Anda di halaman 1dari 3

Sunni Syiah sebagai Produk Sejarah Tanggapan atas Tanggapan

Kamaruddin Amin Ketua Komisi Hubungan Internasional MUI SUL SEL

Apresiasi tulus terhadap tanggapan Bapak Said Samad (Ketua LPPI) atas tulisan saya diharian ini beberapa hari lalu. Meskipun beliau mengkritik tulisan saya, saya menganggap tanggapan beliau sebagai refleksi kecintaannya terhadap Islam (Sunni). Sayapun bangga dengan hal itu. Namun demikian, untuk menghindari kesalahfahaman, beberapa poin perlu saya klarifikasi.

Beliau mengutip sejumlah kitab standar seperti Bihar al-Anwar oleh al-Majlisi untuk menunjukkan "fakta" bahwa Syiah tidak mungkin bisa berkompromi dengan Sunni. Seandainya beliau mengutip kitab yang dianggap lebih otoritatif oleh Syiah seperti al-Kafi karya al-Kulayni (329 H), kitab Syiah paling standar yang memuat sekitar 16.000 hadis, atau al-Istibsar oleh Syekh Thusy (460 H), atau Man La Yahdarul Faqih (w. 381 H) atau kitab al-Majmu oleh al-Kulayni Said Samad akan menemukan lebih banyak lagi data-data yang dapat mendukung argumen beliau. Tetapi seperti yang saya tulis sebelumnya bahwa merujuk kepada kitab-kitab yang sangat dihormati oleh Syiah ini ternyata tidak cukup untuk memotret fakta atau realitas Syiah kontemporer.

Penulis berpendapat bahwa fakta ajaran Syiah adalah fragmen-fragmen yang harus dikonstruk dari tiga domain penelitian. Pertama. sumber otoritatif Islam, yaitu al-Quran dan hadis. Kedua, pemahaman para ulama dan penstudi Islam (Syiah) tentang sumber otoritas tersebut yang terefleksi dari kitab-kitabnya. ketiga, bagaimana Islam (Syiah) diartikulasikan dan direfleksikan dalam pelataran sejarah peradaban ummat Islam (Syiah). Dengan kata lain, kalau ingin membicarakan Syiah atau ajarannya, maka ketiga sumber tersebut harus dikonsultasi. Tidaklah tepat mengambil kesimpulan fundamental tentang Syiah hanya dari kitab-kitab klasiknya saja, tetapi juga bagaimana ajaran-ajaran Syiah diimplementasikan oleh masyarakat Syiah dalam perjalanan sejarah dan peradabannya. Disinilah kunjungan ke Iran menemukan signifikansinya untuk melihat realitas sosiologis umat Islam (Syiah) dan berdiskusi dengan para ayatullahnya.

Saya bukan tidak tertarik mendengar penjelasan Pak Said Samad sebagaimana yang Pak Said tulis "kenapa harus jauh-jauh pergi (ke Iran) mendengar tentang Syiah padahal LPPI sudah sekian lama mau menghadap UIN Alauddin untuk menjelaskan tentang hal itu", tetapi penjelasan bapak secara metodologis tentu tidak representatif. Karena bapak bukan orang Syiah untuk tidak mengatakan tidak suka sama Syiah atau bahkan menganggap Syiah sesat. Mudah-mudahan tidak apriori, tetapi kemungkinan bapak akan menunjukkan kutipan-kutipan dari para penulis Syiah yang berpotensi

memecah antara Sunni Syiah. Insya allah saya familiar dengan kutipan-kutipan tersebut. Saya punya koleksi kitab-kitab Syiah dalam bentuk CD baik yang moderen maupun yang klasik. Tetapi saya ingin melihat apakah ada gap antara yang tertulis dan fakta sebelum sampai pada kesimpulan fundamental tentang Syiah.

Saya juga perlu menegaskan bahwa diskusi intensif dua minggu bersama sejumlah ayatullah tidaklah membuat kami puas dan menganggap bahwa Sunni Syiah sama persis. Masih banyak pertanyaanpertanyaan yang belum terjawab dan banyak jawaban-jawaban ayatullah yang belum memuaskan. Tetapi saya ingin mengatakan bahwa kalau perbedaan yang kita cari sungguh sangat banyak. Jangankan antara Sunni Syiah, antara NU Muhammadiyah atau antar sesama NU atau antar sesama Muhammadiyah saja cukup banyak perbedaan. Tetapi, bukankah Sunni Syiah adalah saudara kandung se-iman? Bukankah kita sama sama umat Nabi Muhammad. Saya yakin Nabi Muhammad pasti bangga menyaksikan umatnya bersatu, dan saya pun yakin beliau pasti bersedih melihat umatnya saling mengkafirkan. Substansi pesan yang ingin saya sampaikan adalah bagaimana agar kedua mainstream besar Islam ini bersinergi membangun peradaban Islam. Kalau hanya berkutat pada argumentasi kuno yang hanya ingin menang sendiri kejayaan Islam hanyalah sebuah mimpi.

