Anda di halaman 1dari 10

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol 3 No.

ISSN 1858-4330

ANALISIS USAHATANI TANAMAN PANILI (Vanilla planifolia A.) DENGAN METODE ANGGARAN PARTIAL DI DESA BELAPUNRANGA, KECAMATAN PARANGLOE, KABUPATEN GOWA
Farm effort analyse of vanilla (Vanilla planifolia A.) with using the method of budget partial in Desa Belapunranga, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa Muhammad Askur 1), Faisal Hamzah 2), dan Mulyati AM 2)
1) Alumni Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Gowa 2) Dosen pada Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Gowa

ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk mengetahui kemampuan petani dalam menganalisis usahatani tanaman panili dengan metode anggaran partial, sehingga dapat meminimalkan kemungkinan kerugian yang dapat terjadi. Analisis usahatani belum dilakukan oleh petani dalam membudidayakan suatu komoditi. Selain kurangnya pengetahuan dibidang manajemen, juga petani belum tertarik melakukan hitungan-hitungan yang bagi mereka terasa sulit. Hasil penelitian diharapkan dapat membawa perubahan pola pikir bagi petani, bahwa analisis usahatani merupakan suatu hal yang mutlak dilakukan pada setiap kegiatan pertanian. Kata kunci: analisis usahatani, tanaman panili, anggaran partial ABSTRACT Research aim to identify the ability of farmer in analysing of panili farm effort using of budget partial method, so that it could minimize of loss possibility which can be happened. Analysis of farm effort not conducted by farmer yet in cultured a commodity. Besides lack of knowledge of management, also the farmer not interested to conducted the calculation which so difficult for them. Result of research is expected could lead the farmer to change their thinking pattern, that analysis of farm effort represent an absolute matter was conducted in each agricultural activity. Keywords: farm effort analyse, vanilla, budget partial PENDAHULUAN Era globalisasi antara lain dicirikan dengan perdagangan bebas yang menuntut pembangunan pertanian nasional untuk dapat menyesuaikan diri dengan pergeseran-pergeseran pola dan sistem perdagangan internasional, termasuk di dalamnya perdagangan produk-produk pertanian. Peningkatan daya saing produk-produk pertanian nasional ditempuh antara lain melalui upaya mempersiapkan dan mengembangkan komoditas pertanian yang memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif di pasar global (Sinar Tani, 2000).
26

Teknologi pertanian yang maju dan berkembang akan bermanfaat jika dimengerti dan dilaksanakan oleh para petani sebagai pelaku utama pem-bangunan pertanian. Pembangunan pertanian sangat ditentukan oleh cepat atau lambatnya suatu arus informasi teknologi sampai dan dapat dipahami oleh para petani. Pembangunan pertanian dapat dipandang sebagai usaha sadar untuk membina proses transformasi dari pertanian tradisional menjadi pertanian maju, sehingga terbentuk suatu sistem pertanian yang sesuai dengan arah dan tujuan yang diidamkan.

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol 3 No. 1

ISSN 1858-4330

Tantangan pembangunan pertanian dalam menghadapi era agribisnis adalah kenyataan bahwa pertanian Indonesia didominasi oleh usaha skala kecil yang dilaksanakan oleh berjuta-juta petani yang sebagian besar tingkat pendidikan sangat rendah (87 % dari 35 juta tenaga kerja pertanian berpendidikan SD), berlahan sempit, bermodal kecil dan memiliki produktifitas yang rendah (Departemen Pertanian, 2002). Pembangunan ekonomi daerah melalui pembangunan sistem agribisnis diharapkan dapat menciptakan kesempatan kerja dan berusaha yang sesuai dengan kondisi daerah, meningkatkan nilai tambah di daerah sedemikian rupa sehingga pendapatan rakyat dapat meningkat sebesar mungkin. Berkembangnya perekonomian daerah pada gilirannya akan dapat mengurangi disparitas ekonomi antardaerah. Disamping itu, pengentasan kemiskinan di daerah juga dapat dicapai dengan efektif, partisipatif dan berke-sinambungan (Sinar Tani, 2001). Di antara hasil-hasil pertanian, buah panili dijuluki emas hijau karena har-ganya yang tinggi. Saat ini, tanaman panili banyak ditanam di negara-negara yang terletak antara garis 20 LU dan 20 LS seperti Meksiko, Madagaskar, Ceylon, Indonesia, hingga kepulauan Fiji. (Rismunandar, 2003) Pada umumnya, pengusahaan panili di Indonesia masih dalam skala kecil, ditanam di pekarangan atau di lahan tegalan sebagai tanaman sela. Tanaman panili di Desa Belapunranga seluas 0,5 ha namun belum berproduksi karena berumur 1 3 tahun, sehingga belum terdata oleh Dinas Perkebunan Kabupaten Gowa. Pengembangan tanaman panili, baik pada tingkat nasional maupun lokal masih terbuka luas. Dengan kondisi alam yang sesuai, perluang pasar yang baik dan harga panili yang tinggi

