Anda di halaman 1dari 128

Laporan Kerja Praktik PT.

PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Daftar Isi BAB 1 PENDAHULUAN ...................................................................................... 3 1.1. 1.2. 1.3. 1.4. 1.5. 1.6. 1.7. 1.8. Latar Belakang Kerja Praktik ................................................................... 3 Batasan Masalah ....................................................................................... 5 Metode Pengumpulan Data ...................................................................... 5 Tujuan Kerja Praktik ................................................................................ 6 Ruang Lingkup Pelaksanaan Kerja Praktik .............................................. 7 Tempat dan Waktu Pelaksanaan Kerja Praktik ........................................ 7 Sistematika Penulisan Orientasi Umum ................................................... 7 Sistematika Penulisan Tugas Khusus ....................................................... 8

BAB 2 PROFIL DAN MANAJEMEN PERUSAHAAN ..................................... 10 2.1. Sejarah PT Pertamina RU-IV Cilacap ........................................................ 10 2.2. Visi dan Misi Perusahaan .......................................................................... 16 2.2.1. Visi Misi PT. PERTAMINA (Persero) ................................................ 16 2.2.2. Visi Misi PT. Pertamina (PERSERO) RU IV...................................... 17 2.2.3. Organiasi dan Manajemen Perusahaan ................................................ 20 BAB 3 DESKRIPSI UMUM PABRIK ................................................................. 27 3.1 Tata Letak dan Lokasi Pabrik ...................................................................... 27 3.1.1. Lokasi Pabrik ..................................................................................... 27 3.1.2. Tata Letak Pabrik ................................................................................ 29 3.2 Kilang Minyak Pertamina RU-IV ............................................................... 33 3.2.1 Kilang Minyak I .................................................................................... 33 3.2.2 Kilang Minyak II .................................................................................. 37 3.2.3 Kilang Paraxylene Complex ................................................................. 40 3.2.4 Debottlenecking Prohect Cilacap (DPC) .............................................. 41 3.2.5 Kilang LPG dan Sulphur Recovery Unit .............................................. 47 3.3 Bahan Baku dan produk PERTAMINA RU-IV Cilacap ............................. 49 3.4. Sarana Penunjang ..................................................................................... 58 3.5. Proyek RFCC (Residuel Fluid Catalytic Cracking) ................................... 60 BAB IV ORIENTASI UMUM ............................................................................. 63 4.1. Organisasi dan Deskripsi Kerja .................................................................. 63

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

4.1.1. Process Engineering (PE) .................................................................... 63 4.1.2. Health Safety Environmental (HSE).................................................... 64 4.2. Unit Proses Pengolahan ............................................................................. 67 4.2.1 Fuel Oil Complex I ( FOC I ) ............................................................... 67 4.2.2 Lube Oil Complex 1 ............................................................................. 72 4.2.3 Fuel Oil Complex II ( FOC II ) ............................................................. 75 4.2.4. Lube Oil Complex II & III (LOC II & LOC III) ................................. 81 4.2.5. Kilang Paraxylene Cilacap (KPC) ....................................................... 85 4.2.6. Kilang LPG dan Sulfur Recovery Unit ................................................ 89 4.2.7. Unit Utilitas......................................................................................... 92 4.3 Pengolahan Limbah PT. PERTAMINA RU-IV Cilacap.......................... 103 4.4. Oil Movement.......................................................................................... 106 4.5. Laboratorium ............................................................................................ 108 BAB V ORIENTASI KHUSUS ......................................................................... 112 5.1 Pengantar Unit Utilities ............................................................................. 112 5.2 Sarana dan Fasilitas Utilities ..................................................................... 113 5.2.1. Unit 51 / 051 / 510 - Unit Pembangkit Tenaga Listrik ...................... 113 5.2.2. 5.2.3. 5.2.1 5.2.4. 5.2.5. 5.2.6. Unit 52 / 052 / 520 Pembangkit Tenaga Uap ............................. 115 Unit 53 / 053 / 530 Distribusi Air Pendingin ............................. 117 Unit 54 / 054 Pengadaan Air Bersih .......................................... 117 Unit 56 / 056 / 560 Pembangkit Udara Bertekanan / Kompressor 121 Unit 57 / 057 Distribusi Bahan Bakar Cair dan Gas .................. 122 Unit 63 / 063 Pengadaan Air Baku ............................................ 123

BAB VI PENUTUP ............................................................................................ 126 6. 1. 6.2. Kesimpulan ........................................................................................... 126 Saran ..................................................................................................... 127

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Kerja Praktik

Tentunya kita masing ingat dengan pendapat seorang ilmuwan yang bernama Charles Darwin yang menyatakan bahwa bukan spesies terkuat yang mampu bertahan hidup, melainkan spesies yang paling tanggap terhadap perubahan. Berdasarkan hal tersebut maka seorang manusia harus dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman yang semakin canggih dan modern ini, dimana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dengan pesat. Berbagai inovasi teknologi juga semakin memudahkan manusia dalam menunjang kehidupannya. Semakin terbukanya suatu negara terhadap tenaga kerja asing juga menciptakan persaingan di lapangan pekerjaan yang menuntut peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Namun, seperti perkataan Darwin tadi, hanya SDM yang mampu beradaptasi dengan teknologilah yang dapat sukses mengadapi tantangan zaman ini. Dalam era globalisasi sekarang ini, kompetisi dan persaingan adalah hal yang tidak dapat dihindari lagi. Persaingan dunia kerja yang semakin ketat, diimbangi dengan perkembangan teknologi yang semakin cepat menuntut seseorang untuk memiliki begitu banyak keahlian dan ketrampilan yang memadai untuk dapat bersaing dalam dunia kerja. Oleh karena itu, sumber daya manusia Indonesia, terutama para lulusan S1 perguruan tinggi diharapkan mampu menguasai ilmu pengetahuan umum dan teknologi serta ketrampilan khusus dalam bidang yang ditekuni. Tetapi ada hal yang lebih penting yang menjadi tolak ukur seseorang terhadap kemampuan yang dimiliki yaitu pengalaman dari disiplin ilmu yang bersangkutan. Untuk menunjang hal tersebut, diperlukan kerja sama antara institusi pendidikan formal dengan pihak industri. Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, merupakan sarana pengembangan sumber daya manusia di bidang teknik kimia secara umum yang akan menghasilkan sarjana-sarjana teknik kimia yang mampu

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

bersaing dalam kehidupan yang sebenarnya. Untuk membekali mahasiswanya dengan ilmu yang aplikatif maka setiap mahasiswa yang sudah menjelang tingkat akhir diwajibkan untuk melakukan tugas lapangan yang disebut dengan Kerja Praktik (KP). Hal ini dimaksudkan agar materi materi yang telah didapatkan pada bangku kuliah dapat lebih diperdalam dan teraplikasi dalam proses sesungguhnya di lapangan. Sehingga nantinya diharapkan mampu menciptakan umpan balik yang saling melengkapi dimana mahasiswa mendapatkan pengetahuan yang aplikatif, dan disisi lain akan tercipta peluang yang besar dan iklim yang kondusif bagi terciptanya inovasi-inovasi baru agar lebih mengoptimalkan suatu proses produksi. Selain itu adanya Kerja Praktik juga diharapkan mampu meningkatkan sense of engineering dari seorang mahasiswa sehingga calon-calon engineer ini tidak hanya pandai menyelesaikan masalah di atas kertas tetapi juga memiliki kepekaan terhadap hal-hal yang berkaitan dengan ilmu keteknikan di lapangan. Atas dasar itulah kami mengajukan Proposal Kerja Praktik ini dengan harapan agar kami dapat mempelajari dan menimba pengalaman dari orang-orang yang telah ahli dan berpengalaman di bidangnya, yang dapat memberikan aplikasi ilmu dalam proses produksi pencairan dan pemisahan udara. Selain itu, kami sebagai mahasiswa juga dapat mengobservasi langsung di lapangan mengenai proses pengolahan minyak bumi tersebut. Oleh karena itulah, PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap, merupakan pilihan yang sangat tepat bagi kami untuk melakukan Kerja Praktik. Dengan semakin bertambah meningkatnya kebutuhan akan minyak bumi, tak kalah pentingnya mengevaluasi kinerja peralatan operasi kilang, agar produksi dari minyak bumi dapat terus berjalan. Termasuk didalamnya dari peralatan operasi kilang, misalnya : Pompa, Kompresor, Turbin, Exchanger, Boiler dan sebagainya. Utilities merupakan salah satu sarana penunjang dalam melakukan proses produksi yang ada di kilang minyak Pertamina RU IV Cilacap. Salah satu tugas dari Utilities adalah menyediakan uap (steam) di seluruh area kilang. Proses penyediaan steam ini berlangsung melalui beberapa tahap dengan proses yang cukup panjang, karena bahan baku yang digunakan merupakan air payau yang

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

mengandung garam dan bahan-bahan kimia lainnya, maka diperlukan perlakuan khusus oleh beberapa peralatan untuk memperoleh air umpan (feed water) yang sesuai standar. Kemudian air umpan tersebut diolah sampai menjadi steam. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat menarik bagi kalangan mahasiswa untuk menambah pengetahuan ilmu yang mungkin belum didapat di bangku kuliah. 1.2. Batasan Masalah Agar permasalahan yang dibahas tidak menyimpang dari lingkup permasalahan maka dalam hal ini penulis memberikan batasan masalah sebagai berikut :

1.

Proses pengolahan minyak di PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap yang ditinjau dari sistem pengolahan secara teknis tanpa meninjau dari reaksi kimia yang terjadi secara terperinci

2. Evaluasi Treated Water Balance pada Unit Utilities I 1.3. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan penulis dalam pelaksanaan Kerja Praktik ini adalah sebagai berikut :

1. Metode Observasi

Metode pencarian data dengan mengadakan pengamatan langsung pada objek yang telah ditentukan

2. Metode Interview

Metode wawancara dengan pebimbing di kantor, pebimbing lapangan maupun pekerjanya untuk mengetahui permasalahan yang ada di lapangan

3. Studi Literatur

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Literatur berupa jurnal perusahaan, petunjuk kerja alat di data sheet, diagram alir, buku buku perpustakaan baik dari perpustakaan maupun dari kampus

4. Konsultasi

Penulis melakukan konsultasi pada berbagai pebimbing dan penanggung jawab/koordinator Kerja Praktik guna memperoleh bimbingan seta arahan pebimbing lapangan dari sumber-sumber lain. 1.4. Tujuan Kerja Praktik

1. Untuk melaksanakan mata kuliah KERJA PRAKTIK yang merupakan salah satu persyaratan untuk dapat lulus sebagai sarjana dari Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Indonesia. 2. Mendapatkan pengalaman nyata dan aplikatif di lapangan mengenai proses pengilangan minyak bumi dan pengolahannya menjadi bahan bakar seperti LPG, Kerosene, Pelumas, Aspal, Gasoline, Solar, dll di PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap. 3. Mengetahui secara langsung kondisi nyata di lapangan dan mempelajari permasalahan yang terjadi di Pabrik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap 4. Meningkatkan kerja sama yang baik dan saling menguntungkan antara pihak universitas dengan pihak industri/perusahaan serta meningkatkan kualitas mahasiswa agar dapat bersaing di era globalisasi. 5. Menambah ilmu pengetahuan dan khususnya sebagai bahan perbandingan antara yang dipelajari di perguruan tinggi dengan kondisi nyata yang ada pada industri.

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

1.5.

Ruang Lingkup Pelaksanaan Kerja Praktik

Adapun ruang lingkup pelaksanaan kerja praktik ini meliputi pengenalan terhadap keselamatan dan kemungkinan bahaya yang dapat terjadi di lokasi PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap, pengenalan proses produksi pada kilang yang menghasilkan bensin dll di FOC I, II, & III, lalu kilang yang menghasilkan pelumas dan aspal di LOC I.II, dan III, serta Kilang Paraxylene yang satu satunya ada di unit pengolahan PT. PERTAMINA (Persero).

1.6.

Tempat dan Waktu Pelaksanaan Kerja Praktik

Adapun tempat dan waktu pelaksanaan kerja praktik ini adalah:

Tempat

: PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap Jl. MT. Haryono No.77, Desa Lomanis, Kecamatan Cilacap Tengah, Kabupaten Cilacap Jawa Tengah. : 2 Juli 31 Agustus 2012

Waktu

1.7.

Sistematika Penulisan Orientasi Umum

Untuk memudahkan pembaca dalam memahami laporan ini, maka laporan ini disusun dengan sistematika penulisan sebagai berikut :

1.1.1. BAB I. PENDAHULUAN Menjelaskan tentang Bidang Ilmu, Latar Belakang, Batasan Masalah, Ruang Lingkup Pelaksanaan, Tujuan, Tempat dan Waktu, Sistematika Penulisan. 1.1.2. BAB II. PROFIL DAN MANAJEMEN PERUSAHAAN Menjelaskan Tentang Profil, Visi dan Misi, Struktur Organisasi dan Manajemen Perusahaan

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

1.1.3. BAB III. DESKRIPSI UMUM PABRIK Menjelaskan tentang Tata Letak Pabrik, Orientasi Kilang (Kilang I & 2, FOC I & II, LOC I,II, & III, Kilang Paraxylene Cilacap, Utilities, Kilang LPG Sulfur), Bahan Baku Minyak Bumi Serta Hasilnya, Unit Penunjang, dan Proyek RFCC 1.1.4. BAB IV. ORIENTASI UMUM Menjelaskan Tentang Organisasi dan Deskripsi Kerja,Unit Pengolahan Masing Masing Proses, Pengolahan Limbah, Oil Movement, dan Laboratorium 1.1.5. BAB V. ORIENTASI KHUSUS Menjelaskan Tentang Pengantar Unit Utilities, Sarana dan Fasilitas Utilities

1.1.6. BAB VI. PENUTUP Menjelaskan Tentang Kesimpulan Dan Saran 1.8. Sistematika Penulisan Tugas Khusus

Untuk memudahkan pembaca dalam memahami laporan ini, maka laporan ini disusun dengan sistematika penulisan sebagai berikut :

1.1.7. BAB I. PENDAHULUAN Menjelaskan tujuan,manfaat 1.1.8. BAB II. TINJAUAN PUSTAKA Menjelaskan tentang water treatment facilities, sejerah unit SWD di unit utilities, Input dan Output pada Treated Balance di Unit Utilities, Distribusi treated water pada area utilities, 1.1.9. BAB III. METODOLOGI PENELITIAN tentang judul, latar belakang, perumusan masalah,

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Menjelaskan tentang diagram alir penelitian, perhitungan treated water balance pada utilities I, analisa perkiraan hasil perhitungan treated water balance pada utilities I 1.1.10. BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Menjelaskan tentang hasil perhitungan dan pembahasan 1.1.11. BAB V. PENUTUP Berisi Kesimpulan dan Saran 1.1.12. LAMPIRAN Berisi lampiran data data untuk keperluan tugas khusus

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

BAB 2 PROFIL DAN MANAJEMEN PERUSAHAAN

2.1. Sejarah PT Pertamina RU-IV Cilacap

Indonesia merupakan negara yang memiliki beraneka ragan sumber daya alam, seperti minyak bumi, dan gas alam. Minyak bumi dan gas alam telah mulai dikelola sejak masa penjajah Belanda. Minyak bumi sendiri banyak digunakan untuk menghaslkan energi (bahan bakar) dan pembangkit tenaga listrk. Bagi Indonesia, minyak bumi merupakan sumber daya alam yang sangat penting. Hal ini disebebkan karena disamping untuk dikonsumsi dalam negeri, juga diekspor sehingga dapat meningkatkan devisa negara. Pada zaman penjajahan Belanda, sejak tahun 1871 orang-orang Belanda telah mulai berusaha untuk mendapatkan minyak bumi di Indonesia dengan jalan melakukan pemboran di daerah-daerah sumber minyak bumi untuk diolah menjadi minyak lampu. Pada tanggal 15 Juni tahun 1885, seorang pemimpin perkebunan Belanda bernama Aeilco Janszoon Zylker berhasil melakukan pemboran yang pertama di Telaga Tunggal dekat Pangkalan Brandan di Sumatera Utara pada kedalaman kira-kira 400 kaki. Sejak penemuan ini, pencarian minyak bumi terus berlanjut, dimana pada saat yang hampir bersamaan telah ditemukan pula sumber minyak bumi di Indonesia, seperti di desa Ledok Jawa Tengah, di desa Minyak Hitam di daerah Muara Enim Palembang dan Riam Kiwa dekat Sangasanga di Kalimantan Timur. Di Indonesia penemuan minyak bumi mengakibatkan tumbuhnya banyak perusahaan minyak asing, dimana pada akhir abad XIX tidak kurang dari 18 buah perusahaan asing secara aktif mengusahakan sumber-sumber minyak di Indonesia. Karena usaha eksplorasi dan kekuatan finansialnya, maka pada tahun 1902 Royal Dutch Company, yaitu perusahaan yang mengambil alih konsesi Zylker, dapat menyisihkan perusahaan-perusahaan yang ada pada waktu itu.

10

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Dalam tahun 1907, Royal Dutch Company bergabung dengan Shell Transport and Trading Company, dimana perusahaan yang beroperasi dari kelompok Royal Dutch dan Shell di Indonesia adalah Bataafshe Petroleum Maatschappij (B.P.M), dan ini merupakan satu-satunya perusahaan yang beroperasi di Indonesia sampai tahun 1911. Pada tahun 1912, Standard Vacum Oil Company (STANVAC), suatu anak perusahaan Standard Oil (New Jersey) dan s mulai beroperasi di Indonesia, perusahaan tersebut mengerjakan lapangan-lapangan minyak di Talang Akar dan Pendopo Sumatera Selatan. Untuk mengahadapi saingan dari Standard Oil ini, maka pada tahun 1930 oleh pemerintah kolonial Belanda dan B.P.M, dibentuklah suatu campuran yaitu N.V. Nederlandsche Indische Aardolie Maatschappij (N.I.A.M.). pada tahun 1935, CALTEX yaitu sebuah anak perusahaan Standard Oil of California and Texas Company mulai beroperasi di Indonesia, dimana lapangan produksinya terletak di Minas dan Duri di daerah Daratan Riau. Pada tahun 1935, dibentuk perusahaan minyak bernama Nederlandsche Nieuw Guinea Petroleum

Maatschappij (N.N.G.P.M) untuk mengeksploitasi Irian Jaya bagian barat, dengan sahamnya dari Royal Ducth-Shell, Stanvac, dan Caltex. Kilang minyak yang ada sebelum perang dunia II ada 6 buah yaitu di Plaju (B.P.B), Sungai Gerong (STANVAC), Balikpapan (B.P.M.), Cepu (B.P.M.), Wonokromo (B.P.M.), dan Pangkalan Brandan (B.P.M.). Dengan pecahnya Perang Dunia II, karena serbuan bala tentara Jepang ke Indonesia dan politik bumi hangus pemerintah Hindia Belanda, sebagian besar instalasi-instalasi kilang minyak hancur, terutama kilang minyak Pangkalan Brandan. Dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, satusatunya lapangan minyak yang dapat dikuasai oleh pejuang-pejuang kemerdekaan Indonesia adalah lapangan minyak sekitar Pangkalan Brandan dan daerah Aceh, bekas milik Shell-B.P.M, yang selanjutnya merupakan perusahaan minyak Indonesia yang pertama dan diberi nama Perusahaan Tambang Minyak Negara Republik Indonesia (P.T.M.N.R.I.). Pada tahun 1945, B.P.M. berhasil meneruskan produksi minyak mentahnya di Tarakan dan pada tahun 1946, kilang Plaju dan

11

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Sungai Gerong masing-masing dikembalikan kepada B.P.M. dan STANVAC untuk rekontruksi. Di Jawa Tengah B.P.M. tidak berhasil memperoleh kembali lapangan minyak Kawengan, Ledok, dan kilang minyak Cepu, karena telah dikuasai oleh koperasi buruh minyak yang kemudian menjadi perusahaan negara PERMIGAN. Karena sesudah selesainya perjuangan fisik di tahun 1950, P.T.M.N.R.I. juga belum menunjukan usaha-usaha pembangunannya, maka bulan April 1945 P.T.M.N.R.I. diubah menjadi Tambang Minyak Sumatra Utara (T.M.S.U.). Tindakan ini ternyata juga tidak ada manfaatnya, sehingga pada tanggal 10 Desember 1957 T.M.S.U. diubah menjadi P.T. Perusahaan Pertambangan Minyak Nasional (P.T. PERMINA). Setelah kira-kira tiga setengah tahun, maka pada tanggal 1 Juli 1961 statusnya dirubah menjadi Perusahaan Negara Pertambangan Minyak Nasional (P.N. PERMINA). Dengan penyerahan kedaulatan oleh pemerintah kolonial Belanda kepada Republik Indonesia, maka pada tanggal 1 Januari 1959 status N.V.N.I.A.M. dirubah menjadi P.T Pertambangan Minyak Indonesia (P.T. PERMINDO). Untuk memenuhi ketergantungan terhadap minyak bumi tersebut, Pemerintah Indonesia mengelurarkan UU No. 19/1960 Tentang Perusahaan Negara dan UU No.44/1960 Tentang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi. Atas dasar kedia Undang-Undang tersebut, maka pada tahun 1961 dibentuk perusahaan negara sektor Minyak dan Gas Bumi, yaitu : PN. PERTAMIN PN. PERMINA Kedua perusahaan tersebut bertindak selaku kuasa pertambangan yang usahanya meliputi bidang gas dan minyak bumi dengan kegiatan sebagai berikut : Eksplorasi Eksploitasi Pemurnian dan Pengelolaan

12

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Pengangkutan Kemudian, kedia perusahaan tersebut digabung menjadi PN.

PERTAMINA. Untuk kelanjutan dan perkembangannya, maka Pemerintah UU NO. 8/1971 Tentang PERTAMINA sebagai Pengelolaan Tunggal di Bidang Minyak Dan Gas Bumi di Indonesia. Kemudian berubah menjadi PT. PERTAMINA (Persero) berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 31 Tahun 2003 sebagai amanat dari pasal 60 UU No. 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi Perkembangan Indonsia yang terus merlaju juga seiring dengan kebutuhan energi yang terus meningkat dari waktu ke waktu. Begitu juga penggunaan minyak bumi dewasa ini terus berkembang dan semakin meningkat. Bagaimanapun juga minyak bumi merupakan salah satu sumer energi utama yang masih digunakan, terutama sebagai bahan bakar transportasi, bahan bakar berbagai jenis mesin industri maupun non-industri, dan pembangkit tenaga listrik. Menurut data dari kementrian ESDM (Energi dan Sumber Daya Manusia) pada tahun 2011, dibandingkan gas alam dan batu bara, minyak bumi masih mendominasi konsumsi bahan bakar yaitu 51,66%. Dan konsumsi minyak bumi diperkirakan akan terus meningkat terutama untuk keperluan dalam negeri

diantaranya mencapai 34% sebagai Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk kebutuhan pulau Jawa. PERTAMINA memiliki unit unit operasi yang tersebar di seluruh Indonesia yang meliputi beberapa operasi Eksplorasi dan Produksi, 7 Refinery Unit, 8 Unit Pemasaran Dalam Negeri dan Unit penunjang lainnya (PKK, Umum, Keuangan).Sejalan dengan pembangunan yang meningkat pesat, maka kebutuhan akan produk minyak bumi akan semakin bertambah. Untuk itu perlu dibangun unit pengolahan minyak bumi guna memenuhi kebuthan yang semakin meningkat tersebut. Dalam usaha tersebut, maka pada tahun 1974 dibangun kilang di Cilacap yang dirancang untuk mengolah bahan baku minyak mentah dari Rimur Tengah, dengan maksud selain untuk mendapatkan produk BBM, juga mendapatkan bahan dasar minyak pelumas dan aspal.

