Anda di halaman 1dari 8

EFEK EKSTRAK ETANOL DAUN UBI JALAR UNGU [Ipomoea batatas (L.

) LAM] TERHADAP KADAR AST - ALT DAN HISTOPATOLOGI SEL HEPAR PADA MENCIT YANG DIBERI PERLAKUAN AKTIVITAS FISIK MAKSIMAL
Maulida Rachmani*, Yudi Purnomo**, Erna Sulistyowati** * Mahasiswa Program Pendidikan Dokter ** Staf Pengajar Program Program Pendidikan Dokter Universitas Islam Malang

Abstrak
Pendahuluan : Aktifitas fisik berat dapat menurunkan aliran darah di hepar hingga setengah dari normal menyebabkan iskemia atau hipoxia sehingga terjadi peningkatan pembentukan ROS (Reactive oxigen Spesies) yang dapat merusak sel hepar yang ditunjukkan peningkatan kadar AST dan ALT dalam darah. Daun Ipomoea batatas dengan kandungan flavonoid dan antosianin dapat berfungsi sebagai antioksidan (scavenger radikal bebas) diharapkan mampu mencegah pembentukan ROS sehingga tidak terjadi kerusakan pada sel hepar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek ekstrak etanol daun Ipomoea batatas terhadap fungsi dan histopatologi sel hepar mencit yang diberi perlakuan aktivitas fisik maksimal. Metode Penelitian : Penelitian eksperimental dengan control group post test only menggunakan mencit Balb/c jantan. Mencit disuplementasi daun Ipomoea batatas dengan konsentrasi 10%, 20%, dan 40% selama 7 hari. Pada hari ke 7 dilakukan perlakuan aktivitas fisik maksimal. Kemudian dilakukan pemeriksan kadar AST dan ALT dan pemeriksaan histopatologi. Data AST-ALT dianalisa dengan uji one way ANOVA, sedangkan jumlah nekrosis sel hepar mencit dianalisa dengan uji two way ANOVA. Kemudian keduanya dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT). Hasil dikatakan bermakna bila p < 0.05. Hasil : Suplementasi ekstrak daun Ipomoea batatas konsentrasi 10%, 20%, dan 40% dapat menurunkan kadar AST berturut-turut 18.2 IU/l, 18.4 IU/l, 17.2 IU/l, mampu menurunkan kadar ALT berturut-turut 12.0 IU/l, 11.6 IU/l, 11.6 IU/l, serta menurunkan jumlah nekrosis sel hepar berturut-turut 84.40, 83.00, 62.27 secara signifikan (p < 0.05) dibandingkan kelompok kontrol positif. Ekstrak daun Ipomoea batatas konsentrasi 40% paling kuat menurunkan kadar AST-ALT dan jumlah sel nekrosis sel hepar pada mencit yang diberikan perlakuan aktivitas fisik maksimal (p < 0.05). Kesimpulan : Suplementasi ekstrak daun Ipomoea batatas konsentrasi 10%, 20%, dan 40% mampu menurunkan kadar AST-ALT dan jumlah nekrosis sel hepar pada mencit yang diberikan perlakuan aktivitas fisik maksimal. Kata kunci : Ipomoea batatas, ubi jalar ungu, aktivitas fisik maksimal, AST, ALT, sel hepar

PENDAHULUAN
Dewasa ini banyak sekali penyakit yang timbul akibat pergeseran pola dan gaya hidup masyarakat. Tuntutan terhadap pemenuhan kebutuhan hidup tidak lagi dapat dihindari sehingga masyarakat harus bekerja keras dan seringkali lupa untuk mengatur waktu istirahat. Kerja keras tanpa istirahat pada akhirnya akan membebani semua organ-organ dalam tubuh serta memicu kondisi stres oksidatif. Aktivitas fisik yang berat ternyata dapat menimbulkan perubahan metabolisme dalam tubuh dan menghasilkan senyawa radikal bebas (oxidant) yang mampu merusak sel-sel termasuk sel-sel hepar (Jawi et al., 2006). Hepar merupakan salah satu organ vital di dalam tubuh yang memiliki berbagai fungsi dalam menjaga kesehatan tubuh misalnya pembentukan dan sekresi empedu, metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak, dan lain sebagainya. Olahraga berat dapat menurunkan aliran darah di hepar sampai setengah dari normal, yang dapat mengindikasikan adanya iskemia atau hipoxia yang di induksi oleh olahraga. Penurunan ini dapat mengakibatkan peningkatan faktor-faktor pembentukan ROS (Reactive oxigen Spesies) yang kemudian dapat merusak struktur dan fungsi dari sel hepar (Nakao et al., 2000). Pada latihan fisik berat berupa lari marathon 80 km, dapat menimbulkan ketidakseimbangan antara senyawa pro oksidan dan antioksidan intraselular. Kondisi tersebut dapat mengakibatkan kerusakan sel hepar sehingga terjadi peningkatan kadar plasma aspartat aminotransaminase (AST) dan kadar bilirubin yang merupakan tanda dari gangguan fungsi hepar. Peningkatan dari kadar AST bisa mencapai 4 kali lipat (Chevion, et al., 2003, dalam Jawi et al., 2006). Aktivitas fisik berat yang dilakukan sesaat, dapat pula meningkatkan AST (aspartat aminotransaminase) dan ALT (alanine aminotransaminase) dalam darah sebagai pertanda dari gangguan fungsi hepar yang disebabkan oleh stress oksidatif (Liu et al., 2000). Pelatihan fisik berat akut pada penelitian secara in vivo pada tikus dapat menyebabkan peningkatan kadar lipid peroksidase pada hepar dan jantung sebagai pertanda dari stress oksidatif serta kerusakan pada nuclear DNA sel (Ogonovszky et al., 2005). Selain itu, pemberian parasetamol selama satu minggu kemudian diberi perlakuan aktivitas fisik maksimal dapat meningkatkan kadar bilirubin darah dan dapat meningkatkan degenerasi serta nekrosis sel hepar mencit (Jawi et al., 2006). Tubuh memerlukan suplementasi tambahan berupa antioksidan eksogen sebagai scavenger radikal bebas. Beberapa antioksidan yang beredar

