Anda di halaman 1dari 8

ACARA II UJI DAYA KECAMBAH BENIH

A. Pendahuluan 1. Latar Belakang Benih sendiri mempunyai pengertian ialah merupakan biji

tanaman yang dipergunakan untuk keperluan dan pengembangan usaha tani serta memiliki fungsi agronomis (Kartasapoetra 2003). Selanjutnya benih dituntut untuk bermutu tinggi atau benih unggul, sebab benih harus mampu menghasilkan tanaman yang dapat berproduksi maksimum dengan sarana teknologi yang semakin maju. Beberapa jenis benih tanaman pangan dan hortikultura dalam kemasan berlebel yang beredar di pasaran yang digunakan oleh petani dalam usaha budidaya yaitu benih jagung, sawi, kacang panjang, terung, pare, mentimun, cabe kerting, dan kubis. Peredaran benih di pasaran yang terdistribusi pada beberapa toko benih, berada dalam kemasan yang berlebel maupun yang tidak berlebel. Menurut Kamil (1995) dalam Rudi dkk (2008), kemasan berlebel adalah kemasan yang memuat informasi tentang keadaan benih yang meliputi benih murni bebas dari varietas lain, berukuran penuh dan

seragam, daya kecambah di atas 80% dengan bibit yang tumbuh kekar, bebas dari biji gulma, bebas hama dan penyakit, yang informasinya dicantumkan pada label di kemasan benih tersebut, sedangkan benih yang tidak berlebel adalah benih lokal yang tidak memuat informasi tentang keadaan benih tersebut. Pengujian kualitas benih ini sangat penting karena terujinya

kualitas benih dapat memberikan jaminan kepada petani dan masyarakat untuk mendapatkan benih dengan kualitas yang baik sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan tentunya dapat menghindari petani dari berbagai kerugian yang ditimbulkan. Oleh karena itu praktikum ini mempelajari uji daya kecambah benih pada tomat dan kacang tanah.

2. Tujuan Praktikum Adapun tujuan dari praktikum acara uji daya kecambah benih, sebagai berikut: B. Tinjauan Pustaka Metode pendugaan mutu fisiologis benih dapat dilakukan melalui metode langsung dan tidak langsung. Metode langsung menggunakan indikator pertumbuhan kecambah; benih dikecambahkan pada kondisi ideal, dilakukan di germinator, rumah kaca atau areal persemaian selama jangka waktu tertentu (uji resmi), sedangkan metode tidak langsung didasarkan pada proses metabolisme serta kondisi fisik yang merupakan indikasi tidak langsung; disebut pula uji cepat viabilitas (Zanzibar 2009). Menurut Wati (2012), cahaya dengan intensitas tinggi dapat meningkatkan perkecambahan pada biji-bijj yang positively photoblastic (perkecambahannya dipercepat oleh cahaya). Bagi benih-benih yang pertumbuhannya membutuhkan cahaya dapat dijelaskan bahwa intensitas cahaya yang dibutuhkan adalah antara 750 lux sampai 1.250 lux (Kartasapoetra 2003). Masalah kebutuhan cahaya untuk mempercepat per-kecambahan dan sekaligus untuk mematah-kan dormansi bagi benihbenih yang membutuhkan cahaya sewaktu berkecambah dapat disiasati dengan menggunakan zat kimia seperti KNO3 yang berfungsi sebagai pengganti fungsi cahaya dan suhu serta untuk mempercepat penerimaan benih akan O2 (Kartasapotera 2003). Mutu bibit ditentukan oleh dua faktor,yaitu faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam diantaranya asal benih, kondisi fisik dan fisiologis benih atau kondisi fisik dan fisiologis bibit itu sendiri. Faktor luar antara lain air, cahaya, suhu, kelembaban udara,konsentrasi karbon dioksida, oksigen, pupuk, jenis medium (Hendromono 2007). Suatu biji tumbuhan dapat berkecambah jika syarat-syarat berikut ini terpenuhi, yaitu : 1. Embrio biji tersebut masih hidup 2. Biji tidak dalam keadaan dorman

