengetikan dengan cara membandingkan antara konsep laporan dengan konsep net laporan. 7.5.d Pengesahan laporan Pengesahan laporan. Biasanya yang mengesahkan laporan kalibrasi adalah kepala laboratorium kalibrasi atau seseorang yang ditunjuk atas dasar pengetahuannya di bidang kalibrasi. 1. Evaluasi Ketidakpastian Kalibrasi Evaluasi ketidakpastian kalibrasi secara umum mengacu ke ISO / TAG4 1994 Guidelines to Expression Uncertainty in Measurement . Tampaknya acuan ini masih digunakan hingga saat ini. Dasar evaluasi ketidakpastian adalah penerapan hukum propagasi terhadap model matematika y = f(x1, x2, .. , xn) sehingga: Ketidakpastian dihitung pada tingkat kepercayaan 95%, oleh karenanya biasa diberi simbol U95. Nilai tersebut dihitung dari: Nilai k adalah nilai yang diperoleh dari tabel t-student seperti dapat dilihat dalam lampiran. Banyak diantara badan kalibrasi yang secara mudah mengambil nilai k = 2 karena kenyataannya pada derajat bebas yang besar k 2. Namun bila derajat bebas dihitung maka digunakan rumus Welch-Satterthwaite: Nilai ni disebut derajat bebas tergantung bentuk distribusi kesalahan, jika berdistribusi normal maka n = n-1; untuk distribusi t-student n tergantung nilai k; dan untuk distribusi lainnya diestimasi dengan: R disebut faktor reliabilitas yang besarnya = 100 besarnya tingkat kepercayaan terhadap kebenaran taksiran kesalahan. 1. Kelayakan alat ukur Kalibrasi selalu dilakukan terhadap alat yang tidak rusak, namun alat ukur yang telah dikalibrasi tidak selalu berarti layak pakai. Kelayakan harus selalu dibandingkan dengan suatu acuan tertentu. Adalah kewajiban pengguna alat untuk melakukan evaluasi lanjutan terhadap alat ukur yang telah dikalibrasi untuk memastikan kelayakan alat.

7. Selang waktu kalibrasi Seperti telah dikemukakan diatas bahwa selang waktu kalibrasi untuk peralatan ditentukan oleh pengguna jasa. Sampai saat ini belum ada ketentuan baku kapan suatu alat harus dikalibrasi ulang. Sebagai gambaran berikut ini adalah interval kalibrasi untuk beberapa alat: a. oven : 6 bulan untuk fluktuasi, 2 tahun untuk variasi b. muffle furnace dan baths : 3 tahun c. Psychrometer : 10 tahun untuk kalibrasi lengkap, cek setiap 6 bulan dengan termometer standar d. Brookfield viscometer : 1 tahun e. Glassware : 10 tahun f. Gauge block : 8 tahun (reference); 4 tahun (working) g. Neraca : 1 tahun KAN telah menerbitkan selang waktu kalibrasi beberapa alat yang berada di laboratorium kimia fisika, mekanik, mikrobiologi, dan kalibrasi sebagaimana tercantum dalam persyaratan tambahan akreditasi. 2. Pemeliharaan peralatan 10.1 Alat standar Alat standar sedapat mungkin disimpan dalam kondisi yang mencegah perubahan sifat fisik alat standar seperti karat misalnya. Untuk alat-alat yang perlu disimpan dalam kelembaban rendah agar disimpan dalam desikator atau lemari yang dapat diatur kelembabannya. Anak timbangan perlu disimpan dalam kotak kayu yang dindingnya dilapisi beludru untuk menghindarkan goresan karena gesekan logam dengan kayu. Kotak anak timbangan disimpan dalam lemari yang kering. Jika cukup banyak desikator, dapat juga disimpan dalam desikator untuk menghindarkan karat. Catatan penggunaan alat dapat ditempatkan di tempat penyimpanan alat untuk memudahkan pencatatan jika akan digunakan untuk kalibrasi. Setiap pengeluaran alat standar selalu dicatat mengenai nama alat standar, tanggal pengeluaran, nama pengguna, dan tanda tangan pengguna alat. Catatan akan diberi keterangan telah kembali jika alat bersangkutan telah dikembalikan. 10.2 Alat ukur Alat ukur umumnya digunakan jauh lebih sering daripada alat standar. Hal ini mengakibatkan alat ukur tersebut mudah menjadi tidak normal. Jadi pemeliharaan haruslah kegiatan yang ditujukan agar alat bersangkutan dapat dipertahankan beroperasi normal. Tentu cara pemeliharaan masing-masing jenis alat berbeda tetapi dalam bab ini hanya akan dibahas alat umum saja. Beberapa peralatan yang umum digunakan di laboratorium adalah: 10.2.a Neraca analitik