dipasaran saat ini seperti vitamin A, vitamin C, vitamin E, -tokoferol, Butil Hidroksi Anilin (BHA), dan Butli Hidroksi Toluen (BHT). Namun diketahui bahwa penggunaan antioksidan sintetis BHA dan BHT yang berlebihan dan lama dapat meningkatkan resiko toksis pada tubuh dan merusak hepar (Rosenbloom, 2009). Adanya trend back to nature di masyarakat dalam memelihara kesehatan dan kebugaran tubuh melahirkan konsep pangan fungsional (functional food) dimana bila dimungkinkan pangan harus dapat menyembuhkan atau menghilangkan efek negatif dari penyakit tertentu. Ubi jalar berdaging warna ungu adalah termasuk dalam pangan fungsional. Ubi jalar ungu memiliki kandungan antosianin tinggi (Rozi dan Krisdiana, 2008). Antosianin bermanfaat bagi kesehatan tubuh manusia karena dapat berfungsi sebagai antioksidan, anti hipertensi, pencegah gangguan fungsi hepar (Suda et al., 2003). Daun ubi jalar ungu secara empiris memiliki khasiat sebagai obat bisul, penurun panas, dan luka bakar (Litbang, 2008). Pengujian secara in vitro menunjukkan bahwa daun ubi jalar ungu yang muda mengandung kadar fenolik dan aktivitas antioksidan paling tinggi. Bagian daun ubi jalar secara signifikan mempunyai kadar fenolik dan aktivitas antioksidan lebih tinggi dibandingkan dengan bagian akar (Padda, 2006). Daun ubi jalar ungu mengandung vitamin A dan vitamin C yang kita ketahui juga memiliki efek sebagai antioksidan. Daun ubi jalar ungu juga mengandung mikronutrien berupa beberapa mineral seperti kasium, magnesium, besi, seng, kalium, mangan, fosfor, tembaga dan natrium (Antia, 2006). Dari beberapa hasil penelitian menununjukkan bahwa pemberian ekstrak umbi ubi jalar ungu dapat mengurangi pengaruh radikal bebas pada jaringan hati mencit, terlihat dari penurunan kadar AST dan ALT secara signifikan dibandingkan kelompok kontrol (p<0,05) (Jawi, Suprapta, dan sutirtayasa, 2007). Berdasarkan hasil studi diatas mendorong peneliti untuk mengetahui lebih lanjut secara in vivo efek ekstrak etanol daun ubi jalar ungu ( Ipomoea batatas L) terhadap kadar AST dan ALT dan histopatologi sel hepar pada mencit yang diberi perlakuan aktivitas fisik maksimal. METODE PENELITIAN Pendekatan Penelitian Penelitian dilaksanakan dengan metode eksperimental laboratorik menggunakan desain penelitian control group post test only secara in vivo dengan menggunakan hewan coba mencit Balb/c jantan dengan umur 4-5 bulan biakan lokal sebanyak 25 ekor mencit.

Tahapan Kerja Pembuatan Ekstrak Daun Ipomoea batatas Pembuatan Simplisia : Daun Ipomoea batatas disortasi, kemudian dibersihkan. Daun dikeringkan dengan di angin-anginkan dan tidak terkena sinar matahari langsung selama 35 hari. Kemudian daun diperkecil ukurannya dan siap dilakukan ekstraksi. Proses Ekstraksi : Daun sebanyak 500 g diekstraksi dengan 6 liter etanol 80 %. Larutan dikocok dengan menggunakan Shacker water bath selama 6 jam kemudian didiamkan selama 24 jam, selanjutnya disaring dengan kertas saring. Rendemen dialiri pelarut yang baru sambil dikocok selama 3 jam dan difiltrasi. Filtrat yang diperoleh di evaporasi pada suhu 40C untuk menguapkan etanol sehingga tinggal tersisa ekstrak kental. Bila akan digunakan ekstrak tanaman diambil kemudian diencerkan dengan aquadest hingga diperoleh konsentrasi 10%, 20%, dan 40%. Proses Adaptasi Hewan Coba Mencit akan diadaptasikan didalam kandang hewan coba yang diletakkan di laboratorium selama 7 hari dan diberi makan serta minum sesuai standar. Pemberian Ekstrak Daun Ipomoea batatas Setelah masa adaptasi selama 1 minggu daun Ipomoea batatas diberikan personde 1 ml ke mencit selama 7 hari dengan perincian sebagai berikut : Kelompok A tidak diberikan ekstrak daun Ipomoea batatas (kontrol negatif), Kelompok B tidak diberikan ekstrak daun Ipomoea batatas (kontrol positif), Kelompok C diberikan ekstrak daun Ipomoea batatas konsentrasi 10%, Kelompok D diberikan ekstrak daun Ipomoea batatas konsentrasi 20%, Kelompok E diberikan ekstrak daun Ipomoea batatas konsentrasi 40%. Perlakuan Aktivitas Fisik Maksimal Setelah pemberian ekstrak daun Ipomoea batatas selama 7 hari, pada hari ke 7 dilakukan perlakuan aktivitas fisik maksimal kepada kelompok B, C, D, dan E. Sedangkan kelompok A sebagai kontrol negatif. Perlakuan aktivitas fisik maksimal berupa renang maksimal pada mencit sampai hampir tenggelam atau nampak tanda-tanda kelelahan berupa tenggelamnya hampir semua badan kecuali hidung dan melemahnya gerakan anggota gerak serta menurunnya waktu reaksi. Lamanya renang berkisar antara 45-50 menit. Satu hari setelah perlakuan, mencit dianastesi dengan menggunakan eter kemudian dilakukan pengambilan darah secara intrakardial sebanyak 1 cc untuk dilakukan pemeriksan aktivitas AST dan ALT. Mencit di eutanasia kemudian dilakukan pembedahan laparatomi untuk mengambil organ hepar. Pemeriksaan Kadar AST dan ALT Pemeriksaan kadar AST dan ALT menggunakan alat Cobas Mira dan hasil dibaca pada