3. Faktor lingkungan menguntungkan untuk pekecambahan (Leubner 2006). Kriteria benih hidup uji eksisi embrio, bila radikel dan kotiledon menunjukkan pertumbuhan, embrio terlihat segar selama inkubasi, berwarna kuning kehijauan, sedang benih mati dicirikan oleh radikel dan kotiledon yang tidak berkembang, embrio cepat rusak/busuk, berlendir, berwarna abuabu dan/atau coklat. Uji eksisi embrio merupakan bentuk transisi sesungguhnya dari uji perkecambahan, karena embrio dievaluasi berdasarkan pertumbuhan radikel menjadi akar yang secara mendasar merupakan proses perkecambahan (Schmidt 2000). Seringkali penyediaan benih atau bibit untuk suatu penanaman harus didatangkan dari daerah lain. Oleh karena itu, informasi penyimpanan propagul dalam penelitian ini sangat penting karena tipe propagul mangrovepada umumnya termasuk jenis rekalsitran sehingga memudahkan distribusi ke daerah yang membutuhkan dengan viabilitas propagul masih tetap terjaga baik. Berdasarkan hasil penelitian ini, untuk mengatasi terjadinya penurunan viabilitas propagul selama penyimpanan diperlukan pengaturan kelembaban (RH) supaya tetap tinggi (Asep et al. 2010). C. Metodologi Praktikum 1. Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum uji vigor benih dilaksanakan pada tanggal 17 Oktober 2013 bertempat di laboratorium Ekologi dan Manajemen Produksi Tanaman (EMPT) Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret. 2. Alat dan Bahan Praktikum a. Petridish b. Bak perkecambahan c. Kertas perkecambahan d. Media pasir e. Benih Tanaman Tomat (Solanum lycopersicum) f. Benih Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogaea)

3. Cara Kerja a. Menyiapkan media perkecambahan berupa kertas dan pasir.

b. Mengkecambahkan benih pada media perkecambahan pada kertas (PK) dan pada pasir (PP). c. Menempatkan substratum perkecambahan pada bak perkecambahan.

d. Menjaga kelembaban lingungan. 4. Pengamatan yang dilakukan Adapun pengamatan yang dilakukan pada praktikum uji kecambah benih yaitu: a. Kecambah normal, abnormal, dan mati. Perhitungan dilakukan sejak hari pertama hingga terakhir. b. Menghitung daya dan kecepatan kecambah, perhitungan daya kecambah pada hari terkahir pengamatan sedangkan kecepatan kecambah dihitung pada hari ke 3 dan ke 4 c. Menggambar kecambah normal dan beserta bagian-bagiannya. 5. Analisis data a. Mengamati DK dan KK b. Mengamati tinggi tanaman dan jumlah daun

D. Hasil Pengamatan dan Pembahasan 1.Hasil Pengamatan Tabel 2.1 Hasil Pengamatan Uji Daya Kecambah Benih Pada Kertas (PK)
Benih Ulangan Jumlah Benih Hari ke 4 Tomat (Solanum lycopersicum) 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 Hari ke 7 100 5 5 100 4.5 3.2 1.8 2.8 3.9 3 7 5 5 3 KK (%) DK (%) Panjang akar (cm) Tinggi tanam an (cm) 6 5 4.2 3.8 5.3 5 2 3 3 3 Jumlah Daun

Kacang Tanah (Arachis hypogaea)

100

100

2 3 1 2 2

Sumber: Laporan Sementara

Tabel 2.2 Hasil Pengamatan Uji Daya Kecambah Benih Pada Pasir (PP)
Benih Ulangan Jumlah Benih Hari ke 4 1 1 1 Hari ke 7 1 1 1 KK (%) DK (%) Panjang akar (cm) 0 0 0 Tinggi tanaman (cm) 0,5 0 0,5 Juml ah Daun 0 0 0

Tomat (Solanum lycopersicu m)

Kacang Tanah (Arachis hypogaea)

