Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Jepang menyerah kepada tentara Sekutu pada 14 Agustus 1945.

Sejumlah pemuda revolusioner memaksa Sukarno dan Muhammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Belanda mempertahankan klaimnya bahwa Indonesia masih menjadi wilayah jajahan Belanda. Perang revolusioner melawan tentara Sekutu berlangsung sampai perundingan dengan Belanda dilakukan pada tahun 1949 di Hague, di mana melalui Konferensi Meja Bundar1, Indonesia akhirnya mencapai kedaulatannya secara formal dan legal.2 Periode 1949-1965 merupakan masa perekonomian kolonial Belanda tergusur, pada masa ini muncul kekuatan sosial ekonomi dan politik baru yang terbentuk di Indonesia. Dalam keadaan tertentu merosotnya impor dan ekspor, basis ekonomi perkebunan yang ada pada 1930-an mendapatkan pukulan telak pada strukturnya karena hilangnya kekuasaan negara Belanda untuk memelihara dan melaksanakan kerangka hukum, politik, dan keuangan ekonomi kolonial dan supremasi ekonominya. Pada saat yang sama kekuasaan negara diatur kembali oleh kekuatan-kekuatan politik di Indonesia. Dalam berbagai kesempatan digunakan untuk merombak atau menghadapi struktur ekonomi kolonial yang didominasi oleh Borjuasi Belanda dan Cina. Bersamaan dengan itu, kekuasaan politik juga digunakan untuk melindungi dan memberikan subsidi kepada berbagai elemen kapital domestik, baik milik negara maupun swasta.3 Pada tahun-tahun di antara pembangunan kemerdekaan formal pada 1949 dan ditunjuknya kabinet kerja oleh Sukarno di bawah Perdana Menteri Djuanda pada 1958, kekuasaan politik resmi berada di tangan sejumlah partai di Kabinet Parlementer. Mereka mencerminkan berbagai tingkat pengaruh dan kepentingan partai-partai politik utama yang naik turun.4 Periode ini disebut juga dengan masa demokrasi liberal. Pada 1957-1960 struktur politik demokrasi liberal ditanggalkan dan digantikan
Noer Fauzi Rachman, Land Reform Dari Masa Ke Masa: Perjalanan Kebijakan Pertanahan 1945-2009 (Yogyakarta: STPN, 2012), hlm. 10. 2 Yudi Latif, Intelegensia Muslim dan Kuasa: Geneologi Intelegensia Muslim Indonesia Abad ke-20 (Bandung: Mizan, 2005), hlm. 352. 3 Richard Robison, Soeharto & Bangkitnya Kapitalisme Indonesia (Jakarta: Komunitas Bambu, 2012), hlm. 29. 4 Richard Robison, Soeharto & Bangkitnya Kapitalisme Indonesia, hlm. 29.
1

dengan demokrasi terpimpin, dibangun dengan goyah di sekitar dua pusat kekuasaan: Presiden dan AD. Kekuasaan parlementer yang dipilih lewat pemilu digantikan oleh kekuasaan Presiden yang memerintah melalui sejumlah badan yang ditunjuk, penting di antaranya: Kabinet, Dewan Pertimbangan Agung (DPA), Penguasa Perang Tertinggi (Peperti) yang mengontrol keadaan darurat militer dan Komando Operasi Tertinggi (KOTI) yang menangani pembebasan Irian Barat.5 Peranan partai-partai sangat dikurangi bukan saja dengan pembentukan badan-badan tersebut yang bertanggungjawab dan sebagai penyusun analisis akhir yang disampaikan kepada Presiden. Di samping itu keanggotaan badan-badan tersebut ditunjuk bukan oleh partai-partai politik, tetapi oleh Presiden dan komando militer tertinggi. Kekuatan partai politik digerogoti lebih lanjut dengan timbulnya konsep bahwa demokrasi tidak didasarkan perwakilan partai-partai tetapi perwakilan golongan karya di masyarakat. Dalam DPR 1960, 129 anggota ditunjuk untuk mewakili partai politik, sedangkan 154 anggota ditunjuk untuk mewakili golongan karya termasuk ABRI, petani, serikat buruh, perempuan, dan pemuda. Kekuasaan menjadi bersifat otoriter, pernyataan ideologinya menjadi semacam korporatisme populis, di dalamnya konflik sosial dan politik yang terdapat di antara partai-partai dalam sistem kepartaian digantikan oleh sistem konsensus, saling kerjasama di bawah pimpinan presiden.6 Periode ini juga ditandai dengan terjadinya nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda yang dilakukan oleh negara. Proses ini dimulai dengan pengambilalihan spontan dan sepihak oleh kaum buruh dan serikat buruh sejumlah perusahaan Belanda pada Desember 1957. Tindakan sindikalis tersebut segera dihentikan oleh pihak militer, pada bulan itu juga Jenderal Nasution mengeluarkan perintah bahwa seluruh milik Belanda di bawah pengawasan militer. Setahun kemudian DPR menyetujui pengambilalihan tersebut.7 Pengambilalihan merupakan pukulan keras bagi modal asing di Indonesia dan mengubah susunan ekonomi secara fundamental. Hal itu meliputi perubahan kepemilikan 90% hasil perkebunan, 60% perdagangan luar negeri, 246 pabrik dan tambang, juga sejumlah bank serta berbagai macam industri jasa. Perusahaan-perusahaan tersebut tidak dioperkan kepada pengusaha swasta nasional tetapi menjadi korporasi negara (badan usaha milik negara).8 Pada masa ini, Sukarno mengabdikan Demokrasi Terpimpinnya untuk
5 6 7 8

Richard Robison, Soeharto & Bangkitnya Kapitalisme Indonesia, hlm. 55. Richard Robison, Soeharto & Bangkitnya Kapitalisme Indonesia, hlm. 55. Richard Robison, Soeharto & Bangkitnya Kapitalisme Indonesia, hlm. 57. Richard Robison, Soeharto & Bangkitnya Kapitalisme Indonesia, hlm. 57.

mewujudkan apa yang ia sebut dengan Sosialisme Indonesia, di mana ia menghadirkan (kembali) gagasan Revolusi untuk mereorganisasi negara dan masyarakat, sebagaimana dikemukakannya secara eksplisit dalam pidato yang berjudul Manifesto Politik, Penemuan Kembali Revolusi Kita. Melalui pidato ini Sukarno menjelaskan prinsip-prinsip dan tujuan-tujuan dari revolusi yang berjalan secara bersama-sama dalam setiap bagian masyarakat Indonesia (dalam struktur politik, struktur ekonomi, hubungan sosial, budaya, dan bahkan di dalam kehidupan masyarakat). Sukarno berkata bahwa cita-cita dari Revolusi adalah (a) untuk mendirikan sebuah kesatuan negara yang demokratis dan menyatukan semua warga negara Indonesia ke dalam wilayah Indonesia dari Sabang (di pulau Wee, bagian utara Sumatra) sampai Merauke (di Pulau Papua, dekat dengan perbatasan Papua Nugini); (b) untuk menciptakan sebuah masyarakat yang adil dan makmur yang menyediakan ruang bagi setiap warga negaranya untuk mencapai kebutuhan spiritual; dan (c) untuk mendirikan persahabatan antara Indonesia dengan semua negara di dunia, khususnya dengan negara-negara Asia-Afrika, dengan tujuan membangun sebuah dunia baru yang bebas dari imperialisme dan kolonialisme, sebagai sebuah persyaratan dari perdamaian dunia yang lengkap.9 Untuk merealisasikan gagasannya tersebut, Sukarno berusaha keras memobilisasi semua kekuatan-kekuatan revolusioner 10 di bawah satu kepemimpinan pusat yang efektif, yaitu dirinya sendiri. 11 Dalam rangka memobilisasi kekuatan-kekuatan revolusioner tersebut, Sukarno merumuskan konsep NaSaKom (Nasionalisme, Agama, Komunisme/ Nasionalisme, Islamisme, Marxisme) sebagai doktrin yang diharapkan mampu menyatukan kekuatan-kekutan revolusioner tersebut.12 Pada tahun 1966 rezim Sukarno jatuh. Rezim kekuasaan baru yang tengah bangkit mulai menyebut periode Demokrasi Terpimpin sebagai Orde Lama dan merayakan era baru sebagai Orde Baru. Meskipun sampai 17 Oktober 1967 Sukarno secara resmi masih menjabat sebagai Presiden Indonesia, kekuasaan riilnya telah runtuh sejak peristiwa Gerakan 30 September (Gestapu) 1965. Yang menjadi landasan-kerja bagi rezim Orde Baru ialah keluarnya mandat yang kontroversial dari Presiden Sukarno pada tanggal 11 Maret 1966. Mandat itu memberikan
Noer Fauzi Rachman, Land Reform Dari Masa Ke Masa, hlm. 12. Dalam hal ini yang dimaksud dengan kekuatan-kekuatan revolusioner di waktu itu adalah golongan nasionalis (diwakili PNI), golongan Islam (diwakili Masyumi, NU, PSII), dan golongan Komunis (diwakili oleh PKI. (Sukarno, Dibawah Bendera Revolusi I) 11 Noer Fauzi Rachman, Land Reform Dari Masa Ke Masa, hlm. 12. 12 Sukarno, Dibawah Bendera Revolusi I.
10 9

kepercayaan kepada Letnan Jenderal Suharto, yang menjabat sebagai Panglima Angkatan Darat sejak Oktober 1965, untuk menjalankan tugas mengoordinasikan kekuasaan pemerintahan. Mandat ini dikenal sebagai Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar). Suharto kemudian mengambilalih kendali politik nasional setelah berlangsungnya gelombang demonstrasi mahasiswa/pelajar anti-komunis dan anti-Sukarno di ibu kota negara dan di kota-kota lain yang mendapat dukungan dari Angkatan Darat. Pada tanggal 12 Maret 1967, Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara mengangkat Suharto sebagai Pejabat Presiden Indonesia.13 Ditinjau dari konteks mana pun, runtuhnya Orde Lama dan bangkitnya Orde Baru tetap merupakan persoalan amat penting bagi bangsa Indonesia. Sebagaimana diketahui, lahirnya Orde Baru melahirkan rasa optimisme yang meluap-luap akan kebebasan dan demokrasi yang selama ini, di masa Demokrasi Terpimpin, ditekan oleh mitos revolusi. Optimisme baru ini kemudian diikuti oleh penghancuran, halusnya, penghapusan orientasi pemikiran lampau tentang masalah sosial-politik dan ekonomi yang berkembang di masa Orde Lama. Dalam pandangan pendukung Orde Baru, orientasi pemikiran sosial-politik elite pemimpin Orde Lama terlalu bersifat ideologis dan politis. Sementara persoalan-persoalan praktis tetapi secara langsung bisa mengatasi masalah-masalah kebutuhan dasar rakyat banyak tidak diprioritaskan. Dalam pengertian sederhana dan sering dikonseptualisasikan oleh para teknokrat pendukung Orde Baru, sebagai pola pemikiran sosial-politik Orde Lama menjadikan politik sebagai panglima. Konsekuensinya, semua aspek non-politis, seperti pembangunan ekonomi, industrialisasi dan lain-lain sebagainya, harus ditundukkan kepada politik dan ideologi.14 Menurut para pendukung Orde Baru, cara berpikir semacam ini harus dibayar mahal oleh bangsa Indonesia. Terjadi berbagai krisis politik sejak zaman Demokrasi Parlementer, atau juga disebut Demokrasi Liberal, sampai Demokrasi Terpimpin, dan hal ini telah menyebabkan berbagai persoalan pembangunan sebagaimana dihayati dewasa ini terbengkalai. Runtuhnya ekonomi Indonesia, yang ditandai oleh tingginya tingkat inflasi hingga mencapai tingkat hyperinflation, dan besarnya jumlah utang kepada luar negeri, rusaknya suasana transportasi, serta mandegnya industrialisasi, telah menyebabkan meluasnya krisis-krisis ekonomi, sosial dan politik. Timbulnya berbagai konflik politik, polarisasi politik yang meluas sampai ke kawasan pedesaan serta, pada puncaknya, melahirkan Gerakan 30 September/PKI pada tahun 1965, merupakan masalah-masalah besar yang harus dipikul rakyat Indonesia. Dan di
Yudi Latif, Intelegensia Muslim dan Kuasa, hlm. 452. Fachry Ali & Bahtiar Effendy, Merambah Jalan Baru Islam: Rekonstruksi Pemikiran Islam Indonesia Masa Orde Baru (Bandung: Mizan, 1986), hlm. 94.
14 13