spektrofotometer dengan 340 nm Pemeriksaan Struktur Sel Hepar Hepar direndam dengan formalin 10% lalu dikirim ke Lab. Patologi Anatomi untuk dibuat sediaan PA. Sediaan tersebut untuk melihat keadaan sel-sel hepar serta adanya tanda-tanda degenerasi yang dilihat dengan mikroskop cahaya dengan pembesaran 10 kali dan 400 kali untuk setiap sediaan. Teknik Analisa Data Hasil pengukuran kadar AST-ALT dalam darah mencit dianalisa secara statistik dengan menggunakan uji one way ANOVA, sedangkan untuk hasil pengukuran jumlah nekrosis sel hepar mencit dianalisa secara statistik dengan menggunakan uji two way ANOVA. Kemudian keduanya dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT). Hasil dikatakan bermakna bila p < 0.05. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil pemeriksaan serum darah mencit disuplementasi ekstrak Ipomoea batatas dan diberi perlakuan aktivitas fisik maksimal, diperoleh kadar AST sebagai berikut :
Tabel Rerata kadar AST mencit yang diberi aktivitas fisik maksimal dan disuplementasi ekstrak Ipomoea batatas

No 1. 2. 3 4. 5.

Perlakuan Kontrol negatif (tanpa perlakuan) Kontrol positif (aktivitas fisik maksimal) Ipomoea batatas 10% + aktivitas fisik maksimal Ipomoea batatas 20% + aktivitas fisik maksimal Ipomoea batatas 40% + aktivitas fisik maksimal

N 5 5 5 5 5

Rerata (IU/l) SD 19.60.894 21.41.140 18.20.894* 18.44.447* 17.21.670*

*: p 0.05 berbeda signifikan dibandingkan kontrol positif


25
Perlakuan Ekstrak Etanol Ipomoea batatas Kontrol Negatif Kontrol Positif Positif + ekstrak 10% 19.6 21.4 18.2 18.4 17.2 Positif + ekstrak 20% Positif + ekstrak 40%

20
Kadar AST (IU/l)

15

10

5
Mean Kadar AST dalam darah

0
Kontrol Negatif Kontrol Positif Positif + ekstrak 10%

Positif + ekstrak 20%

Positif + ekstrak 40%

Gambar Rerata kadar AST mencit yang diberi aktivitas fisik maksimal dan disuplementasi ekstrak Ipomoea batatas

Berdasarkan hasil penelitian tampak adanya peningkatan yang signifikan dari kadar AST kelompok kontrol positif bila dibandingkan dengan

kelompok kontrol negatif (p < 0.05). Hal ini sesuai dengan penelitian Jawi (2007) bahwa terjadi peningkatan kadar AST mencit setelah pemberian perlakuan aktivitas fisik maksimal berupa renang maksimal atau sampai hampir tenggelam. Peningkatan AST adalah akibat dari meningkatnya radikal bebas yang terjadi karena meningkatnya metabolisme. Peningkatan radikal bebas yang tidak diikuti oleh peningkatan antioksidan akan menyebabkan terjadinya stress oksidatif yang akan menimbulkan kerusakan sel. Perbedaan kadar AST yang signifikan (p < 0.05) pada kelompok perlakuan dibandingkan dengan kelompok kontrol positif menjelaskan bahwa pemberian ekstrak daun lpomoea batatas mampu menurunkan kadar AST mencit yang diberi aktivitas maksimal. Hal ini sesuai dengan penelitian Jawi (2007) dimana pemberian ekstrak umbi ubi jalar ungu yang mengandung zat warna antosianin yaitu antioksidan yang dapat menurunkan AST dalam darah mencit yang diberi aktivitas fisik maksimal. Suplementasi antioksidan flavonoid dapat menangkap radikal bebas maupun senyawa oksigen reaktif sehingga tidak terjadi stress oksidatif dan kerusakan pada sel (Reynertson, 2007). Bila tidak terjadi kerusakan pada sel maka kadar AST dalam darah tidak akan meningkat karena AST adalah enzim yang berada dalam sel (Hasan, 2008). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun Ipomoea batatas konsentrasi 40% paling kuat menurunkan kadar AST darah mencit. Sedangkan untuk ekstrak daun Ipomoea batatas konsentrasi 10% dan 20% memiliki kemampuan yang sama dalam menurunkan kadar AST mencit yang diberi perlakuan aktivitas fisik maksimal (p > 0.05). Kadar AST dalam darah kelompok kontrol negatif lebih tinggi bila dibandingkan dengan kelompok pemberian ekstrak daun lpomoea batatas konsentrasi 10% , 20%, dan 40%. Hal ini tidak sesuai dengan penelitian Jawi (2007) dimana seharusnya nilai rerata kelompok kontrol negatif lebih rendah dari pada kelompok pemberian ekstrak umbi lpomoea batatas. Hal tersebut dapat terjadi mengingat pengukuran kadar AST hanya dilakukan setelah perlakuan (post test) dan kadar AST awal sebelum perlakuan tidak diketahui, sehingga penurunan dari kadar AST tidak dapat diukur. Sedangkan menurut Jenkins (2002), banyak faktor yang menentukan apakah latihan menyebabkan terjadinya kerusakan akibat radikal bebas, termasuk status kesehatan, intensitas latihan, dan diet. Hasil penelitian juga dipengaruhi oleh variasi biologik hewan coba, misalnya jenis, berat badan, umur, jenis kelamin, makanan, dan kondisi lingkungan (Hargono et al., 2000).