13

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Perkembangan kilang di cilacap merupakan pembangunan salah satu dari unit unit pengolahaan yang ada di Indonesia. Pertamina Refinery Unit IV Cilacap berada di bawah tanggung jawab Direktorat hilir PERTAMINA. Refinery Unit IV Cilacap ini merupakan Refinery Unit terbesar yang dikelola PERTAMINA secar keseluruhan yang dilihat dari hasil produksinya. Kilang Munyak Cilacap didirikan dengan maksud untuk menghasilkan produk BBM serta Non-BBM guna memenuhi kebutuhan dalam negeri yang selalu meningkat dan mengurangi ketergantungan terhadap suplai BBM dari luar negeri. Pembangunan kilang minyak di Cilacap dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu Kilang Minyak I, Kilang Minyak II, dan Kilang Paraxylene. Hingga saat ini selain RU-IV Cilacap , Pertamina juga telah memiliki unit pengolahan yang tersebar di seluruh Indonesia. Pertamina RU-IV Cilacap ini merupakan Refinery Unit dengan kapasitas produksi terbesar. Saat ini Refinery Unit (RU) minyak dan gas bumi yang dikelola oleh Pertamina terbagi atas 7 lokasi seperti yang terlihat pada tabel dibawah ini : Tabek 1.1. Tabel Refinery Unit PERTAMINA di Indonesia beserta kapasitasnya No Unit Pengolahan 1 RU I PangkalanBrandan (Sumatra Utara) KapasitasMBSD 5 (sejak 2006 tidak beroperasi lagi) 2 3 4 5 6 7 RU II Dumaidan Sungai Pakning (Riau) 170

RU III Plajuadan Sungai Gerong (Sumtra Selatan) 135 RU IV Cilacap (Jawa Tengah) RU V Balikpapan (Kalimantan Timur) RU VI Balongan (Jawa Barat) RU VII kasim (Papua Barat) MBSD = M (1000) Barrel Stream Day Gambar dibawah ini menjelaskan lokasi Refinery Unit yang tersebar di 348 270 125 10

peta indonesia yang ditandai dengan simbol lingkaran hitam.

14

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Gambar 2.1 Peta Lokasi Refinery Unit Pertamina Seluru Indonesia Untuk RU IV sendiri, adanya Surat Ketetapan Direktur Utama No.53/C00000/2008-SO, PERTAMINA Unit Pengolahan IV Cilacap (UP) berubah nama menjadi PT PERTAMINA (Persero) Refinery Unit IV Cilacap. Perubahan ini diharapkan dapat mempercepat transformasi Pertamina menjadi Kilang Minyak yang unggul dan menuju Perusahaan Minyak bertaraf internasional. Tujuan pembangunan kilang minyak di Cilacap, yaitu memenuhi kebutuhan BBM bagi masyarakat Pulau Jawa. Hal ini dipilih mengingat kilang Cilacap terletak di sentral Pulau Jawa atau dekat dengan konsumen terpadat penduduknya di Indonesia. Di samping itu juga, kilang ini dibangun untuk mengurangi ketergantungan impor BBM dari luar negeri dan untuk memudahkan suplai dan distribusi. Kilang PT. Pertamina (Persero) RU IV Cilacap memiliki kapasitas produksi sebesar 348 MBSD (Metric Barrel per Stream Day). Kilang ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu Kilang Minyak I dan Kilang Minyak II dengan masingmasing kapasitas produksinya sebesar 100 MBSD dan 200 MBSD. PT PERTAMINA (Persero) Refinery Unit IV Cilacap merupakan salah satu unit kilang minyak yang memiliki kapasitas terbesar dan terlengkap fasilitasnya di tanah air. Kilang ini mampu memasok 34% kebutuhan BBM nasional atau 60%

15

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

kebutuhan di pulau jawa. Kilang minyak ini mengolah minyak mentah menjadi bahan bakar minyak (BBM), non BBM (NBM), dan Petrokimia 2.2. Visi dan Misi Perusahaan 2.2.1. Visi Misi PT. PERTAMINA (Persero)

a. Visi Menjadi Perusahaan Energi Nasional Kelas Dunia b. Misi Menjalankan usaha minyak, gas, serta energi baru dan terbarukan secara terintegrasi, berdasarkan prinsip-prinsip komersial yang kuat. c. Nilai Nilai Dalam mencapai Visi dan Misinya, Pertamina berkomitmen untuk menerapkan tata nilai sebagai berikut : 1. Clean Manajemen yang profesional serta menghindari konflik

kepentingan yang tidak memberi toleransi pada suap ,menghargai kepercayaan serta integritas dan berdasarkan pada prinsip Good Cooperate Governance 2. Competitif

Mampu berkompetisi dalam skala regional maupun internasional, mendorong pertumbuhan melalui investasi, membangun budaya sadar biaya dan menghargai kinerja 3. Confident

16

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Berperan dalam membangin ekonomi nasional, menjadi pelopor dalam redormasi BUMN dan membangun kebanggan bangsa. 4. Customer Focused Berorientasi pada kepentingan pelanggan dan berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan 5. Commercial Membangun citra baru yang berorientasi komersial dan membuat keputusan berdasarkan prinsip-prinsip bisnis yang baik 6. Capable Dijalankan oleh jajaran pimpinan yang profesional, memiliki skill berkualitas serta memiliki komitmen untuk membangun riset dan pengembangan perusahaan.

2.2.2

Visi Misi PT. Pertamina (PERSERO) RU IV

a. Visi Menjadi kilang minyak yang unggul di Asia Tenggara dan kompetitif di Asia pada tahun 2015. b. Misi Mengolah minyak bumi menjadi produk BBM, non BBM, dan Petrokimia untuk memberikan nilai tambah bagi perusahaan, dengan tujuan: memuaskan secara stakeholder profesional, melalui berstandar peningkatan kinerja dan

perusahaan

internasional,

berwawasan lingkungan. c. Motto Bekerja dalam kebersamaan untuk keunggulan bersama.

17

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

d. Strategi Penyempurnaan konfigurasi kilang : Orientasi maksimum profit Berwawasan Lingkungan

Peningkatan kehandalan peralatan dan operasi Peningkatan teknologi informasi dan otomisasi percepatan pembangunan budaya baru. 2.2.3 Lambang ,Slogan, dan Logo Perusahaan

Rencana perubahan logo sudah dipikirkan sejak 1967 saat setelah terjadinya krisis pada PERTAMINA. Namun, program tersebut tidak dapat dilaksanakan karena terjadinya adanya perubahan kebijakan (pergantian dewan direksi). Pertimbangan mendasar diperlukannya pergantian logo ini adalah agar dapat menumbuhkan semangat baru bagi seluruh karyawan, adanya perubahan corporate culture pada seluruh karyawan menimbulkan image yang lebih baik di antara global oil dan menghadapi perubahan perubahan yang terjadi, antara lain : Perubahan peran dan status hukum perusahaan menjadi Perseroan Perubahan strategi perusahaan dalam mebghadapi persaingan pasca PSO serta semakin banyak terbentuknya entitas bisnis baru. PERTAMINA memiliki slogan yaitu ALWAYS THERE, yang berarti SELALU HADIR MELAYANI. Dengan slogan ini diharapkan prilaku dari jajaran pegawai PERTAMINA akan berubah menjadi enterpreneur dan customer oriented, terkait dengan persaingan yang sedang dan akan dihadapi. Gambar dibawah ini merupakan lambang perusahaan PT. PERTAMINA yang lama sebelum menjadi Persero yang bergambat kuda laut dan bintang laut. Lalu kemudian berganti logo seperti pada gambar 2.3 seiring dengan pergantian perusahaan menjadi PT. PERTAMINA (Persero).

18

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Gambar 2.2 Logo Lama PERTAMINA

Gambar 2.3 Logo Pertamina Lambang PT. Pertamina (Persero) yang ditunjukkan pada Gambar 1.1 memiliki filosofi sebagai berikut: 1. Elemen logo yang berbentuk huruf P yang secara keseluruhan merupakan presentasi bentuk panah, dimaksudkan sebagai

PERTAMINA yang bergerak maju dan profgresif 2. Warna yang berani menunjukan langkah besar PERTAMINA dan aspirasi perusahaan akan masa depan yang lebih positif dan dinamis yang dijabarkan dalam warna warna dibawah ini : Warna Merah : Warna yang melambangkan keuletan dan

ketegasan dan keberanian dalam menghadapi berbagai macam kesulitan Warna Hijau : Warna yang melambangkan sumber daya

energi yang berwawasan lingkungan

19

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Warna Biru

: Warna yang melambangkan kehandalan,

dapat dipercaya dan bertanggung jawab. 3. Tulisan PERTAMINA falam pilihan huruf yang mencermikan kejelasan dan transparansi serta keberanian dan kesungguhan dalam bertindak sebagai wujud positioning PERTAMINA baru. 2.2.4 Organiasi dan Manajemen Perusahaan

A. Sistem Manajemen dan Pengawasan Pertamina dikelola oleh Dewan Direksi Perusahaan dan diawasi oleh Dewan Komisaris/Pemerintah Republik Indonesia. Pelaksanaan kegiatan

Pertamina diawasi oleh seperangkat pengawas, yaitu Lembaga Negara, Pemerintah maupun dari unsur internal Pertamina itu sendiri. Dewan Direksi PERTAMINA terdiri dari Direktur Utama. Wakil Direktur Utama dan lima orang direktur, yaitu : Direktur Perncanaan Investasi dan Manajemen Resiko Direktur Hulu Direktur Pengolahaan Direktur Pemasaran dan Niaga Direktur Umum Direktur SDM Direktur Keuangan Dan juga terdapat lima (5) pejabat lainnya, yaitu : Head of Integrated Supply Chain Corporate Secretary

20

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Head of Corporate Legal Head of Integral Audit Head of LNG Business Sedangkan untuk struktur organisasi PERTAMINA RU-IV Cilacap ditunjukan oleh gambar 2.3 senagai berikut :

Gambar 2.4 Struktur Organisasi PERTAMINA RU IV B. Sistem Organisasi dan Kepegawaian Direktur pengelohaan PERTAMINA membawahi unit unit pengolahan yang ada di Indonesia. Kegiatan utama operasi kilang di RU-IV Cilacap adalah : Kilang Minyak (BBM dan Mom BBM)

21

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Kilang Petrokimia B.1 Sistem Organisasi Refinery Unit IV Cilacap dipimpin oleh General Manager yang membawahi : Senior Manager Operation and Manufacturing Manager Engineering and Development Manager Legal & General Affairs Manager Health, Safety Environment Manager Procurement Manager Relianility OPI Coordinator Manager SPID (Hirarki ke Pusat) Manager Marine Region IV (Hirarki ke Pusat) Manager Refinery Finance Offsite Support Region ke-III (Hirarki ke Pusat) Manager Human Resource Area (Hirarki ke Pusat) Manager Human Resource Area (Hirarki ke Pusat) Director of Hospital Cilacap IT Area Manager RU IV Cilacap Senior Manager Operation and Manufacturing/ Manager kilang

membawahi 6 manager, yaitu : Manager Production I

22

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Manager Production II Manager Refinery Planning and Optimation Manager Refinery Planning and Optimation Manager Maintenance Planning and Support Manager Maintenanve Planning and Support Manager Maintenance Execution Manager Turn Around Dalam melakukan tugas dan kegiatannya kepala bidang dibantu oleh kepala sub bidang, kepala seksi dan seluruh perangkat operasi di bawahnya. B.2 Sistem Kepegawaian Dalam Kegiatan sehari-hari, PERTAMINA mempunyai pegawai-pegawai di lingkungannya. Secara garis besar pegawai PERTAMINA dibagi menjadi : Pegawai Pembina Pegawai Utama Pegawai Madya Pegawai Biasa : Golongan 2 ke atas : Golongan 5 3 : Golongan 9 6 : Golongan 16 10

Pembagian jam kerja pegawai sebagai berikut : Pegawai Harian : Untuk pekerja harian bekerja selama 40 jam setiap minggu dengan perincian 5 hari kerja dari pukul 07.00-15.30 Pegawai Swift

23

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Untuk pegawai Shift bekerja dengan sistem 3:1, artinya 3 hari kerja dan 1 hari libur. Periode tersebut berjalan secara bergantian dari Shift pagi, sore dan malam dengan jam kerja sebagai berikut : Pegawai Operasi : Shift pagi Shift sore Shift malam : 08.00 16.00 : 16.00 24.00 : 00.00 08.00

Pegawai security: Shift pagi Shift sore Shift malam : 06.00 14.00 : 14.00 22.00 : 22.00 06.00

B.3 Fasilitas dan Kesejahteraan Fasilitas untuk kesejahteraan pegawai yang tersedia di

PERTAMINA Refinery Unit IV Cilacap adalah : a. Perumahan PERTAMINA RU-IV Cilacap memiliki tiga lokasi kompleks perumahan. Lokasi perumahan tersebut, yaitu : Perumahan Gunung Simping Perumahan Lomanis, Donan Perumahan Tegal Katilayu Untuk tamu disediakan Griya Patra dan Mess No. 39 dan No. 40 di perumahan Gunung Simping b. Sarana Kesehatan meliputi :

24

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Klinik darurat, terletak di kilang sebagai sarana pertolongan pertama pada kecelakaan kerja.

Rumah Sakit Pertamina Cilacap Swadana (RSPCS), terletak di komplek Tegal Katilayu yang juga melayani kesehatan bagi masyarakat umum.

c. Sarana Pendidikan Untuk meningkatkan kemampuan dan karir, Pertamina memberikan kesempatan bagi pegawainya mengikuti pendidikan ataupun pelatihan. Selain itu bagi anak-anak pegawainya, disediakan TK dan SD. Sekolah itu pun terbuka juga untuk umum. d. Sarana Rekreasi dan Olahraga Terdapat 2 gedung pertemuan dan rekreasi yang diiliki oleh Pertamina RU-IV Cilacap, yaitu : Patra Graha Patra Ria Selain itu, tersedia juga sarana olah raga diantaranya : Lapangan sepak bola Lapangan bola volley dan basket Lapangan bulu tangkis dan tenis Kolam renang Arean Bowling dan Bilyard e. Sarana Perhubungan dan Telekomunikasi Kompleks perumahan, kantor dan lokasi kilang Pertamina RU IV Cilacap dilengkapi dengan pesawat telepin sebagai alat komunikasi. Mobil dinas disediakan sebagai alat transportasi bagi staf senior yang

25

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

dapat digunakan bagi kegiatan operasional. Disediakan juga beberapa bus sebagai sarana bagi para pegawai, tamu, maupun alat transportasi bagi para anak pegawai ke sekolah. f. Perlengkapan kerja Untuk perangkat kerja dan keselamatan kerja bagi setiap pegawai, pihak Pertamina menyediakan pakaian seragam, sedangkan para pegawai yang terkait langsung dengan operasi diberikan safety shoes, ear plug, gloves, masker dan jas hujan. Bagi para tamu juga disediakan pinjaman topi keselamatan. g. Keuangan dan cuti Financial yang diberikan pada setiap pegawai terdiri dari : Gaji setiap bulan sesuai dengan pangkat dan golongan Tunjangan Hari Raya (THR) dan uang cuti tahunan Premi shift bagi pegawai shift Untuk pegawai yang sudah pensiun, menerima uang pensiun setiap bulannya. Untuk keperluan cuti, bagi setiap pegawai mendapat kesempatan cuti selama 12 hari kerja setiap tahunnya dan setiap 3 tahun mendapat cuti besar selama 26 hari kerja

26

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

BAB 3 DESKRIPSI UMUM PABRIK

3.1 Tata Letak dan Lokasi Pabrik 3.1.1. Lokasi Pabrik

PT. PERTAMINA (Persero) RU IV Cilacap terletak di Desa Lomanis, Kecamatan Cilacap Tengah, Kabupaten Cilacap. Dipilihnya Cilacap sebagai lokasi kilang didasarkan pada pertimbangan sebagai berikut : a. Studi kebutuhan BBM menunjukan bahwa konsumsi terbesar adalah penduduk Pulau Jawa. b. Tersedianya sarana pelabuhan alami yang sangat ideal karena lautnya cukup dalam dan tenang karena terlindungi Pulau Nusakambangan. c. Terdapatnya jaringan pipa Maos-Yogyakarta dan CilacapPadalarang sehingga penyaluran bahan bakar minyak lebih mudah. d. Daerah Cilacap dan sekitarnya telah direncanakan oleh pemerintahan sebagai pusat pengembangan produksi untuk wilayah Jawa bagian selatan. Dari hasil pertimbangan tersebut maka dengan adanya areal tanah yang tersedia dan memenuhi persyaratan untuk pembangunan kilang minyak, maka Refinery Unit IV dibangun di Cilacap dengan luas area total yang digunakan adalah 526 ha.

27

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Gambar 3.1. Lokasi Pabrik PT. PERTAMINA RU-IV Cilacap

Gambar 3.2 Denah PERTAMINA RU-IV Cilacap (Sumber : PT. PERTAMINA (Persero) RU IV Cilacap)

28

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

3.1.2. Tata Letak Pabrik

Tata letak Kilang Minyak Cilacap beserta saran pendukung yang ada adalah menurut tabel 3.1 berikut : Tabel 3.1 Tabel areal areal kilang PT. PERTAMINA RU-IV Cilacap a. Areal Kilang Minyak dan kantor b. Areal terminal dan Pelabuhan c. Areal Pipa Track dan Jalur Jalan d. Areal Perumahan dan sarananya e. Areal Rumah Sakit dan Lingkungannya f. Areal Lapangan Terbang g. Areal Paraxyelne h. Sarana Olah Raga/rekreasi Total 203, 19 ha 50,97 ha 12,77 ha 100.80 ha 10.27 ha 70 ha 9 ha 69, 71 ha 526,71 ha

Dalam kegiatan pengoperasiannya maka Kilang Minyak Cilacap terdiri dari unit-unit proses dan sarana penunjang yang terbagi dalam beberapa area yaitu : a) Area 10 (Fuel Oil Complex I ), terdiri atas : Unit 1100 : Crude Distilling Unit Unit 1200 : Hydrotreating Unit Unit 1300 : Hydrodesulfurizer Unit Unit 1400 : Platforming Unit Unit 1500 : Propane Manufacturing Unit Unit 1600 : Merox Treating Unit

29

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Unit 1700 : Sour Water Stripping Unit Unit 1800 : Nitrogen Plant Unit 1900 : CRP Unit b) Area 01 (Fuel Oil Complex II ), terdiri atas : Unit 011 : Crude Distilling Unit Unit 012 : Naphta Hydrotreating Unit Unit 013 : Aromatic Hydrogenation Unibon Unit Unit 014 : CCR and Platformer Unit Unit 015 : LPG Recovery Unit Unit 016 : Minalk Merox Treating Unit Unit 017 : Sour Water Stripper Unit Unit 018 : Thermal Distillate Hydrotreater Unit Unit 019 : Visbreaker Thermal Cracking Unit c) Area 20 (Lube Oil Complex I), terdiri atas : Unit 2100 : High Vacuum Unit Unit 2200 : Propane Deasphalting Unit Unit 2300 : Furfural Extraction Unit Unit 2400 : Methyl Ethyl Ketone Dewaxing Unit Unit 2500 : Hot Oil System d) Area 02 (Lube Oil Complex II), terdiri atas : Unit 021 : High Vacuum Unit Unit 022 : Propane Deasphalting Unit Unit 023 : Furfural Extraction Unit Unit 024 : Methyl Ethyl Ketone Dewaxing Unit Unit 025 : Hot Oil System e) Area 30 (Area Tangki BBM), terdiri atas : Unit 31 :Tangki-tangki gasoline dan vessel penambahan TEL FOC I dan Platformer Feed Tank Unit 32 : Tangki-tangki kerosene dan AH Unibon Feed Tank Unit 33 : Tangki-tangki Automotive Diesel Oil

30

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Unit 34 : Tangki-tangki Industrial Fuel Oil Unit 35 : Tangki-tangki komponen IFO dan HVU feed Unit 36 : Tangki-tangki migas, heavy naphta, penambahan TEL FOC II Unit 37 : Tangki-tangki LSWR dan IFO Unit 38 : Tangki-tangki ALC sebagai feed FOC I Unit 39 : Tangki-tangki paraxylene dan benzene f) Area 40 (Area Tangki non BBM), terdiri atas : Unit 41 : Tangki-tangki Lube Oil Unit 42 : Tangki-tangki Bitumen Unit 43 : Tangki-tangki Long Residu Unit 44 : Gasoline Station, Bengkel, Gudang, Pool alat berat Unit 46 : Tangki-tangki Feed FOC II Unit 47 : Tangki-tangki Mixed LPG Unit 48 : Flare System Unit 49 : Drum Plant, Pengisian Aspal g) Area 50 (Utilities Complex I), terdiri atas : Unit 51 : Pembangkit tenaga Listrik Unit 52 : Steam Generator Unit Unit 53 : Cooling Water System Unit 54 : Unit Pengolahan Air Unit 56 : Unit Sistem Udara tekan Unit 57 : Unit Sistem Pengadaan Bahan Bakar Gas dan Minyak h) Area 05 (Utilities Complex II), terdiri atas : Unit 051 : Pembangkit tenaga listrik Unit 052 : Steam Generator Unit Unit 053 : Cooling water System Unit 054 : Unit Pengolahan Air Unit 056 : Unit Sistem Udara tekan Unit 057 : Unit Sistem Pengadaan Bahan Bakar Gas dan Minyak i) Area 60 (Jaringan Oil Movement dan Pemipaan), terdiri atas :

31

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Unit 61 : Jaringan pipa dari dan ke terminal minyak area 70 Unit 62 : Cross Country Pipeline Unit 63 : Stasiun Pompa Air Sungai Unit 64 : Dermaga Pengapalan Bitumen dan Lube Oil Unit 66 : Tangki-tangki Balast dan Bunker Unit 67 : Dermaga pengapalan Bitumen dan Lube Oil Unit 68 : Dermaga Pengapalan LPG j) Area 70 (Terminal Minyak Mentah dan Produk), terdiri atas : Unit 71 : Tangki-tangki minyak mentah FOC II dan Bunker Unit 72 : Crude Island Berth, di sebelah utara pantai Pulau Nusakambangan Unit 73 : Terdiri atas tiga buah dermaga untuk pengapalan minyak putih dan minyak hitam, juga fasilitas penerimaan crude oil k) Area 80 (Kilang Paraxylene), terdiri atas : Unit 81 : Nitrogen Plant Unit Unit 82 : Naphta Hydrotreater Unit Unit 84 : CCR Platformer Unit Unit 85 : Sulfolane Unit Unit 86 : Tatoray Unit Unit 87 : Xylene Fractionation Unit Unit 88 : Parex Unit Unit 89 : Isomar Unit l) Area 200 (Lube Oil Complex II), terdiri atas : Unit 220 : Propane Deasphalting Unit (PDU) Unit 240 : Metyl Ethyl Ketone Dewaxing Unit (MDU) Unit 260 : Hydro Treating Unit / Redistling Unit (HTU/RDU) Unit 041 : Pump Station and Storage tank m) Area 500 (Utilities IIA), terdiri atas : Unit 510 : Pembangkit Tenaga Listrik Unit 520 : Steam Generator Unit Unit 530 : Cooling Water System

32

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Unit 560 : Unit Sistem Udara Tekan Kilang kilang minyak di PT. PERTAMINA RU-IV Cilacap terdiri dari komplek komplek yang menghasilkan fuel(minyak untuk bahan bakar) yang disebut FOC (Fuel Oil Complex) dan lube (aspal dan oil pelumas) yang disebut LOC (Lube Oil Complex). Komplek komplek terdiri dari : Dua komplek FOC (FOC I & FOC II) Tiga komplek LOC (LOC I,LOC II, & LOC III)

Bagan alir komplek komplek tersebut disebutkan pada gambar dibawah ini.