atas segalanya, demikian pendapat mereka, tidak terlaksananya pembangunan. 15 Karena itulah, para pendukung Orde Baru berusaha menciptakan counter ideas (pemikiran-pemikiran tandingan). Dari sinilah muncul ide pragmatisme, de-ideologisasi, de-parpolisasi. Ide-ide positif yang lahir dari para pendukung Orde Baru adalah program oriented, pembangunan oriented, dan lain sebagainya. Semua slogan bersifat negasi dan positif ini merupakan respon terhadap ide-ide lampau, sekaligus juga sebagai alat untuk membenarkan kehadiran situasi baru.16 Singkatnya, gambaran paling menonjol rezim Orde Baru dalam perkembangannya selama 18 tahun pertama ialah: pemerintahan militer otoriter pejal dan tersentralisasi, pengambilalihan negara oleh para petinggi, disingkirkannya partai-partai politik dari partisipasi efektif dalam proses pengambilan keputusan.17 Akhirnya, setelah berkuasa selama 32 tahun, rezim Suharto runtuh, yaitu bertepatan pada tahun 1998. Runtuhnya rezim Suharto tersebut, melahirkan era baru yang disebut dengan era reformasi. Gerakan reformasi tersebut, telah memunculkan keberanian dan keterbukaan untuk menunjukkan pentingnya pemberian peran yang lebih besar bagi daerah dalam melaksanakan pembangunan ekonomi di daerahnya.18 Dalm hal ini, dengan diundangkannya UU nomor 22/ 1999 dan UU Nomor 25 Tahun 1999 telah membawa perubahan yang penting dalam hubungan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, yaitu pola yang sentralistik menjadi desentralisasi. Kewenangan dan tanggung jawab daerah untuk mengurus rumahtangganya sendiri semakin besar. Pola sentralistik yang selama ini berlaku akan semakin menyusut, dan desentralisasi kekuasaan akan terjadi. Daerah-daerah akan semakin otonom dan independen dalam sebagian besar aktivitas pemerintahan dan kemasyarakatan. Daerah, terutama tingkat kabupaten, yang selama ini lebih banyak berfungsi sebagai pelaksana sebagian kecil kegiatan pembangunan di daerah, akan meningkat fungsinya bukan saja sebagai pelaksana pembangunan yang lebih luas, melainkan juga sebagai perencana dan juga evaluator kegiatan pembangunan itu sendiri.19 Pergeseran sistem ekonomi-politik sentralisasi kepada desentralisasi di atas, telah memberikan gambaran kepada kita bahwasanya tiap-tiap rezim yang pernah berdiri di Indonesia, pada dasarnya memiliki sistem ekonomi-politik yang khas.
Fachry Ali & Bahtiar Effendy, Merambah Jalan Baru Islam, hlm. 95. Fachry Ali & Bahtiar Effendy, Merambah Jalan Baru Islam, hlm. 95. 17 Richard Robison, Soeharto & Bangkitnya Kapitalisme Indonesia, hlm. 83. 18 Edy Suandi Hamid, Sistem Ekonomi Utang Luar Negeri dan Isu-Isu Ekonomi Politik Indonesia (Yogyakarta: UII Press, 2004), hlm. 112. 19 Edy Suandi Hamid, Sistem Ekonomi Utang Luar Negeri dan Isu-Isu Ekonomi Politik Indonesia, hlm. 114.
16 15

Dalam hal ini, rezim Sukarno di fase awal memiliki sistem ekonomi-politik yang dikendalikan oleh multi partai, sedangkan fase selanjutnya, yaitu demokrasi terpimpin, memiliki sistem ekonomi-politik yang berorientasi sosialis dan dikendalikan oleh negara. Selanjutnya, rezim Orde Baru memiliki sistem ekonomi-politik yang bersifat kapitalis dan bersifat sentralistis, dan akhirnya di era reformasi terjadi pergeseran ke arah desentralisasi. Lalu, dari kesimpulan di atas, timbul suatu permasalahan yang penting untuk dipecahkan, yaitu bagaimanakah hubungan Indonesia dengan dunia internasional pada tiap-tiap rezim tersebut. permasalahan ini, penting untuk diangkat mengingat suatu negara mustahil mampu mencukupi kebutuhan ekonominya tanpa harus bekerja sama dengan negara lainnya, dan dalam konteks Indonesia bisa dipastikan terjadi suatu pola yang berbeda-beda pada setiap rezim di atas. Maka dari itu, makalah ini mencoba mengkaji dinamika hubungan ekonomi-politik Indonesia dengan dunia internasional. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka bisa dirumuskan beberapa rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimanakah pola hubungan Indonesia dengan dunia internasional pada tiap-tiap Rezim tersebut? 2. Apa yang harus dilakukan oleh HMI? C. Tujuan dan Manfaat Penelitian Secara garis besar tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggali pola hubungan Indonesia dengan dunia internasional, dan merumuskan suatu format pergerakan bagi HMI di dalam menyikapi fenomena tersebut. Sedangkan manfaat dari penelitian ini adalah sebagai bahan akademis untuk merumuskan format perkaderan HMI ke depan. D. Kerangka Teoritik Kekuasaan politik, pemerintahan teritorial, dan administrasi pemerintahan terbangun dalam skala-skala geografis yang beragam dan membentuk susunan lingkungan politik yang hirarkis di mana di dalamnya proses-proses molekuler dari akumulasi kapital berlangsung.20 Namun, menggambarkan evolusi kapitalisme sebagai suatu ekspresi dari kekuasaan negara semata dalam suatu sistem antar-negara yang dicirikan oleh kompetisi untuk memperebutkan posisi dan hegemoni sebagaimana yang cenderung
20

David Harvey, Imperialisme Baru: Geneologi dan Logika Kapitalisme Kontemporer (Yogyakarta: Resist Book, 2010), hlm. 104.

dilakukan oleh banyak teori sistem dunia adalah terlalu sangat membatasi, yang juga sama kelirunya ialah menggambarkan evolusi geografis-historis dari kapitalisme seolah-olah hal tersebut sepenuhnya tak terpengaruh oleh logika teritorial dari kekuasaan.21 Apa yang disebut sebagai logika kekuasaan teritorial dan logika kekuasaan kapitalis, keduanya saling berbeda satu sama lain, yang pertama motovasi-motivasi dan kepentingan-kepentingan dari agen-agen masing-masing logika berbeda. Sang kapitalis yang menguasai kapital uang ingin meletakkan kapitalnya dimana pun laba bisa didapat, dan umumnya berusaha untuk mengakumulasi lebih banyak lagi kapital. Sementara para politisi dan negarawan umumnya berusaha untuk mengejar keluaran-keluaran yang akan melanggengkan atau memperbesar kekuatan negara mereka sendiri vis--vis kekuatan negara-negara yang lain.22 Dalam hal ini, logika teritorial selalu bersifat dialektis dengan logika akumulasi kapital. Pada makalah ini, penulis akan menggunakan kerangka teoritis di atas untuk membedah dinamika politik luar negeri Indonesia.

21 22

David Harvey, Imperialisme Baru, hlm. 104 David Harvey, Imperialisme Baru, hlm. 32

BAB II DINAMIKA HUBUNGAN INDONESIA DENGAN DUNIA INTERNASIONAL DALAM LINTASAN SEJARAH A. Era Pemerintahan Sukarno (Demokrasi Liberal) Proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 menjadi pemisah antara masa kehidupan sebagai negara jajahan dan masa menjadi negara yang merdeka, berdaulat serta bebas menentukan jalan hidupnya. Kemerdekaan Indonesia direbut melalui perjuangan bersenjata dengan mematahkan kekutan senjata penjajah yang jauh lebih modern. Sekalipun kekutan persenjataannya tidak memadai, berkat perjuangan yang dijiwai semangat persatuan dan kesatuan bangsa yang tidak kenal menyerah, rela berkorban yang diiringi motivasi tinggi maka penjajah akhirnya bisa diusir. Diantara negara-negara yang merdeka setelah perang dunia ke II hanya sedikit yang merebut kemerdekaannya dengan revolusi, salah satunya adalah Indonesia.23 Karena itu bagi para pendiri Negara anti sifat penjajah, kegandrungan akan melindungi segenap bangsa, memajukan kesehjahteraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial dan dijadikan tujuan dasar Negara Indonesia adalah tujuan politik luar negeri Indonesia.24 Pada periode ini ada tiga sasaran pokok yang hendak dicapai oleh politik luar negeri Indonesia, yakni : a) Mencari pengakuan internasional atas kemerdekaan Indonesia b) Mempertahankan kemerdekaan dari usaha Belanda yang ingin kembali ke Indonesia memaksakan pemerintah kolonialnya berdasarkan pada dekrit Ratu Wihelmina 7 Desember 1942; c) Mencari penyelesaian sengketa dengan Belanda melalui Negara ketiga sebagai mediator atau dengan melalui forum PBB.25 Akhirnya, pada tanggal 27 desember 1949 melalui Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Indonesia diakui kedaulatannya oleh pihak Belanda. Sedangkan di sisi lain, sepanjang kurun ini keadaan politik sangat labil. Pemerintahan jatuh bangun, kabinet silih berganti. Bahkan dalam waktu yang sangat singkat antara bulan November 1945 hingga Desember 1949 (empat tahun) terdapat lima pemerintahan. Sementara dalam periode Demokrasi Parlementer (September
23

Anonym, Soekarno dan Perkembangan Politik Luar Negeri Indonesia (Sumatra Utara: USU), Anonym, Soekarno dan Perkembangan Politik Luar Negeri Indonesia (Sumatra Utara: USU), Anonym, Soekarno dan Perkembangan Politik Luar Negeri Indonesia (Sumatra Utara: USU),

hlm. 9.
24

hlm. 9.
25

hlm. 31.