Berdasarkan hasil pemeriksaan serum darah mencit disuplementasi ekstrak Ipomoea batatas dan diberi perlakuan aktivitas fisik maksimal, diperoleh kadar ALT sebagai berikut :
Tabel Rerata kadar ALT mencit yang diberi aktivitas fisik maksimal dan disuplementasi ekstrak Ipomoea batatas

No 1. 2. 3 4. 5.

Perlakuan Kontrol negatif (tanpa perlakuan) Kontrol positif (aktivitas fisik maksimal) Ipomoea batatas 10% + aktivitas fisik maksimal Ipomoea batatas 20% + aktivitas fisik maksimal Ipomoea batatas 40% + aktivitas fisik maksimal

N 5 5 5 5 5

Rerata (IU/l) SD 11.80.447 15.61.517 12.00.707* 11.60.548* 11.60.548*

*: p 0.05 berbeda signifikan dibandingkan kontrol positif


Perlakuan Ekstrak Etanol Ipomoea batatas Kontrol Negatif Kontrol Positif Positif + ekstrak 10% 15.6 Positif + ekstrak 20% Positif + ekstrak 40%

15

Kadar ALT (IU/l)

10

5
Mean Kadar ALT dalam darah

11.8

12

11.6

11.6

0
Kontrol Negatif Kontrol Positif Positif + ekstrak 10%

Positif + ekstrak 20%

Positif + ekstrak 40%

Gambar Rerata kadar AST mencit yang diberi aktivitas fisik maksimal dan disuplementasi ekstrak Ipomoea batatas

Berdasarkan hasil penelitian tampak adanya peningkatan yang signifikan dari kadar ALT kelompok kontrol positif bila dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif (p < 0.05). Hal ini sesuai dengan penelitian Jawi (2007) bahwa terjadi peningkatan kadar ALT mencit setelah aktivitas fisik maksimal berupa renang maksimal. Peningkatan kadar ALT yang merupakan enzim selular ini terjadi akibat pelepasan enzim ke dalam serum ketika jaringan hepar mengalami kerusakan (Hasan, 2008) akibat aktivitas fisik maksimal yang menimbulkan peroksidasi lipid pada sel hepar. Terdapat perbedaan kadar ALT yang signifikan (p < 0.05) pada kelompok perlakuan yang disuplementasi ekstrak daun lpomoea batatas konsentrasi 10% , 20%, dan 40% dibandingkan dengan kelompok kontrol positif sehingga dapat dijelaskan bahwa ekstrak daun lpomoea batatas mampu menurunkan kadar ALT mencit yang diberi aktivitas maksimal. Hal ini sesuai dengan penelitian Jawi (2007) dimana pemberian ekstrak umbi lpomoea batatas yang mengandung antioksidan zat warna antosianin dapat menurunkan kadar ALT dalam darah mencit yang diberi aktivitas fisik maksimal.

Senyawa-senyawa polifenol seperti flavonoid dan antosianin mampu menghambat reaksi oksidasi melalui mekanisme radical scavenging dengan cara menyumbangkan satu elektron pada elektron yang tidak berpasangan dalam radikal bebas sehingga banyaknya radikal bebas menjadi berkurang (Pokorny et al., 2001). Secara in vitro, flavonoid merupakan inhibitor yang kuat terhadap peroksidasi lipid, sebagai penangkap spesies oksigen atau nitrogen yang reaktif, dan juga mampu menghambat aktivitas enzim lipooksigenase dan siklooksigenase (Halliwell and Gutteridge, 2000 dalam Rahman dan Riyanto, 2005). Adanya suplementasi antioksidan pada aktivitas fisik maksimal mampu mencegah terjadinya kerusakan pada sel sehingga kadar ALT dalam darah tidak akan meningkat karena ALT tetap berada dalam sel yang utuh (Hasan, 2008). Pemberian ekstrak daun Ipomoea batatas konsentrasi 10%, 20% dan 40% mempunyai kemampuan yang sama dalam menurunkan kadar ALT mencit yang diberi aktivitas maksimal (p > 0.05). Hal ini sesuai dengan Suda et al., (2003) antosianin yang merupakan salah satu senyawa pada daun Ipomoea batatas bermanfaat bagi kesehatan tubuh manusia karena dapat berfungsi sebagai radical scavenging, anti hipertensi, pencegah gangguan fungsi hepar. Aktivitas fisik berat yang diberikan berupa renang maksimal pada mencit akan memperberat terjadinya stress oksidatif karena meningkatkan terbentuknya radikal bebas sehingga terjadi kerusakan sel-sel hepar yang terlihat dari meningkatnya AST dan ALT dalam darah (Jawi, 2006). Pemberian ekstrak daun Ipomoea batatas yang mengandung zat warna antosianin dapat menurunkan kadar AST dan ALT dalam darah mencit. Penurunan AST dan ALT ini terjadi setelah pemberian ekstrak daun Ipomoea batatas selama 1 minggu pada kelompok mencit yang diberikan beban maksimal. Dari hasil penelitian ini nampak pemberian ekstrak daun Ipomoea batatas yang mengandung antosianin dapat mengurangi pengaruh radikal bebas terhadap jaringan hepar mencit, terlihat dari menurunnya kadar AST dan ALT dibandingkan kelompok mencit dengan aktivitas fisik maksimal tanpa pemberian ekstrak daun Ipomoea batatas. Selain sebagai scavenger, senyawa flavonoid dengan kandungan anthosianin dalam daun Ipomoea batatas diduga berfungsi sebagai antioksidan dengan cara menghambat langkah propagasi, yaitu memutus rantai autoksidasi atau disebut juga Chain-breaking antioxidants. Chain-breaking antioxidants bisa bereaksi dengan radikal peroksil dan alkoksil, sehingga dapat menghambat pembentukan, isomerisasi dan