Gambar 3.3 Bagan Blok Proses Pertamina RU-IV Cilacap

3.2 Kilang Minyak Pertamina RU-IV Pembangunan kilang minyak di RU IV Cilacap dilaksanakan dalam lima tahap yaitu Kilang Minyak I, Kilang Minyak II, Kilang Paraxylene, Debottlenecking project, dan Kilang SRU. 3.2.1 Kilang Minyak I

33

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Pembangunan Kilang Minyak I dimulai pada tahun 1974 dan mulai beoperasi pada tanggal 24 Agustus 1976 setelah diresmikan oleh Presiden Soeharto. Kilang ini dirancang oleh Shell International Petroleum Maatschappij (SIPM), sedangkan kontraktornya adalah Fluor Eastern Inc. yang dibantu oleh beberapa sub kontraktor dari perusahaan Indonesia dan Asing. Pelaksanaan proyek ini diawasi oleh Pertamina. Kilang ini dirancang untuk memproses bahan baku minyak mentah dari Timur Tengah, Arabian Light Crude (ALC) yang kadar sulfurnya tinggi (sekitar 1.5% berat), dengan maksud selain menghasilkan BBM juga untuk mendapatkan produk NBM yaitu berupa bahan dasar minnyak pelumas (lube base oil) dan aspal yang sangat dibutuhkan di dalam negeri. Pilihan mengolah minyak mentah Timur Tengah dikarenakan karakter minyak dalam negeri tidak bisa digunakan untuk menghasilkan bahan dasar pelumas dan aspal. Sulfur dapat berperan sebagai bahan antioksidan alami dalam pelumas tetapi kadar sulfur juga tidak boleh terlalu tinggi supaya tidak menyebabkan korosi pada tembaga, selain itu sulfur juga berperan dalam meningkatkan ketahanan aspal terhadap deformasi dan cuaca yang berubah-ubah. Dalam perkembangan selanjutnya, kilang tidak hanya mengolah ALC tetapi juga Iranian Light Crude (ILC) yang mempunyai kadar sulfur 1% berat dan Basrah Light Crude (BLC). Kilang minyak pertama ini dirancang dengan kapasitas pengolahan 118.000 barel/hari, kemudian dalam rangka memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri, Pertamina RU IV Cilacap mengadakan penigkatan kapasitas operasional pada setiap kilang, sehingga kapasitas kilang minyak I menjadi 230.000 barel/hari melalui proyek Debottlenecking. Kilang minyak I yang melingkupi FOC I dan LOC I Imemiliki spesifikasi seperti Gambar 3.4 berikut.

34

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Gambar 3.4 Bagan Spesifikasi Kilang Minyak I Kilang minyak I pertamina RU IV Cilacap meliputi:

1. Fuel Oil Complex I (FOC I), untuk memproduksi BBM 2. Lube Oil Complex I (LOC I), untuk memproduksi bahan baku minyak pelumas (lube base oil) dan asphalt 3. Utilitas Complex I (UTL I), menyediakan semua kebutuhan utilities dari unitunit proses seperti steam, listrik, angin instrument, air pendingin serta fuel system.

Kapasitas desain tiap unit pada FOC I dan LOC I dapat dilihat pada tabel 3.2

35

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Tabel 3.2 Kapasitas desain unit pada FOC I dan LOC I Fuel Oil Complex I Unit Proses Kapasitas (ton/hari) CDU I NHT I 13.650 2.275 HVU I Propane Deasphalting Unit I Gas Oil HDS 2.300 Furufural Extraction Unit I Platformer I 1.650 MEK Unit I Propane Manufacturing Merox Treating 1.940 43.5 Dewaxing 226 - 337 991 1580 Lube Oil Complex II Unit Proses Kapasitas (ton/hari) 3148 784

Kemudian bagan khusus proses LOC I,II, & III proses ketiga komplek LOC tersebut berasal dari naphta FOC I

36

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Gambar 3.5 Diagram Blok LOC I,II, dan III

3.2.2 Kilang Minyak II

Kilang minyak II dibangun pada tahun 1981 untuk memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri yang terus meningkat. Setelah diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 4 Agustus 1983, kilang ini memulai operasinya. Kompleks BBM (Fuel Complex II) di kilang ini dirancang oleh Universal Oil Product (UOP) sedangkan kompleks Bahan Dasar Minyak Pelumas (Lube Oil Complex II dan III) dirancang oleh Shell International Petroleum Maatschappij (SIPM), dan offsite facilities oleh Fluor Eastern Inc. kontraktor utama untuk kilang ini adalah Fluor Eastern Inc. dan dibantu oleh kontraktor-kontraktor nasional. Kilang ini mengolah minyak mentah dalam negeri yang memiliki kadar sulfur lebih rendah daripada ALC. Minyak mentah yang digunakan merupakan campuran dengan komposisi 80% Arjuna Crude (kadar sulfur 0.1% berat) dan 20% Attaka Crude (kadar sulfur 0.1% berat). Pada perkembangan selanjutnya, digunakan minyak cocktail yang merupakan campuran dari minyak mentah dalam negeri.

37

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Sebelum diadakan Debottlenecking Project pada tahun 1997/1998, kapasitas kilang minyak II hanya 200.000 barel/hari tetapi setelah diadakan projek tersebut, kapasitasnya meningkat menjadi 230.000 barel/hari. Diagram blok kilang minyak II yang diwakili oleh FOC II ditunjukan pada gambar 3.5

Gambar 3.6 Diagram Blok Proses FOC 2

Kilang minyak II meliputi: 1. Fuel Oil Complex II (FOC II) yang memproduksi BBM 2. Lube Oil Complex II (LOC II) dan LOC III yang memproduksi bahan dasar minyak pelumas dan aspal 3. Utilities Complex II (UTL II) yang fungsinya sama dengan UTL I.

Kapasitas desain tiap unit pada FOC II dan LOC II dan III dapat dilihat pada tabel 3.3

38

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Tabel 3.3 Tabel Kapasitas FOC II, LOC II, dan LOC III Fuel Oil Complex II Lube Oil Complex II Lube Oil

Complex III Unit Proses Kapasitas (ton/hari) CDU II NHT II 26.890 2.500 HVU II Propane Deasphalting Unit II, III 991 1580 Unit Proses Kapasitas (ton/hari) 3148 784 583 Kapasitas (ton/hari)

AH Unibon

2.680

Furufural Extraction Unit II

Platformer II

2440

MEK Dewaxing Unit II, III

226 337

226 - 337

LPG Recovery Naphta Merox THTD Visbreaker

730

HTU

1700

1.620

1.800 8.837

39

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

3.2.3 Kilang Paraxylene Complex

Berdasarkan pertimbangan adanya bahan baku naphtha dan sarana pendukung seperti tangki, dermaga dan utilities maka pada tahun 1988 dibangunlah Kilang Paraxylene Cilacap (KPC) guna memenuhi kebutuhan bahan baku Pusat Aromatik di Plaju, sekaligus sebagai usaha meningkatkan nilai tambah produk kilang BBM. Kilang paraxylene dibangun pada tahun 1988 dan sebagai kontraktornya ialah Japan Gasoline Corporation (JGC). Kilang mulai beroperasi, setelah diresmikan oleh presiden RI tanggal 20 Desember 1990. Kilang ini dibangun berdasarkan adanya pertimbangan bahan baku naphtha dan sarana pendukung seperti tangki, dermaga dan utilitas. Pertamina RU IV Cilacap semakin penting dengan adanya kilang paraxylene, karena dengan mengolah 590.000 ton/tahun naphta menkadi produk utama paraxylene, benzene, dan produk samping lainnya. Jenis produk kilang paraxylene; paraxylene, benzene, LPG, raffinate, heavy aromate dan fuel gas/excess. Produksi kilang paraxylene Cilacap selain untuk memnuhi kebutuhan pusat aromatik dari RU III Plaju dan sebagian lagi diekspor. Sedangkan produk benzene keseluruhannya diekspor, produk produk lainnya dimanfaatkan untuk keperluan dalam negeri serta kebutuhan sendiri. Berikut tabel yang menjelaskan kapasitas unit di kilang KPC

40

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Tabel 3.4 Kapasitas Disain tiap Unit di Kilang Paraxylene Unit Proses Naphta Hydrotreater CCR Platformer Sulfolane Tartoray Xylene Fractionator Parex Isomar Kapasitas (ton/hari) 1.791 1.791 1.100 1.730 4.985 4.440 3.590

3.2.4 Debottlenecking Prohect Cilacap (DPC)

Seiring dengan meningkatnya laju pembangunan di Indonesia, kebutuhan akan BBM, minyak pelumas, dan aspal juga meningkat. Untuk itu perlu diupayakan untuk mengembangkan kapasitas kilang. Pengembangan kapasitas kilang direalisasikan melalui Kegiatan perencanaan proyek ini sudah dimulai sejak tanggal 16 Desember 1995 dan yang bertindak sebagai pelaksana EPC (Engineering, Procurement, and Construction) Contract adalah Fluor Daniel. Sementara perancang dan pemilik lisensi untuk Lube Oil Complex adalah SIPM (Shell International Petroleum Maatschppij). PERTAMINA merealisasikan proyek Debottlenecking RU IV Cilacap yang dibangun pada awal tahun 1996 dan mulai beroperasi pada awal Oktober 1998. Pendanaan Proyek Debottlenecking Cilacap (DPC) berasal dari pinjaman dari 29 bank dunia yang dikoordinir oleh CITICORP dengan penjamin US Exim Bank. Dana yang dipinjam sebesar US$

41

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

633 juta dengan pola Tyrustee Borrowing Scheme. Sedangkan sistem penyediaan dananya adalah Non Recourse Financing artinya pengembalian pinjaman berasal dari hasil penjualan produk yang dihasilkan oleh proyek sehingga dana pinjaman tersebut tidak membebani anggaran Pemerintah maupun cash flow Pertamina.

Pendanaan proyek peningkatan kapasitas operasional (DPC) ini berasal dari pinjaman 29 bank dunia yang dikoordinir oleh CITICORP dengan pinjaman US exim bank. Dana yang dipinjam sebesar US $ 633 juta dengan pola Trustee borrowing Scheme. Sedangkan sistem penyediaan dananya adalah Non Recource Financing, artinya pengembalian pinjaman berasal dari hasil penjualan produk yang dihasilkan oleh proyek sehingga dana pinjaman tersebut tidak membebani anggaran pemerintah maupun cash flow Pertamina. Debottlenecking Project Cilacap (DPC) dilaksanakan untuk meningkatkan kapasitas operasional RU IV telah berhasil dilaksanakan dengan modernisasi instrumen kilang yang meliputi unit pada FOC I, FOC II, Utilities I, Utilities II, LOC I, dan LOC II. Modernisasi instrumen tersebut juga ditambah beroperasinya Utilities IIA yang dihubungkan dengan Utilities I dan II serta beroperasinya LOC III juga secara otomatis akan meningkatkan kinerja operasional RU IV yang berdampak pada efisiensi dan kehandalan.

Tujuan dari proyek ini adalah:

a. Meningkatkan kapasitas produksi kilang I dan II daalm rangka memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri. b. Meningkatkan kapasitas produksi Lube Oil Plant dalam rangka memenuhi kebutuhan Lube Base Oil dan aspal. c. Menghemat/menambah devisa negara.

Lingkup dalam proyek ini adalah meliputi:

42

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

a. Modifikasi FOC I dan FOC II, LOC I dan II, dan Utilities II/Offsite b. Pembangunan LOC III c. Pembangunan Utilities III dan LOC III tankage d. Modernisasi instrumen kilang dengan DCS (Distibuted Control System)

Tabel 3.5 Jenis Pekerjaan dalam proyek Debottlenecking Cilacap Lokasi FOC I CDU : Jenis Pekerjaan Penambahan Crude Desalter dan

modifikasi/penambahan

tray pada Crude Splitter,

Product Side Stripper, Naphta Stabilizer, dan Gasoline Splitter. Modifikasi/penambahan Hydrotreater Unit Modifikasi peralatan pada Keroseine Merox Treatimg Modifikasi/penambahan peralatan pada SWS Unit Modernisasi instrumen kilang Dasilitas lain : modifikasi/penambahan pumping dan piping system, nidufujasu/penambahan heat exchange system. FOC II CDU : Penambahan Crude Desalter dan peralatan pada Naphta

modifikasi/penambahan

tray pada Crude Splitter,

Producr Side Stripper, Naphta Stabilizer, dan Gasoline Splitter. Modifikasi/penambahan peralatan pada unit AH Unibon Modifikasi/penambahan peralatan pada unit LPG

43

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Recovery Modifikasi/penambahan peralatan unit SWS Modernisasi instrumen kilang Fasilitas lain : modifikasi/penambahan pumping dan piping system, modifikasi/penambahan heat exchange system LOC II Modifikasi/penambahan peralatan pada HVU-II Modifikasi/penambahan peralatan pada PDU-II Modifikasi/penambahan peralatan pada FEU-II Modifikasi/penambahan peralatan pada HOS-II Modernisasi intrumentasi kilang Fasilitas lain : rekonfigurasi/penambahan heat

exchange, pumping, dan piping system. LOC III Pembangunan PDU-III Pembangunan MDU-III Pembangunan HTU/RDU Fasilitas lain : pembangunan new tankage, pumping, dan piping system.

Utilities/Offsite Pembangunan Power Generator 8 MW dan Distribution System Pembangunan Boiler 60 T/hr beserta BWF dan Distribution system Modifikasi/penambahan peralatan pada Flare System Pembangunan Intrument Air Modifikasi/penambahan Cooling Water System

44

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Modernisasi intrumentasi kilang Modifikasi/penambahan kolam pengoalahan limbah Pembuangan tangki penimbun aspal dan Lube Oil

Dengan selesainya proyek ini, kapasitas pengolahan kilang minyak I meningkat menjadi 118.000 barel/hari, dan kilang minyak II menjadi 230.000 barel/hari, sehingga total kapasitas keseluruhan menjadi 348.000 barel/hari. Sementara itu kapasitas produk minyak dasar pelumas (Lube Base Oil) meningkat menjadi 428.000 ton/tahun sedangkan produksi aspal meningkat dari 512.000 ton/tahun menjadi 720.000 ton/tahun. Tabel 3.6 Perbandingan Kapasitas Produksi Sebelum dan Sesudah Proyek Debottlenecking pada FOC I (barrel/hari) Unit Hasil Produksi CDU NHT Fraksi minyak Naphta gasoline KeroseneMerox Avtur/kerosene 25.708 17.300 1.592 (10,13%) 100.000 118.000 25.600 18.000 (18%) 5600 (28 %) Sebelum Sesudah Kenaikan

dan 20.000

Tabel 3.7 Perbandingan kapasitas produksi Sebelum dab Sesudah Proyek Debottlenecking dpada FOC II (barrel/hari) Unit CDU Hasil Produksi Sebelum Fraksi minyak 200.000 Sesudah 230.000 Kenaikan 30.000 (15%)

45

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

AH Unibon LPG Recovery

Kerosene Gas Propane/Butane

20.000 7.321

23.000 7.740

3.000 (15%) 419 (5,72%)

Tabel 3.8 Perbandingan kapasitas produksi Sebelum dab Sesudah Proyek Debottlenecking pada LOC I/II/III (barrel/hari) Unit Lube Oil Asphalt LPG Recovery Hasil Produksi Base HVI 60/100/160S/650 Asphalt Gas Propane/Nutane 512.000 7.321 720.000 7.740 208.000(40,63%) 419(5,72%) Sebelum 255.000 Sesudah 428.000 Kenaikan 173.000 (69%)

Dengan demikian desian FOC I, FOC II, LOC I, II, dan III mengalami perubahan seperti terlihat pada tabel tabel dibawah ini

Tabel 3.9 Kapsitas Desian Baru FOC I dan FOC II (ton/hari)

FOC I Unit Kapasitas (ton/hari) CDU I NHT I Gas Oil HDS Platformer I Propane Manufacturing 16.126 2.805 2.300 1.650 43,5

FOC II Unit Kapasitas (ton/hari) CDU II NHT II AH Unibon Platformer II LPG Recovery 30.680 2.441 3.084 2.441 636

46

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Merox Treater Sour Stripper

2.116

Naphta Merox SWS

1.311 2.410

Water 780

THDT Vidbreaker

1.802 8.309

Tabel 3.10 Kapasitas Desain Baru LOC I, II, III Pertamina RU IV Cilacap

Unit

Kapasitas (ton/hari) LOC I LOC II 3.883 784 1786 - 2270 501 841 LOC III 784 501 841 1.700

HVU PDU FEU MDU Hydotreating Unit

2.574 538 478 573 226 337 -

3.2.5 Kilang LPG dan Sulphur Recovery Unit

Pemerintah berencana untuk mengurangi kadar emisi Sox pada buangan, untuk mendukung komitmen terhadap lingkungan, maka pada tanggal 27 Februari 2002 RU IV Cilacap membangun kilang SRU dengan luas area proyek 24.000 m2 yang terdiri dari unit proses dan unit penunjang. Proyek ini dapat mengurangi emisi gas dari kilang, khususnya SO2 sehingga emisi yang dibuang ke udara akan lebih ramah terhadap ligkungan. Kilang ini mengolah off gas dari berbagai unit di RU IV menjadi produk berupa sulfur cair, LPG, dan condensate. Kilang SRU ini memiliki beberapa unit antara lain, Gas Treating Unit, LPG Recovery Unit, Sulphur Recovery Unit, Tail Gas Unit, dan Refrigeration. Umpan pada gas treating unit terdiri dari 9 stream sour gas yang sebelumnya

47

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

kesembilan stream gas ini hanya dikirim ke fuel system sebagai bahan bakar kilang atau dibakar di flare. Dengan adanya unit LPG Recovery pada kilang SRU ini akan menambah aspek komersial dengan pengambilan produk LPG yang memiliki nilai ekonomi tinggi dari stream treated gas. Dengan melakukan treatment terhadap 9 stream sour gas dengan jumlah total sebesar 600 metric ton/hari dapat diperoleh produk sulphur cair sebanyak 5968 metric ton/hari, produk LPG sebanyak 324-407 metric ton/hari dan produk condensate (C5+) sebanyak 28-103 metric ton/hari. Sedangkan hasuil atas yang berupa gas dengan kandungan H2S sangat rendah dari Uit LPG Recovery akan dikirim keluar sebagai fuel system. Unit-unit dikilang SRU adalah sebagai berikut:

1. Gas Treating

Gas treating unit dirancang untuk mengurangi kadar hydrogen sulfide (H2S) di dalam gas buang agar tidak lebih dari 10 ppm sebelum dikirim ke LPG Recovery Unit dan PSA unit yang telah ada. Dalam metode operasi normal larutan amine disirkulasikan untuk menyerap H2S pada suhu mendekati kamar.

2. LPG Recovery

Memiliki Cryogenic Refluxted Absorber design sebagai utilitas di LPG Recovery Unit untuk menambah produk LPG Recovery secara umum. Proses ini mempunyai LPG Recovery optimum pada excess 99.9% (pada deethanizer bottom stream).

3. Sulphur Recovery Unit

Unit didirikan untuk memisahkan acid gas dari amine regeneration di Gas Treating Unit (GTU), dirubah menjadi H2S dalam bentuk gas menjadi sulphur cair dan dalam bentuk gas sulfur untuk bisa dikirim melalui eksport.

48

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

4. Tail Gas Unit

TGU dirancang untuk mengolah acid gas dari sluphur Recovery Unit. Semua komponen sulfur diubah menjadi H2S untuk dihilangkan di unit TGU absorber, arus recycle kembali ke unit SRU dan sebagian dibakar menjadi jenis sulfur yang terdiri dari SOx kemudian dibuang ke atmosfer.