1950-Juli 1959, lebih kurang 9 tahun) terdapat tujuh pemerintahan.26 Dalam hal ini, pada tahun-tahun tersebut kekuasaan politik resmi berada di tangan sejumlah partai di Kabinet Parlementer. Sedangkan di wilayah Internasional, tahun 1945 AS keluar dari Perang Dunia Kedua sebagai kekuatan yang pada saat itu paling dominan. AS mendominasi teknologi dan produksi. Dollar (yang didukung oleh suplai emas terbesar di dunia) menjadi mata uang terkuat, aparatus militernya jauh lebih unggul daripada negara-negara lain. Satu-satunya penantang seriusnya ialah Uni Soviet, namun negara itu telah kehilangan sejumlah besar penduduknya dan mengalami kemerosotan yang parah dalam kapasitas militer dan industrinya jika dibandingkan dengan Amerika Serikat. Semua itu terkuras habis akibat perang melawan Nazisme, dan bisa dikatakan serbuan ke Leningrad dan kehancuran sebagian besar kapasitas militer Jerman di front timur akibat serbuan itu merupakan sesuatu yang krusial bagi kemenangan pihak Sekutu. Keterlambatan Sekutu melancarkan front kedua di Eropa membuat Stalin marah besar dan mungkin memang telah diperhitungkan oleh AS dan Inggris sebagai suatu cara untuk membuat Uni Soviet mengalami kerugian akibat perang. Namun, keterlambatan itu memiliki konsekuensi-konsekuensi serius karena hal tersebut memungkinkan Uni Soviet mendapatkan capaian-capaian teritorial yang besar di Eropa Timur, bahkan sampai Jerman Timur. Menurut Uni Soviet, pembelaan atas kepentingan kepentingannya menuntut adanya pembelaan terhadap kontrol teritorialnya.27 Selama perang, elemen-elemen elit di dalam pemerintahan dan sektor swasta AS merancang suatu rencana penataan pasca-perang yang akan menjamin perdamaian, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas. 28 Suatu kerangka kerja perdagangan dan pembangunan ekonomi internasional di dalam dan antar negara merdeka dibentuk lewat kesepakatan Bretton Woods untuk menstabilisasi sistem keuangan dunia, dibarengi dengan pendirian sejumlah institusi seperti Bank Dunia, Dana Moneter Internasional, International Bank of Settlement di Basle, dan pembentukan organisasi-organisasi seperti GATT (Perjanjian Umum mengenai Tarif dan Perdagangan) dan OECD (Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan), yang dibentuk untuk mengkoordinasikan pertumbuhan ekonomi antara kekuatan-kekuatan kapitalis maju dan untuk menghadirkan pembangunan ekonomi bergaya-kapitalis ke negara-negara non-komunis di seluruh dunia. Di dalam ranah ini, AS bukan saja dominan, namun juga hegemonik dimana posisinya sebagai suatu
26 27 28

Dumairy, Perekonomian Indonesia (Jakarta: Penerbit Erlangga, 1996), hlm. 15. David Harvey, Imperialisme Baru, hlm.56-57. David Harvey, Imperialisme Baru, hlm. 57.

negara super-imperialis didasarkan pada kepemimpinan kelas-kelas berpunya dan elit-elit dominan di berbagai negara. Bahkan, AS secara aktif berusaha untuk mendorong terbentuknya dan penguatan elit-elit dan kelas-kelas semacam itu di seluruh dunia. Bersenjatakan teori tahapan pertumbuhan ekonominya Rostow, AS berupaya memajukan terciptanya tinggal landas di dalam pembangunan ekonomi yang akan memajukan dorongan konsumsi massa di setiap negara sehingga bahaya komunis bisa dielakkan.29 Fakta bahwa Uni Soviet telah semakin berhasil meraih capaian-capaian teritorial dan kekuasaannya semakin borjuis mendorong politik AS yang paranoid melancarkan Perang Dingin terhadap Uni Soviet.30 Dalam urusan-urusan luar negeri, AS menampilkan dirinya sebagai pembela utama kebebasan (yang dipahami dalam kerangka pasar bebas) dan hak-hak milik pribadi. AS menyediakan perlindungan ekonomi dan militer terhadap kelas-kelas yang berpunya dan elit-elit ini menjadi sangat pro-Amerika dalam sikap dan tindakan politiknya di negeri mereka sendiri. Ini berimplikasi pada terciptanya pengepungan militer, politik, dan ekonomi terhadap daya pengaruh Uni Soviet.31 Di waktu itu, masing-masing negara yang sedang berkonflik tersebut berlomba-lomba mencari dukungan kepada negara-negara yang baru saja merdeka. Lalu, dipihak siapakah Indonesia berada? Ketika dunia sedang mengalami perang dingin, Indonesia tidak berpihak kepada kedua Negara tersebut, tetapi Indonesia membentuk gerakan non blok, dengan cara mengadakan Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika (KTT Asia Afrika atau KAA). Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa Indonesia tidak berpihak ke Uni Soviet, padahal di waktu itu di Indonesia terdapat Partai Komunis urutan ke-tiga terbesar di seluruh dunia? Nah, hal ini disebabkan karena di era Perang Dingin, pemerintahan di Indonesia dikendalikan oleh banyak partai, sehingga meskipun di waktu itu PKI merupakan Partai Komunis urutan ke-tiga terbesar di seluruh dunia, tidak bisa dengan mudah mengarahkan keberpihakan Indonesia kepada Uni Soviet. Lalu, mengapa Indonesia harus memebentuk KAA? Mengapa negara-negara di kawasan Asia-Afrika mau mengikuti ajakan Indonesia tersebut? Indonesia ketika sudah memegang komitmen untuk tidak berpihak kepada kedua negara tersebut, maka pada dasarnya Indonesia harus siap untuk sewaktu-waktu dihancurkan oleh kedua negara tersebut. Apalagi waktu itu, secara politis kedua negara tersebut memiliki kesempatan yang cukup besar untuk
29 30 31

David Harvey, Imperialisme Baru, hlm. 62. David Harvey, Imperialisme Baru, hlm. 58. David Harvey, Imperialisme Baru, hlm. 59.

10

menghapus Indonesia dari peta dunia. Indonesia, dilihat dari perspektif AS memiliki hutang politik ketika PBB membantu Indonesia diterima kedaulatannya oleh Belanda. Sedangkan, dilihat dari perspektif Uni Soviet, di Indonesia terdapat suatu kekuatan komunis urutan ke-tiga terbesar di dunia, sehingga sewaktu-waktu Uni Soviet bisa merebut kedaulatan Indonesia. Oleh karena itu, ketika mengambil posisi independen dari ke dua negara tersebut sangatlah membahayakan Indonesia, maka solusinya adalah Indonesia harus membangun suatu kekuatan tandingan agar tidak diserang oleh kedua negara tersebut. Nah, di sinilah kekuatan tandingan tersebut adalah negara-negara yang berada di Asia maupun Afrika yang tergabung dengan Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika (KTT Asia Afrika atau KAA). Sedangkan, di sisi lain negara-negara yang berada di Asia maupun Afrika kemerdekaannya tengah terancam. Mengingat banyak di antara negara-negara tersebut yang kemerdekaannya adalah hasil dari pemberian penjajahnya, sehingga pihak penjajah mereka masih memiliki kekuatan untuk menjajah mereka lagi. Oleh karena itu, bila negara-negara tersebut tidak bersatu ke dalam KAA, maka bisa dipastikan mereka akan terbelah ke dalam ke dua kekuatan negara besar di atas (AS atau Uni Soviet). Sedangkan, di sisi lain, dikuasainya Kabinet Parlementer oleh sejumlah partai politik di waktu itu juga berpengaruh pada karakter sistem ekonomi kapitalis yang berlaku. Di mana, terjadi oligarki kapital pada partai-partai politik tersebut. PNI membangun kerajaan ekonomi politik. Kepentingan korporasi mereka dipusatkan pada badan induk, yaitu Yayasan Marhaen dan Bank Umum Nasional. Kelompok-kelompok bisnis partai ini menyandarkan diri pada pengaruh mereka pada bank-bank swasta mereka. Hal ini berhubungan dengan pentingnya akses ke kredit dan valuta asing, karena bisnis impor merupakan kegiatan ekonomi yang amat menguntungkan. Pada 1952 PNI mendirikan Bank Umum Nasional (BUN) dengan Soerwirjo, Wakil Ketua PNI Komisaris dan Dr. Ong Eng Kie, Wakil Komisaris dan Iskaq sebagai Direktur Utama. Terbentuknya Kabinet Ali didominasi oleh PNI dengan Ong dan Iskaq masing-masing sebagai Menteri Keuangan dan Menteri Perekonomian. Pada saat yang sama, Soerwirjo mengundurkan diri dari BUN dan memegang jabatan di BIN, selanjutnya anggota PNI Abdul Karim dan Hadiono Kusumo menjabat sebagai Komisaris dan Wakil Komisaris BNI menggantikan pejabat lama orang PSI.32 Jaringan yang begitu kompleks ini saling terkait dengan kantor-kantor kekuasaan negara tersebut tentu saja membantu berkembangnya BUN. Selama
32

Richard Robison, Soeharto & Bangkitnya Kapitalisme Indonesia, hlm. 39.

11

jabatan Iskaq dan Ong, telah dikeluarkan sejumlah aturan pemerintah untuk mendepositokan dana ke BUN. Pada akhir 1953, Yayasan Persediaan Perindustrian (suatu kali memegang monopoli impor cengkeh dan kain katun) diperintahkan untuk mendepositokan dana sebesar Rp 6 juta, Yayasan Administrasi dan Organisasi diperintahkan untuk mentransfer Rp 4 juta. Pada Maret 1953 Ong memerintahkan transfer dana dari BNI ke BUN sebesar Rp 20 juta.33 Jaringan perbankan milik PNI mempunyai hubungan juga dengan Ikatan Importir Nasional (Ikini), pemegang lisensi impor koperasi atas nama importir Benteng yang tak mampu melakukan pembayaran di muka dan bertindak sebagai corong bagi kredit impor BNI. Di bawah salah satu pimpinan PNI, Moh. Tabrani, Ikini menjadi terminal pusat alokasi kredit bank negara dan lisensi para importir Benteng. Tak diragukan lagi dalam kecemasan pihak-pihak yang berseberangan dengan Benteng demikian halnya dengan kelompok bisnis yang tidak berada di bawah lindungan PNI, para anggota Ikini tetap dapat menarik kredit, tidak peduli kinerja pengembalian pinjaman mereka.34 Partai-partai lain juga membangun struktur bisnis termasuk bank-bank, perusahaan induk dan perusahaan-perusahaan dagang. Semuanya merupakan sarana yang siap menampung lisensi impor, kredit dalam valuta asing dan konsesi lain yang diberikan kepada partai dari negara. Misalnya, Bank Banten sekutu dekat Masyumi, sedangkan Bank Niaga dan Zoro Corporation bersekutu dengan PSI.35 Karena perusahaan umumnya tergantung pada akses ke lisensi impor serta perkreditan yang dialokasikan para pejabat dan faksi-faksi politik, maka posisi kaum bisnis Benteng menjadi tidak pasti. Partai dan faksi-faksi timbul tenggelam, otoritas di kantor-kantor bank pemerintah dan depatemen silih berganti. Terdapat tendensi bahwa lisensi, kotrak dan konsesi diberikan kepada pihak-pihak yang berbeda yang bersekutu dengan partai yang sedang berkuasa. Keadaan yang rentan tersebut mendorong mereka melakukan spekulasi jangka pendek dengan keuntungan sebesar mungkin.36 Oleh karena itu, keadaan ekonomi Indonesia waktu itu terus mengalami penurunan. Nah, kondisi inilah nanti yang akan berpengaruh terhadap perjalanan perpolitikan negara Indonesia ke era selanjutnya dan juga berpengaruh pada pola-pola politik luar negeri yang akan dilakukan Indonesia selanjutnya.