Neraca analitik adalah neraca yang mempunyai ketelitian atau daya baca terkecil sebesar 0,1 mg disebut juga neraca semimikro. Neraca analitik ada dua jenis yaitu neraca analitik mekanik dan neraca analitik elektronik. Pemeliharaan yang perlu dilakukan antara lain: 1. Ditempatkan diatas meja yang paling stabil di laboratorium, Karena itu dipilih tempat dekat dinding atau dipojok ruangan; 2. Menggunakan stabilizer yang sesuai; 3. Dihindarkan dari sinar matahari langsung; 4. Dihindarkan dari gerakan udara; 5. Dihindarkan dari radiasi panas dan elektromagnetik; 6. Didatarkan posisinya dengan mengatur mata kucing; 7. Ditutup pintu neraca pada saat tidak digunakan; 8. Dihidupkan setiap hari meskipun tidak digunakan. 10.2.b Oven 1. Bersihkan bagian dalam oven dari sisa contoh atau kotoran lain; 2. Bersihkan dinding bagian luar dari debu menggunakan lap bersih, jika perlu dapat digunakan sedikit deterjen; 3. Jika mungkin penggunaan oven hanya di satu titik ukur; 4. Hidupkan oven setiap hari meskipun tidak digunakan. Jika tidak digunakan hidupkan 1 2 jam; 5. Pastikan voltase input stabil sesuai dengan spesifikasi alat; 6. Periksalah suhu oven melalui termometer indikator dan pastikan suhu mencapai titik yang diinginkan. Jika tidak, segera matikan oven. 10.2.c Alat gelas (volumetrik) 1. Cuci alat gelas menggunakan campuran asam sulfat dan kalium dikhromat, hati-hati bahan ini berbahaya; 2. Keringkan pada rak pengering tetapi tidak boleh dipanaskan dalam oven; 3. Simpan alat volumetrik yang tidak dipakai dalam lemari tertutup untuk menghindari debu; 10.2.d. Spektrofotometer UV-VIS 1. Dioperasikan menggunakan stabilizer yang sesuai; 1. Dihidupkan tiap hari meskipun tidak dipakai. Jika tidak dipakai cukup 1-2 jam; 2. Hindarkan sedapat mungkin tumpahnya cairan kedalam wadah cuvet. Jika ini terjadi segera bersihkan kembali dan keringkan seperti sediakala; 3. Matikan lampu deuterium dan lampu wolfram bila tidak dipakai; 4. Ikuti manual alat dalam pemeliharaan alat. 10.2.e pH meter 1. Dioperasikan sesuai manual alat; 2. Dihidupkan tiap hari meskipun tidak dipakai. Jika tidak dipakai cukup 1 jam atau sampai mati sendiri jika dilengkapi auto off;

3. Bersihkan badan pH meter dari debu atau cairan yang mungkin menetes keatasnya; 4. Elektroda selalu terendam dalam air suling (pH = 7) atau larutan yang disediakan pabrik; 5. Larutan didalam elektroda tidak boleh kering, selalu diisi kembali dengan larutan yang dipersyaratkan pabrik pembuat alat; 1. Pelayanan kalibrasi Pelayanan kalibrasi dapat ditujukan untuk keperluan internal maupun eksternal sebagai pelayanan kalibrasi kepada masyarakat luas. Pada prinsipnya agar kalibrasi dapat dilaksanakan harus disediakan : alat standar yang terkalibrasi, metode kalibrasi yang diakui, pelaksana kalibrasi yang berkualifikasi, rekaman yang memadai serta lingkungan kalibrasi yang memenuhi persyaratan metode kalibrasi. Kalibrasi internal dapat dilaksanakan dengan memperhatikan kelengkapan fasilitas tersebut. Instansi bersangkutan hanya terbatas melayani kebutuhan kalibrasi internal untuk jenis kalibrasi tertentu, namun instansi yang bersangkutan tidak dibenarkan memberikan pelayanan kepada masyarakat luas. Pelayanan kalibrasi eksternal dimungkinkan setelah instansi bersangkutan memperoleh akreditasi misalnya dari Komite Akreditasi Nasional (KAN) atau dari badan akreditasi lain yang diakui KAN seperti NATA, NAMAS, RNE. Akreditasi laboratorium kalibrasi mengacu kepada ISO/IEC 17025:2005 dalam hal penerapan sistem mutu. Saat ini telah terakreditasi sebanyak 95 laboratorium kalibrasi dan 377 laborattorium penguji di seluruh Indonesia. 2. Referensi 12.1. Howarth, P & Redgrave, F (2008). Mmetrologi In Short. 3rd Edition, Euramet, Schultz Grafisk, Albertslund, p. 10. 12.2. ISO/IEC 17025 : 2005 (Versi Bahasa Indonesia) 12.3. SR 01 SR 05(2005) Persyaratan Tambahan Laboratorium. KANBSN
http://xbrasi.wordpress.com/2009/11/23/kalibrasi/