5. Unit 95: Refrigeration

Unit refrigeration ini dilengkapi dengan pendinginan yang diperlukan untuk LPG Recovery Unit dan juga dilengkapi dengan Trim Amine Chilling di bagian Tail Gas Unit untuk memaksimalkan pengambilan sulfur secara umum. System refrigeration terdiri dari dua tahap Loop Propane Refrigeration. Komposisi design refrigeration dapat dilihat pada tabel 3.9 Tabel 3.9Komposisi Design Refrigeration Komponen Ethane Propane i-butane Total Mol, % 2.07 94.54 3.79 100

3.3 Bahan Baku dan produk PERTAMINA RU-IV Cilacap

Produk PERTAMINA RU IV Cilacap bermacam macam, selain memproduksi BBM juga memproduksi lube base oil (bahan dasar minyak pelumas), dan asphalt. Bahan baku dan produk yang dihasilkan oleh PERTAMINA RU IV adalah

49

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

1. Fuel Oil Complex I (FOC I) Bahan Baku Crude, : Arabian Light

Light Crude Crude, Basrah Light Crude

Spesifikasi o Wujud o Penampakan o Bau belerang o Spesific gravity pada 60/60 o F o Viskositas kinematik pada 37,8 o C o Viskositas kinematik pada 50 o C o Pour point o Flash point o Komposisi Produk Fuel Gas Merupakan bahan bakar fase gas dengan komposisi Hidrogen maRUun C1-C2 yang digunakan sebagai cadangan bahan baku konsumsi pribadi Pertamina, contohnya sebagai bahan baku furnace. Kadar air Kadar sulfur Senyawa hidrokarbon : <0,05 % berat : < 2,10 % berat : 97,85 % berat : 0,85794 : 6,590 Cst : 4,574 Cst : < -36 o C :- 34o C : cair : hitam : berbau sedikit

50

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

LPG (Liquified Petroleum Gas) Produk ini dipasarkan di dalam negeri dan dimanfaatkan

untuk kebutuhan gas rumah tangga. Gasoline/Premium Gasoline merupakan produk hasil pencampuran berbagai komponen naphta yang dihasilkan unit-unit proses kilang dengan titik didih 30-225oC. gasolina atau yang sering dikenal sebagai bensin, umumnya digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor. Bensin adalah bahan bakar distilat yang berwarna kekuningan yang jernih. Warna kuning tersebut akibat adanya zat pewarna tambahan. Avtur Avtur adalah bahan bakar yang digunakan untuk pesawat terbang. Bahan bakar yang sering digunakan adalah Jet-A dan Jet A-1 dengan nomor karbon antara C8-C16. Sedangkan bahan bakar pesawat terbang sipil yang sering disebut Jet-B mempunyai nomor karbon antara C5-C15. Kerosene

Kerosene adalah bahan bakar minyak distilat, tidak berwarna, dan jernih. Penggunaan kerosene pada umumnya adalah untuk keperluan bahan bakar di rumah tangga, tetapi pada industri memerlukan kerosene untuk beberapa peralatan

pembakarannya. Kerosene disebut juga minyak tanah. Industrial Diesel Oil (Solar untuk mesin mesin industri)

Industrial Diesel Oil atau minyak diesel adalah bahan bakar jenis distilat yang mengandung fraksi-fraksi berat atau merupakan campuran dari distilat fraksi ringan dengan fraksi berat (residual fuel oil) dan berwarna hitam gelap, tapi tetap

51

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

cair pada suhu yang rendah. Minyak diesel umumnya diguankan untuk bahan bakar mesin diesel dengan putaran rendah atau lambat (300-1.000 rpm). Dapat dipergunakan sebagai bahan bakar untuk pembakaran langsung dalam dapurdapur industri. Solar/ADO Penggunaan bahan bakar ini untuk bahan bakar pada semua jenis mesin diesel dengan putaran tinggi (diatas 1.000 rpm). ADO adalala bahan bakar jenis distilat yang digunakan untuk mesin compression ignition. Pada mesin diesel yang dikompresi pada langkah induksi adalah udara. Dan udara yang dikompresi menimbulkan tekanan panas yang tinggi, sehingga dapat

membakar solar yang disemprotkan oleh injektor yang kualitas bakarnya ditunjukkan dengan cetane number. Makin tinggi cetane number menunjukkan makin lambat ADO terbakar. Dapat juga digunakan sebagai bahan bakar pada pembakaran langsung dalam dapur-dapur kecil yang terutama menginginkan pembakaran bersih.

2. Fuel Oil Complex II (FOC II)

Bahan Baku ini

: Arjuna Crude (80 %), Attaka Crude (20%), (Saat

Berbahan baku crude campuran/ Cocktail Crude) Spesifikasi Arjuna Crude : o Wujud o Penampakan o Bau : cair : hitam : berbau belerang

52

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

o Spesific gravity pada 60/60 o F o Viskositas kinematik pada 30 o C o Pour point o Flash point o Komposisi Kadar air Kadar sulfur Senyawa hidrokarbon Total (C1-C4) Light distilat Residu Kadar aspal

: 0,8473 : 4, 97 Cst : < -36 o C :- 34o C

: <0,05 % berat : 0,11 % berat : 97,85 % berat : 1,9 % berat : 20,05 % berat : 39 % berat :0, 24 % berat

Spesifikasi Arjuna Crude : o Wujud o Penampakan o Bau o Spesific gravity pada 60/60 o F o Viskositas kinematik pada 30 o C o Pour point o Flash point o Komposisi : cair : hitam : berbau belerang : 0,8133 : 2, 32Cst : < -33 o C :- 34o C

53

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Kadar air Kadar sulfur Senyawa hidrokarbon Total (C1-C4) Light distilat Residu Kadar aspal

: <0,05 % berat : 0.044 % berat : 97,85 % berat : 2,4 % berat : 32,55 % berat : 15,1 % berat : 0,07 % berat

Produk Fuel Gas LPG Gasoline/Premium Heavy Naphta Heavy Nahphta adalah bahan baku kilang

Paraxylene Kerosene ADO/IDO IFO (Industrial Fuel Oil) Minyak bakar ini lebih tebal dibandingkan minyak diesel pada umumnya dan mempunyai tingka pour point yang tinggi dibandingkan dengan minyak diesel. Penggunaan minyak bakar ini umumnya untuk bahan bakar pembakaran langsung dapur-dapur industri besar, pembuat steam dalam pembangkit listrik dan penggunaan lainnya yang

54

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

memerlukan perhatian yang lebih dari aspek ekonomisnya. Minyak ini juga sering dikenal sebagai bahan bakar kapal. LSWR (Low Sulphur Wax Residu) Sebagai bahan baku untuk diproses lebih lanjut menjadi BBM dan NonBBM, pada negara tertentu dimanfaatkan untuk bahan bakar pemanas.

3. Lube Oil Complex I (LOC I) Bahan Baku Spesifikasi o Wujud o Penampakan o Bau o Spesific gravity pada 60/60 o F o Viskositas kinematik pada 37,8 o C o Viskositas kinematik pada 50 o C o Viskositas kinematik pada 100 o C Produk o HVI (High Viscosity Index) 60 o HVI (High Viscosity) 95 o Propane Asphalt Merupakan rafinat dari proses pengambilan asphalt dari minyak yang menggunakan solvent propane. : cair : hitam : berbau aspal : 0,9674 : 868,8 Cst : 198,2 Cst : 32,45 Cst : Residu FOC I

55

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

o Minarex A dan B Digunakan untuk bahan pelarut pada industri cetak untuk menghasilkan kualitas yang lebih baik. o Slack Wax Slack wax diguanakn sebagai bahan adhesive untuk soal document, lilin, kosmetik baik cold cream, vanishing cream, emollient cream, protective cream, sun screen cream, lipstick, cream rough, eyebrow pencil maupun untuk shaving cream. Selain itu Slack Wax digunakan sebagai bahan untuk keperluan tinta cetak, tinta kertas maupun carbn, elektrolit condenser, finishing barang yang terbuat dari kulit dan industri kertas. 4. Lube Oil Complex II (LOC II) Bahan Baku Produk o HVI (High Viscosity Index) 650 o Slack Wax o Propane Asphalt o Minarex H (Minarex Hybrid) yaitu solvent yang dihasilkan dari proses Hybrid 5. Lube Oil Complex III (LOC III) Bahan Baku Produk : o HVI (High Viscosity Index) 650 o HVI (High Viscosity Index) 95 : Distilat LOC I & II : Residu FOC I

56

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

o HVI (High Viscosity Index) 160S o Minarex o Slack Wax o Propane Asphalt 6. Kilang Paraxylene Bahan Baku Spesifikasi o Wujud o Penampakan o Bau o Spesific gravity pada 60/60 o F o IBP o End Point Produk o LPG o Benzene Benzene dimanfaatkan sebagai bahan dasar Petrokimia. Produk ini tidak digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik, seluruhnya diekspor keluar negeri. o Paraxylene Sebagian produk paraxylene yang dihasilkan PERTAMIN RU IV diekspor keluar negeri bersama dengan benzene dan sebagian lagi digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan : cair : Jernih/being : Seperti kerosene : 0,650 : 25 o C : 204 o C : Naphta

57

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

baku di RU III, Plaju. Di kilang tersebut, paraxylene diolah menjadi Purified Terepthalic Acid (PTA) yang selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku bagi industria tekstil. o Heavy Aromate Produk ini diguankan sebagai solvent dan dipasarkan dalam negeri dalam bentuk cair. o Toluene Produk Toluene yang dproduksi, dipasarkan di dalam negeri. Produk ini dimanfaatkan sebagai bahan baku TNT (bahan peledak), solven, pewarna, pembuat resin, dan juga untuk bahan parfum, pembuatan plasticizer, dan obatobatan. 3.4. Sarana Penunjang

Dalam kegiatan operasinya, baik kilang BBM dan kilang non BBM (NBM) maupun kilang paraxylene didukung oleh sarana penunjang antara lain :

a. Unit Utilities, yang berfungsi menyediakan tenaga listrik, tenaga uap dan kebutuhan air bersih, baik untuk keperluan operasi kilang, perkantoran, perumahan, rumah sakit dan fasilitas lainnya. b. Tangki Penimbunan, yang digunakan sebagai penampung bahan baku minyak mentah, produk antara, produk akhir maupun air bersih untuk keperluan operasional kilang. c. Laboratorium, yang berfungsi untuk mengontrol spesifikasi dan kualitas dari minyak mentah, produk antara, produk akhir, termasuk juga untuk pusat penelitian dan pengembangan. Laboratorium ini sejak tanggal 25 Oktober 2001 telah mendapat sertifikasi SNI 19-17025-2000 dari Komite Akreditasi Nasional

58

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

d. Bengkel Pemeliharaan, yang berfungsi untuk perbaikan peralatan kilang yang mengalami kerusakan bahkan pada saat tertentu membuat peralatan pengganti yang sangat diperlukan bagi operasi kilang dan sarana penunjangnya. e. Health Safety Environment (HSE) yang berfungsi memantau dan menangani masalah limbah agar tidak mencemari lingkungan, serta menangani aturan keselamatan bagi para pekerja. PERTAMINA RU IV beberapa kali memeperoleh penghargaan zero accident dari berbagai pihak. Selain itu, karena penerapan system manajemen lingkungan yang baik, PERTAMINA RU IV berhasil memperoleh sertfikat ISO 14001 pada tanggal 10 Desember 2001 yang dikeluarkan oleh PT. TUV International. HSE RU IV memiliki sarana sebagai berikut : Sour Water Stipper, sarana untuk memisahkan gas gas beracun dan berbau dari air bekas proses. Corrugate Plate Interceptor (CPI), yaitu sarana untuk meniadakan dan memisahkan minyak yang terbawa air buangan. Holding Basin, sarana untuk mengembalikan atau memperbaiki kualitas air buangan, trerutama mengembalikan kandungan oksigen dan menghilangkan kandungan minyak. Flare, adalah cerobong asap / api untuk meniadakan pencemaran udara sekeliling. Silencer, sarana untuk mengutrangi kebisingan. Fin Fan Cooler, untuk mengurangi air sebagai media pendingin dan mengurani kemungkinan pencemaran pada air buangan. Groyne, yaitu sarana pelindung pantai dari kikisan gelombang laut.

f. Perkapalan, Kebandaraan dan Komunikasi serta Elektronika, adalah salah satu unit yang bertugas untuk mendukung bongkar muat minyak mentah dan produk

59

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

kilang yang terletak di area kilang serta menyediakan sarana komunikasi antara lain radio HT, telepon dan peralatan elektronika lainnya untuk kepentingan operasional. RU IV mempunyai fasilitas pelabuhan dengan kapasitas maksimum 635.000 DWT, yang terdiri dari pelabuhan untuk bongkar pasang minyak mentah dan memuat produk produk kilang untuk tujuan domestik maupun manca negara. g. Sistem informasi dan komunikasi. Fungsi ini dilengkapi dengan fasilitas komputer main frame, maupun fasilitas PC untuk mendukung tugas perkantoran. Selain itu, di instalasi kilang telah dilakukan otomatisasi dengan melengkapi sistem komputerisasi seperti: DCS, SAP dan lain lain. Di samping itu, sesuai dengan perkembangan dunia komunikasi, maka telah dikembangkan pula saran komunikasi melalui email, intranet dan internet. Untuk mempermudah komunikasi, dipasang radio, public automatic branch exchange (PABX) dan peralatan elektronik lainnya.

3.5. Proyek RFCC (Residuel Fluid Catalytic Cracking)

Presiden Meresmikan groundbreaking dimulainya proyek pembangunan RFCC (residuel Fluid Catalytic Cracking) Cilacap yang diharapkan dapat

mengurangi impor BBM dan produk petrokimia. Project RFCC (Residual Fluid Catalytic Cracking) Cilacap diperkirakan dapat beroperasi secara komersial pada tahun 2014. Untuk merealisasikan proyek ini. Pertamina menginvestasikan dana sebesar 1,4 Milyar USD. Proyek ini diharapkan dapat meningkatkan produksi Gasoline sebesar 9,1 juta kL per tahun. Selain itu, pembangunan proyek RFCC akan meningkatkan produksi LPG sebanyak 352 ribu ton per tahun dan akan memproduksi produk propylene sebesar 142 ribu ton per tahun. Produksi propylene tersebut diharapkan dapat menambah pasokan untuk kebutuhan Petrokimia Industri Plastik domestic yang selama ini bergantung pada

60

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Impor. RFCC cilacap juga merupakan bagian dari program Pemerintah yaitu Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) terkait dengan pembangunan infrastruktur energy guna meningkatkan ketahanan energi nasional. Proyek ini sesuai dengan rencana Pertamina untuk swasembada bahan bakar pada tahun 2018. Saat ini, Pertamina memiliki 6 kilang dengan total kapasitas pengolahan MInyak Mentah sekitar 1 Juta barrel per hari dan memproduksi BBM sejumlah 41 juta kL per tahun yang terdiri dari: Premium 12 juta kL, solar 18,3 juta kL. Kerosene 7 juta kL, dan Avtur 3,3 juta kL. Sementara itu kebutuhan nasional saat ini telah mencapai 56 juta kL per tahun dan terus meningkatkan dengan laju konsumsi rata-rata 4% per tahun. Proyek RFCC yang menggunakan Technology Licensor UOP dan AXENS akan meningkatkan kapasitas Kilang Cilacap sebanyak 62.000 barrel per hari. Saat ini total kapasitas intake kilang Pertaminanadalah 1 juta barrel per hari dengan rincian ; Cilacap 348.000 barrel per hari, Balikpapan 260.000 barrel per hari, Dumai 170.000 barrel per hari, Balongan 125.000 barrel per hari, Plaju 118.000 barrel per hari dan Kasim 10.000 barrel per hari. Dengan dibangunnya RFCC, kilang Cilacap akan dapat memproduksi BBM khususnya bahan bakar ber-oktan tinggi dan memiliki kualitas yang lebih tinggi (EURO IV Spec) serta memperbaiki margin kilang RU IV Cilacap secara keseluruhab. Proyek ini diperkirakan akan menyerap sekitar 6000 8000 tenaga kerja dan penggunaan kandungan lokal (TKDN) mencapai 38 % dari nilai kontrak EPC (Engineering, Procurement, and Construction) atau setara dengan 320 Juta Dollar. Dengan nilai kandungan lokal tersebut, secara tidak langsung diharapkan mapu meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat setmpat. Pertamina kedapan juga akan melakukan investaso pada proyek-proyek antara lain : Proyek Langit Biru Cilacap, Pusat Terminal Minyak Mentah LaweLawe Kapasitas 1 Juta KL. Proyek Refurbishment RU III Plaju dan proyek Kilang Baru Balongan II (JV KPI) dan Proyek Kilang Baru Jawa Timur (JV Saudi Aramco).

61

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Dengan dilaksanakannya proyek proyek tersebut. Pertamina akan mampu menambah produksi BBM yang sebelumnya 41 juta KL pertahun menjadi 66,7 juta KL pertahun.

62

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

BAB IV ORIENTASI UMUM

Dalam struktur organisasi PERTAMINA RU IV Cilacap, Pimpinan Unit Pengolahan membawahi beberapa manager bidang yang berhubungan dengan pengoperasian kilang. Bidang-bidang ini masih dibagi dalam beberapa sub bidang. Struktur dan tugas beberapa bidang dan sub bidang akan dijelaskan secara singkat sebagai berikut : 4.1. Organisasi dan Deskripsi Kerja

4.1.1.

Process Engineering (PE)

Process Engineering merupakan salah satu dari Bidang Engineering. Sub bidang ini mempunyai tugas antara lain : 1. Memberikan saran ke kilang yang berkaitan dengan trouble shooting, baik diminta maupun tidak (daily monitoring kilang). 2. Menganalisa dan mengadakan perhitungan performance peralatan operasi secara periodik. 3. Studi Analisa Dampak Lingkungan (AMDAL).

4. Pelayanan sampel untuk pihak luar PERTAMINA. 5. Percobaan bahan kimia yang baru. 6. Studi perencanaan dan pengembangan kilang.

Dalam melaksanakan tugasnya sub bidang Process Engineering dibagi menjadi enam seksi dan empat staf ahli. Enam seksi terdiri atas :

63

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

1. Seksi Bahan Bakar Minyak (BBM) 2. Seksi Non Bahan Bakar Minyak (NBBM) 3. Seksi Petrokimia (Petkim) 4. Seksi Sistem dan Kontrol 5. Seksi Energy 6. Seksi Loss

Empat staf ahli terdiri atas :

1. Ahli Bahan Bakar Minyak 2. Ahli Non Bahan Bakar Minyak 3. Ahli Petrokimia 4. Ahli Health Safety Environmental

Di bawah Kepala Seksi adalah para engineer yang dibagi berdasarkan profesi, jenis unit, dan beban kerja. Kepala seksi bertanggung jawab untuk membimbing para engineer tersebut. 4.1.2. Health Safety Environmental (HSE)

Di PERTAMINA RU IV Cilacap terdapat bagian yang menangani keselamatan kerja, yaitu bagian Health Safety Environmental (HSE) yang mempunyai tugas antara lain: 1. Sebagai advisor body dalam usaha pencegahan kecelakaan kerja, kebakaran/peledakan, dan pencemaran lingkungan. 2. Melaksanakan penanggulangan kecelakaan kerja, kebakaran/peledakan, dan pencemaran lingkungan.

64

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

3. Melakukan pembinaan aspek HSE kepada pekerja maupun mitra kerja (pihak III) untuk meningkatkan safety awareness, melalui pelatihan, safety talk, operation talk, dsb. 4. Kesiapsiagaan sarana dan prasarana serta personil untuk menunjang pelaksanaan, pencegahan, dan penanggulangan kecelakaan kerja,

kebakaran/peledakan, dan pencemaran lingkungan. Bagian yang mendukung pelaksanaan tugas diatas meliputi :

A. Fire and Insurance Bagan ini mempunyai tugas antara lain :

1. Meningkatkan

kesiapsiagaan

petugas

dan

peralatan

pemadam

kebakaran dalam menghadapi setiap potensi terjadinya kebakaran. 2. Meningkatkan kehandalan sarana untuk penanggulangan kebakaran. 3. Mencegah dan menanggulangi kebakaran/ledakan, serta bekerja sama dengan bagian yang bersangkutan. 4. Mengadakan penyelidikan (fire investigation) terhadap setiap kasus terjadinya kebakaran. 5. Pelaksanaan risk survey dan kegiatan pemantauan terhadap

rekomendasi asuransi. 6. Melakukan fire inspection secara rutin dan berkala terhadap sumber bahaya yang berpotensi terhadap resiko kebakaran

B. Safety Sub Bidang safety mempunyai tugas antara lain : 1. Penyelenggaraan kegiatan pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja guna mencapai kondisi operasi yang aman sesuai normanorma keselamatan. 2. Penyelenggaraan kegiatan penanggulangan kecelakaan dan yang

mengakibatkan kerusakan peralatan guna meminimalkan kerugian Perusahaan.

65

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

3. Penyelenggaraan

usaha

pembinaan/pelatihan,

administrasi

untuk

meningkatkan sistem dan prosedur keselamatan kerja. C. Environmental Bagian ini mempunyai tugas antara lain : 1. Mencegah dan menanggulangi pencemaran di dalam dan di sekitar daerah operasi PT Pertamina RU IV Cilacap. 2. Pengelolaan dan pemantauan kualitas lingkungan sesuai dengan standar dan ketentuan perundangan yang berlaku. 3. Pengelolaan bahan berbahaya dan beracun, mencakup: pengangkutan, penyimpanan, pengoperasian, dan pemusnahan.

D. Occupational Health

Fungsi dari Occupational Health adalah menangani hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan kerja dan penyakit akibat kerja. Adapun kegiatankegiatan yang dilakukan oleh unit ini meliputi :

1. Mengukur, memantau, merekomendasi pengendalian bahaya lingkungan kerja industri mulai dari faktor kimia (gas,debu), fisika (bising, getaran, radiasi, iluminasi), biologi (serangga,tikus, binatang buas), dan ergonomi. 2. Melakukan penyuluhan dan bimbingan tentang health talk. 3. Pengelolaan kotak P3K 4. Inspeksi dan rekomendasi sanitasi lingkungan kerja bermasalah.

5. Pemantauan ,perawatan alat HSE serta maintenance alat ukur Hazard

66

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

4.2. Unit Proses Pengolahan 4.2.1 Fuel Oil Complex I ( FOC I )

Fuel Oil Complex I (FOC I) dibangun pada tahun 1974 dan selesai pada tahun 1976. Kilang ini dirancang oleh Shell International Petroleum Maatschappij (SIPM), sedangkan kontraktornya adalah Fluor Eastern Inc, dibantu oleh beberapa sub kontraktor Indonesia dan asing. Pada awalnya, FOC I dirancang unrtuk mengolah minyak mentah jenis Arabian Light Crude (ALC) dengan kapasitas pengolahan 100.000 barrel per hari. Setelah Debottlenecking Project, FOC I memiliki kapasitas pengolahan 118.000 barrel per hari atau 16.094 TPSD dan juga digunakan mengolah minyak mentah jenis Basrah Light Crude (BLC) dan Iranian Light Crude (ILC). Fuel Oil Complex I (FOC I) yang terletak di area 10 terdiri dari unitunit proses sebagai berikut : 1. Unit 11 : Crude Distilling Unit 2. Unit 12 : Naphtha Hydrotreating Unit 3. Unit 13 : Hydrodesulfurizer Unit 4. Unit 14 : Platforming Unit 5. Unit 15 : Propane Manufacture Facility Unit 6. Unit 16 : Marcaptan Oxidation Treating Unit 7. Unit 17 : Sour Water Stripping Unit

67

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Gambar 4.1 Blok Diagram Proses FOC I 1. Unit 011 : Crude Distilling Unit I ( CDU I )

CDU dirancang untuk mengolah 16.094 ton/hari atau 118.000 BPSD ALC, atau BLC atau ILC. Chemical injection yang digunakan dalam unit ini adalah soda kaustik (NaOH), ammonia (NH3), dan demulsifier. Berikut tabel karakteristik ALC (Arabian Light Crude). Tabel 4.1 Karakteristik ALC (Arabian Light Crude).