dekomposisi hidroperoksida. Aktivitas fisik maksimal meningkatkan kebutuhan oksigen dan glukosa pada otot untuk pembentukan ATP, sehingga proses glukoneogenesis di hepar meningkat. Peningkatan metabolisme tersebut pada akan meningkatkan pembentukan ROS yang dapat menimbulkan terjadinya stress oksidatif. Stress oksidatif akan menyebabkan terjadinya peroksidasi lipid, fragmentasi protein, dan DNA sehingga terjadi nekrosis pada sel dan keluarnya enzim AST dan ALT ke dalam darah. Adanya penghambatan dalam pembentukan radikal dengan mekanisme Chain-breaking antioxidants tersebut dapat menghambat terjadinya peroksidasi lipid sehingga mampu mencegah keluarnya ( release) AST-ALT dalam darah dan melindungi sel hepar dari nekrosis pada mencit yang diberikan aktivitas fisik maksimal. Berdasarkan hasil pemeriksaan serum darah mencit disuplementasi ekstrak Ipomoea batatas dan diberi perlakuan aktivitas fisik maksimal, diperoleh jumlah nekrosis sel hepar sebagai berikut :
Tabel Rerata Histologi Jumlah Nekrosis Sel Hepar mencit yang diberi aktivitas fisik maksimal dan disuplementasi ekstrak Ipomoea batatas
No

Perlakuan
Kontrol negatif (tanpa perlakuan) Kontrol positif (aktivitas fisik maksimal) Ipomoea batatas 10%+aktivitas fisik maksimal Ipomoea batatas 20%+aktivitas fisik maksimal Ipomoea batatas 40%+aktivitas fisik maksimal

N 5 5 5 5 5

1. 2. 3. 4. 5.

Zona Sel Nekrosis ( SD) I II III 11.0 14.0 26.4 6 7.7 8.7 109.6 118.2 166.2 25.2 34.1 22.4 75.8 9.3 73.2 13.5 53.2 9.7 64.56 35.5 77.8 3.1 78.8 12.9 61.0 17 69.96 38.3 99.6 21.5 97.0 8.7 78.6 23.8 93.56 48.7

Total SD 17.13 9.8 131.33 36.3 84.40 16.9* 83.00 15.2* 64.27 19.8*

Total ZonaSD

Keterangan: *: p 0.05 berbeda signifikan dibandingkan kelompok kontrol positif


140 120
Nekrosis sel hepar Perlakuan Ekstrak Ipomoea batatas Etanol Kontrol Negatif Kontrol Positif Positif + ekstrak 10% Positif + ekstrak 20% Positif + ekstrak 40% 84.4 83 64.3

100 80
131.3

60 40 20
17.1

Kontrol Negatif

Kontrol Positif

Positif + ekstrak 10%

Positif + ekstrak 20%

Positif + ekstrak 40%

Mean Histologi Sel Hepar

Gambar Rerata Jumlah Nekrosis Sel Hepar mencit yang diberi aktivitas fisik maksimal dan disuplementasi ekstrak Ipomoea batatas

Zona 200 ZONA I ZONA II ZONA III

Nekrosis sel hepar

150

100
Mean SelHepar

50

Kontrol Negatif

Kontrol Positif

Positif + ekstrak 10%

Positif + ekstrak 20%

Positif + ekstrak 40%

Gambar Rerata Zona Nekrosis Sel Hepar mencit yang diberi aktivitas fisik maksimal dan disuplementasi ekstrak Ipomoea batatas

Gambar Histopatologi sel hepar mencit yang diberi aktivitas fisik maksimal dan disuplementasi ekstrak Ipomoea batatas Keterangan : (A) Kelompok kontrol negatif secara keseluruhan nampak histologi sel hepar normal (B) Kelompok kontrol positif nampak adanya nekrosis yang luas terutama pada zona III dan terlihat adanya sel-sel radang disekitar vena sentralis (C) Kelompok suplementasi Ipomoea batatas 10 % + renang sel hepatosit yang mengalami cellular swelling, penyempitan dari sinusoid, dan gambaran sel hepatosit nekrosis. (D) Kelompok suplementasi Ipomoea batatas 20 % + renang sel hepatosit yang mengalami cellular swelling dan sitoplasma yang jernih karena terjadi glikogenolisis. (E) Kelompok suplementasi Ipomoea batatas 40 % + renang nampak sel hepatosit mengalami sedikit cellular swelling.