33 34 35 36

Richard Robison, Soeharto & Bangkitnya Kapitalisme Indonesia, hlm. 39. Richard Robison, Soeharto & Bangkitnya Kapitalisme Indonesia, hlm. 39. Richard Robison, Soeharto & Bangkitnya Kapitalisme Indonesia, hlm. 40. Richard Robison, Soeharto & Bangkitnya Kapitalisme Indonesia, hlm. 44.

12

B. Era Demokrasi Terpimpin Pada 1957-1960 struktur politik demokrasi liberal ditanggalkan dan digantikan dengan demokrasi terpimpin. Kekuasaan parlemen yang dipilih lewat pemilu digantikan oleh kekuasaan Presiden yang memerintah melalui sejumlah badan yang ditunjuk, penting diantaranya: Kabinet, Dewan Pertimbangan Agung (DPA), Penguasa Perang Tertinggi (Peperti) yang mengontrol keadaan darurat militer dan Komando Operasi Tertinggi (KOTI) yang menangani pembebasan Irian Barat. 37 Pada 1952 dan 1956 sejumlah elemen dalam AD mencoba menggantikan sistem yang ada berupa pemerintahan kabinet partai-partai. Meskipun komando tinggi militer menggagalkan upaya kudeta tersebut, pihak militer secara umum berlanjut menghadapi dengan kritis sistem partai-partai tersebut serta terus mengembangkan diri guna memegang peran politik sentral secara resmi. Ketika Sukarno memulai langkahnya untuk menggantikan pemerintahan kabinet partai dengan kabinet presidentil pada pertengahan 1950-an, pihak militer bukan saja menjadi partner penuh semangat tetapi juga menjadi kekuatan utama dalam sistem baru ini. Para perwira militer sangat tertarik dengan prospek pemerintahan yang kuat yang sebelumnya selalu menjadi pemerintah yang tidak pasti dan ragu-ragu dari kekuasaan partai, juga akses langsung ke kekuasaan negara. Pada Maret 1957 pihak militer memastikan otoritasnya dengan diumumkannya darurat militer. Dengan demikian pihak militer berwenang mengeluarkan peraturan-peraturan resmi termasuk mengoper perusahaan-perusahaan bekas milik Belanda serta melarang pemogokan. Setelah struktur otoritas terbentuk, pihak militer dapat memastikan kontrolnya terhadap perkebunan dan perusahaan dagang bekas milik Belanda, serta perusahaan minyak negara.38 Pada masa demokrasi terpimpin ini juga ditandai oleh terjadinya nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan milik Belanda. Proses nasionalisasi perusahaan-perusahaan tersebut merupakan pukulan keras bagi modal asing di Indonesia dan mengubah susunan ekonomi secara fundamental. Hal itu meliputi perubahan kepemilikan 90 % hasil perkebunan, 60 % perdagangan luar negeri, 246 pabrik dan tambang, juga sejumlah bank serta berbagai macam industri jasa. Perusahaan-perusahaan tersebut tidak dioperkan kepada pengusaha swasta nasional tetapi menjadi korporasi negara (badan usaha milik negara). Terdapat sejumlah alasan yang mendasari langkah tersebut. Secara umum, kaum kapitalis Pribumi terbukti terlalu lemah untuk mengelola rangkaian perusahaan begitu besar dari ekonomi
37 38

Richard Robison, Soeharto & Bangkitnya Kapitalisme Indonesia, hlm. 55. H. Crouch, The Army and Politic in Indonesia (Ithaca: Cornell University Press, 1978), hlm.

5.

13

kolonial yang kemudian menelan kredit dan konsesi negara selama 1950-an tanpa memberikan bukti memadai bahwa mereka mampu membangun basis bagi ekonomi industri nasional. Pada saat yang sama benar-benar tidak menjadi rencana, setidaknya dalam wacana politik, bahwa perusahaan yang disita akan diberikan kepada golongan kapitalis Cina Indonesia untuk dikelola. Sebagai tambahan terhadap pertimbangan ini, Sukarno serta para pemimpin PNI pembuat kebijakan percaya bahwa kapital swasta Pribumi bukannya tidak perlu mendapatkan proteksi dan subsidi pemerintah lebih lanjut.39 Bagi pihak militer, kepemilikan negara menjadi sesuatu yang amat menarik karena terbuka kemungkinan kontrol langsung militer terhadap sumber-sumber ekonomi. Baik borjuasi nasional Pribumi dan borjuasi Cina maupun borjuasi kecil tidak mampu melakukan tantangan terhadap situasi politik semacam itu.40 Perkembangan paling penting dalam hubungan antara kekuasaan dan modal pada 1957-1965 ialah munculnya kaum militer sebagai kekuatan birokrat politik paling tangguh di Indonesia. Undang-undang tentang nasionalisasi dikeluarkan pada akhir 1958, pada saat itu AD sudah menguasai bank-bank dan perkebunan bekas milik Belanda, juga distribusi beras dan alokasi valuta asing, demikian halnya dengan tambang-tambang minyak di Sumatera Utara. Pada 25 Juni 1958, Menteri Stabilisasi Ekonomi yang baru dipegang Kolonel Suprajogi, sekutu dekat Jenderal Nasution. Bersama serta ketua Soksi, serikat buruh yang disponsori AD. Suprajogi juga memimpin Banas, badan yang mengontrol nasionalisasi. Kontrol terhadap perusahaan-perusahaan milik Belanda yang dinasionalisasi di daerah dipegang oleh Bappeda (Badan Pengawas Perusahaan Daerah) yang diketuai oleh Jenderal Baramuli dari Departemen Dalam Negeri. Perusahaan-perusahaan tersebut beroperasi di bawah pengawasan gubernur setempat, umumnya perwira AD.41 Dalam wilayah hubungan internasional, pengambilalihan modal asing pada periode 1957-1965 menghancurkan dominasi asing yang mereka nikmati dalam kerangka susunan ekonomi kolonial. Pada 1957 dan 1958 perusahaan dagang dan perkebunan kapital kolonial paling penting milik Belanda, diambilalih. Demikian halnya dengan perusahaan perkapalan, perbankan, dan industri. Hal ini kemudian diikuti dengan pengambilalihan perusahaan-perusahaan milik Inggris, Amerika dan negara-negara Barat lainnya pada 1963-1965. 42 Dengan dilakukannya pengambilalihan modal asing tersebut, hubungan Indonesia dengan negara-negara
39 40 41 42

H. Crouch, The Army and Politic in Indonesia, hlm. 10. Richard Robison, Soeharto & Bangkitnya Kapitalisme Indonesia, hlm. 58. Richard Robison, Soeharto & Bangkitnya Kapitalisme Indonesia, hlm. 76. Richard Robison, Soeharto & Bangkitnya Kapitalisme Indonesia, hlm. 62.

14

pemilik modal tersebut semakin memburuk, dan aktivitas perdagangan Indonesia dalam skala internasional juga merosot. Dari seluruh uraian di atas, peneliti menyimpulkan bahwa hubungan Internasional Indonesia pada wilayah ekonomi di masa pemerintahan Sukarno sangatlah tertutup dan cenderung memusuhi modal asing. Hal ini, tidak lepas dari semangat nasionalisme pasca kemerdekaan di waktu itu. Efeknya pada pembangunan ekonomi kapitalis waktu itu adalah lahirnya suatu fitur ekonomi yang bersifat oligarki kepartaian (era demokrasi parlementer) dan oligarki kemiliteran (era demokrasi terpimpin). B. Era Pemerintahan Orde Baru Kudeta atas kepemimpinan Presiden Sukarno yang menggelorakan revolusi Indonesia menjadi awal kemunculan Suharto sebagai pimpinan tertinggi dari rejim otoriter pembangunan. Partai-partai politik diciutkan menjadi tiga saja: Partai Persatuan Pembangunan (PPP) untuk golongan Islam, dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) untuk golongan Nasionalis, Kristen, dan Katolik, dan Golongan Karya (Golkar) adalah partai penguasa. Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR) dikendalikan sepenuhnya. Semua partai dan organisasi kemasyarakatan harus berAzaskan tunggal, yakni Pancasila.43 Dibuatlah sebuah struktur pemerintahan eksekutif di pemerintahan nasional yang terkendali sepenuhnya. Demikian pula untuk pemerintahan daerah. Dengan Undang-undang Pemerintahan Daerah no. 5 tahun 1974, DPRD bukan ditempatkan sebagai parlemen, melainkan alat kelengkapan pemerintah daerah. Pengendalian menjadi lengkap dengan penyeragaman desa dengan mengikuti model desa di Jawa melalui pemberlakuan Undang-undang Pemerintah Desa No. 5 tahun 1979. Struktur militer teritorial yang pararel dengan struktur administrasi-pemerintahan dibuat dan diefektifkan dari tingkat propinsi sampai ke desa, untuk memastikan dihentikannya setiap kecenderungan mempromosikan pandangan-pandangan ideologis sosialisme Indonesia, kebijakan-kebijakan yang mengubah struktur sosial secara mendasar seperti land reform, hingga mobilisasi petani untuk protes, dan memastikan pula semuanya terkendali secara tersentral. Bagi mereka yang melawan, perlakuan aparat negara yang represif akan menghukum mereka, termasuk dengan mempergunakan kekerasan secara langsung.44 Pada masa rezim ini, hubungan ekonomi Indonesia dengan dunia internasional diperbaiki. Rezim tersebut berusaha dengan berbagai cara untuk memulihkan
43 44

Noer Fauzi Rachman, Land Reform Dari Masa Ke Masa, hlm. 57. Noer Fauzi Rachman, Land Reform Dari Masa Ke Masa, hlm. 58.