Crude dipompa dari tangki menuju kolom distilasi, melalui jaringan penukar panas (digunakan untuk mengurangi beban furnace) dengan memanaskan

68

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

crude dengan arus panas dari produk kolom. Jaringan penukar panas ini dilengkapi dengan desalter untuk mengurangi kadar garam dalam crude. Kemudian crude dipompa dari tangki menuju preflash column, sehingga uap fraksi ringan terpisah dengan fraksi beratnya. Di dalam kolom, crude terpisah menjadi lima fraksi, yaitu produk atas (yang terdiri dari naphtha dan light tops), kerosene, LGO, HGO, dan Long Residue sebagai produk bawah. Cairan yang bergerak ke bawah dilucuti dengan steam untuk mengambil produk atas yang terbawa arus itu. Sebagian fraksi naphtha, kerosene, dan LGO dikembalikan lagi ke kolom sebagai refluks. Produk naphtha dari CDU ini digunakan sebagai umpan unit Naphtha Hydrotreater (NHT) yang selanjutnya digunakan sebagai umpan Platformer. Produk kerosene diumpankan ke Merox Unit, sedangkan LGO diumpankan ke Hydro Desulphurizer Unit (HDS). Long Residue dikirim ke storage untuk diolah kembali di Lube Oil Complex (LOC).

2. Unit 012 : Naphta Hidrotreater Unit I ( NHT I )

Unit ini berfungsi mengolah hasil puncak crude distiller (Unit 11) dengan kapasitas 25.600 BPSD atau 2.805 ton/hari. Produk dari unit ini digunakan sebagai umpan Platformer (fraksi 60-150 0C). Proses yang digunakan adalah proses Shell Vapour Phase Hydrotreating. Katalis yang digunakan adalah Cobalt Molebdenum dengan jenis Alumina Extrude.Dalam unit ini terjadi penghilangan sulfur, oksigen, dan nitrogen yang bisa meracuni katalis pada unit Platformer. Sulfur yang terdapat pada naphtha (umumnya berbentuk thioles, mercaptan, dan sulfida) direaksikan dengan hidrogen secara katalitik sehingga hidrogen disulfida yang mudah dipisahkan dengan hidrokarbon.

3. Unit 013 : Hidro Deshulpurizer I ( HDS I )

Unit ini berfungsi untuk menghilangkan mercaptan pada LGO dan HGO, dengan mereaksikan mercaptan dengan hidrogen secara katalitik sehingga

69

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

menjadi hidrogen disulfide. yang mudah dipisahkan dengan hidrokarbon. Proses yang digunakan adalah Shell-Trickle Hydrodesulphurization Process. H2S yang terbentuk dipisahkan dengan separator, sedangkan cairannya dilucuti dengan steam, lalu dikeringkan secara vakum dengan ejector.

4. Unit 014 : Platformer Unit

Unit ini berfungsi untuk menaikkan bilangan oktan naphtha dari Naphtha Hydrotreater Unit (Unit 1200) dengan pengolahan 14.300 BPSD atau 1.650 ton/hari. Sebelum masuk unit Platformer, naphtha dikurangi kandungan sulfurnya hingga 0,5 wt ppm di unit Naphtha Hydrotreater. Dalam unit ini naphtha dikonversikan dengan bantuan katalis. Reaksi yang terjadi antara lain:

Dehydrogenation, pengambilan hidrogen dari naphtha untuk membentuk senyawa aromatis. Hydrocracking, pemecahan molekul parafin rantai panjang menjadi paraffin pendek. Isomerisasi, reaksi pembentukan molekul dengan jumlah atom C yang sama tetapi dengan struktur molekul yang berbeda. Siklisasi, perubahan senyawa hidrokarbon parafinik menjadi senyawa hidrokarbon naftenik. Desulfurisasi, reaksi senyawa yang mengandung sulfur dengan hidrogen menghasilkan H2S. 5. Unit 015 : Propane Manufacturing Unit ( PMF )

Unit ini berfungsi memisahkan LPG dari Platformer Unit menjadi propane dan fuel gas, jadi tidak memproduksi LPG untuk dipasarkan. Kapasitas unit ini sebesar 7 ton/hari, dengan dua kali produksi dapat mencukupi kebutuhan bahan bakar Lube Oil Complex dalam satu bulan.

70

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

6. Unit 016 : Merox Treater Unit

Merox Treater Unit berfungsi untuk mengolah kerosene sehingga didapatkan kerosene dengan smoke point dengan spesifikasi tertentu. Salah satu cara adalah dengan menginjeksikan Anti Static Additive (ASA) selama pengaliran ke penimbunan. Kapasitas pengolahan unit ini sebesar 16.900 BPSD atau 2.119 ton/hari.

Pada unit ini terjadi proses pemisahan mercaptan yang korosif dan kerosene dengan cara mengubah mercaptan menjadi disulfida yang tidak korosif dengan cara oksidasi katalitik, yaitu dengan menginjeksikan udara ke dalam reaktor. Proses ini menggunakan katalis Iron Group Metal Chelate dalam suasana basa. Proses ini bertujuan untuk menghasilkan kerosene yang memenuhi spesifikasi aviation turbine fuel (avtur).

7. Unit 017 : Sour Water Stripper Unit

Unit ini berfungsi mengolah 733 ton/hari sour water dengan kandungan H2S sebesar 0.7 ton/hari dan kandungan NH3 sebesar 0,16 ton/hari. Bahan pendukung yang digunakan adalah packing berupa Ceramics Intallox Sadle 2.

8. Unit 018 : Nitrogen Plant Unit

Produk dari unit ini adalah nitrogen dengan kemurnian tinggi yang didapat dari hasil pemisahan nitrogen dengan udara. Produk nitrogen ini selanjutnya dapat digunakan untuk proses purging dan blanketing. Kapasitas produksi nitrogen gas adalah 100 Nm3/jam sedangkan kapasitas produksi nitrogen cair 65 Nm3/jam. Kandungan O2 pada nitrogen produk dibatasi sampai <10 ppm. 9. Unit 019 : Contaminant Removal Process Unit

71

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Unit ini berfungsi untuk menghilangkan kontaminan berupa Hg dan Arsen. Kandungan Hg dalam hidrokarbon terbentuk sebagai elemental sulfur dalam senyawa organik dan anorganik maupun sebagai padatan, umumnya mudah menguap sehingga bila gas alam atau crude oil difraksinasi, kandungan Hg sering terkonsentrasi pada fraksi-fraksi ringan terutama naphtha dan fraksi-fraksi yang lebih ringan lainnya. Proses pengambilan Hg dan Arsen terdiri dari dua seksi:

Seksi Reaktor Terdiri dari sebuah reaktor, pemanas umpan dan penukar panas produk dengan umpan. Umpan berupa kondensat gas alam, untreated naphtha atau campuran dari kondensat dan naphtha. Dalam reaktor, senyawa ionik dan anorganik Hg dikonversikan menjadi elemen Hg.

Seksi Absorber Untuk menghilangkan elemental Hg yang berasal dari seksi reaktor dan senyawa arsenic ringan yang terkandung dalam umpan absorber 4.2.2 Lube Oil Complex 1

LOC I pada awalnya menghasilkan produk utama lube base dan hasil samping aspal dan Minarex-B dengan kapasitas total 80.000 ton/tahun untuk 4 grade lube oil base. Dengan selesainya Debottlenecking Project maka pada operasinya, LOC I mengalami perubahan khususnya untuk HVU I kapasitasnya menjadi 2.574 ton/hari (115%). Sedangkan fungsi atau tugas LOC I antara lain: Menghasilkan 2 grade lube oil base, yaitu HVI 60 (Parafinic 60) dan HVI 100 (Parafinic 100) Menghasilkan atau menyediakan umpan untuk FEU II di LOC II Menghasilkan aspal dan Minarex-A dan Minarex-B

72

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Gambar 4. 2 Blok Diagram LOC I

Unit tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut, 1. Unit 021 : High Vacuum Unit ( HVU I )

Unit ini mengolah long residue dari CDU I, untuk menghasilkan distilat yang akan diproses lebih lanjut menjadi bahan dasar minyak pelumas. Hasil-hasil dari unit 21 ini adalah sebagai berikut,

Spindle Oil (SPO) Light Machine Oil (LMO) Medium Machine Oil (MMO) Short Residue Hasil lainnya, yaitu Vacuum Gas Oil (VGO), Light Medium Machine Oil (LMMO), dan black oil yang semuanya digunakan untuk blending fuel oil. Proses yang dipakai adalah vakum distilasi dengan kapasitas pengolahan adalah 2.574 ton/hari. Hasil SPO dengan viskositas 13-14 cst dan LMO dengan viskositas 59-92 cst dikirim ke LOC II sebagai umpan FEU II 2. Unit 022 : Propane Deasphalting Unit I (PDU I)

73

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Unit ini berfungsi untuk menghilangkan asphalt dari short residue sebelum diolah lebih lanjut menjadi bahan minyak pelumas. Prosesnya adalah ekstraksi dengan pelarut propane. Kapasitasnya 523 ton/hari short residue dari bottom product HVU (Unit 21), sedangkan hasil dari unit ini adalah deasphalted dan asphalt. Hasil DAOnya digunakan sebagai umpan di FEU II.

3. Unit 023 : Furfural Extraction Unit I (FEU I)

Unit ini pada awalnya berfungsi untuk menghilangkan senyawa-senyawa aromatik dari distilat hasil proses HVU, DAO, dan PDU, sehingga diperoleh hasil waxy raffinate dengan viskositas yang tinggi. Prosesnya adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut furfural yang mempunyai daya larut terhadap senyawa aromat, rafinatnya diolah di MDU menjadi bahan minyak pelumas sedangkan ekstraknya digunakan sebagai fuel oil component.

Khusus untuk umpan LMO distilat, ekstraknya dapat dipasarkan sebagai Minarex B. Dengan selesainya Debottlenecking Project, saat ini pengolahan yang dilakukan di FEU I hanya ada dua grade umpan, yaitu SPO distilat dan LMO distilat. Kapasitas FEU tergantung jenis umpan yang diolah, seperti tabel berikut, Tabel 4.2 Kapasitas Umpan FEU Stream Feed Intake (ton/hari) Solvent Ratio Rafinate Output ( %) Extract Output (%) 2.2 60 40 4.2 60 40 3.5 45 55 4.5 58 42 SPO 555 LMO 515 MMO 573 DAO 478

4. Unit 024 : Methyl Ethyl Ketone Dewaxing Unit I (MDU I)

Unit ini berfungsi menghilangkan wax (lilin) dari rafinat hasil FEU, dengan cara pendinginan rafinat sampai wax mengkristal dan dapat dipisahkan

74

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

dengan penyaringan. Tujuan menghilangkan wax adalah agar minyak pelumas yang terbentuk mempunyai titik tuang (pour point) yang memenuhi syarat (rendah). Sebelum pendinginan, terlebih dahulu umpan ditambahkan solvent agar pendinginan dan penyaringan dapat lebih mudah. Pelarut yang digunakan adalah campuran antara methyl ethyl ketone dengan toluene dengan perbandingan 52 : 48. Kapasitas dari unit ini tergantung dari umpan yang diolah. Berikut kapasitas umpan untuk diolah pada unit ini, Tabel 4. 3 Kapasitas Umpan MDU Steam Dewaxing Oil ( Ton/hari) Feed Intake ( Ton/hari) Slack Oil ( Ton/hari) HVI 60 264 339 339-264 HVI 95 298 372 372-298 HVI 160 283 377 377-283 HVI 650 213 266 266-213

5. Unit 024 : Hot Oil System Unit I (HOS I)

Unit ini berfungsi sebagai penghasil panas untuk disalurkan pada unit-unit tersebut di atas, yaitu untuk menguapkan solvent pada seksi recovery. Sistem ini beroperasi secara kontinyu dalam suatu sirkulasi tertutup dengan penambahan (make up) yang secara kontinyu pula, sistem ini menggunakan SPO hasil HVU.

4.2.3 Fuel Oil Complex II ( FOC II )

Fuel Oil Complex II merupakan perluasan dari kilang dan dirancang untuk mengolah minyak mentah (80% Arjuna dan 20% Attaka) dari dalam negeri dengan kadar sulfur yang rendah. Unit ini terletak pada area 01. Adapun kapasitasnya adalah 230.000 barrel/hari. Saat ini terjadi perkembangan sehingga FOC II dapat mengolah bermacam-macam crude seperti Katapa Crude, Sumatra Light Crude, Arimbi Crude, Arun Condensate, Duri Crude dan lain-lain di mana

75

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

komposisi crude tersebut diatur agar mendekati komposisi crude design pasca debottlenecking project. Kilang ini dirancang oleh Universal Oil Product (UOP) dan distilasinya berukuran tinggi 80 m, diameter 10 m dengan jumlah tray 53 buah. Tabel 4. 4 Komposisi Umpan FOC II Jenis Crude Arjuna Attaka Arun Condesate Minas % Volume 55.6 13.9 12.2 18.3 BPSD 127.000 31.970 28.060 42.000

Fuel Oil Complex II (FOC II) pada Gambar 1.5 yang terletak di area 01 terdiri dari unitunit proses sebagai berikut : Unit 011 : Crude Distilling Unit II (CDU II) Unit 012 : Naptha Hydrotreating Unit II (NHT II) Unit 013 : AH Unibon Unit Unit 014 : Platforming dan CCR Unit Unit 015 : LPG Recovery Unit Unit 016 : Cracked Naphta Minalk Merox Treater Unit 017 : Sour Water Stripper Unit Unit 018 : Thermal Distillate Hydrotreating Unit Unit 019 : Visbreaker Thermal Cracker Berikut penjelasan masing-masing unit proses yang berada pada kilang FOC II dan bagannya seperti pada gambar dibawah ini,

76

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Gambar 4.3 Blok Diagram FOC II 1. Unit 011 : Crude Distilling Unit II (CDU II )

Unit ini berperan sebagai pemisah awal untuk minyak mentah, sehinga diperoleh fraksi-fraksi minyak untuk dioleh lebih lanjut. Pada unit ini dilengkapi dengan desalter yang berfungsi untuk menghilangkan kadar garam. Unit ini dirancang untuk mengolah 230.000 barel/hari minyak mentah domestik. Produk Crude Distilling Unit, yaitu :

Refinery gas dengan boiling range < 30 oC yang dominan mengandung C1 dan C2 untuk dipakai sebagai bahan bakar dapur pabrik-pabrik yang ada di kilang PERTAMINA RU IV Cilacap, dengan jumlah 0,02% crude feed. Liquid Petroelum Gas dengan boiling range < 30 C yang fraksinya sebagian besar terdiri dari C3 dan C4 langsung dikirim ke tangki penampungan dengan jumlah sekitar 2,53% dari crude feed. Light Naphta dengan boiling range 44 80 0C. Produk ini setelah keluar dari pengolahan tingkat I (CDU II) tidak membutuhkan lagi pengolahan tingkat II karena sudah memenuhi persyaratan sebagai komponen mogas dan

77

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

komponen naphta ekspor. Jumlahnya sekitar 6,73 % crude oil. Heavy Naphta dengan boiling range 99 152 0C . Berbeda dengan light naphta maka heavy naphta sebagai komponen mogas, untuk menaikan angka oktannya harus melalui proses kedua. Pertama, proses dilakukan di Naphta Hydrotreater Unit untuk dibuang komponen sulfurnya, kemudian baru masuk Platforming Unit untuk dinaikan angka oktannya dari 60 sampai 94. Jumlah yang dihasilkan dari produk ini mencapai sekitar 16,39% dari crude oil. Kerosene dengan boiling range 171 - 241oC. Kerosene sebagai komponen blending dapat langsung dikirim ke tangki penyimpanan dan sebagian lagi diolah di AH Unibon untuk diperbaiki smoke point-nya dari sekitar 15 mm menjadi 24 mm. Jumlahnya sekitar 21% dari crude oil. Light Diesel Oil (LDO) dan Heavy Diesel Oil (HDO) dengan boiling range masing-masing 252 - 273oC dan 233 339oC. Kedua produk ini juga dipakai sebagai komponen Automotif Diesel Oil (ADO) dan tidak perlu lagi dimasukkan pada proses kedua. Jumlah produk yang dihasilkan masing-masing mencapai sekitar 11,62% dan 11,21% dari crude feed. Reduced Crude dengan boiling range > 350oC. Produk berat dari minyak mentah ini mempunyai tiga fungsi utama yaitu sebagai Refinery Fuel Oil (RFO), bahan baku Industrial Fuel Oil (IFO) dan Low Sulphur Waxy Residu (LSWR). Agar menjadi komponen IFO maka produk ini diproses pada Unit Visbreaker dimana pour point-nya diperbaiki. 2. Unit 012 : Naptha Hydrotreating Unit II (NHT II)

78

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Unit ini berfungsi untuk menghilangkan sulfur, logam berat dan komponen nitrogen serta senyawa oksigen. Proses ini akan menghasilkan heavy naphta yang memenuhi syarat sebagai umpan platforming. Kapasitasnya sebesar 2.440 ton/hari. Katalis yang digunakan adalah nikel dan molebdenum dengan pembawa alumina. 3. Unit 013 : AH Unibon Unit

Unit ini bertujuan untuk memperbaiki smoke point pada kerosene, agar tercapai smoke point minimal 17 mm. Kapasitasnya sebesar 2.440 ton/hari. Unit ini terdiri dari 2 bagian, yaitu : Hydrotreating process, untuk mereduksi sulfur, nitrogen, dan heavy metal. Aromatic hydrogenation, untuk menaikkan smoke point. 4. Unit 014 : Platforming dan CCR Unit

Unit ini mengolah lebih lanjut naphta dari Unit 012, untuk menaikan angka oktan menjadi lebih tinggi, untuk campuran blending gasoline atau premium. Unit ini dilengkapi dengan sistem continuous catalytic (CCR) sehingga katalis yang digunakan selalu dalam kondisi optimal. Katalis yang digunakan adalah UOP R-134 yang berupa platina dengan alumina sebagai carrier.

Kapasitasnya adalah sebesar 2.440 ton/hari. Reaktor pada unit ini berupa reaktor susun sehingga memungkinkan regenerasi katalis secara terus menerus. 5. Unit 015 : LPG Recovery Unit Tujuan dari unit ini adalah memisahkan LPG propane dan LPG butane yang berasal dari stabilizer column (CDU II) dan debutanizer dari unit Platforming. Kapasitasnya mencapai 730 ton/hari. Umpan yang diolah adalah 93,2% volume berasal dari overhead naphta stabilizer unit 011 dan 6,8% volume berasal dari overhead debutanizer unit 014. 6. Unit 016 : Cracked Naphta Minalk Merox Treater

Dalam unit ini thermal cracked naphta dari unit 019 mengalami proses sweetening, yaitu proses oksidasi mercaptan menjadi disulfida sehingga

79

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

memenuhi persyaratan spesifikasi sebagai komponen mogas untuk produksi gasoline. Thermal cracked naphta dicampur dengan platformate yang memiliki angka oktan tinggi dan kadar sulfur rendah. Hal tersebut berimbas pada mogas yang cukup baik dan memenuhi persyaratan pemasaran. Unit ini mempunyai kapasitas 11.150 barel/hari dan katalis yang digunakan adalah Merox Reagent no.1. 7. Unit 017 : Sour Water Stripper Unit Unit ini dirancang untuk kapasitas 1.830 ton per hari. Dalam unit ini kadar H2S dalam sour water dikurangi dari 8.100 ppm wt menjadi kurang dari 20 ppm wt dan menurunkan kadar NH3 dari air menggunakan stripping pada Stripper Column. Kapasitas pengolahan dari unit ini dapat mencapai sekitar 1.800 ton/hari. Kontaminan utama yang terdapat dalam sour water adalah H2S dan NH3 yang terdapat dalam bentuk NH4HS. Garam ini merupakan garam dari basa lemah dan asam lemah yang dalam larutan mudah terhidrolisis menjadi H2S dan NH3. 8. Unit 018 : Thermal Distillate Hydrotreating Unit

Unit ini mengolah LGO dan HGO yang keluar dari Visbreaker. LGO dan HGO memiliki tipikal produk thermal cracking yaitu kandungan sulfurnya tinggi sehingga perlu mengalami proses hydrotreating agar diperoleh diesel oil dengan cetan indeks sekitar 45 dan flash point tidak kurang dari 1540F. Kapasitas unit ini adalah 1.800 ton/hari. 9. Unit 019 : Visbreaker Thermal Cracker

Unit ini mengolah reduced crude dari kolom distilasi untuk memberikan nilai tambah pada residu. Proses yang dilakukan adalah mengubah minyak fraksi berat menjadi minyak fraksi ringan dengan cara cracking mengunakan media pemanas. Proses dari cracking ini dibatasi oleh stabilitas dari visbreaking residu yang digunakan sebagai fuel oil. Produk dari unit ini adalah sebagai berikut : Cracked gas, dikirim ke refinery fuel gas system Thermal Cracked Naphta, dikirim ke unit 016 untuk mengalami proses sweetening

80

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Light Gas Oil, sebagian dikirim ke unit 018 untuk diolah lebih lanjut dan sebagian lagi dikirim ke fuel oil storege untuk komponen blending fuel oil Heavy Gas Oil, diperlukan sama seperti Light Gas Oil Slop Wax, dikirim ke fuel oil storage untuk komponen blending fuel oil Vacuum Bottom, untuk komponen blending fuel oil dan dikirim ke fuel oil storage Dengan adanya proses visbreaking ini, kilang minyak PERTAMINA RU

IV Cilacap ditekan untuk memproduksi Diesel Oil dengan memperbaiki pour point dan masih memenuhi viskositas yang diinginkan. Proses visbreaking ini disertai dengan proses thermal cracking, yaitu pemecahan rantai hidrokarbon yang panjang menjadi rantai hidrokarbon yang lebih pendek, yang terjadi karena pengaruh panas. Kapasitasnya adalah sebesar 8.387 ton/hari. Produk-produk yang dihasilkan dari FOC II yaitu : Hydrogen Rich Gas, dipakai sendiri di unit 012, 013 dan 018 Mixed LPG, untuk bahan bakar konsumen masyarakat Heavy Naphta, untuk komponen blending premium dan bahan baku kilang paraxylene Platforming (HOMC), digunakan sebagai blending premium HSD dan IDO, untuk bahan bakar diesel kecepatan tinggi IDF dan IDO, untuk bahan bakar diesel kecepatan rendah Kerosene, untuk bahan bakar konsumen masyarakat IFO, untuk bahan bakar furnace dan komponen blending premium

4.2.4. Lube Oil Complex II & III (LOC II & LOC III)

Kilang LOC II & IV ini pada dasarnya mempunyai tugas yang sama pada kilang LOC I, yaitu menghasilkan komponen minyak pelumas dan sebagai hasil samping adalah aspal dan minyak bakar. Kilang Lube Oil Complex II ini

mempunyai fungsi untuk membuat bahan baku pelumas dari long residue hasil

81

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Crude Distilling Unit (CDU I). Kapasitas produksi dari LOC II ini adalah 175.400 ton/tahun produk Lube Base Oil dan 550.000 ton/tahun produk asphalt. Lube Oil Complex II & III (LOC II & III) pada Gambar 1.6 yang terletak di area 02 dan 200 terdiri dari unitunit proses sebagai berikut : 1. LOC II tediri atas unit-unit di bawah ini :

Unit 021 : High Vacuum Unit II (HVU II) Unit 022 : Propane Deasphalting Unit II (PDU II) Unit 023 : Furfural Extraction Unit II (FEU II) Unit 024 : Methyl Ethyl Ketone Dewaxing Uni II (MDU I) Unit 025 : Hot Oil System Unit II (HOS II)

2. LOC III tediri atas tiga unit yang terintegrasi secara geografis, yaitu : -

Unit 220 : Propane Deaspalthing Unit (PDU IV) Unit 240 : MEK Dewaxing Unit (MDU IV) Unit 260 : Hydrotreating/Redistilation Unit (HTU/RDU)

Produk dari LOC II & III, yaitu : High Viscosity Index 95 (HVI 95) High Viscosity Index 160S (HVI 160S) High Viscosity Index 650 (HVI 650) Asphalt Fuel Oil Slack wax Minarex (PERTAMINA Extraks)

LOC I ,II serta LOC III dibuat berintegrasi satu sama lain yang kemudian output terakhir sebagai proses akhir pada LOC III. Berikut bagan bloknya.