Dari gambaran histologi sel hepar kelompok kontrol negatif secara keseluruhan nampak normal, sel hepatosit hepar normal yang tersusun radier. Tidak terlihat adanya tanda-tanda jejas sel ataupun inflamasi. Sedangkan Kelompok kontrol positif nampak adanya nekrosis yang luas terutama pada zona III dan terlihat adanya sel-sel radang disekitar vena sentralis, sel hepatosit juga terlihat banyak yang mengalami nekrosis. Kelompok suplementasi ekstrak daun Ipomoea batatas konsentrasi 10 %, 20%, dan 40% pada mencit yang diberi aktivitas fisik maksimal nampak traktus portal yang normal tanpa sel-sel radang, terlihat sel hepatosit yang mengalami pembengkakan (cellular swelling) dengan sitoplasma yang jernih karena terjadi glikogenolisis, sehingga terjadi penyempitan dari sinusoid. Pembengkakan sel merupakan salah satu mekanisme adaptasi sel bila mengalami jejas (injury). Selain itu juga terlihat gambaran sel hepatosit nekrosis namun tidak sebanyak pada kelompok kontrol positif. Dari penelitian diperoleh hasil bahwa jumlah nekrosis pada zona III lebih tinggi bila dibandingkan dengan zona I dan zona II. Kondisi ini terjadi pada shock liver dimana terjadi penurunan aliran darah ke hepar dan adanya hypoxia hepatoseluler, yang mengakibatkan dipecahnya glikogen, terbentuknya hypoxic vacuoles pada hepatosit dan membrane blebbing. Selain itu, juga terjadi nekrosis koagulasi pada acinar zona III (Kuntz dan Kuntz, 2008). Penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara gambaran nekrosis sel hepar kelompok kontrol negatif dan kelompok kontrol positif (p < 0.05). Hal ini sesuai dengan penelitian Jawi et al. (2006), dimana terjadi peningkatan jumlah nekrosis sel hepar mencit yang diberi aktivitas fisik maksimal bila dibandingkan dengan kelompok kontrol tanpa perlakuan aktivitas fisik maksimal. Nekrosis sel hepar tejadi akibat adanya stress oksidatif. Menurut Belviranti dan Gokbel (2006) tikus yang diberi olahraga dengan intensitas yang singkat terbukti menginduksi peningkatan oksidasi lipid dan protein sehingga terjadi kerusakan sel. Pemberian suplementasi daun lpomoea batatas konsentrasi 10%, 20%, dan 40% mampu menurunkan jumlah sel nekrosis pada histologi sel hepar secara signifikan (p< 0.05) bila dibandingkan dengan kontrol positif. Hal ini sesuai dengan penelitian Jawi et al. (2008), secara histopatologi tampak bahwa tingkat nekrosis paling banyak ditemukan pada mencit yang diberi perlakuan aktivitas fisik maksimal tanpa suplementasi ekstrak umbi lpomoea batatas dan. Penurunan tersebut diduga disebabkan oleh kandungan antosianin pada

daun lpomoea batatas yang berfungsi sebagai scavenger radikal bebas (Teow, 2005) sehingga dapat mengurangi terjadinya kerusakan pada sel hepar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efek ekstrak daun Ipomoea batatas paling tinggi dalam menurunkan jumlah nekrosis sel hepar mencit adalah pada konsentrasi 40% dibandingkan dengan konsentrasi 10% ataupun 20%. Hal ini sesuai dengan pengukuran kadar AST-ALT dalam darah. Hal ini membuktikan bahwa pada pada konsentrasi 40% mampu mencegah adanya stress oksidatif pada sel hepar sehingga mencegah terjadinya nekrosis sel hepar dan enzym AST-ALT yang ada dalam sel tidak keluar kedalam darah. Sesuai dengan penelitian Kowalczyk et al., (2003) suplementasi anthocyanins dari Aronia melanocarpa pada mencit yang diinduksi dengan cadmium chloride terbukti menurunkan kadar enzym AST, ALT, dan bilirubin. Menurut Chen et al., (2005), konsumsi daun Ipomoea batatas tiap hari pada manusia dapat menurunkan peroksidasi lipid dan kerusakan DNA dengan meningkatkan aktivitas antioksidan dalam tubuh. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil analisa data dan pembahasan dalam penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa: 1. Pemberian ekstrak etanol daun Ipomoea batatas konsentrasi 10% pada mencit yang diberi aktivitas maksimal menurunkan kadar AST 18.2 IU/l, ALT 12.0 IU/l, dan jumlah nekrosis sel hepar 84.40 dengan gambaran sel hepatosit yang mengalami cellular swelling, penyempitan dari sinusoid, dan sel-sel hepatosit nekrosis. 2. Pemberian ekstrak etanol daun Ipomoea batatas konsentrasi 20% pada mencit yang diberi aktivitas maksimal menurunkan kadar AST 18.4 IU/l, ALT 11.6 IU/l, dan jumlah nekrosis sel hepar 83.00 dengan gambaran sel hepatosit yang mengalami cellular swelling dan sitoplasma yang jernih karena terjadi glikogenolisis. 3. Pemberian ekstrak etanol daun Ipomoea batatas konsentrasi 40% pada mencit yang diberi aktivitas maksimal paling kuat dalam menurunkan kadar AST 17.2 IU/l, ALT 11.6 IU/l, dan jumlah nekrosis sel hepar 64.27 dengan gambaran sel hepatosit mengalami sedikit cellular swelling. Saran Berdasarkan hasil penelitian kali ini, guna pengembangan lebih lanjut peneliti menyarankan: 1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan variasi dosis yang berbeda untuk mengetahui efek ekstrak daun ubi jalar ungu (Ipomoea