15

hubungannya dengan dunia kapitalis dan organisasi-organisasi multinasional, seperti International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia. Seperti diketahui, pada Agustus 1965, Indonesia telah melepaskan diri dari keduanya sebagai bagian dari kampanye anti-imperialisme dan kapitalismenya Sukarno. Pembangunan ekonomi membutuhkan modal, dan karena negara sedang bangkrut, Orde Baru tak punya pilihan lain selain membuka diri terhadap utang dan investasi asing. Untuk menjamin arus masuk modal asing dan keberhasilan pembangunan ekonomi, stabilitas politik dianggap sebagai sesuatu yang esensial.45 Pernyataan paling jelas dikeluarkan pada Desember 1966, oleh delegasi pemerintah Indonesia ke konferensi IGGI (Inter-Governmental Group on Indonesia) di Paris dengan butir-butir pokok sebagai berikut: (a) Kekuatan pasar akan memainkan peran pokok dalam rehabilitasi. (b) Perusahaan-perusahaan negara akan melakukan kompetisi bebas dengan perusahaan swasta, mengakhiri akses preferensi ke kredit dan alokasi valuta asing. Monopoli negara di bidang impor diakhiri. Di pihak lain, perusahaan negara dibebaskan dari kewajiban menjual dengan harga rendah yang semu. Mereka dapat melakukan penjualan berdasarkan harga pasar, bekerja secara ekonomis, dengan demikian tidak memerlukan subsidi lagi. (c) Sektor swasta harus dirancang dengan menghapuskan pembatasan lisensi impor bahan baku dan peralatan. (d) Investasi swasta asing akan digalakkan dengan dikeluarkannya undang-undang investasi baru yang akan menjamin insentif perpajakan dan lainnya.46 Dengan pernyataan tersebut di atas dan dimulainya langkah mengembalikan sebagaian besar aset milik asing yang disita pada 1963-1965, negara-negara para kreditor asing nampak puas karena kebijakan ekonomi Indonesia bergerak ke arah yang dapat diterima.47 Negosiasi-negosiasi dengan IGGI segera membuahkan penjadwalan kembali terhadap utang-utang Indonesia serta dibukanya kembali akses Indonesia ke jaringan keuangan internasional, baik dari sumber-sumber sektor swasta maupun pemerintah. Demikian halnya dari institusi keuangan dan moneter internasional seperti Bank Dunia dan IMF. Dalam waktu pendek, pinjaman luar negeri, terutama dalam bentuk kredit impor; memungkinkan pemerintah Indonesia membiayai impor beragam komoditas pada akhir 1960-an, sesuatu yang amat penting dalam kemampuan
45 46 47

Yudi Latif, Intelegensia Muslim dan Kuasa, hlm. 454. Richard Robison, Soeharto & Bangkitnya Kapitalisme Indonesia, hlm. 107. Richard Robison, Soeharto & Bangkitnya Kapitalisme Indonesia, hlm. 107.

16

pemerintah mengendalikan inflasi. Dalam jangka panjang, pinjaman luar negeri memungkinkan pemerintah mampu meningkatkan program proyek-proyek investasi, utamanya dalam melakukan rehabilitasi infrastruktur melalui anggaran pembangunan. Hal ini meliputi sekitar 60 % anggaran belanja proyek pembangunan untuk Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita I) 1969-1974.48 Peraturan paling penting bagi pembentukan struktur kepemilikan kapital di bawah Orde Baru ialah Undang-Undang Penanaman Modal Asing (PMA) No. 1 Januari 1967 dan Undang-Undang Penanaman Dalam Negeri (PMDN) juli 1968. Hal-hal penting yang menyangkut PMA ialah sebagai berikut: (a) Jaminan bahwa tidak ada kehendak untuk menasionalisasi milik asing dan jaminan adanya kompensasi pembayaran jika terjadi nasionalisasi (Pasal 21 dan Pasal 22). (b) Masa kerja setiap kegiatan perusahaan asing ialah 30 tahun yang kemudian dapat diperpanjang sesuai dengan persetujuan. (c) Pembebasan pembayaran deviden dan pajak perusahaan bagi investor asing sampai selama tiga tahun, kerugian dapat diperhitungkan sebagai tambahan pembebasan pajak yang telah lewat (Pasal 15). (d) Pembebasan bea masuk terhadap mesin-mesin yang diimpor beserta perlengkapannya, demikian halnya dengan bahan baku selama dua tahun (Pasal 15). (e) Kebebasan penuh untuk merekrut tenaga manajemen dan teknisi asing bagi jabatan dan pekerjaan semacam itu yang belum sanggup dilakukan oleh tenaga Indonesia (Pasal 11). (f) Kebebasan melakukan pemindahan keuntungan, dana depresiasi dan hasil penjualan saham kepada warga negara Indonesia (Pasal 19 dan Pasal 24).49 Pada Agustus 1968, 16 bulan setelah dikeluarkannya UU PMA, UU PMDN baru diterbitkan dengan memberikan hal-hal yang sama dalam perpajakan dan konsesi bea masuk terhadap investor domestik. Untuk masa tertentu para investor asing mendapatkan manfaat lebih besar yang berarti dibandingkan investor domestik. Sesudah dikeluarkannya UU PMD pun para investor domestik tetap dalam posisi struktural yang tidak menguntungkan. Menurut persyaratan BPKM bahwa perusahan yang melakukan investasi di bawah UU PMA dan PMDN harus menaruh deposito sebesar 25 % investasi mereka sebagai jaminan di bank-bank negara. Untuk bidang-bidang bukan prioritas, bidang di luar kehutanan, pertanian dan substitusi
48 49

Richard Robison, Soeharto & Bangkitnya Kapitalisme Indonesia, hlm. 108. Richard Robison, Soeharto & Bangkitnya Kapitalisme Indonesia, hlm. 108.

17

impor, jaminan deposito sebesar 50 %. Hanya sedikit saja perusahaan domestik yang memiliki aset lancar setelah dilanda inflasi tinggi dan kesulitan ekonomi selama satu dekade 1957-1967. Bagaimanapun juga, mereka menghadapi tingkat bunga yang tinggi serta kompetisi menghadapi barang impor dengan biaya murah bantuan asing. Para investor potensial domestik dalam manufaktur cenderung berebut kredit impor yang menguntungkan, atau sekadar menyimpan uangnya di bank-bank karena bunga bank untuk tabungan sangat menarik. Bank-bank kebanyakan dana kontan, bahkan beberapa bank membatasi deposito.50 Setelah tahun 1966, pemerintah Orde Baru makin mantap kedudukannya dan nampak adanya prioritas-prioritas ekonomi baru yang tercermin dalam berbagai pernyataan kebijaksanaan pemerintah. Tekanan khusus diberikan pada produksi pangan (terutama beras) dan sandang, sedang modal asing didorong, terutama di sektor industri dan pertambangan. Apa yang dicapai oleh kebijaksanaan pemerintah yang baru ini, dilihat dari segi pertumbuhan output sektoral, sangat mengesankan. Di sektor pertanian, laju pertumbuhan rata-rata naik dari 1,4 persen per tahun selama lima tahun pertama dasawarsa 60-an menjadi 3,8 persen selama periode 1971-1977. Sesuai dengan tekanan pemerintah pada produksi beras, maka pertumbuhan yang sangat menonjol di dalam sektor pertanian ini terlihat dalam produksi pangan. Masuknya modal asing telah mendorong pertumbuhan sektor industri dan pertambangan, yang selanjutnya mengakibatkan kenaikan tajam dalam kegiatan sektor bangunan.51 Pada akhir 1960-an, para manajer negara, dalam hal ini Ibnu Sutowo dari Pertamina, bersama dengan sejumlah jenderal AD dan pejabat terlibat dalam bisnis dengan menggunakan kekuatan ekonomi negara yang besar untuk membagi-bagi lisensi (untuk perdagangan dan manufaktur), fasilitas kredit dan kontrak untuk membangun korporasi konglomerat besar; biasanya dengan mitra orang Indonesia keturunan Cina. Kekuatan kelompok kapitalis domestik yang naik daun dengan sponsor negara ini menghadapi kebijakan IBRD (International Bank for Reconstruction and Development/ World Bank) atau IMF (International Monetary Fund) sebagai hambatan terhadap perkembangan mereka. Mereka menyandarkan diri pada penggunaan kekuatan negara secara maksimum tetapi dengan selektif untuk campurtangan dalam ekonomi guna menopang kepentingan bisnis mereka, bukan saja dengan memberikan kontrak-kontrak, kredit dan lisensi tetapi juga memastikan posisi strategis yang menguntungkan dalam usaha patungan dengan perusahaan asing. Pada
50 51

I Palmer, The Indonesia Economy Since 1965 (London: Cass, 1978), hlm. 52-58. Anne Booth dkk, Ekonomi Orde Baru (Jakarta: LP3ES, 1982), hlm. 5.

18

saat yang sama, kelompok yang mencuat ini menghendaki kebijakan fiskal yang mendukung pertumbuhan ekonomi.52 Di waktu itu, investasi yang terealisasi di bawah PMDN dan PMA sampai pada Desember 1973 kira-kira meliputi 2 miliar dollar AS. Kapital yang ditanam dalam minyak dan gas bumi kira-kira dua kali lipatnya, didominasi oleh perusahaan besar asing karena besarnya dana dan teknologi yang dibutuhkan. Sepertiga modal investasi program PMA/PMDN, kurang sedikit dari separuhnya merupakan modal domestik. 53 Sekalipun investasi domestik juga meliputi 6-9 % PMA, sebagian besarnya didanai dan dikontrol oleh mitra asing. Hal ini tak punya pengaruh berarti terhadap gambaran umum yang nampak ke dalam statistik. Faktor paling penting yang nampak dari gambaran investasi PMA/PMDN ialah pentingnya investasi dalam manufaktur, investor domestik nampak dominan. Dapatkah gambaran angka-angka ini menjadi refleksi pertumbuhan borjuasi industri domestik yang kuat, sebagai hasil kebijakan protektif terhadap manufaktur substitusi impor?54 Pertama-tama, investasi modal domestik dalam manufaktur yang nampak dominan dimodifikasi karena adanya kenyataan tingkat realisasi investasi domestik dalam manufaktur hanya 29,8% dibandingkan dengan PMA 41,9 %. Ini berarti realisasi investasi PMA 46 % dan PMDN 54%. Investasi asing berpusat pada sektor dengan padat modal yang terus meningkat, sedangkan investasi domestik sebagian besar berupa investasi modal swasta dengan padat karya yang kian berkurang serta memproduksi barang-barang dengan nilai tambah yang kecil.55 Pertengahan 1970-an merupakan penanda penting dalam sejarah politik dan ekonomi Orde Baru. Meskipun kritik kaum terpelajar reformis perkotaan secara efektif kian terhapus sebagai kekuatan politik pada tahun-tahun berikutnya, rezim Orde Baru tiba-tiba terdorong menyadari bahwa ketegangan sosial merupakan komponen tak terpisahkan dari strategi ekonomi yang hanya berpusat pada pertumbuhan maksimum. Pada periode setelah 1974/ 1975 kita melihat adanya perhatian lebih besar terhadap investasi di tingkat lokal dan desa, setidaknya dalam kebijakan resmi. Kritik kaum reformis samasekali tidak melihat gerakan tersebut dapat mengubah apa yang mereka pandang sebagai akselerasi ketidaksetaraan dalam ekonomi dan politik. Kebijakan negara tidak bergerak ke arah sebagaimana
J. Panglaykim, Economic Development, Multinational Corporation and National Integrated (Jakarta: CSIS, 1973), hlm. 73. 53 J. Panglaykim, Persoalan Masa Kini: Perusahaan Multinasional (Jakarta: CSIS, 1974), hlm. 97. 54 Richard Robison, Soeharto & Bangkitnya Kapitalisme Indonesia, hlm. 111. 55 Richard Robison, Soeharto & Bangkitnya Kapitalisme Indonesia, hlm. 111.
52