saat ini membuat banyak petani yang berlomba-lomba mengusahakan komoditi panili baik pada lahan baru, lahan bekas kebun, ditumpangsarikan atau dengan melakukan penggantian komoditi, yaitu komoditi yang lama dibongkar dan diganti dengan panili. Adanya kasus petani yang mengalihfungsikan sawahnya menjadi kebun jeruk, atau petani yang mengganti tanaman cengkehnya karena dianggap terlalu lama untuk menghasilkan keuntungan serta harganya yang rendah dan diganti dengan komoditi yang sedang trend, merupakan usaha untuk memaksimalkan pendapatan dengan keadaan sumberdaya yang terbatas. Manakala sumberdaya yang terbatas sudah digunakan seoptimal mungkin, namun pendapatan yang diperoleh belum mencukupi, maka para petani akan melirik peluang bisnis lain yang mampu mencukupi kebutuhannya. Penggantian suatu komoditi sering tidak didasari oleh suatu analisis usahatani yang cermat. Dengan melakukan perencanaan usaha yang tepat dan analisis usahatani yang cermat diharapkan akan mampu meminimalkan resiko kegagalan dari suatu usaha di bidang pertanian. Salah satu metode analisis usahatani yang dapat digunakan adalah dengan metode anggaran partial. Menurut Prawirokusumo (1990), anggaran partial adalah hanya menghitung perubahan-perubahan keuntungan dan biaya akibat adanya usul perubahan suatu usaha. Desa Belapunranga merupakan sebuah desa yang memiliki potensi dibidang pertanian yang memadai. Indikatornya adalah saat ini dijadikan sebagai lokasi pertanian terpadu, juga merupakan lahan tebu bagi Pabrik Gula Takalar serta merupakan lokasi hutan tanaman industri dari PT. INHUTANI, dan saat ini sedang dikembangkan komoditi jagung cacah untuk pakan ternak oleh PT. Tata Harapan Cemerlang (THC). Dengan potensi yang
27

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol 3 No. 1

ISSN 1858-4330

ada sangat memungkinkan untuk mengembangkan suatu komoditi yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Tujuan Penelitian 1. Meningkatkan pengetahuan petani tentang cara menganalisis usahatani tanaman panili dengan Metode Anggaran Partial. 2. Memberikan pemahaman kepada petani bahwa dalam penggantian suatu komoditi diperlukan analisis yang cermat. BAHAN DAN ALAT Penelitian dilaksanakan di Desa Belapunranga, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa. Pada kegiatan ini dilaksanakan pembinaan terhadap petani setempat dengan materi analisis usahatani tanaman panili dengan menggunakan metode sederhana, yaitu Partial Budget atau Anggaran Partial. Sebelum kegiatan dilaksanakan, dilakukan pemilihan responden untuk dijadikan sampel. Jumlah responden 15 orang yang diambil dari tiga dusun yang ada di Desa Belapunranga. Dengan demikian, setiap dusun diwakili oleh 5 orang dengan harapan dapat menularkan pengetahuan yang diperoleh selama pembinaan kepada rekan-rekan petani lainnya. Kegiatan pembinaan kelompok tani diarahkan pada peningkatan fungsi dan kemampuan kelompok tani agar mampu melaksanakan 5 jurus kemampuan kelompok tani. Target minimal yang ingin dicapai adalah kemampuan bekerjasama, sehingga mampu mengaplikasikan inovasi baru dalam kegiatan usahataninya.