Ketika Syiah meyakini bahwa yang berhak menjadi halifah adalah Ali, bukan Abu Bakr, Umar dan Usman, dan keyakinan itu di back-up oleh hadis-hadis yang mereka yakini otentisitas dan historisitasnya. Keyakinan yang sangat tulus dibarengi dengan refleksi keberagamaan genuine yang keluar dari nurani mereka, dari perenungan dan perjalanan spiritual panjang. Biarkanlah mereka dalam keyakinannya seperti itu. Sebagaimana kita (Sunni) meyakini legitimasi kehalifahan Abu Bakr. Menurut saya substansi perbedaan ini tidak perlu dimasuki oleh masing-masing kelompok karena keyakinan kedua mainsterean ini telah menyejarah dengan sangat mapan dan terinstitusionalisasi secara kokoh.

Upaya mendekonstruksi keyakinan ini mustahil bisa dilakukan. Oleh karena itu, baik Sunni maupun Syiah tidak perlu saling menyesatkan apalagi mengkafirkan. Mengkafirkan seseorang yang jelas-jelas percaya kepada Tuhan, kerasulan Muhammad, al-Quran, hari kiamat adalah sebuah arogansi teologis yang tidak saja menyesatkan, tetapi berpotensi memecah ummat Islam. Ratusan juta umat Islam (Syiah) apalagi Sunni yang ada di dunia ini. Kalau mereka semua dikafirkan dan menolak berhubungan baik dengan mereka, saya yakin bukan hanya Tuhan murka kepada kita, tetapi musuhmusuh Islam bertepuk tangan.

Ketika Syiah mengutip sejumlah hadis tentang bolehnya nikah mut'ah (meskipun aplikasinya sangat jarang dilakukan dan tidak semudah yang dibayangkan), apakah kita (Sunni) ingin mengatakan bahwa semua riwayat itu palsu sembari mengatakan bahwa nikah mut'ah itu haram? Mungkin boleh kita mengatakan seperti itu tetapi apa dasarnya. Kalau dasarnya adalah dalam literatur sunni banyak

hadis yang mengharamkannya, apakah ini menyelesaikan masalah? Saya tidak optimis karena mereka (Syiah) bisa mengatakan hal yang sama bahwa hadis-hadis Sunni tentang pengharaman nikah mut'ah palsu. Sunni punya metode untuk menentukan sahih tidaknya sebuah hadis, tetapi syiah juga punya. Kalau demikian, dialog Sunni Syiah menemui jalan buntu. Bagaimana jalan keluarnya? Kita boleh membayangkan tetapi mungkin sebuah utopia. Ulama Sunni Syiah duduk bersama membaca ulang sejarah Islam. Bahkan mungkin mendekonstruksi secara fundamental sejarah Islam. Tetapi ini adalah projek utopis karena disamping membutuhkan ketulusan ilmiah mencari kebenaran juga membutuhkan energi dahsyat untuk melakukannya, bahkan mungkin banyak yang tidak menginginkannya. Sesuatu yang bisa dibayangkan tetapi fakta empiris menunjukkan kesulitannya.

Kalau begitu, satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah saling memahami dan mencari persamaan. Bukan saling menghujat sesama saudara. Cara yang bijak untuk itu adalah Sunni membaca dengan tulus tanpa apriori literatur Syiah. Demikian pula sebaliknya. Jangan sampai kita terlalu bernafsu menghujat saudara kita padahal kita belum terinformasi maksimal atau salah membaca sumber. Imam Syafii pernah berkata, pendapat saya benar tetapi mengandung kemungkinan salah dan pendapat mereka salah tetapi berpotensi benar. Dengan demikian kontak ilmiah antara dua mainstream besar ini harus terus dilakukan demi meningkatkan kesepahaman. Siapa tahu di seberang sana, terdapat mutiara indah yang tertutupi oleh debu-debu sejarah akibat kepentingan orang-orang yang tidak bertanggung jawab sehingga mata kita tertutup karenanya. Wallahu alam.