19

dikehendaki kaum liberal dan kritik-kritik mahasiswa, tetapi menuju korporatisme otoriter, baik dalam politik maupun ekonomi. Bukannya model kebutuhan dasar dari nasionalisme ekonomi yang terjadi ialah kebijakan perkembangan industri yang dikendalikan negara, intervensi negara yang kian besar dalam proses perencanaan, beberapa aspek paling penting sebagai berikut: (a) Prioritas bagi perkembangan industri dengan fokus pada proyek besar pemrosesan sumber daya (gas alam, logam, petrokimia, pengolahan minyak) serta industri dasar (baja, kertas, semen). (b) Proteksi terhadap kapital domestik melalui peraturan sektor tertutup dan prioritas bagi modal asing serta peraturan ketat tentang perusahaan patungan. (c) Peran negara yang lebih terstruktur terpusat dalam pendanaan infrastruktur, pemberian kredit dan investasi tidak langsung.56 Timbul pertanyaan, apa sebab kebijakan ekonomi mengambil jalan itu? terdapat sejumlah faktor yang perlu ditelisik. Pertama, perlunya menangani ketegangan di dalam kelas kapitalis dengan cara kembali dilakukannya proteksi lebih besar terhadap kapital domestik menghadapi kapital internasional, juga proteksi dan subsidi lebih besar terhadap kapital kecil. Kedua, tumbuh cepatnya grup bisnis domestik besar memerlukan peningkatan layanan investasi pemerintah yang meningkat dalam sumber daya dan proyek industri serta manajemen negara dalam melakukan integrasi dengan kapital internasional. Pengaruh grup bisnis semacam itu berasal bukan saja dari meningkatnya kapital dan basis korporasi tetapi juga dari integrasi struktural dengan pusat-pusat kekuatan birokratik politik. Bukan saja kapitalis swasta tetapi juga para manajer korporasi milik negara dan militer yang meluas dengan kepentingan yang berkembang dalam industrialisasi nasional yang dipimpin negara.57 Faktor ketiga, ialah meningkatnya identitas tokoh-tokoh politik terkemuka dari CSIS (Centre for Strategic and International Studies) atau Opsus (Operasi Khusus) dan gerakan mereka ke dalam otoritas aparat negara sebagai Menteri dan Direktur. Ali Moertopo menjadi Menteri Penerangan dan Deputi Direktur Bakin, Daoed Joesoef menjadi Menteri Pendidikan dan dengan penuh semangat melucuti oposisi mahasiswa. Ir. Soehoed sangat berpengaruh dalam penyusunan kebijakan ekonomi, pertama ia sebagai Ketua BKPM dan kemudian, sejak 1978, sebagai Menteri Perindustrian. Para nasionalis birokrat dapat secara langsung menerapkan strategi mereka ke dalam kebijakan nyata.58
56 57 58

Richard Robison, Soeharto & Bangkitnya Kapitalisme Indonesia, hlm. 131. Richard Robison, Soeharto & Bangkitnya Kapitalisme Indonesia, hlm. 131. Richard Robison, Soeharto & Bangkitnya Kapitalisme Indonesia, hlm. 132.

20

Kaum teknokrat juga menghadapi kontradiksi antara kapital internasional dengan kepentingan nasional terhadap masalah tersebut dalam hal lokasi yang tepat dan bentuk investasi kapital. Secara wajar kepentingan nasional menghendaki terbukanya lapangan kerja, investasi dalam pemrosesan sumber daya bertentangan dengan kriteria basis keuntungan bagi investasi yang digunakan oleh kapital internasional. Pada 1974, Sadli menyatakan bahwa modal asing tidak dapat diharapkan untuk berperan pokok dalam proses pembangunan karena mereka enggan melakukan investasi di bidang yang secara sosial diperlukan tetapi secara ekonomi kurang menguntungkan.59 Agaknya perkembangan paling penting ialah peningkatan pendapatan negara yang terjadi pada akhir 1970-an. Diterapkannya kebijakan nasionalisme ekonomi pasca 1970-an menjadi usulan realistik sebagian karena kapital domestik, swasta maupun negara, telah berkembang ke suatu tingkat yang secara efektif dapat memanfaatkan kebijakan protektif, subsidi dan kredit pemerintah. Pada saat yang sama, kenaikan besar dalam pendapatan negara yang berasal dari ekspor minyak bumi memberikan basis suatu tingkat kebebasan dari investasi modal asing, karena investasi negara dalam infrastruktur dan produksi, keuangan pemerintah untuk pembangunan dalam tingkat yang diperlukan kebijakan baru industrialisasi.60 Mulai tahun 1986 dan seterusnya, para teknokrat Indonesia berhasil memperkenalkan sederetan reformasi kebijakan yang penting. Dengan maksud untuk memacu sektor manufaktur ekspor yang sedang tumbuh, serangkaian monopoli impor dicabut, termasuk yang paling menguntungkan di bidang plastik dan baja, yang dipegang oleh tokoh-tokoh kuat seperti Bob Hasan dan Liem Sioe Liong. Pengurangan yang luas di bidang tarif dan kewajiban impor juga dilakukan. Demikian pula di sektor perbankan, di mana reformasi tahun 1983 dan 1988 telah menghapuskan kontrol terhadap suku bunga domestik dan membuka pintu bagi banjirnya bank-bank swasta. Monopoli-monopoli sektor publik dalam bidang pembangkit daya, pelabuhan dan jalan raya, serta telekomunikasi dan televisi, yang sejak lama dianggap sensitif, dihapuskan.61 Perubahan-perubahan semacam itu tercermin pada perubahan struktur investasi dan kepemilikan. Antara 1990 dan 1995, pemberian izin investasi asing meningkat dari US$ 9 miliar menjadi US$ 39,9 miliar, dan terus meningkat ketika uang dari Asia Timur Laut membanjiri bidang manufaktur ekspor berupah rendah di Asia
Richard Robison, Soeharto & Bangkitnya Kapitalisme Indonesia, hlm. 132. Richard Robison, Soeharto & Bangkitnya Kapitalisme Indonesia, hlm. 133. 61 Vedi R Hadiz, Dinamika Kekuasaan: Ekonomi Politik Indonesia Pasca-Soeharto (Jakarta: LP3ES, 2000), hlm. 122.
60 59

21

Tenggara menyusul perjanjian Plaza Accord di tahun 1995. Menjelang 1995, bank-bank swasta domestik telah berjumlah sekitar 240 buah, memegang 53 persen dari dana outstanding bank dan 47,7 persen kredit bank outstanding dibandingkan 37 persen dan 41, 9 persen untuk bank-bank pemerintah. Investasi publik (negara) terus menurun dari 69 persen dari total tahun 1979-80 menjadi 27 persen tahun 1993-94, kendati perusahaan-perusahaan sektor publik masih memegang aset buku US$ 140 miliar dan menghasilkan GDP (Gross Domestic Product) 15 persen tahun 1995.62 Namun, pemekaran bisnis ini tidak berlangsung di dalam pasar liberal yang didefinisikan oleh hukum dan peraturan. Deregulasi tersebut terkonsentrasi pada sektor-sektor barang perdagangan, sementara perusahaan-perusahaan konglomerat tumbuh subur di pasar domestik, berupa kartel-kartel perdagangan dan dilindungi oleh kontrol harga dan rezim lisensi yang bersifat ekslusif. Di bidang manufaktur mereka terkonsentrasi pada sektor-sektor substitusi impor, seperti industri kimia, semen, dan gelas. Meski monopoli negara telah direbut dari tangan kementrian-kementrian dan perusahaan-perusahaan negara, namun ia sekedar menjadi monopoli di tangan swasta yang terus menikmati perlindungan dari negara otoritarian. Akses kepada dunia bisnis tetap berada di tangan lapisan-lapisan para penjaga pintu gerbang (gate-keepers) di dalam pemerintahan dan sistem perbankannya. Hasil-hasil yang tidak diharapkan itu dijelaskan oleh para ekonom neoklasik di Bank Dunia dan di lain tempat, sebagai konsekuensi dari masih kurangnya deregulasi atau suatu kesalahan teknis dalam rangkaian reformasi, karena deregulasi rezim-rezim perdagangan dan keuangan dilakukan mendahului dergulasi sektor riil.63 Namun reformasi beruntun bukan soal pilihan yang tidak terbatas. Sebagai contoh, perlunya untuk memacu ekspor non migas memaksa para perencana dan para penjaga pintu gerbang negara melepas sektor-sektor ekspor yang kompetitif, namun tidak pada sektor-sektor yang berkaitan dengan pasar domestik. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Jonathan Pincus dan Rizal Ramli, reformasi keuangan yang mendahului reformasi sektor riil disebabkan hal itu adalah yang paling mungkin untuk dilakukan, dan oleh karena itu, bukan didasarkan suatu perhitungan teknis. Pelonggaran rekening modal adalah sebuah langkah yang perlu untuk menenangkan modal pengusaha Cina yang merasa khawatir akan terjebak di Indonesia. Pembukaan sektor swasta merupakan suatu jalan untuk mengepung bank-bank pemerintah dan lembaga-lembaga penjaga pintu gerbang yang jika tidak dilakukan akan membuat
62 63

Vedi R Hadiz, Dinamika Kekuasaan, hlm. 122. Vedi R Hadiz, Dinamika Kekuasaan, hlm. 123.