HASIL DAN PEMBAHASAN Pembinaan Usahatani Pelaksanaan kegiatan bertepatan dengan masa panen padi, sehingga menyebabkan kegiatan di lapangan sedikit mengalami kendala. Salah satu di antaranya adalah sulitnya menemui petani pada siang hari. Dampaknya adalah setiap pertemuan yang dilakukan baik untuk penyuluhan ataupun kegiatan lain tidak dapat dihadiri oleh banyak petani. Agar program tetap berjalan, maka pertemuan dilakukan pada malam hari, walaupun sebenarnya kurang efektif karena petani telah kelelahan dan mengakibatkan daya serap terhadap inovasi menjadi kurang optimal. Responden yang dilibatkan pada kegiatan analisis usahatani terdiri dari gabungan beberapa anggota kelompok tani yang ada, sehingga pembinaan yang dilakukan tidak per kelompok. Jadi dalam satu kali kegiatan, peserta yang ikut terdiri dari para petani yang berasal dari enam kelompok tani yang ada. Adapun kegiatan pembinaan usahatani dimaksud seperti pada Tabel 1. Secara umum, para petani di Desa Belapunranga dalam membudidayakan komoditi panili masih dalam taraf mencoba. Hal demikian terjadi karena kurangnya pengetahuan petani mengenai teknik budidaya dan syarat tumbuh tanaman panili. Hal inilah yang membuat petani belum berani menanam panili dalam Jumlah yang banyak. Jumlah tanaman panili yang ada di Desa Belapunranga belum mencapai satu hektar, dan pada umumnya jarak tanam yang digunakan yaitu 2 x 2 meter.

28

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol 3 No. 1

ISSN 1858-4330

Tabel 1. Pembinaan usahatani di Desa Belapunranga Kecamatan ParangloE Kabupaten Gowa bulan April Mei 2004. No. 1. Jenis Kegiatan Metode Penyuluhan Teknis Penyuluhan Penyuluhan partisipatif Penyuluhan partisipatif Penyuluhan partisipatif Jumlah peserta 15 orang 15 orang 15 orang

Penyuluhan tentang analisis usa- Pertemuan kelomhatani dengan metode anggaran pok, ceramah dan diskusi partial Memperkenalkan beberapa cara Pertemuan kelomperhitungan analisis usahatani pok, ceramah dan diskusi Memberikan motivasi agar mam- Pertemuan kelompu melihat peluang pasar sebelum pok, individu, melakukan suatu usahatani ceramah dan diskusi

2.

3.

2. Biaya Usahatani Tanaman Panili Uraian perhitungan biaya usahatani panili disesuaikan dengan keadaan di Desa Belapunranga. Besarnya biaya satu Hari Orang Kerja (HOK) disesuaikan dengan Tabel 2. Koefisien teknis usahatani panili No. Parameter 1. Luas lahan 2. Jarak tanam I Jumlah bibit panili 4. Persentase bibit, hidup 5. Cadangan bibit panili 6. Jenis pohon pelindung/ tajar 7. Jumlah pohon pelindung/ tajar 8. Persentase setek gamal hidup 9. Cadangan pelindung/ tajar 10. Penanaman bibit panili 11. Umur tanaman panili mulai produksi optimal

situasi perekonomian saat ini, demikian pula dengan harga sarana produksi yang digunakan. Asumsi-asumsi yang digunakan dalam perhitungan biaya usahatani panili disajikan pada Tabel 2.

Keterangan 0,5 hektar 2 x 2 meter 1.250 90% 20% (250 pohon) Gamal 1.250 setek 90% 20% (250 setek) Satu tahun setelah penanaman pohon pelindung/ tajar 4 5 tahun produksi yang dijadikan acuan adalah produksi dari desa terdekat yang telah berhasil dalam budidaya panili. Proyeksi biaya dan pendapatan usahatani panili seperti pada Tabel 3.