batatas) terhadap kadar AST dan ALT serta histopatologi sel hepar mencit yang diberi perlakuan aktivitas fisik maksimal. 2. Perlu dilakukan penelitian dengan mengamati parameter pertahanan antioksidan seperti GSH, SOD, dan Katalase untuk mengetahui efek ekstrak daun ubi jalar ungu (Ipomoea batatas) sebagai antioksidan. 3. Perlu dilakukan penelitian menggunakan isolat daun ubi jalar ungu (Ipomoea batatas) dengan komponen zat aktif yang lebih spesifik. 4. Perlu dilakukan penelitian efek ekstrak daun ubi jalar ungu (Ipomoea batatas) pada hewan coba dengan diberi perlakuan aktivitas fisik maksimal yang lain. DAFTAR PUSTAKA
Albina JE, Reichner JS. 1998. Role of nitric oxide in mediation of macrophage cytotoxicity and apoptosis. Cancer Metatasis Rev. 17:38-53 Allen RG, Tressini M. 2000. Oxidative stress and gene regulation. Free Radical Biol Med. 28:463-99 Amirudin R. 2006 . Fisiologi dan Biokimia Hati. Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I Edisi IV. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran UI:415-419 Araujo V, Arnal C, Boronat M, et al. 1998. Oxidant-anti oxidant imbalance in blood of children with juvenile rheumatoid arthritis . Bio Factor. 8:155-59. Arief Sjamsul. 2006. Radikal Bebas. Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Anak FK UNAIR/RSU Dr. Soetomo. Surabaya Aruroma, O.I. 1998. Free Radicals, Oxidative Stress, and Antioxidant in Human Health and Disease. J Am Oil Chem Soc. 75: 199-212 B.S. Antia, E.J. Akpan, P.A. Okon and I.U. Umoren. 2006. Nutritive and Anti-Nutritive Evaluation of Sweet Potatoes. (Ipomoea batatas) Leaves. Pakistan Journal of Nutrition 5 (2): 166-168. ISSN 1680-5194 Bejma J, Ramires P, Ji LL. 2000. Free radical generation and oxidative stress with ageing and axercise: differential effects in the myocardium and liver. Acta Physiol Scand. 169(4):343-51 Britannica. 2009. Anterior and posterior views of the liver (diakses tanggal 15 Mei 2009, http://www.britannica.com) Chen Chiao-Ming, Lin Ya-Ling, Chen C-Y Oliver, et al. 2005. Consumption of purple sweet potato leaves decreases lipid peroxidation and DNA damage in humans. Asia Pac J Clin Nutr;17 (3):408-414 Chevion S, Molan DS, Heled Y, et al. 2003. Plasma antioxidant status and cell injury after severe physical exercise. PNAS. 100(9):5119-23 Cotran J., Kumar V., 1999. Basic Pathology of Disease. MgGraw-Hill Publisher. New York Craig WJ. 2002. Vegetarian phytochemicals: guardians of our health, a continuing education article (Available from:http://www. andrews.edu/NUFS/phyto.html) Damanhuri, Basuki, Nur, Harijono, Kasno, Astanto. 2005. Respon Tanaman Ubi Jalar (Ipomoea batatas (L) Lam) Kaya Antosianin terhadap Lingkungan Tumbuh. Jurnal Habitat. Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang Droge 2002 Droge W. Free radicals in the physiological control of cell function. Physiological Reviews 2002; 82(1):47-95 Eroschenko V. 2003. Atlas Histologi di Fiore dengan korelasi Fungsional. Edisi 9. EGC. Jakarta Eroschenko V. 2003. Atlas Histologi di Fiore dengan korelasi Fungsional. Edisi 9. EGC. Jakarta Fawcett and Bloom, 2002. Buku Ajar Histologi Edisi 12. EGC. Jakarta Fimognari C., Berti F., Nusse M., et al. 2004. Introduction of Apoptosis in Two Human Leukemia Cell Lines as well as Differentiation in Human Promyelocytic Cell by Cyanidin-3-O-betaglucopyranoside. Biochem Pharmacol 67, 2047-2056 Halliwel, Gutteridge JM. 1999. Free Radicals in Biology and Medicine. Oxford Science Publication. 3rd ed Hasan Irsan. 2008. Interpretasi dan Pendekatan Klinis terhadap