82

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Gambar 4.4 Blok Diagaram LOC I,II, dan III 1. Unit 021 : High Vacuum Unit II (HVU II) Unit ini mengolah long residue dari CDU I untuk menghasilkan hasil distilasi dengan distilasi vacuum yang akan diproses lebih lanjut untuk membuat bahan pelumas. Long residue terdiri dari fraksi-fraksi dengan titik didih tinggi, sehingga bila dilakukan distilasi atmosferik akan terjadi perengkahan karena temperaturnya sangat tinggi. Hasil-hasil dari unit 021 ini yaitu: Vacuum Gas Oil (VGO) Spindle Oil (SPO) Light Machine Oil (LMO) Medium Machine Oil (MMO) Short Residue Dari HVU ini kemudian produk-produk tersebut diolah pada unit-unit lain untuk menghasilkan Lube Base Oil. 2. Unit 022 : Propane Deasphalting Unit II (PDU II) Unit ini bekerja untuk menghilangkan asphalt dari short residue sebelum diolah lebih lanjut menjadi bahan minyak pelumas. Prosesnya adalah ekstraksi

83

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

dengan pelarut propane, sedangkan kapasitasnya 784 ton/hari short residue. Pada proses selanjutnya maka Deasphalting Oil (DAO) akan digunakan sebagai bahan baku minyak pelumas berat. 3. Unit 023 : Furfural Extraction Unit II (FEU II) Unit ini berfungsi untuk menghilangkan senyawa-senyawa aromat dari destilat hasil HVU dan PDU. Prosesnya adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut furfural yang mempunyai daya larut terhadap senyawa aromat. Rafinatnya diolah menjadi bahan minyak pelumas sedangkan ekstrak keluar sebagai fuel oil. Kapasitas FEU tergantung jenis umpan yaitu : LMO distillate : 2.180 ton/hari MMO distillate : 2.270 ton/hari DAO distillate : 91.786 ton/hari Rafinat FEU selanjutnya diolah di MEK Dewaxing Unit (MDU). Setelah Debottlenecking FEU II hanya memproses LMO, MMO, dan DAO, rafinatnya diolah di HTU LOC IV. 4. Unit 024 : Methyl Ethyl Ketone Dewaxing Uni II (MDU I) Pada awalnya unit ini berfungsi menghilangkan wax (lilin) dari rafinat hasil FEU, tetapi setelah debottlenecking, unit ini memproses rafinat dari HTU. Prosesnya adalah mendinginkan rafinat sehingga wax akan mengkristal dan dapat dipisahkan dengan penyaringan. Tujuan penghilangan wax adalah agar minyak pelumas yang terbentuk mempunyai titik tuang (pour point) yang

memenuhi syarat. Rafinat yang masuk sebagai umpan didinginkan kemudian disaring, untuk lebih mudahnya maka ditambahkan pelarut. Pelarut yang digunakan adalah campuran antara methyl ethyl keton dengan toluene dengan perbandingan 52 : 48. 5. Unit 025 : Hot Oil System Unit II (HOS II) Walaupun tidak langsung dengan proses, unit ini sangat penting keberadaannya, karena merupakan sumber panas bagi unit-unit lain, antara lain

84

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

untuk menguapkan pelarut pada pelarut recovery. Prinsip operasinya adalah dengan sirkulasi minyak panas dari vessel, dimana minyak yang digunakan adalah spindle oil (SPO). 6. Unit 260 : Hydrotreating/Redistilation Unit (HTU/RDU) Unit ini terdiri atas 2 unit proses, yaitu HTU (Hydrotreating Unit) dan RDU (Redistillation Unit). Tujuan dari proses pada unit ini adalah untuk menghilangkan komponen-komponen aromatis yang tidak diinginkan pada lube oil dengan charging campuran feed dan gas kaya hidrogen ke reaktor dengan menggunakan katalis Ni-Mo (Nikel-molybdenum). 4.2.5. Kilang Paraxylene Cilacap (KPC)

Kilang paraxylene Cilacap dibangun tahun 1988 dan beroperasi setelah diresmikan oleh Presiden RI tanggal 20 Desember 1990. pembangunan kilang Paraxylene ini adalah sebagai berikut : Memenuhi kebutuhan bahan baku paraxylene untuk pabrik Purified Terepthalic Acid (PTA) di Plaju, Sumatra Selatan. Menghemat devisa, karena selama ini bahan baku untuk paraxylene masih di impor. Meningkatkan nilai proses yang ada pada kilang paraxylene. Kilang ini digunakan untuk mengolah 11.916,9 ton/hari naphta dengan produk utamanya adalah : Paraxylene : 270.000 ton/tahun Benzene : 118.000 ton/tahun Tujuan dari

Produk sampingnya adalah : LPG : 52 ton/hari : 280 ton/hari

Raffinate

Heavy Aromate : 43 ton/hari Fuel Gas : 249 ton/hari

85

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Kilang Paraxylene pada Gambar 1.7 yang terletak di area 80 terdiri dari unitunit proses sebagai berikut : Unit 82 : Naptha Hydrotreater Unit 84 : CCR Platforming Unit Unit 85 : Sulfolane Unit Unit 86 : Tatoray Process Unit Unit 87 : Xylene Fractionation Unit Unit 88 : Paraxylene Extraction (Parex) Process Unit Unit 89 : Isomar Process Unit Bagan Blok Diagaram KPC terlihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 4.5 Blok Diagram KPC 1. Unit 82 : Naptha Hydrotreater Fungsi utama unit ini adalah mempersiapkan heavy naptha yang terbebas dari kontaminasi berbagai impurities seperti sulfur, oksigen, nitrogen, logamlogam organik dan sebagainya, oleh karena senyawa tersebut dapat meracuni katalis pada Unit Platforming. Pemurnian ini dilakukan dengan menginjeksikan gas hidrogen dalam suatu rektor katalis yaitu Ni-Mo Alumina. 2. Unit 84 : CCR Platforming Unit

86

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Unit ini mengolah senyawa parafinik dan naphtenik yang terdapat pada Treated Naptha menjadi senyawa aromatik untuk dijadikan paraxylene dan

benzene pada unit berikutnya. Untuk CCR platforming catalist, umpan naptha harus kurang dari 0,5 weight ppm, untuk mengoptimalkan selektivitas dan stabilitas karakteristik katalis. Untuk tipikal kandungan sulfur dalam umpan pada deaktivasi, suhu reaktor perlu dinaikkan untuk mencapai tingkat removal yang sama. H2S yang dihasilkan kemudian dipisahkan pada stripper column, dan dikeluarkan sebagai overhead off gas. Hasil utama dari unit ini kemudian akan dipisahkan antara light platformate dan heavy platformate. Light platformate banyak mengandung

benzene dan toluene yang kemudian dikirim ke Sulfolane Unit, sedangkan heavy platformate banyak mengandung 3. Unit 85 : Sulfolane Unit

Umpan untuk unit ini adalah light platformate. Unit ini berfungsi untuk memisahkan gugus aromat dari gugus non aromat secara ekstraksi dengan menggunakan pelarut sulfolane. Rafinat mengandung komponen-komponen non aromat (parafin, olefin dan naphta) yang disebut mogas dan ekstrak mengandung komponen aromat. Selanjutnya senyawa-senyawa tersebut dipisahkan di Sulfonate Benzene Column (SBC). Hasil atas berupa benzene dan produk bawahnya adalah toluene dan C8- +. Produk bawah ini kemudian dipisahkan pada Sulfolane Toluene Column (STC). Produk toluene kemudian diumpankan ke Tatoray Unit dan produk bawah ke Xylene Fractionation Unit.

4. Unit 86 : Tarotoray Process Unit

Proses tatoray adalah suatu proses katalitik untuk trans-alkilasi aromat. Dalam bentuk sederhananya, toluene dikonversi menjadi benzene dan campuran xylene. Toluene dan campuran C9 aromatik dikonversi menjadi C6, dan C8 aromat. Katalis yang digunakan adalah TA-4 dengan basis silika alumina.

87

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Benzene yang dihasilkan direcycle ke unit sulfolane, sedangkan xylene dan toluene ke toluene column untuk memisahkan toluene dan xylene.

5. Unit 87 : Xylene Fractionation Unit

Suatu aspek unik dari unit ini adalah pada desain splitter column. Dengan mengoperasikan splitter column pada tekanan yang tinggi, suhu uap overhead menjadi begitu tinggi, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pemanas untuk reboiler di beberapa kolom pada Parex Unit dan Isomar Unit. Hal ini merupakan suatu penghematan biaya operasi dan biaya pokok yang tidak kecil. Unit ini berfungsi untuk memisahkan campuran antara xylene dengan C9 aromat dan lainnya. Produk atas berupa xylene yang diumpankan ke Parex Unit dan hasil bawah dipisahkan dalam Heavy Aromatic Column. Produk atasnya berupa C9 aromat diumpankan ke Tatoray Unit dan hasil bawah adalah heavy aromat.

6. Unit 88 : Paraxylene Extraction (Parex) Process Unit

Proses Parex adalah suatu proses pemisahan yang kontinyu untuk adsorbsi selektif paraxylene dari campuran isomernya (ortho dan meta xylene), ethyl benzene dan hidrocarbon non aromatik. Unit ini menggunakan solid adsorbent (zeolit), desorbent, Para Diethyl Benzene (PDB) dan suatu flow directing device yang disebut rotary valve. Produk rafinat menjadi umpan Isomar Unit sedangkan ekstrak berupa campuran paraxylene dan desorbent dipisahkan lagi. Produk paraxylene yang dihasilkan mempunyai kemurnian yang tinggi yaitu sebesar 99,65%.

7. Unit 89 : Isomar Process Unit

Isomar yaitu proses isomerisasi katalis yang mengubah C8 aromat menjadi campuran yang seimbang dengan menggunakan noble metal catalyst dwifungsi. Umpan rafinat dari parex dicampur dengan recycled gas yang kaya hidrogen,

88

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

diuapkan dan dialirkan melalui fixed bed radial flow reactor. Effluentnya dikondensasikan untuk memisahkan liquid dan gasnya. Hasil atas berupa komponen hasil cracking yang diumpankan ke Unit 84 untuk memisahkan LPG sedangkan hasil bawah berupa campuran ortho, meta, para xylene sebagai umpan Xylene Fractionation Unit.

8. Unit Nitrogen Plant Nitrogen pada kilang ini diperlukan untuk CCR sistem dan tangki tailing. Kapasitas Nitrogen plant ini adalah : N2 gas : 800 Nm3/jam N2 liquid : 130 Nm3/jam

Udara dilewatkan melalui suction filter untuk menghilangkan debu-debu, selanjutnya ditekan dan dimasukkan ke dalam absorber, kemudian didinginkan sampai kira-kira 5C pada chiller unit.

4.2.6. Kilang LPG dan Sulfur Recovery Unit

Gambar 4.6 Diagram Blok Kilang dan Sulfur Recovery Unit

1.

Unit 90 (umum)

Unit 90 terdiri dari sistem utilitas header yang didesain untuk mendukung fasilitas pada proses unit lainya. Secara umum semua utilitas diambil dari refinery untuk menyediakan unit baru. Sistem distribusi utilitas pada unit 90 terdiri dari :

89

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

High Pressure Steam Medium Pressure Steam Low Pressure Steam Low Pressure Condensate Boiler Blow Down Medium Pressure Boiler Feed Water Service Air Service Water Drinking Water Jacket Water Open Sewer Sour Flare Header Fuel Gas Hydrogen Cold Flare Nitrogen Instrumen Air

2. Unit 91 : Gas Treating Unit

Gas treating unit dirancang terutama untuk mengurangi kadar hydrogen sulfide(H2S) di dalam gas buang (sebagai umpan) hingga maksimum 10 ppmv sebelum dikirim ke LPG recovery unit dan PSA unit yang telah ada. Dalam metode operasi normal, laju alir gas total diolah dan larutan amine disirkulasikan

90

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

untuk menyerap H2S pada suhu mendekati suhu kamar dan tekanan yang dinaikan. Gas asam (acid gas) menghasilkan produk belerang cair.

3. Unit 92 : LPG Recovery Unit

Recovery LPG yang diharapkan sebanyak 99,9% dari propane dan butane yang terdapat dalam feed LPG Recovery Unit dibandingkan terhadap oleh propane dan butane yang terkandung dalam aliran bawah deethanizer.

Tabel 4.5Spesifikasi Produk LPG Spesifikasi Etahne C3 + C4 C5+ Reid Vapor Pressure Weathering Test Unit LV LV% LV% Psi Pada 36F Nitai Max 0,2 % Min 97,5 % Max 2% 120 95% Volume

Tabel 4.6 Spesifikasi Produk Kondensat

Spesifikasi C4 dan lighter

Unit LV %

Nilai Max 2 %

4. Unit 93 : Sulphur Recovery Unit

Sulphur Recovery Unit (SRU) didirikan untuk memisahkan acid gas dari amine regeneration di Gas Treating Unit (GTU), dirubah menjadi H2S dalam bentuk gas menjadi sulfur cair dan dalam bentuk gas sulfur untuk bisa dikirim melalui eksport.

5. Unit 94 : Tail Gas Unit

91

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Tail Gas Unit (TGU) dirancang untuk mengolah acid gas dari Sulphur Recovery Unit (SRU). Semua komponen sulfur diubah menjadi H2S untuk dihilangkan di unit TGU absorber, arus recycle kembali ke unit SRU dan sebagian dibakar menjadi jenis sulfur yang terdiri dari SOx kemudian dibuang ke atmosfer.

6. Unit 95 : Refrigeration

Refrigeration Unit dilengkapi dengan pendinginan yang diperlukan untuk LPG Recovery Unit dan juga dilengkapi dengan Trim Amine Chilling di bagian Tail Gas Unit untuk memaksimalkan pengambilan sulfur secara umum. System Refrigeration terdiri dari dua tahap Loop Propane Refrigeration.

Tabel 4.7 Komposisi design Refrigeration

Komponen Ethane Propane i-butane Total

Mol, % 2,07 94,54 3.79 100

4.2.7. Unit Utilitas

Unit Utilitas pada PERTAMINA RU IV adalah semua bahan / sarana / media yang dibutuhkan untuk menunjang operasi pengolahan kilang seperti tenaga listrik, tenaga uap, air pendingin, air bersih, bahan bakar cair/gas, angin instrumen, dan lain-lain sehingga kilang dapat memproduksi BBM dan Non BBM. Pengadaan sistem utilities dalam industri, khususnya untuk operasional kilang BBM dan petrokimia di Pertamina selama ini selalu diusahakan sendiri, mengingat kebutuhan belum dapat diperoleh dari sumber lain. Dalam pengoperasiaanya utilities harus handal supaya tidak mengakibatkan kehilangan

92

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

produksi kilang berupa BBM, Non BBM, dan Petrokimia, serta menimbulkan kerusakan katalis, peralatan operasi, dan keselamatan (safety). Kehandalan adalah kemampuan dan ketersediaan sistem ketenagaan dalam periode waktu tertentu secara terus-menerus dalam memasok kebutuhan energi (listrik, uap, bahan bakar, angin instrumen) untuk menunjang operasi kilang beserta fasilitas penunjangnya dalam setiap kondisi operasi (start up, normal, emergency). Sebagai konsekuensi dari kehandalan tersebut, standar dari reliability dan avaibility untuk peralatan utama di utilities, lebih tinggi dibandingkan dengan unit atau area operasi lainnya. Utilities bersifat operasional sehingga semua pelaksanaan berdasarkan standard operasional, prosedur, sistem dan tata kerja individu. Di Pertamina Refinery Unit IV Cilacap, kompleks utilities saat ini terbagi menjadi :

Utilities I (area 50), dibangun pada tahun 1973 dan mulai beroperasi tahun 1976 untuk menunjang pengoperasian FOC I, LOC I dan ITP / Off site area 30, 40, 60 dan 70 dengan kapasitas pengolahan 100.000 barrel/hari. Utilities II (area 05), dibangun tahun 1980 dan mulai beroperasi pada tahun 1983 untuk menunjang pengoperasian FOC II, LOC II, ITP/ off site area 30, 40, 60, dan 70 dengan kapasitas 200.000 barrel/hari. Utilities KPC / Paraxylene sebagian besar unitnya terletak di Utilitas I / (area 50), mulai beroperasi tahun 1990 khusus untuk menunjang area kilang Paraxylene dengan kapasitas produksi Petrokimia sebanyak 270.000 barrel/hari. Utilities IIA (area 500), beroperasi pada tahun 1998 dengan sarana terbatas, khusus dirancang untuk menunjang pengoperasian

Debottlenecking kilang Cilacap, sehingga total kapasitas pengolahan Kilang Cilacap dapat dinaikkan dari 300.000 barrel/hari menjadi 348.000 barrel/hari.

93

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Pada pengembangan Kilang dari tahun 1976 sampai tahun 1998 agar kehandalan dan fleksibilitas operasi Utilitas terjamin, sebagian besar sistemnya terintegrasi yang artinya sistim Utilitas antara UTL I, UTL PX, UTL II dan UTL IIA saling menunjang, sehingga bisa diartikan suatu sistim satu kesatuan.

Dalam memenuhi kebutuhan kilang Cilacap maka Pertamina RU IV secara operasional memiliki unit unit Utilitas yaitu :

- UNIT PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK Unit 52/ 052/ 520 - UNIT PEMBANGKIT TENAGA UAP Unit 53/ 053/ 530 - UNIT DISTRIBUSI AIR PENDINGIN Unit 54/ 054 - UNIT PENGADAAN AIR BERSIH Unit 56/ 056/ 560 - UNIT PENGADAAN UDARA BERTEKANAN Unit 57/ 057 - UNIT DISTRIBUSI BAHAN BAKAR CAIR DAN GAS Unit 63/ 063 - UNIT PENGADAAN AIR BAKU

1. Unit 51/ 051/ 510 - UNIT PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK

Unit ini memiliki 8 buah turbin generator pembangkit tenaga listrik yang digerakkan oleh tenaga uap. Sistim ini beroperasi dengan extractive condensing turbine dengan high pressure steam (HP steam) yang bertekanan 60 kg/cm2 dengan temperatur 460 0C. Dan menghasilkan medium pressure steam (MP steam) bertekanan 18 kg/cm2 dengan temperatur 330 0C serta menghasilkan pula kondensat recovery sebagai air penambah pada tangki desuperheater dan tangki BFW.

Sistem pembangkit, terdiri dari :

94

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Utilities I area 50 : 51 G 1/ 2/ 3 (3 unit) kapasitas @ 8 MW Utilities II area 05 : 051 G 101/ 102/ 103 (3 unit) kapasitas @ 20 MW Utilities KPC : 51 G 201 (1 unit) kapasitas 20 MW Utilities IIA : 510 G 301 (1 unit) kapasiats 8 MW

Dengan kapasitas total terpasang saat ini 112 MW, dan kapasitas terpakai pada saat beban puncak mencapai 67 MW.

1. Unit 52/ 052/ 520, Unit Pembangkit Tenaga Uap.

Unit ini bertugas untuk menyediakan steam yang digunakan untuk berbagai proses operasi. Unit ini dikategorikan menjadi 3, yaitu :

A. Sistem Pembangkit

Tenaga uap tekanan 60 kg/cm2 dan temperatur 460oC atau High Pressure Steam dihasilkan dari :

Boiler UTL I : 52 B 1/2/3 (9 Unit) kapasitas @60 ton/jam. Boiler UTL II : 052 B101/102/103/104 (4 Unit) kapasitas @110 ton/jam. Boiler UTL KPC : 52 B 201 (1 Unit) kapasitas 110 ton/jam. Boiler UTL IIA : 520 B 301 (1 Unit) kapasitas 60 ton/jam.

Sebagian besar uap tekanan tinggi tersebut digunakan sebagai tenaga penggerak turbin generator dan sebagian kecil untuk penggerak turbin pompa boiler feed water (BFW) dan cooling water.

B. Sistem distribusi tenaga uap terbagi atas :

95

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

High pressure steam dengan tekanan 60 kg/cm2, temperatur 460 0C, superheated. Penghasil HP steam adalah semua boiler di utilities dan WHB di unit 14/FOC I. Medium pressure steam dengan tekanan 18 kg/cm2, temperatur 330 0C, superheated. MP steam ini dihasilkan dari; ekstraksi turbine generator, WHB unit 014, 019 FOC II, let down station HP/MP. MP steam ini digunakan sebagai penggerak turbin pompa, kompressor, pemanas pada heat exchanger, penarik sistem vakum pada ejector di semua area proses. Low pressure steam dengan tekanan 3,5 kg/cm2 temperatur 220
0

C, superheated. LP dihasilkan dari sistem back pressure

turbine dan let down station MP/LP.

C. Kondensat Sistem

Di dalam sistem selalu terjadi kondensasi, dan kondensat yang terjadi dimanfaatkan kembali sebagai boiler feed water guna mengurangi water losses. Ada tiga jenis kondensat, yaitu :

High pressure condensat yang berasal dari HP, MP steam line. Kondensat ini ditampung dalam suatu flash drum untuk dipisahkan menjadi LP condensat dan LP steam. Low pressure condensat yang berasal dari LP steam line. Clean condensat yang berasal dari surface condenser turbin generator dan brine heater SWD (sea water desalination)

2. Unit 53/ 053/ 530, Unit Distribusi Air Pendingin

96

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Ada dua sistem yang digunakan untuk distribusi air pendingin yaitu sistem bertekanan dan sistem gravity. Sirkulasi air pendingin menggunakan sistem terbuka (once through). Sistem bertekanan digunakan untuk semua unit proses yang didistribusikan dengan pompa : UTL I : 53 P1 A/B/C (3 pompa) kapasitas @2000 m3 UTL II : 053 P 101 A/B/C (3 pompa) kapasitas @5900 m3 UTL KPC : 053 P 201 A/B/C (3 pompa) kapasitas @2300 m3 UTL IIA : 530 P 301 A/B (2 pompa) kapasitas @4000 m3

Untuk mencegah timbulnya mikroorganisme pada sistem air pendingin, diinjeksikan sodium hypochloride hasil dari sodium

hypochloride generator.