Berdasarkan asumsi dan komponen biaya di atas, maka dapat diuraikan proyeksi biaya dan pendapatan usahatani panili. Karena panili yang ada di Desa Belapunranga belum berbuah maka asumsi

29

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol 3 No. 1

ISSN 1858-4330

Tabel 3. Proyeksi Biaya dan Pendapatan Usahatani Panili


No. 1 A. 1. 2. Faktor produksi 2 Sarana produksi Sewa tanah 0,5 ha Peralatan: 10 parang 10 cangkul 1 sprayer 10 gunting pangkas 10 sepatu kebun Pembuatan pondok jaga 1 buah Pemeliharaan pondok (10%) Pembuatan pagar Pemeliharaan pagar (10%) Bibit panili dan sulaman (1.500 pohon) Stump gamal dan sulaman (1,500 setek) Pemupukan: NPK (25 g/pohon x 1.500 pohon = 37,5 kg) Bokasi ( 1 kg/pohon x 1.500 pohon = 1.500 kg Obat-obatan: Antracol 2 kg Tenaga Kerja Pengolahan Tanah (10 org X 10 hari) Ongkos angkut bibit panili (2 org x 1 hari) Ongkos angkut stump gamal (2 org x 1 hari) Penanaman tajar (5 org x 2 hari) Penanaman bibit panili (10 org x 2 hari) Penyiangan (10 org x 3 hari) Pemangkasan (10 org x 2 hari) Pemupukan (10 org x 2 hari) Penyerbukan (10 org x 5 hari) Pemanenan (10 org x 5 hari) Keamanan (1 org x 30 hari) Biaya tenaga kerja Total biaya Pendapatan produksi: 312,5 kg Harga satuan (Rp) 3 500.000 15.000 20.000 300.000 25.000 35.000 500.000 50.000 1.000.000 100.000 3.000/ pohon 200/ Setek 2.500/ kg 1.000/ kg 45.000/kg 1 4 500.000 150.000 200.000 300.000 250.000 350.000 500.000 0 1.000.000 0 0 300.000 2 5 500.000 0 0 0 0 0 0 50.000 0 100.000 4.500.000 0 3 6 Tahun ke 4 7 500.000 0 0 0 0 0 0 50.000 0 100.000 0 0 5 8 500.000 0 0 0 0 0 0 50.000 0 100.000 0 0 6 9 500.000 0 0 0 0 0 0 50.000 0 100.000 0 0

500.000 0 0 0 0 0 0 50.000 0 100.000 0 0

3. 4. 5. 6. 7.

93.750 1.500.000 90.000

93.750 1.500.000 90.000

93.750 1.500.000 90.000

93.750 1.500.000 90.000

93.750 1.500.000 90.000

93.750 1.500.000 90.000

8. B. 1.

20.000/ HOK 20.000/ HOK 20.000/ HOK 20.000/ HOK 20.000/ HOK 20.000/ HOK 20.000/ HOK 20.000/ HOK 20.000/ HOK 20.000/ HOK 20.000/ HOK

2.000.000

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.

0 20.000 200.000 0 600.000 0 400.000 0 0 600.000 3.820.000 9.053.750 0

40.000 0 0 400.000 600.000 0 400.000 0 0 600.000 2.040.000 8.873.750 0

0 0 0 0 600.000 400.000 400.000 0 0 600.000 2.000.000 4.333.750 0

0 0 0 0 600.000 400.000 400.000 1.000.000 1.000.000 600.000 4.000.000 6.333.750 46.875.000

0 0 0 0 600.000 400.000 400.000 1.000.000 1.000.000 600.000 4.000.000 6.333.750 46.875.000

0 0 0 0 600.000 400.000 400.000 1.000.000 1.000.000 600.000 4.000.000 6.333.750 46.875.000

150.000/ kg

Berdasarkan uraian proyeksi biaya dan pendapatan usahatani panili tersebut, dapat dibuat rekapitulasi biaya dan perkiraan pendapatan usahatani panili sampai tahun ke enam seperti pada Tabel 4.

Berdasarkan data pada Tabel 4 dapat dibuat analisis kelayakan usaha panili untuk luasan 0,5 hektar selama 6 tahun pengelolaan. Analisis kelayakan usaha ini meliputi Return Cost Ratio, Benefit Cost Ratio, dan Break Even Point.