22

lembaga-lembaga tersebut menjadi kebal terhadap regulasi dan kontrol. Penting pula diketahui bahwa deregulasi selektif saat itu sangat cocok dengan kepentingan-kepentingan sebagian besar perusahaan yang dibesarkan di dalam struktur kapitalisme negara. Tangan besi negara akan menjadi suatu rintangan yang membatasi, bilamana hal itu mencegah akses mereka kepada peluang-peluang menguntungkan di bidang perbankan, infrastruktur umum, televisi dan transportasi udara. Pada kesimpulan akhir, deregulasi adalah suatu langkah wajib berikutnya bagi konglomerat-konglomerat bisnis-politik ini.64 Kesimpulan yang dapat peneliti ambil dari seluruh uraian di atas adalah rezim Suharto di awal pemerintahannya mencoba merehabilitasi hubungan Indonesia dengan dunia internasional. Rezim ini mencoba menarik kembali modal asing untuk berinvestasi di Indonesia. Tetapi upayanya tersebut bukanlah suatu strategi untuk membangun pasar bebas di Indonesia, namun semata-mata hanyalah suatu cara untuk mengumpulkan dana bagi pembangunan kapitalisme domestik. Akhirnya, setelah negara memiliki cukup dana, rezim Suharto selanjutnya memfasilitasi kolega-kolega diinternal faksi politiknya untuk mengembangkan bisnis dan berusaha mengurangi ketergantungan pada modal asing. Sehingga dari sini dapat disimpulkan bahwasanya upaya rezim Suharto untuk membangun hubungan internasional di bidang ekonomi pada dasarnya adalah strategi untuk membangun oligarki kapitalisme di dalam negeri. B. Era Desentralisasi Terkikisnya otoritas sentral negara setelah jatuhnya rezim otoriter Orde Baru menyebabkan keperluan untuk mencoba mengakomodasi tuntutan daerah dan lokal, tidak saja dalam rangka otonomi yang lebih luas dalam manajemen sumber-sumber daya lokal, tetapi juga bagi pelaksanaan kekuasaan ekonomi dan politik. Selama era Suharto yang panjang, ekspresi ketidakpuasan daerah seringkali dikesampingkan atau dilumpuhkan oleh kekuatan aparat. Setelah mundurnya Suharto, muncul berbagai keinginan untuk mendapatkan otonomi lokal yang lebih luas, suatu struktur negara federal dan, dalam beberapa kasus, bahkan pemisahan-diri sama sekali dari RI, dengan mendesakkan isu-isu ini ke dalam agenda utama pemerintah pusat. Respons utama pemerintah adalah menyusun undang-undang desentralisasi daerah tahun 1999 yang masih hangat diperdebatkan.65 Dari sudut pandang neoinstitusionalis/ good governance, isu besar yang dipertaruhkan adalah, apakah desentralisasi dan otonomi regional akan berpengaruh positif dalam konteks pelaksanaan pemerintahan dan dalam kaitannya dengan
Vedi R Hadiz, Dinamika Kekuasaan, hlm. 124. Vedi R Hadiz, Contestating Political Change After Soeharto (Melbourne: Monash Asian Institute, Monash University), hlm. 33.
65 64

23

demokratisasi. Lebih jauh lagi, pertanyaan mendasarnya adalah, apakah desentralisasi, khususnya desentralisasi keuangan, akan menghasilkan lebih banyak atau lebih sedikit korupsi, dan apakah hal itu akan lebih efisien atau tidak sebaliknya, dalam pengalokasian sumber daya. Suatu solusi teknis yang dikemukakan di sini adalah perencanaan tahap-tahap desentralisasi secara hati-hati dalam jangka waktu yang panjang untuk memperhitungkan penyesuaian kelembagaan pada berbagai jenjang pemerintahan. Hal ini perlu, mengingat kegagalan proses deregulasi ekonomi di Indonesia pada tahun 1980-an dan 1990-an terletak pada pentahapan yang tidak benar. Akan tetapi, tahap-tahap deregulasi sesungguhnya bukan terletak pada masalah kesalahan teknis, melainkan ditentukan oleh konfigurasi kepentingan negara dan kepentingan bisnis yang lebih luas, yang mempengaruhi pembuatan kebijakan ekonomi secara menyeluruh, ini berarti bahwa bidang-bidang tertentu lebih tertutup bagi deregulasi daripada bidang-bidang lain pada waktu yang berbeda.66 Demikian pula kontroversi saat itu tentang cakupan dan desain otonomi lokal yang pada dasarnya bukan merupakan isu teknis pemerintahan melainkan indikasi dari persaingan sengit antara kepentingan-kepentingan yang bersaing memperebutkan sumber daya material yang konkret. Jakarta jelas punya kepentingan tersendiri dalam mempertahankan kendali atas potensi lokal paling tidak sebanyak mungkin sambil berusaha menyeimbangkan hal ini terhadap aspirasi untuk mendapatkan otonomi yang lebih luas. Di lain pihak, elite-elite lokal ingin mendapatkan kendali langsung atas potensi yang sama untuk kepentingan mereka sendiri, dengan secara tipikal menyebut-nyebut ketidakadilan yang terjadi pada masa lalu yang memungkinkan Jakarta untuk mengeksploitasi kekayaan Indonesia yang melimpah-ruah dengan merugikan pihak lokal. Belum lagi masalah ketidakmerataan kemakmuran di berbagai daerah Indonesia. Oleh karena itu persaingan utamanya adalah tentang penguasaan sumber-sumber daya, meskipun hal ini diutarakan atas nama harga-diri lokal, atau identitas etnik atau kedaerahan versus persatuan nasional. Sumber daya yang diperebutkan bervariasi dari satu daerah ke daerah lain. Jumlahnya relatif sedikit di daerah miskin seperti Yogyakarta, tapi sangat banyak bagi pialang-pialang politik di daerah kaya seperti Kutai di Kalimantan. Namun demikian, kepala daerah (bupati) Bantul di Yogyakarta, yang memerintah daerah yang mencakup wilayah pariwisata yang ramai yakni Parangtritis namun tidak memiliki wilayah lain yang bernilai ekonomis, pun berbicara mengenai pembentukan perusahaan-perusahaan lokal negara untuk berperan penting dalam berbagai bidang usaha. Baginya, jelas lebih baik memiliki kendali atas sumber daya yang sedikit, ketimbang tidak punya kendali atas
66

Vedi R Hadiz, Dinamika Kekuasaan, hlm. 241.

24

sumber daya yang lebih berlimpah dan di bawah pengawasan Jakarta. Oleh karena itu desentralisasi pada akhirnya bukan hanya masalah perhitungan teknis saja, tetapi lebih mendasar lagi yaitu masalah persaingan kekuasaan.67 Lalu dari sini timbul satu pertanyaan: bagaimanakah pola hubungan internasional Indonesia di era desentralisasi ini? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, di sini peneliti akan mencantumkan proses pembangunan perusahaan tambang pasir besi di DIY. Sejak tahun 2005, PT Jogja Magasa Iron, yang dimiliki oleh keluarga Hamengku Buwono X, gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dan juga merupakan Sultan Yogyakarta, mendapatkan Kuasa Pertambangan (KP) Eksplorasi Bahan Galian Pasir Besi dan Mineral Pengikutnya dari Pemerintah Daerah Kabupaten Kulon Progo berdasar surat No. 008/KPTS/KP/EKPL/X/2005. Kemudian karena bermitra dengan Indo Mines. Ltd. Dan dikategorikan sebagai Penanaman Modal Asing (PMA), maka Kuasa Pertambangan dikonversi menjadi Kontrak Karya (KK) sesaui dengan UU. No. 1/1967 dan UU. No.11/1967. Kontrak Karya ini kemudian mendapat persetujuan Pencadangan Wilayah dari otoritas tertinggi di Kabupaten Kulon Progo, berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral/ESDM No. 1614 tahun 2004, dengan syarat menyetorkan uang jaminan kesungguhan sebagai syarat mendapat Persetujuan Prinsip Aplikasi KK (Keputusan Menteri ESDM No. 1603/40/MEM/2003).68 Adapun Butir-butir kontrak karya yang penting adalah sebagai berikut : Masa operasi : 30 tahun Luasan : 2.987 Ha (22 x 1,8 km) Investasi : 1,7 M US$., 600 Juta US$ untuk Penambangan dan 1,1 M US $ untuk Infrastruktur Pajak : 20 Juta US $ per tahun Pendanaan Lokal : 7 Juta US $ per tahun selama 10 tahun dan selanjutnya 2 persen. Royalti : 11,25 Juta US $ per tahun Penambangan : 2011 Produksi besi : 2012 Volume : 1 juta ton per tahun. Rasio investasi : JM 30 persen dan IM Ltd. 70 persen.
67

Vedi R Hadiz, Empire and Neoliberalism in Asia (London: Routledge Curzon 2006), hlm.

52. Dian Yanuardi, Dinamika Gerakan Ganda di Yogyakarta: Studi atas Proses dan Mekanisme Proyek Akumulasi dengan Perampasan dan Perlawanan Masyarakat dalam Kasus Pertambangan Pasir Besi, Kulonprogo, Yogyakarta (Tesis tidak diterbitkan), hlm. 70.
68

25

Luas konsesi pertambangan direncanakan sekitar 3,000 ha, atau 22 kilometer sepanjang sungai Bogowonto hingga sungai Progo selama 25 tahun. Proyek ini akan mencakup tiga kecamatan, yang juga akan mencakup pertanian lahan pasir milik petani dan pemukiman sepanjang 1,8 kilometer dari pantai. Secara khusus, proyek tersebut akan menggusur pertanian lahan pantai di enam desa: Karangwuni, Garongan, Pleret, Bugel, Karangsewu, dan Banaran.69 Contoh di atas secara jelas menggambarkan bahwa di era desentralisasi ini, pemerintah lokal mulai berusaha membangun hubungan perekonomian dengan modal asing. Dalam hal ini, pola hubungan internasional di era ini, bukan hanya terjadi di tingkat nasional tetapi mulai merambah di tingkat lokal. Di sisi lain, contoh di atas juga memberikan gambaran kepada kita bahwa pemerintah lokal juga masih berciri oligarkis (Sultan HB X selain sebagai Gubernur juga sebagai pemilik saham di PT Jogja Magasa Iron) di dalam membangun perekonomian di daerahnya. Oleh karena itu, setelah menguraikan dinamika hubungan internasional Indonesia semenjak pemerintahan Sukarno sampai era desentralisasi, peneliti menyimpulkan bahwa terdapat suatu benang merah yang sama pada tiap-tiap rezim tersebut. Dalam hal ini, kesamaan mereka adalah terjadinya suatu oligarki kapitalis di dalam membangun hubungan internasional pada khususnya dan perekonomian pada umumnya. Dan pada fakta-fakta tersebut, peneliti juga menemukan bahwa pada dasarnya negara memiliki peran yang sangat penting di dalam menentukan pola-pola hubungan internasional maupun pembangunan ekonomi.

69

Dian Yanuardi, Dinamika Gerakan Ganda di Yogyakarta, hlm. 70.

26

BAB III MEMBANGUN FORMAT PERKADERAN HMI YANG BERWAWASAN INTERNASIONAL DI ERA DESENTRALISASI A. Telaah Singkat Dinamika Hubungan HMI dengan Umat Islam dan Negara HMI didirikan pada 5 februari 1947. Untuk memahami lebih mendalam terhadap signifikansi kelahiran HMI tersebut, maka peneliti akan menganalisis kondisi keindonesiaan, umat Islam, dan dunia mahasiswa di waktu itu. Pada level keindonesiaan, waktu itu Indonesia baru dua tahun memproklamasikan kemerdekaannya. Di mana, proklamasi kemerdekaan Indonesia itu sendiri terjadi sebagai akibat dari kevakuman kekuasaan yang ditinggalkan oleh Jepang. Sehingga bisa dipastikan, bahwa negeri Belanda masih berhasrat untuk menjajah Indonesia kembali.70 Selanjutnya, peneliti akan menggambarkan kondisi umat Islam waktu itu. Di masa kolonial, umat Islam merupakan kelompok yang paling terdepan di dalam menentang penjajahan Belanda, akibatnya adalah Belanda menutup akses mereka terhadap pendidikan modern. Sehingga, ketika Indonesia memprolamirkan kemerdekaannya, umat Islam merupakan golongan yang terendah dalam hal pendidikan modern. Oleh karena itu, disebabkan oleh tingkat pendidikan yang rendah
70

Solichin, HMI Candradimuka Mahasiswa (Jakarta: Sinergi Persadatama Foundation, 2010).