3. Unit 54/ 054, Unit Pengadaan Air Bersih

Air bersih diperoleh dengan mengolah air laut menjadi air tawar dengan spesifikasi tertentu dengan cara distilasi pada tekanan rendah (vakum). Sistem ini dilaksanakan pada unit Sea Water Desalination (SWD).

Di Refinery Unit IV Cilacap ada dua sistem SWD yaitu; multi stage flash once through dan multi stage flash brine recirculations. Utilitas pertamina Refinery Unit IV Cilacap memiliki 8 buah unit SWD yaitu:

Type MSF once through), dan 54 WS 201 (1 unit) kapasitas 45 ton/jam (Type MSF brine recirculation). UTL II : 054 WS 101/102/103/105 (4 unit) kapasitas @ 90 ton/jam (Type MSF once through)

97

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Produk unit SWD ini digunakan untuk : Sebagian besar sebagai air umpan boiler. Sebagai jacket water untuk pendingin sistem minyak pelumas pada rotating equipment. Sebagai media pencampur bahan kimia untuk keperluan proses Sebagai air minum di area kilang

4. Unit 55/055/550, Unit Pengadaan Air Pemadam Kebakaran

Digunakan untuk menunjang operasi pemadam kebakaran. Sistem ini terdiri dari 2 pompa air bakar yang berkapasitas 600m3/jam pada tekanan 12,5 kg/cm2, dan fasilitas pengaman cairan busa udara

5. Unit 56/056/560, Unit Pembangkit Udara Bertekanan.

Fungsi udara bertekanan

a. Sebagai angin instrumen, dihasilkan dari :

UTL I : 56K1/2/3 kapasitas @ 23 Nm3/menit UTL II : 56K102 kapasitas @ 23 Nm3/menit UTL KPC : 56K201 kapasitas @ 23 Nm3/menit UTL IIA : 560K301 kapasitas @ 23 Nm3/menit

Angin instrumen ini harus kering dan tidak boleh mengandung minyak. Peralatan di sistem ini terdiri dari inter dan after cooler, receiver, air dryer, air filter dan pipa distribusi.

98

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

b. Sebagai plant air untuk tube cleaning pada surface condensor turbine generator dan evaporator condensor SWD.

6. Unit 57/057, Unit Distribusi Bahan Bakar Cair dan Gas

a. Sistem bahan bakar cair

Terdiri dari sistem HFO dan HGO. Sistem HFO digunakan sebagai bahan bakar pada boiler dan furnace saat normal operasi, sedangkan HGO digunakan pada saat start up dan shut down unit serta untuk flushing oil dan sealing sistem. Untuk mengatur viskositas dipakai sarana heat exchanger dengan media pemanas MP steam. HFO didistribusikan dengan dua sistem yaitu dengan tekanan tinggi 35 kg/cm2 untuk keperluan sistem High Vacuum Unit dan tekanan rendah 18 kg/cm2 untuk keperluan burner. HFO terdiri dari slack wax, slop wax, heavy aromate dan IFO yang diperoleh dari proses area.

b. Sistem bahan bakar gas

Dipakai dan dimaksimalkan untuk pembakaran di boiler dan furnace. Bahan baku diperoleh dari unit proses dan ditampung di mix drum 57V2 dan 057V102 selanjutnya didistribusikan melalui pipa induk ke semua proses area dengan tekanan diatur 3,5 kg/cm2. Apabila tekanan lebih dari 4 kg/cm2 akan dibuang ke flare dan apabila kurang dari 2,5 kg/cm2 akan disuplai dari LPG vaporizer sistem dengan media pemanas LP steam. LPG vaporizer ini berfungsi untuk menampung dan memproses propane dan butane yang off spec. Pada sistem bahan bakar gas ini terdapat juga waste gas kompresor yang berfungsi untuk memperkecil gas yang hilang ke flare.

7. Unit 63/063, Unit Pengadaan Air Baku

99

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Air baku diperoleh dari kali Donan dengan menggunakan pompa jenis submersible yang terdiri dari :

UTL I : pompa 63 P1 A/B/C kapasitas @ 3800 m3/jam UTL II : pompa 063P101 A/B/C kapasitas @ 7900 m3/jam UTL KPC : pompa 063 P 201 kapasitas 7900 m3/jam UTL IIA : pompa 063 P 301 kapasitas 7900 m3/jam

Dari kali Donan air sungai dipompakan ke Jetty Donan (area 60). Ruangan pengambilan air baku dilengkapi dengan fixed bar screen, retractable strainer dan floating gate yang berfungsi untuk menyaring kotoran misalnya sampah, serta suction screen. Dari unit 63 dan 063 air baku tersebut kemudian dialirkan melalui pipa kedalam 3 buah tangki. Untuk mencegah terjadinya lumut dan menghindari hidupnya kerang dan mikroorganisme lainnya, pada saluran hisap semua pompa air baku diinjeksikan sodium hipokloride hasil dari sodium hipokloride generator. Air baku ditampung dalam tangki selanjutnya digunakan sebagai media :

pressurized cooling water)

Air umpan sea water desalination

8. Fire Fighting Water System

Merupakan fasilitas yang digunakan untuk menunjang operasi pemadam kebakaran. System ini terdiri dari dua pompa air bakar dan fasilitas pengaman cairan busa udara. Dua pompa air yang digunakan mempunyai kapasitas 600 m3/jam pada tekanan 12.5 kg/cm2.

100

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

9. Unit Ruang Kontrol/Pengendali Operasi

Dalam pengontrolan/pengendalian terdapat dua system, yaitu pneumatic dan elektronik. Ruang control ini mempunyai tugas sebagai pengendali seluruh kegiatan operasi di utilitas, antara lain mengawasi, mengatur dan mengoperasikan unit-unitnya dengan cara manual atau secara otomatis dari ruang control. Suplai listrik untuk system control didukung dengan Uninteruptable Power Supply (UPS) untuk menjaga kontinuitas system control maka,

Sistem instrumentasi di ruang control dapat diguankan sebagai :

1. Pengontrol (controller) 2. Penunjuk (indicator) 3. Pencatat/perekam (recorder) 4. Isyarat (alarm) Variable-variabel yang dikendalikan antara lain :

1. Tekanan 2. Temperature 3. Laju aliran 4. Tinggi permukaan cairan 5. Kualitas daya listrik

Di dalam runag control, system instrumentasi dibagi menjadi beberapa panel, yaitu :

101

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

1. Panel control untuk turbin 2. Panel control untuk ketel uap

3. Panel control untuk generator 4. Panel control SWD (Sea Water Desalination) 5. Panel control untuk penyediaan air pendingin 6. Panel control untuk system udara bertekanan 7. Panel control untuk system penyediaan bahan bakar

Gambar 4.7 Aliran Proses Unit Utilitas

102

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

4.3 Pengolahan Limbah PT. PERTAMINA RU-IV Cilacap Di dalam eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi negara, Pertamina RU IV Cilacap tidak dapat lepas dari penanganan limbah yang dihasilkan. Limbah yang dihasilkan dalam pengolahannya dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu : bahan buangan cair, gas dan sludge. A. Pengolahan Buangan Cair Pada dasarnya prinsip dari pengolahan air limbah adalah menghilangkan unsur unsur yang tidak dikehendaki dalam air limbah secara fisik, kimia ataupun biologi. Pertamina RU IV Cilacap dalam mengolah limbah cairnya tidak dilakukan pada tiap tiap unit, namun limbah dari beberapa unit digabung menjadi satu baru kemudiandiolah. Limbah cair pengolahannya dilakukan secara bertahap meliputi : Sour Water Stripper (SWS), Corrugated Plate Inceptor (CPI) dan Holding Basin. 1. Sour Water Stripper (SWS) Unit ini dirancang untuk mengolah sour water dari Visbreaking Unit, Naphta Hydrotreating Unit, High Vacum Unit, Crude Distillation Unit, AH Unibon, Destillate Hydrotreating Unit yang mengandung H2S, NH3, fenol, CO2, mercaptan, cyanida dan pada hydrocracking sour water terdapat fluorida. Unit ini dirancang untuk dapat membersihkan 97 % dari H2S yang kemudian dibakar diflare, sedang air bersih yang tersisa dapat digunakan kembali. Dalam sour water H2S dan NH3 terdapat dalam bentuk NH4HS yang merupakan garam dari basa lemah dan asam lemah. Di dalam larutan ini, garam terhidrolisa menjadi H2S dan NH3. Reaksi :

H2S dan NH3 bebas sangat mudah menguap dalam fase cair. Gas H2S dan NH3 dapat dipisahkan dengan menggunakan steam sebagai

103

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

stripping medium atau steam yang terjadi dari pemanasan sour water itu sendiri (dalam reboiler). Hidrolisa akan naik dengan naiknya suhu. Kelarutan H2S cepat dipisahkan. Sour water yang telah mengalami stripper akan menaikkan konsentrasi NH3/H Pada unit 052 terdapat empat boiler dengan kapasitas masing masing 110 ton/jam HP steam. Jenis boiler yang dipakai adalah water tube boiler yang mampu menghasilkan HP steam pada tekanan 60 kg/cm2 dan temperatur 460 0C. Penghasil HP steam lainnya adalah Waste Heat Boiler (WHB) yang terdapat di unit 014 dan 019 menghasilkan MP steam dengan kapasitas masing-masing 30 ton/jam. MP steam digunakan untuk pengabut bahan bakar minyak, vacuum ejector, soot blowing dan lain lain. LP steam yang dihasilakn mempunyai tekanan 3,5 kg /cm2 dan temperatur 330 0C. LP steam digunakan untuk pemanas pipa pipa, stripping steam pada distilasi.

2. Corrugated Plate Interceptor

Corrugated Plate Interceptor (CPI) adalah jenis alat atau bangunan penangkap minyak yang berfungsi untuk memisahkan air dan minyak dengan menggunakan plate sejajar, dibuat dari fiber glass yang bergelombang yang dipasang dengan kemiringan tertentu, bekerja secara gravitasi. CPI memiliki kemampuan memisahkan lebih besar dibanding dengan alat pemisah lain, mampu memisahkan partikel minyak sampai dibawah 150 mikron dengan menggunakan permukaan pemisah tambahan berupa plat sejajar maka didapatkan proses pemisahan dalam kondisi laminer dan stabil. Kecepatan aliran dari plat yang bergelombang dan perbedaan spesifik grafity antara minyak dan air menyebabkan minyak akan naik ke atas, sedangkan air akan turun ke bawah yang kemudian masuk parit dan akhirnya ke Holding Basin untuk diolah lebih lanjut sebelum dibuang ke badan air penerima ( Sungai Donan).

3. Holding Basin

104

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Holding basin adalah kolom untuk menahan genangan minyak bekas buangan pabrik supaya tidak lolos ke badan air penerima, dengan perantaraan skimmer (penghisap genangan minyak dipermukaan), floating skimmer (menghisap minyak di bagian tengah), dan baffle (untuk menahan agar minyaknya tidak terbawa ke badan air penerima). Selanjutnya genangan minyak ditampung pada sump pit kemudian dipompakan ke tangki slops untuk direcovery. Holding Basin dibuat dengan tujuan untuk mencegah pencemaran lingkungan, khususnya bila oil water sampai lolos ke badan air. Genangan minyak berasal dari bocoranbocoran peralatan pabrik atau lainnya. Holding basin yang terdapat di Pertamina RU IV Cilacap ada dua yaitu Exciting Holding Basin Unit 49 dan New Holding Basin Unit 66.

Blok Diagram Pengelolaan Air Buangan Kilang dapat dilihat pada Gambar 4.8 . berikut ini

Gambar 4.8 Blok Diagaram Air Buangan Kilang

105

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

B. Pengolahan Buangan Gas Untuk menghindari pencemaran udara dari bahan bahan buangan gas maka dilakukan penanganan terhadap bahan buangan tersebut dengan cara : a. Dibuat stack / cerobong asap dengan ketinggian tertentu sebagai alat untuk pembuangan asap. b. Gasgas hasil proses yang tidak dapat dimanfaatkan dibakar dengan menggunakan flare.

C. Pengolahan Buangan Sludge

Sludge merupakan salah satu limbah yang dihasilkan dalam industri minyak yang tidak dapat dibuang begitu saja ke alam bebas karena mencemari lingkungan. Pada sludge selain mengandung lumpur / pasir dan air juga masih mengandung hidrokarbon (HC) fraksi berat yang tidak dapat direcovery ke dalam proses maupun bila dibuang ke lingkungan tidak akan terurai secara alamiah dalam waktu singkat. Perlu dilakukan pemusnahan hidrokarbon tersebut untuk menghindari pencemaran lingkungan. Dalam usaha tersebut di PERTAMINA RU IV Cilacap, sludge dibakar dalam suatu ruang pembakar (incinerator) pada temperatur tertentu sehingga lumpur / pasir yang tidak terbakar dapat digunakan untuk landfill atau dibuang di suatu area tanpa mencemari lingkungan.

4.4.

Oil Movement

Pada awalnya Oil Movements bernama Terminal. Bagian ini bertanggung jawab dalam menangani pergerakan minyak baik dalam maupun ke luar kilang terlebih dengan kondisi kilang yang memiliki kapasitas pengolahan 348.000 barel/hari.

106

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Tugas dan tanggung jawab bagian ini antara lain :

Menerima crude oil dan menyalurkannya ke unit FOC II Menerima stream dari unit FOC I dan FOC II Menyiapkan feed untuk secondary processing Menyalurkan produksi dari secondary/tertiary processing Menyalurkan produksi dari kilang ke tangki penampungan Melaksanakan blending produk menjadi finishing produk Pemompaan hasil-hasil minyak ke kapal, Perbekalan Dalam Negeri (PDN), dan Own Use Melakukan slpos/ballast recovery Untuk menunjang pelaksanaan tugas dan tanggung jawab tersebut, tersedia fasilitas dan peralatan operasi antara lain : Dermaga, untuk bongkar muat crude oil, BBM, dan NBM Tangki-tangki, untuk penampungan crude, produk dan slpos Pipa-pipa, untuk pemompaan feed ke kilang, blending, produk dll Oil Catcher (CPI), untuk menampung minyak yang tercecer dari bocoran pipa-pipa, pengedrainan tangki, dari parit dan holding basin Holding basin yang berhubungan dengan CPI berfungsi untuk

mengembalikan atau memperbaiki kualitas air buangan, terutama mengembalikan kandungan oksigen Silencer untuk mengurangi kebisingan Groyne sebagai sarana pelindung pantai dari kikisan gelombang laut

107

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

4.5. Laboratorium

Bagian laboratorium memegang peranan penting di kilang, karena dari laboratorium ini data-data tentang raw material dan produk akan diperoleh. Dengan data-data yang diberikan maka proses produksi akan selalu dapat dikontrol dan dijaga standar mutu sesuai dengan spesifikasi yang diharapkan.

Bagian laboratorium berada di bawah Manajer Kilang yang mempunyai tugas pokok :

Sebagai pengontrol kualitas bahan baku, apakah sudah memenuhi persyaratan yang diperkenankan atau tidak. Sebagai pengontrol kualitas produk, apakah sudah memenuhi standar yang berlaku atau belum.

Bahan-bahan yang diperiksa di laboratorium ini adalah : Crude Oil Stream product FOCI/II, LOCI/II/III, dan paraxylene Utilities : water, steam, fuel oil, fuel gas, chemical agent, dan katalis Intermediate product dan finishing product.

Dalam

pelaksanaan

tugas,

bagian

laboratorium

dibagi

menjadi

Laboratorium Pengamatan, Laboratorium Analitik dan Gas, Laboratorium Litbang, dan Ren. ADM/ Gudang/ Statistik.

1. Program Kerja Laboratorium A. Laboratorium Pengamatan

108

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Bagian ini mengadakan pemeriksaan terhadap sifat-sifat fisis bahan baku, intermediate product, dan finishing product.

Sifat-sifat yang diamati antara lain :

1). Distilasi ASTM 2). Spesificgravity 3). Reid vapour pressure 4). Flash point dan smoke point 5). Convadson carbon residu 6). Warna

7). Cooper strip dan silver strip 8). Viscositas kinematic 9). Kandungan air

B. Laboratorium analitik dan Gas

Bagian ini mengadakan pemeriksaan terhadap raw material mengenai sifat-sifat kimianya, termasuk didalamnya tentang kerak dan finishing product. Alat-alat yang digunakan untuk analisa antara lain : N2 analyzer, untuk menganalisa sulfur, Cl2, H2S Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS), untuk menganalisa semua metal yang ada dalam sampel air maupun zat organik. Polychromator, untuk menganalisa semua metal yang ada dalam sampel air maupun zat organik.

109

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Nuclear Magnitute Resonance (NMR), untuk menganalisa kandungan H2 dalam sampel avtur. Portable Oxygen Tester (POT), untuk menganalisa kandungan oksigen dalam gas pada cerobong asap. Infra red Spectrophotometer (IRS), untuk menganalisa kandungan oil dalam sampel air, juga menganalisa aromat dan minyak berat. Spectro Fluorophotometer, untuk menganalisa kandungan oil dalam water slop Menganalisa bahan baku, stream product, dan finishing product untuk pabrik paraxylne.

C. Laboratorium Penelitian dan Pengembangan

Bagian ini bertujuan untuk mengadakan penelitian, misalnya :

1. Blending fuel oil 2. Lindungan lingkungan (pembersihan air buangan) 3. Evaluasi crude 4. Di samping mengadakan penelitian rutin, laboratorium ini juga mengadakan penelitian yang sifatnya non-rutin, misalnya penelitian terhadap produk kilang di unit tertentu yang tidak biasanya dilakukan penelitian, guna mendapatkan alternatif lain tentang penggunaan bahan baku.

D. Ren ADM/Gudang Statisitik

Bagian

ini

bertugas

untuk

mengatur

administrasi

laboratorium,

pergudangan, dan statistik.

E .Laboratorium Paraxyelene

110

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Laboratorium ini khusus menangani unit paraxylene yang mempunyai kerja dan tugas menganalisa terhadap bahan baku, produk yang dihasilkan dan bahan penunjang lainnya.

111

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

BAB V ORIENTASI KHUSUS 5.1 Pengantar Unit Utilities Unit Utilities pada PT PERTAMINA RU IV yaitu suatu area proses yang terdiri dari beberapa unit yang menyediakan tenaga listrik, tenaga uap, air pendingin, air bersih, bahan bakar cair/gas, angin instrumen (udara bertekanan), dan lain-lain sehingga kilang dapat memproduksi BBM dan NBM. Pengadaan sistem Utilities dalam industri, khususnya untuk operasional kilang BBM dan petrokimia di Pertamina selama ini selalu diusahakan sendiri. Dalam pengoperasiannya Utilities harus handal dalam memenuhi kebutuhan di seluruh kilang, karena bila terjadi kegagalan dalam pengoperasian maka tidak saja akan mengakibatkan kehilangan produksi kilang berupa BBM, NBM dan petrokimia tetapi juga menimbulkan kerusakan peralatan operasi lainnya. Utilities bersifat operasional sehingga pelaksanaannya berdasar standar operasional, prosedur, sistem dan tata kerja yang telah ditentukan.

Di Pertamina RU IV Cilacap, Utilities terbagi menjadi: Utilities I (Area 50) yang dibangun pada tahun 1973 dan mulai beroperasi tahun 1976 sebagai sarana penunjang pengoperasian FOC I, LOC I dan ITP/Offsite area 30, 40, 60 dan 70.

Utilities II (Area 05) yang dibangun pada tahun 1980 dan mulai beroperasi pada tahun 1983 sebagai sarana penunjang pengoperasian FOC II, LOC II, ITP/Offsite area 30, 40, 60 dan 70.

Utilities KPC yang sebagian besar unitnya terletak di area 50 yang mulai beroperasi pada tahun 1990 khusus untuk menunjang area Paraxylene.

112

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Utilities IIA atau disebut juga area 500 yang beroperasi pada tahun 1998 untuk menunjang pengoperasian Debottlenecking kilang. Pada saat pengembangan kilang dari tahun 1976 sampai tahun 1998 agar kehandalan dan fleksibilitas operasi Utilities terjamin, sebagian sistemnya terintegrasi artinya sistem Utilities antara UTL I, UTL II, UTL KPC dan UTL IIA bisa saling menunjang sehingga bisa diartikan suatu sistem yang terintegrasi dan merupakan satu kesatuan. 5.2 Sarana dan Fasilitas Utilities

Utilities mempunyai fungsi untuk mendukung dan menjamin berjalannya operasi kilang secara kontinyu dengan menjamin tersedianya kebutuhan bahan bakar, listrik, udara bertekanan, tenaga uap, air pendingin, air baku dan air bersih yang cukup untuk operasi kilang. Dalam memenuhi kebutuhan kilang Cilacap maka Utilities Pertamina RU IV secara operasional memiliki unit-unit kerja yaitu:

Unit 51/051/510 : Unit Pembangkit Tenaga Listrik Unit 52/052/520 : Unit Pembangkit Tenaga Uap Unit 53/053/530 : Unit Distribusi Air Pendingin Unit 54/054 : Unit Pengadaan Air Bersih Unit 56/056/560 : Unit Pengadaan Udara Bertekanan Unit 57/057 : Unit Distribusi Bahan Bakar Cair dan Gas Unit 63/063 : Unit Pengadaan Air Bak 5.2.1. Unit 51 / 051 / 510 - Unit Pembangkit Tenaga Listrik

Unit ini memiliki 8 buah turbin generator pembangkit listrik yang digerakkan oleh tenaga uap yang beroperasi dengan system extractive condensing turbine dengan high pressure steam (HP steam) yang bertekanan 60 kg/cm2 dan temperatur 4600C dan menghasilkan medium pressure (MP steam) bertekanan 18

113

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

kg/cm2 dengan temperatur 3300C serta menghasilkan pula condensat recovery sebagai air penambah pada tangki desuperheater dan tangki BFW. Masing-masing unit memiliki kapasitas sebagai berikut: UTL I / AREA 50 : 51 G 1 / 2 / 3 Kapasitas @ 8 MW UTL KPC : 51 G 201 Kapasitas 20 MW UTL II / AREA 05 : 051 G 101 / 102 / 103 Kapasitas @20 MW UTL IIA : 510 G 310 Kapasitas 8 MW Dengan total kapasitas terpasang saat ini 112 MW, dan kapasitas terpakai pada saat beban puncak mencapai 67 MW.

A. Prinsip Operasi Tenaga listrik diperoleh dari generator pembangkit yang digerakkan oleh turbin uap. Uap sebagai sumber energi diperoleh dari hasil produksi boiler dengan tekanan 60 kg/cm2 dan suhu 4600C dengan system extractive condensing dimasukkan melalui throttle valve. Setelah putaran turbin mencapai 3000 rpm, generator disinkronkan dengan generator lain yang sudah online. Terkadang turbin dioperasikan dengan full condensing, ketika turbin menghasilkan load listrik dibawah 6 MW, setelah diatas 6 MW baru dikembalikan lagi ke sistem steam extractive, setiap generator dilengkapi dengan peralatan pembantu antara lain surface codensor, air cooler, ejector dan pump.