30

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol 3 No. 1

ISSN 1858-4330

Tabel 4. Perkiraan Produksi, Pendapatan, Biaya dan Keuntungan Usahatani Panili


Tahun Ke1 2 3 4 5 6 Total Biaya Total Produksi Total Pendapatan Total Keuntungan Biaya (Rp) 9.053.750 8.873.750 4.333.750 6.333.750 6.333.750 6.33.750 41.262.500 Produksi (kg) 0 0 0 312,5 312,5 312,5 937,5 Harga/ kg (Rp) 0 0 0 150.000 150.000 150.000 150.000 Pendapatan (Rp) 0 0 0 46.875.000 46.875.000 46.875.000 140.625.000 99.362.500 Keuntungan 5-2 (Rp) - 9.053.750 - 8.873.750 - 4.33.750 40.541.250 40.541.250 40.541.250 -

Pendapatan rata-rata per tahun adalah =

Rp 99.362.500 6 tahun

= Rp 16.560.416,67
Return Cost Ratio (R/C)
antara tingkat keuntungan yang diperoleh dengan total biaya yang dikeluarkan selama pengelolaan kebun panili. Suatu usaha dikatakan layak dan memberikan manfaat apabila nilai B/C > 1.

Return Cost Ratio adalah perbandingan antara penerimaan dari penjualan panili dengan biaya yang dikeluarkan selama pengelolaan kebun panili. Usaha disebut menguntungkan apabila nilai R/C lebih besar dari 1. Semakin besar nilai R/C semakin besar pula tingkat keuntungan yang diperoleh.
Total penerimaan penjualan R/C = Total biaya

B/C =

Tingkat keuntungan Total biaya 99.362500 = 2,41 41.262.500

B/C =

Break Even Point (BEP)


R/C = 140.625.000 = 3,41 41.262.500

Dengan nilai R/C sebesar 3,41 berarti setiap penambahan biaya Rp 1,00 akan diperoleh penerimaan sebesar Rp 3,41 apabila penambahan Rp 1.000 akan diperoleh penerimaan Rp 3.410

Benefit Cost Ratio (B/C)


Benefit Cost Ratio adalah perbandingan

Break Even Point merupakan titik impas usaha. Perhitungan BEP terdiri dari BEP produksi dan BEP harga. Dari BEP dapat diketahui tingkat produksi dan harga buah panili pada saat petani atau pengusaha tidak memperoleh keuntungan dan tidak pula mengalami kerugian. Harga jual buah panili basah yang digunakan dalam perhitungan ini adalah Rp 150.000 per kg, sedangkan jumlah total produksi pada tiga kali panen sebanyak 937,5 kg.

31

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol 3 No. 1

ISSN 1858-4330

BEP Produksi =

Total biaya Harga penjualan 41.262.500 = 275 150.000

BEP Produksi =

BEP Harga =

Total biaya Total produksi 41.262.500 = 44,013 937,5

BEP Harga =

Dari perhitungan tersebut, diketahui bahwa BEP untuk produksi adalah 275 kg dan BEP harga sebesar Rp 44.013 per kg. Jika harga dan produksi lebih tinggi dari angka tersebut, petani atau pengusaha akan memperoleh keuntungan, dengan asumsi seluruh produk terjual.
Analisis Usahatani Tanaman Panili dengan Metode Anggaran Partial

metode anggaran partial hanya membandingkan keuntungan atau kerugian yang dialami antara usaha baru dengan usaha lama, usaha baru dalam anggaran partial ini adalah panili sedangkan usaha lama adalah tanaman kopi. Komoditi kopi digunakan sebagai pembanding karena masih dipertahankan keberadaannya dan masih berproduksi dengan baik. Selain dijual dalam bentuk kopi beras, juga diolah untuk dikonsumsi sendiri. Metode ini digunakan untuk tanaman yang telah berproduksi atau telah berumur di atas lima tahun. Seluruh pembiayaan dihitung dalam jangka waktu satu tahun pengelolaan. Luas lahan yang digunakan, baik untuk panili maupun kopi adalah 0,5 hektar. Berikut ini analisis usahatani tanaman panili dengan metode anggaran partial seperti pada Tabel 5. Apabila (G) positif maka usaha baru dapat dilaksanakan atau di teruskan, namun apabila (G) negatif maka usaha lama sebaiknya tetap dipertahankan. Hasil analisis usahatani dengan metode anggaran partial menunjukkan bahwa mengusahakan tanaman panili sangat menguntungkan, namun dibalik itu banyak faktor yang harus diperhatikan sebelum petani terlena oleh besarnya keuntungan yang akan diperoleh. Faktorfaktor yang perlu diperhatikan sebelum mengusahakan komoditi barn dapat diuraikan secara sederhana dengan analisis SWOT.