Peningkatan Enzim Transaminase. Divisi Hepatologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam. FKUI. PAPDI Huang, Dong-Jiann., Lin, Chun-Der., Hsien-Jung., Lin, Yaw-Huei. 2004. Antioxidant and Antiproliferative Activities of Sweet Potato (Ipomoea batatas (L) Lam Tainong 57) Constituens . Bot. Bull. Acad. Sin. Vol 45:179 Hystology image. 2000. Digestive system Liver, Pancreas . (diakses tanggal 29 Juni 2009, www.histol.chuvasia.com) Inoue M. 2001. Protective mechanisms against reactive oxygen species . In: Arias IM The liver biology and pathobiology Lippincott Williams and Wilkins 4th-ed. Philadelphia :281-90 Ivanova, E and Ivanov, B. 2000. Mechanism of the Extracellular antioxidant defend. Experimental Pathology and Parasitology Jawi I Made, Suprapta Dewa Ngurah, Subawa AA Ngurah. 2008. Sirup atau Ekstrak Air Umbi Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L) Dosis 4 ml Efektif sebagai Antioksidan pada Tikus Putih yang Diberikan Beban Aktivitas Fisik Maksimal. Dexa Media, Vol. 21, no. 4, edisi November-Desember Jawi I, Manuaba I, Sutirtayasa I, Muruti G. 2006. Pemberian Glutamin Menurunkan Kadar Bilirubin Darah serta Mengurangi Nekrosis Sel-Sel Hati setelah Pemberian Aktivitas Fisik Maksimal dan Parasetamol pada Mencit. Dexa Media No. 4, vol 19 : 192-195 Jawi I, Suprapta D, Sutirtayasa I. 2007. Efek Antioksidan Ekstrak Umbi Ubi Jalar Ungu (Ipomoiea batatas L) terhadap Hati setelah Aktivitas Fisik Maksimal dengan Melihat Kadar AST dan ALT Darah pada Mencit. Dexa Media, no. 3, vol 20 : 103-106 Jetkins. 2008. Antioxidants and Free Radicals. (diakses tanggal 24 Juni 2009, http://www.rice.edu/~jenky/sports/antiox.html) Ji LL. 1999. Antioxidants and oxidative stress in exercise . Proceedings of the Society for Experimental Biology and Medicine, 222:28392 Juanda J.S. Dede dan Cahyono Bambang. 2000. Ubi Jalar Budi daya dan analisis usaha tani. Penerbit kanisius. Yogyakarta Lautan Jensen. 1997. Radikal Bebas pada Eritrosit dan Lekosit. Tinjauan Kepustakaan. Kopertis Wilayah-I dpk Laboratorium Biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara, Medan. Cermin Dunia Kedokteran No. 116, 49 Litbang. 2008. Koleksi Tanaman Obat Balai Besar Litbang. (diakses pada tanggal 12 juni 2009, http:/www.litbang.com) Liu J, et al. 2000. Chronically and acutely exercised rats: biomarkers of oxidative stress and endogenous antioxidants . J Appl Physiol 89:21-8 Nayanatara A.K., Nagaraja H.S., and Anupama B.K. 2005. The Effect of Repeated Swimming Stress On Organ Weights and Lpid Peroxidation in Rats. Thai Journal og Physiological Sciences. Vol 18, No.1, page 3-9 Newsholme et al., 2003. Glucose metabolism (Diakses tanggal 24 juni 2009, http://www.scielo.br) Ogonovszky H, Sasvari M, Dosek A, et al. 2005.The effects of moderite, strenuous, and overtraining on oxidadtive stress markers and DNA repair in rat liver . Can J Appl Physiol, 30(2):186-95 Osime E.O., Ediale G.E., Omoti C.E., Famodu A.A. 2008. Effect of Sweetpotato Leaf (Ipomoea batatas) Extract On Some Haematological Parameters Using Rabbits. Journal of Medicine and Biomedical Research, Vol. 7, No. 1&2, Desember 2008, pp. 12-15 Padda Malkeet Singh. 2006. Phenolic Composition and Antioxidant Activity of Sweetpotatoes [ipomoea batatas (l.) Lam] . The Department of Horticulture : Faculty of the Louisiana State University and Agricultural and Mechanical College Patu Ilham. 2009. Radikal Bebas. (diakses 24 Juni 2009, http://cpddokter.com) Pettersson Jonas, et al. 2007. Muscular exercise can cause highly pathological liver function tests in healthy men. British Journal Clinical Pharmacology. Priyadarsini K. Indira. 2005. Molecular mechanisms Involving Free Radical Reaction of Antioxidants and Radioprotectors. Bhabha Atomic Research Centre. India Proctor PH, Reynolds ES. 1984. Free radicals and disease in man. Physiol Chem Phys Med. 16:175-95 Reynertson, K.A., 2007, Phytochemical Analysis of Bioactive Constituens from Edible Myrtaceae Fruit, Dissertation, The City University of New York, New York Risadiansyah Rio. 2007. Pengaruh Pemberian Ekstrak Jinten Hitam (Nigella sativa) terhadap Gambaran Histopatologi Alveoli Tikus Wistar yang Dipapar Asap Rokok Kronik. Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Malang Rozi F, Krisdiana R. 2008. Prospek Ubi Jalar Berdaging Ungu

sebagai Makanan Sehat dalam Mendukung Ketahanan Pangan. Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi) Malang Rukmana Rahmat. 1997. Ubi jalar budidaya dan pasca panen. Penerbit kanisius. Yogyakarta Silalahi, J. 2001. Free Radicals and Antioxidant Vitamins in Degenerative disease. J Indo Med Assoc. II. 1-13 Suda I, Ishikawa F, Hatakeyama M, Miyawaki M, Kudo T, Hirano K, Ito A, Yamakawa O, and Horiuchi S . Intake of purple sweet potato beverage affects on serum hepatic biomarker levels of healthy adult men with borderline hepatitis. European Journal of Clinical Nutrition (2008) 62, 6067; doi:10.1038/sj.ejcn.1602674; published online 14 February 2007 Suda I, Tomoyuki OKI, Mami Masuda, Mio Kobayashi, Yoichi Nishiba and Shu Furuta. 2003. Physiological Functionality of PurpleFleshed Sweet Potatoes Containing Anthocyanins and Their Utilization in Foods. Japan Agricultural Research Quarterly (JARQ). Vol. 37. No. 3 July. JIRCAS. Japan Sudargo Toto. 2008. Pola Makan Sehat untuk Menunjang Kebugaran Atlit. IKM-FK UGM Yogyakarta. (diakes pada tanggal 29 Desember 2008, http:/www.dkk-bpp.com) Surh, Y.J. 2003. Cancer chemoprevention with dietary phytochemicals. Natural Rev Cancer. 10: 768-780 Teow Choong. 2005. Antioxidant activity and bioactive compounds of sweetpotatoes (Under the direction of Dr. Van-Den Truong). Thannical VJ, BL Fanburg. Reactive oxygen species in cell signaling, Am J Physiol Lung Cell Mol Physiol 2000; 279(6):1005-28 Vinson, J., Jang, J., Yang, J., Dabbagh, Y., Liang, X., Serry, M., Proch, J., & Cai, S., 1999. Vitamins and Especially Flavonoids in Common Beverages are Powerful in Vitro Antioxidants Which Enrich Low Density Lipoproteins and Increase Their Oxidative Resistance After ex Vivo Spikingin Human Plasma, Journal of Agricultural & Food Chemistry, 47: 25022504. Winarsi Hery. 2007. Antioksidan Alami dan Radikal Bebas. Kanisius: Yogyakarta Yusuf, M dan Hasim Ahsol. 2008. Ubi Jalar Kaya Antosianin Pilihan Pangan Sehat. Sinar Tani, edisi Agustus 2008. (diakses 24Juni 2009, http://www.nature.com)