Penurunan tekanan uap selain dengan sistem ekstraksi juga diolah menggunakan sistem let down station HP/MP sehingga dihasilkan tekanan sedang (MP steam) dengan tekanan 18 kg/cm2 dan temperatur 3300C. MP steam ini digunakan untuk menggerakkan turbin pada pompa, kompresor dan media pada unit unit kilang.

Untuk pemakaian listrik pada berbagai tingkat keperluan, maka dibutuhkan trafo penurun tegangan dari 13,8 KV menjadi 3,45 KV dan 400/200 V. Agar tercapai sistem tenaga listrik dengan tingkat kehandalan yang tinggi,

114

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

maka diadakan interkoneksi diantara kedua area (50 dan 05) melalui suatu tie transformer. Disamping itu juga diberlakukan load shedding system, dimana bila terjadi gangguan pada sistem pembangkit listrik, maka secara otomatis akan dilepas/dikorbankan beberapa pemakaian yang non esensial. Hal ini dimaksudkan agar beban-beban vital dan esensial tidak mengalami gangguan, sehingga operasi kilang masih dapat berjalan dengan baik dan aman.

B. Sistem Pengamanan Berfungsi mengamankan peralatan unit generator dengan cara mengetripkan turbin generator secara otomatis apabila terjadi hal - hal yang membahayakan. Sedangkan sistem pengamanan pada jaringan distribusi listrik dinamakan load shedding system, yaitu suatu sistem yang bekerja berdasarkan frekuensi generator, berfungsi untuk memutus beban konsumen apabila beban listrik yang dihasilkan oleh generator lebih kecil dari pada beban listrik yang dibutuhkan.

5.2.2. Unit 52 / 052 / 520 Pembangkit Tenaga Uap

Unit pembangkit tenaga uap merupakan unit yang bertugas menyediakan uap/steam yang akan digunakan sebagai proses operasi, unit ini dikategorikan menjadi:

A. Sistem Pembangkit Tenaga Uap Tenaga uap dengan tekanan 60 kg/cm2 dan temperatur 4600C atau High Pressure Steam dihasilkan dari:

Boiler Utilities I : 4 Unit kapasitas masing-masing 60 ton/jam Boiler Utilities II : 4 Unitkapasitas masing-masing110 ton/jam Boiler Utilities KPC : 1 Unit kapasitas 110 ton/jam Boiler Utilities IIA : 1 Unit kapasitas 60 ton/jam

115

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Sebagian besar HP steam tersebut digunakan sebagai tenaga penggerak turbin generator, pompa Boiler feed water (BFW) dan cooling water.

Peralatan utama boiler: Steam Drum Water Drum Superheater Economizer Burner Forced Draft Fan Soot Blower System Safety B. Sistem Distribusi Tenaga Uap Unit ini memiiki tugas untuk menghasilkan uap yang diproduksi oleh boiler, sistem ini terbagi atas: 1. High Pressure Steam (HP steam) dengan tekanan 60 kg/cm2 dan suhu 4600C. Superheated penghasil HP steam adalah semua boiler di Utilities dan WHB di unit 14 / FOC I. 2. Medium Pressure Steam (MP steam) dengan tekanan 18kg/cm2 dan suhu 3300C. MP steam ini dihasilkan dari ekstraksi turbin generator, WHB unit 014, 019 FOC II dan let down station HP/MP. 3. Low Pressure Steam (LP steam) dengan tekanan 3,5 kg/cm2 dan suhu 2200C. Superheated ini dihasilkan dari system back pressure turbine dan let down station MP/LP.

C. Kondensat Sistem Didalam sistem selalu terjadi kondensat yang akan dimanfaatkan kembali sebagai boiler feed water guna mengurangi water losses. Ada tiga jenis kondensat, yaitu:

116

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

1. High Pressure Condensat yang berasal dari HP steam line, HP steam ditampung dalam flash drum untuk dipisahkan menjadi HP condensat dan LP steam. 2. Low Pressure Condensat yang berasal dari LP steam line. 3. Clean Condensat yang berasal dari Surface Condenser Turbin

Generator dan brine heater SWD (Sea Water Desalination). 5.2.3. Unit 53 / 053 / 530 Distribusi Air Pendingin

Distribusi air pendingin dilakukan dengan dua cara yaitu sistem bertekanan (pressure system) dan sistem gravitasi (gravity system).

Untuk sistem bertekanan, air pendingin didistribusikan dengan pompa: UTL I : 53 P1 A/B/C kapasitas @2000 m3/jam UTL II : 053 P101 A/B/C/D kapasitas @5900 m3/jam UTL KPC : 53 P201 A/B/C kapasitas @2300 m3/jam UTL IIA : 53 P301 A/B kapasitas @4000 m3/jam Untuk mencegah hidup atau berkembangnya microorganisme, pada sistem air pendingin diinjeksikan Sodium Hypochloride yang dihasilkan dari unit sodium Hypochloride (Unit 53A-1, 53A-201, 53A-310, 53A-101dan 63A-1).

5.2.1

Unit 54 / 054 Pengadaan Air Bersih

Unit pengadaan air bersih dilakukan pada unit Sea Water Desalination (SWD), dimana prinsip operasi unit ini adalah mengolah air laut menjadi air tawar dengan spesifikasi tertentu yaitu dengan cara destilasi pada tekanan rendah (vacum). Utilities Pertamina RU IV memiliki 8 buah unit SWD yaitu:

117

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Utilities I : - 54 WS 1/2/3 kapasitas @ 45 ton/jam - 54 WS 201 kapasitas 45 ton/jam Utilities II : - 054 WS 101/102/103/105 kapasitas @ 90 ton/jam Air umpan (feed water) untuk unit ini diambil dari air Sungai Donan menggunakan 8 buah pompa yaitu: Pompa 63 P 1 A/B/C kapasitas masing-masing 3600 m3/jam untuk memenuhi kebutuhan Utilities I. Pompa 063 P 101 A/B/C kapasitas masing-masing 7900 m3/jam untuk memenuhi kebutuhan Utilities II. Pompa 063 P 201 kapasitas 7900 m3/jam untuk memenuhi kebutuhan KPC. Pompa 063 P 301 kapasitas 7900 m3/jam untuk memenuhi kebutuh Utilities IIA.

Air tidak langsung digunakan sebagai air umpan SWD, namun terlebih dahulu ditampung di unit penampungan. Dari unit penampungan ada yang digunakan langsung sebagai feed SWD tetapi ada juga yang digunakan sebagai media pendingin di unit-unit lain yang membutuhkan pendinginan dengan media air garam/payau. Perlengkapan utama Sea Water Desalination (SWD) SWD merupakan sebuah unit yang terdiri dari beberapa komponen yaitu:

1.

Brine heater yang berfungsi memanaskan air umpan sampai temperatur tertentu.

2. Evaporator condenser berfungsi untuk menguapkan air umpan sekaligus untuk mengkondensasikan uap menjadi air tawar. 3. Sistem vacum berfungsi memvakumkan evaporator condenser sampai tekanan tertentu. 4. Sistem injeksi bahan kimia berfungsi memompakan bahan kimia berupa anti scale dan anti foam kedalam air umpan pada saat proses. 5. Sistem pengaman berfungsi mengamankan unit dan produk pada saat beroperasi.

118

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Distribusi Produk SWD Unit SWD menghasilkan produk berupa air yang memiliki kandungan garam sangat rendah (fresh water), air ini akan digunakan untuk: 1. Air umpan Boiler (Boiler Feed Water/BFW) Air umpan Boiler didapat dari produk SWD, kondensat proses dan kondensat turbin generator yang kesemuanya ditampung dalam storage tank yaitu: - 54 T 1/2 kapasitas @ 700 m3 - 054 T 101/102 kapasitas @ 4000 m3 Sebelum ditampung dalam tangki tersebut air produk SWD ini dilewatkan ke unit pelunak air (Softener) berisi Resin Amberlite berfungsi mengikat Mg, Ca, Fe sehingga hardnessnya Nil. Unit Softener tersebut adalah:

- 54 WS 4 V 1/2/3 kapasitas 45 ton/jam - 54 WS 202 A/B kapasitas 45 ton/jam - 054 WS 104 V 1/2/3 kapasitas 90 ton/jam Sedangkan kondensat proses terlebih dahulu dikirim ke tangki 52 T 1 dan 052 T 101 untuk diperiksa spesifikasinya, apakah terkontaminasi minyak atau konduktivitasnya tinggi sebelum langsung ditransfer ke tangki BFW (Boiler Feed Water) 54 T 1/2 dan 054 T 101/102. Untuk kondensat turbin generator, sebagian dipompakan ke tangki Desuperheater dan sisanya tetangki BFW.

Air umpan boiler harus memenuhi syarat sebagai berikut: o conduktivity : < 10 michomhos o PH : 8 9

Air umpan Boiler ditangki masih mangandung gas-gas seperti oksigen yang bersifat korosif pada proses dengan temperatur tinggi. Untuk menghilangkan gas yang terlarut tersebut, BFW diproses di deaerator dimana didalamnya

119

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

dipanaskan dengan LP steam sehingga oksigen yang terkandung dalam BFW yang diperbolehkan maksimal 20 ppm.Selanjutnya sebelum masuk kedalam Boiler bertekanan tinggi, BFW tersebut diinjeksi dengan hydrazine, phosphate, amine, caustic soda dan drewplex.

a. Sistem Desuperheater Water

Berfungsi untuk menjaga / mengontrol temperatur uap yang keluar dari superheater section boiler maupun temperatur steam pada Let Down Station. Make up water tangki Desuperheater diperoleh dari kondensat turbin generator.

b. Sistem Jaket Water

Sistem ini digunakan untuk mendinginkan minyak pelumas dipompapompa proses seluruh kilang. Sistem yang digunakan adalah sistem tertutup (closed loop system) dengan sirkulasi yang berawal dari tangki dipompakan ke unit proses dan kembali ke tangki setelah didinginkan di heat exchanger. Make up diperoleh dari tangki BFW.

2. Sistem Distribusi Air Minum

Sistem distribusi air minum diperoleh dari tangki air minum: kapasitas 208 m3 kapasitas 1000 m3

- 54 T 3 - 054 T 103

Untuk mendistribusikan air minum ke seluruh kilang dan head office digunakan pompa: - 54 P 3 A/B kapasitas @ 14 m3/jam - 54 P 3 C kapasitas 50 m3/jam - 054 P 103 A/B kapasitas @ 45 m3/jam

120

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Untuk mengisi tangki air minum dari produk SWD, digunakan penyaring yaitu karbon filter 54S 1 dan 054S 101, dengan terlebih dahulu didinginkan di pendingin air minum 54E 1 dan 054E 101. disamping itu, terdapat juga tambahan air minum dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Cilacap untuk memenuhi kebutuhan air minum di dalam kilang dan head office.

5.2.4. Unit 56 / 056 / 560 Pembangkit Udara Bertekanan / Kompressor

Udara bertekanan dihasilkan dari kerja kompresor, pada unit ini terdapat 6 buah kompresor yaitu: UTL I : 56 K 1/2/3 kapasitas @ 23 Nm3/menit UTL II : 56 K 102 kapasitas 23 Nm3/menit UTL KPC : 56 K 201 kapasitas 23 Nm3/menit UTL IIA : 560 K 301 kapasitas 23 Nm3/menit

Setiap kompresor pada unit ini memiliki tekanan kerja masing masing 8 Kg/cm2.

Fungsi udara bertekanan :

1. Sebagai angin instrumen

Udara bertekanan dibutuhkan untuk proses di kilang, selain juga digunakan sebagai media penggerak peralatan instrumen di seluruh area kilang. Angin instrumen (udara bertekanan) ini harus kering dan tidak boleh mengandung minyak. Peralatan pada sistem ini terdiri dari intercooler, aftercooler, receiver, air dryer, air filter dan pipa distribusi.

2. Sebagai Plant air

121

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Dihasilkan dari kompresor 56 FAC 019 dan 56 FAC 020 yang terletak di UTL II. Plant air digunakan untuk cleaning tube pada surface condenser turbin generator dan evaporator condenser SWD. 5.2.5. Unit 57 / 057 Distribusi Bahan Bakar Cair dan Gas

A. Sistem bahan bakar cair

Sistem bahan bakar cair terdiri dari sistem HFO dan HGO. Sistem HFO digunakan sebagai bahan bakar pada boiler dan furnace saat normal operasi, sedangkan HGO digunakan pada saat start up dan shut down unit.

1. HFO (Heavy Fuel Oil)

Bahan bakar ini digunakan pada furnace pada boiler dan pemanas crude oil. Bahan bakar diperoleh dari slack wax dari uni MDU, slop wax dari unit Visbreaker, heavy aromat dari KPC, dan IFO dari ITP. Dengan beberapa pompa yang terpisah di Utilities I, Utilities II dan KPC, HFO didistribusikan ke seluruh kilang melalui dua sistem tekanan (loop) pada tekanan 30 kg/cm2 dan 13 kg/cm2 untuk berbagai keperluan yang berbeda. Sistem ini juga di tie-in di kedua area.

2. HGO (Heavy Gas Oil)

Bahan bakar ini hanya digunakan pada boiler pada waktu start up dan shut down, sedangkan di furnace digunakan sebagai bahan bakar alternatif selain HFO dan gas. HGO juga digunakan sebagai media sealing dan flushing. Diseluruh unit utilities hanya terdapat satu tangki penampung dengan kapasitas 311 m3 dan dialirkan oleh beberapa pompa secara terpisah untuk keperluan di kilang minyak I, II dan KPC. Make up tangki didapat dari ITP (offsite). Untuk meningkatkan kehandalan pada sistem ini, maka dilakukan penggabungan pada dua sistem yang ada atau sering disebut tie-in. Sistem ini memiliki dua buah tangki penampung yaitu 57 T 1 dengan kapasitas 311 m3 dan 057 T 101 dengan kapasitas 1000 m3 dan didukung oleh 9 buah pompa yaitu:

122

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

UTL I : 57 P 1/2/3 kapasitas @ 14 m3/jam UTL II : 057 P 101 A/B/C kapasitas @ 60 m3/jam UTL KPC : 57 P P 201 A/B/C kapasitas @ 17 m3/jam

Untuk mengatur viscocity, dipakai sarana heat exchanger dengan media pemanas MP steam. HFO didistribusikan dengan dua cara yaitu: Dengan tekanan tinggi 35 kg/cm2 Dengan tekanan rendah 18 kg/cm2

B. Sistem Bahan Bakar Gas

Bahan bakar gas dipakai dan dimaksimalkan untuk pembakaran di boiler dan furnace. Bahan baku diperoleh dari unit proses dan ditampung di mix drum (vessel pencampur bahan bakar gas) 57 V 2 dan 057 V 102 selanjutnya didistribusikan keseluruh proses area dengan tekanan 3,5 kg/cm2. Apabila tekanan lebih dari 4 kg/cm2 akan dibuang ke flare dan apabila kurang dari 2,5 kg/cm2 akan disupply dari LPG vaporizer system dengan media pemanas LP steam. LPG Vaporizer (vessel 57V 1 dan 57V 101) berfungsi menampung dan memproses Propane/Butane yang offspec. Pada sistem bahan bakar gas ini juga terdapat waste gas compressor yang berfungsi untuk memperkecil losses gas yang ke flare. Sistem ini memiliki 1 buah tangki penampung yaitu 57 T 2 dengan kapasitas 311 m3 dan didukung dengan 4 buah pompa yaitu: UTL I : 57 P 4/5 kapasitas 14 m3/jam UTL II : 057 P 102 A/B kapasitas 50 m3/jam 5.2.6. Unit 63 / 063 Pengadaan Air Baku

Air baku yang diambil adalah air payau yang berasal dari Sungai Donan. Sebelum air baku ini dihisap oleh pompa jenis submersible, air tersebut terlebih dulu disaring dengan menggunakan fixed bar screen, retractable strainer dan floating gate yang berupa pagar pada sekeliling rumah pompa yang memiliki lebar

123

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

tertentu. Hal ini dimaksudkan untuk menyaring partikel-partikel padat yang cukup basar seperti sampah, ranting kayu dan lain-lain agar tidak terhisap kedalam suction pompa dan terbawa aliran air baku ke kiang. Pada unit ini juga diinjeksikan Sodium Hipochlorit (NaOCl) pada sisi isap pompa. Injeksi Sodium Hipochorit ini dimaksudkan untuk membunuh mikroorganisme yang terbawa pada aliran, sehingga tidak mengganggu pada operasi selanjutnya.

Unit pengadaan air baku, Utilities memiliki 8 buah pompa air baku jenis submersible yaitu: UTL I : 63 P1 A/B/C kapasitas @ 3800 m3/jam UTL II : 063 P101 A/B/C/D kapasitas @ 7900 m3/jam UTL KPC : 063 P201 kapasitas 7900 m3/jam UTL IIA : 063 P301 kapasitas 7900 m3/jam

A. Pompa tersebut memompakan air laut dari Sungai Donan menuju ke 3 buah tangki penimbun air baku yang terdapat di Utilities yaitu: 53 T 1 kapasitas 6800 m3 053 T 101/102 kapasitas 9600 m3 530 T 301 kapasitas 1000 m3

B. Air baku yang sudah ditampung tersebut dipakai dan digunakan sebagai:

Sistem air pendingin bertekanan (pressured water) Sistem gravitasi (gravity) untuk surface condenser turbin generatorAir umpan Sea Water Desalination (SWD) 5.2.7. Unit 50 / 05 BD 101 Ruang Kendali Utilities

A. Ruang Kendali Utilities I / Area 50

124

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Ruang kendali ini dibangun dan dioperasikan pada tahun 1976. berfungsi mengontrol kegiatan operasi unit-unit di Utilities I dimana sistem kontrolnya memakai sistem pneumatic dengan menggunakan angin instrumen dan semi electronic. Dengan adanya proyek kilang KPC dan terakhir proyek DPC, maka sistem kontrol dirubah dari sistem pneumatic manjadi sistem DCS dan mulai digunakan untuk mengontrol pengoperasian Utilities I dan sebagian besar Utilities KPC.

B. Ruang Kendali Utilities II / Area 05

Ruang kendali ini dibangun bersamaan dengan proyek perluasan kilang BBM dan mulai dioperasikan pada tahun 1983, berfungsi untuk mengontrol kegiatan operasi unit-unit di Utilities II / area 05, dimana sistem kontrolnya memakai sistem electronic semi automatic. Dengan adanya proyek KPC dan proyek DPC, sistem kontrolnya juga dirubah menjadi sistem kontrol menggunakan DCS dan sistem ini mulai berfungsi bulan nopember 1997. Saat ini ruang kendali Utilities II digunakan untuk mengontrol pengoperasian unit-unit Utilities II, Utilities KPC khusus turbin generator dan Utilities IIA.

125

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

BAB VI PENUTUP 6 1. Kesimpulan

Penarikan kesimpulan oleh praktikan didasarkan pada orientasi umum dan khusus yang diikuti praktikan selama mengikuti proses Kerja Praktek di PT. Pertamina UP IV Cilacap, kesimpulan dari orientasi umum dan khusus adalah sebagai berikut : 1. Proses Engineering Bersama dengan project dan facility engineering, PE memiliki tanggung jawab dalam proses produksi di semua area kilang dan perlindungan lingkungan. Kapasitas produksi unit pengolahan IV merupakan paling besar dari unit unit pengolahan yang dimiliki PT. Pertamina sebanyak 340.000 barrel/hari. Performance alat, spesifikasi bahan dan penggunaan teknologi yang tepat merupakan parameter yang dimonitor oleh proses engineering daam rangka profit perusahaan. Unit Pengolahan IV merupakan salah satu Integrated Plant di Indonesia, dimana proses optimal dengan tetap memperhatikan lingkungan. 2. Lindungan Lingkungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Unit Pengolahan IV Cilacap merupakan salah satu pelopor Green Factory di Indonesia, hal ini ditunjykkan dengan diperolehnya sertifikasi ISO 9000 dan 14000 yang sangat mengedepankan sistem manajemen lingkungan. Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang profesional dimana terdistribusi dalam 4 seksi yang tak hanya mempunyai fungsi penanggulangan pencemaran dan keselamatan kerja tapi juga bertanggung jawab pada peningkatan kualitas dari pelaksanaan perlindungan

lingkungan dan keselamatan kerja tersebut.

126

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

3. Fuel Oil Complex Unit Pengolahan IV tak hanya mengolah crude oil dalam negeri dan middle east tetapi saat ini crude oil yang diolah juga berasal dari campuran beberapa crude oil domestik, sehingga kita kenal Coktail Crude Oil. Fuel Oil Complex IIB adalah bagian dari Unit FOC II yang khusus menangani treating process, yang mengolah produk produk dari FOC IIA. FOC IIB dibagi menjadi beberapa unit, yaitu Naphta Hidrotreater Unit ( NHT ), Platformer, AH UNIBON, TDHT dan flare sistem. 4. Lube Oil Complex Bahan dasar pelumas di Indonesia hanya diproduksi oleh Unit Pengolahan IV, melalaui Lube Oil Complex I, II dan III. 5. Kilang Paraxylene Bahan baku kilang paraxylene merupakan side stream dari FOC II Proses terbagi menjadi empat proses utama yaitu unit persiapan proses ( Naphtha Hidrotreating Unit ), Unit sintesa ( CCR dan Platforming Unit ), Unit Pemurnian ( Sulfolane, Xylene Fractionation, Parex Process Unit ) dan unit peningkatan produk ( Tatoray Unit, Isomar Process Unit ) 6. Utilitas Unit utilitas menggunakan air payau dan asin yang di proses menjadi BFW melalui teknologi Sea Water Desalination, guna pemenuhan proses produksi akan air dan steam. Generator listrik tidak hanya digunakan untuk pemenuhan kebutuhan listrik di area kilang tapi juga infrastruktur pendukung seperti perumahan dan rumah sakit. Bahan bakar cair dan gas merupakan bahan bakar yang digunakan di areal kilang diman bahan bakar gas merupakan bahan bakar utama. 6.2. Saran

127

Laporan Kerja Praktik PT. PERTAMINA (Persero) RU-IV Cilacap

Perubahan status PERTAMINA dari BUMN menjadi Persero merupakan tuntutan agar kinerja PERTAMINA harus lebih professional karena beberapa tahun mendatang boleh jadi PERTAMINA bukan satu satunya perusahaan minyak yang mengelola dan mengatur distribusi bahan bakar di Indonesia. Peningkatan kinerja perlu dilakukan pada direktorat yang dimiliki PERTAMINA baik hulu maupun hilir dalam rangka professionalisme dan profit perusahaan. Etos kerja yang ditunjukkan karyawan pada umunya baik, wa;aupun demikian realitas ini perlu dipertahankan dan ditingkatkan. Pererat jalinan kerjasama antara dunia pendidikan tak hanya melalui kunjungan industri dan kerja praktek tapi dapat dicoba melalui proyek penelitian

128