Setelah petani mengetahui pembiayaan dalam usahatani tanaman panili, selanjutnya diarahkan untuk mampu melakukan analisis usahatani dengan metode anggaran partial. Sebenarnya banyak metode yang dapat digunakan dalam menganalisis suatu kegiatan usahatani di antaranya adalah Anggaran Enterprise, Balance Sheet, Income Statemaent dan Analisis Investment. Namun dari sekian banyak metode, metode Anggaran Partial yang dianggap paling mudah karena secara garis besar,

32

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol 3 No. 1

ISSN 1858-4330

Tabel 5. Analisis usahatani Tanaman panili dengan metode Anggaran Partial di Desa Belapunranga, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa
A. Tambahan Biaya (Rp 000) 1. Biaya Tetap a Keamanan Rp. b Penyusutan alat Rp. c Pemeliharaan pondok jaga Rp. d Pemeliharaan pagar Rp. e Pajak Rp. 2. Biaya Variabel a Penyiangan b Pemangkasan c Pemupukan d Penyerbukan e Pengendalian hama/penyakit f Pemanenan g Pemeliharaan drainase Jumlah C. Tambahan Pendapatan (Rp. 000) Prediksi produksi panili = 312, 5 kg / 0,5 ha x Rp. 150.000 / kg basah = Rp 46.875

600 125 50 100 25

Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp

600 400 1.993 1.000 150 1.000 200 6.243 D. Berkurangnya Biaya (Rp. 000) 1. Biaya Tetap a. Keamanan Rp. b. Penyusutan alat Rp. 2. Biaya Variabel a Penyiangan b Pemangkasan c Pemupukan d Penyerbukan e Pengendalian hama/penyakit f Pemanenan g Pemeliharaan drainase Jumlah Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp. Rp.

B. Berkurangnya Pendapatan (Rp. 000) Produksi kopi beras = 1.100 kg/ 0,5 ha x Rp 4.500/ kg = Rp 4.950

125 25 200 400 840 150 300 400 140 150 2.730

E. Total Biaya = A + B = Rp. 6.243.000 + Rp. 4.950.000 = Rp. 11.193.000

F. Total Biaya = C + D = Rp. 46.875.000 + Rp. 2.730.000 = Rp. 49.605.000

G. Total Pendapatam = F E = Rp. 49.605.000 Rp. 11.193.000 = Rp. 38.412.000

Analisis SWOT (Strenghts, Weakness, Opportunity , dan Threats)

SWOT merupakan suatu metode yang dapat digunakan dalam berbagai bidang termasuk bidang pertanian. Analisis SWOT lebih ditujukan bagaimana mengumpulkan data sehingga dapat diambil keputusan yang terbaik. Dengan analisis SWOT diharapkan para, petani dapat menentukan suatu pilihan di antara beberapa pilihan secara bijaksana.

Panili dan kopi masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Olehnya itu dalam menentukan komoditi mana yang paling memungkinkan untuk diusahakan perlu dianalisis dengan metode SWOT. Berikut ini analisis SWOT antara panili dan kopi yang dijabarkan secara garis besar sebagai berikut :
a. S = Strenghts (Kekuatan)