27

tersebut bisa dipastikan umat Islam tidak akan mampu berpartisipasi aktif dalam mengisi kemerdekaan Indonesia. Di sisi lain, dunia kemahasiswaan waktu itu didominasi oleh paham sekularisme, dan komunisme71. Sehingga bisa dipastikan bila hal tersebut tidak segera disikapi, maka di masa mendatang orang-orang yang menjadi pemimpin di Indonesia adalah orang-orang yang tidak memiliki moral Islami dan memusuhi agama. Untuk itulah tujuan awal pendirian HMI waktu itu adalah (1) Mempertahankan NKRI dan Mempertinggi Derajat Rakyat Indonesia, (2) Syiar Islam. Tujuan pertama pada dasarnya merupakan respons kondisi keindonesiaan. Untuk merealisasikan tujuan pertama tersebut, HMI waktu itu ikut berperang mempertahankan Indonesia dari tentara Belanda yang datang kembali ke negeri ini. Sedangkan, tujuan kedua pada dasarnya merupakan respons terhadap kondisi umat Islam dan dunia kemahasiswaan. Dalam hal ini, HMI berusaha mendidik generasi elit Muslim untuk menjadi pribadi-pribadi yang memiliki pemahaman yang mendalam terhadap ajaran-ajaran Islam dan memiliki wawasan yang mumpuni pada bidang keilmuannya. Selain itu, melalui pembinaan terhadap generasi elit Muslim, HMI pada dasarnya mempersiapkan calon-calon pemimpin bangsa di masa mendatang yang memiliki akhlaq Islami. Selain era 47, momentum yang perlu dipelajari lebih jauh adalah era 70-an. Di era ini, HMI dikenal sebagai organisasi yang menyuarakan pentingnya pembaharuan pemikiran Islam. Untuk memahami lebih mendalam terhadap peristiwa tersebut, penting kiranya disini peneliti menyajikan kondisi keindonesiaan dan keumatan waktu itu. Pada era tersebut, Indonesia tengah mengalami masa transisi pemerintahan, yaitu dari pemerintahan Sukarno ke pemerintahan Suharto. Pergantian rezim tersebut tidak hanya berganti pemimpin semata, tetapi lebih jauh juga terjadi perubahan orientasi politik. Di era Sukarno negara lebih berorientasi pada pembangunan konsesus politik (dengan konsep Nasakomnya), sedangkan di era Suharto negara berubah haluan, menjadi lebih berorientasi pembangunan ekonomi. Di era Sukarno, pemerintah memerlukan orang-orang yang memiliki kemampuan memobilisasi massa, karena keahlian tersebut memang diperlukan untuk membangun konsesus politik. Sedangkan di era Suharto, pemerintah memerlukan orang-orang yang memiliki keahlian di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, mengingat keahlian tersebut memang diperlukan untuk membangun perekonomian. Dari sini

Sebelum HMI berdiri di Yogyakarta terdapat organisasi mahasiswa yang bernama PMY (Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta) yang memiliki afiliasi dengan PSI (Partai Sosialis Indonesia).

71

28

timbul sebuah pertanyaan: apakah umat Islam mampu memenuhi kebutuhan pemerintah tersebut? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penting kiranya kita meninjau kondisi umat Islam waktu itu. Umat Islam waktu itu masih memakai pola pikir rezim sebelumnya, di mana mereka lebih condong untuk memperjuangkan ajaran Islam dengan cara mendirikan negara Islam melalui partai Islam. Sehingga, pola pikir umat Islam tersebut, justru merugikan umat Islam sendiri karena dengan pola pikir tersebut, pemerintahan awal Orde Baru malah berusaha menyingkirkan Umat Islam dari partisipasi aktif kenegaraan. Oleh karena itu, menanggapi kondisi keindonesiaan dan umat Islam tersebut, Nurcholish Madjid selaku Ketua Umum PB HMI waktu itu menyerukan pentingnya pembaharuan pemikiran Islam. Nurcholish berseru kepada umat Islam bahwa memperjuangkan ajaran Islam bukan hanya dengan cara mendirikan negara Islam melalui partai Islam. Tetapi, yang lebih penting adalah ikut terlibat aktif memodernisasi Indonesia dengan nilai-nilai Islam. Untuk itulah, Nurcholish menyerukan kepada umat Islam untuk mengembangkan ethos keilmuan dan ethos kerja keras. Akhirnya, dampak dari seruan Nurcholish tentang pembaharuan pemikiran Islam tersebut adalah rezim Orde Baru menjadi akomodatif terhadap umat Islam, khususnya HMI. Sehingga, efek jangka panjang dari akomodasi rezim Orde Baru tersebut adalah banyaknya alumni-alumni HMI yang menduduki posisi-posisi strategis pada kehidupan berbangsa dan bernegara (baik posisi yang bersifat politis maupun yang bersifat profesional), baik ketika Orde Baru masih berkuasa maupun ketika era Reformasi tiba. Akhirnya, saat ini Indonesia tengah memasuki alam desentralisasi dan alumni-alumni HMI banyak yang menduduki posisi strategis (baik posisi yang bersifat politis maupun yang bersifat profesional). Lalu, apa yang harus dilakukan HMI saat ini? B. Membangun Format Perkaderan yang Kontekstual Seperti yang sudah dibicarakan pada bab sebelumnya, saat ini Indonesia tengah memasuki era Desentralisasi, meskipun tetap dikuasai oleh oligarki. Sehingga, tiap-tiap daerah memiliki wewenang untuk membangun hubungan Internasional. Lalu format perkaderan seperti apakah yang harus dirumuskan untuk menanggapi situasi tersebut? 1. HMI perlu membekali kader-kadernya dengan pengetahuan Ekonomi-Politik, mengingat untuh membedah situasi sosial saat ini, ilmu yang paling pas adalah Ekonomi-Politik.

29

2. HMI perlu membekali kader-kadernya dengan kemampuan penelitian ilmiah. Mengingat dunia saat ini semakin terintegrasi dan kompetitif, sehingga penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi mutlak diperlukan. 3. HMI perlu membekali kader-kadernya dengan wawasan politik yang luas, mengingat saat ini banyak kader-kader HMI yang memiliki strategi politik yang canggih tetapi berefek perpecahan. Hal terjadi, karena minimnya wawasan politik mereka. Sehingga ke depan perlu diagendakan pendidikan politik yang mendalam bagi kader-kader HMI. 4. Serta, yang tidak kalah pentingnya adalah HMI harus membekali kader-kadernya dengan penguasaan terhadap bahasa Inggris yang baik. Mengingat di era desentralisasi ini hubungan internasional semakin luas, sehingga agar HMI tetap mampu berpartisipasi, maka penguasaan terhadap bahasa Inggris mutlak diperlukan. Untuk melakukan ini, tiap-tiap cabang maupun komisariat bisa mengirimkan kader-kadernya di tiap kali liburan ke kampung Inggris Pare.

BAB IV KESIMPULAN Dari seluruh pembahasan di atas, peneliti memperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. Di era Sukarno, Indonesia bersifat tertutup terhadap dunia internasional, di era Suharto, Indonesia bersifat terbuka terhadap dunia internasional, dan akhirnya di era desentralisasi, hubungan internasional Indonesia tidak hanya terjadi di level nasional tetapi juga terjadi di level lokal. Dan di situ, terdapat benang merah yang sama pada tiap-tiap rezim tersebut, yaitu sama-sama berusaha membangun oligarki kapitalis. 2. HMI harus membangun format perkaderan yang berisi: (a) mengembangkan ekonomi politik, (b) kemampuan penelitian ilmiah, (c) wawasan politik, dan (d) kemampuan bahasa Inggris. Sekian terima kasih, Yakin Usaha Sampai!

30

DAFTAR PUSTAKA Noer Fauzi Rachman, Land Reform Dari Masa Ke Masa: Perjalanan Kebijakan Pertanahan 1945-2009 (Yogyakarta: STPN, 2012). Yudi Latif, Intelegensia Muslim dan Kuasa: Geneologi Intelegensia Muslim Indonesia Abad ke-20 (Bandung: Mizan, 2005). Richard Robison, Soeharto & Bangkitnya Kapitalisme Indonesia (Jakarta: Komunitas Bambu, 2012). Sukarno, Dibawah Bendera Revolusi I (Jakarta: Panitya Penerbit, 1959). Fachry Ali & Bahtiar Effendy, Merambah Jalan Baru Islam: Rekonstruksi Pemikiran Islam Indonesia Masa Orde Baru (Bandung: Mizan, 1986). Edy Suandi Hamid, Sistem Ekonomi Utang Luar Negeri dan Isu-Isu Ekonomi Politik Indonesia (Yogyakarta: UII Press, 2004).

31

Kabid PTKP HMI Cab. Jogja Raya, Modul Ekonomi Politik Dasar Untuk HMI (Yogyakarta: HMI Jogja Raya, 2013). Karl Marx, Kapital Vol II (Jakarta: Hasta Mitra, 2006). Swanvri dkk, Modul Ekopol Resist Institute (Yogyakarta: Resist Institute, 2011). David Harvey, Imperialisme Baru: Geneologi dan Logika Kapitalisme Kontemporer (Yogyakarta: Resist Book, 2010). Dumairy, Perekonomian Indonesia (Jakarta: Penerbit Erlangga, 1996). I Palmer, The Indonesia Economy Since 1965 (London: Cass, 1978). Anne Booth dkk, Ekonomi Orde Baru (Jakarta: LP3ES, 1982). Vedi R Hadiz, Dinamika Kekuasaan: Ekonomi Politik Indonesia

Pasca-Soeharto (Jakarta: LP3ES, 2000). Dian Yanuardi, Dinamika Gerakan Ganda di Yogyakarta: Studi atas Proses dan Mekanisme Proyek Akumulasi dengan Perampasan dan Perlawanan Masyarakat dalam Kasus Pertambangan Pasir Besi, Kulonprogo, Yogyakarta (Tesis tidak diterbitkan). P. Polomka, Indonesia Since Sukarno (Melbourne: Pelican, 1971). J. Panglaykim, Economic Development, Multinational Corporation and National Integrated (Jakarta: CSIS, 1973). J. Panglaykim, Persoalan Masa Kini: Perusahaan Multinasional (Jakarta: CSIS, 1974). Vedi R Hadiz, Contestating Political Change After Soeharto (Melbourne: Monash Asian Institute, Monash University). Vedi R Hadiz, Empire and Neoliberalism in Asia (London: Routledge Curzon 2006). Solichin (Peny.), HMI Candradimuka Mahasiswa, (Jakarta: Sinergi

Persadatama Foundation, 2010).

32