1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

100

100

1 1 1 1 1

1 100 100

1,5 1 2

1 1 1

0 0 0

Sumber: Laporan Sementara

2. Pembahasan Daya kecambah benih merupakan kemampuan benih untuk kembali beraktivitas setelah mengalami masa dormansi sehingga membentuk bibit tau tanaman muda. Leubner (2006) menyatakan dalam uji daya kecambah indikator hasil pengujian berupa persentase yang memiliki makna bahwa benih tersebut dapat tumbuh menjadi bibit dengan persentase tumbuh sesuai dengan perlakuan yang dilakukan. Suatu biji tumbuhan dapat berkecambah jika syarat-syarat berikut ini terpenuhi, yaitu: embrio biji tersebut masih hidup, biji tidak dalam keadaan dorman dan faktor lingkungan

menguntungkan untuk pekecambahan. Untuk kecepatan dan daya kecambah benih pada kertas untuk komoditas tomat dan kacang tanah memiliki nilai yang sama yaitu 100%. Sehingga memiliki arti bahwa benih yang dikecambahkan dapat tumbuh menjadi bibit semua. Untuk komoditas tomat panjang akar tertinggi yaitu 4.5cm dan yang terendah yaitu 1.8cm. Adapun untuk tinggi tanaman tertinggi yaitu 6cm dan terendah yaitu 3.8cm. Sedangkan jumlah daun yang tumbuh berjumlah 2 buah. Untuk komoditas kacang tanah panjang akar tertinggi yaitu 7cm dan yang terendah yaitu 3cm. Adapun untuk tinggi tanaman tertinggi yaitu 5cm dan terendah yaitu 2 cm. Sedangkan jumlah daun yang tumbuh berjumlah 1-3 buah. Pada metode perkecambahan pada pasir hasil yang didapat untuk komoditas tomat dan kacang tanah yaitu 0%. Hal ini dikarenakan karena beberapa factor salah satunya yaitu pasir yang memiliki sifat porus sehingga sulit untuk menyimpan air yang akan digunakan oleh embrio benih. E. Kesimpulan dan Saran 1. Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, maka didapat beberapa kesimpulan, meliputi: a. Uji daya kecambah digunakan untuk mengetahui kemampuan benih untuk dapat beraktivitas kembali dan menjadi bibit.

b. Metode perkecambahan benih yang dilakukan yaitu pada kertas dan pada pasir. c. Daya kecambah dan kecepatan kecambah pada setiap perlakuan adalah 100% d. Perkecambahan pada kertas (PK) menunjukan perkembangan yang lebih cepat di bandingkan dengan pasir (PP) e. Metode perkecambahan pada kertas memiliki daya kecembah dan kecepatan benih sebesar 100%. 2. Saran Adapun saran pada praktikum uji daya kecambah benih sebaiknya perkecambahan benih jangan menggunakan pasir dikarenakan pasir memiliki sifat porus yang tidak mampu menyimpan air sehingga embrio akan mati.

DAFTAR PUSTAKA

Arief 2009. Bocoran Kalium Sebagai Indikator Vigor Benih Jagung. Prosiding Seminar Nasional Serealia 2009. ISBN :978-979-8940-27-9 Hendromomo, 2007. Bibit berkualitas`sebagai kunci pembuka keberhasilan hutan tanaman dan rehabilitasi. Orasi Pengukuhan Profesor Riset Bidang Pengembangan Sivikultur. DepartemenKehutanan. Tidak diterbitkan Kartasapoetra, A.G. 2003. Teknologi Benih Pengolahan Benih dan Tuntunan Praktikum. Rineka Cipta : Jakarta. Leubner, G. 2006. Hydrotime: Population based threshold germination model. The Seed Biology Place. Rudi, H dan Y. Nengsih. 2008. Penggunaan Benih Bermutu Untuk Meningkatkan Produksi Menuju Ketahanan Pangan, hlm 57- 67. Jurnal Imiah Universitas Batanghari Jambi. Vol. 8, No. 3. Jambi. Schmitd, L. 2000. Pedoman penanganan benih tanaman hutan tropis dan sub tropis(Terjemahan). Departemen Kehutanan.Jakarta. Zanzibar, M. 2009. Kajian metode uji cepat sebagai metode resmi pengujian kualitas benih tanaman hutan di Indonesia. Jurnal Standardisasi, Badan Standardisasi Nasional 11 (1): 38 - 45.