1) Panili

33

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol 3 No. 1

ISSN 1858-4330

Harga relatif tinggi. Permintaan pasar akan panili makin meningkat Dapat dijual dalam bentuk basah atau kering. 2) Kopi Produksi lebih tinggi. Umur tanaman lebih panjang Bibit mudah diperoleh. Tidak membutuhkan syarat tumbuh tertentu. Dapat berproduksi terus menerus sepanjang tahun. b. W = Weakness (Kelemahan) 1) Panili Harga dapat berubah sewaktuwaktu secara drastis. Bibit sulit diperoleh dalam jumlah banyak. Memerlukan syarat tumbuh tertentu Harus dikawinkan (butuh waktu, tenaga dan biaya). Bila akan dijual kering,butuh pengelolaan yang rumit agar dapat diperoleh panili bermutu tinggi. Tidak dikonsumsi oleh masyarakat setiap hari. Dibutuhkan penjagaan setiap saat. 2) Kopi Harga relatif lebih rendah Buah harus diolah menjadi kopi beras, baru dapat dijual. Perlu dilakukan pemangkasan yang rutin agar produksinya tetap tinggi. c. O = Opportunity (Peluang) 1) Panili Dibutuhkan oleh pasar international. Tanah dan iklim di Desa Belapunranga cukup mendukung. Adanya pedagang pengumpul dan eksportir di Makassar 2) Kopi Harga relatif stabil Dikonsumsl oleh berbagai lapisan

masyarakat setiap hari. Dapat diolah pads tingkat rumah tangga. Dapat dijual dalam bentuk kopi bergs maupun kopi bubuk. Dibutuhkan oleh pasar internasional

d. T = Threats (Ancaman) 1) Panili Banyak negara lain yang juga menanam panili. Naik dan turunnya harga juga tergantung kualitas dan permintaan pasar internasional.

2) Kopi Masyarakat mulai beralih pads berbagai jenis minuman lain yang banyak diproduksi. Luas lahan semakin berkurang karena dialihfungsikan untuk pembangunan. Setelah melihat analisis SWOT kiranya komoditi kopi yang sudah ada sekarang tidak ditebang karena tergiur oleh harga panili yang tinggi karena meskipun harga kopi tidak terlalu mahal, namun harganya stabil dan memiliki peluang pasar yang cukup luas. Jalan terbaik yang perlu diambil adalah memadukan kedua komoditi tersebut dengan cara ditumpangsarikan sehingga kedua komoditi tersebut dapat memberikan pendapatan yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani.
5. Evaluasi Kegiatan Pembinaan Usaha Tani

Setelah melakukan beberapa kali pertemuan, penyuluhan tentang panili dan analisis usaha tani dengan metode anggaran partial, disertai diskusi dan praktek di kebun, ternyata analisis usahatani kurang diminati. Dari 15 orang responden yang mengikuti kegiatan hanya 5 orang (33,3%) yang memberikan respon positif untuk mau mencoba menganalisis usahataninya. 10 orang (66,7%) lainnya

34

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol 3 No. 1

ISSN 1858-4330

tidak memberikan respon, apakah menolak atau berminat. Hal ini terjadi karena bagi petani yang penting menanam dulu. Menguntungkan atau merugikan merupakan persoalan nanti. Hitungmenghitung bagi mereka terlalu sulit, keadaan ini dapat dipahami karena sebagian besar petani tingkat pen-didikannya masih rendah, sehingga dalam menentukan komoditi mana yang akan diusahakan lebih banyak dipengaruhi oleh informasi tentang harga yang tinggi dari komoditi tersebut.
KESIMPULAN

perorangan. Hasilnya 33,3 % responden berminat untuk melakukan analisis usahatani. Rendahnya minat tersebut karena tingkat pendidikan yang rendah, dimana proses perhitungan adalah hal yang sangat menyulitkan. 4. Informasi harga yang tinggi dari suatu komoditi merupakan faktor dominan yang sering dijadikan acuan oleh petani dalam menentukan komoditi yang akan diusahakan. Akibatnya, komoditi dengan harga yang rendah ditebang dan diganti dengan komoditi yang memiliki harga lebih tinggi.
DAFTAR PUSTAKA

1.

Metode anggaran partial dapat digunakan oleh petani dalam menentukan komoditi pilihan yang dikehendaki. Komoditi yang dijadikan pembanding dalam metode ini adalah tanaman kopi karena masih dipertahankan keberadaannya dan masih berproduksi dengan baik. Metode penyuluhan yang digunakan adalah pendekatan kelompok dan

2.

Departemen Pertanian, 2002 Kebijakan Nasional Penyelenggaraan Penyuluhan Pertanian. Departemen Pertanian, Jakarta. Prawirokusumo S. 1990. 11mu Usaha Tani. BPEE, Yogyakarta. Rismunandar, 2003. Bertanam Panili. Penebar Swadaya, Jakarta.

3.

35